Anda di halaman 1dari 16

BAB XI

REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

11.1. Reklamasi
Reklamasi lahan ditujukan untuk memulihkan kondisi lahan sehingga
mendekati kondisi awal sebelum penambangan. Pada tahap ini masih terdapat
areal bekas tambang yang belum selesai direklamasi atau rehabilitasi lahan
termasuk di dalamnya penanaman kembali (revegetasi). Beberapa landasan
hukum yang digunakan dalam perencanaan reklamasi yaitu :
Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara.
1. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 18 Tahun 2008
Tentang Reklamasi dan Pascatambang.
2. Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010 Tentang Reklamasi dan Pasca
Tambang.
3. Peraturan Menteri Kehutanan No P.60/Menhut-II/2009 Tentang Pedoman
Penilaian Keberhasilan Reklamasi Hutan.
4. Keputusan Menteri Pertambangan Nomor 1211.K/008/MPE/1995 Tentang
Pencegahan dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan
Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Umum, Pasal 12 Ayat 1 yang
menyatakan bahwa Reklamasi daerah bekas pertambangan harus
dilakukan secepatnya sesuai degan rencana reklamasi dan persyaratan
yang telah ditetapkan.

11.1.1 Tata Guna Lahan Sebelum dan Sesudah Ditambang


Lahan sebelum dilakukannya penambangan pada lokasi Pertambangan
Kelompok Dua di Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten
Mempawah, Kalimantan Barat adalah hutan. Setelah berhentinya aktivitas
penambangan pada tahun ke-8 sesuai dengan perencanaan tambang yang telah
dibuat maka terciptalah kondisi bentang alam yang baru yang berbeda dengan
kondisi sebelumnya. Kelompok Dua merencanakan merehabilitasi lahan tersebut
Rehabilitasi segera dimulai jika lahan yang terbuka sudah mulai ada yang

1
dilakukan penutupan dan siap ditanami untuk mengurangi lahan terbuka selama
kegiatan penambangan. Penghijauan dilakukan dengan penanaman tanaman
kakao.

11.1.2 Rencana Pembukaan Lahan


Kelompok Dua mengajukan IUP sebesar 1 Ha pada lokasi endapan bahan
galian batuan diorit. Metode penambangan yang akan digunakan yaitu kuari
dengan target produksi 30.000 ton/tahun. Umur tambang yang direncanakan yaitu
selama 8 tahun.

11.1.3 Program Reklamasi


Reklamasi akan dilakukan pada areal kegiatan yang dulunya dibuka untuk
kegiatan penambangan batuan diorit seperti: lahan bekas bukaan tambang dengan
luas 7227 m2, sarana dan prasarana antara lain, unit pengolahan batuan diorit dan
jalan angkut di pengolahan.
Lahan bekas tambang akan ditimbun lagi dari Over Burben hasil dari
penambangan yang dilakukan, kemudian penghijauan dilakukan dengan
penanaman pohon peneduh yang cepat tumbuh (fast growing species) dan Cover
crop (CC) seperti mangga, dan pemupukan dengan nitrogen, fosfor, dan
potasium/kalium.
Penanaman tanaman mangga dilakukan beberapa bulan setelah tanaman
peneduh tumbuh dengan baik. Peralatan yang akan digunakan untuk reklamasi
yaitu menggunakan loader dan dump truck untuk mengangkut overburden dan top
soil untuk ditimbun pada lahan bekas tambang yang nantinya akan direklamasi
serta menggunakan bulldozer untuk meratakan lahan.

11.1.4 Rencana Biaya Reklamasi


Perhitungan rencana biaya reklamasi disusun sesuai dengan Peraturan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 18 Tahun 2008 Tentang Reklamasi
dan Pascatambang yang kemudian akan diajukan kepada Menteri, Gubernur,
Bupati sesuai dengan wewenang masing-masing. Jaminan reklamasi ditetapkan

2
berdasarkan biaya rencana reklamasi yang telah disetujui dan harus ditempatkan
sebelum melakukan kegiatan eksploitasi/operasi produksi.

