Anda di halaman 1dari 53

MAKALAH

KAJIAN DAN ANALISIS SUMBANGAN ASTRONOMI


TERHADAP PERKEMBANGAN FISIKA

KELOMPOK XII

Nama : Inggrit Milan Lano


Nim :1601050060
Nama : Reslin Talita Here
Nim :1601050032
Nama : Soni A. Nenotek
Nim : 1601050045
Nama : Thensi H. Moy
Nim : 1601050007

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG 2016

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kita sampaikan kehadirat Allah Swt, atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa yang membawa kita dari zaman kegelapan ke zaman seperti
sekarang ini.

Terimakasih juga tak lupa saya ucapkan pada dosen pembimbing sejarah
fisika yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.

Kami sadar dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari kekurangan karena
kesempurnaan itu hanya milik oleh Tuhan Yang Maha Esa karena itu, kami
mengharapkan kritikan dan saran untuk untuk kesempurnaan makalah ini, kami
ucapkan terimakasih.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1

1.2 Tujuan Penulisan makalah.................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 3


BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ......................................................................................49
3.2 Soal dan Jawaban ............................................................................. 50
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 53

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai salah satu ilmu pengetahuan tertua dalam peradaban manusia,
Astronomi kerap dijuluki sebagai 'ratu sains'. Astronomi memang menempati posisi
yang terbilang istimewa dalam kehidupan manusia. Sejak dulu, manusia begitu
terkagum-kagum ketika memandang kerlip bintang dan pesona benda-benda langit
yang begitu luar biasa. Fenomena langit sangatlah menarik rasa ingin tahu manusia.
Sebuah bukti adalah adanya sejarah para ilmuan yang mencoba untuk mengamati dan
mempelajari fenomena alam tersebut. Awalnya, manusia menganggap fenomena
langit sebagai sesuatu yang magis. Seiring berputarnya waktu dan zaman, manusia
pun memanfaatkan keteraturan benda-benda yang mereka amati di angkasa untuk
memenuhi kebutuhan hidup seperti penanggalan. Dengan mengamati langit, manusia
pun bisa menentukan waktu utuk pesta, upacara keagamaan, waktu untuk mulai
menabur benih dan panen.
Berbeda dengan zaman sekarang, perkembangan astronomi pada zaman
sekarang begitu pesat seiring dengan temuan temuan terbaru seperti penemuan akan
adanya sebuah kehidupan di planet mars karena didalamnya terdapat air, pnemuan
planet-planet baru dan pengobservasian fenomena-fenomena alam dengan alat-alat
canggih. Mengkaji ilmu astronomi adalah hal yang sangat menarik, sehingga
menjadikan perkembangan ilmu astronomi tetap berjalan dan selalu berkembang.
Oleh karna itu kami mencoba mengkaji bagaimana perjalanan atau sejarah
perkembangan ilmu astronomi dari zaman prasejarah sampai zaman sekarang.

1.2 Tujuan
1. Dapat menjelaskan pengertian dari astronomi.
2. Dapat menjelaskan cabang-cabang ilmu astronomi.
3. Dapat menjelaskan perkembangan astronomi pada tiap periode
menurut para ilmuwan.
4. Dapat menjelaskan kontribusi ilmu astronomi dari astronom-
astronom muslim.
5. Dapat menjelaskan perkembangan astronomi di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Perkembangan Astronomi
1. Pengertian Astronomi
Astronomi, erat sekali hubungannya dengan perkara keseharian kita. Secara
etimologi astronomi berarti "ilmu bintang" adalah ilmu yang melibatkan pengamatan
dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar. Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini
mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat
di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka. Astronomi
merupakan cabang pengetahuan eksakta yang tertua.
Astronomi, secara etimologi berarti "ilmu bintang" (dari Yunani: , +
), adalah ilmu yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang
terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat
fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga
proses yang melibatkan mereka.
Ikhwan As Shafa memberikan definisi astronomi di dalam bukunya Rasaa-
iluikhwan As Shafa, adalah ilmu untuk mengetahui tata surya, menghitung banyak
bintang (buruj), jarak, besar dan gerakannya, serta mengetahui segala sesuatu yang
berhubungan dengan pengetahuan ini.
Thasy Kubra memberikan definisinya di dalam bukunya Miftaahus Saadah,
adalah ilmu untuk mengetahui ihwal benda-benda angkasa yang tinggi dan yang
rendah, lengkap dengan bentuk, letak, ukuran serta jaraknya.
Di dalam khazanah islam, astronomi dikenal dengan nama ilmu falak yang
berarti orbit at au lintasan benda-benda langit. Ilmu falak adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari lintasan benda-benda langit khususnya bumi, bulan, dan matahari
pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk mengetahui posisi benda langit
antara satu sama lainnya, agar dapat diketahui waktu-waktu dipermukaan bumi. Ilmu
falak ini sangat berpengaruh sekali terhadap pelaksanaan ibadah dalam agama islam,
seperti waktu shalat, puasa ramadhan, arah qiblat,dan sebagainya.
Selama sebagian abad ke-20, astronomi dianggap terpilah menjadi astrometri,
mekanika langit, dan astrofisika. Status tinggi sekarang yang dimiliki astrofisika bisa
tercermin dalam nama jurusan universitas dan institut yang dilibatkan di penelitian
astronomis: yang paling tua adalah tanpa kecuali bagian 'Astronomi' dan institut, yang
paling baru cenderung memasukkan astrofisika di nama mereka, kadang-kadang
mengeluarkan kata astronomi, untuk menekankan sifat penelitiannya. Selanjutnya,
penelitian astrofisika, secara khususnya astrofisika teoretis, bisa dilakukan oleh orang
yang berlatar belakang ilmu fisika atau matematika daripada astronomi.
Secara umum baik "astronomi" maupun "astrofisika" boleh digunakan untuk
menyebut ilmu yang sama. Apabila hendak merujuk ke definisi-definisi kamus yang
baku, "astronomi" bermakna "penelitian benda-benda langit dan materi di luar
atmosfer Bumi serta sifat-sifat fisika dan kimia benda-benda dan materi
tersebut"sedang "astrofisika" adalah cabang dari astronomi yang berurusan dengan
"tingkah laku, sifat-sifat fisika, serta proses-proses dinamis dari benda-benda dan
fenomena-fenomena langit".Dalam kasus-kasus tertentu, misalnya pada pembukaan
buku The Physical Universe oleh Frank Shu, "astronomi" boleh dipergunakan untuk
sisi kualitatif dari ilmu ini, sedang "astrofisika" untuk sisi lainnya yang lebih
berorientasi fisika. Namun demikian, penelitian-penelitian astronomi modern
kebanyakan berurusan dengan topik-topik yang berkenaan dengan fisika, sehingga
bisa saja kita mengatakan bahwa astronomi modern adalah astrofisika. Banyak badan-
badan penelitian yang, dalam memutuskan menggunakan istilah yang mana, hanya
bergantung dari apakah secara sejarah mereka berafiliasi dengan departemen-
departemen fisika atau tidak. Astronom-astronom profesional sendiri banyak yang
memiliki gelar di bidang fisika. Untuk ilustrasi lebih lanjut, salah satu jurnal ilmiah
terkemuka pada cabang ilmu ini bernama Astronomy and Astrophysics (Astronomi
dan Astrofisika).

Astronomi adalah salah satu di antara sedikit ilmu pengetahuan di mana


amatir masih memainkan peran aktif, khususnya dalam hal penemuan dan
pengamatan fenomena sementara. Astronomi jangan dikelirukan dengan astrologi,
ilmu semu yang mengasumsikan bahwa takdir manusia dapat dikaitkan dengan letak
benda-benda astronomis di langit. Meskipun memiliki asal-muasal yang sama, kedua
bidang ini sangat berbeda; astronom menggunakan metode ilmiah, sedangkan
astrolog tidak.
Ilmu astronomi (ilmu falak) berbeda dengan ilmu astrologi. Adapun astrologi
adalah ilmu yang mempelajari benda-benda langit dengan tujuan untuk mengetahui
pengaruh benda-benda langit itu terhadap kehidupan (nasib) seseorang di
bumi.Astrologi lebih dikenal dengan ilmu nujum.

B. Cabang-Cabang Ilmu Astronomi


Pada abad ke-20, astronomi profesional terbagi menjadi dua cabang:
astronomi observasional dan astronomi teoretis. Yang pertama melibatkan
pengumpulan data dari pengamatan atas benda-benda langit, yang kemudian akan
dianalisis menggunakan prinsip-prinsip dasar fisika. Yang kedua terpusat pada upaya
pengembangan model-model komputer/analitis guna menjelaskan sifat-sifat benda-
benda langit serta fenomena-fenomena alam lainnya. Adapun kedua cabang ini
bersifat komplementer astronomi teoretis berusaha untuk menerangkan hasil-hasil
pengamatan astronomi observasional, dan astronomi observasional kemudian akan
mencoba untuk membuktikan kesimpulan yang dibuat oleh astronomi teoretis.
Bidang yang dipelajari juga dikategorikan menjadi dua cara yang berbeda:
dengan 'subyek', biasanya menurut daerah angkasa (misalnya Astronomi Galaksi)
atau 'masalah' (seperti pembentukan bintang atau kosmologi); atau dari cara yang
dipergunakan untuk mendapatkan informasi (pada hakekatnya, daerah di mana
spektrum elektromagnetik dipakai). Pembagian pertama bisa diterapkan kepada baik
pengamat maupun teoretikus, tetapi pembagian kedua ini hanya berlaku bagi
pengamat (dengan tak sempurna), selama teoretikus mencoba menggunakan
informasi yang ada, di semua panjang gelombang, dan pengamat sering mengamati di
lebih dari satu daerah spectrum.

Berdasarkan pada subyek atau masalah, ada beberapa pengklarifikasian dalam ilmu
astronomi sebagai berikut :
Astrometri: cabang ilmu Astronomi yang mempelajari hubungan geometris
benda-benda angkasa, meliputi: kedudukan benda-benda angkasa, jarak benda
angkasa yang satu dengan yang lain, ukuran benda angkasa, rotasi dan
revolusinya.. Mendefinisikan sistem koordinat yang dipakai dan kinematika dari
benda-benda di galaksi kita.
Kosmologi: penelitian alam semesta sebagai seluruh dan evolusinya.
Fisika galaksi: penelitian struktur dan bagian galaksi kita dan galaksi lain.
Astronomi ekstragalaksi: penelitian benda (sebagian besar galaksi) di luar galaksi
kita.
Pembentukan galaksi dan evolusi: penelitian pembentukan galaksi, dan evolusi
mereka.
Ilmu planet: penelitian planet dan tata surya.
Fisika bintang: penelitian struktur bintang.
Evolusi bintang: penelitian evolusi bintang dari pembentukan mereka sampai
akhir mereka sebagai bintang sisa.
Pembentukan bintang: penelitian kondisi dan proses yang menyebabkan
pembentukan bintang di dalam awan gas, dan proses pembentukan itu sendiri.

