Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat ini cukup besar minat masyarakat untuk
berinvestasi ke dalam obligasi. Hal ini terjadi dari tingginya
permintaan atas obligasi dalam setiap pelaksanaan emisi
yang sudah dilakukan. Paling tidak, ada beberapa aspek yang
sangat penting dan berpengaruh, sehingga perdagangan dan
penerbitan obligasi mengalami lonjakan yang cukup berarti.
Pertama, jumlah maupun keanekaragaman perusahaan yang
memanfaatkan obligasi sebagia sumber alternative
pembiayaan di pasar modal. Kedua, kemampuan investor
ataupun modal yang tertarik untuk berinvestasi dengan
menggunakan system obligasi, cdan ketiga adalah kondisi
perkembangan pasar modal yang lebik kondisif dan
mempunyai prosppek yang cerah, terutama pada era
perdagangan-perdagangan bebas dimasa mendatang.
Dengan demikian makalah ini akan membahas secara
terperinci tentang obligasi syariah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian obligasi syariah?
2. Bagaimana perkembangan obligasi syariah?
3. Apa saja jenis-jenis obligasi syariah?
4. Apa saja prosedur pelaksanaan investasi obligasi?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian obligasi syariah.
2. Untuk mengetahui perkembangan obligasi syariah.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis obligasi syariah.
4. Untuk mengetahui prosedur pelaksanaan investasi obligasi.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Obligasi Syariah
Fatwa DSN mendefinisikan obligasi syariah sebagai
surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah
yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah,
yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan
kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil atau
margin atau fee serta membayar kembali dana obligasi pada
saat jatuh tempo.1
Secara umum, jenis obligasi dapat dilihat dari
penerbitnya, yakni obligasi korporasi dan obligasi Negara.
Obligasi Negara terdiri dari beberapa jenis, yaitu: pertama,
obligasi rekap yakni obligasi yang diterbitkan dalam rangka
program rekapitulasi perbankan. Kedua: surat utang Negara
(SUN), yakni obligasi yang diterbitkan untuk membiayai defisit
APBN: ketiga, obligasi ritel, yakni obligasi yang sama dengan
surat utang Negara (SUN), diterbitkan untuk membiayai defisit
anggaran Negara, tetapi nilai nominalnya dibuat secara kecil
agar dapat dibeli secara litel oleh para investor menengah ke
bawah: keempat, obligasi sukuk sama dengan utang Negara,
tetapi sukuk ini dikeluarkan berdasarkan prinsip syariah.2
Obligasi syariah berbeda dengan obligasi konvensional.
Semenjak ada konvergensi pendapat bahwa bunga adalah
riba, maka instrumen-instrumen yang punya komponen bunga
ini keluar dari daftar investasi halal. Karena itu, dimunculkan
alternative yang dinamakan obligasi syariah. Pada awalnya,
penggunaan istilah obligisi syariah sendiri dianggap
1Sri Nurhayati & Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia (Jakarta: Salemba
empat, 2008), 325.
2Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah Dalam Persepektif Kewenangan
Peradilan Agama (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), 326.

2
kontradiktif. Obligasi sudah menjadi kata yang tak lepas dari
3
bunga sehingga tidak dimungkinkan untuk disyariahkan.

Perbedaan obligasi konvensional dengan obligasi


syariah dapat dilihat di bawah ini;
Keterangan Obligasi Obligasi
Syariah Konvensional
Harga penawaran 100% 100%
Jatuh tempo 5 tahun -
Pokok obligasi saat 100% 100%
jatuh tempo
Pendapatan Bagi ahsil Bunga
Return 15,5 16% 15,5 16%
indikatif
Rating AA+ AA+
Namun dalam obligasi syariah lebih kompetitif
dibanding obligasi konvensional sebab: pertama,
kemungkinan perolehan dari bagi hasil pendapatan lebih
tinggi daripada obligasi konvensional. Kedua, obligasi syariah
aman karena untuk mendanai proyek prospektif. Ketiga, bila
terjadi kerugian (di luar kontrol), investor tetap memperoleh
aktiva. Keempat, terobosan paradigma, bukan lagi surat
utang, tetapi surat investasi.4
B. Proses Penerbitan Obligasi Syariah
Penerbitan obligasi syariah pada prinsipnya tidak jauh
berbeda dengan obligasi konvensional, dapat dijelaskan
langkah-langkah umum untuk penerbitan obligasi syariah
sebagai berikut:

