Anda di halaman 1dari 6

ipapedia

Building a Future

Daftar Isi

Disclaimer

Privacy Policy

About Us

Contact Us

Home Ensiklopedia Perbedaan Metode Ilmiah dan Non-Ilmiah

Perbedaan Metode Ilmiah dan Non-Ilmiah


Posted by septiani ashari Posted on 5:48 AM with No comments
Apakah yang dimaksud dengan penelitian itu? Secara umum, penilitian dapat diartikan
sebagai proses mengumpulkan dan menganalisis data atau informasi secara sistematis
sehingga menghasilkan kesimpulan yang sah. Langkah-langkah yang ditempuh dalam metode
ilmiah merupakan langkah yang hierarkis (berjenjang atau berurutan) dan logis. Tahapan-
tahapannya sitematis, bukan acak. Dalam penelitian, langkah dengan menggunakan metode
ilmiah tersebut secara tipikal dapat dirinci sebagai berikut.

1. Mengenali dan menentukan masalah yang akan diteliti.


2. Mengkaji teori yang sudah ada yang relevan dengan masalah yang hendak diteliti.
3. Mengajukan hipotesis atau pertanyaan penelitian.
4. Membuat desain penelitian untuk menguji hipotesis tersebut.
5. Mengumpulkan data dengan menggunakan prosedur yang mengacu pada desain penelitian.
6. Menganalisis data.
7. Menginterpretasikan data dan menarik kesimpulan.

Dalam penelitian, suatu penarikan kesimpulan yang tidak menggunakan pendekatan atau
metode ilmiah dapat dikatakan tidak sah. Kenapa? Hal ini perlu disadari oleh peneliti pemula
karena dalam praktik ada beberapa prosedur dasar dalam penarikan kesimpulan yang tampak
sah ternyata justru sebaliknya, tidak sah karena pendekatan yang ia gunakan bukan
pendekatan ilmiah. Jika prosesnya tidak sah maka produk yang dihasilkan juga tidak sah
secara ilmiah.

Suatu produk penelitian (dalam hal ini pengetahuan) yang dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah paling tidak mempunyai beberapa karakteristik, antara lain;

1. objektif
2. bahasa jelas
3. dapat diverifikasi, dan
4. empirik

Bagi orang awam, pengertian objektif adalah lawan dari subjektif, tidak bias, dan terbuka
terhadap kritik. Dari sudut pandang prosedural dalam rangkaian proses penelitian, kata
objektif ini mengacu pada prosedur pengumpulan dan analisis data sehingga si peneliti tidak
mungkin menginterpretasikan hasil penelitiannya secara salah. Dengan kata lain, jika ada
orang lain melakukan penelitian tersebut dengan prosedur seperti yang ia lakukan maka hasil
yang diperoleh akan sama. Objektivitas ini sangat penting dalam penelitian dan deskripsi
prosedur perlu sejelas mungkin agar terbuka peluang bagi peneliti lain untuk mereplikasi
penelitian tersebut. Kadar objektivitas dalam banyak hal ditentukan oleh objek dan tempat
penelitian. Contohnya, kadar objektivitas penelitian fisika di laboratorium relatif lebih tinggi
daripada penelitian biologi di lapangan atau di kebun percobaan. Yang perlu disadari adalah
bahwa masalah objektivitas bukan merupakan hal yang mudah karena penelitian sosial bukan
dilakukan terhadap benda mati melainkan kepada manusia yang mempunyai perilaku
berubah-ubah/sukar diramal. Oleh karenanya diperlukan kecermatan yang tinggi jika hasil
yang diharapkan kelak ingin benar-benar dapat dipercaya.

Kejelasan atau akurasi merupakan aspek kedua yang perlu diperhatikan dalam penelitian.
Dalam penelitian banyak sekali bahasa atau istilah teknis yang mungkin hanya dikenali oleh
orang-orang tertentu. Bahasa yang digunakan harus jelas dan tepat. Salah satu cara untuk
mengindahkan prinsip kejelasan berbahasa ini adalah membuat definisi operasional istilah
yang digunakan sehingga orang lain tidak salah dalam menangkap makna yang ingin
dituangkan dalam laporan penelitian.

