Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori


II.1.1 Pengertian Potensiometri
Potensiometri merupakan suatu metode analisis kimia, sesuai
nama yang diusulkan, yang melibatkan pengukuran potensial dari suatu
sel Galvani. Secara umum sel terdiri dari dua buah setengah sel dan kita
dapat menggunakan persamaan Nernst untuk menghitung nilai
potensial sel. Sebagai contoh dari suatu sel Galvani pada gambar 2.1
yang dituliskan notasinya berikut ini. (Potensiometri, 2013)
Zn (s) Zn2+ (aq) Cu2+ (aq) Cu (s)

Gambar 2.1. Sel Galvani Tembaga-seng

Sebagaimana persamaan Nernst bahwa hubungan aktivitas


dengan potensial adalah:
RT a(bentuk oksidasi)
E = Eo nF x ln x a(bentuk teroksidasi)

untuk setengah sel Cu2+/Cu besarnya potensial dirumuskan :


Cu2+
RT a
E = Eo (Cu2+/Cu) 2,303 2F x log a (Cu)

Karena aktivitas padatan nilainya sama dengan satu maka persamaanya


menjadi :
Cu2+
RT a
E = Eo (Cu2+/Cu) 2,303 2F x log 1

Atau
RT
E = Eo (Cu2+/Cu) + 2,303 2F x log a(Cu2+)

Hal yang sama juga berlaku untuk setengah sel yang lain yaitu Zn 2+/Zn,
besarnya potensial sel dituliskan sebagai berikut:

II - 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RT
E = Eo (Zn2+/Zn) + 2,303 2F x log a(Zn2+)

Apabila potensial sel secara kesuluruhan adalah :

E (sel) = E (Cu2+/Cu) - E (Zn2+/Zn)


Dari persamaan tersebut tampak jelas bahwa bahwa besarnya potensial
sel sangat tergantung dari aktivitas ion-ionnya. (Potensiometri, 2013)
Dalam analisis, umumnya kita ingin mengukur aktivitas atau
konsentrasi suatu zat tunggal, jarang untuk dua jenis zat atau lebih.
Untuk itu maka kita mengharapkan persamaan diatas yang
mengandung ion tembaga dan ion seng maka kalau kita ingin mengukur
ion tembaga maka ion seng harus diatur agar nilainya konstan.
(Potensiometri, 2013)
Potensial setengah sel yang satu dijaga konstan dan bagian
setengah sel ini lebih sering disebut sebagai elektroda pembanding
(reference electrode). Seringkali jembatan garam yang menghubungkan
dua buah setengah sel ini dirancang dengan pola-pola yang baru dan
kompososi material yang tertentu. Tentang elektroda pembanding
secara khusus akan dibahas secara detail pada bagian lain buku ini.
Pada bagian setengah sel yang lain yang mengandung analit (zat yang
diukur), dimasukkan suatu elektroda yang disebut sebagai elektroda
kerja. (Potensiometri, 2013)
Beberapa hal penting yang dalam pemilihan suatu elektroda
untuk analisis spesies-spesies tertentu adalah:
1. Elektroda sebaiknya dapat merespon secara Nernstian
besarnya aktivitas spesies zat yang diukur.
2. Elektroda sebaiknya tidak merespon aktivitas spesies-spesies
lain zat yang ada bersama spesies yang diukur. Maka elektroda ini
sifatnya spesifik.
3. Elektroda sebaiknya tidak bereaksi dengan spesies zat yang
ada dalam larutan. Maka elektroda ini disebut bersifat inert.
4. Permukaan elektroda sebaiknya tetap komposisinya (tidak
berubah), meskipun hanya dilewati arus yang kecil.
Sedikit elektroda yang memberikan hasil yang tepat, sehingga
perlu dipikirkan agar diperoleh nilai yang dapat diterima. Problem yang
umum adalah tentang kespesifikan. Banyak elektroda merespon yang
cukup tinggi dari suatu zat tertentu, tetapi juga merespon zat lain
walaupun sedikit. Keadaan ini masih bisa diterima dan kebanyakan
elektroda bersifat lebih selektif daripada sifat spesifiknya. (Potensiometri,
2013)
Elektroda yang merespon ion secara spesifik sering disebut
sebagai elektroda indikator dan pemilihan serta penggunaan elektroda
merupakan kunci keberhasilan dari sistem potensiometri. Apabila suatu
Laboratorium Analisa II - 2
Departemen
Instrumen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

