Anda di halaman 1dari 26

PEMBAHARUAN HUKUM NASIONAL

BERBASISKAN NILAI NILAI PANCASILA

Oleh : Sri Nur Hari Susanto

I.PENDAHULUAN.

Perbincangan secara terbuka mengenai amandemen UUD 1945 yang


komprehensif akan mengundang berbagai pikiran dan pendapat yang tidak akan
selamanya searah. Ditengah-tengah perbincangan tentang ihwal amandemen UUD 45
secara komprehensif ini, terdapat sekurang-kurangnya 3 paham yang beragam berikut
ragam usulannya. Yang pertama adalah paham pro-amandemen ke arah diubahnya UUD
1945 sebagaimana yang telah terlaksana dewasa ini. Kedua adalah kontra-amandemen
untuk membatalkan semua amandemen yang telah ada dan mengembalikan UUD dalam
wujudnya yang semula sebagaimana yang kita miliki pada hari-hari pertama proklamasi.
Ketiga adalah amandemen yang dikatakan bersifat moderat, yang hendak mengambil
jalan tengah dengan cara mengamandemen secara komprehensif UUD yang ada, namun
tanpa mengabaikan unsur esensial yang telah ada pada UUD 1945.1
1 Pendapat saya secara pribadi tentang hal ini dapat dikatakan sebagai pikiran yang menolak pemikiran
dan kehendak untuk kembali ke UUD 1945 secara murni dan konsekuen (yang, bahkan ada yang
menyarankan untuk kembali ke UUD 1945, kalau perlu dengan dekrit). Dasar pikiran yang menjadi
argumentasi saya ialah, bahwa segala produk undang-undang itu mestilah tak hanya hendak dibentuk untuk
kepentingan sesaat dari masa kini, melainkan juga untuk menjangkau kepentingan-kepentingan masa
depan, dan tidak untuk mengkonservasi kepentingan masa lalu. Demikian juga halnya, lebih-lebih lagi,
dengan produk legislasi konstitusi. Perubahan atau amandemen terhadap suatu UUD tentulah merupakan
sesuatu yang tidak boleh tidak mesti untuk dikerjakan.Sebab pembentukan UUD 1945 pada waktu itu
belum kunjungsempat menyelesaikan konflik paradigmatik antara para pembela paradigma negara
dibangun atas dasar asas kekeluargaan dan para pembela paradigma bahwa hak-hak warga negara perlu
dijamin. Amandemen-amandemen I, II, III, dan IV pun sebenarnya dikerjakan dalam situasi yang darurat
juga, yang menyebabkan terjadinya rumusan-rumusan yang belum sepenuhnya memuaskan, yang oleh
sebab itu banyak mengundang kritik dan juga mengundang kehendak untuk melakukan amandemen yang
kelima. Maka, apabila diperlukan amandemen yang kelima, alangkah seyogyanya apabila amandemen yang
kelima itu dikerjakan secara lebih didasari kajian yang visioner dengan memperhatikan fungsionalisasi
UUD untuk kehidupan berbangsa dan bernegara dalam masa yang menjangka masa depan. Agar fungsional
untuk masa depan, UUD mestilah diformulakan dalam bahasa yang lebih umum, bicara pada asas-asasnya
saja, mengingat bahwa masa depan akan berbeda dengan masa ketika proses legislasi dikerjakan. Masa
depan adalah masa kini yang tak dapat menghindarkan diri dari berbagai perubahan. Norma-norma
implementatif suatu UUD pasti akan berubah.Norma-norma implementatif suatu UUD pasti akan berubah.
Perubahan macam apapun yang penting ruh UUD-45 haruslah tetap. Ruh lebih abadi daripada wujud-
wujud rumusan-rumusan konkrit sebuah undang-undang, yang hanya akan bisa tertangkap lewat
interpretasi-interpretasi kontemporer yang dapat merelevansikan UUD secara bermakna dengan perubahan
konteks sosial politik yang terjadi.

1
Pembangunan nasional yang mencakup bidang-bidang Ipolek-Sosbud-hankam
telah mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dari penghayatan, pengamanan
dan pengamalan Pancasila. Demikian juga halnya dengan demokrasi yang dijiwai oleh
Pancasila atau secara singkat disebut Demokrasi Pancasila, itu pun sedang mengalami
proses pertumbuhan dan perkembangan, apakah itu demokrasi politik, demokrasi
ekonomi ataupun demokrasi sosial budaya. Demokrasi Politik Pancasila, pada dasarnya
didasari atas perjuangan untuk kepentingan dan keselamatan umum yang didasarkan pada
prinsip sepi ing pamrih, rame ing gawe. Etos kerja yang didasarkan pada keuletan dan
ketekunan demi tercapainya kehidupan yang lebih baik dan maju bagi diri dan
keluarganya. Ketiga etos tersebut dapat disebut juga sebagai etos kekaryaan yang
tridimensial atau yang bersifat dialektis-theologis.

Eksistensi dan posisi Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia sangat perlu
dipahami di antara sepak terjang ideologi-ideologi besar dunia. Pemahaman ini sangat
penting dalam rangka pemantapan ideologi Pancasila yang menjadi dasar dan pedoman
hidup bangsa. Dengan demikian bangsa Indonesia semakin mampu memainkan
peranannya di dalam gerak maju mencapai cita-citanya, yang tidak lain dari masyarakat
Pancasila itu sendiri. Apabila kita hendak mengupas demokrasi Pancasila pada umumnya
dan khususnya di bidang politik, maka kita harus pula mengupas proses penyelenggaraan
kekuasaan negara dan hukum yang didasarkan pada Pancasila yang sudah terpatrikan
dalam UUD 1945. Karena politik merupakan dimensi demokrasi, selain dimensi
kekuasaan dan hukum, maka perwujudan demokrasi Pancasila akan terkait dengan sistern
kehidupan politik di Indonesia yang telah, sedang dan akan mengalami proses
pembaharuan dan pembangunan.

Sementara itu, karena pembangunan dan pembaharuan politik merupakan bagian


integral dari pembaharuan dan pembangunan demokrasi, politik bangsa, maka ada empat
hal yang yang bersifat prinsip dan fundamental yang harus melekat di dalamnya, yaitu:
(a) Pembaharuan dan pembangunan politik harus bersumber pada manusia seutuhnya;

(b) Sumber tersebut harus bermuara pada seluruh masyarakat Indonesia;

(c) Muara tersebut pada akhirnya harus manunggal dengan lautan negara Pancasila; dan

2
(d) Antara sumber, muara dan lautan tersebut tetap mengalir suatu gerak arus kekaryaan
tridimensional yang dialektis-theologis.

