Anda di halaman 1dari 13

TUGAS MATA KULIAH FITOFARMASI

UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK

Oleh:
Maulida Agustinawati (132210101036)
Rofiko Nuning Rahayu (132210101039)
Widyaning Dwi A. (142210101055)
Laurensia Jeany (142210101057)
Hasnia Ika Syafitri (142210101061)
Eva Wulandari (142210101063)
Rizka Illa Chassana (142210101065)
Intah Fahri Savitri (142210101069)
Anjar Rina Rahayu (142210101071)
Mila Nur Azizah (142210101073)
Monika Cinurada A. S (142210101075)
Adinda Nadia Naufalia (142210101079)
Sri Respati Ayu N. (142210101082)
Dwi Ayu Yuniarsih (142210101083)
Dila Audilia Rahmat (142210101107)
Raden Ajeng Yashinta (142210101113)

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JEMBER

2017
A. Penapisan Golongan Kimia Ekstrak
1. Uji Alkaloid
a. Uji KLT, dilakukan dengan, menotolkan ekstrak pada pelat KLT lalu disemprot
dengan reagen dragendroff. Apabila ada noda yang memberikan perubahan
warna menjadi orange maka analit yang diuji postif mengandung alkaloid.
b. Metode culvenor fitzgerald sebanyak 4 gram daun segar dirajang halus , lalu
dibasahi dengan alkohol lalu digerus ditambahkan sedikit pasir digerus
kembali dan ditambahkan 10 ml kloroform amoniak 0,05 N saring dengan
kapas. Selanjutnya, dipipet dan dimasukan ke tabung reaksi dan ditambah 5 ml
asam sulfat 2 N dan kocok . Lapisan asam di tetesi reagen Mayer bila terdapat
endapan maka analit yang diuji postif mengandung alkaloid.
2. Uji Flavonoid
Uji flavonoid dilakukan dengan menambahkan serbuk Mg pada ekstrak.
Selanjutnya, ditambahkan asam klorida pekat bila terbentuk warna kuning atau
merah dan oranye maka analit yang diuji postif mengandung flavonoid.
3. Uji terpenoid atau steroid

Ekstrak dimasukan dalam tabung reaksi kecil dikocok dengan eter. Selanjutnya,
lapisan eter diambil diteteskan pada plat dibiarkan sampai kering setelah itu
ditetesi asam sulfat anhidrat 2 tetes dan asam sulfat 1 tetes. Analit yang diuji postif
mengandung terpenoid atau steroid, akan terbentuk warna hijau.

4. Uji Fenolik

Ekstrak dimasukan dalam tabung reaksi dikocok dan diberi sedikit eter. Lapisan
eter dikeringkan pada plat tetes dan ditambahkan FeCL3. Analit yang diuji postif
mengandung fenolik bila terdapat warna ungu biru.

5. Uji saponin

Air dituangkan ke dalam tabing reaksi lalu dikocok vertikal. Analit yang diuji
postif mengandung saponin apabila terbentuk busa selama 10 menit.

B. Parameter Pola Kromatogram


1. Pengertian dan Prinsip

Ekstrak ditimbang, diekstraksi dengan pelarut dan cara tertentu, kemudian


dilakukan analisis kromatografi sehingga memberikan pola kromatogram yang
khas.

2. Tujuan
Memberikan gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasarkan pola
kromatogram (KLT, KCKT, KG).

3. Nilai

Kesamaan pola yang dihasilakn dengan data standar

4. Prosedur
a. Penyiapan Larutan Uji

Ekstrak ditimbang dan diekstraksi berturut-turut dengan pelarut heksan, etil


asetat, etanol , dan air. Cara ekstraksi dapat dilakukan dengan pengocokan
selama 15 menit atau dengan ultrasonik atau dengan pemanasan kemudian
disaring untuk mendapatkan larutan uji.

b. Kromatografi lapis tipis (KLT/ TLC)

