Anda di halaman 1dari 47

Contoh Proposal Skripsi Fakultas

Kesehatan masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan kesehatan mulai menghadapi pola penyakit baru,

yaitu meningkatnya kasus penyakit tidak menular yang dipicu

berubahnya gaya hidup masyarakat seperti pola makan rendah serat

dan tinggi lemak serta konsumsi garam dan gula berlebih, kurang

aktifitas fisik (olah raga) dan konsumsi rokok yang prevalensinya terus

meningkat. Kecenderungan peningkatan jumlah perokok tersebut

membawa konsekuensi jangka panjang, karena rokok berdampak

terhadap kesehatan. Dampak kesehatan dari konsumsi rokok telah

diketahui sejak dahulu (Kemenkes RI, 2012).

Sikap sebagian remaja Indonesia telah menganggap bahwa

merokok adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa dielakkan,

kebutuhan untuk gaul, kebutuhan untuk santai dan berbagai alasan

lain yang membuat rokok adalah hal biasa. Dampak rokok itu sendiri

meningkat justru pada perokok pasif yaitu orang yang tidak merokok

tapi menghirup atau terkena paparan rokok orang lain. Remaja juga
merupakan kelompok tertinggi yang rentang terhadap pengaruh iklan,

baik media massa (cetak dan elektronik) maupun papan iklan dipinggir

jalan (Biilboard). Sekitar 86% remaja di dunia menghisap satu jenis

merk rokok yang paling sering diiklankan, terutama televisi sedangkan

orang dewasa hanya 30% yang memilih jenis rokok yang sama

meskipun kemungkinannya mereka lebih sering menyaksikan iklannya

dibandingkan remaja (Kurniawan, 2012).

Adanya selang waktu 20-25 tahun antara mulai merokok dan

timbulnya penyakit yang ditimbulkannya menyebabkan dampak

tersebut tidak disadari. Rokok kretek mengandung tembakau sebanyak

60-70% sehingga memiliki risiko kesehatan yang sama dengan produk

tembakau lainnya. Mitos yang berkembang di masyarakat adalah

larangan merokok melanggar hak asasi seseorang. Merokok di tempat

umum melanggar hak orang lain untuk menikmati udara bersih dan

menyebabkan gangguan kesehatan pada orang yang tidak merokok.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 juga menunjukkan

adanya peningkatan jumlah konsumsi rokok. Menurut hasil riset

tersebut, penduduk Indonesia rata-rata menghisap 12 batang per hari

meningkat dari rata-rata konsumsi rokok pada tahun sebelumnya yang

hanya antara 10-11 batang per hari (Kemenkes RI, 2008).

Penggunaan tembakau terus berlanjut sebagai bahan yang

menyebabkan kerusakan pada kesehatan manusia. Menurut data WHO

(World Health Organization) saat ini terdapat 1,3 miliar perokok di


dunia dan 84 % di antaranya berasal dari dunia ketiga (negara

berkembang). Tembakau dapat menyebabkan sekitar 8,8% kematian

(4,9 juta) dan sekitar 4,1% menyebabkan penyakit (59,1 juta) dari

seluruh dunia. Jika kecenderungan ini tidak berbalik, maka angka-

angka tersebut akan meningkat hingga 10 juta kematian per tahun

mulai tahun 2020, atau pada awal 2030, dengan 70% kematian terjadi

di negara-negara berkembang (WHO, 2010).

WHO memperkirakan bahwa 59% pria berusia di atas 10 tahun di

Indonesia telah menjadi perokok harian, dan konsumsi rokok Indonesia

setiap tahun mencapai 199 miliar batang rokok atau urutan ke-4 pada

tahun 2008 setelah RRC (1.679 miliar batang), AS (480 miliar), Jepang

(230 miliar), dan Rusia (230 miliar).

Menurut perkiraan WHO, kenaikan jumlah perokok Indonesia,

khususnya anak usia muda, karena gencarnya iklan rokok melalui

berbagai media, sponsorship pada kegiatan olahraga, dan hiburan.

Sebagian besar perokok di Indonesia menyatakan sulit menghentikan

merokok dengan alasan untuk kenikmatan, terkesan keren dan

gengsi yang tinggi serta alasan menghilangkan stres/ depresi (Kompas,

2010).

Prevalensi perokok dunia pada tahun 2008 adalah 1,3 milyar

orang, bila jumlah penduduk dunia pada tahun yang sama mencapai

6,7 milyar jiwa, maka prevalensi perokok dunia pada tahun 2008

adalah 19,4%. Prevalensi merokok di indonesia juga mengalami


peningkatan, berdasarkan riskesdas tahun 2007 penduduk Indonesia

berusia > 15 tahun yang merokok setiap hari sebanyak 27,2%, yang

kadang- kadang (tidak setiap hari) merokok sebanyak 6,1%, mantan

perokok sebesar 3,7% dan yang tidak merokok sebesar 63%

sedangkan menurut Riskesdas tahun 2010 penduduk indonesia

bersusia > 15 tahun yang merokok setiap hari sebanyak 28,2%, yang

kadang-kadang merokok (tidak setiap hari) merokok sebanyak 8,5%,

mantan perokok 5,4% dan yang tidak merokok sebesar 59,9%.

Dibandingkan tahun 2007 pada tahun 2010 terlihat adanya

peningkatan prevalensi merokok pada usia > 15 tahun (Wijaya, 2012).

Menurut data pada tahun 2008 yang dikeluarkan oleh Global

Youth Tobaco Survey (GYTS) dari 2074 responden pelajar Indonesia

usia 15-20 tahun, 43,9% (63% pria) mengaku pernah merokok. Para

perokok pada umumnya adalah laki-laki dan lebih tinggi dibandingkan

dengan perempuan, dimana jika diuraikan menurut umur, prevalensi

perokok laki-laki paling tinggi pada umur 15-19 tahun. Remaja laki-laki

pada umumnya mengkonsumsi 11-12 batang perhari (49,8%) dan yang

mengkonsumsi lebih dari 20 batang perhari atau sebesar 5,6% (GYTS,

2008).

Sementara Yayasan Kanker Indonesia (YKI) pada tahun 2008

menemukan 27,1% dari 1961 responden pelajar pria SMA/SMK, sudah

mulai merokok bahkan sudah terbiasa dengan yang namanya merokok.

Umumnya siswa kelas satu sudah menghisap satu sampai empat


batang perhari, sementara siswa kelas tiga mengkonsumsi rokok lebih

dari 10 batang perhari (Sirait, 2009).

Menurut data Kementrian Kesehatan jumlah perokok di

Indonesia mencapai 34,7%. Perokok yang paling banyak terdapat di

Kalimantan Tengah, sementara konsumsi rokok perhari paling banyak

di Bangka Belitung. Menurut Riskesdas tahun 2010 mengungkapkan

populasi perokok di Kalimantan Tengah mencapai 43,2%, tertinggi

dibanding provinsi lain di Indonesia sementara yang paling rendah di

Sulawesi Tengah 28,4%, sekitar 52,3 persen perokok di Indonesia

menghisap 1-10 batang/hari, 41% menghisap 11-20 batang/hari, 4,7%

menghisap 21-30 batang/hari. 2,1% yang sanggup menghabiskan 31

batang/hari. Berdasarkan katagori jumlah perokok berat yang

menghabiskan lebih dari 31 batang/hari, Bangka Belitung tertinggi

yaitu 16,2%. Provinsi ini juga menempati urutan kedua untuk jumlah

perokok yang mengonsumsi 21-30 batang/hari dengan 8,5%, di bawah

Aceh dengan 9,9 % (Kemenkes RI, 2010).

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas)

tahun 2007 menunjukkan meskipun jumlah penduduk Aceh

lebih sedikit dibanding penduduk daerah lain di Indonesia,

terutama dari Pulau Jawa. Namun, masyarakat Aceh ternyata

tergolong sebagai perokok berat. Hal ini dibuktikan dari hasil riset

kesehatan dasar (Riskesdas) provinsi Aceh berada di urutan teratas


jumlah perokok terbanyak. Bahkan anak Aceh yang berusia 10 tahun

ke atas, sebanyak 29,7 % tercatat sebagai perokok aktif.

