Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A; Latar Belakang
Pernikahan dini di Indonesia berada di urutan kedua terbanyak setelah

Kamboja Untuk level ASEAN, Indonesia merupakan negara ke-37 dengan

jumlah pernikahan dini terbanyak menurut United Nations Development

Economic and Social Affairs (UNDESA, 2010) di dunia di tahun 2007.

Menurut Riskesdas 2010, Perempuan muda di Indonesia dengan usia 10-14

tahun menikah sebanyak 0,2% atau lebih dari 22.000 wanita muda berusia 10-

14 tahun di Indonesia sudah menikah.


Di Indonesia, menurut UU No 1/1974 tentang perkawinan, perempuan

di atas usia 16 tahun diperbolehkan untuk menikah. Dipertegas dengan pasal 6

ayat 2 UU No.1 Tahun 1974 menyatakan bahwa untuk melangsungkan suatu

perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat

izin dari orang tua. Namun, UU Perlindungan Anak Tahun 2002 menetapkan

bahwa siapa pun di bawah usia 18 tahun masih tergolong usia remaja.
Pernikahan dini di Provinsi Bengkulu masih menjadi pekerjaan rumah

bagi pemerintah Bengkulu, data Susenas tahun 2012 menunjukkan pernikahan

dini pada kelompok umur dibawah 14 tahun sebesar 3,78%, 15,61%

perkawinan dilakukan pada umur 15 16 tahun dan 24,54% dilakukan pada

umur 17 18 tahun.
Data (BKKBN, 2011) menunjukkan Jumlah dari perempuan muda

berusia 15-19 tahun yang menikah lebih besar jika dibandingkan dengan laki-

laki muda berusia 15-19 tahun (11,7 % perempuan dan 1,6 % laki-laki usia 15-

19 tahun).

1
2

Secara medis atau ilmu kedokteran pernikahan dini mempunyai dampak

kurang baik bagi ibu dan anak yang dikandung dan dilahirkan, SDKI 2012

kematian bayi dibawah satu tahun di Provinsi Bengkulu sebesar 29 per 1.000

kelahiran hidup dan secara nasional kematian ibu masa mengandung,

melahirkan dan nifas sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di

Provinsi Bengkulu menurut Sensus Penduduk tahun 2012 hasil exercise

kematian ibu mengandung, melahirkan dan masa nifas 220 per 100.000

kelahiran hidup, rata-rata kematian baik bayi maupun ibu terjadi pada

pasangan yang ibunya berumur dibawah 20 tahun.


Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN,

2013) usia untuk hamil dan melahirkan adalah 20 sampai 35 tahun, lebih atau

kurang dari usia tersebut adalah beresiko. Kesiapan seorang perempuan untuk

hamil dan melahirkan atau mempunyai anak di tentukan dalam tiga hal, yaitu

kesiapan fisik kesiapan mental/emosi/psikologis dan kesiapan sosial/ekonomi.

Secara umun seorang perempuan dikatakan siap secara fisik jika telah

menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya (ketika tubuhnya berhenti tumbuh),

yaitu sekitar usia 20 tahun. Sehingga usia 20 tahun bisa di jadikan pedoman

kesiapan fisik. Selain itu jumlah aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai

2,3 juta pertahun.

Tahun 2012 survei Kesehatan dan Kependudukan Indonesia

menunjukkan peningkatan jumlah kelahiran oleh ibu-ibu muda yang berusia

antara 15 dan 19 tahun.


Menurut sosiolog pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi

keluarga hasil susenas 2012 ikatan dalam perkawinan di Provinsi Bengkulu


3

lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata Usia Kawin Pertama yaitu 18,93

tahun dibandingkan dengan UKP sebesar 19,64 tahun, keretakan perkawinan

dari keluarga yang melakukan pernikahan dini disebabkan oleh emosi yang

masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang selain itu

bagi remaja perempuan akan menghadapi diskriminasi, dihadapkan pada

proses kehamilan dan melahirkan secara fisik, emosional dan sosial belum

siap untuk menjadi seorang ibu.


Data dari BKKBN kota didapat bahwa jumlah pasangan usia subur

(PUS) terbanyak di kecamatan Ratu Agung yaitu 9.462 pasangan usia subur

dan Kecamatan Selebar 10.456 pasangan usia subur, di KUA Kecamatan

Selabar Kota Bengkulu merupakan KUA dengan jumlah pernikahan dini

ternanyak dan pada bulan januari sampai desember 2013 ada sebanyak 551

pernikahan dan wanita yang menikah < 20 tahun 14,51% atau sebanyak 80

orang dan pada tahun 2014 dari 415 pernikahan 14,45% atau sebanyak 60

orang, survey awal yang dilakukan terhadap 10 pasang yang menikah di

wilayah kerja Puskesmas Basuki Rahmat kecamatan Selabar 6 diantaranya

menikah usia dini setelah ditanya pendidikan terakhirnya adalah SMP, mereka

tidak mengetahui resiko menikah usia dini kemudian tingkat penghasilannya

orang tua tergolong rendah yaitu rata-rata Rp. 500.000/bulan. Menurut Badan

Pusat Statistik (BPS) Upah Minimum Rendah (UMR) 2014 apabila

penghasilan keluarga Rp. <1. 350.000.


Berdasarkan fenomena diatas penulis tertarik untuk melakukan

penelitian untuk mengetahui Apakah ada hubungan antara pendidikan,

pengetahuan dan status ekonomi dengan kejadian pernikahan dini di

Kecamatan Selebar kota Bengkulu.


4

B; Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan permasalahan

dalam penelitian yaitu : Apakah ada hubungan antara pengetahuan, pendidikan

dan status ekonomi dengan kejadian pernikahan dini di Kecamatan Selebar

kota Bengkulu.

C; Tujuan Penelitian
1; Tujuan Umum
Untuk mempelajari hubungan antara pengetahuan, pendidikan dan

setatus ekonomi dengan kejadian pernikahan dini di kecamatan Selebar

kota Bengkulu.
2; Tujuan Khusus
a; Untuk mengetahui gambaran distribusi prekuensi tentang kejadian

pernikahan dini di Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.


b; Untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi pendidikan di

Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.


c; Untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi tentang pengetahuan

pernikahan dini di Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.


d; Untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi status ekonomi di

Kecamata Selebar Kota Bengkulu.


e; Untuk mengetahui hubungan pendidikan dengan kejadian pernikahan

dini di Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.


f; Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kejadian pernikahan

dini di Kecamatan Selebar Kota Bengkulu Tahun.


g; Untuk mengetahui hubungan status ekonomi dengan kejadian

pernikahan dini di Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.

D; Manfaat Penelitian
1; Bagi STIKES TMS Bengkulu
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang

pernikahan dini dan meningkatkan pengetahuan kepada mahasiswa

STIKES TMS Bengkulu


5

2; Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai masukan untuk

meningkatkan pengetahuan peneliti tentang pernikahan dini.


3; Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai masukan untuk

meningkatkan pengetahuan tenteng pernikahan dini guna menurunkan

angka pernikahan dini di Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.


4; Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini berguna sebagai pengalaman untuk

melaksanakan penelitian dalam bidang pernikahan dini.