Dibuat kromatogram pada lempeng silika gel dengan berbagai jenis


fase gerak sesuai dengan golongan kandungan kimia sebagai sasaran analisis.
Evaluasi dapat dilakukan dengan dokumentasi foto hasil pewarnaan lempeng
kromatografi dengan pereaksi yang sesuai atau dengan melihat kromatogram
hasil perekaman menggunakan instrumen densitometer (TLC-Scanner).
Perekaman dapat dilakukan secara absorbsi-refleksi pada panjang gelombang
254 nm, 365 nm dan 415 nm atau pada panjang gelombang lain yang spesifik
pada suatu komponen yang telah diketahui.

c. Kromatografi Gas (KG/ GC)

Merupakan sistem kromatografi gas mempunyai resolusi tinggi


sehingga optimal untuk pemisahan komponen yang stabil dengan pemanasan.
Umumnya dibuat profil kandungan minyak atsiri atau metabolit sekunder
tertentu lainnya seperti jenis fitosterol. Jenis kolom umumnya ada 3 jenis
sesuai dengan urutan kepolaritasannya, yaitu OV-1, OV-% dan Carbowax
20M. Pemisahan dilakukan dengan menggunakan program temperatur, dari
temperatur rendah sampai temperatur maksimal kolom. Detektor yang
digunakan umumnya FID karena metabolit sekunder tumbuhan umumnya
merupakan senyawa organik hidrokarbon.

d. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT/ HPLC)


Pola kromatogram kandungan kimia yang termolabil dibuat dengan
HPLC. Kemampuan dari HPLC tergantung pada jenis kolom, fase gerak dan
detektor. Kolom yang umum digunakan adalah jenis ODS (RP 18). Eluasi
dilakukan dengan program gradien linier. Deteksi dengan spektrofotometer
monokromatis dilakukan pada panjang gelombang 210 nm, 254 nm, 300 nm,
365 nm. Deteksi secara spektrofluoresensi digunakan jika dibutuhkan pola
kromatogram yang selektif dan khusus pada golongan kandungan kimia.

C. Kadar Total Golongan Kandungan Kimia


Pengertian dan prinsip dari parameter kadar total golongan kandungan kima
tertentu dengan penerapan metode spektrofotometri, titrimetri,volumetri,gravimetri
atau lainnya, dapat ditetapkan kadar golongan kandungan kimia. Metode harus sudah
diuji validitasnya,terutama selektivitas dan batas linearitas.
Beberapa golongan kandungan kimia yang dapat dikembangkan dan ditetapkan
metodenya :

1. Golongan m.atsiri

2. Golongan steroid

3. Golongan tanin

4. Golongan flavonoid

5. Golongan triterpenoid (saponin)

6. Golongan alkaloid

7. Golongan antrakinon

Tujuan dari parameter kadar total golongan kandungan kima tertentu adalah
memberikan informasi kadar golongan kandungan kimia sebagai parameter mutu
ekstrak dalam kaitannya dengan efek farmakologis .
Nilai yang ditentukan dari parameter kadar total golongan kandungan kima
tertentu adalah minimal atau rentang yang telah ditetapkan.
a) Penetapan Kadar Minyak Atsiri
Letakkan labu alas bulat 1 liter, berleher pndek dalam mantel pemanas yang
dilengkapi dengan pengaduk magnetik. Masukkan batang pengaduk magnetik
ke dalam labu, hubungkan labu dengan pendingin dan alat penampung
berskala.
Timbang secukupnya sejumlah ekstrak hingga diperkirakan dapat
menghasilkan 1 ml sampai 3 ml minyak atsiri. Masukkan sejumlah ekstrak
yang telah ditimbang seksama ke dalam labu. Hubungkan dengan bagian
pendingin dan penampung berskala. Didihkan isi labu dengan pemanasan yang
sesuai untuk menjaga agar pendidihan berlangsung tidak terlalu kuat selama 2
jam atau sampai minyak atsiri terdestilasi sempurna dan tidak bertambah lagi
dalam bagian penampung berskala.
Jika sejumlah volume minyak atsiri telah tertampung dalam bagian penampung
berskala, pencacatan dapat dilakukan dengan pembacaan sampa 0,1 ml, dan
volume minyak atisiri untuk setiap 100 g ekstrak dapat dihitung dari bobot
ekstrak yang ditimbang. Skala pada penampung untuk minyak atisiri dengan
bobot jenis lebih besar dari air diletakkan sedemikian hingga minyak atsiri
tertampung di bawah kondensat air, sehingga otomatis air kembali ke dalam
labu.
b) Penetapan Kadar Steroid
Larutan baku : timbang seksama 1mg sitosterol, larutkan dalam etanol P
secara bertingkat sehingga diperoleh kadar 5g per ml. 10 g
per ml.