Dari hasil riset tersebut diketahui para perokok di Aceh rata-rata

menghisap 19 batang rokok per hari. Bahkan, karena kurangnya

kesadaran mereka merokok di rumah, 82,7 % anggota keluarga

terkena imbas perokok pasif, termasuk balita. Angka tersebut lebih

banyak dibanding rata-rata perokok aktif secara nasional di Indonesia

yakni, 29,2 %dari jumlah penduduk. Dikabupaten Aceh Selatan

persentase perokok yang merokok setiap hari adalah 30,4%, merokok

kadang- kadang 3,8% dan 82,8% kegiatan merokok di lakukan di

dalam rumah sedangkan usia pertama kali merokok adalah usia 5-9

tahun (1,2%) usia 10 14 tahun (9,5%), usia 15 19 tahun (25,7%),

usia 20-24 tahun (13,7%), usia 25-29 (4,2%) dan usia >= 30 tahun

(5,7%) (Dinkes Aceh, 2008).

Lebih dari sepertiga pelajar di Indonesia dilaporkan biasa

merokok, dan ada 3 diantara 10 pelajar menyatakan pertama kali

merokok pada umur dibawah 10 tahun. Trend perokok remaja di

Indonesia juga mengalami peningkatan, berdasarkan Riskesdas tahun

2007 usia mulai merokok pada umur remaja yaitu 15-19 tahun adalah

33,1% kemudian berdasarkan Riskesdas tahun 2010 terjadi

peningkatan menjadi 43,3% yang juga merupakan tertinggi dari

seluruh kelompok umur. Hal ini menunjukkan bahwa anak- anak dan

remaja merupakan merupakan kelompok paling rentan untuk terpapar

rokok pertama kali. Usia mulai merokok pertama kali pada usia 5-9
tahun juga menunjukkan kecenderungan semakin meningkat yaitu

1,2% pada tahun 2007 menjadi 1,7% pada tahun 2010 (Aditama,

2011).

Penelitian yang dilakukan oleh Heru (2005) menunjukkan bahwa

adanya hubungan antara pengetahuan tentang merokok (p-value=

0,013) , sikap tentang merokok (p-value = 0,006), kepercayaan (p-

value= 0,032), persetujuan orang tua tentang praktik merokok

responden (p-value 0,003), praktik merokok orang tua responden (p-

value 0,005), jumlah uang saku (p-value 0,003), tradisi merokok dalam

keluarga (p-value = 0,002) dengan praktik merokok pada siswa SLTA

di Kecamatan Boja Kabupaten Kendal.

Hasil pengamatan awal yang dilakukan secara observasi oleh

penulis diketahui masih terdapatnya siswa yang merokok meskipun

merokok dilarang oleh pihak sekolah namun masih tetap ada siswa

yang merokok di luar pekarangan sekolah, bahkan ada yang merokok

pada sudut sekolah, hal ini menunjukkan masih lemahnya kontrol pihak

sekolah. Data sekolah SMKN 1 Tapak Tuan diketahui selama tahun 2012

sudah terdapat 38 siswa yang telah diberikan hukuman karena

merokok, hukuman yang diberikan membersihkan pekarangan sekolah,

membersihkan kamar mandi dan membuat sapu lidi.

Sedangkan hasil pengamatan awal yang dilakukan dengan

wawancara dengan siswa diketahui pada umumnya siswa menyatakan

orang tua mereka adalah bahkan merokok dilakukan di dalam rumah,

ada juga orang tua yang menyuruh anaknya untuk membeli rokok
yang menunjukkan kurangnya peran orang tua dalam mencegah anak

untuk tidak merokok, siswa mengetahui tentang bahaya dari rokok

namun mereka masih bersikap negatif terhadap rokok artinya tidak

peduli dengan bahaya yang akan ditimbulkan pada kemudian hari dan

adanya pengaruh dari lingkungan pergaulan yang menyebabkan

keinginan untuk merokok. Selain faktor yang telah disebutkan di atas

terdapat faktor lain yang menyebabkan remaja di SMKN 1 Tapaktuan

merokok karena ikut-ikutan teman yang merokok.

1.2 Perumusan Masalah

Jumlah perokok dikalangan remaja dari tahun ke tahun terus

meningkat yaitu dari 33,1% pada tahun 2007 menjadi 43,3% pada

tahun 2010. Untuk mengurangi jumlah perokok pada remaja maka

perlu dilakukan analisa mengenai perilaku perokok pada remaja. Untuk

itu penulis ingin ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai

faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok pada siswa

sekolah SMKN 1 Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian

Mengingat keterbatasan tenaga dan dana maka penelitian ini

dibatasi pada faktor peran orang tua, lingkungan pergaulan,

pengetahuan, sikap, iklan rokok dan peran guru.

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum


Untuk mengetahui determinan perilaku merokok pada siswa

SMKN 1 Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan perilaku

merokok pada siswa SMKN 1 Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan tahun

2013.

2. Untuk mengetahui hubungan lingkungan pergaulan dengan perilaku

merokok pada siswa SMKN 1 Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan tahun

2013.

3. Untuk mengetahui hubungan iklan rokok dengan perilaku merokok

pada siswa SMKN 1 Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan tahun 2013

4. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku merokok

pada siswa SMKN 1 Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan tahun 2013.

5. Untuk mengetahui hubungan sikap dengan perilaku merokok pada

siswa SMKN 1 Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan tahun 2013.

6. Untuk mengetahui hubungan peran guru dengan perilaku merokok

pada siswa SMKN 1 Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan tahun 2013

1.5 Manfaat Penelitian

1. Sebagai masukan bagi SMKN 1 Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan

untuk mencegah perilaku merokok pada siswa.

2. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan dapat dijadikan

sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan penyuluhan mengenai

rokok pada masyarakat secara umum dan pada siswa khususnya.


3. Dapat menjadi bahan referensi bagi peneliti lainnya yang meneliti

tentang perilaku merokok.

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Perilaku Merokok


tian Perilaku Merokok

Perilaku manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya

stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun

tidak langsung (Maulana, 2007). Menurut L. Green dalam Notoatmodjo

(2007) menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat

kesehatan bahwa seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 (dua)

faktor yakni faktor perilaku dan faktor diluar perilaku, selanjutnya

perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 (tiga) faktor ,

yaitu:
1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam

pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai- nilai dan

sebagainya dari seseorang.

2. Faktor- faktor pendukung (enabling factors) yang terwujud dalam

lingkungan fisik, tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana- sarana

kesehatan.

3. Faktor- faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam

sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain yang

merupakan kelompok referensi dan perilaku masyarakat, orang tua,

guru, panutan dan ulama.

Perilaku merokok adalah aktivitas seseorang yang merupakan

respons orang tersebut terhadap rangsangan dari luar yaitu faktor-

faktor yang mempengaruhi seseorang untuk merokok dan dapat

diamati secara langsung. merokok adalah membakar tembakau

kemudian dihisap, baik menggunakan rokok maupun menggunakan

pipa. Temparatur sebatang rokok yang tengah dibakar adalah 90

derajat Celcius untuk ujung rokok yang dibakar, dan 30 derajat Celcius

untuk ujung rokok yang terselip di antara bibir perokok (Hanafiah,

2007).

Seperti halnya perilaku lain, perilaku merokok pun muncul

karena adanya faktor internal (faktor biologis dan faktor psikologis,

seperti perilaku merokok dilakukan untuk mengurangi stres) dan faktor

eksternal (faktor lingkungan sosial, seperti terpengaruh oleh teman


sebaya). Sari dkk (2003) menyebutkan bahwa perilaku merokok adalah

aktivitas menghisap atau menghirup asap rokok dengan menggunakan

pipa atau rokok.

Menurut Ogawa dalam Triyanti (2006) dahulu perilaku merokok

disebut sebagai suatu kebiasaan atau ketagihan, tetapi dewasa ini

merokok disebut sebagai tobacco dependency atau ketergantungan

tembakau. Tobacco dependency sendiri dapat didefinisikan sebagai

perlaku penggunaan tembakau yang menetap, biasanya lebih dari

setengah bungkus rokok per hari, dengan adanya tambahan distres

yang disebabkan oleh kebutuhan akan tembakau secara berulang-

ulang. Perilaku merokok dapat juga didefinisikan sebagai aktivitas

subjek yang berhubungan dengan perilaku merokoknya, yang diukur

melalui intensitas merokok, waktu merokok, dan fungsi merokok dalam

kehidupan sehari-hari (Hidayati, 2006).

Merokok adalah menghisap asap tembakau yang dibakar

kedalam tubuh dan menghembuskannya kembali ke luar, asap rokok

selain merugikan diri sendiri juga dapat berakibat bagi orang-orang

lain yang berada disekitarnya. Pendapat lain menyatakan bahwa

perilaku merokok adalah segala sesuatu yang dilakukan seseorang

berupa membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap

yang dihisap oleh orang-orang disekitarnya (Widiyarso, 2008).

