Anda di halaman 1dari 16

Chapter 4 The Research Process: Theoretical Framework and

Hypothesis Development

Disusun untuk Memenuhi Tugas Riset Keuangan

Dosen pengampu:

Prof. Dr. Moeljadi, SE, SU, MSc

Disusun Oleh:

Ellen Deviana Arisadi 166020201111016

Ratna Ayu Kusumaningtyas 166020201111019

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG 2017
0
Chapter 4
The Research Process: Theoretical Framework and Hypothesis Development

The need for a theoretical framework


Setelah melakukan wawancara, menyelesaikan tinjauan literatur, dan mendefinisikan
masalah, selanjutnya siap untuk mengembangkan kerangka teori. Kerangka teori
menggambarkan keyakinan peneliti tentang bagaimana suatu fenomena tertentu (atau
variabel atau konsep) yang berhubungan satu sama lain (model) dan penjelasan tentang
mengapa peneliti percaya bahwa variabel ini terkait satu sama lain (teori). Model dan teori
mengalir secara logis dari dokumentasi penelitian sebelumnya di bidang masalah. Dari
kerangka teori, kemudian hipotesis yang diuji dapat dikembangkan untuk menguji apakah
teori yang dirumuskan valid atau tidak. Hubungan hipotesis kemudian dapat diuji melalui
analisis statistik yang sesuai.
Karena kerangka teori memberikan dasar konseptual bagi penelitian, dan karena
kerangka teori tidak lain adalah mengidentifikasi jaringan hubungan antarvariabel yang
dianggap penting bagi penelitian terhadap situasi masalah apa pun,sangat penting untuk
memahami apa arti variabel dan apa saja jenis variabel yang ada.

Variables
Variabel adalah sesuatu yang dapat membedakan atau membawa variasi pada nilai.
Empat jenis utama dari variabel yang dibahas dalam bab ini:
1. Variabel dependen (juga dikenal sebagai variabel kriteria)
2. Variabel bebas (juga dikenal sebagai variabel prediktor)
3. Variabel moderasi
4. Variabel mediasi

Dependent Variables
Variabel dependen adalah variabel yang menjadi perhatian utama peneliti. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk memahami, memprediksi atau menjelaskan variabilitas
variabel ini. Melalui analisis variabel dependen (yaitu, menemukan variabel apa yang
mempengaruhinya) memungkinkan untuk menemukan jawaban atau solusi masalah. Oleh
sebab itu, peneliti akan tertarik dalam mengukur variabel dependen, serta variabel
lain yang mempengaruhi variabel ini.

1
Independent Variable
Variabel independen adalah salah satu yang mempengaruhi variabel dependen baik
secara positif atau negatif. Artinya, ketika variabel independen hadir, variabel dependen juga
hadir, dan dengan masing-masing unit peningkatan variabel independen, ada kenaikan atau
penurunan variabel dependen. Dengan kata lain, varians dalam variabel dependen dijelaskan
dengan variabel independen. Contoh variabel dependen dan independen sebagai berikut.
Studi penelitian menunjukkan bahwa pengembangan produk baru yang sukses
memiliki pengaruh pada harga pasar saham perusahaan. Artinya, semakin sukses produk baru
ternyata, semakin tinggi harga pasar saham perusahaan itu. Oleh karena itu, keberhasilan
produk baru adalah variabel independen, dan harga pasar saham variabel dependen. Tingkat
keberhasilan yang dirasakan dari produk baru yang dikembangkan akan menjelaskan varians
dalam harga pasar saham perusahaan. Hubungan ini dan pelabelan variabel diilustrasikan
dalam gambar berikut

Moderating Variable
Variabel moderasi adalah variabel yang mempunyai pengaruh ketergantungan
(contingent effect) yang kuat dengan hubungan variabel terikat dan variabel bebas. Yaitu,
kehadiran variabel ketiga (variabel moderator) mengubah hubungan awal antara variabel
bebas dan terikat. Contoh variabel moderating adalah sebagai berikut.
Sebuah teori umum menyatakan bahwa keragaman tenaga kerja (yang terdiri orang
yang berasal dari etnis, ras dan kebangsaan yang berbeda) memberikan kontribusi lebih
untuk efektivitas organisasi karena masing-masing kelompok membawa keahlian khusus
sendiri dan keterampilan untuk tempat kerja. Sinergi ini dapat dimanfaatkan, namun hanya
jika manajer tahu bagaimana memanfaatkan bakat khusus dari kelompok kerja yang beragam;
jika tidak mereka akan tetap belum dimanfaatkan. Dalam skenario di atas, efektivitas
organisasi adalah variabel dependen, yang positif dipengaruhi oleh keragaman tenaga kerja
sebagai variabel independen. Namun, untuk memanfaatkan potensi, manajer harus tahu
bagaimana untuk mendorong dan mengkoordinasikan bakat dari berbagai kelompok untuk
suatu pekerjaan. Jika tidak, sinergi tidak akan tercapai. Dengan kata lain, pemanfaatan yang
efektif dari bakat yang berbeda, perspektif, dan kemampuan pemecahan masalah untuk
2
peningkatan efektivitas organisasi bergantung pada keterampilan para manajer dalam
bertindak sebagai katalis. Keahlian manajerial ini kemudian menjadi variabel moderating.
Hubungan ini dapat digambarkan seperti pada gambar berikut

