Anda di halaman 1dari 26

PENGARUH PERUBAHAN NILAI TUKAR VALUTA ASING

Oleh :

Muhammad Aliza Shofy

Wima Rakayana

Joint Program Pendidikan Profesi Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Brawijaya

2017

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Entitas dapat melakukan aktivitas luar negeri dalam dua cara. Entitas mungkin
memiliki transaksi dalam valuta asing atau memiliki kegiatan usaha luar negeri. Sebagai
tambahan, entitas dapat menyajikan laporan keuangannya dalam valuta asing. Kegiatan
usaha luar negeri dapat berupa suatu anak perusahaan, perusahaan asosiasi, joint venture
atau cabang perusahaan pelapor yang aktivitasnya dilaksanakan di suatu negara di luar
negara perusahaan pelapor. Kegiatan usaha tersebut dapat merupakan suatu bagian
integral dari suatu perusahaan pelapor atau suatu entitas asing. Pernyataan ini mengatur
akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing yang meliputi penentuan kurs yang
digunakan dan pengakuan pengaruh keuangan dari perubahan kurs vauta asing dalam
laporan keuangan.
Pada bulan Maret 2010, DSAK mengesahkan PSAK 10 Pengaruh Perubahan
Kurs Valuta Asing yang menggantikan PSAK 10 Revisi 1994 Transaksi dalam Mata
Uang Asing dan juga menarik dua PSAK lainnya yakni PSAK 11 Penjabaran Laporan
Keuangan dalam Mata Uang Asing dan PSAK 52 Mata Uang Pelaporan. Pada bulan
Agustus 2014 DSAK mengesahkan penyesuaian atas PSAK 10 tentang Pengaruh
Perubahan Kurs Valuta Asing yang menggantikan PSAK 10 Revisi 2010. Sehingga
dengan terbitnya PSAK 10 ini, akuntansi untuk transaksi dan pelaporan laporan
keuangan dengan valuta asing juga mengenai mata uang pelaporan diatur dalam satu
PSAK yakni PSAK 10 Revisi 2014.
PSAK 10 Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing secara khusus mengatur
tentang dua aspek akuntansi untuk pengaruh perubahan kurs valuta asing. Pertama,
mengenai akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing dan yang kedua mengenai
penjabaran dari laporan keuangan. Pernyataan ini diterapkan pada ruang lingkup (1)
akuntansi transaksi dan saldo dalam mata uang asing kecuali transaksi dan saldo derivatif
(PSAK 55); (2) menjabarkan hasil dan posisi keuangan dari kegiatan usaha luar negeri
yang termasuk dalam laoran keuangan entitas secara konsolidasi, proporsional atau
metode ekuitas; (3) menjabarkan hasil dan posisi keuangan suatu entitas ke dalam mata
uang penyajian. PSAK 10 berlaku efektif untuk laporan keuangan yang mencakup
periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2015.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi mata uang fungsional dan mata uang pelaporan?
2. Bagaimana akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing?
3. Bagaimana penjabaran laporan keuangan?
4. Bagaimana translasi laporan keuangan?
5. Bagaimana anak perusahaan dan perusahaan asosiasi asing?
6. Bagaiman persyaratan pengungkapan?
7. Bagaimana ketentuan transisi?
8. Bagaimana perbedaan PSAK 10 dengan standar IASB?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui mata uang fungsional dan mata uang pelaporan.
2. Mengetahui akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing.
3. Mengetahui penjabaran laporan keuangan.
4. Mengetahui translasi laporan keuangan.
5. Mengetahui anak perusahaan dan perusahaan asosiasi asing.
6. Mengetahui persyaratan pengungkapan.
7. Mengetahui ketentuan transisi.
8. Mengetahui perbedaan PSAK 10 dengan standar IASB.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Mata Uang Fungsional dan Mata Uang Pelaporan


2.1.1 Mata Uang Fungsional
Mata Uang Fungsional (mata uang pengukuran) adalah mata uang yang
digunakan dalam transaksi pengukuran (yaitu untuk mencatat ayat jurnal dan akun-
akun buku besar). PSAK 10 mensyaratkan bahwa suatu entitas harus mengukur
transaksinya menggunakan mata uang fungsionalnya dan memperbolehkan entitas

3
untuk menyajikan laporan keuangannya menggunakan mata uang apa saja. Namun
PSAK 10 paragraf 38 juga menegaskan bahwa mata uang pelaporan di Indonesia
umumnya adalah rupiah. Jika entitas mengadakan transaksi dalam mata uang yang
berbeda dengan mata uang fungsionalnya, maka entitas itu harus menghitung
transaksi tersebut dalam mata uang fungsionalnya. Misalnya saja perusahaan
Indonesia yang mayoritas transaksinya menggunakan mata uang asing semisal dolar
AS, maka mata uang fungsionalnya adalah dolar AS dan bila perusahaan tersebut
memiliki transaksi rupiah, maka rupiah dianggap sebagai mata uang asing oleh
perusahaan.
Jika laporan keuangan suatu perusahaan hendak disajikan dalam mata uang
yang berbeda dengan mata uang fungsionalnya, maka perusahaan harus
menjabarkan laporan keuangan. Jika anak perusahaan dan perusahaan asosiasi
menyajikan laporan keuangan mereka dalam mata uang yang berbeda dengan mata
uang pelaporan induk perusahaan, maka induk perusahaan harus menjabarkan
laporan keuangan. PSAK 10 mendefinisikan mata uang fungsional entitas sebagai
mata uang di lingkungan ekonomi utama dimana entitas itu beroperasi (paragraf 8).
PSAK 10 menjelaskan bahwa lingkungan ekonomi utama dimana entitas beroperasi
biasanya adalah lingkungan tempat utamanya entitas menghasilkan dan
mengeluarkan kas (paragraf 9). Selain itu, PSAK 10 mensyaratkan entitas untuk
mempertimbangkan faktor-faktor berikut dalam menentukan mata uang
fungsionalnya (paragraf 9):
1. Mata uang utama yang mempengaruhi harga jual barang dan jasa
2. Mata uang utama yang mempengaruhi biaya tenaga kerja, bahan baku, dan
biaya lainnya dalam penjualan barang dan jasa.
Jika kedua faktor di atas tumpang tindih, maka PSAK 10 menyatakan bahwa
suatu entitas juga dapat mempertimbangkan bukti pendukung lain berikut dalam
menentukan mata uang fungsionalnya (paragraf 10):
1. Mata uang yang digunakan dalam menghasilkan aktivitas pendanaan
2. Mata uang yang digunakan dalam menahan pendapatan dari aktivitas operasi
Dalam menentukan mata uang fungsional entitas anak atau entitas asosiasi di
luar negeri (dan operasi di luar negeri lainnya) dan menentukan apakah mata uang
fungsionalnya sama dengan mata uang fungsional entitas induk mempertimbangkan
faktor-faktor tambahan berikut (paragraf 11):
1. Apakah aktivitas operasi di luar negeri dilakukan sebagai perpanjangan entitas
induk.