Intensitas merokok sebagai wujud dari perilaku merokok. rokok

aktif adalah asap rokok yang berasal dari isapan perokok atu asap
utama pada rokok yang dihisap (mainstream). Dari pendapat diatas

dapat ditarik kesimpulan bahwa perokok aktif (active smoker) adalah

orang yang merokok dan langsung menghisap rokok serta bisa

mengakibatkan bahaya bagi kesehatan diri sendiri maupun lingkungan

sekitar (Hanafiah, 2007).

Menurut Hanafiah (2007) perokok dapat digolongkan kedalam

beberapa jenis yaitu perokok sangat berat adalah bila mengkonsumsi

rokok lebih dari 31 batang perhari dan selang merokoknya lima menit

setelah bangun tidur. Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang

sehari dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6-30

menit. Perokok sedang menghabiskan rokok sekitar 11-20 batang

dengan selang waktu 31-60 menit setelah bangun pagi. Perokok ringan

menghabiskan rokok sekitar 10 batang dengan selang waktu 60 menit

dari bangun pagi.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

perilaku merokok adalah suatu kegiatan atau aktifitas membakar rokok

dan kemudian menghisapnya dan menghembuskannya ke luar dan

dapat menimbulakan asap yang dapat terhisap oleh orang-orang

disekitarnya.

1. Tipe Perilaku Merokok

Menurut Hidayati (2006), terdapat 4 tahap dalam perilaku

merokok sehingga menjadi perokok, yaitu:


1. Tahap prefatory, seseorang mendapatkan gambaran yang

menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar,

melihat atau dari hasil bacaan. Hal ini menimbulkan minat untuk

merokok.

2. Tahap initiation, yaitu tahap perintisan merokok, tahap ini

seseorang akan meneruskan atau tidak meneruskan terhadap

perilaku merokok.

3. Tahap becoming a smoker, yaitu tahap yang apabila seseorang

telah mengkonsumsi rokok sebanyak empat batang perhari,

maka mempunyai kecendrungan untuk menjadi perokok.

4. Tahap maintenance of smoking, tahap ini perokok sudah menjadi

salah satu bagian dari cara pengaturan diri (self regulating).

Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang

menyenangkan.

Menurut Hidayati (2005) ada 4 tipe perilaku merokok

berdasarkan Management of affect theory, keempat tipe tersebut

adalah :

1. Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif. Dengan merokok

seseorang merasakan penambahan rasa yang positif. Dalam hal ini

dibagi dalam 3 sub tipe yaitu a) Pleasure relaxation, perilaku merokok

hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah

didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan b)

Stimulation to pick them up, perilaku merokok hanya dilakukan


sekedarnya untuk menyenangkan perasaan dan c) Pleasure of

handling the cigarette, kenikmatan yang diperoleh dengan memegang

rokok. Sangat spesifik pada perokok pipa. Perokok pipa akan

menghabiskan waktu untuk mengisi pipa dengan tembakau sedangkan

untuk menghisapnya hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja

atau perokok lebih senang berlama-lama memainkan rokoknya dengan

jari-jarinya lama sebelum dia menyalakan dengan api.

2. Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif. Banyak

orang menggunakan rokok untuk mengurangi perasaan negatif,

misalnya bila marah, cemas ataupun gelisah, rokok dianggap sebagai

penyelamat. Perilaku merokok yang adiktif (psychological addiction).

Bagi yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan

setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Mereka

umumnya akan pergi keluar rumah membeli rokok, walau tengah

malam sekalipun.

3. Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Mereka

menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan

perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah kebiasaan rutin.

Pada tipe orang seperti ini merokok merupakan suatu perilaku yang

bersifat otomatis.

tian Rokok

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70

hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter


sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah

(Hanafiah, 2007). Sedangkan menurut Burhan (2007) rokok merupakan

benda kecil yang bahan utamanya adalah tembakau, ini

menyenangkan bagi sebagian orang, tetapi menyebalkan bagi

sebagian lainnya. Benda yang disebut rokok itu bias membuat orang

yang mengisap merasa tenang dan percaya diri.

Rokok adalah suatu produk yang dihasilkan dengan memotong

daun daun tembakau secara sempurna yang digulung atau diisi ke

dalam suatu silinder yang disebut paper wrapped (secara umum

kurang dari 120 mm panjangnya dan 10 mm garis tengah). Rokok

dinyalakan dari awal hingga akhir dan dibiarkan membara lalu dihisap

hingga keluar asapnya. Pada umumnya rokok memakai penyaring atau

filter. Rokok dihisap langsung melalui mulut, tetapi ada juga yang

dinyalakan dengan suatu pipa rokok (Prasetya, 2010).

Godaan merokok sudah hadir sejak seseorang masih muda.

Tekanan dari teman-teman adalah salah satu penyebab utama. Di

Kanada, 70 persen anak-anak yang merokok mengaku terpengaruh

oleh teman-teman mereka yang sudah merokok lebih dulu karena

merasa mendapat "penghargaan sosial" ketika mereka merokok.

Orangtua juga memiliki pengaruh pada anak-anak dalam hal merokok,

khususnya orangtua perokok. Beberapa penelitian meskipun mungkin

sebetulnya sudah jelas membuktikan bahwa anak-anak dari orangtua

perokok lebih besar kemungkinannya untuk mengisap "batang


tembakau" ketimbang anak-anak dari orangtua non-perokok (Pangestu,

2011).

Orangtua non-perokok juga bisa dianggap bersalah ketika

membiarkan anak-anak mereka menonton film atau video yang

menampilkan orang merokok. Media massa bisa mengaburkan pesan

bahaya merokok dengan menampilkan iklan, film, atau media lain yang

menunjukkan kalau merokok itu keren, bagian dari gaya, bahkan

menyiratkan pesan bahwa merokok itu baik bagi kesehatan. Alasan

lain bagi orang untuk merokok adalah alasan medis. Memang tidak ada

dokter yang menyarankan orang untuk merokok, tetapi bagi beberapa

penderita depresi, merokok adalah obat bagi mereka untuk

mengurangi ketegangan. Nikotin melepaskan senyawa tertentu ke

dalam sistem saraf dan menciptakan efek tenang (Pangestu, 2011).

yang Terkandung dalam Rokok

Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen dan

setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan.

Racun utama pada rokok (Kemenkes RI, 2007) menyatakan sebagai

berikut:

1. Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel

pada paru-paru. Tar mengandung sekurang-kurangnya 43 bahan kimia

yang diketahui menjadi penyebab kanker (karsinogen). Bahan seperti

benzopyrene yaitu sejenis polycyclic hydrocarbon (PAH) yang telah

lama disahkan sebagai agen yang menyebabkan kanker.


2. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran

darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-

paru yang mematikan. Nikotin turut menjadi penyebab utama risiko

serangan penyakit jantung dan stroke.

3. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam

darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen. Karbon

monoksida pula adalah gas beracun yang biasanya dikeluarkan oleh

asap kenderaan.

Menurut Nugraha (2011) selain Tar, Nikotin dan Karbon

Monoksida rokok juga mengandungan bahan kimian lain yang berbaya

bagi kesehatan antara lain:

1. Kadmium. Kadmium adalah zat yang dapat meracuni jaringan tubuh

terutama ginjal.
2. Akrolein. Akrolein merupakan zat cair yang tidak berwarna seperti

aldehid. Zat ini sedikit banyak mengandung kadar alkohol. Artinya,

akrolein ini adalah alkohol yang cairannya telah diambil. Cairan ini

sangat mengganggu kesehatan.


3. Amoniak. Amoniak merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri

dari nitrogen dan hydrogen. Zat ini tajam baunya dan sangat

merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada ammonia sehingga

jika masuk sedikit pun ke dalam peredaran darah akan mengakibatkan

seseorang pingsan atau koma.


4. Asam Format. Asam format merupakan sejenis cairan tidak berwarna

yang bergerak bebas dan dapat membuat lepuh. Cairan ini sangat
tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan seseorang

seperti merasa digigit semut.


5. Hidrogen Sianida/HCN. Hidrogen sianida merupakan sejenis gas yang

tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini

merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efisien

untuk menghalangi pernapasan dan merusak saluran pernapasan.

Sianida adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat

berbahaya. Sedikit saja sianida dimasukkan langsung ke dalam tubuh

dapat mengakibatkan kematian.


6. Nitrous Oxid. Nitrous oxide merupakan sejenis gas yang tidak

berwarna, dan bila terhisap dapat menyebabkan hilangnya

pertimbangan dan menyebabkan rasa sakit. Nitrous oxide ini adalah

sejenis zat yang pada mulanya dapat digunakan sebagai pembius

waktu melakukan operasi oleh dokter.


