Anda di halaman 1dari 10

I.

Judul
Analisis Spermatozoa

II. Tujuan
1. Mengetahui struktur mikroskopis sel sperma melalui apus suspensi sperma
2. Mengetahui pola pergerakan (motilitas) dari spermatozoa

III. Alat dan Bahan


Alat Bahan
Cawan petri Sperma marmut
Gelas objek Sperma katak
Mikroskop Sperma merpati
Alat bedah NaCl fisiologis
Jarum pentul Giemsa

IV. Prinsip Kerja


Membunuh hewan uji dan dipotong bagian ventralnya untuk diambil cauda
epididimis. Epididiis dimasukkan ke dalam larutan fisiologis 2 ml dan dipotong halus
sehinga berbentuk suspense. Untuk mengamati motilitas sperma, cairan suspense
epididimis diteteskan pada gelas objek cekung 2 atau 3 tetes. Melihat motilitas sperma di
bawah mikroskop. Mengamati jarak pergerakan (micrometer) setiap detik dan
arah/keadaan gerak spermatozoa. Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang mahasiswa untuk
setiap pengamatan motilitas. Untuk pengamatan morfologi, mengambil cairan yang
mengandung spermatozoa yang berasal dari testis, epididimis, atau vasdeferens.
Melarutkan pada NaCl fisiologis kemudian meletakkan cairan pada objek glas yang
bersih. Dengan objek glas yang lain dioleskan setipis mungkin dan fiksasi dengan
melewatkannya di atas api. Mewarnai dengan giemsa atau eosin, selama 3-5 menit.
Mencuci dengan air mengalir. Mengeringkan dan mengamati di bawah mikroskop.

V. Data Pengamatan
Sperma Katak Sperma Marmut Sperma Merpati
VI. Pembahasan
Sperma Katak
Gambar Pengamatan Gambar Searching

http://laboratorium-embriologi-fkh-
unsyiah.blogspot.co.id/2013/05/laporan-
praktikum-v-pengamatan.html
Pembahasan
Karakteristik (bentuk)
Hasil pengamatan:
Terdiri atas bagian kepala, leher, dan ekor. Kepala berbenruk bulat meruncing, leher
berbentuk persegi panjang yang ukurannya lebih kecil dari kepala dan lebih besar dari
ekor. Ekor sperma berupa flagellum panjang.
Teori:
Sel sperma katak tersusun atas bagian kepala, leher, dan ekor.
- Bagian kepala
Kepala sperma katak berbentuk bulat meruncing. Kepala sperma tersusun atas
akrosom dan inti. Kepala sperma ditutup oleh tudung protoplasmic yang disebut
akrosom. Akrosom berfungsi untuk melisis lendir penghalang saluran kelamin betina dan
selaput ovum. Seperti halnya lisosom umumnya, akrosom pun diproduksi oleh alat golgi
(Toelihere, 1981). Inti mengandung bahan genetis yang akan diwariskan kepada anak
cucu.
- Bagiaan leher
Bagian leher merupakan bagian tengah sperma. Bagian ini banyak mengandung
mitokondria yang berfungsi menghasilkan energi untu pergerakan. Menurut Sukra
(2000) menyatakan bahwa, leher sperma berupa bagian dari silia yang terdiri dari
mikrotubulus dan mengandung banyak ATP untuk energi pergerakan ekor. Leher sperma
terdiri atas dua buah fibril pusat yang dikelilingi oleh 9 fibril ganda berupa sebuah cincin
berganda. Cincin tersebut berjalan mulai dari daerah implantasi sampai ke ujung ekor.
- Bagian ekor
Menurut Prawihartono (2000: 153), sperma katak memiliki ekor/flagell yang lebih
panjang dibandingkan sperma pada mamalia, karna pada saat fertilisasi, katak
mengeluarkan sperma di dalam air, sehingga sperma dapat bergerak leluasa dalam air
untuk menemukan sel telur yang juga dilepaskan di dalam air. Ekor sperma berporoskan
flagellum. Flagellum ini memiliki rangka dasar yang disebut axonema, tersusun atas 9
duplet dan 2 singlet mikrotubul. Ekor sperma mengandung sentriol (sepasang),
mitokondria, dan serat fibrosa (Wongso, 2007). Ekor sperma berfungsi untuk pergerakan
menuju tempat pembuahan dan untuk mendorong kepala menerobos selaput ovum.
Motilitas sperma
Hasil pengamatan:
Sperma katak bergerak menggunakan flagellumnya.
Teori:
Ciri utama spermatozoa adalah motilitas atau daya geraknya. Motilitas sperma
memegang peranan penting sewaktu pertemuannya dengan ovum. Ekor sperma
mengandung semua sarana yang perlu untuk motilitas, dan ekor yang telah terpisah dari
kepala sperma dapat bergerak seperti sediakala. Gelombang-gelombang sperma yang
berenang dalam arah yang sama merupakan suatu ciri khas semen katak yang belum
diencerkan bila dilihat dibawah mikroskop. Kecepatan pergerakan sperma bervariasi
sesuai dengan kondisi medium dan suhu (Toelihere, 1981). Jumlah yang bergerak maju
ialah jumlah spermatozoa semua dikurangi jumlah mati. Dianggap normal jika motil
maju > 40 %. (Yatim, 1994).
Ketika masih dalam tubulus seminiferus spermatozoa tak bergerak. Secara berangsur
dalam ductus epididymis mengalami pengaktifan. Ketika keluar dari tubuh kecepatan
spermatozoa dalam medium cairan saluran kelamin betina sekitar 2,5 mm/menit. (Yatim,
1996).
Viabilitas
Hasil pengamatan:
Sperma katak mati setelah difiksasi di atas bunsen dan diwarnai dengan giemsa.
Teori:
Spermatozoa katak mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang berubah.
Terlalu rendah atau tinggi suhu medium akan merusak pertumbuhan dan kemampuan
membuahi. Perubahan Ph pun merusak sperma. Terlebih terhadap asam. Keasaman dapat
mematikan spermatozoa. (Adnan, 2006).