Mediating Variable
Variabel mediasi (intervening variable) variabel yang secara teoritis mempengaruhi
hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menjadi hubungan yang
tidak langsung. Variabel ini merupakan variabel penyela / antara variabel independen dengan
variabel dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya
atau timbulnya variabel dependen. Contoh variabel mediasi adalah sebagai berikut.

Theoritical Framework
Kerangka teoritis adalah fondasi dimana suatu proyek penelitian didasarkan. Dalam
kerangka teoritis secara logis dikembangkan, dijelaskan, dan diuraikan hubungan antara
variabel-variabel yang diteliti dan diidentifikasi melalui proses seperti wawancara, observasi,
dan studi literatur. Setelah mengidentifikasi variabel yang tepat, langkah berikutnya adalah
untuk menguraikan hubungan antara variabel, sehingga hipotesis yang relevan dapat
dikembangkan dan kemudian diuji. Kerangka teoritis dengan demikian merupakan langkah
penting dalam proses penelitian.

3
Hubungan antara literatur review dan kerangka teoritis adalah tinjauan literatur
mengidentifikasi variabel yang mungkin penting, sebagaimana ditentukan oleh temuan
penelitian sebelumnya. Selain itu, untuk hubungan logis lainnya yang dapat
dikonseptualisasikan, membentuk dasar untuk model teoritis. Kerangka teoritis mewakili dan
menguraikan hubungan antara variabel-variabel, menjelaskan teori yang mendasari
hubungan, dan menjelaskan sifat dan arah hubungan. Sama seperti tinjauan literatur
menetapkan tahap untuk kerangka teoritis yang baik, yang pada gilirannya memberikan
dasar logis untuk mengembangkan hipotesis yang diuji.

The components of the theoretical framework


Ada tiga hal mendasar yang harus dimasukkan dalam setiap kerangka teoritis:
1. Variabel yang dianggap relevan dengan penelitian harus didefinisikan dengan jelas
Tidak selalu mudah untuk menentukan definisi yang relevan dengan variabel. banyak
definisi yang tersedia pada literatur (misalnya, ada banyak definisi brand image, kepuasan
pelanggan, dan kualitas layanan yang tersedia dalam literatur pemasaran). Memilih
definisi dari konsep dengan tepat adalah dibutuhkan, karena akan membantu peneliti untuk
memberikan penjelasan untuk hubungan antara variabel dalam model penelitian. Selain itu
juga akan berfungsi sebagai dasar untuk operasionalisasi atau pengukuran konsep peneltian
dalam tahap pengumpulan data dari proses penelitian. Oleh karena itu, peneliti harus memilih
definisi yang berarti dari literatur (tidak menggunakan definisi kamus, karena biasanya terlalu
umum).
2. Sebuah model konseptual yang menggambarkan hubungan antara variabel dalam model
harus diberikan.
Sebuah model konseptual menggambarkan bagaimana konsep-konsep dalam model
penelitian terkait satu sama lain. Diagram skematik dari model konseptual membantu
pembaca untuk memvisualisasikan hubungan berdasarkan berteori. Oleh karena itu, model
konseptual sering dinyatakan dalam bentuk ini. Namun, hubungan antara variabel juga dapat
diungkapkan dalam kata-kata. Diagram skematik model konseptual dan deskripsi hubungan
antara variabel dalam kata-kata harus diberikan, sehingga pembaca dapat melihat dan mudah
memahami hubungan berdasarkan berteori.
3. Penjelasan yang jelas mengenai hubungan antravariabel
Sebuah model yang baik didasarkan pada teori. Sebuah teori atau penjelasan yang
jelas untuk hubungan antarvariabel dalam model penelitian adalah komponen terakhir dari
kerangka teoritis. Sebuah teori mencoba menjelaskan hubungan antara variabel dalam model
4
penelitian: penjelasan harus disediakan untuk semua hubungan antarvariabel berdasarkan
teori yang ada. Jika sifat dan arah hubungan dapat berteori berdasarkan temuan dari
penelitian sebelumnya dan / atau pendapat peneliti sendiri, maka juga harus ada indikasi
apakah hubungan harus positif atau negatif dan linier atau nonlinear.

