Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1 Latar Belakang
Bumi merupakan sebuah tubuh batuan yang berbentuk bola pejal dan
memiliki lapisan-lapisan batuan didalamnya. Namun dalam kenyaatanya bumi
tidaklah bulat sempurna namun berbentuk elipsoid . Sehingga bumi lebih
menonjol pada bagian ekuator. Jarak permukaan bumi di ekuator lebih jauh ke inti
daripada jarak dari inti ke kutub bumi, akibatnya gaya gravitasi yang terjadi di
kutub lebih besar daripada gaya gravitasi di ekuator.Gaya gravitasi sendiri adalah
gaya tarik menarik yang timbul karena adanya dua buah masa yang memiliki
jarak r.
Metode Gravity adalah salah satu metode geofisika yang memanfaatkan
gaya gravitasi bumi dalam kegiatan eksplorasi. Metode Gravity merupakan
metode geofisika pasif karena memanfaatkan gaya berat yang telah tersedia di
alam bebas tanpa harus memberi gangguan dari permukaan bumi dalam
pengaplikasianya.
Besarnya nilai gravitasi di suatu lokasi pengukuran yang sudah bersih dari
pengaruh-pengaruh elevasi,garis lintang,gaya Garvitasi dari bumi dan pengaruh
lainya disebut dengan nilai Anomai Bouguer Lengkap. Anomali Bouguer Lengkap
di petakan dalam sebuah peta 2 Dimensi pada sumbu x dan y. Kemudian peta
ABL tersebut disayat sesuai dengan target yang ingin dilihat dengan cara
membuat pemodelan 3 dimensi sehingga dapat dilihat kemeneruanya ke bawah
permukaan bumi hingga kedalaman berapa.

1.2. Maksud dan Tujuan

1
Maksud dari praktikum ini agar dapat memahami dan mengarti cara
membuat peta ABL,peta sayatan dan pemodelan 3 dimensi dari peta ABL yang
telah dibuat.Kemudian dari pembuatan peta-peta tersebut dimaksudkan agar
memahami kondisi geologi daerah yang dipetakan dengan melihat kenampakan
pada peta yang telah dibuat.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menuangkan hasil dari pengolahan
data ABL dalam sebuah peta 3 dimensi dengan menggunakan software Oasis
montaj,Mathlab,Surfer,Grablox,bloxer dan voxler.

BAB II

2
DASAR TEORI

2.1. Metode Gravity


Metode gravity atau disebut juga metode gayaberat merupakan salah atu
metode tak langsung dalam geofisika. Metode ini digunakan untuk mengetahui
kondisi bawah permukaan pada area pengukuran, yaitu dengan cara mengamati
variasi lateral dan densitas batuan bawah permukaan. Telah diketahui bahwa gaya
gravitasi adalah suatu gaya yang bekerja antara dua benda. Besarnya gaya akan
berbanding lurus dengan massa kedua benda dan berbanding terbalik dengan
kuadrat jarak antara dua benda tersebut. Interaksi anara benda-benda yang berada
pada sekeliling area pengukuran akan berpengaruh terhadap nilai pengukuran.
Survei dengan menggunakan metode gravitasi memanfaatkan nilai
percepatan gravitasi di area survei tersebut. Perubahan percepatan pada satu titik
dengan titik lain disekitarnya dapat menandakan adanya perbedaan material atau
kandungan yang ada di bawah permukaan bumi. Namun, perubahan yang terjadi
sangat kecil sehingga dalam pengukuran metode gravitasi memerlukan alat ukur
yang memiliki kepekaan yang sangat tinggi, alat yang digunakan yaitu
gravitimeter yang bahkan sekarang telah dikembangkan alat mikrogravitimeter.

2.2 ABL (Anomali Bouguer Lengkap)


Nilai anomali Bouguer lengkap dapat diperoleh dari nilai anomali
Bouguer sederhana yang telah terkoreksi medan, secara matematis dapat ditulis
sebagai berikut :
g BL= g BS + gT
(2.1)

dengan :
gBL : anomali Bouguer lengkap di topografi
gBS : anomali Bouguer sederhana di topografi
gT : koreksi medan (mGal).

