Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu konsep perencanaan program BK yang baik adalah memungkinkannya


dilakukan penilaian. Sejumlah ketentuan dan rumusan tentang tatalaksana bimbingan
konseling disetiap jenjang pendidikan pun pada akhirnya akan menyisakan pemikiran
dalam benak kita akan Bagaimana konsep dan pelaksanaan penilaian terhadap bimbingan
konseling itu sendiri. Pengelolaan dan pelaksanaan bimbingan konseling yang
berorientasi pada pencapaian tujuan belajar dan kegiatan dalam proses belajar mengajar itu
tentunya memerlukan sebuah penilaian baik sebagai balikan maupun sebagai tahapan
manajemenistik yang baik dan sistematis.
Sebelum sampai pada pembicaraan tentang penilaian bimbingan konseling, makalah
ini juga akan menyajikan berbagai istilah yang terkait erat dan cenderung bersinonim
dengan konteks penilaian seperti istilah pengukuran, assessment, dan evaluasi. Dalam
pemahaman keseharian yang universal, pemaknaan terhadap ketiga peristilahan ini
mungkin saja sama, akan tetapi secara parsial tetap memiliki perbedaan yang prinsip.
Pemisahan yang tepat tentunya akan memberikan pemahaman yang kontekstual dan
implisit kita terhadap ketiga peristilahan itu.
Murimenyatakan bahwa pengukuran dalam proses belajar mengajar atau dalam
pendidikan merupakan suatu prosedur penerapan angka atau simbol terhadap suatu objek
atau kegiatan maupun kejadian sesuai dengan aturan. Sedangkan assessment diartikan
sebagai proses pengumpulan informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan
tentang: kebijakan pendidikan, mutu pendidikan, mutu program pendidikan atau mutu
kurikulum, mutu proses pendidikan, mutu input dan produk atau tentang penguasaan
peserta didik berkaitan dengan apa yang telah diajarkan padanya. Adapun konsep evaluasi
diartikan sebagai suatu proses penggambaran, pemerolehan, dan penyediaan informasi
yang berguna untuk penetapan alternatif-alternatif keputusan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penilaian
Penilaian merupakan langkah penting dalam pengelolaan Bimbingan dan Konseling
(BK). Tanpa penilaian tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi
keberhasilan pelaksanaan program bimbingan yang telah direncanakan. Penilaian program
bimbingan merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program itu
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain keberhasilan program dalam
pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat melalui kegiatan
penilaian.
Penilaian kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah segala
usaha, tindakan atau proses untuk menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang
berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah dengan
mengacu kepada kriteria atau patokan-patokan tertentu yang sesuai dengan program yang
dilaksanakan. Kriteria atau patokan yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan
program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah mengacu pada terpenuhi
atau tidak terpenuhinya kebutuan peserta didik dan pihak-pihak yang terlibat baik langsung
maupun tidak lansgung berperan memperoleh perubahan tingkah laku dan pribadi kearah
yang lebih baik.
Dalam keseluruhan pelayanan bimbingan dan konseling penilaian diperlukan untuk
memperoleh umpan balik terhadap keefektifan pelayanan bimbingan dan konseling yang
dilaksanakan. Dengan informasi ini dapat diketahui sejauh mana keberrhasilan pelayanan
bimbinan dan konseling dan dapat ditertapkan langkah-langkah tindak lanjut untuk
mempertbaik dan mengembangankan program selanjutnya.
Ada dua macaam kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan dan konseling
yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaianproses dimaksudkan untuk mengetahui
sejauh mana keefektifan pelayanan bimbingan dan konseling ditinjau dari prosesnya,
sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektifan layanan
bimbingan dan konseling ditinjau dari hasilnya.
Dalam keseluruhan pelayanan bimbingan dan konseling penilaian diperlukan untuk
memperoleh umpan balik terhadap efektifitaspelayanan bimbingan dan konseling yang

2
telah dilaksanakan. Dengan informasi ini dapat diketahui sampai sejauh mana derajat
keberhasilan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan.
Berdasarkan hasil evaluasi dapat ditetapkan langkah-langkah tindak lanjut bimbingan dan
konseling untuk perbaikan dan pengembangan program pelayanan bimbingan dan
konseling.

