Anda di halaman 1dari 52

Komponen Standar Penilaian Kualitas

Udara dalam Ruang


Terdapat beberapa komponen kualitas fisik udara dalam ruangan. Beberapa
parameter kualitas udara dalam ruangan antara lain meliputi
suhu/temperatur udara, kelembaban udara, kecepatan aliran udara,
kebersihan udara, bau, kualitas ventilasi, pencahayaan, kadar debu /
partikulat ( respirable suspended perticulate).

Suhu/Temperatur Udara
Suhu udara sangat berperan terhadap kenyamanan kerja. Sebagaimana kita
ketahui, tubuh manusia menghasilkan panas yang digunakan untuk
metabolisme basal dan muskular, namun dari semua energi yang dihasilkan
tubuh hanya 20 % saja dipergunakan dan sisanya akan dibuang ke
lingkungan. Variasi suhu udara tubuh dengan ruangan memungkinkan
terjadinya pelepasan suhu tubuh, sehingga tubuh merasa nyaman.
Sebaliknya suhu ruangan yang tinggi merupakan beban tambahan bagi
seseorang yang sedang bekerja
Untuk melakukan penilaian suhu suhu udara ruangan, pada umumnya
dibedakan menjadi dua yaitu suhu basah dimana pengukuran dilakukan jika
udara mengandung uap air, dan suhu kering bilamana udara sama sekali
tidak mengandung uap air. Pembacaannya dilakukan dengan termometer
sensor kering dan sensor basah. Kisaran suhu kering 22- 25C. Bagi pekerja
dengan beban kerja ringan kisaran suhu dapat lebih luas yaitu 20-25C.

Perubahan suhu lebih dari 7C secara tiba-tiba dapat menyebabkan


pengerutan saluran darah, sehingga perbedaan suhu dalam dan luar ruangan
sebaiknya kurang dari 7C. Itulah sebabnya penetapan suhu udara perlu
memperhitungkan iklim setempat agar perbedaan suhu dapat disesuaikan,
contohnya kota Jakarta berdasarkan data meteorologi memiliki suhu terendah
sebesar 21,7C 26,2C (musim penghuja ) dan suhu tertinggi 27,3C 32C
( musim kemarau ).
Kelembaban udara
Kelembaban udara dihitung dari perbandingan suhu basah dan suhu kering
(persen) dengan demikian kedua ukuran ini saling berkaitan. Kombinasi suhu
dan kelembaban udara yang tepat akan menciptakan kenyamanan ruangan,
sebaliknya kombinasi keduanya dapat pula memperburuk kondisi udara
ruangan. Kelembaban relatif udara yang rendah, yaitu kurang dari 20% dapat
menyebabkan kekeringan selaput lendir membran. Sedangkan kelembaban
yang tinggi pada suhu tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan
mikroorganisme dan pelepasan folmaldehid dari material bangunan. Agar
terpenuhi kenyamanan dengan kelembaban relatif udara dengan besaran
sekitar 65%, sangat layak dipertimbangkan adanya penggunaan AC.
Berdasarkan surat edaran Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi
Nomor SE-01/Men/1978 tentang nilai ambang batas (NAB) yang berlaku
untuk lingkungan kerja panas di Industri adalah kelembaban 65% 95%
dengan kisaran suhu 26C 30C. Untuk lingkungan kerja lainnya tidak ada
aturan NAB. Sedangkan menurut ASHRAE (1981) zona kenyamanan 55%
74% berada pada kisaran suhu 22C 26C dan kelembaban 20% 70%.

Kecepatan Aliran Udara


Kecepatan aliran udara mempengaruhi gerakan udara dan pergantian udara
dalam ruang. Besar kecepatan aliran udara yang nyaman, sekitar 0,15 1,5
m /detik. Sedangkan kecepatan udara kurang dari 0,1 m/dtk atau lebih
rendah menjadikan ruangan tidak nyaman karena tidak ada gerakan udara,
sebaliknya kecepatan udara terlalu tinggi akan menyebabkan tarikan dingin
dan atau kebisingan di dalam ruangan.
Kebersihan udara
Kebersihan udara berkaitan dengan keberadaan kontaminasi udara baik
kimia maupun mikrobiologi. Sistem ventilasi AC umumnya diperlengkapi
dengan saringan udara untuk mengurangi atau menghilangkan kemungkinan
masuknya zat-zat berbahaya ke dalam ruangan. Untuk ruangan pertemuan
atau gedung-gedung dimana banyak orang berkumpul dan ada kemungkinan
merokok, dibuat suatu perangkat hisap udara pada langit-langit ruangan
sedangkan lubang hisap jamur dibuat dilantai dengan cenderung menghisap
debu.
Bau
Bau dapat menjadi petunjuk keberadaan suatau zat kimia berbahaya seperti
Hydrogen Sulfida, Amonia dll. Selain itu bau juga dihasilkan oleh berbagai
proses biologi oleh mikroorganisme. Kondisi ruangan yang lembab dengan
suhu tinggi dan aliran udara yang tenang biasanya menebarkan bau kurang
sedap karena proses pembusukan oleh mikroorganisme.

Kualitas Ventilasi
Ventilasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam menyebabkan
terjadinya Sick Building Syndrome. Menurut standar WHO, luas ventilasi
ruangan yang kurang dari 10% atau ventilation rate kurang dari 20 CFM OA
memberikan risiko yang besar untuk terjadinya gejala SBS. Ventilation rate
yang baik untuk suatu gedung atau ruangan adalah 25 -50 CFM OA per
penghuni. Ventilasi yang paling ideal untuk suatu ruangan apabila ventilasi
dalam keadaan bersih, luas memenuhi syarat, sering dibuka, adanya cross
ventilation sehingga tidak menyebabkan adanya dead space dalam ruangan.
Ketidakseimbangan antara ventilasi dan pencemaran udara merupakan salah
satu sebab terbesar gejala SBS.

Fungsi sebuah sistem ventilasi dalam lingkungan kerja dimaksudkan untuk


mengatur kondisi kenyamanan ruangan, memperbaruhi udara dengan
pencemaran udara ruangan pada batas normal, serta menjaga kebersihan
udara dari kontaminasi berbahaya. Ventilasi ruangan secara alami didapatkan
dengan jendela terbuka yang mengalirkan udara luar ke dalam ruangan.

Untuk memenuhi fungsi diatas, kita dapat memanfaatkan sistem AC (Air


Conditioner). Pada dasarnya mekanisme kerja AC dengan mengalirkan udara
dari luar gedung, dilakukan proses pendinginan, selanjutnya udara yang
dingin itu dihembuskan ke dalam ruangan. Terdapat dua jenis AC, yaitu AC
sentral dan AC non sentral, dengan perbedaan utama pada volume udara
segar yang dipergunakan. Biasanya AC non sentral hanya memiliki gerakan
udara masuk (inlet), sedangkan outlet melalui lubang atau pintu yang sedang
dibuka. Sistem ventilasi AC non sentral memungkinkan masuknya zat
pencemar dari udara ke dalam ruangan. Pada sistem AC sentral, udara luar
dihisap masuk kedalam chiller, mengalami proses pendinginan, kemudian
dihembuskan ke ruangan. Selanjutnya udara di ruangan yang masih agak
dingin dihisap lagi untuk didinginkan kembali kemudian dihembuskan lagi.
Aliran udara demikian disebut udara sirkulasi, dimana 85% 100% berupa
udara campuran. Bangunan atau gedung yang menggunakan sistem sirkulasi
artifisial umumnya dibuat relatif tertutup untuk mengurangi penggunaan
kalor (efisiensi energi), artinya kurang memiliki sistem pertukaran udara
segar dan bersih yang baik.

Pencahayaan
Sistem pencahayaan ruangan terdiri dari dua macam yaitu pencahayaan
alami (sinar matahari) dan pencahayaan buatan (lampu). Faktor
pencahayaan penting berkaitan dengan perkembangbiakan mikro organisme
dalam ruangan. Sinar matahari yang mengandung ultra violet dapat
membunuh kuman-kuman sehingga pertumbuhan mikroorganisme
terhambat. 21

Kadar Debu / Partikulat ( Respirable Suspended Perticulate


Partikulat RSP ( Respirable Suspended Particulate ) adalah partikulat atau
fiber yang melayang-layang diudara, dan mempunyai ukuran cukup kecil
untuk dapat dihirup oleh manusia. Partikulat ini meliputi semua materi baik
fisik maupun kimia, dan dalam bentuk cair maupun padat, atau kedua-
duanya. Umumnya partikulat berdiameter kurang dari 10m3. Partikulat kecil
ini bisa berasal dari material gedung, alatalat pembakaran, aktivitas
penghuni gedung, dan infiltrasi dari sumbersumber partikulat diluar
gedung.

Sumber utama partikulat RSP di didalam ruangan adalah merokok .


Sedangkan sumber partikulat RSP di dalam ruangan yang lain adalah alat-
alat pembakaran, material dari asbes, dan partikulat rumah. Penggunaan
aerosol spray dan kerusakan komponen gedung juga merupakan sumber
partikulat RSP. Diruang-ruang tertentu gedung perkantoran, partikulat dari
mesin fotocopy juga menjadi sebab tingginya kadar partikulat RSP di udara.

Sebagian partikulat RSP berasal dari luar gedung yang masuk melalui sistem
pengatur udara, ventilasi alami atau melalui infiltrasi. Pada umumnya
konsentrasi partikulat RSP lebih besar di dalam ruangan dibanding dengan
konsentrasi diluar ruangan. Konsentrasi di dalam ruangan biasanya sekitar
100 sampai dengan 500 ?gr/meter kubik dengan konsentrasi yang paling
tinggi berada diruangan para perokok. Walaupun pembakaran yang terjadi
pada kompor minyak merupakan sumber partikulat RSP didalam ruangan,
tetapi kegiatan lain seperti memasak, penyedotan partikulat (vacuum
cleaning), dan produk aerosol spray, serta aktivitas lain juga merupakan
sumber-sumber partikulat RSP di dalam ruangan.

Pengaruh partikulat RSP terhadap kesehatan tergantung kepada sifat fisik


dan toksik partikulat tersebut, atau kemampuan partikulat dalam menyerap
materi toksik. Partikulat RSP dapat terakumulasi didalam paru-paru, oleh
karenanya efek yang disebabkan oleh partikulat ini bisa sangat berbahaya
walaupun konsentrasinya diudara sangat kecil. Didalam paru-paru, partikulat
RSP dapat menetap lama dan mampu mempengaruhi jaringan-jaringan
disekitarnya.

Refference, antara lain ; Keputusan Menteri Kesehatan Nomor


288/MENKES/SK/III/2003 tentang Pedoman Pengendalian Sarana Dan
Bangunan; Mahole, G.et al. 2003. Development and Application of a Protocol
for the Assessment of Indoor Air Quqlity. Original Paper. Indoor and Built
Environment 2003; Mukono HJ. 1999. Pinsip-Prinsip Dasar Kesehatan
Lingkungan. Airlangga University Press; Kuhn, D.M. and M.A.
Ghannoum.2003.Indoor Mold, Toxigenic Fungi, and Strachybotcs
Chartarum:Clinical Microbiology Reviews; Budiarto, Eko., 2004. Metodologi
Penelitian Kedokteran. Sebuah Pengantar.EGC

http://helpingpeopleideas.com/publichealth/standar-penilaian-kualitas-udara-
ruang/
Fungsi, Prinsip dan Mekasnisme Sistem Kerja Ventilasi

Ventilasi pada banyak penelitian berperan penting dalam kesehatan lingkungan dan
kesehatan masyarakat. Banyak penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara ventilasi dan
kejadian penyakit berbasis lingkungan seperti tuberculosis paru atau penyakit lainnya. Sebagai
tenaga kesehatan lingkungan, kita juga memahami ventilasi sebagai salah satu komponen
standar rumah sehat.

Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar ke dalam dan pengeluaran udara kotor
dari suatu ruangan tertutup secara alamiah maupun mekanis. Tersedianya udara segar
dalam rumah atau ruangan amat dibutuhkan manusia, sehingga apabila suatu ruangan
tidak mempunyai sistem ventilasi yang baik dan over crowded maka akan menimbulkan
keadaan yang dapat merugikan kesehatan

Fungsi utama ventilasi dan jendela antara lain : Sebagai lubang masuk dan keluar angin
sekaligus sebagai lubang pertukaran udara atau lubang ventilasi yang tidak tetap (sering berupa
jendela atau pintu); Sebagai lubang masuknya cahaya dari luar (sinar matahari).