Larutan uji : timbang seksama 1 g ekstrak, larutkan dalam 20 ml etanol


dalam 20 ml etanol dalam labu takar. Ulangi tiga kali dengan
cara yang sama. Kedalam dua labu yang masing-masing berisi
larutan uji dan larutan baku dan kedalam labu ketiga yang berisi
20,0 ml etanol P sebagai blanko, tambahkan 2,0 ml larutan yang
dibuat dengan melarutkan 50mg biru tetrazolium P dalam 10ml
metnol P, dan campur. Kemudian kedalam tiap labu tambahkan
2,0 ml campuran etanol P dan tetrametil ammonium hidroksida
LP (9:1), campur, dan biarkan dalam gelap selama 90menit.
Ukur segera serapan larutan yang diperoleh dari larutan uji dan
larutan baku pada panjang gelombang lebih kurang 525nm
dibandingkan terhadap blanko.

c) Penetapan Kadar Tanin


Penetapan kadar tannin dapat dilakukan dengan berbagai cara, adapun salah
satu caranya adalah dengan ditimbang lebih kurang 2g ekstrak kemudian
dipanaskan dengan 50mL air mendidih diatas penangas air selama 30 menit
sambil diaduk. Setelah itu didiamkan selama beberapa menit lalu diendap
tuangkan melalui segumpal kapas ke dalam labu takar 250mL. kemudian
sisanya disari dengan air mendidih, larutan disaring ke dalam labu takar yang
sama. Penyarian diulang beberapa kali hingga larutan tidak menunjukkan
adanya tannin apabila direaksikan dengan besi(III) ammonium sulfat. Cairan
didinginkan dan ditambahkan air hingga 250mL. Dipipet 25mL karutan ke
dalam labu 1000mL lalu ditambahkan air 750mL dan 25mL asam indugo
sulfonat LP, setelah itu dititrasi dengan kalium permanganate 0.1N hingga
larutan berwarna kuning emas. 1 mL kalium permanganate 0.1N setara
dengan0.004157 g tannin. Kemudian dilakukan pecobaan blanko.
Adapun cara membuat asam indigo permanganate adalah dilarutkan 1 g indigo
karmin P dalam 25 mL asam sulfat P, ditambahkan 25mL asam sulfat P lagi
dan diencerkan dengan air hingg 1000mL.
d) Penetapan Kadar Flavonoid
Penetapan kadar flavonoid
Flavonid ditetapkan kadarnya sebagai aglikon dengan terlebih dahulu
dihidrolisis dan selanjutnya dilakukan pengukuran spektrofotometri
dengan mereaksikan alcl3 yang selektif dengan penambahan
heksametilentetramina pada panjang gelombang maksimum.
Cara kerja hidrolisis
Timbang tepat ekstrak yang setara dengan 200 mg simplisia dan
masukkan ke dalam labu alas bulat. Tambahkan sistem hirolisis yaitu
1,0 ml larutan 0,5% b/v heksametilentetramina 20,0 ml aseton dan 2,0
ml larutan 25% hcl dalam air. Lakukan hidrolisis dengan pemanasan
sampai mendidih (gunakan pendingin air/reflux ) selama 30 menit.
Campuran hasil hidrolisis disaring menggunakan kapas ke dalam labu
ukur 100,0 ml. Residu hidrolisis ditambah 20 ml aseton untuk
dididihkan kembali sebentar, lakukan dua kali dan filtrat dikumpulkan
semua ke dalam labu ukur. Setelah labu ukur dingin, maka volume
ditepatkan sampai tepat 100,0 ml kocok rata. 20 ml filtrat hidrolisa
dimasukkan corong pisah dan ditambahkan 20 ml h2o, selanjutnya
lakukan ekstraksi kocok pertama dengan 15 ml etilasetat. Kemudian 2
kali dengan 10 ml etilasetat, dan kumpulkan fraksi etilasetat ke dalam
labu ukur 50,0 ml, akhirnya ditambahkan etilasetat sampai tepat 50,0
ml. Untuk replikasi spektrofotometri lakukan prosedur ini 3-4 kali.
Cara kerja spektrometri
Masukkan 10 ml larutan fraksi etilasetat (hidrolisa) ke dalam labu ukur
25,0 ml, tambahkan 1 ml larutan 2 g alcl3 dalam 100 ml larutan asam
asetat glasial 5% v/v (dalam metanol) secukupnya sampai tepat 25,0
ml. Hasil reaksi siap diukur pada spektrofotometer setelah 30 menit
berikutnya pada panjang gelombang maksium. Perhitungan kadar
menggunakan standar glikosida flavonoid (hiperoksida, rutin,
hesperidin), gunakan kurva baku dan nilai kadar terhitung sebagai
bahan standar tersebut. Kalau menggunakan hiperoksida dapat
langsung diukur dengan rumus :
Kadar total flavonoid = [(a x1,25) berat sampel]%
e) Penetapan Kadar Saponin
Hemolisa