11.2. Rencana Penutupan Tambang


11.2.1 Profil Wilayah
Lokasi Izin Usaha Pertambangan Kelompok Dua berada di Desa
Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Provinsi
Kalimantan Barat. Secara astronomis. Endapan bahan galian batuan diorit
terletak di daerah perbukitan dengan ketinggian 62 - 17 mdpl dengan luas IUP
yang diajukan sebesar 1 Ha.

11.2.2 Deskripsi Kegiatan Penambangan


Berdasarkan hasil eksplorasi yang dilakukan, diketahui besar cadangan
yang dimiliki oleh Kelompok Dua adalah 216.287 ton dengan produksi 30.000 ton
untuk tahun pertama sampai tahun ke tujuh dan tahun terakhir 6.285 ton untuk
tahun kedelapan serta umur tambang yang direncanakan adalah 8 tahun.
Kondisi batuan diorit di Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh,
Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat berada sangat dekat dengan
permukaan dengan overburden yang sangat tipis. Dengan memperhatikan kondisi
permukaan serta letak dari batuan diorit yang akan ditambang itu, maka
penambangan batuan diorit akan dilakukan dengan sistem tambang terbuka,
menggunakan metode kuari.
Fasilitas penunjang yang terdapat di perusahaan Kelompok Duameliputi pos
security, tempat parkir, kantor, mess karyawan, kantin, masjid, gudang, bengkel,
pabrik pengolahan, dan poliklinik.

11.2.3 Gambaran Rona Akhir Tambang


Setelah berhentinya aktivitas penambangan pada tahun ke-8 sesuai dengan
perencanaan tambang yang telah dibuat maka terciptalah kondisi bentang alam
yang baru yang berbeda dengan kondisi sebelumnya, di mana hasil kegiatan
penambangan meninggalkan lereng akhir yang aman berdasarkan hasil kajian

3
geoteknik (lihat lampiran K.1). Pada areal bekas penambangan akan direncanakan
revegetasi sebagaimana rencana pascatambang.
Sementara itu, kualitas air yang dihasilkan akibat dari kegiatan
penambangan berada pada kondisi air yang masih layak untuk dikonsumsi karena
selalu dilakukan pemantauan setiap waktu tertentu secara kontinu. Kualitas air
tambang yang dialirkan ke sungai adalah air yang sudah bersih karena sudah
diendapkan di kolam pengendapan.

11.2.4 Hasil Konsultasi Dengan Pemangku Kepentingan


Setelah Kelompok Dua melakukan kegiatan penambangan, perusahaan
merencanakan untuk proses kegiatan pascatambang. Untuk itu perusahaan
melakukan pertemuan dan mengkonsultasikan dengan pihak-pihak terkait untuk
membicarakan hal ini.
Dari hasil pertemuan dan konsultasi tersebut tanggapan dan saran untuk
melakukan pascatambang berupa penggunaan lahan untuk kegiatan perkebunan
kakao. Hal ini didasarkan atas kesepakatan bersama, kesesuaian terhadap sifat
fisik dan kimia daerah tersebut, dan mengacu pada rencana tata ruang wilayah
tersebut untuk tanaman sengon.

11.3. Program Pasca Tambang


11.3.1. Reklamasi
Reklamasi adalan kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha
pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan
dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.
Rehabilitasi segera dimulai jika lahan yang terbuka sudah mulai ada yang
dilakukan penutupan dan siap ditanami untuk mengurangi lahan terbuka selama
kegiatan penambangan. Penghijauan dilakukan dengan penanaman tanaman
manga.
Kriteria vegetasi yang akan ditanam kembali dalam areal bekas
penambangan adalah vegetasi lokal yang mempunyai daya adaptasi tinggi,
kecepatan pertumbuhan yang tinggi dan merupakan habitat yang disukai satwa
serta merupakan tanaman yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat

4
setempat. Vegetasi yang dianggap memenuhi kriteria tersebut adalah pohon kakao
karena sesuai dengan kondisi tanah di lokasi tersebut.

