Anda di halaman 1dari 10

TUGAS EKSPLORASI MINYAK DAN GAS

Untuk memenuhi matakuliah Eksplorasi Minyak dan Gas pada Semester VI

RESUME KULIAH

OLEH:

MARIA MARLEIN WARONG

270110140031

Kelas A

Maria.23mawar@gmail.com

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
JATINANGOR
2017

1. Resume Industri Migas


Pengusahaan minyan dan gas bumi di Indonesia mencatat kemajuan pesat sejak Pertamin dan
Permina diintegrasikan ke dalam Pertamina. Seluruh operasi perminyakan yang mencakup
berbagai aspek kegiatan dapat iarahkan pada sasaran yang dituju oleh Pemerintah.
Peranan minyak, yang menyangkut berbagai aspek pembanguna,menjadikan minyak sebagai
unsur penting di dalam ketahanan nasional. Seluruh bidang perminyakan, produksi,
pengolahan, distribusi,pengangkutan, maupun pemasaran minyak mentah menjadi semakin
penting dan harus dipegang langsung oleh Pertamina.
Sistem bagi hasil, yang diterapkan di dalam bidang eksplorasi dan produksi, bukan saja telah
memberikan keuntungan lebih besar kepada negara, tetapi juga merupakan landasan bagi
kerja sama dengan para kontraktor minyak asing. Peranan minyak yang kian penting disemua
sektor dan harganya yang terus melonjak, telah menyebabkan ditingkatkannya pencarian
minyak ke daerah daerah yang lebih sulit.
Pencarian minyak bumi di Indonesia, sampai tahun 60-an masih terbatas dilakukan di
daratan. Sejak penemuan lapangan Cinta(1970)lapangan minyak pertama di lepas pantai
Indonesia telah membuka kemungkinan mengerjakan daerahlepas pantai lainnya.
Perkembangan teknologi maju telah memungkinkan pemanfaatan assosiatedgas maupun non
assosiated gas untuk bahan ekspor (LNG) maupun bahan energi dalam negeri (LPG).
Sumber-sumber gas di beberapa tempat, baik di lepas pantai maupun di daratan dimanfaatkan
dengan membangun unit pengolah yang memproduksi LPG. Beberapa unit pengolah LPG itu
teletak di anjungan lepas pantai,yang dilengkapi dengan tangki penampung dan pelabuhan
pengekspor.
Pemanfaatan sumber gas, untuk menunjang berbagai keperluan industri dalam negeri
pertama kali dilakukan di Sumater Selatan dengan suatu jaringan pipa untuk pabrik pupuk
Sriwijaya dan di Jawa Barat dengan sistem pipa gas Jawa Baratuntuk mensuplai pabrik
pupuk, semen, pabrik baja Krakatau dankebutuhan industri dan rumah tangga di daerah
Jakarta.
Naiknya kegiatan perminyakan Indonesia dapat dilihat dari kontrak bagi hasil (Production
Sharing Contract PSC Indonesia). Pertamina telah menandatangani kurang lebih puluhan
kontrak dengan perusahaan minyak asing.
Pertamina sebagai pilar dalam usaha-usahanya di bidang eksplorasi dan produksi ini
menempuh jalan intensifikais dan ekstensifikasi. Kegiatan intensifikasi meliput peningkatan
kegiatan secara kwalitatif di bidang eksplorasi,baik berupa studi regional, geologi lapangan,
geofisik, seismik, pengeboran eksplorasi danevaluasi. Selain itu, dilakukan juga peningkatan
kuatitatif di bidang produksi seperti pengembangan lapangan,pembangunan fasilitas
produksi,studi reservoir dan studi lapangan produksi yang pernah ada.
Usaha ekstensifikasi meliputi usaha-usaha untuk menemukan daerah-daerahbaru yang dapat
menghasilkan minyak. Pengembangan kegiatan eksplorasi dan produksi ini, di samping
faktor dana, tenaga, peralatan maupun teknologi minyak yang sudah dimiliki, terutama
didorong karena potensi dan kemampuan produksi minyak dan gas bumi.
Penemuan- penemuan sumur- sumur dan lapangan baru, baik di lepas pantai maupun di darat
pada sekitar tahun 1970-an telah mampu memproduksi minyak mentah 1,6 juta barrel/hari
(bbl/day). Untuk meningkatkan produksi,minimal mempertahankan produksi yang ada,
diperlakukan dana yang besar. Untuk itu Pertamina mencari dana pinjaman, yaitu dengan
kerja sama patungan atau pinjaman yang tak mengikat, seperti yang dijalankan dengan
INOCO.

