Anda di halaman 1dari 14

Kromosom Raksasa pada Drosophila melanogaster

LAPORAN PRAKTIKUM
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Genetika 1
yang dibimbing oleh Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah, M.Pd dan
Andik Wijayanto, S.Si, M.Si

Oleh:
Kelompok 11
Offering C
Iqbal Bilgrami B. (150341606676)
Nurul Marifah (150341601660)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Maret 2017
A. JUDUL
Kromosom Raksasa pada Drosophila melanogaster
B. TUJUAN
1. Mengetahui bentuk dan letak kelenjar ludah Drosophila melanogaster
2. Mengetahui dan memahami struktur kromosom politen Drosophila melanogaster
3. Mengetahui dan memahami bagian-bagian pada kromosom politen Drosophila
melanogaster
4. Mengetahui dan memahami perbedaan kromosom politen dengan kromosom biasa
C. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana bentukdan letak kelenjar ludah Drosophila melanogaster?
2. Bagaimana struktur kromosom politen Drosophila melanogaster?
3. Apa saja bagian-bagian pada kromosom politen Drosophila melanogaster?
4. Apa saja perbedaan kromosom politen dengan kromsom lainnya?
D. DASAR TEORI
Kromosom polytene raksasa ditemukan pada berbagai jaringan (ludah, midgut,
rektum, dan tubulus ekskretoris Malphigi) di larva beberapa lalat, serta di beberapa
spesies protozoa dan tanaman. Kromosom polytene pertama kali diamati oleh E. G.
Balbiani pada tahun 1881 (Klug, 2012). Beberapa lalat dewasa juga memiliki kromosom
politen pada sel-sel di telapak kakinya. Dua kelompok serangga seperti Collembola dan
jangkrik memiliki sel yang mengandung kromosom dengan ukuran besar seperti kromosom
politen. Kromosom dengan penampilan serupa juga terjadi pada tahap pengembangan
makronukleus protozoa dan di embrio tangkai pada tanaman berbunga (Wolfe 1993). Pada
kelenjar ludah dari lalat buah, kromosom homolog bersinaps dan kemudian
mereplikasi membuat sekitar seribu eksemplar, membentuk struktur yang sangat tebal
dengan pola yang khas dari bands yang disebut chromomeres.

Sumber : B.P Kaufman, 1939 Sumber:Tamarin, 2011


Siklus sel yang normal berlangsung melalui fase G1, S, G2, dan fase mitosis. Fase G1
merupakan fase pertumbuhan. Fase S merupakan fase replikasi DNA. Fase G2 merupakan
fase persiapan menuju fase mitotic (Reece et al, 2010). Pada sel kelenjar saliva terjadi
pengecualian pada yaitu fase mitotisnya tidak dilalui setelah fase S, sehingga menyebabkan
terjadinya replikasi DNA secara terus menerus. Hal tersebut menyebabkan penggandaan
rantai untai kromosom homolog yang saling bersinapsis dan membentuk kromosom politen
dengan ukuran yang sangat besar disertai lengan kromosom yang banyak (Wilkins et al.
1993).
Drosophila melanogaster memiliki kromosom politen untuk memenuhi kebutuhan sel
pada larva yang membutuhkan banyak protein (Fairbanks & Andersen 1999). Protein tersebut
digunakan untuk melanjutkan pertumbuhan Drosophila melanogaster menjadi lalat dewasa
(Suryo 1995: 78). Kromosom politen mengandung banyak sekali salinan molekul DNA yang
telah direplikasi beberapa kali sehingga memberikan salinan tambahan DNA untuk transkripsi
dan produksi protein semakin banyak (Fairbanks & Andersen 1999: 308).

E. ALAT & BAHAN


1. Alat :
a. Kacabenda
b. Kacapenutup
c. Mikroskopcahaya
d. Mikroskop stereo
e. Jarum pentul
f. Pipet
2. Bahan :
a. Larva Drosophila melanogaster instar III
b. Larutan NaCl 0,9 %
c. Larutan FAA
d. Acetokarmin

