Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bumi adalah sebuah benda yang terdiri dari lapisan-lapisan batuan,yaitu


lapisan kerak,Mantel ,inti bumi luar dan inti bumi dalam. Diberimana dari setiap
lapisan tersebut memiliki karakteristik masing-masing.Karakteristik dari intibumi
bagian luar adalah bermedium cair dan inti bumi dalam mermedium padat. Kedua
komponen tersebut adalah cikal bakal terbentuknya medan magnet di
bumi.Dimana prinsip kerjanya sama dengan prinsip kerja dari dinamo .Inti bumi
luar memiliki sifat mobile dan mudah bergerak yang tersusun dari mineral-
mineral ferromagnesian,Sehingga akibat sifat mobile dari inti bumi luar ,inti bumi
ini akan terus bergesekan dengan inti bumi dalam yang bersifat padat dan tersusun
dari mineral Fe dan Mg sehingga akibat gesekan tersebut akan timbul medan
listrik dan kemudian akan timbul juga medan magnet bumi.
Metode Geomagnetik merupakan salah satu metode geofisika yang yang
memanfaatkan sifat kemagnetan bumi,dimana hasil dari kegiatan pengukuran
geomagnetik merupakan nilai intensitas magnet bersih suatu benda dibawah
permukaan.Nili anomali bersih ini telah menghilangkan pengaruh medan magnet
bumi dan pengaruh medan magnet harian.
Metode Aeromagnetik adalah bagian dari metode Geomagnetik,namun yang
membedakan adalah cara pengambilan data dilapangannya dikarenakan pada
metode Aeromanetik ini pengambilan datanya dilakukan dengan menggunakan
hellikopter. Kelebihan dari pengukuran ini adlah waktu yang digunakan untuk
pengambilan data menjadi sangat cepat dan efisien ,namun tingkat resolusi dan
keakuratan data yang dibaca kurang akuat dikarenakan pengukuran yang
dilakukan secara cepat.
1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dari dilkukany prktikum ini adalah untuk memahami cara kerja
akuisisi data Aeromagnetik,dan memahami cara pengolahanya serta mengetahui
bagaimana membaca hasil peta intensitas magnet yang didapatkan.
Tujuan dari praktikum ini adalah menuangkan nilai intensitas magnet
dalam peta TMI,RTE,RTP dan Upwrd Continuation sehingga dari data tersebut
dapat dilkukan pembacaan secara geologi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Geologi Regional

Perth merupakan kota yang terletak di pesisir pantai dan merupakan kota
terbesar di negara Australia. Perth terletak di bagian tenggara negara Australia.
Australia terletak di garis lintang 10o 41'LS sampai garis lintang 43o 39'LS dan
garis bujur 113o 09'BT sampai garis bujur 153o 39'BT.

Berikut adalah formasi dari Perth Basin:

G
ambar 2.1. Formasi Perth Basin
Berikut adalah stratigrafi dari Perth Basin:

Gambar 2.2. Stratigrafi Perth Basin

Perth merupakan bagian dari pesisir pantai Swan dimana Perth Basin
berada. Perth Basin berkembang dari batuan sedimen yang diselimuti sedimen
yang terbentuk sejak era Kenozoikum dan terbentuk karena lingkungan alluvial
dan aeolian. Daerah ini dibatasi oleh patahan Urella dan Darling pada sebelah
timur dan sistem patahan Beagle pada sebelah barat yang membatasi Perth Basin
dengan batuan beku dari Yilgarn Craton. Batuan granit dan gneiss dari Yilgarn
Craton merupakan batuan tertua pada lingkungan ini. Batuan tersebut terbentuk
pada era Arkean. Terdapat juga intrusi dolerite dike yang terbentuk pada eon
Proterozoikum. Perth Basin secara lateral terdiri dari sedimen yang terbentuk pada
periode Perm sampai Cretaceous. Terdapat lembah pada Perth Basin yang
diendapkan oleh sedimen yang berasal dari kontinen.
Terlihat bahwa Perth Basin didominasi oleh batupasir, namun pada periode
Prekambrium didapati batuan kristalin. Kehadiran dominasi batupasir dijumpai
sejak periode Tersier pada fasies fluvial. Selain itu dijumpai juga sisipan-sisipan
batugamping dan batulempung pada formasi Cadda. Terlihat juga adanya
ketidakselarasan pada beberapa formasi di Perth Basin.

