Anda di halaman 1dari 3

Syair Nasehat Cantik menjelis usulnya syahda

Berpikirlah secara seht Tiga belas tahun umurnya ada


Berucap tentang taubat dan solawt
Berkarya dalam hidup dan manfat Parasnya elok amat sempurna
Berprasangk yang baik dan tept Petah menjelis bijak laksana
Memberi hati bimbang gulana
Rajin-rajinlah beribadt
Janganlah lupa mengerjakan solt Kasih kepadanya mulia dan hina
Dan perbanyaklah engkau berzakt
Untuk bekal nanti di akhirt Akan Rahmah puteri bangsawan
Parasnya elok sukar dilawan
Cobalah tuk berserh diri Sedap manis barang kelakuan
Berdoa di hadapan ilhi
Sepuluh tahun umurnya tuan
Ya allah ya tuhan kmi
Semoga manfat hidup ini
Sangatlah suka duli mahkota
Melihat puteranya besarlah nyata
Sering-seringlah kau mengucp takbir Kepada isteri baginda berkata
Serta berdoa dalm berzikir Adinda Nin apalah bicara kita?
Beramalah kepada orang fkir
Ingatlah selalu akan hari khir.
Kepada fikir kakanda sendiri
Abdul Muluk kemala negeri
Carilah ilmu yang bermanfat
Janganlah menyerah sampai ku dapat Baiklah kita beri beristeri
Gunakanlah ilmu secara tept Dengan anakanda Rahmah puteri
Agar berguna bagi masyarakt
Permaisuri menjawab madah
Sabda kakanda benarlah sudah
Syair sejarah Syair ini menceritakan Akan anakanda Sitti Rahmah
kisah putra raja yang bijak, berikut Patutlah sudah ia berumah
syairnya.
Bertitah pula baginda sultan
Berhentilah kisah raja Hindustan Esok hari istana hiaskan
Tersebutlah pula suatu perkataan Adinda jangan berlambatan
Abdul Hamid Syah paduka sultan Kerja nin hendak kakanda segerakan
Duduklah baginda bersuka-sukaan
Mendengarkan titah sultan paduka
Abdul Muluk putra baginda Permaisuri menjawab lakunya suka
Besarlah sudah bangsawan muda Alat perkakas hadirlah belaka
menantikan sampai saat ketika
Telah sudah baginda berperi Akan segala hulubalang menteri
Berangkat keluar mahkota negeri Penuh sesak di balairung sari
Serta sampai ke balairung sari Menghadap baginda sultan bestari
Didapati hadir sekalian menteri Setengah bermain catur baiduri

Lalulah bertitah baginda sultan Syair sejarah adalah syair yang


Kepada Mansur wazir pilihan berdasar suatu peristiwa, tokoh atau
Berhadirlah kakanda alat pekerjaan tempat bersejarah. Seperti syair tentang
Abdul Muluk hendak dikawinkan peperangan, asal muasal dan lain
sebagainya. Contohnya seperti syair
Patutlah sudah ia beristeri karya Nadir Adransyah, B.A. dan Drs.
Dengan anakanda Rahmah puteri H. Syarifuddin R. tentang sejarah
Esok himpunkan hulubalang negeri kerajaan Negara Dipa di kalimantan
Kerja hingga empat puluh hari Selatan.

Sudah bertitah raja yang gana Bermula kisah kita mulai


Berangkat masuk ke dalam istana Zaman dahulu zaman bahari
Akan mansur yang bijaksana Asal mulanya sebuah negeri
Mengerjakan titah dengan sempurna Timbulnya kerajaan Raja di Candi

Telah datang keesokan hari Kerajaan bernama Negara Dipa


Berhimpun sekalian seisi negeri Raja pertama Empu Jatmika
Serta dengan anak isteri Putra tunggal Mangkubumi dengan Sitira
Mansur menghiasi balairung sari Asal Negeri Keling di Tanah Jawa

Orang mengatur sudahlah selesai Mangkubumi saudagar kaya


Dari istana sampai ke balai Kerabat raja yang bijaksana
Indah rupanya tiada ternilai Berputera seorang elok rupanya
Segera yang melihat heran dan lalai Empu Jatmika konon namanya

Beberapa kali meriam dipasang Empu Jatmika terus bertambah usianya


Bersambutlah dengan gong dan gendang Hingga dewasa menjadi cendekia
Joget dan tandak topeng Dikawinkan dengan Sira Manguntur
dan wayang namanya
Tiadalah sunyi malam dan siang Puteri cantik pandai bertutur kata
Empu Mandastana dan Lambung Demikian bunyi susunan katanya
Mangkurat bersaudara Harus kerjakan diingat pula
Kakak beradik tampan gagah muda belia
Itulah namanya putera Empu Jatmika Wahai anakku Empu Jatmika
Sama elok sama tampan sama pandainya Serta cucuku Empu Mandastana
Lambung Mangkurat duduk serta
Karena sudah keadaan Sira Manguntur dan neneknya Sitira
Sakitlah Mangkubumi yang dipertuan
Hamba sahaya semua bersedih menaruh Jika aku sudah tak ada lagi
kasihan Meninggalkan dunia yang fana ini
Semua sanak famili dikumpulkan Pertama-tama jagalah diri
Martabat keluarga dijunjung tinggi
Saudagar Mangkubumi yang dipertuan
Sakitnya bertambah tidak tertahan
Selalu dijaga seluruh handai taulan
Dari hari berganti bulan

Setelah Mangkubumi merasa tidak kuat


bertahan
Saatnya dunia yang fana harus
ditinggalkan
Nafas terengah air mata mengalir perlahan
Lemah tak berdaya sekujur badan

Empu Jatmika dan kedua puteranya


Duduk bersimpuh bersama ibunya
Membelai mencium tangan ayahanda
Duduk tepekur membaca doa

Lalu berkata Mangkubumi tercinta


Meninggal amanat kepada ananda
Hadirin mendengar dengan hikmatnya
Diterima wasiat oleh anak-cucunya

Adapun amanat yang ditinggalkannya


Kepada anaknya Empu Jatmika