Agar udara dalam ruangan segar persyaratan teknis ventilasi dan jendela sebagai berikut :

1. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan dan luas
lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5% luas lantai,
dengan tinggi lubang ventilasi minimal 80 cm dari langit-langit.
2. Tinggi jendela yang dapat dibuka dan ditutup minimal 80 cm dari lantai dan
jarak dari langit-langit sampai jendela minimal 30 cm.
3. Udara yang masuk harud udara yang bersih, tidak dicemari oleh asap
pembakaran sampah, knaolpot kendaraan, debu dan lain-lain.
4. Aliran udara diusahakan cross ventilation dengan menempatkan lubang hawa
berhadapan antara dua dinding ruangan.Aliran udara ini diusahakan tidak
terhalang oleh barang-barang seperti almari, dinding, sekat-sekat, dan lain-lain.
5. Kelembaban udara dijaga antara 40% s/d 70%.

Prinsip utama dari ventilasi adalah menggerakan udara kotor dalam rumah atau di tempat kerja,
kemidian menggantikannya dengan udara bersih. Sistem ventilasi menjadi fasilitas penting dalam
upaya penyehatan udara pada suatu lingkungan kerja. Menurut ILO (1991), ventilasi digunakan
untuk memberikan kondisi dingin atau panas serta kelembaban di tempat Kerja. Fungsi lain
adalah untuk mengurangi konsentrasi debu dan gas-gas yang dapat menyebabkan keracunan,
kebakaran dan peledakan.

Secara umum kita mengenal beberapa bentuk ventilasi :

Ventilasi alami (Natural Ventilation): Merupakan suatu bentuk pertukaran udara


secara alamiah tanpa bantuan alat-alat mekanik seperti kipas. Ventilasi alami masih dapat
dimungkinkan membersihkan udara selama pada saat ventilasi terbuka terjadi pergantian
dengan udara yang segar dan bercampur dengan udara yang kotor yang ada dalam ruangan.
Standar luas ventilasi alami (Sumamur, 1987) lebih dari 20 % luas lantai tempat kerja.
Penggunaan ventilasi alami tidak efektif jika digunakan dengan tujuan untuk mengurangi emisi
gas, debu dan vapours ditempat kerja. Hal ini disebabkan tingkat kesulitan yang tinggi pada
ventilasi alami terkait penentuan parameter yang harus kita ketahui menyangkut kecepatan
angin, tekanan angin dari luar, arah angin, radiasi panas dan berapa besar pengaruh lubang-
lubang yang ada pada dinding dan atap, Ventilasi alami biasanya digunakan dengan tujuan untuk
memberikan kesegaran dan kenyamanan pada tempat Kerja yang tidak memiliki sumber bahaya
yang tinggi.

Ventilasi Umum (General Ventilation): General ventilation atau ventilasi umum


biasanya digunakan pada tempat kerja dengan emisi gas yang sedang dan derajat
panas yang tidak begitu tinggi. Jenis ventilasi ini biasanya dilengkapi dengan alat
mekanik berupa kipas penghisap. Sistem kerja yang dibangun udara luar tempat
kerja di hisap dan di hembuskan oleh kipas kedalam rungan bercampur dengan
bahan pencemar sehingga terjadi pengenceran. Kemudian udara kotor yang telah
diencerkan tersebut dihisap dan di buang keluar.
Ventilasi pengeluaran setempat (Local Exhaust Ventilation): Jenis ventilasi ini
dipakai dengan pertimbangan teknis, bahwa bahan pencemar berupa gas, debu dan
vapours yang ada pada tempat kerja dalam konsentrasi tinggi tidak dapat dibuang
atau diencerkan hanya dengan menggunakan ventilasi umum apalagi ventilasi
alami, namun harus dengan ventilasi pengeluaran setempat yang diletakan tepat
pada sumber pencemar. Bahan pencemar yang keluar dari proses kerja akan
langsung di hisap oleh ventilasi, sebelum sampai pada tenaga kerja.
Comfort Ventilation: Contoh ventilasi ini dengan digunakanyya Air Conditioner
(AC) pada suatu ruangan. Jenis ventilasi ini berfungsi menciptakan kondisi tempat
kerja agar menjadii nyaman, hangat bagi tempat kerja yang dingin, atau menjadi
sejuk pada tempat kerja yang panas.
Sementara pendapat serupa mengatakan, bahwa untuk memperoleh ventilasi yang
baik dapat dilaksanakan dengan cara :

1. Ventilasi alamiah, merupakan ventilasi yang terjadi secara alamiah, dimana


udara masuk kedalam ruangan melalui jendela, pintu, atau lubang angin yang
sengaja dibuat.
2. Ventilasi Mekanik, merupakan ventilasi buatan dengan menggunakan: a. AC
(Air Conditioner), yang berfungsi untuk menyedot udara dalam ruang kenudian
disaring dan dialirkan kembali dalam ruangan; b. Fan (Baling-baling) yang
menghasilkan udara yang dialirkan ke depan; c. Exhauser, merupakan baling-
baling penyedot udara dari dalam dan luar ruangan untuk proses pergantian
udara yang sudah dipakai..
Faktor yang harus diperhatikan dalam membangun sistem ventilasi, selain bentuk
juga harus sangat diperhatikan kekuatan aliran dan tata letak ventilasi. Letak
ventilasi harus sesuai dengan priciples of dilution ventilation, terutama untuk tempat
kerja dengan resiko paparan bahan kimia.

Berdasarkan standar Industrial ventilation, a manual of recommended pratice


(ACGIH, 1984) kecepatan aliran udara secara umum untuk tempat dimaksud lebih
dari 75 fpm. Sedangkan detail tata letak tata letak ventilasi sebagimana gambar
berikut :
Reference, antara lain :

Industrial Ventilation, A Manual Of Recommended Pratice (ACGIH). 1984.


Industrial Ventilation, Edwards Brothers. Michigan USA
Sumamur, P.K. 1987. Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.

http://www.indonesian-
publichealth.com/prinsip-kerja-ventilasi/

Jenis-jenis Ventilasi dan Hubungannya


dengan Emisi/Pencemaran
Posted by Tawilran - At 12:22 AM - Have 0 komentar

Jenis polutan dan ventilasi

Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar ke dalam dan pengeluaran udara
kotor dari suatu ruangan tertutup secara alamiah maupun mekanis
Tersedianya udara segar dalam rumah atau ruangan amat dibutuhkan manusia,
sehingga apabila suatu ruangan tidak mempunyai sistem ventilasi yang baik dan
over crowded maka akan menimbulkan keadaan yang dapat merugikan kesehatan.

Ventilasi industri mrupakan satu terapan teknologi hygiene perusahaan yang


bertujuan menciptakan lingkungan kerja yang memenuhi persyaratan K3
Perlindungan tenaga kerja dan perbaikan lingkungan kerja yang terdiri dari faktor :
fisika, kimia, biologi dan ergonomi dari suatu substansi di tempat kerja, sebagai
salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan kemakmuran
bangsa Indonesia
(pembukaan UUD 45 alinea 4UU No, 1 thn 1970 ttg keselamatan kerja
Semakin tinggi teknologi yang digunakan, akan beri dampak, kemungkinan terjadi
ancaman lingkungan kerja ( resiko bahaya : uap, logam, debu, gas2 kimia
berbahaya, partikel logam berat,dll

Bila melebihi NAB:


mengakibatkan sakit
gangguan kesehatan
ketidaknyamanan bekerja
mengurangi aktivitas kerja
Salah satu alternatifnya adl metode pengendalian kondisi lingk kerja tek ventilasi
industri
ventilasi industri salah satu alternatif utk kendalikan kondisi lingk kerja atau alat
kontrol engineering (Kerekayasaan) dgn gunakan aliran udara bersih
guna hilangkan kontaminan/polutan atau kurangi konsentrasi gas, debu, uap, asap,
kabut minyak dan kotoran diudara dari zona pernafasan pekerja,
selain itu berfungsi utk cairkan konsentrasi kontaminan dlm udara dan sediakan
udara yg baik
Ventilasi :
Ventilasi alamiah ( degan cara alami) terjadi karena perbedaan tekanan dari luar
suatu bangunan/gedung/tempat kerja yang di sebabkan oleh angin dan karena ada
perbedaan temperatur, sehingga terdapat gas2 panas yang naik di dalam saluran
ventilasi, tanpa gunakan alat bantu (aqutimen axilery) seperti kipas, blower dsbnya
atau juga secara mekanik ( mis kipas angin atau blower)
Sistem ventilasi : mengikuti prinsip2 dasar yang sama.
Untuk setiap sistem yang didesain khusus untuk sesuaikan degan jenis pekerjaan
dan tingkat pemaparan kontaminan
Sistem Ventilasi :
1. Dilusin ( general) ventilasi
sama dengan ventilasi pengenceran udara pengenceran terhadap udara yang
terkontaminasi di dalam bangunan /ruangan dengan meniupkan udara bersih ( tidak
tercemar)
Tujuannya utuk kendalikan bahaya di tempat kerja
2. Lokal exhaust ( ventilasi pengeluaran
setempat)
adalah proses pengisapan dan
pengeluaran udara terkontaminasi
secara serentak dari sumber pencemaran
sebelum udara berkontaminasi berada pada
ketinggian zona pernafasan dan menyebar
keseluruh ruang kerja. Umumnya venrilasi
jenis ini di tempatkan sangat dekat degan
sumber emisi
3. Exhausted Enclosure ( ventilasi sistem
tertutup)
dimana kontaminan yang beracun yang
dipancarkan dari sumber dengan kecepatan
tinggi harus dikendalikan dengan diisolasi
sempurna atau menutup proses
( khususnya pekerjaan blasting)
Pekerjaan blasting adalah proses yang tertutup, misalnya emisi debu silica yang
sangat besar

4.Confort ventilation
(ventilasi kenyamanan)
Pertukaran udara di dalam industri merupakan bagian dari AC, sering digunakan
bersama-sama degan alat pemanas atau alat pendingin dan alat pengatur
kelembaban
Untuk peroleh ventilasi yang baik dapat dilaksanakan dengan cara :

1. Ventilasi alamiah : dimana udara masuk ke dalam ruangan melalui jendela,


pintu atau lobang angin

2. Ventilasi Mekanik : ( ventilasi buatan):

a. AC : menyedot udara dalam ruangan kemudian disaring dan dialirkan


kembali dalam ruangan

b. Fan : hasilkan udara yang dialirkan ke depan


c. Exhauster :
Fungsi ventilasi :

1. Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang
optimum untuk pernafasan

2. Membebaskan udara ruangan dari bau2an, asap , debu dan zat2 pencemar
lain dagan cara pengenceran udara

3. Mensuplai panas agar panas badan seimbang

4. Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan atau bangunan

5. Mengeluarkan kelebihan udara panas yang disebabkan radiasi tubuh, kondisi,


evaporasi ataupun keadaan eksternal

6. Mendisfungsikan suhu udara secara merata

a. Jenis polutan
Polutan adalah suatu zat yang menjadi sebab pencemaran terhadap
lingkungan
Polutan disebut juga sbg zat pencemar.
Suatu zat atau bahan dapat disebut sebagai zat
pencemar atau polutan apabila mengalami :

o Jumlahnya melebihi jumlah normal / ambang batas

o Berada padatempat yang tidak semestinya

o Berada pada waktu yang tidak tepat

Jenis- Jenis polutan misalnya


Karbon monoksida (CO)
Nitrogen Oksida ( Nox )
Sulfur dioksida ( SO2)
Benda partikulat
Hidrocarbon (HC)
Ozon ( O3 )
Timah hitam ( Pb)
Karbon dioksida (CO2)
http://www.tawiliran.com/2013/07/jenis-jenis-ventilasi-dan-hubungannya.html