2.2. Petroleum System Perth Basin


Petroleum system merupakan sebuah sistem yang dapat menjelaskan
interaksi dan akumulasi dari bagian-bagian pada pembentukan hidrokarbon.
Unsur-unsur dari sistem tersebut adalah source rock, cap/seal rock, reservoir rock,
trap, dan migration.
Seperti namanya, source rock merupakan batuan yang dapat menghasilkan
hidrokarbon dan menjadi sumber dalam petroleum system. Selanjutnya adalah
cap/seal rock yang merupakan batuan yang menjadi tutup dari reservoir. Lalu
reservoir rock, reservoir rock merupakan batuan yang permeabel dan porus
sehingga dapat menyimpan hidrokarbon. Sedangkan trap adalah cebakan
hidrokarbon tersebut dan migration adalah jalur kemana hidrokarbon bergerak.
Pada Perth Basin, terdapat batuan sedimen berupa batupasir dan
batulempung yang mendominasi formasi-formasi pada stratigrafi basin. Batupasir
adalah batuan yang lebih porus dan permeabel dibandingkan batulempung,
sehingga dapat disinyalir formasi Cattamara hingga Woodada merupakan
reservoir. Salah satu konsep mengenai petroleum system adalah bahwa source
rock selalu berada di bawah reservoir rock karena buoyancy atau daya apung dari
hidrokarbon yang pasti akan bergerak ke atas. Maka itu, source rock yang
memiliki unsur-unsur hidrokarbon dapat diindikasikan berada di bawah formasi
Woodada yaitu formasi Kockatea. Batulempung yang berada di formasi Kockatea
mengalami proses transportasi yang lebih jauh dibandingkan batupasir dan berada
lebih jauh dari sumber batuan asalnya. Hal ini menyebabkan batulempung dapat
membawa unsur-unsur organik bersamanya sehingga dapat menjadi source rock.
Cap rock merupakan tutup dari reservoir, sehingga sifat batuan harus
impermeabel dan nonporus. Batuan dengan sifat ini ditemukan pada formasi
Cadda yang memiliki batugamping di dalamnya. Maka itu dapat diindikasikan
bahwa batgamping pada formasi Cadda merupakan cap rock pada sistem ini.
Sedangkan trap pada sistem ini dapat ditinjau dari struktur dari basin yang
dimaksud. Struktur dapat ditinjau dari peta TMI dan peta geomagnetik lainnya.
Trap akan dibahas pada Bab V, yaitu bab pembahasan.
BAB III
DASAR TEORI

3.1 Metode Magnet Bumi


Dalam metode geomagnetik ini, bumi diyakini sebagai batang magnet raksasa
dimana medan magnet utama bumi dihasilkan. Kerak bumi menghasilkan medan
magnet jauh lebih kecil daripada medan utama magnet yang dihasilkan bumi
secara keseluruhan. Teramatinya medan magnet pada bagian bumi tertentu,
biasanya disebut anomali magnetik yang dipengaruhi suseptibilitas batuan
tersebut dan remanen magnetiknya. Berdasarkan pada anomali magnetik batuan
ini, pendugaan sebaran batuan yang dipetakan baik secara lateral maupun vertikal.
Eksplorasi menggunakan metode magnetik, pada dasarnya terdiri atas tiga
tahap : akuisisi data lapangan, processing, interpretasi. Setiap tahap terdiri dari
beberapa perlakuan atau kegiatan. Pada tahap akuisisi, dilakukan penentuan titik
pengamatan dan pengukuran dengan satu atau dua alat. Untuk koreksi data
pengukuran dilakukan pada tahap processing. Koreksi pada metode magnetik
terdiri atas koreksi harian (diurnal), koreksi topografi (terrain) dan koreksi
lainnya. Sedangkan untuk interpretasi dari hasil pengolahan data dengan
menggunakan software diperoleh peta anomali magnetik.
Metode ini didasarkan pada perbedaan tingkat magnetisasi suatu batuan yang
diinduksi oleh medan magnet bumi. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya
perbedaan sifat kemagnetan suatu material. Kemampuan untuk termagnetisasi
tergantung dari suseptibilitas magnetik masing-masing batuan. Harga
suseptibilitas ini sangat penting di dalam pencarian benda anomali karena sifat
yang khas untuk setiap jenis mineral atau mineral logam. Harganya akan semakin
besar bila jumlah kandungan mineral magnetik pada batuan semakin banyak.
Metode magnetik memiliki kesamaan latar belakang fisika denga metode
gravitasi, kedua metode sama-sama berdasarkan kepada teori potensial, sehingga
keduanya sering disebut sebagai metode potensial. Namun demikian, ditinjau ari
segi besaran fisika yang terlibat, keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar.
Dalam magnetik harus mempertimbangkan variasi arah dan besaran vektor
magnetisasi, sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau variasi besar vektor
percepatan gravitasi. Data pengamatan magnetik lebih menunjukkan sifat residual
kompleks. Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu
lebih besar. Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui darat,
laut dan udara. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi pendahuluan
minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada
pencarian prospek benda-benda arkeologi.