11.3.2. Pemeliharaan dan Perawatan


Pemeliharaan dan perawatan tapak bekas tambang, lahan bekas fasilitas
pengolahan dan lahan bekas fasilitas penunjang adalah sebagai berikut :
Membuat area pemantauan (plotting area) untuk mengetahui keberhasilan
revegetasi.
Inventarisasi jenis tumbuhan, menghitung jenis tumbuhan yang dapat
hidup selain yang sengaja ditanam dan dihitung nilai pentingnya.
Pemantauan secara garis besar meliputi daya hidup tinggi semai (>80%),
pertumbuhan tanaman dengan mengukur tinggi (cm) dan diameter (mm),
penutupan tajuk (%), perkembangan akar (cm), produksi serasah (g/m2),
kolonisasi spesies lokal.
Daya hidup semai perlu dievaluasi 1 bulan setelah tanam dan diulangi
pada umur 6 dan 12 bulan setelah tanam.
Hitung dan catat jumlah seedling yang gagal tumbuh (mati, stagnasi,
kekuningan dan merana), dengan mengikuti seluruh strip planting, tiap
luasan 1 ha. Tancapkan ajir pada tanaman yang gagal hidup sebagai tanda
untuk penyulaman.
Prosentase seedling yang hidup dihitung jumlah yang ditanam (PS) -
jumlah yang gagal (FS) dibagi dengan jumlah yang ditanam x 100%.
Monitoring pertumbuhan tinggi dan diameter dilakukan dengan interval
waktu 3,6,9 dan 12 bulan setelah tanam.
Revegetasi dilanjutkan sampai berhasil, oleh karena itu selama pasca
tambang dipantau juga pertumbuhan tanaman.

11.3.3. Sosial dan Ekonomi


Program corporate social responsibility dilaksanakan secara integratif
dengan meningkatkan kemampuan masyarakat antara lain dalam bidang pertanian,
pengadaaan jasa sehingga dapat dilakukan secara berkelanjutan. Sebagai
komitmen perusahaan terhadap terciptanya pembangunan berkelanjutan di bidang

5
usaha pertambangan maka Kelompok Duatelah merencanakan program pasca
tambang. Rencana ini meliputi berbagai aspek antara lain rehabilitasi lahan bekas
tambang, pengelolaan air, pengelolaan aset dan infrastruktur, serta penanganan
sosial kemasyarakatan. Pelayanan sosial kepada masyarakat, seperti bantuan
pendidikan, bantuan kesehatan dan olah raga.
Dengan telah habisnya cadangan batuan diorit , maka rasionalisasi tenaga
kerja akan dilakukan oleh Kelompok Dua sesuai peraturan yang berlaku yang
telah ditetapkan oleh Dinas Tenaga Kerja. Sebelum dilakukan pemutusan
hubungan kerja, Kelompok Dua akan melakukan pelatihan keterampilan kepada
tenaga kerja. Untuk itu Kelompok Duaakan bekerja sama dengan instansi terkait
seperti BLK (Balai Pelatihan Kerja) Dinas Tenaga Kerja untuk melaksanakan
kegiatan Pendidikan dan Latihan. Dengan kegiatan tersebut diharapkan tenaga
kerja dapat mandiri ataupun mampu bekerja di tempat lain dengan pengetahuan
tambahan yang diperolehnya.
Program pascatambang untuk bidang sosial dan ekonomi adalah dengan
mengefektifkan dan mengintensifkan program Corporate Social Responsibility
agar dapat dinikmati oleh masyarakat di sekitar tambang terutama program-
program yang akan memberikan kesempatan kerja dan berusaha seperti pelatihan
dan pembinaan masyarakat untuk pertanian, bantuan sarana penunjang untuk
kelompok tani, koperasi, kursus bordir kain/menjahit. Rencana pascatambang
didesain berdasarkan hal-hal sebagai berikut:
1. Peruntukan lahan bekas tambang.
2. Evaluasi dampak penting pada tahap pascatambang.
Adapun program yang akan dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan
pascatambang antara lain :
1. Pengelolaan lahan bekas tambang.
2. Pemeliharaan, reklamasi dan revegetasi lahan bekas fasilitas
pengolahan.
3. Pemeliharaan, reklamasi dan revegetasi lahan bekas fasilitas penunjang.
4. Sosial dan ekonomi, pemeliharaan tanaman agrowisata serta pemantauan.
Diharapkan rencana kegiatan ini memberikan informasi khusus yang
berhubungan dengan pemanfaatan lahan pascatambang yang dapat diperhitungkan

6
baik terhadap persoalan peruntukan lahan pada pascatambang maupun terhadap
persoalan lingkungan.