Apabila keempat hal yang prinsipil dan fundamental tersebut ditinjau sebagai
operasional ideologi, maka yang dimaksudkan dengan manusia Indonesia seutuhnya dan
seluruh masyarakat Indonesia adalah masyarakat karya yang mandireng pribadi dan
bertanggungjawab, dalam arti manusia dan masyarakat yang profesional, idealis dan
bermoral Pancasila.

Menurut Moh. Mahfud MD,2 dalam pembentukan negara hukum, maka Pancasila
harus melahirkan kaidah-kaidah penuntun dalam pembuatan politik hukum atau
kebijakan negara lainnya yaitu:

(1) kebijakan umum dan politik hukum harus tetap menjaga integrasi atau keutuhan
bangsa baik secara ideologi maupun secara teritori,

(2) kebijakan umum dan politik hukum haruslah didasarkan pada upaya membangun
demokrasi (kedaulatan rakyat) dan nomokrasi (negara hukum) sekaligus,

(3) kebijakan umum dan politik hukum haruslah didasarkan pada upaya membangun
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,

(4) kebijakan umum dan politik hukum haruslah didasarkan pada prinsip toleransi
beragama yang berkeadaban.

Demikian pula menurut Notonagoro 3


sebagai konsekwensi Pancasila tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945, maka pembukaan yang memuat Pancasila itu sebagai
staatsfundamentalnorm. Konsekwensinya nilai-nilai Pancasila, secara yuridis harus
diderivasikan kedalam UUD Negara Indonesia dan selanjutnya pada seluruh peraturan
perundangan lainnya. Dalam kedudukan seperti ini Pancasila telah memiliki legitimasi
filosofis, yuridis dan politis. Dalam kapasitas ini Pancasila telah diderivasikan dalam
suatu norma-norma dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan.

2 Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia. (Jakarta: LP3ES, 1998), hlm.35

3 Notonagoro,Beberapa Hal MengenaiFalsafah Pencasila Pidato 18 November 1968 (Djakarta : Pantju-


ran Tujuh, 1975), hlm.20 sebagaimana dikutip Philipus M Hadjon, Pancasila Sebagai Dasar Negara Dan
Hukum Tata Negara Dalam Jurnal Yustika (Surabaya : FH UBAYA, 1998), hlm.63.

3
. Pancasila sebagai landasan politik dalam kehidupan bernegara dan berbangsa,
dengan demikian juga melandasi politik hukum dalam pembangunan hukum negara yang
berdasarkan Pancasila. Jika pandangan filsafat hukum Pancasila diterima dalam
konsepsi pemikiran hukum dan dijadikan landasan normatif pembentukan dan
pelaksanaan hukum, maka semua pola penyelenggaraan negara akan bertumpu pada
Pancasila. Hal ini juga harus diikuti dalam perumusan aturan-aturan hukum yang menjadi
dasar pengakuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Berdasarkan norma-norma
peraturan perundang-undangan tersebut dapat diimplementasikan realisasi kehidupan
kenegaraan yang bersifat praksis. Oleh karena itu tidak mungkin implementasi dilakukan
secara langsung dari Pancasila kemudian direalisasikan di dalam berbagai konteks
kehidupan, karena hal tersebut harus melalui penjabaran dalam suatu norma yang jelas.
Banyak kalangan memandang hal tersebut secara rancu seakan-akan memandang
Pancasila itu secara langsung bersifat operasional dan praksis dalam berbagai konteks
kehidupan bermasyarakat.

Politik hukum pada dasarnya mengandung dua sisi yang tidak terpisahkan, yakni:
sebagai arahan pembuatan hukum atau legal policy lembaga-lembaga negara dalam
pembuatan hukum, dan sekaligus alat untuk menilai dan mengkritisi apakah sebuah
hukum yang dibuat sudah sesuai atau tidak dengan kerangka pikir legal policy tersebut
untuk mencapai tujuan negara. Dengan pengertian tersebut, maka pembahasan politik
hukum untuk mencapai tujuan negara dengan satu sistem hukum nasional mencakup
sekurang-kurangnya hal-hal berikut:4

(1) Tujuan negara atau masyarakat Indonesia yang diidamkan sebagai orientasi politik
hukum, termasuk panggilan nilai-nilai dasar tujuan negara sebagai pemandu politik
hukum;

(2) Sistem hukum nasional yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu serta faktor-faktor
yang mempengaruhinya;

4 Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi (Jakarta: Pustaka LP3ES ,
2006), cetakan I, hlm.16.

4
(3) Perencanaan dan kerangka pikir dalam perumusan kebijakan hukum;

(4) Isi hukum nasional dan faktor-faktor yang mempengaruhinya;

(5) Pemagaran hukum dengan prolegnas dan judicial review, legislative, review, dan
sebagainya.

II. PERMASALAHAN

Berdasarkan uraian pada bagian pendahululuan di muka, maka yang menjadi


permasalahan dalam tulisan ini adalah : bagaimanakah membangun hukum nasional yang
mendasarkan pada nilai-nilai Pancasila ?

III. PEMBAHASAN.

A.Pancasila Sebagai Grundnorm dan Staatsfundamentalnorm yang Melandasi


Pembangunan Hukum Nasional.

Dalam Stufentbautheorie, paling tidak ada dua ajaran yang sudah populer yaitu
Grundnorm (dalam pengertian Kelsen) dan Staatsfundamentalnorm (dalam pengertian
Nawiasky).

A.1. Menurut Ajaran Grundnorm

Ajaran Grundnorm dipahami dalam dua pengertian yaitu :5

1..Grundnorm dalam pengertian Kelsen dan

2. Grundnorm dalam pengertian yang lain yaitu dalam kaitan dengan ajaran asalnya
sumber hukum.

5 Jazim Hamidi, Kedudukan Hukum Naskah Proklamasi 17 Agustus 1945 Dalam


Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia, Jurnal Konstitusi Volume 3 Nomor 1,
Februari 2006, hlm. 105.

