Anda di halaman 1dari 9

PEMODELAN TRANSPORTASI

Manajemen Transportasi

PEMODELAN TRANSPORTASI

Latihan Soal :
1) Apa yang dimaksud dengan model!
Model dapat didefinisikan sebagai bentuk penyederhanaan suatu realita (atau
dunia yang sebenarnya); termasuk di antaranya:
a. model fisik (model arsitek, model teknik sipil, wayang golek, dan lain-lain)
b. peta dan diagram (grafis)
c. model statistika dan matematika (persamaan) yang menerangkan beberapa
aspek fisik, sosial-ekonomi, dan model transportasi.
Semua model tersebut merupakan cerminan dan penyederhanaan realita untuk
tujuan tertentu, seperti memberikan penjelasan, pengertian, serta peramalan.
Beberapa model dapat mencerminkan realita secara tepat. (Tamin, 2000).

2) Mengapa pemodelan transportasi diperlukan! Jelaskan tujuannya!


Pemodelan transportasi diperlukan karena prediksi dapat dilakukan lebih
cepat, murah dan beresiko rendah dibandingkan implementasi dan monitoring
secara langsung di lapangan. Pemodelan transportasi merupakan alat bantu bagi
para pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan yang akan diambil.
(Setiawan, 2010).
Tujuan pemodelan transportasi :
a. meramalkan yang akan terjadi pada daerah kajian yang ada
b. mengevaluasi beberapa alternatif perencanaan transportasi
c. memilih alternatif terbaik

3) Jelaskan tahapan dalam pemodelan transportasi!


Tahapan dalam permodelan transportasi dibagi menjadi 4 tahap, diantara lain :
a) Bangkitan-tarikan perjalanan (Trip Generation)
1. Umum
Perjalanan yang dibangkitkan adalah jumlah perjalanan yang
dibangkitkan oleh suatu zona atau suatu pusat kegiatan. Bangkitan perjalanan
dapat dibagi menjadi dua yaitu :
a. Perjalanan yang meninggalkan lokasi (Trip Production)
b. Perjalanan yang menuju ke lokasi (Trip Attraction)
Trip production dan trip attraction dapat digambarkan seperti diagram
Gambar 1.

1
PEMODELAN TRANSPORTASI
Manajemen Transportasi

Gambar 1. Perjalanan meninggalkan dan menuju suatu zona.


Perhitungan bangkitan perjalanan adalah jumlah kendaraan atau orang
(atau jumlah angkutan barang) persatuan waktu.
2. Tipe tata guna lahan
Tipe tata guna lahan yang berbeda misalnya permukiman, pendidikan dan
komersial mempunyai karakteristik bangkitan lalu lintas yang berbeda :
a. Beberapa tipe guna lahan menghasilkan lalu lintas yang berbeda dengan
tata guna lainnya
b. Tata guna lahan yang berbeda menghasilkan tipe lalu lintas yang berbeda
(pejalan kaki, truk, mobil)
c. Tipe tata guna lahan perkantoran menghasilkan lalu lintas pada waktu
yang berbeda. Kawasan perkantoran menghasilkan lalu lintas pada pagi
dan sore yang teratur, sedangkan took menghasilkan lalu lintas yang
berflutuasi sepanjang hari
3. Model
Dalam perencanaan transportasi umumnya hubungan antar faktor
dinyatakan dalam model.
a. Analisis regresi linier
Teknik ini adalah suatu teknik yang dapat digunakan untuk menghasilkan
hubungan dengan bentuk numerik dan untuk melihat bagaimana dua (regresi
sederhana) atau lebih (regresi berganda) variabel saling berkait.
b. Analisis regresi linier berganda
Teknik di atas dapat diperluas untuk bisa mendapatkan lebih dari satu
variabel bebas. Hal ini penting Karena realitasnya jumlah variabel tata guna
lahan mungkin akan mempengaruhi bangkitan lalu lintas.
Model yang umum adalah :
Y = a + b1X1 + b2X2 + . + bmXm
Dengan :
Y = variabel tidak bebas
X1,X,Xm = m variabel bebas
b1,b2,bm = koefisien regresi
a = konstanta