7. Formaldehid. Formaldehid adalah sejenis gas tidak berwarna dengan

bau tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan pembasmi hama.

Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organisme hidup.
8. Fenol. Fenol adalah campuran dari kristal yang dihasilkan dari distilasi

beberapa zat organic seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar

arang. Zat ini beracun dan membahayakan karena fenol ini terikat ke

protein dan menghalangi aktivitas enzim.


9. Asetol. Asetol adalah hasil pemanasan aldehid (sejenis zat yang tidak

berwarna yang bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alkohol.


10. Hidrogen sulfida. Hidrogen sulfida adalah sejenis gas yang beracun

yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi

oksidasi enzim (zat besi yang berisi pigmen).


11. Piridin. Piridin adalah sejenis cairan tidak berwarna dengan bau tajam.

Zat ini dapat digunakan mengubah sifat alcohol sebagai pelarut dan

pembunuh hama.
12. Metil Klorida. Metil klorida adalah campuran dari zat-zat bervalensi

satu antara hydrogen dan karbon merupakan unsurnya yang utama.

Zat ini adalah senyawa organic yang beracun.


13. Metanol. Metanol adalah sejenis cairan ringan yang mudah menguap

dan mudah terbakar. Meminum atau menghisap methanol

mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian.


erokok

Jenis perokok bisa dikategorikan menjadi dua yaitu perokok aktif

dan perokok pasif. Perokok aktif yaitu orang yang menghisap rokok

walaupun tidak rutin sekalipun, perokok pemula yang cuma sekedar

coba-coba bisa dikategorikan perokok aktif, atau orang yang

menghisap rokok sekedar menghembuskan asap rokok, walaupun tidak

dihisap (inhale) masuk ke dalam paru-paru sekalipun. Sedangkan

perokok pasif adalah orang bukan perokok tetapi menghisap asap

rokok orang lain atau orang yang berada dalam suatu ruangan tertutup

dengan orang yang sedang merokok (Kemenkes RI, 2007).

k Rokok Terhadap Kesehatan

Zat aditif yang terdapat dalam tembakau adalah nikotin yang

menyebabkan metabolisme meningkat, detak jantung, serta

menurunkan nafsu makan. Karbon monoksida yang memiliki daya tarik

yang lebih besar pada darah yang bisa mengurangi tingkat sirkulasi

oksigen secara keseluruhan. Tar yang terdiri dari 4000 zat kimia yang
beracun menyebabkan mata pedih serta menyebabkan kanker, polusi

udara mengakibatkan gangguan kesehatan (Kemenkes RI, 2007).

Merokok mempunyai efek langsung terhadap tekanan darah dan

tingkatannya bisa naik sampai 25 denyutan dalam beberapa detik.

Isapan pertama nikotin menaikkan tekanan adrenalin dan ini dapat

menyempitkan pembuluh darah. Pada perokok berat akan merasakan

tangan dan kaki akan terus menerus terasa dingin. Lebih parah lagi,

merokok secara berulang-ulang akhirnya dapat meningkatkan kadar

adrenalin dalam tubuh, padahal kadar ini tidak akan turun lagi

walaupun satu batang rokok tadi sudah habis dihisap (Christianto,

2005).

Rokok memiliki 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan,

diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat

karsinogenik. Rokok memang hanya memiliki 8-20 mg nikotin, yang

setelah dibakar 25 persennya akan masuk kedalam darah. Namun,

jumlah kecil ini hanya membutuhkan waktu 15 detik untuk sampai ke

otak. Dengan merokok mengurangi jumlah sel-sel berfilia (rambut

getar), menambah sel lendir sehingga menghambat oksigen ke paru-

paru sampai resiko delapan kali lebih besar terkena kanker

dibandingkan mereka yang hidup sehat tanpa rokok (Pangestu, 2011).

Menurut Hidayati (2005) beberapa penyakit yang ditimbulkan

oleh kebiasaan menghisap rokok yang mungkin saja tidak terjadi

dalam waktu singkat namun memberikan perokok potensi yang lebih


besar. Beberapa diantaranya antara lain: a) Impotensi, merokok dapat

menyebabkan penurunan seksual karena aliran darah ke penis

berkurang sehingga tidak terjadi ereksi. b) Osteoporosis, karbon

monoksida dalam asap rokok dapat mengurangi daya angkut oksigen

darah perokok sebesar 15 persen, mengakibatkan kerapuhan tulang

sehingga lebih mudah patah dan membutuhkan waktu 80 persen lebih

lama untuk penyembuhan dan c) Pada Kehamilan, merokok selama

kehamilan menyebabkan pertumbuhan janin lambat dan dapat

meningkatkan resiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Resiko

keguguran pada wanita perokok 2-3 kali lebih sering karena karbon

monoksida dalam asap rokok dapat menurunkan kadar oksigen. d)

Jantung koroner, penyakit jantung adalah salah satu penyebab

kematian utama di indonesia. Sekitar 40 persen kematian akibat

serangan jantung yang terjadi sebelum umur 65 tahun buasanya

berhubungan dengan kebiasaan merokok dan e) Sistem Pernapasan,

kerugian jangka pendek sistem pernapasan akibat rokok adalah

kemampuan rokok untuk membunuh sel rambut getar (silia) di saluran

pernapasan. Ini adalah awal dari bronkitis, iritasi, batuk. Sedangkan

untuk jangka panjang berupa kanker paru, emphycema atau hilangnya

elasitas paru-paru, dan bronkitis kronis.

Asap tembakau dapat membunuh banyak manusia lebih banyak

dari penyakit AIDS, kecelakaan lalu lintas, bunuh diri, pembunuhan,

kebakaran dan keracunan lainnya. Bagi laki- laki dapat menyebabkan


impotensi sedangkan bagi perempuan dapat mempercepat proses

penuaan, disamping itu juga menimbulkan perasaan takut, gemetar,

risau, bimbang, resah, mengurangi nafsu makan, menyebabkan kulit

wajah dan gigi menjadi kuning, menyempitkan pernafasan, menjadikan

manusia malas dan lemah (Christianto, 2005).

ngan Tidak Merokok

Berbagai keuntungan yang diperoleh apabila seseorang tidak

merokok diantaranya badan sehat dan segar, nafas lega, kulit tidak

keriput, dan tidak bau bau rokok, terhindar dari berbagai penyakit

akibat rokok seperti penyakit kardio vaskuler, penyakit kanker,

penyakit paru-paru, penyakit pencernaan, stimulasi penyakit gondok,

adanya abliopia serta pengeluaran lebih hemat (Kemenkes RI, 2007)

Merokok diketahui memiliki efek yang buruk untuk kesehatan

tubuh. Meskipun begitu, para perokok tetap mengalami kesulitan atau

bahkan enggan untuk berhenti melakukannya.Berikut 18 manfaat yang

akan didapatkan tubuh jika berhenti atau tidak merokok (Kinanti,

2013):

14. Tubuh akan terasa lebih sehat. Tidak secara klise, tetapi jika

memang tadinya merokok dan segera menghentikan kebiasaan ini,

dalam hitungan menit tubuh akan kembali ke respons normalnya.

Mulai dari tekanan darah, nadi, hingga suhu tubuh secara keseluruhan.

Semua aktivitas di dalam tubuh ini akan menjadi normal.


15. Menghentikan batuk yang parau. Segera setelah berhenti

merokok, kecenderungan untuk batuk dengan tingkat yang parah akan


berkurang. Dalam waktu yang sama, pernapasan berat yang kerap kali

terjadi juga akan berkurang karena paru-paru mulai kembali ke fungsi

normalnya tanpa gangguan asap rokok. Karena fungsi paru mulai

kembali normal, kemampuan paru-paru untuk mengendalikan lendir,

membersihkan paru-paru, dan mengurangi risiko infeksi akan

meningkat.
16. Meningkatkan kemampuan seksual. Bagi yang sudah menikah

dan memiliki pasangan perokok, segera ingatkan untuk berhenti sebab

berhenti merokok akan meningkatkan kemampuan seksual seseorang.

Bagi pria, dengan menghentikan kebiasaan merokok akan

memudahkan proses ereksi, sedangkan bagi wanita akan menjadi

mudah terangsang.
17. Aroma rokok dalam tubuh menghilang. Jika berhenti merokok,

dalam beberapa menit aroma rokok dari tubuh akan hilang. Selain itu,

tempat di mana Anda tinggal akan segar dan bersih.


18. Mengurangi risiko berbagai masalah kesehatan. Merokok hanya

membuat hidup menjadi rentan. Berhenti merokok jika Anda ingin

hidup sehat tanpa berbagai penyakit seperti impotensi, masalah

kesuburan, katarak, penyakit gusi, kehilangan gigi, dan osteoporosis.