5
Ad.1 .Grundnorm dalam pengertian Kelsen.

Menurut Kelsen, pengertian Grundnorm dapat dikualifikasi ke dalam empat indikator


yaitu:

(a). Grundnorm adalah sesuatu yang abstrak, diasumsikan, tidak tertulis, dan mempunyai
daya keberlakuan secara universal.

(b). Ia tidak gesetzt (ditetapkan), melainkan vorausgesetzt (diasumsikan) adanya oleh akal
budi manusia.

. Ia tidak termasuk ke dalam tatanan hukum positif, ia berada di luar namun menjadi
landasan keberlakuan tertinggi bagi tatanan hukum positif. Ia meta juristic sifatnya.

(d). Seyogyanya seseorang mentaati atau berperilaku seperti yang ditetapkan oleh
konstitusi.

Ad.2 Grundnorm dalam pengertian ajaran asalnya sumber hukum.

Dalam konteks ini, Grundnorm merupakan sumber berlakunya hukum yang


tertinggi dan terakhir (source of the sources). Ia menjadi dasar mengapa hukum itu harus
dipatuhi dan sekaligus memberikan pertanggungjawaban mengapa hukum itu harus
dilaksanakan. Meskipun, ketidakpatuhan terhadapnya tidak terdapat sanksi. Ia diterima
masyarakat secara aksiomatis (artinya nilai kebenarannya tanpa perlu pembuktian lebih
lanjut). Sedangkan kata norm dalam terminologi Grundnorm itu menunjuk pada suatu
norma yang bersifat umum, seperti norma agama, susila, sopan santun, hukum, dan
norma-norma yang lain.

Menurut penulis, dengan mengacu pada pengertian dan indikator Grundnorm


dalam perspektif Kelsen, maka kedudukan hukum Pancasila sebagai nilai-nilai dapat
dikualifikasi secara penuh sebagai Grundnorm. Argumentasinya, karena Pancasila itu
merupakan nilai-nilai yang diyakini hidup, tumbuh dan senantiasa berkembang dalam

6
kehidupan bangsa Indonesia yang berbudaya . Itu artinya, indikator yang ditetapkan
Kelsen di atas telah terpenuhi. Oleh karena itu, seyogyanya setiap rakyat Indonesia
menghormati Pancasila.

Apabila mengacu pada pengertian Grundnorm dalam perspektif yang lain yaitu
dalam kaitan ajaran asalnya sumber hukum, maka kedudukan hukum Pancasila dapat
dikualifikasi sebagai Grundnorm. Argumentasinya adalah karena Pancasila di samping
merupakan sumber keberlakuan hukum tertinggi, ia juga menjadi dasar keharusan
ditaatinya hukum positif Indonesia. Logika hukumnya adalah apabila tidak ada Pancasila,
maka tatanan dan sistem hukum nasional juga tidak akan terbentuk. Momen itulah yang
akhirnya dimanfaatkan oleh para pendiri negara melalui PPKI melakukan persidangan
untuk yang pertama dan sekaligus yang terakhir kalinya yaitu pada tanggal 18 Agustus
1945. Di antara keputusan penting dalam persidangan tersebut adalah mengesahkan
Pembukaan (yang didalamnya dicantumkan Pancasila) dan Batang Tubuh UUD
Proklamasi sebagai konstitusi6 pertama Indonesia7, memilih SoekarnoHatta sebagai
presiden dan wakil presiden pertama, serta menetapkan wilayah Republik Indonesia yang
meliputi seluruh bekas jajahan Hindia Belanda.

A.2. Menurut Ajaran Staatsfundamentalnorm (Nawiasky)

Pengertian Staatsfundamentalnorm dalam perspektif Nawiasky dapat dirumuskan ke


dalam beberapa indikator di bawah ini, yaitu:

(a). Staatafundamentalnorm itu merupakan bagian dari tata hukum positif dan ia
menempati norma hukum yang tertinggi dalam suatu negara.

6 Menurut Carl Schmitt tentang susunan hierarki pengambilan putusan-putusan


politik yang membentuk hukum, dikatakan : eine Gesammtentschildung Uber
Art und Form einer Politischen Einheit (Konstitusi merupakan keputusan atau
konsensus bersama tentang sifat dan bentuk suatu kesatuan politik yang disepakati oleh suatu
bangsa). Lihat dalam Djokosutono, Ilmu Negara, Kumpulan kuliah yang disunting oleh Harun Al
Rasyid, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1982) hlm. 178-179.

7 Bandingkan dengan kemerdekaan negara Amerika Serikat, baru 11 tahun kemudian sejak
kemerdekaannya mereka berhasil mengesahkan konstitusi bagi bangsa dan negaranya.

7
(b). Ia merupakan suatu norma yang menjadi dasar bagi pembentukan konstitusi atau
Undang-Undang Dasar.

. Maksud norm dalam Staatafundamentalnorm adalah norma yang bersifat khusus yaitu
norma hukum dalam kerangka hierarki peraturan perundang-undangan.

(d). Ia adalah norma hukum yang berbentuk tertulis.

(e). Nilai validitas atau keabsahannya sudah jelas, karena ia ditetapkan oleh lembaga
yang berwenang.

Mengacu pada pengertian dan indikator Staatsfundamentalnorm sebagaimana


disarikan dari pendapat Nawiasky di atas, maka kedudukan hukum Pancasila pada
dasarnya dapat dikualifikasi sebagai Staatsfundamentalnorm. Argumentasinya adalah
Pertama, Pancasila merupakan norma hukum, sekaligus yang menciptakan sistem hukum
baru. Kedua, Pancasila juga merupakan suatu norma yang menjadi dasar bagi
pembentukan konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Sebab yang menjadi dasar bagi
pembentukan konstitusi menurut Nawiasky adalah Staatsfundamentalnorm. Sedangkan
Staatsfundamentalnorm dalam kasus Indonesia adalah Pembukaan UUD 1945. Pada sisi
yang lain dapat dikatakan bahwa Pancasila itu merupakan hasil tindakan dan keputusan
politik (PPKI) yang mempunyai implikasi hukum. Implikasi hukumnya adalah segala
tindakan pemerintah (termasuk dalam pembentukan hukum) substansi dan penerapannya
tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan nilai-nilai dan spirit Pancasila di atas.
Dengan demikian untuk kasus Indonesia, Staatsfundamentalnorm itu berupa Pembukaan
UUD 1945, yang di dalamnya memuat nilai-nilai, asas-asas atau prinsip-prinsip
Proklamasi dan Pancasila sekaligus (lihat Alenia IIV Pembukaan UUD 1945). Dengan
kata lain, substansi nilai yang terkandung dalam Pancasila sudah mengalami proses
pemositivan (positivisasi) ke dalam Pembukaan UUD 1945.