logam dapat merespon ion logam yang sejenis dalam larutan, ini tidak
cukup selektif karena juga dapat merespon ion-ion logam lain. Sebagai
contoh elektroda platinum dapat merespon semua pasangan reaksi
redoks dalam larutan dan ini tidak selektif. (Potensiometri, 2013)
Dalam potensiometri pada dasarnya menggunakan suatu
elektroda dengan rancangan khusus yang selektif terhadap ion tertentu
yang sering disebut elektroda selektif ion (ESI). Elektroda yang paling
sering dijumpai adalah elektroda gelas yang selektif terhadap ion H+
dan atau pH. Sekarang jenis elektroda selektif ion sangat berkembang
dan perkembangan akhir-akhir ini bahkan dapat merespon tidak hanya
ion tetapi juga spesies netral. Sebagai contoh elektroda untuk
mendeteksi ion F- dalam air minum, glukosa dalam darah, asam-asam
amino dalam cairan biologi, dan berbagai penentuan yang lain.
(Potensiometri, 2013)
Secara umum teknik potensiometri menggunakan cara dan
peralatan yang pada dasarnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Gambar 2.2 Skema alat analisis secara potensiometri

Dari skema pada gambar 2.2 tampak jelas bahwa apabila kita akan
mengukur suatu analit dalam larutan maka diperlukan suatu elektroda
kerja yang spesifik dan selektif. Besarnya potensial (emf) diukur dengan
membandingkan dengan elektroda pembanding. Besarnya emf ini
dicatat dengan alat voltmeter atau potensiometer. (Potensiometri, 2013)

II.1.1.1 Pengaturan Kekuatan Ion


Pada bagian ini akan dibahas bgaimana pengatur kekuatan ionik
digunakan untuk menghubungkan persamaan Nerst dengan konsentrasi
Laboratorium Analisa II - 3
Departemen
Instrumen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

analit. Sebagaimana diketahui bahwa antara emf dengan aktivitas ion


dinyatakan dalam persamaan Nerst berikut :

RT
E(sel) = E nF x ln a

Sedangkan untuk nilai logaritmanya didapatkan persamaan :


RT
E(sel) = E (2,303) nF x log ai

Laboratorium Analisa II - 4
Departemen
Instrumen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

c = konsentrasi pada suatu bahan yang mengabsorsi


Jika absorbansi di plot terhadap konsentrasi, maka diperoleh garis lurus.
Grafik ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi kontaminan
dalam suatu larutan yang diperoleh dari sampel gas dan uap. Perubahan
intensitas warna sebanding dengan konsentrasi. Salah satu aplikasi dari
metode ini adalah analisis laboratorium untuk menentukan konsentrasi
nitrogen dioksida diudara menggunakan reagen Saltzman. Selain itu
senyawa-senyawa yang dapat dianalisis antara lain adalah
formaldehida, fosfin, amoniak, anhidrida asetat, hidrazin (Lestari, 2007).

II.1.5 Nitrat
Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan
merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat
nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini
dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan.
Nitrat dan amonium adalah sumber utama nitrogen di perairan. Kadar
nitrat dalam perairan yang tidak tercemar biasanya lebih tingga
daripada kadar amonium. Kadar nitrat nitrogen pada perairan alami
hampir tidak pernah lebih dari 0,1 mg/liter. Kadar nitrat lebih dari 5
mg/liter menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang
berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Kadar nitrat nitrogen
yang lebih dari 0,2 mg/liter dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi
(pengayaan) perairan, yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan
algae dan tumbuhan air seecara pesat (blooming). Kadar nitrat dalam
air tanah dapat mencapai 100 mg/liter. Air hujan memiliki kadar nitrat
sekitar 0,2 mg/liter. Pada perairan yang menerima limpasan air dari
daerah pertanian yang banyak mengandung pupuk, kadar pupuk dapat
mencapai 1000 mg/liter. Kadar nitrat untuk air minum seharusnya tidak
melebihi 10 mg/liter (Effendi, 2003).
Nitrat mewakili produk akhir dari pengoksidasian zat yang bersifat
nitrogen. Jadi jumlah nitrat itu menunjukkan lajunya pembenahan
menuju oksidasi lengkap dan kemantapan. Air limbah yang dibenahi
secara efisien memperlihatkan kadar nitrat yang tinggi. Adanya nitrat
yang terserang dari selokan-selokan limbah merupakan manfaat yang
besar bagi aliran-aliran air penampung oleh karena apabila oksigen
dalam bentuk larutan oksigen telah menguap habis, sebagaimana
sewaktu-waktu terjadi pada musim musim panas, nitrat, dengan
menyalurkan oksigen gabungan, menghambat atau mencegah
terjadinya kondisi-kondisi anaerobik atau bau busuk. Apabila selokan-
selokan dimanfaatkan untuk irigasi atau lumpur limbah dijual untuk nilai

