Anda di halaman 1dari 7

PEMBAHASAN

Landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah, yaitu cara yang


dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah
merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi,
ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah.
Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah, sebab ilmu merupakan pengetahuan
yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat
yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yakni tercantum
dalam metode ilmiah.
Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud
pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu
pengetahuan sangat bergantung pada metode ilmiah. Dengan demikian metode
ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara
integratif. Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera
mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan,diantaranya adalah:1
A. Metode Induktif
Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan pernyataan
hasil observasi dalam suatu pernyataan yang lebih umum dan menurut suatu
pandangan yang luas diterima, ilmu-ilrnu empiris ditandai oleh metode
induktif, disebut induktif bila bertolak dari pernyataan tunggal seperti
gambaran mengenai hasil pengamatan dan penelitian orang sampai pada
pernyataan pernyataan universal.
David Hume telah membangkitkan pertanyaan mengenai induksi yang
membingungkan para filosof dari zamannya sampai sekarang. Menurut Hume,
pernyataan yang berda observasi tunggal betapapun besar jumlahnya, secara
logis tak dapat menghasilkan suatu pernyataan umum yang tak terbatas. dalam
induksi setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan ha-hal lain,
seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanasi juga akan
mengembang, bertotak dari teori ini kita tahu bahwa logam lain yang kalau
dipanasi juga akan mengambang. Dari contoh di atas bisa diketahui bahwa

1Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 152

1
induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut juga dengn
pengetahuan sintetik.2
Metode induksi adalah suatu cara atau jalan yang dipakai untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan bertitik tolak dari pengamatan
atas hal-hal atau masalah yang bersifat khusus, kemudian menarik kesimpulan
yang bersifat umum. Apabila orang menerapkan cara penalaran yang bersifat
induktif berarti orang bergerak dari bawah ke atas. Artinya, dalam hal ini
orang mengawali suatu penalaran dengan memberikan contoh-contoh tentang
peristiwa-peristiwa khusus yang sejenis kemudian menarik kesimpulan yang
bersifat umum.3
B. Metode Deduktif
Deduksi adalah suatu metode yang menyimpan bahwa data-data
empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang harus ada
dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-
kesimpulan itu sendiri. Ada bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori
tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-
teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan rnenerapkan secara empiris
kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut.
Popper tidak pernah menganggap bahwa kita dapat membuktikan
kebenaran teori-teori dari kebenaran pernyataan-pernyataan yang bersifat
tunggal. Tidak pernah dia menganggap bahwa berkat kesimpulan-kesimpulan
yang telah diverifikasikan teori ini dapat dikukuhkan sebagai benar atau
bahkan hanya mungkin benar, sebagai contoh, harga akan turun. Karena
penurunan beras besar. maka harga beras akan turun.4
Metode deduksi adalah suatu cara yang dipakai untuk mendapatkan
pengetahuan ilmiah dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau
masalah yag bersifat umum, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat
khusus. Apabila orang menerapkan cara penalaran yang bersifat deduktif

2Ibid
3Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2002),
Cet. Ke-3, hal 57.
4Ibid, h. 153

2
berarti orang bergerak dari atas menuju ke bawah. Artinya, sebagai langkah
pertama orang menentukan satu sikap tertentu dalam menghadapi masalah
tertentu, dan berdasarkan aatas penentuan sikap tadi kemudian mengambil
kesimpulan dalam tingkatan yang lebih rendah.5
C. Metode Positivisme
Metode ini dikeluarkan oleh August Comte. Metode ini berpangkal
dari apa yang diketahui yang faktual yang positif. Dia menyampingkan segala
uraian persoalan di luar yang ada sebagai fakta oleh karena itu, ia menolak
metafisika yang diketahui positif, adalah segala yang nampak dan segala efode
ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan diatasi kepada bidang gejala-
gejala saja.
Menurut Comte, Perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam
tiga tahap teologis metafisis, dan positif. Pada tahap teologis, orang
berkeyakinan bahwa dibalik segala sesuatu hehendak khusus. Pada tahap
metafisik, kekuatan itu diubah menjadi kekuatan yang abstrak, yang
dipersatukan dalam pengertian yang bersifat umum yang disebut alam dan
dipandangnya sebagai asal dari segala gejala.
Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang menyakini
bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada
pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan
melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang
karenanya spekulasi metafisis dihindari.
Positivisme, dalam pengertian di atas dan sebagai pendekatan telah
dikenal sejak Yunani Kuno. Terminologi positivisme dicetuskan pada
pertengahan abad ke-19 oleh salah satu pendiri ilmu sosiologi yaitu Auguste
Comte. Comte percaya bahwa dalam alam pikiran manusia melewati tiga
tahapan historis yaitu teologi, metadisik, dan ilmiah. Dalam tahap teologi,
fenomena alam dan sosial dapat dijelaskan berdasarkan kekuatan spiritual.
Pada tahap metafisik manusia akan mencari penyebab akhir (ultimate causes)
dari setiap fenomena yang terjadi. Dalam tahapan ilmiah usaha untuk