3Nurul Huda & Mustafa Edwin Nasution, Investasi Pada Pasar Modal Syariah
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), 87.
4Abdul Manan, Op. Cit., hlm. 333

3
1. Emiten menyerahkan dokumen yang diperlukan untuk
penerbitan obligasi syariah kepada underwriter (wakil dari
emiten);
2. Underwriter melakukan penawaran kepada investor;
3. Bila investor tertarik, maka akan menyerahkan dananya
kepada emiten melalui underwriter;
4. Emiten akan membayarkan bagi hasil dan pembayaran
pokok kepada investor.5
Syarat-syarat untuk menerbitkan obligasi syariah sebagai
berikut:6 [6]
1. Aktiva utama (core business) yang halal, tidak
bertentangan dengan substansi fatwa No.20/DSN-
MUI/IV/2001. Fatwa tersebut menjelaskan bahwa jenis
kegiatan usaha yang bertentangan dengan syariah Islam
diantaranya:
a. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi
atau perdagangan yang dilarang.
b. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi)
termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
c. Usaha yang memproduksi, mendistribusikan serta
memperdagangkan makanan dan minuman haram.
d. Usaha yang memproduksi, mendistribusikan dan/atau
menyediakan barang-barang atau jasa yang merusak
moral dan bersifat mudarat.
2. Peringkat investasi grade:
a. Memiliki fundamental usaha yang kuat.
b. Memiliki fundamental keuangan yang kuat.
c. Memiliki citra yang baik bagi publik.
3. Keuntungan tambahan jika termasuk dalam komponen
Jakarta Islamic Index (JII).
C. Perkembangan Obligasi Syariah (Sukuk)7

5 Nurul Huda & Mustafa Edwin Nasution, Op. Cit., hlm. 90


6 Abdul Mannan, Op. Cit., hlm. 340.
7Buchari Alma dan donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah (Bandung: CV
Alfabeta, 2009), 47-48.

4
Obligasi syariah (sukuk) semakin disukai karena ada
upaya investor terutama timur tengah untuk menarik modal
yang terkumpul di lembaga perbankan barat kembali
kelembaga keuangan islam. Pasar modal syariahpun mulai
diterima secara umum dengan masuknya investor non muslim
di pasar sukuk. Sukuk dipandang sebagai sasaran baru yang
lebih menguntungkan. Kepopuleran dari sukuk ini juga tidak
terlepas dari akses modal secara global sudah terbuka,
sehingga terjadilah manajemen likuiditas lintas batas.
Indonesia sebagai salah satu Negara dengan penduduk
muslim terbesar di dunia memiliki potensi yang sangat besar
bagi masuknya dana dari timur tengah yang memiliki
likuiditas keuangan yang tinggi. Dengan jumlah penduduk
yang lebih dari 200 juta orang dan proyek investasi jangka
panjang, Indonesia merupakan Negara yang memiliki potensi
bagi perkembangnya ekonomi islam secara dinamis. Melohat
potensi yang begitu besar, Malaysia berharap dapat menjadi
pintu gerbang bagi aliran dana dari timur tengah yang menuju
ke Indonesia. Hal ini dapat di lihat dari masuknya investor
Malaysia kedunia perbankan di Indonesia.
Pangsa pasar (market share) sukuk global saat ini
dikuasai oleh Malaysia, kemudian diikuti oleh uni emirat arab
dan Bahrain. Negara yang berpenduduk mayoritas non
muslim seperti jerman dan inggrispun sudah menerbitkan
global sukuk dengan pangsa pasar sebesar 3,12%.
Indonesia merupakn Negara yang memiliki potensi yang
cukup besar bagi pengembangan obligasi syariah.
Pengembangan obligasi syariah di Indonesia dapat dilacak
dari diluncurkannya instrument syariah oleh PT dana reksa
investment manajemen pada bulan juli tahun1997, yaitu