Larutan dapar fosfat pH 7,4. Larutan 16,0 g natrium fosfat P yang telah
dikeringkan pada suhu 130C hingga bobot tetap dan 4,4 g natrium
dihidrogen fosfat P dalam 1000 ml air. Untuk menambah stabilitas
tambahkan 0,1 g natrium fluorida P.

Suspensi darah

Masukkan 10 ml natrium sulfat 3,65% b/v ke dalam labu takar


bersumbat kaca 100 ml. Tambahkan darah sapi segar secukupnya
hingga 100 ml, campur baik-baik hingga homogen (larutan stabil
selama 7 hari jika disimpan dalam lemari pendingin). Pipet 2 ml larutan
di atas ke dalam labu takar yang bersumbat kaca 100 ml, tambahkan
larutan dapar fosfat pH 7,4 secukupnya hingga 100 ml, campur baik-
baik. Larutan dapat dipergunakan jika larutan jernih dan jika terjadi
endapan, endapan tidak berwarna ungu.

Cara percobaan

Campur 0,5 g ekstrak yang diperiksa dengan 50 ml larutan dapar fosfat


pH 7,4, panaskan sebentar, dinginkan, saring. Ambil 1 ml filtrat,
campur dengan 1 ml suspensi darah. Untuk ekstrak yang mengandung
tanin encerkan 0,2 ml filtrat dengan 0,8 ml larutan dapar fosfat pH 7,4,
campur dengan 1 ml suspensi darah. Diamkan selama 30 menit, terjadi
haemolisa total, menunjukkan adanya saponin. Kadar saponin dalam
ekstrak dapat ditetapkan dengan melakukan berbagai pengenceran
filtrat dan diamati kadar yang masih menghasilkan haemolisa total,
dibandingkan dengan saponin pembanding.