Aspek ketiga adalah keterbukaan untuk diverifikasi. Ini berkaitan erat dengan dua aspek
sebelumnya. Bila kedua aspek tersebut diindahkan, maka baik desain maupun hasil penelitian
tersebut bersifat terbuka dan dapat ditindaklanjuti baik dalam bentuk penelitian ulang oleh
peneliti lain atau penelitian yang lebih mendalam. Dalam dunia penelitian, hasil replikasi bisa
sama, bisa juga berbeda dengan hasil penelitian semula. Istilah keterbukaan untuk diverifikasi
disini berarti segala informasi dalam penelitian tersebut terbuka bagi publik untuk direplikasi,
ditelaah kembali, dan di kritik, dikonfirmasi atau bahkan ditolak oleh peneliti lain.

Keempat, pendekatan yang dilakukan dalam dunia penelitian adalah pendekatan empiris.
Kadang sesuatu dianggap benar oleh orang awam apabila sesuatu itu berjalan baik, tanpa
mempertanyakan kembali mengapa sesuatu dianggap benar, karena kalau tidak benar maka
tidak akan berjalan baik. Tetapi bagi seorang peneliti, pengertian empiris itu didasarkan pada
bukti yang ditunjukkan dengan data. Dimana data tersebut diperoleh dari hasil pengamatan
yang dilakukan dengan prosedur yang sistematis serta objektif.

Jika para peniliti tidak dapat membedakan antara pendekatan ilmiah dan non ilmiah maka
akibatnya akan fatal. Hail jerih payah penelitian tidak akan sah karena tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Irawan (1977) membedakan pendekatan ilmiah dan
non ilmiah berdasarkan masalah yang dirumuskan, jawaban yang diberikan, proses
pengumpulan dan analisis data serta penyimpulan hasil dan pemanfaatan hasil. Perhatikan
tabel berikut agar pembaca lebih memahami perbedaan pendekatan ilmiah dan non-ilmiah.