Theoretical framework for the example of air safety violations


Variabel dependen adalah safety violation, dimana merupakan variabel yang menjadi perhatian
utama. Untuk menjelaskan variabel dependen ini, digunakan empat variabel independen, yaitu (1)
komunikasi antar crew members, (2) komunikasi antara ground control dan cockpit crew, (3) pelatihan
yang diterima oleh cockpit crew, dan (4) desentralisasi. Komunikasi adalah proses penyampaian
informasi dari pengirim ke penerima dengan menggunakan media dimana informasi yang
disampaikan dipahami dengan cara yang sama oleh pengirim dan penerima. Pelatihan mengacu pada
perolehan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi sebagai hasil dari pengajaran kejuruan atau
praktik keterampilan dan pengetahuan yang berhubungan dengan kompetensi yang berguna untuk
cockpit crew. Desentralisasi adalah dispersi dari tata kelola pengambilan keputusan yang cenderung
melibatkan karyawan.
Semakin sedikit komunikasi antara crew members sendiri, semakin besar kemungkinan
pelanggaran keselamatan penerbangan. Misalnya, setiap kali keselamatan terancam dan ground crew
gagal untuk memberikan informasi yang tepat pada waktu yang tepat, kecelakaan pasti terjadi.
Sehingga koordinasi antara ground crew dan cockpit crew merupakan jantung dalam keselamatan
penerbangan. Kedua faktor di atas diperparah oleh filosofi manajemen maskapai, yang sering
menekankan desentralisasi. Dimana semakin besar tingkat desentralisasi, semakin besar ruang lingkup
untuk pelanggaran keselamatan penerbangan. Juga, ketika anggota kru kokpit tidak cukup terlatih,
mereka mungkin tidak memiliki pengetahuan yang diperlukan mengenai standar keselamatan. Dengan
demikian, kurangnya pelatihan juga menambah kemungkinan meningkatkan pelanggaran
keselamatan.

Selain itu, kita dapat menyisipkan variabel mediasi dalam model. Sebagai contoh, kita dapat
mengatakan bahwa kurangnya pelatihan yang memadai membuat pilot gugup dan malu-malu, dan
5
pada gilirannya menjelaskan mengapa mereka tidak dapat percaya diri menangani situasi di udara.
Kegugupan dan sifat malu-malu adalah fungsi dari kurangnya pelatihan, dan membantu menjelaskan
mengapa pelatihan yang tidak memadai akan menghasilkan bahaya keamanan di udara.

Kita juga dapat secara substansial mengubah model dengan menggunakan (kurangnya)
pelatihan sebagai variabel moderasi. Di sini, kita berteori bahwa komunikasi yang buruk, koordinasi
yang buruk, dan desentralisasi cenderung mengakibatkan pelanggaran keselamatan penerbangan
hanya dalam kasus-kasus seperti di mana pilot yang berwenang memiliki pelatihan yang tidak
memadai. Dengan kata lain, mereka yang memiliki pelatihan yang memadai dapat dengan cekatan
menangani situasi berbahaya melalui sesi pelatihan simulasi dan sebagainya sehingga tidak akan
terhalang oleh komunikasi dan koordinasi yang buruk, dan dalam kasus di mana pesawat ini
dioperasikan oleh pilot terlatih, komunikasi dan koordinasi yang kurang baik tidak akan menghasilkan
bahaya untuk keselamatan penerbangan.

Hypothesis development
Setelah mengidentifikasi variabel-variabel penting dan membangun hubungan antara mereka
melalui penalaran logis dalam kerangka teori, kemudian kita berada pada tahap untuk menguji apakah
hubungan yang sudah ada di dalam teori, pada faktanya, tetap berlaku. Dengan menguji hubungan ini
secara ilmiah melalui analisis statistik yang sesuai, atau melalui analisis kasus negatif dalam
penelitian kualitatif, kita dapat memperoleh informasi yang dapat dipercaya tentang apa jenis
hubungan yang ada antara variabel-variabel yang beroperasi dalam situasi permasalahan. Hasil
pengujian ini menawarkan kita beberapa petunjuk tentang apa yang dapat diubah dalam situasi
6
tersebut untuk memecahkan masalah. Merumuskan pernyataan yang dapat diuji tersebut disebut
pengembangan hipotesis.