Essai - Udara Bersih Dan Sehat


Cermin Kesehatanmu
Arintan Nur Safitri 07.23 Leave A Comment

Udara Bersih dan Sehat Cermin Kesehatanmu


Udara yang bersih dan sehat merupakan sebuah anugerah yang sangat besar dan wajib
disukuri. Nikmat yang tak ternilai harganya tersebut sebagai resep utama dalam salah satu
ciri-ciri mahluk hidup, yakni bernapas. Bisa kita bayangkan apabila di dunia ini tidak ada
udara yang bersih dan sehat kita akan susah dan sesak untuk bernapas. Mahabesar bagi
pencipta alam semesta ini yang telah menyeimbangkan segala kebutuhan manusia.
Tuhan telah menciptakan lapisan udara yang berlapis-lapis untuk memenuhi kebutuhan
manusia khususnya bernapas. Apabila di bumi ini tidak terdapat udara yang bisa digunakan
untuk bernapas maka setiap manusia di planet ini akan menghabiskan uang berratus-ratus
bahkan berjuta-juta setiap harinya hanya untuk membeli oksigen. Hal ini pun masih dijadikan
mahluk di bumi ini sebagai sebuah kekufuran.
Salah satu bentuk kekufuran umat di dunia ini adalah melakukan beberapa hal yang
menyebabkan rusaknya kejernihan udara di lapisan atmosfer. Utamanya di Indonesia yang
termasuk ke dalam urutan akhir dengan kualitas udara bersih. Dilangsir dalam sebuah situs
koran oleh LS2LP (2012) yang menyadur dari hasil penelitian Environmental Performance
Index tahun 2006 dan dipublikasikan oleh Universitas Yale menyatakan bahwa kualitas udara
di Indonesia mengalami penurunan akibat tingginya pencemaran udara di kota-kota besar.
Dari 133 negara yang di pantau, Indonesia menduduki peringkat 124 lebih baik daripada
Bangladesh yang menduduki peringkat terakhir. Negara yang tidak dinyana-nyana akan
menduduki peringkat pertama dengan kualitas udara paling bagus adalah Uganda dengan
skor 90,0, sedangkan skor kualitas udara Indonesia hanya 25,1 dan skor terburuk dipegang
Bangladesh yakni 6,90.
Hal ini perlu menjadi perhatian khusus bagi masyarakat dunia untuk memperhatikan
udara di sekitarnya dengan tidak melakukan beberapa tindak yang mengakibatkan
pencemaran udara. Tentunya apabila udara di sekitar kita tercemar secara otomatis akan
berimbas pada rusaknya kubah udara yang sangat besar yang menyelimuti bumi yang dikenal
dengan istilah atmosfer. Pantas disebut jikalau udara yang bersih dan sehat dapat
mencerminkan kondisi kesehatan kita.
Arsimunandar dan Saito (2002) mengungkapkan bahwa komposisi atmosfer yang
menyelemuti bumi ini terdiri atas dua tipe udara yakni udara lembab dan udara kering. Dari
dua tipe tersebut secara terperinci terdiri dari N2 78,09 %, O2 20,95 %, Ar 0,93 %, dan
CO2 0,03 %. Udara yang masih bersih merupakan campuran berbagai gas tersebut. Dapatkah
kita bayangkan apabila kita kehilangan semua komponen udara tersebut? Tanpa udara, suhu
akan mengalami fluktuasi, antara 110oC pada siang hari dan -185oC pada malam hari. Jadi
tanpa udara maka Andapun tidak akanada. Udaralah yang mengatur lingkungan kita dan sifat-
sifat dunia seperti yang kita miliki. (Sastrawijaya, 1991: 165)
Atmosfer yang seyogyanya terdiri dari komponen-komponen udara yang bersih yang
mampu menghidupi mahluk ciptaan Tuhan sampai saat ini merupakan lapisan-lapisan ruang
di atas permukaan. Salah satu lapisan udara yang sangat berarti bagi kehidupan adalah lapisan
ozon (O3). Sastrawijaya mengungkapkan bahwa peranan penting ozon bagi kehidupan
diantaranya memberikan proteksi bagi mata dan kulit dari serangan sinar ultraviolet yang
dipancarkan oleh matahari. Karena salah satu fungsinya adalah menyerap semua sinar
ultraviolet sehingga energi sinar ultraviolet yang masuk ke bumi tidak tinggi. Sejatinya ozon
merupakan hasil dari aksi sinar ultraviolet dengan oksigen yang terjadi pada tempat yang dari
permukaan bumi sehingga menghasilkan fluktuasi listrik.
Bisa kita bayangkan apabila tingkat pencemaran di bumi ini semakin tinggi akan

membuat rusaknya atmosfer utamanya di bagian ozon menjadi berlubang.


Zat pencemar yang terdapat di udara sangat banyak macamnya, akan tetapi yangdianggap
sebagai yang utama adalahkarbonmonoksida, sulfurdioksida,nitrogendioksida, hidrokarbon,
dan debu (partikel-partikel). Pengaruh langsung yang dapat diamati dari lima zat di atas
terhadap kehidupan manusia dan bentuk kehidupan lainnya sangat berbeda-beda, dari
pengaruh yang berat (mematikan sampai pengaruh yang ringan (menimbulkan perasaan yang
jengkel). Adanya zat pencemar di udara disertai oleh pengaruh yang lain mempunyai
kecenderungan untuk menaikkan jumlah penderita atau memperberat penyakit kanker paru-
paru, emfisema, TBC, pneumonia, bronkitis, asma, dan bahkan influensa. Yang dimaksud
dengan pencemaran udara adalah bila udara di sekeliling/ di sekitar rumah mengandung zat
pencemar dalam kadar yang berbahaya bagi manusia atau lingkungannya. (Raharjo, 2009:4)

Dapat dilihat secara kasat mata akibat udara yang tidak bersih dan sehat pada kesehatan
dapat digolongkan menjadi dua yakni akibat berat dan akibat ringan. Akibat ringan biasanya
berupa stres dan penat karena udara yang tidak bersih. Sedangkan akibat berat yang biasanya
dialami adalah penyakit di tubuh manusia. Mungkin saat ini sudah banyak orang yang sudah
menginsyafi betapa vitalnya udara yang bersih bagi kesehatan manusia utamanya dalam sistem
respirasi. Akan tetapi karena efek pencemaran udara tidak langsung mematikan, kecuali dalam
hal yang sangat ekstrim. Sastrawijaya (1991) mengungkapkan akibat berat dari pencemaran
udara yang langsung mematikan adalah kasus Sinila di Dieng. Hal ini dikarenakan masyarakat
belum menyadari seutuhnya bagaimana pengaruh dari aktivitasnya seperti pemborosan
melakukan pembakaran BBM kendaraan, industrialisasi, kebakaran hutan, dan lain-lain yang
mengakibatkan lemahnya kualitas lingkungan hidup tanpa tindakan preventif maupun kuratif
yang nyata. Beban yang ditimbulkan dari pencemaran udara seperti timbulnya penyakit,
pengobatan, dan menurunnya efektivitas kerja serta kondisi lingkungan yang semakin buruk.
Jika kita melihat fenomena yang nyata yang hadir di masyarakat penyakit-penyakit yang
sering diderita oleh masyarakat akibat udara yang tidak bersih dan sehat adalah ISPA (Infeksi
Saluran Pernapasan Akut) dan sesak napas. Kedua penyakit tersebut secara diam-diam telah
merenggut nyawa orang dengan penyebab yang sama namun dengan kasus yang berbeda. Kedua
penyakit tersebut memiliki sensitifitas yang sama terhadap udara yang dihirup oleh manusia.
Alsagaff, Amin, dan Saleh (1989) mengungkapkan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan
Akut atau yang biasa dikenal ISPA merupakan sebuah inflamasi yang sering menjadi penyebab
presentase absensi tertinggi sekitar lebih dari 50% ketidakhadiran dalam masuk sekolah ataupun
kerja di mana biasanya disebabkan oleh infeksi jasad renik bakteri, virus maupun riketsia,
tanpa/disertai radang parenkim paru baik atas maupun bawah. Sedangkan sesak napas menurut
Alsagaff, Amin, dan Saleh (1989) didefinisikan sebagai sebagai bentuk rintihan individualistik
dan salah satu akibat dari sosio-kultural, serta kapabilitas seseorang untuk menahan rasa sakit dan
sesak, yang mampu mempengaruhi tingkat keluhan ketika sesak napas.
Mekanisme peradangan pada ISPA adalah rusaknya sel-sel epitel mukosa dan silia baik
yang ada pada bagian atas maupun bawah pada sistem respirasi karena adanya infeksi bakterial
dengan penyebab utamanya adalah pencemaran udara seperti asap rokok, gas SO 2, dan zat-zat
hasil pembakaran fosil. Begitu juga sesak napas yang bisa juga penyebab utamanya adalah udara
yang tercemar. Namun bedanya mekanisme terjadinya sesak napas adalah terletak pada
bereaksinya otot sterno-kleido-mastoideus dan retraksi otot daerah supraklavikular dan
interkostal, yang pada dasarnya sesak napas baru akan timbul, bila terjadi peningkatan aktivitas
tubuh seperti aktivitas jasmani atau panas badan yang meningkat yang mengakibatkan
peningkatan ventilasi (hiperneu) dengan penampakan terjadinya pernapasan cepat (trakipneu).
Semua uraian yang diungkapkan berdasarkan fakta tersebut membutuhkan tanggung
jawab individu untuk memberikan tindakan pada kasus yang terjadi tersebut. Karena dengan
tanggung jawab individu akan memunculkan peran yang sejati. Beberapa peran yang bisa
dilakukan untuk mengurangi terjadinya akibat ringan dan berat dari udara yang tidak bersih dan
sehat adalah melakukan promosi kesehatan.
Promosi kesehatan untuk saat ini dirasa perlu dan lebih efektif, karena titik sasaran ruang
lingkup setiap individu yang berbeda-beda sehingga bisa memperluas jangkauan promosi
kesehatan atau pendidikan kesehatan. Grout (1958) dalam Machfoedz dan Suryani (2009)
mengatakan bahwa pendidikan kesehatan adalah suatu usaha yang berkaitan dengan kesehatan
yang telah dipahami untuk diartikan ke dalam perilaku yang diinginkan dari perorangan ataupun
masyarakat melalui proses edukasi.
Berdasar batasan WHO (1954) dalam Machfoedz dan Suryani (2009) tujuan pendidikan
kesehatan adalah untuk merubah perilaku orang atau masyarakat dari perilaku tidak sehat menjadi
perilaku sehat. Seperti kita ketahui bila perilaku yang tidak sesuai dengan prinsip kesehatan,
maka dapat, menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan seperti apa yang telah dibicarakan
sebelumnya kaitannya dengan udara yang bersih dan sehat sebagai cermin kesehatan kita.
Sebetulnya istilah promosi kesehatan sudah dikenal masyarakat melalui berbagai bantuk
kegiatan seperti promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif untuk berbagai tipe kesehatan.
Mengapa sudah lama dikenal masyarakat? Karena selain melihat faktor efektivitas juga melihat
hasil akhir dari tujuan yang terwujud. Dan ini adalah pengaruh dari ruang lingkup promosi
kesehatan yang terarah.

Promosi kesehatan mempunyai 5 area atau ruang lingkup promosi kesehatan diantaranya
mengembangkan kebijaksanaan pembangunan berwawasan kesehatan, mengembangkan jaringan
kemitraan dan suasana yang mendukung, memperkuat kegiatan masyarakat, meningkatkan
keterampilan perorangan, dan mengarahkan pelayanan kesehatan yang lebih memberdayakan
masyarakat. (Machfoedz & Suryani, 2009:84)
Sehingga untuk memberikan berbagai tipe tindakan seperti yang sudah diuraikan sebelumnya
demi terwujudnya udara yang bersih dan sehat sehingga tercermin kesehatan yang baik pula pada
sistem respirasi perlu dilakukan promosi kesehatan tentang betapa pentingnya menjaga kesehatan
udara di sekitar kita untuk menciptakan kondisi tubuh yang sehat. Selain itu, hal ini juga
merupakan tanggung jawab pribadi untuk menjaga lingkungan udaranya dari berbagai jenis
polutan berbahaya bagi kesehatannya masing-masing.

Daftar Pustaka
Alsagaff, H., Amin, M., & Saleh, W. B. M. T. (Eds.). (1989). Ilmu penyakit paru (edisi pertama).
Surabaya: Airlangga University Press.

Arsimunandar, W. & Saito, H. (2002). Penyegaran udara (edisi keenam). Jakarta: PT Pradnya Paramita.

LS2LP. (2012). Ancaman udara kotor kian menakutkan. Diakses pada 10 November 2014,
darihttp://green.kompasiana.com/polusi/2012/02/18/ancaman-udara-kotor-kian-menakutkan-
440103.html

Machfoedz, I., & Suryani, E. (2009). Pendidikan kesehatan bagian dari promosi kesehatan (edisi
ketujuh). Yogyakarta: Fitramaya.

Raharjo, M. (2009). Dampak pencemaran udara pada lingkungan dan kesehatan manusia. Jurnal Badan
Lingkungan Hidup, 1.

Sastrawijaya, A. T. (1991). Pencemaran lingkungan (edisi pertama). Jakarta: PT Rineka Cipta.


http://nursingwindow.blogspot.co.id/2015/11/udara-bersih-dan-sehat-cermin.html

Udara bersih dan udara tercemar


A. UDARA BERSIH

Udara pada dasarnya terdiri atas bermacam-macam gas. Udara yang bebas dari pengotor
disebut udara bersih.Udara yang mengandung berbagai zat pengotor disebut udara
tercemar.Udara bersih dibutuhkan oleh makhluk hidup. Udar bersih tersa lebih segar,
sedangkan udara tercemar terasa menyesakkan.

1. Udara Bersih di Luar Rumah


Udara di daerah pegunungan terasa segar

Pernahkah kamu pergi ke daerah pegunungan? Bagaimanakah keadaan udara di daerah


pegunungan?

Udara di daerah pegunungan terasa segar karena banyak terdapat tumbuhan. Selain itu,
udara di pegunungan masih bebas dari pengotor. Daerah pegunungan cukup jauh dari
kegiatan-kegiatan industri dan lalu lintas kendaraan bermotor. Kegiatan industri dan lalu
lintas kendaraan bermotor menghasilkan banyak pengotor uadra.

