Anda di halaman 1dari 2

Proses absorbsi obat peroral secara in situ menggunakan CLB dan CUB

Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan absorbsi in situ paracetamol peroral.
Percobaan dilakukan dalam dua kondisi uji yaitu pada kondisi asam menggunakan cairan
lambung buatan (CLB) tanpa enzim pH 1,2 dan pada kondisi basa menggunakan cairan usus
buatan (CUB) tanpa enzim pH 7,4. Kadar paracetamol diukur menggunakan metode
spektrofotometri.

Proses yang dilakukan pada paktikum ini umumnya sama, yang membedakan hanyalah
kondisi uji yang digunakan dengan menyesuaikan kondisi saluran cerna asli tempat dimana
obat diabsorbsi. Kondisi uji berupa cairan lambung buatan (CLB) tanpa enzim pH 1,2 dan
cairan usus buatan (CUB) tanpa enzim pH 7,4. Cairan lambung buatan (CLB) tanpa enzim pH
1,2 dibuat dengan mencampurkan 2 gram natrium klorida dengan 4 ml asam klorida pekat,
kemudian ditambahkan aquadest ad 1 liter. Sedangkan untuk cairan usus buatan (CUB) tanpa
enzim pH 7,4 dibuat dengan melarutkan 6,8 gram kalium dihidrogen fosfat dalam 250 ml air,
ditambah 190 ml natrium hidroksida 0,2 N, kemudian ditambah aquadest ad 1 liter.
(Farmakope Indonesia Edisi IV, 1995)

Yang pertama dilakukan yaitu mebuat kurva baku dari larutan baku paracetamol dalam
CLB atau CUB tanpa enzim dengan kadar 0,2 mg/ml; 0,4 mg/ml; 0,6 mg/ml; 0,8 mg/ml dan 1
mg/ml. Kemudian masing-masing larutan baku diukur nilai serapannya menggunakan
spektrofotometri UV dengan panjang gelombang 254 nm.

Kedua, mempersiapkan tikus yang akan dijadikan subjek percobaan. Dipersiapkan tikus
putih jantan dengan berat badan antara 150-170 gram dan tikus tersebut dipuasakan selama 24
jam dan hanya diberi minum. Sebelum percobaan dimulai, tikus diberi anestesi injeksi yang
dosisnya telah disesuaikan dengan berat badannya. Lalu, membedah bagian perut tikus hingga
terlihat jelas bagian ususnya. Dicari bagian lambung, dikukur 15 cm dari lambung ke arah
anal menggunakan benang, dengan hati-hati dibuat lubang dan kanul dimasukkan serta ditali
dengan benang. Pemasangan kanul sedemikian rupa sehingga ujungnya mengarah ke bagian
anal dan kanul dihubungkan dengan selang infus menuju labu berisi labu infus berisi CLB
atau CUB.dari ujung kanul usus diukur kembali dengan bantuan benang kearah anal
sepanjang 20 cm, dilakukan pelubangan kedua dan dipasang juga kanul kedua dengan ujung
kanul mengarah ke bagian oral serta ditali dengan benang. Kanul kedua dihubungkan dengan
selang infus menuju gelas kimia. Mengalirkan cairan CLB atau CUB melewati usus untuk
membilas isi usus hingga cairan yang keluar jernih.

Ketiga, melarutkan 500 mg paracetamol dalam larutan CLB atau CUB tanpa enzim 500
ml. Ditetapkan kadar paracetamol dalam CLB atau CUB sebagai konsentrasi awal (C0)
dengan memipet 2 ml larutan paracetamol dalam larutan CLB atau CUB tanpa enzim,
mengukur absorbansinya dengan menggunakan panjang gelombang maksimum dan
menghitung kadar paracetamol menggunakan persamaan kurva kaliberasi.

Keempat, mengganti labu infus dengan CLB atau CUB tanpa enzim yang mengandung
paracetamol dan mengalirkan melalui usus selama 30 menit. Dicatat volume dari CLB atau
CUB yg tertampung dalam gelas kimia dan ditentukan kecepatan alirnya (Q) dengan rumus
volume terukur dibagi 30 menit waktu alir. Kemudian dilakukan penetapan kadar paracetamol
dalam CLB atau CUB yang tertampung sebagai konsentrasi akhir (C1) dengan memipet 2 ml
CLB atau CUB yang tertampung dalam gelas kimia, mengukur absorbansi dengan
menggunakan panjang gelombang maksimum dan menghitung kadar paracetamol
menggunakan persamaan kurva kaliberasi.

Kelima, diukur usus tikus antara kedua ujung dan diukur panjangnyamenggunakan
penggaris. Lalu diikat ujung usus, dimasukkan aquadest melalui ujung lain sampai usus
menggelembung dan diukur diameternya menggunakan jangka sorong untuk menentukan jari-
jarinya.

Terakhir, dihitung nilai Papp dari CLB atau CUB menggunakan data-data yang telah
didapat dan dianalisis. Dibandingkan hasil absorbsi dengan kondisi uji antara CLB dan CUB.