5
berupa dana reksa syariah. Selain itu dapat ditelusuri pula
ketika pasar modal syariah diluncurkan pada tanggal 14 maret
2003.
D. Jenis-jenis obligasi syariah
Obligasi syariah dapat diterbitkan dengan
menggunakan prinsip mudharabah, musyarakah, ijarah,
ististna, dan salam. Tetapi di antara prinsip-prinsip instrument
obligasi ini yang paling banyak digunakan adalah obligasi
dengan instrument-instrumen prinsip mudharabah dan ijarah.
1. Obligasi Mudharabah
Obligasi syariah mudharabah adalah obligasi syariah
yang menggunakan akad mudharabah. Akad mudharabah
adalah akad kerjasama antara pemilik modal (shahibul
maal/investor) dengan pengelola (mudharib/emiten).8
Dalam fatwa No. 33/DSN-MUI/X/2002 (lampiran7)
tetang obligasi syariah mudharabah, dinyatakan antara lain
bahwa: Obligasi syariah adalah suatu surat berharga
jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang
dikeluarkan emitenkepada pemegang obligasi syariah yang
mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada
pemegang obligasi syariah merupakan bagi hasil, margin,
atau feeserta membayar dana obligasi pada saat obilasi
jatuh tempo.9
2. Obligasi Musyarakah
Obligasi musyarakah didasarkan kepada kemitraan
dan kontrak pembagian untung rugi dan relative mirip
dengan mudharabah. Perbedaan utamanya adalah
intermediator atau pengusahanya merupakan mitra

8Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah (Jakarta: PT Gramedia


Pustaka Utama, 2014), 165.
9Sri Nurhayati & Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia (Jakarta: Salemba
empat, 2008), 328-330

6
investor (kelompok pendaftar) sekaligus bertindak sebagai
agen (mudharib). Beberapa obligasi berbasis musyarakah
telah diterbitkan oleh Republik Islam Iran dan Sudan.
Dalam kasus Iran, sertifikat musyarakah disiapkan dan
disetujui oleh Money and Credit Council to Finance the
Tehran Municipality.
Baik oblogasi mudharabah maupun musyarakah
sama-sama didasarkan kepada prinsip bagi untung rugi
dalam islam dan ideal untuk mempromosikan keuangan
islam. Walaupun yang menerbitkan obligasi ini adalah
institusi sektor public, rendahnya transparasia pemerintah
dibeberapa Negara peningkatan monitoring dan
teransparasi, serta dengan mengurangi informasi yang
asimetris, obligasi inin akan dapat memberikan kontribusi
kepada perkembangan pasar modal islam.10
3. Obligasi ijarah
Obligasi ijarah adalah obligasi syariah berdasarkan
akad ijarah. Akad ijarah adalah suatu jenis akad untuk
mengambil manfaat dengan jalan penggantian. Artinya
pemilih harta memberikan hak untuk memanfaatkan objek
yang ditransaksikan melalui penguasaan sementara atau
peminjaman objek dengan manfaat tertentu dengan
membayar imbalan kepada pemilik objek.
Ketentuan akad ijarah sebagai berikut:
a. Objeknya dapat berupa barang (harta fisik yang
bergerak, tak bergerak, harta perdagangan) maupun
berupa jasa.
b. Manfaat dari objek dan nilai manfaat tersebut diketahui
dan disepakati kedua belah pihak.

10Zamir Iqbal dan Abbas Mirakhor, Pengantar Keuangan Islam Teori Dan
Praktik (Jakarta: Kencana Prenada Media Group), 235-236.