C. Perkembangan Astronomi Tiap Periode


1. Periode 1 (Zaman Purbakala 1500M)
Perkembangan Astronomi sebenarnya sudah terdeteksi sekitar 1000 SM
tepatnya zaman sumeria dan babilonia. Mereka mengamati berbagai keteraturan dan
mampu meramalkan gerhana bulan, dan peredaran planet. Bangsa mesir sudah
menemukan bahwa satu tahun terdiri dari 365 hari. Akan tetapi, pada zaman sumeria
belum menemukan pengetahuannya dalam bentuk gambaran. Gambaran mengenai
alam semesta memang ada namun masih bersifat spekulatif belaka. Mereka
beranggapan bahwa bumi dan langit berbentuk cakram datar yang saling tumpang
tindih.
Ciri-ciri periode Pertama:
1) Belum ada penelitian yang sistematis.
2) Bersifat spekulatif.
3) Pergerakan benda-benda langit dianggap memiliki kekuatan magis.
4) Pada periode pertama ini dikumpulkan berbagai fakta fisis yang dipakai untuk
membuat perumusan empirik.
Untuk pengkajian lebih dalam kita akan membahas tokoh tokoh penting
yang sangat berperan dalam perkembangan astronomi pada periode satu ini.
a) Anaximander (610-546 SM)
Seorang filusuf Yunani yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Astronomi. Ia
menganggap bentuk Bumi sebagai silinder dan angkasa berputar tiap hari
mengelilinginya.
b) Anaxagoras (500-478 SM)
Mengajarkan bahwa Matahari sebuah batu panas dan bulan tidak
memancarkan cahaya sendiri tapi mendapat penerangan dari Matahari. Dia juga
menerangkan mengenai Gerhana Matahari.
c) Aristoteles (348-322 SM)
Ia adalah murid Plato, dan dianggap sebagai bapak filsafat dan ilmuan
sepanjang sejarah. Bumi menurutnya adalah pusat jagat raya (geosentris).
Sedangkan dilangit (alam semesta bagian atas) terdapat planet-planet, bintang,
matahari, dan bulan yang gerak alamiah mereka adalah melingkar sempurna,
continue dan tak terbatas.
d) Erastostenes (276-196 SM)
Ia bukan orang Yunani tetapi orang Mesir. Pemikiran Erastostenes
terpenting adalah mengenai keliling lingkaran bumi. Erastostenes melakukan
pengukurn keliling bumi dari dua kota : Alexandria (mesir dan Syene yang
berjarak 787 km. pada musuim panas di Alexandia sinar matahari jatuh tegak
lurus pada tengah hari, sedangkan di Syene sinar matahari, membentuk sudut 7.2o.
dari data ini Erastostenes menghitung bahwa keliling bumi 46.250 km.
pengukurannya didasarkan pada asumsi bahwa bumi berbentuk bulat, tidak datar.
Erastostenes berhasil mengukur jarak bumi matahari dan jarak bulan bumi.
e) Thales
Pengamatan fenomena langit sebenarnya telah dilakukan sejak zaman
kuno oleh orang-orang China, Mesopotamia, dan Mesir. Tetapi astronomi sebagai
ilmu, baru berkembang di Yunani pada abad ke-6 SM. Penelitian tentang
astronomi di Yunani diawali oleh Thales. Ia mengemukakan sebuah pendapat
bahwa Bumi itu berbentuk bulat, setelah itu Aristoteles mengeluarkan terobosan
yang penting dua abad kemudian yang menyatakan bahwa Bumi itu bulat budar
dengan dukungan dari beberapa buku ilmiah.
f) Phytagoras (560 480 SM)
Ia berpendapat bahwa jagat raya bersipat harmonic (cosmos) atau tidak
kacau (chaos) dalam hal keharmonisan alam, mazhab phytagorean merujuk pada
teorinya bahwa keharmonisan alam memiliki kesesuaian dengan harmoni pada
music. Menurutnya suara music ditentukan oleh pengaturan interval dari panjang
pendeknya senar. Konsep keharmonisan konsep ini kemudian dijadikan prinsip
umum untuk menjelaskan gagasan tentang keharmonisan jagat raya dan semua
gerakan planet menyuarakan suara harmoni yang mewakili perbedaan notasi
music. Teori ini yang kemudian disebut harmoni of the spheres berpengaruh luas,
bahkan Johanes Kepler pada permulaan spekulasinya menganggap bahwa
perbedaan gerakan antar planet ditentukan oleh perbedaan oktaf yang ada pada
skala musik.
g) Aristarchus (310-230 SM)
Ia merupakan orang pertama yang berbeda pandangan tentang pusat jagat
raya. Menurutnya bukan bumi sebagai titik pusat, tetapi mataharilah sebagai titik
pusat (helio sentris). Dia memperbaiki teori cosmogonic Philolaus dan
menyatakan bahwa pusat api tidak ada. Dengan matahari sebagai pusat dan bumi
serta planet-planet lain mengelilinginya. Teori ini merupakan pengantar kepada
teori Heliosentris cosmogonic 2000 tahun kemudian.
Teori ini sebenarnya tidak memperoleh kemajuan bagi pemikiran bangsa
Yunani dan hilang hampir 200 tahun, karena pengaruh ajaran Aristoteles dengan
hipotesanya mengenai teori Geosentris yang sangat diyakini orang pada saat itu
dan tidak sesuai dengan keyakinan agama yang berkembang saat itu yang lebih
sejalan pola pikirnya terhadap pola geosentris.
h) Archimedes (287-212 SM)
Ia adalah sosok ilmuan yang telah memberikan kontribusi yang besar bagi
peradaban. Seperti penemuan skrup air, yakni alat untuk menarik air dari tempat
yang rendah ke tempat yang tinggi dimana air akan mengikuti putaran skrup ke
atas, sampai pada pengamatan benda-benda angkasa deng observasi yang akurat.
Bahkan Chasles mencatat bahwa karya Integral Archimedes memberikan
sumbangan besar bagi kepler dan Newton dalam penentuan hokum-hukumnya
secara matematis.
Dia telah mengenal teori gravitasi. Menyokong teori Aristarkus, bahwa
bumi berputar setiap hari mengelilingi sumbunya dan berputar mengelilingi
matahari tiap tahunnya dengan lintasan berbetuk lingkaran. Matahari dan bintang-
bintang tetap diam, sedangkan pada planet bergerak berbentuk lingkaran dengan
matahari sebagai pusatnya.
i) Hipparchus (abad ke-2 SM)
Pola pemikirannya menjadi pijakan bagi Ptolemy khususnya mengenai
perkiraan equnox (situasi siang dan malam sama panjang)

1) Dia menunjukkan bahwa Vernal Equinox (titik musim panas) bergerak


sepanjang lingkaran ekliptika dengan kecepatan 36 detik busur dalam setahun,
sedangkan di zaman modern sekarang ini 50 detik. Akibat perputarn Equinox,
Bumi berputar pola mngenai sumbunya. Bidang yang melalui lintasan
Matahari dan melalui keliling Bumi, disebut ekliptika.

2) Dia telah menemukan trigonometri dan memberikan tabel dari sudut-sudut


sinusnya. Dia mengukur lamanya tahun tropik yaitu 365 hari 5 jam 54 menit.
Untuk mendapatkan harga ini, Hipparcus menggunakan observasi Aristarchus.
Harga yang didapat sekarang, yang berbeda 5 menit 14 detik. Dia meyakini
teori cosmogonic geosentris.
Selain itu, Ia membuat sebuah katalog 850 bintang dengan teliti yang
dibagi kedalam enam kelompok kecerlangan atau magnitudo; bintang paling
cemerlang dengan magnitudo 1 dan yang paling lemah (yang tampak dengan mata
telanjang) dengan magnitudo 6. Suatu sistem magnitudo yang disesuaikan masih
digunakan dewasa ini. Hipparkus menemukan bahwa posisi bumi agak goyah di
antariksa, suatu efek yang disebut Presesi.
j) Ptolomeus (abad ke-2 SM)
Ia adalah pengumpul data astronomis yang teliti. Ia mengembangkan
sebentuk sistem tata surya yang membela gerakan melingkar dengan bumi
sebagai pusatnya. Seorang ilmuwan Yunani yang menyusun gambaran baku
mengenai Alam semesta yang dipakai oleh para ahli astronomi hingga jaman
Renaissance. Menurut Ptolomeus, Matahari, Bulan, dan planet-planet beredar
mengelilingi Bumi dengan suatu sistem yang rumit. Ptolemy mengajukan dua
komponen gerak. Yang pertama, gerak dalam orbit lingkaran yang seragam
dengan periode satu tahun pada titik yang disebut deferent. Gerak yang kedua
disebut epycycle, gerak seragam dalam lintasan lingkaran dan berpusat pada
deferent.
Teori ini akhirnya ditentang dan dibuktikan kesalahannya oleh pandangan
Copernicus. Ptolomeus menulis ensiklopedi besar astronomi Yunani yang disebut
Almagest.
k) Nicolaus Copernicus (1473-1543 M)
Sosok ilmuan yang dengan berani mematahkan paradigma geosentris yang
sudah bertahan ratusan tahun sebelumya dengan menungkap bahwa bukan bumi
sebagai pusat edar melainkan matahari (heliosentris).
Teorinya didukung oleh pengamatan Galileo dan dibenarkan oleh
perhitungan Johannes Kepler. Tiga belas abad lebih konsep Geosentris diterima
masyakat dunia. Pada tahun 1512 dibukalah sejarah baru oleh Copernicus yang
mengemukakan bahwa Planet dan Bintang bergerak mengelilingi Matahari
dengan orbit Melingkar. Sejak pernyataannya inilah konep heliosentris mulai
diterima oleh dunia.

2. Periode II (Sekitar 1550 1800 M)


Perkembangan ilmu astronomi pada periode II terjadi sangat pesat.
Banyak sumbangan-sumbangan yang telah diberikan oleh para ahli dalam
perkembangan astronomi. Selain itu, pada periode II ini terjadi perubahan sarana
pengamatan yaitu dari pengamatan benda langit yang menggunakan mata telanjang
menjadi pengamatan yang menggunakan teleskop. Tokoh-tokoh yang berperan
penting dalam perkembangan astronomi pada periode II adalah sebagai berikut:
a) Tycho Brahe (1546-1601)
Ia memberikan sumbangsih bagi perkembangan astronomi luar biasa
besarnya. Dia bukan hanya merancang dan membangun instumentasi yang
revolusioner, tetapi juga melakukan pengamatan yang berulang-ulang. Sejumlah
orbit planet yang bersifat anomali, yang sebelumnya belum pernah tercatat, oleh
Thyco kemudian ditampilan secara komplit, tanpa bantuan thyco ini, kepler tidak
mungkin bisa menemukan bahwa planet-planet bergerak di dalam orbit berbentuk
elips. Ia juga tercatat sebagai astronom pertama yang membuat koreksi terhadap
pembiasan oleh atmosfer. Brahe adalah seorang astronom. Selama 20 tahun, ia
hanya membuat observasi planet-planet secara sistematis, membuat daftar dari
bintang, pengumpulan data Astronomi yang lain hanya dengan ketelitian yang
mungkin tanpa teleskop.

1) Dia mengintroduksikan koordinat Astronomi modern, menentukan deklinasi,


tinggi bintang dan sebagainya.

2) Di Prague, ia menyelesaikan tabel gerak planet dengan bantuan asistennya


Johannes Kepler (1571-1630). Setelah kematian Brahe, Kepler menelaah data
yang ditinggalkan Brahe dan menemukan bahwa orbit planet tidak sirkular
melainkan eliptik. Kepler kemudian mengeluarkan tiga hukum gerak orbit
yang dikenal sampai saat ini.
b) Rene Descartes (1596-1650)
Ia berpendapat bahwa jagat raya tersusun atas materi-matei yang berputar,
yang ia sebut vortex. Menurutnya sebuah benda memiliki kecenderungan untuk
diam atau bergerak beraturan dalam garis lurus. Akibatnya lintasan alamiah
sebuah planet merupakan sebuah garis lurus bukan merupakan lingkaran seperti
pendapat Galileo. Sebuah planet tidak akan menyimpang tiba-tiba kecuali ada
pengaruh lain yang memaksanya berbelok dari lintasan. Alamiahnya. Inilah
tekanan vortex yang menahan sebuah planet dalam lintsan orbitnya. Ia
menyatakan bahwa alam semesta secara keseluruhan dibangun oleh materi dan
gerak, dari sinilah kemudian Descartes dianggap telah melucuti jagat raya hingga
tinggal materi dan gerak.
c) Johannes Kepler (1571-1630)
Kontribusdi kepler pada perkembangan astronomi adalah mengenai 3
hukumnya yang ia nyatakan berdasarkan data yang diperoleh dari Thyco Brahe
yang telah melakukan penelitian dan pencatatan sebelumnya, tiga hukum itu
adalah :
1) Lintasan dari tiap-tiap planet adalah ellips dengan matahari sebagai titik
fokusnya.
2) Garis yang menghubungkan planet dengan matahari akan melukiskan luas
yang sama pada saat-saat waktu yang sama.
3) Kuadrat periode planet-planet itu sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-
ratanya ke matahari.
Walaupun telah mengeluarkan ketika hukumnya, Kepler masih belum
dapat menjawab mengapa planet-planet dapat bergerak? dan kenapa planet-planet
yang sebelah luar pergerakannya lebih lambat? Akhirnya pertanyaan-pertanyaan
kepler ini dapat dijawab oleh Newton dengan hukum gravitasi umumnya.
Hukum Kepler tentang gerakan planet adalah sumbangannya yang
terbesar bagi ilmu pengetahuan. Hukum ini berdampak besar terhadap pemikiran
ilmiah dan kelak menyediakan landasan bagi karya Sir Isaac Newton mengenai
gaya tarik bumi. Namun, Kepler juga memberikan banyak sumbangan lain kepada
ilmu pengetahuan. Dia menemukan bintang baru (supernova), menganalisis cara
kerja mata manusia, meningkatkan kemampuan teleskop, dan beberapa
sumbangan dalam bidang optik. Dia mempublikasikan data akurat mengenai
kedudukan bintang dan planet yang sangat berharga bagi para pelaut. Dia
memberikan sumbangan kepada matematika, termasuk cara penghitungan yang
lebih cepat dan cara menentukan volume banyak benda padat.
d) Galileo Galilei (1564-1642)
Pada tahun 1609 Galileo merakit teropong dengan mengembangkan
teknologi rancangan Hans Lippershey yang diperkenalkan setahun sebalumya ia
mengarahkan teopong kelangit malam. Dalam tempo beberapa jam longsorlah
paradigma-paradigma yang paling disayangi atau diyakini saat itu. Seperti :
1) Ia melihat permukaan bulan ternyata tidak mulus dan bulat sempurna.
Pengamatan ini bertentangan dengan kepercayaan Yunani kuno yang
menegaskan kesempurnaan benda langit. Pada permukaan bulan kelihatan
bergunung-gunung dan berlembah-lembah seperti di bumi. Ia juga melihat
noktah-noktah pada permukaan matahari;
2) Ia melihat ada 4 planet kecil yang sekarang disebut bulan yang mengitari
jupiter. Pengamatan ini adalah bukti telak bahwa tidak semua benda langit
mengitari bumi;
3) Ia melihat fase-fase venus sebagaimana bulan. Bentuk venus kelihatan
berubah antara sabit sampai purnama secara teratur.
4) Ia mengamati bintang melalui teropong, ternyta bintang itu tidak lebih besar,
melainkan tetap berupa bintik kecil. Ini menunjukan bahwa bintang-bintang
memang jauh sekali dari bumi. Juga bima sakti terlihat dengan teropong
bukan sebagai bentangan kabut malar, melainkan ribuan bintang yang belum
pernah dlihat oleh mata manusia.
e) Sir Isaac Newton (1642-1727)
Ia adalah orang yang berhasil merumuskan hukum gravtasi universal yang
sangat berperan untuk memahami perilaku pergerakan planet-planet yang
diformulasikan berdasarkan data-data yang diperoleh dari ilmuan-ilmuan
sebelumnya termasuk kepler.
f) George comte de Buffon (1701-1788)
George comte dari Perancis, mempostulatkan teori dualistik dan katastrofi
yang menyatakan bahwa tabrakan komet dengan permukaan matahari
menyebabkan materi matahari terlontar dan membentuk planet pada jarak yang
berbeda. Kelemahannya Buffon tidak bisa menjelaskan asal komet. Ia hanya
mengasumsikan bahwa komet jauh lebih masif dari kenyataannya.
g) Edmond Halley (1656-1742)
Seorang ahli astronomi Inggris yang di tahun 1705 memperhitungkan
bahwa komet yang terlihat dalam tahun-tahun 1531, 1607 dan 1682
sesungguhnya adalah benda yang sama yang bergerak dalam satu garis edar tiap
75 atau 76 tahun mengedari matahari. Komet tersebut kini dikenal sebagai Komet
Halley. Dalam tahun 1720, Halley menjadi ahli astronomi kerajaan yang kedua,
Di Greenwich ia membuat studi yang memakan waktu lama mengenai gerakan
bulan.
h) Games Bradley (1693-1762)
Seorang ahli astronomi Inggris yang menemukan penyimpangan yang
disebut Aberasi Sinar Cahaya di tahun 1728, yaitu bukti langsung pertama yang
dapat diamati bahwa Bumi beredar mengelilingi Matahari. Dari besarnya
penyimpangan ia menghitung kecepatan cahaya sebesar 295.000 km/dt. Hanya
sedikit lebih kecil dari nilai sebenarnya (299.792,4574 km/dt, US National
Bureau of Standards).
i) Immanuel Kant (1724-1804)
Seorang filsuf Jerman yang pada tahun 1755 mengajukan cikal-bakal teori
modern tentang tata surya. Kant percaya bahwa planet-planet tumbuh dari sebuah
cakram materi di sekeliling Matahari, sebuah gagasan yang kemudian
dikembangkan oleh Marquis de Laplace. Kant juga berpendapat bahwa nebula
suram yang terlihat di antariksa adalah galaksi tersendiri seperti galaksi Bima
Sakti kita. Pendapat tersebut kini telah terbukti kebenarannya.
j) Sir William Herschel (1738-1822)
Seorang ahli astronomi Inggris, lahir di Jerman, yang menemukan planet
Uranus pada tanggal 17 Maret 1781 beserta dua satelitnya dan juga dua satelit
Saturnus. Herscel membuat survey lengkap langit utara dan menemukan banyak
bintang ganda dan nebula. Untuk menangani pekerjaan ini, ia membangun sebuah
reflektor 122 cm, terbesar di dunia saat itu. Survey langit Herschel itu
meyakinkan bahwa galaksi kita berupa sistem bintang berbentuk lensa, dengan
kita di dekat pusat. Pandangan ini diterima hingga jaman Harlow Shapley.
k) Charles Messier (1730-1817)
Seorang ahli astronomi Prancis yang menyusun sebuah daftar berisi lebih
dari 100 kelompok bintang dan nebula. Hingga sekarang, banyak diantara objek
ini yang masih disebut dengan nomor Messier atau M, seperti M1, nebula
Kepiting, dan M31, galaksi Andromeda.
l) Laplace, Pierre Simon, Marquis de (1749-1827)
Seorang ahli matematika Prancis yang mengembangkan teori asal mula
tata surya yang digagas oleh Immanuel Kant. Di tahun 1796, Laplace melukiskan
bagaimana cincin-cincin materi yang terlempar dari Matahari dapat memadat
menjadi planet-planet. Perincian teori tersebut telah ditinjau kembali, tetapi pada
pokoknya tidak berbeda dengan teori-teori modern mengenai awal-mula
terjadinya tata surya.

