Anda di halaman 1dari 6

SURAT PERJANJIAN BANGUN BAGI HASIL RUMAH

Pada Hari ini,Tanggal Bulan .. Tahun Dua Ribu Enam Belas


(//2016), kami yang bertanda tangan dibawah ini:

1. Nama :
No KTP :
Tempat/Tgl Lahir :
Pekerjaan :
Alamat :

Bertindak selaku pemilik tanah seluas lebih kurang 400m2 yang terletak di Gampong Cot Mesjid,
Kec. Lueng Bata Kotamadya Banda Aceh yang selanjutnya disebut sebagai PIHAK PERTAMA

2. Nama : Subhan
No KTP : 1106091511840001
Tempat/Tgl Lahir : Banda Aceh, 15 November 1984
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Senangin No. 116 Perumnas Ujong Batee
Desa Neuheun Kec. Masjid Raya Kab. Aceh Besar
Bertindak dalam pekerjaannya selaku Developer/Pengembang/Pemborong Pengerjaan
Bangunan Fisik Rumah, oleh karena itu dalam hal ini selanjutnya disebut sebagai PIHAK KEDUA.

Pasal 1
PIHAK PERTAMA bersedia melakukan kerjasama bangun bagi hasil rumah dengan PIHAK
KEDUA diatas tanah milik PIHAK PERTAMA seluas lebih kurang 400m2 yang terletak di gampong
Cot Mesjid Kec. Lueng Bata kotamadya Banda Aceh sesuai dengan data sertifikat tanah milik
PIHAK PERTAMA tersebut.
Pasal 2
PIHAK PERTAMA bertanggung jawab penuh atas keaslian dan keabsahan atas surat menyurat
dan kepemilikan atas objek tanah seluas lebih kurang 400m2 tersebut serta menjamin
bahwasanya tanah seluas 400m2 tersebut adalah benar miliknya pribadi dan tidak ada sangkut
pautnya ataupun sengketa dengan pihak lainnya baik itu dengan perseorangan, perusahaan dan
pemerintahan/negara.

Pasal 3
PIHAK PERTAMA bersedia bertanggung jawab penuh apabila ditengah perjalanan
pembangunan terjadi perselisihan akibat sengketa atau adanya tuntutan dari pihak lain
terhadap objek tanah tersebut, sehingga mengganggu jalannya pekerjaan PIHAK KEDUA maka
PIHAK PERTAMA wajib menyelesaikannya terlebih dahulu secara hukum negara yang berlaku
selambat-lambatnya dalam tempo waktu 1 (satu) bulan. Dan apabila PIHAK PERTAMA tidak
dapat menyelesaikan permasalahannya dalam tempo waktu yang telah ditentukan tersebut,
maka PIHAK PERTAMA wajib mengganti kerugian ke PIHAK KEDUA akibat sengketa ataupun
perselisihan tersebut dengan menanggung segala biaya kerugian yang telah dikeluarkan oleh
PIHAK KEDUA sebesar 2 (dua) kali lipat dari progres bangunan yang telah berjalan diatas objek
tanah tersebut sesuai perhitungan teknis kontruksi yang berlaku.

Pasal 4
PIHAK PERTAMA bersedia mengurus dan menanggung biaya segala sesuatunya yang berurusan
dengan surat menyurat seperti IMB dan biaya pemecahan sertifikat kecuali biaya serta biaya
PBB atas objek tanah tersebut.

Pasal 5
Adapun PIHAK PERTAMA akan mendapatkan 1 (satu) unit bangunan Rumah Type 70+ 1 (satu)
lantai dari total 2 (dua) unit rumah yang akan dibangun diatas tanah tersebut dengan luas tanah
masing-masing kapling seluas lebih kurang 250m2 menjadi bahagian PIHAK PERTAMA dan
sisanya seluas lebih kurang 150m2 menjadi bahagian PIHAK KEDUA sesuai pembagian dan
pembayaran atas kelebihan volume tanah serta type rumah PIHAK PERTAMA yang akan
dibayarkan secara bertahap oleh PIHAK PERTAMA ke PIHAK KEDUA.

Pasal 6

Kelebihan biaya yang menjadi tanggung jawab PIHAK PERTAMA ke PIHAK KEDUA sebesar Rp.
130.000.000,- (Seratus Tiga Puluh Juta Rupiah) tersebut akan dibayarkan secara bertahap
setelah kewajiban pengerjaan slof atas PIHAK KEDUA tersebut selesai.

Adapun tahapan termin pembayaran PIHAK PERTAMA ke PIHAK KEDUA, sbb:


- Rp. 50.000.000,- (Pengerjaan Atap, Plaster, Plafon)
- Rp. 30.000.000,- (Pengerjaan Keramik Kamar Mandi, Lantai & Dapur)
- Rp. 30.000.000,- (Pengerjaan Pemasangan Panel Pintu & Panel Jendela)
- Rp. 20.000.000,- (Pengerjaan Pengecatan, Eletrikal, Saluran dll)

Pasal 7
PIHAK KEDUA bebas membangun type rumah dikapling bahagiannya menjadi lebih besar atau
pun lebih kecil dari pada bahagian milik PIHAK PERTAMA, karena akan disesuaikan dengan
permintaan konsumen PIHAK KEDUA.