B. Tujuan Penilaian
Kegiatan penilaian pada hakikatnya bertujuan untuk mengetahui atau memperoleh
gambaran yang bersifat informasi akurat tentang keefektifan dan efisiensi sesuatu yang
telah dilaksanakankan. Informasi berkenaan dengan keefektifan dan keefisiensian ini
selanjutnya akan melahirkan suatu keputusan tertentu. Secara khusus tujuan penilaian akan
sangat ditentukan oleh fungsi penilaian (pengambilan keputusan dan penyediaan
informasi) dan aspek-aspek yang akan dinilai itu sendiri. Misalnya penilaian yang
ditujukan untuk program bimbingan konseling, akan memfungsikan kegiatannya pada
penyediaan sejumlah informasi tentang program itu dan seterusnya akan pula melahirkan
keputusan tentang keeefektifan atau efisiensi program, begitupun seterusnya.
Mengenai penilaian yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan penyediaan
informasi ini, Muri menyatakan bahwa penilaian dalam kontek ini akan berfungsi sebagai
perbaikan, pengendalian proses dan mutu pendidikan, berbagai keputusan tentang peserta
didik, akuntabilitas publik, dan regulasi administrasi tentang sekolah.1
Penilaian program bimbingan dan konselingadalah upaya untuk menelaah program
pelayanan bimbingan dan konseling yang telah dan sedang dilaksanakan untuk
mengembangkan dan memperbaiki program bimbingan dan konseling di sekolah
bersangkutan. Dengan demikian, tujuan evaluasipelayanan program bimbingan dan
konseling di sekolah adalah;
1. membantu menumbuhkembangkan kurikulum sekolah ke arah kesesuaian dan
kebutuhan peserta didik
2. membantu guru-guru memperbaiki cara mengajar di kelas, dan
3. memungkinkan program bimbingan dan konseling berfungsi lebih efektif

1 A. Muri Yusuf, Metodologi penelitian,dasar-dasar penyelidikan ilmiah, (Padang:


Universitas Negeri Padang Press, 2005), hal. 23

3
C. Tahap-tahap Penilaian
Tahap-tahap penilaian pelaksanaan pelayanan bimbingan konseling dilakukan dalam
tiga tahap, yaitu :
1. Penilaian Segera (Laiseg)
Penilaian segera (laiseg) adalah penilaian yang dilakukan segera setelah pelaksanaan
layanan bimbingan konseling. Laiseg biasanya dilakukan oleh guru pembimbing untuk
melihat AKUR (Acuan, Kompetensi, Usaha dan Rasa) siswa asuh segera setelah
mengikuti pelaksanaan pembelajaran dalam layanan bimbingan konseling.
2. Penilaian Jangka Pendek (Laijapen)
Penilaian jangka pendek (laijapen) adalah penilaian yang dilakukan beberapa waktu
setelah pemberian bantuan. Laijapen biasanya dilakukan guru pembimbing untuk
melihat apakah action yang direncanakan siswa asuh untuk dilakukan setelah mengikuti
program pelayanan bimbingan konseling betul-betul sudah dilakukan. Hal ini mungkin
dilaksanakan setelah tiga hari sampai seminggu pasca pelayanan diberikan kepadanya,
tidak boleh terlalu lama.
3. Penilaian Jangka Panjang (Laijapang)
Penilaian jangka panjang (laijapang) adalah penilaian yang dilakukan beberapa waktu
setelah pemberian bantuan. Laijapang biasanya dilakukan guru pembimbing untuk
melihat apakah action yang telah dilakukan siswa asuh setelah mengikuti program
pelayanan bimbingan konseling sesuai dengan rencana dapat memberikan hasil yang
positif terhadapnya. Dapat juga dilihat bagaimana keberlanjutannya pada masa datang.

D. Ranah Penilaian
Ranah di dalam penilaian terbagi ke dalam tiga ranah yaitu kemampuan berfikir,
keterampilan melakukan pekerjaan, dan perilaku. Setiap peserta didik memiliki potensi
pada dua ranah, yaitu kemampuan berpikir dan keterampilan, namun tingkatannya masing-
masing individu dapat berbeda. Ada peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir
tinggi, namun memiliki keterampilannya rendah, demikian pula sebaliknya. Ada pula
peserta didik yang kemampuan berpikir dan keterampilannya biasa, tidak ada yang
menonjol.