19. Memperpanjang usia. Merokok meningkatkan sepuluh kali risiko

mengidap penyakit hingga meninggal akibat berbagai masalah

kesehatan yang mengancam kehidupan.


20. Terlihat awet muda. Merokok menyebabkan penuaan dini. Dengan

berhenti merokok, tidak hanya akan menguntungkan kesehatan secara

keseluruhan, tetapi juga penampilan. Merokok menyebabkan kulit

menjadi keriput dan kusam.


21. Tidak ada lagi sesak napas. Apakah Anda sering merasa gelisah

dan sesak napas setelah berjalan selama 2 menit? Ini akibat nikotin.

Setelah Anda berhenti merokok, dalam satu hari tingkat karbon

monoksida akan menurun dan sistem pernapasan menjadi lebih baik.


22. Meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri. Berhenti

merokok jika ingin mendapatkan kembali harga diri dan kepercayaan

diri. Dengan berhenti, Anda akan berhenti bersembunyi di belakang

batang rokok setiap kali Anda berinteraksi dengan seseorang atau

berurusan dengan sesuatu.


23. Masalah jantung berkurang. Seperti disebutkan sebelumnya,

merokok membuat lebih dekat dengan kematian dan memperpendek

usia. Jika berhenti merokok, kemungkinan meninggal dengan penyakit

jantung koroner, serangan jantung dan stroke akan turun hampir 50

persen.
24. Organ sensorik kembali normal. Setelah berhenti merokok, Anda

akan mendapatkan kembali kemampuan mengenali sentuhan dan

rasa. Saraf yang rusak akan mulai tumbuh kembali dan akhirnya rasa

sentuhan, rasa, dan bau akan kembali normal.


25. Mengurangi biaya untuk cek ke dokter. Merokok menyebabkan

beberapa penyakit yang muncul, baik saat ini maupun nanti. Penyakit

seperti batuk, bronkitis, luka pada mulut, semua akan mulai

menghilang. Jika berhenti merokok, Anda akan merasa lebih sehat.


26. Menangani stres dengan cara yang lebih sehat. Umumnya kita

berpikir bahwa rokok membantu untuk meringankan stres. Tapi itu

tidak benar, ketika merokok tubuh Anda mengalami reaksi stres karena

tingkat oksigen dalam otak berkurang, hal justru meningkatkan stres.


Oleh karena itu, berhenti merokok jika Anda ingin menangani stres

dengan cara yang lebih sehat.


27. Transportasi oksigen dalam tubuh menjadi baik. Setelah

berhenti merokok, tingkat karbon monoksida akan berkurang. Hal ini

akan meningkatkan tingkat hemoglobin, sehingga transportasi oksigen

akan dilakukan secara efisien di seluruh tubuh.


28. Mengurangi risiko kanker. Karena adanya unsur karsinogenik

dalam rokok, maka semakin sering merokok semakin besar

kemungkinan untuk memicu berbagai jenis kanker, seperti

tenggorokan, mulut dan kerongkongan.


29. Kesehatan mulut lebih baik. Kesehatan mulut diperlukan untuk

keseluruhan yang lebih baik. Dengan merokok, akan mengurangi

kemampuan untuk mengecap, muncul noda pada gigi dan

meningkatkan masalah gusi. Nantinya bisa menyebabkan hilangnya

gigi dan merusak penampilan secara keseluruhan.


30. Sistem kekebalan tubuh akan lebih kuat. Dalam beberapa hari

berhenti merokok, sistem kekebalan tubuh akan tumbuh lebih kuat. Ini

akan mengurangi kemungkinan jatuh sakit karena berbagai masalah

kesehatan seperti pilek dan flu.


31. Anda akan merasa lebih berenergi. Setelah berhenti merokok,

sirkulasi dalam tubuh akan membaik. Sirkulasi oksigen yang baik

berarti akan membuat tubuh menjadi lebih berenergi dan sehat.

2.2 Determinan Perilaku Merokok


gan Peran Orang Tua dengan Perilaku Merokok

Anak-anak dengan orangtua perokok cenderung akan merokok

dikemudian hari, hal ini terjadi paling sedikit disebabkan oleh karena
dua hal: Pertama, karena anak tersebut ingin seperti bapaknya yang

kelihatan gagah dan dewasa saat merokok. Kedua, karena anak sudah

terbiasa dengan asap rokok dirumah, dengan kata lain disaat kecil

mereka telah menjadi perokok pasif dan sesudah remaja anak

gampang saja beralih menjadi perokok aktif (Prasetya, 2010).

Anak yang mulai merokok dapat menjadi kecanduan, sehingga

mungkin akan terus merokok ketika telah dewasa dan nantinya

berisiko menderita penyakit jantung, kanker paru-paru dan penyakit

berbahaya lain. Semua orang tidak mau anak-anak merokok.

Pertanyaannya adalah bagaimana menghentikan mereka dari merokok

dan siapa yang dapat melakukannya. Orang tua memainkan peranan

penting dalam mendidik anak mereka mengenai gaya hidup sehat dan

mengajarkan pentingnya untuk tidak merokok. Perokok dewasa perlu

menyingkirkan rokok dari jangkauan anak dan jangan merokok di dekat

anak-anak (Sirait, 2009).

Anak kecil yang cenderung suka meniru tingkah laku atau dapat

disebut imitasi yaitu proses sosial atau tindakan seseorang untuk

meniru orang lain melalui sikap, penampilan, gaya hidupnya, bahkan

apa saja yang dimiliki orang lain. Proses imitasi ini pertama kali akan

terjadi dalam lingkungan kluarga. Seperti seorangn anak melihat

ayahnya merokok ia pasti dengan sendirinya akan mengikuti, mungkin

dari awal hanya meniru gerakan hingga merambah dengan

menggunakan kertas yang di gulung lalu di bakar layaknya perokok,


lalu setelah itu mencuri-curi kesempatan dengan mencoba merokok,

rokok ayahnya sehingga lama kelamaan menjadikan ia seorang

perokok karena proses imitasi tersebut. Dan dari lingkungan bergaul

juga sama, karena melihat temannya atau di ajak oleh temannya, itu

semua menjadi awal mereka menkonsomsi rokok. Padahal rokok juga

bisa menyebabkan kecanduan (Kurniawan, 2012).

Orangtua juga memiliki pengaruh pada anak-anak dalam hal

merokok, khususnya orangtua perokok. Beberapa penelitian, meskipun

mungkin sebetulnya sudah jelas membuktikan bahwa anak-anak dari

orangtua perokok lebih besar kemungkinannya untuk mengisap

"batang tembakau" ketimbang anak-anak dari orangtua non-perokok.

Orangtua non-perokok juga bisa dianggap bersalah ketika membiarkan

anak-anak mereka menonton film atau video yang menampilkan orang

merokok (Kemenkes RI, 2007).

Tidak hanya lingkungan sosial dan pergaulan yang menyebabkan

perilaku merokok pada remaja, akan tetapi orangtua juga merupakan

salah satu faktor yang menyebabkan remaja berperilaku merokok.

Mirnet dalam Hasanah (2011) menyatakan bahwa saudara dan orang

tua sangat berpengaruh pada perilaku merokok remaja dan

menyebabkan faktor keterlanjutan pada perilaku merokok. Remaja

ingin mencoba apa yang dilakukan oleh orang dewasa dan orangtua

termasuk perilaku merokok (modelling), sehingga remaja cenderung

merokok karena mempunyai keluarga dan saudara yang merokok.


Orangtua yang merokok merupakan agen yang baik bagi anak

untuk melakukan imitasi perilaku merokok. Orangtua yang merokok

akan memberi pengaruh terhadap anak remaja untuk merokok lebih

besar daripada orangtua yang tidak merokok. Suatu riset nasional

dari amerika, diketahui bahwa 14% anak-anak yang orangtuanya

merokok akan menjadi perokok, sedangkan anak-anak perokok dari

orangtua tidak merokok hanya sebesar 6% (Kurniawan, 2012).

Menurut Fachruddin (2011) kebiasaan orang tua merokok di

lingkungan rumah sangat mempengaruhi keinginan anak untuk turut

mencoba melakukan hal yang sama seperti orangtuanya. Remaja yang

memiliki orangtua merokok mempunyai kemungkinan sangat tinggi

untuk berperilaku merokok, karena remaja mentoleransi resiko dari

merokok dan didukung oleh keadaan lingkungan yang memperlihatkan

bahwa perilaku merokok adalah hal yang wajar dan sering dilihat di

lingkungan keluarga maupun teman sebaya yang berperilaku merokok.