Sperma Marmut
Gambar Pengamatan Gambar Searching

http://laboratorium-embriologi-fkh-
unsyiah.blogspot.co.id/2013/05/laporan-
praktikum-v-pengamatan.html
Pembahasan
Karakteristik (bentuk)
Hasil pengamatan:
Terdiri atas bagian kepala, leher, dan ekor. Kepala berbenruk bulat, leher berbentuk
persegi panjang yang ukurannya lebih kecil dari kepala dan lebih besar dari ekor. Ekor
sperma berupa flagellum panjang yang digunakan untuk pergerakan.
Teori:
Sel sperma katak tersusun atas bagian kepala, leher, dan ekor.
- Bagian kepala
Kepala sperma marmut mengandung nucleus haploid yang ditudungi oleh badan khusus,
yaitu akrosom. Menurut Bambang (2007), yang mengandung enzim yang membantu
sperma menebus sel telur terletak dibelakang kepala. Sel sperma mengandung sejumlah
besar mitokondria yang menyediakan ATP untuk pergerakan ekor. Kepala sperma juga
mengandung bahan genetis yang akan diwariskan kepada anak cucu. (Toelihere, 1981)
- Bagiaan leher
Leher merupakan bagian penghubung antara ekor dengan kepala. Tempat melekat ekor ke
kepala disebut implantation fossa, dan bagian ekor yang menonjol disebut capitulum,
semacam sendi peluru pada kepala. Dekat capitulum terletak sentriol depan (proximal),
sentriol ujung (distal) hanya berupa sisa pada spermatozoa matang. Bagian ini banyak
mengandung mitokondria yang berfungsi menghasilkan energi untu pergerakan. Menurut
Sukra (2000) menyatakan bahwa, leher sperma berupa bagian dari silia yang terdiri dari
mikrotubulus dan mengandung banyak ATP untuk energi pergerakan ekor. Leher sperma
terdiri atas dua buah fibril pusat yang dikelilingi oleh 9 fibril ganda berupa sebuah cincin
berganda. Cincin tersebut berjalan mulai dari daerah implantasi sampai ke ujung ekor.
- Bagian ekor
Panjang ekor sperma sekitar 40-50 mikron dan berasal dari sentriol spermatid selama
spermiogenesis. Ujung anterior bagian tengah yang berhubungan dengan kepala dikenal
sebagai daerah implantasi. Pemisahan kepala dari ekor dapat terjadi di daerah ini. Ia
memberi gerak maju pada spermatozoa dengan gelombang-gelombang yang dimulai di
daerah implantasi ekor-kepala dan berjalan kearah distal sepanjang ekor (Toelihere,
1981). Menurut Yatim (1994), ekor sperma dibagi atas :
1. Bagian tengah, memiliki teras yang disebut axonem, terdiri dari 9 duplet mikrotubul
radial dan 2 singlet mikrotubul sentral. Susunan axonem sama dari pangkal ke ujung
ekor. Pada bagian ujung selubung mitokondria ada annulus (cincin), tempat melekat
membran flagellum, dan juga sebagai batas dengan bagian utama.
2. Bagian utama, depan panjang 45 um, tebal 0,5 um, yang secara berangsur kian gepeng
ke ujung. Sebelah luar ada seludang fibrosa, terdiri dari batang longitudinal atas-bawah,
diselaputi rusuk-rusuk fibrosa setengah lingkaran.
3. Bagian ujung, panjang 5-7 um, tidak mengandung selaput fibrosa yang berusuk-rusuk,
sehingga ia berstruktur sama dengan flagellum atau cilium. Di daerah ini axonem
berubah komposisinya jadi singlet.
Motilitas sperma
Hasil pengamatan:
Sperma marmut bergerak menggunakan flagellumnya.
Teori:
Ciri utama spermatozoa adalah motilitas atau daya geraknya. Motilitas sperma
memegang peranan penting sewaktu pertemuannya dengan ovum. Ekor sperma
mengandung semua sarana yang perlu untuk motilitas, dan ekor yang telah terpisah dari
kepala sperma dapat bergerak seperti sediakala. Gelombang-gelombang sperma yang
berenang dalam arah yang sama merupakan suatu ciri khas semen katak yang belum
diencerkan bila dilihat dibawah mikroskop. Kecepatan pergerakan sperma bervariasi
sesuai dengan kondisi medium dan suhu (Toelihere, 1981). Jumlah yang bergerak maju
ialah jumlah spermatozoa semua dikurangi jumlah mati. Dianggap normal jika motil
maju > 40 %. (Yatim, 1994).
Ketika masih dalam tubulus seminiferus spermatozoa tak bergerak. Secara berangsur
dalam ductus epididymis mengalami pengaktifan. Ketika keluar dari tubuh kecepatan
spermatozoa dalam medium cairan saluran kelamin betina sekitar 2,5 mm/menit. (Yatim,
1996).
Viabilitas
Hasil pengamatan
Sperma katak mati setelah difiksasi di atas bunsen dan diwarnai dengan giemsa.
Teori:
Spermatozoa marmutt mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang berubah.
Kekurangan vitamin E menyebabkannya tak bertenaga melakukan pembuahan. Terlalu
rendah atau tinggi suhu medium pun akan merusak pertumbuhan dan kemampuan
membuahi. Pada mammalian khususnya marmot, scrotum memilikisuhu lebih rendah dari
suhu tubuh. Perubahan Ph pun merusak sperma. Terlebih terhadap asam. Keasaman
sanggama (vagina) ternyata dapat menyebabkan kemandulan pula, karena mematikan
spermatozoa yang masuk (Adnan, 2006).