4
2. Apakah transaksi dengan entitas induk memiliki proporsi yang tinggi atau
rendah dengan aktivitas operasi di luar negeri
3. Apakah arus kas dari aktivitas operasi di luar negeri berpengaruh secara
langsung terhadap arus kas entitas induk.
4. Apakah arus kas dari aktivitas dari kegiatan luar negeri cukup untuk membayar
kewajiban utang yang ada
Apabila indikator-indikator diatas tumpang tindih dan mata uang operasional
tidak jelas, PSAK 10 mensyaratkan bahwa manajemen menggunakan penilaiannya
untuk menetukan mata uang fungsional yang paling mencerminkan pengaruh
ekonomi dari transaksi, peristiwa dan kondisi (paragraf 12).

Ilustrasi:
Skenario 1
PT. Merkurius merupakan entitas yang didirikan di Indonesia. Sebagian besar transaksi
penjualan, pembelian, dan pengeluaran operasi dilakukan menggunakan mata uang rupiah
(Rp).
Dengan demikian, mata uang fungsional PT. Merkurius adalah Rupiah (Rp).

Skenario 2
PT. Venus merupakan entitas yang didirikan di Indonesia. Sebagian besar transaksi
penjualan, pembelian, dan pengeluaran operasi dilakukan menggunakan mata uang dolar
AS (USD).
Dengan demikian, mata uang fungsional PT. Venus adalah dolar AS (USD).
Skenario 3
PT. Mars merupakan entitas yang didirikan di Indonesia. PT. Mars membeli sebagian
persediannya dari AS dengan menggunakan mata uang dolar AS (USD). Oleh karena itu,
PT. Mars menentukan harga jual berdasarkan USD, meskipun harga jual dicatat dalam
Rupiah (Rp). Selain itu, PT. Mars membayar manajemen puncak dalam Rupiah (Rp)
namun jumlah renumerasi disetarakan dengan USD yang dibayarkan kepada manajemen
puncak serupa di entitas-entitas AS.
Dengan demikian, mata uang fungsional PT. Mars adalah dolar AS (USD).

PSAK 10 menyatakan bahwa setelah ditentukan, mata uang fungsional tidak


boleh diubah, kecuali terjadi perubahan transaksi, peristiwa, atau kondisi (paragraf

5
13). Jika diubah, maka mata uang fungsionalnya harus diperhitungkan secara
prospektif sejak tanggal perubahan itu (paragraf 35).

2.1.2 Mata Uang Penyajian


Mata uang penyajian adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan
laporan keuangan (yaitu laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan pendapatan
komperehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas). Jika mata uang
penyajian berbeda dengan mata uang fungsional, maka entitas harus menjabarkan
laporan keuangan (translasi) sesuai dengan mata uang penyajian.

2.2 Akuntansi untuk Transaksi dalam Mata Uang Asing


Transaksi dalam mata uang asing terjadi ketika entitas mengadakan transaksi
dalam mata uang yang berbeda dengan mata uang fungsionalnya. Dalam akuntansi untuk
transaksi dalam mata uang asing, terdapat isu mengenai kurs mana yang digunakan untuk
menyaji ulang dan bagaimana cara menangani perbedaan kurs yang timbul. PSAK 10
mengatur tentang kurs valuta asing mana yang digunakan untuk menyajikan ulang mata
uang asing ke dalam mata uang fungsional, yaitu sebagai berikut:
1. Pada saat pengakuan awal
Suatu transaksi dalam mata uang asing harus dicatat sesuai dengan nilai tukar
spot pada tanggal transaksi. Namun untuk alasan kepraktisan, PSAK 10
memperbolehkan penggunaan kurs (nilai tukar) yang mendekati nilai tukar spot pada
tanggal transaksi (paragraf 22). Misalnya kurs rata-rata satu bulan dapat digunakan
untuk menyajikan ulang seluruh transaksi dalam mata uang asing yang terjadi selama
bulan tersebut. Namun jika kurs berfluktuasi secara signifikan maka penggunaan kurs
rata-rata untuk periode itu menjadi tidak tepat (paragraf 22).
2. Pada setiap tanggal pelaporan
Pos-pos moneter dalam mata uang asing harus disajikan ulang menggunakan kurs
penutup
Pos-pos nonmoneter yang dicatat pada biaya historis harus dilaporkan
menggunakan kurs tanggal transaksi
Pos-pos nonmoneter yang dicatat pada nilai wajar harus disajikan ulang
menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan.