3.2 Medan Magnet Bumi


Medan magnet utama bumi berubah terhadap waktu. Untuk menyeragamkan
nilai-nilai medan utama magnet bumi, dibuat standar nilai yang disebut
International Geomagnetics Reference Field (IGRF) yang diperbaharui setiap 5
tahun sekali. Nilai-nilai IGRF tersebut diperoleh dari hasil pengukuran rata-rata
pada daerah luasan sekitar 1 juta km2 yang dilakukan dalam waktu satu tahun.
Medan Magnet bumi terdiri dari tiga bagian, yaitu :
1. Medan Magnet Utama
Pengaruh medan utama magnet bumi 99% yang disebabkan karena
bumi itu sendiri merupakan magnet yang sangat besar dan variasinya terhadap
waktu sangat lambat dan kecil. Medan magnet utama bumi berubah terhadap
waktu. Untuk menyeragamkan nilai-nilai medan utama magnet bumi, dibuat
standar nilai yang disebut International Geomagnetics Reference Field (IGRF)
yang diperbaharui setiap 5 tahun sekali. Nilai-nilai IGRF tersebut diperoleh dari
hasil pengukuran rata-rata pada daerah luasan sekitar 1 juta km2 yang dilakukan
dalam waktu satu tahun. Untuk periode 2005 2010, dimana penelitian yag
dilakukan termasuk dalam jangkauan periode ini, diperlihatkan pada gambar III.2
intensitas medan magnet bumi berkisar antara 25000 65000 nT, untuk wilayah
Indonesia yag terletak di utara khatulistiwa mempunyai intensitas sekitar 40000
nT dan di selatan katulistiwa berkisar 45000 nT.
2. Medan Magnet Luar
Pengaruh medan luar berasal dari pengaruh luar bumi (aktifitas
matahari,badai magnetik) yang merupakan hasil ionisasi di atmosfer yang
ditimbulkan oleh sinar ultraviolet dari matahari. Karena sumber medan luar ini
berhubungan dengan arus listrik yang mengalir dalam lapisan terionisasi di
atmosfer, maka perubahan medan ini terhadap waktu jauh lebih cepat. Beberapa
sumber medan luar antara lain :
1. Perubahan konduktivitas listrik lapisan atmosfer dengan siklus 11 tahun.
2. Variasi harian dengan periode 24 jam yang berhubungan dengan pasang surut
matahari dan mempuyai jangkau 30 nT.
3. Variasi harian dengan periode 25 jam yang berhubungan dengan pasang surut
bulan dan mempunyai jangkau 2 nT.
4. Badai Magnetik yang bersifat acak dan mempuyai jangkau sampai dengan
1000 nT.