f) Penetapan Kadar Alkaloid


Pembuatan kurva baku alkaloid
Pembuatan kurva baku alkaloid dilakukan dengan cara 390 mg isolat
kering dilarutkan dalam metanol 1 mL (larutan stok), kemudian dibuat
seri konsentrasi 24, 49, 98, 130, dan 293 g/L, dengan volume
penotolan 15 L. Cara pembuatannya yaitu, dari larutan stok diambil
751 L dilarutkan dalam metanol sampai 1 mL, sehingga didapat
konsentrasi 293 g/L (dalam 15 L berisi 293x15=4395 g). Dari
larutan ini diambil 500 L dilarutkan dalam metanol sampai 1 mL,
kemudian diambil 667 g/L dilarutkan dalam metanol sampai 1 mL,
sehingga didapat konsentrasi 130 g/L (dalam 15 L berisi
130x15=1950 g). Kemudian diambil 500 L dilarutkan dalam metanol
sampai 1 mL, didapat konsentrasi 98 g/L (dalam 15 L berisi
98x15=1470g). Dari larutan ini diambil 500 L dilarutkan dalam
metanol sampai 1 mL, didapat konsentrasi 49 g/L (dalam 15 L
berisi 49x15=735g). Terakhir diambil 500 L dari larutan tersebut
kemudian diencerkan dengan metanol sampai 1 mL, sehingga didapat
konsentrasi 24 g/L (dalam 15 L berisi 24x15=360 g).
Penentuan alkaloid dalam ekstrak etanolik