4
Mempelajari setiap mata pelajaran memerlukan kemampuan berpikir. Kemampuan
berpikir termasuk ranah kognitif yang meliputi kemampuan menghafal, memahami,
menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Kemampuan yang penting
pada ranah kognitif adalah menerapkan konsep-konsep untuk memecahkan masalah yang
ada di tengah masyarakat. Kemampuan ini sering disebut kemampuan mentransfer
pengetahuan ke berbagai situasi sesuai dengan konteksnya.
Kemampuan melakukan pekerjaan adalah psikomotor, yaitu kemampuan yang
berkaitan dengan gerak, menggunakan otot. Peringkat kemampuan psikomotorik ada lima,
yaitu : 1) gerak reflek, 2) gerakan dasar, 3) kemampuan perceptual, 4) kemampuan fisik,
gerakan terampil, dan 5) komunikasi nondiskursip. Apabila peserta didik mempelajari
suatu gerakan, maka akan tersimpan dalam sistem memori dan saraf, sehingga apabila
peserta didik salah dalam mempelajari gerakan psikomotor maka sulit untuk
memperbaikinya. Oleh karena itu guru harus merancang dengan baik pengembangan
kemampuan psikomotor peserta didik.
Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau
nilai. Menurut Popham (1995) ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang.
Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit mencapai keberhasilan studi
secara optimal. Selain itu ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat
kebersamaan, persatuan, nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Beberapa kompetensi
kecakapan hiduppun banyak bersentuhan dengan ranah afektif, seperti tanya jawab, kerja
sama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan
kemampuan mengendalikan diri.
Kegiatan bimbingan dan konseling bertujuan membantu peserta didik mencapai
kematangan dan kemandirian. Untuk mencapai itu perlu pengembangan secara utuh
potensi peserta didik baik mencakup ketiga ranah penilian, yaitu ranah kognitif,
psikomotor atau afektif. Suatu kenyataan banyak guru pembimbing yang diberi tugas
untuk memberikan penilaian afektif. Hal ini dengan alasan guru pembimbing banyak
bersentuan dengan ranah afektif. Walaupun sikap guru pembimbing memberikan nilai
afektif itu bertentangan dengan kaidah-kaidah pelaksanaan bimbingan dan konseling. Guru
pembimbing harus tahu tentang kondisi ranah afektif siswa, tetapi tidak harus menilai.
Tugas menilai adalah tugas guru mata pelajaran, tetapi apabila guru pembimbing ditanyai
tentang kondisi afektif siswa, guru pembimbing harus tahu betul. Untuk mengetahui

5
kondisi tersebut guru pembimbing harus mampu mengembangkan berbagai instrumen
penilaian, termasuk instrumen penilaian ranah kognitif.2

E.Jenis Penilaian
Adapun jenis penilaian dalam bimbingan konseling dapat dikategorikan dalam tiga
bentuk yaitu :
1. Penilaian Program Bimbingan Konseling
Penilaian program dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang valid dan
reliabel tentang keefektifan dan efiesiensi program. Muri menyatakan bahwa evaluasi
program berdimensi ganda, yakni tertuju pada program sebagai dokumen tertulis dan
disatu sisi tertuju pada pelaksanaan dan hasil program. Tahap penilaian program diarahkan
pada rencana program, pelaksanaan program, dan hasil yang dicapai. Karenanya, fokus
penilaian (sumber informasi) dapat berbentuk evaluasi rencana, evaluasi pelaksanaan, dan
evaluasi hasil program.3
Penilaian program dapat didekati dengan pendekatan kualitatif baik menggunakan
teknik interviu/wawancara dengan tim pengembang, atau instrument dengan menggunakan
kuesioner/angket untuk hal-hal umum dan spesifik yang dapat didalami melalui pertanyaan
probing. Sedangkan pendekatan dalam pelaksanaannya dapat diamati dengan interviu
dan observasi, berkenaan dengan manfaat, relevansi, dan dampak yang dapat dilakukan
dengan berkomunikasi langsung dengan peserta didik yang pernah mengikuti kegiatan
tersebut. Dengan melakukan cost-benefit analysis terhadap program, akan diperoleh
informasi yang berguna untuk memutuskan kelayakan program tersebut untuk dilanjutkan,
diperbaiki, atau dihentikan.4