c. Asumsi statistik regresi

2
PEMODELAN TRANSPORTASI
Manajemen Transportasi

Beberapa asumsi statistic diperlukan dalam melakukan analisis regresi


tersebut :
1. Variabel tidak bebas adalah fungsi linier dari variabel bebas. Jika
hubungan tersebut tidak linier, data kadang-kadang harus
ditransformasi agar menjadi linier.
2. Variabel, terutama variabel bebas adalah tetap atau telah diukur tanpa
kesalahan.
3. Tidak ada hubungan antara variabel bebas.
4. Variasi dari variabel tidak bebas tentang garis regresi adalah sama
untuk seluruh variabel tidak bebas.
5. Nilai variabel tidak bebas harus berdistribusi normal atau mendekati.
4. Studi empiris menggunakan regresi
Banyak riset dan studi empiris yang telah dilakukan yang mempelajari
bangkitan lalu lintas untuk seluruh tipe tata guna lahan dan seluruh tipe
pergerakan (Karmawan, 1997).
a. Produksi perjalanan
Studi terdahulu menggunakan 4 variabel untuk menghitung bangkitan lalu
lintas (80-90% dari pergerakan di negara barat adalah home based)
1. Pemilikan kendaraan
2. Kepadatan pemukiman
3. Jarak ke CBD
4. Pendapatan
b. Atraksi perjalanan
Variabel yang sesuai dapat diinvestigasikan dengan Analisa regresi, tetapi
persamaan yang dihasilkan biasanya lebih tidak handal dibandingkan dengan
persamaan trip production (Karmawan, 1997).
Studi-studi tersebut memperlihatkan bahwa variabel tata guna lahan trip
attraction adalah :
1. Lapangan pekerjaan
2. Luas daerah
3. Luas perkantoran
4. Luas tempat penjualan

b) Distribusi perjalanan (Trip Distribution)


Tujuan pemodelan distribusi perjalanan adalah untuk mengkalibrasi
persamaan-persamaan yang akan menghasilkan hasil observasi lapangan pola
pergerakan asal tujuan perjalanan yang seakurat mungkin.

1. Data
Data yang dibutuhkan untuk membuat model distribusi perjalanan adalah :
a. Data matriks asal tujuan

3
PEMODELAN TRANSPORTASI
Manajemen Transportasi

b. Data matriks impedansi (hambatan) matriks antar zona (jarak, waktu atau
biaya)
c. Distribusi frekuensi pergerakan untuk setiap kategori impedansi
transportasi.
2. Model faktor pertumbuhan
Model faktor pertumbuhan didasarkan pada asumsi bahwa pola pergerakan
saat ini dapat diproyeksikan ke masa yang akan datang dengan menggunakan
tingkat pertumbuhan zona.
Terdapat 5 model faktor pertumbuhan, yaitu : model uniform, model average,
model fratar, model detroit dan model furness. Keuntungan dan kerugian metoda
faktor pertumbuhan
a. Keuntungan :
1. Mudah dimengerti dan diaplikasikan
2. Data yang dibutuhkan hanya data asal-tujuan, dan faktor pertumbuhan
3. Dibutuhkan iterasi komputer untuk mendapatkan keseimbangan
perjalanan dalam matriks (hasil model dan observasi)
b. Kerugian :
1. Distribusi perjalanan hanya tergantung pada pola perjalanan saat ini
dan perkiraan pertumbuhan
2. Tidak bisa memperhitungkan perubahan/tambahan fasilitas baru di
masa datang
3. Tidak sesuai untuk daerah dengan pertumbuhan yang pesat
4. Tidak sesuai untuk prediksi waktu yang panjang
3. Model gravitasi (Gravity Model)
Model gravitasi diturunkan dari prinsip dasar fisika yang didasarkan pada
pemikiran bahwa daya tarik antara dua buah tata guna tanah (populasi) sama
dengan gaya pada model gravitasi. Terdapat 4 model utama dalam model ini :
a. Unconstrained
b. Production constrained
c. Attraction contrained
d. Double constrained
Model production dan attraction constrained sering disebut dengan model
singly constrained (Karmawan, 1997).

