Anda di halaman 1dari 5

Inlay/Onlay Resin Komposit

Perbedaan resin komposit yang digunakan sebagai restorasi plastis dan inlay/onlay
adalah cara manipulasinya dan sifat-sifatnya. Resin komposit sebagai inlay dan onlay
dimanipulasi secara langsung dan tidak langsung di rongga mulut (direct and indirect
technique). Teknik indirect ini menyebabkan resin komposit dapat dipolimerisasi dua kali.
Polimerisasi pertama dilakukan dengan menggunakan sinar tampak (visible light) dengan
panjang gelombang 470 nm. Polimerisasi kedua dilakukan dengan menggunakan bantuan
alat spesifik yang bentuknya seperti oven, yang telah dimodifikasi dengan tambahan alat
pemancar sinar, pengatur suhu, serta tekanan. Suhu yang digunakan adalah 250 F selama
7 menit.
Adanya polimerisasi kedua ini menyempurnakan polimerisasi pada monomer-
monomer yang awalnya belum terpolimerisasi seluruhnya. Hal ini menurunkan resiko
polymerization shrinkage sehingga mengurangi terjadinya microleakage atau kebocoran
mikro di daerah tepi. Sifat fisik resin komposit seperti kekuatan tahan tekan (compressive
strength) dan ketahanan aus (wear resistance) akan semakin meningkat dengan
menurunnya kebocoran mikro ini. Selain itu, sifat estetisnya tetap baik, dan tidak berbeda
dengan resin komposit sebagai restorasi plastis.
Kelebihan
Estetik sewarna dengan gigi asli.
Preparasi tidak terlalu rumit.
Lebih ekonomis dibandingkan dengan restorasi indirek lain.
Kekurangan
Kurang tahan lama dan mudah aus dibandingkan restorasi rigid berbahan logam
ataupun porselen.
Jika menggunakan teknik indirek memerlukan kunjungan tambahan.
Lebih mahal dibandingkan restorasi plastis komposit, karena memerlukan
instrument khusus maupun proses laboratorium.

Sifat-sifat
Porselen
Ekspansi termal
Porselen memiliki ekspansi termal yang mendekati ekspansi termal dari
substansi gigi, yaitu sekitar 6,4 7,8 x 10-6 mm/mmoC.
Estetis
Pewarna porselen terdiri dari sediaan bubuk metal.Pewarnaan yang terjadi
pada porselen tergantung pada oksida logam yang digunakan.Penambahan zat
warna yang tepat akan menghasilkan warna translusen yang menyerupai warna
gigi. Porselen yang telah dipoles memiliki permukaan yang halus, sehingga plak
dan debris tidak mudah menempel.
Kekuatan
Porselen memiliki comprsessive strength yang tinggi dibanding dengan tensil
strength atau transverse strength.Porselen membentuk restorasi yang tahan lama
dan tidak korosi atau larut.
Kekerasan
Memiliki kekerasan yang sangat bagus dan merupakan salah satu material
yang mempunyai kekerasan terbaik dilihat dari knoop Hardness Number yaitu 460
kg/mm2 dibandingkan alloy emas 22K.
Biokompatible
Porselen dapat beradaptasi dengan baik terhadap perubahan temperatur mulut
dan tidak larut dalam saliva dan tidak mengiritasi jaringan mulut.Pada bahan ini
tidak ditemukan efek toksiknya dan tidak menimbulkan reaksi alergi bagi si
pemakai.
Kelebihan
Memiliki estetik yang baik karena warnanya dapat disesuaikan dengan warna gigi
asli pasien.
Resistensi terhadap pemakaian karena porselen miliki kekuatan yang bagus,
sehingga cukup lama dapat bertahan di rongga mulut.
Biokompatibilitas dan respon jaringannya baik.
Mempunyai kemampuan untuk menguatkan struktur gigi yang tersisa.
Dapat mengembalikan anatomis gigi
Sifat fisis yang adekuat untuk rekonstruksi oklusi.
Polimerisasi shrinkage tidak ditemukan.
Kekurangan
Biayanya mahal
Waktu kunjungan lama
Memerlukan keterampilan yang tinggi
Dapat menyebabkan keausan gigi antagonis dan restorasi komposit antagonis.
Kesulitan untuk polishing intraoral.
Potensial perbaikan yang rendah.