Ilustrasi 1:
PT. ABC merupakan entitas yang didirikan di Indonesia yang pelaporan keuangannya
berakhir pada tanggal 31 Desember dan menggunakan rupiah sebagai mata uang

6
fungsionalnya. Pada tanggal 15 Mei 2012, PT. ABC membeli barang seharga US$ 100.000
dari PT. XYZ dimana kurs pada saat itu US$ 1 = Rp. 9.000. PT. XYZ merupakan entitas
yang didirikan di Amerika yang menggunakan dolar Amerika (US$) sebagai mata uang
fungsionalnya.
Berdasarkan PSAK 10, transaksi ini harus dicatat sesuai nilai tukar spot pada tanggal
transaksi yaitu sebagai berikut:
Db. Pembelian Rp. 900.000.000
Kr. Utang Usaha Rp. 900.000.000
(Mencatat pembelian pada tanggal 15 Mei 2012)

Illustri 2:
Diasumsikan pada tanggal 31 Desember 2012 utang dagang PT. ABC pada ilustrasi di atas
belum dibayar. Kurs yang berlaku pada tanggal 31 Desember 2012 adalah $1 = Rp. 10.500.
Dengan demikian utang usaha harus disajikan ulang menggunakan kurs penutup (31
Desember 2012) sebesar Rp. 1.050.000.000.
Db. Rugi Kurs Rp 150.000.000
Kr. Utang Usaha Rp. 150.000.000

Ilustrasi 3:
Pada tanggal 5 juni 2012 PT. ABC juga melakukan transaksi pembelian sebidang tanah di
Australia untuk tujuan investasi. Sesuai dengan PSAK 13, PT. ABC memutuskan
menggunakan metode biaya untuk memperhitungkan properti investasi tersebut. Biaya
perolehan tanah adalah sebesar US$ 4.000.000 dimana kurs yang berlaku pada tanggal 5
Juni 2012 adalah 1 US$ = Rp. 9.500 sementara kurs yang berlaku pada tanggal 31
Desember 2012 1 US$ = Rp. 9.700.
Dalam ilustrasi ini, properti investasi akan diakui tanggal 5 Juni 2014 sebesar Rp.
38.000.000.000 ( US$ 4.000.000 x Rp. 9.500). Karena properti investasi merupakan pos
nonmoneter yang dicatat pada nilai historis, maka penyajian nilai properti investasi pada
tanggal 31 Desember 2012 adalah tetap sebesar Rp. 38.000.000.000 (sesuai dengan nilai
pada tanggal transaksi).

Ilustri 4:

7
Pada tanggal 1 Oktober 2012, PT. ABC membeli kepemilikan saham beberapa entitas di
Amerika untuk tujuan spekulasi. Berdasarkan PSAK 55, perhitungan investasi dalam
sekuritas dilakukan berdasarkan nilai pasar (market to market). Biaya investasi saham yang
dikeluarkan PT. ABC adalah sebesar US$ 120.000 dan harga tercatatnya pada tanggal 31
Desember 2012 adalah sebesar US$ 165.000. Sementara nilai kurs pada tanggal 1 Oktober
2012 dan 31 Desember 2012 masing-masing adalah US$1 = Rp. 9.700 dan US$1 = Rp.
9.600.
Pada ilustrasi ini, investasi dalam sekuritas yang diakui pada tanggal 1 Oktober 2012 pada
jumlah Rp. 1.164.000.000 (US$ 120.000 x Rp. 9.700).
Karena investasi dalam sekuritas merupakan pos nonmoneter, maka pada tanggal 31
Desember 2012 harus disajikan ulang menggunakan kurs penutup yaitu sebesar Rp.
1.584.000.000 (US$ 165.000 x Rp. 9.600).

2.2.1 Moneter vs Nonmoneter


Pos moneter adalah unit dari mata uang yang dipegang atau aset dan liabilitas
yang akan diterima atau dibayarkan dalam jumlah mata uang yang tetap dan dapat
dipastikan. Sebaiknya, pos nonmoneter tidak memiliki jumlah yang tetap dan tidak
dipastikan. Contoh dari pos nonmoneter termasuk:
1. Biaya dibayar dimuka dan pendapatan diterima dimuka, karena tidak ada uang
yang dibayarkan atau diterima di masa yang akan datang.
2. Sekuritas ekuitas seperti saham, karena penerimaan di masa yang akan datang
tidak tetap dan tidak dapat ditentukan.
Sementara kebanyakan sekuritas utang merupakan pos moneter karena arus kasnya
tetap dan dapat dipastikan.

2.2.2 Selisih kurs


Untuk pos moneter yang dinyatakan dalam mata uang asing, perubahan kurs
valuta asing antara tanggal transaksi dan tanggal penyelesaian akan menimbulkan
selisih kurs. Secara teoritis terdapat dua cara untuk menangani selisih kurs:
1. Perspektif satu transaksi
Perspektif ini memandang transaksi dagang dan transaksi pelunasan sebagai
transaksi tunggal dan selisih kurs akan disesuaikan dengan transaksi dagang.
2. Perspektif dua transaksi
Perspektif ini memandang transaksi dagang dan transaksi pelunasan sebagai dua
transaksi yang berbeda dan selisih kurs akan dicatat secara terpisah sebagai laba
atau rugi selisih kurs.

8
PSAK 10 paragraf 28 mensyaratkan menggunakan perspektif dua transaksi,
sehingga selisih kurs yang muncul diakui sebagai pendapatan atau beban pada periode
terjadinya. Perpesktif dua transaksi dalam paragraf 28 juga berlaku untuk selisih kurs
yang belum direalisasi, yaitu selisih kurs yang timbul akibat perubahan kurs antara
tanggal transaksi dan tanggal pelaporan.

Ilustrasi 1:
PT. BATIK merupakan entitas yang didirikan di Indonesia yang pelaporan keuangannya
berakir pada tanggal 31 Desember dan menggunakan Rupiah sebagai mata uang fungsional.
Pada tanggal 12 Juli 2012 PT. BATIK membeli barang senilai US$ 10.000 dari PT. SAM.
PT. SAM merupakan entitas yang didirikan di Ametika yang menggunakan dolar Amerika
(US$) sebagai mata uang fungsional. Pada tanggal 20 November 2012 PT. BATIK
melakukan pelunasan atas utang usahanya. Kurs pada tanggal 12 Juli 2012 dan 20
November 2012 masing-masing adalah US$1 = Rp. 9.400 dan US$1 = Rp. 9.600.