Kamu juga dapat menghirup udara bersih tanpa harus pergi ke daerah pegunungan.
Bagaimana pagi-pagi, kemudian pergilah ke kebun atau taman di sekitar tempat tinggalmu.
Hiruplah udara dalam-dalam. Segar bukan? Jika kamu lebih sering lagi melakukan jalan
pagi, kamu akan merasakan tubuhmu bertambah segar.

Makhluk hidup membutuhkan udara segar.

2. Udara Bersih di Dalam Rumah

Udara bersih juga bisa kamu rasakan di dalam rumah. Di rumah yang bagaimanakah kamu
dapat merasakan udara bersih ?

Udara bersih dapat masuk ke dalam rumah melalui lubang angin. Lubang angin
merupakan jalan pertukaran udara. Udara segar dari luar rumah bertukar dengan udara
tidak segar di dalam rumah. Dengan demikian, udara di dalam rumah akan selalu terasa
segar. Lubang anagin disebut juga ventilasi udara. Dibagian manakah lubang angin biasa di
buat?
lubang angin berguna untuk pertukaran udara

Lubang angin biasa dibuat orang dibagian atas jendela dan pintu. Adakah lubang angin
pada jendelan dan pintu rumahmu? Bagaimana jika semua jendela,pintu, dan lubang angin
tertutup? Jika semuanya tertutup, tidak dapat terjadi pertukaran udara. Udara di dalam
rumah tidak akan terasa nyaman dan segar. Akan tetapi, rumah yang berpenyejuk udara
(ber-AC) tidak perlu memiliki lubang angin. Alat penyejuk udara kan bekerja untuk
menyegarkan udara dalam ruangan. Rumah yang memiliki lubang angin akan memberi
keuntungan,yaitu :

1. udara di dalam rumah terasa segar

2. tidak berbau

3. tidak lembap

4. terhindar dari perkembangan kuman penyakit

Lubang angin (ventilasi udara) membuat udara di dalam rumah tetap segar.

B. UDARA TERCEMAR

Udara bersih dapat menjadi udara tercemar jika bercampur dengan berbagai pengotor.
Berbagai pengotor dapat masuk ke udara setiap saat, misalnya debu, asap, dan bau tidak
sedap. Pencemaran udara disebut juga polusi udara. Secara alami udara dapat juga dicemari
oleh gas-gas letusan gunung berapi. Akan tetapi, polusi akibat letusan gunung berapi tidak
terlalu besar.

Mari kita mengenal berbagai pengotor udara di sekitar kita.


1. Debu

Udara kotor mengandung banyak debu. Akan tetapi, kamu terkadang tidak menyadarinya.
Debu terdapat di sekitar kita. Jika jumlah debu di udara terlalu banyak maka udara menjadi
kotor. Jika kita menghirup udara berdebu, maka nafas menjadi sesak. Kita pun menjadi
terbatuk-batuk.

Dari manakah debu berasal? Debu merupakan benda padat yang berbutir sangat halus dan
ringan. Debu dapat berasal dari tanah kering, serpihan kayu, semen, dan lain-lain. Di musim
kemarau jumlah debu menjadi lebih banyak. Terutama uadara di sekitar lapangan tanah
yang kering, banyak mengandung debu.

2. Asap
Pengotor udara dapat berupa benda gas. Benda gas yang dapat kamu lihat di lingkungan
sekitarmu adalah asap. Asap dapat berbentuk dari pembakaran bahan bakar. Asap dari
bahan bakar kebanyakan berasal dari industri (pabrik) dan kendaraan bermotor. Asap
kendaraan bermotor mengandung karbon monoksida. Karbon monoksida adalah gas
beracun yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup.

pabrik mengeluarkan banyak asap yang dapat mengotori udara

3. Bau Tidak Sedap

Sampah yang banyak tertimbun dapat menimbulkan bau tidak sedap. Bau tidak sedap
membuat udara menjadi tidak segar. Kita tidak dapat bernapas dengan nyaman karena kita
terus menutup hidup. Oleh karena itu, tempat (wadah) pembuangan sampah harus
mempunyai tutup. Dan tentu saja, kita tidak boleh membuang sampah secara sembarangan.

timbunan sampah menimbulkan bau yang tidak sedap

Udara bersih menjadi tercemar jika bercampur dengan berbagai pengotor.


C. MELINDUNGI DIRI DARI UDARA TERCEMAR

Udara tercemar terasa tidak segar. Udara tercemar dapat mengganggu pernapasan. Udara
tercemar dapat mengotori saluran pernapasan kita. Oleh karena itu, kita harus melindungi
diri dari udara tercemar.

Tindakan pertama yang harus kamu lakukan untuk menghindari udara tercemar adalah
menutup hidung. Kamu dapat menggunakan telapak tangan atau sapu tangan untuk
menutup hidung. Namun perlu diingat, sapu tangan juga harus bersih.

Udara tercemar juga dapat menyebabkan mata pedih (merah). Kamu juga harus
melindungi matamu agar debu dan asap tidak masuk ke mata. Hal yang lebih utama
sesungguhnya adalah mencegah pencemaran udara. Kita tidak boleh melakukan
pembuangan dan pembakaran sampah sembarangan. Selain itu, pabrik-pabrik dan
kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan alat penyaring. Alat penyaring berguna untuk
menyaring asap yang dikeluarkan agar tidak mengotori udara.

Kamu juga dapat melakukan hal-hal yang sederhana untuk mengatasi pencemaran
udara. Cara termudah adalah memelihara tanaman. Tanaman dapat mengurangi
pencemaran udara. Tanaman mmbuat terasa segar karena tanaman dapat menghasilkan
oksigen.

Secara alami, pencemaran udara berkurang dengan terjadinya hujan. Bukanlah setelah
hujan, udara terasa terasa lebih segar? Air hujan melakukan pencemar yang ada di udara,
misalnya debu. Jadi, udara menjadi lebih bersih setelah turun hujan.

tanaman membuat lingkungan lebih nyaman dan segar


Kita harus melindungi diri dari udara tercemar.

http://ismi-relegia7114.blogspot.co.id/2014/06/udara-bersih-dan-udara-
tercemar.html

VENTILASI

1. PENGERTIAN
Tersedianya udara segar dalam rumah atau ruangan amat dibutuhkan manusia, sehingga apabila
suatu ruangan tidak mempunyai sistem ventilasi yang baik dan over crowded maka akan menimbulkan
keadaan yang dapat merugikan kesehatan. Sebelumnya terlebih dahulu masyarakat harus mengetahui
pengertian dari ventilasi. Ventilasi sendiri adalah tempat keluar masuk dan pertukaran udara yang
digunakan untuk memelihara dan juga mengatur udara sesuai kebutuhan dan kenyamanan.
Prinsip kerja ventilasi ini adalah membuat suatu proses pertukaran udara yang terjadi karena
perbedaan tekanan. Yang mana udara akan bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi menuju
tempat yang bertekanan rendah. Ventilasi dapat berupa pintu, jendela, lubang angin, ventilasi
sistem pengendali suhu dan kelembaban, ventilasi sistem pengeluaran udara (exhaust system)
dan pemasukan udara (supply system), atau juga bisa dibantu menggunakan kipas angin (fan).
Pengadaan ventilasi tentunya mempunyai tujuan, antara lain :
1. Mengeluarkan kontaminan
2. Mengatur panas atau dingin di dalam ruangan
3. Menyegarkan ruangan dengan pertukaran udara
4. Mengencerkan konsentrasi kontaminan dalam udara
5. Mencegah terjadinya peledakan atau kebakaran
2. JENIS-JENIS VENTILASI
Ventilasi mempunyai 4 jenis, diantaranya :
1. Ventilasi umum
Ventilasi umum digunakan untuk menurunkan konsentrasi kontaminan udara di dalam ruang kerja sampai
mencapai kadar/tingkat yang tidak membahayakan. Ventilasi umum ini dapat terlaksana dengan 2 cara,
yaitu:
1. Ventilasi horizontal (silang)
Aliran udara yang masuk tidak boleh terhambat, tidak boleh terlalu kuat dan juga harus diarahkan ke
bagian yang ditempati. Karena pada dasarnya semakin besar perbandingan lubang ventilasi, maka semakin
tinggi pula kecepatan angin yang masuk.
2. Ventilasi vertical
Aliran udara terjadi karena perbedaan berat jenis lapisan udara luar dan dalam bangunan. Contohnya saja
seperti pembuatan cerobong. Semakin tinggi cerobong udara, maka semakin baik pula sirkulasi udara
dalam ruangan.
Syarat-syarat menggunakan ventilasi umum, yakni :
Toksisitas rendah
Jumlah kontaminan tidak besar (sedikit) dan tidak terus-menerus
Sumber merata
Konsentrasi rendah
2. Ventilasi buatan (mekanik)
Pengaturan aliran udara dibantu dengan alat mekanik seperti kipas angin, penyedot udara, atau exhauster.
Pemakaian ventilasi ini biasanya disebabkan ruangan yang terlalu luas sehingga tidak cukup jika hanya
menggunakan ventilasi umum karean dirasa kurang efektif. Adapun persyaratan dalam menggunakan
ventilasi mekanik, antara lain:
1. Sistem ventilasi harus bekerja terus-menerus selama ruangan digunakan
2. Penempatan ventilasi mekanik harus memungkinkan pertukaran udara bekerja secara maksimal
3. Ventilasi local
Pembuangan udara dilakukan langsung dari sumber kontaminan melalui corong penghisap yang berada di
dekat sumber kontaminan. Tahap selanjutnya dari corong penghisap langsung disalurkan melalui pipa-pipa
saluran dibantu dengan penyedot udara. Kemudian tahap terakhir udara bersih dibuang langsung ke
atmosfir. Ventilasi local mempunyai 5 tipe, yakni:
1. ventilasi local dengan sistem pembersih kontaminan
2. Ventilasi local dengan corong pengeluaran yang berada di dekat sumber kontaminan
3. Ventilasi local dengan corong celah
4. Ventilasi local dengan sistem tiup dan bisa (push and pull exhauster)
5. Ventilasi local untuk pembuangan kontaminan yang ada pada pabrik penyepulan logam
4. Ventilasi pengendalian suhu udara
Ventilasi ini bertujuan untuk menurunkan panas di dalam ruangan dan diganti denga udara dingin dan
menyegarkan. Cara kerja pengendalian suhu udara ini dapat dilaksanakan dengan ventilasi alami maupun
mekanik seperti kipas angin ataupun pendingin udara (AC). Sistem pendingin ruang ini terdiri dari sistem
langsung dan tidak langsung. Yang mana sistem langsung (direct cooling), udara didinginkan dengan zat
pendingin dengan sistem paket. Dan sistem tidak langsung (indirect cooling), udara didinginkan
menggunakan media air es dan mesin pengolah udara.
http://k3tium2013.blogspot.co.id/2013/12/ventilasi.html

LAPORAN PRAKTIKUM VENTILASI


UMUM
by: nuzuliana mahmudianti TK3 2010

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sebagai akibat kegiatan-kegiatan dalam proses industri, udara


sekitar lingkungan industri cenderung mengalami pencemaran oleh
gas-gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Polutan yang
dihasilkan dari kegiatan-kegiatan industri tersebut dbuang ke atmosfir,
bercampur dengan udara dan menyebar kemana-mana.Gas polutan ini
sebagian besar terkonsentrasi di ruangan atau area industri. Bila
konsentrasi polutan melebihi konsentrasi maksimum yang diizinkan
bagi kesehatan akan menimbulkan berbagai penyakit (Andianto, 2002).

Dewasa ini banyak industri yang kurang memperhatikan sistem


ventilasi dalam menciptakan kondisi lingkungan kerja yang sesuai
dengan kebutuhan proses produksi maupun kenyamanan pekerja.
Pemasangan sistem ventilasi yang tidak tepat dapat menyebabkan
ketidaknyamanan atau bahkan dapat menurunkan kondisi kesehatan
pekerja. Permasalahan yang berkaitan dengan sistem ventilasi di dalam
industri, adalah kondisi lingkungan kerja tidak sesuai dengan
kebutuhan proses produksi dan kenyamanan pekerja. Perihal ini
disebabkan karena tidak adanya peralatan sistem ventilasi, sistem
ventilasi yang ada kurang memadai, perencanaan pipa yang kurang
baik, pemilihan fan yang salah, dan lain-lain.

Hal ini diperlukan pengendalian udara dalam lingkungan kerja


industri untuk menjaga, agar kualitas udara memenuhi standard
kualitas yang ditetapkan bagi kesehatan pekerja, dan memenuhi syarat
kondisi udara yang sesuai bagi proses produksi, lingkungan kerja
mesin-mesin atau peralatan yang digunakan, dan penyimpanan barang
atau hasil produksi. Salah satu cara pengendalian udara dalam ruang
adalah ventilasi yang tepat dan sesuai, yaitu ventilasi yang terdapat
pemasukan dan pengeluaran udara kedalam ruang melalui bukaan atau
lubang yang ada untuk mendapatkan udara yang memenuhi standard
kualitas kesehatan dan proses produksi industri dan menurunkan
konsentrasi kontaminan.