3. Periode III (1800M 1890M)


Pada periode ini diformulasikan konsep-konsep fisika yang mendasar
yang sekarang kita kenal dengan sebutan Fisika Klasik Tokoh-tokoh astronomi pada
periode tiga dan kontribusinya dalam perkembangan astronomi adalah:
a) William Hyde Wollaston
Pada 1802,Ia mencatat keberadaan sejumlah garis-garis gelap dalam
spectrum matahari.
b) Urbain Jean Joseph Leverrier (1811-1877)
Seorang ahli matematika Prancis yang memperhitungkan keberadaan
planet Neptunus. Saat memeriksa gerakan Uranus, ia menemukan bahwa
gerakannya dipengaruhi oleh sebuah planet tak dikenal. Perhitungan Leverrier
memungkinkan penemuan Neptunus oleh Johann Galle.
c) Johann Gottfried Galle (1812-1910)
Seorang ahli astronomi Jerman yang menemukan planet Neptunus.
Dengan menggunakan perhitungan Urbain Leverrier, Galle menemukan Neptunus
pada malam hari, di tanggal 23 September 1846, dari Observatorium Berlin
bersama dengan Louis dArrest, seorang mahasiswa Astronomi, tidak seberapa
jauh dari posisi yang semula diperhitungkan. Walaupun Galle merupakan orang
pertama yang berhasil mengobservasi Neptunus secara visual, namun yang
dipandang sebagai penemu sebenarnya adalah John Couch Adams (yang membuat
kalkulasi awal) dan Le Verrier.
d) Joseph von Fraunhofer (1814)
Sebelumnya garis-garis gelap dalam spektrum matahari telah ditemukan
keberadaannya oleh William Hyde Wollaston. Pada tahun 1814, Fraunhofer
menciptakan spektroskop dan secara mandiri menemukan kembali garis-garis
tersebut, memulai sebuah studi sistematik dan melakukan pengukuran seksama
terhadap panjang gelombang garis-garis ini. Dia mencatat dan memetakan
sejumlah garis-garis gelap dalam spektrum matahari jika cahayanya dilewatkan
pada suatu prisma. Secara keseluruhan, dia memetakan lebih dari 570 garis, dan
menandai fitur-fitur utama dengan huruf A hingga K, dan garis-garis yang lebih
lemah dengan huruf lainnya. Garis-garis ini kemudian disebut sebagai garis-garis
Fraunhofer.
Fraunhofer juga menemukan bahwa bintang-bintang lain juga memiliki
spektrum seperti Matahari, tetapi dengan pola garis-garis gelap yang berbeda.
e) Kirchhoff dan Bunsen
Menemukan bahwa seperangkat garis-garis gelap dalam spektrum
matahari berhubungan dengan suatu element kimia yang berada di lapisan atas
matahari. Beberapa dari garis yang teramati juga merupakan serapan oleh
molekul-molekul oksigen di atmosfer bumi.
f) John Ludwig Emil Dreyer (1852-1926)
Seorang ahli astronomi Denmark yang menghimpun sebuah katalog utama
yang memuat hampir 8000 kelompok bintang dan Nebula. Katalog yang
disusunnya disebut Katalog Umum Baru (the New General Catalogue, NGC).
g) Angelo Secchi (1867)
Merupakan seorang astronom Yesuit, melakukan penyelidikan terhadap
4000 spektrum bintang hasil pengamatan yang dilakukannya menggunakan
prisma obyektif. Hanya dengan menggunakan mata, Secchi menggolongkan
bintang-bintang tersebut ke dalam tiga kelas. Bintang dengan garis-garis serapan
sangat kuat dari atom hidrogen digolongkan sebagai tipe I berwarna putih,
bintang dengan garis-garis serapan sangat kuat dari ion logam digolongkan
sebagai tipe II berwarna kuning, dan bintang dengan pita-pita serapan lebar
digolongkan sebagai tipe III berwarna merah. Setahun kemudian Secchi
memasukkan beberapa bintang yang memiliki garis-garis serapan dengan pola
yang aneh, jarang ada, mirip tetapi tidak terlalu sama dengan pola tipe III, dan
menggolongkannya sebagai tipe IV.
h) James Jeans (1877-1946)
Astronomi Inggris, J. Jeans mengemukakan Tata Surya merupakan hasil
interaksi antara bintang dan matahari. Perbedaan ide yang ia munculkan dengan
ide ChamberlinMoulton terletak pada absennya prominensa. Menurut Jeans
dalam interaksi antara matahari dengan bintang yang melewatinya, pasang surut
yang ditimbulkan pada matahari sangat besar sehingga ada materi yang terlepas
dalam bentuk filamen. Filamen ini tidak stabil dan pecah menjadi gumpalan-
gumpalan yang kemudian membentuk proto planet. Akibat pengaruh gravitasi
dari bintang proto planet memiliki momentum sudut yang cukup untuk masuk ke
dalam orbit di sekitar matahari. Pada akhirnya, efek pasang surut matahari pada
proto planet saat pertama kali melewati perihelion memberikan kemungkinan bagi
proses pembentukan planet untuk membentuk satelit.
i) Edward Charles Pickering (1886)
Pemakaian fotografi dalam astronomi membuka kesempatan lebih luas
dalam mempelajari spektrum bintang. Edward Charles memulai penyelidikan
spektrum bintang secara fotografi dengan prisma obyektif di Observatorium
Harvard, Amerika Serikat. Berdasarkan pekerjaan awal Secchi, para astronom di
Harvard mengklasifikasikan bintang berdasarkan kuat garis-garis serapan pada
deret Balmer dari hidrogen netral, memperluas penggolongan dan menamakan
kembali penggolongan dengan huruf A, B, C dan seterusnya hingga P, dimana
bintang kelas A memiliki garis serapan atom hidrogen paling kuat, B terkuat
berikutnya dan seterusnya.
j) Chamberlin (1890)
Chamberlin menawarkan solusi untuk teori nebula Laplace. Ia
menawarkan adanya satu akumulasi yang membentuk planet atau inti planet
(objek kecil terkondensasi di luar materi nebula) yang kemudian dikenal sebagai
planetesimal. Menurut Chamberlin, planetesimal akan bergabung membentuk
proto planet. Namun karena adanya perbedaan kecepatan partikel dalam dan
partikel luar, dimana partikel dalam bergerak lebih cepat dari partikel luar, maka
objek yang terbentuk akan memiliki spin retrograde.