Definition of a hypothesis
Hipotesis dapat didefinisikan tentatif, namun dapat diuji, pernyataan, yang memprediksi apa
yang diharapkan untuk ditemukan dalam data empiris. Hipotesis berasal dari teori dimana model
konseptual adalah dasarnya. Sejalan dengan hal ini, hipotesis dapat diartikan sebagai hubungan yang
diduga secara logis antara dua variabel atau lebih yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan yang
dapat diuji. Dengan menguji hipotesis dan mengkonfirmasi atau menetapkan hubungan dugaan,
diharapkan bahwa dapat ditemukan solusi untuk memperbaiki masalah yang ditemukan.
Beberapa pernyataan yang dapat diuji atau hipotesis dapat digambarkan dari kerangka teoritis
yang dirumuskan dalam contoh sebelumnya. Salah satu hipotesisnya dapat berupa:

Jika pilot diberikan pelatihan yang memadai untuk menangani situasi ramai di udara,
pelanggaran keselamatan penerbangan akan berkurang.

Pernyataan di atas adalah pernyataan yang dapat diuji. Dengan mengukur sejauh mana pelatihan
yang diberikan kepada pilot dan jumlah pelanggaran keselamatan yang dilakukan oleh mereka selama
periode waktu tertentu, secara statistik kita dapat menguji hubungan antara kedua variabel untuk
melihat apakah ada korelasi negatif yang signifikan antara keduanya.

Statement of hypotheses: formats


Ifthen statements
Seperti telah disebutkan, hipotesis dapat didefinisikan sebagai pernyataan yang dapat diuji dari
hubungan antar variabel. Hipotesis juga dapat menguji apakah ada perbedaan antara dua kelompok
(atau antara beberapa kelompok) sehubungan dengan variabel atau beberapa variabel. Untuk menguji
apakah dugaan hubungan atau perbedaan benar ada atau tidak, hipotesis dapat diatur sebagai proposisi
atau dalam bentuk pernyataan jika-maka. Contohnya adalah:

Karyawan yang lebih sehat akan mengambil cuti sakit lebih jarang.
Jika karyawan lebih sehat, maka mereka akan mengambil cuti sakit lebih jarang.

Directional and nondirectional hypotheses


Jika dalam menyatakan hubungan antara dua variabel atau membandingkan dua kelompok,
digunakan istilah-istilah seperti positif, negatif, lebih dari, kurang dari, dan sejenisnya, ini adalah
hipotesis directional karena arah hubungan antara variabel diindikasikan (positif/negatif), atau
perbedaan sifat antara dua kelompok pada variabel dinyatakan (lebih dari/kurang dari), seperti dalam
contoh berikut.

7
Semakin besar stres yang dialami dalam pekerjaan, semakin rendah kepuasan kerja karyawan.
Perempuan lebih termotivasi daripada laki-laki.

Disisi lain, hipotesis nondirectional adalah hipotesis yang mendalilkan hubungan atau
perbedaan, tetapi tidak memberikan indikasi dari arah hubungan atau perbedaan ini. Dengan kata lain,
meskipun mungkin diduga bahwa ada hubungan yang signifikan antara dua variabel, kita mungkin
tidak dapat mengatakan apakah hubungan tersebut positif atau negatif. Demikian juga, ketika kita
dapat menduga bahwa akan ada perbedaan antara dua kelompok pada variabel tertentu, kita mungkin
tidak bisa mengatakan kelompok mana yang akan lebih dan mana yang akan kurang pada variabel
tersebut, seperti pada contoh dibawah:

Terdapat hubungan antara usia dan kepuasan kerja.


Terdapat perbedaan antara nilai-nilai etika kerja pada karyawan Amerika dan Asia.

Null and alternate hypotheses


Hipotesis nol (H0) adalah hipotesis yang dibentuk untuk ditolak dalam rangka mendukung
hipotesis alternatif, HA. Ketika digunakan, hipotesis nol dianggap benar sampai bukti statistik dalam
bentuk uji hipotesis, menunjukkan hal yang sebaliknya. Misalnya, hipotesis nol dapat menyatakan
bahwa iklan tidak mempengaruhi penjualan. Dalam istilah yang lebih umum, hipotesis nol dapat
menyatakan bahwa korelasi atau pun perbedaan antara dua variabel sama dengan nol (atau beberapa
bilangan pasti lainnya). Hipotesis alternatif adalah pernyataan yang mengungkapkan hubungan antara
dua variabel atau mengindikasikan adanya perbedaan antara kelompok.
Jika kita menolak hipotesis nol, maka semua hipotesis alternative yang diuji dapat didukung. Ini
adalah teori yang memungkinkan kita untuk percaya pada hipotesis alternatif yang dihasilkan dalam
penelitian tertentu. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa kerangka teori harus didasarkan
pada dugaan yang logis dan dapat dipertahankan. Jika tidak, peneliti lain cenderung untuk menolak
dan mendalilkan penjelasan yang dapat dipertahankan lainnya melalui hipotesis alternatif yang
berbeda. Hipotesis nol mengenai perbedaan kelompok yang dinyatakan dalam contoh Perempuan
lebih termotivasi daripada laki-laki dinyatakan sebagai:

atau
Dimana H0 merupakan hipotesis nol, M adalah mean tingkat motivasi laki-laki, dan W adalah mean
tingkat motivasi perempuan. Sedangkan hipotesis alternatifnya dinyatakan sebagai:

yang sama seperti


Untuk hipotesis nondirectional dari perbedaan mean kelompok dalam nilai etika kerja dalam
contoh Terdapat perbedaan antara nilai-nilai etika kerja pada karyawan Amerika dan Asia, maka
hipotesis nol nya adalah:

8
atau
Dimana H0 merupakan hipotesis nol, AM adalah mean nilai etika kerja Amerika, dan AS adalah mean
nilai etika kerja Asia. Hipotesis alternatif untuk contoh di atas dapat dituliskan sebagai:

Hipotesis nol untuk hubungan antara dua variabel dalam contoh Semakin besar stres yang
dialami dalam pekerjaan, semakin rendah kepuasan kerja karyawan akan menjadi H0: tidak ada
hubungan antara stress yang dialami dalam pekerjaan dan kepuasan kerja karyawan. Dimana secara
statistic dinyatakan dengan:

Dimana merupakan korelasi antara stres dan kepuasan kerja, yang dalam hal ini adalah sama dengan
0 (yaitu, tidak ada korelasi). Alternatif untuk hipotesis nol di atas, yang telah diungkapkan secara
terarah, secara statistik dapat dinyatakan sebagai:

Untuk contoh Terdapat hubungan antara usia dan kepuasan kerja yang telah dinyatakan
nondirectionally, untuk hipotesis nol dapat dinyatakan sebagai:

Dan hipotesis alternatifnya dinyatakan sebagai:

Setelah merumuskan hipotesis nol dan alternatif, uji statistik yang sesuai dapat dilakukan (t-
test, F-tests), yang mengindikasikan hipotesis alternative didukung atau tidak yaitu bahwa ada
perbedaan signifikan atara kelompok atau bahwa ada hubungan signifikan antara variabel, seperti
yang dihipotesiskan.
Langkah-langkah dalam uji hipotesis adalah:
1. Menetapkan hipotesis nol dan hipotesis alternative.
2. Memilih uji statistik yang sesuai tergantung pada data apakah yang dikumpulkan, parametrik
atau nonparametrik.
3. Menentukan tingkat signifikansi yang diinginkan (p = 0,05, atau lebih, atau kurang).
4. Melihat apakah hasil dari analisis menunjukkan bahwa tingkat signifikansi terpenuhi. Jika
dalam kasus analisis yang tingkat signifikansi tidak terindikasi, kita dapat melihat nilai kritis
(critical value) yang menentukan daerah penerimaan pada tabel statistik. Ketika nilai yang
dihasilkan lebih besar dari nilai kritis, hipotesis nol ditolak, dan hipotesis alternative diterima.
Jika nilai yang dihitung adalah kurang dari nilai kritis, hipotesis nol diterima dan hipotesis
alternatif ditolak.
Dalam menghasilkan dan menguji hipotesis dapat dilakukan melalui deduksi dan induksi.
Dalam deduksi, model teoritis pertama kali dikembangkan, hipotesis kemudian dirumuskan, data

9
dikumpulkan, dan kemudian hipotesis diuji. Sedangkan dalam proses induktif, hipotesis baru
dirumuskan berdasarkan apa yang diketahui dari data yang telah dikumpulkan, yang kemudian diuji.

Hypothesis testing with qualitative research: negative case analysis


Hipotesis juga dapat diuji dengan data kualitatif. Sebagai contoh, setelah melakukan wawancara
ekstensif, peneliti mengembangkan kerangka teoritis bahwa praktik tidak etis dari karyawan adalah
fungsi dari ketidakmampuan mereka untuk membedakan antara benar dan salah, atau karena sangat
membutuhkan lebih banyak uang, atau ketidakpedulian organisasi terhadap praktik-praktik tersebut.
Untuk menguji hipotesis bahwa ketiga faktor ini adalah yang utama dalam mempengaruhi praktik
yang tidak etis, peneliti harus mencari data untuk membantah hipotesis. Asumsikan bahwa peneliti
menemukan satu kasus di mana seorang individu sengaja terlibat dalam praktek tidak etis untuk
menerima suap (meskipun fakta bahwa ia cukup berpengetahuan luas untuk membedakan benar dan
salah, tidak membutuhkan uang, dan tahu bahwa organisasi tidak akan tidak peduli terhadap
perilakunya), hanya karena ia ingin membalas sistem, di tidak akan mendengarkan pendapatnya.
Penemuan baru ini, melalui disconfirmation hipotesis asli, dikenal sebagai metode kasus negatif,
memungkinkan peneliti untuk merevisi teori dan hipotesis sampai teori menjadi kuat.