Indonesia bagian timur bisa dikatakan mempunyai cadangan oleh adanya bukti Blok Masela,
blok ini telah memproduksi migas dan diprediksi memiliki potensi sebanyak 1 triliun barrel.
Setalah blok Masela ditemukan para kontraktor berusaha untuk menemukan cadangan minyak
kembali dengan mengebor 5 sumur di sebelah timur laut dari blok ini, namun sangat disayangkan
hasilnya adalah sumur kering, hal tersebut dilakukan oleh kontraktor akibat adanya anggapan
bahwa blok masela dan kelima sumur memiliki lingkungan pengendapan yang pasti sama karena
berada pada 1 lapisan yang ditarik sejajar strike, padahal seharunya hal tersebut harus diteliti
lebih jauh terlebih dahulu.

Sumur
Blok Masela

Letak Blok Masela


2. Proses Bisnis Migas
Potensi Indonesia masih besar. Semakin besar wilayah sebuah negara maka semakin besar
potensi sumber dayanya. Negara seperti Amerika, Cina, Kanada dan Rusia memiliki daerah luas
dan sumber daya alam besar. Indonesia juga demikian. Dibandingkan dengan negara Asia
Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand, potensi Indonesia jauh lebih bagus. Apalagi jika kita
melihat sejarah kesuksesan industri migas, Indonesia adalah penghasil migas terbesar di Asia
Tenggara. Indonesia, terutama di wilayah Timur, sampai saat masih sedikit dieksplorasi. Padahal
secara geologis, potensinya sangat besar.
Pada dasarnya proses bisnis migas ini terbagi menjadi 2 jenis yang pernah dimiliki oleh
Indonesia. Pertama yaitu PSC atau Production Sharing Contract dan juga Gross Split. Berikut
akan dibahas bagaimana bisnis migas tersebut berjalan.

Gross
PSC
Production Gross
Split
First
Tranche
Petroleum

Cost Gross
Recovery
Productio
n
Profit
Share
Goverme Contract
Govermen Contractor nt Share or Share
t Share Share