c) Pemilihan moda (Modal Split)


Model pemilihan moda bertujuan mengetahui proporsi perjalanan yang akan
menggunakan moda satu, misalnya kendaraan pribadi dan moda lain misalnya
kendaraan umum. Proses ini dilakukan dengan maksud mengkalibrasi model
pemilihan moda pada tahun dasar. Dengan mengetahui variabel-variabel yang

4
PEMODELAN TRANSPORTASI
Manajemen Transportasi

berpengaruh dapat digunakan untuk memprediksi pemilihan moda dengan


menggunakan nilai variabel untuk masa mendatang.
Variabel yang biasa digunakan :
1. Karateristik pergerakan (jarak, waktu dan tujuan), karakteristik orang pelaku
perjalanan atau tempat mereka tinggal (pemilikan kendaraan, pendapatan)
2. Karakteristik sistem transportasi (waktu tempuh, biaya, waktu tunggu dan
waktu berjalan, frekuensi bus, kenyamanan, pelayanan, dll)
3. Karakteristik kota atau zona
Dalam pemodelan model split perlu diperhatikan adanya biaya aktual dan
biaya yang dipersepsi pemakai jalan dalam mengambil keputusan, serta adanya
pemakai angkutan umum captive yang tidak memiliki kebebasan untuk memilih
moda. Dan terakhir adalah jika terdapat lebih dari 2 moda pilihan sehingga moda
pemilahan yang dibuat menjadi lebih rumit (Karmawan, 1997).

d) Pelimpahan rute (Traffic Asiggnment)


Pelimpahan rute adalah suatu proses dimana pergerakan antara 2 zona untuk
suatu moda tertentu dibebankan atau dilimpahkan kesuatu rute yang terdiri dari
ruas-ruas jalan tertentu.
Analisis pelimpahan rute terdiri dari 2 bagian utama :
1. Alasan pemakai jalan memilih rute tertentu
2. Pengembangan model yang menggabungkan sistem transportasi dengan
alasan pemilihan rute.
Alasan pemilihan rute terdapat 3 hipotesa yang digunakan yang akan akan
menghasilkan tipe model yang berbeda, yaitu :
1. All or nothing assignment
Pemakai jalan secara rasional akan memilih rute terpendek yang
meminimumkan transport impedance (jarak, waktu dan biaya). Semua lalu lintas
antara zona asal akan menggunakan satu rute yang sama.
2. Multipath assignment
Diasumsikan pengguna jalan tidak mengetahui informasi yang tepat mengenai
rute tercepat. Pengendara akan mengambil rute yang dipikir sebagai rute yang
tercepat. Persesi yang berbeda akan mengakibatkan bermacam-macam rute yang
dipilih antara zona tertentu.

3. Probabilistic assignment
Pemakai jalan menggunakan beberapa factor dalam memilih rute selain
transport impedance. Contoh : faktor-faktor yang tak kuantitatif seperti yang
aman dan rute dengan panorama indah (Karmawan, 1997).

5
PEMODELAN TRANSPORTASI
Manajemen Transportasi

4) Sebuah kawasan studi diperlihatkan oleh 6 zona lalu lintas dengan karakteristik
masing-masing zona sebagai berikut
Zona
Karakteristik zona
1 2 3 4 5 6
Produksi perjalanan 600 450 90 850 750 290
0
Tingkat kepemilikan kendaraan 250 200 71 615 280 130
0
Bentuklah sebuah persamaan regresi linier sederhana berdasarkan data diatas.
Tentukan apakah variabel bebasnya signifikan dalam mempengaruhi produksi
perjalanan!
Penyelesaian :
Hipotesis (Ha) : Tingkat kepemilikan kendaraan (X) merupakan prediktor yang
baik pada nilai produksi perjalanan (Y)
Ha : b > 0
Ho : b = 0
Menggunakan = 0,05.
Tabel 1. Tabel Kerja
Y 60 450 900 85 750 290
0 0
X 25 200 710 61 280 130
0 5
X = 2185 Y = 3840 XY = 1649450 X2 = 1080125
Y2 = 2741600 N = 6
a. Mencari harga a, b, dan persamaan regresi
N XY XY 6 ( 1649450 ) 2185(3840)
b = N X 2( X ) = 6 ( 1080125 )(2185) = 0,88