2.Penilaian Proses Kegiatan Bimbingan Konseling


Penilaian proses bimbingan konseling dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana
pencapaian rumusan kegiatan yang telah diprogramkan dalam satuan-satuan layanan dapat
diimplementasikan kepada sasaran layanan, sehingga tersedia informasi tentang kualitas
atau mutu layanan. Evaluasi proses dimaksud untuk memberikan umpan balik secara

2 http://ekowidianto51.blogspot.co.id/2013/01/panduan-penilaian-bimbingan-dan.html
3 A. Muri Yusuf, Metodologi penelitian,dasar-dasar penyelidikan ilmiah, hal. 162
4 Ibid., hal. 163-164

6
periodik dalam pelaksanaan program dan untuk mengontrol prosedur dan rencana yang
telah disusun. Dengan cara demikian kita akan dapat mendeteksi atau meramalkan segala
sesuatu yang mungkin terjadi selama program itu dilaksanakan.
Menurut Winkel penilaian dalam konteks ini dapat bersifat formal dan informal.
Penilaian formal mencakup suatu penelitian sistematis dan ilmiah, berdasarkan suatu
desain dan dengan menggunakan metode serta alat tertentu. Evaluasi formal berusaha
menentukan apakah rangkaian kegiatan bimbingan sesuai rencana program yang telah
ditetapkan untuk mencapai tujuan konkret tertentu memang mencapai efek-efek yang
diharapkan.
Dalam khasanah kegiatan pengembangan diri, kegiatan penilaian diarahkan pada
pencapaian tujuan yang telah dirumuskan dalam satuan materi layanan bimbingan. Dalam
hal ini, standart penilaian yang digunakan adalah tujuan umum dan tujuan khusus
bimbingan konseling. Teknik yang dapat dilakukan adalah dengan :5
1.mengamati partisipasi dan aktivitas siswa dalam kegiatan layanan
2. mengungkapkan pemahaman siswa atas bahan-bahan yang disajikan atau
pemahaman/pendalaman siswa atas masalah yang dialaminya.
3. mengungkapakan kegunaan layanan bagi siswa sebagai hasil dari partisipasi dan
aktifitas dalam kegiatan layanan
4. mengungkapkan minat siswa tentang perlunya layanan tindak lanjut
5. mengamati perkembangan siswa dari waktu ke waktu (butir ini terutama dilakukan
dalam kegiatan layanan yang berkesinambungan), dan
6. mengungkapkan kelancaran dan suasana penyelenggaraan kegiatan layanan.
Fokus penilaian dalam kegiatan penilaian proses kegiatan bimbingan konseling
berkenaan dengan jenis-jenis layanan, kegiatan pendukung, instrumentasi BK yang
digunakan dalam kegiatan, termasuk juga pengelolaan dan pengadministrasi layanan
dalam kegiatan bimbingan. Hasil penilaian proses digunakan untuk meningkatkan kualitas
kegiatan bimbingan dan konseling secara menyeluruh.

3. Penilaian Hasil Layanan Bimbingan Konseling

5 Prayitno dan Erman Anti, Dasar dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Gramedia,
1996), hal. 24

7
Penilaian hasil dilakukan pada akhir suatu program atau kegiatan. Evaluasi ini
dimaksudkan untuk mengukur pencapaian kompetensi-kompetensi dari tujuan yang telah
dirumuskan berdasarkan standar atau kriteria tertentu.
Menurut Prayitno dan Erman Anti, sasaran penilaian bimbingan konseling
berorientasi pada perubahan tingkah laku (termasuk didalamnya pendapat, nilai dan sikap)
serta perkembangan siswa, oleh karena itu penilaian bimbingan konseling tidak dapat
dilakukan melalui ulangan, pemeriksaan hasil pekerjaan rumah, tes maupun ujian,
melainkan dilakukan dalam proses pencapaian kemajuan perubahan tingkah lau dan
perkembangan siswa itu sendiri. Penilaian hasil layanan dapat dilakukan dengan
pendekatan LIRAUSAH yaitu lima ranah penguasaan yaitu : Wawasan dasar menyeluruh
(Wadasruh), Komponen yang terlibat (kombat), Lapangan kejadian (Lapjadi), Standar
Prosedur Operasional (SPO), dan Penilaian laporan (PenLap).6
Prayitno dkk, menyatakan bahwa penilaian hasil layanan ditujukan pada perolehan
siswa yang menjalani pelayanan bimbingan dan konseling. Perolehan ini diorientasikan
pada tingkat pengentasan masalah klien dan perkembangan aspek-aspek kepribadian
siswa. Karenanya, fokus penilaian dapat diarahkan pada berkembangnya:7
1.Pemahaman baru yang diperoleh melalui layanan, dalam kaitannya dengan masalah
yang dibahas.
2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui
layanan.
3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa pasca layanan dalam rangka
mewujudkan upaya penyentasan masalah yang dialaminya
Adapun metode yang dapat dilakukan dalam kegiatan penilaian hasil layanan dapat
berupa :
1. penilaian segera (Laiseg) yaitu penilaian yang dilakukan menjelang proses layanan itu
berakhir. Penilaian bentuk ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang
wawasan, pengetahuan baru, perasaan positif, dan rencana kegiatan yang akan
dilakukan siswa/klien setelah selesainya layanan.