7
c. Ruang lingkup dan jangka waktu pemakaiannya harus
dinyatakan secara spesifik.
d. Penyewa harus membagi hasil manfaat yang diperoleh
dalam bentuk imbalan atau sewa / upah.
e. Pemakai manfaat atau penyewa harus menjaga objek
agar manfaat yang diberikan oleh objek tetap terjaga.
f. Pembeli sewa harus pemilik mutlak.
Secara teknis, obligasi ijarah dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu:
a. Investor dapat bertindak sebagai penyewa (mustajir).
Adapun emiten dapat bertindak sebagai wakil investor.
Dan properi owner, dapat bertindak sebagai orang yang
menyewakan (mujir). Dengan demikian ada dua kali
transaksi hal ini, tarnsaksi pertama terjadi antara
investor dengan emiten, dimana investor mewakilkan
dirinya kepada emiten dengan akad wakalah, untuk
melakukan transaksi sewa menyewa dengan properi
owner dengan akad ijarah. Selanjutnya, transaksi terjadi
antara emiten (sebagai wakil investor) dengan properti
owner (sebagai orang yang menyewakan) untuk
melakukan transaksi sewa menyewa atau ijarah.
b. Setelah investor memperoleh hak sewa, maka investor
menyewakan kembali objek sewa tersebut kepada
emiten. Atas dasar sewa menyewa tersebut, maka
diterbitkanlah surat berharga jangka panjang (obligasi
syariah ijarah), diman atas penerbitan obligasi tersebut,
emiten wajib membayar pendapatan kepada investor
berupa fee serta membayar kembali dana obligasi pada
saat jatuh tempo.
Obligasi ijarah lebih diminati oleh investor, karena
pendapatannya bersifat tetap terutama investor yang

8
paradigmanya masih konvensional konservatif dan lebih
menyukai fixed income.11
4. Obligasi istishna
Istisna adalah perjanjian kontrak untuk barang-
barang industry yang memperbolehkan pembayaran tunai
dan pengiriman dimasa depan atau pembayarn dimasa
depan dan pengiriman dimasa depan dari barang-barang
yang dibuat berdasarkan kontrak tertentu. Hal ini dapat di
gunakan untuka menghasilkan fasilitas pembiayaan
pembuatan atau pembangunan rumah, pabrik, proyek,
jembatan, jalan. Di samping kontrak istsna yang parallel
dengan subkontraktor, bank-bank islam dapat melakukan
pembangunan aset tertentu dan menjualnya untuk harga
yang ditunda, dan melakukan subkontraktor pembangunan
actual kepada perusahaan khusus.
5. Obligasi salam
Salam adalah kontrak dengan pembayaran harga
dimuka, ynag dibuat untuk barang-barangyang dikirim
kemudian. Tidak diperbolehkan menjual komoditas yang
diurus sebelum menerimanya. Untuk itu, penerima tidak
boleh menjual kembali komoditas salam sebelum
menerimanya, akan tetapi ia boleh menjual kembali
komoditas tersebut dengan kontrak yang lain yang paralel
dengan kontrak pertama. Dalam hal ini, kontrak pertama
dan kedua harus independen satu sama lain. Spesifikasi
dari barang dan jadwal pengiriman dari kedua kontrak
harus sesuai satu sama lain tetapi kedua kontrak dapat
dilakukan secara independen.

11Alwi Iskandar , Modal Tori Dan Aplikasi (Jakarta: Yayasan Pancur Siwah,
2003), 337-339.

9
Kemungkinan untuk memiliki sertifikat salam yang
dapat diperjualbelikan belim dapat diputuskan. Sejauh ini
para pakar cenderung belum dapat menerimanya.
Diperlukan analisis tentang penjualaan kembali barang
yang dibeli dengan menggunakan salam sebelum dimiliki
oleh pembeli pertama, khususnya pada situasi dimana ia
memelihara persediaan dari barang tersebut.12

E. Prosedur pelaksanaan investasi obligasi


Dalam pasar modal juga menawarkan melalui surat
utang jangka panjang atau obligasi. Jika pilihan para investor
jatuh pada obligasi, maka pada beberapa tahap yang perlu
dilalui supaya tujuan investasi obligasi memberikan hasil yang
maksimal dan sesuai dengan rencana. Tahap tersebut seperti
dibawah ini:13
1. Membuka rekening
Tahap awal yang harus dilakukan dalam proses
transaksi obligasi adalah memilih perusahaan sekuritas
yang memiliki devisi fixed income yang menangani
pembelian dan penjualan obligasi. Pilih perushaan dengan
penglaman, tim yang solid baik traider maupun dealer
ataupun risert serta fee yang komprtitif.
Dengan membuka rekening, investor bisa
mendapatkan informasi perkembangan dan perdagangan
obligasi setiap saat, sehingga investor mendapatkan
pergerakan pasar obligasi secara akurat dan up to date.