Perspektif Satu Transaksi


12 Juli 2012
Db. Persediaan Rp. 94.000.000
Kr. Utang Usaha Rp. 94.000.000
(mencatat pembelian)

20 November 2012
Db. Pembelian Rp. 2.000.000
Kr. Utang Usaha Rp 2.000.000
(mencatat selisih kurs)
Db. Utang Usaha Rp. 96.000.000
Kr. Kas Rp. 96.000.000
(mencatat pelunasan utang)

Perspektif Dua Transaksi


12 Juli 2012
Db. Persediaan Rp. 94.000.000
Kr. Utang Usaha Rp. 94.000.000
(mencatat pembelian)

9
20 November 2012
Db. Rugi kurs Rp. 2.000.000
Kr. Utang Usaha Rp. 2.000.000
(mencatat selisih kurs)
Db. Utang Usaha Rp. 96.000.000
Kr. Kas Rp. 96.000.000
(mencatat pelunasan utang)

Ilustrasi 2:
Jika ilustrasi 1 baru dilunasi pada tanggal 8 Februari 2013 dimana kurs pada tanggal 31
Desember 2012 dan 8 Februari 2013 masing-masing adalah sebesar Rp. 9.500 dan Rp.
9.700, maka pencatatan akuntansi berdasarkan PSAK 10 (perspektif dua transaksi) adalah
sebagai berikut:
12 Juli 2012
Db. Persediaan Rp. 94.000.000
Kr. Utang Usaha Rp 94.000.000
(mencatat pembelian)
31 Desember 2012
Db. Rugi Kurs Rp. 1.000.000
Kr. Utang Usaha Rp. 1.000.000
(mencatat selisih kurs belum direlisasi)

8 Februari 2013
Db. Rugi Kurs Rp. 2.000.000
Kr. Utang Usaha Rp. 2.000.000
(mencatat selisih kurs)
Db. Utang Usaha Rp. 97.000.000
Kr. Kas Rp. 97.000.000
(mencatat pelunasan utang)

2.3 Penjabaran Laporan Keuangan


Merujuk pada PSAK 10, ada dua skenario dimana penjabaran laporan keuangan
dianggap perlu:

10
1. Ketika mata uang pelaporan suatu entitas tidak sama dengan mata uang
fungsionalnya.
2. Ketika untuk kepentingan penyajian laporan keuangan konsolidasian, mata uang
pelaporan anak perusahaan dan perusahaan asosiasi tidak sama dengan induk
perusahaan.
Dalam penjabaran laporan keuangan mata uang asing, dua persoalan akuntansi akan
muncul:
1. Manakah kurs yang akan digunakan untuk menjabarkan berbagai laporan posisi
keuangan serta pos-pos laba rugi.
2. Bagaimana menangani perbedaan kurs (perbedaan penjabaran) yang diakibatkan oleh
penjabaran ini.
Perbedaan penjabaran terjadi ketika pos-pos dijabarkan dengan menggunakan kurs
yang berbeda dalam laporan keuangan suksesif (atau dalam laporan keuangan yang
berbeda pada periode yang sama). Berkenaan dengan operasional asing, jumlah kumulatif
selisih kurs dari perbedaan penjabaran dalam ekuitas tersebut harus dikembalikan ke
laporan laba rugi setelah pelepasan operasional asing (paragraf 48). Dalam penghitungan
penjabaran, prinsip dasar yang harus diingat adalah penjabaran hanya muncul dari pos-
pos yang dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berbeda untuk periode akuntasi
suksesif (atau dalam laporan keuangan yang berbeda pada periode yang sama).
PSAK 10 mengharuskan diterapkannya metode kurs penutup. Perbedaan
penjabaran dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
(Aset neto awal x (kurs penutup tahun berjalan kurs penutup tahun lalu))
Pos laba rugi dijabarkan dengan menggunakan kurs rata-rata dan bukan kurs penutup,
perbedaan penjabaran lain akan muncul, yang dapat dihitung dengan menggunakan
rumus:
(saldo laba tahun tersebut x (kurs penutup tahun berjalan kurs rata rata tahun
berjalan)
Perbedaan penjabaran yang dihitung menghasilkan laba/rugi penjabaran untuk
tahun berjalan. Laporan posisi keuangan akhir dari cadangan penjabaran dihitung sama
dengan laporan posisi keuangan awal dari cadangan penjabaran (didapatkan dari laporan
keuangan tahun lalu telah dijabarkan) plus atau minus perbedaan penjabaran tahun
berjalan (hasil dari rumus).
2.4 Translasi dan remeasurement atas laporan keuangan dalam mata uang asing

11
Translasi adalah mengubah mata uang fungsional entitas anak atau operasi diluar negeri
menjadi mata uang fungsional entitas induk. Translasi atas laporan keuangan dari entitas anak
atau operasi menggunakan mata uang asing dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Aset dan liabilitas ditranslasi menggunakan kurs pada tanggal pelaporan


2. Transaksi ekuitas ditranslasi menggunakan kurs pada tangga transaksi
3. Pendapatan dan beban ditranslasi menggunakan kurs pada tanggal translasi, namun
dapat juga menggunakan kurs rata-rata
4. Perbedaan yang timbul dari translasi diakui sebagai penghasilan komprehensif lain.
5. Laporan arus kas ditranslasi menggunakan kurs pada tanggal transaksi, namun juga
dapat menggunakan kurs rata-rata, dan
6. Sebagai catatan, penggunaan kurs rata-rata untuk pendapatan dan beban
diperbolehkan apabila fluktuasi kurs selama periode pelaporan keuangan cenderung
stabil.

Jika mata uang fungsional dari entitas anak atau operasi diluar negeri sama dengan mata
uang lokal/ pelaporan tempat entitas anak atau operasi berada diluar negeri, maka proses
translasi dapat langsung dilakukan. Sementara jika mata uang fungsional entitas anak atau
operasi di luar negeri tidak sama dengan mata uang lokal/ pelaporan tempat entitas anak atau
operasi di luar negeri berada, maka harus dilakukan proses remeasurement terlebih dahulu
baru dilakukan proses translasi jika mata uang fungsional entitas anak atau operasi di luar
negeri tidak sama dengan mata uang fungsional entitas induk. Proses remeasurement
merupakan proses restatement untuk mengubah laporan keuangan entitas anak atau operasi di
luar negeri menjadi mata uang fungsionalentitas anak atau operasi diluar negeri.