3.3 Variasi Medan Magnet Bumi


Intensitas medan magnetik yang terukur di atas permukaan bumi
senantiasa mengalami perubahan terhadap waktu. Perubahan medan magnetik ini
dapat terjadi dalam waktu yang relatif singkat ataupun lama. Berdasarkan faktor-
faktor penyebabnya perubahan medan magnetik bumi dapat terjadi antara lain:
1. Variasi sekuler
Variasi sekuler adalah variasi medan bumi yang berasal dari variasi medan
magnetik utama bumi, sebagai akibat dari perubahan posisi kutub magnetik bumi.
Pengaruh variasi sekuler telah diantisipasi dengan cara memperbarui dan
menetapkan nilai intensitas medan magnetik utama bumi yang dikenal dengan
IGRF setiap lima tahun sekali.
2. Variasi harian
Variasi harian adalah variasi medan magnetik bumi yang sebagian besar
bersumber dari medan magnet luar. Medan magnet luar berasal dari perputaran
arus listrik di dalam lapisan ionosfer yang bersumber dari partikel-partikel
terionisasi oleh radiasi matahari sehingga menghasilkan fluktasi arus yang dapat
menjadi sumber medan magnet. Jangkauan variasi ini hingga mencapai 30 gamma
dengan perioda 24 jam. Selain itu juga terdapat variasi yang amplitudonya
berkisar 2 gamma dengan perioda 25 jam. Variasi ini diasosiasikan dengan
interaksi ionosfer bulan yang dikenal dengan variasi harian bulan (Telford, 1976).
3. Badai Magnetik
Badai magnetik adalah gangguan yang bersifat sementara dalam medan
magnetik bumi dengan magnetik sekitar 1000 gamma. Faktor penyebabnya
diasosiasikan dengan aurora. Meskipun periodanya acak tetapi kejadian ini sering
muncul dalam interval sekitar 27 hari, yaitu suatu periode yang berhubungan
dengan aktivitas sunspot (Telford, 1976). Badai magnetik secara langsung dapat
mengacaukan hasil pengamatan.
Variasi medan magnetik yang terukur di permukaan merupakan target dari
survei magnetik (anomali magnetik). Besarnya anomali magnetik berkisar
ratusaan sampai dengan ribuan nano-tesla, tetapi ada juga yang yang lebih besar
dari 100.000 nT yang berupa endapan magnetik. Secara garis besar anomali ini
disebabkan oleh medan magnetik remanen dan medan magnet induksi. Medan
magnet remanen mempunyai peranan yang besar pada magnetisasi batuan yaitu
pada besar dan arah medan magnetnya serta sangat rumit diamati karena berkaitan
dengan peristiwa kemagnetan yang dialami sebelumnya. Sisa kemagnetan ini
disebut dengan Normal Residual Magnetismyang merupakan akibat dari
magnetisasi medan utama.
Anomali yang diperoleh dari survei merupakan hasil gabungan dari keduanya,
bila arah medan magnet remanen sama dengan arah medan magnet induksi maka
anomalinya bertambah besar, demikian pula sebaliknya. Dalam survei geomagnet,
efek medan remanen akan diabaikan apabila anomali medan magnet kurang dari
25 % medan magnet utama bumi. (Telfrod, 1979).

3.4 Komponen Medan Magnet Bumi


Medan magnet bumi terkarakterisasi oleh parameter fisis atau disebut juga
elemen medan magnet bumi (Gambar II.1), yang dapat diukur yaitu meliputi arah
dan intensitas kemagnetannya. Parameter fisis tersebut meliputi :
1. Deklinasi (D), yaitu sudut antara utara magnetik dengan komponen
horizontal yang dihitung dari utara menuju timur
2. Inklinasi(I), yaitu sudut antara medan magnetik total dengan bidang
horizontal yang dihitung dari bidang horizontal menuju bidang vertikal ke
bawah.
3. Intensitas Horizontal (H), yaitu besar dari medan magnetik total pada
bidang horizontal.
4. Medan magnetik total (F), yaitu besar dari vektor medan magnetik total.
Di beberapa literatur deklinasi disebut juga variasi harian kompas dan
inklinasi disebut dip. Bidang vertikal yang berimpit dengan arah dari medan
magnet disebut meridian magnet.