Tabel Perbedaan Pendkatan Penelitian Ilmiah dan Non-Ilmiah


Metode Ilmiah Metode Non-Ilmiah
Permasalahan harus dirumuskan secara jelas, Permasalahan yang dipertanyaakan sering
spesifik dan Nampak variable yang diteliti tidak jelas, tetapi bersifat umum dan sumir
Jawaban yang diberikan terhadap Jawaban apapun tidak perlu didukung data
permasalahan harus didukung dengan logis
dan benar
Proses pengumpulan data, analisis data, dan Tidak ada proses pengumpulan data atau
penyimpulan harus dilakukan dengan logis analisis data, meskipun mungkin ditutup
dan benar dengan kesimpulan
Kesimpulan siap diuji oleh siapapun yang Pengujian terhadap kesimpulan boleh
meragukan validitasnya dilakukan ataupun tidak tanpa membawa
akibat yang berarti bagi kesimpulan pertama
Hanya digunakan untuk mengkaji hal-hal Boleh saja digunakan untuk mengkaji hal
yang diamati, dapat dikur, empiris apapun termasuk yang paling misterius,
supranatural, dan dogmatis
Calender [Free widget calendar] Clock Beranda Teknik Pengambilan Sampel dalam
Metodologi Penelitian Posted on Thursday, June 13, 2013 by Gerry Tri V.H. Semoga
bermanfaat :) Teknik Pengambilan Sampel : Nonprobability Sampling Pengertian
Nonprobability Sampling atau Definisi Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan
sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota
populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik Sampling Nonprobality ini meliputi :Sampling
Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Insidental, Purposive Sampling, Sampling Jenuh,
Snowball Sampling. 1. Sampling Sistematis Pengertian Sampling Sistematis atau Definisi
Sampling Sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota
populasi yang telah diberi nomor urut.Contoh Sampling Sistematis, anggota populasi yang
terdiri dari 100 orang, dari semua semua anggota populasi itu diberi nomor urut 1 sampai
100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mengambil nomor ganjil saja, genap saja,
atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka
yang diambil sebagai sampel adalah nomor urut 1, 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
2. Sampling Kuota Pengertian Sampling Kuota atau Definisi Sampling Kuota adalah teknik
untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah
kuota yang diinginkan.Contoh Sampling Kuota, akan melakukan penelitian tentang Karies
Gigi, jumlah sampel yang ditentukan 500 orang, jika pengumpulan data belum memenuhi
kuota 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai. Bila pengumpulan data
dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang pengumpul data, maka setiap anggota
kelompok harus dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus
dapat mencari data dari 500 anggota sampel. 3. Sampling Insidental Pengertian Sampling
Insidental atau Definisi Sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan
kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan atau insidental bertemu dengan peneliti
dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok
sebagai sumber data. 4. Purposive Sampling Pengertian Purposive Sampling atau Definisi
Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Contoh
Purposive Sampling, akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel
sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk
Penelitian Kualitatif atau penelitian yang tidak melakukan generalisasi. 5. Sampling Jenuh
(Sensus) Pengertian Sampling Jenuh atau Definisi Sampling Jenuh adalah teknik penentuan
sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila
jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat
generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. 6. Snowball Sampling Pengertian Snowball
Sampling atau Definisi Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula
jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama
menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang sampel,
tetapi karena dengan dua orang sampel ini belum merasa lengkap terhadap data yang
diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi
data yang diberikan oleh dua orang sampel sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah
sampel semakin banyak. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel Purposive
dan Snowball. Contohnya akan meneliti siapa provokasi kerusuhan, maka akan cocok
menggunakan Purposive Sampling dan Snowball Sampling. Cara Pengambilan Sampel
dengan Probabilitas Sampling Ada empat macam teknik pengambilan sampel yang termasuk
dalam teknik pengambilan sampel dengan probabilitas sampling. Keempat teknik tersebut,
yaitu cara acak, stratifikasi, klaster, dan sistematis. 1. Sampling Acak Ada beberapa nama
untuk menyebutkan teknik pemilihan sampling ini. Nama tersebut termasuk di antaranya:
random sampling atau teknik acak. Apa pun namanya teknik ini sangat populer dan banyak
dianjurkan penggunaannya dalam proses penelitian. Pada teknik acak ini, secara teoretis,
semua anggota dalam populasi mempunyai probabilitas atau kesempatan yang sama untuk
dipilih menjadi sampel. Untuk mendapat responden yang hendak dijadikan sampel, satu hal
penting yang harus diketahui oleh para peneliti adalah bahwa perlunya bagi peneliti untuk
mengetahui jumlah responden yang ada dalam populasi. Teknik memilih secara acak dapat
dilakukan baik dengan manual atau tradisional maupun dengan menggunakan tabel random.
a. Cara Tradisional Cara tradisional ini dapat dilihat dalam kumpulan ibu-ibu ketika arisan.
Teknik acak ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut: tentukan jumlah
populasi yang dapat ditemui; daftar semua anggota dalam populasi, masukkan dalam kotak
yang telah diberi lubang penarikan; kocok kotak tersebut dan keluarkan lewat lubang
pengeluaran yang telah dibuat; nomor anggota yang keluar adalah mereka yang ditunjuk
sebagai sampel penelitian; lakukan terus sampai jumlah yang diinginkan dapat dicapai. b.
Menggunakan Tabel Acak Pada cara kedua ini, proses pemilihan subjek dilakukan dengan
menggunakan tabel yang dihasilkan oleh komputer dan telah diakui manfaatnya dalam teori
penelitian. Tabel tersebut umumnya terdiri dari kolom dan angka lima digit yang telah secara
acak dihasilkan oleh komputer. Dengan menggunakan tabel tersebut, angka-angka yang ada
digunakan untuk memilih sampel dengan langkah sebagai berikut: identifikasi jumlah total
populasi; tentukan jumlah sampel yang diinginkan; daftar semua anggota yang masuk sebagai
populasi; berikan semua anggota dengan nomor kode yang diminta, misalnya: 000-299 untuk
populasi yang berjumlah 300 orang, atau 00-99 untuk jumlah populasi 100 orang; pilih secara
acak (misalnya tutup mata) dengan menggunakan penunjuk pada angka yang ada dalam tabel;
pada angka-angka yang terpilih, lihat hanya angka digit yang tepat yang dipilih. Jika populasi
500 maka hanya 3 digit dari akhir saja. Jika populasi mempunyai anggota 90 maka hanya
diperlukan dua digit dari akhir saja; jika angka dikaitkan dengan angka terpilih untuk
individual dalam populasi menjadi individu dalam sampel. Sebagai contoh, jika populasinya
berjumlah 500, maka angka terpilih 375 masuk sebagai individu sampel. Sebaliknya jika
populasi hanya 300, maka angka terpilih 375 tidak termasuk sebagai individu sampel;
gerakan penunjuk dalam kolom atau angka lain; ulangi langkah nomor 8 sampai jumlah
sampel yang diinginkan tercapai. Ketika jumlah sampel yang diinginkan telah tercapai maka
langkah selanjutnya adalah membagi dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan
sesuai dengan bentuk desain penelitian. Contoh Memilih Sampel dengan Sampling Acak
Seorang kepala sekolah ingin melakukan studi terhadap para siswa yang ada di sekolah.
Populasi siswa SMK ternyata jumlahnya 600 orang. Sampel yang diinginkan adalah 10% dari
populasi. Dia ingin menggunakan teknik acak, untuk mencapai hal itu, dia menggunakan
langkah-langkah untuk memilih sampel seperti berikut. Populasi yang jumlahnya 600 orang
diidentifikasi. Sampel yang diinginkan 10% x 600 = 60 orang. Populasi didaftar dengan
diberikan kode dari 000-599. Tabel acak yang berisi angka random digunakan untuk memilih
data dengan menggerakkan data sepanjang kolom atau baris dari tabel. Misalnya diperoleh
sederet angka seperti berikut: 058 710 859 942 634 278 708 899 Oleh karena jumlah populasi
600 orang maka dua angka terpilih menjadi sampel yaitu: 058 dan 278. Coba langkah d