Mata uang fungsional merupakan mata uang yang digunakan dalam transaksi entitas.
Sementara mata uang lokal adalah mata uang yang digunakan di negara tempat entitas
berada. Mata uang fungsional belum tentu sama dengan mata uang lokal.

Konsep Pengukuran Kembali (remeasurement) mengatakan bahwa untuk mengubah


mata uang pelaporan dari satu mata uang ke mata uang yang lain, diperlakukan dengan cara
memperlakukan mata uang yang baru sebagai mata uang pencatatan mulai saat transaksi
terjadi. Sehingga disini apabila sebuah perusahaan memiliki saldo kendaraan pada Neraca
tanggal 31 Januari 1999 sebesar Rp 90.000.000,00 kendaraan ini dibeli sejak tanggal 29
Desember 1998 dimana kurs saat itu USD 1 = Rp 6.000,00. Kalau kurs pada tanggal neraca
USD 1 = Rp 9.000,00 dan perusahaan ingin mengganti mata uang pelaporannya menjadi

12
USD maka perusahaan tersebut harus melaporkan saldo kendaraannya sebesar USD 15.000,
(Rp 90.000.000,00 \ Rp 6.000,00) bukan USD 10.000, (Rp 90.000.000,00 / Rp 9.000,00).

Ilustrasi :
Perusahaan inggris bernama apel Co. memiliki 100% kepemilikan saham di perusahaan
subsidiarinya yaitu pineapple co. yang beroperasi di Amerika Serikat. Kemungkinan
terjadinya translasi/ remeasurement atas pineapple Co. adalah sebagai berikut :

Mata uang Mata uang pencatatan Prosedur yang diperlukan untuk


fungsional akuntansi konsolidasi
Case 1 Pounds Pounds Translasi
Case 2 US dollar Pounds Remeasurement
Case 3 Euro Pounds Translasi dan remeasurement

2.5 Anak perusahaan dan Perusahaan asosiasi asing

PSAK memperbolehkan sebuah entitas untuk menggunakan mata uang penyajian yang
berbeda dengan mata uang fungsionalnya. Jika mata uang penyajian entitas anak dan entitas
asosiasi sama dengan entitas induk, maka entitas induk hanya tinggal mengkonsolidasikan
laporan keuangannya menurut PSAK 65 dan PSAK 15. Namun jika mata uang pelaporan
entitas anak dan entitas asosiasi tidak sama dengan entitas induk, maka entitas induk harus :

1. Menjabarkan laporan keuangan entitas anak dan entitas asosiasi asingnya berdasarkan
PSAK 10
2. Mengkonsolidasikan laporan keuangannya berdasarkan PSAK 65 dan 15.

Namun pada sebagian besar dari masalah yang terjadi adalah mata uang pelaporan dari anak
perusahaan dan entitas asosiasi berbeda dengan induk perusahaan.

2.6 Proses konsolidasi

Setelah menjabarkan laporan keuangan anak perusahaan dan perusahaan asosiasi asing,
langkah selanjutnya adalah mengkonsolidasikan laporan keuangan anak perusahaan asing
berdasarkan PSAK 4 dan laporan ekuitas perusahaan asosiasi asing berdasarkan PSAK 15
dalam laporan konsolidasian induk perusahaan.

1. Anak perusahaan asing

13
Setelah dijabarkan, lapran keuangan anak perusahaan asing akan disajikan dalam
mata uang pelaporan yang sama dengan induk perusahaan dan proses konsolidasi
akan mengikuti prosedur konsolidasi normal sebagaimana yang diisyaratkan oleh
PSAK 4, seperti penghapusan transaksi antar perusahaan dan laporan posisi keuangan
antar perusahaan. Namun ada dua persoalan yang harus dijelaskan lebih jauh

2. Goodwill pada konsolidasi


Umumnya, goodwill pada konsolidasi dapat dianggap sebagai jumlah yang dibayar
untuk :
1. Aset anak perusahaan
2. Aset grup perusahaan

Dalam kasus ketika goodwill muncul pada akuisisi entitas asing, jumlah goodwill yang
dilaporkan dalam laporan konsolidasi akan berbeda, tergantung pada pandangan yang dianut.
PSAK 10 menganut pandangan bahwa goodwill adalah aset milik entitas asing. Sebagaimana
halnya aset milik asing, PSAK 10 mensyaratkan goodwill dijabarkan dengan menggunakan
kurs penutup (akhir tahun).

Perlu dicatat bahwa pandangan umum yang diterima di Indonesia sebelum PSAK 10
berlaku adalah bahwa goodwill pada konsolidasi hanya muncul selama proses konsolidasi,
dan karenanya permasalahan penjabaran goodwill tidak akan muncul.

Ilustrasi :

Tanggal 31 desember 20x1, PT apel (Indonesia, mata uang fungsional dan pelaporannya
adalah rupiah/RP.) memperoleh 60% kepemilikan PT nanas (singapura, mata uang fungsional
dan pelaporannya adalah dolar singapura/S$ dengan biaya sebesar Rp.300 miliar. Pada saat
itu, aset neto PT nanas direpresentasikan dengan modal saham sebesar S$100 juta, dan kurs
pada saat itu adalah S$1= Rp.2000. Pada tanggal 31 desember kursnya menjadi S$1 =
Rp.2500, sedangkan pada 31 desember 20x3 menjadi S$1 = Rp.2200.