Tahapan Pembuatan Restorasi Rigid Inlay/Onlay


Pada inlay dan onlay proseduralnya sama, yang membedakan adalah besarnya
keterlibatan cusp yang direstorasi. Dan prosedural pad tiap bahan berbeda pada teknik
preparasi nya.
Tahapan Preparasi pada Inlay/ Onlay Logam
Kunjungan Pertama
1 Teknik Preparasi
Teknik preparsi dari inlay/onlay hampir sama dengan prinsip preparasi pada
umumnya. Namun, terkadang inlay/onlay digunakan apabila terjadi karies sekunder
yang sudah melibatkan cusp. Tahapan preparasi sebagai berikut:
a Membuka akses dengan membongkar restorasi yang lama dengan round bur
b Menghlangkan jaringan karies sekunder dengan roundbur ataupun ekskavator
Preparasi ini tetap memperhatikan prinsip dari preparasi pada umumnya, yaitu
resistensi, retensi, convinience dan extension for prevention. Ditambah syarat-syarat
khusus dari preparasi untuk restorasi rigid dari logam antara lain:
a Outline form kavitas sempit dan bersudut tajam
b Line angle tajam pada alas kavitas
c Dinding kavitas tegak atau divergen 3 - 5 ke oklusal
d Tidak ada undercut
e Short bevel 45 pada cavosurface line angle, agar inlay/onlay dapat diburnish
sehingga mendapatkan adaptasi yang baik
f Reverse bevel pada gingivoaxial line angle.
2 Memeriksa kerentanan cusp
Tahap ini merupakan aspek yang penting dan harus diperhatikan karena bagian
oklusal gigi akan mendapatkan tekanan pengunyahan maka harus dilihat dan
diperhatikan bagaimana kerentanan dari cusp tersebut. Dengan tahap ini kita juga bisa
memilih bahan yang tepat untuk restorasi inlay/ onlay yang akan digunakan.
3 Memeriksa undercut
Pada restorasi rigid (inlay atau onlay), undercut bukan merupakan bentuk retensi.
Retensi dari restorasi rigid didapat dari adanya bevel pada cavosurface. Sehingga
setiap undercut ditutup dengan menggunakan liner.
4 Memberi liner kavitas.
Dasar kavitas diberi liner dan seringkali liner tersebut adalah kalsium hidroksida.
Semen ini digunakan juga untuk menutup undercut sehingga diharapkan dasar cavitas
akan rata dan licin. Semen ionomer kaca juga seringkali digunakan, bahan ini bekerja
optimal karena memeiliki sifat adesif dengan dentine dan mudah diadaptasikan dalam
kavitas.
5 Pencetakan
Pencetakan bisa secara menyeluruh ataupun hanya sebagian, namun tetap kedua
regio dilakukan pencetakan untuk mengetahui kontak dengan gigi antagonisnya.
Bahan yang sering digunakan adalah elastomer karena lebih praktis dibanding bahan
lain.
6 Restorasi sementara
Prosedural di Dental Lab
Sprue dan pola diletakkan pada cone-shaped form, ditutup dengan bumbung
tuang lalu dituangi dengan bahan investmen dan dibiarkan mengeras. Jika telah
mengeras, cone-shaped form dan sprue diangkat dengan pinset. Bumbung tuang
kemudian diletakkan dalam pembakaran (temperatur bumbung tuang dalam
pembakaran mencapai 7000C yang dinaikkan perlahan-lahan) sampai malam meleleh
dan menguap atau akriliknya terbakar habis lalu logam cair dicorkan dan dibiarkan
mengeras. Ketika masih panas bumbung tuang dicelupkan kedalam air sehingga
investmen akan pecah dan mudah dibuka. Sprue dipotong, biasanya disisakan sedikit
sebagai pegangan ketika mencoba inlay dalam kavitas. Inlay direk yang kecil
biasanya tidak dipoles sampai dicobakan di dalam mulut (Kidd, 2002).
Kunjungan Kedua
Restorasi sementara dibuka dan kavitas dibersihan serta diperiksa dari sisa-
sisa tambalan sementara. Untuk sebagian besar inlay kecil dianjurkan memakai
isolator karet agar bila terjatuh tidak ada resiko tertelan (Kidd, 2002). Sebelum
dicobakan kedalam kavitas, permukaan dalam inlay harus diperiksa dengan teliti
memakai alat pembesar. Kemudian inlay dicobakan kedalam kavitas. Jika restorasinya
telah pas, tepi inlay diburnis dengan burnisher tangan dengan gerakan dari inlay ke
gigi. Suatu daerah tepi yang tampak terlalu tebal dapat dikurangi dengan finishing bur
baja bulat dan kecil atau dengan stone putih low speed. Jika telah ditipiskan, logam
dapat diburnis kembali. Tepi inlay dipoles dengan poin karet pumis dan caret.
Kemudian inlay diangkat dan sprue dipotong dengan disk karborondum dan sisa
permukaan dipoles dengan roda karet abrasif. (Kidd, 2002)
Kavitas lebih dahulu dicuci, diisolasi dan dikeringkan untuk penyemenan
dalam kavitas. Semen yang digunakan adalah semen ionomer kaca. Campuran semen
dilapiskan ke permukaan dalam inlay lalu ke dinding-dinding kavitas. Inlay kemudian
dimasukkan dan tekan dengan burnisher yang diletakkan di tengah-tengah inlay.
Setelah itu gulungan kapas diletakkan di permukaan oklusal dan pasien diminta
menggigit keras-keras sehingga inlay terdorong ke posisi yang tepat dan mengurangi
ketebalan semen perekat. Permukaan oklusal dipoles dengan pasta pumis yang
diletakkan pada bur sikat, diikuti oleh whiting pada but caret supaya kemengkilatan
sempurna.
Kidd, E.A.M., Smith, B.G.N., & Pickard, H.M.,2002.Manual Konservasi
Restoratif Menurut Pickard. Edisi 6. Alih bahasa oleh Narlan
Sumawinata. Widya Medika : Jakarta.