2.3 Upward Continuation

3
Upward Continuation merupakan suatu proses untuk mengubah data
pengukuran medan potensial yang telah dikoreksi dalam satu permukaan ke
beberapa permukaan yang lebih tinggi dari permukaan ketika melakukan
pengukuran hingga beberapa meter. Untuk penetuan ketinggiannya tergantung
pada ketinggian dalam melihat target yang prospek sehingga dapat terlihat lebih
jelas tanpa tergabung dengan noise yang ada atau terpengaruh benda-benda dekat
permukaan yang bersifat magnet sehingga akan membuat data agak sulit untuk
dilihat prospeknya.
Upward Continuation dilakukan dengan tujuan agar dapat menghilangkan
pengaruh topografi di daerah magnetik dan untuk mengurangi pengaruh dari
benda-benda dekat permukaan yang bersifat magnet. Peta regional dan lokal ini
dibuat setelah peta anomali magnetik di kontinuitas keatas pada software Magpick
mulai dari elevasi 10.00 sampai elevasi yang diinginkan. Upward
Continuation(pengangkatan ke atas) ini dilakukan terhadap data anomali medan
magnet yang telahj diproyeksikan ke bidang datar.
Upward continuation merupakan suatu proses untuk mengubah data
pengukuran medan potensial yang telah di koreksi dalam suatu permukaan ke
beberapa permukaan medan potensialyang lebih tinggi dari permukaan ketika
melakukan pengukuran hingga beberapa meter. Untuk penentuan ketinggian
tergantung pada keinginan dalam melihat target yang prospek sehingga dapat
terlihat jelas tanpa terabung dengan noise yang ada atau pengaruh dari benda
benda dekat permukaan yang bersifat magnet sehingga akan membuat data akan
lebih agak sulit untuk dilihat prospeknya.

Gambar 2.1 Upward Continuation

2.4 Permodelan 3D Graviti

4
Tahapan setelah data gravitasi sudah terkoreksi dan dipisahkan antara
anomali lokal dan anomali regional adalah pemodelan. Pada tahap pemodelan,
data gravitasitersebut ditafsirkan agar mendapat gambaran mengenai struktur
bawah permukaan berdasarkan distribusi rapat massa batuannya. Secara teknik
pemodelan dilakukan dengan membandingkan nilai anomali gravitasi hasil
pengamatan dengan nilai anomali gravitasi dari model geometri yang dibuat.
Pemodelan tiga dimensi dianggap pemodelan yang lebih realistis
dibandingkan dengan pemodelan dua dimensi karena bentuk model geometri
dibuat dapat disesuaikan dengan bentuk benda yang ada di alam. Hasil
perhitungannya pun lebih akurat. Kelemahan dari pemodelan tiga dimensi adalah
pada proses perhitungan yang lama.Namun seiring perkembangan teknologi
dengan bantuan komputer proses perhitungan dapat dilakukan dengan cepat. Pada
penelitian ini model tiga dimensi (3D) yang digunakan adalah model prisma
segiempat (Grandis, 2002).

Gambar 2.2 Perkiraan massa benda tiga dimensi oleh kumpulan prisma
segiempat

Kumpulan prisma segiempat ini memberikan solusi sederhana untuk


memperkirakan volume dari massa benda tertentu. Jika cukup kecil, setiap prisma
dapat diasumsikan memiliki densitas yang konstan, sehingga dengan prinsip
superposisi, maka anomali gravitasi dari benda pada tiap titik dapat diperkirakan
sebagai jumlahan dari gaya total prisma. Sebagai contoh, prisma segiempat

5
dengan densitas seragam dengan dimensi yang dibatasi oleh x< x < x2, y1< y <
y2, z1< z < z2, maka gaya vertikal pada sumber diberikan oleh:

(2.2)

Dengan merupakan konstanta gravitasi dalam satuan Nm2/kg2 (Grandis,


2002).