Menurut Notonagoro,8 di dalam tertib hukum dapat diadakan pembagian susunan


yang hierarkis dari pada peraturan-peraturan hukum, dan dalam susunan itu undang-

8 Jazim Hamidi. Op.cit, hlm.110.

8
undang dasar, yang merupakan hukum dasar negara yang tertulis, tidak merupakan
peraturan hukum yang tertinggi, seperti juga dinyatakan dalam penjelasan resmi dari pada
Undang-Undang Dasar 1945 (sebelum amandemen- vide penulis)), karena diterangkan
masih mempunyai dasar-dasar pokok. Dasar-dasar pokok Undang-Undang Dasar ini,
yang dalam hakikatnya terpisah dari Undang-Undang Dasar, dinamakan pokok kaidah
negara yang fundamental (Staatsfundamentalnorm), yang mengandung tiga syarat
mutlak, yaitu ditentukan oleh pembentuk negara, memuat ketentuan-ketentuan pertama
yang menjadi dasar negara dan kedua bukan yang hanya mengenai soal organisasi negara.
Lebih lanjut Notonagoro mengatakan, untuk memenuhi pensifatan atas Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945 itu mempunyai hakikat pokok kaidah fundamental negara
(Staatsfundamentalnorm) Indonesia. Menurutnya, Pembukaan UUD 1945 itu mempunyai
kedudukan dua macam terhadab tertib hukum Indonesia, yaitu: Pertama, menjadi
dasarnya, karena Pembukaan-lah yang memberikan faktor-faktor mutlak bagi adanya
tertib hukum Indonesia. Kedua, memasukkan diri di dalamnya sebagai ketentuan hukum
yang tertinggi, sesuai dengan kedudukan asli sebagai asas bagi hukum dasar lainnya, baik
yang tertulis (UUD) maupun yang convention, dan peraturan-peraturan hukum lainnya
yang lebih rendah.

Sedangkan A. Hamid S. Attamimi secara eksplisit menegaskan bahwa Pancasila


adalah norma fundamental negara (Staatsfundamentalnorm) Republik Indonesia.
Argumentasinya adalah karena Pancasila merupakan cita hukum rakyat Indonesia. Itu
artinya, seluruh asas hukum dan norma hukum yang terkandung dalam UUD 1945 pada
hakekatnya dibentuk oleh norma fundamental negara Pancasila. 9 Dengan kata lain, norma
fundamental negara Pancasila yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 itu menjadi
10
dasar dan sumber bagi semua norma bawahannya. Hal yang perlu diperhatikan dari
Stufenbautheorie di atas adalah bahwa keseluruhan hukum positif itu tersusun dalam
sebuah heirarki logikal. Struktur logikal ini memiliki bentuk sebuah piramida yang terdiri

9 A. Hamid S. Attamimi, Peranan Keputusan Presiden RI Dalam Penyelenggaraan


Pemerintahan Negara, Disertasi pada Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta,
1999, hlm.310.

10 A. Hamid S. Attamimi, ibid hlm. 358.

9
atas sejumlah tataran bertingkat/berlapis. Kaidah-kaidah dari konstitusi mewujudkan
tataran tertinggi, dan kaidah-kaidah dimaksud tidak banyak. Di bawahnya terdapat
kaidah-kaidah hukum yang secara langsung timbul dari konstitusi seperti undang-undang
dalam arti formal.

Kaidah-kaidah ini jumlahnya jauh lebih banyak dibanding kaidah-kaidah


konstitusi. Di bawahnya terdapat kaidah-kaidah hukum individual, yakni kaidah-kaidah
hukum yang memberikan hak atau membebankan kewajiban kepada subyek hukum
tertentu. Mereka adalah ketetapan-ketetapan pemerintah, putusan-putusan hakim dan hak-
hak serta kewajibankewajiban keperdataan. Pada akhirnya, keberlakuan dari semua
kaidah hukum yang termasuk ke dalam sebuah tataran hukum sistem piramidal tersebut
berasal dari konstitusi. Konstitusi sendiri sebagai norma hukum tertinggi dalam suatu
negara memperoleh keberlakuannya atau landasan keberlakuannya dari Grundnorm.
Sedangkan Grundnorm adalah landasan keberlakuan tertinggi dari sebuah tataran hukum,
namun ia bukan sebuah kaidah hukum positif, ia bersifat meta juristic.

A.3. Menurut Teori Sumber Hukum dan Praktik Penyelengggaraan Negara.

Secara umum teori sumber hukum dibagi ke dalam dua kelompok besar yaitu:
sumber hukum materiil dan sumber hukum formal.11 Pengertian dan ruang lingkup
sumber hukum materiil terdiri dari beberapa unsur:

1. Sumber sebagai penyebab adanya hukum.

2. Sumber dari mana materi hukum itu diambil atau berasal.

3. Merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum.

4. Mengapa hukum itu mengikat.

11 Lihat dalam Mochtar Kusumaatmadja dan B. Arief Sidharta, Pengantar Ilmu hukum Suatu
Pengenalan Pertama Ruang Lingkup Berlakunya Ilmu Hukum, Buku I, Alumni, Bandung, 2000,
hlm. 59-73; Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 1995, hlm. 88-
89.

10
5. Apa yang menjadi sumber kekuatan hukum sehingga mengikat dan dipatuhi.

Sedangkan pengertian dan ruang lingkup sumber hukum formal terdiri dari beberapa
unsur:

1. Sumber sebagai bentuk perumusan kaidah-kaidah hukumnya.

2. Tempat yang menentukan atau menyebabkan berlakunya suatu kaidah hukum.

3. Tempat di mana aturan hukum itu dapat diketahui.

4. Berkaitan dengan cara yang menyebabkan peraturan hukum itu formal berlaku.

Mengacu pada pengertian dan ruang lingkup atau unsur-unsur dari masing-masing
sumber hukum (materiil dan formal) di atas, maka jelas sekali bahwa kedudukan hukum
Pancasila menunjukkan pada ranah sumber hukum materiil dan bukan sumber hukum
formal. Di lihat dari unsur yang membantu pembentukan hukum, jelas sekali asas-asas,
nilai-nilai, dan prinsip hukum yang terkandung dalam Pancasila dapat dijadikan sumber
inspirasi atau sumber rujukan (sumber hukum materiil) dalam setiap pembentukan hukum
nasional. Dilihat dari unsur sumber kekuatan hukum itu mengikat dan dipatuhi, jelas
bahwa secara substansial Pancasila itu berisi nilai-nilai moral, etik, dan heuristic. Atas
dasar itu, maka cukup beralasan kalau Pancasila merupakan sumber hukum berkekuatan
mengikat dan dipatuhinya di dalam tatanan hukum positif nasional.