Ventilasi industri atau pertukaran udara di dalam industri


merupakan suatu metode yang digunakan untuk memelihara
dan menciptakan udara sesuai dengan kebutuhan proses produksi atau
kenyamanan pekerja. Ventilasi ini juga digunakan untuk menurunkan
kadar suatu kontaminan di udara tempat kerja sampai batas yang tidak
membahayakan bagi keselamatan dan kesehatan kerja.

Seorang ahli keselamatan dan kesehatan kerja harus mampu


memahami tentang standart Tata Cara Penerangan Sistem Ventilasi
dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung yang dimaksudkan
sebagai pedoman minimal bagi semua pihak yang terlibat dalam
perencanaan, pembangunan dan pengelolaan gedung, dan bertujuan
untuk memperoleh kenyamanan dan keamanan bagi tamu dan penghuni
yang berada maupun yang menempati gedung tersebut (SNI 03-6572-
2001).

Kemudian jika kita perhatikan internal climatesuatu ruangan,


selama masih dalam kenyamanan maka tidak akan ada masalah, namun
jika sudah berada di luar batas kenyamanan maka akan menjadi suatu
bahasan yang menarik. Ketidaknyamanan dapat menjadi sebuah
gangguan atau bahkan akan menimbulkan efek-efek psikologis ataupun
salah satu nyeri fisiologis tergantung pada level dari proses pertukaran
panasnya. Ketidaknyamanan tersebut merupakan proses biologi yang
sederhana untuk semua jenis makhluk yang berdarah panas. Hal itu
adalah untuk menstimulasi agar melakukan suatu langkah utama untuk
merestorasi/membangun kembali suatu proses pertukaran panas yang
lebih benar sehingga akan muncul ide untuk memodifikasi
lingkungannya dengan menggunakan bantuan teknologi untuk
mendapatkan kenyamanan tersebut.

Ketidaknyamanan akan mengakibatkan perubahan fungsional pada


organ yang bersesuaian pada tubuh manusia. Menurut Grandjean
(1986) kondisi panas sekeliling yang berlebih-lebihan akan
mengakibatkan rasa letih dan kantuk, mengurangi kestabilan dan
meningkatkan jumlah angka kesalahan kerja. Hal ini akan menurunkan
daya kresi tubuh manusia untuk menghasilkan panas dengan jumlah
yang lebih sedikit.

Untuk menciptakan kenyamanan dalam bekerja maka hal-hal yang


harus kita perhatikan ialah meliputi kecepatan angina, suhu,
kelembapan, dan jumlah orang yang berada di ruangan tersebut.Oleh
karena itu maka kita harus bisa melaksanakan praktek menggunakan
anemometer untuk mengetahui besar kecepatan angina dan aliran
udara yang merupakan dasar dari perhitungan jumlah dari vertilasi
yang cukup untuk suatu bangunan/gedung tertentu.

Oleh karena itu, praktikum mengenai pengukuran ventilasi industri


perlu dilaksanakan. Selain untuk belajar mengoperasikan alat
pengukururan ventilasi, kita juga bisa lebih tahu tentang masalah-
masalah ventilasi apa yang sering terjadi dan bagaimana cara
menanganinya. Hal penting lainnya tentang dilaksanakannya praktikum
ini adalah supaya kita bisa menentukan ventilasi yang dianggap sudah
memenuhi syarat maupun yang dianggap kurang dan butuh perbaikan.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam


praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah dalamaplikasinya ventilasimampu bekerja secara optimal di
Bengkel Las dan Ruang EE-202?

2. Apakah dalam perancangan ventilasi di Bengkel Las dan Ruang EE-202


telah memenuhi standart?

3. Bagaimana rekomendasi perbaikan ventilasi di Bengkel Las dan Ruang


EE-202?

1.3 Tujuan

Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam praktikum ini


adalah sebagai berikut:

1. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran ventilasi

umum di Bengkel Las dan Ruang EE-202.

2. Mahasiswa mampu menganalisis kondisi ventilasi umum

diBengkel Las dan Ruang EE-202yang dikaitkan dengan standar

SNI dan Permenakertrans No. 13/MEN/2011.

3. Mahasiswa mampu memberikan rekomendasi perbaikan kondisi

di Bengkel Las dan Ruang EE-202.

1.4 Manfaat

Manfaat dari praktikum ventilasi ini adalah kita bisa mengetahui


ventilasi yang sudah ataupunbelum memenuhi standar.Selain itu, kita
juga bisa belajar untuk menangani masalah-masalah yang berhubungan
dengan ventilasi.

1.5 Ruang Lingkup

Batasan praktikum ini adalah:


1. Penelitian ini dilakukan pada area PPNS dengan batasan
ruang: Bengkel Las dan Ruang EE-202dibawah bimbingan Bapak
Lukman Handoko S.KM,MT.

2. Peralatan yang digunakan adalah meteran untuk mengukur luas


ruangan dan anemometer untuk mengetahui air velocity dan air flow.

3. Parameter yang diukur adalah besar aliran udara dan besar kecepatan
udara.

4. Melakukan penelitian dan identifikasi, yang diharapkan akan


mengeluarkan rekomendasi sebagai bentuk saran dan usulan supaya
mendapat perhatian dari pihak-pihak yang menangani masalah
tersebut.

5. Alat keselamatan yang dipakai adalah cattle pack, safety shoes dan
safety helmet yang digunakan supaya terhindar dari kecelakaan kerja
yang mungkin terjadi saat dilaksanakan praktikum ini.

6. Waktu pengukuran dalam penelitian ini adalah Senin, 27 Februari


2012 jam 10.30-13.30

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Definisi Ventilasi

Ventilasi adalah tempatpertukaran udara yang digunakan untuk


memelihara dan menciptakan udara sesuai dengan kebutuhan atau
kenyamanan. Ventilasi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar
suatu kontaminan di udara tempat kerja melalui bukaan atau lubang
seperti jendela, pintu, lubang angin atau dibantu peralatan kipas
angin (fan) atau dengan ventilasi lokal dan ventilasi
sistempengendali suhu dan kelembaban udara (air conditioning)sampai
batas yang tidak membahayakan bagi keselamatan dan kesehatan
kerja.

Ventilasi merupakan proses untuk mencatu udara segar ke dalam


bangunan gedung dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Definisi lain
menyebutkan bahwan ventilasi adalah pergerakan udara masuk ke dan
keluar dari ruang tertutup. Selain itu, Ventilasi adalah teknik
engineering control yang penting untuk meningkatkan dan memelihara
kualitas udara ditempat kerja. Alasan perlunya ventilasi antara lain
adalah:

1. Memanaskan atau mendinginkan udara dalam ruangan

2. Mengeluarkan kontaminan

3. Mengencerkan konsentrasi kontaminan dalam udara

4. Pertukaran udara untuk penyegaran

5. Mencegah terjadinya kebakaran atau peledakan

2.1.1 Tujuan ventilasi umum

Tujuan ventilasi umum antara lain:

1. Meningkatkan dan mempertahankan kondisi udara agar tetap segar


dan nyaman

2. Menurunkan kadar kontaminan di udara sampai kebatas yang tidak


membahayakan pekerja

3. Menghilangkan gas-gas yang tidak menyenangkan yang ditimbulkan


oleh keringat dansebagainya dan gas-gas pembakaran (CO2) yang
ditimbulkan oleh pernafasan danproses-proses pembakaran.

4. Menghilangkan uap air yang timbul sewaktu memasak, mandi dan


sebagainya.

5. Menghilangkan kalor yang berlebihan.

6. Membantu mendapatkan kenyamanan termal.

2.1.2 Ventilasi Ruangan

Suatu ruangan yang layak ditempati, misalkan kantor, pertokoan,


pabrik, ruang kerja, kamarmandi, binatu dan ruangan lainnya untuk
tujuan tertentu, harus dilengkapi dengan:

1. Ventilasi alami yang memenuhi butir 4.3 ; atau

2. Ventilasi mekanis atau sistem pengkondisian udara yang memenuhi

2.1.3 Ventilasi Alami.


Ventilasi alami terjadi karena adanya perbedaan tekanan di luar
suatu bangunangedung yang disebabkan oleh angin dan karena adanya
perbedaan temperatur, sehinggaterdapat gas-gas panas yang naik di
dalam saluran ventilasi.

Ventilasi alami yang disediakan harus terdiri dari bukaan


permanen, jendela, pintu atau sarana lain yang dapat dibuka, dengan:

1. Jumlah bukaan ventilasi tidak kurang dari 5% terhadap luas lantai


ruangan yangmembutuhkan ventilasi; dan

2. arah yang menghadap ke:

a. Halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai, atau daerah yang


terbukakeatas.

b. Teras terbuka, pelataran parkir, atau sejenis; atau

c. Ruang yang bersebelahan

2.1.4 Ventilasi Industri

Pengendalian udara dalam lingkungan kerja industri diperlukan


untuk menjaga agar kualitas udara memenuhi standar kualitas yang
ditetapkan bagikesehatan pekerja, dan memenuhi syarat kondisi udara
yang sesuai bagi proses produksi, lingkungan kerja mesin-mesin atau
peralatan yang digunakan dan penyimpanan barang atau hasil
produksi. Salah satu cara pengendalian udara dalam ruang adalah
ventilasi, yaitu pemasukan dan pengeluaran udara kedalam ruang
melalui bukaan atau lubang yang ada untuk mendapatkan udara yang
memenuhi standard kualitas kesehatan dan proses produksi industri.

2.2.Prinsip Sistem Ventilasi

Prinsip sistem ventilasi yang digunakan dalam suatu industri


adalah membuat suatu proses pertukaran udara di dalam ruang kerja.
Pertukaran udara dicapai dengan cara memindahkan udara dari tempat
kerja dan mengganti dengan udara segar yang dilakukan secara
bersama-sama. Pertukaran udara secara mekanik dilakukan dengan
cara memasang sistem pengeluaran udara (exhaustsystem) dan
pemasukan udara (supply system) dengan menggunakan fan. Exhaust
system dipasang untuk mengeluarkan udara, beserta kontaminan yang
ada di sekitar ruang kerja, biasanya ditempatkan di sekitar ruang kerja
atau dekat dengan sumber kontaminan dikeluarkan. Supply
system dipasang untuk memasukkan udara ke dalam ruangan,
umumnya digunakan untuk menurunkan tingkat konsentrasi
kontaminan di dalam lingkungan kerja.

2.3.Jenis Ventilator

Salah satu cara pengendalian udara dalam ruang adalah ventilasi,


yaitu pemasukandan pengeluaran udara kedalam ruang melalui bukaan
atau lubang yang ada untukmendapatkan udara yang memenuhi
standard kualitas kesehatan dan prosesproduksi industri. Jenis-jenis
ventilasi diantarannya adalah:

2.3.1 Ventilasi Umum

Dari suatu ruang kerja dikeluarkan melalui bukaan atau lubang


pada dinding dan memasukkan udara segar melalui bukaan pada
dinding lain. Ventilasi umum dapat juga diartikan dengan pengenceran,
yaitu penurunan konsentrasi kontaminan udara dalam ruang kerja
sampai pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan (NAB) dan
keselamatan tenaga kerja.

Ventilasi umum dapat berlangsung dengan baik bila:

1. Kadar kontaminan udara dalam ruang tidak terlalu tinggi agar volume
udara pengencer tidak terlalu besar.

2. Pekerja berada cukup jauh dari sumber pengencer agar tidak


terpengaruh pencemaran, kadar kontaminan udara masih dibawah nilai
ambang batas.

3. Toksisitas kontaminan masih rendah

4. Pencemaran terjadi merata.

Pemasukan dan pengeluaran udara dalam ruang terjadi disebabkan


adanya perbedaan tekanan udara luar dan dalam. Udara akan mengalir
dari udara bertekanan tinggi ke udara bertekanan rendah. Perbedaan
tekanan dapat terjadi karena adanya perbedaan suhu udara dan
mengakibatkan terjadinya perbedaan kerapatan udara atau berat jenis
udara. Udara panas dengan berat jenis rendah mengalir keatas, sedang
udara dingin dengan berat jenis tinggi akan mengalir kebawah. Pada
ventilasi alamiah udara mengalir secara alamiah.Ventilasi umum
terlaksana dengan dua cara:
1. Ventilasi Horisontal (ventilasi silang)

Arus angin datang dari luar ruang secara horizontal, dapat terjadi
bila terdapat perbedaan suhu udara luar dan dalam ruang atau antar
ruang dalam bangunan.Ventilasi silang berfungsi dengan baik, maka
pada dinding harus ada bukaan atau lubang seperti pintu, jendela, atau
lubang angin.Aliran udara masuk kedalam ruangan tidak terlalu kuat
dan tidak terhambat, dan harus diarahkan ke bagian-bagian ruang yang
ditempati atau dipakai.Kemungkinan penempatan lubang ventilasi
Penempatan lubang ventilasi adalah penting untuk pengarahan aliran
udara dari lubang masuk (inlet) ke lubang keluar (outlet).

