Anda di halaman 1dari 291

TATA CARA

PENYELENGGARAAN UMUM TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS)


3R BERBASIS MASYARAKAT DI KAWASAN PERMUKIMAN
TATA CARA
PENYELENGGARAAN UMUM TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS)
3R BERBASIS MASYARAKAT DI KAWASAN PERMUKIMAN

Buku 1 : Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS)


3R Berbasis Masyarakat

Buku 2 : Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS)


3R Berbasis Masyarakat

Buku 3 : Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R

Buku 4 : Tata Cara Pilihan Teknologi


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R

Buku 5 : Tata Cara Monitoring dan Evaluasi


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R

Buku 6 : Lampiran dan Format Pelaporan


TATA CARA
PENYELENGGARAAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS)
3R BERBASIS MASYARAKAT

BUKU 1
KATA PENGANTAR
Pelaksanaan program pengurangan kuantitas sampah sebagai program pada skala nasional telah
sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan
sampah sebagai sumber daya. Pengelolaan sampah tersebut terdiri dari pengurangan sampah dan
penanganan sampah. Untuk pengurangan sampah biasanya dilakukan pembatasan timbulan
sampah, pendaur-ulangan sampah dan/atau pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan untuk
penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan dan
pemrosesan akhir sampah.

Pengurangan sampah tersebut juga sejalan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
21/PRT/M/2006, khususnya kebijakan (1), yaitu pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai
dari sumbernya. Kementerian Pekerjaan Umum sendiri telah melakukan pilot project di beberapa
kawasan untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R)
Berbasis Masyarakat. Pembangunan/penyediaan sarana penanganan sampah pada skala komunal
yang berbasis masyarakat tersebut melalui mekanisme penyediaan dana bantuan sosial untuk setiap
lokasi sasaran.

Dalam rangka memberikan panduan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan TPS 3R tersebut,
maka dibutuhkan buku panduan yang memuat tata cara pemilihan lokasi, perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, serta pilihan-pilihan teknologi dalam pengolahan sampah
berbasis masyarakat.

Buku Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS
3R) Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman yang telah disusun ini terdiri dari 6 (enam) jilid buku,
yaitu:
1. Buku 1, memuat Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
2. Buku 2, memuat Tata Cara Perencanaan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
3. Buku 3, memuat Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah
(TPS) 3R
4. Buku 4, memuat Tata Cara Pilihan Teknologi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
5. Buku 5, memuat Tata Cara Monitoring dan Evaluasi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
6. Buku 6, memuat Lampiran dan Format Pelaporan
Diharapkan seluruh pemangku kepentingan pelaksana kegiatan Program TPS 3R Berbasis Masyarakat
ini dapat memahami tata laksana dan kaidah-kaidah yang ada di dalam Buku Tata Cara
Penyelenggaraan Umum Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat di Kawasan
Permukiman ini serta menerapkannya pada pelaksanaan TPS-3R Berbasis Masyarakat di lokasi
sasaran.

Semoga panduan ini dapat bermanfaat dan tetap terbuka kesempatan kepada pihak-pihak yang
terkait dengan pelaksanaan kegiatan TPS 3R Berbasis Masyarakat, untuk memberikan masukan serta
saran dan kritik atas buku ini, guna mengoptimalkan hasil dan kebermanfaatan dari pembangunan
TPS 3R Berbasis Masyarakat ini.
Jakarta, May 2014
Direktur Jenderal Cipta karya

Ir. Imam S. Ernawi, MCM., M.Sc.


DAFTAR ISI
BUKU 1 TATA CARA PENYELENGGARAAN TEMPAT PENGOLAHAN
SAMPAH (TPS) 3R BERBASIS MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Maksud dan Tujuan 3

BAB II PRINSIP DAN PENDEKATAN 5


2.1 Prinsip dan Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R 5
Berbasis Masyarakat
2.2 Pendekatan Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 7
3R Berbasis Masyarakat
2.2.1 Skala Rumah Tangga 7
2.2.2 Skala Kawasan 9
2.2.3 Skala Perkotaan 11
2.3 Pembiayaan 12
2.4 Dukungan Pengaturan 13

BAB III PROSES PENYELENGGARAAN 15


3.1 Tahap Penyelenggaraan 15
3.2 Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) 19
3.3 Strategi dan Keberlanjutan Program 20
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Berdasarkan Permen PU No. 3 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana
Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah
Rumah Tangga, menekankan bahwa pengurangan sampah mulai dari sumber merupakan
tanggung jawab dari semua pihak baik Pemerintah maupun masyarakat. Dengan kondisi yang
ada saat ini, pemilahan dan pengurangan sampah sejak dari sumbernya (antara lain rumah
tangga) masih kurang memadai, sehingga berbagai gerakan masih perlu dilakukan, baik di
tingkat masyarakat melalui peranan tokoh masyarakat, LSM ataupun pemerintah
kota/kabupaten. Namun demikian dengan telah banyaknya praktek-praktek unggulan (best
practice) 3R yang cukup sukses dan dapat direplikasikan di tempat lain, target pengurangan
sampah sampai dengan tahun 2019 sebesar 25% (Standar Pelayanan Minimal) diharapkan
akan dapat tercapai.

Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat merupakan pola


pendekatan pengelolaan persampahan dengan melibatkan peran aktif dan pemberdayaan
kapasitas masyarakat. Pendekatan tersebut lebih ditekankan kepada metoda pengurangan
sampah yang lebih arif dan ramah lingkungan. Pengurangan sampah dengan metoda 3R
berbasis masyarakat lebih menekankan kepada cara pengurangan, pemanfaatan dan
pengolahan sejak dari sumbernya (rumah tangga, area komersil, perkantoran dan lain-lain).
Untuk melakukan ini diperlukan kesadaran dan peran aktif masyarakat.

Dalam banyak konsep pengelolaan sampah yang diaplikasikan di sejumlah negara, secara
umum menggunakan konsep hierarki sampah yang merujuk kepada teori 3R, yaitu reduce
(mengurangi sampah), reuse (menggunakan kembali sampah) dan recycle (daur ulang). Teori
ini mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah kepada tujuan keuntungan maksimum dari
produk-produk praktis dan menghasilkan jumlah minimum sampah.

Untuk mewujudkan konsep 3R salah satu cara penerapannya adalah melalui Penyelenggaraan
TPS3R Berbasis Masyarakat, yang diarahkan kepada konsep Reduce (mengurangi), Reuse
(menggunakan kembali) dan Recycle (daur ulang). Pengelolaan sampah dengan konsep 3R
pada skala kawasan merupakan pengelolaan yang dilakukan untuk melayani suatu kelompok
masyarakat yang terdiri atas sekurang-kurangnya 100 Kepala Keluarga tetapi tidak lebih dari 1
wilayah Kecamatan. Pengelolaan pelayanan sampah skala kawasan merupakan tanggung
jawab masyarakat penghuni bersama pengelola wilayah yang bersangkutan berupa :
Kelurahan/Desa, LKMD, RW, Pengelola Komplek Perumahan, Pengelola Pasar, Pengelola
Pertokoan/Mall, Pengelola kawasan Industri, Pengelola Komplek Pariwisata, Forum Masyarakat,
dan lain-lain. Dalam pelaksanaannya pengelolaan sampah 3R skala kawasan merupakan
kegiatan yang terdiri atas : pengumpulan, pemindahan / pengangkutan, dan pengolahan /

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 1


3R Berbasis Masyarakat
pemanfaatan sampah.

Prinsip 3R dalam pengelolaan sampah erat kaitannya dengan prinsip pembangunan


berkelanjutan (sustainable development), khususnya dalam pelaksanaan penghematan
sumber daya (resource efficiency) dan penghematan energi (energy efficiency). Dengan
menjalankanprinsip 3R maka terjadi upaya pengurangan ekstraksi sumber daya karena
sebagian bahan baku dapat terpenuhi dari sampah yang didaur-ulang dan sampah yang
diguna-ulang. Penggunaan bahan baku daur ulang untuk menghasilkan suatu produk telah
terbukti menggunakan lebih sedikit energi dibandingkan menggunakan bahan baku alami.

Selain hal tersebut diatas, pada saat ini juga telah berkembang salah satu upaya pengurangan
sampah di masyarakat Indonesia yang dikenal dengan program Bank Sampah. Berdasarkan
Permen Lingkungan Hidup No. 13 Tahun 2012, pengertian Bank Sampah adalah tempat
pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang dan/atau diguna ulang yang
memiliki nilai ekonomi. Melalui program ini, paradigma yang terbentuk dalam pikiran
masyarakat bahwa sampah adalah sesuatu yang tidak berguna dan dibuang begitu saja,
diubah menjadi sesuatu yang juga memiliki nilai dan harga. Melalui bank sampah, masyarakat
bisa menabung sampah, yang kemudian dalam kurun waktu tertentu bisa menghasilkan uang.

Pelaksanaan bank sampah pada prinsipnya adalah satu rekayasa sosial (social engineering)
untuk mengajak masyarakat memilah sampah. Dengan menukarkan sampah dengan uang
atau barang berharga yang dapat ditabung, masyarakat akhirnya terdidik untuk menghargai
sampah sehingga mereka maumemilah sampah. Munculnya bank sampah dapat menjadi
momentum awal dalam membina kesadaran masyarakat. Pembangunan bank sampah
sebenarnya tidak dapat berdiri sendiri tetapi harus disertai integrasi dengan Program 3R secara
menyeluruh di kalangan masyarakat. Hal ini perlu dilakukan agar manfaat langsung yang
dirasakan masyarakat tidak hanya kuatnya ekonomi kerakyatan tetapi juga pembangunan
lingkungan yang hijau dan bersih sehingga dapat menciptakan masyarakat yang sehat.

Dari pendekatan tersebut, maka didalam penyelenggaraan pengelolaan TPS3R Berbasis


Masyarakat harus dilakukan secara sinergi dan berkesinambungan harus dilakukan melalui:
1. Proses pelibatan masyarakat
2. Proses pemberdayaan masyarakat
3. Proses pembinaan dan pendampingan Pemerintah Daerah untuk keberlanjutan kegiatan
penanganan sampah berbasis 3R

Pengurangan sampah dengan 3R dan replikasi best practice memang bukan hal mudah
untuk dilakukan karena akan sangat bergantung pada kemauan masyarakat dalam merubah
perilaku, yaitu dari pola pemrosesan sampah konvensional menjadi pola pemilah sampah.
Untuk itu diperlukan berbagai upaya baik langsung maupun tidak langsung, seperti :
1. Percontohan Program 3R;
2. Penyuluhan dan pendidikan;
3. Pemberdayaan dan pendampingan masyarakat.

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 2


3R Berbasis Masyarakat
Sejak Pelita V Kementerian Pekerjaan Umum telah memberikan percontohan Program 3R skala
kawasan yang disebut UDPK (Usaha Daur Ulang dan Produksi Kompos) dan lebih diintensifkan
pada TA. 2007 dengan menerapkan Program Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
melalui prinsip 3R di seluruh provinsi.

Hasil evaluasi terhadap pendekatan yang pernah dilakukan dengan metode UDPK dianggap
kurang berhasil karena masih bersifat orientasi proyek, sedangkan pendekatan 3R yang baru
adalah mengunakan pendekatan partisipatif, pemberdayaan dan pendampingan terhadap
masyarakat yang cukup intens sehingga diharapkan dapat lebih berhasil. Selanjutnya,
kegiatan pengurangan sampah sejak dari sumbernya yang akan dilakukan dengan
mengedepankan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat dirasa lebih memadai dan dapat
menjadi gerakan moral nasional.

Program percontohan TPS 3R ini diselenggarakan melalui pola pembiayaan Bantuan Dana
Sosial agar masyarakat lebih berperan aktif dalam seluruh tahapan kegiatan sejak dari
perencanaan.

Dalam rangka memudahkan berbagai pihak dalam melaksanakan program pengurangan


sampah tersebut, disusunlah suatu Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan
Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dari disusunnya Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah (TPS)
3R Berbasis Masyarakat adalah membantu para pelaku dilapangan yang akan melakukan
kegiatan pengelolaan sampah dengan metode 3R untuk memahami pola 3R dengan
pendekatan berbasis masyarakat.

Sedangkan tujuan dari diterbitkannya Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan
Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakatdi Kawasan Permukiman adalah memberikan penjelasan
secara umum mengenai Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Berbasis Masyarakat.

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3


3R Berbasis Masyarakat
Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 4
3R Berbasis Masyarakat
BAB II
PRINSIP DAN PENDEKATAN

1.1 PRINSIP PENYELENGGARAAN UMUM TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R


BERBASIS MASYARAKAT

Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat merupakan pola


pendekatan dalam pengelolaan sampah yang berorientasi pada penanganan sampah sejak
dari sumbernya dengan upaya pengurangan timbulan sampah dengan mendorong
penggunaan barang-barang yang dapat digunakan kembali dan dapat didekomposisi secara
biologi (biodegradable) serta penerapan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat tidak hanya
menyangkut masalah sosial dalam rangka mendorong perubahan sikap dan pola pikir
masyarakat akan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan tetapi juga
menyangkut pengaturan (manajemen) yang tepat dalam pelaksanaan pengelolaan sampah.

Pada prinsipnya, penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat


diarahkan pada konsep Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali) dan Recycle
(daur ulang), dimana dilakukan upaya untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya
dengan pemanfaatan sampah organik sebagai bahan baku kompos dan komponen non
organik sebagai bahan sekunder kegiatan industri seperti plastik, kertas, logam, gelas dan lain -
lain.

Reduce ( R1 )
Reduce atau reduksi sampah merupakan upaya untuk mengurangi timbulan sampah di
lingkungan sumber dan bahkan dapat dilakukan sejak sebelum sampah dihasilkan. Setiap
sumber dapat melakukan upaya reduksi sampah dengan cara merubah pola hidup konsumtif,
yaitu perubahan kebiasaan dari yang boros dan menghasilkan banyak sampah menjadi
hemat/efisien dan sedikit sampah. Seperti menggunakan produk yang dapat diisi ulang (refill),
mengurangi bahan sekali pakai, menggunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi,
menggunakan alat tulis yang dapat diisi kembali. namun diperlukan kesadaran dan kemauan
masyarakat untuk merubah perilaku tersebut.

Reuse ( R2 )
Reuse berarti mengunakan kembali bahan atau material agar tidak menjadi sampah (tanpa
melalui proses pengelolaan), seperti menggunakan kertas bolak-balik, mengunakan kembali
botol bekas minuman untuk tempat air, mengisi kaleng susu dengan susuisi ulang(refill),
menggunakan kembali wadah/kantong yang dapat digunakan berulang-ulang,
menggunakan baterai yang dapat dicharge kembali dan lain-lain.

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 5


3R Berbasis Masyarakat
Recycle ( R3 )
Recycle berarti mendaur ulang suatu bahan yang sudah tidak berguna (sampah) menjadi
bahan lain setelah melalui proses pengelolaan seperti mengolah sisa kain perca menjadi
selimut, kain lap, keset kaki, dsb atau mengolah botol/plastik bekas menjadi biji plastik untuk
dicetak kembali menjadi ember, hanger, pot dan sebagainya serta mengolah kertas bekas
menjadi bubur kertas dan kembali dicetak menjadi kertas dengan kualitas sedikit lebih rendah,
sampah basah yang dapat diolah menjadi kompos dan lain-lain.

Untuk menerapkan Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis


Masyarakat di kawasan permukiman, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Komposisi dan karakteristik sampah, untuk memperkirakan jumlah sampah yang dapat
dikurangi dan dimanfaatkan.
2. Karakteristik lokasi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, untuk mengidentifikasi
sumber sampah dan pola penanganan sampah 3R yang sesuai dengan kemampuan
masyarakat setempat.
3. Metode penanganan sampah 3R untuk mendapatkan formula teknis serta prasarana dan
sarana 3R yang tepat dengan kondisi masyarakat setempat.
4. Proses pemberdayaan masyarakat, untuk menyiapkan masyarakat dalam perubahan pola
penanganan sampah dari proses konvensional kumpul-angkut-buang menjadi
minimalkan-kumpul-pilah-olah-angkut dan buang sisanya.
5. Uji coba pengelolaan, sebagai ajang pelatihan bagi masyarakat dalam melaksanakan
berbagai metode 3R.
6. Keberlanjutan pengelolaan, untuk menjamin kesinambungan poses pengelola sampah yang
dapat dilakukan oleh masyarakat secara mandiri.
7. Minimalisasi sampah hendaknya dilakukan sejak sampah belum terbentuk yaitu dengan
menghemat penggunaan bahan, membatasi konsumsi sesuai dengan kebutuhan, memilih
bahan yang ramah lingkungan, dsb.
8. Upaya memanfaatkan sampah dilakukan dengan mengunakan kembali sampah sesuai
fungsinya, seperti halnya pada penggunaan botol minuman atau kemasan lainnya.
9. Upaya mendaur ulang sampah dapat dilakukan dengan memilah sampah menurut jenisnya,
baik yang memiliki nilai ekonomi sebagai material daur ulang (kertas, plastik, gelas/logam,
dll) maupun sampah B3 rumah tangga yang memerlukan penanganan khusus (baterai,
lampu neon, kaleng, sisa insektisida, dll) dan sampah bekas kemasan (bungkus mie instant,
plastik kemasan minyak, dll).
10.Pengomposan sampah diharapkan dapat diterapkan di sumber (rumah tangga, kantor,
sekolah, dll) yang akan secara signifikan mengurangi sampah pada tahap berikutnya.

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 6


3R Berbasis Masyarakat
2.2 PENDEKATAN PENYELENGGARAAN UMUM TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R
BERBASIS MASYARAKAT

Pengelolaan sampah dengan mengunakan pola pendekatan berbasis masyarakat yang saat
ini dianjurkan adalah Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat. Komponen sistem
pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat ini terdiri dari prasarana dan sarana
yang ada di sumber (rumah tangga), skala kawasan dan prasarana dan sarana di TPS3R.
Konsep pelaksanaan pengurangan sampah di Indonesia dapat dilaksanakan dengan 3 (tiga)
pendekatan berdasarkan skala berikut :
1. Skala Rumah Tangga
2. Skala Kawasan
3. Skala Perkotaan

Komposter Kompos

Organik bahan kompos Kompos

Materi daur ulang Lapak


Organik Residu

Rumah B3 Gerobak Motor 3R TPS Residu TPA


Tangga

Non Organik Residu Penanganan


B3 lanjut AB

Non Organik Kerajinan Tangan

Sampah Campur

Skala Rumah Tangga Skala Kawasan

Skala Perkotaan
Gambar 2.1 Penanganan Sampah Skala Rumah Tangga, Kawasan dan Perkotaan

2.2.1 SKALA RUMAH TANGGA

Penanganan sampah skala rumah tangga hendaknya tidak lagi hanya bertumpu pada
aktivitas pengumpulan, pengangkutan dan pemrosesan sampah, tetapi diharapkan dapat
menerapkan upaya minimalisasi timbulan sampah, yaitu dengan cara mengurangi,
memanfaatkan kembali dan mendaur ulang sampah yang dihasilkan.
Pemilahan Sampah Non Organik.

1. Pemilahan Sampah Non Organik


Pemilahan sampah non organik di kawasan permukiman perlu dilakukan, yaitu dengan cara
memilah sampah kertas, plastik, dan logam/kaca di masing-masing sumber dengan cara
sederhana dan mudah dilakukan oleh masyarakat, misalnya mengunakan kantong plastik
besar atau karung kecil. Khusus untuk sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) rumah
tangga, seperti baterai bekas, bola lampu dan lain-lain, diperlukan wadah khusus yang
pengumpulannya dapat dilakukan sebulan sekali atau sesuai kebutuhan. Hasil pemilahan
Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 7
3R Berbasis Masyarakat
sampah di sumber pada umumnya mempunyai kualitas yang lebih baik dibandingkan apabila
pemilahan sampah dilakukan di TPA.

2. Pengelolaan Sampah Organik (Pembuatan Kompos)


Sampah organik dibedakan antara sampah organik dari kebun (daun-daunan) dan sampah
organik dari dapur atau sampah basah (nasi, daging, dan lain-lain). Pembuatan kompos secara
individu di sumber harus dilakukan dengan cara sederhana dan dapat mengacu pada best
practice yang telah ada. Pembuatan kompos di sumber dapat dilakukan dengan beberapa
metode, sebagai berikut :
a. Komposter Rumah Tangga Individual (untuk melayani 1 keluarga atau 5-7 orang) dan
Komunal (untuk melayani 10 keluarga 50-70 orang)
b. Metode lubang (hanya dapat dilakukan untuk daerah yang tingkat kepadatan
penduduknya masih rendah).
c. Komposter Gentong (alasnya di lubangi dan di isi kerikil serta sekam) merupakan cara
sederhana karena seluruh sampah organik dapat dimasukan dalam gentong.
d. Bin Takakura (keranjang yang dilapisi kertas karton, sekam padi dan kompos matang)
memerlukan sedikit kesabaran karena dibutuhkan sampah organik terseleksi dan
pencacahan untuk mempercepat proses pematangan kompos. Komposter takakura tidak
menimbulkan bau sehingga dapat ditempatkan didalam rumah.
Produk kompos dapat digunakan untuk program penghijauan dan penanaman bibit.

3. Daur Ulang
Daur ulang mempunyai pengertian sebagai proses menjadikan bahan bekas atau sampah
menjadi menjadi bahan baru yang dapat digunakan kembali (recycle). Dengan proses daur
ulang, sampah dapat menjadi sesuatu yang berguna sehingga bermanfaat untuk mengurangi
penggunaan bahan baku yang baru. Manfaat lainnya adalah menghemat energi, mengurangi
polusi, mengurangi kerusakan lahan dan emisi gas rumah kaca dari pada pada proses
pembuat barang baru.

Daur ulang di sumber dilakukan mulai dengan melakukan pemilahan sampah, sebaiknya
dilakukan dengan cara yang sederhana agar mudah diaplikasikan oleh masyarakat.
Pemilahan sampah dapat dimulai dengan memisahkan sampah menjadi sampah basah
(organik) dan sampah kering (non organik) atau langsung menjadi beberapa jenis (sampah
organik, kertas, plastik, kaleng dan sampah B3 rumah tangga).

Dalam sistem pengelolaan persampahan, upaya daur ulang memang cukup menonjol, dan
umumnya melibatkan sektor informal. Berikut ini beberapa alasan mengapa daur ulang
mendapat perhatian :
a. Alasan ketersediaan sumber daya alam; beberapa sumber daya alam bersifat dapat
terbarukan dengan siklus yang sistematis, seperti siklus air. Yang lain termasuk dalam kategori
tidak terbarukan, sehingga ketersediaan di alam menjadi kendala utama. Berdasarkan hal
itu, maka salah satu alasan daur ulang adalah ketersediaan sumber daya alam
b. Alasan nilai ekonomi; sampah yang dihasilkan dari suatu kegiatan ternyata bernilai ekonomi
bila dimanfaatkan kembali. Pemanfaatan tersebut dalam bentuk energi, atau pemanfaatan

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 8


3R Berbasis Masyarakat
bahan, baik sebagai bahan utama ataupun sebagai bahan pembantu
c. Alasan lingkungan; alasan lain yang paling mendapat perhatian adalah perlindungan
terhadap lingkungan. Komponen sampah yang dibuang ke lingkungan dalam banyak hal
mendatangkan dampak negatif pada lingkungan dan pencemarannya. Pengolahan
sampah akan menjadi kewajiban. Namun bila dalam upaya tersebut akan menjadi pilihan
yang cukup menarik.

Dalam beberapa hal alasan-alasan tersebut saling terkait seperti yang lain dan saling
mendukung, sehingga upaya daur ulang menjadi lebih terarah dan menarik.

2.2.2 SKALA KAWASAN

Pengelolaan sampah skala kawasanadalah pengelolaan sampah yang dilakukan untuk


melayani suatu kelompok masyarakat dimana pengelolaan pelayanan sampah skala kawasan
menjadi tanggung jawab masyarakat penghuni bersama pengelola wilayah yang
bersangkutan. Area kerja pengelolaan sampah terpadu skala kawasan (TPS3R) meliputi area
pembongkaran muatan gerobak, pemilahan, perajangan sampah, pengomposan,
tempat/kontainer sampah residu, penyimpanan barang lapak atau barang hasil pemilahan,
dan pencucian.

1. Landasan Operasional Pengelolaan Sampah Skala Kawasan


Pada perencanaan penerapan 3R skala rumah tangga hendaknya memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a. Perlu dibedakan tipe kawasan seperti kawasan komplek perumahan teratur (cakupan
pelayanan 1000 - 2000 unit rumah), kawasan perumahan semi teratur/non komplek
(cakupan pelayanan 1 RW) dan kawasan perumahan tidak teratur/kumuh atau perumahan
di bantaran sungai.
b. Diperlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pengurangan volume dan pemilahan
sampah.
c. Diperlukan operasional pengelolaan sampah mulai dari sumber, pengangkutan /
pengumpulan, pemilah sampah, pihak penerima bahan daur ulang (lapak) dan
pengangkutan residu ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
d. Diperlukan area kerja pengelolaan sampah skala kawasan yang disebut TPS 3R (Tempat
Pengolahan Sampah), yaitu area pembongkaran muatan gerobak, pemilahan,
pencacahan sampah, pengomposan, tempat/kontainer sampah residu, penyimpanan
barang lapak dan pencucian.
e. Kegiatan pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R meliputi pemilahan
sampah, pembuatan kompos, pengepakan bahan daur ulang, dll
f. Pemilahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R dilakukan untuk beberapa jenis
sampah seperti sampah B3 Rumah tangga (selanjutnya akan dikelola sesuai dengan
ketentuan), sampah kertas, plastik, logam/kaca (akan digunakan sebagai bahan daur
ulang) dan sampah organik (akan digunakan sebagai bahan baku kompos)
g. Pembuatan kompos di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R dapat dilakukan dengan

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 9


3R Berbasis Masyarakat
berbagai metode, antara lain open windrow dan caspary.
h. Incinerator skala kecil tidak direkomendasikan karena incinerator kecil hanya
direkomendasikan untuk sampah rumah sakit dan sampah khusus.
i. Sampah residu dilarang untuk dibakar di tempat, tetapi dibuang ke TPA.

2. Metode Operasional Pengelolaan Sampah Skala Kawasan


a. Peralatan pengumpulan sampah di kawasan perumahan baru (cakupan luas dan jalan
lebar) dapat dilakukan dengan menggunakan motor sampah (kapasitas 1,2 m 3), sedangkan
untuk kawasan perumahan non komplek dan perumahan kumuh/bantaran dapat dilakukan
dengan gerobak.
b. Metode pengumpulan sampah dapat dilakukan secara individual (door to door) maupun
komunal (masyarakat membawa sendiri sampahnya ke Wadah/Bin Komunal yang sudah
ditentukan).
c. Motor/gerobak sampah yang mengumpulkan sampah terpilah dapat dimodifikasi dengan
sekat atau dilengkapi karung-karung besar (3 unit atau sesuai dengan jenis sampah).

3. Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R


Jadwal pengangkutan sampah non organik yang sudah terpilah, seperti kertas, plastik,
logam/kaca dapat dilakukan seminggu 2 (dua) kali, sedangkan untuk sampahyang masih
tercampur, pengangkutan dilakukan setiap hari atau maksimal seminggu 2 (dua)kali
tergantung kapasitas pelayanan dan tipe kawasan.

Kriteria Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R


a. Lokasi
1) Luas TPS3R bervariasi. Untuk kawasan perumahan baru (cakupan pelayanan 2000 rumah)
diperlukan TPS 3R dengan luas 1000 m2. Sedangkan untuk cakupan pelayanan skala RW
(200 rumah), diperlukan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R dengan luas 200 - 500 m2.
2) TPS3R dengan luas 1000 m2 dapat menampung sampah dengan atau tanpa proses
pemilahan sampah di sumber.
3) TPS3R dengan luas < 500 m2 hanya dapat menampung sampah dalam keadaan terpilah
(50%) dan sampah campur 50 %.
4) TPS 3R dengan luas < 200 m2 sebaiknya hanya menampung sampah tercampur 20 %,
sedangkan sampah yang sudah terpilah 80 %.
b. Fasilitas Tempat Pengolahan Sampah TPS 3R
Fasilitas TPS3R meliputi wadah komunal, areal pemilahan, areal komposting (kompos dan
kompos cair), dan dilengkapi dengan fasilitas penunjang lain seperti saluran drainase, air
bersih, listrik, barrier (pagar tanaman hidup) dan gudang penyimpan bahan daur ulang
maupun produk kompos serta biodigester (opsional).
c. Daur Ulang
1) Sampah yang didaur ulang minimal adalah kertas, plastik dan logam yang memiliki nilai
ekonomi tinggi dan untuk mendapatkan kualitas bahan daur ulang yang baik, pemilahan
sebaiknya dilakukan sejak di sumber.
2) Pemasaran produk daur ulang dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak
penampung atau langsung dengan industri pemakai.

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 10


3R Berbasis Masyarakat
3) Daur ulang sampah B3 Rumah tangga (terutama batu baterai dan lampu neon bekas)
dikumpulkan untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan perundangan yang
berlaku (PP 18/1999 tentang pengelolaan sampah B3).
4) Daur ulang kemasan plastik (air mineral, minuman dalam kemasan, mie instan dan lain-
lain) sebaiknya dimanfaatkan untuk barang-barang kerajinan atau bahan baku lain.

d. Pembuatan Kompos
1) Sampah yang digunakan sebagai bahan baku kompos adalah sampah dapur (terseleksi)
dan daun potongan tanaman.
2) Metode pembuatan kompos dapat dilakukan dengan berbagai caraantara lain dengan
open windrow dan caspary.
3) Perlu dilakukan analisa kualitas terhadap produk kompos secara acak dengan parameter
warna, C/N rasio, kadar NPK dan logam berat. Dalam pengecekan analisa kualitas
produk kompos, bisa bekerja sama dengan laboratorium tanah yang ada di universitas
atau milik instansi pemerintah setempat.
4) Pemasaran produk kompos dapat bekerja sama dengan pihak koperasi dan dinas
(Kebersihan, Pertamanan, Pertaniandan lain-lain).

Gambar 2.2 Pengomposan Sistem Gambar 2.3 Pengomposan Sistem


Open Windrow Caspary

2.2.3 SKALA PERKOTAAN

Teknis operasional pengelolaan sampah skala perkotaan yang terdiri dari kegiatan pewadahan
sampai dengan pemrosesan akhir sampah harus bersifat terpadu dengan melakukannya sejak
dari sumber. Kegiatan pemilahan dan daur ulang diutamakan di sumber sampah, dan untuk
kegiatan pemilahan dapat pula dilakukan pada kegiatan pengumpulan / pemindahan. Faktor-
faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan sampah skala perkotaan, yaitu :
1. Kepadatan dan penyebaran penduduk
2. Karakteristik fisik lingkungan dan sosial ekonomi
3. Timbulan dan karakteristik sampah
4. Budaya sikap dan perilaku masyarakat
5. Jarak dari sumber sampah ke tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah
6. Rencana tata ruang dan pengembangan kota

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 11


3R Berbasis Masyarakat
7. Sarana pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah
8. Biaya yang tersedia
9. Peraturan daerah setempat

Tingkat pelayanan didasarkan jumlah penduduk yang terlayani dan luas daerah yang terlayani
dan jumlah smapah yang terangkut ke TPA. Berdasarkan hasil penentuan skala kepentingan
daerah pelayanan, frekuensi pelayanan dapat dibagi dalam beberapa kondisi sebagai berikut:
1. Pelayanan intensif antara lain untuk jalan protokol, pusat kota, dan daerah komersil
2. Pelayanan menengah antara lain untuk kawasan permukiman teratur
3. Pelayanan rendah antara lain untuk daerah pinggiran kota

Faktor penentu operasional pelayanan adalah sebagai berikut :


1. Tipe kota
2. Sampah terangkut dan lingkungan
3. Frekuensi pelayanan
4. Jenis dan jumlah peralatan
5. Peran aktif masyarakat
6. Retribusi
7. Timbulan sampah

2.3 PEMBIAYAAN

Pembiayaan yang diperlukan dalam penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R


berbasis masyarakat, meliputi:
1. Kebutuhan biaya investasi prasarana dan sarana dilakukan dengan mekanisme
pembiayaan Bantuan Dana Sosial yang bersumber dari Dana APBN dengan pola
pengelolaan langsung oleh masyarakat melalui lembaga keswadayaan masyarakat.
2. Kebutuhan biaya operasi pengumpulan sampah dari sumber serta operasional
penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat dan
pemeliharaan prasarana / sarananya melalui iuran warga yang besarnya dimusyawarahkan.
3. Insentif yang didapat berupa hasil penjualan material daur ulang dan produk kompos serta
penjualan bibit tanaman yang dapat digunakan untuk kepentingan sosial warga atau untuk
meningkatkan kualitas lingkungan permukiman.

Mulai tahun 2014 penyelenggaraan TPS 3R Berbasis Masyarakat mengunakan mekanisme


pendanaan Bantuan Sosial. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81 Tahun 2012
Tentang Belanja Bantuan Sosial Pada Kementerian / Lembaga, maka pengelolaan dan
penyaluran dana Bantuan Sosial Sanitasi Berbasis Masyarakat mengikuti ketentuan dan
mekanisme PMK No. 81/2012. Pola yang dimaksud adalah dengan memanfaatkan jenis belanja
bantuan sosial yang didefinisikan sebagai bantuan melalui transfer uang, barang atau jasa
yang diberikan langsung kepada masyarakat, melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM),
guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial.

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 12


3R Berbasis Masyarakat
Sesuai dengan definisinya, penganggaran menggunakan Akun Bantuan Sosial dapat
direalisasikan melalui transfer dalam bentuk uang, barang atau jasa tergantung pada kebijakan
yang diambil. Bantuan sosial melalui pola transfer uang dilaksanakan dengan mentransfer dana
bantuan sosial langsung kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) selaku kelompok
penerima manfaat sehingga secara langsung dapat dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan
pembangunan / pengembangan / optimalisasi prasarana Sanitasi Berbasis Masyarakat yang
telah diprogramkan maupun penguatan KSM yang telah diprogramkan. Prasyarat yang
dibutuhkan antara lain melalui penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM) melalui KSM,
pembukaan rekening KSM, mekanisme transfer melalui penerbitan Surat Permintaan
Pembayaran (SPP), Surat Perintah Membayar (SPM) dan penerbitan Surat Perintah Pencairan
Dana (SP2D) serta pemanfaatan dana bantuan sosial oleh Kelompok Swadaya Masyarakat
selaku wadah penerima manfaat.

Sedangkan bantuan sosial melalui pola transfer barang/jasa dilaksanakan melalui mekanisme
pengadaan barang / jasa sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 dan
perubahannya melalui Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 yang dilaksanakan oleh Kuasa
Pengguna Anggaran (KPA) ataupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Barang / jasa yang
sudah diadakan oleh KPA/PPK untuk selanjutnya disalurkan atau diserahkan kepada kelompok
Swadaya Masyarakat penerima manfaat bantuan sosial.

Penyaluran bantuan sosial baik melalui pola transfer uang maupun pola transfer barang/jasa
dalam pelaksanaannya dibutuhkan adanya pengawalan, pendampingan serta pembinaan
oleh Fasilitator Teknik, Fasilitator Pemberdayaan atau Senior Fasilitator sebagai petugas
lapangan. Pengawalan, pendampingan dan bimbingan oleh petugas lapangan tersebut tidak
terbatas dari aspek teknis tetapi juga mencakup aspek adminstrasi dan pertanggung
jawabannya.

2.4 DUKUNGAN PENGATURAN

Dalam penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat, perlu


didukung dengan adanya peraturan, meliputi:
1. Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri dan Peraturan Daerah).
2. Ketentuan organisasi pengelola (KSM atau organisasi masyarakat lainnya)
3. Tata laksana kerja atau Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART)
4. Ketentuan teknis pengelolaan sampah berbasis masyarakat
5. Mekanisme penyaluran bantuan sosial

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 13


3R Berbasis Masyarakat
Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 14
3R Berbasis Masyarakat
BAB III
PROSES PENYELENGGARAAN

3.1 TAHAP PENYELENGGARAAN


PEMDA KOTA/KABUPATEN TENAGA FASILITATOR LAPANGAN
DIT. PPLP, DCJK, KEMEN. PU SATKER PPLP (Provinsi)
DINAS PENANGGUNG JAWAB & KELOMPOK MASYARAKAT
TATA CARA PENYELENGGARAAN UMUM
TPS3R BERBASIS MASYARAKAT DI
PERMUKIMAN
USULAN TFL
(TEKNIS & PEMBERDAYAAN)
PENETAPAN LOKASI KOTA/ KABUPATEN
MONITORING & EVALUASI

(MELALUI KOTA/KABUPATEN YANG TELAH


MEMILIKI MEMORANDUM PROGRAM
PERCEPATAN PEMBANGUNAN SANITASI
PERKOTAAN (PPSP) ATAU YANG SUDAH

PERSIAPAN
MENYUSUN BUKU PUTIH SANITAS (BPS) DAN
BUKU STRATEGI SANITASI KOTA (SSK) MELALUI PENETAPAN TFL
PROGRAM PPSP)

KRITERIA TFL PELATIHAN TFL

SURAT UNDANGAN
PENEMPATAN TFL DI SOSIALISASI MASYARAKAT KE TFL
MASING - MASING KAB/KOTA STAKEHOLDER (KAMPUNG) UNTUK IKUT SELEKSI
KAMPUNG

RPA & SELEKSI


SHORTLIST
KAMPUNG

SURAT PENETAPAN COMMUNITY SELF-SELECTION

PERENCANAAN
STAKEHOLDER KAMPUNG
PENERIMA MANFAAT
(BERITA ACARA SELEKSI
(SATKER/PPK PPLP) KAMPUNG)

RKM DI LOKASI TERPILIH


PEMBENTUKAN KSM & PEMILIHAN KATALOG/TEKNOLOGI 3R
PENDAMPINGAN

TIM/PANITIA (SWAKELOLA (PENDAMPINGAN TFL)


MASYARAKAT)

PENYUSUNAN DED, RAB & SPESIFIKASI TEKNIS

PERJANJIAN KERJASAMA
ANTARA SATKER/PPK PPLP
DENGAN KSM
RKM TERSUSUN

KOSNTRUKSI
PERSETUJUAN & SPECIMEN PEMBUKAAN REKENING MASYARAKAT
ACCOUNT
PELATIHAN KSM
PELATIHAN TUKANG & MANDOR
(MELIBATKAN TFL)
PENCAIRAN DANA KONSTRUKSI
BANSOS TPS 3R
PELATIHAN OPERATOR
(O & M)

SERAH TERIMA PEKERJAAN DAN SERAH TERIMA KELOLA


MONITORING &

OPERASIONAL &
PEMELIHARAAN
EVALUASI

PERESMIAN BANGUNAN

PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH


TERIDENTIFIKASI & TERDOKUMENTASI

Gambar 3.1 Diagram Proses PenyelenggaraanKegiatan Bantuan Sosial TPS 3R

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 15


3R Berbasis Masyarakat
Adapun tahapan kegiatan pelaksanaan Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS)
3R Berbasis Masyarakat secara umum adalah sebagai berikut:
1. Tahap Pertama
Tahap ini meliputi kegiatan:
a. Persiapan, yaitu berupa sosialisasi atau workshop pengelolaan sampah dengan metoda
3R kepada seluruh pemangku kepentingan di tingkat pusat yang bertujuan untuk
menyatukan persepsi terhadap permasalahan sampah secara umum dan penyampaian
visi mengenai penanganan permasalahan sampah untuk beberapa tahun kedepan.
b. Penjaringan minat keikutsertaan dalam program TPS 3R kepada SKPD kota/kabupaten
terutama bagi daerah yang telah menyusun Strategi Sanitasi Kota (SSK)

2. Tahap kedua
Tahap ini meliputi kegiatan:
a. Seleksi kota/kabupaten yang berminat mengikuti program Tempat Pengolahan Sampah
(TPS) 3R berbasis masyarakat.
Surat minta kota/kabupaten untuk mengikuti program TPS 3R dilengkapi dengan:
1) Daftar panjang lokasi masing-masing kota / kabupaten yang memenuhi kriteria TPS 3R
2) Surat pernyataan dari kepala daerah dan / atau kepala dinas pemangku kepentingan
untuk mengalokasikan kontribusi / sharing dana pada kegiatan sosialisasi /
pemberdayaan dan pembinaan pasca konstruksi
Seleksi kota/kabupaten ini dilakukan karena dua alasan, yaitu:
1) Anggaran penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis
masyarakat seluruhnya atau sebagian berasal dari pusat.
2) Diperlukan komitmen yang jelas dan tegas karena penyelenggaraan Tempat
Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat ini melibatkan beberapa institusi
daerah terkait yang diharapkan dapat berkelanjutan dan berkembang.
b. Seleksi kota/kabupaten dilakukan dengan workshop yang sifatnya regional dan dihadiri
oleh perwakilan kota/kabupaten dalam regional tersebut.
c. Tujuan dari workshop ini adalah mengumpulkan kota/kabupaten yang berminat dalam
penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat dan seleksi
bila anggaran penyelenggaraan yang tersedia tidak cukup untuk membiayai semua
kota/kabupaten yang ada dalam region tersebut.

3. Tahap Ketiga
Tahap ini meliputi kegiatan:
a. Penyiapan Tenaga Fasilitator Lapangan. Keberadaan fasilitator sangat diperlukan dalam
pelaksanaan penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis
masyarakat.
b. Fasilitator bertugas mendampingi masyarakat dalam penyelenggaraan Tempat
Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat, dalam tahap sosialisasi, seleksi
kampung, penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM), pengadaan barang / jasa,
konstruksi, pengawasan, penyerapan dana, pelatihan, pengoperasian dan
pemeliharaan.
c. Fasilitator diseleksi sesuai kapabilitas dan tingkat pemahamannya terhadap lingkungan

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 16


3R Berbasis Masyarakat
pada umumnya dan sampah pada khususnya.
d. Mengenal kondisi lingkungan calon lokasi, diutamakan berasal atau berdomisili dari lokasi
pendampingan.
e. Fasilitator direkrut dan digaji oleh penyelenggara Program Pengelolaan Sampah 3R
Berbasis Masyarakat.

4. Tahap Keempat
Tahap ini meliputi kegiatan:
a. Seleksi lokasi yang dilaksanakan hanya pada kota/kabupaten terpilih.
b. Tahap awal dari seleksi lokasi ini adalah memperoleh daftar pendek dari lokasi yang
paling memenuhi kriteria Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.
c. Calon lokasi pada daftar pendek tersebut selanjutnya mengajukan proposal untuk dapat
dilakukan survey cepat (Rapid Participatory Assessment/RPA) pada lokasi mereka,
dimana RPA ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dan scoring mengenai kondisi
eksisting lingkungan beserta rencana penanganan masalah lingkungan yang sesuai untuk
tiap calon lokasi.
d. Pelaksanaan RPA pada dasarnya dilakukan sendiri oleh masyarakat dan didampingi oleh
fasilitator untuk selanjutnya dari tiap-tiap calon lokasi tersebut akan memaparkan hasil
dari pelaksanaan RPA yang telah dilaksanakan. Calon lokasi dengan pemaparan scoring
tertinggi selanjutnya akan ditetapkan sebagai lokasi terpilih.

5. Tahap Kelima
Tahap ini meliputi kegiatan :
a. Penyiapan masyarakat pada lokasi terpilih dan pembentukan Kelompok Swadaya
Masyarakat (KSM) melalui musyawarah mufakat dengan bentuk dan susunan pengurus
sesuai dengan pemufakatan musyawarah dan ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK)
kepala desa/kelurahan.
b. Penetapan lokasi penerima bantuan sosial melalui Surat Penetapan Penerima Manfaat
dari Satker atau PPK PPLP Provinsi.
c. Pemilihan lokasi lahan dimana TPS 3R berbasis masyarakat akan dibangun untuk
pengelolaan skala kawasan ataupun metoda pengelolaan sampah di rumah tangga
ditentukan pada tahapan ini.
d. Survey lapangan mengenai komposisi dan timbulan sampah serta sosial masyarakatnya.
Survey ini dilakukan untuk memperoleh data dasar dalam penentuan pemilihan teknologi,
program penyuluhan, serta tolok ukur kinerja pembanding keberhasilan dari program
yang akan dilaksanakan.
e. Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM) yang dilakukan oleh KSM dan didampingi
oleh fasilitator.
f. Pembuatan DED dan RAB yang dilakukan oleh KSM dan didampingi oleh fasilitator.
g. Pencairan dana bantuan sosial program TPS 3R berbasis masyarakat dengan melakukan
pengajuan pencairan dana bantuan sosial oleh KSM kepada Satker atau PPK PPLP
Provinsi yang dilampiri dokumen pendukung (RKM yang disahkan, laporan progres
pelaksanaan pekerjaan, laporan penggunaan dana).
h. Pengadaan dan Pelaksanaan Pembangunan Sarana dan Prasarana TPS3R dilaksanakan

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 17


3R Berbasis Masyarakat
secara swakelola oleh KSM sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Peraturan Presiden
No. 54 tahun 2010 beserta perubahannya Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012).
i. Pelaksanaan pembangunan dan operasional TPS3R berbasis masyarakat dapat
terlaksana dengan baik apabila status tanah yang akan dibangun jelas dan mempunyai
legalitas tertulis untuk digunakan sebagai TPS 3R berbasis masyarakat serta masyarakat
secara bulat menerima metoda yang akan dilakukan dan lokasi dimana TPS 3R berbasis
masyarakat akan dibangun
j. Proses pembangunan harus dilakukan bersama-sama dengan masyarakat sehingga
penolakan akibat sindrom NIMBY (Not In My Backyard) dapat ditekan seminim mungkin.

6. Tahap Keenam
Tahap ini meliputi kegiatan :
a. Pengawasan pekerjaan Pembangunan TPS 3R dilakukan oleh Tim Pengawas dari
masyarakat penerima bantuan sosial untuk mengawasi pekerjaan mulai dari persiapan
sampai akhir pelaksanaan.
b. Monitoring dan evaluasi kinerja penyelenggaraan TPS 3R berbasis masyarakat
yangmeliputi pengumpulan informasi melalui pengukuran dan pengamatan.
c. Monitoring dan evaluasi bermanfaat dalam suatu manajemen pengelolaan, seperti:
1) Menelusuri tahapan kemajuan dalam memenuhi perencanaan awal, mencapai
tujuan dan sasaran serta perbaikan yang berkelanjutan;
2) Mengembangkan informasi untuk mengidentifikasikan aspek-aspek penting dalam
penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat;
3) Memantau pelaksanaan penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
berbasis masyarakat agarsesuai dengan tujuan dan sasaran;
4) Menyediakan data pendukung untuk mengevaluasi pengendalian operasional dan
kinerja organisasi;
5) Menyediakan data untuk mengevaluasi kinerja sistem manajemen persampahan
secara umum dan penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis
masyarakat secara khusus.

7. Tahap Ketujuh
Tahap ini meliputi kegiatan:
a. Strategi pasca pembangunan penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
berbasis masyarakat, yaitu:
1) Merancang manajemen dan program pembinaan/pendampingan/kemitraan antara
pihak-pihak terkait pengelolaan sampah (dinas terkait) dan pelaku perdagangan
barang daur ulang (lapak/bandar, koperasi, dan lain-lain) dengan kelompok swadaya
masyarakat sebagai pengelola sampah.
2) Mengadakan serah terima penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
beserta fasilitas penunjangnya dari Satker Provinsi kepada Bupati/Walikota.

b. Keberlanjutan program yang dilaksanakan dengan replikasi dan pengembangan Tempat


Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat yang sudah berjalan sesuai dengan
fungsi dan sasarannya.

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 18


3R Berbasis Masyarakat
c. Pertemuan warga untuk membentuk komunitas yang lebih memahami akan pentingnya
mengurangi sampah pada sumbernya.
d. Penguatan kapasitas seluruh pemangku kepentingan pada lokasi yang sedang
melakukan kegiatan penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat sehingga pengembangan lebih mudah dilakukan.

3.2 TENAGA FASILITATOR LAPANGAN (TFL)

Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) terdiri dari TFL Teknik dan TFL Pemberdayaan. Kriteria Umum
TFL adalah sebagai berikut :
1. Pendidikan minimal D3/sederajat dalam bidang sosial untuk fasilitator pemberdayaan dan
dalam bidang teknik untuk fasilitator teknis operasional.
2. TFL teknis memiliki kemampuan dan pengalaman bidang teknik lingkungan / teknik sipil serta
memiliki kemampuan : perencanaan, penyusunan DED dan RAB, menyusun analisa dan
spesifikasi teknis, aspek arsitektur dan supervisi.
3. TFL pemberdayaan memiliki kemampuan dan pengalaman bidang pemberdayaan
masyarakat, penilaian partisipasi masyarakat, koordinasi dan komunikasi dengan masyarakat
maupun dinas dan pembukuan/pengelolaan/pelaporan keuangan.
4. Mengenal kondisi lingkungan calon lokasi, diutamakan berasal atau berdomisili dari lokasi
pendampingan.
5. Sehat jasmani dan rohani.
6. Pernah terlibat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan atau dalam bidang
persampahan minimal 5 tahun pengalaman.

Setiap TFL mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:


1. TFL Teknis mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :
a. Melakukan survey lapangan untuk mengetahui komposisi serta timbulan sampah di lokasi
terpilih.
b. Melakukan pendampingan teknis dalam penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM),
Perencanaan Teknis (Detailed Engineering Design/DED), dan Rencana Anggaran Biaya
(RAB) pembangunan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R.
c. Membantu masyarakat dalam mengawasi pembangunan prasarana dan sarana TPS 3R
berbasis masyarakat.
d. Melaksanakan pelatihan dan supervisi dalam rangka operasi dan pemeliharaan serta
perbaikan sarana 3R.
e. Mendampingi dan melatih kelompok masyarakat dalam mengelola sarana 3R.
f. Membantu masyarakat dalam melaksanakan monitoring sendiri pada pelaksanaan TPS
3R berbasis masyarakat.
g. Melaporkan hasil kegiatan ditingkat masyarakat secara periodik (bulanan) kepada
Satuan Kerja PPLP PU Provinsi dan Dinas Kabupaten/Kota terkait.

2. TFL Pemberdayaan mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :


a. Berkoordinasi dengan SKPD Kabupaten/Kota terkait untuk mendapatkan longlist lokasi

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 19


3R Berbasis Masyarakat
sebagai proses awal dalam seleksi lokasi.
b. Melakukan pengecekan lapangan dari longlist lokasi sesuai persyaratan teknis minimal
untuk mendapatkan shortlist.
c. Memfasilitasi dan mendampingi survey cepat (Rapid Participatory Assessment), untuk
mendapatkan lokasi terpilih.
d. Memfasilitasi dan membantu masyarakat dalam membentuk Kelompok Swadaya
Masyarakat (KSM) dan membantu pemilihan anggota KSM secara demokratis.
e. Melaksanakan survey sosial guna memperoleh masukan dari masyarakat berkenaan
dengan penyelenggaraan TPS 3R berbasis masyarakat.
f. Memfasilitasi penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM) serta mendampingi
masyarakat selama tahap pelaksanaan dan pasca pembangunan sarana 3R.
g. Memfasilitasi koordinasi antara Pemerintah Daerah, Satker dan Masyarakat.

3.3 STRATEGI DAN KEBERLANJUTAN PROGRAM

Strategi Pasca Proyek merupakan cara untuk menjembatani antara masa pelaksanaan
konstruksi 3R dari sumber dana APBN dengan kondisi pasca konstruksi. Pada prinsipnya,
pelaksanaan program 3R yang dilaksanakan melalui dana APBN ditujukan sebagai pilot project
dan modal awal bagi masyarakat untuk dapat melaksanakan Penyelenggaraan Tempat
Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat itu sendiri. Modal awal ini berupa persiapan
masyarakat, pembentukan kelembagaan pengelola dan bimbingan penyusunan rencana
kerja, alih informasi mengenai berbagai teknologi pengelolaan sampah serta penyediaan
prasarana dan sarana dalam Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat. Namun tidak hanya itu, sebelum masa konstruksi 3R selesai, harus ada upaya untuk
proses alih pengelolaan TPS 3R beserta penyerahan fasilitasnya kepada Pemda. Selanjutnya,
diharapkan dari dinas terkait di daerah-lah yang menjadi penggerak dan pembina masyarakat
untuk mengelola sampahberdasarkan prinsip 3R.

Aspek keberlanjutan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat merupakan hal


yang sangat penting untuk menjaga kesinambungan proses pengelolaan yang sudah
terbentuk. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek keberlanjutan program ini adalah
sebagai berikut:
1. Adanya lembaga kelompok masyarakat sebagai organisasi pengelola yang tidak formal
namun terlegalisir serta sesuai dengan aspirasi masyarakat.
2. Adanya dukungan peraturan setingkat kelurahan untuk pelaksanaan pengelolaan sampah
berbasis masyarakat.
3. Adanya dana untuk operasional pengelolaan maupun biaya pemeliharaan atau investasi
penambahan prasarana dan sarana sesuai dengan kebutuhan. Dana tersebut dapat
berasal dari iuran masyarakat serta hasil penjualan kompos atau material daur ulang
dengan cash flow diketahui bersama secara transparan.
4. Adanya dukungan teknologi ramah lingkungan dan tersedianya prasarana dan sarana
persampahan skala kawasan sesuai kebutuhan masyarakat.
5. Adanya peran aktif masyarakat untuk melaksanakan program 3R terutama yang berkaitan
Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 20
3R Berbasis Masyarakat
dengan perubahan perilaku dan budaya memilah sampai sejak dari sumbernya.
6. Adanya dukungan dari instansi pengelola sampah tingkat perkotaan untuk pengangkutan
residu, penyerapan produk kompos dan material daur ulang serta penanganan lanjutan
sampah B3 rumah tangga sesuai ketentuan yang berlaku.
7. Adanya pendampingan dari LSM, dinas terkait atau fasilitator kepada Kelompok Swadaya
Masyarakat (KSM), minimal selama 2 tahun.
8. Adanya pola monitoring dan evaluasi dari instansi terkait baik ditingkat kelurahan,
kecamatan, kota/kabupaten bahkan di tingkat yang lebih tinggi, yaitu provinsi dan
pemerintah pusat. Hasil monitoring dan evaluasi dapat digunakan sebagai bahan masukan
bagi proses replikasi atau pengembangan yang diperlukan serta pendataan yang lebih
akurat untuk mengetahui hasil pencapaian program 3R secara nasional.

Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 21


3R Berbasis Masyarakat
TATA CARA
PERENCANAAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS)
3R BERBASIS MASYARAKAT

BUKU 2
KATA PENGANTAR
Pelaksanaan program pengurangan kuantitas sampah sebagai program pada skala nasional telah
sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan
sampah sebagai sumber daya. Pengelolaan sampah tersebut terdiri dari pengurangan sampah dan
penanganan sampah. Untuk pengurangan sampah biasanya dilakukan pembatasan timbulan
sampah, pendaur-ulangan sampah dan/atau pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan untuk
penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan dan
pemrosesan akhir sampah.

Pengurangan sampah tersebut juga sejalan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
21/PRT/M/2006, khususnya kebijakan (1), yaitu pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai
dari sumbernya. Kementerian Pekerjaan Umum sendiri telah melakukan pilot project di beberapa
kawasan untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R)
Berbasis Masyarakat. Pembangunan/penyediaan sarana penanganan sampah pada skala komunal
yang berbasis masyarakat tersebut melalui mekanisme penyediaan dana bantuan sosial untuk setiap
lokasi sasaran.

Dalam rangka memberikan panduan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan TPS 3R tersebut,
maka dibutuhkan buku panduan yang memuat tata cara pemilihan lokasi, perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, serta pilihan-pilihan teknologi dalam pengolahan sampah
berbasis masyarakat.

Buku Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS
3R) Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman yang telah disusun ini terdiri dari 6 (enam) jilid buku,
yaitu:
1. Buku 1, memuat Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
2. Buku 2, memuat Tata Cara Perencanaan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
3. Buku 3, memuat Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah
(TPS) 3R
4. Buku 4, memuat Tata Cara Pilihan Teknologi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
5. Buku 5, memuat Tata Cara Monitoring dan Evaluasi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
6. Buku 6, memuat Lampiran dan Format Pelaporan
Diharapkan seluruh pemangku kepentingan pelaksana kegiatan Program TPS 3R Berbasis Masyarakat
ini dapat memahami tata laksana dan kaidah-kaidah yang ada di dalam Buku Tata Cara
Penyelenggaraan Umum Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat di Kawasan
Permukiman ini serta menerapkannya pada pelaksanaan TPS-3R Berbasis Masyarakat di lokasi
sasaran.

Semoga panduan ini dapat bermanfaat dan tetap terbuka kesempatan kepada pihak-pihak yang
terkait dengan pelaksanaan kegiatan TPS 3R Berbasis Masyarakat, untuk memberikan masukan serta
saran dan kritik atas buku ini, guna mengoptimalkan hasil dan kebermanfaatan dari pembangunan
TPS 3R Berbasis Masyarakat ini.
Jakarta, May 2014
Direktur Jenderal Cipta karya

Ir. Imam S. Ernawi, MCM., M.Sc.


DAFTAR ISI
BUKU 2 TATA CARA PERENCANAAN
TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R BERBASIS MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Maksud dan Tujuan 1
1.3 Sasaran 1
1.4 Ruang Lingkup 2

BAB II PEMILIHAN LOKASI DAN PENYUSUNAN RENCANA KERJA MASYARAKAT (RKM) 3


2.1 Pemilihan Lokasi 3
2.1.1 Kriteria Kabupaten/Kota 3
2.1.2 Kriteria Lokasi 3
2.1.3 Proses Pelaksanaan Seleksi 4
2.1.4 Proses Seleksi Lokasi 4
2.2 Penentuan dan Penetapan Lokasi Terpilih 5
2.3 Pembentukan KSM 6
2.3.1 Tugas KSM 6
2.3.2 Fungsi KSM 6
2.3.3 Susunan Pengurus 7
2.4 Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM) 10
2.5 Penetapan Calon Pengguna dan Penetapan Cakupan Wilayah 11
2.6 Penetapan Penerima Manfaat 12
2.7 Pilihan Sistem, Sarana dan Prasarana, Peralatan 12
2.8 Survey Timbulan Sampah, Komposisi dan Karakteristik Sampah 12
2.9 Survey Harga Material dan Upah Tenaga Kerja 16

BAB III PERENCANAAN DESAIN TPS 3R 17


3.1 Umum 17
3.2 Detail Engineering Design (DED) 17
3.2.1 Pengolahan Data Awal 18
3.2.2 Minimal Desain Bangunan TPS 3R 19
3.2.3 Pembuatan Desain Arsitektural 20
3.2.4 Spesifikasi Teknis Bangunan 26
3.2.5 Perencanaan Bangunan Pendukung 31
3.2.6 Resiko Salah Perencanaan 31
BAB IV RENCANA PEMBIAYAAN 33
4.1 Rencana Anggaran Biaya (RAB) Pembangunan 33
4.2 Biaya Operasional Pelaksanaan (BOP) 34
4.3 Biaya Pelatihan KSM, Mandor dan Tukang 34
4.4 Rencana Biaya Operasional TPS 3R 34
4.5 Biaya Operasional dan Pemeliharaan 34

BAB V MEKANISME PENYALURAN DANA BANTUAN SOSIAL 37


5.1 Proses Penyaluran Dana 37
5.2 Mekanisme Pencairan Dana 38

BAB VI MEKANISME PENGADAAN BARANG DAN JASA 41


6.1 Prinsip Dasar Pengadaan 41
6.2 Etika Pengadaan 42
6.3 Tim Pengadaan 42
6.4 Tugas dan Tanggung Jawab Pengadaan 43
6.5 Rencana Pengadaan 43
6.6 Pengadaan Barang dan Jasa oleh Kelompok Masyarakat 44
6.7 Penggunaan Meterai 45
6.8 Pelaksanaan Kegiatan dengan Pihak Ketiga 46

BAB VII PERJANJIAN KERJASAMA ANTARA KSM DAN SATKER PPLP PROVINSI 47
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Perencanaan penyelenggaraan TPS 3R berbasis masyarakat di kawasan permukiman


merupakan langkah awal dalam tahapan pelaksanaan kegiatan. Perencanaan ini merupakan
dasar dalam pengelolaan sampah, baik skala rumah tangga maupun skala kawasan
permukiman.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud diterbitkannya Tata Cara Perencanaan Penyelenggaraan TPS 3R Berbasis Masyarakat


ini adalah untuk membantu para pelaku di lapangan yang akan melakukan kegiatan
perencanaan dan pelaksanaan pengurangan sampah untuk skala rumah tangga maupun
skala kawasan permukiman. Sedangkan tujuannya adalah untuk memberikan penjelasan
tentang tahapan perencanaan dalam penyelenggaraan TPS 3R berbasis masyarakat
dikawasan permukiman.

1.3 SASARAN

Tersedianya tata cara perencanaan dan pelaksanaan penyelenggaraan TPS 3R berbasis


masyarakat di kawasan permukiman yang meliputi pengelolaan sampah skala rumah tangga
dan skala kawasan permukiman.

Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL), baik bidang pemberdayaan maupun teknis, diharapkan
dapat membantu masyarakat untuk menyusun perencanaan pengelolaan TPS 3R berbasis
masyarakat yang sesuai dengan kondisi di lapangan dan kemampuan masyarakat untuk
mengoperasikannya.

Hasil yang diharapkan dari buku tata cara perencanaan ini adalah terseleksinya masyarakat
dan lokasi TPS 3R sesuai pendekatan Demand Responsive (tanggap kebutuhan) dan
tersusunnya dokumen rencana pengelolaan sampah TPS 3R Berbasis Masyarakat sebagai syarat
untuk dapat mencairkan dana bantuan sosial.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 1


3R Berbasis Masyarakat
1.4 RUANG LINGKUP

Buku Tata Cara Perencanaan TPS 3R Berbasis Masyarakat mencakup:


1. Pemilihan dan kriteria lokasi
2. Proses Pelaksanaan Seleksi
3. Penentuan dan penetapan lokasi terpilih
4. Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) 3R
5. Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM)
6. Penetapan Calon Pengguna dan Penetapan Cakupan Wilayah
7. Penetapan Penerima Manfaat
8. Pilihan Sistem, Sarana & Prasarana, dan Peralatan
9. Survey Timbulan Sampah, Komposisi dan Karakteristik Sampah
10. Survey Harga Material dan Upah Tenaga Kerja
11. Perencanaan Desain TPS3R
12. Rencana Pembiayaan
13. Mekanisme Penyaluran Dana Bantuan Sosial
14. Mekanisme Pengadaan Barang dan Jasa
15. Perjanjian Kerjasama antara KSM dan Satker PPLP Provinsi

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 2


3R Berbasis Masyarakat
BAB II
PEMILIHAN LOKASI DAN
PENYUSUNAN RENCANA KERJA MASYARAKAT (RKM)

2.1 PEMILIHAN LOKASI

Keberhasilan Penyelenggaraan TPS 3R berbasis masyarakat dalam hal ini Pemilihan Lokasi
dapat tercapai jika memenuhi kriteria-kriteria dibawah ini :

2.1.1 KRITERIA KABUPATEN/KOTA

Kriteria kabupaten/kota yang akan memperoleh bantuan program penyelenggaraan TPS 3R


berbasis masyarakat adalah sebagai berikut:
1. Kabupaten/Kota sudah mencantumkan usulan TPS 3R dalam dokumen Strategi Sanitasi Kota
(SSK) dan Rencana Pembangunan Infrastruktur Jangka Menengah (RPIJM).
2. Walikota/Bupati atau Pejabat yang berwenang membuat surat minat yang ditujukan
kepada Direktur PPLP, Kementerian Pekerjaan Umum dengan tembusan Kepala Satker PPLP
Provinsi dilengkapi dengan :
a. Menyertakan daftar Longlist usulan TPS3R sesuai dengan kriteria.
b. Menyatakan bahwa Pemerintah Daerah bersedia melakukan pembinaan secara
berkelanjutan terhadap TPS 3R berbasis masyarakat yang sudah terbangun seperti
membantu kebutuhan pelaksanaan operasional TPS3R, peralatan pendukung, dan lain-
lain.
3. Memiliki Dinas/SKPD yang bertanggung jawab dalam bidang kebersihan agar dapat
melaksanakan pembinaan terhadap TPS3R yang terbangun.
4. Pemerintah Daerah bersedia menerima bantuan TPS 3R berbasis masyarakat dan
menyerahkan kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai pengelola.
5. Pemerintah Daerah bersedia melakukan pembinaan secara berkelanjutan terhadap TPS 3R
berbasis masyarakat yang sudah terbangun.

2.1.2 KRITERIA LOKASI

1. Kriteria Utama :
a. Lahan TPS 3R berada dalam batas administrasi yang sama dengan area pelayanan TPS
3R berbasis masyarakat
b. Status kepemilikan lahan milik pemerintah atau lainnya yang dibuktikan dengan
Akte/Surat Pernyataan Hibah untuk pembangunan prasarana dan sarana TPS 3R berbasis
masyarakat.
c. Ukuran minimal lahan yang disediakan 200 m 2.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3


3R Berbasis Masyarakat
d. Penempatan lokasi TPS3R sedekat mungkin dengan daerah pelayanan

2. Kriteria Pendukung
a. Berada didalam wilayah permukiman penduduk, bebas banjir, ada akses jalan masuk,
dan sebaiknya tidak terlalu jauh dengan jalan raya.
b. Cakupan pelayanan minimal 200 KK atau minimal mengolah sampah 3 m 3/hari.
c. Masyarakat bersedia membayar iuran pengolahan sampah.
d. Sudah memiliki kelompok aktif di masyarakat seperti PKK, kelompok atau forum
kepedulian terhadap lingkungan, karang taruna, remaja mesjid, klub jantung sehat, klub
manula, pengelola kebersihan/sampah atau KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) yang
sudah terbentuk.

2.1.3 PROSES PELAKSANAAN SELEKSI

Untuk melaksanakan proses seleksi di tingkat kota/kabupaten yang akan melaksanakan TPS 3R
berbasis masyarakat, maka dilakukan langkahlangkah sebagai berikut:
1. Satuan Kerja PPLP Provinsi dan Direktorat PPLP Kementerian Pekerjaan Umum di pusat
melaksanakan sosialisasi dengan materi sebagai berikut :
a. Penjelasan program TPS 3R berbasis masyarakat di kawasan permukiman.
b. Pemahaman mengenai sistem pengelolaan sampah.
c. Pen gal aman atau con t oh sukses men ge n ai TPS 3 R b erb asi s masyarakat di
kawasan permukiman (best practice).

2. Peserta workshop adalah:


a. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA)
b. Dinas/SKPD terkait yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan persampahan dan
kota/kabupaten.
c. Kelurahan yang masuk dalam daftar Longlist

2.1.4 PROSES SELEKSI LOKASI

1. Longlist Kampung Calon Lokasi


Untuk memperoleh calon lokasi maka Dinas penanggungjawab di tingkat kota /
kabupaten dengan dibantu oleh TFL 3R membuat longlist atau daftar panjang kampung
calon lokasi. Caranya adalah sebagai berikut:
a. Review dokumen SSK (strategi sanitasi kota) diutamakan lokasi yang berada di daerah
rawan sanitasi (zona merah).
b. Memastikan apakah kampung tersebut benar-benar memiliki permasalahan pengelolaan
sampah
c. Longlist lokasi merupakan lokasi yang memenuhi kriteria lokasi 3R
d. Daftar longlist mencantumkan nama kampung, kelurahan, kecamatan.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 4


3R Berbasis Masyarakat
2. Shortlist Kampung Calon Lokasi
Langkah selanjutnya adalah Penyusunan Daftar Pendek (Shortlist) kampung calon lokasi TPS
3R Berbasis Masyarakat, yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah/SKPD penanggung jawab
yang didampingi oleh TFL 3R dengan tahapan kegiatan sebagai berikut :
a. Kelayakan teknis calon lokasi antara lain:
1) Calon lokasi benar-benar memiliki permasalahan pengelolaan sampah
2) Cakupan layanan minimal 200 KK atau 1.000 jiwa
3) Ada lahan kosong minimal 200 m 2 yang dapat digunakan sebagai lokasi TPS 3R
4) Memiliki akses jalan untuk truk sampah guna pengangkutan residu
b. Kelayakan sosial antara lain:
1) Masyarakat membutuhkan pengelolaan sampah yang lebih baik
2) Masyarakat bersedia membayar iuran pengolahan sampah
c. Hasil pengecekan lapangan diisikan kedalam lembar isian shortlist
d. Daftar shortlist mencantumkan nama kampung, kelurahan dan kecamatan, jumlah
penduduk (jiwa), jumlah kk, perkiraan timbulan sampah, kebiasaan masyarakat
membuang sampah, ketersediaan lahan calon lokasi TPS 3R, akses jalan masuk dan
dilengkapi foto
e. Lembar isian shortlist dibuat oleh Dinas/SKPD penanggungjawab Kota/Kabupaten disetujui
oleh Bappeda Kabupaten/Kota

2.2 PENENTUAN DAN PENETAPAN LOKASI TERPILIH

Proses penentuan lokasi terpilih dilakukan dengan cara :


1. Kampung yang memenuhi syarat atau masuk shortlist diundang dalam pertemuan yang
dihadiri oleh wakil masyarakat dan wakil pengurus RT dan RW/lingkungan, kelurahan,
disaksikan oleh camat dan Dinas/SKPD terkait.
2. Stakeholder yang hadir diberikan penjelasan tentang program TPS 3R Berbasis Masyarakat.

Jika calon lokasi shortlist lebih dari 1 (satu), sedangkan alokasi anggaran hanya untuk 1 paket,
maka harus dilakukan proses seleksi secara terbuka sebagai berikut:
1. Stakeholder masyarakat diminta berkumpul sesuai dengan asal masing-masing kampung.
2. Mereka diminta membuat deskripsi kampung masing-masing dan kondisi sampah dan
pengelolaannya, serta permasalahan yang dihadapi, dan mempresentasikannya dengan
menggunakan kertas plano besar.
3. Setelah semua mempresentasikan, kemudian mereka diminta mengidentifikasi potensi yang
ada untuk penanganan persampahannya. Aspek yang harus diidentitikasi adalah:
a. Minat masyarakat untuk mengelola sampahnya sendiri
b. Kemauan untuk iuran pengelolaan sampah
c. Kesiapan kelembagaan masyarakat
d. Ketersediaan lahan untuk Tempat Pengolahan Sampah
e. Akses jalan masuk untuk alat pengangkut sampah(truk sampah atau motor roda tiga)
f. Prioritas penanganan sampah oleh masyarakat

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 5


3R Berbasis Masyarakat
4. Identifikasi potensi penanganan sampah oleh masyarakat tersebut dilakukan dengan cara
partisipatif dengan metode Rapid Participatory Assessment (RPA). Modul terlampir.
5. Hasilnya dituangkan ke dalam satu tabel yang sudah disediakan oleh TFL sesuai dengan
variabel dan skor. Kemudian skor akan dihitung berdasarkan bobot dari masing-masing
variabel dan dijumlahkan.
6. Kampung yang memperoleh nilai terbanyak yang akan dinilai sebagai kampung yang
paling siap untuk menerima program TPS 3R Berbasis Masyarakat.
7. Setelah proses seleksi tersebut selesai, kemudian dilakukan penandatanganan Berita Acara
Seleksi Kampung sebagai lokasi pelaksanaan program TPS 3R Berbasis Masyarakat dan
ditandatangani oleh semua unsur yang hadir dalam pertemuan tersebut.

2.3 PEMBENTUKAN KSM

Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dibentuk melalui musyawarah masyarakat atau rembug
warga dengan bentuk dan susunan pengurus sesuai dengan permufakatan warga, dan
ditetapkan melalui surat keputusan (SK) kelurahan yang diketahui oleh kecamatan setempat.

2.3.1 TUGAS KSM

Secara umum tugas KSM adalah sebagai berikut :


1. Mensosialisasikan,
2. Merencanakan,
3. Melaksanakan,
4. Mengawasi/memonitor,
5. Supervisi,
6. Mengelola kegiatan pembangunan, serta
7. Mengelola sarana TPS 3R Berbasis Masyarakat yang telah dibangun nantinya.

2.3.2 FUNGSI KSM

Bedasarkan tahapannya, fungsi KSM adalah sebagai berikut:


1. Pra-konstruksi :
a. Meyusun Rencana Kerja Masyarakat (RKM) dan mengajukan legalitas atau pengesahan
dokumen RKM
b. Melakukan kontrak kerjasama dengan Satker PPLP Provinsi
c. Membuka rekening KSM 3R
d. Mengajukan rencana pencairan dana dari Satker PPLP Provinsi
e. Menyusun rencana pengadaan dan kebutuhan tenaga kerja
f. Melakukan pengadaan barang sesuai aturan yang berlaku

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 6


3R Berbasis Masyarakat
2. Konstruksi :
a. Melaksanakan pembangunan TPS 3R dan pengadaan prasarana pengolah sampah 3R
b. Mendatangkan dan mengatur tenaga kerja untuk melaksanakan kegiatan/pekerjaan
sesuai jadwal pelaksanaan.
c. Melakukan pembayaran bahan/material dan upah tenaga kerja
d. Melaporkan realisasi penggunaan dana
e. Melaporkan kemajuan pekerjaan dan dokumentasi
f. Melalukan pengajuan pencairan dana sesuai persyaratan yang ada
g. Melakukan pengawasan administrasi, teknis dan keuangan
h. Melakukan serah-terima pekerjaan TPS 3R dari KSM kepada Satker PPLP Provinsi

3. Pasca-Konstruksi :
a. Melakukan operasional dan pemeliharaan sarana dan prasarana TPS 3R
b. Menarik, mengumpulkan, mengelola iuran/retribusi sampah serta mengelola dana
sesuai peraturan serta melaporkan semua uang masuk dan keluar kepada masyarakat
c. Melakukan pemasaran kompos dan bahan-bahan daur ulang
d. Mengembangkan sarana dan prasarana pendukung TPS3R

Melihat tugas, peran dan fungsi KSM 3R yang sangat banyak dan relatif cukup berat maka KSM
harus dibentuk sesuai kebutuhan dan dibekali dengan berbagai pengetahuan dan ketermpilan
yang diperlukan sesuai tugas pokok dan fungsinya dengan cara diberikan pelatihan-pelatihan.

2.3.3 SUSUNAN PENGURUS

Susunan dan Tugas pengurus KSM 3R sebagai berikut :


1. Ketua:
a. Mengkoordinasikan kegiatan perencanaan kegiatan pembangunan.
b. Memimpin pelaksanaan tugas KSM dan kegiatan rapat-rapat.

2. Sekretaris:
a. Menyusun rencana kebutuhan dan melaksanakan kegiatan tata usaha serta
dokumentasi;
b. Melaksanakan surat-menyurat;
c. Melaksanakan pelaporan kegiatan pembangunan secara bertahap.

3. Bendahara:
a. Menerima dan menyimpan uang serta mengeluarkan/membayar sesuai dengan RAB
yang telah ditetapkan;
b. Melakukan pengelolaan administrasi keuangan dan pembukuan realisasi serta laporan
pertanggungjawaban keuangan :
1) Tahap Konstruksi
a) Laporan keuangan mingguan untuk diumumkan (ditempel dipapan
pengumuman/tempat strategis) sehingga dapat dilihat dengan mudah oleh

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 7


3R Berbasis Masyarakat
masyarakat
b) Laporan keuangan bulanan yaitu laporan penggunaan dana dan laporan harian
sesuai format yang ditentukan untuk kemudian diserahkan kepada Satker
Pengembangan PLP
2) Pasca Konstruksi
Laporan mingguan dan laporan bulanan yang diumumkan (ditempel dipapan
pengumuman/ tempat strategis) sehingga dapat dilihat dengan mudah oleh
masyarakat

4. Tim Swakelola KSM


Berdasarkan Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 beserta perubahannya, sebelum
pekerjaan dilaksanakan, dilakukan persiapan-persiapan antara lain pembentukan Tim
Swakelola dengan ketentuan Tim Swakelola diangkat oleh penanggung jawab kelompok
masyarakat sesuai dengan struktur organisasi swakelola. Tim Swakelola terdiri dari Tim
Perencana, Tim Pelaksana dan Tim Pengawas serta dapat ditambah dengan
Panitia/Pejabat Pengadaan dan Seksi Operasional dan Pemeliharaan.

a. Tim Perencana
Tim Perencana mempunyai tugas dan bertanggungjawab dalam menyusun KAK,
membuat gambar rencana kerja dan/atau spesifikasi teknis. Tim perencana terdiri dari
seksi perencanaan, seksi konstribusi dan seksi tenaga kerja. Secara rinci tugas tim
perencana adalah:
1) Mensosialisasikan pilihan teknologi sanitasi kepada masyarakat;
2) Mengevaluasi dan menentukan pilihan teknologi 3R yang akan dibangun, sesuai
dengan pilihan, kemampuan masyarakat serta kondisi lingkungan;
3) Dengan didampingi fasilitator menyusun analisa teknis, membuat DED lengkap dengan
potongan RAB dan menyusun analisa structural, elektrikal, arsitektural sesuai dengan
teknologi 3R yang dipilih masyarakat;
4) Menyusun jadwal rencana kegiatan konstruksi dan kurva S;
5) Melakukan penarikan kontribusi dari masyarakat berupa uang dan menyetorkan pada
bendahara
6) Menyusun rencana pengadaan dan kebutuhan tenaga kerja

b. Tim Pelaksana
Tim Pelaksana mempunyai tugas dan bertanggung jawab dalam melaksanakan
pekerjaan sesuai dengan yang direncanakan, membuat gambar pelaksanaan serta
membuat laporan pelaksanaan pekerjaan. Secara rinci tugas tim pelaksana adalah:
1) Melakukan kaji ulang dan pengukuran pada lokasi pekerjaan berdasarkan gambar
rencana kerja
2) Mengajukan kebutuhan bahan/material kepada penanggung jawab KSM untuk
diproses oleh Panitia/Pejabat Pengadaan
3) Bertanggung jawab terhadap keamanan material selama pembangunan
4) Mengalokasikan material sesuai dengan kebutuhan pekerjaan konstruksi
5) Mendatangkan dan mengatur tenaga kerja untuk melaksanakan

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 8


3R Berbasis Masyarakat
kegiatan/pekerjaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan
6) Melakukan pembayaran bahan/material dan upah tenaga kerja
7) Menyusun laporan kemajuan pekerjaan (realisasi fisik dan keuangan)
8) Mengorganisir kegiatan kampanye kesehatan di masyarakat
9) Membantu dalam penyuluhan kesehatan masyarakat
10) Melakukan monitoring terhadap upaya penyehatan lingkungan

c. Tim Pengawas
Tim Pengawas mempunyai tugas dan bertanggung jawab dalam melaksanakan
pengawasan terhadap pelaksanaan dan pelaporan, baik fisik maupun administrasi
pekerjaan swakelola. Secara rinci tugas tim pengawas adalah:
1) Bertangung jawab terhadap pengawasan administrasi, teknis dan keuangan;
2) Di fasilitasi oleh TFL bertangung jawab/menilai atas kualitas dan progres pekerjaan fisik;
3) Berkoordinasi dengan TFL menyusun laporan pekerjaan untuk diteruskan dan/atau
ditindak lanjuti ke PPK.

d. Panitia/Pejabat Pengadaan
Panitia/Pejabat Pengadaan diangkat oleh penanggungjawab kelompok masyarakat
(KSM) untuk melakukan pengadaan barang/jasa yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
swakelola dan Panitia/Pejabat Pengadaan diperbolehkan bukan PNS.
1) Bertanggung jawab dalam melaksanakan survey dan mengundang supplierdan/atau
kontraktor untuk pengadaan material;
2) Melaksanakan kegiatan proses pengadaan barang atau pekerjaan konstruksi.

Apabila masyarakat secara teknis tidak mampu melaksanakan konstruksi sendiri,


pekerjaan yang membutuhkan keahlian tertentu/specialist, pengadaan barang tertentu
(pabrikan), maka masyarakat (KSM) dapat menunjuk pihak ketiga melalui cara upah
borongan kerja dan kontraktor specialis (pengadaan) melalui Kerja Sama Operasional
(KSO). Syarat pelaksanaan swakelola (KSO) mengikuti Peraturan Presiden 54 tahun 2010
Pasal 27 ayat (4) point (c). Pekerjaan utama dilarang untuk dialihkan kepada pihak lain
(subkontrak).

5. Seksi Operasional & Pemeliharaan:


a. Mengoperasikan dan memelihara sarana dan prasarana TPS 3R yang telah dibangun;
b. Bertanggung jawab terhadap hal-hal teknis

Catatan :
Mekanisme kerja KSM tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
(AD/ART) yang disepakati oleh pengurus KSM dan seluruh calon pengguna/penerima manfaat.
Status pembentukan KSM disahkan dengan Surat Keputusan (SK) Lurah yang diketahui oleh
Camat setempat.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 9


3R Berbasis Masyarakat
KETUA
SEKRETARIS BADAN PENASEHAT
BENDAHARA

PANITIA SWAKELOLA KSM

TIM PERENCANA TIM PELAKSANA TIM PENGAWAS PANITIA /


PEJABAT
PENGADAAN

SEKSI
OPERASIONAL&
PEMELIHARAAN

ANGGOTA - ANGGOTA

Gambar 2.1 Contoh Struktur Organisasi KSM

2.4 PENYUSUNAN RENCANA KERJA MASYARAKAT (RKM)

Rencana Kerja Masyarakat (RKM) merupakan bukti dokumen resmi perencanaan TPS 3R
Berbasis Masyarakat, sekaligus sebagai dasar dan persyaratan untuk pencairan dana/bantuan
sosial dari Satker PPLP Provinsi.

Penyusunan RKM dilakukan dengan pendekatan partisipatif, artinya semaksimal mungkin


melibatkan masyarakat dalam semua kegiatan dan penyusunannya. Pekerjaan yang
membutuhkan keahlian teknis dibantu oleh TFL Teknis,dan aspek kelembagaan dibantu oleh TFL
Pemberdayaan.

RKM yang telah tersusun serta ditandatangani oleh Ketua KSM diketahui oleh Lurah/Kepala
Desa dan diajukan kepada Satker PPLP Provinsi untuk persetujuan dan pencairan dana tahap
pertama.
Dokumen RKM minimal memuat materi :
1. Dokumen berita acara seleksi kampung
2. Profil lokasi;
3. Penentuan Calon Pengguna
4. Penentuan cakupan wilayah dan peta masyarakat
5. Organisasi KSM, Struktur KSM serta Tim Swakelola (tim perencana, tim pelaksana, pengawas
& panitia/pejabat pengadaaan), dengan dilengkapi Surat Keputusan (SK) pembentukan
KSMmaupun pembentukan Tim Swakelola
6. Anggaran Dasar & Rumah Tangga (AD/ART) KSM;
7. Surat Penetapan Penerima Manfaat dari SATKER atau PPK PPLP provinsi;
8. Surat ketersediaan lahan yang sudah pasti, misal : surat hibah, surat hak gunadari
dinas/lembaga yang ada di daerah;
9. Pemilihan system, sarana, prasarana dan peralatan TPS 3R;
10. DED dan RAB disertai kurva S;

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 10


3R Berbasis Masyarakat
11. Rekening bank atas nama KSM (di tanda tangani Ketua dan bendahara KSM);
12. Sumber Pendanaan serta Mekanisme Pencairan Dana;
13. Mekanisme Pengelolaan Keuangan oleh KSM (administrasi pembukuan, pembelanjaan,
dan laporan keuangan);
14. Rencana Kerja:
a. Rencana Pelatihan KSM,mandor dan tukang,
b. Rencana pelatihan operator dan pengguna
c. Rencana Pengadaan Barang dan Jasa
d. Rencana Pengadaan Tenaga Kerja
e. Rencana pembangunan dan pengadaan prasarana dan sarana TPS3R
f. Rencana pembiayaan untuk operasional dan pemeliharaan oleh masyarakat
pengguna
g. Rencana Monitoring dan Evaluasi
15. Surat Perjanjian Kerja Sama antara SATKER/PPK PPLP Provinsi dengan KSM, tentang
pemanfaatan dana bantuan sosial TPS 3R Berbasis Masyarakat;
16. Jaminan dari masyarakat pengguna terhadap kesediaan dalam mengoperasikandan
memelihara sarana dan prasarana TPS 3R Berbasis Masyarakat;
17. Pakta integritas yang dibuat oleh KSM

2.5 PENETAPAN CALON PENGGUNA DAN PENETAPAN CAKUPAN WILAYAH

Penentuan atau penetapan calon pengguna dan penetapan cakupan wilayah merupakan
tahap awal dari keseluruhan proses penyusunan RKM untuk pengelolaan sampah.

Daftar calon pengguna dan cakupan wilayah layanan dari kegiatan TPS 3R berbasis
masyarakat dibuktikan dengan melampirkan data sebagai berikut :
1. Daftar nama kepala keluarga,
2. Jumlah anggota keluarga, gender (laki-laki/perempuan) dan jenis pekerjaan
3. Alamat rumah dan dibubuhi dengan tandatangan persetujuan untuk mengikuti program TPS
3R.
4. Daftar nama keluarga tersebut ditunjukkan letak dan posisi rumahnya di dalam peta yang
dibuat oleh masyarakat secara bersama-sama. Peta ini sekaligus mencerminkan cakupan
wilayah layanan kegiatan TPS 3R pada tahap awal dalam suatu wilayah permukiman.

Mekanisme penetapan calon pengguna dancakupan wilayah layanan TPS 3R :


1. Dilakukan sendiri oleh masyarakat dengan dibantu atau difasilitasi oleh TFL pemberdayaan
dan teknis.
2. Rembug warga diikuti oleh pengurus RW/lingkungan/banjar dan RT, kelompok-kelompok
masyarakat yang ada di wilayah tersebut, tokoh masyarakat, dan perwakilan warga baik
laki-laki maupun perempuan, pemuda dan anak-anak.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 11


3R Berbasis Masyarakat
2.6 PENETAPAN PENERIMA MANFAAT

Penerima manfaat bantuan sosial adalah masyarakat calon pengguna fasilitas TPS 3R. Dasar
penetapan penerima manfaat mengacu kepada :
1. Surat minat keikut sertaan dalam Prgram TPS3R dari Pemerintah Daerah
2. Dokumen berita acara seleksi kampung
3. SK pembentukan KSM.

Sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81 tahun 2012 tentang Belanja Bantuan Sosial Pada
Kementerian/Lembaga, SATKER atau PPK PPLP Provinsi menerbitkan Surat Penetapan Penerima
Manfaat Bantuan Sosial TPS 3R Berbasis Masyarakat, yang memuat antara lain:
1. Identitas penerima bantuan sosial
2. Nilai bantuan sosial
3. Nomor rekening penerima bantuan sosial

Apabila dikemudian hari dalam perencanaan dan pelaksanaan penyusunan dan pengesahan
Rencana Kegiatan Masyarakat ditemui kekeliruan, kendala dan tidak ditemukan kesepakatan,
maka surat penetapan penerimaan manfaat dapat ditinjau kembali untuk dilakukan perbaikan
maupun perubahan sebagaimana semestinya.

2.7 PILIHAN SISTEM, SARANA DAN PRASARANA, PERALATAN

Penetapan teknologi pengolahan sampah pada lokasi terpilih dilakukan dalam pertemuan
atau sosialisasi antara KSM dan warga dengan didampingi oleh TFL. Teknologi yang akan
diterapkan harus berdasarkan asas keberlanjutan (sustainability), dipilih secara tepat sesuai
dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat serta memperhatikan kondisi lingkungan
setempat. Selain itu, hal lain yang harus diperhatikan adalah kemampuan KSM atau
masyarakat dalam mengelola dan mengoperasikan TPS 3R. Dengan memperhatikan hal-hal
tersebut, diharapkan masyarakat dapat menggunakan fasilitas dan bertanggung jawab untuk
pengoperasian dan pemeliharannya

Teknologi pengolahan sampah yang terpilih akan menjadi dasar untuk penyusunan DED dan
RAB. Berbagai pilihan teknologi yang dapat diterapkan di TPS 3R dijelaskan secara lengkap
pada buku 4 tentang Pilihan Teknologi Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R.

2.8 SURVEY TIMBULAN SAMPAH, KOMPOSISI DAN KARAKTERISTIK SAMPAH

Berdasarkan SNI 19-2454-2002 tentang Tata cara Pengelolaan Sampah Perkotaan, timbulan
sampah adalah banyaknya sampah yang timbul dari masyarakat dalam satuan volume
maupun berat per kapita perhari, atau perluas bangunan, atau perpanjang jalan.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 12


3R Berbasis Masyarakat
Adapun tujuan dari penghitungan timbulan dan komposisi sampah adalah untuk
merencanakan proses 3R/daur ulang/pengurangan sampah. Rata-rata timbulan sampah
biasanya akan bervariasi dari hari ke hari, antara satu daerah dengan daerah lainnya, antara
satu negara dengan negara lain

Penghitungan Potensi Timbulan Sampah di Kawasan Permukiman :


1. Berdasarkan standar yang berlaku tentang spesifikasi timbulan sampah
2. Data-data hasil kajian
3. Hasil kajian lapangan
4. Penghitungan timbulan sampah berdasarkan teknik pengambilan sampah berdasarkan
standar yang berlaku
5. Penghitungan komposisi sampah merencanakan proses 3R / daur ulang / pengurangan
sampah

Tabel 2.1 Timbulan Sampah Kota


Timbulan Timbulan
Jumlah Penduduk
No. Klasifikasi Kota Sampah Sampah
(jiwa)
(l/o/h) (kg/o/h)
1 Metropolitan 1.000.000 - 2.500.000
2 Besar 500.000 - 1.000.000
3 Sedang 100.000 - 500.000 2,75 - 3,25 0,70 - 0,80
4 Kecil < 100.000 2,5 - 2,75 0,625 - 0,70
Sumber : SNI 19-3964-1994 & SNI 19-3983-1995

Tabel 2.2 Besaran timbulan sampah berdasarkan komponen-komponen sumber timbulan


Komponen Sumber Volume
No. Satuan Berat (kg)
Sampah (liter)
1 Rumah Permanen per org/hr 2,25 - 2,50 0,35 - 0,40
2 Rumah Semi Permanen per org/hr 2,00 - 2,25 0,30 - 0,35
3 Rumah Non Permanen per org/hr 1,75 - 2,00 0,25 - 0,30
4 Kantor per peg/hr 0,50 - 0,75 0,025 - 0,10
5 Toko/Ruko per 2,50 - 3,00 0,15 - 0,35
petgs/hr
6 Sekolah per mrd/hr 0,10 - 0,15 0,01 - 0,02
7 Jalan Arteri per mtr/hr 0,10 - 0,15 0,02 - 0,10
8 Jalan Kolektor per mtr/hr 0,10 - 0,15 0,10 - 0,05
9 Jalan Lokal per mtr/hr 0,50 - 0,1 0,005 - 0,025
10 Pasar per mtr/hr 0,20 - 0,60 0,10 - 0,30
Sumber : SNI 19-3983-1995

Berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan berdasarkan sifatnya, yaitu:


1. Sampah Organik, dapat diurai, mudah membusuk (degradable), seperti sisa makanan,
sayuran, daun-daun kering, jerami dsb.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 13


3R Berbasis Masyarakat
2. Sampah Anorganik, tidak terurai, tidak mudah membusuk (undegradable), seperti plastik
wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng dsb.
3. Sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) seperti bekas alat suntik, infus, baterai, limbah
bahan kimia, dsb.

Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulan dan komposisi sampah, yaitu :


1. Kategori kota
2. Sumber sampah
3. Jumlah penduduk, artinya jumlah penduduk meningkat timbulan sampah meningkat
4. Keadan sosial ekonomi, semakin tinggi keadaan sosial ekonomi seseorang akan semakin
banyak timbulan sampah perkapita yang dihasilkan
5. Kemajuan teknologi, akan menambah jumlah dan kualitas sampahnya

1. Tahapan Kegiatan Pelaksanaan Survey Komposisi Sampah


a. Membuat dokumen yang diperlukan untuk survey dan surat perizinan yang diperlukan.
b. Melakukan kajian awal dari kondisi lokasi, yaitu:
1) Jumlah warga yang akan dilibatkan pada program pengelolaan sampah terpadu 3R
berbasis masyarakat.
2) Untuk kasus tertentu, kriteria permukiman dapat dibagi sesuai kategori tingkat ekonomi
tinggi, menengah dan rendah.
3) Penentuan rumah yang akan dijadikan pengambilan contoh sampah.
4) Volume sampah untuk penelitian komposisi minimal 0,5 m3 atau 500 liter sehingga
jumlah rumah untuk pengambilan contoh minimal 40 rumah.
5) Membuat daftar rumah dan menghubungi instansi terkait dan lurah/RW/RT untuk
pelaksanaan penelitian.
6) Mengirim surat pemberitahuan kepada warga.
c. Menentukan lokasi pemilahan dan penimbangan untuk penelitian komposisi sampah
d. Persiapan logistik penelitian komposisi sampah berupa :
1) Peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam survey komposisi sampah terdiri
dari:
a) Alat pengambil contoh berupa kantong plastik dengan volume 40 liter.
b) Timbangan (0 - 5 ) kg dan (0 - 100) Kg.
c) Alat pengukur, volume contoh berupa bak berukuran 1,0 m x 0,5 m x 1,0 m yang
dilengkapi dengan skala tinggi.
d) Perlengkapan berupa alat pemindah (seperti sekop) dan sarung tangan.
2) Pelaksanaan penelitian lapangan, dilakukan selama 8 hari berturut-turut (dari Senin ke
Senin), atau lebih kecil frekuensinya sesuai biaya yang ada dengan sebelumnya
konsultasi kepada ahli sampah dengan cara :
a) Membagikan kantong plastik yang sudah diberi tanda kepada penghasil sampah 1
hari sebelum pelaksanaan.
b) Mencatat jumlah unit masing-masing penghasil sampah.
c) Mengumpulkan kantong plastik yang sudah terisi sampah.
d) Mengangkut seluruh kantong plastik ke tempat pengukuran.
e) Menimbang kotak pengukur.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 14


3R Berbasis Masyarakat
f) Menuangkankan secara bergiliran contoh sampah ke kotak pengukur 40 liter.
g) Menghentakkan 3 kali kotak contoh dengan mengangkat kotak setinggi 20 cm lalu
dijatuhkan ke tanah.
h) Mengukur dan mencatat volume sampah (Vs).
i) Menimbang dan mencatat berat sampah (Bs).
j) Menimbang bak pengukur 500 liter.
k) Mencampur seluruh contoh dari setiap lokasi pengambilan dalam bak pengukur.
l) Mengukur dan mencatat volume sampah total dan sampah terpisah berdasarkan
jenisnya.
m) Pengolahan dan analisa data.
n) Pelaporan.

2. Teknik Pengambilan Sampel


Untuk mengetahui rata-rata timbulan sampah per kapita per hari maka dilakukan
pengambilan sampel yang berasal dari kegiatan domestik dan non rumah tangga (2 musim,
8 hari berturut-turut).

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan sampel, yaitu :


a. Rata-rata timbulan sampah perjiwa digunakan untuk menghitung kebutuhan sarana
prasarana dalam pengelolaan sampah
b. Teknik pengambilan sampel dilapangan untuk rumah tangga dan non rumah tangga
dilakukan dengan menggunakan pedoman SNI 19-3964-1994 yakni pengambilan sampel
dilakukan dengan cara proportional stratified random sampling.
c. Rumah tangga dibagi dalam tiga strata yaitu rumah tangga berpendapatan tinggi,
sedang dan rendah (rumah permanen, semi permanen, non permanen)masing-masing
strata diambil secara acak

3. Tahapan Pengambilan Sampel :


a. Menghitung jumlah jiwa/jumlah KK
b. Menentukan jumlah sampel rumah permanen, semi permanen, non permanen
c. Membagikan kantong plastik pada rumah yang disampel 1 hari sebelumnya
d. Kumpulkan seluruh kantong plastik ke lokasi pengukuran
e. Tuang masing-masing sampel pada kotak 40 L, hentak 3 kali setelah diangkat 20 cm
f. Ukur dan catat volume sampah masing-masing sampel, hitung jumlah jiwa dalan KK
diperoleh timbulan sampah masing-masing rumah : L/orang/hari rumah
g. Campurkan seluruh sampel pada bak pengukur 500 L (berdasar klasifikasi rumah)
h. Ukur dan catat berat dan volume sampah
i. Menentukan timbulan sampah : hitung rata-rata rumah permanen, semi permanen dan
non permanen (L/o/hari)
j. Menentukan Komposisi sampah : Pilah sampah berdasar komponen sampah (sisa
makanan, daun, kertas, kayu, kain, karet, plastik, logam, kaca dll) timbang masing2
komponen & hitung prosentasi masing-masing komposisi sampah

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 15


3R Berbasis Masyarakat
2.9 SURVEY HARGA MATERIAL DAN UPAH TENAGA KERJA

KSM melakukan survey harga bahan/material dan upah tenaga kerja guna penyusunan
rencana anggaran biaya (RAB) dengan cara sebagai berikut :
1. menyusun daftar kebutuhan bahan/material dan spesifikasi teknis dan daftar kebutuhan
tenaga kerja yang didasarkan pada gambar perencanaan.
2. melakukan survey harga bahan/material ke toko bahan bangunan/pemasok terhadap
setidaknya 3 toko bahan bangunan/pemasok.
3. melakukan survey upah tenaga kerja yang didasarkan upah tenaga kerja setempat.
4. membuat berita acara survey harga bahan/material dan upah tenaga kerja.
5. membuat berita acara penetapan toko material yang ditunjuk dengan mempertimbangkan
toko tersebut memiliki bahan/material sesuai spesifikasi teknis dan mampu mensuplai dengan
harga yang kompetitif.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 16


3R Berbasis Masyarakat
BAB III
PERENCANAAN DESAIN TPS 3R

3.1 UMUM

Dalam melaksanakan penyelenggaraan TPS 3R berbasis masyarakat di kawasan permukiman


diperlukan perencanaan secara menyeluruh dari mulai persiapan sampai bagaimana
mengembangkan dan mereplikasi program tersebut.

Pengelolaan sampah dengan 3R untuk skala kawasan permukiman merupakan pengelolaan


yang dilakukan untuk melayani suatu kelompok masyarakat di satu kawasan permukiman
tertentu dengan tujuan mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut ke Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA) sampah.

Modul TPS 3R berbasis masyarakat dalam tata cara ini mempunyai karakteristik:
1. Mampu melayani 1000 jiwa atau setara dengan 200 KK atau setara dengan 3 m 3 per hari.
2. Sampah masuk sudah dalam keadaan terpilah antara sampah yang dapat dikomposkan
(organik) dan sampah tidak dikomposkan (non-organik).
3. Menggunakan lahan minimal 200 m 2.
4. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan gerobak manual atau gerobak motor
dengan kapasitas 1 m3.
5. Terdapat fasilitas pemilahan, pengomposan dan penanganan barang daur ulang.

3.2 DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED)

DED (Detail Engineering Design) adalah gambar perencanaan & pelaksanaan rinci dari bentuk
fisik TPS 3R beserta semua fasilitas/ peralatan yang ada di lingkungan TPS 3R yang memiliki
spesifikasi berdasarkan kapasitas sampah yang diolah. Secara umum TPS 3R. terdiri dari
bangunan (area pemilahan, pengomposan, kantor pengendali dan gudang penyimpanan),
peralatan (mesin pencacah sampah organik, pengayak kompos), dan buffer zone.

Fasilitator teknik membantu KSM melakukan kegiatan Penyusunan DED dan RAB. Tahapan
kegiatan penyusunan DED dan RAB sebagai berikut:
1. Penyusunan konsep TPS 3R
2. Pembuatan diagram proses TPS 3R
3. Perhitungan keseimbangan material sampah masuk dan sampah keluar
4. Perhitungan besaran utama dari setiap komponen proses
5. Menentukan peralatan yang diperlukan
6. Menentukan kebutuhan ruang yang dibutuhkan
7. Membuat desain dasar instalasi TPS 3R
8. Membuat rancangan detail dari instalasi TPS 3R

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 17


3R Berbasis Masyarakat
9. Menyusun Rencana Anggaran Biaya
10.Melaporkan hasil DED dan RAB ke Satuan Kerja PPLP Provinsi

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Teknis dalam
penyusunan gambar DED :
1. TFL Teknis sebagai orang yang sudah terpilih oleh Satker PPLP Provinsi melalui proses seleksi.
2. TFL Teknis dalam melakukan pendampingan kepada masyarakat dibantu TFL
Pemberdayaan.
3. Kebutuhan data-data awal sudah disusun oleh TFL Pemberdayaan (RPA sampai data
perkiraan calon pelanggan).
4. Kemampuan penyusunan DED dan RAB, menyusun analisa dan spesifikasi teknis, aspek
arsitektur dan supervisi menentukan keberhasilan konstruksi TPS 3R

Dasar-dasar dalam penyusunan gambar DED, yaitu :


1. Pengolahan data awal
2. Minimal desain bangunan TPS 3R
3. Pembuatan desain arsitektural
4. Spesifikasi teknik bangunan dan peralatan
5. Perencanaan bangunan pendukung
6. Resiko salah perencanaan

3.2.1 PENGOLAHAN DATA AWAL

Dalam pengolahan data awal dibutuhkan beberapa data sebagai berikut :


1. Data Primer :
a. Jumlah rumah tangga dan instansi terlayani (berapa KK terlayani dengan berapa jumlah
jiwa per KK, serta berapa jumlah instansi yang akan dilayani serta jenisnya , sekolah, kantor
rumah makan dan lain-lain)
b. Jumlah timbunan sampah setiap pengambilan (hari, minggu dan bulan)
2. Data sekunder :
a. Jenis dan komposisi sampah terlayani (berapa persen organik dan berapa non organik)
b. Rencana pilihan teknologi pengolahan sampah masyarakat (pilihan komposter, mesin
pencacah, mesin pengayak dan transportasi)
3. Data Perencanaan Pembebanan :
a. Beban Akibat Konstruksi (Baban hidup karena penggunaan dan beban mati oleh
Konstruksi itu sendiri)
b. Beban karena situasi (penyesuaian pembebanan karena situasi karena daerah rawan
gempa, rawan angin puting beliung, pinggir pantai dan lain-lain)

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 18


3R Berbasis Masyarakat
Tabel 3.1 Data-Data yang Digunakan Dalam Menghitung Luasan TPS 3R
No. Jenis Data Jumlah Satuan
1. Jumlah jiwa/KK yang dilayani ... Jiwa/KK
2. Produksi sampah per orang per hari ... kg/hari atau
(diketahui dari data sampling sampah lt/hari
ketika RPA/Survey )
3. Total sampah dari wilayah yang dilayani ... kg/hari
per hari
4. Kepadatan sampah rata-rata ... kg/m3
(dari sampling RPA)
5. Kepadatan sampah organik ... kg/m3
(kepadatan sampah organik setelah
dipilah dan dicacah)
6. Volume sampah wilayah terlayani ... lt/hari
(jml Jiwa x produk sampah/hari)
7. Komposisi sampah :
sampah organik : ... % = ... kg ... % dan kg
sampah olahan : ... % = ... kg ... % dan kg
residU : ... % = ... kg ... % dan kg
(bisa ditambah komposisi sesuai jenis2
lapak yang dipilah)

3.2.2 MINIMAL DESAIN BANGUNAN TPS 3R

Desain bangungan TPS 3R minimal memuat beberapa hal sebagai berikut :


1. Area Penerimaan/Dropping Area
2. Area Pemilahan/Separasi
3. Area Pencacahan dengan mesin pencacah
4. Area Komposting dengan metode yang dipilih
5. Area Pematangan Kompos/Angin
6. Mempunyai Gudang Kompos dan Lapak serta tempat Residu
7. Mempunyai minimum kantor
8. Mempunyai sarana air bersih dan sanitasi

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 19


3R Berbasis Masyarakat
Gambar 3.1 Denah TPS 3R

3.2.3 PEMBUATAN DESAIN ARSITEKTURAL

Berikut ini beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam pembuatan desain arsitektural pada
bangunan TPS 3R, yaitu :
1. Hasil perhitungan luasan masing-masing area (pemilahan, pengomposan, mesin, gudang,
dll)
2. Hasil dari kesepakatan masyarakat tentang rencana pilihan teknologi yang akan diterapkan
(menyangkut luasan area komposting, tempat residu, lapak, dll)
3. Hasil kesepakatan untuk posisi masing-masing ruangan dalam bangunan TPS 3R (pemilahan,
penggilingan, mesin, komposting, dll)
4. Penentuan pondasi yang akan dipakai berdasarkan beban terhitung dengan jenis tanah
yang ada.
5. Bentuk arsitektural yang diinginkan (sesuaikan dengan desain rumah adat dll jika perlu).
6. Menentukan jenis bangunan yang akan dibuat (bangunan rangka baja, beton bertulang,
konstruksi kayu, dll)
7. Menentukan spesifikasi mesin pencacah, pengayak dan motor angkut.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 20


3R Berbasis Masyarakat
Gambar 3.2 Desain Arsitektural Tampak Depan

Gambar 3.3 Desain Arsitektural

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 21


3R Berbasis Masyarakat
Tabel 3.2 Data-Data Yang Digunakan Dalam Menghitung Luasan Unit Komposting
No. Jenis Data Jumlah Satuan
1. Jumlah jiwa/KK yang dilayani ... Jiwa/KK
2. Produksi sampah per orang per hari ... kg/hari
(diketahui dari data sampling sampah ketika
RPA/Survey )
3. Total sampah dari wilayah yang dilayani per hari ... kg/hari
4. Kepadatan sampah rata-rata ...
(diketahui dari sampling sampah) kg/m3
5. Kepadatan sampah organik ...
(kepadatan sampah organik setelah dipilah dan kg/m3
dicacah menjadi ukuran 4 cm ) 2

6. Komposisi sampah :
sampah organik : ... % = ... kg ... % dan kg
sampah olahan : ... % = ... kg ... % dan kg
residu : ... % = ... kg ... % dan kg
(bisa ditambah komposisi sesuai jenis2 lapak
yang dipilah)

1. Perhitungan Kebutuhan Ruang untuk Aerator Bambu


a. Lama pengomposan : 30 hari
b. Ukuran aerator bambu : Panjang 2,5 m ; Lebar 0,6 m ; Tinggi 0,52 m
c. Volume aerator bambu : (P x Lx T/2) = 2,5 x 0,6 x 0,52 = 0,39 m3
d. Ukuran timbunan kompos : Panjang 2,5 m ; Lebar 1, 6 m ; Tinggi 1 m
e. Volume timbunan kompos (tanpa aerator)
(P x (L+1) x T) : 2 (volume aerator bambu)
(2,5 x (1,6+1) x 1) : 2 - 0,39 = 2,86 m3
f. Total panjang per unit pengomposan
jarak kanan + panjang aerator + jarak kiri
0,5 + 2,5 + 0,5 = 3,5 m
g. Total lebar per unit pengomposan
jarak kanan + lebar timbunan + jarak kiri
0,25 + 1,6 + 0,25 = 2,1 m
h. Luasan untuk 1 unit : 3,5 x 2,1 m = 7,4 m2 (r)
i. Volume timbunan kompos :
{panjang aerator x (lebar bawah timbunan + lebar atas timbunan) x tinggi
timbunan}/2 volume aerator
(2,5 x (1,6+1) x 1/2)- 0,39 = 2,86 m3
j. Berat sampah per unit timbunan :
volume timbunan x kepadatan sampah organik
2,86 x 350 = 1001 kg
k. Jumlah aerator yang dibutuhkan :
(sampah organik perhari x umur pengomposan)/berat per unit
450 x 30 : 1001 =13,48 = 14 unit

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 22


3R Berbasis Masyarakat
l. Space untuk 1 unit
Total panjang unit x total lebar unit = 3,5 x 2,1 = 7,35 m2 = 7,4 m2
m. Total luasan yang dibutuhkan
jumlah unit yang diperlukan x space 1 unit = 14 x 7,35 = 103 m2
n. Harga per unit = kurang lebih Rp 200.000,-
o. Total harga = jumlah unit x harga per unit = Rp 2.800.000,-

Gambar 3.4 Desain Aerator Bambu

Gambar 3.5 Contoh Aerator Bambu

2. Perhitungan Kebutuhan Ruang untuk Boks Bata


a. Lama pengomposan : 30 hari
b. Ukuran box :Panjang 5 m ; Lebar 1,2 m ; Tinggi 1,2 m
c. Volume box: (P x Lx T) = 5 x 1,2 x 1,2 = 5,4 m3
d. Volume timbunan kompos :
Panjang x lebar boks x (tinggi boks-tinggi pipa alas)
5 x 1,2 x (1,2 - 0,2) = 6 m3
e. Jarak antara 2 box yang bersebelahan : 0,6 m
f. Space antara pada ujung boks : 0,4 m

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 23


3R Berbasis Masyarakat
Dimensi Total
a. Panjang per unit kompos :
Space ujung A + panjang boks + space ujung B
0,4 + 5 + 0,4 m= 5,8 m
b. Lebar per unit kompos :
lebar bersih + jarak dua boks + lebar pasangan bata
1,2 + 0,6 + (2 x 1,25)= 2,05 m
c. Berat sampah organik per unit
kepadatan sampah organik x volume timbunan di boks
350 x 6= 2100 kg
d. Jumlah boks yang dibutuhkan
(sampah organik harian x lama pengomposan) : berat per unit
(450 x 30) : 2100 = 6,4 = 7
e. Ruang untuk satu unit boks = 5,8 x 2,05 = 11,9 =12 m2
f. Kebutuhan ruang total = 7 x 12 m2 = 84 m2
g. Biaya per unit = Rp 2.500.000, - (sesuai standar harga daerah)
h. Biaya total = 7 x 2.500.000,- = Rp 17.500.000,-

Gambar 3.6 Desain Boks Bata

3. Perhitungan Kebutuhan Ruang untuk Takakura Susun


a. Lama pengomposan : 30 hari
b. Jumlah unit dalam satu tumpukan vertikal = 5 keranjang
c. Ukuran keranjang : Panjang 0,6 m ; Lebar 0,43 m ; Tinggi 0,3m
d. Volume sampah organik dalam 1 keranjang
Panjangx Lebar x (Tinggi-dudukan)
0,6 x 0,43 x (0,3 - 0,08)= 0,56 m3
e. Volume dalam 1 tumpukan= 5 x 0,56= 0,28 m3
f. Jarak antar susunan keranjang= 1 meter
g. Berat sampah organik per keranjang :
Kepadatan sampah organik x volume satu susunan
350 x 0,28 = 98 kg
h. Jumlah unit (keranjang ) yang dibutuhkan :

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 24


3R Berbasis Masyarakat
berat sampah organik x lama pengomposan : berat per unit
450 x 30 : 98 = 138
i. Jumlah tumpukan = 138 : 5 = 28 tumpukan
j. Ruang per tumpukan
(panjang + jarak)x(lebar + jarak)
(0,5 + 0,6 + 0,5)x(0,5 + 0,43 + 0,5)=2,3 m2
k. Total kebutuhan ruang
jumlah tumpukan x luas per tumpukan = 28 x 2,3 = 64,4 m2
l. Investasi untuk 1 unit = Rp. 100.000,-
m. Total investasi untuk 138 unit = 138 x 100.000 = Rp. 13.800.000,-

Gambar 3.7 Desain Takakura Susun

4. Pembuatan Gambar Layout


a. Hasil perhitungan luasan total bangunan TPS 3R ditambah dengan area sirkulasi dan
fasilitas lain jika memungkinkan dan bila perlu
b. Bangunan penunjang yang wajib ada sebagai bangunan penghubung (jalan masuk ke
lokasi, gorong-gorong, dll)
c. Topografi dan rencana lokasi bangunan serta posisi bangunan (muka, samping, rencana
air bersih dan drainase)
d. Kedekatan dengan fasilitas umum yang akan menunjang (jalan, jembatan, depo, dll)

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 25


3R Berbasis Masyarakat
Gambar 3.8 Rancangan Layout

3.2.4 SPESIFIKASI TEKNIS BANGUNAN

Spesifikasi ini merupakan pelengkap dan harus dibaca bersama-sama dengan


gambar-gambar, yang keduanya secara bersama menguraikan pekerjaan yang akan
dilaksanakan. Penjelasan Istilah pekerjaan mencakup suplai dan instalasi seluruh peralatan dan
material yang harus dipadukan dalam konstruksi-konstruksi yang dilakukan oleh TFL Teknik
kepada KSM atau Komite Pengadaan KSM harus di tandatangani bersama, sebagai bukti
kesepakatan jenis pekerjaan dan spek material yang telah di sepakati.

Dengan mempertimbangkan material lokal, spesifikasi untuk pekerjaan yang harus


dilaksanakan dan material yang harus dipakai, harus diterapkan baik pada bagian dimana
spesifikasi tersebut ditemukan maupun bagian-bagian lain dari pekerjaan dimana pekerjaan
atau material tersebut dijumpai.

1. Spesifikasi Bangunan Struktural Utama


a. Pondasi :
1) Diperhatikan kondisi tanah dan bangunan yang sudah ada disekitarnya.
2) Prioritaskan bahan adalah material lokal.
b. Dinding :
Prioritaskan bahan material lokal.
c. Rangka Utama :
1) Prioritaskan bahan material lokal.
2) Perhitungkan dengan rencana umur bangunan.
Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 26
3R Berbasis Masyarakat
3) Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi (pinggir laut,kecepatan angin, dll)
d. Penutup Atap :
1) Prioritaskan bahan material lokal.
2) Tahan korosi, tahan benturan, mudah menggantinya

2. Struktur Baja
a. Tiang Utama Bangunan
Dari baja profil IWF dengan dimensi Ukuran 250 x 75 x 5 x 7 mm, baja Krakatau Steel atau
setara. Tinggi 4 meter dihitung dari tempat kedudukan kolom penyangga tiang utama
dan di beri plat pengaku.
b. Kuda-kuda
Dari baja profil IWF dengan dimensi Ukuran 250 x 75 x 5 x 7 mm, baja Krakatau Steel atau
setara dengan sambungan las pada plat pengaku serta sambungan baut pada
konstruksinya. Antar kuda-kuda diberi ikatan angin dengan besi 16 mm .
c. Gording
Dari baja profil Kanal dengan dimensi 100 x 50 x 20 x 2 x 3 mm, baja Krakatau Steel atau
setara dengan sambungan las antara gording dengan plat siku dan kuda-kuda, dimensi
siku-siku 100 x 100 x 10 mm. Antar gording diberi penyetabil / Trecstang dari besi dimensi 12
mm
d. Pengaku
Mengikuti bagian pada joint dimasing-masing konstruksi.

1. PEKERJAAN YANG MEMERLUKAN SPESIFIKASI TEKNIS

Penjelasan secara detail mengenai lingkup kerja untuk pekerjaan Pembangunan Tempat
Pengolahan Sampah Mandiri 3R, antara lain :
a. Pekerjaan Persiapan/Pendahuluan
1) Pengukuran dan pematokan
2) Sewa Brak kerja/Direksi Kit/Gudang
3) Papan nama proyek
b. Pekerjaan Tanah:
1) Galian tanah
2) Urugan Pasir
3) Timbunan Tanah
c. Pekerjaan Pasangan
1) Lantai Kerja 1:3:5
2) Pekerjaan Bertulang 1:2:3 Pondasi Foot Plate
Beton 1:2:3
Tulangan
Begesting
3) Pekerjaan Bertulang 1:2:3 Sloof 20 x 25
Beton 1:2:3
Tulangan
Begesting

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 27


3R Berbasis Masyarakat
4) Pas. Batukali pondasi 1:4
5) Pas. 1/2 batu bata 1:4
6) Acian
7) Cor Lantai Beton beton 1:3:5
Tulangan
8) Pemasangan Paving Block

d. Pekerjaan Konstruksi
1) Konstuksi Baja untuk MRF
2) Pengadaan Pengecatan

e. Pekerjaan Perlengkapan
1) Motor roda tiga
2) Pengadaan mesin Pencacah sampah
3) Pengadaan mesin Pengayak sampah

2. PERSYARATAN BAHAN

a. Semen Portland
Semen yang dipakai adalah Portland Cement (PC) harus memenuhi syarat-syarat mutu
seperti tercantum dalam standar Nasional Indonesia (SNI 15-2049-1994) atau memenuhi
standar mutu dan cara uji semen Portland (SNI 15-0302-2004) dan masih dalam kantong
utuh
Kualitas semen harus baik, tidak lebih dari 3 (tiga) bulan dalam penimbunan di gudang
Semen yang digunakan adalah semen PC.
Disarankan agar setiap zak semen berisi 50 Kg.
Bila digunakan Portland Cement (PC) yang telah disimpan lama harus diadakan
pengujian terlebih dahulu oleh laboratorium yang berkompeten
Portland Cement (PC) yang sudah membatu (menjadi keras) tidak boleh dipakai.

b. Agregat Halus
Pasir Urug.
Pasir untuk pengurukan, peninggian, dan lain-lain tujuan, harus dan keras atau memenuhi
syarat-syarat pelaksanaan yang ditentukan dalam SNI 03-4141-1996. Butiran-butiran harus
tajam dan keras, tidak dapat dihancurkan dengan jari. Kadar lumpur tidak boleh melebihi
5%. Butiran-butirannya harus dapat melalui ayakan berlubang 3 mm persegi. Pasir laut
tidak boleh digunakan.
Pasir Pasang.
Pasir untuk adukan pasangan, adukan plesteran dan beton bitumen, harus memenuhi
syarat-syarat pelaksanaan yang ditentukan dalam SNI 03-4141-1996. Butiran-butiran harus
tajam dan keras, tidak dapat dihancurkan dengan jari. Kadar lumpur tidak boleh melebihi
5%. Butiran-butirannya harus dapat melalui ayakan berlubang 3 mm persegi. Pasir laut
tidak boleh digunakan
Pasir Beton.
Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 28
3R Berbasis Masyarakat
Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih dan terbebas dari bahan-bahan organik,
lumpur dan sebagainya. Kadar lulmpur tidak boleh melebihi 5%. Pasir laut tidak boleh
digunakan

c. Agregat Kasar (batu pecah/split)


Material granular, misalnya pasir, kerikil, batu pecah, dan kerak tungku pijar, yang dipakai
bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton atau
adukan semen hidraulik. kerikil sebagai hasil disintegrasi 'alami' dari batuan atau berupa
batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir
antara 2/3 -1/2 cm
Agregat kasar tidak boleh mengandung bahan kimia yang merusak dengan batasan
sebagai berikut : kadar zat organik pada agregat tidak memperlihatkan warna yang lebih
gelap dari warna standar, penurunan kekuatan beton lebih dari 5 %
Bahan agregat harus disimpan sedemikian rupa untuk mencegah kerusakan, atau intrusi
bahan yang mengganggu.
Koral Beton/Split :
Digunakan koral yang bersih, bermutu baik, tidak berpori serta mempunyai gradasi
kekerasan yang baik..
Butiran-butiran split dapat melalui ayakan berlubang persegi 76 mm dan tertinggal di
atas ayakan berlubang 20 mm.
Koral/Split hitam mengkilap keabu-abuan.

d. Air
Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak, asam, alkali
dan bahan-bahan organis/bahan lain yang dapat merusak beton dan harus memenuhi NI-
3 pasal 10. Apabila dipandang perlu Direksi Pekerjaan dapat minta kepada Kontraktor
supaya air yang dipakai diperiksa di laboratprium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah
atas biaya kontraktor.

e. Besi Beton
Besi/baja beton yang ditawarkan dari jenis baja mild-steel dengan tegangan leleh
minimum 2.400 kg/cm2 (U24) dan seterusnya sesuai yang ditentukan, yang penting harus
ditanyakan oleh test laboratorium resmi dan sah, bebas dari kotoran, lapisan lemak/minyak
dan tidak cacat (retak-retak, mengelupas, luka dsb). Penampang besi harus bulat serta
memenuhi persyaratan SNI 07-0663-1995

3. PONDASI

a. Foot Plate (Pondasi Utama)


Luasan pondasi di sesuaikan dengan hasil hitungan struktur bangunan dan daya dukung
tanah setempat. (dilakukan perhitungan oeh TFL Teknik)
Mutu beton yang dicapai dalam pekerjaan beton minimal adalah K-225 dan harus
memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam SNI 03-1974-1990.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 29


3R Berbasis Masyarakat
Menggunakan beton campuran sendiri dengan perbandingaan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3
Kr. serta memenuhi persyaratan SNI 03-1974-1990.
Besi/baja beton yang ditawarkan dari jenis baja mild-steel dengan tegangan leleh
minimum 2.400 kg/cm2 (U24) dan seterusnya sesuai yang ditentukan, Penampang besi
harus bulat serta memenuhi persyaratan SNI 07-0663-1995.
Jika diperlukan bisa dilakukan perbaikan tanah di bawah pondasi.

b. Pondasi Staal/ Memanjang


Pasangan batu kali dengan ukuran lebar bawah sesuai dengan hasil hitungan struktur
pondasi memanjang dengan kemampuan daya dukung tanah di lokasi.
Batu yang dipakai harus bermutu baik, kuat, bersih, bersudut (tidak bulat), tidak retak,
tidak porous, mempunyai berat jenis tidak kurang dari 2,6 ton/m. Batu kali yang dipakai
adalah batu sungai yang dibelah atau batu gunung yang keras.
Untuk pasangan batu kali biasa 1 PC : 4 pasir (t ipe 1).
Untuk pasangan batu kali kedap air 1 PC : 2 pasir (t ipe 2).

4. KOLOM

BANGUNAN UTAMA TPS 3R ( Bangunan Pengelolaan Sampah)


a. Dengan Beton Bertulang
Menggunakan beton campuran sendiri dengan perbandingaan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3
Kr. serta memenuhi persyaratan SNI 03-1974-1990.
Mutu beton yang dicapai dalam pekerjaan beton minimal adalah K-225 dan harus
memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam SNI 03-1974-1990.
Besi/baja beton yang ditawarkan dari jenis baja mild-steel dengan tegangan leleh
minimum 2.400 kg/cm2 (U24) dan seterusnya sesuai yang ditentukan, Penampang besi
harus bulat serta memenuhi persyaratan SNI 07-0663-1995.

b. Dengan Baja Profil


Adalah profil yang sesuai dengan hasil perhitungan struktur yang dilakukan oleh TFL Teknik
dan sudah mempertimbangan pembebanan tambahan (angin dan gempa )
dengan mengacu pada tabel Baja Profil standar SNI.
Profil baja dapat menggunakan IWF (wide Flange), Lipped Channel, T-Beam dan
yang lainya dengan mempertimbangkan mutual check Baja yang sesuai dengan SNI dan
Harga di lokasi TPS 3R.

c. Dengan Konstruksi Kayu


Adalah luasan penampang kayu yang sesuai dengan hasil perhitungan struktur yang
dilakukan oleh TFL Teknik dan sudah mempertimbangan pembeb anan tambahan
(angin dan gempa) dengan mengacu pada tabel PPKI.
Kalau tidak ditentukan lain maka semua kayu yang digunakan untuk bangunan
harus kayu dengan mutu A sesuai dengan P.K.K.I. Semua kayu harus bebas dari

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 30


3R Berbasis Masyarakat
getah-getah, cacat-cacat kayu seperti mata kayu, retak-retak, bengkok dan
sebagainya dan harus sudah mengalami proses pengeringan udara minimal 3
bulan.

Sistim penyambungan dan penggabungan menggunakan peraturan Pembebanan


Kayu Indonesia /PPKI

3.2.5 PERENCANAAN BANGUNAN PENDUKUNG

Bangunan pendukung merupakan bagian tak terpisahkan dalam bangunan TPS 3R, yang
merupakan bangunan penunjang dalam kegiatan TPS 3R. Adapun bangunan pendukung yang
dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Bangunan pendukung keamanan (keamanan dalam bangunan TPS 3R maupun keamanan
mesin-mesin dll).
2. Bangunan Pendukung Pengolahan Leachate (Lindi)
3. Bangunan pendukung bangunan utama (harus ada talut, jalan penghubung dll)
4. Green belt (sumur resapan, biopori, taman dll)

3.2.6 RESIKO SALAH PERENCANAAN

1. Bangunan tidak berfungsi secara optimal (banyak area kosong tidak berfungsi atau terlalu
padat).
2. Tidak dipergunakan oleh masyarakat (salah tempat, diprotes warga, susah dalam
operasionalnya, disuruh pindah oleh warga).
3. Bangunan miring, tergeser bahkan roboh.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 31


3R Berbasis Masyarakat
Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 32
3R Berbasis Masyarakat
BAB IV
RENCANA PEMBIAYAAN

4.2 RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) PEMBANGUNAN

Gambar 4.1 Skema pelaksanaan Perhitungan Anggaran Biaya

Keterangan :
1. Upah Tenaga Kerja tergantung dari masing-masing keahlian, dan dihitung perhari kerja yaitu
8 jam per hari. Upah tenaga kerja didapat dilokasi, dikumpulkan dan dicatat dalam satu
daftar yang dinamakan daftar Harga Satuan Upah Setempat.
2. Harga bahan/material untuk pelaksanaan fisik didasarkan pada setiap daerah/lokasi
masing-masing (berdasarkan hasil survey di lokasi masing-masing).
3. Harga satuan upah dan bahan/material untuk dasar perhitungan Biaya Perencanaan
didasarkan Harga Satuan Setempat.
4. Analisa harga satuan pekerjaan adalah perhitungan analisa untuk mendapatkan harga
satuan pekerjaan dengan menggunakan analisa SNI.
5. Harga satuan pekerjaan adalah jumlah harga bahan dan upah yang dihitung/berdasarkan
analisa SNI.
6. Volume pekerjaan adalah besar volume atau kubikasi suatu pekerjaan yang dihitung
berdasarkan gambar bestek dan gambar detail.
7. Rencana anggaran biaya suatu bangunan adalah perhitungan banyaknya biaya yang
diperlukan (bahan dan upah) untuk menyelesaikan bangunan tersebut.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 33


3R Berbasis Masyarakat
4.2 BIAYA OPERASIONAL PELAKSANAAN (BOP)

Biaya operasional pelaksanaan digunakan selama masa konstruksi (maksimal 3% dari total
biaya konstruksi) untuk kegiatan antara lain :
1. rapat
2. operasional
3. transportasi dll.

4.3 BIAYA PELATIHAN KSM, MANDOR DAN TUKANG

Pelaksanaan pelatihan Teknis dan keuangan untuk KSM, mandor dan tukang dilaksanakan
selama kurang lebih 3 (tiga) hari yang didanai oleh APBN melalui Satker PPLP Provinsi.

4.4 RENCANA BIAYA OPERASIONAL TPS 3R

Untuk kebutuhan biaya operasional selama 3 bulan pertama KSM dapat menggunakan dana
tunai yang terkumpul saat membuka rekening bersama. Besarnya sesuai dengan dana
operasional selama 3 bulan pertama.

4.5 BIAYA OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN

Dalam pengelolaan TPS 3R, perlu adanya biaya operasional agar TPS 3R dapat berjalan sesuai
dengan fungsi dan kegunaannya. Beberapa hal yang termasuk ke dalam biaya operasional
antara lain :

1. Biaya Personil
a. Honor operator pengangkutan sampah
b. Honor operator pemilahan dan pengomposan
c. Honor penjaga TPS 3R

2. Biaya Langsung
a. Bahan bakar mesin pencacah
b. Bahan bakar motor sampah
c. Biaya pemeliharaan mesin dan TPS

Perhitungan Biaya Operasional dan Pemeliharaan


1. Biaya tenaga kerja langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga yang terlibat secara langsung dalam proses
implementasi TPS 3R. Biaya tenaga kerja langsung terdiri dari :
a. Operator mesin

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 34


3R Berbasis Masyarakat
b. Petugas pengangkutan
c. Petugas pemilahan dan pengomposan

2. Biaya lahan (lahan langsung maupun tidak langsung)


Bahan langsung seperti sampah, bioaktivator. Sedangkan bahan tidak langsung antara lain :
bahan bakar minyak (BBM), karung untuk kemasan kompos, serta peralatan pendukung
kegiatan yang masa pakainya maksimum 1 tahun atau sering disebut barang habis pakai,
seperti selang, cangkul, emrat, golok, dan lain-laim

3. Biaya tidak langsung (overhead)


Overhead adalah biaya yang dikeluarkan dan tidak berkorelasi secara signifikan terhadap
kapasitas produksi, atau tidak berhubungan secara langsung dengan aktifitas produksi atau
pengolahan sampah. Yang termasuk biaya overhead antara lain :
a. Gaji staff administrasi
b. Biaya listrik
c. Biaya komunikasi
d. Alat tulis kantor (ATK)
e. Biaya keamanan dan sebagainya

4. Biaya pemeliharaan
Biaya pemeliharaan adalah biaya yang dikeluarkan untuk tujuan rekondisi atau perbaikan
terhadap seluruh infrastruktur operasional pengolahan sampah. Infrastruktur yang dipelihara
terbagi dalam 2 golongan yaitu : bangunan dan mesin.
Biaya pemeliharaan meliputi kegiatan perbaikan rutin/berkala maupun isidentil. Untuk
menghitung biaya perawatan tersebut dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu :
a. dihitung secara rinci per item kebutuhan pemeliharaan
b. menggunakan angka presentase (misalnya 5%) dari harga beli dibagi umur barang
tersebut.

Tabel 4.1 Contoh Perhitungan Biaya Pemeliharaan


Harga mesin Umur pakai Biaya perawatan (5%)
Rp 10.000.000,- 5 500.000 : 5 = Rp 100.000

Untuk menentukan angka presentase tersebut sebaiknya ditanyakan kepada podusen mesin
Untuk menghitung biaya perawatan bila data dan informasinya lengkap sebaiknya
dilakukan dengan metode.

Total biaya O&M (operational & mantainance) tersebut adalah merupakan Harga Pokok
Pengolahan yang bermanfaat untuk melakukan Analisis Biaya Satuan. Perhitungan biaya O&M
dapat dihitung keseluruhan proses maupun per unit kegiatan, misalnya unit kegiatan
pengomposan. Format perhitungan biaya operasional dan pemeliharaan tersebut dapat dilihat
pada lampiran x.x

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 35


3R Berbasis Masyarakat
Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 36
3R Berbasis Masyarakat
BAB V
MEKANISME PENYALURAN DANA BANTUAN SOSIAL

5.1 PROSES PENYALURAN DANA

1. Dana APBN
Penyaluran dana APBN dilakukan melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan
Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum di Provinsi dengan pola bantuan sosial.
a. PPK/SATKER PPLP Provinsi membuat Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (SP3) dengan
penanggung jawab atau Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) setelah Dokumen
RKM disahkan oleh Dinas / SKPD dan SATKER PPLP provinsi.
b. Penyaluran dana bantuan sosial kepada KSM pelaksana swakelola dilakukan secara
bertahap dengan ketentuan sebagai berikut :
1) 40 % (empat puluh perseratus) dari keseluruhan dana bantuan sosial apabila Dokumen
RKM yang telah dilegalisasi oleh Dinas / SKPD dan SATKER PPLP provinsi dan SK
Penetapan Penerima Manfaat;
2) 30% (tiga puluh perseratus) dari keseluruhan dana bantuan sosial apabila pekerjaan
telah mencapai 30%, dilengkapi dengan laporan fisik dan keuangan atas penggunaan
pada tahap pertama (40%);
3) 30% (tiga puluh perseratus) dari keseluruhan dana bantuan sosial apabila pekerjaan
telah mencapai 60%, dilengkapi dengan laporan fisik dan keuanganatas pengunaan
pada tahap kedua (30%).

Untuk melakukan transfer dana ke KSM, KSM membuka rekening bersama di bank
pemerintah setempat atas nama KSM yang ditandatangani oleh 2 (dua) pihak yaitu Ketua
dan Bendahara KSM

2. Dana APBD
Dana APBD digunakan sebagai pendampingan keberlanjutan program TPS3R. Penyaluran
dana APBD dilakukan melalui SKPD kota/kabupaten sesuai dengan tata cara penyaluran
dan pencairan dana yang berlaku.

3. Dana Masyarakat
Kontribusi dari masyarakat berupa:
a. Dana tunai (on cash) untuk membuka Rekening KSM dan biaya awal operasional dan
pemeliharaan kurang lebih sebesar Rp 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah)
b. Dana non tunai (in kind) berupa lahan, barang, material, tenaga kerja, konsumsi dan lain-
lain
c. Dana iuran masyarakat untuk operasional fasilitas TPS 3R dikumpulkan berdasarkan
kesepakatan masyarakat calon pengguna/penerima manfaat. Pengumpulan dana
masyarakat tersebut dilakukan oleh KSM.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 37


3R Berbasis Masyarakat
4. Sumber Dana Lain
Sumber dana ini dapat berupa Dana CSR, Swasta dan lain-lain dapat dimanfaatkan untuk
operasional dan keberlanjutan dari Program TPS3R

5.2 MEKANISME PENCAIRAN DANA

1. SUMBER DANA APBN


a. Pencairan dana APBN dilakukan melalui SATKER/PPK PPLP di masing-masing Provinsi.
b. Pencairan dilakukan setelah ada Surat permohonan pencairan dana dari KSM sesuai
dengan prosentase progres pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
c. Persyaratan pencairan dana :
1) Termin I (40%), pengajuan termin I KSM ke PPK/Satker PPLP provinsi dilengkapi dengan :
a) Dokumen RKM lengkap dan telah disetujui oleh KSM, TFL, SATKER/PPK PPLP Provinsi,
dan Dinas/SKPD.
b) Surat Keputusan SATKER/PPK PLP Provinsi tentang penetapan penerima manfaat
program TPS3R;
c) SK pembentukan Tim Swakelola Masyarakat;
d) Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (SP3) antara SATKER/PPK PLP Provinsi
dengan KSM tentang pemanfaatan dana bantuan sosial TPS3R;
e) Rencana penggunaan dana 40%
f) Rencana pengadaan barang dan jasa.
2) Termin II (30%), pengajuan termin II KSM ke PPK/Satker PLP Provinsi dilengkapi dengan :
a) Laporan progres pelaksanaan fisik (minimal 30%) yang dilengkapi dengan
dokumentasi fisik (foto).
b) Laporan harian, mingguan, dan bulanan
c) Laporan pertanggungjawaban penggunaan dana termin ke I .
d) Rencana penggunaan dana 30%.
3) Termin III (30%), pengajuan termin II KSM ke PPK/Satker PLP Provinsi dilengkapi dengan :
a) Laporan progres pelaksanaan fisik (minimal 60%) yang dilengkapi dengan
dokumentasi fisik (foto)
b) Laporan harian, mingguan, dan bulanan
c) Laporan pertanggung jawaban penggunaan dana termin ke II
d) Rencana penggunaan dana 30%

d. Pengajuan termin oleh KSM harus diketahui dan disetujui oleh TFL 3R dan Dinas /SKPD.
e. Setiap laporan progres harus diverifikasi oleh TFL 3R dan Dinas / SKPD.

contoh kasus : untuk mengantisipasi proses pencairan dana agar dapat dimanfaatkan
sesuai rencana salah satu provinsi mengatur proses pencairan dana termin I (40%).
Dokumen RKM dan Rencana penggunaan Dana 40% harus diketahui/disetujui seta
ditandatangani oleh TFL sebagai bentuk tanggungjawab TFL dalam pencairan dana
dan diketahui oleh Dinas/SKPD terkait, ini sebagai salah satu syarat pencairan dana
tersebut.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 38


3R Berbasis Masyarakat
Permohonan pencairan dana diajukan oleh ketua kelompok penerima manfaat/KSM
kepada pemegang anggaran melalui tahapan sebagai berikut :
a. Ketua KSM membuat surat permohonan pencairan dana dilampiri data pendukung
persyaratan pencairan dana, diajukan kepada Satker PPLP Provinsi. Berkas surat
permohonan perncairan dana setidaknya mencantumkan:
1) Identitas penerima manfaat/KSM (nama KSM, lokasi KSM)
2) Nama bank dan nomor rekening bank atas nama KSM
3) Jumlah dana bantuan sosial yang akan ditranfer
4) Kuitansi tanda terima uang yang ditandatangani ketua dan bendahara KSM dan
diketahui TFL dan Dinas/SKPD terkait
5) Keterangan lain yang berkaitan dengan mekanisme penggunaan dana dan
operasional kegiatan di lapangan
b. Surat permohonan beserta data pendukung persyaratan pencairan dana oleh TFL,
kemudian dilakukan penelitian dan penelaahan menyangkut kebenaran dan
keabsahannya oleh tim teknis dari Satker PPLP Provinsi.
c. Setelah dilakukan penelitian dan penelaahan, surat permohonan beserta data
pendukung selanjutnya disampaikan kepada PPK Satker PPLP Provinsi guna mendapatkan
koreksi dan persetujuan.
d. Surat permohonan beserta data pendukungnya yang sudah dikoreksi PPK selanjutnya
diajukan ke KPA sebagai dasar proses pencairan dana.

Proses transfer dana dari KPPN kepada rekening penerima bantuan sosial biasanya paling
lama 5 (lima) hari setelah terbitnya SP2D. Kemudian penarikan dana bantuan sosial pada
bank dilakukan sebagai berikut :
a. Penarikan/pencairan dana bantuan sosial pada bank yang telah ditunjuk hanya dapat
dilakukan oleh Ketua KSM dan Bendahara KSM setelah bukti penarikan dana
ditandatangani oleh Ketua KSM dan Bendahara KSM dan telah diverifikasi/mendapat
rekomendasi dari TFL dan Dinas/SKPD terkait.
b. Proses pencairan dana bantuan sosial dari bank dilakukan secara bertahap sesuai
dengan Perjanjian Kerjasama.
c. Pencairan selanjutnya dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan lapangan serta
memperhatikan pertanggungjawaban penggunaan dana sebelumnya.

2. SUMBER APBN BELANJA MODAL


Untuk pengadaan peralatan penunjang operasional TPS3R yang saat ini menggunakan sumber
dana APBN Belanja Modal*), mekanismenya menggunakan metode dengan penyedia jasa
sesuai dengan ketentuan Pepres 70 Tahun 2012.

*) hanya berlaku di Tahun 2014

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 39


3R Berbasis Masyarakat
Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 40
3R Berbasis Masyarakat
BAB VI
MEKANISME PENGADAAN BARANG DAN JASA

6.1 PRINSIP DASAR PENGADAAN

Pelaksanaan kegiatan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat merupakan


kegiatan swakelola oleh masyarakat, dimana KSM dipilih selaku pelaksana dan
penanggungjawab pelaksanaan kegiatan di tingkat masyarakat. Pengadaan barang/jasa
pada TPS 3R diselenggarakan untuk menyediakan barang/jasa yang dibutuhkan bagi
pembangunan infrastruktur pengelolaan persampahan skala kawasan, oleh karena itu,
pengadaan barang/jasa di tingkat masyarakat dalam TPS 3R berpendekatan pada prinsip-
prinsip penyelenggaraan program dan prinsip-prinsip pengadaan barang/jasa yang
ditetapkan.

Pengadaan barang/jasa agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan dari segi administrasi,


teknis dan keuangan, maka perlu menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan
daya yang minimum untuk mencapai kualitas dan sasaran dalam waktu yang ditetapkan
atau menggunakan dana yang telah ditetapkan untuk mencapai hasil dan sasaran dengan
kualitas yang maksimum.
2. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan dan sasaran yang
telah ditetapkan serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya.
3. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa
bersifat jelas dan dapat diketahui secara luas oleh Penyedia Barang/Jasa yang berminat
serta oleh masyarakat pada umumnya.
4. Terbuka, berarti pengadaan barang/jasa dapat diikuti oleh semua Penyedia Barang/Jasa
yang memenuhi persyaratan/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang
jelas.
5. Bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus dilakukan melalui persaingan yang sehat
diantara sebanyak mungkin Penyedia Barang/Jasa yang setara dan memenuhi persyaratan,
sehingga dapat diperoleh Barang/Jasa yang ditawarkan secara kompetitif dan tidak ada
intervensi yang mengganggu terciptanya mekanisme pasar dalam Pengadaan
Barang/Jasa.
6. Adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon
Penyedia Barang/Jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak
tertentu, dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
7. Akuntabel, berarti harus sesuai dengan aturan dan ketentuan yang terkait dengan
pengadaan barang/jasa sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 41


3R Berbasis Masyarakat
6.2 ETIKA PENGADAAN

Para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika
sebagai berikut:
1. Melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran,
kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa;
2. Bekerja secara mandiri dan menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan barang/jasa yang
menurut sifatnya harus dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam
Pengadaan Barang/Jasa;
3. Tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung yang berakibat terjadinya
persaingan tidak sehat;
4. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan
kesepakatan tertulis para pihak;
5. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait,
baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa;
6. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara
dalam pengadaan barang/jasa;
7. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan
untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak
langsung merugikan negara; dan
8. Tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima
hadiah, imbalan, komisi dan berupa apa saja dari atau kepada siapapun yang diketahui
atau patut diduga berkaitan dengan Pengadaan Barang/Jasa.

6.3 TIM PENGADAAN

Tim Pengadaan barang/jasa pada kegiatan TPS 3R di tingkat masyarakat adalah sebagai
berikut :
1. Tim Pengadaan barang/jasa merupakan anggota Tim Swakelola KSM yang pembentukanya
ditetapkan dengan Surat Keputusan penanggung jawab kelompok masyarakat/Ketua KSM.
2. Orang-orang yang duduk dalam Tim Pengadaan adalah anggota masyarakat yang
mempunyai integritas, jujur, tidak mempunyai kepentingan pribadi serta dipilih secara
demokratis oleh masyarakat.
3. Jumlah tim pengadaan barang/jasa harus ganjil (ditetapkan 3 atau 5 orang), tergantung
dari nilai barang/jasa yang akan dilelangkan. Untuk yang nilainya antara Rp. 50 juta sampai
dengan Rp. 200 juta tim pengadaan 3 orang, sedangkan untuk yang nilainya diatas Rp. 200
juta maka tim pengadaan ditetapkan 5 orang. Hal ini untuk memudahkan dalam
pengambilan keputusan. Susunan Tim pengadaan barang/jasa terdiri dari Ketua, Sekretaris
dan Anggota.
4. Barang/jasa yang akan diadakan untuk pembangunan fisik harus memenuhi kebutuhan
sesuai RKM (DED dan RAB) yang telah verifikasi TFL disetujui oleh PPK/Satker PPLP Propinsi,dan
memenuhi spesifikasi teknis yang telah dipersyaratkan.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 42


3R Berbasis Masyarakat
5. Pengadaan jasa sewa alat /alat berat harus memperhitungkan tingkat efisiensi penggunaan
dana bantuan sosial dan efektifitas pelaksanaan sehingga program ini benar-benar dapat
memberikan pendapatan dan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Serta dipastikan
penggunaan alat yang disewa dalam kegiatan fisik di lapangan memang benar-benar tidak
bisa di kerjakan oleh masyarakat setempat.

6.4 TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB TIM PENGADAAN

Tugas dan tanggung jawab tim pengadaan adalah sebagai berikut:


1. Menyiapkan daftar barang/jasa dan pekerjaan yang akan diadakan dan sekaligus
menyiapkan spesifikasi teknisnya;
2. Membuat rencana pembeliaan barang berdasarkan (jenis barang/jasa dan ketersediaan
penyedia barang/jasa) dan jadwal rencana pelaksanaan pengadaan.
3. Untuk pengadaan barang/jasa yang bernilai di atas Rp. 50.000.000 sampai dengan Rp.
200.000.000 dapat dilakukan dengan pengadaan langsung terhadap 1 (satu) penyedia
barang/jasa. Pangadaan langsung dilaksanakan berdasarkan harga yang berlaku di pasar
kepada penyedia yang memenuhi kualifikasi. Pengadaan langsung dilaksanakan oleh 1
(satu) orang Pejabat Pengadaan.
4. Untuk pengadaan barang/jasa yang bernilai diatas Rp. 200.000.000 dilakukan dengan cara
Pemilihan Langsung pasca kualifikasi, metode pemasukan dokumen satu sampul.
Proses Pemilihan Langsung pasca kualifikasi satu sampul meliputi
a. Pengumuman
b. Pendaftaran dan pengambilan dokumen pengadaan
c. Pemberian penjelasan
d. Pemasukan dokumen penawaran
e. Pembukaan dokumen penawaran
f. Evaluasi penawaran
g. Evaluasi kualifikasi
h. Pembuktian kualifikasi
i. Pembuatan berita acara hasil pelelangan
j. Penetapan pemenang
k. Pengumuman pemenang
l. Sanggahan, dan
m. Sanggahan banding (apabila diperlukan)

6.5 RENCANA PENGADAAN

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam rencana pengadaan adalah sebagai
berikut:

1. Tentukan jenis-jenis bahan / alat yang akan dibeli / sewa.


a. Pembelian material / alat harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan dilapangan pada

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 43


3R Berbasis Masyarakat
saat itu, sebab jika pembelian terlampau banyak (tidak terkontrol) maka dapat berlebih
(merupakan pemborosan), akibatnya dana yang ada bisa tidak cukup untuk membeli
bahan lain atau membayar upah, dan lain-lain.
b. Harus memperhatikan kecukupan dana yang ada untuk kebutuhan lain, misalnya
membayar upah pekerjaan dilapangan (pemasangan bahan yang dibeli). Hal ini penting
untuk menjaga agar kegiatan dilapangan tetap berjalan terus-menerus (ada kemajuan
pekerjaan). Jangan sampai dilakukan pembelian bahan/alat tetapi tidak dapat
dipasang dilapangan karena tidak ada dana untuk membayar upah kerja;
c. Harus memperhatikan kemampuan gudang untuk menyimpan bahan/alat yang dibeli
secara baik dan aman, karena pembelian material tanpa mempertimbangkan kapasitas
ruang penyimpanan atau gudang dapat mengakibatkan kerusakan/hilangnya
bahan/material sebelum digunakan.
d. Harus dilakukan evaluasi terhadap pengiriman/penerimaan material yang berakibat
terjadinya kemungkinan volume pembelian yang akan melebihi volume RAB.
2. Tetapkan Toko/Pemasok yang akan memasok bahan/alat.
Acuan yang digunakan adalah Daftar Toko/Pemasok yang telah ditentukan berdasarkan
berita acara hasil survey toko material.
3. KSM membuat Surat Pesanan Bahan/Alat yang ditujukan kepada Toko/Pemasok yang dipilih.
Penting untuk diperhatikan bahwa surat pesanan ini agar sampaikan juga ke bagian
bendahara untuk persiapan pembayarannya. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan
transparansi dan akuntabilitas kegiatan baik internal KSM/warga maupun dengan pihak
pemasok itu sendiri.
4. Bahan yang diterima di proyek harus diperiksa kesesuaian jumlah dan kualitasnya, kemudian
dicatat pada Nota Penerimaan Bahan untuk selanjutnya dapat langsung dipergunakan
dilapangan atau disimpan sementara digudang dengan aman dan baik. Penting untuk
diperhatikan, agar Nota Penerimaan Bahan/Alat ini juga disampaikan kebagian
bendahara/keuangan untuk pembayarannya.
5. Tatacara pembayaran material/alat dilakukan oleh bendahara atau bagian keuangan
atau petugas khusus yang telah ditetapkan oleh KSM untuk tugas itu.

6.6 PENGADAAN BARANG DAN JASA OLEH KELOMPOK MASYARAKAT

Secara umum pengadaan barang/jasa oleh masyarakat dan sewa alat mengikuti ketentuan
dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 serta perubahannya Peraturan Presiden Nomor
70 Tahun 2012, yaitu sebagai berikut:
1. Pengadaan barang/jasa yang bernilai kurang dari Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) dapat
dibeli langsung kepada penyedia barang dan bukti pengikatnya cukup berupa bukti
pembelian/nota pembelian pembayaran dengan materai sesuai ketentuan.
2. Pengadaan barang/jasa yang bernilai diatas Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) sampai
dengan Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dapat dilakukan dengan pengadaan
langsung kepada 1 (satu) penyedia barang melalui penawaran tertulis dari penyedia
barang yang bersangkutan, dan bukti pengikatannya berupa kuitansi dengan materai
sesuai ketentuan.
Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 44
3R Berbasis Masyarakat
3. Pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang bernilai di atas Rp.50.000.000
(lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp. 200.000.000 (dua ratus juta riupiah) dilakukan
oleh tim pengadaan yang berjumlah 3 (tiga) orang dengan cara meminta dan
membandingkan sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawaran dari 3 (tiga) penyedia barang
yang berbeda serta memilih penawaran dengan harga terendah, dan bukti pengikatannya
berupa Surat Perintah Kerja (SPK) dengan materai sesuai ketentuan.
4. Pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang bernilai diatas Rp.200.000.000
(dua ratus juta) dilakukan oleh tim pengadaan yang berjumlah 5 orang dengan cara
meminta dan membandingkan sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawaran dari 3 (tiga)
penyedia dengan harga terendah, dan bukti pengikatannya berupa Surat Perjanjian
dengan sesuai ketentuan.

6.7 PENGGUNAAN METERAI

Bea Meterai merupakan pajak yang dikenakan terhadap dokumen yang menurut Undang-
undang Bea Meterai menjadi objek Bea Meterai. Untuk dokumen yang menyatakan nominal
uang dengan batasan sebagai berikut:

1. yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu
rupiah), tidak dikenakan Bea Meterai;
2. yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)
sampai dengan Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), dikenakan Bea Meterai dengan tarif
sebesar Rp 3.000,00 (tiga ribu rupiah);
3. yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), dikenakan Bea
Meterai dengan tarif sebesar Rp 6.000,00 (enam ribu rupiah).

Cara mempergunakan meterai tempel :


1. Meterai tempel direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di atas dokumen yang
dikenakan Bea Meterai.
2. Meterai tempel direkatkan di tempat dimana tanda tangan akan dibubuhkan.
3. Pembubuhan tanda tangan dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga
sebagian tanda tangan di atas kertas dan sebagian lagi di atas Meterai tempel.
4. Jika digunakan lebih dan satu Meterai tempel, tanda tangan harus dibubuhkan sebagian di
atas semua Meterai tempel dan sebagian di atas kertas.
5. Pelunasan Bea Meterai dengan menggunakan Meterai tempel tetapi tidak memenuhi
ketentuan di atas, dokumen yang bersangkutan dianggap tidak bermeterai.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 45


3R Berbasis Masyarakat
6.8 PELAKSANAAN KEGIATAN DENGAN PIHAK KETIGA

Seluruh pelaksanaan pekerjaan prasarana dan sarana TPS 3R yang dibutuhkan oleh
masyarakat sangat diprioritaskan untuk dilaksanakan seluruhnya oleh warga sendiri. Namun
demikian bila pelaksanaan pembangunan prasarana dan sarana TPS 3R tidak dapat
dilaksanakan oleh masyarakat baik secara keseluruhan maupun sebagian maka dapat saja
pekerjaan tersebut diserahkan kepada pihak ketiga (kelompok kerja atau subkontrak) yang
lebih mampu.

Pekerjaan yang dapat dikerjakan secara subkontrak melalui Pihak Ketiga adalah pekerjaan
yang dianggap tidak mampu dikerjakan oleh masyarakat karena memerlukan keahlian khusus
(misalnya pengadaan dan pemasangan rangka atap, dsb) atau pembelian barang (pabrikan)
yang membutuhkan ketrampilan tertentu, dengan ketentuan:
1. Pekerjaan bukan merupakan pekerjaan utama
2. Pekerjaan tersebut telah dievaluasi dan mendapat rekomendasi dari TFL dan Satker PPLP
Provinsi

Dalam pelaksanaannya, KSM akan melakukan pengawasan terhadap kinerja


subkontraktor/pemasok melalui Tim Pengawas KSM. Dalam melakukan pengawasan, KSM juga
akan melakukan pertemuan-pertemuan pekerjaan yang telah dicapai oleh
subkontraktor/pemasok serta permasalahan-permasalahan yang timbul di lapangan.

Disamping pelaksanaan pekerjaan sendiri oleh masyarakat, KSM juga dapat secara langsung
melakukan teguran-teguran di lapangan baik lisan maupun tertulis kepada subkontraktor
terhadap kualitas pekerjaan maupun kemampuan tukang yang tidak memadai.

Setiap kontrak yang selesai dilaksanakan oleh subkontraktor akan diperiksa oleh KSM terlebih
dahulu, kemudian dievaluasi oleh tim pengawas.

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 46


3R Berbasis Masyarakat
BAB VII
PERJANJIAN KERJASAMA
ANTARA KSM DAN SATKER PPLP PROVINSI

Setelah dokumen Rencana Kerja Masyarakat (RKM) disahkan, PPK Satker PPLP Provinsi dan
Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) membuat Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (SP3)
untuk pelaksanaan kegiatan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat.

Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (SP3)setidaknya memuat memuat :


1. Identitas para pihak
2. Dasar hukum
3. Tujuan Perjanjian Kerjasama
4. Ruang lingkup pekerjaan
5. Lokasi pekerjaan
6. Jangka waktu pelaksanaan
7. Hak dan Kewajiban para pihak
8. Sumber dan Jumlah dana
9. Mekanisme pembayaran
10. Keadaan memaksa (force majeure)
11. Sanksi
12. Perselisihan
13. Penutup

Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 47


3R Berbasis Masyarakat
TATA CARA
PELAKSANAAN PEMBANGUNAN FASILITAS
TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R

BUKU 3
KATA PENGANTAR
Pelaksanaan program pengurangan kuantitas sampah sebagai program pada skala nasional telah
sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan
sampah sebagai sumber daya. Pengelolaan sampah tersebut terdiri dari pengurangan sampah dan
penanganan sampah. Untuk pengurangan sampah biasanya dilakukan pembatasan timbulan
sampah, pendaur-ulangan sampah dan/atau pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan untuk
penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan dan
pemrosesan akhir sampah.

Pengurangan sampah tersebut juga sejalan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
21/PRT/M/2006, khususnya kebijakan (1), yaitu pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai
dari sumbernya. Kementerian Pekerjaan Umum sendiri telah melakukan pilot project di beberapa
kawasan untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R)
Berbasis Masyarakat. Pembangunan/penyediaan sarana penanganan sampah pada skala komunal
yang berbasis masyarakat tersebut melalui mekanisme penyediaan dana bantuan sosial untuk setiap
lokasi sasaran.

Dalam rangka memberikan panduan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan TPS 3R tersebut,
maka dibutuhkan buku panduan yang memuat tata cara pemilihan lokasi, perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, serta pilihan-pilihan teknologi dalam pengolahan sampah
berbasis masyarakat.

Buku Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS
3R) Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman yang telah disusun ini terdiri dari 6 (enam) jilid buku,
yaitu:
1. Buku 1, memuat Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
2. Buku 2, memuat Tata Cara Perencanaan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
3. Buku 3, memuat Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah
(TPS) 3R
4. Buku 4, memuat Tata Cara Pilihan Teknologi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
5. Buku 5, memuat Tata Cara Monitoring dan Evaluasi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
6. Buku 6, memuat Lampiran dan Format Pelaporan
Diharapkan seluruh pemangku kepentingan pelaksana kegiatan Program TPS 3R Berbasis Masyarakat
ini dapat memahami tata laksana dan kaidah-kaidah yang ada di dalam Buku Tata Cara
Penyelenggaraan Umum Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat di Kawasan
Permukiman ini serta menerapkannya pada pelaksanaan TPS-3R Berbasis Masyarakat di lokasi
sasaran.

Semoga panduan ini dapat bermanfaat dan tetap terbuka kesempatan kepada pihak-pihak yang
terkait dengan pelaksanaan kegiatan TPS 3R Berbasis Masyarakat, untuk memberikan masukan serta
saran dan kritik atas buku ini, guna mengoptimalkan hasil dan kebermanfaatan dari pembangunan
TPS 3R Berbasis Masyarakat ini.
Jakarta, May 2014
Direktur Jenderal Cipta karya

Ir. Imam S. Ernawi, MCM., M.Sc.


DAFTAR ISI
BUKU 3 TATA CARA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN
FASILITAS TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R

BAB I PRA PELAKSANAAN PROGRAM TPS 3R 1


1.1 Persiapan Pelaksanaan 1
1.2 Pengadaan Barang dan Jasa 2
1.3 Penyusunan Tim Pelaksanaan Pembangunan 2

BAB II PELAKSANAAN KONSTRUKSI 5


2.1 Pelaksanaan Konstruksi oleh Kelompok Masyarakat 5
2.2 Pelaksanaan Konstruksi oleh Pihak Ketiga 6
2.3 Keterbukaan Informasi 6
2.4 Etika Pelaksanaan Pekerjaan 7
2.5 Pelaksanaan Konstruksi 8
2.6 Pengadaan Peralatan Pengolah Sampah 3R 9
2.7 Administrasi dan Pelaporan 10
2.8 Pemantauan dan Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi 10

BAB III PASCA PELAKSANAAN FISIK 13


3.1 Pembuatan Laporan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan 13
3.2 Pembuatan Realisasi Kegiatan dan Biaya 13
3.3 Laporan Akhir Pekerjaan 14
3.4 Serah Terima Infrastruktur 14
BAB I
PRA-PELAKSANAAN PROGRAM TPS 3R

Pelaksanaan penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat di


kawasan permukiman merupakan realisasi dari proses perencanaan yang sudah
dimusyawarahkan dalam Dokumen Rencana Kerja Masyarakat (RKM).

Maksud diterbitkannya Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas TPS3R berbasis


masyarakat ini adalah untuk membantu pelaku di lapangan yang akan melakukan kegiatan
pelaksanaan pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana TPS3R.

Tujuannya adalah untuk memberikan penjelasan tentang tahapan pelaksanaan


penyelenggaraan TPS 3R berbasis masyarakat di kawasan permukiman.

1.1. PERSIAPAN PELAKSANAAN

Pelaksanaan Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R dapat mulai dilakukan


setelah Penandatanganan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan. Proses pembangunan ini
dilaksanakan oleh Tim Pelaksana dari KSM yang didampingi oleh TFL 3R dan/atau subkontrak.

Dalam rangka pelaksanaan diperlukan persiapan sebagai berikut :


1. Melakukan kaji ulang pada lokasi pekerjaan berdasarkan gambar rencana kerja serta
pekerjaan persiapan lainnya, yaitu sebagai berikut:
a. Pengukuran lapangan (dengan menggunakan alat ukur theodolite/waterpass, meteran);
b. Pembersihan lahan/land clearing;
c. Penyiapan lokasi, sebagai tindak lanjut dari land clearing, dengan pelaksanaan
pemasangan patok bowplank;
d. Penyiapan untuk pengaman pekerjaan;
2. Melakukan kaji ulang jadwal pelaksanaan kerja (S Curve) serta jadwal kebutuhan
bahan/material dan peralatan
3. Informasi tentang awal dan akhir musim hujan secara umum;
4. Mengajukan kebutuhan bahan/material dan peralatan kepada ketua KSM untuk diproses
oleh Panitia/Pejabat Pengadaan.
5. Menghitung dan mengatur tenaga kerja untuk melaksanakan kegiatan/pekerjaan sesuai
dengan jadwal pelaksanaan.
Pengaturan tenaga kerja di lapangan penting sekali bila kegiatan konstruksi dilaksanakan
dengan menerapkan metode kerja Pembangunan Berbasis Masyarakat (Community Driven
Development). Ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam mengatur tenaga kerja di
tapak pekerjaan :

Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 1


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
a. Mobilisasi Pekerja.
Rencana penggunaan tenaga kerja harus disiapkan jauh sebelumnya agar penduduk
setempat dapat mempersiapkan diri apabila tenaga kerja mereka diperlukan. Tenaga
kerja yang tersedia harus dipastikan agar jumlahnya tercukupi untuk pekerjaan yang
akan dilaksanakan. Tenaga kerja diusahakan memakai tenaga kerjadi sekitar lokasi
pekerjaan dengan melibatkan kaum perempuan (dibuktikan dengan absensi tenaga
kerja yang menyatakan jenis kelamin);
b. Menetapkan tugas-tugas harian. Tujuannya untuk memungkinkan agar rata-rata pekerja
menyelesaikan kerja sehari dalam waktu sekitar 75% dari jam kerja normal. Metode ini
hanya digunakan pada tahap awal, untuk selanjutnya ditentukan melalui percobaan di
tempat kerja.
c. Memberikan kesempatan kerja kepada kaum perempuan.

1.2. PENGADAAN BARANG DAN JASA

Pelaksanaan kegiatan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakatmerupakan


kegiatan swakelola oleh masyarakat, dimana KSM ditunjuk selaku pelaksana dan
penanggungjawab pelaksanaan kegiatan di tingkat masyarakat. Pengadaan barang/jasa
pada TPS 3R diselenggarakan untuk menyediakan barang/jasa yang dibutuhkan bagi
pembangunan infrastruktur pengelolaan persampahan skala kawasan, oleh karena itu,
pengadaan barang/jasa di tingkat masyarakat dalamTPS 3R berpendekatan pada prinsip-
prinsip penyelenggaraan program dan prinsip-prinsip pengadaan barang/jasa yang
ditetapkan.

Secara umum pengadaan barang/jasa oleh masyarakat dan sewa alat mengikuti ketentuan
dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 serta perubahannya Peraturan Presiden Nomor
70 Tahun 2012. Untuk proses pengadaan barang dan jasa dapat dilihat pada buku 2 bab 6.

1.3. PENYUSUNAN TIM PELAKSANAAN PEMBANGUNAN

Penyusunan tim pelaksanaan pembangunan terdiri dari :


1. Satu Kepala Pelaksana atau lebih. Kepala Pelaksana mewakili Ketua KSM dalam
memberikan arahan serta mengawasijalannya pelaksanaan di lapangan, baik dari segi
teknik maupun administrasi, dan sebagai penghubung dengan pihak luar (toko / supplier /
kontraktor). Kepala Pelaksana adalah Ketua Unit Teknis KSM atau anggota KSM lain yang
mampu untuk mengemban tugas tersebut.
2. Satu orang Mandor atau lebih. Mandor adalah orang yang menguasai pekerjaan
lapangan sesuai dengan jenis pekerjaannya, dan berfungsi membantu Kepala Pelaksana
dalam menangani satumaam pekerjaan atau lebih. Mandor sebaiknya adalah anggota
Unit Kerja Teknis atau orang lain yang terampil/menguasai jenis pekerjaan yang akan
dilaksanakan.

Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 2


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3. Bendahara/Administrasi Kegiatan adalah orang yang menguasai sistem pembukuan
kegiatan, dan berfungsi sebagai pembantu Kepala Pelaksana dalam masalah administrasi
keuangan lapangan, seperti pembelian material, pengeluaran untuk pekerja, dan
sebagainya. Bendahara/Administrasi Kegiatan adalah Ketua Unit Pengelola
Keuangan/Bendaharawan KSM

Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 3


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 4
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB II
PELAKSANAAN KONSTRUKSI

2.1 PELAKSANAAN KONSTRUKSI OLEH KELOMPOK MASYARAKAT

Pekerjaan swakelola yang dilaksanakan oleh Kelompok Masyarakat pada prinsipnya


direncanakan, dikerjakan dan diawasi oleh Kelompok Masyarakat. Sedangkan untuk pekerjaan
utama dilarang untuk dialihkan kepada pihak lain (subkontrak). Pelaksanaan pembangunan
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R mulai dilakukan segera setelah Penandatanganan Surat
Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan. Proses pembangunan ini dilaksanakan oleh Tim Pelaksana
dari KSM dengan bimbingan TFL 3R.

Proses pelaksanaan pembangunan TPS 3R meliputi beberapa kegiatan yang terkait di


dalamnya, seperti perencanaan pekerjaan, penyiapan lokasi, pengadaan material dan
barang, pelaksanaan konstruksi, sewa alat, dan jumlah tenaga kerja, jadwal waktu
pelaksanaan serta pengendalian pengeluaran dana.

Hal mendasar dalam pembangunan TPS3R Berbasis Masyarakat melalui pola bantuan sosial
adalah adanya perubahan paradigma pembangunan dengan menempatkan masyarakat
selaku penerima manfaat bantuan sosial sebagai subyek dalam pelaksanaan kegiatan,
dilaksanakan secara partisipatif dan gotong-royong, transparat, accountability, serta
memanfaatkan tukang - pekerja khusus yang ada di kampung atau dari kampung sekitarnya
sehingga masyarakat lebih kuat rasa memilikinya pada prasarana dan sarana TPS3R.

Ketentuan upah tenaga kerja didasarkan pada harga pasar di kampong tersebut. Pembayaran
upah tenaga kerja yang diperlukan dilakukan secara harian berdasarkan daftar hadir pekerja
atau dengan cara upah borong. Pencapaian target fisik dicatat setiap hari, dievaluasi setiap
minggu serta dibuat laporan mingguan agar dapat diketahui apakah dana yang dikeluarkan
sesuai dengan target fisik yang dicapai. Secara keseluruhan pelaksanaan, KSM akan
didampingi oleh TFL 3R dan setiap minggu dilakukan pertemuan rutin untuk membahas
kemajuan-kemajuan pekerjaan dan penyelesaian permasalahan yang timbul di lapangan.
Dalam pertemuan pertemuan tersebut sekali waktu perlu dihadiri Dinas / SKPD terkait di
Kota/Kabupatendan Provinsi.

Setiap pekerjaan yang selesai dilakukan akan dievaluasi oleh tim pengawas yang terdiri dari
unsur Satker PPLP Provinsi, Dinas/SKPD terkait, TFL dan masyarakat.

Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 5


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
2.2 PELAKSANAAN KONSTRUKSI OLEH PIHAK KETIGA

Pekerjaan yang dapat dikerjakan secara subkontrak melalui Pihak Ketiga adalah pekerjaan
yang dianggap tidak mampu dikerjakan oleh masyarakat karena memerlukan keahlian khusus
atau pembelian barang (pabrikan) yang membutuhkan ketrampilan tertentu, dengan
ketentuan:
1. Pekerjaan bukan merupakan pekerjaan utama
2. Pekerjaan tersebut telah dievaluasi dan mendapat rekomendasi dari TFL, Dinas/SKPD terkait
dan Satker PPLP Provinsi

Dalam pelaksanaannya, KSM dan TFL3R akan melakukan pengawasan terhadap kinerja
subkontraktor/pemasok. Dalam melakukan pengawasan, KSM dan TFL3R juga akan melakukan
pertemuan-pertemuan secara berkala dalam rangka memantau kemajuan pekerjaan yang
telah dicapai oleh subkontraktor/pemasok serta permasalahan-permasalahan yang timbul di
lapangan.

Disamping pelaksanaan pekerjaan sendiri oleh masyarakat, KSM dan TFL3R juga dapat secara
langsung melakukan teguran-teguran di lapangan baik lisan maupun tertulis kepada
subkontraktor terhadap kualitas pekerjaan maupun kemampuan tukang yang tidak memadai.
Setiap kontrak yang selesai dilaksanakan oleh subkontraktor diperiksa oleh KSM dan TFL3R.

2.3 KETERBUKAAN INFORMASI

Dalam rangka mewujudkan transparansi pengelolaan Dana Bantuan Sosia lProgram TPS 3R,
KSM berkewajiban menyampaikan Informasi di Papan Informasi dan Pemasangan Papan
Proyek. Papan informasi merupakan papan pemberitahuan atau pengumuman dengan ukuran
tertentu yang terbuat dari papan kayu, memuat informasi mengenai kebijakan dan
pelaksanaan kegiatan di lokasi tertentu. Papan informasi tersebut dipasang di tempat strategis
agar mudah terlihat dan dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tujuan utama digunakan papan informasi adalah untuk:


1. Mempermudah masyarakat memperoleh informasi mengenai kegiatan secara terbuka
2. Mempermudah masyarakat untuk berpartisipasi dalam seluruh tahapan pelaksanaan
kegiatan dimulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan
pengoperasian dan pemeliharaan
3. Mempermudah masyarakat untuk turut mengawasi secara langsung pelaksanaan kegiatan
fisik dan penggunaan dana kegiatan

Papan informasi dipasang di tempat yang strategis dan mudah diakses oleh masyarakat. Jenis
informasi minimal yang harus tercantum dalam papan informasi antara lain:
1. Nama Kecamatan/Desa/kampung dan alamat KSM
2. Nama kegiatan
3. Jumlah dana kegiatan yang diterima masyarakat melalui rekening KSM
Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 6
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
4. Jumlah kontribusi masyarakat dan atau swasta
5. Sistem pencairan dana
6. Laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan
7. Laporan pertanggungjawaban pencairan dan penggunaan dana
Agar informasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas, beberapa hal yang perlu
diperhatikan adalah:
1. Papan informasi harus dipasang di tempat yang banyak dikunjungi orang tetapi aman dari
gangguan
2. Papan informasi harus dipasang agak tinggi agar tidak mudah dirusak
3. Tulisan agak besar, kalimat sederhana dan singkat disertai gambar berwarna agar menarik
perhatian dan minat pembacanya
4. Papan informasi dilindungi kaca atau plastik untuk mengurangi kemungkinan informasi
dirusak orang
5. Informasi yang ditempel di papan informasi dapat berupa fotokopi atau tulisan tangan,
asalkan jelas dan terbaca dengan baik. Informasi harus selalu diperbaharui.

2.4 ETIKA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Seluruh pihak yang terkait dalam penyaluran Bantuan Sosial memenuhi etika pelaksanaan
konstruksi sebagai berikut:
1. Melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran
kelancaran dan ketetapan tercapainya tujuan dalam pelaksanaan pengadaan barang;
2. Bekerja secara operasional, mandiri atas dasar kejujuran dan mencegah terjadinya
penyimpangan dalam pelaksanaan;
3. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan dalam rapat lapangan sesuai
kesepakatan dengan pihak terkait;
4. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dalam pelaksanaan pekerjaan ini;
5. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau melakukan kegiatan
bersama dengan tujuan keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain yang secara
langsung atau tidak langsung merugikan Negara;
6. Menghindari dan mencegah pertentangan dengan pihak terkait, baik langsung maupun
tidak langsung;
7. Tidak menerima, tidak menawarkan dan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau
menerima hadiah/imbalan berupa apapun kepada siapa saja yang diketahui patut
diduga berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan ini.

Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 7


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
2.5 PELAKSANAAN KONSTRUKSI

Pelaksanaan Konstruksi secara garis besar adalah:


1. Penjelasan teknis konstruksi dilakukan oleh Ketua KSM dengan didampingi oleh TFL Teknis
kepada seksi atau Tim Pelaksana Pembangunan, tukang, mandor dan masyarakat
pengguna;
2. Pekerjaan konstruksi dilakukan oleh tukang yang dipekerjakan oleh tim pelaksana,
sedangkan supervisi dilakukan oleh tim pengawas;
3. Pekerjaan perencanaan sarana TPS 3Rdan rencana konstruksi diperlihatkan kepada calon
masyarakat pengguna;
4. Wakil dari KSM dan mandor melakukan pengawasan setiap hari di lokasi;
5. Masyarakat ikut melakukan gotong-royong.

Pelaksanaan konstruksi oleh masyarakat mempergunakan organisasi dan sumber daya yang
telah disusun dalam rembug kampung, dan langsung dapat melaksanakan pekerjaan dengan
sumber pendanaan dari Rekening KSM, dimana penggunaannya dibukukan sesuai dengan
peraturan yang ada. TFL mendampingi, memberikan bimbingan teknis dan persetujuan
terhadap kegiatan yang telah, sedang dan akan dilakukan.

Pelaksanaan konstruksi oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dilaksanakan dengan


ketentuan:
1. Pada prinsipnya pelaksanaan kegiatan di tingkat kampung dilakukan oleh masyarakat
sendiri (partisipasi masyarakat) melalui suatu wadah Tim Pelaksana yang dibentuk KSM.
2. Proses partisipasi masyarakat tersebut diharapkan menjadi wujud pemberdayaan dan
memberi kesempatan agar masyarakat menjadi pelaku dalam menangani kegiatan.
3. Tenaga kerja yang diperlukan dalam pelaksanaan diutamakan dari masyarakat setempat.
4. Tenaga kerja diberi upah sesuai dengan norma yang wajar di kampung tersebut dan tidak
melebihi harga satuan Kabupaten/ Kota.
5. Bila ada bagian pekerjaan tertentu yang tidak dapat dilaksanakan oleh tenaga kerja di
kampung tersebut, maka KSM dapat mencari tenaga yang dibutuhkan dari tempat lain.
6. Sedangkan kebutuhan tenaga lain yang sifatnya pembantu umum (seperti tenaga angkut,
tenaga galian, dsb) akan ditangani oleh masyarakat sendiri secara gotong royong, dan hal
tersebut merupakan bagian konstribusi masyarakat.

KSM dan Masyarakat dengan dukungan PPK secara terus menerus melakukan monitoring
kemajuan pembangunan selama pelaksanaan pekerjaan, seperti pembelian material, kualitas
pekerjaan, periode pembayaran, administrasi keuangan, dsb. Hal ini untuk mempercepat
langkah-langkah yang dapat segera diambil bila terdapat penyimpangan dari gambar
perencanaan/DED yang ada dalam Rencana Kerja Masyarakat (RKM).

Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 8


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Secara umum pekerjaan yang dilaksanakan dalam Pembangunan TPS 3R, meliputi:
1. Pekerjaan Persiapan
2. Pekerjaan Standar, yaitu :
a. Pekerjaan Tanah
b. Pekerjaan Pondasi dan Lantai Kerja
c. Pekerjaan Pasangan
d. Pekerjaan Struktur
e. Pekerjaan Kusen
f. Pekerjaan Elektrikal
g. Pekerjaan Lantai
h. Pekerjaan Sanitasi (WC dan saluran drainase)
i. Pekerjaan kolam IPL
j. Pekerjaan Cat
k. Pekerjaan pemasangan pagar
l. Pekerjaan Lain-lain
m. Pekerjaan Atap
3. Pekerjaan Non Standar, yaitu :
a. Pekerjaan Arsitektur
b. Pekerjaan Listrik

Jenis dan volume kegiatan secara rinci diuraikan dalam Gambar Rencana dan Rencana
Anggaran Biaya (RAB).

2.6 PENGADAAN PERALATAN PENGOLAH SAMPAH 3R

Selain bangunan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R, dalam pengolahan sampah 3R skala
kawasan diperlukan juga peralatan pengolah sampah 3R yang digunakan untuk membantu
proses pengolahan sampah.

Pemilihan peralatan pengolah sampah 3R yang akan digunakan disesuaikan dengan teknologi
pengolahan sampah pada lokasi terpilih. Selain itu, perlu diperhatikan juga kemampuan KSM
atau masyarakat dalam mengelola dan mengoperasikan peralatan pengolah 3R. Dengan
memperhatikan hal-hal tersebut, diharapkan masyarakat dapat menggunakan fasilitas dengan
baik dan bertanggung jawab untuk pengoperasian dan pemeliharannya.

Peralatan pengolah sampah 3R antara lain :


1. Wadah atau tempat untuk sampah terpilah di rumah tangga, berupa plastik sampah,
tong/bin sampah yang merupakan tanggung jawab dari warga
2. Peralatan untuk pengumpulan dan pengangkutan sampah, berupa gerobak sampah,
becak sampah, becak motor, kendaraan roda 3 dilengkapi bak sampah yang sudah
disekat untuk memilah sampah.
3. Peralatan pengomposan sampah, berupa mesin pencacah sampah, mesin
pengayak/penyaring sampah, starter mikroba, dsb
Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 9
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
4. Peralatan untuk mengolah sampah non organiK (merupakan tahap pengembangan )
5. Peralatan peraga untuk kampanye/sosialisasi
Berupa stiker, poster, leaflet, dsb

2.7 ADMINISTRASI DAN PELAPORAN

Bagian lain dari pengawasan dan pengendalian pelaksanaan adalah pencatatan dan
pendokumentasian hasil dan proses pekerjaan di lapangan. Catatan dan dokumentasi ini
disusun dalam bentuk laporan, yang dibuat secara sederhana dan seringkas mungkin dan
dilakukan secara berkala.

Unit Keuangan harus melakukan pencatatan, penyusunan dan penyimpanan dokumen


pendukung untuk pengeluaran dana. Dokumen pendukung tersebut diantaranya : bukti
pembelian, kuitansi, bon, nota pembayaran, faktur dan sebagainya. Seluruh catatan dan
dokumen pendukung penggunaan dana tersebut harus tersedia pada waktu diadakan
pemeriksaan oleh pihak berwenang dari SKPD Kabupaten/Kota, atau provinsi.

Catatan atau dokumen pendukung harus bersifat akuntabel dan transparan. TFL bertugas
untuk memberikan dukungan dan bimbingan kepada KSM dalam urusan administrasi dan
pelaporan tersebut. KSM berkewajiban untuk melaporkan kemajuan kegiatan masyarakat
setiap bulan sesuai dengan Tatacara Pelaksanaan 3R berupa laporan kemajuan fisik dan
penyerapan dana dan ditempel pada papan informasi. KSM harus menginformasikan kontrak
kerjasama dengan pemasok/subkontraktor, bila ada, melalui papan informasi.

Pelaporan pelaksanaan pekerjaan dibuat dengan memperhatikan


1. Laporan kemajuan pelaksanaan pekerjaan dan penggunaan dana dilaporkan oleh KSM
kepada PPK secara berkala setiap bulan.
2. Pencapaian target fisik dicatat dan dievaluasi serta dibuat laporan agar dapat diketahui
apakah dana yang dikeluarkan sesuai dengan target fisik yang dicapai.
3. Penggunaan bahan/material, tenaga kerja dan peralatan dicatat setiap hari dalam
laporan harian.
4. Dokumentasi pekerjaan berupa dokumentasi pelaksanaan konstruksi dan proses
penentuan kesepakatan selama masa konstruksi (rembug warga, rapat, sosialisasi, dsb)

2.8 PEMANTAUAN DAN PENGAWASAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI

Tujuan pemantauan adalah untuk memastikan kesesuaian pelaksanaan kegiatan fisik agar
sesuai dengan rencana dan tujuan yang diharapkan. Dilakukan dengan pengumpulan
informasi yang terkait pekerjaan fisik, seperti pengecekan kualitas material, pemantauan
pelaksanaan konstruksi melalui pengukuran progres harian dan mingguan, pemantauan
pemanfaatan dana, pemantauan jumlah pekerja yang berpartisipasi. Selain itu juga dilakukan

Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 10


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
pemantauan terhadap permasalahan dan kesulitan yang dihadapi selama pekerjaan
konstruksi, misalnya kejadian alam seperti cuaca, ataupun bencana alam.

Pengawasan pelaksanaan konstruksi dilaksanakan oleh KSM dan dibantu TFL. Dalam tahap ini
merupakan tahapan yang penting, untuk itu diharapkan masyarakat secara luas mampu
melaksanakan fungsi kontrol untuk:
1. Pengendalian Mutu;
2. Pengendalian Kuantitas/Volume Pekerjaan;
3. Pengendalian Waktu; dan
4. Pengendalian Biaya.

Hal-hal yang terkait dengan pengendalian mutu :


1. Penyimpanan Bahan/Material.
Bahan-bahan yang disimpan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga mudah
diperiksa oleh pengawas dan terlindungi kualitasnya.
2. Metode Pengangkutan Material/Campuran
Pengangkutan material harus diatur agar tidak terjadi gangguan pelaksanaan pekerjaan.
Bila perlu pengawas dapat mengenakan pembatasan bobot pengangkutan untuk
melindungi setiap jalan dan infrastruktur yang ada di sekitar lokasi.
3. Pengujian/Pemeriksaan Material
Material yang akan digunakan harus diinspeksi oleh pengawas. Bila perlu pengawas dapat
melaksanakan pemeriksaan ulang material/ bahan-bahan yang telah tersimpan
sebelumnya.
4. Pengendalian Kuantitas/Volume
Pengendalian Kuantitas, dilakukan untuk mengecek bahan-bahan/ campuran yang
ditempatkan, dipindahkan, atau yang terpasang. Pengawas akan memeriksa bahan-
bahan/campuran berdasarkan atas batas toleransi pembiayaan. Setelah pekerjaan
memenuhi persyaratan baik kualitas dan peryaratan lainnya, maka pengukuran kuantitas
dilakukan agar kuantitas pekerjaan benar-benar terukur dengan baik sesuai dengan
pembiayaan dan disetujui.
5. Pengendalian Waktu
Di dalam pelaksanaan konstruksi, hubungan antara tenaga kerja, alat berat, dan jumlah
jam per hari dengan waktu pelaksanaan penyelesaian sangat erat.

Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 11


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 12
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB III
PASCA PELAKSANAAN FISIK

3.1 PEMBUATAN LAPORAN PENYELESAIAN PELAKSANAAN KEGIATAN

Laporan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan (LP2K) adalah laporan yang ditandatangani oleh
Ketua KSM dengan diketahui TFL 3R dan Dinas/SKPD terkait kota/Kabupaten untuk menyatakan
bahwa seluruh jenis kegiatan telah selesai dilaksanakan (kondisi 100%) serta siap diperiksa oleh
Satker PPLP Provinsi. Kondisi 100% dapat dicapai setelah dilakukan Uji Coba. Uji Coba dilakukan
bersama-sama Satker PPLP Provinsi, TFL, Dinas/SKPD terkait di kota/kabupaten dan Pemerintah
Desa.

Pada saat LP2K ditandatangani, seluruh pertanggung-jawaban dana maupun jenis administrasi
lainnya harus sudah dilengkapi dan dituntaskan, termasuk realisasi kegiatan dan biaya (RKB).

3.2 PEMBUATAN REALISASI KEGIATAN DAN BIAYA

Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) penerima manfaat membuat rincian Realisasi Kegiatan
dan Biaya berikut rekapitulasinya dan diperiksa/disetujui TFL 3R dan Dinas/SKPD
Kota/Kabupaten. Hal ini sebagai bentuk penjelasan tentang apasaja yang telah dilaksanakan
di lapangan serta penggunaan dana bantuan Bantuan Sosial.

Realisasi Kegiatan dan Biaya (RKB) harus dibuat sesuai dengan kondisi pada saat LP2K dibuat di
lapangan. Hal-hal yang harus dicatat meliputi harga satuan, volume, jumlah HOK terserap,
besar dan distribusi dana dari setiap kegiatan. Catatan harus berdasarkan pada kondisi aktual
di lapangan dan sesuai dengan catatan pelaporan harian.

Pada prinsipnya pembuatan RKB merekap atau merangkum seluruh catatan penggunaan
dana dan pelaksanaan kegiatan yang dibuat selama pelaksanaan. Gambar-gambar yang
dilampirkan dalam dokumen penyelesaian adalah denah atau lay out, peta situasi, detail
konstruksi dan lain-lain. Jika terjadi perubahan pada infrastruktur terbangun, dilakukan
perubahan pada gambar dan harus dituangkan dalam berita acara revisi.

Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 13


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3.3 LAPORAN AKHIR PEKERJAAN

Laporan akhir pekerjaan dibuat oleh KSM sebagai pihak penerima manfaat bantuan sosial,
yang memuat :
1. Laporan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan
2. Realisasi Kegiatan dan Biaya (RKB)
3. Berita Acara Perubahan Pekerjaan (Adendum/Amandemen Kontrak)
4. Rekapitulasi Laporan Penggunaan Dana (LPD) Tahap 1, Tahap 2 dan Tahap 3
5. Berita Acara Uji Coba
6. Gambar Pelaksanaan (As built Drawing)
7. Dokumentasi pelaksanaan kegiatan (progres 0%, 30%, 60%, 100%) dan dokumentasi proses
kesepakatan (rembug warga/sosialisasi)

Dokumen tersebut harus sudah dapat diselesaikan oleh KSM dibantu TFL untuk disampaikan
kepada Satker PPLP Provinsi selambat-Iambatnya 1 (satu) minggu sejak tanggal serah terima
pekerjaan. Jika sampai batas waktu tersebut dokumen penyelesaian belum bias dituntaskan,
maka Ketua KSM dan TFL diketahui Dinas/SKPD Kota/Kabupaten harus membuat Berita Acara
Keterlambatan dan Kesanggupan Penyelesaiannya untuk disampaikan kepada Satker PPLP
Provinsi.

3.4 SERAH TERIMA INFRASTRUKTUR

Serah Terima Hasil Pekerjaan dari KSM 3R kepada Satker PPLP Provinsi dilakukan setelah
Pembangunan prasarana dan sarana TPS 3R selesai dilaksanakan.

Urut-urutan penyerahan hasil pekerjaan adalah sebagai berikut :


1. Setelah pelaksanaan pekerjaan TPS 3R selesai 100%, KSM menyerahkan pekerjaan kepada
PPK Satker PPLP Provinsi.
2. PPK menyerahkan pekerjaan dan laporan pekerjaan selesai kepada KPA melalui Berita
Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan.
3. Selanjutnya dilakukan dengan proses serah terima pengelolaan dan pemanfaatan
prasarana dan sarana TPS 3R kepada tim operasional dan pemeliharaan KSM dengan
diketahui Lurah dan Dinas/SKPD terkait di Kota/Kabupaten.

Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas 14


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
TATA CARA
PILIHAN TEKNOLOGI
TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R

BUKU 4
KATA PENGANTAR
Pelaksanaan program pengurangan kuantitas sampah sebagai program pada skala nasional telah
sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan
sampah sebagai sumber daya. Pengelolaan sampah tersebut terdiri dari pengurangan sampah dan
penanganan sampah. Untuk pengurangan sampah biasanya dilakukan pembatasan timbulan
sampah, pendaur-ulangan sampah dan/atau pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan untuk
penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan dan
pemrosesan akhir sampah.

Pengurangan sampah tersebut juga sejalan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
21/PRT/M/2006, khususnya kebijakan (1), yaitu pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai
dari sumbernya. Kementerian Pekerjaan Umum sendiri telah melakukan pilot project di beberapa
kawasan untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R)
Berbasis Masyarakat. Pembangunan/penyediaan sarana penanganan sampah pada skala komunal
yang berbasis masyarakat tersebut melalui mekanisme penyediaan dana bantuan sosial untuk setiap
lokasi sasaran.

Dalam rangka memberikan panduan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan TPS 3R tersebut,
maka dibutuhkan buku panduan yang memuat tata cara pemilihan lokasi, perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, serta pilihan-pilihan teknologi dalam pengolahan sampah
berbasis masyarakat.

Buku Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS
3R) Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman yang telah disusun ini terdiri dari 6 (enam) jilid buku,
yaitu:
1. Buku 1, memuat Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
2. Buku 2, memuat Tata Cara Perencanaan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
3. Buku 3, memuat Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah
(TPS) 3R
4. Buku 4, memuat Tata Cara Pilihan Teknologi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
5. Buku 5, memuat Tata Cara Monitoring dan Evaluasi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
6. Buku 6, memuat Lampiran dan Format Pelaporan
Diharapkan seluruh pemangku kepentingan pelaksana kegiatan Program TPS 3R Berbasis Masyarakat
ini dapat memahami tata laksana dan kaidah-kaidah yang ada di dalam Buku Tata Cara
Penyelenggaraan Umum Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat di Kawasan
Permukiman ini serta menerapkannya pada pelaksanaan TPS-3R Berbasis Masyarakat di lokasi
sasaran.

Semoga panduan ini dapat bermanfaat dan tetap terbuka kesempatan kepada pihak-pihak yang
terkait dengan pelaksanaan kegiatan TPS 3R Berbasis Masyarakat, untuk memberikan masukan serta
saran dan kritik atas buku ini, guna mengoptimalkan hasil dan kebermanfaatan dari pembangunan
TPS 3R Berbasis Masyarakat ini.
Jakarta, May 2014
Direktur Jenderal Cipta karya

Ir. Imam S. Ernawi, MCM., M.Sc.


DAFTAR ISI
BUKU 4 TATA CARA PILIHAN TEKNOLOGI
TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Umum 1
1.2 Tujuan 1

BAB II PERALATAN PEWADAHAN 3

BAB III ALAT PENGUMPULAN SAMPAH 7

BAB IV ALAT PENCACAH SAMPAH DAN PENGAYAK KOMPOS 11


4.1 Alat Pencacah Organik (Chopper) 11
4.2 Alat Pengayak Kompos 13

BAB V METODA PENGOMPOSAN SAMPAH 15


5.1 Dasar-Dasar Pengomposan 15
5.2 Bahan-Bahan yang dapat Dikomposkan 16
5.3 Pengomposan Aerob 16
5.3.1 Pembuatan Kompos Skala Rumah Tangga dengan Keranjang 17
Takakura
5.3.2 Pembuatan Kompos Rumah Tangga dengan Bak/Tong Plastik 18
5.3.3 Komposter Rumah Tangga (Ditanam) 20
5.4 Pengomposan Sampah Skala Kawasan 23
5.4.1 Pengomposan dengan Metoda Lajur Terbuka (Open Windrow) 26
5.4.2 Pengomposan Skala Kawasan dengan Metoda Cetakan (Caspary) 33
5.4.3 Pengomposan Skala Rumah Tangga dengan Sistem Bak Terbuka 37
(Open Bin)
5.4.4 Pengomposan dengan Metoda Takakura Susun 43
5.5 Kelebihan dan Kekurangan Metoda Pengomposan 46
LAMPIRAN ALTERNATIF PENGOLAHAN SAMPAH SECARA ANAEROB 47

1. SISTEM KOMUNAL INSTALASI PENGOLAHAN ANAEROBIK SAMPAH (SIKIPAS) 49

BAB I PENGENALAN MODUL SIKIPAS 51


1.1 Pengolahan Sampah Proses Anaerobik 51
1.2 Gas bio dan Manfaatnya 52
1.3 Pemahaman Modul SIKIPAS 53

BAB II PERENCANAAN MODUL SIKIPAS 59


2.1 Sarana dan Prasarana Modul SIKIPAS 60
2.2 Perencanaan Modul SIKIPAS 60

BAB III PROSEDUR PENGOPERASIAN-PEMELIHARAAN-PERAWATAN MODUL SIKIPAS 77


3.1 Prosedur Standar Pengoperasian Modul SIKIPAS 77
3.2 Pemeliharaan dan Perawatan 88
3.2.1 Pemeliharaan dan Perawatan Unit Sampah 88
3.2.2 Pemeliharaan dan Perawatan Unit Asidogenesis-Metanogenesis Air 88
Lindi
3.2.3 Pemeliharaan dan Perawatan Pompa Resirkulasi Air Lindi 89
3.2.4 Pemeliharaan dan Perawatan Unit Penampungan Gas Bio 89
3.2.5 Pemeliharaan dan Perawatan Alat Penekan Sampah Manual 89
3.2.6 Pemeliharaan dan Perawatan Alat Pengayak Kompos Padat 90
3.2.7 Pemeliharaan dan Perawatan Alat Pencacah Sampah Organik 90

2. MULTY DRUM COMPOSTER 91

3. BIOMETHAGREEN 99

4. KSM SINAR KENALI 107


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 UMUM

Mengacu pada buku 2 tentang Tata Cara Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Berbasis Masyarakat, maka hal penting yang perlu diperhatikan tentang pilihan teknologi yang
akan diterapkan di TPS 3R antara lain sebagai berikut :
1. Berdasarkan asas keberlanjutan (sustainability)
2. Dipilih secara tepat sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat
3. Memperhatikan kondisi lingkungan setempat
4. Kemampuan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) atau masyarakat dalam mengelola
dan mengoperasikan TPS 3R

Sesuai dengan pembahasan pada Buku 2 tersebut, maka penjelasan mengenai pilihan teknolgi
TPS 3R secara rinci dibahas pada buku ini. Secara ringkas buku ini menjelaskan tentang
berbagai peralatan pewadahan, peralatan pengumpulan sampah, peralatan pencacah
sampah dan pengayak kompos, metoda pengomposan sampah yang dapat diterapkan di TPS
3R serta terlampir alternatif pengomposan secara anaerob.

1.2 TUJUAN

Buku ini menyajikan beberapa alternatif sarana TPS 3R seperti pewadahan, pengumpulan,
pencacah sampah, pengayak kompos, metoda pengomposan sampah, serta terlampir
alternatif pengomposan secara anaerob. Diharapkan dengan membaca buku ini, masyarakat
dapat menentukan pilihan teknologi sarana dan metoda pengomposan yang tepat guna agar
proses pengolahan sampah dapat berjalan secara optimal.

Tata Cara Pilihan Teknologi 1


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pilihan Teknologi 2
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB II
PERALATAN PEWADAHAN

Pewadahan sampah merupakan cara penampungan sampah sementara di sumbernya baik


secara individual maupun komunal.Kegiatan pewadahan sampah mempunyai tujuan antara
lain :
1. untuk mengisolasi sampah dalam suatu wadah yang ditentukan agar tidak berserakan
2. untuk mempermudah proses penanganan selanjutnya yaitu pengumpulan
Alternatif berbagai jenis sarana pewadahan individual dan komunal dengan kriteria
ditampilkan pada tabel 2.1, sedangkan berbagai bentuk kreasi sarana pewadahan sampah
disajikan pada gambar 2.1 dan gambar 2.2.

Untuk pelaksanaan pewadahan individual menjadi tanggung jawab masing-masing sumber,


sementara pelaksanaan pewadahan komunal menjadi tanggung jawab bersama dari
beberapa sumber yang menggunakannnya.

Sumber : Panduan Pembangunan Persampahan Di Kawasan Permukiman Baru, Direwktorat


Pengembangan Lingkungan Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Tabel 2.1 Berbagai Jenis Sarana Pewadahan Sampah Individual dan Komunal
No. Sarana Pewadahan Kriteria
Nama : Kantong Plastik
Jenis : indoor / outdoor, individual
Ukuran : 50 120 liter
Bahan : PE
1.

Nama : Bin Plastik Kecil


Jenis : indoor, individual
Ukuran : 10 30 liter
Bahan : PVC, PE
2.

Tata Cara Pilihan Teknologi 3


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Nama : Bin Plastik Sedang
Jenis : indoor/outdoor, individual
3. Ukuran : 50 70 liter
Bahan : PVC, PE

Nama : Bin plastik


Jenis : Indoor/outdoor, individual, untuk sumber
sampah besar
4. Ukuran : 120 liter
Bahan : PE, PP

Nama : Bin Plastik


Jenis : Indoor/outdoor, komunal
Ukuran : 120 liter
Bahan : PE, PP, dilengkapi roda

5.

Nama : Tong Kayu


Jenis : outdoor, individual
Ukuran : 50 - 70 liter
Bahan : kayu
6.

Tata Cara Pilihan Teknologi 4


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 2.1 Contoh Kreasi Wadah Sampah

Tata Cara Pilihan Teknologi 5


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 2.2 Contoh Kreasi Wadah Sampah Untuk Pemilahan

Tata Cara Pilihan Teknologi 6


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB III
ALAT PENGUMPULAN SAMPAH

Pengumpulan sampah dilakukan untuk memindahkan sampah dari sumber ke TPS 3R.
Ketidakcocokan pemilihan alat-alat pengumpul sampah, kurang baiknya pemeliharaan,dan
kurang terlatihnya operator dalam mengoperasikan alat dapat menimbulkan terjadinya
kerusakan-kerusakan pada alat sehingga kesediaan alat pengumpul yang beroperasi menjadi
sangat rendah dan menimbulkan biaya-biaya untuk perbaikan. Oleh karena itu, penting untuk
mengetahui pemilihan dan cara pengoperasian yang benar untuk alat-alat pengumpulan
sampah.

Faktor-faktor yang menentukan pemilihan alat pengumpulan antara lain sebagai berikut :
1. Banyaknya timbulan sampah yang akan ditangani dalam satuan ton timbulan sampah per
hari
2. Jenis sampah yang akan ditangani
3. Dana yang tersedia, termasuk dana untuk operasional dan pemeliharaan
4. Kondisi daerah pelayanan, seperti : kondisi jalan, jangkauan pelayanan dan sebagainya

Berikut adalah berbagai alternatif alat pengumpulan sampah TPS 3R yang cocok untuk daerah
dengan kondisi jalan datar dan jangkauan pelayanan yang tidak terlalu jauh :

Gambar 3.1 Gerobak Sampah dan Becak Sampah (menggunakan bin dan sekat)

Tata Cara Pilihan Teknologi 7


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 3.2 Gerobak Sampah dan Becak Sampah (Tanpa Bin dan Sekat)

Gambar 3.3 Motor Sampah Tertutup dengan Bin dan Sekat

Tata Cara Pilihan Teknologi 8


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 3.4 Motor Sampah Terbuka (tanpa bin dan sekat)

Gambar 3.5 Motor Sampah Terbuka (menggunakan bin dan sekat)

Tata Cara Pilihan Teknologi 9


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pilihan Teknologi 10
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB IV
ALAT PENCACAH SAMPAH DAN PENGAYAK KOMPOS

Alat pencacah dan pengayak kompos merupakan dua jenis sarana yang dibutuhkan ketika
melakukan proses pengomposan. Alat pencacah adalah alat yang digunakan untuk
mencacah bahan pupuk organik yang berasal dari biomasa seperti rumput, jerami, padi,
batang jagung dan pucuk tebu (SNI 7580 : 2010). Sedangkan alat pengayak kompos adalah
alat yang digunakan untuk memisahkan partikel kompos atau menyortir kompos setelah proses
penggilingan atau penghancuran.

4.1 ALAT PENCACAH ORGANIK (CHOPPER)

Berikut adalah desain alat pencacah sampah organik sesuai dengan ketentuan SNI
(gambar 4.1).

Gambar 4.1 Mesin Pencacah Sampah Organik

Sumber : SNI 7580:2010 - Mesin Pencacah Sampah Organik (Chopper) Bahan Pupuk Organik
Syarat Mutu Dan Dimensi Uji

Keterangan :
1. Bagian pengeluaran
2. Pengatur ukuran potongan bahan organik
3. Bagian pencacah
4. Motor penggerak
5. Rangka
6. Bagian pengumpan bahan
7. Pisau pencacah

Tata Cara Pilihan Teknologi 11


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Berikut adalah spesifikasi teknis alat pencacah organik berdasarkan kelasnya.

Tabel 4.1 Spesifikasi Teknis Mesin Pencacah

Sumber : SNI 7580:2010 Mesin Pencacah Organik (Chopper) Bahan Pupuk Organik Syarat Mutu
dan Dimensi Uji

Klasifikasi
Berdasarkan kapasitasnya, mesin pencacahan bahan organik di bagi menjadi 3 (tiga) kelas,
yaitu :
1. Kelas A adalah mesin pencacah yang mempunyai kapasitas lebih kecil dari 600 kg/jam
2. Kelas B adalah mesin pencacah yang mempunyai kapasitas 600-1.500 kg/jam
3. Kelas C adalah mesin pencacah yang mempunyai kapasitas lebih besar dari 1.500 kg/jam

Berikut adalah contoh alat pencacah yang saat ini tersedia di pasaran. Harga alat ini berkisar
antara Rp 11.000.000 hingga Rp 16.000.000 (Gambar 4.2).

Tata Cara Pilihan Teknologi 12


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 4.2 Beberapa Contoh Alat Pencacah Sampah

4.2 ALAT PENGAYAK KOMPOS

Terdapat dua jenis alat pengayak kompos, antara lain :


1. Manual (tanpa mesin)
2. Mekanis (menggunakan mesin). Cocok digunakan untuk produksi kompos > 100 kg/hari

Perlu diperhatikan bahwa penggunaan alat pengayak kompos mekanis akan menambah
biaya operasional.

1. Alat Pengayak Kompos Manual

Gambar 4.3. Pengayak Kompos Manual

Tata Cara Pilihan Teknologi 13


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
2. Alat Pengayak Kompos Mekanis

Gambar 4.4 Pengayak Kompos Mekanis

Tabel 4.2 Spesifikasi Alat Pengayak Kompos


Besi Siku, UCP, UNP, Harus kuat menahan getaran mesin,
Rangka Hollow. Ketebalan: Min. terutama pada sambungan
3 mm
Agregat ukup halus, kompos agak basah
Screen 0.5 1 cm
masih bisa keluar
Disesuaikan dengan kemampuan biaya
Penggerak Manual, Mesin
operasional
Elektromotor, spesifikasi:
0.5 HP, 4 Pull, dengan Jika tersedia listrik min. 900 Watt
Mesin reducer gear 1:30
(jika digunakan) Engine, spesifikasi :
diesel 6 PK, dengan Jika tidak tersedia listrik
reducer gear 1:60
2 2.5 m2 Manual
Dimensi Total
3 4 m2 Elektromotor, Engine

Tata Cara Pilihan Teknologi 14


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB V
METODA PENGOMPOSAN SAMPAH

5.1 DASAR-DASAR PENGOMPOSAN

Sampah adalah sebagian dari sesuatu yang tidak terpakai, umumnya berasal dari kegiatan
manusia dan bersifat padat. Berdasarkan komposisi kimia, sampah dibedakan menjadi sampah
organik dan sampah anorganik. Hasil penelitian mengenai sampah padat di Indonesia
menunjukkan bahwa 80% diantaranya merupakan sampah organik dan diperkirakan 78% dari
sampah tersebut dapat digunakan kembali. Oleh karena itu, diperlukan suatu penanganan
khusus untuk mengolah sampah organik yang melimpah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Pada dasarnya, sampah organik seperti sisa-sisa makanan atau sampah dapur akan
mengalami pembusukan atau degradasi secara alami oleh mikroorganisme yang berlimpah di
alam. Hasil dari pembusukan atau degradasi tersebut berupa bahan seperti humus atau yang
lebih dikenal sebagai kompos. Oleh karena itu, pengomposan merupakan salah satu teknik
pengolahan sampah organik (hayati) yang mudah membusuk.

Pengomposan adalah penguraian bahan organik secara biologis, khususnya oleh


mikroorganisme yang memanfaatkan bahan organik tersebut sebagai sumber energi. Prinsip
dasar dalam membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alamiah agar
kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang
seimbang, pemberian air yang cukup, mengatur aerasi dan penambahan aktivator
pengomposan. Fungsi utama kompos adalah membantu memperbaiki sifat fisik, kimia dan
biologi tanah.
1. Sifat fisik kompos antara lain dapat menggemburkan tanah, penggunaan kompos pada
tanah akan meningkatkan jumlah rongga sehingga tanah menjadi gembur.
2. Sifat kimia tanah yang mampu dibenahi dengan menggunakan kompos adalah
meningkatkan Kapasitas tukar Kation pada tanah dan dapat meningkatkan kemampuan
tanah dalam menyimpan air
3. Sifat biologi tanah, kompos dapat meningkatkan populasi mikroorganisme dalam tanah

Tata Cara Pilihan Teknologi 15


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
5.2 BAHAN-BAHAN YANG DAPAT DIKOMPOSKAN

Tidak semua sampah dapat dikomposkan, hanya sampah organik yang bersumber dari
tanaman atau hewan yang dapat dikomposkan (tabel 5.1).

Tabel 5.1 Jenis-Jenis Sampah yang dapat Dikomposkan


Sampah sayur-sayuran, sampah dapur daun,
Sampah organik yang BISA kulit telur, limbah buah-buahan, serbuk katu
dikomposkan atau abu kayu, kotoran ternak (sapi,
kambing,unggas)
Produk susu, keju, yogurt, daging, ikan dan
tulang, minyak sayur, kulit salak, kulit kacang,
Sampah organik yang sebaiknya
kulit durian, kulit kelengkeng, klobot jagung, kulit
TIDAK dikomposkan
kelapa, kotoran (hewan dan manusia), kain
dan kertas
Sampah anorganik yang TIDAK Plastik, kaca, logam dan sampah B3
BISA dikomposkan

5.3 PENGOMPOSAN AEROB

Pengomposan aerob adalah proses dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses
penguraian sampah organik. Proses pengomposan terbagi menjadi dua tahap, yaitu tahap
aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-
senyawa yang mudah terurai akan segera dimanfaatkan oleh bakteri mesofilik.

Berikut gambaran umum proses pengomposan aerob :


1. Proses pembusukan sampah dimulai oleh bakteri mesofilik pada suhu lingkungan(30oC)
2. Dari proses ini dioksidasi menjadi CO2 yang menghasilkan panas
3. Dalam periode dua hari kemudian, suhu di dalam tumpukan sampah akan mencapai 45oC
yang merupakan batas suhu bakteri mesophilik dapat hidup
4. Kegiatan pembusukan digantikan oleh jenis bakteri thermophilik selama lebih kurang dua
minggu mendatang
5. Suhu tumpukan sampah terus naik sampai mencapi 65o-70oC, kegiatan mikroorganisme
akan turun akibat panas yang tinggi kemudian turun kembali ke suhu normal

Proses pembusukan sampah secara aerob sangat tergantung dari kondisi lingkungan yang baik
untuk kehidupan bakteri. Diperlukan udara dan kelembaban yang sesuai sebagai tambahan
dari bahan makanan yang sudah tersedia di dalam sampah.

Tata Cara Pilihan Teknologi 16


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Pengomposan aerob banyak diterapkan karena tidak menimbulkan bau, waktu pengomposan
lebih cepat, temperatur proses pembuatannya tinggi sehingga dapat membunuh bakteri
patogen dan telur cacing. Oleh karena itu, kompos yang dihasilkan lebih higienis.

5.3.1 PEMBUATAN KOMPOS SKALA RUMAH TANGGA DENGAN KERANJANG TAKAKURA

Pengomposan aerob skala rumah yang sangat terkenal dikalangan masyarakat adalah
pengomposan dengan keranjang takakura. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai
keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik dengan baik Pengompsan
ini sangat cocok untuk kondisi :
1. rumah tangga yang beranggotakan 4-7 orang karena keranjang yang digunakan
umumnya berukuran sekitar 40 cm x 25 cm x 70 cm
2. sampah rumah tangga yang diolah pada keranjang ini maksimal 1,5 kg per hari

Hal yang menarik dari metoda pengomposan ini adalah bentuknya yang praktis, bersih dan
tidak berbau, sehingga aman digunakan di rumah. Berikut adalah cara pembuatan keranjang
takakura :

Bahan utama yang dibutuhkan antara lain, bantal sekam, sampah organik dari rumah tangga,
kompos matang, keranjang plastik dan kerdus

Tabel 5.2 Proses Pembuatan Keranjang Takakura


Gambar Keterangan
Siapkan semua bahan yang dibutuhkan
Siapkan keranjang plastik dan masukkan kerdus untuk
melapisi keranjang. Atur posisi kerdus agar lebih rapih
Fungsi kerdus adalah untuk menghindari masuknya
serangga, mengatur kelembaban media, tekstur yang
berpori sehingga menyerap dan membuang udara
serta air

Letakan satu set bantal sekam ke dalam keranjang


Fungsi bantal sekam antara lain sebagai media
mikroba yang akan mempercepat pembusukan
sampah organik, memiliki rongga yang besar sehingga
dapat menyerap air dan bau sampah, sifar sekam
yang kering memudahkan pengontrolan kelemabban
sampah yang akan menjadi kompos

Tata Cara Pilihan Teknologi 17


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Media kompos dimasukkan ke dalam keranjang
sebanyak bagian kemudian masukan sampah
organik yang telah dipotong berukuran kecil
Media kompos berfungsi sebagai aktivator bagi
sampah organik yang akan dimasukkan

Kemudian tutup dengan bantal sekam kedua


berikutnya tutup keranjang dengan kain sebelum
ditutup dengan plastik

5.3.2 PEMBUATAN KOMPOS RUMAH TANGGA DENGAN BAK/TONG PLASTIK

Komposter adalah suatu wadah atau tempat untuk mengolah sampah organik. Pengomposan
dengan menggunakan komposter membutuhkan dua tong komposter per rumah untuk
menjaga proses pembuangan sampah tetap berjalan secara berkelanjutan. Proses pembuatan
kompos menggunakan komposter adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan tong komposter yang diberi lubang untuk sirkulasi udara
2. Kompos matang dimasukkan pada dasar tong dengan ketebalan sekitar 5cm. Kompos
matang ini berfungsi untuk membantu penyerapan air yang masih terbawa sampah
organik dari dapur atau sumber lain tidak dicampur dengan sampah anorganik
3. Sampah organik dari dapur atau sumber lain tidak dicampur dengan sampah anorganik
4. Sisa sayur mayur dikumpulkan dan dicacah hingga berukuran lebih dari 4 cm kemudian
dimasukkan ke dalam tong komposter
5. Untuk mengurangi bau yang mungkin timbul selama masa penguraian, setiap memasukkan
sampah baru dapat dimasukkan juga kompos matang dengan perbandingan 1:1 (gambar
5.1). Demikian seterusnya secara kontinyu sampai tong komposter penuh
6. Kompos yang sudah matang dan berbau humus dapat segera diaplikasikan pada
tanaman (gambar 5.2)

Tata Cara Pilihan Teknologi 18


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 5.1 Metoda Pengisian Sampah pada Tong Komposter

Gambar 5.2 Hasil Akhir Berupa Kompos yang Diaplikasi Pada Tanaman

Aerasi dilakukan dengan mengaduk setiap 3 (tiga) hari sekali atau paling lambat seminggu
sekali. Sampah didalam tong komposter akan mengalami penyusutan sehingga setiap tong
sampah dapat menampung sekitar 1,5 kali kapasitasnya. Setelah penuh, maka ditutup dan
didiamkan sampai sekitar sebulan dengan pengadukan sekali seminggu. Pengisian selanjutnya
dilakukan pada tong komposter yang kedua. Pada saat tong komposter kedua penuh,
diharapkan sampah di tong komposter pertama sudah seluruhnya menjadi kompos dan dapat
dilakukan pengosongan, demikian seterusnya. Berikut adalah diagram proses pengomposan
skala rumah tangga dengan tong/bak komposter sebagai berikut :

Tata Cara Pilihan Teknologi 19


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 5.3 Diagram Proses Pengomposan Rumah Tangga

5.3.3 KOMPOSTER RUMAH TANGGA (DITANAM)

Komposter ini adalah alat pengomposan sampah organik rumah tangga dengan
memanfaatkan tong bekas yang ditanam ke dalam tanah. Komposter ini dikembangkan oleh
Pusat Penelitian Pengembangan Permukiman (Puslitbangkim), Kementerian Pekerjaan Umum.

Lahan yang dibutuhkan untuk pemasangan komposter sebagai berikut :


1. lahan untuk komposter 2 m2
2. diameter galian bawah 800 mm
3. diameter galian atas 1.400 mm
4. kedalaman galian 900 mm
5. dasar komposter diletakkan minimum 30 cm di atas muka air tanah dan tutup
6. komposter di atas muka tanah setinggi 5 cm

Bahan yang digunakan dalam pembuatan komposter harus tahan korosi dan tahan terhadap
sinar matahari. Bahan tersebut terdiri dari :
1. Tong plastik berukuran 50 cm x 80 cm x 110 cm, berfungsi untuk menampung dan mengolah
sampah dapur
2. Pipa gas berfungsi menyalurkan gas hasil proses penguraian zat organik sehingga aman bagi
pemakai
3. Dop pipa
4. Kasa sebagai penghalang serangga agar tidak bersarang dalam kompos
Tata Cara Pilihan Teknologi 20
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
5. Tutup tong sebagai penutup agar proses pengomposan berjalan sempurna
6. Kerikil sebagai media pengering

Cara Pengoperasian Komposter :


1. Penyiapan sampah dapur
Simpan kantong plastik yang telah dilubangi kedua ujungnya di dalam ember, tiriskan air yang
terkandung pada sampah

2. Pemasukan sampah
a. Masukkan sampah yang sudah ditiriskan ke dalam komposter pertama (tanpa kantong
plastik) dan ratakan
b. Lakukan pemasukkan sampah secara rutin setiap hari sampai komposter penuh
c. Hentikan pemasukkan sampah dapur pada komposter pertama yang telah penuh,
ganti pemasukkan sampah ke komposter kedua

3. Pematangan kompos
a. Biarkan sampah selama 4-6 bulan agar terjadi proses pengomposan setelah komposter
pertama terisi penuh oleh sampah
b. Bila sampah telah berubah menjadi kompos yang ditandai dengan perubahan warna
menjadi hitam seperti tanah, keluarkan kompos tersebut dengan menggunakan garu,
sisakan kompos setebal 2 cm yang akan berfungsi sebagai starter untuk mempercepat
pengomposan selanjutnya
c. Kompos dianginkan selama 1 minggu untuk pendinginan di lokasi yang terhindar
daricurah hujan. Kompos tersebut dapat digunakan sebagai penggembur tanah
d. Selanjutnya komposter pertama dapat menampung kembali sampah dapur

4. Gambaran pemasangan komposter


a. Tanam dua buah komposter pada lokasi yang memungkinkan, hindari dari curahan air
hujan secara langsung masuk ke dalam komposter
b. Simpan kantong plastik yang telah dilubangi kedua ujung bagian bawah
c. Sampah dapur harian termasuk sisa hasil cucian piring ditampung pada ember yang
telah dilapisi plastik berlubang bagian bawahnya untuk mengalirkan air
d. Setelah sampah 1 hari tertampung, buang hasil tampungan ke komposter, air yang
tertampung tidak dimasukkan ke dalam komposter, lakukan secara rutin setiap hari
hingga komposter penuh
e. Biarkan komposter pertama yang telah penuh ditutup dan biarkan terjadi proses
pengomposan selama 4 6 bulan, operasional sampah pindah pada komposter ke 2
f. Keluarkan isi komposter jika telah berumur 4 - 6 bulan (kompos berwarna hitam &
gembur)
g. Kompos yang dihasilkan dianjurkan untuk kemudian dibuat pupuk
h. Komposter berkapasitas 100 L dapat menampung sampah dapur selama kurang lebih 7
bulan untuk 1 KK yang beranggotakan 5 orang, sedangkan 450 L untuk 10 KK

Tata Cara Pilihan Teknologi 21


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Berikut adalah cara pemasangan komposter :

Tabel 5.3 Contoh Pemasangan Komposter (ditanam)


Penggalian tanah
Tanah digali dengan diameter bawah 30
cm dan diameter atas 140 cm

Pemasangan kompsoter
Komposter diletakkan di tengah galian.
Di dasar galian, dipinggir dan di dalam
komposter diisi dengan kerikil setinggi 10
cm

Penimbun tanah
Tanah di timbunkan sampai mencapai 5
cm dibawah pipa udara. Selanjutnya
pasang pipa udara komposter. Selimuti
pipa gas dengan kerikil setebal 5 cm
baru di bawah lubang pemasukan
sampah

Tata Cara Pilihan Teknologi 22


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
5.4 PENGOMPOSAN SAMPAH SKALA KAWASAN

Selain dapat dilakukan dirumah, pengomposan juga dapat dilakukan secara terpusat pada
satu kawasan kecil setingkat Rukun Warga (RW) hingga skala kota. Pengomposan skala
kawasan dilakukan terpusat pada skala kapasitas antara 12 ton sampah per hari. Kawasan
yang dimaksud dapat berupa kawasan permukiman, pasar, komersial dan sebagainya. Jika
pada permukiman, maka pengomposan skala kawasan diperuntukkan untuk mengelola
sampah organik dari sekitar 100 rumah.

Tahapan pengomposan sampah adalah sebagai berikut:


1. Pengiriman dan penerimaan sampah.
Sampah dari setiap rumah/toko/pasar dan lain-lain dikumpulkan dan dibawa ke TPS 3R.
Sampah tidak langsung diproses pada area pengomposan, akan tetapi dibongkar di area
penerimaan.

2.Sortasi (Pemilahan) dan pencacahan sampahorganik.


Setelah sampah dibongkar diarea penerimaan, kemudian dibawa ke area pemilahan. Sortasi
(pemilahan) dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan sampah-sampah organik yang
merupakan bahan baku dalam proses pengomposan, dari sampah anorganik dan bahan-
bahan lain yang tidak dapat dikomposkan. Sampah yang datang di lokasi pengomposan
langsung dibawa ke pelataran sortir untuk pemisahan secara manual. Sortasi dilakukan
sesegera mungkin agar tidak terjadi penumpukan sampah yang menimbulkan bau.
a. Sampah organik yang berukuran besar dan berbentuk memanjang seperti ranting dan
batang pohon, terlebih dahulu dipotong-potong hingga mencapai ukuran lebih dari 5 cm
sehingga mudah dikomposkan
b. Sampah kebun atau pertanian, seperti cabang pohon dan ranting dipisahkan dari daun-
daunnya. Sedangkan sampah organik (bertekstur lunak) yang berukuran besar dengan
panjang dan lebar lebih dari 4 cm, perlu dilakukan pencacah dengan mesin pencacah
c. Sampah anorganik dikumpulkan dan dikemas untuk dijual kepengumpul barang bekas,
sedangkan sampah residu dikumpulkan dan dibawa ke TPS untuk diangkut ke TPA oleh
Dinas Kebersihan.

Tata Cara Pilihan Teknologi 23


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Berikut adalah diagram alir pada kegiatan sortasi sampah.

Gambar 4. Diagram Alir Proses Sortasi (Pemilahan)

3. Pengomposan
Bahan organik yang sudah terpilah kemudian masuk kedalam proses
pengomposan

Gambar 5.4 Diagram Alir Proses Sortasi (Pemilahan)

Tata Cara Pilihan Teknologi 24


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
.

Gambar 5.5 Diagram Alir Kegiatan Pengomposan Sampah

Tata Cara Pilihan Teknologi 25


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
5.4.1 PENGOMPOSAN DENGAN METODA LAJUR TERBUKA (OPEN WINDROW)

Pengomposan skala kawasan dengan metoda


lajur terbuka (open windrow) merupakan proses
pengomposan yang terbukti paling mudah
dilakukan dan dikendalikan. Metoda open
windrows yang telah dikembangkan oleh BPPT
dan UDPK bahkan tidak menggunakan
pencacahan secara mekanik dan tidak juga
menggunakan aktivator. Pengendalian udara
didalam tumpukan windrows dilakukan dengan
memindahkan tumpukan ke tempat lain
Gambar 5.6 Pengomposan dengan (sebelah) sehingga disebut juga dengan open
metoda Open Windrow windrow bergulir. Proses pengomposan
memerlukan waktu selama 6 minggu.

Ketentuan Kapasitas Pengomposan


Menentukan kapasitas pengomposan perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai
berikut :
1. Metoda UDPK menentukan bahwa ukuran tumpukan sampah yang ideal adalah tinggi (T)
maksimum : 1.5 m, lebar (L) maksimum : 1.75 m dan panjang (P) maksimum : 2 m
(tergantung luas lahan yang tersedia)
2. Jumlah sampah yang dapat dikomposkan adalah 60-70% sampah organik
3. Volume setiap tumpukan sampah adalah V m 3 (V = P x L x T)
4. Jumlah volume seluruh tumpukan = A m3
A = n x V, dimana n = jumlah tumpukan. Tetapi dalam menentukan jumlah maksimum
tumpukan, harus ada jarak minimal 1.5 m antara tumpukan memanjang. Jarak antara
tumpukan tersebut memungkinkan para pekerja memonitor suhu dan memudahkan
pembalikan sampah
5. Kebutuhan minimum pasokan sampah selama 60 hari proses
6. Pasokan sampah perhari = P/60
7. Perhitungan hasil produksi
Mengingat penyusutan bahan organik yang terjadi selama proses pengomposan adalah
75% (berat), maka jumlah hasil akhir kompos adalah 25% dari jumlah tumpukan awal.

Langkah-Langkah Pengerjaan Pengomposan Secara Open Windrow meliputi :


a. Pemilahan Sampah
1. Dilakukan pemilahan pada sampah yang masuk dengan membagi sampah menjadi :
1.1 Sampah organik yang dapat dikomposkan
- Sampah yang tidak dapat dikomposkan
- Barang berbahaya
- Residu
- Barang Lapak
2. Jual barang lapak ke pemulung atau bandar lapak

Tata Cara Pilihan Teknologi 26


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3. Jika ada insinerator di sebelah area pengomposan, bakarlah residu. Buang sisa
pembakaran dan barang berbahaya yang dibungkus dalam wadah tersendiri
4. Jika tidak ada insinerator, bungkus barang berbahaya dalam kantong tersendiri kemudian
dibuang bersama residu ke TPA

b. Penumpukan Bahan Kompos


1. Lakukan penumpukan sampah organik (hasil pemilahan) yang dapat dikomposkan di atas
aerator bambu dengan ukuran yang sesuai
2. Lakukan penyiraman setiap mencapai ketebalan 30 cm, agar kelembaban merata

c. Pengukuran Suhu dan Kelembaban


1. Lakukan pengukuran suhu dengan termometer alkohol pertama kali setelah penumpukan
berumur 2-4 hari untuk mendapatkan suhu tumpukan > 65 C
2. Setelah itu, setiap 2-4 hari lakukan pengukuran suhu tumpukan pada sekitar 5 lubang
dengan suhu rata-rata yang diinginkan selama proses sesuai ketentuan. Cara mengukur
suhu adalah lubang/tusuk sisi-sisi tumpukan (sekitar 5 lubang) dengan kedalaman alat
bantu berupa sebatang besi atau kayu keras. Kedalaman lubang adalah 2/3 tinggi dari
tebal tumpukan. Masukkan termometer tersebut, lalu lubang ditutup kembali, sehingga
yang terlihat tali pengikat termometer. Setelah 1-2 menit termometer dicabut dengan
menarik talinya, lalu secepatnya dibaca suhunya pada termometer, agar tidak dipengaruhi
suhu lingkungan.

Tata Cara Pilihan Teknologi 27


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3. Lakukan pengukuran kelembaban tumpukan pada saat yang sama dengan pengukuran
suhu. Kelembaban tumpukan yang diinginkan sekitar 50 %. Cara mengukur kelembaban
bahan tumpukan adalah dari bagian dalam, kemudian remas dengan kepalan tangan
- Jika air remasan mengalir cukup banyak dari sela-sela jari, berarti tumpukan tersebut ter
lalu lembab atau di atas > 50%.

- Jika air remasan tidak keluar dari sela jari, berar ti tumpukan tersebut terlalu kering atau
kelembaban di bawah < 50 %.

- Jika air remasan menetes dari sela-sela jari, berarti tumpukan tersebut mempunyai
kelembaban sesuai yang dibutuhkan.

4. Perlakukan Pada Proses Pelapukan


Berikan perlakukan berikut sesuai hasil pengukuran suhu dan ketembaban yaitu:
a. Jika suhu dan kelembaban tumpukan selama proses sesuai dengan ketentuan yaitu sekitar
45C60 C dan kelembaban 50 % maka pembalikan dapat dilakukan seminggu sekali
bersamaan dengan perlakuan penyiraman. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.

Tata Cara Pilihan Teknologi 28


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
b. Jika suhu tumpukan < 45C atau 60 C, maka lakukan pembalikan. Cara melakukan
pembalikan :
- Pembalikan ganda : bongkar tumpukan di sekeliling terowongan bambu, lalu susun
kembali ketempatnya semula menjadi tumpukan.

- Pembalikan tunggal : bongkar tumpukan dengan langsung memindahkannya ke


tempat baru di sebelahnya.

c. Jika kelembaban tumpukan di atas yaitu > 50 % (basah), maka lakukan pembalikan pada
tumpukan tanpa penyiraman

Tata Cara Pilihan Teknologi 29


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
d. Jika kelembaban tumpukan kurang, lakukan penyiraman, baik pada saat pembalikan atau
secara langsung di atas tumpukan.

Prasarana dan Sarana Pengomposan Dengan Lajur Terbuka (Open Windrows)


Peralatan yang dibutuhkan
Jenis peralatan yang dibutuhkan untuk pengomposan lajur terbuka adalah :
1. Alat pengomposan manual.
a. Garu, alat untuk membentuk dan membalik tumpukan sampah
b. Sekop, untuk proses pengayakan dan pengemasan
c. Pompa air dan perpipaan untuk penyiraman
d. Gerobak dorong untuk mengangkut sampah dan kompos
e. Timbangan
f. Termomoter kompos
g. Pakaian kerja
h. Alat Pencacah(Bila diperlukan)
i. Alat pengemas kompos
j. Alat pengayak kompos, manual atau mekanis.
2. Gerobak sampah untuk mengambil sampah dari sumbernya
3. Instalasi penampung lindi
4. Instalasi listrik
5. Kontainer residu sampah

Area yang dibutuhkan


Jenis prasarana ruangan yang dibutuhkan untuk pengomposan lajur terbuka adalah :
Ruang beratap tanpa dinding atau dinding setengah :
1. Ruang Pemilahan
2. Ruang Pengomposan
3. Ruang Pematangan

Ruang beratap tertutup dengan dinding :


1. Ruang Gudang
2. Ruang Peralatan
3. Ruang kantor dan toilet

Tata Cara Pilihan Teknologi 30


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Ketentuan Peletakan Pengomposan Open Windrow adalah sebagai berikut :

Penyaringan/Pengemasan
15%
Area
Pengomposan
50 60 %

Gudang : 10 %

Toilet/WC

Area Pemilahan 10 %

Kantor 5%

Area Penumpukan
Residu 5%
Lapak Material 15%

Gambar 5.7 Desain Peletakan Pengomposan Open Windrow

Tata Cara Pilihan Teknologi 31


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 5.8 Tampak Depan dan Tampak Samping Design Bangunan TPS 3R Sistem Lajur Terbuka (Open windrow)

Estimasi area yang lebih tepat dapat dihitung lebih rinci. Area yang terpenting pada proses pengomposan lajur terbuka adalah
area pengomposan. Area ini harus dapat menampung dan memproses sampah untuk jangka waktu 6 minggu.

Tata Cara Pilihan Teknologi 32


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Untuk modul 200 KK dengan asumsi 5 jiwa/KK dapat dilihat pada Tabel 5.4

Tabel 5.4 Perkiraan area untuk pengomposan lajur terbuka untuk modul 200 KK
Keterangan Unit Sistem
Jumlah sampah organik per minggu m 3 Cetak
10.64
Faktor kehilangan volume 0.50
Lama pengomposan minggu 6.00
Karakteristik windrow
Panjang m 5.00
Lebar m 2.50
Tinggi m 1.50
Jarak antar lajur m 1.00
Volume per lajur m 3 9.38
Kebutuhan lajur lajur 6.81
Area per lajur m 2 17.50

Area Pengomposan m2 119.20


Faktor Keamanan 10 % m2 131.12
Dibulatkan m2 132.00

Pembiayaan
Dana yang dibutuhkan untuk investasi dan operasi pemeliharaan sangat tergantung dari
proses pengomposan dan kapasitas pengomposan. Dari pengalaman yang sudah dilakukan,
untuk pengomposan skala kawasan skala satu Rukun Warga (200 KK) dibutuhkan setidaknya 5
orang pegawai yang diperlukan untuk pemilahan sampah, pembuatan tumpukan,
pembalikan dan penyiraman serta pengayakan dan pengemasan.

5.4.2 PENGOMPOSAN SKALA KAWASAN DENGAN METODA CETAKAN (CASPARY)

Proses pengomposan skala kawasan dengan metoda cetakan merupakan proses


pengomposan dengan menggunakan alat cetak untuk membantuk sampah dalam bentuk
kubus. Proses pengomposan sampah dengan sistem cetakan ini digunakan jika lahan yang
ada tidak terlalu luas. Proses pengomposan dengan sistem cetak lebih agak rumit
dibandingkan dengan metoda jalur terbuka karena membutuhkan alat cetak. Sifat
tumpukan sampah juga lebih padat dibandingkan lajur terbuka sehingga udara yang
terperangkap pada tumpukan sampah menjadi lebih sedikit.

Tata Cara Pilihan Teknologi 33


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 5.9 Pengomposan Dengan
Metoda Cetakan Metoda Cetak

Pembentukan Tumpukan

Alur proses pengomposan dengan sistem cetak tidak terlalu berbeda dengan sistem open
windrows. Hal yang secara prinsip berbeda adalah pada saat membentuk tumpukan sampah
untuk proses pengomposan selanjutnya.

Sampah organik yang sudah terpilah dibawa kearea pengomposan. Pada area pengomposan
disiapkan alat pencetak yang terbuat dari papan. Ukuran baku untuk alat pencetak memang
belum ditentukan, akan tetapi sebagai dasar perhitungan dapat digunakan dimensi alat cetak
lebar 1 meter, panjang 2 meter dan tinggi 0,5 meter (gambar 5.9).

Tata Cara Pilihan Teknologi 34


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 5.10 Desain Teknis Cetakan Kompos

Pencetakan sampah dilakukan dengan memasukkan sampah organik kedalam kotak cetakan.
Secara manual sampah dalam cetakan dipadatkan, setelah itu kotak cetakan diangkat maka
terbentuklah tumpukan sampah yang sudah tercetak. Tumpukan yang sudah terbentuk diberi
tanda atau label yang berisi informasi mengenai waktu pembentukan tumpukan.

Pencetakan sampah dilakukan dengan memasukkan sampah organik kedalam kotak cetakan.
Secara manual sampah dalam cetakan dipadatkan, setelah itu kotak cetakan diangkat maka
terbentuklah tumpukan sampah yang sudah tercetak. Tumpukan yang sudah terbentuk diberi
tanda atau label yang berisi informasi mengenai waktu pembentukan tumpukan.

Gambar 5.11 Pencetakan Sampah Secara Manual

Tata Cara Pilihan Teknologi 35


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Secara berkala, tumpukan sampah dibalik 1 atau 2 kali seminggu secara manual. Pembalikan
tumpukan dapat dilakukan dengan memindahkan tumpukan yang sudah tercetak kedalam
kotak cetakkan berikutnya dan demikian seterusnya. Waktu pembalikan dicatat dan tumpukan
yang sudah dilakukan pembalikan diberi tanda tanggal pembalikan. Proses pembalikan
memang agak rumit dibandingkan sistem lajur terbuka.

Prasarana dan Sarana Pengomposan Dengan Sistem Cetak


Jenis peralatan yang dibutuhkan untuk pengomposan sistem cetak adalah:
1. Alat pengomposan manual
a. Garu, alat untuk membentuk dan membalik tumpukan sampah
b. Kotak cetakan sampah
c. Skop, untuk proses pengayakan
d. Pompa air dan pemipaan untuk penyiraman
e. Gerobak dorong untuk mengangkut sampah dan kompos
f. Timbangan
g. Termomoter kompos
h. Pakaian kerja
i. Alat pengemas kompos
j. Alat pengayak kompos,manual atau mekanis
2. Gerobak sampah untuk mengambil sampah dari sumbernya
3. Instalasi penampung air lindi
4. Instalasi listrik
5. Kontainer residu sampah

Area yang dibutuhkan

Jenis prasarana ruangan yang dibutuhkan untuk pengomposan sistem cetak hampir sama
dengan instalasi pengolahan sampah lajur terbuka (open windrow), yang berbeda hanya
pada luasan area pengomposan.

Estimasi area yang lebih tepat dapat dihitung lebih rinci. Area yang terpenting pada proses
pengomposan cetakan adalah area pengomposan. Area ini harus dapat menampung dan
memroses sampah untuk jangka waktu 6 minggu. Untuk modul 200 kepala keluarga dengan
asumsi 5 jiwa per kepala keluarga dapat dilihat pada tabel 5.5.

Tata Cara Pilihan Teknologi 36


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tabel 5.5 Perkiraan area untuk Pengomposan Sistem Cetak untuk modul 200 KK
Unit Sistem Cetak
Jumlah sampah per minggu m3 10.64
Faktor kehilangan volume 0.50
Kerapatan Sampah dalam cetakkan ton/m3 0.40
Lama pengkomposan minggu 6.00
Dimensi Cetakan
Panjang m 2.00
Lebar m 1.00
Tinggi m 0.50
Jarak antar cetakan m 0.50
Volume per cetakan m 3 1.00
Kebutuhan cetakan cetakan 26.00
Area per cetakan m2 3.00
Area Pengomposan m 2 78.00
Area pengomposan total (faktor keamanan 10%) m2 85.80

Denah tapak untuk pengomposan sampah dengan sistem cetak sama dengan
pengomposan sampah untuk lajur terbuka (open windrow) yang berbeda hanya
luasan area pengomposan.

Pendanaan

Dana yang dibutuhkan untuk investasi dan operasi pemeliharaan sangat tergantung
dari proses pengomposan dan kapasitas pengomposan. Dari pengalaman yang
sudah dilakukan, untuk pengomposan skala kawasan skala satu Rukun Warga (200 kk)
dibutuhkan setidaknya 5 orang pegawai yang diperlukan untuk pemilahan
sampah, pembuatan tumpukan, pembalikan dan penyiraman serta pengayakan
dan pengemasan.

5.4.3 PENGOMPOSAN SKALA RUMAH TANGGA DENGAN SISTEM BAK TERBUKA


(OPEN BIN)

Selain dirumah pengomposan juga dapat dilakukan secara terpusat pada satu
kawasan kecil setingkat Rukun Warga (RW) sampai skala kota. Pengomposan skala
kawasan dilakukan terpusat pada skala kapasitas antara 1-2 ton sampah per hari.
Kawasan disini dapat berupa kawasan permukiman, pasar, komersial dan sebagainya.
Jika pada skala permukiman, maka pengomposan skala kawasan diperuntukkan untuk
mengelola sampah organik dari sekitar 1.000 sampai 2.000 jiwa

Tata Cara Pilihan Teknologi 37


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 5.12 Pengomposan Bak Terbuka

Proses Pengomposan

Proses pengomposan skala kawasan dengan sistem bak terbuka merupakan proses
pengomposan dengan menggunakan bak-bak terbuka dimana sampah tidak perlu dibentuk
akan tetapi cukup dimasukkan kedalam bak. Sampah organik dimasukkan pada bak terbuka
sampai penuh sambil dipadatkan dan disiram. Setelah bak terisi penuh, pengisian dapat
dilanjutkan ke bak berikutnya. Sistem ini sangat sederhana dan lokasi dapat diatur lebih bersih
karena proses pengomposan dilakukan didalam bak

Pembalikan dapat dilakukan tetap didalam bak dengan alat pembalik atau dengan cara
sampah dipindahkan ke bak berikutnya. Sistem pengudaraan pada bak terbuka sedikit
terbatas karena adanya dinding bak meskipun sudah diberikan lubang ventilasi. Pengomposan
dengan bak terbuka ini cenderung lebih lama, pada beberapa kasus lama pengomposan
dapat mencapai 2 bulan.

Gambar 5.13 Pemasukan sampah dan penyiraman

Tata Cara Pilihan Teknologi 38


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 5.14 Desain Teknis Bak Komposter Terbuka

Tata Cara Pilihan Teknologi 39


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tumpukan yang sudah terbentuk diberitanda atau label yang berisiin formasi mengenai waktu pembentukan tumpukan.

Gambar 5.15 Susunan Bak Terbuka

Tata Cara Pilihan Teknologi 40


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Peralatan yang dibutuhkan untuk pengomposan sistem cetak adalah :
1. Alat pengomposan manual
a. Garu, alat untuk membentuk dan membalik tumpukan sampah
b. Bak komposter
c. Skop,untuk proses pengayakan dan pengemasan
d. Pompa air dan pemipaan untuk penyiraman
e. Gerobak dorong untuk mengangkut sampah dan kompos
f. Timbangan
g. Termomoter kompos
h. Pakaian kerja
i. Alat Pencacah (Jika diperlukan)
j. Alat pengemas kompos
k. Alat pengayak kompos, manual atau mekanis.
2. Bak, Ukuran bak minim adalah panjang 1 m, lebar 1 m dan tinggi 1 m
3. Gerobak sampah untuk mengambil sampah dari sumbernya
4. Instalasi penampung lindi
5. Instalasi listrik
6. Kontainer residu sampah

Area yang dibutuhkan

Jenis prasarana ruangan yang dibutuhkan untuk pengomposan sistem cetak hampir sama
dengan instalasi pengolahan sampah lajur terbuka (open windrows), yang berbeda hanya
pada luasan area pengomposan.

Estimasi area yang lebih tepat dapat dihitung lebih rinci. Area yang terpenting pada proses
pengomposan cetakan adalah area pengomposan. Area ini harus dapat menampung dan
memroses sampah untuk jangka waktu 6 minggu.

Untuk modul 200 kepala keluarga (KK) dengan asumsi 5 jiwa perkepala keluarga dapat dilihat
pada tabel 5.6.

Tata Cara Pilihan Teknologi 41


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tabel 5.6 Perkiraan Area untuk Pengomposan Sistem Bak Terbuka untuk modul 200 KK
Unit Cetakan

Jumlah sampah per minggu m3 10.64

Faktor kehilangan volume 0.50

Kerapatan Sampah dalam cetakkan ton/m3 0.40

Lama pengkomposan minggu 8.00

Dimensi Bak Komposter

Panjang m 1.00

Lebar m 1.00

Tinggi m 1.00

Jarak antar Bak Komposter m 0.10

Volume per Bak Komposter m3 1.00

Kebutuhan Bak Komposter Bak 43.00

Area per Bak Komposter m2 1.10

Area mobilisasi m2 10.00

Area Pengomposan m2 63

Berikut adalah perkiraan biaya investasi untuk pengomposan dengan sistem bak terbuka.

Tata Cara Pilihan Teknologi 42


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tabel 5.7 Perkiraan Biaya Investasi
Unit Satuan Harga/Unit Harga (Rp) Total (Rp)
Peralatan 63.500.000,-
Compos screening 1 Unit 5.000.000 5.000.000
Gerobak dorong 1 Unit 500.000 500.000
Timbangan duduk 1 Unit 3.000.000 3.000.000
Alat bantu pembalikan 1 Unit 2.000.000 2.000.000
heap
Pakaian Lapangan 20 Unit 200.000 4.000.000
Pompa air dan instalasinya 1 Unit 5.000.000 5.000.000
Instalasi listrik 1 Unit 1.000.000 1.000.000
Bak terbuka 43 Unit 1.000.000 43.000.000

Ruang Beratap terbuka 144.545.000,-


Ruang sortasi 20 m2 1.000.000 20.000.000
Ruang pengomposan 63 m2 1.500.000 94.545.000
Ruang pengudaraan 30 m2 1.000.000 30.000.000

Ruang tertutup 60.000.000,-


Ruang gudang 20 m2 1.000.000 20.000.000
Ruang alat 20 m2 1.000.000 20.000.000
Kantor 20 m2 1.000.000 20.000.000

TOTAL 268.045.000,-

5.4.4 PENGOMPOSAN DENGAN METODA TAKAKURA SUSUN

Komposting ini dilakukan dengan melakukan penimbunan terhadap sampah organik ke dalam
keranjang berongga. Penggunaan keranjang berongga (keranjang buah) dimaksudkan untuk
keperluan aerasi (sirkulasi udara). Keranjang dapat terbuat dari plastik atau bambu) apapun
model keranjang yang terpenting adalah keranjang tersebut berlubang. Ukuran keranjangn
takakura P = 60 cm, L = 43 cm dan T = 30 cm (ukuran bisa disesuaikan).

Berikut adalah alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat takakura susun antara lain :
Sampah sebanyak 61,2 kg
Mikroorganisme padat 14 kg
Karung Glangsing 6 buah
Keranjang 6 buah (keranjang yang berlubang)
Kaset dari sabut kelapa 36 buah
Pupuk kompos secukupnya
Sprayer 1 buah
Termometer 2 buah
Garu kecil 1 buah
Sekop 1 buah

Tata Cara Pilihan Teknologi 43


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Pisau besar 1 buah
Sarung tangan 4 pasang
Gunting 1 buah

Langkah Pembuatan Takakura Susun :


Karung glangsing dipasang pada lapisan dalam keranjang
Sampah organik dicacah dengan ukuran 2-4 cm
Siapkan mikroorganisme padat yang terbuat dari campuran bekatul, sekam padi, kompos
dan air, kemudian sebar sampah yang akan dikomposkan diatasnya
Lapisi sampah organik dengan mikroorganisme padat (perbandingan 1:1)
Campur sampah organik dengan mikroorganisme padat melalui pengadukan secara
merata
Masukkan hasil campuran tersebut kedalam keranjang
Lakukan tahap tersebut hingga sampah organik tidak tersisa, gunakan beberapa keranjang
apabila jumlah sampah cukup banya
Susun keranjang wadah pengomposan se hingga dapat menghemat tempat
Tutup keranjang paling atas dengan keset yang terbuat dari sabut kelapa
Lakukan pengadukan maksimal satu minggu sekali, apabila terlalu kering siram dengan air
secukupnya hingga merata. Kemudian lakukan pengadukan untuk mencampur larutan air
dengan materi organik yang dikomposkan
Waktu pemanenan berkisar 7-8 minggu
Apabila waktu sudah mencapai 7-8 minggu, kompos dikeluarkan kemudian diangin-
anginkan selama 1 minggu
Pada saat pemanenan sebaiknya dilakukan pengayakan untuk memperoleh kompos yang
halus, materi yang kasar bisa dimasukkan kembali ke dalam keranjang untuk dilakukan
proses pengomposan berikutnya
Pupuk kompos siap dimanfaatkan

Berikut adalah cara pembuatan takakura susun :

Pencacahan sampah secara manual atau Pembuatan mikroorganisme padat dari


dapat pula menggunakan alat pencacah campuran bekatul, sekam padi, kompos dan
bertenaga listrik ataupun diesel air

Tata Cara Pilihan Teknologi 44


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Proses memasukkan sampah organik yang telah
Proses pencampuran mikroorganisme padat
dicampur dengan mikroorganisme padat
dengan sampah organik hingga merata
menggunakan sekop atau cangkul kedalam
keranjang yang telah dilapisi glangsing

Susun keranjang yang telah penuh dengan Tutup/lapisi keranjang paling atas dengan
campuran sampah organik dan keset yang terbuat dari sabut kelapa
mikroorganisme padat. Tinggi susunan
secukupnya, disesuaikan dengan luas dan
lokasi pengomposan

Sumber : Christianto Pusdakota Ubaya (Surabaya, 2005)

Tata Cara Pilihan Teknologi 45


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
5.5 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODA PENGOMPOSAN

Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya mengenai metoda pengomposan aerob pada skala


kawasan, berikut adalah kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing metoda
pengomposan aerob skala kawasan.

Tabel 5.8 Kelebihan & Kekurangan Metoda Pengomposan


Metoda Kelebihan Kekurangan
1. Sampah tidak terlihat dari luar 1. Padat moda
Bak Terbuka 2. Areal pengomposan terlihat rapih 2. Tinggi kotak terbatas
(Open Bin) 3. Volume sampah yang terolah 3. Penggunaan terbatas
sama
1. Modal lebih ringan dibandingkan 1. Volume sampah tercetak
metoda Open bin sama untuk setiap tumpukan
2. Tumpukan sampah dapat 2. Tumpukan sampah rentan
mencapai tinggi optimal, yaitu terhadap tiupan angin
Lajur Terbuka
1,5 m 3. Tumpukan sampah mudah
(Open Windrow)
3. Penggunaan lahan fleksibel rubuh
4. Proses pembalikan lebih mudah
dibanding metoda open bin dan
caspary
1. Tumpukan sampah terlihat rapih 1. Proses pembalikan kompos
2. Volume sampah tercetak lebih lebih rumit dari Open bin atau
Cetakan banyak dan seragam Open windrow
(Caspary) 3. Tumpukan sampah tidak mudah
runtuh dan tahan terhadap
tiupan angin
1. Hemat lahan 1. Biaya investasi cukup tinngi
2. Proses komposting berlangsung 2. Membutuhkan banyak
cepat pekerja
Takakura susun
3. Proses rapih dan sangat 3. Monitoring kompleks, sebab
terstruktur tiap-tiap kotak takakura perlu
dilakukan monitoring

Tata Cara Pilihan Teknologi 46


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
LAMPIRAN
ALTERNATIF PENGOLAHAN SAMPAH
SECARA ANAEROB

Tata Cara Pilihan Teknologi 47


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pilihan Teknologi 48
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
1. SISTEM KOMUNAL INSTALASI PENGOLAHAN
ANAEROBIIK SAMPAH (SIKIPAS)

Tata Cara Pilihan Teknologi 49


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pilihan Teknologi 50
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB I
PENGENALAN MODUL SIKIPAS

Modul SIKIPAS adalah singkatan dari Sistem Komunal Instalasi Pengolahan Anaerobik Sampah
yang merupakan modul pengolahan sampah dengan proses anaerobik dan diperuntukan
untuk penanganan sampah komunal.

1.1 PENGOLAHAN SAMPAH PROSES ANAEROBIK

Proses pengolahan secara anaerobik terjadi karena adanya aktivitas mikroorganisme dalam
keadaan tidak ada oksigen bebas. Senyawa berbentuk anorganik atau organik pekat yang
umumnya berasal dari industri, sukar atau lambat sekali untuk diolah secara aerobik. Oleh
karena itu, pengolahan dilakukan secara anaerobik. Hasil akhir pengolahan secara anaerobik
adalah kabron dioksida (CO2) dan dan metana (CH4). Tahapan yang terjadi dalam proses
anaerobik adalah :
1. Fermentasi dalam kondisi asam
2. Regressi dalam kondisiasam
3. Fermentasi dalam kondisibasa

Prinsip proses pengolahan secara anaerobik adalah menghilangkan atau mendegradasi


bahan karbon organik dalam limbah cair atau sludge. Keuntungan proses secara anaerobik
antara lain :
1. tidak membutuhkan energi untuk aerasi
2. lumpur atau sludge yang dihasilkan sedikit
3. polutan yang berupa bahan organik (misalnya: polisakarida, protein dan lemak) hampir
semuanya dikonversi ke bentuk gas metana (gas bio) yang memiliki nilai kalor cukup tinggi

Salah satu keuntungan lain dari proses anaerobik adalah menghasilkan gas metana atau yang
biasa disebut gas bio sebagai produk akhir yang mempunyai nilai ekonomis. Gas bio sebagian
besar mengandung gas metana (CH 4) dan karbon dioksida (CO2) serta beberapa kandungan
yang jumlahnya kecil diantaranya hidrogen sulfida (H 2S), ammonia (NH3), hidrogen (H2) dan
nitrogen yang kandungannya sangat kecil.

Sedangkan kelemahan proses pengolahan cara anaerobik adalah pada kemampuan


pertumbuhan bakteri metana yang sangat rendah, sehingga membutuhkan waktu yang lebih
panjang antara dua hingga lima hari untuk penggandaannya, sehingga diperlukan reaktor
yang bervolume cukup besar.

Tata Cara Pilihan Teknologi 51


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Faktor yang mempengaruhi proses anaerob antara lain :
1. Temperatur
Temperatur yang optimal untuk digester adalah pada temperatur 30-35 oC, temperatur ini
mengkombinasikan kondisi terbaik untuk pertumbuhan bakteri dan produksi methana di
dalam digester dengan lama proses yang pendek.
2. Ketersediaan unsur hara
Bakteri anaerobik membutuhkan nutrisi sebagai sumber energi yang mengandung nitrogen,
fosfor, magnesium, sodium, mangan, kalsium dan kobalt. Level nutrisi harus sekurangnya
lebih dari konsentrasi optimum yang dibutuhkan oleh bakteri metanogenik, karena apabila
terjadi kekurangan nutrisi akan menghambat pertumbuhan bakteri.
3. Waktu detensi proses
Setiap bahan mempunyai karakteristik waktu detensi proses tertentu. Oleh karena itu, proses
harus didesain untuk mencukupi hanya hari terbaik dari produksi dan setelah itu lumpur sisa
proses dapat dikeluarkan atau dipindahkan ke modul selanjutnya. Apabila terlalu banyak
volume bahan yang dimasukan maka lama pengisian akan semakin singkat. Bahkan akan
terdorong keluar sedangkan gas masih diproduksi dalam jumlah yang cukup banyak.

1.2 GAS BIO DAN MANFAATNYA

Biogas atau gas bio adalah gas yang dihasilkan dari proses anaerobik, dimana proses
penguraian bahan-bahan organik dilakukan oleh mikroorganisme pada kondisi ketiadaan
oksigen (anaerob). Komponen biogas antara lain, 60 % CH 4 (metana), 38 % CO2 (karbon
dioksida) dan 2 % N2, O2, H2, & H2S. Gas bio dapat dibakar seperti elpiji dan dalam skala besar
gas bio dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik, sehingga dapat dijadikan sumber
energi alternatif yang ramah lingkungan dan terbarukan. Sumber energi gas bio banyak
terdapat pada kotoran ternak sapi, kerbau, babi dan kuda. Berikut adalah salah satu model
instalasi biogas (gambar 1.1)

Gambar 1.1 Contoh proses pemanfaatan Gas bio dari kotoran ternak
Tata Cara Pilihan Teknologi 52
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gas bio dapat dimanfaatkan untuk mengisi kekurangan atau mensubstitusi sumber energi
alternatif sebagai bahan bakar keperluan rumah tangga, terutama untuk memasak dan lampu
penerangan. Selain itu dapat digunakan untuk menjalankan generator untuk menghasilkan
listrik dan menggerakan motor bakar. Gas bio mengandung berbagai macam zat, baik yang
terbakar maupun yang dapat dibakar. Zat yang tidak dapat dibakar merupakan kendala yang
dapat mengurangi mutu pembakaran gas tersebut. Gas bio lebih ramah lingkungan
dibandingkan dengan minyak tanah karena gas bio memiliki rantai karbon yang lebih pendek
sehingga gas CO yang dihasilkan relatif lebih sedikit.

Energi yang terkandung dalam gas bio tergantung dari konsentrasi metana (CH 4). Semakin
tinggi kandungan metana maka semakin besar kandungan energi (nilai kalor) pada gas bio,
dan sebaliknya semakin kecil kandungan metana semakin kecil nilai kalor.
Kualitas gas bio dapat ditingkatkan dengan memperlakukan beberapa parameter yaitu:
Menghilangkan hidrogen sulphur, kandungan air dan karbon dioksida (CO2). Hidrogen sulphur
mengandung racun dan zat yang menyebabkan korosi, bila gas bio mengandung senyawa ini
maka akan menyebabkan gasyang berbahaya sehingga konsentrasi yang di ijinkan maksimal 5
ppm. Bila gas dibakar maka hidrogen sulphur akan lebih berbahaya karena akan membentuk
senyawa baru bersama-sama oksigen, yaitu sulfur dioksida dan sulfur trioksida (SO 2/SO3).
senyawa ini lebih beracun. Pada saat yang sama akan membentuk asam sulfat (H 2SO3) suatu
senyawa yang lebih korosif. Parameter yang kedua adalah menghilangkan kandungan karbon
dioksida yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas, sehingga gas dapat digunakan
untuk bahan bakar kendaraan. Kandungan air dalam gas bio akan menurunkan titik penyalaan
gas bio serta dapat menimbukan korosif.

1.3 PEMAHAMAN MODUL SIKIPAS

Modul SIKIPAS ialah SIstem Komunal Instalasi Pengolahan Anaerobik Sampah yang
dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dalam
upayanya meningkatkan kinerja TPS 3R (Sumber : Direktorat Pengembangan Penyehatan
Lingkungan Permukiman, 2013). Modul SIKIPAS dibuat untuk melengkapi jenis infrastruktur pada
TPS 3R di Indonesia, terdiri atas proses pengolahan sampah organik menjadi gas bio, kompos
padat, dan kompos cair. Gas bio yang terbentuk dari proses pengolahan sampah organik
secara anaerob pada Modul SIKIPAS berperan sebagai sumber energi alternatif (panas) atau
dapat dikonversi langsung menjadi listrik.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, dengan menggunakan skema
proses secara anaerobik (lihat gambar 1.1), maka diperoleh spesifikasi proses dengan tampilan
sebagai berikut.

Tata Cara Pilihan Teknologi 53


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar1.2 Skema Proses Modul SIKIPAS
(Sumber : Direktorat PPLP, 2012)

Dalam prosesnya, sampah organik tercacah dimasukkan ke dalam unit penampungan sampah
dimana di dalamnya terjadi proses anaerobik selama 20 hari kemudian dilanjutkan dengan
proses aerobik selama 20 hari. Dari proses tersebut dihasilkan kompos padat dan kompos cair
(lindi) yang dapat terpisah dengan sendirinya secara gravitasi. Untuk kompos padat dapat
langsung di produksi sedangkan untuk kompos cair (lindi) dilanjutkan dalam unit pengumpul air
lindi. Dalam unit pengumpul air lindi, pH lindi disesuaikan menjadi 6,5-7,5 dan dilanjutkan dalam
unit penghasil gas bio. Dalam unit inilah dihasilkan fasa lainya yaitu fasa gas yang disebut Gas
bio. Dimana lindi yang dihasilkan masuk ke dalam unit resirkulasi air lindi dan dapat langsung
diproduksi, sedangkan gas bio masuk ke dalam unit pembangkit listrik yang dilengkapi dengan
unit pengukur gas bio. Sehingga gas bio dapat dimanfaatkan. Berikut adalah spesifikasi proses
yang dihasilkan berdasarkan skema proses tersebut.

Tata Cara Pilihan Teknologi 54


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tabel 1.1 Spesifikasi Proses Modul Sikipas
No. Komponen Spesifikasi Proses
1 m3/hari ; 0,6 ton/hari ; 400 KK/hari ; 2.000
1. Kapasitas Operasi
jiwa/hari
2. Jenis Sampah Sampah organik tercacah
3. Proses Kombinasi anaerobik dan aerobik
Durasi/Waktu
4. 20 hari (anaerobik) + 20 hari (aerobik)
Detensi
Kompos padat : 300 kg
5. Produk Kompos cair : 150 liter
Gas bio : 97,5 m3
121,8 kWh (netto) kebutuhan energi rata-
6. Konversi Energi rata (di Indonesia) untuk 1 rumah dalam 10
hari
1.350 m2 (termasuk area untuk daur ulang dan
7. Luas Lahan
perkantoran)
8. Biaya Pengolahan Rp 20.000,- /KK/bulan
(Sumber : Direktorat PPLP, 2012)

Keunikan dari Modul SIKIPAS adalah penyempurnaan fase tunggal/penyatuan proses hidrolisis-
asidogenesis-metanogenesis (yang umumnya dilakukan pada pengolahan sampah secara
anaerobik pada tingkat masyarakat/komunal selama ini), menjadi fase ganda yaitu pemisahan
antara proses hidrolisis-asidogenesis dengan proses metanogenesis. Ciri khas tersebut
merupakan ciri khusus dari instalasi pengolahan sampah yang mengoperasikan proses
anaerobik, yang dibuat oleh Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman.

Pada September 2012, Modul pengelolaan SIKIPAS telah diserah terimakan di Kompleks
Perumahan KOPASSUS Cijantung oleh Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan
Permukiman. Gambar 1.3 dan gambar 1.4 berikut memperlihatkan kondisi pengelolaan SIKIPAS
yang ada di Kompleks Perumahan KOPASSUS Cijantung

Tata Cara Pilihan Teknologi 55


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 1.3 Pengelolaan SIKIPAS di Kompleks Perumahan KOPASSUS Cijantung

Gambar 1.4 Disain Pengelolaan SIKIPAS di Kompleks Perumahan KOPASSUS Cijantung

Tata Cara Pilihan Teknologi 56


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Sebagai informasi, 1 buah prototipe SIKIPAS ini dapat mengolah sampah organik dengan
kapasitas 1 m3/hari (kapasitas pelayanan sekitar 42.000 jiwa atau 400 KK), dengan menghasilkan
gas bio sebesar 150 m3 dalam 6 minggu. Nilai energi dari gas bio tersebut mampu menyediakan
energi listrik untuk 1 buah rumah selama 2 minggu. Selain itu, akan dihasilkan pula kompos
padat sebanyak 1 m3 dan kompos cair sebanyak 150-200 liter dari 1 m3 sampah organik terolah.
Inovasi ini merupakan salah satu inovasi Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum untuk
mengurangi sampah organik dari sumbernya. Modul SIKIPAS ini diharapkan akan menjadi
prototipe untuk pengujian lapangan yang kedepannya akan diterapkan di seluruh Indonesia.
Diharapkan langkah ini dapat meringankan beban TPA sampah yang sudah semakin terbatas
kapasitasnya.

Tata Cara Pilihan Teknologi 57


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pilihan Teknologi 58
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB II
PERENCANAAN MODUL SIKIPAS

Tahapan proses yang terjadi dari Modul SIKIPAS adalah pengumpulan sampah, pencacahan,
hidrolisis (penguraian), asidogenesis-metanogensis (pembentukan gas bio), pembentukan
kompos cair, pengumpulan gas bio, dan pemanfaatan gas bio. Secara lebih detail tersaji
dalam gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1 Skema Proses Pengolahan Sampah dengan Modul SIKIPAS

Komponen utama dari Modul SIKIPAS terdiri atas :


1. Unit hidrolisis sampah (Unit Penguraian Sampah).
2. Unit asidogenesis-metanogenesis air lindi (pembentukan gas bio, yang terdiri dari gas
metana, gas hidrogen, gas nitrogen, dan gas karbon dioksida), yang terdiri atas tangki
equalisasi air lindi, tangki penghasil gas bio, tangki resirkulasi air lindi).
3. Unit Aerobik Kompos Padat

Tata Cara Pilihan Teknologi 59


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
2.1 SARANA DAN PRASANA MODUL SIKIPAS

Berdasarkan diagram proses di atas, maka proses kebutuhan sarana dan prasarana modul
SIKIPAS yaitu :
1. Unit Penerimaan dan Pemilahan Sampah
2. Unit Hidrolisis Sampah (Penguraian Sampah)
3. Unit Asidogenesis dan Metanogenesis Air Lindi
a. Unit Equalisasi Air Lindi
b. Unit Penghasil Gas Bio
c. Unit Resirkulasi Air Lindi
4. Unit Aerobik Kompos Padat
a. Area Pengeringan Kompos Padat
b. Area Pengayakan Kompos Padat
c. Area Penyimpanan Kompos Padat

2.2 PERENCANAAN MODUL SIKIPAS

Agar sistem berjalan dengan optimal maka, modul SIKIPAS harus direncanakan dengan baik,
sesuai dengan kriteria desain yang sesuai. Tahapan dalam perencanaan sarana Modul SIKIPAS
terdiri atas :
1) Tahap 1 : Tentukan sumber sampah yang akan diolah
2) Tahap 2 : Hitung jumlah timbulan sampah organik yang akan diolah secara spesifik untuk
sampah makanan dan sampah halaman
3) Tahap 3 : Hitung dimensi utama dan penunjang pada unit-unit dalam Modul SIKIPAS, serta
spesifikasi teknik yang dibutuhkan
4) Tahap 4 : Siapkan gambar teknik yang sesuai
5) Tahap 5 : Hitung estimasi biaya pembangunan Modul SIKIPAS
6) Tahap 6 : Hitung kebutuhan tenaga kerja
7) Tahap 7 : Siapkan dokumen prosedur standar pengoperasian-pemeliharaan-perawatan
8) Tahap 8 : Hitung kebutuhan biaya investasi dan biaya pengoperasian pemeliharaan -
perawatan

Penjelasan masing-masing tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut :

TAHAP 1 : TENTUKAN SUMBER SAMPAH YANG AKAN DIOLAH


Sampah dari berbagai sumber seperti, sampah dapur, sampah halaman, sampah kantor dan
sebagainya ditentukan sampah mana yang akan dioleh dengan Modul SIKIPAS. Jenis sampah
yang dapat diolah pada modul SIKIPAS hanya sampah organik saja, secara khusus untuk
sampah makanan.

Tata Cara Pilihan Teknologi 60


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
TAHAP 2 : HITUNG TIMBULAN ATAU JUMLAH SAMPAH YANG AKAN DIOLAH
Perhitungan volume atau timbulan sampah sangat penting, mengingat akan berpengaruh
terhadap kebutuhan luas lahan Modul SIKIPAS, semakin besar sampah yang akan diolah
semakin besar kebutuhan lahannya, akan semakin besar material yang dihasilkan.

Contoh :
Jika jumlah jiwa di suatu permukiman sebanyaj 2.000 jiwa, maka jumlah sampah di permukiman
tersebut sebanyak :
1. Jumlah Sampah Organik = 0,00089 m 3/jiwa/hari x 2000 jiwa= 1,78 m 3/hari
2. Jumlah Sampah Dapur sebanyak = 0.00014 m 3/jiwa/hari x 2000 jiwa = 0,27 m 3/hari

Perhitungantimbulansampahdapatdilakukandenganperhitungansebagaiberikut :
Volume Sampah ORGANIK (m3/hari) = 0,00089 (m3/jiwa/hari) x Jumlah Penghuni (jiwa)
Volume Sampah DAPUR (m3/hari) = 0,00014 (m3/jiwa/hari) x Jumlah Penghuni (jiwa)

Sebaiknya sampah organik yang dihasilkan dapat diolah secara keseluruhan dengan Modul
SIKIPAS, begitu pun sampah anorganik, sebaiknya sampah anorganik yang masih bernilai
ekonomis dipisahkan sehingga akan mengurangi jumlah sampah yang terbuang ke Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA) sampah, maka semakin banyak sampah terolah, salah satunya akan
berpengaruh terhadap mengurangi biaya retribusi pengangkutan.

TAHAP 3 : HITUNG DIMENSI MASING-MASING UNIT/SARANA Unit Penerimaan dan Pemilahan


Sampah (UPPS)
Lahan pada Unit Penerima dan Pemilahan Sampah harus mencukupi penyimpanan alat
pencacah sampah, area pemilahan dan sirkulasi. Perhitungan kebutuhan lahan dengan
menggunakan perbandingan 1 org = 0,0054 m2/jiwa.

1. Unit Hidrolisis Sampah (UHS)


Unit hidrolisis ini dibangun berupa tangki kedap udara, yang material dapat berupa plastik, fibre
glass, beton atau material lain, asal tahan lama dan tahan akan karat serta kebocoran.Untuk
menghitung kebutuhan Luas Unit Hidrolisis Sampah, dapat menggunakan pendekatan
perhitungan sebagai berikut :

Luas Lahan (m2) = 0,02 m2/jiwa x Jumlah Warga yang Dilayani (jiwa)

Tata Cara Pilihan Teknologi 61


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Dengan Kriteria Desain dan asumsi sebagai berikut :
1) Waktu detensi sampah (td)= 30 hari
2) Diameter tangki = 1,1 m
3) Tinggi =1m
4) Free board tangki = 20 %
5) Jumlah tangki = 31 tangki

2. Unit Asidogenesis-Metanogenesis Air Lindi (UAMAL)


Pada UAMAL ini terdiri dari atas 3 (tiga) tangki, dengan fungsi yang berbeda, yaitu Tangki 1 ;
disebut juga tangki equalisasi air lindi, Tangki 2 ; disebut juga tangki penghasil gas bio, Tangki 3;
disebut juga tangki resirkulasi air lindi.

a. Perhitungan Tangki 1 ; Equalisasi Air Lindi


Untuk menghitung kebutuhan luas Tangki 1 dapat dengan menggunakan pendekatan :

Luas Lahan (m2) = 0,0001 m2/jiwa x Jumlah Warga yang Dilayani (jiwa)

Dengan kriteria desain Tangki Equalisasi Lindi :


1) Waktu detensi = 3,5 hari
2) Asumsi tinggi = 1,1 m
3) Lebar =1m
4) Free Board = 20 % x tinggi

b. Perhitungan Tangki 2 ; Tangki Penghasil Gas Bio


Untuk menghitung kebutuhan luas Tangki Penghasil Gas Bio dapat dengan
menggunakan pendekatan :

Luas Lahan (m2) = 0,0004 m2/jiwa x Jumlah Wargayang Dilayani (jiwa)

Dengan kriteria desain Tangki Penghasil Gas Bio :


1) Waktu detensi = 12 hari
2) Asumsi tinggi = 1,1 m
3) Lebar =1m
4) Free Board = 20 % x tinggi

c. Perhitungan Tangki 3 ; Tangki Resirkulasi Air Lindi


Untuk menghitung kebutuhan luas Tangki 3 dapat dengan menggunakan pendekatan :

Luas Lahan (m2) = 0,0002 m2/jiwa x Jumlah Warga yang Dilayani (jiwa)

Tata Cara Pilihan Teknologi 62


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Dengan kriteria desain Tangki Resirkulasi Air Lindi :
1) Waktu detensi = 12 hari
2) Asumsi tinggi = 1,1 m
3) Lebar =1m
4) Free Board = 20 % x tinggi

3. Unit Aerobik Kompos Padat (UAKP)


Di dalam Unit Aerobik Kompos Padat ini terdiri atas 3 unit, yaitu 1) Unit Pengering Bahan Baku
Kompos Padat, 2) Unit Penyaringan/Pengayakan Kompos, 3) Unit Penyimpanan Kompos.

a. Perhitungan Area Pengeringan Kompos Padat


Pendekatan perhitungan kebutuhan luas Unit Pengeringan Kompos Padat dengan
menggunakan pendekatan sebagai berikut :

Luas Lahan (m2) = 0,006 m2/jiwa x Jumlah Warga yang Dilayani (jiwa)

Dengan kriteria desain dan asumsi sebagai berikut :


1) Input sampah organik terolah = 0,78 m3/hari
2) Bahan baku kompos padat yang dihasilkan = 75 % dari sampah organik terolah
3) Waktu detensi pengeringan = 20 hari
4) Asumsi Tinggi penghamparan = 0,25 meter
5) Asumsi Lebar = 3 meter
6) Area utilitas = 40 %

b. Perhitungan Area Pengayakan Kompos Padat


Untuk menghitung kebutuhan luas lahan Area Pengayakan Kompos Padat, dihitung
dengan pendekatan :

Luas Lahan (m2) = 0,008 m2/jiwa x Jumlah Warga yang Dilayani (jiwa)

Dengan kriteria desain dan asumsi sebagai berikut :


1) Waktu Detensi = 60 hari
2) Asumsi Tinggi Hamparan Timbunan Kompos = 1 meter Padat
3) Kebutuhan Luas Alat Pengayak = 4,50 meter
4) Jumlah Alat Pengayak = 1 unit
5) Area Utilitas = 40

c. Perhitungan Area Penyimpanan Kompos Padat (Gudang)


Setelah dilakukannya proses pengayakan kompos padat yang dihasilkan selanjutnya
akan dimasukan ke dalam karung dan disimpan secara bertumpuk di area penyimpanan
kompos padat (gudang). Perhitungan kebutuhan luas lahan :

Luas Lahan (m2) = 0,004 m2/jiwa x Jumlah Warga yang Dilayani (jiwa)

Tata Cara Pilihan Teknologi 63


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Dengan kritria dan asumsi sebagai berikut :
1) Kompos padat matang yang dihasilkan = 50 organik dari sampah organik
2) Lama Penyimpanan = 60 hari
3) Tinggi Tumpukan = 1,5 m
4) Area utilitas = 40 %

Berdasarkan perhitungan desain dari masing-masing unit pengolahan sampah, maka


didapatkan kebutuhan formula untuk menghitung kebutuhan luas lahan Modul SIKIPAS, yang
dapat dilihat pada dibawah ini.

Tabel 2.1. Pendekatan Perhitungan Kebutuhan Lahan Penerapan Modul SIKIPAS

Fakto Pengkali Jumlah


Luas Lahan
No. Unit Pengolahan Penghuni
Faktor Satuan (m2)
(jiwa)
Luas Area Penerimaan dan
1. Pemilahan Sampah 0,005 m2/jiwa 1.000 5,40
2. Luas Unit Hidrolisis sampah 0,02 m2/jiwa 1.000 20,48
Luas Unit Asidogenesis- 1.000
Metanogenesis Air Lindi
3. - Tangki Equalisasi Air Lindi 0,0001 m2/jiwa 1.000 0,12
- Tangki Penghasil Gas Bio 0,0004 m2/jiwa 1.000 0,44
- Tangki Resirkulasi Air Lindi 0,0002 m2/jiwa 1.000 0,23
Luas Unit Pengomposan Kompos 1.000
Padat
- Area Pengeringan Kompos Padat 0,006 m2/jiwa 1.000 5,85
4.
-Area Pengayakan Kompos Padat 0,008 m2/jiwa 1.000 8,23
- Area Penyimpanan Kompos Padat 1.000
(Gudang) 0,004 m2/jiwa 3,90
Total Kebutuhan Luas Lahan 44,66

Tata Cara Pilihan Teknologi 64


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Table di bawah ini memperlihatkan contoh perhitungan untuk menghitung keb utuhan lahan
Modul SIKIPAS.

Tabel 2.2. Perhitungan Kebutuhan Lahan Penerapan Modul SIKIPAS (untuk jumlah terlayani
sebanyak 1000 jiwa)

Fakto Pengali
No. Unit Pengolahan
Faktor Satuan
Luas Area Penerimaan dan Pemilahan
1.
Sampah 0,005 m2/jiwa
2. Luas Unit Hidrolisis sampah 0,02 m2/jiwa
Luas Unit Asidogenesis-Metanogenesis Air
Lindi
3. - Tangki Equalisasi Air Lindi 0,0001 m2/jiwa
- Tangki Penghasil Gas Bio 0,0004 m2/jiwa
- Tangki Resirkulasi Air Lindi 0,0002 m2/jiwa
Luas Unit Pengomposan Kompos Padat
-Area Pengeringan Kompos Padat 0,006 m2/jiwa
4. -Area Pengayakan Kompos Padat 0,008 m2/jiwa
-Area Penyimpanan Kompos Padat
(Gudang) 0,004 m2/jiwa

TAHAP 4 : PENYIAPAN GAMBAR TEKNIK (GAMBAR KERJA) DAN SPESIFIKASI TEKNIK


a. Penyiapan Gambar Teknik
Setelah dilakukan perhitungan dimensi maka lanjutkan dengan membuat gambar teknis yang
disesuaikan dengan hasil perhitungan dimensi masing-masing unit Modul SIKIPAS tersebut.
Gambar teknis tersebut akan dijadikan gambar kerja pada saat proses konstruksi
pembangunan Modul SIKIPAS.

Spesifikasi gambar teknis yang dibuat minimal memenuhi kaidah sebagai berikut :
1. Gambar teknik harus dapat dipahami dengan mudah dan informatif, maka
gambar teknis tersebut harus dilengkapi dengan :
a. Denah/Siteplan (contoh lihat gambar 2.2)
b. Potongan memanjang dan melintang (contoh lihat gambar 2.3)
c. Tampak Depan, samping kiri dan kanan (contoh lihat gambar 2.4)
d. Denah Pondasi (contoh lihat gambar 2.5)
e. Denah Struktur (contoh lihat gambar 2.6)
f. Detail masing-masing unit dan bagian-bagian yang dianggap perlu (contoh lihat
gambar 2.7 dan 2.8)
g. Jika memungkinkan dilengkapi visualisasi 3 dimensi
2. Ukuran gambar teknik minimal dalam format A3
3. Skala gambar, (denah dan potongan minimal skala 1 : 150, untuk detail minimal skala 1 : 20)
4. Gambar teknik yang sudah final harus dilengkapi tandatangan dari instansi terkait

Tata Cara Pilihan Teknologi 65


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
b. Spesifikasi Teknis
Spesifikasi teknis dari seluruh peralatan / unit-unit yang ada pada modul SIkipas minimal sebagai
berikut :
1. Tangki Hidrolisis :
Beton bertulang, mutu beton K.250, dengan ketebalan 6 cm
Plastik pabrikasi
Serat fiberglass
Material lainnya yang mampu menahan karat dan memiliki umur pakai minimal 10 tahun
2. Tangki UAM :
Beton bertulang, mutu beton K.250, dengan ketebalan 6 cm
Plastik pabrikasi
Serat fiberglass
Material lainnya yang mampu menahan karat dan memiliki umur pakai minimal 10 tahun
3. Lantai Bangunan SIkipas : terbuat dari beton concrete, mutu beton K.225, dengan
ketebalan 10 cm
4. Pipa Resirkulasi : Pipa PVC AW atau HDPE, diameter disesuaikan
5. Pipa ; Outlet Unit Hidrolisis : Pipa PVC AW atau HDPE yang terbungkus kawat penyaring,
dengan diameter disesuaikan
6. Kran Pipa inlet dan outlet air lindi : menggunakan Globe Vavlematerialstainless steel,
dengan diameter disesuaikan
7. Konstruksi Struktur Bangunan : Konstruksi baja atau konstruksi beton Bertulang
8. Kontainer Sampah : Plastik pabrikasi, kapasitas minimal 500 lt, memiliki roda
9. Pompa Sirkulasi Air Lindi : Daya 125 Watt, Head maksimum 25 meter, Kapasitas maksimum 30
lt/menit
10. Mesin Pencacah Sampah : Daya 8 HP, Kapasitas maksimum 150 kg/jam.
11. Mesin Pengayak Kompos : Manual Tanpa Mesin, Kapasitas Maksimum 100 kg/jam
12. Mesin Tekan Kompos : Kapasitas 50 lt atau 0,05 m 3, berupa mesin tekan manual dengan
kontruksi mesin terbuat dari baja, serta dapat dipindah

TAHAP 5 : HITUNG ESTIMASI BIAYA PEMBANGUNAN MODUL SIKIPAS


Kebutuhan biaya untuk membangun Modul SIKIPAS dapat dilakukan dengan pendekatan
perhitungan sebagai berikut :

Jumlah Biaya (Rp) = Rp. 357.000,- /jiwa x JumlahWarga yang Dilayani (jiwa)

Contoh :
1. Jumlah Penghuni Warga yang Dilayani rata-rata/hari : 850 jiwa
Jumlah : 850 jiwa
2. Biaya Konstruksi per m2 : 357.000,-/per Jiwa
3. Kebutuhan Biaya = 850 jiwa x 357.000,- : 303.450.000,-

Tata Cara Pilihan Teknologi 66


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
TAHAP 6 : KEBUTUHAN SUMBER DAYA MANUSIA
Berdasarkan alur proses sistem penanganan sampah dengan Modul SIKIPAS, kebutuhan sumber
daya manusia pengelola sampah minimal dikerjakan oleh 5 orang personil. Dimana diperlukan
seorang koordinator untuk memastikan operasional Modul SIKIPAS berjalan dengan baik,
petugas operasional unit anaerobik, serta petugas lindi dan gas sehingga satu kesatuan Modul
SIKIPAS dapat dioperasikan. Adapun alokasi kebutuhan SDM Modul SIKIPAS dapat dilihat
padaberikut.

Tabel 2.3 Kebutuhan Personil Operasional Modul SIKIPAS untuk Kapasitas 1-2 m3/hari
KEBUTUHAN
No. TUGAS
PERSONIL
1. Koordinator Instalasi 1 Orang
2. Petugas Teknis Modul SIKIPAS 2 Orang
Petugas Aerobik Sampah
3. dan Pengumpulan Sampah 2 Orang

JUMLAH PERSONIL 5 Orang

Sumber : DED Modul SIKIPAS Lapas Cipinang, 2013

TAHAP 7 : SIAPKAN DOKUMEN PROSEDUR STANDAR PENGOPERASIAN-PEMELIHARAAN PERAWATAN


Dokumen prosedur standar pengoperasian-pemeliharaan-perawatan, adalah suatu dokumen
yang harus disusun, mengingat dokumen tersebut akan menjadi panduan operator pelaksana
lapangan dalam mengoperasikan-memelihara-merawat seluruh unit-unit yang ada di modul
SIKIPAS.
Dalam dokumen prosedur standar pengoperasian pemeliharaan - perawatan minimal
menjelaskan sebagai berikut :
a. Penjelasan Umum
b. Ketentuan-Ketentuan
Ketentuan Umum
Ketentuan Teknis
- Sistem Penanganan Sampah
- Pengolahan Sampah dengan modul SIkipas
- Waktu Pengoperasian
- Sarana and Prasarana
c. Prosedur Standar Pengoperasian Modul SIkipas
Tahap Pengoperasian Pengumpulan Sampah
Tahap Pengoperasian Penerimaan dan Pemilahan Sampah
Tahap Pengoperasian Unit Hidrolisis Sampah
Tahap Pengoperasian Unit Asidogenesis Metanogenesis Air Lindi
Tahap Pengoperasian Unit Aerobik Kompos Padat
Tahap Pengoperasian Unit Mesin Pencacah/Perajang Sampah Organik
Tahap Pengoperasian Pompa Resirkulasi Air Lindi
Tahap Pengayakan dan Pengemasan Kompos Padat
Tahap Pemanfaatan Kompos Cair
Tata Cara Pilihan Teknologi 67
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
d. Pemeliharaan dan Perawatan
Pemeliharaan dan Perawatan Tangki Hidrolisis
Pemeliharaan dan Perawatan Tangki Asidogenesis-metanogenesis
Pemeliharaan dan Perawatan Alat Pencacah/Perajang Sampah Organik
Pemeliharaan dan Perawatan Alat Pengayakan Kompos
Pemeliharaan dan Perawatan Alat Lainnya

TAHAP 8 : HITUNG KEBUTUHAN BIAYA PENGOPERASIAN-PEMELIHARAAN PERAWATAN


Perhitungan biaya pengoperasian pemeliharaan perawatan modul SIKIPAS harus mencakup
seluruh biaya sebagai berikut :
a. Biaya pengoperasian pemeliharaan perawatan seluruh peralatan yang digunakan.
Adapun jenis peralatan sebagai berikut :
- Alat pencacah/perajang sampah organik
- Alat pengayak kompos padat
- Pompa resirkulasi
- Tangki Hidrolisis
- Tangki Ekualisasi Air Lindi
- Perawatan bangunan pelindung Modul SIkipas
b. Honor Petugas / tenaga kerja
Estimasi kebutuhan biaya pengoperasian pemeliharaan perawatan Modul SIKIPAS dapat
dihitung dengan pendekatan perhitungan Rp. 20,02 atau Rp. 20 rupiah per orang. Maka jika
jumlah jiwa sebanyak 1000 orang maka diperkirakan kebutuhan biayanya sekitar Rp. 20.000
orang/hari, maka dalam satu bulan Rp. 600.000,-.

Tabel 2.4 Kebutuhan Biaya Pengoperasian - Pemeliharaan - Perawatan


Fakto Pengali Jumlah
Jumlah
Warga yang
Kebutuhan Biaya
Faktor Satuan Dilayani
(Rp/hari)
(jiwa)
Biaya Pengoperasian Pemeliharaan -
20 jiwa/hari 1.000 20.000
Perawatan

Tata Cara Pilihan Teknologi 68


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 2.2 Contoh Gambar Denah dan Potongan Memanjang

Tata Cara Pilihan Teknologi 69


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 2.3 Contoh Gambar Potongan Melintang

Tata Cara Pilihan Teknologi 70


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 2.4 Contoh Gambar Tampak Depan, Belakang, Kiri dan Kanan

Tata Cara Pilihan Teknologi 71


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 2.5 Contoh Gambar Denah Pondasi

Tata Cara Pilihan Teknologi 72


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 2.6 Contoh Gambar Denah Struktur (Kolom dan Sloof)

Tata Cara Pilihan Teknologi 73


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 2.7 Contoh Gambar Detail Bangunan

Tata Cara Pilihan Teknologi 74


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 2.8 Contoh Gambar Detail Unit Bangunan

Tata Cara Pilihan Teknologi 75


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pilihan Teknologi 76
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB III
PROSEDUR PENGOPERASIAN-PEMELIHARAAN-PERAWATAN
MODUL SIKIPAS

3.1 PROSEDUR STANDAR PENGOPERASIAN MODUL SIKIPAS

Tahapan kegiatan pengoperasian Modul SIKIPAS, terdiri dari 8 (tahapan) pekerjaan, yaitu :

1. TAHAP PENGUMPULAN SAMPAH


Prosedur Pengoperasian
Sampah dapur, sisa makanan dan sampah halaman diletakkan oleh warga ke dalam
wadah sampah
Wadah berisi sampah akan diangkut oleh petugas TPS 3R setiap pukul 08.00 WIB, sebanyak 1
kali sehari
Sampah hasil pengangkutan di pagi hari langsung diproses di Modul SIKIPAS pada hari
tersebut, sedangkan sampah hasil pengangkutan sore hari akan diproses pada keesokan
harinya (pagi hari)

2. TAHAP PENERIMAAN DAN PEMILAHAN SAMPAH


Unit Penerimaan dan Pemilahan Sampah adalah unit tempat dilaksanakannya pengumpulan
sampah dan pemilahan sampah organik dan anorganik. Kegiatan yang dilakukan pada unit
penerima ini adalah pemilahan dan pencacahan. Setiap kali sampah datang harus langsung
diproses, maka tidak ada sampah yang tertinggal. Kuantitas sampah organik yang diolah pada
Modul SIKIPAS sebanyak 0,39 m3/hari atau 0,24 ton/hari.

Untuk sampah yang tidak dapat diolah di Modul SIKIPAS sebanyak 6,95m 3/hari atau 1,4 ton/hari,
dimana sampah anorganik recyclable sebanyak 0,84 m3/hari atau 0,17 ton/hari dilakukan
penjualan langsung, sedangkan sampah sisanya sebanyak 5,98 m3/hari atau 1,23 ton/hari dan
diolah menuju TPA sampah.
Peralatan dan Jumlah Petugas
- Helm
- Sarung Tangan
- Mesin Pencacah
- Troli
- Tempat sampah tertutup kapasitas 0,5 m3 sebanyak 1 unit
- Sekop
- Petugas 1 orang

Tata Cara Pilihan Teknologi 77


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Prosedur Pengoperasian Unit Penerimaan dan Pemilahan Sampah
1. Sampah yang diangkut dari sumber (rumah, sekolah, kantor dan sebagainya) harus segera
diproses
2. Sampah datang ditumpahkan di Unit Penerima dan Pemilahan Sampah, untuk
selanjutnya dilakukan pemilahan
3. Pemilahan hanya dilakukan untuk memisahkan sampah organik yang berukuran lebih
besar dari diameter 5 cm (biasanya berupa bongkahan bekas potongan makanan)
4. Sampah organik yang berukuran kecil (lebih kecil dari 5 cm) dipindahkan kedalam troli
untuk selanjutnya dimasukan ke dalam Unit Hidrolisis Sampah
5. Untuk sampah yang memiliki ukuran lebih besar dari 5 cm dan jumlahnya tidak banyak,
dikumpulkan terlebih dahulu di dalam wadah sampah tertutup. Jika jumlahnya mencapai
minimal dari ukuran wadah sampah, dilakukan pencacahan oleh mesin pencacah dan
setelah dicacah dimasukan ke dalam Unit Hidrolisis Sampah
6. Jika ditemukan sampah anorganik, maka harus dipisahkan dan dikumpulkan pada
wadah terpisah (yang diberi label wadah sampah anorganik), untuk selanjutnya ditangani
secara terpisah, yaitu penjualan ke pengepul atau diolah lebih lanjut pada TPA sampah
7. Kegiatan pada unit penerimaan ini dilakukan 1 kali dalam sehari, yaitu pada pagi hari
pukul 08.00 WIB dengan Unit Hidrolisis Sampah yang memilikikapasitas 0,78 m 3, maka akan
terisi selama 2 hari. Maka pengisian 1 Unit Hidrolisis Sampah diperuntukan untuk 2 hari
sampah yang datang

3. TAHAP PENGOPERASIAN UNIT HIDROLISIS SAMPAH


Tahapan pada Unit Hidrolisis Sampah merupakan tahapan penguraian sampah oleh
mikroorganisme pengurai. Untuk mempercepat penguraian sampah harus direndam oleh air
limbahyang mengandung mikroorganisme anaerobik (sebagai contoh; untuk awal permulaan
dapat menggunakan limbah cair dari kegiatan Rumah Potong Hewan), dengan lamanya
waktu proses perendaman selama 7 hari. Air lindi yang dihasilkan dari hasil perendaman akan
memiliki nilai Chemical Oxygen Demand (COD) dan kandungan mikroorganisme anaerobik
yang tinggi.
A. Peralatan dan Jumlah Petugas
- Helm
- Sarung Tangan
- Unit Hidrolisis Sampah 16 unit
- Petugas 2 orang

B. Kriteria Teknis
- Volume 1 tangki : 0,78 m3/hari.
- Waktu tinggal sampah : 30 hari.
- Waktu rendam sampah awal : 7 hari.
- Waktu pengisian sampah ke dalam tangki : 2 hari.
- Jumlah air untuk perendaman : 200 liter per tangki.

Tata Cara Pilihan Teknologi 78


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
C. Prosedur Pengoperasian
1. Tahap awal yang harus dilakukan adalah menyiapan terlebih dahulu cairan lindi yang
mengandung bakteri aktif (cairan starter), cairan tersebut akan digunakan sebagai
material resirkulasi pada unit hidrolisis. Dengan prosedur sebagai berikut :
a. Isilah seluruh (16 unit) tangki hidrolisis dengan sampah organik tercacah menggunakan
sekop, atur penempatan sampah di dalam tangki agar setiap sudut terisi sampah
b. Jika volume sampah organik tidak mencukupi, dapat menggunakan sampah organik dari
luar (misalnya ; sampah dari pasar, pertokoan dan sebagainya)
c. Pastikan sampah organik tercacah pada tangki hidrolisistidak lebih dari 0,78 m 3 atau
ketinggian sampah dalam tangki mencapai 85 cm
d. Siapkan air limbah dari Rumah Pemotongan Hewan/RPH, lalu isilah seluruh tangki hidrolisis
tersebut dengan air limbah RPH masing-masing sebanyak 150-200 lt
e. Rendamlah sampah organic tercacah tersebut selama 7 hari
f. Pastikan tutup tangki hidrolisis tertutup rapat, serta pastikan juga tidak ada kebocoran
g. Setelah 7 hari, kuras air lindi tersebut dengan membuka pipa outlet pada unit hidrolis
tersebut, lalu keluarkan sampah dari dalam tangki hidrolisis untuk selanjutnya diproses
pada area aerobik kompos padat
2. Setelah penyiapan cairan lindi yang mengandung bakteri aktif selesai dilakukan, maka
tahap selanjutnya adalah pemrosesan sampah organik
3. Pastikan seluruh tangki (16 tangki) sudah diberikan nomor agar dapat memudahkan saat
pencatatan
4. Lakukan pengisian sampah ke dalam Unit Hidrolisis Sampah, 1 tangki hidrolisis akan penuh
diisi sampah organik dalam waktu 2 hari (atau volume telah mencapai 0,78 m 3)
5. Pintu inlet sampah terletak dibagian atas tangki, 1 tangki hidrolisis akan terisi penuh oleh
sampah organik dalam waktu 2 hari (atau volume telah mencapai 0,78 m 3)
6. Jika tangki telah diisi penuh sampah (0,78 m3), tutuplah bagian atas tangki sampah.
Kemudian untuk memastikan tangki benar-benar kedap, isilahair pada bagian jebakan
udara disekeliling tutup tangki, agar tangki benar-benar kedap
7. Lanjutkan dengan proses penyiraman dengan air yang sudah tersedia pada tangki resirkulasi
selama 4-6 jam/hari, atur stop kran pada pipa resirkulasi agar aliran air lindi mengalir dengan
baik dan merata mengenai seluruh permukaan sampah
8. Pastikan pipa outlet air lindi (terletakdi bagian bawah) pada unit hidrolisis dalam posisi
terbuka atau posisi ON
9. Sampah pada tangki Hidrolisis dikeluarkan jika sampah sudah berumur 30 hari (terhitung sejak
sampah terisi penuh atau sejak dilakukan penyiraman)
10. Keluarkan sampah dengan membuka pintu tangki sampah (sebaiknya dilakukan oleh 2
orang petugas) dengan menggunakan alat bantu sekop atau cangkul
11. Pada saat sampah dikeluarkan, akan menimbulkan dampak bau, maka petugas sebaiknya
menggunakan masker dan sarung tangan kedap air
12. Jika sampah dikeluarkan dari Unit Hidrolisis Sampah, lakukan pengepresan dangan alat
penekan sampah, dengan maksud untuk mengeluarkan air yang masih terkandung dalam
sampah
13. Setelah dilakukan penekanan, lalu lakukan perataan dan ditiriskan pada area Unit Aerobik
Kompos Padat yang sudah tersedia di depan Unit Hidrolisis Sampah

Tata Cara Pilihan Teknologi 79


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
14. Pastikan aliran air lindi mengalir dengan baik ke dalam saluran air lindi yang sudah tersedia
15. Setelah semua isi tangki sampah dikeluarkan, tutuplah dengan rapat pintu tangki dengan
baik. Kemudian isi tangki dengan sampah baru dan lakukan hal yang sama untuk tangki-
tangki berikutnya
16. Lakukan hal yang sama untuk perlakuan tangki selanjutnya

Catatan Penting :
1. Pada tahap awal mula Modul SIKIPAS dioperasikan, proses perendaman sampah
dibantu dengan mengggunakan air limbah RPH
2. Air limbah RPH digunakan hanya pada tahap awal saja, dengan maksud untuk
mendapatkan air lindi yang mengandung bakteri aktif (cairan starter) yang
selanjutnya digunakan untuk proses resirkulasi pada tangki hidrolisis
3. Lakukan penyiraman air lindi dari tangki resirkulasi dengan cara di pompa dan
disiramkan ke Unit Hidrolisis Sampah, sebelum dipompa, pastikan stop kran
pembuangan sudah dalam keadaan terbuka

Tata Cara Pilihan Teknologi 80


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 3.1. Unit Hidrolisis Sampah

Tata Cara Pilihan Teknologi 81


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
4. TAHAP PENGOPERASIAN UNIT ASIDOGENESIS-METANOGENESIS AIR LINDI
Pada unit ini terbagi menjadi 3 tangki yang saling berhubungan. Tiga bagian tangki tersebut
memiliki fungsi dan dimensi yang berbeda.
Tangki Ekualisasi Air Lindi (tangki lindi 1) ; berfungsi sebagai tangki penjaga kestabilan laju alir
dan pH air lindi
Tangki Penghasil Gas Bio (tangki lindi 2) ; berfungsi sebagai tangki untuk menguraikan atau
mendegradasi bahan karbon organik dalam air lindi atau lumpur menjadi gas bio
Tangki Resirkulasi Air Lindi (tangki lindi 3) ; tangki penampung air lindi untuk diresirkulasikan
kembali pada Unit Hidrolisis Sampah
A. Peralatan dan Jumlah Petugas
1. Pompa resirkulasi air lindi
2. Plastik penampung gas bio
3. Petugas 1 orang

B. Kriteria Unit Asidogenesis-Metanogenesis Air Lindi


Tangki Ekualisasi Air Lindi (tangki lindi 1)
1. Debit air lindi 0,32 m3/hari
2. Volume Tangki bersih tangki 0,48 m3 0,5 m3
3. Waktu tinggal 1,5 hari
Tangki Penghasil Gas Bio (tangki lindi 2)
1. Debit air lindi 0,32 m3/hari
2. Volume Tangki bersih tangki 1,5 m3
3. Waktu tinggal 4,5 hari
Tangki Resirkulasi Air Lindi (tangki lindi 3)
1. Debit air lindi 0,32 m3/hari
2. Volume Tangki bersih tangki 0,8 m 3
3. Waktu tinggal 2,5 hari

C. Prosedur Pengoperasian Tangki Ekualisasi Air Lindi (Tangki 1)


1. Air lindi yang dialirkan dari tangki sampah akan ditampung pada ini. Air lindi akan
masuk melalui pipa inlet yang berada di bagian bawah tangki. Pada tangki ini
terdapat material batu kapur yang berfungsi untuk menetralkan pH, sehingga pH air
lindi mendekati rentang pH netral (6,0-7,0)
2. Material batu kapur sebaiknya diganti secara berkala setiap 6 bulan sekali

D. Prosedur Pengoperasian Tangki Penghasil Gas Bio (Tangki 2)


1. Air lindi pada tangki 1 akan mengalir dengan sendirinya ke tangki 2 melalui pipa.
Pada Tangki 2 terdapat material rumpon yang berfungsi sebagai media/rumah
bagi mikroorganisme yang berkoloni
2. Periksalah seluruh tutup tangki agar benar-benar tertutup rapat, sehingga gas bio
yang terbentuk tidak keluar melaui celah-celah tutup tangki
3. Pada tangki 2 terdapat pipa outlet gas bio yang dilengkapi oleh stop kran

Tata Cara Pilihan Teknologi 82


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
4. Untuk melihat terbentuknya gas bio pada tahap awal, dapat dilakukan dengan
mengikatkan secara kuat plastik berukuran 5 atau 10 lt pada ujung pipa outlet gas
bio tersebut. Jika plastik berubah bentuk (mengembang), maka tutup stop kran
dan sambungan pipa outlet tersebut dengan pipa penampung gas bio untuk
selanjutnya ditampung pada plastik penampung gas bio yang sudah disediakan
5. Jika jarak antara Modul SIKIPAS dan dapur warga di permukiman cukup jauh, maka
sistem pengaliran gas bio dapat dibantu oleh induced draft fan
6. Jika penampungan gas bio di dapur sudah pada posisi maksimal (penuh), maka
buka stop kran yang agar gas bio dapat mengalir ke kompor dan selanjutnya
dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar, seperti untuk keperluan
memasak
7. Setelah pemakaian biogas selesai, stop kran kompor dimatikan dengan cara
memutar pada posisi off

E. Prosedur Pengoperasian Tangki Resirkulasi Air Lindi (Tangki 3)


1. Jika volume air lindi pada tangki 2 sudah penuh, maka secara otomatis air lindi
akan mengalir ke Tangki 3
2. Air lindi pada tangki 3 ini digunakan untuk menyiram sampah pada Unit Hidrolisis
Sampah, selain itu dapat dimanfaatkan sebagai kompos cair
3. Proses resirkulasi dilakukan dengan pemompaan selama 4-6 jam/hari, dengan
bantuan automatic switch
4. Atur laju aliranagar tidak terlalu besardengan cara mengatur stop kran pipa
resikulasi
5. Lakukan resirkulasi setelah sampah sudah terisi penuh (0,78 m 3/hari)
6. Jikakondisi volume berlebih, maka kelebihan air lindi tersebut dapat dimanfaatkan
untuk kompos cair
7. Sebelum dilakukan resirkulasi lakukan pemantauan terhadap volume laju alir air lindi
pada Tangki 3 (tangki resirkulasi) dan pastikan permukaan air lindi memiliki
ketinggian yang sama dengan ketinggian pipa inlet tangki 3 atau kurang lebih
ketinggiannya sudah mencapai 1 meter
8. Pastikan stop kran inlet dan outlet pada posisi tebuka atau on

Tata Cara Pilihan Teknologi 83


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 3.2 Unit Asidogenesis-Metanogenesis Air Lindi

Tata Cara Pilihan Teknologi 84


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
5. TAHAP PENGOPERASIAN UNIT AEROBIK KOMPOS PADAT
Unit Aerobik Kompos Padat adalah salah satu tahapan proses untuk mematangkan sampah
dari hasil proses hidrolis, asidogenesis, dan metanogenesis yang berupa material kompos padat
(setengah jadi) menjadi kompos padat yang matang, dengan cara dilakukan pembalikan
secara rutin selama 20 hari.
A. Peralatan dan Jumlah Petugas
- Helm
- Sarung tangan
- Mesin Pencacah Kompos
- Ayakan/Mesin Pengayak
- Cangkul / garu
- Petugas 1 orang

B. Kriteria Area Aerobik Komposting Sampah


- Luas Area 35 m2 yang terbagi menjadi 2 kompartemen
- Waktu tinggal sampah 20 hari

C. Prosedur Pengoperasian
1. Sampah organik yang telah dikeluarkan dari Unit Hidrolisis Sampah (sebanyak setengah
tangki setiap harinya), berbentuk gumpalan sampah lembut, basah dan sedikit berbau.
Beratnya berkisar 120 kg (50 % dari berat sampah yang masuk ke dalam tangki)
2. Sampahdihamparkan pada Unit Aerobik kompos kompatemen 1. Kemudian lakukan
pengepresan di Unit AerobikKompos Padat, agar kadar air berkurang.
3. Pastikan air lindi yang dihasilkan dari proses penekanan akan mengalir ke saluran terbuka
yang berada dibagian tengah (yang memisahkan kompartemen 1 dan 2)
4. Gumpalan sampah ini selanjutnya dihamparkan tipis pada area kompatemen 1
5. Pada hari ke-3 sampah pada kompartemen 1 dipindahkan dan dihamparkan di
kompartemen 2
6. Proses pengeringan ini berjalan hingga kadar air 20% (diperkirakan proses pengeringan
hingga 20 hari)
7. Lakukan pembalikan setiap hari agar bau dapat diminimalisis dan kompos akan lebih
cepat kering
8. Kompos yang telah dikeringkan selama 20 hari, dibawa ke area pengayakan
9. Masukkan kompos ke mesin pengayak agar diperoleh kompos yang lebih halus
10. Selanjutnya kompos dikemas dengan kemasan 5 kg dan 25 kg, kemudian dimasukkan ke
dalam gudang penyimpanan

6. TAHAP PENGOPERASIAN MESIN PENCACAH/PERAJANGSAMPAH ORGANIK


Mesin pencacah/perajang adalah alat yang digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar
solar untuk merajang sampah organik, hingga menjadi serpihan kecil, dan merajang kompos
padat yang sudah dikeringkan hingga menjadi kompos siap pakai.

Mesin ini terdiri dari 2 (dua) komponen besar, yaitu (1) perajang yang dilengkapi tempat input
umpan, pisau-pisau perajang, dan tempat mengeluarkan hasil rajangan. (2) berupa mesin

Tata Cara Pilihan Teknologi 85


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
penggerak diesel berbahan bakar solar. Komponen pertama berfungsi untuk merajang bahan
umpan dan komponen ke dua berfungsi sebagai sumber energi penggerak.

Prosedur Pengoperasian
1. Hidupkan mesin diesel dengan cara memutar engkol
2. Masukkan bahan umpan berupa sampah organik atau kompos ke dalam corong umpan
secara perlahan-lahan
3. Setel kecepatan putar mesin dengan cara menaikkan atau menurunkan handel/pedal
gas
4. Hasil rajangan akan keluar melalui sebuah corong yang tersedia
5. Jika sudah selesai melakukan pencacahan, bagian pisau-pisau perajanghendaknya
dibersihkan dengan cara membuka penutup atas mesin
6. Dalam menjalankan mesin perajang, operator harus waspada. Mesin diesel yang
berputar cepat bisa berbahaya bagi operator bila bagian badan atau kain yang
dipakai tersangkut roda gaya dan belt yang sedang berputar
7. Pada saat memasukkan sampah yang akan dirajang harus hati-hati, jangan sampai
tangan masuk terlalu dalam ke dekat pisau yang berputar cepat. Gunakan bambu yang
bagian depannya dibelah belah, bila hendak mendorong sampah untuk masuk ke
corong perajang
8. Matikan dan bersihkan mesin perajang jika sudah selesai digunakan

7. TAHAP PENGOPERASIAN POMPA RESIRKULASI AIR LINDI


Pompa air lindi adalah pompa listrik yang difungsikan untuk mensirkulasikan lindi dari Tangki Lindi
3 ke tangki-tangki sampah. Pompa air lindi terpasang sebanyak 2 (dua) unit, 1 (satu) unit
beroperasi dan 1 (satu) unit sebagai cadangan.

Pompa air lindi dioperasikan dengan automatic switch, sehingga periode pengoperasiannya
dapat ditentukan secara otomatis.
Prosedur Pengoperasian
1. Pompa resirkulasi air lindi dihidupkan kurang lebih selama 4-6 jam/hari, setelah Unit Hidrolisis
siap untuk disiram oleh air lindi
2. Gunakantimer otomatis, sehingga pengaturan waktu nyala-matinya pompa dapat
dilakukan secara otomatis
3. Bukalah stopkran pada aliran air lindi dari tangki air lindi 3 ke tangki sampah yang akan diisi
4. Pastikan outlet air lindi di tangki sampah pada posisi tertutup
5. Pompa dihidupkan dengan cara menggerakkan stop kontak pada posisi On
6. Aliran air lindi akan mengalir ke tangki sampah yang akan diisi
7. Pastikan tidak ada kabel yang terbuka dari kabel listrik yang menyentuh masa atau
genangan air, karena hal tersebut berbahaya dapat menimbulkan sengatan listrik dan
menyebabkan kematian

Tata Cara Pilihan Teknologi 86


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
8. TAHAP PENGERINGAN, PENGAYAKAN, DAN PENYIMPANANKOMPOS PADAT
Tahap pengayakan atau penyaringan kompospadat dilakukan untuk memisahkan ukuran
kompos yang halus dan kasar. Prosedur pengayakan dan pengemasan dilakukan sebagai
berikut :
1. Pengayakan kompos padat dilakukan setiap 3 hari sekali, atau kurang lebih kapasitas
kompos mencapai 0,25 m3.
2. Lakukan pengayakan secara manual, satu orang memasukan kompospadat ke dalam
ayakan dan satu orang memutar pengayak.
3. Kompos hasil ayakan dimasukan ke dalam karung plastik kemasan
4. Pisahkan antara kemasan kompos padat yang kasar (butiran lebih besar) dengan kompos
padat halus
5. Simpan kompos padat yang sudah dikemas di gudang kompos yang sudah disediakan

9. TAHAP PEMANFAATAN KOMPOS CAIR


Kompos cair adalah salah satu produk yang dihasilkan dari Modul SIKIPAS. Sama halnya
dengan kompos padat, kompos cair juga memiliki nilai ekonomis.
Prosedur Pengoperasian :
1. Pemanfaatan kompos cair dilakukan pada Tangki 3 (tangki resirkulasi)
2. Sebelum dilakukan pemanfaatan sebaiknya dilakukan pengujian laboratorium terlebih
dahulu, untuk memastikan kandungan dalam kompos cair baik sehingga dapat
dimanfaatkan
3. Pengambilan kompos cair dilakukan dengan cara manual (menggunakan ember)
4. Kapasitas kompos cair yang dapat dimanfaatkan dalam 1 hari maksimal 10 lt
5. Namun pada saat kondisi volume berlebih, kompos cair yang dapat dimanfaatkan dapat
lebih banyak lagi
6. Selanjutnya kompos cair yang siap diperjualbelikan dapat dikemas dengan menggunakan
botol sehingga lebih menarik

Gambar 3.3 Kompos Cair

Tata Cara Pilihan Teknologi 87


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3.2 PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN

Pemeliharaan dan perawatan Modul SIKIPAS sangat penting dilakukan agar instalasi dapat
dioperasikan dengan hasil optimal dan berkelanjutan.

3.2.1 PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN UNIT HIDROLISIS SAMPAH

a. Unit Hidrolisis Sampah padatharus terhindar dari benturan benda keras yang dapat
menyebabkan terjadinya retak atau rusak
b. Perhatikan dengan seksama pada pintu outlet karenadikhawatirkan terjadi kebocoran
c. Jika terjadi kebocoran, lakukan perbaikan dengan segera
d. Untuk menjaga agar tetap kedap, sebaiknya karet paking yang terdapat pada pintu
outlet dilakukan penggantian minimal 1 tahun sekali
e. Mengingat pintu outlet terbuat dari besi, sebaiknya dilakukan pengecatan secara berkala
untuk mencegah terjadinya korosif dan karat
f. Baut pengunci pada pintu outlet diolesi gemuk secara berkala
g. Pipa dan stopkran terbuat dari plastik PVC atau HDPE sehingga rawan terhadap benda
panas dan benturan keras.Oleh sebab itu, hindari dari benturan keras dan api
h. Saringan air linditerbuat dari plastik yang rawan putus dan sobekkemudian terletak di
dalam tangki.Oleh sebab itu, hati-hati pada saat mengeluarkan kompos padat dari tangki
sampah, jangan sampai terkena saringan tersebut karena akan menyebabkan kerusakan

3.2.2 PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN UNIT ASIDOGENESIS-METANOGENESIS AIR LINDI

Material untuk Unit Asidogenesis-Metanogenesis Air Lindi terbuat dari beton, sehingga tidak
mudah retak dan bocor. Namun tetap ada daerah yang lemah yang dapat menyebabkan
sistem tidak bekerja dengan baik, yaitu pada pipa-pipa penyalur air lindi. Pemeliharaan yang
harus dilakukan antara lain :
a. Hindari zat kimia atau detergen yang dapt menyebabkan kematian mikroorganisme
b. Lakukan penggantian atau penambahan bongkahan kapur yang tersimpan pada Tangki
1 setiap 1 tahun sekali. Sebagai indikator tidak berfungsinya bongkahan kapur tersebut,
dapat dilakukan dengan melihat pH air lindi yang nilainya di bawah 6,0
c. Pada Tangki akan terbentuk lumpur walaupun dalam waktu yang sangat lama (kurang
lebih 1 tahun sekali). Lakukan pengurasan lumpur dengan cara dipompa
d. Salurkan air pengurasan tersebut ke Unit Hidrolisis Sampah, sehingga tidak ada air lindi yang
terbuang ke lingkungan dan dapat dimanfaatkan sebagai kompos cair.

Tata Cara Pilihan Teknologi 88


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3.2.3 PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN POMPA RESIRKULASI AIR LINDI

a. Pompa air lindi digerakkan oleh listrik, oleh karena itu hindari kemungkinan air masuk ke
dalam gulungan kawat. Hal tersebut dapat menyebabkan hubungan pendek dan pompa
tak dapat dioperasikan lagi
b. Pompa air lindi bekerja berdasarkan prinsipcentrifugal berkecepatan tinggi. Agar roda
turbin tidak cepat rusak, maka hindari pasir terhisap ke dalam pompa
c. Jangan dioperasikan tanpa beban, karena dapat menyebabkan dinamo cepat panas
dan pompa cepat rusak
d. Kabel dari stop kontak atau terminal menuju pompa harus selalu dijaga agar tidak
terkelupas karena terkena benda tajam atau tumpul. Terkelupasnya kabel dapat
menyebabkan operator terkena sengatan listrik
e. Apabila pompa resirkulasi air lindi mengalami kerusakan berat, seperti dinamo terbakar
atau turbin patah, maka segera bawa ke bengkel
f. Selalu menjaga kebersihan pompa

3.2.4 PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN UNIT PENAMPUNGAN GAS BIO

a. Unit Penampung Gas Bio terbuat dari plastikPolyethilene yang mempunyai ketebalan
berkisar 0,15-0,3mm. Kantong gas ini memiliki fungsi sebagai terminal gas bio, sebelum
dialirkan menuju dapur. Kantong gas bio rawan terhadap kebocoran, karena itu hindari
terkena benda tajam danmatahari secara langsung. Apabila ada kebocoran, segera
ganti dengan penampung gas bio yang baru
b. Pompa gas bio adalah pompa tenaga listrik dengan prinsip kerja peristaltik.Pompa ini
dioperasikan dengan menggunakan stopkontak listrik dari dapur. Karena itu pemeliharaan
utama adalah menghindari kemungkinan terendam air, kabel terkelupas dan sambungan-
sambungan pipa yang tidak kuat
c. Apabila terjadi kebocoran pada pipa, segera perbaiki menggunakan lem (lem karet atau
lem PVC).Bila pompa mengalami kerusakanberat, seperti motor terbakar, turbin pecah,
maka segera bawa ke bengkel
d. Lakukan pengecekan terhadap jalur pipa penyalur gas, minimal 1 minggu sekali

3.2.5 PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN ALAT PENEKAN SAMPAH MANUAL

a. Alat Penekan Sampah Manual bekerja berdasarkan prinsip penekanan dengan


mengunakan ulir berputar. Oleh karena itu, agar alat selalu bekerja optimal, ulir tersebut
harus selalu diberi pelumas, sehingga tidak kering
b. Agar Alat Penekan Sampah selalu dapat digunakan, maka pemeliharaan utama adalah
pencucian alat hingga bersihseusai dioperasikan. Jangan dibiarkan berkarat dan terkena
air hujan.

Tata Cara Pilihan Teknologi 89


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3.2.6 PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN ALAT PENGAYAK KOMPOS PADAT

a. Alat Pengayak Kompos Padat bekerja berdasarKan prinsipsentrifugal, dimana kompos


padat yang akan disaring dimasukkan pada muara alat tersebut, kemudian diputar
secara manual (tenaga manusia). Kompos kasar akan tertahan dan mengalir ke
belakang, sedangkan kompos halus akan jatuh dan berkumpul dibawah penyaring
b. Hindari alat tersebut dari air hujan karena dapat menyebabkan korosif
c. Lumasi oli atau gemuk pada rantai pemutar secara berkala selama 1 (satu) bulan sekali
d. Apabila ada cat yang terkelupas, lakukan segera pengecatan pada bagian tersebut

3.2.7 PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN ALAT PENCACAH SAMPAH ORGANIK

a. Mesin pencacah bekerja berdasarkanprinsippemotongan secara sentrifugal. Mesin ini


digerakkan oleh motor diesel berbahan bakar solar. Baik motor diesel maupun chopper
pemotong terbuat dari besi. Sehingga pemeliharaan utama adalah menghindari mesindari
air hujan karena akan mengakibatkan korosif. Setelah selesai dioperasikan, harus dicuci
hingga bersih.Selalu beri pelumas pada bagian bearing atau bagian yang bergesek
b. Bila cat terkelupas, lakukan pengecetan kembali pada daerah tersebut sehingga terhindar
dari karat dan korosif
c. Pemeliharaan utama untuk mesin diesel berupa pembersihanmenggunakan minyak
solarbersih dan selalu dioperasikan pada putaran sedang (berkisar 1.000 putaran/menit).
d. Bila terjadi kerusakan berat sehingga tidak dapat diatasi oleh operator TPS 3R, maka alat
harusdiperbaiki di bengkel
e. Selalu dijaga kebersihan mesin

Tata Cara Pilihan Teknologi 90


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
2. MULTY DRUM COMPOSTER

Tata Cara Pilihan Teknologi 91


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pilihan Teknologi 92
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
MULTY DRUM COMPOSTER

Multy drum composter adalah model pengolahan sampah organik yang dapat dilakukan di
sumber (rumah). Multy Drum Composter ini dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Malang
(Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Malang). Melalui Multy Drum Composter akan
diperoleh energi berupa gas metana dari hasil dekomposisi sampah organik selama proses
pembusukan dari material sampah. Gas metana yang tertampung dalam ampul plastik dapat
digunakan untuk menambah kebutuhan akan bahan bakar gas pengganti LPG.

1. MANFAAT MULTY DRUM COMPOSTER

Beberapa manfaat Multy Drum Composter antara lain :


a. Mengurangi pemanasan global yang disebabkan gas metana yang terlepas sebelum
melalui proses pemanfaatan
b. Sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM)
c. Kompos dapat digunakan sebagai pupuk organik
d. Meningkatkan kegiatan pemilahan pada sumbernya
e. Mengurangi jumlah sampah yang tak terkendali
f. Ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan agar tetap sehat

2. BAHAN DAN MATERIAL

Berikut ini bahan dan material yang dibutuhkan dalam pembuatan Multy Drum Composter,
yaitu :
a. Drum plastik baru/bekas bervolume 120 liter sebanyak 4 unit
b. Pipa PVC berdiameter 3/4 inch sepanjang 6 meter
c. Valve PVC berdiameter 3/4 inch sebanyak 9 unit
d. Kran plastik berdiameter 3/4 inch sebanyak 5 unit
e. Shockdrat PVC diamater 3/4 inch sebanyak 8 unit
f. Selang plastik berulir diameter 3/4 inchsepanjang 3 meter
g. Ampul Plastik dengan kapasitas 1 m 3

Tata Cara Pilihan Teknologi 93


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3. CARA PEMBUATAN

Langkah-langka pembuatan Multy Drum composter adalah sebagai berikut :


a. Buatlah sebanyak 2 (dua) buah lubang berdiameter 3/4 inch pada tutup drum plastik
b. Masukkan shockdrat pada dua lubang tersebuthingga rapat dan upayakan tidak terjadi
kebocoran pada sisi-sisi luarnya
c. Pipa PVC berdiameter 3/4 inch sepanjang 30 cm disambungkan dengan menggunakan lem
pada valve PVC berdiameter 3/4 inch pada bagian luar dari masing-masing shock drat
d. Sambungkan pipa perforasi (tanpa lem) pada bagian dalam dan pipa tersebut sebelum
dilakukan proses pelubanganpada sisi sisinya
e. Buat lubang secukupnya sesuai dengan diameter kran air kemudian masukkan kran air
tersebut untuk proses pengambilan lindi
f. Lakukan hal yang sama pada tiga drum lainnya
g. Pasanglah selang plastik berulir dengan menghubungkan antara satu dengan yang lainnya
sehingga terbentuk sesuai gambar

Tata Cara Pilihan Teknologi 94


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
4. DESAIN MULTY DRUM COMPOSTER

Kran 6

Kran 5

Valve Valve
4.1 4.2
Valve Valve
3.2 Tutup Drum
3.1
Pengikat tutup
Valve Valve
2.1 2.2
Valve Valve
1.1 1.2

DRUM 4
DRUM 3
Kran 4

DRUM 2 Kran 3
DRUM 1
Kran 2
Kompor Gas
Kran 1

Pipa PVC Dia 1 berlobang (perforated) panjang 70 cm

Gambar 1 Desain Multy Drum Composter

Tata Cara Pilihan Teknologi 95


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
5. CARA PENGOPERASIAN

Untuk cara pengoperasion Multy Drum Composter adalah sebagai berikut :


a. Rangkailah bentuk Multy Drum Composter sesuai dengan desainnya
b. Lakukah pemilahan sampah pada sumbernya dengan memisahkan antara sampah
organik, anorganik dan sampah B3
c. Untuk sampah organik dimasukkan ke dalam Multy Drum Composter, akan lebih optimal
jika sampah organik yang dimasukkan sudah dalam keadaan tercacah
d. Masukkan sampah setiap hari pada DRUM 1 hingga volume sampah mencapai 95 %. Untuk
1 keluarga terdiri atas 4-5 jiwa sehingga pemasukan sampah hingga penuh membutuhkan
waktu 20-30 hari
e. Apabila sampah sudah penuh, tambahkan air bekas cucian beras atau leri sebanyak 2
liter dengan cara menyiramkannya secara merata. Kemudian DRUM 1 ditutup dengan
rapat, kemudian lakukan pembukaan Valve 1.1 dan Kran 5, sementara pastikan kondisi
Valve 1.2 dan Kran 6 dalam kondisi tertutup
f. Gas metana yang terhasilkan dari proses ini dapat diketahui dengan cara :
Buka satu stop kran secara perlahan hingga terdengar suara mendesis
Sulut dengan korek api diatas kran yang dibuka
Apabila ada nyala api, maka hal itu menandakan gas metan sudah terproduksi
g. Lakukan hal yang sama pada DRUM 2 dengan menimbun sampah organik hingga
mencapai volume 95 %. Kemudian ambil air lindi pada DRUM 1 dengan cara membuka
Kran 1 bagian bawah, dan lakukan penyiraman air lindi tersebut pada sampah yang ada
didalam DRUM 2. Setelah itu, lakukan penutupan dengan rapat untuk DRUM 2, selanjutnya
lakukan pembukaan pada Valve 1.2 dan Valve 2.1, namun pastikan Valve 2.2 dalam
keadaan tertutup
h. Lakukan pembuangan sampah organik setiap hari pada DRUM 2 hingga mencapai volume
95 %. Waktu yang diperlukan untuk mengisi sampah hinga volume 95 % berkisar 20-30 hari
i. Lakukan hal yang sama pada DRUM 3 dengan menimbun sampah organik hingga
mencapai volume 95 %, kemudian ambil air lindi pada DRUM 2 dengan cara membuka
Kran 2 bagian bawah, dan lakukan penyiraman air lindi dari DRUM 2 kedalam DRUM 3.
Kemudian tutup DRUM 3 hingga rapat, selanjutnya Valve 2.2 dan Valve 3.1 dibuka
sedangkan Valve 3.2 harus dalam keadaan tertutup
j. Lakukan hal yang sama pada DRUM 4 dengan menimbun sampah organik sekitar 50% dari
volume drum. Pada saat yang sama, DRUM 1 sudah dapat dilakukan pemanenan kompos
k. Untuk menggunakan gas metana, dapat dilakukan dengan melihat ampul plastik. Apabila
ampul sudah terisi penuh oleh gas metana, maka dapat dilakukan pembukaan pada kran
6, selanjutnya kompor gas yang ada dapat disulut dengan korek api
l. Agar tekanan api pada kompor tetap stabil, maka perlu dilakukan penekanan pada
ampul gas dengan menggunakan karet (potongan ban dalam) yang diikatkan pada
penyangga ampul
m. Setelah dilakukan pemanenan kompos (kondisi DRUM 1 kosong), selanjutnya tempatkan
drum tersebut pada posisi yang dekat dengan DRUM 4 sehingga dapat dilakukan proses
selanjutnya

Tata Cara Pilihan Teknologi 96


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
6. CARA MEMANEN KOMPOS DARI DALAM DRUM

Berikut ini cara memanen kompos dari dalam drum, sebagai berikut :
a. Apabila kompos pada DRUM 1 sudah matang dan volume sampah pada DRUM 4 mencapai
50 %, maka tutuplah Kran 5, tutup Valve 1.1; Valve 1.2 dan Valve 2.1
b. Selanjutnya pindahkan selang dari inlet Ampul (Kran 5) pada pipa yang menghubungkan
(Valve 2.1) pada DRUM 2, kemudian lakukan pembukaan Valve 2.1 dan Kran 5
c. Tiriskan air yang ada di DRUM 1 dengan memiringkan drum tersebut hingga benar-benar
kering, selanjutnya masukkan air tersebut pada DRUM 4 (dalam proses harian dan drum
dalam kondisi terbuka)
d. Kemudian buka DRUM 1 tersebut selama 1 hari, selanjutnya lakukan pengambilan kompos
yang ada dalam DRUM 1 dengan meletakkannya di suatu area terbuka (kontak langsung
dengan Oksigen dan matahari). Lakukan pencacahan, pengayakan serta penjemuran
kompos selama kurang lebih 6 hari
e. Volume kompos yang ada dalam DRUM 1 akan menyusut menjadi 40-50 % dari volume awal
dengan umur proses selama kurang lebih 60 hari
f. Lakukan hal sama dengan DRUM 2, DRUM 3 dan DRUM 4 secara bergantian untuk
melakukan proses pemanenan kompos dari dalam DRUM tersebut

Tata Cara Pilihan Teknologi 97


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 2 Multy Drum Composter

Tata Cara Pilihan Teknologi 98


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3. BIOMETHAGREEN

Tata Cara Pilihan Teknologi 99


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pilihan Teknologi 100
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BIOMETHAGREEN

Biomethagreen merupakan salah satu alternatif pengolahan sampah organik di sumber


dengan menerapkan teknologi anaerob (biodigester) dan didesain secara costumized.
Biomethagreen mudah dan praktis dilakukan serta ramah lingkungan. Hasil yang diperoleh
melalui pengolahan sampah menggunakan biomethagreen adalah gas bio dan pupuk organik
cair berkualitas.

1. SUMBER SAMPAH
Sumber sampah yang dapat diolah dengan alternatif ini yaitu ;
a. Rumah tangga
b. Rumah makan
c. Perkantoran/septic tank
d. Pasar/super market
e. Pabrik tahu, tempe dan sebagainya (penghasil limbah organik cair)
f. Peternakan (sapi, domba, kambing, ayam, kuda dan lain-lain)

2. TAHAPAN PENGELOLAAN SAMPAH DOMESTIK MELALUI KONSEP BIOMETHAGREEN


a. Tahapan Pemilahan
Pemilahan dilakukan dengan memisahkan antara sampah organik dengan sampah
anorganik. Sampah organik yang dapat diolah antara lain :
Sisa-sisa makanan, sayuran, buah-buahan, cankang telur, tulang-tulang ikan
Kotoran ternak, kotoran burung, tinja, urine
Limbah cair pabrik tahu dan pabrik tempe
Daun-daun tanaman (memerlukan pencacahan terlebih dahulu)

b. Pemasukan sampah organik


Sampah/limbah organik dimasukkan ke dalam input biodigester
Dilakukan setiap hari dengan jumlah yang disesuaikan
Hindari pemasukan sampah anorganik ke dalam biodigester
Tambahkan air secukupnya untuk membersihkan lubang input biodigester

c. Pengocokan dan pengadukan


Kocoklah biodigester setiap hari untuk meningkatkan kinerja bakteri pengurai

d. Pemanfaatan Gas bio


Gas bio akan terbentuk antara 4-7 hari setelah proses pemasukan awal
Jumlah produksi gas bio sekitar 40 liter dari setiap 1 kg sampah organik (bervariasi
tergantung kondisi lingkungan dan jenis limbah/sampah)
Gas bio yang dihasilkan biodigester akan ditampung dalam balon gas bio dan disalurkan
ke kompos gas bio

Tata Cara Pilihan Teknologi 101


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gas bio yang dihasilkan dapat juga digunakan sebagai bahan bakar generator untuk
penerangan

e. Pengolahan pupuk cair


Limbah cair gas bio (slurry) akan keluar dari output biodigester disaat pemasukan sampah
organik ke dalam input biodigester(gambar 6)
Slurry ditampung dalam drum penampung dibiarkan beberapa minggu sebelum
digunakan
Pupuk cair dan gas bio kandungan nutrisinya akan berbeda tergantung jenis sampah
yang dimasukan

Gambar 1 Slurry dari output biodigester

1. REAKTOR SKALA RUMAH TANGGA


- Spesifikasi :
1. Dimensi : panjang = 160 cm; lebar = 120 cm; tinggi = 100 cm
2. Volume total : 850 liter sampah
- Asupan sampah per hari : 1-8 kg
- Produksi gas bio per bulan : 9,1 m3
- Produksi listrik/bulan : 2,8 kWh

2. ASUMSI PRODUKSI GAS BIO


Asupan sampah organik 1.000 kg per hari
Kapasitas reaktor 80 m3
Gas bio per hari : 10-60 atau rata-rata 35 m3 per ton sampah
Produksi metan 21 m3 per ton sampah
Konversi : 2 m3 metan = 1 kWh
Produksi listrik per hari : 10,5 kWh/ton sampah
Dapat menyalakan lampu 875 waTt selama 12 jam atau menyalakan PJU 21 titik dengan
daya masing-masing 40 watt selama 12 jam

Tata Cara Pilihan Teknologi 102


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3. ANALISIS SAMPAH PASAR
Volume sampah organik per hari : 10 m3
Asumi proses 20 hari sehingga :
Volume digester 360 m 3

Produksi gas/hari : 350 m3


Produksi listrik/hari : 105 kWh
Cairan sludge/hari : 9.000 ton

4. OUTPUT BIOMETHAGREEN
Gas bio sebagai sumber energi
Produk kerajinan dari sampah anorganik
Penjualan sampah anorganik
Penghijauan liingkungan
Produk pupuk cair organik
Suplier tanaman

Gambar 2 Desain Biomethagreen

5. BEST PRACTICE BIOMETHAGREEN


a. Pengembangan Skala Besar di Bandung
Kapasitas 1 Ton sampah/hari
Volume 80 m3
Sampah organik
Pemanfaatan : memasak dan penerangan
Diresmikan oleh wakil walikota Bandung

Tata Cara Pilihan Teknologi 103


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Gambar 3 Penerapan Biomethagreen di Bandung

Tata Cara Pilihan Teknologi 104


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
b. KSM My Darling (Masyarakat Sadar Lingkungan) Cibangkong, Kota Bandung

(b)

(a) (c)
Gambar 4 (a) Reaktor anaerob, (b) Proses pemasukan sampah dan air, (c) Kompos cair
hasil pengolahan sampah

(d) (e)
Gambar 5 (d) dan (e) Bin dan Reaktor penampung kompos cair

Tata Cara Pilihan Teknologi 105


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pilihan Teknologi 106
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
4. KSM SINAR KENALI

Tata Cara Pilihan Teknologi 107


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Pilihan Teknologi 108
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
KSM SINAR KENALI

Pada tahun 2012 telah terbangun TPS 3R di Kota Jambi yang dikelola oleh KSM Sinar Kenali.
Terbangunnya TPS 3R ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan perumahan serta
penduduk yang relatif cepat di wilayah Kelurahan Kenali Asam Bawah dan sekitarnya sehingga
berdampak pada masalah lingkungan seperti sampah.

Sistem pengolahan sampah yang diterapkan di TPS 3R Kota Jambi adalah gabungan antara
metode aerob dengan anaerob. Pengomposan sampah organik dilakukan secara aerob pada
bak terbuka, sedangkan air lindi ditampung pada reaktor anaerob yang tertanam didasar
tanah. Air lindi tersebut akan menghasilkan gas bio yang ditampung pada suatu drum. Berikut
adalah tahapan proses pengolahannya :
Pengangkutan sampah dari rumah warga dan pemilahan dilakukan oleh operator TPS 3R
Sampah anorganik menjadi hak operator TPS 3R untuk pemasukan tambahan sedangkan
sampah organik diolah menjadi kompos dan gas bio
Sampah organik terlebih dahulu dicacah, diletakkan pada bak terbuka kemudian
ditambahkan EM4 dengan proses pematangan selama 1 minggu
Air lindi yang dihasilkan dari proses pengomposan sampah dialirkan ke pipa untuk menuju ke
reaktor yang tertanam di dasar tanah
Air lindi pada reaktor tersebut akan menghasilkan gas bio yang tertampung di drum (toren)
Gas bio yang terhasilkan dialirkan ke instalasi kompor gas dan dapat digunakan untuk
keperluan memasak
Sedangkan kompos yang sudah matang diayak kemudian diaplikasikan pada bibit
tanaman cabai dan tomat. Bibit cabai dan tomat tersebut dijual ke warga serta instansi
yang berminat

Tata Cara Pilihan Teknologi 109


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
(a) (b)

(c) (d)

(e) (f)
Gambar 1 (a) Pengomposan bak terbuka, (b) Kompos pada bak terbuka, (c) Bak
penampung gas bio, (d) Bibit pohon mangga, (e) Bibit tanaman cabai dan tomat, (f) Kompor
yang menggunakan gas bio

Tata Cara Pilihan Teknologi 110


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
TATA CARA
MONITORING DAN EVALUASI
TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R

BUKU 5
KATA PENGANTAR
Pelaksanaan program pengurangan kuantitas sampah sebagai program pada skala nasional telah
sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan
sampah sebagai sumber daya. Pengelolaan sampah tersebut terdiri dari pengurangan sampah dan
penanganan sampah. Untuk pengurangan sampah biasanya dilakukan pembatasan timbulan
sampah, pendaur-ulangan sampah dan/atau pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan untuk
penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan dan
pemrosesan akhir sampah.

Pengurangan sampah tersebut juga sejalan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
21/PRT/M/2006, khususnya kebijakan (1), yaitu pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai
dari sumbernya. Kementerian Pekerjaan Umum sendiri telah melakukan pilot project di beberapa
kawasan untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R)
Berbasis Masyarakat. Pembangunan/penyediaan sarana penanganan sampah pada skala komunal
yang berbasis masyarakat tersebut melalui mekanisme penyediaan dana bantuan sosial untuk setiap
lokasi sasaran.

Dalam rangka memberikan panduan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan TPS 3R tersebut,
maka dibutuhkan buku panduan yang memuat tata cara pemilihan lokasi, perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, serta pilihan-pilihan teknologi dalam pengolahan sampah
berbasis masyarakat.

Buku Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS
3R) Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman yang telah disusun ini terdiri dari 6 (enam) jilid buku,
yaitu:
1. Buku 1, memuat Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
2. Buku 2, memuat Tata Cara Perencanaan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
3. Buku 3, memuat Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah
(TPS) 3R
4. Buku 4, memuat Tata Cara Pilihan Teknologi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
5. Buku 5, memuat Tata Cara Monitoring dan Evaluasi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
6. Buku 6, memuat Lampiran dan Format Pelaporan
Diharapkan seluruh pemangku kepentingan pelaksana kegiatan Program TPS 3R Berbasis Masyarakat
ini dapat memahami tata laksana dan kaidah-kaidah yang ada di dalam Buku Tata Cara
Penyelenggaraan Umum Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat di Kawasan
Permukiman ini serta menerapkannya pada pelaksanaan TPS-3R Berbasis Masyarakat di lokasi
sasaran.

Semoga panduan ini dapat bermanfaat dan tetap terbuka kesempatan kepada pihak-pihak yang
terkait dengan pelaksanaan kegiatan TPS 3R Berbasis Masyarakat, untuk memberikan masukan serta
saran dan kritik atas buku ini, guna mengoptimalkan hasil dan kebermanfaatan dari pembangunan
TPS 3R Berbasis Masyarakat ini.
Jakarta, May 2014
Direktur Jenderal Cipta karya

Ir. Imam S. Ernawi, MCM., M.Sc.


DAFTAR ISI
BUKU 5 TATA CARA MONITORING DAN EVALUASI
TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Maksud dan Tujuan 1
1.3 Sasaran 1

BAB II PEMANTAUAN PENGELOLAAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R 3


BERBASIS MASYARAKAT
2.1 Umum 3
2.2 Pemantauan Di Tingkat Pusat 3
2.3 Pemantauan Di Tingkat Provinsi 3
2.4 Pemantauan Di Tingkat Kabupaten 4
2.5 Program Pemantauan 5
2.5.1 Lokasi TPS 3R 5
2.5.2 Sarana dan Prasarana 6
2.5.3 Kelembagaan 9
2.5.4 Pendanaan 10
2.5.5 Peran Serta Masyarakat 11
2.5.6 Pengaturan 12
2.5.7 Operasional 12

BAB III EVALUASI PENYELENGGARAAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R 13


BERBASIS MASYARAKAT
3.1 Indikator 13
3.2 Evaluasi Tingkat Pusat 13
3.3 Evaluasi Tingkat Provinsi 14
3.4 Evaluasi Tingkat Kota/Kabupaten 14
3.5 Program Evaluasi 14
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R merupakan pedoman
teknis pelaksanaan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah
(TPS) 3R berbasis masyarakat. Pedoman ini merupakan bagian yang tidak terpisah dari
pedoman perencanaan dan pelaksanaan. Monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Tempat
Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat meliputi pemantauan dan evaluasi
pelaksanaan program yang meliputi perencanaan penyelenggaraan Tempat Pengolahan
Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat serta pelaksanaan kegiatan yang meliputi aspek teknis
operasional, kelembagaan, pendanaan, pengaturan (legal), dan peran serta masyarakat.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud diterbitkannya pedoman monitoring dan evaluasi sebagai arahan bagi pelaku di
lapangan dalam memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan penyelenggaraan Tempat
Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.

Sedangkan tujuannya adalah :


1. Menelusuri tahapan kemajuan dalam Pengelolaan TPS 3R berbasis masyarakat.
2. Mengevaluasi kinerja sistem
3. Menyediakan data untuk pengembangan dan replikasi program

1.3 SASARAN

Diperolehnya pedoman monitoring dan evaluasi yang komprehensif mencakup seluruh aspek
dalam penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 1


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 2
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB II
PEMANTAUAN PENGELOLAAN
TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R BERBASIS MASYARAKAT

2.1 UMUM

Pedoman Pemantauan penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis


masyarakat adalah proses yang dilakukan secara berkala mulai dari persiapan, perencanaan,
sosialisasi, pelaksanaan, keberlanjutan program, sampai dengan pengembangan dan
replikasi. Hasil dari kegiatan pemantauan digunakan untuk perbaikan kualitas pelaksanaan
dan perbaikan perencanaan. Hasil kegiatan tersebut jug a dapat digunakan untuk input
evaluasi pelaksanaan program maupun dasar untuk keberlanjutan program, pengembangan
serta replikasi.
Pemantauan pelaksanaan penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis
masyarakat dilakukan secara :
1. Pemantauan internal dilakukan oleh seluruh unit pelaksana di dalam sistem
penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.
2. Pemantauan eksternal dilakukan oleh unit di luar pelaksana kegiatan seperti LSM, perguruan
tinggi.

2.2 PEMANTAUAN DI TINGKAT PUSAT

Ditingkat Pusat, pemantauan dilakukan oleh Direktorat PPLP, Ditjen Cipta Karya, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Tim Koordinasi Pusat. Pemantauan ditekankan kepada:
1. Jumlah provinsi yang melaksanakan pengelolaan TPS 3R berbasis masyarakat.
2. Perencanaan Pengelolaaan TPS 3R Berbasis Masyarakat di tingkat provinsi.
3. Jumlah kota yang melaksanakan pengelolaan TPS 3R berbasis masyarakat.
4. Pelaksanaan kegiatan pengelolaan TPS 3R terpadu pada masing-masing provinsi.

2.3 PEMANTAUAN DI TINGKAT PROVINSI

Pemantauan di Tingkat Propinsi dilaksanakan oleh Satker PPLP, melalui kunjungan


ke kabupaten/kota terpilih. Pemantauan dilakukan pada beberapa hal sebagai berikut :
1. Pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis
masyarakat di kota/kabupaten.
2. Pelaksanaan seleksi kota yang berminat melaksanakan penyelenggaraan Tempat
Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.
3. Pelaksanaan pemilihan fasilitator.
4. Pelaksanaan pemilihan lokasi pada lokasi terpilih.

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 3


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
5. Pendampingan kepada fasilitator dan KSM dalam kegiatan Pelaksanaan Survai Lapangan
mengenai timbulan dan komposisi sampah serta kondisi masyarakat dan pemilihan teknologi
penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.
6. Pelaksanaan penyiapan masyarakat yang terdiri dari sosialisasi 3R, verifikasi teknologi
ditingkat masyarakat, pemilihan lokasi TPS 3R, pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat
(KSM), dan Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat.
7. Pelaksanaan pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana penyelenggaraan
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat
8. Pendampingan Pelaksanaan penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
berbasis masyarakat yang meliputi :
a. Teknis operasional.
b. Pembentukkan kelembagaan.
c. Pendanaan.
d. Peraturan dan Perundangan.
e. Peran Serta Masyarakat.
f. Keberlanjutan Program.

2.4 PEMANTAUAN DI TINGKAT KOTA/KABUPATEN

Pemantauan di Tingkat Kota/Kabupaten dilakukan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat yang meliputi :
1. Proses sosialisasi kepada seluruh lokasi yang berpotensi mengelola sampah 3R berbasis
masyarakat.
2. Proses seleksi lokasi berminat di kota/kabupaten.
3. Pelaksanaan Survey Lapangan yang dilakukan oleh fasilitator mengenai timbulan dan
komposisi sampah serta kondisi masyarakat dan pemilihan teknologi penyelenggaraan
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.
4. Pelaksanaan penyiapan masyarakat yang terdiri dari sosialisasi 3R, verifikasi teknologi
ditingkat masyarakat, pemilihan lokasi TPS 3R, pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat
(KSM), dan Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat.
5. Pelaksanaan pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana penyelenggaraan
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat
6. Pelaksanaan penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat
yang meliputi :
a. Teknis operasional
b. Pembentukkan kelembagaan
c. Pendanaan
d. Pengaturan dan Perundangan
e. Peran Serta Masyarakat
f. Keberlanjutan Program

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 4


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
2.5 PROGRAM PEMANTAUAN
2.5.1 LOKASI TPS 3R
Program pemantauan dilakukan dengan alat bantu pantau yang terukur seperti Label berikut
ini:
Beri tanda (X) pada kondisi yang ada di lapangan
Umum :
Letak Lokasi
< 50 m dari rumah terdekat
Antara 50 - 100 m dari rumah
Antara 100 - 500 m dari rumah
> 500 m dari rumah terdekat
Status lahan :
Milik Pemerintah
Milik Perorangan
Milik Perusahaan Swasta
Tanah Wakaf
Tidak diketahui
Luas Lokasi :
Sama dengan atau lebih dari 10 00 m 2
An t a r a 5 0 0 - 1 0 0 0 m 2
An t a r a 2 0 0 - 5 0 0 m 2
Kurang dari 200 m2

Fisik:
Topografi :
Lereng
Berbukit
Datar
Hidrologi
Kurang 100 m dari badan air
Antara 100 - 300 m dari badan air
Lebih 300 m dari badan air
Sumber air
Air sungai
Air danau
Air tanah
Lainnya
Jalan masuk ke lokasi
Jalan diperkeras
Jalan tanah tanpa rumput
Jalan tanah bersemak

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 5


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
2.5.2 SARANA DAN PRASARANA
1. PEWADAHAN
Pola pewadahan, baik untuk individual dan komunal :
Satu jenis pewadahan untuk semua sampah
Pewadahan terpilah antara sampah organik dan non organik
Pewadahan terpilah antara sampah organik, non organik, dan sampah B3
Pewadahan dengan warna gelap untuk sampah mudah terurai secara
alamiah seperti daun, sisa makanan, sayuran
Pewadahan dengan warna terang untuk sampah tidak mudah membusuk
seperti plastik, gelas, kertas, logam, kain. Jumlah pewadahan lebih d ari satu
dengan warna berbeda dapat dilakukan sesuai dengan jenis komponen
yang dipilah.
Pewadahan dengan warna merah dengan tanda berbahaya untuk
sampah B3 rumah tangga seperti bekas kemasan obat, kemasan pestisida,
kemasan obat pemeberantas serangga, dll.
Bahan wadah
Plastik
Logam
Kayu
Rotan
Lainnya sebutkan..
Metoda pewadahan :
Ada tutup
Tidak ada tutup
Ukuran wadah:
Lebih kecil dari 10 liter
Antara 10 liter 30 liter
Antara 30 liter 60 liter
Diatas 60 liter

2. PENGOLAHAN SKALA RUMAH TANGGA


Jenis peralatan komposter yang digunakan :
Tong dan plastik yang berlubang
Keranjang takakura
Bak dari kayu
Drum setengah berlubang
Lainnya sebutkan .
Volume komposter :
Diatas 3 unit per rumah
2unit per rumah
1unit per rumah
lainya sebutkan
Warna hasil kompos :
hitam seperti tanah
coklat tua
lainnya sebutkan.

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 6


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Bau hasil kompos :
Berbau seperti humus
Berbau busuk
Tidak berbau
lainnya sebutkan.
Bentuk kompos:
Mempunyai tekstur yang halus
Masih kasar terlihat ada materi organik tidak hancur
lainnya sebutkan.
Daur ulang sampah non organik :
Tidak mengunakan tekonologi yang berbahaya bagi kesehatan
Tidak mengunakan bahan kimia seperti lem, bensin, minyak tanah
Tidak menimbulkan dampak negatife bagi lingkungan ( misalnya air
buangan)
Tidak memerlukan keterampilan khusus yang sulit dilakukan orang awam
Produk daur ulang
Kertas untuk kertas seni dan barang seni lainnya
Plastik untuk barang seni kerajinan tangan
Bahan baku pabrik
lainnya sebutkan.

3. PENGUMPULAN
Jenis alat pengumpulan :
Gerobak / motor sampah biasa
Gerobak sampah 3R
Motor sampah 3R
lainnya sebutkan.
Pola pengumpulan :
Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah tecampur dalam satu gerobak
Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan gerobak atau motor
sampah 3R ( bak terpilah untuk beberapa jenis sampah )
Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan gerobak atau motor
sampah beberapa gerobak dimana masing masing gerobak mengumpulkan
jenis sampah tertentu pada hari yang sama.
Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan gerobak atau motor
sampah beberapa gerobak dimana masing masing gerobak mengumpulkan
jenis sampah tertentu pada cara yang berbeda
lainnya sebutkan.
Opersional pengumpulan:
Frekuensi pengumpulan
Setiap hari
Tiga hari sekali
Seminggu sekali
Lainnya sebutkan..

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 7


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Frekuensi pengumpulan disesuaikan dengan komponen sampah :
Sampah mudah membusuk:
Setiap hari
Tiga hari sekali
Seminggu sekali
Lainnya sebutkan.
Untuk sampah kering:
Setiap hari
Tiga hari sekali
Seminggu sekali
Lainnya sebutkan.
Untuk sampah B3 dikumpulkan :
Setiap hari
Tiga hari sekali
Seminggu sekali
Lainnya sebutkan.
Daerah layanan mencakup :
Lebih dari 500 kk
300-500 kk
100-100 kk
50-100 kk
Kurang dari 50 kk
Pelaksanaan pegumpulan dilakukan oleh :
Dinas kebersiahan atau sejenisnya
Petugas khusus dari RW/ Kelurahan
Swadaya masyarakat oleh KSM
Kelompok aktif masyarakat: karang taruna, PKK, dll
Lainnya sebutkan.

4. TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH SKALA KAWASAN


Jenis teknologi yang digunakan :
Kegiatan daur ulang :
Pengolahan sampah organik
Pengolahan sampah kertas
Pengolahan sampah plastik
Lainnya sebutkan.
Teknologi pengkomposan yang digunakan:
Open windrow
Caspary
Open Bin
Lainnya sebutkan.
Peralatan Bantu pengkomposan :
Alat penghancur sampah organik
Cairan activator seperti EM4, dll
Lainnya sebutkan.

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 8


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Kapasitas TPS 3R:
Diatas 2 ton (>10 m3/hari )
Antara 1 ton 2 ton per hari (5-10 m3/hari)
Kurang 1 ton per hari (< 5 m3/hari)
Cakupan Layanan :
Diatas 1000 kepala keluarga
Antara 751 - 1000 kepala keluarga
Antara 501 - 750 kepala keluarga
Antara 251 - 500 kepala keluarga
Antara 101- 250 kepala keluarga
Antara 40 - 100 kepala keluarga
Dibawah 40 kepala keluarga
Warna hasil kompos
Hitam seperti tanah
Coklat tua
Lainnya sebutkan
Bau hasil kompos:
Berbau seperti humus
Berbau busuk
Tidak berbau
Lainnya sebutkan
Produk daur ulang :
Kertas utnuk kertas senis dan barang seni lainnya
Plastik untuk barang seni kerajinan tangan
Bahan baku pabrik
Lainnya sebutkan

2.5.3 KELEMBAGAAN
Bentuk lembaga:
Kelompok Swadaya Masyarakat
Bagian dari kepengurusan RT/RW
Kelompok Aktif ( PKK, Karang Taruna , Perkumpulan keagamaan)
Lembaga diluar lingkungan ( LSM )
Lainnya sebutkan
Struktur organisasi:
Pembina
Ketua
Sekretaris
Bendahara
Unit monitoring dan evaluasi
Unit kerajinan daur ulang
Unit produksi kompos
Unit penjualan produk
Unit pemiliharaan
Unit Diklat
Unti penyuluhan

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 9


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Legalitas pembentukan :
Surat keputusan RT/RW
Surat keputusan lurah
Surat keputusan Camat
Surat keputusan Walikota
Lainnya sebutkan

2.5.4 PENDANAAN
Biaya investasi :
Pewadahan :
Kurang dari Rp.25.000,- per kk
Antara Rp. 25.000,- s.d. Rp. 50.000,- per kk
Antara Rp. 51.000,- s.d. Rp. 100.000,- per kk
Antara Rp. 101.000,- s.d. Rp. 300.000,- per kk
Diatas Rp. 300.000,- per kk
Komposter Rumah Tangga
Kurang dari Rp. 25.000,- per kk
Antara Rp. 25.000,- s.d. Rp. 50.000,- per kk
Antara Rp. 51.000,- s.d. Rp. 100.000,- per kk
Antara Rp. 101.000,- s.d. Rp. 300.000,- per kk
Diatas Rp. 300.000,- per kk
Pengumpulan (berupa gerobak atau motor sampah) :
Kurang dari Rp. 1000.000,- per unit
Antara Rp. 1000.000 2.000.000,- per unit
Antara Rp. 2.001.000 3.000.000,- per unit
Diatas Rp. 3.000.000 per unit
Hanggar TPS 3R:
Kurang dari Rp. 200 juta
Antara 200 juta 500 juta
Antara 501 juta 1 milyar
Diatas 1 milyar
Biaya operasional per tahun :
Honor petugas di TPS 3R (Jumlah petugas : ..... orang):
Kurang dari Rp.5.000.000,-
Antara Rp. 5.000.000 10.000.000,-
Antara Rp. 10.100.000 15.000.000,-
Diatas Rp. 15.000.000,-
Biaya operasional di TPS 3R (pembelian bahan bakar, EM4, peralatan pengomposan,
dll.) :
Kurang dari Rp.4.000.000,-
Antara Rp.4.000.000 Rp. 7.000.000,-
Antara Rp. 7.100.000 Rp. 10.000.000,-
Diatas Rp. 10.000.000,-

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 10


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Biaya Pemeliharaan (perbaikan mesin, perawatan harian, dll,)
Kurang dari Rp.2.000.000,-
Antara Rp. 2.000.000 Rp. 5.000.000,-
Antara Rp. 5.100.000 Rp. 7.000.000,-
Diatas Rp. 7.000.000,-
Sumber dana :
Dana mandiri dari masyarakat
Sharing antara masyarakat dan pihak lain
Dana APBN pemerintah daerah
Dana LSM lokal
Dana LSM luar negeri
Lainnya sebutkan
Alokasi dana meliputi :
Operasional :
Peningkatan kapasitas ( capacity building ) dalam sarasehan,
Focus Group Discussion, dll
Pelatihan
Kunjungan lapangan
Pameran produk produk daur ulang
Lain-lain sebutkan.
Pemeliharaan
Penggantian komposter yang rusak
Pemeliharaan alat pengumpul
Pemeliharaan TPS 3R
Lainnya sebutkan..
Pelaporan keuangan:
Pembukuan
Laporan keuangan triwulan
Laporan keuangan tahunan
Lainnya sebutkan.

2.5.5 PERAN SERTA MASYARAKAT


Keterlibatan Warga :
Seluruh warga 1 RW terlibat
Seluruh warga 1 RT terlibat
50 % warga 1 RT terlibat
25 % warga 1 RT terlibat
Perwakilan pada setiap RT/RW di seluruh kelurahan
Lainnya sebutkan..
Kelompok aktif di masyarakat yang terlibat :
PKK
Karang Taruna
Jantung Sehat
Kelompok Agama
Arisan
Lainnya sebutkan..

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 11


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Frekuensi pertemuan warga tentang Pengelolaan TPS terpadu 3R :
Seminggu sekali
Dua minggu sekali
Sebulan sekali
3 bulan sekali
6 bulan sekali
1 tahun sekali
lebih dari 1 tahun sekali
tidak pernah
Lainnya sebutkan..

2.5.6 PENGATURAN
Pengaturan dan peraturan perundangan yang ada :
Surat Keputusan Pembentukan Organisasi penyelenggaraan Tempat Pengolahan
Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat - TKM ( SK Lurah, RW, atau RT )
Surat Keputusan ( Lurah, RW, RT) tentang iuran bulan pengelolaan sampah
Surat Keputusan ( Lurah, RW , RT ) tentang tata tertib kebersihan lingkungan dan
pengelola sampah.
Lainnya sebutkan..
Tidak ada peraturan

2.5.7 OPERASIONAL
Tingkat operasional saat pemantauan:
Berfungsi ( operasional > 50% sesuai rencana )
Kurang Berfungsi (operasional 10 - 50% sesuai rencana)
Tidak Berfungsi (sudah pernah beroperasi, tetapi kemudian berhenti sama sekali)
Belum Berfungsi ( sama sekali belum pernah dioperasikan)
Indikator Operasional pada saat pemantauan :
Ada pemilahan dari sumber
Ada pengurangan sampah ke TPA
Ada kontribusi warga/masyarakat (retribusi)
Ada produksi kompos
Kompos dipasarkan
Ada upaya pemanfaatan kompos (pembibitan tanaman)
Ada Pengelolaan TPS anorganik
Ada kegiatan pembuatan kerajinan daur ulang.

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 12


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
BAB III
EVALUASI PENYELENGGARAAN
TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R BERBASIS MASYARAKAT

Evaluasi program adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan
penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat dan juga
identifikasi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan. Untuk melakukan evaluasi
diperlukan indikator-indikator yang penting dan mempengaruhi dalam sistem
penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.

3.1 INDIKATOR

Indikator-indikator penting dalam Pengelolaan TPS terpadu 3R berbasis masyarakat adalah :


1. Peningkatan peran serta masyarakat dalam keterlibatannya pada program Pengelolaan TPS
terpadu 3R berbasis masyarakat. (Diukur berdasarkan jumlah masyarakat yang terlibat)
2. Terbentuknya lembaga (Kelompok Swadaya Masyarakat) dalam Pengelolaan TPS terpadu
3R berbasis masyarakat. (Diukur dari jumlah lokasi yang mempunyai KSM)
3. Adanya dana yang mendukung keberlanjutan program. (Diukur berdasarkan adanya
sumber dana)
4. Adanya teknologi pengolahan sampah yang berkelanjutan dalam mendukung Pengelolaan
TPS terpadu 3R berbasis masyarakat. (Diukur berdasarkan jumlah masyarakat yang
menerapkannya secara keberlanjutan dan mandiri)
5. Adanya pengaturan yang jelas dalam melaksanakan pengelolaan terpadu 3R berbasis
masyarakat. (diukur berdasarkan surat keputusan edaran, tentang tata cara Pengelolaan
TPS dari pimpinan wilayah RT, RW dan kelurahan).
6. Adanya pengurangan sampah yang dibuang ke TPA.
7. Adanya upaya pengembangan dan replikasi.

E val ua si p el aks an a an p r og ram Pe n ge l ol aa n T P S t erp ad u 3R di masyarakat


dilakukan oleh Tingkat Pusat, Propinsi dan Kota/Kabupaten.

3.2 EVALUASI TINGKAT PUSAT

Evaluasi tingkat pusat dilakukan oleh Tim Pusat. Indikator yang perlu diperhatikan dalam
evaluasi tingkat pusat adalah sebagai berikut :
1. Jumlah kota/kabupaten yang melaksanakan program Penyelenggaraan Tempat
Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.
2. Jumlah warga masyarakat yang terlibat dalam Penyelenggaraan Tempat Pengolahan
Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 13


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
3. Jumlah kota/kabupaten yang sudah memiliki Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).
4. Jumlah kota/kabupaten yang memiliki sumber dana mandiri.

3.3 EVALUASI TINGKAT PROPINSI

Evaluasi program tingkat propinsi dilaksanakan dengan mempertim bangkan


masukan dari hasil monitoring/pemantauan yang dilakukan di lapangan dengan hasil laporan
di tingkat kabupaten. indikator yang perlu diperhatikan adalah :
1. Jumlah kota/kabupaten yang melaksanakan program pengelolaan TPS Terpadu 3R
berbasis masyarakat.
2. Jumlah masyarakat yang terlibat dalam Pengelolaan TPS 3R berbasis masyarakat.
3. Jumlah lokasi yang terlibat dalam Pengelolaan TPS 3R berbasis masyarakat.
4. Jumlah lokasi yang sudah mempunyai Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).
5. Jumlah sampah terkurangi.

3.4 EVALUASI TINGKAT KOTA/KABUPATEN

Evaluasi pelaksanaan kegiatan di tingkat Kota / Kabupaten dilakukan dengan


mempertimbangkan masukan dari hasil pemantauan yang dilakukan oleh fasilitator dan Kepala
Desa/Lurah. Indikator dalam evaluasi tingkat Kabupaten adalah :
1. Jumlah masyarakat pada lokasi terpilih yang terlibat dalam Pengelolaan TPS terpadu 3R
berbasis masyarakat.
2. Jumlah Kepala Keluarga yang terlibat langsung dalam kegiatan pelaksanaan
Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat.
3. Jumlah sampah terkurangi.
4. Jenis produk daur ulang sampah.
5. Kesesuaian pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.

3.5 PROGRAM EVALUASI

Evaluasi dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan program 3R yang telah dijalankan
selama lebih dari satu tahun. Evaluasi ini akan mengelompokkan lokasi-lokasi Pengelolaan TPS
3R skala kawasan dan rumah tangga dalam beberapa tingkat keberfungsian, yaitu :
1. BERFUNGSI, jika pelaksanaan berjalan sesuai dengan rencana.
2. KURANG BERFUNGSI, jika teridentifikasi ada kegiatan Pengelolaan TPS 3R, tetapi berjalan
kurang optimal.
3. TIDAK BERFUNGSI, jika kegiatan Pengelolaan TPS 3R sudah tidak dijalankan sama sekali.

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 14


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Untuk mendapatkan nilai dari keberhasilan program 3R yang telah dijalankan, maka dilakukan
monitoring dan evaluasi dari beberapa aspek yang ditinjau, sebagai berikut :
1. LOKASI/LAHAN TPS 3R
Indikator Score
Letak Lokasi
< 50 m dari rumah terdekat 1
Antara 50 - 100 m dari rumah 2
Antara 100 - 500 m dari rumah 3
>500 m dari rumah terdekat 4
Penilaian tertinggi 4
Status lahan
Milik Pemerintah 5
Tanah Wakaf 4
Milik Perorangan 3
Milik Perusahaan Swasta 2
Tidak diketahui 1
Penilaian tertinggi 5

Luas Lahan : (Sampah tertangani (m3)/0.25) x 500)/luas lahan yang ada


1
Lebih besar atau sama dengan 1 antara 0,75 -1
0
Penilaian tertinggi 1

2. FISIK
Indikator Score
Topografi
Lereng 1
Berbukit 2
Datar 3
Penilaian tertinggi 3

Hidrologi :
1
Kurang 100 m dari badan air
2
Antara 100 - 300 m dari badan air
3
Lebih 300 m dari badan air

Penilaian tertinggi 3
Sumber air :
Air sungai 3
Air danau 3
Air tanah 2
Lainnya 1
Penilaian tertinggi 3
Penggunaan lahan sebelumnya
Tegalan/ Lahan Kosong 5
Tanah tidak terurus 5
Rumah 4

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 15


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Indikator Score
Sawah 3
Danau 2
Rawa 2
Jalur Hijau 1
Lainnya 0
Penilaian tertinggi 5

3. SARANA DAN PRASARANA


a. Pewadahan
Pemantauan Score
Pola pewadahan, baik untuk individual dan komunal
Satu jenis pewadahan untuk semua sampah 0
Pewadahan terpilah antara sampah organik dan non organik 1
Pewadahan terpilah antara sampan organik, non organik, dan 2
sampah B3
Penilaian tertinggi 2
Penempatan wadah, berlaku untuk individual dan komunal :
Ditempatkan dekat dengan sumber sampah :
Sampah organik
- Di atau dekat dapur 2
- Di luar rumah 1
- Di ruang tamu 0
Penilaian tertinggi 2
Sampah non organik
- Di atau dekat dapur 2
- Di luar rumah 1
- Di ruang tamu 0
Penilaian tertinggi 2
Letak pewadahan :
- Tidak mengganggu aktifitas penghuni 1
- Mengganggu aktifitas penghuni 0
- Mudah dalam pengosongan 1
- Sulit dalam pengosongan 0
Penilaian tertinggi 2
Bahan wadah :
- Plastik 4
- Logam 3
- Rotan 2
- Kayu 1
- Lainnya sebutkan 0
Penilaian tertinggi 4
Metoda pewadahan :
- Ada tutup 1
- Tidak ada tutup 0
Penilaian tertinggi 1
Ukuran wadah : ( jumlah penghuni x 3x3)/45 4
- Lebih besar atau sama dengan 1 3

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 16


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Pemantauan Score
- Antara 0,75 1 2
- Antara 0,5 0,75 1
- Lebih besar atau sama dengan 0,5
Penilaian tertinggi 4

b. Pengolahan Skala Rumah Tangga


Pemantauan Score
Jenis peralatan komposter yang digunakan :
- Tong dari plastik yang berlubang 3
- Keranjang tatakura 3
- Bak dari kayu berlubang 3
- Drum setengah berlubang 3
- Lainnya sebutkan..* 2
Selain dari diatas nilainya 2
Penilaian tertinggi 3
Volume komposter : ( jumlah penghuni x 1,5 x 50 )/2
- Diatas atau sama dengan 60 liter 3
- Antara 30 60 liter 2
- Di bawah 30 liter 1
Penilaian tertinggi 3
Jumlah komposter :
- Diatas 3 unit per rumah 4
- 2 unit per rumah 3
- 1 unit per rumah 2
- Lainnya sebutkan* 1
Penilaian tertinggi 4
Warna hasil kompos
- Hitam seperti tanah 3
- Coklat tua 2
- Lainnya sebutkan 1
Penilaian tertinggi 3
Bau hasil kompos :
- Berbau seperti humus 3
- Tidak berbau 2
- Berbau busuk 1
Penilaian tertinggi 3
Bentuk Kompos :
- Mempunyai tekstur yang halus 3
- Masih kasar terlihat ada materi organik tidak hancur 2
- Lainnya sebutkan 1
Penilaian tertinggi 3

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 17


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Pemantauan Score
Daur ulang sampah non organik :
Tidak mengunakan teknologi yang berbahaya bagi kesehatan 3
Tidak mengunakan bahan kimia seperti lem, bensin,minyak tanah 3
Tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan (misal air 3
buangan) 3
Tidak memerlukan keterampilan khusus yang sulit dilakukan orang
awam
Penilaian tertinggi 3
Produk daur ulang
Kertas untuk kertas seni dan barang seni lainnya 2
Plastik untuk barang seni kerajinan tangan 2
lainnya sebutkan. 1
Penilaian tertinggi 2

c. Pengolahan Skala Kawasan


Pemantauan Score
Jenis alat pengumpulan :
Gerobak sampah 3R (ada sekat) 3
Motor sampah 3R (ada sekat) 3
Gerobak / motor sampah biasa 2
lainnya sebutkan. 1
Penilaian tertinggi 3
Pola pengumpulan :
Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah tecampur 2
dalam satu gerobak
Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan 3
gerobak atau motor sampah 3R ( bak terpilah untuk
beberapa jenis sampah ) 3
Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan
gerobak atau motor sampah beberapa gerobak dimana 3
masing masing gerobak mengumpulkan jenis sampah
tertentu pada hari yang sama.
Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan 1
gerobak atau motor sampaj beberapa gerobak dimana
masing masing gerobak mengumpulkan jenis sampah
tertentu pada cara yang berbeda
lainnya sebutkan.
Penilaian tertinggi 3
Jenis teknologi yang digunakan :
Kegiatan daur ulang
Pengolahan sampah organik 3
Pengolahan sampah kertas 3
Pengolahan sampah plastik 3
Lainnya sebutkan. 1
Penilaian tertinggi 10

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 18


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Pemantauan Score
Teknologi pengkomposan yang digunakan :
Open windrow 3
Caspary 3
Open Bin 3
Lainnya sebutkan. 2
Penilaian tertinggi 3
Peralatan Bantu pengkomposan :
Alat penghancur sampah organik 3
Cairan activator seperti EM4, dll 2
Lainnya sebutkan. 1
Penilaian tertinggi 3
Kapasitas TPS 3R:
Diatas 2 ton (>10 m3/hari ) 3
Antara 1 ton 2 ton per hari (5-10 m3/hari) 2
Kurang 1 ton per hari (< 5 m3/hari) 1
Penilaian tertinggi 3
Cakupan Layanan :
Diatas atau sama dengan 1000 kepala keluarga 4
Antara 250 - 1000 kepala keluarga 3
Antara 50 -250 kepala keluarga 2
Dibawah 50 kepala keluarga 1
Penilaian tertinggi 4
Warna hasil kompos
Hitam seperti tanah 3
Coklat tua 2
Lainnya sebutkan 1
Penilaian tertinggi 3
Bau hasil kompos:
Berbau seperti humus 3
Tidak berbau 2
Berbau busuk 1
Penilaian tertinggi 3
Bentuk kompos:
Mempunyai tekstur yang halus 3
Masih kasar terlihat ada materi organik tidak hancur 2
lainnya sebutkan. 1

Penilaian tertinggi 3
Produk daur ulang
Kertas untuk kertas seni dan barang seni lainnya 3
Plastik untuk barang seni kerajinan tangan 3
Bahan baku pabrik 3
lainnya sebutkan. 1
Penilaian tertinggi 10

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 19


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
4. KELEMBAGAAN DAN INVESTASI
Aspek Score
Bentuk lembaga :
Kelompok Swadaya Masyarakat 5
Bagian dari kepengurusan RT/RW 5
Kelompok Aktif (PKK, Karang Taruna , Perkumpulan 5
keagamaan) 3
Lembaga diluar lingkungan (LSM) 2
Lainnya sebutkan
Penilaian tertinggi 5
Struktur organisasi :
Pembina 5
Ketua 5
Sekretaris 5
Bendahara 5
Unit monitoring dan evaluasi 5
Unti kerajinan daur ulang 5
Unit produksi kompos 5
Unit penjualan produk 5
Unit pemeliharaan 5
Unit Diklat 5
Unti penyuluhan 5
Penilaian tertinggi 55
Legalitas pembentukan :
Surat keputusan RT/RW 3
Surat keputusan lurah 4
Surat keputusan Camat 5
Surat keputusan Walikota 5
Lainnya sebutkan 2
Penilaian tertinggi 5
Biaya investasi :
Pewadahan :
Kurang dari Rp.25.000,- per kk 5
Antara Rp. 25.000,- s.d. Rp. 50.000,- per kk 4
Antara Rp. 51.000,- s.d. Rp. 100.000,- per kk 3
Antara Rp. 101.000,- s.d. Rp. 300.000,- per kk 2
Diatas Rp. 300.000,- per kk 1

Penilaian tertinggi 5
Komposter Rumah Tangga
Kurang dari Rp. 25.000,- per kk 5
Antara Rp. 25.000,- s.d. Rp. 50.000,- per kk 4
Antara Rp. 51.000,- s.d. Rp. 100.000,- per kk 3
Antara Rp. 101.000,- s.d. Rp. 300.000,- per kk 2
Diatas Rp. 300.000,- per kk 1
Penilaian tertinggi 5

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 20


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Aspek Score
Pengumpulan (berupa gerobak atau motor sampah) :
Kurang dari Rp. 1000.000,- per unit 4
Antara Rp. 1000.000 2.000.000,- per unit 3
Antara Rp. 2.001.000 3.000.000,- per unit 2
Diatas Rp. 3.000.000 per unit 1
Penilaian tertinggi 4
Hanggar TPS 3R:
Kurang dari Rp. 200 juta 3
Antara 200 juta 500 juta 2
Antara 501 juta 1 milyar 1
Diatas 1 milyar 0
Penilaian tertinggi 3
Biaya operasional per tahun :
Honor petugas di TPS 3R (Jumlah petugas : ..... orang):
Kurang dari Rp.5.000.000,- 4
Antara Rp. 5.000.000 10.000.000,- 3
Antara Rp. 10.100.000 15.000.000,- 2
Diatas Rp. 15.000.000,- 1
Penilaian tertinggi 4
Biaya operasional di TPS 3R (pembelian bahan bakar, EM4, peralatan
pengomposan, dll.) :
Kurang dari Rp.4.000.000,- 4
Antara Rp.4.000.000 Rp. 7.000.000,- 3
Antara Rp. 7.100.000 Rp. 10.000.000,- 2
Diatas Rp. 10.000.000,- 1
Penilaian tertinggi 4
Biaya Pemeliharaan (perbaikan mesin, perawatan harian, dll,)
Kurang dari Rp.2.000.000,- 4
Antara Rp. 2.000.000 Rp. 5.000.000,- 3
Antara Rp. 5.100.000 Rp. 7.000.000,- 2
Diatas Rp. 7.000.000,- 1
Penilaian tertinggi 4
Alokasi dana meliputi :
Operasional :
Peningkatan kapasitas (capacity building) dalam sarasehan, Focus 2
Group Discussion, dll
Pelatihan 2
Kunjungan lapangan 2
Pameran produk-produk daur ulang 2
Lain-lain sebutkan. 1
Penilaian tertinggi 8
Pemeliharaan
Penggantian komposter yang rusak 2
Pemeliharaan alat pengumpul 2
Pemeliharaan TPS 3R 2
Lainnya sebutkan.. 1
Penilaian tertinggi 6
Pelaporan keuangan : 2

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 21


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Aspek Score
Pembukuan 2
Laporan keuangan triwulan 2
Laporan keuangan tahunan 1
Lainnya sebutkan..
Penilaian tertinggi 6

5. PERAN SERTA MASYARAKAT


Aspek Score
Keterlibatan Warga :
Seluruh warga 1 kelurahan terlibat
Seluruh warga 1 RW terlibat 5
Seluruh warga 1 RT terlibat 5
50 % warga 1 RT terlibat 3
25 % warga 1 RT terlibat 3
Perwakilan pada setiap RT/RW di seluruh kelurahan 2
Lainnya sebutkan.. 1
Penilaian tertinggi 5
Kelompok aktif di masyarakat yang terlibat :
PKK 5
Karang Taruna 5
Jantung Sehat 5
Kelompok Agama 5
Arisan 3
Lainnya sebutkan.. 2
Penilaian tertinggi 25
Frekuensi pertemuan warga tentang Pengelolaan TPS terpadu 3R :
Seminggu sekali 5
Dua minggu sekali 5
Sebulan sekali 5
3 bulan sekali 3
6 bulan sekali 2
1 tahun sekali 2
lebih dari 1 tahun sekali 1
tidak pernah 0
Lainnya sebutkan.. 1
Penilaian tertinggi 5

6. PENGATURAN
Aspek Score
Pengaturan dan peraturan perundangan yang ada :
Surat Keputusan Pembentukan Organisasi Pengelola Sampah 3R terpadu
berbasis masyarakat - KSM ( SK Lurah, RW, atau RT ) 5
Surat Keputusan ( Lurah, RW, RT) tentang iuran bulan pengelolaan sampah 5
Surat Keputusan ( Lurah, RW , RT ) tentang tata tertib kebersihan lingkungan 5
dan pengelola sampah.
Lainnya sebutkan.. 2
Tidak ada peraturan 0
Penilaian tertinggi 5

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 22


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
7. OPERASIONAL
Aspek Score
Tingkat operasional saat pemantauan:
Berfungsi ( operasional > 50% sesuai rencana ) 5
Kurang Berfungsi (operasional 10 - 50% sesuai rencana) 3
Tidak Berfungsi (sudah pernah beroperasi, tetapi kemudian berhenti sama 0
sekali)
Belum Berfungsi ( sama sekali belum pernah dioperasikan) 0
Penilaian tertinggi 5
Indikator Operasional pada saat pemantauan :
Ada pemilahan dari sumber 5
Ada pengurangan sampah ke TPA 5
Ada kontribusi warga/masyarakat (retribusi) 5
Ada produksi kompos 5
Kompos dipasarkan 5
Ada upaya pemanfaatan kompos (pembibitan tanaman) 5
Ada Pengelolaan TPS anorganik 5
Ada kegiatan pembuatan kerajinan daur ulang. 5
Lainnya sebutkan.. 2
Penilaian tertinggi 40

Perhitungan hasil akhir monitoring dan evaluasi berikut :


Dimana Nilai akhir evaluasi akan menunjukkan kategori/peringkat berdasarkan klasifikasi dibawah
ini :
BERFUNGSI, jika nilai akhir = 225 - 311
KURANG BERFUNGSI, Jika nilai akhir = 139 - 224
TIDAK BERFUNGSI, jika nilai akhir = 51 - 138

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 23


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Dari hasil akhir penilaian monev, Rencana Tindak Lanjut yang dapat dilakukan adalah antara
lain adalah sebagai berikut :

KATEGORI
RENCANA TINDAK LANJUT
KEBERFUNGSIAN
KSM harus terus dibina dan dioptimalkan oleh Pemda
setempat melalui kegiatan monitoring dan pendampingan
sehingga program keberlanjutan dan partisipasi
masyarakat dapat terus ditingkatkan.
BERFUNGSI KSM harus lebih aktif mengembangkan diri untuk
mendapatkan nilai ekonomis dari kegiatan 3R ini.
Pengembangan TPST selain mengolah kompos organik
juga mengolah sampah plastik menjadi pellet dimana
ada kebutuhan investasi dan perhitungan ekonomi.
Dukungan Pemerintah Daerah melalui Dinas terkait sangat
diperlukan untuk mengaktifkan kegiatan KSM dalam hal ini
perlu bantuan dana operasional seperti subsidi gaji
karyawan dan pembelian bahan bakar. Pemda juga
sebaiknya berperan dalam pemasaran produk kompos.
Pemda dalam hal ini Dinas Kebersihan/ Dinas Pekerjaan
KURANG BERFUNGSI Umum bisa bekerja sama dengan fasilitator
pemberdayaan untuk memotivasi KSM dalam menyusun
kembali Rencana Kerja Kegiatan 3R bersama dengan
aparat pemerintahan desa maupun Kecamatan.
Dukungan dari masyarakat perlu ditingkatkan melalui
kegiatan sosialisasi kegiatan 3R yang dapat dilakukan oleh
KSM bekerja sama dengan Pemda setempat.
Revisi proses alur Perencanaan dimana tahapan pemilihan
dan penetapan fasilitator pemberdayaan masyarakat
harus ditempatkan dalam waktu yang sama dengan
pemilihan lokasi. Sehingga proses pendampingan pada
masyarakat sudah mulai dini dilakukan sehingga KSM dapat
terbentuk sebelum pembangunan fisik dirampungkan.
Pada awal perencanaan, komitmen Pemda dan
TIDAK BERFUNGSI masyarakat dalam hal ini KSM sudah mulai dibicarakan dan
ditetapkan dalam Agenda Kesepakatan Kerja (MOU)
sehingga diharapkan kegiatan 3R dari awal sudah
didukung oleh Pemda/Instansi terkait seperti Dinas
Kebersihan.
Perlu dana awal bantuan operasional dari Pemda sebagai
stimulan kegiatan.

Tata Cara Monitoring dan Evaluasi 24


Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
LAMPIRAN
LAMPIRAN DAN FORMAT PELAPORAN

BUKU 6
KATA PENGANTAR
Pelaksanaan program pengurangan kuantitas sampah sebagai program pada skala nasional telah
sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan
sampah sebagai sumber daya. Pengelolaan sampah tersebut terdiri dari pengurangan sampah dan
penanganan sampah. Untuk pengurangan sampah biasanya dilakukan pembatasan timbulan
sampah, pendaur-ulangan sampah dan/atau pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan untuk
penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan dan
pemrosesan akhir sampah.

Pengurangan sampah tersebut juga sejalan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
21/PRT/M/2006, khususnya kebijakan (1), yaitu pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai
dari sumbernya. Kementerian Pekerjaan Umum sendiri telah melakukan pilot project di beberapa
kawasan untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R)
Berbasis Masyarakat. Pembangunan/penyediaan sarana penanganan sampah pada skala komunal
yang berbasis masyarakat tersebut melalui mekanisme penyediaan dana bantuan sosial untuk setiap
lokasi sasaran.

Dalam rangka memberikan panduan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan TPS 3R tersebut,
maka dibutuhkan buku panduan yang memuat tata cara pemilihan lokasi, perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, serta pilihan-pilihan teknologi dalam pengolahan sampah
berbasis masyarakat.

Buku Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS
3R) Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman yang telah disusun ini terdiri dari 6 (enam) jilid buku,
yaitu:
1. Buku 1, memuat Tata Cara Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
2. Buku 2, memuat Tata Cara Perencanaan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
3. Buku 3, memuat Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah
(TPS) 3R
4. Buku 4, memuat Tata Cara Pilihan Teknologi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
5. Buku 5, memuat Tata Cara Monitoring dan Evaluasi Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
6. Buku 6, memuat Lampiran dan Format Pelaporan
Diharapkan seluruh pemangku kepentingan pelaksana kegiatan Program TPS 3R Berbasis Masyarakat
ini dapat memahami tata laksana dan kaidah-kaidah yang ada di dalam Buku Tata Cara
Penyelenggaraan Umum Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat di Kawasan
Permukiman ini serta menerapkannya pada pelaksanaan TPS-3R Berbasis Masyarakat di lokasi
sasaran.

Semoga panduan ini dapat bermanfaat dan tetap terbuka kesempatan kepada pihak-pihak yang
terkait dengan pelaksanaan kegiatan TPS 3R Berbasis Masyarakat, untuk memberikan masukan serta
saran dan kritik atas buku ini, guna mengoptimalkan hasil dan kebermanfaatan dari pembangunan
TPS 3R Berbasis Masyarakat ini.
Jakarta, May 2014
Direktur Jenderal Cipta karya

Ir. Imam S. Ernawi, MCM., M.Sc.


DAFTAR ISI
BUKU 6 LAMPIRAN DAN FORMAT PELAPORAN

FORMAT PAKTA INTEGRITAS 1


FORMAT BERITA ACARA PEMERIKSAAN PRESTASI PEKERJAAN 3
FORMAT BERITA ACARA SERAH TERIMA PENGELOLAAN 5
FORMAT SURAT PENETAPAN PENERIMA MANFAAT 9
FORMAT SURAT PERJANJIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN (SP3) 13
FORMAT LAPORAN PENYELESAIAN PELAKSANAAN KEGIATAN 21
FORMAT LAPORAN PENGGUNAAN DANA 23
FORMAT BUKU KAS 25
FORMAT BUKU BANK 27
FORMAT LAMPIRAN BUKTI TRANSAKSI 29
FORMAT LAMPIRAN PRESTASI PEKERJAAN 31
FORMAT LAPORAN HARIAN, MINGGUAN DAN BULANAN 33
FORMAT SURAT PERNYATAAN HIBAH 39
FORMAT ISIAN SELEKSI KOTA / KABUPATEN 41
FORMAT ISIAN SELEKSI LOKASI 43
LAMPIRAN METODOLOGI SURVEY KOMPOSISI SAMPAH 45
DAFTAR SINGKATAN 49
DAFTAR ISTILAH 51
TIM PENYUSUN 53
FORMAT PAKTA INTEGRITAS

Lampiran dan Format Pelaporan 1


PAKTA INTEGRITAS
Sehubungan dengan Program Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat Tahun 20., dan Dokumen Rencana Kerja Masyarakat (RKM) Desa
.., Kecamatan , Kabupaten , Provinsi .., maka pada hari
tanggal . 20., bertempat di ...
Dengan ini atas nama masyarakat (dalam hal ini diwakili KSM) sebagai pelaksana dan
penanggung jawab Program Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R dengan ini
menyatakan dan menyepakati yaitu :
1. Menerima dana bantuan sosial Program Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Tahun 20 dan sanggup melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai
dengan petunjuk dan tata cara pelaksanaan kegiatan TPS 3R.
2. Tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme dalam proses pengadaan
barang/jasa maupun selama pelaksanaan pembangunan Tempat Pengolahan
Sampah (TPS) 3R beserta peralatan pendukungnya.
3. Sanggup menyelesaikan pekerjaan berupa bangunan Tempat Pengolahan
Sampah (TPS) 3R dan peralatan pendukungnya, sesuai gambar perencanaan
(DED), RAB dan target waktu yang sudah ditetapkan.
4. Apabila ditemukan pelanggaran terhadap hal-hal yang dinyatakan dalam Pakta
Integritas, maka sanggup menyelesaikan temuan secara tuntas dan bersedia
menerima sanksi sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Demikian berita acara ini dibuat dan disahkan dengan penuh tanggung jawab agar
dapat digunakan sebagaimana mestinya.
., 20
Yang Membuat
Pernyataan,
Kelompok Swadaya Masyarakat

...... 2013
Desa
Materai 6000
.
Ketua KSM
Mengetahui :

TFL Pemberdayaan TFL Teknis Kepala Desa

.
Saksi Saksi Wakil Masyarakat,
NAMA JABATAN TANDA TANGAN

1. .. 1
2. .. 2..
3. .. 3

Lampiran dan Format Pelaporan 2


FORMAT BERITA ACARA PEMERIKSAAN PRESTASI
PEKERJAAN

Lampiran dan Format Pelaporan 3


BERITA ACARA PEMERIKSAAN PRESTASI PEKERJAAN
Nomor : ..

Pada hari ini . tanggal .. bulan tahun .. ( .)


yang bertanda tangan dibawah ini :
1. N a m a :
Jabatan : Asisten . Satker Pengembangan PLP Provinsi .
2. N a m a : ..
Jabatan : TFL Pemda Kota/Kabupaten
3. N a m a : ..
Jabatan : TFL 3R Teknis

Atas dasar Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (SP3) Nomor: tanggal .


untuk :
Pekerjaan : Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat
Dusun : ..
Desa : ..
Kecamatan : ..
Kota/Kabupaten : ..

Telah melaksanakan pemeriksaan, penilaian, dan perhitungan atas pekerjaan yang


disaksikan oleh [nama ketua KSM] selaku Ketua KSM . dengan hasil bahwa
pekerjaan sesuai kontrak tersebut diatas telah dilaksanakan dengan prestasi sebesar:
.. % (..persen).

Demikian Berita Acara ini dibuat dengan sebenarnya dan menjadi syah berlaku
setelah ditandatangani oleh semua pihak tersebut dibawah ini, dan dibuat dalam
rangkap 5 (lima) untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Yang melaksanakan Pemeriksaan :


TFL 3R Teknis TFL Pemda Asisten ..
Kota / Kabupaten Kota / Kabupaten ... Satker PPLP Prov ..

.. .. .
NIP. NIP. .

Mengetahui/ Menyetujui

KSM ..

..
Ketua KSM

Lampiran dan Format Pelaporan 4


FORMAT BERITA ACARA SERAH TERIMA
PENGELOLAAN

Lampiran dan Format Pelaporan 5


BERITA ACARA SERAH TERIMA PENGELOLAAN
Nomor :

Pada hari ini ........... tanggal bulan . tahun (-20), yang


bertanda tangan di bawah ini :

1 . : Kepala Satuan Kerja Pengembangan


Penyehatan Lingkungan Permukiman
Provinsi .., selanjutnya disebut
sebagai PIHAK KESATU.

2 : Ketua KSM ..., yang


beralamat di Jl.
.,
selanjutnya disebut dengan PIHAK
KEDUA
PIHAK KESATU dan PIHAK KEDUA dalam kedudukannya sebagaimana tersebut di atas, telah
sepakat untuk mengadakan Serah Terima Pengelolaan, Pengoperasian, Pemeliharaan dan
Pengamanan barang inventaris/ hasil pembangunan/ pengadaan melalui dana Bantuan Sosial
yang disalurkan oleh Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman
Provinsi Tahun Anggaran 20 Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan
Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, berupa Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPS) 3R Berbasis Masyarakat.

Pasal 1

PIHAK KESATU menyerahkan kepada PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA menerima atas
penyerahan PIHAK KESATU barang inventaris/hasil pembangunan sebagaimana daftar
terlampir.

Pasal 2

Dengan dilaksanakan Serah Terima Pengelolaan ini, seluruh wewenang dan tanggungjawab
pengelolaan, pengoperasian, pemeliharaan dan pengamanan barang inventaris/hasil
pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 di atas beralih sepenuhnya dari PIHAK
KESATU kepada PIHAK KEDUA.

Pasal 3

Serah Terima Pengelolaan ini bukan merupakan penyerahan aset, kepengurusan atas barang
yang diserahterimakan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 di atas tetap pada Satuan
Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Jawa Tengah Direktorat
Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya
Kementerian Pekerjaan Umum dan Berita Acara ini sebagai dasar administrasi penyerahan aset
sesuai peraturan perudangan yang berlaku.

Pasal 4
Lampiran dan Format Pelaporan 6
Hal-hal yang memerlukan pengaturan lebih lanjut akan diatur bersamasama antara PIHAK
KESATU DAN PIHAK KEDUA.

Pasal 5

Berita Acara Serah Terima Pengelolaan ini dibuat dalam rangkap 3 (tiga), yang masing-masing
mempunyai kekuatan yang sama untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

PIHAK II (KEDUA) PIHAK I (KESATU)


KETUA KSM . KEPALA SATUAN KERJA PENGEMBANGAN PLP
PROVINSI ..

..
NIP.

MENGETAHUI :
KEPALA DINAS PEKERJAAN UMUM
KOTA / KABUPATEN .

..
NIP. .

Lampiran dan Format Pelaporan 7


Lampiran dan Format Pelaporan 8
FORMAT SURAT PENETAPAN PENERIMA MANFAAT

Lampiran dan Format Pelaporan 9


[KOP SATKER PPLP PROVINSI ]

PENETAPAN PENERIMA MANFAAT PROGRAM


TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R BERBASIS MASYARAKAT
TAHUN ANGGARAN
PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN .
SATUAN KERJAN PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN
PERMUKIMAN PROVINSI .

Menimbang : a. Bahwa untuk pengalokasian dan pengelolaan program Bantuan


Sosial Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat
agar dapat dilaksanakan secara tertib, efisien, ekonomis, efektif,
transparan dan bertanggung jawab dipandang perlu
menetapkan Kelompok Penerima Manfaat.
b. Bahwa Kelompok Swadaya Masyarakat sebagaimana tersebut
dalam Surat Keputusan ini dianggap layak sebagai Kelompok
Penerima Manfaat dengan mempertimbangkan Berita Acara
Seleksi Kampung dan Surat Keputusan Pembentukan KSM.
c. Bahwa untuk kepentingan tersebut, perlu ditetapkan Surat
Keputusan.

Mengingat : a. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor


81/PMK.05/2012 tentang Belanja Bantuan Sosial Pada
Kementerian/Lembaga.
b. Buku Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan
Sampah Terpadu (TPS) 3R Berbasis Masyarakat.
c. Surat Pernyataan Minat keikutsertaan pada Program TPS 3R Tahun
Anggaran 20. dari .
d. Hasil skoring dari daftar panjang (long list) menjadi daftar pendek
(short list) Program Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPS) 3R
Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 20 Kota / Kabupaten
...
e. Hasil survai cepat dari daftar pendek (short list) menjadi lokasi
terpilih Program Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPS) 3R
Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 20. Kota / Kabupaten...
f. Keputusan Kepala Desa/Lurah . Kecamatan
Kabupaten Nomor: . tanggal . tentang
Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat Program Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPS) 3R Berbasis Masyarakat Desa
.. Kecamatan .. Kabupaten Tahun 20...

Memperhatikan:

Lampiran dan Format Pelaporan 10


Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan
Lingkungan Permukiman Provinsi .. Tahun Anggaran Nomor: .. tanggal
MEMUTUSKAN
Menetapkan :

Pertama : Kelompok Swadaya Masyarakat .. berkedudukan di Desa /


Kelurahan Kecamatan .. Kota/Kabupaten ., seperti
terdapat dalam lampiran keputusan ini merupakan Kelompok Penerima
Manfaat Program Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat Tahun Anggaran 20...

Kedua : Total nilai bantuan sosial yang akan disalurkan kepada Kelompok Swadaya
Masyarakat .. selaku Kelompok Penerima Manfaat Bantuan
Sosial adalah sebesar Rp . (.. rupiah) yang akan
dibayarkan melalui transfer ke Bank . atas nama KSM ..
dengan nomor rekening

Ketiga : Kelompok Swadaya Masyarakat .. bertugas membelanjakan


dana yang dialokasikan sesuai dengan peruntukan serta
mempertanggungjawabkan atas penggunaannya kepada Kuasa
Pengguna Anggaran melalui Kepala Satker / PPK Pengembangan PLP
Provinsi dan menyampaikan laporan pelaksanaan secara berkala.

Keempat : Biaya yang diakibatkan atas kegiatan Bantuan Sosial Program Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPS) 3R Berbasis Masyarakat ini dibebankan
pada DIPA Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan
Permukiman Provinsi Tahun Anggaran sesuai dengan yang
tercantum dalam DIPA Nomor: tanggal .

Kelima : Keputusan ini berlaku sejak tanggal penetapan sampai dengan


berakhirnya Tahun Anggaran 20.. dengan ketentuan akan diperbaiki
sebagaimana mestinya apabila terdapat kekeliruan dalam Surat
Keputusan ini.

Keenam : Surat Keputusan ini disampaikan kepada yang bersangkutan, untuk


dilaksanakan sebagaimana mestinya.

DISYAHKAN OLEH DITETAPKAN DI : ..


PADA TANGGAL :
KEPALA SATKER PPLP
PROVINSI . PPK ..

..
NIP. . NIP.

Lampiran dan Format Pelaporan 11


Lampiran : Surat Keputusan PPK .. Satker
Pengembangan Penyehatan Lingkungan
Permukiman Provinsi .
Nomor :
Tanggal : .

PENETAPAN PENERIMA MANFAAT PROGRAM


TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R BERBASIS MASYARAKAT
TAHUN ANGGARAN .

DESA/ KOTA/
NO PENERIMA MANFAAT KECAMATAN KETERANGAN
KELURAHAN KABUPATEN

1 KSM ..

DISYAHKAN OLEH DITETAPKAN DI : ..


PADA TANGGAL :
KEPALA SATKER PPLP
PROVINSI . PPK .


.. NIP.
NIP. .

Lampiran dan Format Pelaporan 12


FORMAT SURAT PERJANJIAN PELAKSANAAN
PEKERJAAN (SP3)

Lampiran dan Format Pelaporan 13


SURAT PERJANJIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN (SP3)
PROGRAM TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R
BERBASIS MASYARAKAT
TAHUN ANGGARAN 20.

DESA : KECAMATAN :
KABUPATEN : PROPINSI :

Lampiran dan Format Pelaporan 14


PERJANJIAN KERJASAMA
PROGRAM PENGELOLAAN TEMPAT SAMPAH (TPS) 3R BERBASIS
MASYARAKAT
NOMOR : ..................................

Antara

SATKER PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN


PROVINSI JAWA TENGAH

Dengan

KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT (KSM)


........................................................................

Tentang :

PEMANFAATAN DANA BANTUAN SOSIAL PROGRAM


TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R BERBASIS MASYARAKAT
TAHUN ANGGARAN 20 .

Pada hari ini ...................., tanggal ........................., bulan ......................, tahun .................. ...,
bertempat di .. , yang bertanda tangan di bawah ini:

NAMA : ..
JABATAN : Pejabat Pembuat Komitmen
ALAMAT : ..
INSTANSI : ..
NIP : ...
Dalam hal ini bertindak di dalam jabatan tersebut dan oleh karena itu bertindak untuk dan atas
nama Kuasa Pengguna Anggaran, selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA.

: ..........................................
NAMA
JABATAN : Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) ................................
ALAMAT : ..........................................Dusun .......Desa.....Kecamatan.....Kabupaten........
Dalam hal ini bertindak sebagai Ketua Kelompok Penerima Manfaat Bantuan Sosial Program
Pengelolaan Sampah Terpadu (TPS) 3R Berbasis Masyarakat selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.

Kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan Perjanjian Kerjasama yang mengikat dan
berakibat hukum bagi kedua belah pihak untuk melaksanakan pemanfaatan dana bantuan
sosial berupa Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk mendukung Program Pengelolaan
Sampah Terpadu (TPS) 3R Berbasis Masyarakat dengan ketentuan sebagai berikut :

BERDASARKAN :
1. Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 dan perubahannya Peraturan Presiden No. 70
Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

Lampiran dan Format Pelaporan 15


2. Peraturan Menteri Keuangan No. 81/PMK-5/2012 tentang Pedoman Bantuan Sosial pada
Kementerian atau Lembaga;
3. Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis
Masyarakat
4. DIPA Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi .
Nomor: .. tanggal ..
5.

Kedua belah pihak telah sepakat untuk mengadakan ikatan kontrak swakelola, untuk
melaksanakan pekerjaan yang pembiayaannya melalui dana Bantuan Sosial Program Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPS) 3R Berbasis Masyarakat, untuk Desa .................., Kecamatan
...................., Kota/Kabupaten ......................., dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

Pasal 1
MAKSUD DAN TUJUAN

(1) Maksud Perjanjian Kerja Sama adalah sebagai acuan dalam melaksanakan bantuan sosial
Program Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat.
(2) Tujuan Perjanjian Kerjasama adalah bahwa PIHAK KEDUA sebagai penerima bantuan sosial
harus melaksanakan kegiatan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat
sesuai dengan peruntukan dan tepat sasaran dengan berpedoman pada petunjuk teknis.

Pasal 2
LINGKUP PEKERJAAN

PIHAK PERTAMA menyalurkan dana bantuan sosial kepada PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA
menerima tugas pekerjaan dari PIHAK PERTAMA yaitu untuk melaksanakan pekerjaan:
Nama Kegiatan : Program Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Lokasi Kegiatan : Dusun........Desa ..........................
Kecamatan : ..........................
Kota / Kabupaten : ..........................

Pasal 3
DOKUMEN PERJANJIAN

Surat Perjanjian (Kontrak) ini terdiri dari dokumen-dokumen sebagai berikut:


(1) Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) diantaranya berisi:
- Struktur Organisasi KSM yang telah disahkan;
- Lokasi dan ketersediaan lahan;
- Detailed Engineering Design (DED);
- Rencana Anggaran Biaya dan Kurva S;
- Rencana Kerja.
(2) Rekening Bank Kelompok Swadaya Masyarakat
Semua Dokumen tersebut merupakan satu kesatuan dan setiap pasal harus diinterpretasikan
sedemikian rupa sehingga satu dengan lain sejalan dan saling menunjang.

Lampiran dan Format Pelaporan 16


Pasal 4
JANGKA WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN

PIHAK KEDUA sanggup melaksanakan pekerjaan sejak tanggal ditandatangani Kontrak/


Perjanjian Kerjasama yaitu tanggal......................sampai dengan tanggal .
Pasal 5
PENYERAHAN HASIL PEKERJAAN

PIHAK KEDUA harus melaporkan hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan kepada PIHAK
PERTAMA serta dibuktikan dengan Berita Acara Pemeriksaan Hasil Pekerjaan.

Pasal 6
KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB PIHAK KEDUA

(1) PIHAK KEDUA wajib melaksanakan Program Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R
Berbasis Masyarakat ini berdasarkan Surat Perjanjian Kerjasama yang telah diperjanjikan.
(2) Hasil kegiatan yang harus diserahkan pada saat Penyerahan Pekerjaan adalah Laporan
Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan, yang memuat:
a. Catatan Harian, yang berisi tentang:
a.1 Jumlah tenaga kerja,
a.2 Jumlah bahan material yang digunakan,
a.3 Peralatan yang digunakan,
a.4 Hasil item pekerjaan yang dilaksanakan,
a.5 Perintah, saran, petunjuk pelaksanaan atau penolakan bahan,
a.6 Catatan cuaca atau kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kegiatan dan
lain sebagainya.
b. Laporan Bulanan, yang merupakan rekap dari Catatan Harian,
c. Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Fisik Konstruksi,
d. Berita Acara Pemeriksaan Kegiatan setiap termin pembayaran,
e. Gambar-gambar hasil pelaksanaan,
f. Notulen rapat-rapat/rembug warga,
g. Realisasi Biaya dan Kegiatan,
h. Realisasi KurvaS Pelaksanaan.
Penyusunan ini dibuat dalam rangkap 5 (lima) serta dikonsultasikan lebih dahulu kepada
PIHAK PERTAMA.
(3) PIHAK KEDUA bertanggungjawab apabila ada permasalahan hukum akibat
penyelewengan penggunaan dana bantuan sosial oleh PIHAK KEDUA, pengurangan
mutu/kualitas atas bangunan dan atau barang serta terjadi kegagalan manfaat.

Pasal 7
SUMBER DAN JUMLAH DANA

(1) Sumber dana bantuan sosial yang diterima oleh PIHAK KEDUA adalah berasal dari Daftar
Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan
Lingkungan Permukiman Provinsi Tahun Anggaran Nomor DIPA:.
Tanggal ..
(2) Jumlah dana bantuan sosial yang diterima oleh PIHAK KEDUA adalah sebesar Rp
............................ (terbilang :.................................................rupiah).
Pasal 8

Lampiran dan Format Pelaporan 17


PEMBAYARAN

(1) Pembayaran dana bantuan sosial dimaksud Surat Perjanjian Kerjasama ini akan
dilakukan oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA secara bertahap, dari jumlah
dana bantuan sosial sebesar Rp ................ (terbilang : .......................) setelah perjanjian
kerjasama ini ditandatangani, dilaksanakan melalui Surat Perintah Membayar (SPM)
yang disampaikan oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) kepada Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara (KPPN) Kota .. dengan cara pembayaran ke rekening
PIHAK KEDUA pada Bank .Nomor Rekening : .............
(2) Pencairan dana bantuan sosial oleh PIHAK KEDUA dilakukan secara bertahap sesuai
dengan tahapan pekerjaan dan harus mendapat persetujuan (contract sign) dari
Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi ...
(3) Tahapan pencairan dana bantuan sosial diatur sebagai berikut :
a. Pencairan Tahap Pertama sebesar 40% x Rp ............. = Rp ........... (............. rupiah)
dilaksanakan setelah PIHAK KEDUA mengajukan permohonan pencairan dana
bantuan sosial Termin Pertama kepada Satker Pengembangan Penyehatan
Lingkungan Permukiman Jawa Tengah dengan dilampiri dokumen RKM yang telah
disahkan, surat penetapan penerima manfaat dan rincian rencana penggunaan
dana.
b. Pencairan Tahap Kedua sebesar 30% x Rp ......... = Rp .............. (............. rupiah)
dilaksanakan setelah PIHAK KEDUA mengajukan permohonan pencairan dana
bantuan sosial Termin Kedua kepada Satker Pengembangan Penyehatan
Lingkungan Permukiman Jawa Tengah dengan dilampiri rincian rencana
penggunaan dana dan pertanggungjawaban penggunaan dana yang dicairkan
pada Termin Pertama berupa bon/kuitansi bukti pembelanjaan serta laporan
progres pelaksanaan fisik (minimal sudah tercapai progres 30%) disertai foto-foto
pelaksanaan pekerjaan.
c. Pencairan Tahap Ketiga sebesar 30% x Rp ......... = Rp .............. (............. rupiah)
dilaksanakan setelah PIHAK KEDUA mengajukan permohonan pencairan dana
bantuan sosial Termin Ketiga kepada Satker Pengembangan Penyehatan
Lingkungan Permukiman Jawa Tengah dengan dilampiri rincian rencana
penggunaan dana dan pertanggungjawaban penggunaan dana yang dicairkan
pada Termin Kedua berupa bon/kuitansi bukti pembelanjaan serta laporan
progress pelaksanaan fisik (minimal sudah tercapai progres 60%) disertai foto-foto
pelaksanaan pekerjaan.

PASAL 9
PERUBAHAN

Perjanjian Kerja Sama ini dapat dilakukan perubahan atas kesepakatan PIHAK KESATU dan
PIHAK KEDUA dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian Kerjasama ini.

Pasal 10
KEADAAN MEMAKSA ATAU FORCE MAJEURE

(1) Yang dimaksud dengan keadaan memaksa atau Force Majeure adalah keadaan-
keadaan diluar kekuasaan PIHAK KESATU atau PIHAK KEDUA yang mengakibatkan PIHAK
dimaksud tidak dapat melaksanakan perjanjian ini yaitu :
a. Adanya bencana alam seperti gempa bumi, angin ribut (topan), kebakaran besar,

Lampiran dan Format Pelaporan 18


banjir besar, tanah longsor dan wabah penyakit;
b. Pemogokan umum, huru-hara, pemberontakan, perang dan keadaan-keadaan lain;
c. Adanya perubahan Peraturan Pemerintah ataupun Kebijakan Moneter oleh
Pemerintah
d. Adanya peristiwa-peristiwa lain yang diajukan oleh PIHAK KEDUA yang didukung
dengan bukti-bukti yang sah serta Surat Keterangan Instansi yang berwenang dan
disetujui oleh PIHAK PERTAMA.
(2) Setiap terjadi peristiwa/keadaan memaksa atau Force Majeure PIHAK KEDUA wajib
melaporkan kepada PIHAK PERTAMA paling lambat 14 (empat belas) hari sejak
kejadian/peristiwa tersebut.

Pasal 11
SANKSI

Apabila PIHAK KEDUA tidak dapat melaksanakan pemanfaatan dana bantuan sosial sesuai
dengan Pasal 2 Surat Perjanjian ini, maka PIHAK PERTAMA berhak secara sepihak memutuskan
hubungan kerjasama dengan PIHAK KEDUA yang mengakibatkan surat perjanjian kerjasama ini
dinyatakan batal demi hukum dan PIHAK KEDUA diwajibkan mempertanggungjawabkan
penggunaan dana bantuan sosial yang telah digunakannya serta menyerahkan sisa dana
yang belum dimanfaatkan kepada PIHAK PERTAMA guna penyelesaiannya lebih lanjut sesuai
dengan peraturan yang berlaku.

Pasal 12
PERSELISIHAN

(1) Apabila terjadi perselisihan antara PIHAK PERTAMA dengan PIHAK KEDUA sehubungan
dengan surat perjanjian kerjasama ini, maka akan diselesaikan secara musyawarah
untuk memperoleh mufakat.
(2) Apabila dengan cara musyawarah belum dapat dicapai suatu penyelesaian, maka
kedua belah pihak sepakat menyelesaikan perselisihan ini kepada Pengadilan Negeri
Kota/Kabupaten.............. sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang
berlaku.

Pasal 13
PENUTUP

Surat Perjanjian Kerjasama ini ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan penuh
kesadaran dan tanggungjawab tanpa adanya paksaan dari manapun dan dibuat dalam
rangkap 6 (enam) yang kesemuanya mempunyai kekuatan hukum yang sama untuk
digunakan sebagaimana mestinya.
PIHAK KEDUA PIHAK PERTAMA
Ketua KSM ........................................... Pejabat Pembuat Komitmen
..

...........................................
NIP. .

Lampiran dan Format Pelaporan 19


Lampiran dan Format Pelaporan 20
FORMAT LAPORAN PENYELESAIAN
PELAKSANAAN KEGIATAN

Lampiran dan Format Pelaporan 21


[ KOP KSM ]

LAPORAN PENYELESAIAN PELAKSANAAN KEGIATAN


Nomor :
Lampiran : 1 (satu) berkas

Kepada Yth
Pejabat Pembuat Komitmen
Satuan Kerja Pengembangan PLP Provinsi
Di .

Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan dibawah ini
Nama : [nama ketua KSM]
Alamat : [alamat ketua KSM]
Jabatan : Ketua KSM
Desa/Kelurahan :
Kecamatan :
Kabupaten :

Melaporkan bahwa kegiatan Program Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Berbasis


Masyarakat telah selesai dilaksanakan (kondisi 100%) dan telah dilakukan uji coba.
Sebagai bahan periksa, bersama ini kami lampirkan
1. Realisasi Kegiatan dan Biaya ;
2. Laporan Harian, Mingguan dan Bulanan serta Kurva S Pelaksanaan ;
3. Gambar TPS 3R yang telah dibangun (Asbuild Drawing) ;
4. Rekapitulasi Laporan Penggunaan Dana (LPD) Tahap I, Tahap II, Tahap III;
5. Berita Acara Uji Coba Peralatan;
6. Foto-foto pelaksanaan konstruksi (0% , 30%, 60%, 100%) ;
7. Foto pemberdayaan/sosialisasi kepada masyarakat.

Demikian disampaikan, atas perhatian dan dukungannya diucapkan terima kasih.

, ............... 2014
Dibuat oleh
KSM ..
Ketua,

()

Mengetahui,
TFL Teknis TFL Pemberdayaan TFL Pemda Lurah

() (..) (.) (..)

Lampiran dan Format Pelaporan 22


FORMAT LAPORAN PENGGUNAAN DANA

Lampiran dan Format Pelaporan 23


PROGRAM TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPS) 3R
BERBASIS MASYARAKAT
KSM : ..
: Dusun .. Desa/Kel .. Kecamatan ..
Lokasi Kota/Kab. ..
Periode : .. s/d
Tahun : 2014
LAPORAN PENGGUNAAN DANA
TERMIN (I / II / III)*
PEMASUKAN PENGELUARAN
NO
TANGGAL URAIAN JUMLAH TANGGAL URAIAN JUMLAH
Saldo Termin Lalu
1
2
3
4
5

JUMLAH JUMLAH
SALDO

...., .. 2014
Disetujui oleh Dibuat oleh
Ketua KSM Bendahara KSM

(..) (..)

Mengetahui
TFL TEKNIK 3R TFL PEMBERDAYAAN 3R DINAS Kab/Kota

(..) (..) (..)

Lampiran dan Format Pelaporan 24


FORMAT BUKU KAS

Lampiran dan Format Pelaporan 25


BUKU KAS

KSM : ..
Lokasi : Dusun .. Desa/Kel .. Kecamatan .. Kota/Kab. ..
Periode : .. s/d
Tahun : 2014

No Tanggal Uraian Uang Masuk Uang Keluar Saldo Keterangan


1 2 3 4 5 6 7
Saldo Minggu Lalu
1
2
3
4
5

Jumlah Minggu ini

...., .. 2014
Diperiksa Mengetahui Dibuat oleh
TFL Ketua KSM
Pemberdayaan ".." Bendahara KSM

(.) (.) (.)

Lampiran dan Format Pelaporan 26


FORMAT BUKU BANK

Lampiran dan Format Pelaporan 27


BUKU BANK

KSM : .. Nama Bank :


Lokasi : Dusun .. Desa/Kel .. Kecamatan .. Kota/Kab. .. No. Rekening :
Periode : .. s/d
Tahun : 2014

No Tanggal Uraian Uang Masuk Uang Keluar Saldo Keterangan


1 2 3 4 5 6 7
Saldo Minggu Lalu
1
2
3
4
5

Jumlah Minggu ini


...., .. 2014
Diperiksa Mengetahui Dibuat oleh
TFL Ketua KSM
Pemberdayaan ".." Bendahara KSM

(.) (.) (.)

Lampiran dan Format Pelaporan 28


FORMAT LAMPIRAN BUKTI TRANSAKSI

Lampiran dan Format Pelaporan 29


LAMPIRAN BUKTI TRANSAKSI

KSM : .. Jenis Transaksi : ..


Desa/Kel. : .. No. Bukti : ..
Kecamatan : .. Tanggal : ..
Kota/Kab : .. Nominal : ..
Periode : ..

Lampiran dan Format Pelaporan 30


FORMAT LAMPIRAN PRESTASI PEKERJAAN

Lampiran dan Format Pelaporan 31


Lampiran : Berita Acara Pemeriksaan Prestasi Pekerjaan
Nomor : .....
Tanggal : .....

HASIL PEMERIKSAAN / PERHITUNGAN PRESTASI PEKERJAAN


Satuan Kerja : Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi .....
Pekerjaan : Pembangunan TPS 3R
Lokasi :
Nomor Paket :
TA :
MC-0 Hasil Pemeriksaan
No Uraian Pekerjaan Keterangan
Volume Bobot (%) Volume Progres (%) Bobot (%)
A PERSIAPAN, PRASARANA DAN PENUNJANG
1
2
3
Jumlah A
B PEKERJAAN TANAH
1
2
3
Jumlah B
C PEKERJAAN PONDASI
1
2
Jumlah C
D PEKERJAAN BETON BERTULANG
1
2
3
Jumlah D
E PEKERJAAN RANGKA DAN ATAP
1
2
3
Jumlah E
F PEKERJAAN DINDING DAN PELAPIS DINDING
1
2
3
Jumlah F
G PEKERJAAN KOSEN PINTU DAN JENDELA
1
2
3
Jumlah G
H PEKERJAAN PELAPIS LANTAI
1
2
3
Jumlah H
I PEKERJAAN CAT
1
2
Jumlah I
J PEKERJAAN LAIN - LAIN
1
2
3
Jumlah J

Tingkat Penyelesaian / Kemajuan seluruh pekerjaan sebesar Persen

Mengetahui : Yang Melaksanakan Pemeriksaan


Menyaksikan / Menyetujui Asisten Pelaksanaan
KSM ..... Satker PPLP .....
................. .................
Ketua KSM NIP. .........

Lampiran dan Format Pelaporan 32


FORMAT LAPORAN HARIAN, MINGGUAN DAN
BULANAN

Lampiran dan Format Pelaporan 33


[ KOP ]

CATATAN PADA HARI INI : LAPORAN HARIAN

Tgl / Bln / Th : Pengawas : Tim Pengawas


Hari ke : . ( . )
Dari Pekerjaan : Pelaksana : Tim Pelaksana KSM

Satuan Kerja : PPLP Provinsi .

BAHAN - BAHAN
TENAGA KERJA JUMLAH ( Orang ) Jenis Bahan yang barang yang barang ALAT - ALAT Pekerjaan Hari ini
didatangkan diterima yang ditolak ( Uraian Kegiatan dan Volume )
Jml Jml
Pelaksanaan Tk. Pipa
Mandor Pembantu
Kepala Tk. Batu Kepala Tk. Galian
Tk. Batu Tk. Galian
Pembantu Penjaga
Kepala Tk. Kayu Masinis
Tk. Kayu Tk. Masak Aspal
Pembantu
Kepala Tk. Besi
Tk. Besi
Pembantu
Kepala Tk. Cat
Tk. Cat
Pembantu
Kepala Tk. Pipa

Pekerjaan dimulai jam. . . . . . . . . . . . . . . Pagi sampai jam . . . . . . . . . . . . . . . . . Sore.

Sepenuhnya dapat
Hari dipergunakan untuk bekerja, karena :
Sebagian tidak dapat

CATATAN : Diperksa oleh : Dibuat oleh :


1. Lembar ke - 1 Untuk KSM N a m a : . Nama :
2. Lembar ke - 2 Untuk TFL Jabatan : TFL 3R Teknis Jabatan : Ketua Tim Pelaksana KSM
3. Lembar ke - 3 Untuk Satker
4. Lembar ke - 4 Untuk Arsip Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Lampiran dan Format Pelaporan 34


LAPORAN MINGGUAN

Minggu ke .
: Tanggal
/d .
: s .

SURAT PERJANJIAN PELAKSANAAN


PEKERJAAN
Nomor .
:
Tanggal
.
: .

PEKERJAAN

TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS)


3R BERBASIS
MASYARAKAT
Dusun
: Desa
:
Kecamatan
:
Kota/Kabupaten
:

KELOMPOK SWADAYA
MASYARAKAT
.
.
. .
.

Lampiran dan Format Pelaporan 35


[ KOP ]

Program : Mingguan : Ke
Lokasi : Dari Tgl. / Bln. / Th. : s.d.
Kontrak No. / Tgl : Tgl. / Bln. / Th. :
KSM : CATATAN :
Pekerjaan di mulai : 1. Lembar ke - 1 Untuk KSM
2. Lembar ke - 2 Untuk TFL
3. Lembar ke - 3 Untuk Satker
4. Lembar ke - 4 Untuk Arsip

LAPORAN MINGGUAN
KEMAJUAN PEKERJAAN
PRESTASI YANG DI CAPAI
KONTRAK/ADDENDUM
s.d Minggu lalu ( % ) Minggu ini ( % ) s.d. Minggu ini ( % )
NO URAIAN PEKERJAAN
Volume Satuan Bobot Volume Progres Bobot Volume Progres Bobot Volume Progres Bobot
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)

Tingkat Kemajuan Pekerjaan Sebesar :.......... %


Terbilang : ( . . . . . . . . . . . . . . . . Persen )

Diperiksa oleh : Bagian Pelaksanaan Diperiksa oleh : TFL 3R Teknis Diperiksa oleh : TFL Pemda Dibuat oleh
Nama : Nama : Nama : KSM : .
Jabatan : Korwas Jabatan : Jabatan : Jabatan : Ketua

Tanda tangan : Tanda tangan : Tanda tangan : Tanda tangan :

Lampiran dan Format Pelaporan 36


LAPORAN BULANAN

Bulan ke : .
Tanggal : s/d ..

SURAT PERJANJIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN


Nomor : .
Tanggal : ..

PEKERJAAN

TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R


BERBASIS MASYARAKAT

Dusun :
Desa :
Kecamatan :
Kota/Kabupaten :

KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT


..
Jl. ..

Lampiran dan Format Pelaporan 37


[ KOP ]

Program : Bulanan : Ke
Lokasi : Dari Tgl. / Bln. / Th. : s.d.
Kontrak No. / Tgl : Tgl. / Bln. / Th. :
KSM : CATATAN :
Pekerjaan di mulai : 1. Lembar ke - 1 Untuk KSM
2. Lembar ke - 2 Untuk TFL
3. Lembar ke - 3 Untuk Satker
4. Lembar ke - 4 Untuk Arsip
LAPORAN BULANAN
KEMAJUAN PEKERJAAN
PRESTASI YANG DI CAPAI
KONTRAK/ADDENDUM
s.d Bulan lalu ( % ) Bulan ini ( % ) s.d. Bulan ini ( % )
NO URAIAN PEKERJAAN
Volume Satuan Bobot Volume Progres Bobot Volume Progres Bobot Volume Progres Bobot
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)

JUMLAH
Tingkat Penyelesaian / Kemajuan seluruhpekerjan sebesar :.......... %
Terbilang : ( . . . . . . . . . . . . . . . . Persen )

Diperiksa oleh : Bagian Pelaksanaan Diperiksa oleh : TFL 3R Teknis Diperiksa oleh : TFL Pemda Dibuat oleh
Nama : Nama : Nama : KSM : .
Jabatan : Asisten Jabatan : Jabatan : Jabatan : Ketua

Tanda tangan : Tanda tangan : Tanda tangan : Tanda tangan :

Lampiran dan Format Pelaporan 38


FORMAT SURAT PERNYATAAN HIBAH

Lampiran dan Format Pelaporan 39


SURAT PERNYATAAN

Yang Bertanda Tangan di bawah ini,

Nama :
Alamat :
Tempat Tanggal Lahir :

Menyatakan bahwa nama yang tersebut diatas adalah Pemilik Tanah yang berlokasi
di ................................................, seluas ................................................ Berdasarkan akte No.
................................................

Berdasarkan rembug warga yang dilakukan pada hari .........., tanggal .......... Bertempat
di ............................ mengenai rencana pengelolaan sampah di Desa/ Kelurahan
........................................................................ Menyatakan
bahwa tanah tersebut dihibahkan untuk dipergunakan sebagai lahan TPS 3R. Adapun
penggunaan tanah tersebut diatas tanpa melalui penggantian biaya, dan
dipergunakan untuk waktu yang tidak terbatas.

Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sadar, dan tanpa paksaan dari pihak
manapun.

..........,
....................,
20..........

Saksi, Yang membuat pernyataan


1. ....................
2. .................... Materai 6000
3. ....................
4. .................... .........................

Lampiran dan Format Pelaporan 40


FORMAT ISIAN SELEKSI KOTA / KABUPATEN

Lampiran dan Format Pelaporan 41


FORM ISIAN SELEKSI KOTA/KABUPATEN
PENGELOLAAN TPS 3R BERBASIS MASAYARAKAT

Nama : .........................................................................................................
Instansi : .........................................................................................................
Jabatan : .........................................................................................................
Kab/Kota : ..................................................................................................... ....

Beri Tanda pada Kolom Ya dan Tidak, sesuai dengan jawaban anda
No. Pertanyaan Ya Tidak
1 Ada Dinas yang menangani pengelolaan sampah di
Kab/Kota.
Jika Ya sebutkan nama Dinas yang dimaksud
...............
2 Kab/Koya kami sudah pernah melakukan kegiatan
berbasis masyarakat.
Jika Ya sebutkan nama kegiatan yang dimaksud
...............
3 Bersedia kontribusi in-cash untuk biaya fisik sarana
kantor dan fasilitator
4 Dinas Penanggung jawab bersedia untuk menjadi
Pembina kelompok masyarakat yang melakukan
pengelolaan TPS 3R
5 Dinas Penanggung jawab bersedia untuk menjadi
Pembina kelompok masyarakat yang melakukan
pengelolaan TPS 3R
6 Dinas Penanggung jawab bersedia bersedia
membuat program yang berorientasi pada evaluasi
dan monitoring pelaksanaan 3R di Kab/Kota

...............,
....................
20..........
Mengetahui,

Bupati / Walikota ............... Kepala Dinas ...............

............................... ...............................
NIP. ....................... NIP. .......................

Lampiran dan Format Pelaporan 42


FORMAT ISIAN SELEKSI LOKASI

Lampiran dan Format Pelaporan 43


FORM ISIAN SELEKSI LOKASI
PENGELOLAAN TPS 3R BERBASIS MASAYARAKAT
Nama : .........................................................................................................
Instansi : .........................................................................................................
Jabatan : .........................................................................................................
Kab/Kota : .........................................................................................................

Beri Tanda pada Kolom Ya dan Tidak, sesuai dengan jawaban anda
A. KRITERIA UTAMA
No. Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah batasan administrasi lahan TPS 3R dalam batas
administrasi yang sama dengan area pelayanan TPS 3R
berbasis masyarakat
2 Apakah Status kepemilikan lahan milik pemerintah atau
lainnya, dibuktikan dengan Akte/Surat Pernyataan Hibah
untuk pembangunan prasarana dan sarana TPS 3R
berbasis masyarakat
3 Ada lahan untuk TPS 3R minimal 200 m2
4 Sudah pernah ada program lingkungan berbasis
masyarakat
B. KRITERIA PENDUKUNG UTAMA
No. Pertanyaan Ya Tidak
1 Berada didalam wilayah permukiman penduduk, bebas
banjir, ada jalan masuk, dan tidak terlalu jauh dengan
jalan raya
2 Cakupan pelayanan minimal 100 KK atau minimal
mengolah sampah 1,5 m3/hari
3 Ada tokoh masyarakat yang disegani dan mempunyai
wawasan lingkungan yang kuat
4 Penerimaan masyarakat untuk melaksanakan program
3R
merupakan kesadaran masyarakat secara spontan
5 Masyarakat bersedia membayar retribusi pengolahan
sampah
6 Sudah memiliki kelompok aktif di masyarakat seperti PKK,
Kelompok/ forum-forum kepedulian terhadap
lingkungan,
karang taruna, remaja mesjid, klub jantung sehat, klub
manula,
pengelola kebersihan/sampah, atau KSM (Kelompok
Swadaya
Masyarakat) yang sudah terbentuk

Lampiran dan Format Pelaporan 44


LAMPIRAN METODOLOGI SURVEY KOMPOSISI
SAMPAH

Lampiran dan Format Pelaporan 45


METODOLOGI SURVEY KOMPOSISI SAMPAH

Sesuai dengan petunjuk Standar Nasional yang dikeluarkan oleh Departemen


Pekerjaan Umum No. SNI 19 3964 1994, Cara pelaksanaan penelitian komposisi
sampah adalah sebagai berikut :
1. Pengukuran
Satuan komposisi sampah : % berat basah (asal)
a. Peralatan dan perlengkapan :
b. Timbangan (0-5) kg dan (0-100) kg.
c. Alat pengukur, volume contoh berupa bak berukuran (1,0 m x 0,5 m x 1,0 m) yang
dilengkapi dengan skala tinggi diganti dengan ukuran gerobak yang diambil
sampel sampahnya.
2. Ember plastik yang kuat dengan ukuran 40 liter salah satu diberi skala ukuran.
3. Perlengkapan berupa alat pemindah (seperti sekop), sarung tangan dan masker.
Cara pengerjaan :
a. Tentukan lokasi pengambilan contoh.
b. Tentukan jumlah tenaga pelaksana.
c. Siapkan peralatan.
d. Lakukan pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah
sebagai berikut :
Ukur dimensi gerobak/geledek sampah.
Sampah dalam gerobak harus rata dengan sisi atas gerobak, sehingga jika
berlebih harus dibuang sebagian.
Tumpahkan seluruh isi gerobak ke permukaan rata dan bersih.
Lakukan pemilahan sampah sesuai komposisinya (lihat petunjuk pada
lampiran).
Timbang setiap komposisi dan catat beratnya.

Lampiran dan Format Pelaporan 46


Tabel Lembar Isian Survey Komposisi Sampah

Lampiran dan Format Pelaporan 47


Pembagian sampah yang dapat di daur ulang seperti pada daftar isian diatas adalah
sebagai berikut :

Lampiran dan Format Pelaporan 48


DAFTAR SINGKATAN

3R Reduce, Reuse & Recycle


AD Anggaran Dasar
APBN Anggaran Pendapatan & Belanja Negara
ART Anggaran Rumah Tangga
ATK Alat Tulis Kantor
BAPPEDA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
B3 Bahan Berbahaya & Beracun
C/N Carbon/Nitrogen
CSR Corporate Social Responsibility
DED Detail Engineering Design
KAK Kerangka Acuan Kerja
KK Kepala Keluarga
KSM Kelompok Swadaya Masyarakat
KSO Kerja Sama Operasional
KPA Kuasa Pengguna Anggaran
KPPN Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
LKMD Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa
LP2K Laporan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan
LPD Laporan Penggunaan Dana
LSM Lembaga Swadaya Masyarakat
NPK Nitrogen, Phospor & Kalium
PKK Pembinaan Kesejahteraan Keluarga
PNS Pegawai Negeri Sipil
PP Peraturan Pemerintah
PPK Pejabat Pembuat Komitmen
PPLP Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman
RAB Rencana Anggaran Belanja
RKB Realisasi Kegiatan dan Biaya
RKM Rencana Kerja Masyarakat
RPA Rapid Participatory Assesment
RPIJM Rencana Pembangunan Infrastruktur Jangka Menengah
RT Rukun Tetangga
RW Rukun Warga
SATKER Satuan Kerja
SK Surat Keputusan
SKPD Satuan Kerja Perangkat Daerah
SNI Standar Nasional Indonesia
SP2D Surat Perintah Pencairan Dana
SP3 Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan
SPK Surat Perintah Kerja
SPM Surat Perintah Membayar
SPP Surat Permintaan Pembayaran

Lampiran dan Format Pelaporan 49


SSK Strategi Sanitasi Kota
TFL 3R Tenaga Fasilitator Lapangan 3R
TPA Tempat Pemrosesan Akhir
TPS 3R Tempat Pengolahan Sampah 3R
UDPK Usaha Daur Ulang dan Produksi Kompos

Lampiran dan Format Pelaporan 50


DAFTAR ISTILAH

Sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia dan atau proses alam yang
berbentuk padat.
Sampah organik adalah sampah yang memiliki sifat mudah terurai secara
alamiah, contohnya daun, ranting, sayuran dan buah serta sisa makanan.
Sampah non-organik adalah sampah yang sulit dan tidak bisa terurai secara
alami, meliputi plastik, kaca, besi, sebagian jenis kertas dan lainnya.
Sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau
volumenya memerlukan pengelolaan khusus.
Sumber sampah adalah asal timbulan sampah.
Penghasil sampah adalah setiap orang dan/atau akibat proses alam
menghasilkan timbulan sampah.
Penanganan sampah 3R adalah konsep penanganan sampah dengan cara
Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali) dan Recycle (daur
ulang) sampah mulai dari sumbernya.
Pengomposan adalah proses pengelolaan sampah menjadi kompos.
Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok
orang untuk membentuk masyarakat melalui perwujudan potensi
kemampuan yang mereka miliki berdasarkan prakarsa dan kreativitas.
Persampahan yang dimaksud dalam pedoman ini adalah pengelolaan sampah.
Pembiayaan sampah adalah jumlah biaya yang diperuntukkan bagi
pengelolaan sampah.
Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.
Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R adalah tempat untuk dilaksanakannya
kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, dan pendauran
ulang skala kawasan.
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) adalah tempat untuk memproses dan
mengembalikan sampah ke media lingkungan.
Timbulan Sampah adalah banyaknya sampah yang dihasilkan per orang perhari
dalam satuan volume maupun berat.
Reduce adalah upaya mengurangi volume timbulan sampah.
Reuse adalah upaya menggunakan kembali sampah tanpa perubahan bentuk
untuk kegiatan lain yang bermanfaat.
Recycle adalah upaya mendaur ulang sampah menjadi benda lain yang
bermanfaat.
Rencana Kerja Masyarakat (RKM) adalah suatu rencana yang dibuat oleh

Lampiran dan Format Pelaporan 51


masyarakat sebagai anggota Tim Kerja Masyarakat (TKM) bersama
pengurus TKM sebagai wadah untuk menampung aspirasi dari masyarakat
desa / kampung atas kegiatan 3R.
Evaluasi adalah cara untuk menilai, memperbaki dan meningkatkan seberapa
jauh sebuah program kegiatan dapat berjalan secara efektif, efisien dan
optimal seperti yang telah dirumuskan bersama atau direncanakan.
Fasilitator adalah pelaku yang membantu, menolong dan mengarahkan
kegiatan di lapangan, dengan mengunakan kegiatan-kegiatan yang
ada dalam panduan sehingga dapat membantu kelompok yang
bekerjasama.
Jasa pengelolaan sampah adalah pelayanan pengelolaan sampah yang
diberikan kepada masyarakat atau pihak lainnya oleh pemerintah daerah.
Komposter adalah alat untuk mengolah sampah organik menjadi kompos
Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) adalah forum musyawarah, tempat
masyarakat menyampaikan aspirasi.
Operasi dan Pemeliharaan (O & P) adalah upaya pemanfaatan dan
pemeliharaan prasarana dan sarana secara optimal oleh masyarakat
pengguna dengan pembinaan pemerintah daerah secara
berkesinambungan.
Organisasi persampahan adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak
dan keinginannya yang meliputi bidang pengelolaan sampah.
Longlist adalah daftar panjang kampung calon lokasi.
Shorlist adalah penyusunan daftar pendek kampung calon lokasi TPS 3R Berbasis
Masyarakat.

Lampiran dan Format Pelaporan 52


TIM PENYUSUN

PELINDUNG
Ir. Imam S. Ernawi, MCM., M.Sc.

PEMBINA
Ir. Djoko Mursito, Dipl. SE., M.M.

PENGARAH
Ir. Rudy Azrul Arifin, M.Sc.

PENANGGUNG JAWAB
Ir. Essy Asiah, M.T.
Nanda Lasro Elisabet Sirait, S.T., M.Sc.
Dra. Nyimas Nina Indrasari, M.Sc.
Sandhi Eko Bramono, Ph.D.

PELAKSANA
Denny Wahyudi, S.T., M.T.
Dra. Endang Setyaningrum, M.T.
Guntur Irawan, S.T., M.T.
Ir. Irbar P. Senobua
Ir. Komang Raka Maharthana
Mahmud Abdussalam, S.T.
Siti Rositawati
Ir. Surur Wahyudi
Terra Prima Sari, S.T., M.Sc.
Yustika Aristya Widyasari, S.T.

Lampiran dan Format Pelaporan 53

Anda mungkin juga menyukai