12 Widjaja Gunawan dan Jojo, Penerbitan Obligasi dan Peran serta


Tanggungjawab Wali Amanat dalam Pasar Modal (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2006) 54-55
13Muhammad Rifki, Akutansi Keuangan Syariah (Yogyakarta: P3EI Press, 2008)
78-79

10
2. Memahami produk obligasi
Investor dianjurkan untuk mempelajari informasi
mengenai obligasi baik investasinya sendiri, potensi resiko
yang terkandung, maupun potensi keuntungannya. Dengan
mempelajari instrument obligasi secara lengkap
diharapakan investor mengenal investasi tersebut dengan
baik, sehingga mempermudah pengambilan keputusan
investasi dalam mencapai rencana yang diinginkan.
3. Melakukan analisis
Dilakukan agar keputusan yang diambil sesuai
dengan apa yang diinginkan, yaitu kestabialn pendapatan
aspek-aspek yang dibutuhkan seperti kupon, jangka waktu,
nilai penerbitan dan peringkat. Latar belakang serta profil
penerbit juga menjadi pertimbangan sendiri dengan
informasi yang lengkap, keputusan yang diambil tidak
menimbulkan kerugiaan yang cukup besar.

4. Memberikan amanat beli


Setelah melalui analisis, investor memperoleh jenis
obligasi yang ingin dibeli. Tahap selanjutnya adalah
memberikan amanat pembelian kepada trader atau broker
obligasi yang telah kita pilih. Pihak trader akan melakukan
pembelian obligasi sesuai dengan jenis serta harga yang
diinginkan. Misalkan pembeli akan melakukan pembelian
obligasi.
5. Menyiapkan dana
Membeli obligasi membutuhkan dana yang tidak
sedikit. Setelah amanat pembelian diajukan, sebaiknya
dana tersebut sudah dialokasikan. Jangan sampai
dikenakan penalty, karena keterlambatan dalam

11
pembayarannya. Selain itu, penempatan dana tunai yang
serba mendadak mungkin bisa menanggung kelancaran
aliran arus kas keuangan investor dan harga.
6. Menyelesaikan pembayaran obligasi.
Pembayaran dana pembelian obligasi dilakukan
melalui transfer rekening perusahaan sekuritas tersebut.
Setelah pembayaran selesai, maka investor sebagai
pembeli tinggal menunggu proses settlement atas
transaksi tersebut.

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Fatwa DSN mendefinisikan obligasi syariah sebagai
surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah
yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah,
yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan
kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil atau
margin atau fee serta membayar kembali dana obligasi pada
saat jatuh tempo.
Jenis-jenis obligasi syariah
1. Obligasi mudharabah
2. Obligasi musyarakah
3. Obligasi ijarah
4. Oblogasi istisna
5. Obligasi salam
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari masih jauh dari
kesempurnaan, masih banyak terdapat kesalahan-kesalahan, baik dalam
bahasanya, materi dan penyusunannya. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan kritik, saran dan masukan yang dapat membangun penulisan
makalah ini.

13
DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchari dan Donni Juni priansa. 2009. Manajemen Bisnis
Syariah. Bandung: Alfabeta.

Gunawan, Widjaja dan Jojo. 2006. Penerbitan Obligasi dan Peran


serta Tanggungjawab Wali Amanat dalam Pasar Modal.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Huda, Nurul dan Musatafa Edwin Nasution. 2008. Investasi pada


Pasar Modal Syariah. Jakarta: Kencana.

Ikatan Bankir Indonesia. 2014. Memahami Bisnis Bank Syariah.


Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Iskandar,Alwi. 2003. Modal Teori Dan Aplikasi. Jakarta: Yayasan


Pancur Siwah.

Iqbal, Zamir dan Abbas Mirakhor. 2008. Pengantar Keuangan


Islam: Teori dan Praktek. Jakarta: Kencana.

Manan, Abdul. 2012. Hukum Ekonomi Syariah: dalam Persepektif


Kewenangan Peradilan Agama. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.

Nur Hayati, Sri. 2008. Akuntansi Syariah Di Indonesia. Jakarta:


Salemba Empat.

Rifki, Muhammad. 2008. Akutansi Keuangan Syariah. Yogyakarta:


P3EI Pre

14