Keadaan 1

Tidak ada lubang keluar tidak ada aliran udara keluar, ventilasi
tidak efektif, menimbulkan ketidaknyamanan.

Keadaan 2

Pada dinding yang berhadapan terdapat masing-masing satu


lubang masuk dan satu lubang keluar yang sama luasnya. Lubang
masuk letaknya keluar, terletak dalam batas daerah hunian atau
kerja (living zone) : 0,30m 1,80m diatas lantai. Luas lubang keluar
lebih besar dari lubang masuk adalah lebih baik.

Keadaan 3

Lubang masuk terletak tinggi, lubang keluar rendah.Terjadi


kantung udara dibawah lubang masuk, tidak ada aliran udara dalam
daerah hunian.Ventilasi kurang efektif.

Keadaan 4

Lubang masuk dan keluar sama tinggi dan sama luas ventilasi baik
sekali. Pemasangan kisi-kisi, jalusi, sungkup (kanopi) pada lubang
masukan dapat memperbaiki pola aliran udara masuk kedalam
ruang.Penempatan lubang keluar hampir tidak merubah pola aliran
udara dalam ruang.Aliran udara dalam ruang hanya tergantung pada
ukuran, bentuk dan letak lubang angin masuk. Ventilasi lebih baik lagi
bila dibuat dua lubang masuk dengan lubang besar pada bagian bawah
dna lubang kecil atau jalusi dibagian atas.Kecepatan aliran udara
masuk dapat diperbesar bila lubang keluar dibuat lebih
besar.Perbandingan ukuran lubang keluar dengan lubang masuk
mempengaruhi kecepatan aliran udara dalam ruang.Makin besar
perbandingan lubang, makin tinggi kecepatan aliran udara.Dalam
gambar ditunjukkan besar kecepatan aliran udara dalam ruang
dinyatakan dalam persen kecepatan udara luar.
2. Ventilasi vertikal

Aliran udara terjadi karena perbedaan berat jenis lapisan-lapisan


udara luar dan dalam bangunan.Berat jenis kecil udara mengalir keatas,
berat jenis besar udara mengalir kebawah (efek cerobong).

Kesimpulan:

a. Lubang-lubang ventilasi ditempatkan pada dinding-dinging yang


saling berhadapan agar terjadi aliran udara yang baik dalam ruang.

b. Lubang-lubang ventilasi ditempatkan tidak sama tinggi dari lantai


agar terjadi aliran udara yang baik dalam ruang.

c. Cerobong udara keluar dibuat setinggi mungkin agar terjadi aliran


udarayang baik dalam ruang (efek cerobong).

d. Tinggi letak lubang ventilasi masuk sedemikian sehingga aliran


udaramasuk mengenai daerah hunian (living zone) pada batas
ketinggian 0,30 m-1,80m diatas lantai.

e. Lubang-lubang ventilasi sebaiknya dibuat dengan kombinasi ventilasi


horizontal dan vertikal.

f. Untuk kenyamanan ruang, kecepatan aliran udara dibuat berkisar


antara0,10-0,15 m/detik. Untuk kesehatan tidak melebihi 0,5 m/det,
atau kurangdari 0,10 m/det

Suhu udara yang mengalir mempengaruhi kenyamanan, udara


yang mengalir dengan kecepatan 0,6 m/det pada suhu 30C tidak terasa
jelek, tetapi aliran udara dengan kecepatan 0,15 m/det. Pada suhu 12C
terasa tidak enak. Udara yang mengalir diatas lantai yang dingin terasa
tidak enak. Udara yang mengalir dengan kecepatan 0,10 m/det
didaerah pegunungan terasa sangat dingin pada kaki.

Pada tempat-tempat dengan kecepatan udara tinggi, dikendalikan


dengan memasang penahan atau pembelok arah angin (deflektor) pada
bukaan, yang dapat digerakkan untuk mengatur arah angin, dan
kecepatan angin masuk.

Tabel 2.1 Penahan Angin (deflektor)

Tidak dapat berputar (tetap), kecepatan angin masuk dapat


dikurangi

Dapat berupah pada sumbu horisontal, arah dan kecepatan


angin masuk dapat diatur

Dapat berputar pada suhu horisontal, dapat menurunkan


kecepatan dari 40 km/jam menjadi 5 sampai 1,5 km / jam

Sumber: fakultas teknik, USU,2011

PenentuanVentilasi Umum

Beberapa rumus dan perhitungan yang sering dipakai untuk


pengukuran ventilasi umum adalah:

a. Pergantian udara per jam (air change per hour)

General ventilation rate =......kali..(2.1)

Luas ruangan x tinggi ruangan

b. Waktu setiap pergantian udara

Volume ruangan =.....menit....(2.2)

Ventilation rate

c. Aliran udara per unit luas area (air floor per unit floor area)

General ventilation rate =....cmm/m(2.3)

Luas daerah lantai

d. Volume udara setiap orang (air volume per person)

General ventilation rate =...cmm/m.....(2.4)

Jumlah pekerja

2.3.2 Ventilasi Buatan (Mekanis)

Penggantian udara terjadi dengan bantuan alat mekanik seperti


kipas angin (fan), penyedot udara (blower),exhauster. Cara ini
digunakan bila cara alamiah tidak mencukupi, misalnya ukuran ruang
luas. Ada dua jenis kipas angin yaitu sistem baling-baling dan sistem
sedot pompa sertrifugal. Kipas angin yang digunakan garis tengah
besar dengan putar per menit sekecil mungkin untuk memberikan
kenyamanan.Aliran udara dibuat merata dalam seluruh ruang,
diletakkan dekat sumber kontaminan.Bila sumber kontaminan dekat
dinding kipas angin berfungsi sebagai pengisap kontaminan keluar
(exhauster).Bila berat jenis kontaminan lebih besar dari berat jenis
udara, maka kipas dipasang dekat lantai. Bila dipasang pada langit-
langit, tinggi ruang harus lebih dari 3 m. Kapasitas kipas ditentukan
oleh volume ruang, jumlah pergantian udara dalam ruang yang
diperlukan.

Persyaratan Teknik ventilasi mekanik

1. Sistem ventilasi mekanis harus diberikan jika ventilasi alami yang


memenuhi syarat tidak memadai.

2. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara


maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar atau
sebaliknya.

3. Sistem ventilasi mekanis bekerja terus menerus selama ruang tersebut


dihuni.

4. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi


mekanis untuk membuang udara kotor dari dalam dan minimal 2/3
volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0,6
meter dari lantai.

5. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (besmen) yang terdiri dari lebih
satu lantai, gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh
mengganggu udara bersih pada lantai lainnya.

6. Besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi


ruangan harus sesuai ketentuan yang berlaku lihat Tabel 2.2 Kebutuhan
ventilasi Mekanis.

2.3.3 Ventilasi Lokal

Pembuangan udara dilakukan langsung dari sumber kontaminan


melalui corong (hood) pengisap yang dipasang dan ditempatkan dekat
sumber kontaminan. Dari corong pengisap kontaminan disalurkan
dalam pipa (duct)menggunakan penyedot udara (blower) kemudian
kontaminan dipisahkan oleh sistem pembersih udara.Udara bersih
selanjutnya dibuang ke atmosfir.

Tabel 2.2 Kebutuhan Ventilasi Mekanik

Sumber: BSNI,2001
Tipe corong penghisap dan sistem pemasangannya harus
disesuaikan dengan jenis kontaminan dan cara kerja operator sehingga
terhindar dari pengaruh kontaminasi dari hasil proses produksi.
Kapasitas penghisap harus kecil, sehingga pemakaian energi kecil dan
ekonomi.Kontaminan harus dapat diisap seluruhnya, jangan sempat
menyebar dalam ruang atau zona pernafasan operator.Kontaminan
harus terkonsentrasi dalam sistem ventilasi untuk dapat dipisahkan
menjadi udara bersih dan sisa buangan yang dapat dimanfaatkan
selanjutnya.Ventilasi lokal dengan sistem pembersih kontaminan.

Tipe-tipe sistem ventilasi lokal

a. Ventilasi lokal menggunakan sistem pembersih kontaminan. Corong


penghisap dipasang tepat diatas sumber kontaminan. Kontaminan
disalurkan melalui sistem perpipaan ke sistem pembersih udara
menggunakan alat penyedot (blower) dan cara bersih dipisahkan dari
kontaminan selanjutnya dibuang ke atmosfir, sedang sisanya berupa
kontaminan dapat dimanfaatkan selanjutnya.

b. Ventilasi lokal menggunakan corong pengeluaran setempat tepat


diatas sumber kontaminan.Dengan cara ini udara terkontaminasi tidak
tersebar dalam ruang. Operator terhindar dari pengaruh kontaminan.
Operator tidak diperkenankan membungkuk diatas bak kerja.

c. Ventilasi lokal menggunakan corong celah (slot), dipasang disisi


sumber kontaminan. Gas buangan diisap melalui saluran samping.
Operator dapat bekerja dengan membungkuk diatas sumber
kontaminan/bak kerja.

d. Ventilasi lokal menggunakan sistem tiup dan bisa (push and pull
exhauster).

Sumber kontaminan diberi udara yang ditiupkan dari saluran tiup


memakaiexhauster, udara kontaminan ditiup dan dibuang melalui
salurang buang memakai exhauster yang dipasang disebelahnya.

e. Ventilasi lokal untuk pengeluaran kontaminan pada pabrik


penyepuhan logam (galvanisasi).

2.3.4 Ventilasi Pengendalian Suhu Udara

Pengendalian suhu bertujuan untuk penyegaran udara dalam


lingkungan kerja, dilaksanakan dengan menurunkan panas dengan cara
mengalirkan udara segar dan dingin menggantikan udara panas dalam
ruang kerja. Dapat dilaksanakan dengan cara-cara:
1. Ventilasi alamiah, dengan mengadakan lubang/bukaan seperti pintu,
jendela, lobang angin sehingga terjadi pengaliran udara secara alami.

2. Ventilasi mekanis, menggunakan peralatan bantu mekanis seperti :

a. Kipas angin, blower, untuk mengalirkan udara segar dan mengganti


udara panas serta menaikkan kecepatan liner udara dalam ruang.

b. Alat pendingin udara (air conditioning), untuk menurunkan suhu udara


dan kelembaban ruang. Udara panas dalam ruang diisap dan panasnya
diserap untuk pendinginan dan pengembunan dan kemudian
diembuskan kembali masuk dalam ruang.

Pendinginan udara bertujuan untuk:

1. Penyegaran udara bagi karyawan

2. Penyegaran udara yang diperlukan untuk proses produksi,


penyimpanan, lingkungan kerja mesin dan lain-lain.

Sistem pendingin ruang terdiri dari:

1. Sistem langsung (direct cooling), udara didinginkan langsung oleh zat


pendingin (refrigerant) menggunakan mesin sistem paket (package air
conditioner).

2. Sistem tidak langsung (indirect cooling), menggunakan media air es,


mesin pengolah udara (air handling unit AHU).

2.4.Perancangan Ventilasi

Terdapat beberapa perencanaan ventilasi, diantaranya:

2.4.1 Perencanaan Ventilasi Alami

Perancangan ventilasi alami dilakukan sebagai berikut:

1. Menentukan kebutuhan ventilasi udara yang diperlukan sesuai fungsi


ruangan.

2. Mentukan ventilasi gaya angin atau ventilasi gaya termal yang akan
digunakan.

2.4.1.1 Ventilasi gaya angin

Faktor yang mempengaruhi laju ventilasi yang disebabkan gaya


angin termasuk:

1. Kecepatan rata-rata.

2. Arah angin yang kuat.


3. Variasi kecepatan dan arah angin musiman dan harian.

4. Hambatan setempat, seperti bangunan yang berdekatan, bukit, pohon


dan semak belukar.

Liddamnet (1988) meninjau relevansi tekanan angin sebagai


mekanisme penggerak. Model simulasi lintasan aliran jamak
dikembangkan dan menggunakan ilustrasi pengaruh angin pada laju
pertukaran udara.

Kecepatan angin biasanya terendah pada musim panas dari pada


musim dingin. Pada beberapa tempat relatif kecepatannya di bawah
setengah rata-rata untuk lebih dari beberapa jam per bulan. Karena itu,
sistem ventilasi alami sering dirancang untuk kecepatan angin
setengah rata-rata dari musiman.

Persamaan di bawah ini menunjukkan kuantitas gaya udara


melalui ventilasi bukaan inlet oleh angin atau menentukan ukuran yang
tepat dari bukaan untuk menghasilkan laju aliran udara:

Q = CV.A.V.............................................................(2.5)

dimana :

Q = laju aliran udara, m3 / detik.