F. PROSEDUR KERJA
G. DATA HASIL PENGAMATAN

No Gambar Keterangan
.
1 Kelenjar Saliva A. Kelenjar
saliva

2. Diagram skematik
larva Drosophila
melanogasterinstar
III

Sumber : Tyler.2012
3. Kromosom
Polytene

Sumber : Klug,2012

H. ANALISIS DATA

Pada praktikum kali ini digunakan kelenjar saliva yang berwarna bening dengan
bentuk seperti ginjal sebagai bahan utama pengamatan kromosom raksasa dari larva
Drosophila melanogaster instar III. Pengambilan kelenjar ludah dilakukan dengan cara
membedah larva instar III menggunakan 2 jarum pentul yang ditancapkan pada bagian
kepala dan badan larva. Kelenjar ludah tersebut kemudian di tetesi dengan larutan FAA
sehingga berwarna putih dan ditetesi asetokarmin dan ditunggu selama 1 menit lalu
diamati dibawah mikroskop cahaya. Pada praktikum kami tidak menemukan adanya
kromosom raksasa yang dimaksud, tetapi menurut literatur kromosom polytene memiliki
lima lengan panjang dan satu lengan pendek. Lengan tersebut terdiri atas lengan terpanjang yaitu
kromosom X, sepasang lengan 2, sepasang lengan 3, dan satu lengan 4. Lengan 2 diberi notasi 2R
(right arm) dan 2L (left arm). Lengan 3 diberi notasi 3R (right arm) dan 3L (left arm). Kromosom
X, 2R, 2L, 3R, dan 3L mengalami duplikasi sebanyak 20 kali. Kromosom 4 sulit dibedakan
karena ukurannya sangat kecil.
I. PEMBAHASAN

Pada praktikum pengamatan kromosom politen Drosophila melonogaster


digunakan kelenjar ludah drosophila dalam tahap larva instar iii. Kromosom politen
sebenarnya tidak hanya ditemukan pada kelenjar ludah Drosophila melanogaster,
menurut Tyler (2000) Pada tahap larva, sel-sel drosophila tidak bertumbuh dengan mitosis
melainkan dengan penggandaan kromatin dan peningkatan ukuran sel, hanya beberapa
bagian organ yang melakukan mitosis yakni: imaginal disc, histoblast, dan gonad.
Pemilihan bagian kelenjar ludah menurut Tyler (2012) dikarenakan bagian ini lembut dan
mudah dihancurkan serta mengandung sel yang lebar dengan kromosom politen yang
besar. Menurut Zhimulev dan Koryakov (2009) Pada kelenjar ludah larva Drosophila
melanogaster, derajat kromosom politen (C) sebesar 1024-2048 (bereplikasi minimal 10
kali), sedangkan pada midgut 512-1024 (bereplikasi minimal 9 kali), dan pada kelenjar
protoraks sebesar 64-512 (bereplikasi minimal 8 kali). Tyler (2012) menambahkan
pertumbuhan organ tubuh yang lebih pesat pada larva instar 3 dan tubuh larva instar 3
transparan, memudahkan proses isolasi kromosom politen pada kelenjar ludah. Kelenjar
ludah larva instar 3 berjumlah sepasang berbentuk seperti ginjal bening dan berada di
bagian anterior tubuh larva seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1. Bentuk Skematis Larva Instar 3 Drosophila melanogaster

(Sumber: Tyler, 2012)


Pada praktikum, proses pertama adalah pemisahan kelenjar ludah, larva instar 3
Drosophila melanogaster ditetesi dengan cairan garam NaCl 0,9% yang bersifat isotonis
pada sel-sel larva. Selanjutnya dilakukan fiksasi menggunakan larutan FAA dan kelenjar
ludah mengalami perubahan warna dari transparan menjadi putih yang menurut Elgin
(1991), tujuan fiksasi adalah mengakomodasi peregangan kromosom sehingga terdapat
resolusi yang tinggi dari banding structure yang merupakan bagian kromosom politen.
Selanjutnya diberi setetes Asetocarmin yang merupakan pewarna kromosom (Tonzetich,
2004) lalu memencet sediaan kelenjar ludah yang ditutup oleh kaca benda.

Saat dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop pada preparat tersebut tidak


ditemukan kromosom politen pada jaringan kelenjar ludah Drosophila melanogaster, hal
ini bertentangan dengan pendapat Kimball (1990), yang menyatakan kromosom raksasa
merupakan kromosom interfase yang memiliki ukuran lebih panjang (100 kali) daripada
kromosom metaphase sehingga dapat dilihat (pada fase interfase) dimana pada kondisi
tersebut semua kromosom lain tidak terlihat. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa
faktor, antara lain: (1) pemilihan larva instar 3 yang salah, menurut Tyler (2012), larva
instar 3 tumbuh pada waktu 3 hari setelah terjadinya fertilisasi (suhu 25C), dan memiliki
ukuran tubuh paling besar dan merangkak naik pada bagian botol kultur. (2) Kurang
kuatnya penekanan pada sediaan, menurut Tyler (2012), penekanan yang baik akan
membuka membran sel dan mampu melebarkan lengan-lengan kromosom.