Gambar 3.1 Tiga Elemen Medan Magnet Bumi

Medan magnetik utama bumi H dapat dinyatakan dengan menggunakan


sistem koordinat geografis dengan harga X berada di utara, Y berada di timus, dan
Z ke bawah. Berdasarkan kesepakatan internasional di bawah pengawasan
Internasional Association Geomagnetism and Aeronomy (IAGA). Deskripsi
matematis ini dikenal sebagai medan magetik utama bumi dar IGRF
(International Geomagnetics Reference Field ) harga medan magnetik utama bumi
dari IGRF di perbaharui tiap 5 tahun sekali.
Intensitas komponen horisontal medan magnetik bumi dapat dinyatakan
dengan:
H= X 2 +Y 2 (2.2)

Sedang intensitas medan magnetik utama bumi dinyatakan dengan:


F= X 2 +Y 2+ Z 2 (2.3)

Selain itu medan magnet bumi juga mempunyai parameter fisis, lainnya
yaitu sudut inklinasi dan deklinasi. Sudut inklinasi dinyatakan dengan:
Z
I =tan 1
X 2+Y 2 (2.4)

Sudut inklinasi positif dibawah bidang horosintal dan negatif diatas bidang
horontal. Sedangkan sudut deklinasi positif ke arah timur geografis dan negatif ke
arah barat geografis. Sudut deklinasi dinyatakan dengan:
1 Y
D=tan
X 2 +Y 2 (2.5)

3.5. Sifat-Sifat Kemagnetan Bumi


Kutub utara bumi yang selama ini merupakan kutub utara dari magnet
bumi begitupundengan kutub selatan. Kutub selatan merupakan kutub selatan magnet
bumi. Namundemikian, kutub magnet bumi tidak berimpit dengan kutub bumi
secara geografis.
Di antara keduanya terdapat sudut yang menyebabkag garis-garis gaya
magnet bumi tidak tepat berada di kutub utara dan selatan bumi secara geogras,tetapi
sedikit mnyimpang. Garis gaya magnet bumi ini tidakselalu sejajar dengan permukaan
bumi.Ketidaksejajaran inimembentuk sudut yang disebut sudut inklinasi.
Dengankata lain, sudut inklinasi dapat diartikan sebagai sudut yangdibentuk oleh medan
magnet bumi dengan garis horizontal.Besarnya sudut inklinasi di setiap permukaan bumi
memiliki besar yang berbeda-beda. Dan sudut inklinasi tersebut berada di daerah kutub utara
dan kutub selatan bumi. Di dalam batuan juga memiliki sifat kemagnetan,
diantaranya :
Diamagnetik
Material-material dimana atom-atom pembentukannya memiliki elektron
yang telah jenuh yang mana tiap elektronnya berpasangan dan mempuyai spin
yang berlawanan dalam setiap pasangannya. Sehingga ketika diberikan medan
magnet luar maka elektron-elektron tersebut akan berpresesi menghasilkan medan
magnet baru menentang medan magnet luar. Nilai dari suseptibilitasnya negatif,
sehingga intensitas induksinya aka berlawanan arah dengan gaya magnetnya atau
medan polarisasi. Contohnya: batuan kuarsa, marmer, graphite, rock salt dan
gypsum.
Gambar 3.2 Kurva M VS H dan posisi momen magnet dari bahan diamagnetik.
Paramagnetik
Material yang memiliki nilai suseptibilitas yang positif dan sangat kecil.
Paramagnetik muncul dalam bahan yang atom-atomnya memiliki momen
magnetik yang permanen dan berinteraksi satu sama lain dengan sangat lemah.
Apabila tidak terdapat medan magnet luar momen magnetik ini akan berorientasi.
Secara acak, jika diberikan medan magnet luar maka momen magnetik ini akan
cenderung menyearahkan arah momen magnetiknya dengan medan magnet luar,
tetapi dilawan oleh kecenderungan momen untuk berorientasi oleh akibat gerak
termalnya. Perbandingan momen yang menyearahkannya dengan medan ini
bergantung pada kekuatan medan magnet luar dan temperaturnya. Nilai
suseptibilitas positif dan berbanding terbalik dengan temperatur absolut. Jumlah
elektron ganjil, momen magnet atomya searah dengan medan polarisasi.
Contohnya: olivine, pyroxene, amphibole dan biotit.