11.4. Pemantauan
11.4.1. Kestabilan Fisik Kesetabilan Lereng
Perubahan bentang alam akibat pembongkaran fasilitas tambang dan
penatagunaan lahan, di mana hasil kegiatan penambangan meninggalkan lereng
akhir yang aman berdasarkan hasil kajian geoteknik. Pemantauan dilakukan
dengan metode pengumpulan dan analisis data. Salah satunya menggunakan 2
sample tanah yang diambil dilokasi pemantauan.
Pemantauan perbedaan ketinggian dengan cara mengukur ketinggian tanah
untuk membuat garis kontur di lokasi bekas bukaan tambang dengan
menggunakan alat ukur theodolit. Hasil pengukuran digambarkan pada peta
topografi dan potongan melintang kemudian dibandingkan dengan peta topografi
dan potongan melintang pada rona awal. Tingkat erosi, sedimentasi dan kekeruhan
air sungai juga akan dipantau. Periode pemantauan dilakukan setiap 6 bulan
sekali.

11.4.2. Peningkatan erosi dan sedimentasi


Peningkatan debit air limpasan (surface run off) sehingga partikel tanah
yang subur akan dihanyutkan dan diendapkan ke perairan sekitarnya yang
menimbulkan sedimentasi. Terjadinya kegiatan pembersihan lahan pada tahap
konstruksi yang mengakibatkan peningkatan nilai koefisien run off, sehingga
intensitas air limpasan meningkat dan mampu mengerosi tanah, humus dan
material lainnya pada daerah aliran yang selanjutnya akan menyebabkan
meningkatnya kekeruhan dan sedimentasi di sungai-sungai sekitar kegiatan.
Parameter lingkungan hidup yang dipantau yaitu seberapa banyak alur erosi
yang terbentuk pada permukaan tanah (lahan terbuka) serta tingkat sedimentasi
pada saluran pembuangan air dan sungai.

7
Dengan untuk menekan laju erosi dan sedimentasi. Rencana Pemantauan
Lingkungan Hidup yaitu :
1. Metode Pengumpulan dan Analisis Data
a) Mengamati jenis erosi yang terjadi (lembar, alur, parit) dan mengukur
lebar alur erosi.
b) Memantau sistematika pembukaan lahan penambangan dan meneliti
pengaruh jenis material, luas tangkapan hujan, dll terhadap tingkat
erosi.
c) Memantau kegiatan reklamasi lahan bekas tambang yang sesuai agar
kecepatan air limpasan dapat diperkecil (dikurangi).
d) Mengamati sedimentasi yang terjadi di saluran penirisan, kolam
pengendapan dan sungai.
2. Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup
a) Lokasi bekas tambang, daerah penimbunan.
b) Jangka waktu/Frekuensi Pemantauan Lingkungan Pemantauan
terhadap erosi dilakukan setiap 6 bulan sekali, bergantung pada
intensitas hujan yang jatuh di lokasi tambang.

11.4.3. Air Permukaan dan Air Tanah


Aspek kualitas air dengan tolak ukur dampak yang digunakan untuk
peningkatan kadar parameter zat padat tersuspensi (TSS), kekeruhan, pH, sulfat,
COD, BOD dan Fe. Tujuan pemantauan yaitu :
1. Memonitor kualitas air permukaan sehingga dapat mengetahui efektivitas
upaya pengelolaan yang telah dilakukan.
2. Mengetahui dampak terhadap kualitas air sungai dan luas persebarannya.
Rencana Pemantauan dengan metode pengumpulan dan analisis data yaitu
pengambilan contoh air dilakukan menggunakan water sampler di lokasi
pemantauan yang telah ditentukan kemudian contoh air dimasukkan ke dalam
botol polipropylene. Selanjutnya contoh air ini dianalisis di laboratorium yang
telah ditunjuk. Secara ringkas pengukuran parameter adalah sebagai berikut:
1. pH diukur langsung di tempat pengambilan contoh.