Sperma Merpati
Gambar Pengamatan Gambar Searching

http://laboratorium-embriologi-fkh-
unsyiah.blogspot.co.id/2013/05/laporan-
praktikum-v-pengamatan.html

Pembahasan
Karakteristik (bentuk)
Hasil pengamatan:
Terdiri atas bagian kepala, leher, dan ekor. Kepala berbenruk bulat meruncing, leher
berbentuk persegi panjang yang ukurannya lebih kecil dari kepala dan lebih besar dari
ekor. Ekor sperma berupa flagellum agak pendek yang digunakan untuk pergerakan.
Teori:
- Bagian kepala
Kepala sperma burung berbentuk bulat meruncing. Kepala sperma tersusun atas
akrosom dan inti. Kepala sperma ditutup oleh tudung protoplasmic yang disebut
akrosom. Akrosom berfungsi untuk melisis lendir penghalang saluran kelamin betina dan
selaput ovum. Seperti halnya lisosom umumnya, akrosom pun diproduksi oleh alat golgi
(Toelihere, 1981). Inti mengandung bahan genetis yang akan diwariskan kepada anak
cucu.
- Bagiaan leher
Bagian leher merupakan bagian tengah sperma. Bagian ini banyak mengandung
mitokondria yang berfungsi menghasilkan energi untu pergerakan. Menurut Sukra
(2000) menyatakan bahwa, leher sperma berupa bagian dari silia yang terdiri dari
mikrotubulus dan mengandung banyak ATP untuk energi pergerakan ekor. Leher sperma
terdiri atas dua buah fibril pusat yang dikelilingi oleh 9 fibril ganda berupa sebuah cincin
berganda. Cincin tersebut berjalan mulai dari daerah implantasi sampai ke ujung ekor.
- Bagian ekor
Ekor sperma merpati berporoskan flagellum. Flagellum ini memiliki rangka dasar yang
disebut axonema, tersusun atas 9 duplet dan 2 singlet mikrotubul. Ekor sperma
mengandung sentriol (sepasang), mitokondria, dan serat fibrosa (Wongso, 2007). Ekor
sperma berfungsi untuk pergerakan menuju tempat pembuahan dan untuk mendorong
kepala menerobos selaput ovum.
Motilitas sperma
Hasil pengamatan:
Sperma merpati bergerak menggunakan flagellumnya.
Teori:
Flagellum atau ekor berperan dalam pergerakan akhir spermatozoa untuk mencapai
tempat fertiisasi, disamping faktor yang digerakkan oleh saluran kelamin jantan
(Setiawan, 2002). Motilitas sperma memegang peranan penting sewaktu pertemuannya
dengan ovum. Ekor sperma mengandung semua sarana yang perlu untuk motilitas, dan
ekor yang telah terpisah dari kepala sperma dapat bergerak seperti sediakala. Gelombang-
gelombang sperma yang berenang dalam arah yang sama merupakan suatu ciri khas
semen katak yang belum diencerkan bila dilihat dibawah mikroskop. Kecepatan
pergerakan sperma bervariasi sesuai dengan kondisi medium dan suhu (Toelihere, 1981).
Jumlah yang bergerak maju ialah jumlah spermatozoa semua dikurangi jumlah mati.
Dianggap normal jika motil maju > 40 %. (Yatim, 1994).
Ketika masih dalam tubulus seminiferus spermatozoa tak bergerak. Secara berangsur
dalam ductus epididymis mengalami pengaktifan. Ketika keluar dari tubuh kecepatan
spermatozoa dalam medium cairan saluran kelamin betina sekitar 2,5 mm/menit. (Yatim,
1996).
Viabilitas
Hasil pengamatan
Sperma merpati mati setelah difiksasi di atas bunsen dan diwarnai dengan giemsa.
Teori:
Spermatozoa merpati mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang berubah.
Kekurangan vitamin E menyebabkannya tak bertenaga melakukan pembuahan. Terlalu
rendah atau tinggi suhu medium pun akan merusak pertumbuhan dan kemampuan
membuahi. Pada mammalian khususnya marmot, scrotum memilikisuhu lebih rendah dari
suhu tubuh. Perubahan Ph pun merusak sperma. Terlebih terhadap asam. Keasaman
sanggama (vagina) ternyata dapat menyebabkan kemandulan pula, karena mematikan
spermatozoa yang masuk (Adnan, 2006).

VII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
Katak Marmut Merpati
Karakteristik Terdiri atas bagian Terdiri atas bagian Terdiri atas bagian
kepala, leher, dan kepala, leher, dan kepala, leher, dan
ekor. Kepala ekor. Kepala ekor. Kepala
berbenruk bulat berbenruk bulat, leher berbenruk bulat
meruncing, leher berbentuk persegi meruncing, leher
berbentuk persegi panjang yang berbentuk persegi
panjang yang ukurannya lebih kecil panjang yang
ukurannya lebih kecil dari kepala dan lebih ukurannya lebih kecil
dari kepala dan lebih besar dari ekor. Ekor dari kepala dan lebih
besar dari ekor. Ekor sperma berupa besar dari ekor. Ekor
sperma berupa flagellum panjang sperma berupa
flagellum panjang. yang digunakan untuk flagellum agak pendek
pergerakan. yang digunakan untuk
pergerakan.

Motilitas Sperma bergerak Sperma bergerak Sperma bergerak


menggunakan menggunakan menggunakan
flagellum flagellum flagellum
Viabilitas Viabilitas sperma Viabilitas sperma Viabilitas sperma
dipengaruhi oleh suhu dipengaruhi oleh suhu dipengaruhi oleh suhu
dan pH. dan pH. dan pH.

VIII. Daftar Pustaka


Adnan, 2006. Reproduksi dan Embriologi. Makasar : Jurusan Biologi FMIPA UNM Campbell, N.
A.2004. Biologi Edisi ke 5 Jilid III. Jakarta : Erlangga
Bambang. 2007. Srtruktur dan Perkembangan Hewan. Sahyakirti: Jakarta. VI+ 234 hlm.
Sukra, Yuhara. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi
DEPDIKNAS: Jakarta. 392 hlm.
Toelihere. 1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Bandung: Angkasa Wongso, Anton
Wongso.2007. Membaca Analisis Sperma. http:// klinik andrologi blogspot.com.diakses tanggal 17
mei 2009
Yatim, wildan. (1994). Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito Yatim, wildan. 1996. Histologi.
Bandung: Tarsito
http://laboratorium-embriologi-fkh-unsyiah.blogspot.co.id/2013/05/laporan-praktikum-v-
pengamatan.html
IX. Laporan sementara