Gambar 3.3 Kurva M VS H dan posisi momen magnet dari bahan paramagnetik.
Ferromagnetik
Material yang memiliki banyak elektron bebas pada tiap kulit elektronnya,
hal ini menyebabkan batuan ini sangat mudah berinduksi oleh medan luar, bahan
ini memiliki nilai suseptibilitas positif dan besar. Pada bahan ini sejumlah kecil
medan magnetik luar dapat menyebabkan derajat penyearahan yang tinggi pada
momen dipole magnetik atomnya. Penyearahan ini dapat bertahan sekalipun
medan magnet luar yang diberikan telah hilang. Hal ini dapat terjadi karena
momen dipole magnetik atom dari bahan-bahan menyearahkan gaya-gaya yang
kuat pada atom tetangganya sehingga dalam daerah ruang yang sempit momen ini
disearahkan satu sama lain sekalipun medan luarnya tidak ada lagi. Daerah ruang
tempat momen dipole magetik disearahkan ini disebut daerah magnetik. Pada
temperatur diatas suhu kritis yang disebut titik curie. Gerak termal acak sudah
cukup besar untuk merusak keteraturan penyearahan ini pada bahan ferromagnetik
berubah menjadi paramagnetik. Contohnya: besi.

Gambar 3.4 Kurva M VS H dan posisi momen magnet dari bahan feromagnetik
Ferrimagnetik
Medium ini juga hampir sama dengan medium ferromagnetik tetapi
sebagian ada yg berbeda arah momen magnetiknya. Tanpa adanya pengaruh kuat
medan luar, arah momen magnetik paralel dan saling berlawanan, tetapi berbeda
dengan antiferromagnetik, momen paralelnya lebih besar dibandingkan momen
anti paralelnya. Medium ferro-, anti ferro, dan ferrimagnetik dipengaruhi oleh
suhu, dimana jika medium ini dipanaskan sampai pada suhu terntentu maka
medium ini akan berubah menjadi medium paramagnetik. Batasan tersebut
dinamakan suhu curie . Contohnya: ferrite.

Gambar 3.5 Kurva M VS H dan posisi momen magnet dari bahan Ferrimagnetik.
Antiferromagnetik
Suatu bahan batuan akan mempunyai sifat-sifat yang ditunjukkan oleh
antiferromanetik pada saat benda ferromagnetik naik sesuai dengankenaikan
temperature yang kemudian hilang setelah temperature mencapaititik curie
(4000C 700 0C). Harga momen magnetic kecil hingga sampai nol karna momen
magnetik saling tolak menolak. Nilai suseptibiltasnya kecil yang sama seperti
bahan paramagnetik umumnya contohnya: hematite dan chromium.
Gambar 3.6 Kurva M VS H dan posisi momen magnet dari bahan Antiferomagnetik

3.6 Akuisisi Data Metode Geomagnetik (Base Rover & Looping)


Dalam akusisi data Geomagnetik dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu
secara satu alat(looping), baserover, dan gradien vertikal. Perbedaan dalam
beberapa cara tersebut hanya ditekankan dalam pengunaan instrumen dalam
pengukuran.
1. Satu Alat (Looping)
Pengukuran yang dimulai dari base dan diakhiri di base lagi. Pengukuran
satu alat ini hanya menggunakan satu alat PPM seri G-856 yang menjadi base dan
rover.Dimana sekaligus pengukuran looping ini mencatat nilai variasi harian dan
intensitas medan magnet total. Ilustrasi pengukuran satu alat ditunjukkan pada
Gambar 3.7.

Gambar 3.7. Ilustrasi Pengukuran Satu Alat (Looping)


2. Base Rover
Pengukuran yang menggunakan minimal dua buah alat PPM seri G-856
atau lebih, dimana satu buah untuk pengambilan data base yang penempatan alat
PPM tersebut dipasang pada tempat yang bebas dari noise guna mencatat nilai
variasi harian dan tetap sedangkan satunya untuk pengambilan data di lapangan
guna
mencatat intensitas medan total dari tiap lintasan.
Gambar 3.8. Ilustrasi Pengukuran Base Rover
3. Gradien Vertikal
Untuk pengukuran Gradien vertikal secara pengukurannya sama dapat
dilakukan secara Satu Alat atau Base Rover, hanya saja perbedaannya pada
pemakaian sensor. Jumlah sensor yang digunakan 2 buah sensor.Biasanya untuk
pemetaan medan magnet total dan variasi gradien vertikal medan magnet.
Untuk Pengukuran Geomagnetik itu sendiri yang secara valid, umum,
standar dalam pengukurannya yaitu menggunakan BaseRover. Sedangkan untuk
satu alat dan gradien vertikal jarang digunakan dalam pengukuran secara umum.
Gradien vertikal juga hanya digunakan pengukuran untuk mengetahui batas
litologi suatu lapangan saja.