6 Ibid.
7 Prayitno, dkk, Dasar dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002),
hal. 26

8
2. penilaian jangka pendek (Laijapen) yaitu penilaian yang dilakukan setelah beberapa
hari berlangsungnya kegiatan layanan.
3. penilaian jangka panjang (Laijapang) yaitu penilaian yang dilakukan dalam kurung
waktu tertentu misalnya satu bulan, satu semester, atau satu tahun. Muri (1998),
menyatakan bahwa penilaian jangka pendek dan jangka panjanglebih mengacu pada
terpecahkannya masalah siswa secara keseluruhan.
Adapun teknik yang dapat ditempuh dalam ketiga jenis penilaian ini antara lain
angket, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan laporan penilaian.

F. Langkah-langkah Evaluasi
Dalam melaksanakan evaluasi program, ada beberapa hal yang harus ditempuh, yaitu
sebagai berikut:
1. Fase Persiapan
Pada fase persiapan ini terdiri dari kegiatan penyusunan kisi-kisi evaluasi. Dalam
kegiatan penyusunan kisi-kisi evaluasi ini yang dilalui adalah:
a. Langkah pertama-penetapan aspek-aspek yang dievaluasi. Aspek-aspek yang
dievaluasi meliputi:
1) Penentuan dan perumusan masalah yang hendak dipecahkan atau tujuan yang
hendak dicapai
2) Program kegiatan bimbingan
3) Personel atau ketenagaan
4) Fasilitas teknis dan fisik
5) Pengelolaah dan administrasi bimbingan
6) Pembiayaan
7) Partisipasi personel
8) Proses kegiatan
9) Akibat sampingan
b. Langkah kedua-penetapan kriteria keberhasilan evaluasi. Misalnya bila aspek proses
kegiatan yang dievaluasi ditinjau dari:
1) Lingkunngan bimbingan
2) Sarana yang ada
3) Situasi daerah

9
c. Langkah ketiga-penetapan alat-alat atau instrumen evaluasi. Misalnya aspek proses
kegiatan yang hendak dievaluasi dengan kriteria pada bagian 2 diatas maka
instrumen yang harus digunakan adalah:
1) Cek list
2) Observasi kegiatan
3) Tes situasi
4) Wawancara
5) Angket
d. Langkah keempat-penetapan prosedur evaluasi seperti contoh pada butir 2 dan 3 di
atas, maka prosedur evaluasinya melalui: penelaahan kegiatan penelaahan
hasil kerja konferensi kasus lokakarya.
e. Langkah kelima-penetapan tim penilai atau evaluator. Yang harus menjadi evaluator
dalam penilaian proses kegiatan adalah:
1) Ketua tim bimbingan dan konseling
2) Kepala sekolah
3) Tim bimbingan dan konseling
4) Konselor
2. Fase persiapan atau instrumen evaluasi
Dalam fase ini, dilakukan kegiatan diantaranya:
a. Memilih alat-alat/ instrument evaluasi yang ada atau menyususn dan
mengembangkan alat-alat evaluasi yang diperlukan.
b. Penggandaan alat-alat/ instrument evaluasi yang akan digunakan.
3. Fase pelaksanaan kegiatan evaluasi
Dalam fase pelaksanaan evaluasi ini, evaluator melalui kegiatan, yaitu:
a. Persiapan pelaksanaan kegiatan evaluasi
b. Melaksanakan kegiatan evaluasi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan
4. Fase menganalisis evaluasi
Dalam fase analisis hasil evaluasi atau pengolahan data hasil evaluasi ini dilakukan
mengacu pada jenis datanya. Langkah-langkah itu, diantaranya:
a. Abulasi data
b. Analisis hasil pengumpulan data melalui statistik atau non statistik.
5. Fase penafsiran dan pelaporan hasil evaluasi