Salah satu temuan remaja perokok adalah bahwa anak-anak

muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana

orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan

hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok

dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah

tangga yang bahagia (Juliansyah, 2010).

Perilaku orangtua (ortu) merokok memberikan pengaruh

signifikan pada anak untuk juga menjadi perokok. Berdasarkan survei


yang dilakukan Modernisator dan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti

tahun 2012 ditemukan 75,5 % anak merokok karena mencontoh sang

ayah. Dalam survei tersebut juga ditemukan 10,4 % siswa mengaku

ibunya seorang perokok, dan 35,8 % siswa menyatakan anggota

keluarganya yang lain juga perokok. Bahkan dari survei tersebut

ditemukan 13,3 persen siswa mengaku pernah ditawari untuk merokok

oleh orang tua sendiri. Padahal sebagian besar orangtua mengetahui

bahaya rokok bagi kesehatan. Termasuk bagi prestasi anak-anaknya.

Tetapi melarang merokok juga tidak mungkin dilakukan sepanjang

dirinya sendiri masih menjadi perokok. Karena itu diharapkan agar

kesadaran untuk berhenti merokok tidak hanya ditanamkan kepada

anak (siswa) justeru orang tua memiliki peranan penting dan strategis

untuk menghentikan kebiasaan merokok pada anak-anak (Noerman,

2013).

Perilaku remaja memang sangat menarik dan gaya mereka pun

bermacam-macam. Ada yang atraktif, lincah, modis, agresif dan kreatif

dalam hal-hal yang berguna, namun ada juga remaja yang suka hura-

hura bahkan mengacau. Pada masa remaja ini, remaja memulai

berjuang melepas ketergantungan kepada orang tua dan berusaha

mencapai kemandirian sehingga dapat diterima dan diakui sebagai

orang dewasa. Pada masa ini hubungan keluarga yang dulu sangat

erat sekarang tampak terpecah. Orang tua sangat berperan pada masa

ini, pola asuh keluarga akan sangat berpengaruh pada perilaku remaja,
pola asuh keluarga yang kurang baik akan menimbulkan perilaku yang

menyimpang seperti merokok, minum-minuman keras, menggunakan

obat-obat terlarang dan lain-lain (Kemenkes RI, 2005).

Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwasanya orang tua

memiliki peranan penting dalam mencegah perilaku merokok pada

siswa, dengan demikian dapat disimpulkan semakin baik peran orang

tua maka perilaku merokok pada siswa akan berkurang.

gan Lingkungan Pergaulan dengan Perilaku Merokok


Lingkungan merupakan bagian terpenting dan mendasar dari

kehidupan manusia. Sejak dilahirkan manusia sudah berada dalam

lingkungan baru dan asing baginya. Dari lingkungan baru inilah sifat

dan perilaku manusia terbentuk dengan sendirinya. Lingkungan yang

baik akan membentuk pribadi yang baik, sementara lingkungan yang

buruk akan membentuk sifat dan perilaku yang buruk pula. Anak-anak

berkembang dari suatu hubungan interaksi antara gerakan-gerakan

dalam dan kondisi lingkungan luar (Notoadmodjo, 2007).

Lingkungan sosial berpengaruh terhadap sikap individu, dan

kebanyakan seseorang akan berperilaku merokok dengan

memperhatikan lingkungannya yang menyebabkan seseorang tersebut

ingin mencoba. Di balik kegunaan rokok yang memberi efek santai

terkandung bahaya besar bagi orang yang merokok maupun orang di

sekitar perokok yang bukan perokok (Aula, 2010).

Terdapat berbagai macam alasan yang melatarbelakangi perilaku

merokok pada remaja. Secara umum, perilaku merokok disebabkan


faktor dalam diri juga disebabkan faktor lingkungan. Faktor dari

lingkungan adalah pihak-pihak yang berpengaruh besar dalam proses

sosial. Proses ini meliputi transmisi nilai, kepercayaan, sikap dan

perilaku yang diturunkan. Walaupun orangtua memiliki peranan dalam

proses sosial, namun ada kelompok yang memiliki memiliki transmisi

sosial secara horisontal yaitu teman sebaya (Kurniawan, 2012).

Faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan penggunaan

tembakau antara lain orang tua, saudara kandung maupun teman

sebaya yang merokok, terpapar reklame tembakau, artis pada reklame

tembakau di media. Selain itu, faktor lain yang menyebabkan

seseorang merokok adalah pengaruh iklan. Melihat iklan di media

massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok

adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat seseorang sering

kali terpicu untuk meniru perilaku dalam iklan tersebut (Hanafiah,

2007).

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja

merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah

perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dia

kemungkinan yang terjadi, Pertama, remaja terpengaruh oleh teman-

temannya atau bahkan teman-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh

diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok.

Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-


kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan

remaja non perokok (Juliansyah, 2010)

Remaja pada umumnya bergaul dengan sesama mereka,

karakteristik persahabatan remaja dipengaruhi oleh kesamaan: usia,

jenis kelamin dan ras. Kesamaan dalam menggunakan obat-obatan,

merokok sangat berpengaruh kuat dalam pemilihan teman. (Yusuf,

2006) Dalam pedoman kesehatan jiwa remaja (2008) dijelaskan bahwa

remaja lebih banyak berada diluar rumah dengan dengan teman

sebayanya. Jika dapat dimengerti bahwa sikap, pembicaraan, minat,

penampilan dan perilaku teman sebaya lebih besar pengaruhnya

daripada keluarga misalnya, jika remaja mengenakan model pakaian

yang sama dengan pakaian anggota kelompok yang populer, maka

kesempatan baginya untuk dapat diterima oleh kelompok menjadi

lebih besar. Demikian pula bila anggota kelompok mencoba minum

alkohol, rokok, obat-obat terlarang, maka remaja cenderung mengikuti

tanpa memperdulikan akibatnya. Didalam kelompok sebaya, remaja

akan berusaha menemukan jati dirinya.

Faktor sosial atau lingkungan salah satu faktor terbesar dari

kebiasaan merokok,karena lingkungan sangat memberi pengaruh pada

anak-anak dan para remaja.dengan melihat apa yang dilakukan orang

lain si anak ingin mencoba untuk meniru apa yang dilakukan orang lain

tersebut. Dalam proses mencari jati diri dan belajar hidup bersosial

dengan orang lain si anak cenderung melihat kebiasaan-kebiasaan


yang dilakukan oleh orang sekitarnya, baik dari

keluarga,kerabat,bahkan tetangganya sekalipun.namun sangat

disayangkan apabila si anak meniru kebiasaan-kebiasaan buruk yang

dapat berefek negatif (Nasution, 2007).

Kedekatan remaja dengan rokok adalah masalah serius yang

harus disikapi. Sudah jadi rahasia umum jika para perokok pemula

adalah remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Mereka memang

tidak belajar merokok di lingkungan sekolah, tapi di luar. Pengaruh

teman dalam komunitas di luar sekolah paling besar sehingga remaja

memutuskan mencoba-coba mengisap rokok. Ada anggapan yang

benar-benar keliru yang dipahami para remaja, yakni dengan merokok,

mereka merasa gaul, macho, hingga timbul percaya diri (Mayrin, 2007)

Anak atau remaja yang bergaul dengan teman-teman sebayanya

dan merokok biasanya ingin membuktikan eksistensinya. Pengaruh

seperti itu harus dipahami para remaja sehingga bisa dijadikan sebagai

acuan bagaimana memilih teman yang tepat, ujarnya. Eksistensi

sebenarnya bisa didapatkan dengan cara-cara positif dengan meraih

prestasi, seperti bergabung dengan organisasi di sekolah, kesenian,

olahraga, atau prestasi lainnya. Tapi, bagi anak atau remaja yang

kurang pede (percaya diri), mereka akan mencari kelompok yang bisa

menerima kehadirannya.Kalau tidak bisa menunjukkan eksistensi lewat

prestasi, mereka bakal memiliki kelompok yang pokoknya bisa


menerima , ucapnya. Biasanya, mereka minder ketika bergaul

dengan kelompok anak-anak berprestasi (Mayrin, 2007).

Memiliki teman-teman yang merokok memprediksi kebiasaan

merokok pada seorang individu. Sikap teman sebaya terhadap

penggunaan berbagai zat termasuk nikotin dapat mempengaruhi

individu untuk menggunakan zat tersebut. Dalam sebuah penelitian

longitudinal ditemukan bahwa para pemuda New York yang pernah

berhubungan dengan teman sebaya yang merokok atau memakai

mariyuana lebih mungkin untuk memakai mariyuana dalam rentang

kehidupan mereka (Kemenkes RI, 2007).