Sebaliknya, dalam praktek ketatanegaraan RI kedudukan hukum Pancasila itu


dapat ditelusuri melalui hierarki peraturan perundang-undangan yang ada dan berlaku di
Indonesia. Dalam arti, untuk mengetahui di manakah letak keberadaan Pancasila itu
dalam tata urutan peraturan perundang-undangan yang ada. Berdasarkan ketentuan Pasal
7 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan,
di sana disebutkan bahwa jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan adalah
sebagai berikut:

11
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945;

2. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang;

3. Peraturan Pemerintah;

4. Peraturan Presiden;

5. Peraturan Daerah.

Memperhatikan susunan peraturan perundang-undangan yang berdasarkan kepada


ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU No.10 Tahun 2004 di atas, di mana UUD Negara Republik
Indonesia 1945 ini terdiri dari Pembukaan (yang di dalamnya memuat rumusan
Pancasila) dan pasal-pasal, maka dapat dikatakan di sini bahwa Pancasila merupakan
sumber hukum formal dalam HTN dan HAN Indonesia. Dengan demikian berdasarkan
teori sumber hukum dan praktik penyelenggaraan negara, maka Pancasila menempati
baik sebagai sumber hukum material maupun formal.

Pancasila yang dalam perkembangannya menjadi dasar negara seperti yang


ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945, maka telah terjadi konstituering atau
penuangan konstitusional dari Pancasila. Dengan terjadinya proses ini maka Pancasila
juga menjadi sumber hukum negara Republik Indonesia. Akan tetapi nama Pancasila
tidak secara eksplisit disebutkan di dalam Pembukaan. Secara ideologis (sebagai suatu
belief-system) ada terdapat suatu communal opinio bahwa dasar negara yang lima itu ada-
lah Pancasila, dan bahwa Pancasila itu adalah ideologi nasional 12. Ideologi disebut juga
dengan cita hukum13

B. Arah Politik Hukum Dalam Pembangunan Hukum Nasional.

12 A.M.W. Pranarka, Sejarah Pemikiran Tentang Pancasila, (Jakarta: CSIS, 1985), hlm.
2

13 A. Hamid S. Attamimi, Pancasila Cita Hukum Dalam Kehidupan Hukum Bangsa


Indonesia dalam Pancasila Sebagai Ideologi Dalam Berbagai Bidang Kehidupan
Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara disunting oleh: Oetojo Oesman & Alfian,
BP-7 Pusat, (Jakarta: BP7 Pusat, 1992), hlm.68.

12
Politik hukum merupakan arah pembangunan hukum yang berpijak pada sistem
hukum nasional untuk mencapai tujuan dan cita-cita negara atau masyarakat bangsa.
Hukum di Indonesia harus mengacu pada cita-cita masyarakat bangsa, yakni tegaknya
hukum yang demokratis dan berkeadilan sosial. Pembangunan hukum harus ditujukan
untuk mengakhiri tatanan sosial yang tidak adil dan menindas hak-hak asasi manusia; dan
karenanya politik hukum harus berorientasi pada cita-cita negara hukum yang didasarkan
atas prinsip-prinsip demokrasi dan berkeadilan sosial dalam satu masyarakat bangsa
Indonesia yang bersatu, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. 14

Menurut Bagi Manan , Politik Hukum terdiri dari atas :

1. Politik Hukum yang bersifat tetap ( permanen ), yaitu yang berkaitan dengan sikap
hukum yang akan selalu menjadi dasar kebijaksanaan pembentukan dan penegakkan
hukum. Bagi bangsa Indonesia , Politik Hukum tetap antara lain :

a. Terdapat satu sistem hukum yaitu Sistem Hukum Nasional.

Setelah 17 Agustus 1945, maka politik hukum yang berlaku adalah politik hukum
nasional , artinya telah terjadi unifikasi hukum ( berlakunya satu sistem hukum
diseluruh wilayah Indonesia ). Sistem Hukum nasional tersebut terdiri dari:

(1). Hukum Islam ( yang dimasukkan adalah asas asasnya)

(2). Hukum Adat ( yang dimasukkan adalah asas asasnya )

(3) Hukum Barat (yang dimasukkan adalah sistematikanya)

b. Sistem hukum nasional yang dibangun berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

14 Abdul Hakim G. Nusantara, Politik Hukum Indonesia ( Jakarta: Yayasan LBH Indonesia, 1998),
hlm.20

13
c. Tidak ada hukum yang memberi hak istimewa pada warga negara tertentu
berdasarkan pada suku , ras , dan agama. Kalaupun ada perbedaan , semata mata
didasarkan pada kepentingan nasional dalam rangka keasatuan dan persatuan bangsa.

d. Pembentukan hukum memperhatikan kemajemukan masyarakat. Masyarakat


memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan hukum , sehingga masya-
rakat harus ikut berpartisipasi dalam pembentukan hukum .

e. Hukum adat dan hukum yang tidak tertulis lainnya diakui sebagai subsistem hukum
nasional sepanjang nyata-nyata hidup dan dipertahankan dalam pergaulan
masyarakat.

f. Pembentukan hukum sepenuhnya didasarkan pada partisipasi masyarakat.

g.Hukum dibentuk dan ditegakkan demi kesejahteraan umum ( keadilan sosial bagi
seluruh rakyat ) terwujudnya masyarakat yang demokratis dan mandiri serta
terlaksananya negara berdasarkan hukum dan konstitusi.

2. . Politik Hukum yang bersifat temporer. Dimaksudkan sebagai kebijaksanaan yang


ditetapkan dari waktu ke waktu sesuai dengan kebutuhan.