sampai diperoleh semua jumlah 60 responden. 2. Teknik Stratifikasi Dalam penelitian
pendidikan maupun penelitian sosial lainnya, sering kali ditemui kondisi populasi yang ada
terdiri dari beberapa lapisan atau kelompok individual dengan karakteristik berbeda. Di
sekolah, misalnya ada kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Mereka juga dapat dibedakan
menurut jenis kelamin responden menjadi kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Di
masyarakat, populasi dapat berupa kelompok masyarakat, misalnya petani, pedagang,
pegawai negeri, pegawai swasta, dan sebagainya. Keadaan populasi yang demikian akan
tidak tepat dan tidak terwakili; jika digunakan teknik acak. Karena hasilnya mungkin satu
kelompok terlalu banyak yang terpilih sebagai sampel, sebaliknya kelompok lain tidak
terwakili karena tidak muncul dalam proses pemilihan. Teknik yang paling tepat dan
mempunyai akurasi tinggi adalah teknik sampling dengan cara stratifikasi. Teknik stratifikasi
ini harus digunakan sejak awal, ketika peneliti mengetahui bahwa kondisi populasi terdiri
atas beberapa anggota yang memiliki stratifikasi atau lapisan yang berbeda antara satu
dengan lainnya. Ketepatan teknik stratifikasi juga lebih dapat ditingkatkan dengan
menggunakan proporsional besar kecilnya anggota lapisan dari populasi ditentukan oleh
besar kecilnya jumlah anggota populasi dalam lapisan yang ada. Seperti halnya teknik
memilih sampel secara acak, teknik stratifikasi juga mempunyai langkah-langkah untuk
menentukan sampel yang diinginkan. Langkah-langkah tersebut dapat dilihat seperti berikut :
Identifikasi jumlah total populasi. Tentukan jumlah sampel yang diinginkan. Daftar semua
anggota yang termasuk sebagai populasi. Pisahkan anggota populasi sesuai dengan
karakteristik lapisan yang dimiliki. Pilih sampel dengan menggunakan prinsip acak seperti
yang telah dilakukan dalam teknik random di atas. Lakukan langkah pemilihan pada setiap
lapisan yang ada. Sampai jumlah sampel dapat dicapai. Contoh menentukan sampel dengan
teknik stratifikasi Seorang peneliti ingin melakukan studi dari suatu populasi guru SMK yang
jumlahnya 900 orang, sampel yang diinginkan adalah 10% dari populasi. Dalam anggota
populasi ada tiga lapisan guru, mereka adalah yang mempunyai golongan dua, golongan tiga,
dan golongan empat. Dia ingin memilih sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi.
Terangkan langkah-langkah guna mengambil sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi
tersebut. Jawabannya adalah sebagai berikut. Jumlah total populasi adalah 900 orang. Daftar
semua anggota yang termasuk sebagai populasi dengan nomor 000-899. Bagi populasi
menjadi tiga lapis, dengan setiap lapis terdiri 300 orang. Undilah sampel yang diinginkan
30% x 900 = 270 orang. Setiap lapis mempunyai anggota 90 orang. untuk lapisan pertama
gerakan penunjuk (pensil) dalam tabel acak. Dan pilih dari angka tersebut dan ambil yang
memiliki nilai lebih kecil dari angka 899 sampai akhirnya diperoleh 90 subjek. Lakukan
langkah 6 dan 7 untuk Iapis kedua dan ketiga sampai total sampel diperoleh jumlah 270
orang. 3. Teknik Klaster Teknik klaster merupakan teknik memilih sampel lainnya dengan
menggunakan prinsip probabilitas. Teknik ini mempunyai sedikit perbedaan jika
dibandingkan dengan kedua teknik yang telah dibahas di atas. Teknik klaster atau Cluster
Sampling ini memilih sampel bukan didasarkan pada individual, tetapi lebih didasarkan
pada kelompok, daerah, atau kelompok subjek yang secara alami berkumpul bersama. Teknik
klaster sering digunakan oleh para peneliti di lapangan yang wilayahnya mungkin luas.
Dengan menggunakan teknik klaster ini, mereka lebih dapat menghemat biaya dan tenaga
dalam menemui responden yang menjadi subjek atau objek penelitian. Memilih sampel
dengan menggunakan teknik klaster ini mempunyai beberapa langkah seperti berikut.
Identifikasi populasi yang hendak digunakan dalam studi. b. Tentukan besar sampel yang
diinginkan. Tentukan dasar logika untuk menentukan klaster. Perkirakan jumlah rata-rata
subjek yang ada pada setiap klaster. Daftar semua subjek dalam setiap klaster dengan