Laboratorium Analisa II - 5
Departemen
Instrumen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

penyuburannya, kadar nitrogen meruoakan faktor utama dalam


menentukan nilai jual dalam maksud ini, tetapi agar supaya siap
dipergunakan untuk tanamna-tanaman, maka adalah lebih baik apabila
nitrogen itu berada dalam bentuk nitrat. Nitrifikasi dapat terjadi lebih
cepat dan kuat pada suhu-suhu yang lebih tinggi di negara-negara yang
beriklim lebih panas dari pada di negara-negara yang lebih dingin
karena aktivitas bakteri lebih besar pada suhu-suhu yang lebih tinggi.
Meskipun nitrat merupakan petunjuk stabilitas, kehadiran mereka dalam
selokan-selokan yang berasal dari instalasi-instalasi pembenahan,
dalam beberapa keadaan, tidak diinginkan, oleh karena ia memajukan
pertumbuhan tumbuh-tumbuhan ganggang dan tanaman-tanaman yang
tak nampak oleh mata (mikroskopis) di aliran-aliran penampung
(Soemarwoto, 1984).
A. Analisa Nitrat
Menurut Alaerts, (1984), analisa nitrat cukup sulit, karena rumit dan
peka terhadap berbagai jenis gangguan. Namun ada beberapa cara
analisa yang tersedia antara lain :
- Analisa spektrofotmetris pada panjang gelombang 220 mm (sinar
ultra ungu yang cocok sebagai analisa penduga bagi air tanpa zat
organis dengan kadar NO3 N antara 0,1 sampai 11 mg/l);
- Analisa dengan elektroda khusus (dan pH meter) yang cocok
sebagai analisa penduga baik untuk air bersih maupun air
buangan dengan skala kadar NO3 N antara 0,2 sampai 1.400
mg/l;
- Analisa dengan brusin untuk air dengan kadar 0,1 sampai 2 mg
NO3 N/l;
- Analisa dengan asam kromotropik untuk air dengan kadar 0,1
sapai 5 mg NO3 N/l;
- Analisa dengan reduksi menurut Devarda untik air dengan kadar
NO3 N lebih dari 2 mg/l;
- Analisa kolorimetris khusus bagi nitrit, setelah semua zat nitrat
direduksi oleh butir kadmium (Cd); metoda ini cocok untuk air
dengan kadar NO3 N antara 0,01 sampai 1 mg/l.
Untuk maksud di atas tersebut, dapat diuraikan dua metoda yang
selalu dapat dipakai untuk analisa analisa dalam bidang teknik
penyehatan dan cukup luwes, yaitu :
a. Cara dengan elektroda khusus sebagai tes penduga, karena
dengan metode sinar ultra ungu memerlukan alat
spektrofotometri yang mahal.
b. Analisa kalorimetris setelah reduksi oleh Cd, karena analisa ini
juga dipakai untuk analisa nitrit, dank arena pekanya analisa
tersebut. Sampel air yang nmengandung>1 mg NO 3 N/l harus
Laboratorium Analisa II - 6
Departemen
Instrumen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