6
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Diagram Alir Pengolahan Data

Mulai

Peta ABL

Peta Upward

Sayatan

Data sayatan

Perhitungan kedalaman

Grid profil

Grablox

Bloxer

Data pemodelan 3
dimensi

Pemanpang 3 Dimensi

Selesai

Gambar 3.1. Diagram alir pengolahan data

7
3.2. Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data.
Berikut adalah penjelasan dari serangkaian diagram alir di atas:
Membuat peta ABL dengan software oasis montaj.
Melakukan filter upward continution kepada peta ABL.
Menyayat lokasi-lokasi yang menadi target penelitian,Dan menyimpanya
dengan format csv.
Membuka data-data sayatan pada format CSV dengan menggunakan
surfer.Pada lagkah ini hapus data koordinat x dan y sayatan dan hanya
menyisakan distance dan nilai mGal.Kemudian menyimpanya dalam
bentuk DAT.
Menaruh data DAT dan CSV pada folder yang sama dengan scrip untuk
mathlap.
Membuka mathlap dan melakukan perhitungan untuk mendapatkan nilai
kedalaman regional dan lokal.
Mengcopy data kedalaman lokal dan regional pada note pad.
Setelah data kedalaman telah didapat kemudian membuka Surfer 13 dan
membuka data peta upward dalam bentuk DAT sehingga akan muncul peta
Upward.Kemudian mencari info grid peta dan copy info grid ke dalam
notepad.Data dari notepad kemudian di pindah ke microsoft excel.
Menyimpan peta upward dari surfer dalam bentuk DAT.kemudian buka
microsoft excel dan buka data peta upward hasil penyimpanan dari surver
dan melakukan pengeditan dan penembahan kode seperti nama dan jumlah
data.kemudian Masukkan data tersebut kedalam surfer dan simpan dalam
bentuk DAT dan namanya sesuai dengan nama yang teelah kita atur.
Membuka software Grablox dan memsukkan semua data dari notepad
kemudian save.Membuka Grablox lagi dan menalankn perintah seperti
density,occan d ,height dan ocan h.
Membuka bloxer dan centang pada volumetrix view.Kemudian save data.
Membuka data hasil bloxer pada microsoft excel dan melakukan
pengaturan terhadap koordinat x,y,z dan densitas.
Mengcopy data x,y,z dan densitas pada foxler dan menyimpanya dalam
bentuk DAT.Membuat pemodelan 3D dengan data tersebut pada Foxle

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

8
4.1. Peta Anomali B4.2. Peta Anomali Bouguer Lengkap

Gambar 4.1. Peta Anomali Bouguer Lengkap


Gambar 4.1. adalah peta yang mengambarkan nilai gravitasi material-
material di lokasi penelitian dimana nilai gravitasi pada peta ABL sudah
terkoreksi oleh hal-hal yang mempengaruhi nilai gravitasi suatu material pada
lokasi penelitian sehingga didapat nilai gravitasi bersih material di bawah lokasi
penelitian. Pada peta ABL di dapatkan tiga buah zona ,zona dengan skala nilai
Anomali Bouguer Lengkap ditandai dengan warna merah dan menyebar pada
bagian barat peta dengan skala nilai ABL 124,4 mGal sampai 310,9 mGal .
Lokasi dengan nilai ABL sedang ditandai dengan warna hijau dan terletak di
antara zona dengan nilai ABL tinggi di bagian barat dan zona dengan nilai ABL
rendah di bagian timur dimana zona ABL sedang memiliki nilai dari 94 mGal
sampai 121 mGal.Dan zona dengan nilai ABL paling rendah terletak di bagian
timur peta yang ditandai dengan warna biru dengan skala ukuran ABL 78 mGal
sampai 94 mGal.
Jika peta ABL dicocokkan dengan peta geologi daerah penelitian
didapatkan korelasi bahwa pada bagian barat daya peta merupakan lokasi zona
litologi skis ,filit dan diabasik dimana litologi ini merupakan jenis litologi
batubeku dan batumetamorf yang memiliki nilai densitas tinggi sehingga data
Gravity dan data geologi telah sesuai.Material Skis dan filit pada zona ini

9
kemungkinan merupakan zona tunjaman lempeng selatan pulau jawa sehingga
menghasilkan material batuan yang berfoliasi.
Pada koordinat 354500 sampai 355000 terdapat zona dengan kondisi nilai
mGal besar dimana pada peta geologi zona ini termasuk pada zona dengan
komposisi litologi batu beku baslt dengan struktur pillow lava dan rijang . Zona
ini kemungkinan adalah zona yang dulunya terletak di dasar laut dikarenakan
kedua jenis litologi tersbut genesanya terbentuk di laut.Batubasalt dapat memiliki
struktur pillow lava disebabkan karena adanya magma yang keluar dari lempeng
benua yang keluar di permukaan laut sehingga magma akan membeku dengan
cepat sehingga membentuk struktur pillow lava dengan struktur kristal
holohilalyn. BatuBasalt sendiri memililiki sifat basa dikarenakan induknya
merupakan magma lempeng samudra dan migrasi magma yang tidak terlalu jauh
dari sumber.Litologi tersebut dapat tersingkap di permukaan daratan dikarenakan
adanya aktifitas lempeng di daerah tersebut.