Dalam konteks politik hukum jelas, bahwa hukum adalah alat yang bekerja
dalam sistem hukum tertentu untuk mencapai tujuan negara atau cita-cita masyarakat
Indonesia.15 Tujuan negara kita, bangsa Indonesia, adalah membentuk masyarakat adil
dan makmur berdasarkan Pancasila. Secara definitif, tujuan negara kita tertuang di dalam
alinea keempat Pembukaan UUD 1945, yang meliputi:

(1) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia;

(2) memajukan kesejahteraan umum;

(3) mencerdaskan kehidupan bangsa;

15 Mahfud MD, 2006. Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, op.cit, hlm.16-17.

14
(4) ikut melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi,
dan keadilan sosial.

Tujuan negara ini didasarkan pada lima dasar negara (Pancasila), yaitu: ketuhanan Yang
Maha Esa, Kemanusian yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat/kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila inilah yang memandu politik hukum
nasional dalam berbagai bidang.

Hukum sebagai alat untuk mencapai Tujuan Negara, selain berpijak pada lima
dasar (Pancasila), juga harus berfungsi dan selalu berpijak pada empat prinsip cita hukum
(rechtsidee), yakni:

1. melindungi semua unsur bangsa (nation) demi keutuhan (integrasi).

2. mewujudkan keadilan sosial dalam bidang ekonomi dan kemasyarakatan.

3. mewujudkan kedaulatan rakyat (demokrasi) dan negara hukum (nomokrasi)

4. menciptakan toleransi atas dasar kemanusiaan dan berkeadaban dalam hidup


beragama.

Empat prinsip cita hukum tersebut haruslah selalu menjadi asas umum yang memandu
terwujudnya cita-cita dan tujuan negara, sebab cita hukum adalah kerangka keyakinan
(belief framework) yang bersifat normatif dan konstitutif. Cita hukum itu bersifat
normatif karena berfungsi sebagai pangkal dan prasyarat ideal yang mendasari setiap
hukum positif, dan bersifat konstitutif karena mengarahkan hukum dan tujuan yang
hendak dicapai oleh negara.16

Berdasarkan cita-cita masyarakat yang ingin dicapai yang dikristalisasikan di


dalam tujuan negara, dasar negara, dan cita-cita hukum, maka diperlukan sistem hukum
nasional yang dapat dijadikan wadah atau pijakan dan kerangka kerja politik hukum

16 Badingkan dengan Mahmud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, op.cit, hlm.18.

15
nasional. Dalam hal ini, pengertian tentang sistem hukum nasional Indonesia atau sistem
hukum Indonesia perlu dikembangkan.

Sistem merupakan kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang satu dengan
yang lain saling bergantung untuk mencapai tujuan tertentu. Banyak yang memberi
definisi tentang istilah sistem ini. Ada yang mengatakan bahwa sistem adalah keseluruhan
yang terdiri dari banyak bagian atau komponen yang terjalin dalam hubungan antara
komponen yang satu dengan yang lain secara teratur. Sedangkan hukum nasional adalah
hukum atau peraturan perundang-undangan yang dibentuk dan dilaksanakan untuk
mencapai tujuan, dasar, dan cita hukum suatu negara. Dalam konteks ini, hukum nasional
Indonesia adalah kesatuan hukum atau peraturan perundang-undangan yang dibangun
untuk mencapai tujuan negara yang bersumber pada Pembukaan dan pasal-pasal UUD
1945. Sebab, di dalam Pembukaan dan pasal-pasal UUD itulah terkandung tujuan, dasar,
dan cita hukum Indonesia. Di dalamnya terkandung nilai-nilai khas budaya bangsa
Indonesia yang tumbuh dan berkembang dalam kesadaran hidup bermasyarakat selama
berabad-abad.

Dengan demikian, sistem hukum nasional Indonesia adalah sistem hukum yang
berlaku diseluruh Indonesia yang meliputi semua unsur hukum (seperti isi, struktur,
budaya, sarana, peraturan perundang-undangan, dan semua sub unsurnya) yang antara
yang satu dengan yang lain saling bergantungan dan yang bersumber dari Pembukaan dan
pasal-pasal UUD 1945.17

Menurut Soerjono Soekanto,18 masalah-masalah yang dipersoalkan dalam sistem


hukum mencakup empat hal, yaitu:

(1) Elemen atau unsur-unsur sistem hukum;

17 Badingkan dengan Mahmud MD, 2006,, op.cit, hlm.20-21; Sunaryati Harton, Politik Hukum
Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, (Bandung: Alumni, 1991), hlm.64

18 Soekanto, Soerjono, Beberapa Permasalahan Hukum dalam Kerangka Pembangunan di


Indonesia, (Jakarta: UI Press, 1983).

16
(2) Konsistensi sistem hukum;

(3) Pengertian-pengertian dasar sistem hukum; dan

(4) Kelengkapan sistem hukum.

Selanjutnya menurut Lawrence M. Friedman, dikatakan ada tiga unsur dalam sistem
hukum, yaitu :19

Pertama, sistem hukum mempunyai struktur. Sistem hukum terus berubah, namun
bagian-bagian sistem itu berubah dalam kecepatan yang berbeda, dan setiap bagian
berubah tidak secepat bagian tertentu lainnya. Inilah struktur sistem hukum kerangka
atau rangkanya, bagian yang tetap bertahan, bagian yang memberi semacam bentuk dan
batasan terhadap keseluruhan. Struktur sistem hukum terdiri dari unsur berikut ini :
jumlah dan ukuran pengadilan, yurisdiksinya ( yaitu, jenis perkara yang diperiksa, dan
bagaimana serta mengapa), dan cara naik banding dari satu pengadilan ke pengadilan
lain. Aspek kedua dari sistem hukum adalah substansi. Yaitu aturan, norma, dan pola
perilaku nyata manusia yang berada dalam sistem itu. Substansi juga berarti produk
yang dihasilkan oleh orang yang berada dalam sistem hukum itu keputusan yang
mereka keluarkan, aturan baru yang mereka susun. Penekannya di sini terletak pada
hukum hukum yang hidup (living law) , bukan hanya pada aturan dalam kitab hukum
(law books). Komponen ketiga dari sistem hukum adalah kultur hukum. Yaitu sikap
manusia terhadap hukum dan sistem hukum berupa kepercayaan, nilai, pemikiran, serta
harapannya. Dengan kata lain kultur hukum adalah suasana pikiran sosial dan kekuatan
sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan, dihindari atau disalah gunakan.
Tanpa kultur hukum, sistem hukum itu sendiri tidak akan berdaya. Friedman
mengibaratkan sistem hukum itu dengan struktur hukum seperti mesin. Substansi
adalah apa yang dihasilkan/dikerjakan mesin dan kultur hukum adalah apa atau siapa
saja yang memutuskan untuk menghidupkan dan mematikan mesin.