4. Periode IV (1890 M Sekarang)


Pada periode ini, Pada akhir abad ke 19 ditemukan beberapa fenomena yang
tidak bisa dijelaskan melalui fisika klasik. Hal ini menuntut pengembangan konsep
fisika yang lebih mendasar lagi yang sekarang disebut Fisika Modern. para ahli
astronomi melakukan pengamatan di observatorium dengan menggunakan teleskop
untuk mengamati objek langit. Setelah ditemukannya kanal di planet Mars, para ahli
astronomi terobsesi untuk meneliti planet mars. Selain itu, pada peiode ini diyakini
bahwa ada anggota tata surya ke-9 setelah neptunus. Pada periode ini juga, para ahli
astronomi yakin bahwa alam semesta ini tetap. Kemudian terjadi revolusi dalam
bidang astronomi yang dilakukan oleh Hubble yang mengatakan bahwa alam semesta
ini mengembang dan ditemukannya galaksi lain di luar galaksi kita. Tokoh-tokoh
pada periode ini adalah:
a) Giovanni Schiaparelli (1835-1910)
Seorang ahli astronomi Italia yang pertama kali melaporkan adanya canali
di permukaan planet Mars ketika planet tersebut mendekat di tahun 1877. Dalam
bahasa italia, canali berarti selat, namun ketika diterjemahkan ke dalam bahasa
inggris menjadi terusan atau saluran air, sehingga menimbulkan implikasi adanya
bangunan buatan di planet Mars. Selain itu, ia juga menunjukkan bahwa hujan
meteor mengikuti garis edar sama seperti komet. Dari sana, ia menduga bahwa
hujan meteor sebenarnya adalah puing sebuah komet.
b) Percival Lowell (1855-1916)
Selain di Italia demam Mars juga terjadi di Amerika. Salah seorang ahli
astronomi yang terobsesi untuk meneliti planet Mars adalah Percival Lowell. Hal
ini terbukti dengan didirikannya observatorium Lowell yang didirikan dengan
tujuan untuk memetakan canal di planet Mars. Dari hasil pengamatannya, dia
memetakan saluran-saluran di Mars dan percaya tentang adanya kehidupan di
planet tersebut. Kemudian dia menerbitkan peta kanal di planet Mars, lengkap
dengan globe mars. Akan tetapi, para astronom lainnya yang juga sama-sama
meneliti planet Mars, tidak menemukan adanya saluran-saluran di planet Mars.
Bahkan pada abad ke 20, ketika berbagai wahana antariksa dikirim ke planet
Mars, kanal-kanal yang digambarkan Lowell tidak ada. Selain meneliti tentang
planet Mars, Lowell juga mempercayai adanya planet lain setelah Neptunus yang
belum ditemukan. Ia mulai mencarinya di langit dengan bantuan gambar foto.
Namun sayang, ia gagal menemukannya.
c) Annie Jump Cannon (1863-1941)
Dia merupakan ahli astronomi dari Amerika. Tahun 1920-an, ia bekerja
sama dengan Observatorium Harvard telah mengklasifikasikan bintang
berdasarkan spektrumnya. Berdasarkan klasifikasi tersebut, bintang dibagi
menjadi 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O, B, A, F, G, K, dan M.
Untuk mengingat klasifikasi ini, biasanya digunakan kalimat Oh Be A Fine Girl
Kiss Me. Klasifikasi tersebut juga menunjukkan urutan suhu, warna dan
komposisi kimianya. Bintang-bintang kelas O, B, dan A seringkali disebut sebagai
kelas awal, sementara K dan M disebut sebagai kelas akhir. Klasifikasi bintang
yang dikembangkan oleh Annie Jump Cannon ini diadopsi secara internasional
pada tahun 1910.
d) Henrietta Leavitt (1868-1921)
Seorang ahli astronomi Amerika yang melakukan penelitian mengenai
awan Magellan. Dari penelitiannya, diperoleh hubungan antara periode dengan
luminositas. Dengan mengukur waktu variasi cahaya sebuah Cepheid, para
astronom dapat memperoleh kecemerlangan sebenarnya, dengan demikian
jaraknya dari bintang dan planet lain dapat dihitung.
e) Albert Einstein (1879-1955)
Pada tahun 1917 Einstein memperkenalkan teori relativitas umum yang
menghasilkan model alam semesta berdasarkan teorinya tersebut. Dia
menyebutkan bahwa ruang dipengaruhi gravitasi. Teorinya tersebut
menggambarkan bahwa alam semesta berkembang. Namun, ia menyatakan bahwa
hal tersebut tidak wajar sehingga memperbaharui teorinya dan menyatakan bahwa
alam semesta tetap dan tidak bergerak. Setelah ditemukannya bukti bahwa alam
semesta ini mengembang oleh Hubble, Einstein menyadari dan mengatakan
bahwa revisinya tentang teori alam semesta yang dibuatnya sendiri merupakan
kekeliruan terbesar dalam hidupnya.
f) Harlow Shapley (1885-1972)
Seorang ahli astronomi Amerika yang pertama kali menghitung ukuran
sebenarnya dari galaksi milky way dengan menggunakan teknik pengukuran yang
ditemukan oleh Henrietta Leavitt, dan menunjukkan bahwa Matahari tidak
terletak di pusatnya. Dengan mengukur jaraknya dari kecerlangan bintang, ia
memperkirakan bahwa galaksi kita kira-kira berdiameter 100.000 tahun cahaya
dan bahwa Matahari terletak kira-kira 30.000 tahun cahaya dari pusatnya. Ia juga
membuat taksiran jarak awan Magellan besar dengan awan Magellan kecil
dengan cara membandingkan periode Cepheid di awan Magellan tersebut dengan
Cepheid di Milky way. Namun, pada awal tahun 1950 disadari bahwa
perhitungannya kurang tepat, karena dalam perhitungannya ia melibatkan
Cepheid-cepheid dari tipe yang berbeda.
g) Edwin Hubble (1889-1953)
Seorang ahli astronomi Amerika yang bekerja di observatorium Mount
Wilson California. Ia membuat banyak rekaman gambar astronomi dengan
menggunakan teleskop Hooker berdiameter 250 cm. Kemudian, ia menunjukkan
bahwa terdapat galaksi lain di luar galaksi Milky way. Selanjutnya ia
mengelompokkan galaksi-galaksi yang ia temukan menurut bentuknya yang spiral
atau eliptik. Selain itu, ketika Hubble mengamati sejumlah bintang melalui
teleskop raksasanya di Observatorium Mount Wilson, dia menemukan bahwa
cahaya bintang-bintang itu bergeser ke arah ujung merah spectrum, Pergeseran itu
berkaitan langsung dengan jarak bintang-bintang dari bumi. Penemuan ini
mengguncangkan teori model alam semesta yang dipercaya saat itu.
Menurut aturan fisika yang diketahui, spektrum berkas cahaya yang
mendekati titik observasi cenderung ke arah ungu, sementara spektrum berkas
cahaya yang menjauhi titik observasi cenderung ke arah merah. Pengamatan
Hubble menunjukkan bahwa menurut hukum ini, benda-benda luar angkasa
menjauh dari kita. Tidak lama kemudian, Hubble membuat penemuan penting
lagi, yaitu bahwa bintang-bintang tidak hanya menjauh dari bumi, tetapi juga
menjauhi satu sama lain. Satu-satunya kesimpulan yang bisa diturunkan dari alam
semesta di mana segala sesuatunya saling menjauh adalah bahwa alam semesta
dengan konstan mengembang. Pendapatnya ini menjadi bukti kuat kebenaran
teori big bang. Jika alam semesta mengembang semakin besar sejalan dengan
waktu, berarti jika mundur ke masa lalu berarti alam semesta semakin keci dan
akan mengerut kemudian bertemu pada satu titik. Kesimpulan yang harus
diturunkan dari model ini adalah bahwa pada suatu saat, semua materi di alam
semesta ini terpadatkan dalam massa satu titik yang mempunyai volume nol
karena gaya gravitasinya yang sangat besar. Alam semesta kita muncul dari hasil
ledakan massa yang mempunyai volume nol ini. Ledakan ini mendapat sebutan
big bang dan keberadaannya telah berulang-ulang ditegaskan dengan bukti
pengamatan.
Untuk menunjang penelitiannya mengenai alam semesta, Hubble
meyakinkan pengelola observatorium untuk memasang teleskop yang lebih besar.
Instrumen pada desain teleskop Hale yang bediameter 500 cm ditentukan oleh
Hubble sendiri. Tetapi belum juga selesai untuk melakukan penelitiannya, ia
meninggal pada tanggal 28 September 1953 di San Marino.untuk mengenang
jasanya yang sangat besar dalam bidang astronomi, teleskop terbaik yang pernah
dibangun di luar angkasa dan masih beroperasi sampai sekarang diberi nama
Teleskop ruang angkasa Hubble (HST).
h) Georges Lemaitre (1894-1966)
Seorang ahli astronomi Belgia yang pertama kali menyadari arti dari
perhitungan Friedman. Berdasarkan perhitungan ini, pada tahun 1927 ia
mencetuskan teori Ledakan Besar kosmologi yang menyatakan bahwa alam
semesta dimulai dengan suatu ledakan besar dahulu kala dan bahwa sejak itu
kepingannya masih terus beterbangan. Lemaitre mendasarkan teorinya pada
pengamatan Edwin Hubble mengenai alam semesta yang mengembang.
i) George Gamow (1904-1968)
Dia adalah seorang ahli astronomi Amerika yang merupakan pendukung
teori Big Bang. Pada tahun 1948, dengan mengembangkan perhitungan yang
sebelumnya telah diungkapkan oleh George Lemaitre, Gamow menghasilkan
gagasan baru mengenai Dentuman Besar. Jika alam semesta terbentuk dalam
sebuah ledakan besar yang tiba-tiba, maka harus ada sejumlah tertentu radiasi
yang ditinggalkan dari ledakan tersebut. Radiasi ini harus bisa dideteksi, dan
harus sama di seluruh alam semesta.
Bukti ini pada akhirnya diketemukan pada tahun 1965, oleh dua peneliti
bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson. Keduanya menemukan gelombang ini
tanpa sengaja. Radiasi yang disebut radiasi latar kosmis tersebut tidak terlihat
memancar dari satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang
angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan
dari tahapan awal peristiwa Big Bang.
j) G. P. Kuiper (1905-1973)
Dia adalah seorang astronom dari Belanda. Tahun 1950, dia menjadi
astronom perintis yang mengemukakan Hipotesis Kondensasi. Hipotesis ini
menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar
membentuk cakram raksasa. Kemudian, tahun 1951 ia pun memberikan usulan
lain mengenai sistem tata surya. Usulan tersebut berdasarkan argumentasi bahwa
semestinya materi-materi dari piringan nebula pembentuk tata surya berkurang
secara gradual ke arah tepi piringan. Usulan ini kemudian diperkuat oleh analisis
dinamika komet-komet periode pendek yang menunjukkan bahwa komet-komet
berasal dari sarang komet yang terletak di luar orbit Neptunus. Kawasan
sarang komet yang diduga berisi sekitar 35.000 objek batuan mengandung es
itu kini dikenal sebagai sabuk Kuiper.
k) Clyde Tombaugh (1906-1997)
Ahli astronomi Amerika yang pada bulan Februari 1930 menemukan Pluto
dengan mempergunakan gambar-foto yang diambil di observatorium Lowell.
Setelah penemuan Pluto, Tombaugh melanjutkan survey foto sekeliling langit
untuk mencari planet lain yang mungkin ada, tetapi tidak berhasil menemukan
apapun. Pluto sempat dianggap sebagai planet kesembilan di tata surya hingga
status keplanetannya dicabut oleh IAU pada Agustus 2006.
l) Carl von Weizsacker (1912-.)
Seorang astronom Jerman yang dalam tahun 1945 menggagas dasar teori-
teori modern mengenai asal mula tata surya. Ia membayangkan bahwa planet
terbentuk dari kumpulan partikel-partikel debu yang berasal dari sebuah cakram
yang terdiri dari materi yang mengelilingi Matahari saat masih muda. Teorinya ini
merupakan perubahan dari teori sebelumnya yang digagas oleh Kant dan Laplace.
m) Sir Fred Hoyle (1915 - )
Dia adalah seorang ahli astronomi dari Inggris. Dia dikenal dunia karena
pendapatnya yang menentang teori Dentuman Besar (Big Bang). Sekitar
pertengahan abad ke-20, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut Steady
State (keadaan tetap) yang mirip dengan teori alam semesta tetap di abad ke-19.
Dengan menerima bukti-bukti yang menyatakan bahwa jagat raya selalu
mengembang, dia berpendapat bahwa alam semesta tidak terbatas baik dalam
dimensi maupun waktu. Menurut teorinya itu, ketika jagat raya mengembang,
materi baru muncul dengan sendirinya dalam jumlah yang tepat sehingga alam
semesta tetap berada dalam keadaan stabil. Dengan suatu tujuan jelas
mendukung dogma materi sudah ada sejak waktu tak terbatas, yang merupakan
basis filsafat materialis, teori ini mutlak bertentangan dengan teori Dentuman
Besar.
Perkembangan ilmu astronomi pada masa-masa selanjutnya memberikan
bukti-bukti baru yang semakin membenarkan teori Dentuman Besar. Hal inilah
yang kemudian memaksa Hoyle mengakui kesalahannya. Ditambah dengan
adanya kejadian dimana Dennis Sciama yang selama bertahun-tahun menemani
Hoyle dalam mempertahankan teori Steady State mengakui bahwa pertempuran
telah usai dan bahwa teori keadaan-stabil harus ditinggalkan. Sir Fred Hoyle yang
akhirnya harus menerima teori Big Bang, mengatakan dengan tegas bahwa alam
semesta ini berasal dari sebuah ledakan.
n) Alexander Friedman
Pada tahun 1922, dia menunjukkan ketidakstatisan struktur alam semesta
melalui perhitungannya. Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa impuls yang
sangat kecil pun mungkin cukup untuk menyebabkan struktur keseluruhan
mengembang atau mengerut menurut Teori Relativitas Einstein. Penemuan
perhitungan Alexandra Friedman ini merupakan permulaan dirintisnya teori
pembentukan alam semesta dari sebuah ledakan (Teori Big Bang).
o) Marteen Schmidt (1929-.)
Seorang ahli astronomi Amerika yang menemukan jarak-jarak kuasar
dalam alam semesta. Di tahun 1963 ia mula-mula mengukur pergeseran merah
dari kuasar C 273 yang ternyata begitu besar sehingga menurut hukum Hubble ia
seharusnya terletak jauh diluar galaksi kita.
p) Carl Sagan (1934-1996)
Seorang ilmuwan Amerika yang dikenal karena penelitiannya mengenai
kemungkinan adanya bentuk kehidupan diluar planet Bumi. Ia terlibat sebagai
peneliti dalam berbagai misi wahana tak berawak yang diluncurkan oleh NASA,
diantaranya adalah misi Mariner ke planet Venus dan Viking ke planet Mars. Ia
banyak berkontribusi pada sebagian besar misi luar angkasa tak berawak yang
bertugas mengeksplorasi tata surya. Ia pernah mengajukan suatu gagasan tentang
pencantuman pesan universal yang tidak dapat dihapus pada suatu pesawat luar
angkasa yang beranjak meninggalkan tata surya dan dapat dipahami oleh makhluk
cerdas luar angkasa yang (mungkin) akan menemukannya. Pesan pertama yang
pernah dikirim ke luar angkasa berupa plakat emas berukir yang dipasang di
satelit luar angkasa, Pioneer 10. Ia terus memperbaiki rancangannya dan terlibat
cukup intens pada rancangan pesan Voyager Golden Record yang dikirim bersama
satelit luar angkasa Voyager.
q) William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan Edith Kellman
Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan dan Edith
Kellman dari Observatorium Yerkes memberikan sistem klasifikasi bintang
berdasarkan ketajaman garis-garis spektrum yang sensitif pada gravitasi
permukaan bintang. Gravitasi permukaan berhubungan dengan luminositas yang
merupakan fungsi dari radius bintang. Sistem pengklasifikasian bintang ini
kemudian disebut sebagai Klasifikasi Yerkes atau klasifikasi MKK yang berasal
dari inisial para pengembangnya. Klasifikasi Yerkes atau kelas luminositas
membagi bintang-bintang ke dalam kelas berikut :

0 maha maha raksasa (hypergiants) (penambahan yang dilakukan


belakangan)