3.7. Aeromagnetik
Pada saat pesawat terbang di udara , alat magnetometer akan mencatat
total intensitas medan magnet yang ada di lokasi penelitian di sensor, yang
merupakan kombinasi dari medan magnet yang dihasilkan di Bumi serta variasi
kecil karena efek temporal angin matahari terus-menerus yang bervariasi serta
medan magnet dari pesawat survei itu sendiri. Dengan mengurangi pengaruh
anomali baik surya, regional, dan efek pesawat, peta aeromagnetik yang
dihasilkan menunjukkan distribusi spasial dan kelimpahan relatif mineral
magnetik (paling sering besi oksida mineral magnetit) pada tingkat atas dari kerak
bumi. Karena jenis batuan yang berbeda berbeda dalam konten mereka mineral
magnetik, peta magnetik memungkinkan visualisasi struktur geologi dari lapisan
atas di bawah permukaan, khususnya geometri spasial tubuh batuan serta adanya
lipatan dan patahan . Hal ini sangat berguna di mana batuan dasar dikaburkan oleh
pasir permukaan, tanah atau air. Data aeromagnetik pernah disajikan sebagai plot
kontur, tapi sekarang lebih sering dinyatakan sebagai tematik (berwarna) dengan
visualisasi yang yang dihasilkan pseudo-topografi. Bukit-bukit, pegunungan dan
lembah merupakan anomali dalam aeromagnetik. Seorang geofisikawan dapat
menggunakan model matematika untuk menyimpulkan bentuk, kedalaman dan
sifat dari badan batu yang memiliki nilai anomali tersendiri.

BAB IV
METODOLOGI

4.1. Diagram Alir Pengolahan Data.


4.2. Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data
Berikt adalah penjelasan dari digram alir di atas:
Membuka data hasil pengukuran di lapangan dengan microsoft
excel.
Memisahkan nilai koordinat x,y dan nilai TMI pada microsoft
excel yang berbeda kemudian pindah ketiga data tersebut
kedalam notepad dan simpan dalam bentuk xyz format.
Membuka software oasis montaj dan membuat project baru.
Klik database > pilih new database >memeberi nama database.
Klik dtabase dan pilih import geosoft xyz dan mencari data dari
notepad yang berisikan ke tiga data tadi.
Kemudian membuat peta TMI
Setelah peta TMI terbentuk selanutnya membuat peta Reduce to
pole dan Reduce to ekuator.
Membandingkan peta dengan kualitas terbaik antara RTP dan
RTE.
Karena lokasi penelitian terletak di australia jadi peta yang
cocok adalah peta RTP.
Membuat peta upward kelipatan 250 dari pata Reduce to Pole
yang telah dibuat sebanyak 5 kali.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Peta TMI