4.2.Peta Sayatan Upward 40

10
Gambar 4.2. Peta sayatan Upward 40

Gambar 4.2 adalah peta Anomali Bouguer lengkap yang telah dilakukan filtering
upward continuation 40,Sehingga kelihatan zona secara lebih ke regional.Pada peta
Upward 40 tersebut terbagi menjadi 3 zona dengan rentan nilai mGal yang berbeda.Zona
dengan nilai mGal besar terletak cenderung dibagian barat peta yangditandai dengan
kenampakan warna merah pada peta,apabila dikorelasi dengan peta geologi zona merah
merupakan zona dengan komposisi batuan yang memiliki nilai densitas besar seperti pada
bagian selatan yang ditandai dengan warna ungu merupakan lokasi penyebaran litologi
skis dan filit ,zona tersebut memiliki jenis litologi metamorf berfoliasi dimungkinkan
lokasi tersebut merupakan lokasi bekas aktifitas penunjaman lempeng,dimana daya tekan
yang diakibatkan karena gesekan dari lempeng samudra dan lempeng benua membuat
batuan disekitarnya memiliki struktur foliasi (penjajaran mineral).Kemudian zona merah
dibagian utara merupakan zona persebaran litologi batubasalt berstruktur pillow lava
yang mengindikasikan bahwa zona tersebut dulunya adalah wilayah yang terletak di dasar
laut.zona merah memiliki besar gravitasi dengan rentan 91 sampai 95 mGal ,apabila
dicocokan dengan tabel densitas batuan dari telford zona merah memiliki nilai densitas
lebih dari 2,5 gr/ccc.
Kemudian zona dengan nilai Gravitasi rendah terletak relatif dibagian tenggara
peta dengan kenampakan warna biru pada peta ,zona ini apabila dicocokan dengan peta
geologi merupakan zona dengan komposisi batuan berupa Breksi dengan campuran
batupasir,batulempung,batulanau ,karena sifatnya yang tidak saling mengunci dan

11
memiliki tekstur kemas terbuka maka saat dilakukan pengukuran ,wilayah ini
menghasilakn nilai pembacaan gravitasi yang kecil yaitu sekitar 79 mGal sampai 85
mGal. Zona Breksi ini dimungkinkan adalah sebuah zona patahan hal ini dikarenakan
adanya perubahan yang terjadi secara tiba-tiba antara zona densitas tinggi yang menerus
di bagian barat menjadi nilai densitas rendah seiring ke arah timur ,namun pada bagian
paling tenggara pada peta terungkap memiliki nilai pembacaan gravitasi yang cukup
tinggi yang ditandai dengan kenampakan warna kuning.Zona ini memiliki komposisi
litologi breksi dikarekanakan akibat adanya patahan yang terjadi, mengakibatkan
terbentunya Pul apart basin yaitu sebuah zona lemah yang mencekung kebawah yang
diakibatkan karena adanya gaya tarik dari dua buah tubuh batuan yang bergerak
berlawanan (sesar mendatar), kemudian karena adanya proses sedimentasi, material-
material akan terakumulasi pada zona lemah tersebut dan membentuk tubuh batuan
Breksi.
Dilakukan sayatan sebanyak 4 buah yang terdapat relatif dibagian tenggara peta
dimaksudkan untuk melihat target berupa tibuh batuan metamorf (skis dan filit) dan tubuh
batuan Breksi. Kemudian dari data-data keempat sayatan tersebut akan dibuat pemodelan
3 dimensi sehingga akan terlihat kemenerusan tubuh batuan dibawah permukaan.