I maharaksasa (supergiants)

Ia maharaksasa terang

Iab kelas antara maharaksasa terang dan yang kurang terang

Ib maharaksasa kurang terang

II raksasa-raksasa terang (bright giants)

III raksasa (giants)

IV sub-raksasa (subgiants)

V deret utama atau katai (main sequence atau dwarf)

VI sub-katai (subdwarfs)
VII katai putih (white dwarfs)
r) Antony Hewish
Pada bulan Juli 1967, Antony Hewish dan Jocelyn Bell meneliti kedipan
quasar. Kemudian, pada bulan November 1967 mereka mendapat sinyal yang tak
biasa yang berulang setiap 1,3 detik (scruff). Lalu Januari 1968, Hewish
mengumumkan penemuan sumber radio di langit berasal dari bintang neotron
yang berotasi sangat cepat. Dan Digunakan istilah pulsar (pulsaring radio
source, sumber radio yang berdenyut) oleh jurnalis Daily Telegraph.
s) John Archibald Wheeler
Seorang fisikawan Amerika yang pertama kali menggunakan istilah
lubang hitam pada tahun 1968. Sebelumnya, Pada tahun 1783 John Mitchell
berpendapat: Bila bumi memiliki kecepatan lepas 11 km/s, tentu ada
planet/bintang lain mempunyai gravitasi lebih besar. Mitchell memperkirakan di
kosmis terdapat suatu bintang dengan massa 500 kali massa matahari yang
mampu mencegah lepasnya cahaya dari permukaannya sendiri.
Adapun Wheeler memberi nama demikian karena singularitas ini tak bisa
dilihat. Dan penyebabnya tidak lain karena cahaya tak bisa lepas dari kungkungan
gravitasi singularitas yang maha dahsyat ini. Daerah di sekitar singularitas atau
lazimnya disebut sebagai Horizon Peristiwa (radiusnya dihitung dengan rumus
jari-jari Schwarzschild R = 2GM/c2 dengan G = 6,67 x 10-11 Nm2kg-2, M = massa
lubang hitam (kg), c = cepat rambat cahaya) menjadi gelap. Itulah sebabnya,
wilayah ini disebut sebagai lubang hitam. Black hole atau lubang hitam baru-baru
ini diduga menarik susunan ruang dan waktu di sekitarnya sambil berputar,
menciptakan gelombang dimana materi kosmis berselancar di atasnya, demikian
diungkapkan para astronom.
Karena black hole menarik segala sesuatu termasuk cahaya, maka mereka
tidak bisa terlihat. Namun para astronom telah sejak lama mempelajari fenomena-
fenomena yang tampak di sekitar black hole, dan menemukan apa yang mereka
sebut sebagai piringan tambahan suatu bundaran materi yang biasanya berisi
materi-materi yang dihisap dari bintang-bintang di dekatnya, yang merupakan
sumber makanan black hole.
Black Hole (Lubang Hitam) ini terbentuk ketika sebuah bintang yang telah
menghabiskan seluruh bahan bakarnya, sehingga jari-jarinya mengecil dan
volume menyusut, dan akhirnya berubah menjadi sebuah lubang hitam dengan
kerapatan tak hingga dan volume nol serta medan magnet yang amat kuat. Kita
tidak mampu melihat lubang hitam dengan teropong terkuat sekalipun, sebab
tarikan gravitasi lubang hitam tersebut sedemikian kuatnya sehingga cahaya tidak
mampu melepaskan diri darinya. Namun, bintang yang runtuh seperti itu dapat
diketahui dari dampak yang ditimbulkannya di wilayah sekelilingnya.
t) Kentaro Osada
Pada malam 29 Agustus 1975, ia menemukan bintang yang terang (Cygni
1975) yang merupakan nova yang paling terang pada abad ke-20. Kemudian, pada
abad ke-19 ini juga ditemukan kabut kepiting yang merupakan sisa ledakan
bintang yang terang (supernova) pada 900 tahun yang lalu. Dan untuk pertama
kalinya para ilmuwan berhasil merekam ledakan sebuah supernova. Ledakan
bintang, atau supernova, adalah salah satu kejadian paling spektakuler yang
terjadi di alam semesta, yang menghasilkan jumlah energi yang sama dengan
triliunan bom nuklir yang diledakkan pada saat bersamaan.
Biasanya, ledakan terjadi ketika sebuah inti panas pada bintang berukuran
sangat besar dengan massa setidaknya delapan kali massa matahari abis dan
bintang tersebut mati dan berubah menjadi bintang neutron. Ledakan supernova
memancarkan cahaya yang sangat cemerlang sehingga dapat terlihat dari galaksi
lain.
Namun demikian, sejauh ini para astronom masih belum berhasil
merekam cahaya yang terpancar dalam ledakan supernova. Ledakan tersebut
biasanya baru berhasil direkam beberapa jam, atau bahkan hari, sesudah
terjadinya ledakan.
Baru-baru ini, para astronom telah berhasil merekam ledakan bintang yang
spektakuler tersebut pada saat kejadian. Pada 9 Januari 2008, saat menggunakan
teleskop antariksa Sinar-X Swift untuk mengamati sebuah objek di galaksi spiral
NGC 2770, berjarak sekitar 90 juta tahun cahaya di rasi Lynx, Alicia Soderberg
dari Princeton University, New Jersey, AS, beserta koleganya, Edo Berger dari
Carnegie Observatory, California, mendeteksi semburan sinar-X yang sangat
cemerlang yang dilepaskan oleh sebuah ledakan supernova.
Mereka menyimpulkan bahwa semburan sinar itu datang dari gelombang
kejut (shockwave) ledakan bintang yang menembus lapisan gas luar bintang
tersebut. Observasi awal itu kemudian dilanjutkan dengan pemantauan oleh
sejumlah teleskop tercanggih di dunia. Pengamatan selama 30 hari setelah
ledakan supernova yang dinamai SN 2008D tersebut memungkinkan Soderberg
dan koleganya untuk menentukan besarnya energi yang dilepaskan oleh semburan
sinar-X yang petama, yang akan sangat membantu para teoretikus untuk
memahami fenomena supernova secara lebih rinci.
Kesempatan untuk menangkap pancaran sinar-X dari kematian bintang
akan membantu para astronom untuk menentukan sifat-sifat bintang masif,
pembentukan bintang neutron dan lubang hitam, serta dampak ledakan supernova
terhadap lingkungan sekitarnya. Para astronom juga dapat menentukan pola sinar-
X yang harus dicari, dan dengan demikian terbuka kesempatan untuk menemukan
ledakan supernova lain di masa mendatang.
Potensi penemuan sejumlah besar supernova pada saat meledak juga akan
membuka jalan bagi kajian yang selama ini dianggap hampir mustahil.
Menentukan waktu terjadinya ledakan akan memungkinkan pencarian terhadap
neutrino dan semburan gelombang gravitasional yang diprediksi akan menyertai
keruntuhan inti bintang dan kelahiran sebuah bintang neutron.
u) George Smoot
Pada tahun 1989, George Smoot dan tim NASA-nya meluncurkan sebuah
satelit ke luar angkasa. Sebuah instrumen sensitif yang disebut Cosmic
Background Emission Explorer (COBE) di dalam satelit itu hanya memerlukan
delapan menit untuk mendeteksi dan menegaskan tingkat radiasi yang dilaporkan
Penzias dan Wilson. Hasil ini secara pasti menunjukkan keberadaan bentuk rapat
dan panas sisa dari ledakan yang menghasilkan alam semesta. Kebanyakan
ilmuwan mengakui bahwa COBE telah berhasil menangkap sisa-sisa Dentuman
Besar.
Ada lagi bukti-bukti yang muncul untuk Dentuman Besar. Salah satunya
berhubungan dengan jumlah relatif hidrogen dan helium di alam semesta.
Pengamatan menunjukkan bahwa campuran kedua unsur ini di alam semesta
sesuai dengan perhitungan teoretis dari apa yang seharusnya tersisa setelah
Dentuman Besar. Bukti itu memberikan tusukan lagi ke jantung teori keadaan-
stabil karena jika jagat raya sudah ada selamanya dan tidak mempunyai
permulaan, semua hidrogennya telah terbakar menjadi helium.
Dihadapkan pada bukti seperti itu, Dentuman Besar memperoleh
persetujuan dunia ilmiah nyaris sepenuhnya. Dalam sebuah artikel edisi Oktober
1994, Scientific American menyatakan bahwa model Dentuman Besar adalah
satu-satunya yang dapat menjelaskan pengembangan terus menerus alam semesta
dan hasil-hasil pengamatan lainnya
Model alam semesta berosilasi dikemukakan oleh para ahli astronomi
yang tidak menyukai gagasan bahwa Dentuman Besar adalah permulaan alam
semesta. Dalam model ini, dinyatakan bahwa pengembangan alam semesta
sekarang ini pada akhirnya akan membalik pada suatu waktu dan mulai mengerut.
Pengerutan ini akan menyebabkan segala sesuatu runtuh ke dalam satu titik
tunggal yang kemudian akan meledak lagi, memulai pengembangan babak baru.
Proses ini, kata mereka, berulang dalam waktu tak terbatas. Model ini juga
menyatakan bahwa alam semesta sudah mengalami transformasi ini tak terhingga
kali dan akan terus demikian selamanya. Dengan kata lain, alam semesta ada
selamanya namun mengembang dan runtuh pada interval berbeda dengan ledakan
besar menandai setiap siklusnya. Alam semesta tempat kita tinggal merupakan
salah satu alam semesta tanpa batas itu yang sedang melalui siklus yang sama.
Ini tak lebih dari usaha lemah untuk menyelaraskan fakta Dentuman Besar
terhadap pandangan tentang alam semesta tanpa batas. Skenario tersebut tidak
didukung oleh hasil-hasil riset ilmiah selama 15-20 tahun terakhir, yang
menunjukkan bahwa alam semesta yang berosilasi seperti itu tidak mungkin
terjadi. Lebih jauh, hukum-hukum fisika tidak bisa menerangkan mengapa alam
semesta yang mengerut harus meledak lagi setelah runtuh ke dalam satu titik
tunggal: ia harus tetap seperti apa adanya. Hukum-hukum fisika juga tidak bisa
menerangkan mengapa alam semesta yang mengembang harus mulai mengerut
lagi.
Bahkan kalaupun kita menerima bahwa mekanisme yang membuat siklus
mengerut-meledak-mengembang ini benar-benar ada, satu hal penting adalah
bahwa siklus ini tidak bisa berlanjut selamanya, seperti anggapan mereka.
Perhitungan untuk model ini menunjukkan bahwa setiap alam semesta akan
mentransfer sejumlah entropi kepada alam semesta berikutnya. Dengan kata lain,
jumlah energi berguna yang tersedia menjadi berkurang setiap kali, dan setiap
alam semesta akan terbuka lebih lambat dan mempunyai diameter lebih besar. Ini
akan menyebabkan alam semesta yang terbentuk pada babak berikutnya menjadi
lebih kecil dan begitulah seterusnya, sampai pada akhirnya menghilang menjadi
ketiadaan. Bahkan jika alam semesta buka dan tutup ini dapat terjadi, mereka
tidak bertahan selamanya. Pada satu titik, akan diperlukan sesuatu untuk
diciptakan dari ketiadaan.
Hawking gelisah dan berusaha mencari mekanisme yang bisa
menghasilkan radiasi lubang hitam jika Bekenstein benar.
Kemudian Hawking menelaah apa yang bisa terjadi di permukaan lubang
hitam. Di situ medan gravitasi yang kuat berinteraksi dengan pasangan-pasangan
partikel semu. Gravitasi yang kuat dapat menarik salah satu komponen dari
pasangan semu ke dalam lubang hitam (energi negatif) dan menyebabkan massa
lubang hitam berkurang, sedangkan komponen lainnya (energi positif) keluar dari
lubang hitam dalam bentuk radiasi yang dapat dideteksi oleh pengamat luar.
Ia menggabungkan mekanika kuantum dan relativitas umum dalam
rumusan tunggal untuk pertama kalinya. Dengan berani Hawking berkesimpulan
bahwa lubang hitam tidak sepenuhnya hitam tapi juga memancarkan radiasi.
Penemuan tersebut membuat Hawking mendapat gelar kehormatan akademik
tertinggi Inggris. Dia diangkat menjadi anggota Fellow of The Royal Society. Dan
Hawking terpilih sebagai Lucasian Professor of Mathematics di Cambridge. Ini
adalah jabatan paling prestisius yang sebelumnya dipegang oleh Isaac Newton,
dan selanjutnya oleh Babbage, bapak komputer.
Dari hasil penelitian-penelitian para ilmuwan pada terakhir ini telah
ditemukan beberapa planet, terutama setelah munculnya teleskop-teleskop yang
serba cangih saat ini sehingga para ilmuwan lebih mudah mencari dan
menemukan planet-planet yang baru antaralain :

Varuna, ditemukan tahun 2000, berdiamater sekitar 900 kilometer.

Ixion, ditemukan tahun 2001, lebarnya 1.065 kilometer. Dan sampai saat
ini juga planet pluto masih beranggapan bahwa pluto bukanlah sebuah
planet melainkan sebuah objek yang bentuknya lebih besar. mereka yang
berangapan bahwa pluto adalah tidak sebuah planet tidak menutup
kemungkinan sedna pun tidak akan diakui sebagai sebuah planet. dan
sedangkan mereka yang beranggapan bahwa planet pluto adalah sebuah
planet tidak menutup kemungkinan sedna juga akan disebut dengan planet
ke-10 di tatasurya ini apa lagi bila hal yang selama ini telah terbukti
bahwa dia memiliki sebuah bulan.