Y bX 38400,88(2185)
a= N = 6 = 318,53

Y
= 0,88 X + 319,53
b. Menguji signifikansi koefisien b
( X) (2185)
x = X N = 1080125
6 =

284420,83
( Y ) (3840)
y = Y = 2741600 =
N 6
284000

6
PEMODELAN TRANSPORTASI
Manajemen Transportasi

( X)( Y )
xy = XY
N = 1649450

(2185)(3840)
6 = 251050

( xy) (251050)
SSres = y = 284000 =
x 284420,83
62405,46

Syx = SSres
N k1 = 62405,46
611 = 124,91

Syx 124,91
Sb = x = 284420,83 = 0,23 (standar error)
b 0,88
t= Sb = 0,23 = 3,83

db = 6 1 1 = 4
jika taraf signifikan = 0,05, maka t(4) dari tabel
(Sutrisno, 2016a) = 2,776 . Dengan demikian t hitung (3,83)
> t tabel (2,776) berarti koefisien b > 0 (signifikan).
Berdasarkan analisis ini menunjukkan bahwa variabel Y
dipengaruhi oleh variabel X dengan persamaan Y = 0,88 X
+ 318,53. Harga (b) sebesar 0,88 berarti bahwa setiap
penambahan harga X sebesar 1 akan menambah harga Y
sebesar 0,88. Harga (a) sebesar 318,53 berarti walaupun
harga X tidak ada (tanpa kehadiran X), maka harga Y telah
mencapai 318,53. Hal ini akibat pengaruh variabel lain yang
tidak disertakan (sutrisno, 2016b)
c. Mencari harga Beta ()


2 2
X 2( X ) /N 1080125( 2185 ) / 6
Sx = = 238,5
N 1 61


2 2 2
Y ( Y ) / N 2741600( 3840 ) /6
Sy = = = 238,33
N1 61

7
PEMODELAN TRANSPORTASI
Manajemen Transportasi

Sx 238,5
=b Sy = 0,88 238,33 = 0,88

Berdasarkan analisis ini persamaan regresi berubah menjadi


Y = 0,88 X. Analisis ini menghilangkan pengaruh variabel lain
yang tidak disertakan dan hanya ingin melihat variabel yang
disertakan saja, yang dalam hal ini variabeL X. Hasil yang
menunjukkan bahwa telah hilang pengaruh variabel lain
adalah bila variabel X tidak ada, maka harga Y menjadi nol.
Setiap penambahan X sebesar 1 akan menambah harga Y
sebesar 0,88

d. Analisis Regresi dengan SPSS


Tabel 2. Hasil analisis regresi dengan SPSS

Hasil analisis SPSS didapatkan bahwa harga koefisien regresi


(b) = 0,883, hasil uji t = 3,769 dan harga sig. = 0,02 <
(0,025) berarti harga koefisien b signifikan. Harga koefisien
regresi terstandar () didapatkan 0,883.
Bila diinginkan gambar garis regresi, hasil plot regresi seperti
terlihat pada Gambar 2. Harga parameter b1 = 0,883 dan
konstanta = 318,561, sehingga Y = 0,883X + 318,561.

8
PEMODELAN TRANSPORTASI
Manajemen Transportasi

Y = 0,883 X + 318,561

Gambar 2. Diagram plot regresi

DAFTAR PUSTAKA

Kamarwan, dkk. 1997. Sistem Transportasi. Jakarta: Gunadarma.


Setiawan, E. 2010. Perencanaan Wilayah dan Kota. Malang : Universitas Brawijaya.
Sutrisno. 2016a. Statistik Terapan Jilid I. Malang : Universitas Negeri Malang.
Sutrisno. 2016b. Statistik Terapan Jilid III. Malang : Universitas Negeri Malang.
Tamin O,Z. 2000. Perencanaan & Pemodelan Transportasi. Edisi Kedua. Bandung :
Institut Teknologi Bandung.