Managerial implications
Pada saat yang genting ini, menjadi mudah untuk mengikuti perkembangan penelitian mulai
dari tahap pertama, ketika para manajer merasakan bidang masalah yang luas, untuk persiapan
pengumpulan data (termasuk tinjauan literatur), mengembangkan kerangka teoritis berdasarkan
tinjauan literatur dan dipandu oleh pengalaman dan intuisi, dan merumuskan hipotesis untuk
pengujian.
Hal ini juga jelas bahwa setelah masalah didefinisikan, pemahaman yang baik dari empat jenis
variabel memperluas pemahaman manajer bagaimana beberapa faktor menimpa pengaturan
organisasi. Pengetahuan tentang bagaimana dan untuk tujuan apa kerangka teoritis dikembangkan dan
hipotesis yang dihasilkan memungkinkan manajer untuk menjadi hakim yang cerdas dari laporan
penelitian yang disampaikan oleh konsultan. Jika pengetahuan tersebut tidak ada, banyak temuan
melalui penelitian tidak akan membuat banyak pengertian untuk manajer dan pengambilan keputusan
akan penuh kesulitan dan kebingungan.

10
Corporate Governance Practices and Firm Performance: Evidence
from Top 100 Public Listed Companies in Malaysia
Shafie Mohamed Zabri, Kamilah Ahmad, Khaw Khai Wah

Abstrak

Praktek corporate governance telah menjadi isu banyak negara Asia setelah krisis keuangan
Asia pada tahun 1997, termasuk Malaysia. Karena krisis, Malaysian Code of Corporate
Governance (MCCG) telah diperkenalkan sebagai bagian aturan listing Bursa Malaysia
(BMB). Penelitian ini berfokus pada praktik corporate governance Top 100 perusahaan
publik yang terdaftar di Bursa Malaysia dan hubungan antara praktek corporate governance
dengan kinerja perusahaan. Dua indikator Corporate Governance (Board size dan Board
independence) dipilih dalam pengujian hubungan hipotesis antara corporate governance
dengan kinerja perusahaan, yang diukur dengan return on asset (ROA) dan return on equity
(ROE). Analisis deskriptif dan korelasi digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian
ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa board size memiliki hubungan negatif yang lemah
secara signifikan dengan ROA tetapi tidak signifikan terhadap ROE.Temuan lainnya
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara Board independence dan kinerja perusahaan.
Penelitian ini memberikan informasi yang berguna untuk pembuat kebijakan atau regulator
dalam meningkatkan kebijakan tata kelola perusahaan di masa depan dan juga membantu
dalam meningkatkan pemahaman tentang hubungan antara praktek tata kelola perusahaan dan
kinerja perusahaan.

Pendahuluan

Isu corporate governance di negara Asia termasuk Malaysia telah menjadi perhatian
di akhir 1990-an menyusul krisis keuangan Asia pada tahun 1997. Malaysian Code of
Corporate Governance (MCCG) atau disebut sebagai 2001 Code adalah masalah pertama
pada tahun 2000 sebagai tonggak dalam reformasi tata kelola perusahaan di Malaysia.
Banyak peneliti berpendapat bahwa corporate governance memainkan peran penting dalam
mengendalikan operasi perusahaan (Fama, 1980; Fama & Jensen 1983). Namun, penelitian
sebelumnya ditemukan hasil yang berbeda-beda pada hubungan antara praktek corporate
governance dan kinerja perusahaan. Penelitian ini menyelidiki masalah ini dengan tujuan
untuk mempelajari praktik corporate governance antara Top 100 perusahaan publik yang
listing di Bursa Malaysia dan untuk mengukur hubungan antara praktek corporate
governance dan kinerja perusahaan.

Literatur Review

Corporate Governance

Terdapat dua kategori mekanisme corporate governance yaitu mekanisme internal


(misalnya board size, board independence dan board of directors) dan mekanisme eksternal
(misalnya kondisi pasar yang kompetitif, pasar tenaga kerja manajerial). Dalam penelitian

11
ini, dua indikator internal yang paling berpengaruh dari corporate governance yang
digunakan yaitu Board Size dan Board Independence.

Board Size

Definisi Board Size adalah jumlah total direksi dalam dewan (Panasian et al, 2003;. Levrau
dan Van den Berghe, 2007). Sebuah board size yang optimal harus mencakup baik direktur
eksekutif maupun non-eksekutif (Goshi et al., 2002). Efektivitas dalam struktur dewan adalah
penting untuk mengelola perusahaan.