Goodwill pada saat konsolidasi 20x1= Rp. 300M : Rp. 2000 M= Rp.150.000 - 60 % aset neto
dari total S$ 200 juta, maka goodwillnya S$ 150 juta- S$ 120= S$. 30 juta

maka jurnal untuk tahun 20x1 :


Modal saham(60% x 100 x 2) Rp.120
Saldo laba(60% x 100 x 2) Rp.120
Goodwill Konsolidasi Rp.60

14
Investasi pada PT. nanas Rp.300
(Goodwill : S$.30 juta x Rp. 2000 = Rp. 60)

Jurnal tahun 20x2 :


Modal saham(60% x 100 x 2) Rp.120
Saldo laba(60% x 100 x 2) Rp.120
Goodwill Konsolidasi Rp.60
Investasi pada PT. nanas Rp.300

(penjabaran akun goodwill)


Goodwill pada konsolidasi Rp.15
Keuntungan penjabaran Rp.15
(Goodwill : S$.30 juta x Rp. 2500 = Rp. 75)

Jurnal konsolidasi tahun 20x3


Modal saham(60% x 100 x 2) Rp.120
Saldo laba(60% x 100 x 2) Rp.120
Goodwill Konsolidasi Rp.60
Investasi pada PT. nanas Rp.300

(penjabaran akun goodwill)


Goodwill pada konsolidasi Rp.6
Keuntungan penjabaran Rp.9
Cadangan penjabaran awal Rp.15
(Goodwill : S$.30 juta x Rp. 2200 = Rp. 66)

2.7 Pengaruh Perpajakan (PSAK 46)


Keuntungan atau kerugian pada transaksi mata uang asing dan selisih nilai tukar yang
timbul pada penjabaran hasil dan posisi keuangan dari suatu entitas ke dalam suatu mata uang
yang berbeda mungkin memiliki pengaruh pajak. Dalam PSAK 46, yang menjadi sasaran
untuk dikenakan pajak adalah terkait dengan perbedaan pertukaran karena translasi laporan
keuangan operasional luar negeri. Tarif pajak dari perbedaan karena translasi ini adalah
sebesar 25%.

2.8 Pengungkapan
Berikut adalah beberapa kriteria terkait pengungkapan bagi entitas yang pelaporan kegiatan
operasinya dipengaruhi oleh PSAK 10 :

15
1. Jumlah dari selisih kurs yang diakui dalam laba rugi kecuali untuk selisih kurs yang
timbul pada instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajarnya melalui laba atau
rugi PSAK 55 (revisi 2006).
2. selisih kurs neto diakui dalam pendapatan komprehensif lain dan diakumulasikan
dalam komponen ekuitas terpisah, serta rekonsiliasi kurs tersebut pada awal dan akhir
periode
3. jumlah dari selisih kurs yang diakui dalam laba rugi kecuali untuk selisih kurs yang
timbul pada instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajarnya melalui laba atau
rugi PSAK 55 (revisi 2006)
4. Ketika terdapat suatu perubahan dalam mata uang fungsional dari entitas pelapor
maupun dari suatu kegiatan usaha luar negeri yang signifikan, fakta tersebut dan
alasan untuk perubahan dalam mata uang fungsional harus diungkapkan.
5. Ketika entitas menyajikan laporan keuangan dalam mata uang yang berbeda dengan
mata fungsionalnya, maka entitas menjelaskan bahwa laporan keuangan mereka
tunduk pada SAK hanya jika entitas mematuhi semua persyaratan dari setiap
Pernyataan dan setiap Interpretasi dari Pernyataan yang berlaku termasuk metode
penjabaran sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 37.
6. Entitas menyajikan laporan keuangan dalam mata uang yang berbeda dari mata uang
fungsionalnya maupun dari mata uang pelaporannya, dan persyaratan-persyaratan dari
paragraf 52 tidak dipenuhi, maka entitas
a. mengidentifikasikan secara jelas informasi sebagai informasi tambahan untuk
membedakannya dari informasi yang tunduk dengan PSAK
b. mengungkapkan mata uang di mana informasi tambahan tersebut disajikan
c. mengungkapkan mata uang di mana informasi tambahan tersebut disajikan

2.9 Investasi neto pada kegiatan usaha luar negeri

1. Ruang lingkup investasi neto dalam kegiatan usaha luar negeri


Sebuah perusahaan memiliki pos moneter yang diterima dari atau dibayarkan ke
kegiatan usaha luar negeri. Pos yang penyelesaiannya tidak direncanakan atau tidak
memiliki kemungkinan dilaksanakan dimasa mendatang. Secara substansi, adalah
bagian dari investasi neto dari perusahaan tersebut dalam kegiatan luar usaha luar
negeri. Hal ini telah dijelaskan dalam PSAK 10 paragraf 15.
2. Pengakuan selisih kurs
Paragraf 30 dari PSAK 10 menetapkan bahwa selisih kurs yang muncul dari pos
moneter yang membentuk bagian dari investasi neto suatu entitas dalam kegiatan
usaha luar negeri dan dinyatakan baik dalam mata uang fungsional dari entitas yang
melaporkanmaupun dari perusahaan diluar negeri yang diakui dalam laporan laba rugi

16
komprehensif perusahaan pelapor atau perusahaan di luar negeri, tetapi akan
diklasifikasikan kembali ke kekomponen ekuitas yang terpisah dalam laporan
keuangan yang meliputi perusahaan asing dan perusahaan pelapor.

Contoh ilustrasi dari translasi :

BritCo adalah perusahaan asal inggris yang merupakan anak perusahaan dari DollarCo asal
Amerika Serikat. DollarCo mengakuisisi BritCo ketika kurs 1 = US$1.10; sedangkan kurs
pada tanggal lainnya:

1 Januari, x6 1 = US$1.20

31 Desember 31, x6 1 = US$1.40

Rata-rata pada tahun x6 1 = US$1.30

Pencatatan piutang, hutang, dan hutang jangka panjang dinyatakan dalam mata uang lokal
(). Saldo laba dalam mata uang dolar pada 31 Desember x5 adalah $60,000. Nilai
Kumulatif Penyesuaian Penjabaran translasi mata uang asing pada 31 Desember x5
sebesar $30,000 (Cr.).