Meskipun pengaruh teman-teman sebaya adalah penting dalam

pengambilan keputusan yang dilakukan para remaja untuk

menggunakan suatu zat, namun mereka yang memiliki rasa efektivitas

diri yang tinggi menjadi kurang terpengaruh oleh teman-teman sebaya

mereka. Para remaja yang memiliki kualitas tersebut setuju dengan

pernyataan seperti Saya dapat membayangkan diri saya menolak

memakai tembakau bersama pelajar seusia saya dan mereka tetap

menyukai saya (Davison, 2006).

Lingkungan teman sebaya memberikan sumbangan efektif

sebesar 93,8% terhadap munculnya perilaku merokok pada remaja.

semakin banyak dukungan teman untuk merokok dapat mendorong

seseorang untuk semakin menjadi perokok. Pada masa remaja, ada

sesuatu yang lain yang sama pentingnya dengan kedewasaan, yakni


solidaritas kelompok, dan melakukan apa yang dilakukan oleh

kelompok. Apabila dalam suatu kelompok remaja telah melakukan

kegiatan merokok maka individu remaja merasa harus melakukannya

juga. Individu remaja tersebut mulai merokok karena individu dalam

kelompok remaja tersebut tidak ingin dianggap sebagai orang asing,

bukan karena (Prasetya, 2010).

Dari penjelasan di atas menunjukkan faktor lingkungan

pergaulan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi siswa untuk

merokok, apabila seorang siswa berteman dengan perokok baik di

rumah, sekolah dan luar rumah adalah perokok maka kecenderungan

siswa untuk merokok akan semakin besar.

gan Pengetahuan dengan Perilaku Merokok

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan suatu objek tertentu. Penginderaan

terjadi melalui panca indra manusia. Pengetahuan atau kognitif

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan

seseorang (Notoatmodjo, 2007).

Merokok berbahaya bagi kesehatan. Semua orang pasti setuju

dengan pernyataan ini, termasuk para pecandu rokok sekalipun.

Pengetahuan yang memadai tentang bahaya rokok bagi kesehatan

diharapkan membuat orang yang belum merokok tetap tidak merokok

dan para perokok yang sudah terlanjur bisa menghentikan kebiasaan

yang sangat berbahaya ini (Anonymous, 2009).


Bila anak-anak jalanan merokok, karena mungkin mereka belum

mengetahui akibat buruk rokok bagi kesehatan, namun banyak sekali

orang yang lebih pintar dan melek informasi tetap memilih merokok.

Jadi, hal ini bukan saja hanya soal kurang pengetahuan. Marilah kita

cermati kehidupan orang-orang yang memiliki level lebih tinggi dari

pada anak-anak jalanan tadi. Sebut saja para karyawan, pegawai,

swasta, PNS, mahasiswa, dosen, dan lainnya. Jika dilihat dari tingkat

pendidikan mereka, bias dikatakan bahwa ilmu pengetahuan yang

diperoleh sudah lebih dari cukup, kalau hanya sekedar untuk

mengetahui tentang bahaya merokok. Namun nyatanya, setiap hari

mereka merokok. Kebiasaan ini merupakan hal sakral" karena sangat

berhubungan dengan beberapa hal, seperti pergaulan, menghilangkan

kejenuhan dan stress karena pekerjaan. Bagi mereka, tujuan merokok

sudah bukan lagi untuk gagah-gagahan (Kemenkes RI, 2007).

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara

atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur

dari subjek penelitan atau responden. Kedalaman pengetahuan yang

ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkat-

tingkat tersebut di atas (Notoatmodjo, 2007).

Perilaku merokok pada anak- anak dan remaja dapat disebabkan

karena mencontoh perilaku pada keluarga yang merokok. Selain itu

pada beberapa daerah terdapat budaya bahwa anak lelaki yang telah

dikhitan harus merokok. Hal ini terjadi di salah satu desa di Kecamatan
Limbangan, dimana banyak masyarakat yang merokok. Dan yang

menjadi penyebabnya adalah pengetahuan yang rendah, pergaulan,

kemudahan mendapatkan rokok, dan adanya pengaruh budaya

(Prasetya, 2010).

Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mencetus

lahirnya perilaku, semakin baik pengetahuan siswa tentang rokok dan

bahaya yang ditimbulkan dari rokok maka maka kecenderungan siswa

untuk merokok akan semakin berkurang.

gan Sikap dengan Perilaku Merokok

Sikap merupakan kecenderungan berespon yang dapat berubah

dengan bertambahnya informasi mengenai objek yang bersangkutan.

Sikap dimulai dari penerimaan, merespon, menghargai, dan

bertanggung jawab (Notoatmodjo, 2007). Sikap merupakan reaksi atau

respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau

objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya

dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap

secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi

terhadap stimulus tertentu. Newcomb dalam Notoatmodjo (2007)

menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk

bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap

belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi

merupakan predisposisi tindakan atau perilaku.


Sikap negatif terhadap perilaku merokok didasarkan pada

keyakinan-keyakinan bahwa merokok akan memberikan konsekuensi

negatif bagi dirinya. Di antaranya merokok dapat menyebabkan

berbagai gangguan kesehatan bagi si perokok maupun orang-orang di

sekitarnya. Keyakinan yang demikian dapat memprediksi intensi

berhenti merokok. Sikap terhadap perilaku berisikokesehatan

berhubungan dengan rendahnya perilaku berisiko kesehatan termasuk

di antaranya adalah merokok (Astuti, 2007).

Sikap terhadap perilaku merokok dan kontrol diri secara

bersama-sama dapat memprediksi intensi berhenti merokok. Individu

yang memiliki penilaian bahwa merokok membahayakan bagi

kesehatannya dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan

keinginannya untuk merokok akan memiliki intensi berhenti merokok

tinggi. Sebaliknya sikap positif terhadap perilaku merokok dan kontrol

diri yang rendah akan menghambat timbulnya intensi berhenti

merokok, karena perokok menganggap merokok merupakan hal yang

menyenangkan dan tidak perduli terhadap akibat negatif yang akan

diterima jika terus merokok (Astuti, 2007)

Merokok dapat bermakna untuk meningkatkan konsentrasi,

menghalau rasa kantuk, mengakrabkan suasana sehinga timbul rasa

persaudaraan, juga dapat memberikan kesan modern dan berwibawa,

sehinga bagi individu yang sering bergaul dengan orang lain, perilaku

merokok sulit untuk dihindari. Merokok digunakan untuk menghasilkan


emosi yang positif, misalnya rasa senang, relaksi, dan kenikmatan

rasa. Merokok juga menunjukkan kejantanan (kebanggaan diri) dan

menunjukkan kedewasaan (FK. UI, 2009).

Merokok ditujukan untuk mengikuti kebiasaan merokok

(umumnya pada remaja dan anak-anak), indentifikasi dengan perokok

lain, dan untuk menentukan image dari seseorang. Merokok pada

anak-anak juga dapat disebabkan adanya paksaan dari teman-teman

(FK.UI 2009).

Selain motif-motif di atas, individu juga dapat merokok dengan

alasan sebagai alat dalam mengatasi stress (coping) . Sebuah studi

menemukan bahwa bagi kalangan remaja, jumlah rokok yang mereka

konsumsi berkaitan dengan stress yang mereka alami, semakin besar

stress yang dialami, maka semakin banyak rokok yang mereka

konsumsi (Hidayati, 2005).

melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri

dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif

pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial.

Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial

lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang

memiliki skor yang rendah (Prasetya, 2010)

Perokok mungkin beranggapan bahwa mereka sendirilah yang

menanggung semua bahaya dan risiko akibat kebiasaannya, tanpa

menyadari bahwa sebenarnya mereka juga memberikan beban fisik


dan ekonomi pada orang lain di sekitarnya sebagai perokok pasif

(Kemenkes RI, 2007).

Dari penjelasan di atas menunjukkan dapat disimpulkan semakin

positif sikap terhadap rokok maka kecenderungan siswa untuk merokok

akan semakin kurang sebaliknya semakin negatif sikap maka

kecenderungan siswa untuk merokok akan semakin besar.

gan Iklan Rokok dengan Perilaku Merokok

Makin meningkatnya kecenderungan masyarakat untuk merokok

tidak terlepas dari persepsi tentang merokok oleh iklan yang

sebenarnya menjerumuskan. Disadari atau engga iklan rokok ternyata

memberikan dampak negatif kepada masyarakat. Apalagi yang

menjadi efek negatif dari keberadaan iklan rokok adalah anak, remaja

dan kaum muda sebaya. Iklan rokok secara langsung kian

menjerumuskan anak dan remaja untuk merokok. Slogan-slogan yang

digunakan dalam iklan yang ditampilkan juga seolah ditujukan untuk

anak dan remaja serta kaum muda sebaya (Widiyarso, 2008).