A = luas bebas dari bukaan inlet, m2.

V = kecepatan angin, m/detik.

CV = effectiveness dari bukaan (CV dianggap sama dengan 0,5 ~ 0,6 untuk
angin yang tegak lurus dan 0,25 ~ 0,35 untuk angin yang diagonal).

Inlet sebaiknya langsung menghadap ke dalam angin yang kuat.


Jika tidak ada tempat yang menguntungkan, aliran yang dihitung
dengan persamaan akan berkurang, jika penempatannya kurang lazim,
akan berkurang lagi.

Penepatan outlet yang diinginkan

1. Pada sisi arah tempat teduh dari bangunan yang berlawanan langsung
dengan inlet.

2. Pada atap, dalam area tekanan rendah yang disebabkan oleh aliran
angin yang tidak menerus.
3. pada sisi yang berdekatan ke muka arah angin dimana area tekanan
rendah terjadi dalam pantauan pada sisi arah tempat
teduh,dalamventilator atap, atau

4. Pada cerobong.

Inlet sebaiknya ditempatkan dalam daerah bertekanan tinggi,


outlet sebaiknya ditempatkan dalam daerah negatip atau bertekanan
rendah.

2.4.1.2 Ventilasi gaya termal

Jika tahanan didalam banguanan tidak cukup berarti, aliran


disebabkan oleh efek cerobong yang dapat dinyatakan dengan
persamaan:

.........................(2.6)

dimana :

Q = laju aliran, m3 / detik.

K = koefisien pelepasan untuk bukaan.

DhNPL = tinggi dari tengah-tengah bukaan terendah sampai NPL , m

T1 = Temperatur di dalam bangunan, K.

To = Temperatur luar, K.

Persamaan ini digunakan jika T1 >To , jika T1 < To , ganti T1


dengan To, dan ganti (T1-To) dengan (To T1). Temperatur rata-rata
untuk T1 sebaiknya dipakai jika panasnya bertingkat. Jika bangunan
mempunyai lebih dari satu bukaan, luas outlet dan inlet dianggap
sama.

Koefisien pelepasan K dihitung untuk semua pengaruh yang


melekat, seperti hambatan permukaan, dan campuran batas. Perkiraan
DhNPL sulit. Jika satu jendela atau pintu menunjukkan bagian-bagian
yang besar (mendekati 90%) dari luas bukaan total dalam selubung,
NPL adalah tinggi tengah-tengah lubang, dan DhNPL sama dengan
setengah tingginya.

Untuk kondisi ini, aliran yang melalui bukaan dua arah, yaitu udara
dari sisi hangat mengalir melalui bagian atas bukaan, dan udara dari
sisi dingin mengalir melalui bagian bawah. Campuran batas terjadi
dikedua sisi antar muka aliran yang berlawanan, dan koefisien orifis
dapat dihitung sesuai dengan persamaan (Kiel dan Wilson, 1986):

K = 0,40 + 0,0045.( Ti To )................................(2.7)

Jika ada bukaan lain yang cukup, aliran udara yang melalui bukaan
akan tidak terarah dan campuran batas tidak dapat terjadi.

Koefisien pelepasan K = 0,65 sebaiknya dipakai. Tambahan


informasi pada cerobong yang disebabkan aliran udara untuk ventilasi
alami bisa dipenuhi pada referensi Foster dan Down (1987). Aliran
terbesar per unit luas dari bukaan diperoleh jika inlet dan outletsama.

Persamaan ke dua diatas didasarkan pada kesamaan ini.Kenaikan


luas outlet di atas luas inlet atau sebaliknya, menaikkan aliran udara
tetapi tidak proporsional terhadap penambahan luas. Jika bukaan tidak
sama, gunakan luas yang terkecil dalam persamaan dan tambahkan
kenaikannya.

2.4.2 Perancangan Ventilasi Mekanik

Perancangan sistem ventilasi mekanis dilakukan sebagai berikut:

1. Tentukan kebutuhan udara ventilasi yang diperlukan sesuai fungsi


ruangan.

2. Tentukan kapasitas fan.

3. Rancang sistem distribusi udara, baik menggunakan cerobong udara


(ducting) atau fan yang dipasang pada dinding/atap.

Jumlah laju aliran udara yang perlu disediakan oleh sistem ventilasi
mengikuti persyaratan. Untuk mengambil perolehan kalor yang terjadi
di dalam ruangan, diperlukan laju aliran udara dengan jumlah tertentu
untuk menjaga supaya temperatur udara di dalam ruangan tidak
bertambah melewati harga yang diinginkan. Jumlah laju aliran udara V
(m3/detik) tersebut, dapat dihitung dengan persamaan:

..............................(2.8)

dimana :
V = laju aliran udara (m3/detik).

q = perolehan kalor (Watt).

f = densitas udara (kg/m3).

c = panas jenis udara (joule/kg.C).

(tL tD ) = kenaikan temperatur terhadap udara luar (C)

Tabel.2.3. Kebutuhan Laju Udara Ventilasi

Kebutuhan Udara
Luar
No Fungsi Gedung Satuan
Tidak
Merokok
Merokok

1 Laundri (m/min)/orang 1,05 0,46

2 Restoran:

a. Ruang Makan (m/min)/orang 1,05 0,21

b. Dapur (m/min)/orang -0,3 0,3

c. Fast Food (m/min)/orang 1,05 0,21

3 Service mobil

a. Garasi (tertutup) (m/min)/orang 0,21 0,21

b. Bengkel (m/min)/orang 0,21 0,21

4 Hotel, Motel, dsb:

a. Kamar Tidur (m/min)/orang 0,42 0,21

b. Ruang tamu/ ruang


(m/min)/orang 0 0,75
duduk

c. Kamar mandi/ Toilet (m/min)/orang 0 0

d.Lobi (m/min)/orang 0,45 0,15

e. Ruang pertemuan
(m/min)/orang 1,05 0,21
(kecil)

f. Ruang rapat (m/min)/orang 1,05 0,21

5 Kantor

a. Ruang Kerja (m/min)/orang 0,6 0,15


b. Ruang pertemuan (m/min)/orang 1,05 0,21

6. Ruang Umum

a. Koridor (m/min)/orang 0 0

b. WC umum (m/min)/orang 2,25 2,25

c. Ruang Locker/ Ruang


(m/min)/orang 1,05 0,45
Ganti baju

7. Pertokoan

a. Besmen Lantai Dasar (m/min)/orang 0,75 0,15

b. Lantai Atas Kamar Tidu (m/min)/orang 0,75 0,15

c. Mall dan Arkade (m/min)/orang 0,3 0,15

d. Lif (m/min)/orang 0 0,45

e. Ruang Merokok (m/min)/orang 1,5 0

8. Ruang Kecantikan

a. Panti Cukur dan Salon (m/min)/orang 0,87 0,6

b. Ruang Olah Raga (m/min)/orang 0 0,42

c. Tako Kembang (m/min)/orang 0 0,15

d. Salon Binatang
0 0,3
Peliharaan (m/min)/orang

9. Ruang Hiburan

a. Disko dan Bowling (m/min)/orang 0 0,21

b. Lantai Gerak atau


(m/min)/orang 0 0,6
Gymnasium

Tabel 2.3. Kebutuhan Laju Udara Ventilasi

Kebutuhan Udara
Luar
No Fungsi Gedung Satuan
Tidak
Merokok
Merokok

c. Ruang Penonton (m/min)/orang 1,05 0,21

d. Ruang Bermain (m/min)/orang 1,05 0,21

e. Kolam Renang (m/min)/orang 0 0,15


10
. Teater

a. Loket (m/min)/orang 0,6 0,15

b. Lobi dan Lauge (m/min)/orang 1,05 0,21

c. Panggung dan Studio (m/min)/orang 0 0,3

11 Transportasi, Ruang
1,05 0,21
. Tunggu, atau Peron (m/min)/orang

12
. Rauang Kerja

a. Proses Makanan (m/min)/orang 0 0,15

b.Khazanah Bank (m/min)/orang 0 0,15

c. Farmasi (m/min)/orang 0 0,21

d. Studio Fotografi (m/min)/orang 0 0,21

e. Ruang Gelap (m/min)/orang 0 0,6

f. Ruang duplikasi atau


0 0,15
Cetak Foto (m/min)/orang

13
. Sekolah

a. Ruang Kelas (m/min)/orang 0,75 0,15

b. Laboratorium (m/min)/orang 0 0,3

c. Perpustakaan (m/min)/orang 0 0,15

14
. Rumah Sakit

a. Ruang Pasien (m/min)/orang 1,05 0,21

b. Ruang Periksa (m/min)/orang 1,05 0,21

c. Ruang bedah dan


0 1,2
Bersalin (m/min)/orang

d. Ruang Gawat darurat


0 0,45
atau Terapi (m/min)/orang

e. Ruang Otopsi (m/min)/orang 0 3

15
. Rumah Tinggal
a. Ruang Duduk (m/min)/orang 0 0,3

b. Ruang Tidur (m/min)/orang 0,75 0,3

c. Dapur (m/min)/orang 0,75 3

d. Toilet (m/min)/orang 0,3 1,5

e. Garasi (Rumah) (m/min)/orang 0 3

f. Garasi Bersama (m/min)/orang 1,5 0,45

16
. Industri

a. Aktifitas Tinggi (m/min)/orang 1,05 0,6

b. Aktifitas Sedang (m/min)/orang 1,05 0,3

c. Aktifitas Rendah (m/min)/orang 1,05 0,21

Sumber: BSNI, 2001

Untuk tenaga kerja yang terpapar lingkungan yang panas dan


lembab maka kecepatan angin harus diperhatikan agar evaporasi dapat
berlangsung dengan baik. Kecepatan angin yang dianjurkan tenaga
kerja yang terpapar panas pada berbagai suhu adalah sebagai berikut:

Tabel.2.4.Suhu dan Kecepatan Angin

Suhu (C) Kecepatan Angin (m/detik)

16 20 0,25

21 22 0,25 0,30

24 25 0,40 0,60

26 27 0,70 - 1,00

28 - 30 1,10 1,30

Sumber: Higiene Perusahaan,E, 2011

Keputusan Menteri Kesehatan No.261 / MENKES /SK / I / 1998


tentang persyaratan kesehatan lingkungan kerja, yangmenyebutkan
bahwa:

1. Suhu yang diizinkan dalam ruangan adalah 21C sampai dengan 30C.
2. Kelembaban udara yang diizinkan dalam ruangan adalah 65% hingga
95 %.

3. Volume udara setiap orang adalah yang dianjurkan sebesar 0,283


cmm/ orang.

2.4.3 Perancangan Sistem Fan

Rancangan sistem fan harus memenuhi ketentuan:

1. Untuk sistem fan dengan volume tetap, daya yang dibutuhkan motor
pada sistem fan gabungan tidak melebihi 1,36 W/(m3/jam);

2. Untuk sistem fan dengan volume aliran berubah, daya yang


dibutuhkan motor untuk

3. sistem fan gabungan tidak melebihi 2,12 W/(m3/jam);

4. Setiap fan pada sistem volume aliran berubah atau VAV (Variable Air
Volume) dengan motor 60 kW atau lebih harus memiliki kontrol dan
peralatan yang diperlukan agar fan tidak membutuhkan daya lebih dari
50 % daya rancangan pada 50 % volume rancangan berdasarkan data
uji;

5. Ketentuan butir a, b, dan c di atas tidak berlaku untuk fan dengan


daya lebih kecil dari 7,5 kw pada aliran rancangan.

2.5Mengukur Kecepatan Dan Arah Angin

Anemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk


mengukurkecepatan angin, dan merupakan salah satu instrumen yang
digunakan dalam mengetahui cuaca.Angin adalah gerakan atau
perpindahan masa udara pada arah horizontal yang disebabkan oleh
perbedaan tekanan udara dari satu tempat dengan tempat
lainnya.Angin diartikan pula sebagai gerakan relatif udara terhadap
permukaan bumi, pada arah horizontal atau hampir horinsontal. Masa
udara ini mempunyai sifat yang dibedakan antara lain oleh kelembaban
(RH) dan suhunya, sehingga dikenal adanya angin basah, angin kering
dan sebagainya. Sifat-sifat ini dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu:

1. daerah asalnya

2. daerah yang dilewatinya

3. lama atau jarak pergerakannya.

Dua komponen angin yang diukur ialah kecepatan dan


arahnya.Kecepatan angin adalah jarak tempuh angin atau pergerakan
udara per satuan waktu dan dinyatakan dalam satuan meter per detik
(m/d), kilometer per jam (km/j), dan mil per jam (mi/j). Satuan mil (mil
laut) per jam disebut juga knot (kn); 1 kn = 1,85 km/j = 1,151mi/j =
0,514 m/d atau 1 m/d = 2,237 mi/j = 1,944 kn. Kecepatan angin
bervariasi dengan ketinggian dari permukaan tanah, sehingga dikenal
adanya profil angin, dimana makin tinggi gerakan angin makin cepat.