8
2. Kekeruhan dengan metode formazin turbidimetrik dengan alat
spektrofotometrik atau alat turbidimeter (FTU), pengukuran kekeruhan air
dan muatan padatan tersuspensi ini dilakukan kurang dari delapan jam
setelah pengambilan contoh air.
3. Kadar sulfat dengan cara kolorometrik (mg/l).
4. Padatan tersuspensi dengan cara menentukan kandungan padatan
tersuspensi (mg/l) dalam air secara gravimetrik dengan menggunakan alat
timbang analitik.
5. Pengukuran kadar logam besi (Fe) dilakukan dengan menggunakan alat
AAS (Atomic Absorption Spectrofotometer). Pengukuran parameter
tersebut harus sesuai dengan buku pedoman Standard Methods for
Examination of Waste Water, APHA.
6. Analisis COD dilakukan secara titrimetrik dengan K2Cr2O7 dan indicator
feroin.

Hasil analisis kualitas air yang terpengaruh oleh kegiatan pascatambang


kemudian dibandingkan dengan kriteria baku mutu kualitas air sungai atau
mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang pemantauan
kualitas air dan pengendalian pencemaran air.
Jangka waktu/Frekuensi dilakukan sejak dimulainya kegiatan tahap pasca
operasi dan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Untuk parameter pH, pengukuran
dilakukan setiap hari. Untuk menghitung kualitas air digunakan 2 sample air yang
diambil dari lokasi pemantauan yang nantinya akan dibawa ke laboratorium untuk
di uji.

11.4.4. Flora dan Fauna


Tujuan pemantauan yaitu untuk Mengetahui efektifitas pengelolaan
lingkungan yang diterapkan dalam mengatasi kerusakan vegetasi di lahan yang
akan ditambang. Jangka waktu/Frekuensi Pemantauan Lingkungan dilakukan 6
bulan sekali selama kegiatan pasca tambang berlangsung.

9
Rencana Pemantauan dengan metode pengumpulan dan analisis data yaitu :
1. Membuat area pemantauan (plotting area) untuk mengetahui keberhasilan
revegetasi dengan cara menghitung jumlah tumbuhan hasil revegetasi yang
hidup dan yang mati, umur tumbuhan dan penyulaman yang telah
dilakukan. Arahan penempatan plot serta jumlah dan letak plot
pengamatan vegetasi harus sama dengan plot pengamatan tanah. Hasil
pengamatan dibuat tabulasinya sehingga dapat dilihat dengan mudah.
2. Inventarisasi jenis tumbuhan, menghitung jenis tumbuhan yang dapat
hidup selain yang sengaja ditanam dan dihitung nilai pentingnya.
3. Daya hidup semai perlu dievaluasi 1 bulan setelah tanam, dan diulangi
pada umur 6 dan 12 bulan setelah tanam. Survey harus dilakukan pada
seluruh tanaman.
4. Hitung dan catat jumlah seedling yang gagal tumbuh (mati, stagnasi,
kekuningan dan merana), dengan mengikuti seluruh strip planting, tiap
luasan 1 ha. Tancapkan air pada tanaman yang gagal hidup sebagai tanda
untuk penyulaman.
5. Prosentase seedling yang hidup dihitung jumlah yang ditanam (PS) -
jumlah yang gagal (FS) dibagi dengan jumlah yang ditanam x 100%.
6. Monitoring pertumbuhan tinggi dan diameter dilakukan dengan interval
waktu 3,6,9 dan 12 bulan setelah tanam.
7. Revegetasi dilanjutkan sampai berhasil, oleh karena itu selama pasca
tambang dipantau juga pertumbuhan tanaman.

Selain itu tujuan pemantauan yaitu untuk memulihan kondisi vegetasi akan
memulihkan habitat satwa liar sehingga satwa dapat kembali menghuni habitatnya
dan mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan perlindungan terhadap satwa
liar. Pemantauan lingkungan terhadap dampak satwa liar dilaksanakan selama
tahap pasca operasi penambangan batuan diorit, dengan periode pemantauan
setiap 6 bulan sekali. Rencana pemantauan dengan metode pengumpulan dan
analisis data yaitu :
1. Pengamatan dilakukan terhadap jenis-jenis mamalia, aves dan reptilia.
Pengumpulan data satwa liar yang ada di wilayah studi dilakukan secara

10
primer dan sekunder. Untuk memperoleh data primer digunakan peralatan
bantu, yaitu kamera dengan telelens, teropong dan buku referensi jenis
hewan dan burung. Inventarisasi jenis burung dilakukan dengan
pengamatan langsung bersamaan dengan penghitungan populasi.
2. Pemantauan jenis mamalia dan reptil adalah dengan melihat langsung
jejak, kotoran dan hasil pertemuan dicatat.
3. Data sekunder diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat
setempat seperti hasil buruan dan jerat dan data dari instansi atau dinas
yang terkait dengan masalah satwa liar.
4. Mendata keanekaragaman satwa dengan pengamatan langsung dan
wawancara dengan penduduk setempat dan pekerja di daerah tambang.