Berikut adalah neraca saldo BritCo tahun x6 :

BritCos
Neraca Saldo
pada 31 Desember x6
KETERANGAN Debet Kredit
Kas 100,000
Piutang 300,000
Persediaan, at cost 500,000
Beban dibayar dimuka 25,000
Peralatan dan Bangunan (net) 1,000,000
Wesel tagih jangka panjang 75,000
Hutang 500,000
Porsi kini atas hutang jangka panjang 100,000
Hutang jangka panjang 900,000
Modal saham 300,000
Laba ditahan, 1 Januari, tahun ke-6 50,000
Penjualan 5,000,000
HPP 4,000,000
Depresiasi 300,000
Beban Lainnya 550,000
Total 6,850,000 6,850,000

17
Catatan :

1. Penjualan, Pembelian, dan seluruh beban operasi muncul setiap tahun. 2. HPP dapat
dikonversikan menggunakan nilai tukar rata-rata. 3. Konsekuensi pajak penghasilan
diabaikan.

Maka, laporan posisi keuangan dan Laba rugi ketika ditranslasikan :

LAPORAN POSISI KEUANGAN


Nilai Kode
US $
Tukar Penjelasan
Kas 100,000 1.4 C 140,000
Piutang 300,000 1.4 C 420,000
Persediaan, at cost 500,000 1.4 C 700,000
Beban Dibayar Dimuka 25,000 1.4 C 35,000
Peralatan dan Bangunan(net) 1,000,000 1.4 C 1,400,000
Wesel Taguh Jangka Panjang 75,000 1.4 C 105,000
Total Aset 2,000,000 2,800,000

Hutang Dagang 500,000 1.4 C 700,000


Porsi Kini atas Hutang Jangka Panjang 100,000 1.4 C 140,000
Hutang Jangka Panjang 900,000 1.4 C 1,260,000
Total Liabilitas 1,500,000 2,100,000
Modal Saham 300,000 1.1 H 330,000
Laba DItahan:
Saldo, 1/1/Tahun ke-6 50,000 B 60,000
Laba Bersih Periode Berjalan 150,000 F 195,000
Saldo, 31/12/Tahun ke-6 200,000 255,000
Kumulatif Penyesuaian
Penjabaran Mata Uang Asing:
Saldo, 1/1/Tahun ke-6 B 30,000
Penyesuaian periode berjalan G 85,000
Saldo, 31/12/ Tahun ke-6 115,000
Total Ekuitas Pemegang Saham 500,000 700,000
Total Liabilitas dan Ekuitas 2,000,000 2,800,000

LAPORAN LABA/RUGI

18
Dalam contoh yang pertama ini terlihat bahwa penerapan pemakaian kurs dalam laporan
keuangan memiliki perbedaan tergantung dari akun yang digunakan misalnya C = Current
rate digunakan pada akun-akun dari neraca. H = Historical rate digunakan untuk
mencatat translasi dari akun modal saham. A = Average rate, digunakan untuk
melakukan translasi pada akun yang terdapat dalam laporan laba/rugi. B = Balance in U.S.
dollars at the beginning of the period, digunakan untuk mencatat terkait penyesuaian dalam
penjabaran mata uang asing. F = Per income statement, dipakai untuk penjabaran mata uang
asing. G = Amount needed to balance the financial statements, terkait penyesiaoan
terhadap periode berjalan.

Ilustrasi translasi 2

Pada tanggal 31 Desember 20x3 perusahaan Indonesia bernama Alfa membeli seluruh saham
perusahaan asing bernama Beta Company yang memiliki mata uang Ringgit Malaysia.
Pada tanggal akuisisi, laporan posisi keuangan Beta Company adalah sebagai berikut:

Beta Company
Laporan Posisi Keuangan (dalam ribu Ringgit
Malaysia)

20X3 20x4
200,00
Bangunan dan peralatan 0 225,000
100,00
Persediaan 0 120,000
150,00
Piutang 0 200,000
Kas 5,000
Hutang -80,000 -120,000
370,00
Aset Netto 0 430,000

200,00
Modal Saham 0 200,000
170,00
Laba Ditahan 0 230,000
370,00
Ekuitas 0 430,000

19
Laporan Laba Rugi (dalam ribu
Ringgit Malaysia)
Penjualan 800,000
Harga Pokok Penjualan -470,000
Laba Kotor 330,000
Depresiasi -25,000
Beban Operasi -200,000
Laba Sebelum Pajak 105,000
Pajak -20,000
Laba Setelah Pajak 85,000
Dividen yang Dibayarkan -25,000
Saldo Laba Tahun Berjalan 60,000
Saldo laba pada 1 Jan 170,000
Saldo Laba pada 31 Des 230,000
Informasi tambahan:

Aset didepresiasikan dengan menggunakan metode garis lurus dengan tingkat depresiasi
10%. Selama tahun 20x4 sebuah peralatan dengan harga MYR 50,000,000 dibeli. Depresiasi
satu tahun penuh dicatat pada tanggal pembelian.
Berikut ini daftar nilai tukar Rp terhadap MYR:
1 MYR=
Pada tanggal 31/12/20x3 3300
Pada tanggal pembelian peralatan 3280
Pada tanggal pembayaran dividen 3200
Pembelian persediaan akhir (20x4) 3180
Pembelian peralatan 3250
Rata-rata tahun 20x4 3230
Pada tanggal 31/12/20x4 3170

Laporan Laba Rugi


Translasian

20
MYR (dalam
ribu) Kurs Rp (dalam juta)
Penjualan 800,000 3230 2584
HPP -470,000 3230 -1518.1
Laba Kotor 330,000 1065.9
Depresiasi -25,000 3230 -80.75
Beban Operasi -200,000 3230 -646
Laba Sebelum Pajak 105,000 3230 339.15
Pajak -20,000 3230 -64.6
Laba Setelah Pajak 85,000 3230 274.55
Dividen yang Dibayarkan -25,000 3200 -80
Saldo laba pada tahun berjalan 60,000 194.55
Saldo laba pada 1 Jan 170,000 3300* 561
Saldo laba pada 31 Des 230,000 755.55