Income
Goverme Contract
Tax nt Take or Take

A. PSC (Production Sharing Contract)


Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Pertama, eksplorasi di wilayah Timur
Indonesia, kebanyakan di laut dalam. Biayanya sangat mahal. Skema production sharing
contract (PSC) yang ada saat ini tidak menarik bagi kontraktor. Ketentuan PSC Indonesia saat ini
terlalu keras, dan merupakan salah satu yang yang terberat di dunia, jika dibandingkan dengan
prospek wilayah kerja yang ada. Apalagi ini diperparah dengan turunnya harga minyak dunia
Penurunan harga minyak juga berpengaruh terhadap minat eksplorasi. Ini karena dengan
pendapatan menurun dan uang yang tersedia untuk investasi juga menurun, eksplorasi menjadi
salah satu item budget pertama yang dihapus. Dalam situasi ini, perusahaan minyak akan lebih
fokus melakukan investasi pengembangan blok migas yang sedang mereka kerjakan untuk
meningkatkan pendapatan jangka pendek.
Faktor lainnya yang sangat mempengaruhi minat investasi migas di Indonesia adalah masalah
kepastian hukum. Misalnya, pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pada masa eksplorasi.
Sejak terbit Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79/2010 tentang Biaya Operasi yang Dapat
Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan Migas, wilayah eksplorasi mulai dikenai pajak
pada kurun waktu 2012-2013. Ini untuk pertama kalinya dialami oleh industri migas. Padahal
kerugian pada saat eksplorasi menjadi risiko perusahaan migas.
Tentu saja kebijakan ini mengejutkan bagi pelaku industri migas. Jumlahnya luar biasa besar.
Total yang harus dibayarkan adalah US$ 220 juta (Rp 2,9 triliun) untuk 17 kontraktor migas.
Masalah PBB ini menimbulkan ketidakpastian hukum dalam industri migas.Pemerintah memang
menyadari pengenaan pajak eksplorasi tidak tepat dan tak lagi diberlakukan. Tapi pembatalan itu
tidak berlaku surut sehingga pajak tetap dikenakan bagi perusahaan-perusahaan tersebut.
Kasusnya sampai saat ini masih berjalan di pengadilan pajak. Kontraktor migas yang
menghadapi masalah ini diharuskan tetap membayar 50 persen dari pajak yang ditagihkan
supaya bisa mengajukan keberatan di pengadilan.
Karena kasus ini, banyak perusahaan kemudian yang membatalkan penandatangan PSC. Lelang
blok migas pada 2013 gagal terlaksana karena para peserta mundur di proses penawaran.
Munculnya peraturan pengenaan pajak eksplorasi ini menimbulkan ketidakpastian di industri
migas, sehingga sampai saat ini minat untuk melakukan eksplorasi di Indonesia belum kembali
pulih.
Perlu juga dicatat, pengenaan pajak ini akan berdampak pada pengurangan bagi hasil keuntungan
kontraktor migas. Ini tentu saja membuat PSC menjadi semakin tidak menarik. Padahal situasi
situasi saat ini mengharuskan PSC bisa lebih mendatangkan minat kontraktor untuk melakukan
eksplorasi menemukan cadangan migas baru.
Pada 2014, memang ada beberapa PSC baru yang ditandatangani. Tapi, dengan segala
permasalahan yang ada, komitmen program kerja yang diberikan kontraktur pun berkurang.
Waktu komersialisasi semakin panjang. Di era booming minyak di Indonesia, waktu yang
dibutuhkan dari masa penemuan migas ke komersialisasi 2 sampai 5 tahun. Saat ini waktunya
mencapai 10 sampai15 tahun.
Semakin panjangnya masa pengembangan ini berdampak pada beberapa blok migas besar di
Indonesia saat ini yang sedang dikembangkan atau menunggu untuk dikembangkan. Beberapa
contoh temuan besar itu seperti proyek Chevron IDD (Indonesia Deepwater Development) yang
ditemukan pada awal 2000 saat ini pengembangannya menunggu proses perpanjangan PSC.
Begitu juga Lapangan Abadi dengan kontraktor Inpex yang ditemukan pada 2000. Sedangkan
lapangan Banyu Urip dengan kontraktor Exxon yang ditemukan 2001, baru berproduksi tahun
ini.
Dengan rendahnya harga minyak dan biaya eksplorasi yang besar di wilayah Indonesia Timur,
kontrak dengan durasi 30 tahun tidaklah cukup bagi perusahaan.
Dengan kondisi bisnis saat ini, maka durasi kontrak yang ideal adalah 50 tahun. Atau tetap 30
tahun dengan otomatis perpanjangan 20 tahun. Tanpa adanya perubahan ini, investasi eksplorasi
di Indonesia akan tetap menjadi tidak menarik.
Ada banyak sekali persoalan, mulai birokrasi perizinan yang rumit, otonomi daerah,
pengambilan keputusan, pasar gas dan beragam masalah lainnya. Salah satu contohnya, di era
otonomi ini, pemerintah daerah bisa mengambil kebijakan yang berdampak pada industri migas
dan pemerintah pusat kesulitan mengontrolnya.
