Anda di halaman 1dari 4

A.

Pengertian Religiusitas
Menurut Atang Abdul Hakim dalam bukunya Metodologi
Studi Islam menjelaskan bahwa religiusitas itu adalah sikap
hidup seseorang berdasarkan pada nilai-nilai yang
diyakininya (Hakim,2004: 4).
.Religiusitas merupakan suatu ekspresi religius yang ditampilkan.
Menurut Bustanudin Agus dalam bukunya yang berjudul Agama dalam
kehidupan manusia dikatakan bahwa; ekspresi religius ditemukan dalam
budaya material, perilaku manusia, nilai, moral, hukum dan sebagainya. Tidak
ada aspek kebudayaan lain dari agama yang lebih luas pengaruh dan
implikasinya dalam kehidupan manusia (Agus, 2000: 6).
Perilaku religiusitas menurut teori psikoanalisis semata-
mata didorong oleh keinginan untuk menghindari keadaan
bahaya yang akan menimpa dirinya dan memberi rasa aman
bagi diri sendiri. Menurut perspektif Islam, religiusitas
merupakan perbuatan melakukan aktivitas ekonomi, sosial,
politik atau aktivitas apapun dalam rangka beribadah kepada
Allah (Ancok dan Suroso, 2001: 72-79).
B. Dimensi Religiusitas
Religiusitas menurut Glock & Stark (1970) terdiri dari lima dimensi
antara lain:
1. Dimensi ideologi/keyakinan yang berkaitan dengan harapan-harapan
dimana seseorang yang religius akan berpegang teguh pada suatu
pandangantertentu serta mengakui akan adanya kebenaran.
2. Dimensi praktik ibadah yang meliputi pada perilaku pemujaan,
pelaksanaan ritus keagamaan yang formal, ketaatan serta segala hal yang
dilakukan manusia untuk menunjukkan komitmennya terhadap keyakinan
yang dianut. Praktik-praktik agama ini terdiri dari dua kelas yang penting,
yaitu: (1) Ritual, praktik ini mengacu pada seperangkat ritus, tindakan
formal keagamaan serta praktik-praktik suci yang mengharapkan agar
dilaksanakan oleh para pemeluk. (2) Ketaatan, semua agama yang dikenal
juga mempunyai seperangkat tindakan persembahan dan kontemplasi
personal yang relatif spontan, informal dan khas.
3. Dimensi Pengalaman, berkaitan dengan pengalaman keagamaan,
perasaan, persepsi dan sensasi yang dialami seseorang atau didefinisikan
oleh suatu kelompok keagaman (atau masyarakat) yang melihat
komunikasi, walaupun kecil, dalam suatu esensi dengan Allah SWT,
kenyataan terakhir, dengan otoritas transedental.
4. Dimensi pengetahuan agama, mengacu pada harapan bagi seseorang yang
beragama paling tidak memiliki pengetahuan mengenai dasar-dasar
keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi dari agama yang
dianut.
5. Dimensi Konsekuensi, mengacu pada sejauh mana ajaran dari keyakinan
yang dianut mempengaruhi perilakunya. Indikator dari dimensi ini adalah
suka menolong, suka bekerja sama, suka menyumbangkan sebagian harta,
memilki rasa empati dan solidaritas kepada orang lain, berprilaku adil,
berprilaku jujur, suka memaafkan, menjaga lingkungan hidup, menjaga
amanah, tidak berjudi, menipu, dan korupsi mematuhi norma-norma
Islam dalam berprilaku.
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Religiusitas
1. Faktor Internal
Faktor internal yang mempengaruhi sikap keagamaan seseorang
yaitu faktor pengalaman dan kebutuhan. Faktor pengalaman berkaitan
dengan pengalaman-pengalaman mengenai keindahan, konflik moral, dan
pengalaman emosional keagamaan. Sedangkan faktor kebutuhan berkaitan
dengan kebutuhan rasa aman dan keselamatan, kebutuhan akan cinta kasih,
kebutuhan untuk memperoleh harga diri, dan kebutuhan yang timbul
karena adanya kematian.
Berdasarkan kedua faktor yang digali oleh thouless melalui
pengalaman (experience) dan Kebutuhan (necessary) , maka sebenarnya
tindakan manusia yang berhubungan dengan implementasi aktual nilai
religiusitasnya berangkat dari respon pengalaman rohani yang ditangkap
dari komunikasi intens diantara subyek indera ragawi diri manusia
terhadap dunia material (alam dunia). Dari sini lahirlah berbagai
kebutuhan-kebutuhan rohani yang menjustifikasikan aneka kebutuhan
religius manusia demi terciptanya rasa aman, nyaman, tentram dan
bahagia.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi religiusitas seseorang
meliputi:
a. Lingkungan Keluarga
Menyatakan bahwa fase sosialisasi awal bagi pembentukan konsep
religiusitas seseorang adalah keluarga. Selain itu, Sigmund Freud,
melalui konsep father image menjelaskan bagaimana citra seorang
ayah akan mempengaruhi perkembangan religiusitas anaknya.
b. Lingkungan Sekolah
Sekolah mempunyai peranan penting dalam upaya pengembangan
religiusitas siswanya. Upaya pengembangan tersebut berkaitan
dengan wawasan pemahaman siswa terhadap agama, pembiasaan
mengamalkan ibadah, dan mendidik siswa agar berakhlak yang baik
dan dapat mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-
hari.
c. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat merupakan lingkungan interaksi sosial dan sosiokultural
yang potensial mempengaruhi religiusitas seseorang. Remaja akan
cenderung menampilkan perilakunya sesuai dengan lingkungan
pergaulannya.
D. Nilai-nilai Religius
Nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan tumbuh kembangnya kehidupan
beragama yang terdiri dari tiga unsur pokok yaitu aqidah, ibadah dan akhlak
yang menjadi pedoman perilaku sesuai dengan aturan-aturan atau untuk
mencapai kesejahteraan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Bila
nilai-nilai religius tersebut telah tertanam pada diri seseorang anak dan
dipupuk dengan baik, mereka dengan sendirinya akan tumbuh menjadi jiwa
agama. Dalam hal ini jiwa agama merupakan suatu kekuatan batin, daya dan
kesanggupan dalam jasad manusia yang menurut para ahli ilmu jiwa agama,
kekuatan tersebut bersarang pada akal, kemauan dan perasaan. Selanjutnya
jiwa tersebut dituntun dan dibimbing oleh peraturan atau undang-undang Ilahi
yang disampaikan melalui para nabi dan Rosul-Nya, untuk mengatur hidup
dan kehidupan manusia mencapai kesejahteraan baik kehidupan di dunia
ampun di akhirat.
E. Implementasi Religius
Indikator dari dimensi ini adalah suka menolong, suka bekerja sama, suka
menyumbangkan sebagian harta, memilki rasa empati dan solidaritas kepada
orang lain, berprilaku adil, berprilaku jujur, suka memaafkan, menjaga
lingkungan hidup, menjaga amanah, tidak berjudi, menipu, dan korupsi
mematuhi norma-norma Islam dalam berprilaku.