diencerkan dahulu sampai kadarnya terletak diantara skala


tersebut.
B. Prinsip Analisa
1. Elektroda Khusus
Elektroda khusus tersebut adalah sensor selektif yang
mengadakan perbedaan potensial melalui sehelai membran yang
berpori dan tidak aktif, dan yang menahan cairan penukar ion. Elektroda
tersebut peka terhadap konsentrasi NO3- antara 10-5 dan 10-1 M (yaitu
kira kira 0,14 sampai 1400 mg NO3 N/l). Karena elektroda juga peka
terhadap perubahan pH dan kekuatan ionik (ionic strength), maka pH
dan kekuatan ionik sampel harus tetap, walau ada penambahan larutan
buffer. Karena setiap merek menyediakan elektroda elektroda dengan
karakteristik tersendiri, diharap membaca juga buku petunjuknya
(manual), karena hal ini sangat penting bagi pemeliharaan elektroda
tersebut (Alaerts, 1984).
2. Reduksi Kadmium
Khususnya untuk analisa sampel dengan kadar NO3 N rendah
(antara 0,01 dan 1 mg/l), seperti misalnya air permukaan dan air
minum, metoda reduksi kadmium dapat digunakan. Sampel dengan
kadar lebih tinggi juga dapat dianalisa melalui metoda ini setelah
pengenceran sampel tersebut. Cd dapat mereduksi NO 3- secara
kuantitatif menjadi NO2- nitrit. Peda prosedur di bawah ini, akan dipakai
butir butir Cd yang berlapis Cu, dan yang dipasang dalam tabung kaca
lewat mana sampel yang mengandung NO3- dialirkan. Sampel yang
keluar dari tabung mengandung hanya NO2- saja; kadar NO2- tersebut
ditentukan dengan cara analisis khusus untuk NO2- (Alaerts, 1984).
Bila sesuatu sampel dialirkan melalui Cd, kemudian kadar nitritnya
ditetapkan, kadar tersebut juga mewakili kadar NO 2- yang mungkin
sudah dikandung air sampel terlebih dahulu. Maka, penentuan tersebut
dianggap mewakili NO3- + NO2-.
Bila perlu diketahui perbedaan antara NO 3- dan NO2-, sampel asli
langsung dianalisa

kadar nitritnya sesuai prosedur, hingga perbedaan antara kedua angka


tersebut adalah kadar NO3- (Alaerts, 1984).
C. Gangguan
1. Elektroda Khusus
Gangguan pada analisa elektroda khusus adalah ion klorida dan
bikarbonat bila kadarnya masing masing lebih dari 10 dan 5 kali kadar
N O3 ( sebagai N ) . gangguan juga terjadi apabila pH dan kekuatan
ionik kurang stabil dalam larutan sampel dan bila ada ion seperti NO 2 ,

Laboratorium Analisa II - 7
Departemen
Instrumen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

CN (sianida), S^2 ( sulfida), iodida dan ClO 4. Semua gangguan tersebut


dapat diatasi mengunakan buffer yang mengandung Ag2SO4 ( untuk
menghilangkan ion ion diatas ), asam sulfamik ( untuk menghilangkan
NO2 ), buffer pH3 ( menghapus HCO 3 menjadi H2O, menetapkan pH
dan kekuatan ionik ), dan Al2(SO4)3 untuk mengikat asam organis
(Alaerts, 1984).
2. Reduksi Kadmium
Gangguan yang terjadi pada reduksi kadmium dari NO3 menjadi
NO2 terutama oleh zat tersuspensi dalam tabung saringan. Maka
sampel yang sangat keruh harus disaring dahulu pada membrane filter
dengan pori 0,45 m. Cu2+ , Fe2+/3+ atau logam lain dengan kadar 5
g/ml dapat menurunkan efisiensi tabung namun gangguan tersebut
akan hilang dengan penambahan EDTA yang mengikat logam logam
tersebut . Minyak dan lemak membungkus butir Cd , sehingga minyak
dan lemak tersebut perlu dihilangkan terlebih dahulu melalui ekstraksi,
klor aktif dapat mengoksidasi butir Cd, maka klor aktif harus dihilangkan
melalui penambahan zat pereduksi seperti Na 2S2O3 ( natriumtiosulfat)
(Alaerts, 1984).
Juga dapat terjadi gangguan pada analisa kolorimetris untuk
menentukan jumlah NO2 yang telah dihasilkan setelah reduksi NO3 pada
tabung Cd. Gangguan tersebut sama dengan pada saat analisa NO2.
(Alaerts, 1984).
D. Ketelitian
1. Elektroda Khusus
Ketelitian metoda elektroda khusus tidak terlalu tinggi karena
prinsip kerja elektroda tersebut . Penyimpanan baku yang dapat
diperkirakan sekitar 5 % untuk seseorang yang berpenalaman dan 10 %
untuuk orang yang tidak berpengalaman (Alaerts, 1984).
2. Reduksi Kadmium
Reduksi NO3 sampai NO2 pada tabung Cd terjadi secara kuantitatif
kalau reaksi tersebut tidak tergangggu, kemudian dapat dianalisa NO2
( lihat bagian B ), dengan penyimpangan baku yang relatif dibawah 5%
(Alaerts, 1984).
E. Pengawetan
Analisa NO3 harus dilakukan segera setelah pengambilan sampel.
Kalau terpaksa diawetkan, tambahkan asam H2SO4 pekat sampai pH < 2
dan didinginkan ( berlaku dua hari ) , atau tambahkan 40 mg AgCl2/l
kemudian dinginkan atau bekukan ( freeze ) pada -20 ( berlaku sampai
2 hari ), kalau akan dilakukan analisa kolorimetris NO2, setelah reduksi
NO3 menjadi NO2, cara pengawetan dengan menambahkan H2SO4 tidak
boleh lagi dilakukan (Alaerts, 1984).
II.2 Aplikasi Industri