Ini semua diperparah dengan munculnya berbagai peraturan yang menghambat operasi
perusahaan migas, seperti peraturan PBB saat eksplorasi, susahnya membebaskan lahan karena
lemahnya penegakan hukum.
Maka, yang perlu dilakukan adalah revitalisasi eksplorasi. Rumus di bisnis hulu migas sangat
sederhana, bila produksi berkurang maka harus ditemukan sumber baru. Jika tidak ada temuan
baru, maka pemerintah harus mengimpor migas, dan itu akan banyak mendatangkan aspek
negatif. Karena itu eksplorasi menjadi kunci masa depan industri migas. Untuk mengatasi
persoalan ini Kementerian ESDM kemudian membentuk Satuan Eksplorasi yang personilnya
berasal dari perwakilan pemerintah dan industri.
Konsep PSC sebenarnya sudah berjalan baik di Indonesia sejak diterapkan pada 1960. Konsep
PSC ini sebenarnya bisa menyelesaikan permasalahan krusial yang dihadapi industri migas
ketika berhadapan dengan stakeholders di Indonesia yang begitu beragam. Alasannya, dalam
konsep PSC, perusahaan migas adalah kontraktor bagi pemerintah. Jadi yang kami kerjakan
adalah proyek pemerintah untuk sebesar-besarnya manfaat bagi masyarakat.
Badan pemerintah, seperti SKK Migas, akan bekerjasama dengan kami untuk berkomunikasi
dengan stakeholders dan membantu memecahkan berbagai permasalahan. Sehingga kontraktor
bisa berkonsentrasi pada produksi. Toh, hasilnya, paling besar juga akan dinikmati oleh
Indonesia.
Keputusan Mahkamah Konstitusi untuk membubarkan BP Migas merupakan pendorong utama
untuk perubahan UU Migas. Pemerintah ingin membuat UU yang solid sehingga tidak ada celah
untuk dibawa ke MK. Dengan demikian akan tercipta kepastian hukum, termasuk bagi
kontraktor. Nah, isu penting di RUU Migas adalah kerangka pengelolaan industri atau dalam hal
ini kelembagaan dan bentuk lembaga pengelola hulu migas.
Terkait lembaga yang akan mengelola (saat ini SKK migas), harapan kami adalah mampu
mempersingkat birokrasi sehingga industri ini menjadi lebih efisien dan pengambilan keputusan
yang cepat sehingga perusahaan bisa bekerja lebih baik.
Selain itu, UU yang baru hendaknya memberikan hak otomatis perpanjangan PSC minimal satu
periode bagi perusahaan yang sudah eksis. Sebab, akan susah bagi sebuah perusahaan migas
menemukan dan memproduksi migas dengan jangka waktu PSC seperti saat ini. Saya sudah
jelaskan sebelumnya, bagaimana contoh beberapa kontraktor migas yang sudah menemukan
migas tapi kesulitan untuk melakukan komersialisasi karena pendeknya jangka waktu PSC. Yang
saya inginkan ada di UU Migas yang baru adalah kepastian bagi kontraktor untuk bisa
memperpanjang secara otomatis PSC paling tidak satu periode.
Thailand bisa menjadi salah satu contoh. Di negara itu kontrak konsesi tahap pertama yang habis
bisa diperpanjang otomatis . Apabila ingin memperpanjang kembali setelah kontrak tahap kedua
selesai, barulah harus mendapatkan izin dari pemerintah.
Saat ini pelaku industri migas lain menganggap Pertamina sebagai pesaing dan juga partner.
Terkadang bersaing dalam mendapatkan hak pengelolaan blok migas atau malah bekerjasama
mengelola blok migas tertentu.
Perusahaan migas internasional juga sadar bahwa Pertamina adalah perusahaan negara. Adalah
hak pemerintah untuk memberikan keistimewaan kepada Pertamina di sektor hulu dan hilir.
Termasuk keistimewaan bagi Pertamina menjadi operator di blok migas yang kontraknya
berakhir.
Pertanyaannya kemudian adalah, apakah pemerintah akan memberikan tanggung jawab sangat
besar kepada Pertamina untuk mengelola blok-blok yang akan berakhir kontraknya. Padahal
sebagian besar blok-blok itu tidak lagi memiliki cadangan migas yang besar. Bagaimana
Pertamina bisa efektif bekerja dalam kondisi seperti itu? Kami perusahaan migas sering
melakukan kerjasama mengelola blok migas. Ini dilakukan untuk membagi resiko, saling
bekerjasama dalam ide dan pengadaan teknologi. Ini adalah pertanyaan yang harus dijawab
pemerintah.
Industri migas adalah bisnis dengan resiko besar. Eksplorasi laut dalam bisa menghabiskan US$
200 juta (Rp 2,6 triliun) dan gagal. Pemerintah harus mempertimbangkan betul apakah Pertamina
harus mengambil resiko menghabiskan uang begitu sebesar itu. Saya rasa, akan lebih baik
Pertamina bekerjasama dengan perusahaan lain. Saat ini ada kebutuhan besar di bidang
pendidikan, kesehatan dan infratruktur, akan lebih baik tidak menghabiskan uang pemerintah
sangat besar untuk bisnis dengan resiko besar seperti di industri migas.