Beta Company
Laporan Posisi Keuangan per
31/12/20x4
MYR (dalam
ribu) Kurs Rp (dalam milyar)
Bangunan dan
peralatan 225,000 3170 713.25
Persediaan 120,000 3170 380.4
Piutang 200,000 3170 634
Kas 5,000 3170 15.85
Hutang -120,000 3170 -380.4
Aset Netto 430,000 3170 1363.1
Modal Saham 200,000 3300 660
Laba Ditahan 230,000 Lap laba/Rugi 755.55
Cadangan Translasi - -52.45
Ekuitas 430,000 1363.1
Differensiasi
MYR (dalam Rp (dalam
Pergerakan Nilai Bersih ribu) Rate milyar)
Aset Bersih pada 1 Jan 370,000 3300 1221
Kenaikan pada aset bersih :
85,000 3230 274.55
Laba bersih setelah pajak
Penurunan pada aset bersih:
-25,000 3200 -80
Dividen yang dibayarkan
Aset bersih pada 31 Des 430,000 3170 1415.55 (A)
1363.1 (B)
Perbedaan translasi (B A) 32.45

21
Remeasured Income Statement (mata uang fungsional Rp)
MYR
(ribu) Kurs Rp (milyar)
Penjualan 800,000 3230 2584
HPP -470,000 Note (a) -1531.1
Laba Kotor 330,000 1052.9
Depresiasi -25,000 Note (b) -82.25
Beban Operasi -200,000 3230 -646
Rugi remeasurement Note (c) -9.75
Laba sebelum pajak 105,000 314.9
Pajak -20,000 3230 -64.6
Laba setelah pajak 85,000 250.3
Dividen yang dibayarkan -25,000 3200 -80
Laba ditahan tahun berjalan 60,000 3300 170.3
Laba ditahan pada 1 Jan 170,000 (Acq date) 561
Laba ditahan pada 31 Des 230,000 731.3

Note (a) HPP


MYR (dalam
ribu) Kurs Rp (dalam milyar)
Persediaan awal 100,000 3300 330
Purchases 490,000 3230 1582.7
Persediaan akhir -120,000 3180 -381.6
COGS 470,000 1531.1

Note (b) Beban depresiasi


MYR (dalam
ribu) Kurs Rp (dalam milyar)
Peralatan yang ada 20,000* 3300 66
New equipment (2004) 5,000** 3250 16.25
25,000 82.25
*200,000 10 years
**50,000 10 years

Note (c)- Rugi


remeasurement
Pergerakan Nilai Bersih MYR (ribu) Kurs Rp (dalam juta)
Aset moneter bersih, 1 Jan 700,001 3300 231
in aset/liabilitas
moneter:

22
Penjualan 800,000 3230 2584
Pembelian peralatan -50,000 3250 -162.5
Pembelian -490,000 3230 -1582.7
Beban Operasi -200,000 3230 -646
Pajak -20,000 3230 -64.6
Dividen yang dibayarkan -25,000 3200 -80
279.2 (A)
Aset moneter bersih 31
Des 850,002 3170 269.45 (B)
Rugi remeasurement B-A -9.75
1. ASET NON MONETER
Saldo awal:
MYR (ribu)
Piutang 150,000
Hutang -80,000
Aset Nonmoneter 1 Jan 70,000

2. Saldo akhir:
Piutang 200,000
Kas 5,000
Hutang -120,000
Aset Nonmoneter 31 Des 85,000

Note (d) - Peralatan


Peralatan yang ada: MYR (ribu) Kurs Rp. (Milyar)

Biaya Perolehan 200,000


Akumulasi depresiasi -20,000
Nilai tercatat bersih 180,000 3300 594
Peralatan baru
Biaya Perolehan 50,000
Akumulasi depresiasi -5,000
Nilai tercatat bersih 45,000 3250 146.25
Total 225,000 740.25

23
Beta Company
Laporan Posisi Keuangan per 31/12/20x4
MYR (dalam Rp (dalam
ribu) Kurs milyar)
Note
Bangunan dan peralatan 225,000 (d) 740.25
Persediaan 120,000 3180 381.6
Piutang 200,000 3170 634
Kas 5,000 3170 15.85
Hutang -120,000 3170 -380.4
Aset bersih 430,000 1391.3

Modal Saham 200,000 3300 660


From
Laba ditahan 230,000 I/S 731.3
Ekuitas 430,000 1391.3

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

24
Dalam aktivitas terkait kurs valuta asing, ada dua tindakan yang umumnya dilaksanakan
oleh entitas yaitu terkait dengan melakukan transaksi dalam mata uang asing dan atau
memiliki kegiatan usaha luar negeri (foreign operations). Untuk memasukkan transaksi
dalam valuta asing pada laporan keuangan suatu perusahaan, transaksi tersebut harus
dinyatakan dalam mata uang pelaporan perusahaan. Ada beberapa hal yang terkait dengan
aktivitas perusahaan dalam transaksi dengan mata uang asing misalnya melakukan
konsolidasi dengan perusahaan asing, memperoleh goodwill dari proses konsolidasi tersebut.
Dalam transaksi ini juga perusahaan menghadapi fluktuasi kurs yang setiap saat selalu
berubah. Sehingga perlu dilakukan penyesuaian terhadap goodwill yang diperoleh serta
dikenakan pajak terkait dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan ketika melakukan
translasi sebesar 25%. Entitas yang melakukan konsolidasi juga harus membuat laporan
keuangan sesuai dengan PSAK terkait laporan keuangan konsolidasian menurut PSAK 65
dan PSAK 15 agar sesuai dengan standar yang berlaku di Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Chairi. 2011. PSAK 10 Transaksi Mata Uang Asing, (Online),


(http://chairianwar.blogspot.co.id), diakses 28 Maret 2017.

25
Ikatan Akuntan Indonesia. 2014. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Jakarta:
Ikatan Akuntan Indonesia.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2015. Modul Chartered Accountant: Pelaporan Korporat. Jakarta:
Ikatan Akuntan Indonesia.
Juan, Wahyuni. 2012. Panduan Praktis Akuntansi Keuangan, Edisi Dua. Jakarta: Salemba
Empat.

www.idx.co.id

26

Anda mungkin juga menyukai