11.4.5. Sosial dan Ekonomi


Pada masa berakhirnya kegiatan penambangan batuan diorit Kelompok
Duaakan terjadi pelepasan tenaga kerja. Hal itu akan menyebabkan penurunan
pendapatan masyarakat dan hilangnya kesempatan berusaha yang mendukung
kegiatan pertambangan batuan diorit Kelompok Dua.
Tujuan Pemantauan yaitu untuk mengetahui penurunan pendapatan
masyarakat baik dari hilangnya kesempatan kerja maupun berusaha. Rencana
Pemantauan dilakukan metode pengukuran bersifat kuantitatif yaitu dengan
mencatat data penduduk yang terlibat langsung kehilangan kesempatan kerja dan
berusaha sehingga menyebabkan penurunan pendapatan.
Tujuan dilakukan pemantauan lainnya yaitu untuk mengetahui penurunan
pendapatan masyarakat baik dari hilangnya kesempatan kerja maupun berusaha.
Rencana pemantauan lingkungan hidup yaitu dengan metode pengukuran bersifat
kuantitatif yaitu dengan mencatat data penduduk yang terkena pemutusan
hubungan kerja baik yang secara langsung tercatat sebagai tenaga kerja maupun
yang tidak langsung, namun terlibat dalam kegiatan Kelompok Dua.

11.5. Organisasi
Penanganan dan persiapan yang menyeluruh dalam perencanaan organisasi
proyek diperlukan untuk kepentingan operasi penambangan batuan diorit yang

11
efisien, yang akan menentukan keberhasilan pencapaian tujuan proyek
penambangan batuan diorit yang dikelola oleh Kelompok Dua.
Sistem organisasi proyek tambang harus mempertimbangkan kebijakan-
kebijakan yang telah berjalan. Fungsi bisnis yang direncanakan bagi Kelompok
Duaadalah berupa fungsi bisnis produksi dengan menjalankan operasi
penambangan batuan diorit, serta pengolahan batuan diorit dengan
mengutamakan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan.
Dengan adanya pembatasan sumberdaya, ruang, waktu dan finansial maka
sebagai implikasinya dalam pengelolaan sistem organisasi ini dibutuhkan
pengetahuan dan kemampuan yang komprehensif dalam penanganannya.
Demikian juga karena latar belakang yang heterogen, maka diperlukan aspek
koordinasi dan pemeliharaan yang berkesinambungan demi keutuhan hubungan
antar personil.
Agar manajemen operasi proyek penambangan batuan diorit dapat
mencapai tujuan yang diharapkan, maka dibutuhkan suatu organisasi proyek
untuk menanganinya. Bentuk organisasi yang direncanakan untuk melaksanakan
manajemen operasi penambangan ini adalah organisasi garis dan staf (Line and
staff organization), dengan pertimbangan:
a) Terdapat spesialisasi yang beraneka ragam yang dapat dipergunakan secara
maksimal.
b) Dalam melaksanakan kegiatan proyek, anggota garis dapat meminta
pengarahan serta informasi dari staff.
c) Pengarahan yang diberikan oleh staff dapat dijadikan pedoman bagi
pelaksana.
d) Staff mempunyai pengaruh yang besar dalam pelaksanaan pekerjaan.

Dari sistem yang diterapkan tersebut maka akan tercipta suatu manajemen
dengan tingkat efisiensi yang tinggi dimana staff dan karyawan akan selalu
berpikir dan bertindak secara profesional demi kepentingan perusahaan. Kedua
unsur tersebut bisa menciptakan suatu sinergi dalam manajemen operasional.
Dengan bentuk organisasi garis dan staff, maka akan didapat beberapa manfaat,
antara lain:

12
a) Adanya pembagian tugas yang jelas antara unit-unit yang melaksanakan
tugas pokok dan penunjang.
b) Keputusan yang diambil biasanya telah dipertimbangkan secara matang
oleh segenap unit yang ada didalam organisasi.
c) Adanya kemampuan dan bakat berbeda-beda dari unit organisasi
memungkinkan dikembangkannya spesialisasi keahlian.
d) Adanya ahli-ahli dalam staf akan menghasilkan mutu pekerjaan yang lebih
baik.
e) Disiplin para anggota organisasi tinggi karena tugas yang dilaksanakan
oleh unit organisasi sesuai dengan bidang keahlian, pendidikan dan
pengalamannya.
f) Staf dan karyawan akan loyal ke perusahaan, sehingga bisa meminimalkan
keluar masuknya karyawan dimana mereka merasa selalu terjamin
kehidupan dan kesejahteraannya.

Gambar 11.1. Bagan Struktur Organisasi Pascatambang

11.6. Jadwal Pelaksanaan Pascatambang


Pasca tambang adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata
kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat dihentikannya kegiatan

13
penambangan untuk memenuhi kriteria sesuai dengan dokumen rencana
pascatambang. Proses pascatambang akan berlangsung sampai kegiatan revegetasi
berhasil, antara lain tanaman dapat hidup dengan baik dan kualitas air sudah pulih
ke kondisi semula. Umumnya sekitar 3 tahun beberapa jenis tanaman dapat
tumbuh dengan baik. Selama proses kegiatan pascatambang berlangsung, kegiatan
pemantauan lingkungan hidup tetap berjalan. Pemantauan lingkungan hidup yang
tetap berlangsung terutama terhadap kualitas air, erosi tanah, kesuburan tanah,
vegetasi, satwa liar dan persepsi masyarakat. Pemantauan kualitas air dan tanah di
lakukan di dua tempat dengan jangka waktu enam bulan sekali selama dua tahun.
Kegiatan pascatambang dikatakan berhasil bila memenuhi kriteria keberhasilan
yang dan meraih total nilai indikator keberhasilan reklamasi dan pascatambang
80. Berikut ini adalah jadwal pelaksanaan pascatambang.

Tabel 11.1. Jadwal Pelaksanaan Pascatambang

Tahun
No Tahap RPT
1 2 3
1 Pembongkaran fasilitas tambang
2 Reklamasi
3 Pemeliharaan dan perawatan
4 Pemantauan

14
11.7. Rencana Biaya Pascatambang
Tabel 11.2. Rencana Biaya Pascatambang

LUAS LUAS JENIS


PUP TOTAL
NO KEGIATAN Hekta TANAM
UK HARGA (Rp)
m2 r AN
1 PEMBONGKARAN
0,040
LUAR PIT : 409 9
- Mess 100
- Kantor 100 30.0
00.000
- Work Shop 100
- Pos Satpam 9
- Gudang Handak 100
2 PENIMBUNAN
0,722
PIT 7227 7 10.000.000
0,190
LUAR PIT : 1909 9
- Mess 100
- Kantor 100
- Work Shop 100 5.
000.000
- Pos Satpam 9
- Gudang Handak 100
- Crusher Plan 900
- Stock Pile 600
3 PENATAAN
0,722
PIT 7227 7 5.000.000
0,190
LUAR PIT 1909 9
- Mess 100
- Kantor 100
- Work Shop 100 5.
000.000
- Pos Satpam 9
- Gudang Handak 100
- Crusher Plan 900
- Stock Pile 600
4 PENANAMAN
Mangga
0,722 250
PIT 7227 7 Btg /Ha 1.445.400
Mangga
0,230 250 461.800
LUAR PIT 2309 9 Btg /Ha
- Mess 100

15
- Kantor 100
- Work Shop 100
- Pos Satpam 9
- Gudang Handak 100
- Crusher Plan 900
- Stock Pile 600
- Disposal Area 400
5 PERAWATAN
0,722
PIT 7227 7 50 Kg 250.000
0,230
LUAR PIT 2309 9 20 Kg 100.000
6 SOSIALISASI

- Masyarakat 50.000.000

- Pekerja 30.000.000
MOBILISASI
7 PERALATAN
- Peralatan
Tamabang 100.000.000

TOTAL 237.257.200

16