Kromosom politen merupakan kromosom berukuran raksasa relatif terhadap


ukuran kromosom pada umumnya saat waktu interfase. Struktur kromosom politen
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu band, interband, puff, dan chromocenter (Pierce 2004).
Selain itu kromosom raksasa hanya mengalami 2 fase sel yakni fase S dan fase G
(Wilkins et al., 1993). Pembentukan kromosom raksasa karena terjadi replikasi
kromosom berulang hingga 10 kali tanpa pembelahan sel (endomitosis) dan
menghasilkan seikat kromosom yang pararel. Sebelum pembentukan kromosom politen,
sel Drosophila melanogaster yang bersifat diploid (mengandung 2 set kromosom yang
masing-masing tersusun atas 4 kromosom), saat bereplikasi, 4 kromosom tersebut saling
menyatu/agregasi membentuk satu kromosom politen dengan banyak lengan melalui
endoreplikasi. Bagian tengah tempat kromosom beragregasi disebut chemocenter seperti
yang terlihat pada gambar 2. Lengan kromosom raksasa terdiri atas satu kromosom X,
sepasang lengan 2, sepasang lengan 3, dan satu lengan 4. Lengan 2 diberi notasi 2R (right arm)
dan 2L (left arm). Lengan 3 diberi notasi 3R (right arm) dan 3L (left arm). Kromosom X dan
lengan 4 tersusun secara telosentrik, sedangkan kromosom lengan 2 dan lengan tiga tersusun
metasentrik (Tyagi, 2009). Menurut Kimball (1990), Jumlah pita pada kromosom raksasa
dapat digolongkan menjadi 537 pita untuk kromosom X, 1032 pita pada kromosom
kedua, 1047 pita pada kromosom ketiga, dan 34 pita pada kromosom keempat. Sehingga
total pita adalah 2650 untuk satu genome. Pada beberapa penelitian lain disebutkan
bahwa jumlah pitanya adalah 3286.
Gambar 2. Kromosom Raksasa Drosophila melanogaster (Sumber: Alberts et al.,
2002 {atas}, Klug,2012 {bawah})
Bagian band merupakan heterokromatin yang berwarna gelap karena berisi DNA
yang terpadatkan, heterokromatin tidak aktif dalam melakukan transkripsi. Sementara
bagian interband atau eukromatin adalah bagian yang tidak terkondensasi dan terlihat
berwarna terang. Hal tersebut terjadi karena eukromatin tidak mengalami pemadatan.
Eukromatin mengandung gen-gen yang aktif dan hampir mengandung semua gen yang
ditranskripsi sehingga menjadi bagian yang aktif dalam melakukan replikasi (Klug,
2012). Pada saat tertentu, misalnya, setelah diberi perlakuan kejut suhu, juga terdapat
bagian yang terdifusi yang disebut puffs/balbioni ring (Lihat gambar 3) yang merupakan
daerah yang secara aktif melakukan transkripsi. Tahap spesifik dari bentuk puffs ini
muncul pada kondisi perkembangan tertentu seperti saat molting. Hormon edikson yang
disekresi kelenjar protoraks serangga bertambah bersamaan dengan perubahan ola puffs,
molting bisa jadi berkaitan dengan sequencial transcription pada sekuens kromosom
politen.

Gambar 3. Puffs pada kromosom politen Drosophila melanogaster

(Sumber: Tamarin, 2001)