B. Gross Split
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan telah mewacanakan
perubahan skema kontrak minyak dan gas (migas) dari production sharing contract (PSC)
menjadi skema gross split. Tidak hanya mewacanakan saja, Jonan bahkan sudah menetapkan
berlakunya skema baru itu pada awal Januari 2017 untuk kontrak migas yang baru.

Namun, setelah sempat menjadi polemik di publik dan dipertanyakan oleh DPR, Wakil Menteri
(Wamen) ESDM Arcandra Tahar buru-buru meminta DPR bersabar. Menurut Wamen, konsep
skema gross split tengah dikaji oleh Kementerian ESDM dengan Satuan Khusus Pelaksana
Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas).

Skema gross split merupakan bentuk kontrak kerja sama di sektor hulu migas yang menetapkan
bagi hasil antara pemerintah dengan kotraktor berdasarkan hasil produksi bruto migas yang
dihasilkan. Gross split merupakan modifikasi dari skema PSC, yang menghapuskan cost
recovery dengan imbalan memperbesar bagi hasil bagian kontraktor dari 85/15 menjadi 50/50.
Gross split, yang diwacanakan Jonan, sesungguhnya bukan merupakan mekanisme kontrak yang
baru sama sekali, karena pernah diterapkan pada skema PSC generasi pertama.

Skema PSC generasi pertama itu menetapkan proporsi bagi hasil 65/35, tanpa cost recovery. Lalu
pada generasi kedua penetapan PSC, pemerintah memunculkan cost recovery sebesar 40%.
Generasi ketiga PSC, pemerintah mengubah besaran cost recovery dari 40% naik menjadi full
cost recovery, 100% ditanggung oleh pemerintah dengan proporsi bagi hasil 85/15, yang berlaku
hingga sekarang. Pertimbangan utama bagi pemerintah untuk mengubah cost recovery dari 40%
naik menjadi 100% pada waktu itu adalah untuk menarik minat investor dalam melakukan
investasi di lahan migas Indonesia, agar dapat menaikan lifting produksi Migas.

Selain lebih sederhana, penetapan proporsi bagi hasil dalam gross split juga lebih akurat, bisa
mencapai 50/50 secara utuh, lantaran bagi hasil ditetapkan dari hasil produksi bruto. Sedangkan
penetapan bagi hasil dalam PSC dengan cost recovery lebih rumit dan tidak akurat.

Pasalnya, penetapan bagi hasil 85/15 diperhitungkan dari net profit setelah dikurangi cost
recovery dan pajak yang ditanggung pemerintah. Dampaknya, penetapan bagi hasil jatuhnya
tidak tepat 85/15, melainkan susut menjadi 71/29. Perubahan proporsi itu disebabkan
perhitungan bagi hasil dari pendapatan produksi bruto setelah dikurangi cost recovery dan pajak
yang ditanggung oleh pemerintah.

