Anda di halaman 1dari 4

HASIL PENGUJIAN IKLIM KERJA:

HASIL PENGUJIAN JENIS SUMBER NA KET


No LOKASI KERJA PANAS B
ISB
B
Wet Dry SH RH ISBB V
(C) (C) (C) (C) (C) (m
/s)
1 Rangka 26,1 29,9 31,1 78 27,6 0,2 Sedang - < Indo
atas or
bawah
2 Traksi 26 29,8 31,2 76 27,5 0,2 Sedang - < Indo
Assembly or
3 Traksi 25,7 30 31,3 75 27,6 0,2 Sedang - < Indo
Listrik or
4 Elektrikal 25,8 30 31,2 76 27,5 0,2 Ringan - < Indo
Battery or
5 Revisi air 25,9 30,5 31,4 75 27,6 0,2 Ringan - < Indo
breke or
(rem)
6 Painting 25,8 30,9 31,9 72 27,8 0,2 Sedang - Indo<
Shoop or
7 Logam 26,6 31,4 34,2 70 28,3 0,2 Ringan + (LAS) < Indo
panas or
8 Final Test25,8 30,8 31,9 70 30 0,2 Sedang + > Out
(matahari) door
9 Fork Lift 28,4 31,9 37,4 68 30,5 0,2 Sedang + > Out
(matahari) door
Catatan: NAB berdasarkan Permenaker No. 13 Tahun 2011, Pengujian dilakukan jam 09.00
-10.30, cuaca berawan sampai dengan panas.

Parameter ISBB sesuai dengan NAB:

NO. VARIASI KERJA ISBB (C)


Kerja Ringan Kerja Sedang Kerja Berat
1 Kerja Terus Menerus 30 26,7 25,5
2 Kerja 75%, Istirahat 30,6 28 25,9
25%
3 Kerja 50%, Istirahat 31,4 29,4 27,9
50%
4 Kerja 25%, Istirahat 32,2 31,1 30
75%

Pembahasan:

Berdasarkan dari data pengujian dilapangan. Hasil pengujian suhu diseluruh ruangan
maka dapat disimpulkan bahwa ISBB PT Balai Yasa KAI dibawah nilai ambang batas (NAB),
kecuali di lokasi Diluar Gedung Maintenance, ISBB diatas NAB. Hal ini dikarenakan pada saat
pengujian cuaca sedang panas.

HASIL PENGUJIAN KEBISINGAN

JENIS SUMBER NAB KETERANGA


NO. Lokasi Tk Kebisingan BISING BISING N
(dB)
L eq L max
1 Tempat 99,8 105 Continue Mesin > Berbahaya dan
Genset Noise Genset Beresiko
95,3 107
2 Grinda Fluktuatif Pergesekan > Berbahaya dan
Mesin Noise Mata Beresiko
Gerinda
dengan
Objek
97 103
3 Bubut Roda Fluktuatif Pukulan > Berbahaya dan
Noise Martil Beresiko
dengan
Objek
89 90
4 Logam Panas Fluktuatif Pukulan > Berbahaya dan
Noise Martil Beresiko
dengan
Logam
Panas
75,3 78,7
5 Tempat Continue Aneka DBN Dalam Ambang
Istirahat Noise Kerja Batas
Karyawan
Catatan: NAB berdasarkan Permenaker No 13 Tahun 2011

Pembahasan :

Menurut Permenaker No 13 Tahun 2011 Nilai ambang batas yang diizinkan pada pekerjaan
sehari-hari adalah 85db selama 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.

Dari table dapat dilihat angka kebisingan PT.Balai Yasa KAI, pada tempat-tempat tertentu masih
ada yang melebihi dari NAB yang diizinkan. Angka kebisingan yang lebih tinggi itu ada di
tempat genset, tempat gerinda, dan tempat perbaikan roda. Dari pengamatan sulit untuk
dilakukan engineering control, sebaiknya pada bagian-bagian tertentu dilakukan administrative
control seperti pekerja tidak boleh terpapar terlalu lama dengan sumber kebisingan atau istirahat
beberapa menit setiap terpapar kebisingan. Tidak seharusnya pekerja yang terpapar bising diatas
NAB bekerja selama 8 jam secara terus menerus ditempat itu.