Di samping karena pengaruh teman sebaya dan lingkungan

keluarga, perilaku merokok juga dapat muncul sebagai akibat dari iklan

di media massa. Iklan rokok di berbagai tempat dan media massa yang

saat ini makin merajalela sangat menarik bagi para remaja (Widiyarso,

2008). Menurut Lpez dkk (2004), beberapa penelitian telah

menghasilkan temuan adanya hubungan yang cukup signifikan antara

keterpaparan terhadap iklan rokok dengan perilaku merokok pada


remaja. Melihat iklan di media massa dan elektronik yang

menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan

atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti

perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut (Mutadin, 2002). Iklan

rokok Joe Camel telah dituduh bertanggung jawab menyebabkan 3,5

juta anak-anak di Amerika untuk merokok antara tahun 1988-1998

(Pierce dkk dalam Lpez dkk, 2004). Iklan rokok terbukti dapat

menghambat usaha orangtua melarang anak-anak mereka untuk tidak

merokok dan mempengaruhi perilaku anak-anak muda untuk tetap

merokok meski orang tua mereka melarangnya (Mutadin, 2002).

Remaja perokok melalui iklan rokok patut diwaspadai dan dicegah,

minimal dengan mengimbangi gencarnya iklan rokok, salah satunya

melalui kampanye kesehatan di berbagai media dengan menempatkan

media-media anti rokok yang kreatif, menarik dan bernuansa jiwa

remaja di lingkungan sekolah, kampus dan lembaga pendidikan

lainnya. Upaya lain dapat dikembangkan untuk mengatasi masalah ini.

Melalui pendekatan keluarga dimana setiap orangtua memberikan

bimbingan dan perhatian untuk meluruskan persepsi anak-akan remaja

mereka tentang iklan rokok dan bahaya rokok bagi kesehatan.

Kenyataan yang harus dihadapi saat ini adalah remaja di Indonesia

sudah tereksploitasi oleh industri rokok. Namun tidak ada kata

terlambat, tidak ada kata lelah, tidak ada kata jemu bagi kita untuk
bersama-sama menyelamatkan generasi penerus bangsa dari bahaya

rokok (Kemenkes RI, 2007).

Memanfaatkan karakteristik remaja, ketidaktahuan konsumen

akan bahaya rokok dan ketidakberdayaan remaja yang sudah

kecanduan rokok dengan berbagai promosi produk rokok dengan

memunculkan jargon-jargon promosi yang mudah tertangkap mata dan

telinga serta menantang. Jargon - jargon populer yang ditujukan pada

remaja dirancang sesuai karakteristik remaja yang menginginkan

kebebasan, independensi dan pemberontakan pada norma-norma.

Seperti belum merasa puas lewat iklan di media massa dan media luar

ruang, industri rokok juga sudah masuk pada tahap pemberi sponsor

kegiatan-kegiatan anak muda, seperti konser musik, pemutaran film,

seni, budaya, keagamaan dan olahraga. Saat ini dapat kita lihat

kenyataannya bahwa hampir setiap konser musik dan kompetisi

olahraga di Indonesia disponsori oleh industri rokok. Dalam kegiatan

tersebut mereka membagikan rokok gratis atau dengan menukarkan

potongan tiket masuk acara tersebut mereka memperoleh rokok

secara gratis (Kemenkes RI, 2007).

Banyak faktor yang mendorong dan mempengaruhi remaja

untuk merokok, salah satunya adalah iklan. Iklan merupakan suatu

media untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat terhadap

suatu produk dan iklan memiliki fungsi untuk menyampaikan informasi,

membujuk, atau untuk mengingatkan masyarakat terhadap produk


rokok. Dengan melihat iklan yang ada di televisi dan media massa,

remaja mulai mengenal dan mencoba untuk merokok karena

gencarnya iklan rokok yang beredar di masyarakat.

gan Peran Guru dengan Perilaku Merokok

Keberadaan guru bimbingan dan konseling (BK) di sekolah

dipandang strategis dalam mengemban peran penyuluhan bahaya

merokok dan narkoba bagi siswa. Peran guru di sekolah sangat

penting, mengingat dari 24 jam aktivitas siswa sehari-hari, 7 jam

diantaranya berada di sekolah. Dalam kurun waktu itu, bila peran guru

dalam mengontrol aktifitas siswa tidak cermat, memungkinkan peserta

didik melakukan aktivitas yang menyimpang seperti merokok bersama-

sama (Kemenkes RI, 2004).

Guru pembimbing memiliki tugas khusus untuk memberikan

pelayanan Bimbingan dan Konseling kepada semua siswa, terutama

dalam membantu siswa mengatasi permasalahan-permasalahan yang

dihadapinya dan upaya memandirikan serta mengembangkan segenap

potensinya. Dalam kaitannya menangani masalah perilaku merokok

pada siswa, guru pembimbing dapat menggunakan beberapa jenis

layanan dan kegiatan pendukung untuk merancang program

pencegahan dan penanganan perilaku merokok pada siswa (Kemenkes

RI, 2004).

Penanganan perilaku merokok di sekolah melalui program

pendidikan hanya akan efektif apabila diintegrasikan ke dalam


kampanye yang menyeluruh Program pendidikan tentang perilaku

merokok di sekolah menurut Kemenkes (2004) antara lain adalah:

1. Meningkatkan pengetahuan siswa tentang bahaya merokok

2. Meningkatkan pengetahuan siswa tentang bagaimana mengatasi

pengaruh teman sebaya

3. Membantu siswa untuk mengetahui praktek-praktek pemasaran

industri tembakau

4. Mempromosikan berhenti merokok di kalangan guru sebagai tokoh

panutan.

5. Memberikan keterampilan yang penting dalam kehidupan secara

umum yaitu: keterampilan untuk membuat keputusan dan bersikap

tegas dalam menolak pengaruh teman sebaya, pengaruh iklan dan

tokoh panutan yang buruk.

Untuk menurunkan prevalensi perokok pada pelajar, guru

diharapkan memiliki peran strategis, seperti menyampaikan bahaya

merokok ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung. Ada aksi

nyata dalam mencegah pelajar dari ketergantungan rokok, Karena

selaku pendidik , guru bisa memberikan langsung informasi tentang

bahaya merokok melalui pelajaran yang mereka ajarkan kepada siswa

siswinya (Nasution, 2007.

Kebiasaan merokok siswa sangat dipengaruhi oleh

lingkungannya. Jika di lingkungan keluarganya baik orang tua maupun

saudaranya banyak yang merokok maka besar kemungkinan siswa


tersebut juga akan jadi perokok. Selain itu lingkungan pergaulan

sangat mempengaruhi kebiasaan merokok siswa. Jika banyak teman-

temannya di sekolah menjadi perokok, maka hal itu juga akan bisa

menjadikannya sebagai perokok. Untuk bisa mencegah kebiasaan

merokok siswa, hal yang bisa dilakukan diantaranya adalah

memberikan penyuluhan tentang bahaya merokok. Selain itu pihak

sekolah juga bisa memberikan sanksi tegas kepada siswa yang

kedapatan merokok dilingkungan sekolah. Sanksi tersebut bisa secara

lisan, tertulis, maupun memberikan sanksi mendidik lainnya. Hal itu

dilakukan agar mereka sadar bahwa merokok adalah perbuatan yang

tidak baik (Prasetya, 2010).

Keteladanan sangat dibutuhkan siswa untuk menghindari budaya

merokok. Salah satunya adalah keteladanan dari orang tua, terutama

dari gurunya. Selama ini guru hanya bisa melarang siswa untuk tidak

merokok, namun dibalik itu para guru justru sering merokok. Hal

tersebut tentu kurang mendidik, karena tidak memberikan contoh yang

baik bagi peserta didik. Oleh sebab itulah peran guru dalam mencegah

budaya merokok peserta didik lewat keteladanan sangat diperlukan

demi menciptakan sekolah bebas rokok (Prasetya, 2010).

Guru merupakan salah satu orang yang berperan dalam

pembentukan perilaku siswa, semakin baik peran guru dalam

penyampaian informasi tentang rokok di sekolah maka perilaku

merokok pada remaja akan semakin berkurang.


Diposkan oleh hardian adha di 20.50 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Beranda
Langganan: Entri (Atom)

Mengenai Saya