Pasal 8
PIHAK PERTAMA wajib memberikan sertifikat bahagian PIHAK KEDUA ketika progres pekerjaan
rumah bahagian PIHAK PERTAMA tersebut telah mencapai tahapan 50% pekerjaan sesuai
perhitungan teknis konstruksi yang berlaku, yakni sampai pengerjaan slof atas selesai.

Pasal 9
Apabila PIHAK PERTAMA hendak menambah volume rumah bahagiannya menjadi lebih besar
daripada yang diberikan oleh PIHAK KEDUA, maka PIHAK PERTAMA berkewajiban menambah
biaya pembangunan sebesar Rp. 4.000.000,- (Empat Juta Rupiah) per meternya. Dan hal
tersebut harus dikonfirmasikan minimal 1 (satu) minggu sebelum pemasangan bowplank
dimulai.

Pasal 10
Apabila PIHAK PERTAMA mau mengupgrade material ataupun aksesories untuk Rumah
tersebut dengan kualitas yang lebih baik dari yang ditawarkan diperjanjian ini, maka PIHAK
KEDUA memberikan tempo selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak penandatanganan
perjanjian ini atau sebelum pembangunan rumah mencapai slop atas selesai. Dan selisih biaya
yang timbul akibat perubahan material tersebut sepenuhnya akan menjadi tanggungan PIHAK
PERTAMA dengan cara pembayaran yang akan disepakati selanjutnya oleh kedua belah Pihak.

Pasal 11
Pembayaran penambahan biaya akibat perluasan bangunan atau perubahan material seperti
yang telah dijelaskan pada pasal 9 & 10 tersebut akan dilakukan dengan cara yang telah
disepakati bersama.

Pasal 12
Lama masa pembangunan 1 (satu) unit rumah bahagian PIHAK PERTAMA tersebut lebih kurang
selama 7 bulan atau lebih kurang 210 hari kalender terhitung dimulai saat penandatanganan
perjanjian akad bangun bagi hasil dihadapan notaris ini dilaksanakan.

Pasal 13
Perjanjian ini berlaku sejak tanggal ditandatanganinya perjanjian ini dihadapan pejabat yang
berwenang dalam hal ini notaris dan sampai dengan pekerjaan yang dimaksud dalam perjanjian
ini dinyatakan selesai.
Pasal 14
Apabila terjadi perselisihan yang timbul dalam perjanjian ini maka kedua belah pihak sepakat
untuk menyelesaikannya dengan cara musyawarah dan mufakat terlebih dahulu. Apabila dalam
musyawarah dan mufakat tersebut tidak juga tercapai kesepakatan, maka akan diselesaikan
melalui Lembaga Pengadilan Negeri Banda Aceh.
Perjanjian ini ditandatangani oleh kedua belah pihak tanpa adanya paksaan atau tekanan dari
pihak manapun serta dalam keadaan sadar sepenuhnya dihadapan Notaris yang ditunjuk dan
disetujui oleh kedua belah pihak dan masing-masing pihak mempunyai kekuatan Hukum yang
sama.

Pasal 15
Perjanjian kerja sama ini tidak dapat dibatalkan secara sepihak tanpa persetujuan pihak lainnya.
Apabila terjadi pembatalan oleh salah satu pihak kecuali dengan alasan Force Majeure, maka
pihak tersebut wajib memberikan ganti rugi.
Force Majeure yang dimaksud didalam perjanjian ini adalah suatu keadaan terpaksa diluar
batas kemampuan kedua belah pihak yang dapat mengganggu atau menggagalkan pekerjaan
tersebut seperti bencana alam, peperangan, pemberontakan masyarakat atau kerusuhan dan
kebijaksanaan Pemerintah khususnya yang disebabkan oleh suatu keadaan yang tidak
memungkinkan. Terhadap pembatalan akibat Force Majeure tersebut, maka semua kerugian
akan ditanggung oleh kedua belah pihak.

Dari uraian keterangan yang telah disebutkan, maka selanjutnya para pihak menerangkan
bahwa PIHAK KEDUA menyatakan berjanji serta mengikatkan diri untuk sanggup
menyelesaikan bangunan Rumah bahagian PIHAK PERTAMA tersebut yang sebaliknya juga
PIHAK PERTAMA berjanji kepada PIHAK KEDUA untuk bertanggung jawab penuh serta
memberikan sebahagian hak atas tanah seluas lebih kurang 400m2 tersebut kepada PIHAK
KEDUA setelah PIHAK KEDUA menyelesaikan kewajibannya membangun rumah bahagian
PIHAK PERTAMA tersebut sesuai dengan tahapan yang telah disepakati didalam perjanjian ini
dengan spesifikasi material bangunan serta denah dan desain yang telah disepakati bersama
*terlampir, serta tanah tapak pekarangannya yang terletak di Propinsi Aceh, Gampong Cot
Mesjid Kec. Lueng Bata Kotamadya Banda Aceh.

Banda Aceh, 2016


PIHAK PERTAMA PIHAK KEDUA
Pemilik Tanah Developer

( ) (SUBHAN)

Anda mungkin juga menyukai