Penentuan alkaloid dilakukan dengan cara menimbang ekstrak etanol 3


g dilarutkan dalam 1 mL metanol dan ditotolkan pada pelat KLT
sebanyak 5 kali replikasi dengan volume masing-masing 10 L. Setelah
pengembangan pelat KLT, bercak yang diperoleh diukur dengan KLT-
Densitometer untuk mendapatkan AUC.
Data luas area yang didapatkan dari isolat dibuat persamaan regresi
linier sebagai persamaan kurva baku. Persamaan garis kurva baku : Y =
a+bx, dengan Y = AUC, X = kadar isolat (g/15L) . Harga AUC
sampel kemudian dimasukkan ke dalam persamaan garis kurva baku,
maka didapatkan kadar dari masing-masing sampel (persen kadar
alkaloid dalam ekstrak).
Penetapan kadar alkaloid dalam ekstrak etanol
Sampel ekstrak sebesar 3 g dilarutkan dalam metanol sampai 1 mL,
sehingga didapatkan konsentrasi 3 mg/L. Sebanyak 10 L ditotolkan
(n=5) pada plat silika gel F254 (Merck ) tebal 0,25 mm sebanyak lima
replikasi. Kemudian plat KLT dikembangkan dengan fase gerak etil
asetat:metanol (1:5 v/v).
Karena bercak yang diharapkan tidak terdeteksi dengan UV 254
maupun 366 nm, maka bercak ditandai pada tepi plat sesuai dengan
KLT isolat yang telah dilakukan sebelumnya dan dideteksi dengan
pereaksi semprot Dragendorff. Bercak yang telah ditandai atau sesuai
Rf dengan Dragendorff ditentukan AUC (luas dibawah kurva) pada
maks 200 nm menggunakan KLT-Densitometer.
g) Penetapan Kadar Antrakuinon
Uji antrakuinon dilakukan dengan uji Brontrager dan uji Brontrager
termodifikasi (Marliana et al,2005).
Uji Brontrager dilakukan dengan cara melarutkan 2 mL sampel dengan
10 mL akuades kemudian disaring, filtrat diekstrak dengan 5 mL
benzena. Hasil ekstrak dibagi menjadi 2 bagian, A dan B. Filrat A
digunakan sebagai blangko dan filtrat B ditambahkan 5 mL ammonia
kemudian dikocok, bila terdapat warna merah berarti hasil positif
(Marliana et al,2005).
Uji Brontrager termodifikasi dilakukan dengan melarutkan 2 mL
sampel dengan 10 mL 0,5 N KOH dan 1 mL larutan hidrogen
peroksida. Kemudian dipanaskan pada waterbath selama 10 menit,
didinginkan dan disaring. Pada filtratnya ditambahkan asam asetat
bertetes-tetes sampai pada kertas lakmus menunjukkan asam.
Selanjutnya diekstrak dengan 5 mL benzena. Hasil ekstrak dibagi
menjadi 2 bagian, A dan B. Larutan A digunakan sebagai blangko,
sedangkan larutan B dibuat basa dengan 2-5 mL larutan amonia.
Perubahan warna pada lapisan basa diamati. Warna merah atau merah
muda menunjukkan adanya antrakuinon (Marliana et al,2005).
Uji Brontrager bisa mendeteksi antrakuinon. Antrakuinon akan
memberikan karakteristik warna merah, violet, hijau atau ungu dengan
basa. Tidak terjadinya perubahan warna pada uji Borntrager dan uji
Brontrager termodifikasi menunjukkan tidak adanya antrakuinon pada
suatu ekstrak (Marliana et al,2005).
D. Kadar Kandungan Kimia Tertentu
1) Andrografolid
a. HPLC
Sampel
Serbuk simplisia kering A. paniculata (1 g) diekstraksi dengan
menggunakan pelarut yang berbeda (dengan volume 15 ml),
yaitu heksana, kloroform, metanol dan air pada suhu kamar
selama 24 jam. ekstrak terkonsentrasi di bawah vakum
menghasilkan residu dengan hasil ekstraksi masing-masing
adalah 1, 4, 17 dan 32%.
Analisis HPLC
Fingerprint HPLC didapatkan menggunakan model instrumen
HPLC Shimadzu gradien LC-8A, dilengkapi dengan dua
pomyang pa LC-8A dikendalikan oleh interface module CBM-
10, dan detektor PDA SPD-M10Avp. Pelarut sebelumnya
difiltrasi menggunakan Millipore (Bedford, MA, USA) dan
analisis dilakukan menggunakan kolom fase terbalik (reverse
phase column) Merck RP18e Chromolith (100 4,6 mm).
Untuk injeksi ke dalam sistem HPLC, larutan dari ekstrak
masing-masing disiapkan, yaitu ekstrak heksana(20 mg / mL
dalam heksana), ekstrak kloroform (10 mg / mLdalam
methanol), ekstrak metanol (40 mg / mL dalam methanol) dan
ekstrak air (40 mg / mL dalam air). Injeksi volume sebesar10
uL. Semua ekstrak terdeteksi pada panjang gelombang UV dari
220 nm, flow rate adalah 1,2 mL / menit. Fase gerak yang
digunakanuntuk ekstrak masing-masing yang berbeda yaitu
ekstrak heksana (Asetonitril: air, 50:50), kloroform, metanol
atau ekstrak air (asetonitril: air, 25:75).
Hasil
Chemical finerprinting menggunakan HPLC

Gambar 3 (E) adalah kromatogram HPLC standar 1 yaitu


andrographolide (Rt 3,85 menit) dan 2 yaitu neo
androprapholide (Rt 14.10 min). Gambar 4 (E) adalah
representasi tiga dimensi dari kromatogram HPLC standar
1(andrographolide) dan 2 (neoandrographolide).

Baik standar 1 atau 2 terdeteksi dalam ekstrak heksana. Kedua


senyawa tampak, namun, dalam kloroform, metanol dan air
ekstrak dengan konsentrasi maksimum dalam ekstrak metanol.
Gambar 3 (A-D) menunjukkan kromatogram HPLC dari
heksana, kloroform, metanol dan air ekstrak tanaman, masing-
masing. Analisis kuantitatif dilakukan pada 5 sampel.
Kandungan standar 1 (andrographolide) berkisar 1,35-2,42
(berdasarkan bobot kering), sedangkan standar 2
(neoandrographolide) berkisar 0,35-1,20%. Nilai rata-rata
sebesar 2,03 dan 0,76% untuk 1 dan 2, masing-masing. Gambar
4 (A-D) menunjukkan hasil tiga dimensi dari fingerprint HPLC
dari heksana, kloroform, metanol dan air ekstrak tanaman,
masing-masing.

b. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Uji kandungan kimia ekstrak dilakukan untuk menetapkan senyawa
identitas/marker yang tersari ke dalam ekstrak hidrotropi daun
sambiloto. Senyawa identitas artinya senyawa tertentu yang menjadi
petunjuk spesifik dengan metode tertentu. Senyawa identitas ekstrak
hidrotropi daun sambiloto adalah senyawa andrografolid yang
diidentifikasi dengan metode KLT. Walaupun demikian, identifikasi
keberadaan senyawa aktif lainnya juga akan terdeteksi.
Penetapan kandungan andrografolid dan senyawa aktif lain
dengan kromatografi lapis tipis (KLT)
Senyawa marker andrografolid dalam ekstrak hidrotropi daun
sambiloto ditetapkan dengan metode KLT. Fase diam yang
digunakan adalah silica gel 60 F245. Campuran pelarut
kloroformp dan methanol (9:1) digunakan sebagai fase gerak.
Senyawa standar adrografolide (Sigma) digunakan sebagai
pembanding yang dibuat dalam larutan 0,1% (b/v) dalam
pelarut DMSO. Larutan uji (sampel) dibuat dengan melarutkan
ekstrak hidrotropi daun sambiloto dalam etanol 96%. Sebanyak
20 L sampel uji ekstrak hidrotropi daun sambiloto dan 2 L
larutan standar andrografolid ditotolkan pada lempeng silica gel
60 F245 dan dikering anginkan. Plat KLT dimasukkan ke dalam
chamber KLT (Chamag) yang telah dijenuhi oleh fase gerak.
Totolan dielusi sepanjang 8 cm dan selanjutnya dikering
anginkan. Bercak dibaca di bawah sinar UV 254 nm dan
selanjutnya dilakuan pehitungan nilai retardation factor (Rf).
Berikut Hasil penetapan kandungan andrografolid dan senyawa
aktif lainnya :
Keterangan
S : sampel ekstrak hidrotropi daun sambiloto
P : Pembanding andrographolide
Rf Pembanding Andrographolide : 0,55
Rf1 : 0,55
Rf2 : 0,67
Rf3 : 0,93
Hasil penelitian membuktikan bahwa senyawa andrografolid
berhasil tersari ke dalam ekstrak hidrotropi daun sambiloto.
Bercak senyawa andrografolid dalam penelitian ini terdeteksi
pada pengamatan di bawah sinar UV 254 nm dengan nilai Rf
sebesar 0,55, sama dengan nilai Rf senyawa pembanding
andrografolid (0,55). Hasil identifikasi juga mendapatkan bahwa
terdapat dua senyawa aktif lainnya yang ikut tersari ke dalam
ekstrak hidrotropi daun sambiloto dengan nilai Rf berturut-turut
sebesar 0,67 dan 0,93.
2) Pinostrobin
Chenopodium graveolens Willds diperoleh dari contoh referensi El Mercado de
Sonora, Mexico yang telah disimpan pada Herbarium Nasional.
Pendahuluan Ekstraksi dan Fraksinasi
Pengeringan dan pengirisan bagian akrial dari tumbuhan (3,1 kg)
dimaserasi 3x selama tiga hari dengan CHCl3 pada temperatur ruang.
Kombinasi ekstrak CHCl3 digabungkan dan dievaporasi dibawah
tekanan rendah yang menghasilkan residu coklat (103,5 gram), yang
kemudian dikenakan silika gel (3 kg) menggunakan heksana dan
heksana CHCl3 dengan proporsi yang berbeda, dan eluan Me2CO,
fraksi 500 ml dikumpulkan.
Isolasi dari pinostrobin
Dari fraksinasi yang dieluasi dengan heksana-CHCl3 (1:1), bubuk
kristal dipisahkan dan direkristalisasi dengan etanol.