C. Kerangka Dasar/Pijakan Politik Hukum Nasional

19 Lawrence M. Friedman, American Law, (New York: WW Norton & Co,,1984), hlm.5.

17
C.1. Pancasila, Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945.

Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945 merupakan sumber dari keseluruhan politik
hukum nasional Indonesia. Penegasan keduanya sebagai sumber politik hukum nasional
didasarkan pada dua alasan. Pertama, Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945 memuat
tujuan, dasar, cita hukum, dan norma dasar negara Indonesia yang harus menjadi tujuan
dan pijakan dari politik hukum di Indonesia. Kedua, Pembukaan dan Pasal-pasal UUD
mengandung nilai-nilai khas yang bersumber dari pandangan dan budaya bangsa
Indonesia yang diwariskan oleh nenek moyang sejak berabad-abad yang lalu.20

Politik Hukum merupakan upaya menjadikan hukum sebagai proses pencapaian


cita-cita dan tujuan. Dengan arti ini, maka politik hukum nasional harus berpijak pada
kerangka dasar, sebagai berikut :21

1 Politik hukum nasional harus selalu mengarah pada cita-cita bangsa, yakni masyarakat
yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

2 Politik hukum nasional harus ditujukan untuk mencapai tujuan negara, yakni:

(a) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,

(b) memajukan kesejahteraan umum,

(c) mencerdaskan kehidupan bangsa,

(d) melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan


keadilan sosial.

3. Politik hukum harus dipandu oleh nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, yakni:

(a) berbasis moral agama,

20 Mahfud M.D., Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, op.cit.hlm. 23.

21 Mahfud MD, ibid, hlm. 31

18
(b) menghargai dan melindungi hak-hak asasi manusia tanpa diskriminasi,

(c) mempersatukan seluruh unsur bangsa dengan semua ikatan primordialnya,

(d) meletakkan kekuasaan dibawah kekuasaan rakyat,

(e) membangun keadilan sosial.

4. Agak mirip dengan butir 3, jika dikaitkan dengan cita hukum negara Indonesia, politik
hukum nasional harus dipandu oleh keharusan untuk;

(a) Melindungi semua unsur bangsa demi integrasi atau keutuhan bangsa yang
mencakup ideologi dan teritor,

(b) Mewujudkan keadilan sosial dalam ekonomi dan kemasyarakat,

(c) Mewujudkan demokrasi (kedaulatan rakyat) dan nomokrasi (kedaulatan hukum),

(d) Menciptakan toleransi hidup beragama berdasar keadaban dan kemanusian.

5. Untuk meraih cita dan mencapai tujuan dengan landasan dan panduan tersebut maka
sistem hukum nasional yang harus dibangun adalah sistem hukum Pancasila, yakni
sistem hukum yang mengambil atau memadukan berbagai nilai kepentingan, nilai
sosial, dan konsep keadilan ke dalam satu ikatan hukum prismatik dengan mengambil
unsur-unsur baiknya.

C.2. Tipologi Nonetz dan Selznick

Tipologi Philippe Nonetz dan Philip Selznick tentang bentuk-bentuk legal


ordering: Repressive law, Autonomous law, Responsive law, terpaksa mengakui bahwa
dalam satu sistem hukum ada dua kemungkinan wajah hukum:

1.Sistem hukum dapat bersifat menindas, dan hukum sering membatasi dan kaku;

19
2. Hukum dapat merupakan suatu sarana untuk merealisasikan kebebasan dan persamaan,
menjadikan para politisi tunduk kepada asas-asas hukum.

Tipologi ke dalam tiga tipe keadaan hukum sebagaimana dikemukakan Nonet &
Selznick tersebut didasarkan pada penglihatannya terhadap operasionalisasi hukum dalam
masyarakat.

1 Repressive

Hukum yang mengabdi kepada kekuasaan dan tertib sosial yang represif, artinya
banyak menggunakan paksaan tanpa memikirkan kepentingan yang ada pada rakyat.
Karakteristik nya :

a.Institusi-institusi hukum langsung terbuka bagi kekuasaan politik, hukum di


identifikasikan dengan negara.

b.Perspektif resmi mendominasi segalanya.

c.Kepentingan bagi rakyat untuk mendaatkan keadilan memperoleh perlindungan apabila


keadilan semacam itu ada, adalah terbatas.

d.Badan-badan khusus, misalnya, polisi, menjadi pusat-pusat kekuasaan yang bebas.

e.Hukum dan otoritas resmi dipergunakan untuk menegakkan konformitas kebudayaan.

2 Autonomous

Hukum otonom berorientasi pada pengawasan kekuasaan represif artinya hukum


otonom merupakan antitesis dari hukum represif. Karakteristiknya :

a.Penekanan pada aturan-aturan hukum sebagai upaya utama mengawasi kekuasaan


resmi.

b.Adanya pengadilan yang dapat didatangi secara bebas tanpa manipulasi kekuasaan
politik dan ekonomi.

20
c.Kelemahan : Perhatian terlalu besar terhadap aturan-aturan dan kepantasan prosedural
mengakibatkan peranan hukum semakin sempit; Keadilan prosedural dapat menjadi
pengganti keadilan substantif; Penekanan atas kepatuhan terhadap hukum, melahirkan
pandangan tentang hukum sebagai sarana kontrol sosial, mengembangkan suatu
mentalitas hukum diantara rakyat, mendorong ahli hukum mengadopsi sifat konservatif.

3 Responsive

Sikap responsif dapat diartikan sebagai melayani kebutuhan dan kepentingan


sosial. Karakteristiknya:

a.Pergeseran penekanan dari aturan-aturan ke prinsip-prinsip dan tujuan;

b. Pentingnya kerakyatan baik sebagai tujuan hukum maupun cara untuk mencapainya.