Quaoar, ditemukan tahun 2002, adalah objek dengan diameter sekitar


1.200 kilometer.

Sedna. Menurut ilmuwn dari California Institute of Technology planet ini


berdiameter tidak lebih dari 1700 kilo meter dan pertamakali terlihat
tanggal 14 November 2003, saat para astronom melakukan pengamatan
langit menggunakan teleskop Samuel Oschin 48 inci, milik Observatorium
Mount Palomar, California. Astronom-astronom dari Institut Teknologi
California, Observatorium Yale, dan Observatorium Gemini, terlibat
dalam penemuan tersebut. Sedna berotasi lebih pelan dari pada yang
diperkirakan oleh para ilmuan sehingga para ilmuan berpendapat bahwa
planet ini mempunyai sebuah satelit. Adapun Sedna sempat dianggap
sebagai planet yang ke-10 ditata surya ini.

5. Sejarah Perkembangan Astronomi Modern


Awal perkembangan ilmu astronomi modern dimulai oleh Purbach (1423-
1461) di universitas Wina serta lebih khusus lagi oleh muridnya Yohanes muller
(1436-1476). Johanes Muller pergi ke Italia khusus untuk belajar karya asli
Ptolemeus tentang astronomi bersama temannya Walther (1430-1504). Walther
adalah seorang yang kaya, ia memiliki observatorium pribadi, serta mesin
percetakan pribadi. Muller bersama Walther membuat penanggalan berdasarkan
benda-benda langit yang banyak dipakai oleh para pelaut Spanyol dan Portugis.
Muller kemudian pergi ke Roma untuk melakukan pembaruan kalender di sana,
akan tetapi ia meninggal sebelum dapat melaksanakan niatnya. Pengamatan
muller dilanjutkan oleh temannya, Walther dan Albrecht Durer. Maka, ketika
Nicolas Copernicus (1473-1543) memulai karyanya, telah terdapat cukup banyak
karya hasil pengamatan astronomi.
Sistem Copernicus yang baru tentang alam semesta menempatkan
matahari sebagai pusat alam semesta, serta terdapat tiga jenis gerakan bumi. Tiga
jenis gerakan bumi itu adalah gerak rotasi bumi (perputaran bumi pada porosnya),
gerak revolusi (gerak bumi mengelilingi matahari) dan suatu girasi perputaran
sumbu bumi yang mempertahankan waktu siang dan malam sama panjangnya.
Teori Copernicus tersebut ditulis tangan dan diedarkan di antara kawan-kawannya
pada tahun 1530.Teori Copernicus menjadi semakin terkenal dan menarik
perhatian seorang ahli matematika dari wittenberg bernama George Rheticus
(1514-1576). Rheticus kemudian belajar bersama Copernicus dan pada tahun
1540 menerbitkan buku tentang teori Copernicus.Akhirnya Copernicus
menerbitkan hasil karyanya sendiri pada tahun 1543 berjudul On the Revolutions
Of the Celestial Orbs.
Buku copernicus dicetak di Nuremberg, pada awalnya di bawah supervisi
Rheticus, kemudian dilanjutkan di bawah supervisi Andreas Osiander, seorang
pastor Lutheran. Osiander menambahkan kata pengantar untuk karya Copernicus
dengan menyatakan bahwa teori yang baru itu tidak harus benar, dan dapat
dipandang semata-mata sebagai suatu kecocokan metode matematis tentang
benda-benda langit.Copernicus sendiri tidak berpendapat begitu. Ia berpendapat
bahwa sistem semesta yang dikemukakannya adalah nyata.
Copernicus berpendapat bahwa sistem yang dikemukakan oleh ptolemous
tidak cukup tepat, tidak cukup memuaskan pikiran, karena ptolemous beranjak
langsung dari karya kelompok Pythagoras. Untuk menjelaskan gerakan benda-
benda langit, ptolemous menganggap bahwa benda-benda langit itu bergerak
melingkar dengan kecepatan angular yang tidak sama relatif terhadap pusatnya,
kecepatan anguler itu hanya sama terhadap titik di luar pusat lingkaran itu.
Menurut copernicus, asumsi itu merupakan kesalahan pokok dari sistem
ptolemous. Akan tetapi hal ini bukan hal pokok yang dikemukakan oleh
copernicus. Kritik utama yang dikemukakan oleh copernicus kepada para ahli
astronomi pendahulunya adalah, dengan menggunakan aksioma-aksiomanya,
mereka telah gagal menjelaskan gerakan benda-benda langit yang teramati dan
juga teori-teori yang mereka kembangkan melibatkan sistem yang rumit yang
tidak perlu. Copernicus menilai para pendahulunya dengan mengatakan : di
dalam metode yang dikembangkan, mereka telah mengabaikan hal-hal penting
atau menambahkan hal-hal yang tidak perlu.
Copernicus memusatkan perhatian pada hal yang terakhir. Ia melihat
bahwa para leluhurnya telah menambahkan tiga gerakan bumi untuk setiap benda
langit agar sampai pada kesimpulan bahwa bumi berada diam di pusat putaran.
Ketiga lingkaran tersebut telah ditambahkan untuk setiap benda langit di dalam
sistem geometris bangsa Yunani untuk menjelaskan gerakan benda-benda langit
dengan bumi sebagai pusatnya. Copernicus berpendapat bahwa lingkaran-
lingkaran tersebut tidak diperlukan dengan berpendapat bahwa bumi berputar
pada sumbuhnya setiap hari dan bergerak melintasi orbitnya mengitari matahari
setiap tahun. Dengan cara demikian, Copernicus mengurangi jumlah lingkaran
yang diperlukan untuk menjelaskan gerakan benda-benda langit.
Dengan sistem yang dikemukakannya itu, Copernicus memberikan
jawaban yang paling sederhana untuk menjawab pertanyaan yang diajukan bangsa
Yunani tentang bagaimana menjelaskan gerakan benda-benda langit dalam suatu
gerakan yang melingkar dan seragam. Tidak ada hal yang baru dalam metode
tersebut, hal itu telah dipergunakan oleh para astronom sejak jaman Pythagoras.
Dengan menggunakan konsepsi yang dipakai oleh Pythagoras, ia mencampakkan
sistem yang dikembangkan oleh bangsa yunani. Akan tetapi, ada satu konsep yang
tidak dipakainya, yaitu bahwa benda-benda langit adalah mulia.
Di dalam sistem Copernicus, bumi berputar mengitari matahari, seperti
planet-planet lainnya. Bumi menjalani gerakan yang seragam dan melingkar
sebagai benda langit, suatu gerakan yang sejak lama diyakini sebagai gerakan
yang sempurna. Lebih jauh, copernicus menekankan kesamaan antara bumi
dengan benda-benda langit lainnya bahwa semuanya memiliki gravitasi. Gravitasi
ini tidak berada di langit, melainkan bekerja pada materi, seperti bumi dan benda-
benda langit memiliki gaya ikat dan mempertahankannya dalam suatu lingkaran
yang sempurna. Untuk hal ini penjelasan copernicus agak berbau teologis :
menurut saya gravitasi tidak lain daripada suatu kekuatan alam yang diciptakan
oleh pencipta agar supaya semuanya berada dalam kesatuan dan keutuhan.
Kekuatan seperti itu mungkin juga dimiliki oleh matahari, bulan dan planet-planet
agar semuanya tetap bundar
Sistem copernicus lebih bagus dan lebih sederhana daripada sistem
ptolomeus. Di dalam sistem lama, benda-benda langit memiliki baik gerakan
timur-barat maupun rotasi pada arah yang berlawanan. Dalam sistem copernicus,
bumi dan semua planet bergerak mengitari matahari dengan arah yang sama dan
laju yang berkurang semakin jauh dari matahari. Sementara itu, matahari yang
berada di pusat dan bintang-bintang yang berada di luar tatasurya berada pada
tempatnya yang tetap. Sekarang dapat dijelaskan mengapa planet-planet kelihatan
mendekati dan menjahui bumi. Planet-planet itu pada suatu saat berada pada satu
sisi yang sama dengan bumi, tetapi pada saat yang lain berada pada sisi yang
berseberangan
Dengan sistem Copernicus, perhitungan astronomi dibuat menjadi lebih
mudah, karena melibatkan jumlah lingkaran yang lebih sedikit. Tetapi prakiraan
posisi planet-planet dan perhitungan lainnya tidak lebih tepat daripada dihitung
dengan menggunakan sistem ptolemous, keduanya masih memiliki kesalahan
sekitar satu persen. Selanjutnya terdapat keberatan-keberatan terhadap sistem
Copernicus. Pertama, dan mungkin tidak terlalu serius ketika itu, adalah
kenyataan bahwa pusat tata surya tidak tepat berada pada matahari. Copernicus
menempatkan pusat tatasurya pada pusat orbit bumi, yang tidak persis berada
pada matahari, untuk menjelaskan perbedaan panjang musim-musim. Beberapa
filsuf berpendapat bahwa pusat tata surya haruslah berada pada suatu obyek
nyata, meskipun banyak juga yang menerima bahwa titik geometris dapat dipakai
sebagai pusat tatasurya. Selanjutnya, para pendukung aristoteles berpendapat
bahwa gravitasi bekerja ke arah titik geometris tersebut, sebagai pusat tatasurya,
yang tidak harus sama dengan pusat bumi.
Keberatan kedua, yang lebih serius, menyatakan bahwa bila bumi
berputar, maka udara cenderung tertinggal di belakang, hal ini akan menimbulkan
angin yang arahnya ke timur. Copernicus memberikan dua jawaban untuk
keberatan timur. Pertama, yang merupakan suatu jenis penjelasan abad
pertengahan, yaitu udara berputar bersama-sama dengan bumi karena udara berisi
partikel-partikel bumi yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan bumi. Maka
bumi menarik udara berputar bersama-sama dengan bumi karena udara bersisi
partikel-partikel bumi. Maka bumi menarik udara berputar dengan bumi. Jawaban
kedua yang bersifat modern, udara berputar tanpa hambatan karena udara
berdampingan dengan bumi yang terus menerus berputar. Keberatan yang sama
adalah apabila sebuah batu dilemparkan ke atas maka batu itu akan tertinggal oleh
bumi yang berputar, sehingga kalau batu itu jatuh akan berada di sebelah barat
proyeksi batu itu. Untuk keberatan ini, copernicus menjawab karena benda-benda
yang ditarik ke tanah oleh beratnya adalah terbuat dari tanah, maka tidak
diragukan bahwa benda-benda itu memiliki sifat yang sama dengan bumi secara
keseluruhan, sehingga berputar bersama-sama dengan bumi
Keberatan lebih jauh terhadap sistem copernicus adalah bila bumi
berputar, maka bumi akan hancur berkeping-keping oleh gaya sentrifugal.
Copernicus menjawab bahwa bila bumi tidak berputar maka bola yang lebih besar
yang ditempati oleh bintang-bintang pasti bergerak dengan kecepatan yang sangat
besar dan lebih rentan oleh pengaruh gaya sentrifugal.
Nampaknya copernicus tidak menerima teori aristoteles juga tidak
menerima teori adanya gaya dorong. Copernicus berpendapat bahwa spin dan
gerakan dalam suatu lingkaran adalah gerakan-gerakan yang spontan, merupakan
sifat alami dari suatu bentuk bola dimana bumi dan benda-benda langit ada. Oleh
karena itu, copernicus tidak menggunakan hirarki para malaikat untuk
menggerakan benda-benda langit, yaitu malaikat yang lebih berkuasa
menggerakan benda yang lebih tinggi hirarkinya. Menurut copernicus benda-
benda langit bergerak secara spontan.
Maka bersama copernicus muncul suatu sistem cosmos yang betul-betul
baru. Penggerak alam semesta tidak lagi penting. Matahari sebagai pusat tatasurya
menjadi pengatur alam semesta.Terdapat figur perantara di antara pendukung
aristoteles yang mendukung adanya penggerak alam semesta dan copernicus yang
menyatakan matahari sebagai pusat tatasurya yaitu nicolas Cusa.
Kiranya dapat dikatakan bahwa copernicus berusaha mempromosikan
suatu nilai baru dengan sistem yang dikemukakannya. Karena apabila ia sekedar
ingin mengembangkan suatu sistem yang lebih sederhana, terdapat suatu sistem
yang dipakai oleh tycho brahe (1546-1601). Di dalam sistem itu planet-planet
berputar mengelilingi matahari, sementara itu matahari bersama-sama dengan
planet-planet yang mengelilinginya sebagai satu kesatuan, berputar mengelilingi
bumi yang diam yang berada pada pusat semesta. Sistem itu secara matematis
ekuivalen dengan sistem copernicus, dan juga sistem itu tidak menimbulkan
persoalan fisis. Tetapi sistem itu tetap mempertahankan nilai-nilai lama dalam
sistem cosmos yaitu bumi sebagai pusat alam semesta. Itulah mungkin sebabnya
copernicus mengajukan suatu sistem baru, heliosentris.
Dalam seluruh hidupnya, Copenicus menganut pandangan bangsa yunani
bahwa gerakan benda-benda langit adalah melingkar dengan kecepatan tetap,
maka meskipun sistem yang dibuat copernicus lebih sederhana dibandingkan
dengan sistem ptolomeus, tetapi tetap rumit dibandingkan dengan sistem Kepler
(1571-1630). Copernicus menjelaskan gerakan benda-benda langit dengan
menggunakan tiga puluh empat lingkaran, sementara itu kepler hanya
menggunakan tujuh elips. Seperti dikatakan oleh kepler, copernicus tidak
menyadari akan adanya suatu bangunan yang sangat baik yang ada dalam
genggamannya. Copernicus mengetahui bahwa gabungan beberapa lingkaran
dapat menghasilkan elips, akan tetapi ia tidak pernah menggunakan elips untuk
menggambarkan benda-benda langit. Lagipula, pada tahap-tahap awal, copernicus
sangat menghargai hasil observasi bangsa kuno. Copernicus menentang werner
yang menyatakan bahwa hasil-hasil pengamatan terakhir lebih cocok dengan
sistem ptolemous daripada dengan sistem copernicus. Kenyataannya memang tiga
kali lebih tepat.
Pengamatan paling penting dalam bidang astronomi modern adalah yang
dilakukan oleh Ticho Brahe. Hasil pengamatan Ticho Brahe limapuluh kali lebih
tepat dari hasil muller, hasil terbaik yang dapat dilakukan dengan mata telanjang.
Tycho Brahe adalah orang Denmark terhormat. Raja Frederick II dari Denmark
memberi tempat tinggal dan pulau Hveen untuk melakukan kegiatan
astronominya. Di pulau itu Tycho Brahe membangun kastil, bengkel, percetakan
pribadi, dan observatorium. Ia bekerja di pulau itu dari tahun 1576 sampai 1597.
Ia berpendapat bahwa adalah tidak mungkin melakukan pengamatan tanpa
panduan suatu teori. Ia menganut pendangan geosentris.
Ketika raja Frederick II wafat, fasilitas yang diterima Tycho Brahe tidak
diperpanjang, kemudian Ticho Brahe pergi ke Praha pada tahun 1599, di mana ia
mendapat tunjangan dari raja Rudolph II. Tahun-tahun berikutnya ia bergabung
dengan astronom jerman, Johann Kepler, seorang matematikawan. Kepler adalah
anak seorang tentara wurtemburg. Ia mempelajari sistem copernicus di Tubingen.
Kerja sama antara Kepler dengan Ticho Brahe tidak berlangsung lama karena
Ticho Brahe meninggal dunia. Setelah Ticho Brahe meninggal, Kepler tetap
tinggal di Praha.
Karya pertama Kepler dalam bidang astronomi berjudul The Mysteri of
the Universe yang diterbitkan pada tahun 1596. Di dalam buku itu, ia berusaha
mencari suatu keselarasan antara orbit-orbit planet menurut copernicus dengan
hasil pengamatan Ticho Brahe. Akan tetapi Kepler tidak berhasil menemukan
keselarasan antara sistem-sistem yang dikembangkan oleh Copernicus maupun
Ptolemous dengan hasil pengamatan Tycho Brahe. Oleh karena itu ia
meninggalkan sistem ptolemous dan Copernicus lalu berusaha mencari sistem
baru. Pada tahun 1609, Kepler menemukan ternyata elips sangat cocok dengan
hasil pengamatan Ticho Brahe. Kepler tidak lagi menggunakan lingkaran sebagai
lintasan benda-benda langit melainkan elips.