Sejalan dengan menghapuskan cost recovery dalam skema gross split, pemerintah bisa
menghemat pengeluaran cost recovery yang selama ini dibebankan pada APBN tahun berjalan
dalam jumlah yang besar, mencapai US$10,4 miliiar pada APBN 2017. Penerapan skema gross
split dapat juga memaksa kontraktor untuk melakukan penghematan dan efisiensi, karena semua
pengeluaran investasi (capital expenditure) dan biaya operasi (operational expenditure)
ditanggung kontraktor, tanpa ada penggantian dari pemerintah dalam bentuk cost recovery.
Dalam skema PSC dengan cost recovery, capital expenditure dan operational expenditure
merupakan bagian dari cost recovery yang harus diganti oleh Pemerintah, jika kontraktor
menemukan Migas. Dengan penggantian tersebut, kontraktor cenderung boros dan tidak efisien,
bahkan sering kali penetapan cost recovery menjadi modus penyelewengan yang merugikan
negara.

TAHAPAN PENERAPAN

Kendati skema gross split lebih menguntungkan bagi negara, tetapi penerapannya tidak boleh
gegabah. Selain, konsep gross split harus dikaji secara mendalam, penerapannya pun harus
dilakukan secara bertahap.

Diawali dengan uji coba skema gross split pada lahan migas yang dikelola oleh PT Pertamina
(Persero). Uji coba tersebut untuk pertama kalinya bisa diterapkan pada kontrak Blok Offshore
North West Java (ONWJ) di Pantai Utara Pulau Jawa, yang sepenuhnya akan dikelola dan
diopoerasikan oleh Pertamina pada saat berakhirnya kontrak pada 18 Januari 2017.

Sembari menungu hasil uji coba, pemerintah perlu melakukan sosialisasi kepada investor
potensial, baik investor migas nasional, maupun asing. Tujuannya, selain memberikan gambaran
secara komprehensif, juga untuk memperoleh respons dari investor terkait dengan penerapan
gross split.

Di tengah penurunan invetasi pada lahan migas di Indonesia, seiring dengan penurunan harga
minyak dunia, jangan sampai penerapan skema gross split justru semakin menurunkan minat
investor melakukan investasi, yang sudah merasa nyaman dengan menggunakan skema PSC.

Untuk meminimkan resitensi investor terhadap skema gross split, barangkali pemerintah pada
tahap awal tidak boleh memaksakan penggunaan skema gross split sebagai satu-satunya
mekanisme kontrak migas, yang menggantikan skema PSC sebagai substitution scheme. Namun,
pemerintah bisa menawarkan skema gross split sebagai salah satu opsi skema, yang melengkapi
opsi PSC sebagai complementary scheme.

Tentunya, pemiliha salah satu opsi tersebut dengan menerapkan beberapa persayaratan, di
antaranya: besaran potensi cadangan migas, tingkat kesulitan dalam eksplorasi dan eksploitasi,
kecanggihan teknologi yang digunakan, dan lokasi lahan migas, antara di darat dan di laut dalam.

Dengan masih memberikan alternatif dua opsi sebagai complementary scheme, pemerintah
memberikan fleksibilitas bagi investoruntuk memutuskan skema yang diplih dalam melakukan
investasi di lahan migas Indonesia. Dengan fleksibilitas tersebut, penerapan mekanisme gross
split tidak semata-mata mempertimbangkan faktor penghematan alokasi APBN untuk cost
recovery, tetapi juga memberikan alternatif opsi yang bisa diplih oleh investor.

Jangan sampai pertimbangan penghematan cost recovery dalam penerapan skema gross split
justru blunder yang dapat menurunkan minat investor untuk berinvestasi, sehingga menyebabkan
target lifting yang ditetapkan pada APBN 2017 tidak akan tercapai.

DAFTAR PUSTAKA
Detik Finance. (2017, Januari 22). Retrieved Maret 7, 2017, from Apa Untungnya Skema
Gross Split untuk Negara: https://finance.detik.com/energi/3402552/apa-untungnya-skema-
gross-split-untuk-negara
Kompas. (2016, Desember 10). Retrieved Desember 7, 2017, from Begini Memahami
"Gross Split" Pengganti "Cost Recovery" Migas:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/01/20/195400926/begini.memahami.gross.split.pen
gganti.cost.recovery.migas
http://bisnis.liputan6.com/read/2832935/skema-gross-split-dapat-perbaiki-proses-
produksi-migas