Berdasarkan pada 3 tipologi hokum tersebut, maka menurut penulis tipe yang paling
relevan untuk rujukan dalam melakukan pembangunan dan pembaharuan hukum nasional
adalah tipe hukum responsif. Dasar argumentasi yang dapat dikemukakan adalah:

a.Proses pembuatannya bersifat partisipatif.

b.Dilihat dari segi fungsinya, maka hukum yang berkarakter responsif bersifat aspiratif,
artinya memuat materi secara umum sesuai dengan aspirasi yang dilayani (dipandang
sebagai kristalisasi dari kehendak masyarakat).

c.Dilihat dari segi penafsiran, maka akan memberi peluang sedikit kepada pemerintah
untuk membuat penafsiran melalui peraturan pelaksanaan.

IV. Penutup.

A. Kesimpulan

1.Politik hukum mengandung dua sisi yang tidak terpisahkan, yakni: sebagai arahan
pembuatan hukum atau legal policy lembaga-lembaga negara dalam pembuatan hukum,
dan sekaligus alat untuk menilai dan mengkritisi apakah sebuah hukum yang dibuat

21
sudah sesuai atau tidak, dengan kerangka pikir legal policy tersebut untuk mencapai
tujuan negara.

2. Arah politik hukum bagi bangsa Indonesia sebenarnyanya sudah jelas, yakni, terletak
pada tujuan negara, dasar negara, pada cita hukum, maupun pada pijakan/dasar politik
hukum kita.

3.Peraturan perundang-undangan yang dibangun untuk mencapai tujuan negara,


seharusnya selalu bersumber pada Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945 dan teruji
oleh Pancasila baik dalam kapasitasnya sebagai Grundnorm maupun
Staatsfundamentalnorm.

B. Saran

1. Nilai-nilai Pancasila yang terumus ke dalam lima sila hendaknya menjadi pilar di
dalam proses pembangunan dan pembaharuan hukum di Indonesia, sehingga semua
produk hukum yang dihasilkan dapat merefleksikan nilai-nilai kultur kehidupan
masyarakat Indonesia dan tidak bersifat rasional an sich.

2. Politik hukum nasional yang berlandasaskan pada Pancasila sebagai Grundnorm dan
Staatsfundamentalnorm hendaknya memperhatikan fungsi Pancasila baik dalam
fungsi konstitutif maupun regulatif terhadap semua produk hukum yang dihasilkan
(substansi), pembentukan dan penataan kelembagaan (struktur), maupun
implementasi dalam berhukum (kultur).

22
KEPUSTAKAAN

Buku:

Abdul Hakim G. Nusantara, 1998, Politik Hukum Indonesia. Yayasan LBH Indonesia,
Jakarta.

Afan Gaffar, 1992, Politik Indonesia, Transisi Menuju Demokrasi, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.

Amiroeddin Syarif, 1987, Perundang-undangan: Dasar, Jenis, dan Teknik Membuatnya,


Bina Aksara, Jakarta.

Bagir Manan, 1992, Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia, Ind-Hill.Co., Jakarta.

Bagir Manan, 2001, Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi Hukum UII,
Yogyakarta.

Hazairin, 1981. Hukum Islam dan Masyarakat, Bulan Bintang, Jakarta.

23
Irawan Soejito, 1983. Teknik Membuat Perda, Bina Aksara, Jakarta.

Mahfud MD, 1998, Politik Hukum di Indonesia. LP3ES, Jakarta.

Mahfud MD, 2006, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, Cet.Pertama,


Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta.

Muhadar, 2006, Viktimisasi Kejahatan di Bidang Pertanahan, LaksBang PresSindo,


Yogyakarta

Podgorecki, Adam & Whelan, C.J. (ed.), 1987, Pendekatan Sosiologis terhadap Hukum,
Bina Aksara, Jakarta.

Salman, R. Otje, 1992. Sosiologi Hukum. Suatu Pengantar. Armico, Bandung.

Soerjono Soekanto, 1986, Kegunaan Sosiologi Hukum bagi Kalangan Hukum, Cet.
Keempat, Alumni, Bandung.

Soerjono Soekanto, 1983, Beberapa Permasalahan Hukum dalam Kerangka Pem-


bangunan di Indonesia, Jakarta: UI Press.

Soedjono D., 1982, Pokok-pokok Sosiologi sebagai Penunjang Studi Hukum, Alumni,
Bandung.

Sunaryati Hartono, 1991, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Alumni,
Bandung.

Tim Redaksi Fokusmedia, 2004, Undang-undang Otonomi Daerah. Undang-undang No.


32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-
undangNo.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah., Cet. Pertama, Fokus
Media, Bandung.

UUD 1945 sesudah Perubahan, Pasal 18.

24
________, Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan,
Op.cit., Ps. 7 dan penjelasan.

, Undang-undang tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, UU No.5, LN


No.38 Th 1974, TLN. No.3037, Ps.38.

-, Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah, UU No.22, LN No.60 Tahun


1999, TLN No.3839, Ps.69 dan Ps.70.

Zainuddin, Ali, 2006. Sosiologi Hukum. Jakarta: Sinar Grafika Offset, cetakan pertama.

Makalah/tulisan lepas:

Tanya, Bernard L. 2006, Judicial Review dan Arah Politik Hukum, sebuah Perspektif,
makalah untuk Seminar tentang Judicial Review dan Arah Politik Hukum di Fakultas
Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang, 17 April 2006.

Zakaria Ngelow, Perda Berbasis Syariat Islam di Sulawesi Selatan;

Lembaran Draft Infokom PGI, Perda-perda Syariat dari Aceh sampai Mataram;

Sudarto dkk, Perda-perda Syariat Islam di Sumetera Barat;

Rumadi: Rubrik Taswir. Jalan Lain Menuju Negara Islam?;

Marko Mahin, Perda Syariat Islam di Kota Banjarmasin;

Executive Summary, Riset Aksi Peta dan Problem Penerapan Syariat Islam di
Kalimantan Selatan;

Majalah Gatra: Negeri Syariah Tinggal Selangkah, Gelora Syariah Mengepung Kota.

Majalah Berita Oikumene, Gereja Melirik Perda-perda Bias Agama, Perda Bersyriat
Islam; Mengkritisi Perda Bernuansa Syariat Islam Versus HAM dan Pancasila;

25
Majalah Reformata: Indonesia Dikepung Perda Bernuansa Agama, Kristen di Daerah
Syariah;

Kompas, 14/6/06).

Tempo edisi 7/XXXV/19-25 Juni 2006

26