2.6 Undang-undang tentang Ventilasi

Ventilasi dengan jumlah dan bentuk yang cukup terkait erat


dengan aplikasi keselamatan dan kesehatan kerja di suatu tempat
kerja. Peraturan perundanga-undangan juga telah mengatur besarnya
ventilasi yang sesuai, baik dari SNI 03-6572-2001, OSHA 1910.94
tentang ventilation dan OSHA 1918.94 tentang ventilation and
atmospheric conditions.

Gambar 2.3. Bagian- Bagian Anemometer

Sumber: Lukman Handoko, 2009

Persyaratan penggunaan ventilasi umum adalah :

1. Jumlah kontaminan tidak besar dan terus menerus

2. Konsentrasi rendah

3. Toksisitas rendah

4. Sumber merata

2.7 Penyakit Akibat Kerja Terkait dengan Ventilasi

Manusia menghabiskan 90 % waktunya dalam lingkungan


konstruksi, baik itu di dalam bangunan kantor ataupun rumah yg
mungkin sekali kualitas udara dalam ruangnya tercemar
oleh chemical yg berasal dari dalam maupun luar ruangan, tercemar
oleh mikroba ataupun disebabkan karena ventilasi udara yg kurang
baik. Kualitas udara di dalam ruangan mempengaruhi kenyamanan
lingkungan ruang kerja. Kualitas udara yang buruk akan membawa
dampak negatif terhadap pekerja/karyawan berupa keluhan gangguan
kesehatan.Contoh polutan yang bisa mencemari ruangan misalnya asap
rokok; ozone yg berasal dari mesin foto copy & printer; volatile
organics compounds yg berasal dari carpets, furniture, cat, cleaning
agents dan sebagainya; debu, carbon monoxide, formaldehyde, dan
lain-lain. Keluhan utama yang yang ditimbulkan dari pencemar udara
dalam ruangan itu bisa berupa iritasi (mata berair, bersin, hidung
tersumbat, gatal tenggorokan) , sesak napas, sakit kepala, kelelahan,
gejala seperti flu, dan bronkitis (e.g Legionella).

Menurut Prof. dr. Juli Soemirat, Ph. D & Team. Gangguan yang
dapat muncul dari kualitas udara yang buruk berupa timbulnya
penyakit yang berasal dari kondisi bangunan (Building Related Desease,
BRD) seperti kanker, asma, hypersensitivety pneunomitis, iritasi selaput
lendir, humidifier fever, legionnaire, alergi dan lain-lain. Gangguan lain
berupa gejala Sindroma Bangunan Sakit (Sick Building Syndrome, SBS)
yang menggambarkan keluhan-keluhan non-spesifik dari penghuni.
Keluhan itu mencakup iritasi mata, hidung, tenggorokan dan kulit, serta
sakit kepala, lelah, sukar konsentrasi, napas pendek/berat, termasuk
keluhan tentang temperatur dan kelembaban udara.Keluhan ini hilang
bila penderita keluar dari gedung atau bila yang bersangkutan tidak
berada di dalam gedung.Keluhan tersebut biasanya tidak terlalu parah
dan tidak menimbulkan kecacatan tetap, tetapi jelas terasa amat
mengganggu, tidak menyenangkan dan bahkan mengakibatkan
menurunnya produktivitas kerja para pekerja.

Daftar Pustaka
Buku petunjuk praktek.Automatic fire extinguisher Laboratory. PPNS ITS

Buku petunjuk praktek.Tata tertib praktikum pengukuran lingkungan kerja.


PPNS ITS

SNI 03-6572-2001 Tentang tata cara perancangan sistem ventilasi dan


pengondisian udara pada bangunan gedung, Badan Standarisasi
Nasional, Jakarata, Indonesia.

http://gurumuda.com/bse/permasalahan-ventilasi-di-industri, diunduh tanggal


2 April 2011.

http://www.find-docs.com,diunduh tanggal 01 Maret 2012.


http://repository.usu.ac.id, diunduh tanggal 01 Maret 2012.

http://joytalita.wordpress.com, diunduh tanggal 01 Maret 2012.

http://www.osha.gov/pls/oshaweb/owadisp, diunduh tanggal 01 Maret 2012.

http://www.findtoyou.com/ebook/view.php?id=171543, diunduh 01 Maret


2012.

repository.binus.ac.id/content/R0494/R049499719.PDF, diunduh tanggal 01


Maret 2012.

Suhardi, B, 2008, Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Industri Jilid 1


untuk SMK, Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional.

Keputusan Menteri Kesehatan No. 261/ MEMKES/SK/I/1998 tentang


Persyaratan kesehatan Lingkungan Kerja, Departemen Kesehatan RI,
Jakarata, Indonesia.

http://nuzuliana.blogspot.co.id/2012/06/laporan-praktikum-ventilasi-umum.html

Indeks Kenyamanan Termal

By atjenese on June 4, 2012

Penilaian terhadap kenyamanan termal dilakukan dengan menggabungkan


parameter-parameter termal dalam satu indek.

Adapun indek yang sering digunakan untuk menyatakan kondisi kenyamanan


termal diantaranya adalah:

1. Temperatur efektif

2. PMV-Indeks

3. PPD-Indeks

1. Temperatur efektif

Temperatur Efektif (TE) didefinisikan sebagai temperatur dari udara jenuh dalam
keadaan diam atau mendekati diam (0.1 m/s), pada keadaan tidak ada radiasi
panas akan memberikan perasaan kenyamanan termal yang sama dengan kondisi
udara yang dimaksud. Temperatur efektif pertama kali ditemukan oleh Houghten
dan Yaglow dalam tahun 1923, yang bekerja untuk The American society of
Heating and Ventilating Engineers. Jadi konsep temperatur efektif adalah
berdasarkan anggapan bahwa kombinasi-kombinasi tertentu dari temperatur udara,
kelembaban udara dan kecepatan udara dapat menimbulkan kondisi termal yang
sama (Yan Straaten, 1967, Soegijanto, 1999 : 240).

Temperatur efektif juga diartikan sebagai indeks lingkungan yang menggabungkan


temperatur dan kelembaban udara menjadi satu indeks yang mempunyai arti bahwa
pada temperatur tersebut respon termal dari orang pada kondisi tersebut adalah
sama, meskipun mempunyai temperatur dan kelembaban yang berbeda, tetapi
keduanya harus mempunyai kecepatan udara yang sama. (SNI T 03-6572, 2001 :
18)

Untuk menetukan kenyamanan, maka dalam tahun 1923 Yaglou menyiapkan dua
ruang psikometrik. Ruang yang pertama berudara tenang, tanpa angin, dan
kelembabannya 100%. Sedangkan di dalam ruang kedua, temperatur, kelembaban
dan gerakan udaranya dapat diubah. Yaglou ingin menentukan beberapa kombinasi
dari ketiga faktor tersebut di atas sehingga terjadi kondisi atmosfer yang dapat
memberikan rasa yang sama dengan kondisi ruang pertama. Hal tersebut dilakukan
berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap seorang yang memasuki ruang
kedua setelah terlebih dahulu berada di ruang pertama. Kondisi atmosfer di ruang
kedua tersebut dinyatakan dengan Temperatur Efektif. Dalam kenyataannya,
kecepatan udara di dalam ruangan sangat rendah. Oleh karena itu temperatur
efektif dilukiskan sebagai kombinasi dari temperatur dan kelembaban saja.

Untuk lebih menjelaskan mengenai hal ini diberikan contoh beberapa kondisi
udara yang dirasakan memberikan kenyamanan termal yang sama meskipun
temperatur, kelembaban udara dan kecepatan udara berbeda.

Tabel.Temperatur efektif

Temperatur Kelembaban
Kecepatan udara (m/s)
0
( C) (%)

29 70 0.2
31 40 0.4

32 30 0.6

33 27 1.0

Sumber : Soegijanto, 1999 : 241

Keempat kondisi udara ini didefinisikan mempunyai temperatur efektif yang sama
ialah 27 0C. Temperatur efektif ini pada kondisi lingkungan aktual dapat
dikalkulasikan dengan mengetahui : temperatur operatif, kecepatan aliran udara,
tekanan uap parsial, metabolisme (Met), dan pakaian yang digunakan (Clo).
Sedangkan pada grafik psikometrik, penunjukan garis temperatur efektif dapat
dilihat pada gambar dibawah.

Gambar. Grafik psikometrik dengan garis temperatur efektif.

Sumber : ASHRAE Standard, 2001: 9.12


2. Predicted Mean Vote (PMV) indeks

Predicted Mean Vote (PMV) adalah kondisi termal lingkungan yang secara statistik
menurut pilihan banyak orang dinyatakan sebagai : dingin, sejuk, normal, agak
hangat, hangat dan panas. Predicted Mean Vote mempunyai rentang skala dari -3
(dingin) sampai +3 (panas) sementara 0 kondisi normal, untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel 2.2.

Tabel 2.2 Hubungan Antara Skala PMV dengan Kondisi Termal Lingkungan

Kondisi Termal Lingkungan


No Skala PMV

Panas
1 +3

Hangat
2 +2

Agak Hangat
3 +1

Normal
4 0

Agak Sejuk
5 -1

Sejuk
6 -2

Dingin
7 -3

Sumber : Innova, 1999: 14

Predicted Mean Vote (PMV) indeks ini dikalkulasikan berdasarkan


pada International Standard (ISO) 7730. Nilai PMV ini diperoleh dari heat
balance tubuh yang mengindikasikan perasaan termal dari tubuh keseluruhannya
yang mana dipengaruhi oleh aktifitas fisik dan pakaian. Adapun nilai PMV ini
dapat ditentukan dengan beberapa cara yaitu:

1. Menggunakan komputerisasi

2. Menggunakan tabel nilai Predicted Mean Vote (PMV)

3. Melakukan pengukuran langsung, yang menggunakan


sensor gabungan

3. PPD (Predicted Percentage of Dissatisfied) Indeks

PPD-Indeks (Predicted Percentage of Dissatisfied) digunakan untuk memprediksi


berapa banyak orang yang merasa tidak nyaman dari suatu kondisi termal di dalam
suatu ruangan. PPD-indeks (Predicted Percentage of Dissatisfied) ini membangun
prediksi kuantitatif dari banyaknya orang yang merasa tidak nyaman termal dalam
persen. Setelah nilai dari PMV-indeks (Predicted Mean Vote) diketahui, maka nilai
PPD-indeks dapat di ketahui dengan menggunakan grafik hubungan antara kurva
prediksi persentase ketidaknyamanan (PPD) terhadap prediksi rata-rata pilihan
(PMV) sebagaimana yang ditampilkan pada gambar 2, untuk mendapatkan nilai
yang lebih akurat, PPD ini juga dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan
(2) (ISO 7730, 1999 : 3) di bawah ini:

(2)

dimana,

PPD = Predicted Percentage of Dissatisfied (%)

PMV= Predicted Mean Vote


Gambar. 2 Hubungan antara PMV-indeks dengan PPD-indeks.

Sumber : Innova, 1999: 14

dari Gambar (2.4) memperlihatkan bahwa skala PMV -2 ataupun +2 dinyatakan


tidak nyaman oleh sekitar 75% penghuni (PPD = 75%), PMV-1 dan +1 dinyatakan
tidak nyaman oleh sekitas 25% penghuni (PPD = 25%), sementara PMV 0
dinyatakan tidak nyaman hanya 5% penghuni saja (PPD = 5%).

Standar Nasional Indonesia (SNI)

Departemen Kimpraswil melalui proses yang panjang telah mempersiapkan


beberapa standar yang berkaitan dengan masalah peningkatan kenyamanan termal
ruang dalam bangunan. Standar ini dapat diacu sebagai pedoman dalam
perancanaan bangunan gedung. Standar tersebut diantaranya adalah SNI T 03-
6572-2001.

Standar kenyamanan termal untuk daerah tropis seperti Indonesia dapat dibagi
menjadi :

Sejuk nyaman, antara temperatur efektif 20,5 0C ~ 22,8 0C

Nyaman optimal, antara temperatur efektif 22,8 0C ~


25,8 0C

Hangat nyaman, antara temperatur efektif 25,8 0C ~


27,1 0C
Kelembaban udara relatif yang dianjurkan antara 40% ~ 50%, tetapi untuk ruangan
yang jumlah orangnya padat seperti ruang pertemuan, kelembaban udara relatif
masih diperbolehkan berkisar antara 55% ~ 60%.

Untuk mempertahankan kondisi nyaman, kecepatan udara yang jatuh diatas kepala
tidak boleh lebih besar dari 0,25 m/detik dan sebaiknya lebih kecil dari 0,15
m/detik.

https://atjenese.wordpress.com/2012/06/04/indeks-kenyamanan-termal/