Gmbar 5.1. Peta TMI

Gambar 5.1 adalah gambar yang mengambarkan keadaan nilai intensitas


magnet pada suatu lokasi pengukuran.Lokasi pengukuran kali ini berada di daerah
Dongar Perth yang merupakan kota yang terletak di pesisir pantai di negara
Australia.Pada peta TMI terdapat 3 zona dengan skala nilai intensitas magnet
yang berbeda ,yang pertama yaitu zona dengan skala intensitas magnet besar
yang relatif terletak di bagian luar peta yang ditandai dengan kenampakan warna
merah ,zona nilai intensitas magnet tinggi ini memiliki rentan nilai pembacaan
intensitas magnet pada nilai sekitaran -120 nantotesla-174 nanotesla,dimana nilai
intensitas magnet berbanding lurus dengan nilai suseptibilitas mgnet. Sehimgga
walaupun zona tersebut tergolong pada zona dengan skala tinggi namun tetap saja
nilainya dibawah 0 ,hal ini mengindiksikan bahwa zona tersebut merupakan zona
dengan komposisi benda diamagneti.
Kemudian zona dengan skala nilai intensitas magnet sedang terletak
menjorok lebih ke tengah yang ditandai dengan kenampkan warna hijau pada
peta.zona ini memiliki nilai intensitas magnet sekitaran -217 nanotesla sampai
-222 nanotesla ,zona tersebut masih merupkan zona dengan komposisi material
diamagnetik.dan zona dengan skal nilai intensitas magnet rendah terletak dibagian
paling dalam peta yang ditandai dengan kenampakan warna biru,dimana zona ini
memili nilai pembacaan intensitas magnet mulai dari -222 nanotesla hingga -242
nanotesla karena nilai intensitas mgnet berbanding lurus dengan nilai
suseptibilitas magnet maka zona biru merupakan zona yang terdiri dari komponen
material diamagnetik.
Ketiga zona memiliki satu komponen sifat kemagnetan dikarenakan
memang daerah penelitian terletak disuatu Basin yang terbebtuk akibat adanya
aktifits lempeng bumi,dimana aktifitas ini mngakibatkan terbentuknya sesar sesar
yang berahir papa pembntukan Basin .Basin ini terdiri dari kumulasi batuan
sedimen.

5.2. Peta RTP


Gambar 5.2. Peta RTP

Gambar 5.2 adalah gambar dari peta TMI yang telah dilakukan filtering
secara reduce to pole. Filtering reduce to pole adalah sebuah jenis filtering yang
dilakukan dengan asumsi seolah olah pengambilan data di lakukan di kutub. Tujun
dari filtering ini adalah mendapatkan anomali yang semula masih dipole menjadi
monopole atau mendapatkan nilai anomali yang letaknya tepat dibawah lokasi
pengukuran.Cara yang dilakukan untuk membuat menadi monopole adalah
dengan cara membuat 0 nilai sudut deklinasinya dan memuat nilai 90 pada sudut
inklinasinya.
Peta TMI daerah penelitian ketika dilakukan proses reduce to pole ternyata
membentuk sebuah peta yang baik dimana klosur pada peta sangat sedikit dan
tidak ada pasangan nilai intensitas magnet besar dan nilai intensitas magnet kecil.
Pada peta RTP ini mengalami pembalikan orientasi nilai setelah dibandingkan
dengan pengambaran peta TMI dimana zona biru(nilai intensitas rendah menjadi
seakan-akan terpotong dan menerus ke aras selatan),sedangkan pada peta TMI
terjadi sebaliknya.
Pada peta RTP juga memiliki 3 zona yaitu zona intensitas mgnet tinggi
,zona intensitas magnet rendah dan sedang dimana penyebaranya masih relatif
sama dengan penyebaran pada peta TMI.Hal ini menandakan tenik filtering
Reduce to pole cocok digunkan pada zona zona dekat dengan kutub.
5.3.Peta RTE
Gambar 5.3. Peta RTE

Gambar 5.3 adalah penampakan dari peta TMI yang telah dikenai proses
filtering secara reduce to ekuator yaitu mngasumskan bahwa pengambilan dita
dilakukan di daerah ekuator ,dimana tujuan dari proses filtering ini sama dengan
proses filtering RTE yaitu sama-sama membuat nilai anomali yang semula dipole
menjadi dipole,namun filtering RTE ini memiliki perbedaan dalam
asumsinya.Metode Reduce to ekuator ini berangapan bahwa untuk mendapatkan
nilai inetensitas yang monopole maka dilakukan pengaturan sudut deklinasi
dinagap 90 derajat dan sudut inklinasi menjadi 0 derajat.
Pada peta RTE tersebut memiliki 3 zona dengan skala intensitas magnet
yang berbeda.Zona dengan nilai intensitas tinggi ditandai dengan kenampakan
warna merah,zona dengan nilai intensitas magnet rendah ditandai dengan
kenampakan warna biru pada peta dan zona dengan intensitas magnet sedang
ditandai dengan warna hijau pada peta.Namun setelah dilakukan proses reduce to
ekuator ternyata zona intensitas magnet menadi terbalik sehingga filtering ini
belum cocok dipakai di lokasi yang jauh dari kutub.

5.4. Peta Upward continuation


Gambar 5.4. Peta Upward Continuation.