12
4.3. Permodelan 3D Gravity

Gambar 4.3. Pemodelan 3 Dimensi bawah permukaan

Gambar 4.3 adalah hasil dari pemrosesan / pembuatan pemodelan 3


dimensi bawah permukaan dari data-data sayatan peta ABL Upward 40. Pada
pemodelan 3 dimensi terlihat zona dengan nilai densitas tinggi di permukaan
masih menerus ke bawah lebih dari kedalaman 200 meter. Zona densitas tinngi di
bagian baratdaya yang merupakan tubuh batuan dengan komposisi skis, filit dan
diabsik dengan pemodelan 3 dimensi pada kedalaman 200an meter masih
mengalami kemenerusan kebawah permukaan bumi yang artinya tubuh batuan
tersebut kemungkinan masih besar kebawah permukaan.Kemudian zona densitas
tinggi dibagian utara dengan komposisi Batubasalt dan rijang juga masih
mengalami kemenerusan saat dilakukan pemodelan 3 dimensi dengan mengambil
kedalaman 200an meter ,zona dengan nilai densitas tinggi memiliki nilai densitas
mulai dari 2,25 gr/cc hingga 3 gr/cc.
Kemudian zona densitas rendah yang merupakan pendugaan dari
keterdapatanya zona sesar terletak di bagian relatif tenggara dari penampang
dimana zona ini berkomposisi Breksi dengan campuran batupasir,batu lempung

13
.Zona densitas rendah ini memiliki nilai pembacaan densitas sebesar 1 gr/cc
sampai 2,5 gr/cc. Zona ini setelah dilakukan pemodelan 3 dimensi bawah
permukkaan ternyata masih mengalami kenemenerusan setalah dibuat estimasi
kedalaman 200 meter. Dan pada zona paling tenggara dari peta dimana dari peta
ABL dan upward merupakan zona dengan nilai densitas tinggi ,setelah dilakukan
pemodelan 3 dimensi zona tersebut benar-benar menerus ke bawah permukaan
bumi ,sehingga dari dua buah pendapat tadi semakin menguatkan pendugaan
bahwa zona tersebut merupakan sebuah zona sesar/patahan.

14
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berukut adalah kesimpulan dari serangkaian kegiatan pengoalahan pemodelan 3
dimensi:

Zona merah merupakan zona dengan nilai densitas besar ,komposisi


batuan bagian selatan yang ditandai dengan warna ungu merupakan lokasi
penyebaran litologi skis dan filit ,zona tersebut memiliki jenis litologi
metamorf berfoliasi dimungkinkan lokasi tersebut merupakan lokasi bekas
aktifitas penunjaman lempeng,dimana daya tekan yang diakibatkan karena
gesekan dari lempeng samudra dan lempeng benua membuat batuan
disekitarnya memiliki struktur foliasi (penjajaran mineral).Kemudian zona
merah dibagian utara merupakan zona persebaran litologi batubasalt
berstruktur pillow lava yang mengindikasikan bahwa zona tersebut
dulunya adalah wilayah yang terletak di dasar laut kemudian karena
adanya aktifitas lempeng zona ini menjadi terangkat ke permukaan.zona
merah memiliki besar gravitasi dengan rentan 91 sampai 95 mGal ,apabila
dicocokan dengan tabel densitas batuan dari telford zona merah memiliki
nilai densitas lebih dari 2,5 gr/ccc.
Zona dibagian tenggara peta yang terdiri dari litologi Breksi
dimungkinkan merupan zona patahan.
di bagian baratdaya yang merupakan tubuh batuan dengan komposisi skis,
filit dan diabsik dengan pemodelan 3 dimensi pada kedalaman 200an
meter masih mengalami kemenerusan kebawah permukaan
bumi.Kemudian zona densitas tinggi dibagian utara dengan komposisi
Batubasalt dan rijang juga masih mengalami kemenerusan saat dilakukan
pemodelan 3 dimensi dengan mengambil kedalaman 200an meter ,zona
dengan nilai densitas tinggi memiliki nilai densitas mulai dari 2,25 gr/cc
hingga 3 gr/cc.
zona berkomposisi Breksi dengan campuran batupasir,batu lempung
.Zona densitas rendah ini memiliki nilai pembacaan densitas sebesar 1

15
gr/cc sampai 2,5 gr/cc. Zona ini setelah dilakukan pemodelan 3 dimensi
bawah permukkaan ternyata masih mengalami kenemenerusan setalah
dibuat estimasi kedalaman 200 meter.

5.2 Saran

Dalam kegiatan pengolahan data dianjurkan dilakukan secara teliti dan


hati-hati dikarenakan data sangat sensitif akan kesalahan,kemudian ketika
menentukan lokasi penyayatan ,penyayatan harus dilakukan di suatu lokasi
dengan target yang ingin kita cari.

16