Board Independence

Board independence mengacu pada persentase dari jumlah total direktur non-eksekutif
independen terhadap total jumlah direksi (Prabowo dan Simpson, 2011). Hal itu juga
didefinisikan sebagai tingkat adanya direktur independen atau adanya direktur non-eksekutif
pada dewan (Abdullah dan Nasir, 2004).

Kinerja Perusahaan

Penelitian ini menggunakan ROA dan ROE sebagai pengukuran kinerja keuangan bagi
perusahaan yang dipilih. ROA didefinisikan sebagai laba bersih sebelum beban bunga dibagi
dengan total aset. ROA menunjukkan jumlah penghasilan yang telah dihasilkan dari modal
aset yang diinvestasikan (Epps dan Cereola, 2008). ROE didefinisikan sebagai laba sebelum
beban bunga dibagi dengan total ekuitas.ROE telah terbukti menjadi ukuran kinerja yang
terpercaya bagi para pemangku kepentingan perusahaan (Johnson dan Greening, 1999) dan
sangat cocok baik dalam jangka pendek dan jangka panjang bagi kebanyakan investor
(Brealey dan Myers, 2000). Secara keseluruhan, ROE adalah ukuran yang menunjukkan
investor berapa banyak keuntungan yang bisa dihasilkan oleh perusahaan, menggunakan
uang yang diinvestasikan pemegang saham (Epps dan Cereola, 2008).

Relationship between Corporate Governance Practices and Firm Performance

a. Relationship between Board Size and Firm Performance

Berdasarkan penelitian sebelumnya, beberapa peneliti menunjukkan bahwa ada


hubungan positif antara board size dan kinerja perusahaan (Shukeri et al, 2012;. Adam dan
Mehran, 2003; Mak dan Kusnadi, 2005; Kiel dan Nicholson, 2003). Di sisi lain, beberapa
peneliti berpendapat bahwa ada hubungan negatif antara kedua variabel tersebut (Mishra et
al, 2001;. Singh dan Davidson, 2003).

b. Relationship between Board Independence and Firm Performance

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa hasil untuk hubungan antara board independence
dan kinerja perusahaan berbeda-beda. Dehaene et al. (2001) menyatakan bahwa proporsi
independent directors memiliki korelasi positif dengan ROE antara perusahaan Belgia.
Temuan ini didukung oleh Byrd et al. (2010) yang menunjukkan pengaruh positif signifikan
independent directors terhadap kinerja perusahaan. Berbeda dengan penelitian oleh Hermalin
dan Weisbach (2001) yang tidak menemukan bukti bahwa independent directors
12
mempengaruhi kinerja perusahaan. Hasil ini konsisten dengan penelitian lain yang dilakukan
oleh Klein et al. (2005).

Kerangka Konseptual dan Pengembangan Hipotesis


Dalam penelitian ini, dikembangkan empat hipotesis yang disajikan dalam gambar berikut:
Corporate Governance Firm Performance

Board Size (BSIZE) H1 Firms ROA

H2

H3
Board Independence Firms ROE
(BIND) H4

Komponen utama dari penelitian ini terdiri dari praktik corporate governance yang ditunjukkan
dengan board size dan board independence sebagai variabel independen, sedangkan kinerja
perusahaan diukur dengan menggunakan Return on Assets (ROA) perusahaan dan Return on Equity
(ROE) perusahaan sebagai variabel dependen. Berikut adalah hipotesis yang dikembangkan dan akan
diuji dalam penelitian ini.
Hipotesis 1 : Terdapat hubungan antara board size dan ROA perusahaan.
Hipotesis 2 : Terdapat hubungan antara board size dan ROE perusahaan.
Hipotesis 3 : Terdapat hubungan antara board independence dan ROA perusahaan.
Hipotesis 4 : Terdapat hubungan antara board independence dan ROE perusahaan.

Metodologi
Sampel pada penelitian ini terbatas pada Top 100 perusahaan publik yang terdaftar di BMB
selama periode 2008 hingga 2012. Dari seluruh sampel, hanya 86 perusahaan yang dapat digunakan
sebagai sampel karena sampel lainnya tidak memberikan informasi yang dibutuhkan dengan lengkap.
Penelitian ini mengandalkan desain kualitatif. Dimana analisis statistik, tabel atau grafik
diterapkan dalam penelitian ini. Untuk menilai dan menganalisis data, digunakan SPSS untuk menguji
hubungan antara praktek corporate governance dan kinerja perusahaan. Terdapat dua metode analisis
yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu analisis deskriptif dan analisis korelasi.

Hasil Penelitian
Analisis deskriptif
Nilai mean dari board size adalah 8,9279 orang (sekitar 9 orang), dan standar deviasi adalah
1,8494 (sekitar 2). Dengan demikian, rata-rata jumlah dewan direksi sebagian besar sampel
diidentifikasi antara 7 dan 11 orang.