10
Pada fase ini dilakukan kegiatan membandingkan hasil analisis data dengan criteria
penilaian keberhasilan daily kemudian diinterpretasikan dengan memakai kode-kode
tertentu, untuk kemudian dilaporkan serta digunakan dalam rangka perbaikan dan atau
pengembangan program layanan bimbingan dan konseling.8
Sedangkan menurut Anas Salahudin, dalam melaksanakan evaluasi program, ada
beberapa hal yang harus ditempuh, yaitu sebagai berikut:
a. Merumuskan masalah atau beberapa pertanyaan.
Pertanyaan-pertanyaan itu pada dasarnya terkait oleh dua aspek pokok yang
dievaluasi, yaitu: (1) tingkat keterlaksanaan program (aspek proses) dan (2) tingkat
ketercapaian tujuan program (aspek hasil).
b. Mengembangkan atau menyusun instrument pewngumpul data.
Instrument itu diantaranya inventori, angket, pedoman wawancara, pedoman
observasi, dan studi dokumentasi.
c. Mengumpulkan dan menganalisis data.
Data yang diperoleh harus dianalisis, yaitu ditelaah program apa saja yang telah atau
belum dilaksanakan, serta tujuan mana saja yang telah atau belum tercapai.
d. Melanjutkan tindak lanjut (follow up).
Kegiatan ini meliputi dua kegiatan, yaitu: (1) memperbaiki hal-hal yang dipandang
lemah, kuranmg tepat, atau kurang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai, dan (2)
mengembangfkan program, dengan cara mengubah atau menambah beberapa hal
yang dipandang perlu untuk meningkatkan efektivitas atau kualitas program.

8 Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling,


(Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal. 255-257

11
BAB III
KESIMPULAN

Penilaian merupakan langkah penting dalam pengelolaan Bimbingan dan Konseling


(BK). Tanpa penilaian tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi
keberhasilan pelaksanaan program bimbingan yang telah direncanakan. Penilaian program
bimbingan merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program itu
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain keberhasilan program dalam
pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat melalui kegiatan
penilaian.
Kegiatan penilaian pada hakikatnya bertujuan untuk mengetahui atau memperoleh
gambaran yang bersifat informasi akurat tentang keefektifan dan efisiensi sesuatu yang
telah dilaksanakankan. Informasi berkenaan dengan keefektifan dan keefisiensian ini
selanjutnya akan melahirkan suatu keputusan tertentu. Secara khusus tujuan penilaian akan
sangat ditentukan oleh fungsi penilaian (pengambilan keputusan dan penyediaan
informasi) dan aspek-aspek yang akan dinilai itu sendiri.
Tahap-tahap penilaian pelaksanaan pelayanan bimbingan konseling dilakukan dalam
tiga tahap, yaitu :
1. Penilaian Segera (Laiseg)
2. Penilaian Jangka Pendek (Laijapen)
3. Penilaian Jangka Panjang (Laijapang)
Adapun jenis penilaian dalam bimbingan konseling dapat dikategorikan dalam tiga
bentuk yaitu :
1. Penilaian Program Bimbingan Konseling
b. Penilaian Proses Kegiatan Bimbingan Konseling
c. Penilaian Hasil Layanan Bimbingan Konseling

12
DAFTAR PUSTAKA

A. Muri Yusuf, Metodologi penelitian,dasar-dasar penyelidikan ilmiah, Padang:


Universitas Negeri Padang Press, 2005
Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling, Jakarta:
Rineka Cipta, 2008
Prayitno dan Erman Anti, Dasar dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Gramedia,
1996
Prayitno, dkk, Dasar dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta, 2002
http://ekowidianto51.blogspot.co.id/2013/01/panduan-penilaian-bimbingan-dan.html

13

Anda mungkin juga menyukai