membagi antara jurnlah sampel dengan jumlah klaster yang ada. Secara random, pilih jumlah
angggota sampel yang diinginkan untuk setiap klaster. Jumlah sampel adalah jumlah klaster
dikalikan jumlah anggota populasi per klaster. Contoh terapan pemilihan sampel dengan
menggunakan teknik klasterMisalkan seorang peneliti hendak melakukan studi pada populasi
yang jumlahnya 4.000 guru dalam 100 sekolah yang ada. `Sampel yang diinginkan adalah
400 orang. Cara yang digunakan adalah teknik sampel secara klaster dengan sekolah sebagai
dasar penentuan logis klaster yang ada. Bagaimanakah langkah menentukan sampel tersebut?
Jawabannya adalah sebagai berikut. Total populasi adalah 4.000 orang. Jumlah sampel yang
diinginkan 400 orang. Dasar logis klaster adalah sekolah yang jumlahnya ada 100. Dalam
populasi, setiap sekolah adalah 4.000/100 = 40 guru setiap sekolah. Jumlah klaster yang ada
adalah 400/40 = 10. Oleh karena itu, 10 sekolah di antara 100 sekolah dipilih secara random.
Jadi, semua guru yang ada dalam 10 sekolah sama dengan jumlah sampel yang diinginkan. 4.
Teknik Secara Sistematis Teknik memilih sampel yang keempat adalah teknik sistematis atau
systematic sampling. Teknik pemilihan ini menggunakan prinsip proporsional. Caranya ialah
dengan menentukan pilihan sampel pada setiap 1/k, di mana k adalah suatu angka pembagi
yang telah ditentukan misalnya 5,6 atau 10. Syarat yang perlu diperhatikan oleh para peneliti
adalah adanya daftar atau list semua anggota populasi. Untuk populasi yang didaftar atas
dasar urutan abjad pemakaian metode menggunakan teknik sistematis juga dapat diterapkan.
Walaupun mungkin saja terjadi bahwa suatu nama seperti nama yang berawalan su, sri dalam
bahasa Indonesia akan terjadi pengumpulan nama dalam awalan tersebut. Sisternatis
proporsional k dapat memilih dengan baik. Teknik observasi lapangan khusus untuk
penelitian di lokasi tambang Pengumpulan Data penelitian Teknik ini dilakukan dengan cara
melakukan pengamatan langsung di lapangan. Mengamati tidak hanya melihat, melainkan
merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian yang ada di lapangan. Teknik ini
ada dua macam, yaitu observasi langsung (observasi partisipasi) yaitu apabila pengumpulan
data melalui pengamatan dan pencatatan gejalagejala pada objek yang dilakukan secara
langsung di tempat kejadian, dan observasi tidak langsung (observasi non-partisipasi) yaitu
pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala pada objek tidak secara
langsung di lapangan. Beberapa cara yang biasa dilakukan dalam observasi adalah sebagai
berikut: 1) Membuat catatan anekdot (anecdotal record), yaitu catatan informal yang
digunakan pada waktu melakukan observasi. Catatan ini berisi fenomena atau peristiwa yang
terjadi saat observasi. 2) Membuat daftar cek (checklist), yaitu daftar yang berisi catatan
setiap faktor secara sistematis. Daftar cek ini biasanya dibuat sebelum observasi dan sesuai
dengan tujuan observasi. 3) Membuat skala penilaian (rating scale), yaitu skala yang
digunakan untuk menetapkan penilaian secara bertingkat untuk mengamati kondisi data
secara kualitiatif. 4) Mencatat dengan menggunakan alat (mechanical device), yaitu
pencatatan yang dilakukan melalui pengamatan dengan menggunakan alat, misalnya slide,
kamera, komputer, dan alat perekam suara. Observasi tersebut dapat terbentang mulai dari
kegiatan pengumpulan data yang formal hingga yang tidak formal. Bukti observasi seringkali
bermanfaat untuk memberikan informasi tambahan tentang topik yang akan diteliti.
Observasi dapat menambah dimensi-dimensi baru untuk pemahaman konteks maupun
fenomena yang akan diteliti. Observasi tersebut bisa begitu berharga sehingga peneliti bisa
mengambil foto-foto pada situs studi kasus untuk menambah keabsahan penelitian (Dabbs,
1996: 113). REFERENSI Sugiyono, 2007, Statistika Untuk Penelitian, Cetakan Keduabelas,
Alfabeta, Bandung. http://asiabusinesscentre.blogspot.com/2012/07/teknik-pengambilan-
sampel.htm http://www.onlinesyariah.com/2012/12/cara-pengambilan-sampel-dengan.html
http://texbuk.blogspot.com/2012/01/teknik-observasi-atau-
pengamatan.html#ixzz2RwhVvFK1

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