J. DISKUSI
1. Bagaimana kenampakan kromosom raksasa?
Kromosom raksasa berukuran besar, memiliki lengan kromosom berjumlah 4
yang bentuknya linear dan berkumpul dalam cromocenter, pada tiap lengan
kromosom terlihat struktur garis-garis yang membentuk pita terang dan pita gelap,
selain itu, terdapat struktur yang tidak kompak dan melebar atau menggelembung
yang disebut dengan puff.
2. Apakah makna pita terang dan pita gelap ditinjau dari struktur dan fungsinya?
Menurut strukturnya, pita gelap berisi DNA yang terpadatkan, dan pita terang
tidak adalah bagian yang tidak terkondensasi dan terlihat berwarna terang karena
tidak mengalami pemadatan. Ditinjau dari fungsinya, bagian pita gelap aktif
dalam melakukan transkripsi, sementara bagian mengandung gen-gen yang aktif
dan hampir mengandung semua gen yang ditranskripsi sehingga menjadi bagian
pita terang yang aktif dalam melakukan replikasi.
3. Selain pada Drosophila melanogaster kromosom raksasa ditemukan dimana saja?
Kromosom polytene raksasa ditemukan pada berbagai makhluk hidupyakni: di
larva beberapa lalat, protozoa dan tanaman, sel telapak kaki lalat dewasa,serta
insecta seperti Collembola dan jangkrik.
4. Apa fungsi kromosom raksasa?
Kromosom politen mengandung banyak sekali salinan molekul DNA yang telah
direplikasi beberapa kali sehingga memberikan salinan tambahan DNA untuk transkripsi
sehingga banyak protein yang dihasilkan. Kromosom politen sangat penting untuk proses
perkembangan seperti molting.
5. Bagaimana ukuran kromosom raksasa?
Ukuran kromosom raksasa 100 lebih besar disbanding kromosom biasa saat
tahap interfase, hal ini karena, terjadi endomitosis (replikasi kromosom tanpa
diikuti pembelahan sel) dan pembesaran sel. Sedangkan ukuran total pita adalah
2650 untuk satu genome. Pada beberapa penelitian lain disebutkan bahwa jumlah
pitanya adalah 3286.

K. KESIMPULAN
1. Kelenjar ludah arva instar 3 Drosophila melanogaster berbentuk seperti ginjal dan
berjumlah sepasang terletak diantara bagian anterior tubuh larva.
2. Struktur kromosom politen Drosophila melanogaster berbentuk seperti pita yang
terdiri atas empat lengan (X, 4, 2R dan 2L, serta 3L dan 3R) dan beragregasi pada
bagian cromocenter
3. Bagian-bagian pada kromosom politen Drosophila melanogaster terdiri atas band,
interband, cromocenter dan puff
4. Kromosom biasa mengalami siklus sel G1, S, G2, dan fase mitosis, sedangkan
kromosom politen hanya mengalami fase G1, S dan G2 (endomitosis). Kromosom politen
ukurannya besar, 10 kali dibandingkan kromosom biasa saat waktu interfase. Kromosom
politen juga memiliki cromocenter sebagai daerah agregasi lengan-lengan kromosomnya.

L. SARAN
1. Dalam melakukan praktikum, praktikan harus memperhatikan setiap detail
prosedur sehingga hasil yang didapatkan akan maksimal dan tepat.

M. DAFTAR RUJUKAN

Alberts, Bruce: Alexander Johnson, Julian Lewis, Martin Raff, Keith Roberts, and Peter
Walter. 2012. Molecular Biology of the Cell. 4th edition. USA: Garland
Sciences

B. P. Kaufman, 1939 Induced Chromosome Rearrangements in Drosophila


melanogaster, Journalof Heredity, 30:17890

Elgin, S. C. 1991.Functional Organization of The Nucleus : A Laboratory Guide.


SanDieogo : Academic Press Inc.
Fairbanks, D.J. & W.R. Andersen. 1999. Genetics: The Continuity of Life. California :
Brooks/Cole Publishing Company
Kimball, John W. 1990. Biologi. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga.
Klug, W.S et al. 2012 . Concepts of geneticsTenth Edition.California: Pearson Education,
Inc

Pierce, B.A. 2004. Genetics: a Conceptual Approach 2nd. New York: W.H Freeman
Publishing

Reece et al. 2010.Campbell Biology Tenth Edition. USA : Pearson Education, Inc

Tamarin. 2001. Principles of Genetics, Seventh Edition.USA : The McGrawHill


Companies
Tonzetich, J. 2004. Orcein Staining and The Identification of Polytene
Chromosome. Methods Mol Biol. 47 (24) : 9-16.[10] Manhattan. 2007. Aceto
Orcein Staining .
http://www.kstate.edu/wgrc/protocols/cytogenetics/aetoorcein.html. (diakses
21 Maret 2017 )
Tyagi, Rajiv. 2009. Understanding Genetics. New Delhi: Discovery Publishing House

Tyler, Mary S. 2012 . Developmental Biology,A Guide for Experimental Study.


Sunderland : Sinauer Associates

Wilkins, Adam. 1993. Genetic Analysis of Animal Development, 2nd ed. New York :
Willey-Liss, Inc
Wolfe, S.L. 1993. Molecular and Cellular Biology. California: Wadsworth, Inc
Zhimulev and Koryakov. 2009. Polytene Chromosomes. ELS: Genetics and Molecular
Biology. DOI: 10.1002/9780470015902.a0001183.pub2. (diakses 21 Maret
2017)