Jika pengendalian secara teknis dan administrative tidak dapat mengurangi paparan bising pada
pekerja, maka sebaiknya pekerja diwajibkan menggunakan APD ditelinga yang baik dan benar.
Dari pengamatan masih banyak pekerja ditempat dengan kebisingan yang melebihi NAB tidak
memakai alat pelindung telinga. Namun mengingat alat pelindung telinga tidak nyaman dipakai
secara terus menerus maka manajemensebaiknya tetap memikirkan pengendalian bising secara
teknis dan administrative.

Sebaiknya manajemen mengadakan pemeriksaan kesehatan secara berkala terkait dengan


paparan kebisingan. Perlu diperiksa akibat-akibat yang timbul akibat kebisingan seperti :

Mengurangi kenyamanan dalam bekerja


Menganggu komunikasi atau percakapan antar pekerja
Mengurangi konsentrasi
Menurunkan daya dengar, baik yang bersifat sementara maupun permanen
Tuli akibat kebisingan (AM Sugeng Budiono,2003:33)

Kebisingan yang tinggi memberikan efek yang merugikan pada tenaga kerja, terutama akan
mempengaruhi pada indera pendengaran. Mereka memiliki resiko mengalami penurunan daya
pendengaran yang terjadi secara perlahan-lahan dalam waktu lama dan tanpa mereka sadari.

Bising dapat merusak koklea ditelinga dalam sehingga mengganggu pendengaran, sedang
kerusakan yang ditimbulkan pada saraf vestibuler ditelinga dalam dapat menyebabkan gangguan
keseimbangan. (Jenny Bashirudin : 2003). Pengendalian kebisingan terutama ditujukan bagi
mereka yang dalam hariannya menerima kebisingan karena daerah utama kerusakan akibat
kebisingan pada manusia adalah pendengaran (telinga bagian dalam), maka metode
pengendaliannya dengan memanfaatkan alat bantu yang bias mereduksi tingkat kebisingan yang
masuk ketelinga bagian luar dan bagian tengah, sebelum masuk ketelinga bagian dalam. Pihak
manajemen sebaiknya melakukan pengawasan terhadap pengaturan bahwa saat berada dalam
lingkungan kerja wajib mengenakan alat pelindung telinga berupa earplug dalam melakukan
pekerjaannya.

Pengaruh kebisingan terhadap pelaksanaan tugas para pekerja dibalai Yasa adalah :

1. Frekuensi kebisingan, nada tinggi lebih beresiko mengalami NIHLdari pada nada
rendah. terutama pada tempat penempaan yang menggunakan mesin gerinda
2. Jenis kebisingan, kebisingan terputus-putus lebih beresiko mengalami NIHL daripada
kebisingan kontinyu. Dapat dilihat terdapat jenis kebisingan impulsive dibagian
penempaan.
3. Sifat pekerjaan, pada pekerjaan yang rumit atau kompleks lebih banyak beresiko
mengalami NIHL daripada pekerjaan yang sederhana.
4. Variasi kebisingan, makin sedikit variasinya maka makin sedikit pula variasinya.dari data
dapat dilihat variasi kebisingan sudah sedikit.
5. Sikap individu, karyawan yang tidak menggunakan alat pelindung diri, yaitu
earplug/earmuff akan lebih banyak beresiko mengalami NIHL daripada yang
menggunakan APD. Masih banyak yang tidak menggunakan APD.

Gangguan pendengaran jika terjadi pada pekerja di balai Yasa Yogyakarta (PT KAI) sifatnya
hanya sementara dan tergantung dari lamanya pemaparan dan tingkat kebisingan. Sehingga perlu
di cegah terjadinya gangguan pendengaran lalu faktor yang dapat menimbulkan bising harus
dikurangi atau dihindari sedapat mungkin. Tetapi kerja terus menerus ditempat bising dengan
intensitas tinggi dan lama pemaparan 8 jam/hari berakibat hilangnya daya dengar yang menetap
dan tidak pulih kembali.