13
Rasio mean board independence adalah 0,4603, dan deviasi standar adalah 0,11264. Hal ini
menunjukkan bahwa rasio rata-rata board independence pada sebagian besar sampel terletak
antara 0,3477 dan 0,5729.
Nilai mean ROA adalah 0,0866 dengan standar deviasi 0,0826. Oleh karena itu, rata-rata mean
ROA adalah antara 0,004 dan 0,1692.
Nilai mean ROE adalah 0,19878 dengan standar deviasi 0,25921. Hal ini menunjukkan bahwa
rata-rata ROE adalah antara -0,0643 dan 0,45799.

Analisis korelasi dan Uji Hipotesis


Spearmans Correlation Test

Analisis korelasi dilakukan untuk menguji hubungan antara dua variabel. Koefisien korelasi
mengungkapkan kekuatan hubungan antara dua variabel dan arah hubungan (positif dan negatif). Hal
ini dapat berkisar dari -1,00 (nilai negatif sempurna) ke 1,00 (nilai positif sempurna). Hal ini dapat
dibenarkan bahwa tidak ada hubungan antara variabel yang diuji jika menunjukkan nilai 0.00.
Untuk hipotesis 1 (hubungan antara board size dengan ROA), memiliki Nilai negatif ini
menunjukkan bahwa kedua variabel ini memiliki korelasi negatif yang lemah dan bahwa board size
berbanding terbalik dengan ROA perusahaan. Nilai signifikansi p = 0,048 yaitu kurang dari 0,05, hal
ini menandakan nilai tersebut signifikan, sehingga H 1 diterima. Untuk hipotesis 2 (hubungan antara
board size dengan ROE), koefisien korelasinya adalah -0,139. Nilai negatif ini menunjukkan bahwa
kedua variabel tersebut memiliki korelasi negatif yang lemah. Ini berarti bahwa board size berbanding
terbalik dengan ROE perusahaan. Nilai signifikansi p = 0,201 yaitu lebih dari 0,05, ini berarti bahwa
nilai tersebut tidak signifikan, sehingga H0 diterima. Korelasi negatif tersebut mengindikasikan bahwa
semakin kecil board size dapat menyebabkan kinerja perusahaan yang lebih baik.Hasil ini
menunjukkan bahwa hubungan antara board size dan kinerja perusahaan tidak meyakinkan.
Untuk hipotesis 3 (hubungan antara board independence dengan ROA), koefisien korelasinya
adalah 0,03. Nilai ini mengindikasikan bahwa kedua variabel ini memiliki korelasi positif yang lemah.
Sehingga semakin tinggi rasio board independence akan menyebabkan ROA perusahaan semakin
tinggi. Nilai signifikan p = 0,786 adalah lebih dari 0,05, ini berarti bahwa nilainya tidak signifikan,
sehingga H0 diterima. Untuk hipotesis 4 (hubungan antara board independence dengan ROE)
memiliki koefisien korelasi sebesar 0,06 dengan p = 0,582. Hasil ini menunjukkan bahwa kedua
variabel memiliki korelasi positif yang lemah dan H 0 diterima. Hasil hipotesis 3 dan 4 menunjukkan

14
bahwa tidak ada hubungan antara board independence dan kinerja perusahaan, karena nilai signifikan
dari ROA dan ROE perusahaan tidak signifikan.

Kesimpulan
Dalam penelitian ini ditetapkan dua tujuan. Tujuan pertama adalah untuk menyelidiki praktik
corporate governance di antara top 100 perusahaan terdaftar. Tujuan ini dicapai melalui analisis
deskriptif dan diketahui bahwa rata-rata jumlah direksi dalam dewan adalah 9 orang dan rasio rata-
rata board independence pada Top 100 perusahaan publik yang terdaftar dari tahun 2008 hingga 2012
adalah 46%.
Tujuan kedua adalah untuk meneliti hubungan antara corporate governance dan kinerja
perusahan. Tujuan ini terdiri dari empat hipotesis dan dicapai dengan menggunakan analisis korelasi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan campuran antara corporate governance dan
kinerja perusahaan.

Keterbatasan dan Rekomendasi untuk Penelitian Selanjutnya


Penelitian ini terbatas pada Top 100 perusahaan publik Malaysia yang terdaftar dari tahun 2008
sampai 2012, dan tidak seluruh perusahaan menjadi sampel. Hal ini akan menyebabkan sampel
menjadi tidak valid untuk mewakili seluruh populasi. Penelitian ini dapat ditingkatkan dengan
melakukan analisis untuk periode waktu yang lebih lama. Disarankan bahwa data keuangan yang
digunakan mulai lebih dari 20 tahun sehingga hasil analisis dapat diandalkan dan dipercaya.

15