D. Astronomi Islam
Setelah runtuhnya kebudayaan Yunani dan Romawi pada abad
pertengahan, maka kiblat kemajuan ilmu astronomi berpindah ke bangsa Arab.
Astronomi berkembang begitu pesat pada masa keemasan Islam (8 15 M). Salah
satu bukti dan pengaruh astronomi Islam yang cukup signifikan adalah penamaan
sejumlah bintang yang menggunakan bahasa Arab, seperti Aldebaran dan Altair,
Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di sabuk Orion), Aldebaran, Algol,
Altair, Betelgeus.
Selain itu, astronomi Islam juga mewariskan beberapa istilah dalam `ratu
sains itu yang hingga kini masih digunakan, seperti alhidade, azimuth,
almucantar, almanac, denab, zenit, nadir, dan vega. Kumpulan tulisan dari
astronomi Islam hingga kini masih tetap tersimpan dan jumlahnya mencapaii 10
ribu manuskrip.
Astronom-Astronom Muslim
1. Al-Battani (858-929 M)
Al-Batanni banyak mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit
bulan dan planet-planet tertentu. Dia membuktikan kemungkinan gerhana
matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari
terhadap bumi, perhitungan yang sangat akurat mengenai lamanya setahun
matahari 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Ia juga merevisi orbit bulan dan
planet-planet. Al-Battani mengusulkan teori baru untuk menentukan kondisi dapat
terlihatnya bulan baru. Tak hanya itu, ia juga berhasil mengubah sistem
perhitungan sebelumnya yang membagi satu hari ke dalam 60 bagian (jam)
menjadi 12 bagian (12 jam), dan setelah ditambah 12 jam waktu malam sehingga
berjumlah 24 jam. Sejumlah karya tentang astronomi terlahir dari buah pikirnya.
Salah satu karyanya yang paling populer adalah al-Zij al-Sabi. Kitab itu sangat
bernilai dan dijadikan rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad.
2. Al-Sufi (903-986 M)
Ia berkontribusi besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan,
dan planet dan juga pergerakan matahari. Dalam Kitab Al-Kawakib as-Sabitah
Al-Musawwar, beliau menetapkan ciri-ciri bintang, memperbincangkan
kedudukan bintang, jarak, dan warnanya. Ia juga ada menulis mengenai astrolabe
(perkakas kuno yang biasa digunakan untuk mengukur kedudukan benda langit
pada bola langit) dan seribu satu cara penggunaannya.
3. Al-Khuzandi
Menciptakan alat pertama yang bisa digunakan untuk mengukur sudut
dengan lebih persis. al-Khujandi mengamati rentetan transit garis bujur Matahari,
yang membolehkannya untuk menghitung sudut miring dari gerhana.
4. Al-Biruni (973-1050M)
Ia telah menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya. Pada zaman itu,
Al-Biruni juga telah memperkirakan ukuran bumi dan membetulkan arah kota
Makkah secara saintifik dari berbagai arah di dunia. Dari 150 hasil buah pikirnya,
35 diantaranya didedikasikan untuk bidang astronomi.
5. Ibnu Yunus (1009M)
Sebagai bentuk pengakuan dunia astronomi terhadap kiprahnya, namanya
diabadikan pada sebuah kawah di permukaan bulan. Salah satu kawah di
permukaan bulan ada yang dinamakan Ibn Yunus. Ia menghabiskan masa
hidupnya selama 30 tahun dari 977-1003 M untuk memperhatikan benda-benda di
angkasa. Dengan menggunakan astrolabe yang besar, hingga berdiameter 1,4
meter, Ibnu Yunus telah membuat lebih dari 10 ribu catatan mengenai kedudukan
matahari sepanjang tahun.
6. Al-Zarqali (1029-1087M)
Wajah Al-Zarqali diabadikan pada setem di Spanyol, sebagai bentuk
penghargaan atas sumbangannya terhadap penciptaan astrolabe yang lebih baik.
Beliau telah menciptakan jadwal Toledan dan juga merupakan seorang ahli yang
menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Safiha.
7. Omar Khayyam (1075 M)
Astronom yang memperhitungkan bagaimana mengoreksi kalender Persia.
Dia menyusun banyak tabel astronomis dan melakukan reformasi kalender yang
lebih tepat dari pada Kalender Julian dan mirip dengan Kalender Gregorian
Akhirnya, Khayym dengan sangat akurat (mengoreksi hingga enam desimal di
belakang koma) mengukur panjang satu tahun sebagai 365,24219858156 hari. Ia
terkenal di dunia Persia dan Islam karena observasi astronominya. Ia pernah
membuat sebuah peta bintang (yang kini lenyap) di angkasa.
8. Jabir Ibnu Aflah (1145M)
Ilmuwan pertama yang menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan
untuk mengukur dan menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Salah satu
karyanya yang populer adalah Kitab al-Hayah.
9. Al-Khawarizmi
Muhammad bin Ms al-Khawrizm adalah seorang ahli matematika,
astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Beliau merevisi dan
menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang
astronomi dan astrologi. Beliau juga banyak membuat tabel-tabel untuk
digunakan menentukan saat terjadinya bulan baru, terbit-terbenam matahari,
bulan, planet, dan untuk prediksi gerhana.
10. Al-Farghani
Nama lengkapnya Abul-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-
Farghani. Ia merupakan salah seorang sarjana Islam dalam bidang astronomi yang
amat dikagumi. Beliau adalah merupakan salah seorang ahli astronomi pada masa
Khalifah Al-Mamun. Dia menulis mengenai astrolabe dan menerangkan
mengenai teori matematik di balik penggunaan peralatan astronomi itu. Kitabnya
yang paling populer adalah Fi Harakat Al-Samawiyah wa Jaamai Ilm al-Nujum
tentang kosmologi Muslim al-Farghani (Abul-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn
Kathir al-Farghani) menulis secara ekstensif tentang gerakan benda langit.
Karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di abad ke-12
11. Nasiruddin at-Tusi
Ia berhasil memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan
prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit.
12. Abu Masyar
Ia berasal dari Balkh di Khurasan dan tinggal di Baghdad. Selain
keyakinan fanatisnya akan pengaruh benda langit terhadap kelahiran, kejadian
dalam hidup, dan kematian segala sesuatu, Abu Masyar juga memperkenalkan ke
Eropa hokum pasang surut laut, yang ia jelaskan dalam kaitannya dengan timbul
dan tenggelamnnya bulan.

E. Perkembangan Ilmu Astronomi Di Indonesia


Sejarah telah mencatat, geliat penerapan astronomi di kepulauan
Nusantara telah ada sejak beberapa abad silam. Penanggalan kalender jawa,
penentuan musim hujan, kemarau, panen, dan ritual kepercayaan lain yang
menggunakan peredaran gerak benda langit sebagai acuan. Bahkan, mengutip
sebuah lagu nenek moyangku seorang pelaut, mereka pun mahir menggunakan
rasi-rasi bintang sebagai penunjuk arah.
Zaman beranjak ke masa kerajaan Hindu-Budha, dimana candi-candi
dibangun berdasarkan letak astronomis. Candi-candi di daerah Jawa Tengah
dibangun dengan menghadap ke arah terbitnya Matahari, timur. Sedangkan
bangunan candi di Jawa Timur, menghadap ke barat, dimana Matahari terbenam.
Meski begitu, ada sedikit perbedaan dengan candi kebesaran rakyat Indonesia,
Candi Borobudur, yang dibangun menghadap ke arah utara-selatan tepat pada
sumbu rotasi Bumi. Gunadharma, yang membangun Candi Borobudur memakai
patokan bintang polaris yang pada masa dinasti Syailendra masih terlihat dari
Pulau Jawa.
Mulai abad ke 18, perjalanan Astronomi Indonesia telah beranjak ke arah
yang lebih empiris. Pada masa itu, masyarakat dunia belum tahu jarak Bumi-
Matahari. Halley, yang telah menemukan cara untuk menentukan paralaks
Matahari, membutuhkan pengamatan di tempat yang berbeda-beda. Dengan
menggunakan hukum Kepler, ia telah menghitung akan terjadinya transit Venus
pada tahun 1761 dan 1769. Dan pengamatan fenomenal itu dilakukan di Batavia
(Jakarta), di sebuah Planetarium pribadi milik John Mauritz Mohr, seorang
pendeta Belanda kelahiran Jerman. Selain Mohr, Astronom Perancis De
Bougainvile juga melakukan pengamatan transit Venus pada tahun 1769. Dari
hasil pengamatan diperoleh gambaran transit Venus yang kemudian
dipublikasikan dalam Philosophical Transaction.
Tahun 1920, berdirilah Nederlandch Indische Sterrenkundige Vereeniging
(Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda) yang dipelopori oleh Karel Alber
Rudolf Bosscha. Yang mencetuskan didirikannya sebuah observatorium untuk
memajukan ilmu astronomi di Hindia Belanda. Butuh usaha yang tidak mudah
untuk mendirikan observatorium yang sekarang terletak di daerah Lembang, arah
utara Kota Bandung itu. Mulai dari penelitian lokasi yang tepat untuk
pengamatan, hingga perjalanan teleskop Meredian Circle dan Carl Zeiss Jena.
Pembangunan Observatorium dimulai pada tahun 1922 di atas tanah pemberian
kakak beradik Ursone seluas 6 hektar. Hingga akhirnya teleskop besar Zeiss
mulai berfungsi pada tahun 1928. Beberapa bulan setelah instalasi teleskop,
K.A.R. Bosscha meninggal, dan observatorium itu dinamai Observatorium
Bosscha. Kini, observatorium bersejarah itu sudah berusia hampir 80 tahun. Di
usianya yang mulai senja, Observatorium Bosscha telah menorehkan banyak
catatan ke-astronomian. Sebagai contoh, penemuan planetary nebula di daerah
langit selatan, 50% ditemukan di observatorium milik Indonesia ini. Ditambah
dengan pengamatan-pengamatan lain seperti gerhana Matahari total pada tahun
1930, dimana Einstein duduk dalam komitenya untuk membuktikan Teori
Relativitas Umum Einstein. Dan keikutsertaan Observatorium Bosscha dalam
pendidikan ilmu pengetahuan alam, dengan mengadakan jurusan Astonomi di ITB
pada tahun 1959.
Minat masyarakat terhadap ilmu yang menjadi anak tiri di Indonesia ini
telah meningkat selama beberapa tahun terakhir. Melihat antusiasnya masyarakat
dan media ketika terjadi fenomena langit yang jarang terjadi seperti saat
melintasnya komet Halley (1986), oposisi Mars (2003), transit Venus (2004), dan
lainnya. Juga dengan terbentuknya perkumpulan-perkumpulan pecinta Astronomi
yang mulai marak. Dan beberapa media di dunia maya mulai dari millis, website,
forum diskusi dan banyak blog yang berisikan info-info Astronomi.
Secara Internasional, astronomi di Indonesia pun sudah cukup
dipandang. Terbukti dengan dipercayanya Indonesia menjadi tuan rumah
APRIM, ajang berkumpulnya para astronom dunia, pada tahun 2005 silam, juga
sebagai tuan rumah olimpiade Astronomi Internasional tahun 2008 mendatang.
Belum lagi banyaknya siswa yang membawa pulang medali ke tanah air, hasil
dari pertarungan mereka dalam Olimpiade Astronomi Internasional maupun
Olimpiade Astronomi Asia Pasific. Kini, setelah melihat perkembangan ilmu
Astronomi yang cukup pesat, akankah pemerintah lebih memperhatikan
perkembangan ilmu alam ini? Seperti sudah menjadi hal umum jika ilmu alam
kurang diperhatikan di negara tercinta ini. Padahal, sangatlah penting untuk
membuka kesadaran sains di mata masyarakat Indonesia. Agar menjadi
masyarakat yang cinta ilmu, yang bisa banyak membaca dari alam sekitarnya, dari
tingginya langit hingga dalamnya lautan.
Kita bisa mencotoh negara-negara maju seperti Badan Antariksa Nasional
Amerika Serikat (NASA) ataupun Badan Antariksa Eropa (ESA), yang
menyiapkan divisi khusus untuk pelayanan informasi Astronomi bagi publik.
Mulai dari informasi informal hingga terprogram seperti pelatihan guru sekolah
dan bantuan implementasi kurikulum ilmu pengetahuan alam. Memasukkan
astronomi dalam kurikulum pelajaran siswa sekolah, mengapa tidak? Indonesia,
yang terbentang dari Sabang sampai Merauke hanya memiliki sedikit sekali
fasilitas astronomi. Hampir semua kegiatan astronomi terpusat di Observatorium
Bosscha dan Planetarium Jakarta. Ide pembuatan observatorium di daerah-daerah
terpencil sudah ada sejak dulu. Yang sudah mulai berjalan seperti Planetarium di
Palembang dan Tenggarong, Kalimantan. Juga adanya rencana menjadikan Pulau
Biak sebagai tempat peluncuran satelit. Para pecinta Astronomi dan masyarakat
Indonesia pada umumnya, memiliki mimpi agar dapat dibangun lagi
observatorium-observatroium di daerah-daerah ataupun pulau-pulau terpencil
lainnya. Selain belum banyak terjamah manusia, hingga tingkat polusinya kecil
dan memungkinkan untuk melihat langit sangat cerah, pembangunan fasilitas
astronomi itu juga menjadi sebuah ajang penyebaran pendidikan sains yang
tentunya dapat mengurangi tingkat kebodohan masyarakat Indonesia.
Pemerintah Indonesia dan para pecinta Astronomi dapat bekerja sama
dalam menyebarkan ilmu astronomi. Dengan tersedianya fasilitas media yang
cukup banyak, keinginan adanya majalah atau tabloid astronomi tentunya mimpi
yang harus diwujudkan. Kesediaan pemerintah untuk menyokong dana riset
ataupun kegiatan keilmuan ini juga sangatlah diharapkan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat kami tarik sebuah kesimpulan bahwa ilmu
astronomi sangat menarik perhatian manusia yang didasari atas rasa ingin tahu
akan fenomena alam . Sehingga manusia selalu mengembangkan ilmu
pengetahuanya terutama ilmu pengetahuan teknelogi untuk mengungkap
fenomena alam tersebut.
Dalam sejarah perkembangan astronomi modern, pendapat dan teori yang
berkembang di Eropa sangat dipengaruhi oleh adanya pendapat yang telah
dikemukakan dan penemuan-penemuan yang telah ditemukan oleh para
cendekiawan muslim. Buah pikir dan hasil kerja keras para sarjana Islam di era
tamadun diadopsi serta dikagumi para saintis Barat seperti Copernicus sebagai
penemu ilmu astronomi modern dan tokoh-tokoh astronomi Eropa lainnya seperti
Regiomantanus, Kepler dan Peubach tak mungkin mencapai sukses tanpa jasa Al-
Batani (salah satu Ilmuwan Astronomi Islam)
Pada mulanya, manusia menganggap fenomena langit sebagai sesuatu
yang magis. Seiring berputarnya waktu dan zaman, manusia pun memanfaatkan
keteraturan benda-benda yang mereka amati di angkasa untuk memenuhi
kebutuhan hidup seperti penanggalan. Bahkan pada zaman sekarang manusia
sudah mulai meneliti akan adanya kehidupan diplanet selain bumi.
Dengan mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi manusia mampu
menciptakan alat-alat teknologi canggih yang dipakai untuk mengobservasi
fenomena alam sehingga ilmu astronomi semakin berkembang dengan temuan
temuan terbarunya dari zaman ke zaman.
3.2 Soal dan Jawaban
3.2.1 Soal
1) Jelaskan pengertian astronomi secara etimologi!
2) Sebutkan dan jelaskan cabang-cabang astronomi!
3) Jelaskan subyek atau masalah pengklarifikasian dalam ilmu astronomi!
4) Jelaskan secara singkat perkembangan astronomi pada tiap periode!
5) Jelaskan perkembangan astronomi di Indonesia!

3.2.2 Jawaban
1) Secara etimologi astronomi berarti "ilmu bintang" adalah ilmu yang
melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar.
Astronomi secara etimologi berarti "ilmu bintang" (dari Yunani: , +
), adalah ilmu yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian
yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya.
2) Astronomi profesional terbagi menjadi dua cabang, yaitu :
Astronomi observasional melibatkan pengumpulan data dari
pengamatan atas benda-benda langit, yang kemudian akan dianalisis
menggunakan prinsip-prinsip dasar fisika.
Astronomi teoretis terpusat pada upaya pengembangan model-model
komputer/analitis guna menjelaskan sifat-sifat benda-benda langit
serta fenomena-fenomena alam lainnya.
3) Berdasarkan pada subyek atau masalah, ada beberapa pengklarifikasian dalam
ilmu astronomi sebagai berikut :
Astrometri: cabang ilmu Astronomi yang mempelajari hubungan geometris
benda-benda angkasa, meliputi: kedudukan benda-benda angkasa, jarak
benda angkasa yang satu dengan yang lain, ukuran benda angkasa, rotasi
dan revolusinya.. Mendefinisikan sistem koordinat yang dipakai dan
kinematika dari benda-benda di galaksi kita.
Kosmologi: penelitian alam semesta sebagai seluruh dan evolusinya.
Fisika galaksi: penelitian struktur dan bagian galaksi kita dan galaksi lain.
Astronomi ekstragalaksi: penelitian benda (sebagian besar galaksi) di luar
galaksi kita.
Pembentukan galaksi dan evolusi: penelitian pembentukan galaksi, dan
evolusi mereka.
Ilmu planet: penelitian planet dan tata surya.
Fisika bintang: penelitian struktur bintang.
Evolusi bintang: penelitian evolusi bintang dari pembentukan mereka
sampai akhir mereka sebagai bintang sisa.
Pembentukan bintang: penelitian kondisi dan proses yang menyebabkan
pembentukan bintang di dalam awan gas, dan proses pembentukan itu
sendiri
4) Perkembangan astronomis tiap prodi, yaitu:
Periode 1 (Zaman Purbakala 1500M)
Perkembangan Astronomi sebenarnya sudah terdeteksi sekitar 1000 SM
tepatnya zaman sumeria dan babilonia. Mereka mengamati berbagai
keteraturan dan mampu meramalkan gerhana bulan, dan peredaran planet.
Bangsa mesir sudah menemukan bahwa satu tahun terdiri dari 365 hari.
Akan tetapi, pada zaman sumeria belum menemukan pengetahuannya
dalam bentuk gambaran. Gambaran mengenai alam semesta memang ada
namun masih bersifat spekulatif belaka. Mereka beranggapan bahwa bumi
dan langit berbentuk cakram datar yang saling tumpang tindih.
Periode II (Sekitar 1550 1800 M)
Perkembangan ilmu astronomi pada periode II terjadi sangat pesat.
Banyak sumbangan-sumbangan yang telah diberikan oleh para ahli dalam
perkembangan astronomi. Selain itu, pada periode II ini terjadi perubahan
sarana pengamatan yaitu dari pengamatan benda langit yang
menggunakan mata telanjang menjadi pengamatan yang menggunakan
teleskop.
Periode III (1800M 1890M)
Pada periode ini diformulasikan konsep-konsep fisika yang mendasar
yang sekarang kita kenal dengan sebutan Fisika Klasik
Periode IV (1890 M Sekarang)
Pada periode ini, Pada akhir abad ke 19 ditemukan beberapa fenomena
yang tidak bisa dijelaskan melalui fisika klasik. Hal ini menuntut
pengembangan konsep fisika yang lebih mendasar lagi yang sekarang
disebut Fisika Modern. para ahli astronomi melakukan pengamatan di
observatorium dengan menggunakan teleskop untuk mengamati objek
langit.
Sejarah Perkembangan Astronomi Modern
Pada periode ini, Copernicus menemukan system yang baru tentang alam
semesta menempatkan matahari sebagai pusat alam semesta, serta terdapat
tiga jenis gerakan bumi. Tiga jenis gerakan bumi itu adalah gerak rotasi
bumi (perputaran bumi pada porosnya), gerak revolusi (gerak bumi
mengelilingi matahari) dan suatu girasi perputaran sumbu bumi yang
mempertahankan waktu siang dan malam sama panjangnya.
5) Pada abad ke 18, perjalanan Astronomi Indonesia telah beranjak ke arah yang
lebih empiris. Pada masa itu, masyarakat dunia belum tahu jarak Bumi-
Matahari. Halley, yang telah menemukan cara untuk menentukan paralaks
Matahari, membutuhkan pengamatan di tempat yang berbeda-beda. Dengan
menggunakan hukum Kepler, ia telah menghitung akan terjadinya transit
Venus pada tahun 1761 dan 1769. Dan pengamatan fenomenal itu dilakukan
di Batavia (Jakarta), di sebuah Planetarium pribadi milik John Mauritz Mohr,
seorang pendeta Belanda kelahiran Jerman. Selain Mohr, Astronom Perancis
De Bougainvile juga melakukan pengamatan transit Venus pada tahun 1769.
Dari hasil pengamatan diperoleh gambaran transit Venus yang kemudian
dipublikasikan dalam Philosophical Transaction.
Tahun 1920, berdirilah Nederlandch Indische Sterrenkundige Vereeniging
(Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda) yang dipelopori oleh Karel
Alber Rudolf Bosscha. Yang mencetuskan didirikannya sebuah observatorium
untuk memajukan ilmu astronomi di Hindia Belanda. Butuh usaha yang tidak
mudah untuk mendirikan observatorium yang sekarang terletak di daerah
Lembang, arah utara Kota Bandung itu. Mulai dari penelitian lokasi yang
tepat untuk pengamatan, hingga perjalanan teleskop Meredian Circle dan
Carl Zeiss Jena. Pembangunan Observatorium dimulai pada tahun 1922 di
atas tanah pemberian kakak beradik Ursone seluas 6 hektar. Hingga
akhirnya teleskop besar Zeiss mulai berfungsi pada tahun 1928. Beberapa
bulan setelah instalasi teleskop, K.A.R. Bosscha meninggal, dan
observatorium itu dinamai Observatorium Bosscha. Kini, observatorium
bersejarah itu sudah berusia hampir 80 tahun. Di usianya yang mulai senja,
Observatorium Bosscha telah menorehkan banyak catatan ke-astronomian.
Sebagai contoh, penemuan planetary nebula di daerah langit selatan, 50%
ditemukan di observatorium milik Indonesia ini. Ditambah dengan
pengamatan-pengamatan lain seperti gerhana Matahari total pada tahun 1930,
dimana Einstein duduk dalam komitenya untuk membuktikan Teori
Relativitas Umum Einstein. Dan keikutsertaan Observatorium Bosscha dalam
pendidikan ilmu pengetahuan alam, dengan mengadakan jurusan Astonomi di
ITB pada tahun 1959.

Daftar Pustaka

http://fisikauntuksurga.wordpress.com/2011/10/09/sejarah-fisika-astronomi/

http://delibrarian.blogspot.com/2011/03/perkembangan-astronomi-pada-
abad.html

http://nary-junary.blogspot.com/2013/04/perkembangan-sains-kebumian-
dan.html
http://mutoha.blogspot.com/2007/02/ophiuchus-zodiak-ke-13.html

http://www.dindasafau.blogsastronomi-dan-astrologi.html

http://www.wikipedia.org/Astrologi

http://www.dhibba.wordpress.com/category/pengetahuan/astronomi