5Sudarto, Op.Cit. h. 58

3
menjelasakn fenomena akan ditinggalkandan ilmuan hanya akan mencari
korelasi antarfenomena. Pengembangan penting dalam paham positivisme
klasik dilakukan oleh ahli ilmu alam Ernst Mach yang mengusulkan
pendekatan teori secara fiksi. 6
Teori ilmiah bermanfaat sebagai alat untuk menghafal, tetapi
perkembangan ilmu hanya terjadi bila fiksi yang bermanfaat digantikan
dengan pernyataan yang mengandung hal yang dapat diobservasi. Meskipun
Comte dan Mach mempunyai pengaruh yang besar dalam penulisan ilmu
ekonomi (Comte mempengaruhi pemikiran J.S. Mill dan Pareto sedangkan
pandangan Mach diteruskan oleh Samuelson dan Machlup). Pengaruh yang
paling utama adalah ide dalam pembentukan filosofi ilmiah pada abad 20 yang
disebt logika positivisme (logical positivism).
Pada tahap ini usaha mencapai pengenalan yang mutlak, baik
pengetahuan teologis ataupun metafisis dhpandang tak bergama, menurutnya,
tidaklah berguna melacak asal dari tujuan akhir seluruh alam melacak hakikat
yang sejak dari segala sesuatu. Yang penting adalah menemukan hukum-
hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta dengan
pengamatan dan penggunaan akal.7
D. Metode Kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indra dan akal manusia
untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan
berbeda-beda, harusnya dikembangkan satu kemampuan akal yang disebut
dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bias diperoleh
dengan cara berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh Al-Ghazali.
Intuisi dalam tasawuf disebut dengan marifah yaitu pengetahuan yang
datang dari Tuhan melalui pencerahan dan penyinaran. Al-Ghazali
menerangkan bahwa pengetahuan intuisi atau marifah yang disinarkan oleh
Allah secara langsung merupakan pengetahuan yang paling benar.
Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini hanya bersifat individual dan

6Anas Salahudin.. Filsafat Pendidikan. (Bandung: CV. Pustaka Setia,2011). h. 98


7Amsal Bakhtiar, Op.Cit, h. 154

4
tidak bisa dipergunakan untuk mencari keuntungan seperti ilmu pengetahuan
yang dewasa ini bisa dikomersilkan.8
E. Metode Dialektis
Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk
mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun,
Plato mengartikannya diskusi logika. Kini dialektika berarti tahap logika, yang
mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis
sistematis tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam
pandangan.
Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk
melakukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk
pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti
dalam percakapan, bertola paling kurang dua kutub.
Hegel menggunakan metode dialektis untuk menjelaskan filsafatnya,
lebih luas dari itu, menurut Hegel dalam realitas ini berlangsung dialektika.
Dan dialektika di sini berarti mengompromikan hal-hal berlawanan seperti:9
1. Diktator. Di sini manusia diatur dengan baik, tapi mereka tidak punya
kebebasan (tesis).
2. Keadaan di atas menampilkan lawannya, yaitu Negara anarki (anti tesis)
dan warga Negara mempunyai kebebasan tanpa batas, tetapi hidup dalam
kekacauan.
3. Tesis dan anti tesis ini disintesis, yaitu Negara demokrasi. Dalam bentuk
ini kebebasan warga negara dibatasi oleh undang-undang dan hidup
masyarakat tidak kacau.

8Ibid, h. 155
9Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akal dan Hati; Thales sampai Capra. (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1990) h. 153

5
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa suatu informasi baru bisa
dikatakan sebagai sebuah ilmu pengetahuan berdasarkan sifat-sifatnya dan
dihasilkan atas suatu proses yang prosedural dan terstruktur. Dengan demikian
ilmu pengetahuan yang ada tersebut dapat dipertanggungjawabkan baik secara
individu maupun kelompok. Apabila orang menerapkan cara penalaran yang
berarti orang bergerak. Artinya, sebagai langkah pertama orang menentukan
satu sikap tertentu dalam menghadapi masalah tertentu, dan berdasarkan atas
penentuan sikap tadi kemudian mengambil kesimpulan dalam tingkatan yang
lebih rendah
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari masih jauh dari
kesempurnaan, masih banyak terdapat kesalahan-kesalahan, baik dalam
bahasanya, materi dan penyusunannya. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan kritik, saran dan masukan yang dapat membangun penulisan
makalah ini.

6
DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

Sudarto, 2002. Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta, Raja Grafindo Persada,

Salahudin, Anas. 2011. Filsafat Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia,

Tafsir, Ahmad, 1990. Filsafat Umum; Akal dan Hati; Thales sampai Capra.
Bandung: Remaja Rosdakarya,