Laboratorium Analisa II - 8
Departemen
Instrumen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMANFAATAN BATU PASIR LAUT WARNA HITAM TERAKTIVASI


NAOH 4N DAN TERSALUT FE2O3 SEBAGAI ADSORBEN ION NITRAT
I Nengah Simpen, Putu Suarya, dan Komang Yogi Purnamawati
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran

Batu pasir merupakan batuan sedimen detritius, menempati 30%


dari seluruh batuan sedimen di permukaan bumi. Nilai ekonomis dari
batu pasir sangat tinggi, yang paling sederhana digunakan untuk bahan
bangunan. Batu pasir dapat digunakan sebagai adsorben logam berat
kadmium dan kromium dengan cara memodifikasinya melalui Fe 2O3-
coated (tersalut Fe2O3) atau melalui aktivasi dengan menggunakan basa
NaOH. Aktivasi tersebut bertujuan untuk memperluas permukaan
spesifik pori dan situs aktifnya. Batu pasir yang telah termodifikasi
tersebut dapat digunakan sebagai materi adsorben, yang dalam
penelitian ini digunakan sebagai penyerap ion nitrat. Pada saat
sekarang ini, lingkungan banyak tercemar oleh limbah nitrat yang
dikeluarkan oleh pabrik-pabrik industri dan dari penggunaan pupuk
pada pertanian. Pengolahan limbah nitrat dapat dilakukan salah satunya
dengan melalui adsorpsi oleh material alami dengan memanfaatkan
batu pasir termodifikasi sebagai adsorben.
Dalam penelitian ini selain menggunakan batu pasir hitam, bahan-
bahan lainnya yaitu KNO3, Fe(NO3)3.9H2O, NaOH, HCl 37%, H2SO4 95-
97%, pereaksi Brucine-sulfanilat, NH4OH (25%-NH3), HNO3 67%, metilen
biru, NaCl, aquades, dan indikator phenolpthalein. Batu pasir
sebelumnya dijadikan serbuk berukuran antara 0,5 mm 0,25 mm yang
selanjutnya dicuci dengan akuades dan dikeringkan. Selanjutnya batu
pasir diaktivasi dengan NaOH 4N selama 24 jam lalu disaring dan
residunya dicuci dengan akuades sampai terbebas dari OH kemudian
dikeringkan. Batu pasir yang telah diaktivasi kemudian disalut dengan
Fe2O3. Proses penyalutan dilakukan dengan variasi pH 5, 7 dan 11
dengan penambahan NH4OH dan HNO3, kemudian dicuci dengan
aquades yang bertujuan untuk melarutkan oksida-oksida Fe 2O3.
Pangukuran adsorbansi ion nitrat dilakukan dengan cara serbuk batu
pasir diinteraksikan dengan 25 mL larutan nitrat 125 ppm, larutan
diaduk dan didiamkan. Selanjutnya larutan disring dan filtratnya diambil
dan ditambahkan NaCl dan H2SO4 75%. Setelah dingin larutan
ditambahkan brucine-asam sulfanilat dan diletakkan pada pennagas air.
Setelah dingin absorbansi ion nitrat dapat diukur dengan metode
spektrofotometri UV-Vis menggunakan panjang gelombang 410 nm.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah, batu pasir dengan pH 7
memliki nilai luas permukaan tertinggi yaitu 21,2899 m 2/gram.
Sedangkan pH optimum dalam penyalutan batu pasir adalah pH
Laboratorium Analisa II - 9
Departemen
Instrumen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4,19.dalam mengadsorpsi ion nitrat, kemampuan pengadsorpsian


semakin meningkat seiring dengan adanya modifikasi dan menurun
dengan bertambahnya pH. Kemampuan optimum adsorpsi ion nitrat
dengan menggunakan batu pasir didapatkan dengan menggunakan
batu pasir teraktivasi dan tersalut yang memiliki keasaman permukaan
tertinggi.
II.2 Aplikasi Industri

Laboratorium Analisa II - 10
Departemen
Instrumen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember