Anda di halaman 1dari 150

Prosedur Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolan Sampah 1

KATA PENGANTAR

Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah merupakan bagian dari perencanaan umum
sistem pengelolaan sampah yang dapat dilanjutkan dengan Studi Kelayakan dan
perencanaan teknis sistem pengelolaan sampah.
Prosedur Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah ini merupakan
panduan tentang substansi, proses dan tahapan penyusunan dokumen Rencana Induk
Sistem Pengelolaan Sampah mulai dari penyiapan kebijakan strategi, gambaran daerah
studi, perencanaan pengembangan rencana program pengelolaan sampah.
Prosedur Teknis ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi semua pihak yang
berkepentingan dalam proses penyusunan rencana induk, penyusunan program serta
pembangunan sistem pengelolaan sampah di tingkat Pemerintah Kota
Besar/Metropolitan. Dengan pedoman ini diharapkan pemerintah kota
besar/metropolitan dapat menyusun dokumen yang menyeluruh, sesuai kebutuhan
daerah, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan Prosedur Teknis ini penggunanya diharapkan dapat menghasilkan sebuah
dokumen Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah yang berkualitas.

Jakarta, Juni 2014

Ir. Djoko Mursito, M.Eng, MM


Direktur Pengembangan PLP
Direktorat Jenderal Cipta Karya
Kementerian Pekerjaan Umum

Prosedur Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolan Sampah 2


DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

A. PROSES PENYUSUNAN RENCANA INDUK SISTEM PENGELOLAN SAMPAH


PT-01 : Penyamaan Persepsi dan Paradigma
PT-02 : Penyiapan Konsep dan Kriteria Penyusunan Rencana Induk
PT-03 : Deskripsi Daerah Perencanaan
PT-04 : Strategi Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah
PT-05 : Penyusunan Rencana Program dan Pelaksanaan Kegiatan
PT-06 : Finalisasi Rencana Induk

B. PENJELASAN RINCI OUTLINE RENCANA INDUK SISTEM PENGELOLAN SAMPAH

C. LAMPIRAN
KT-01 : Survei Dan Pengkajian Wilayah Studi Dan Wilayah
Pelayanan
KT-02 : Survey Timbulan, Komposisi dan Karakteristik
Sampah
KT-03 : Survey Dan Pengkajian Demografi Dan
Ketatakotaan
KT-04 : Survey Dan Pengkajian Biaya, Sumber Pendanaan
Dan Keuangan
KT-05 : Definisi Operasional Standar Pelayanan Minimal
Bidang Cipta Karya Penyehatan Lingkungan Permukiman
KT-06 : Pemenuhan Kebutuhan Dasar Permukiman Pada
Saat Tanggap Darurat Penanggulangan Bencana
KT-07 : Tata Cara Perencanaan TPA Sampah
KT-08 : SNI 03-3241-1994 Tata Cara Pemilihan Lokasi
Tempat Pembuangan Akhir Sampah
KT-09 : SNI 19-2454-2002 Tata Cara Teknis Operasional
Pengelolaan Sampah Perkotaan

Prosedur Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolan Sampah 3


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Rencana induk sistem pengelolaan sampah merupakan suatu dokumen perencanaan
umum yang menyeluruh mengenai penyelenggaraan prasarana dan sarana
persampahan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. Rencana induk sistem pengelolaan
sampah tersebut selanjutnya digunakan sebagai acuan oleh instansi yang berwenang
dalam penyusunan program pembangunan 5 (lima) tahun sistem pengelolaan sampah.

Tujuan
Prosedur Teknis ini disusun untuk dapat dijadikan pegangan, panduan dan referensi
bagi Pemerintah Kota Besar/Metropolitan dalam menyusun Rencana Induk Sistem
Pengelolaan Sampah yang memenuhi standard nasional.

Kelengkapan Pedoman
Prosedur Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah terdiri dari
tiga bagian yaitu:
Bagian A : Proses Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah
Berisi penjelasan proses dan langkah-langkah penyusunan Rencana Induk
Sistem Pengelolaan Sampah.
Bagian B : Penjelasan Rinci Daftar Isi Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah
Penjelasan secara rinci daftar isi Rencana Induk Sistem Pengelolaan
Sampah yang meliputi Baba dan Sub Bab serta substansi/materi yang harus
tercantum dalam Rencana Induk.
Bagian C : Lampiran
Penjelasan rinci mengenai tata cara pelaksanaan kegiatan atau analisis
spesifik yang perlu dilakukan di dalam penyusunan Rencana Induk Sistem
Pengelolaan Sampah.

Pengguna sasaran

Pengguna sasaran Prosedur Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan


Sampah ini adalah Pemerintah Kota Besar/Metropolitan, sedangkan untuk Kota Sedang
dan Kecil berupa Perencanaan Teknis dan Manajemen Persampahan. Tujuan dari
adanya pedoman ini adalah agar setiap Pemerintah Kota Besar/Metropolitan memiliki
rencana Induk yang sistimatis, Terarah, Terpadu dan Tanggap terhadap kebutuhan
sesuai karakteristik lingkungan dan sosial ekonomi daerah, serta tanggap terhadap
kebutuhan stakeholder proyek (Pemerintah, Investor, dan Masyarakat).

Prosedur Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolan Sampah 4


PROSEDUR TEKNIS
PENYUSUNAN RENCANA INDUK
SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH

BAGIAN A:
PROSES PENYUSUNAN RENCANA INDUK SISTEM
PENGELOLAAN SAMPAH

Bagian A Proses Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 5


PT-01: PENYAMAAN PERSEPSI DAN PARADIGMA

Tujuan
1. Tercapai Kesepahaman dan kesamaan persepsi mengenai manfaat adanya Rencana
Induk Sistem Pengelolaan Sampah bagi Pemerintah Kota Besar/Metropolitan
2. Tercapainya kesepakatan mengenai cara dan tahapan penyusunan, jadwal kerja,
pembagian tugas dan tanggung jawab setiap anggota tim penyusun

Diskripsi
Penyamaan Persepsi dan Paradigma adalah tahapan pertama para pihak terkait dalam
rangka penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah Pemerintah Kota
Besar/Metropolitan. Proses ini perlu dibangun untuk memastikan adanya kesepahaman
dan kesamaan persepsi di antara para pihak mengenai manfaat adanya Rencana Induk
Sistem Pengelolaan Sampah, yang menjadi dasar Pengelolaan Persampahan
Pemerintah Kota Besar/Metropolitan.
Penyamaan persepsi dan paradigma dalam rangka penyusunan Rencan Induk Sistem
Pengelolaan Sampah meliputi:
1. Perlunya Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah di sususn
2. Para pihak yang terlibat dalam penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan
Sampah.
3. Paradigma
- Pengelolaan sampah dengan prinsip 3R
- TPA Sanitary Landfill (tidak Open Dumping)
- Pengelolaan gas Rumah Kaca (Pemanfaaatan dan Pemusnahan)
- Pemanfaatan sekitar TPA
- Waktu perencanaan minimal perlu disepakati
- Rehabilitasi TPA

KEDUDUKAN RENCANA INDUK

Bagian A Proses Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 6


Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari proses Penyamaan Persepsi dan Paradigma adalah:
1. Disepakatinya perlunya penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah.
2. Disepakatinya pihak yang menyusun Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah.
3. Disepakatinya Paradigma dalam penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan
Sampah.

Langkah-langkah Pelaksanaan
Bangun kesepahaman tentang pentingnya Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah,
Untuk menumbuhkan kesepahaman dan kesamaan persepsi, Tim penyusun perlu
mengadakan pertemuan yang melibatkan seluruh anggotanya. Pertemuan tersebut
diagendakan untuk menyepakati:
1. Latar belakang, Maksud dan Tujuan, dan Ruang Lingkup penyusunan penyusunan
Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah.
2. Landasan hukum atau peraturan-peraturan yang terkait Rencana Induk Sistem
Pengelolaan Sampah diskusikan, seperti:
- Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;
- Peraturan Pemerintah RI Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga;
- Peraturan Menteri PU 21/PRT/M/2006 tentang kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan;
- Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 33 Tahun 2010 Tentang Pedoman
Pengelolaan Sampah;
- Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 13 tahun 2012 tentang Pedoman
Pelaksanaan Reduse, Reuse, Recycle melalui bank sampah.
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI Nomor 3/PRT/M/2013 Tentang
Penyelenggaraan Prasarana Dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan
Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
- Peraturan Daerah

3. Proses penyusunan rencana induk sistem pengelolaan sampah perlu


memperhatikan:
o Muatan Rencana Induk
Rencana Umum
Rencana penanganan sampah
Program dan kegiatan penanganan sampah
Kriteria
Standar pelayanan
Rencana alokasi lahan TPA
Rencana keterpaduan dengan Prasarana dan Sarana (PS) Air Minum, Air
Limbah dan Drainase
Rencana pembiayaan
Rencana pengembangan kelembagaan
o Persyaratan Teknis
Kriteria Umum
- Tersedianya prasarana dan sarana persampahan sesuai kebutuhan

Bagian A Proses Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 7


pelayanan dengan mengedepankan pemanfaatan sampah dan
meningkatkan kualitas TPA melalui penerapan teknologi ramah
lingkungan.
- Tersedianya pelayanan pengumpulan dan pengangkutan sampah bagi
masyarakat di wilayah pelayanan dengan biaya (retribusi) yang
terjangkau oleh masyarakat.
- Tersedianya program kampanye dan edukasi secara berkesinambungan
untuk meningkatkan peran masyarakat dalam kegiatan 3R.
- Tersedianya program peningkatan kelembagaan yang memisahkan peran
operator dan regulator.
Kriteria Teknis
- Periode perencanaan minimal 10 (sepuluh) tahun
- Sasaran dan prioritas penanganan
- Strategi penanganan
- Kebutuhan pelayanan
o Tenaga Ahli Penyusunan Rencana Induk
Ahli Teknik Penyehatan/Teknik Persampahan
Ahli Teknik Hidrologi/Geohidrologi
Ahli Sosial Budaya
Ahli Ekonomi/Keuangan
Ahli Kelembagaan/Manajemen
Ahli Perencanaan Kota/Planologi
Ahli Regulasi
Ahli Geodesi

Bagian A Proses Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 8


PT-02: PENYIAPAN KONSEP DAN KRITERIA PENYUSUNAN RENCANA
INDUK

Tujuan
1. Menyusun periode perencanaan rencana induk
2. Mengevaluasi Rencana Induk
3. Menyusun Kriteria Rencana Induk
4. Melaksanakan survei penyusunan rencanan induk
5. Menjelaskan Keterpaduan sistem pengelolaan sampah dengan Prasarana dan
Sarana air minum, air limbah dan drainase
6. Menjelaskan kontribusi sistem pengelolaan sampah dalam program perubahan
iklim

Diskripsi
Tahapan kedua yang harus dilakukan dalam menyusun rencana induk ini adalah
menyusun konsep dan kriteria penyusunan rencana induk meliputi periode
perencanaan, evalusi rencana induk, kriteria penyusunan rencana induk, survei
penyusunan rencana induk, keterpaduan dengan prasaranan dan sarana air minum, air
limbah drainase, dan Kontribusi sistem pengelolaan sampah dalam program perubahan
iklim.

Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari proses Penyiapan Konsep dan Kriteria Penyusunan
Rencana Induk adalah:
1. Ditetapkan nya periode perencanaan rencan induk
2. Ditentukan evaluasi rencana induk
3. Tersusunya kriteria rencana induk
4. Tersedianya data hasil survei
5. Tersedianya informasi keterpaduan dengan prasarana dan saran air minum, air
limbah dan drainase
6. Tersedianya informasi mengenai konstribusi sistem pengelolaan sampah dalam
program perubahan iklim

Langkah-langkah
1. Menentukan Periode Perencanaan

2. Evaluasi Rencana Induk


Menjelaskan mengenai Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah harus dievaluasi
setiap 5 tahun untuk disesuaikan dengan perubahan yang terjadi dan disesuaikan
dengan perubahan rencana induk bidang sanitasi lainnya, tata ruang dan rencana
induk SPAM serta perubahan strategi dibidang lingkungan (Local Environment
Strategy). Maupun hasil rekomendasi Audit lingkungan perkotaan yang terkait
dengan masalah pengelolaan Persampahan.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 9


3. Kriteria Penyusunan Rencana Induk
Menjelaskan Rencana induk ini harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
- Berorientasi ke depan
- Mudah dilaksanakan atau realistis, dan
- Mudah direvisi atau fleksibel
4. Survei Penyusunan Rencana Induk
Survei dan pengkajian wilayah studi dan wilayah pelayanan
Harus memenuhi ketentuan:
- Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin tim (team
leader) berpengalaman dalam bidang persampahan minimal 5 tahun
atau menurut peraturan yang berlaku;
- Mempelajari laporan studi terdahulu tentang sistem penanganan sampah
dan tata ruang kota.
- Dilakukan pembahasan dengan pihak terkait guna mendapatkan
kesepakatan dan rekomendasi terhadap lingkup wilayah studi dan wilayah
pelayanan.
Survei sumber timbulan, komposisi dan karakteristik sampah
Harus memenuhi ketentuan:
- Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin tim (team
leader) berpengalaman dalam bidang persampahan minimal 5 tahun atau
menurut peraturan yang berlaku;
- Melaksanakan survei lapangan yang seksama dan terkoordinasi dengan
pihak terkait;
- Membuat laporan tertulis mengenai hasil survei yang memuat:
a. Foto lokasi;
b. Data timbulan, komposisi dan karakteristik sampah;
c. Peta letak Prasarana dan Sarana Persampahan.
- Mengirimkan data dan laporan tersebut di atas kepada pemberi tugas
instansi yang terkait.
Survei dan pengkajian demografi dan ketatakotaan
Harus memenuhi ketentuan:
- Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin tim (team
leader) berpengalaman dalam bidang demografi dan ketatakotaan minimal
5 tahun atau menurut peraturan yang berlaku;
- Tersedia surat yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan;
- Tersedia data statistik sampai dengan 10 tahun terakhir yang terdiri dari:
a. statistik penduduk;
b. kepadatan penduduk;
c. persebaran penduduk;
d. migrasi penduduk per tahun;
e. penduduk usia sekolah.
- Tersedia peta yang memperlihatkan kondisi fisik daerah yang di studi;
- Tersedia studi yang ada mengenai ketatakotaan.
Survei dan pengkajian biaya, sumber pendanaan dan keuangan
Survei dan pengkajian biaya, sumber pendanaan dan keuangan dalam
pelaksanaannya merupakan perolehan data lapangan yang akan digunakan
dalam analisis keuangan.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 10


PT-03: DESKRIPSI DAERAH PERENCANAAN

Tujuan
1. Menyusun Kondisi Daerah Studi Sistem pengelolaan sampah
2. Menyusun Kondisi eksisting sistem pengelolaan sampah
3. Mengidentifikasi permasalahan pada sistem pengelolaan sampah

Diskripsi
Deskripsi Daerah Perencanaan adalah tahapan ke tiga penyusunan Rencana Induk
Sistem Pengelolaan Sampah. Untuk mencapai tahapan ini tim penyusun harus
memahami lingkup pengelolaan sampah serta membangun kesepakatan tentang
cakupan wilayah yang akan digambarkan di dalam Rencana Induk Sistem Pengelolaan
Sampah.
Tim penyusun harus mengidentifikasi sumber data dan penanggung jawab,
mengumpulkan seluruh data sekunder yang diperlukan untuk menyusun profil daerah
studi berikut kondisi eksisting sistem pengelolaan sampah. Sumber data sekunder yang
digunakan dapat berasal dari berbagai dokumen perencanaan Pemerintah Kota
Besar/Metropolitan maupun hasil studi oleh universitas/LSM. Dokumen-dokumen ini
diantaranya adalah RTRW, RPJPD, RPJMD, Renstra.
Profil daerah studi dalam Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah disusun untuk
menjelaskan gambaran saat ini dari Pemerintah Kota Besar/Metropolitan terkait Batas
Administrasi, letak geografi, topografi, Klimatografi, Hidrologi, Geologi, Hidrogeologi,
hidrooceanografi, tata ruang, demografi, sosekbud, kesehatan masyarakat, Prasarana
kota serta kondisi eksisting sistem pengelolaan sampah berikut permasalahannya.
Data yang diperlukan dalam penyiapan profil daerah studi sangat beragam, sumbernya
dari berbagai instansi. Data yang dikumpulkan antara lain adalah sebagai berikut:
1. Data Kondisi Fisik Wilayah
- Data wilayah administrsai dilengkapi dengan peta wilayah administrasi
- Data letak geografi
- Data Hidrologi dilengkapi dengan Peta hidrologi
- Data Topografi dilengkapi dengan Peta topografi, foto udara citra satelit
skala 1:50.000, 1:5.000, tergantung luas daerah studi/perencanaan.
- Data Fisiografi dilengkapi dengan peta Fisiografi
- Data Klimatografi dilengkapi dengan Peta Klimatografi
- Data Curah Hujan
- Data Geologi dilengkapi dengan Peta geologi
- Data Hidrogeologi
- Data Hidrooceanografi
2. Data Kebijakan pembangunan dan tata ruang
- Data RTRW/RDTR
- Data RPJPD dan RPJMD
- Data Rencana Strategis
- Data Penggunaan lahan dan rencana tata guna lahan

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 11


3. Data Demografi (Kependudukan)
- Data jumlah penduduk
- Data penyebaran penduduk
- Data kepadatan penduduk
4. Data Sosial, ekonomi dan Budaya
- Data Tingkat Pendidikan Masyarakat
- Data Penghasilan Masyarakat
- Data Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB);
- Data Mata pencaharian dan pendapatan;
- Data Adat istiadat, tradisi dan budaya;
- Data Perpindahan penduduk dan pengaruhnya terhadap urbanisasi dan kondisi
ekonomi masyarakat.
5. Data Kesehatan Masyarakat
- Statistik kesehatan/kasus penyakit;
- Angka kelahiran, kematian dan migrasi;
- Data penyakit akibat air (water borne disease);
- Sarana pelayanan kesehatan.
6. Data Prasarana Kota
- Data Sistem Penyediaan Air Minum
- Data Sistem Drainase
- Data SPAL
- Data Jaringan Jalan dan Sarana Transportasi
7. Data Kondisi Eksisting Sistem Pengelolaan Sampah
Data Jenis Sumber Sampah
- Pemukiman
o Rumah Tinggal
o Apartemen
- Komersil
o Pusat Pertokoan
o Penginapan (hotel)
o Perkantoran
o Tempat Rekreasi
o Rumah Makan
- Fasilitas Umum
o Pelabuhan Kapal, stasiun kereta api, terminal bus
o Taman dan jalan
o Rumah ibadah (mesjid, gereja, vihara dst
- Sekolah hingga perguruan tinggi
- Rumah sakit hingga puskesmas
- Pasar, baik pasar tradisional maupun pasar modern
- Industri (kawasan industri hingga industri kecil)
- Sungai
Data Daerah Pelayanan
- Data Pola penanganan sampah
Data Timbulan, komposisi dan karakteristik sampah
- Volume Sampah
- Jenis karakteristik sampah seperti, sampah organik, anorganik
Data Peraturan
- Data Regulasi tentang pengelolaan sampah
Data Kelembagaan
- Bentuk organisasi pengelola sampah yang ada (operator dan regulator);
- Struktur organisasi yang ada;

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 12


-
Sumber daya manusia yang tersedia; dan
- Tata laksana kerja dan pola kordinasi.
Data keuangan
- Ketersediaan biaya investasi dan atau penggantian peralatan/suku cadang;
- Biaya pengoperasian dan pemeliharaan; dan
- Retribusi (tarif, mekanisme pengumpulan dan besar retribusi terkumpul).
Data Peran Masyarakat dan swasta
- Tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat;
- Program kampanye dan edukasi yang ada; dan
- Peran swasta yang ada; dan
- Kemitraan dengan swasta.

Data Teknis Operasional


Data sarana dan prasarana Pengelolaan Sampah eksisting yaitu data
pemilahan/pewadahan, pengumpulan (TPS/TPS 3R), Pengangkutan (kendaraan
Angkutan), Pengolahan (SPA, FPSA, TPST), pemrosesan akhir/TPA

Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari proses Deskripsi Daerah Perencanaan adalah:
1. Tergambarkan nya profil daerah studi Kota Besar/Metropolitan
2. Tergambarkan nya profil kondisi eksisting sistem pengelolaan sampah
3. Teridentifikasinya permasalaha pada sistem pengelolaan sampah

Langkah-langkah
1. Kumpulkan data sekunder sebagai dasar perencanaan dalam penyusunan
gambaran daerah studi

2. Evaluasi kobdisi eksisting

3. Identifikasi permasalahan dan kebutuhan pelayanan penyelenggaraan PSP


Hal yang perlu diidentifikasi antara lain:
- Tingkat dan cakupan pelayanan yang ada dan masalah pencemaran akibat
sampah;
- Kinerja PSP yang ada dan kajian teknologi pengolahan dan pemrosesan akhir
sampah yang ramah lingkungan;
- Potensi cakupan dan daerah pelayanan;
- Terdapat PSP yang belum dimanfaatkan secara optimal; dan
- Kinerja kelembagaan, sumber daya manusia, pembiayaan, masalah pengaturan
di daerah dan peran masyarakat/swasta .

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 13


PT-04: STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH

Tujuan
1. Menyusun visi dan misi dalam penyusunan rencana induk sistem pengelolaan
sampah
2. Menyiapkan kebijakan-kebijakan strategis dan kriteria perencanaan dalam
penyusunan rencana induk sistem pengelolaan sampah
3. Menyusun kriteria standar pelayanan minimal
4. Mengidentifikasi daerah pelayanan
5. Menghitung proyeksi timbulan sampah
6. Menghitung prasarana dan sarana sistem pengelolaan sampah

Diskripsi
Tahapan ke-empat yang harus dilakukan Tim Penyusun sehubungan dengan penyusunan
Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah adalah Strategi Pengembangan Sistem
Pengelolaan Sampah. Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan gambaran lengkap
dan menyeluruh tentang strategi pengembangan sistem pengelolaan sampah Kota
Besar/Metropolitan.
Proses penyusunan ini diawali dengan mengidentifikasi kebijakan dan strategi
pengembangan sistem pengelolaan sampah dan dilanjutkan dengan pengembangan
sistem pengelolaan sampah, menghitung proyeksi timbulan sampah dan menghitung
prasarana dan sarana sistem pengelolaan sampah.
1. Visi dan Misi
- Visi
o Seluruh masyarakat, baik yang tinggal di perkotaan maupun di perdesaan
memiliki akses untuk penanganan sampah yang dihasilkan dari aktivitas
sehari-hari, baik di lingkungan perumahan, perdagangan, perkantoran,
maupun tempat-tempat umum lainnya
o Masyarakat memiliki lingkungan permukiman yang bersih karena sampah
yang dihasilkan dapat ditangani secara benar.
o Masyarakat mampu memelihara kesehatannya karena tidak terdapat sampah
yang berpotensi menjadi bahan penularan penyakit seperti diarhea, thypus,
disentri, dan lain-lain; serta gangguan lingkungan baik berupa pencemaran
udara, air, atau tanah.
o Masyarakat dan dunia usaha/swasta memiliki kesempatan untuk
berpartisipasi dalam pengelolaan persampahan sehingga memperoleh
manfaat bagai kesejahteraannya
- Misi
o Mengurangi timbulan sampah dalam rangka pengelolaan persampahan yang
berkelanjutan.
o Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan sistem pengelolaan
persampahan

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 14


o Memberdayakan masyarakat dan meningkatkan peran aktif dunia
usaha/swasta
o Meningkatkan kemampuan manajemen dan kelembagaan dalam sistem
pengelolaan persampahan sesuai dengan prinsip good and cooperate
governance
o Memobilisasi dana dari berbagai sumber untuk pengembangan sistem
pengelolaan persampahan
o Menegakkan hukum dan melengkapi peraturan perundangan utk
meningkatkan sistem pengelolaaan persampahan
2. Kebijakan pengelolaan persampahan telah disiapkan dengan tidak mengabaikan
Norma, standar, pedoman dan kriteria pengelolaan sampah dan peraturan
perundang-undangan berikutnya:
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Persampahan:
- Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya
- Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra
pengelolaan
- Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas sistem pengelolaan
- Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundangan
- Pengembangan Alternatif Sumber Pembiayaan
Pedoman Penataan Ruang Sekitar Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
Kebijakan Nasional Mitigasi dan Perubahan Iklim
Komitmen internasional yang telah diratifikasi oleh pemerintah seperti kyoto
protocol untuk pengurangan emisi gas rumah kaca melalui mekanisme CDM,
serta MDGs untuk meningkatkan akses pelayanan persampahan pada tahun
2015
3. Strategi Pengembangan Prasarana dan Sarana Persampahan
Sebelum menetapkan rencana induknya, setiap kabupaten/kota harus terlebih
dahulu menetapkan pilihan arah pengembangan sarana dan prasarana
Persampahan untuk masa 20 (dua puluh) tahun mendatang. Pilihan arah
pengembangan sarana dan prasarana Persampahan yang harus dipertimbangkan
antara lain adalah:
Mengoptimalkan sistem pemilahan/pewadahan sampah di sumber;
Mengoptimalkan sistem pengumpulan sampah;
Mengoptimalkan sistem pengangkutan sampah;
Mengoptimalkan sistem pengolahan sampah;
Mengoptimalkan sistem pemrosesan akhir sampah;
Metode pemilihan arah pengembangan sarana dan prasarana Persampahan,
mengikuti arahan teknik operasional yang disasar. Arahan teknik operasional
pengelolaan Persampahan harus mengikuti Standard Nasional Indonesia tentang
Teknik Operasional pengelolaan sampah kota SNI 19-2454-2002 seperti yang
dijelaskan pada gambar

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 15


TIMBULANSAMPAH
TIMBULAN SAMPAH

PEMILAHAN DAN
PEMILAHAN DAN PENGOLAHAN
PENGOLAHAN
DI SUMBER
DI SUMBER

PENGUMPULAN
PENGUMPULAN

PEMINDAHAN
PEMINDAHAN
FAS. PENGOLAHAN
FAS. PENGOLAHAN3R
3R

PENGANGKUTAN
PENGANGKUTAN

PEMBUANGANAKHIR
PEMBUANGAN AKHIR

Teknik Operasional Pengelolaan Persampahan


Gambaran strategi pengembangan sarana dan prasarana persampahan adalah
sebagai berikut:

Strategi Pengembangan Sarana dan Prasarana Persampahan

a) Grand strategi kuadran I: Pemusnahan Sampah Konvensional.


Strategi ini dipilih karena lahan TPA yang memenuhi syarat masih tersedia
diwilayah administratif yang bersangkutan. Arah pengembangan strategi ini
meliputi antara lain:
- Pemilihan lokasi TPA untuk kapasitas umur rencana
20 tahun.
- Peningkatan manajemen pemilahan sampah.
b) Grand strategi kuadran II: Pemusnahan Sampah Terpadu.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 16


Walaupun memiliki lahan TPA yang layak, strategi ini mengembangkan
peluang pengelolaan sampah terpadu berdasarkan potensi pemilahan sampah
di sumber. Dengan strategi ini diharapkan kebutuhan lahan TPA dapat
dikurangi secara berarti. Arah pengembangan strategi ini meliputi antara
lain:
- Pemilihan lokasi TPA untuk kapasitas umur rencana
20 tahun.
- Pemilihan lokasi fasilitas 3R skala besar/kota
c) Grand strategi kuadran III: Pemusnahan sampah konvensional skala
regional
Strategi ini dipilih karena lahan TPA yang memenuhi syarat/kriteria tidak
tersedia di kota yang bersangkutan. Strategi ini masih sangat bergantung
pada keberadaan TPA regional karena potensi pemilahan sampah di sumber
belum direncanakan dalam sistem pengelolaan sampah. Arah pengembangan
strategi ini meliputi antara lain:
- Pemilihan lokasi TPA regional untuk umur rencana
20 tahun
- Perencanaan kerjasama TPA regional
- Meningkatkan manajemen pemilahan sampah di
sumber
d) Grand strategi kuadran IV: Pemusnahan sampah terpadu dengan
teknologi tinggi.
Strategi ini dipilih karena lahan TPA yang memenuhi syarat/kriteria tidak
tersedia di kota yang bersangkutan. Strategi ini dipilih untuk mengurangi
ketergantungan terhadap TPA regional dengan memanfaatkan peluang kinerja
pemilahan sampah di sumber. Arah pengembangan sarana dan prasarana pada
strategi ini meliputi:
- Pembangunan tempat 3R skala kota
- Pembangunan WTE
- Kerja sama TPA regional

4. Strategi Pengembangan Kapasitas Kelembagaan


Perubahan (Transformasi) sistem pelayanan dari pelayanan setempat menjadi
sistem pelayanan skala kawasan atau skala kota memberi dampak adanya
kebutuhan lembaga untuk mengelola prasarana yang akan dibangun.
Dengan demikian, penetapan arah pengembangan prasarana sistem pelayanan
persampahan baik berupa pelayanan sistem konvensional (paradigma lama) yaitu
sistem kumpul-angkut-buang maupun sistem pengolahan 3R (paradigma baru)
memerlukan perencanaan strategis untuk menciptakan dukungan masyarakat dan
mewujudkan lembaga yang sesuai untuk mengelola prasarana terbangun.
Perencanaan strategis tersebut meliputi:
a. Rencana public campaign;
b. Rencana penyusunan Peraturan Daerah (Perda) dan sosialisasi Perda;
c. Rencana pembentukan lembaga pengelola.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 17


Pengembangan Kapasitas Kelembagaan

5. Strategi Pengembangan Peran Masyarakat


Peningkatan peran masyarakat dalam sistem pengelolaan sampah mempunyai
fungsi penting sebagai pondasi bangunan pengelolaan sampah. Pelaksanaan
program tidak akan berhasil tanpa kesadaran masyarakat yang cukup memadai.
Rencanan peningkatan peran masyarakat perlu dilakukan secara berjenjang,
mulai dari fase pengenalan (1-3 tahun) sampai pada fase pelaksanaan (5-10
tahun).
6. Strategi Pengembangan Peraturan
Dukungan peraturan merupakan hal penting dalam menjalankan proses
pengelolaan sampah dan harus memuat ketentuan hukum berdasarkan peraturan
perundangan bidang persampahan yang belaku (Undang- undang dan Peraturan
Pemerintah), Kebijakan Nasional dan Provinsi serta NSPK (Norma, Standar,
Pedoman dan Kriteria) bidang persampahan.

7. Strategi Pengembangan Ekonomi dan Pembiayaan


Hal yang perlu di perhatikan dalam pengembangan Ekonomi dan Pembiayaan
adalah:
- Sumber dana
- Kemampuan dan kemauan masyarakat
- Keampuan keuangan daerah
- Potensi kemitraan dengan pihak swasta dalam bentuk KPS

8. Kriteria Standar Pelayanan Minimal


Kriteria dan standar pelayanan diperlukan dalam perencanaan penyelenggaraan
PSP untuk dapat memenuhi tujuan tersedianya pelayanan penanganan sampah
yang memadai dengan mengedepankan pemanfaatan sampah sebagai sumber
daya.
Sasaran pelayanan pada tahap awal prioritas harus ditujukan pada daerah
berkepadatan tinggi dan kawasan strategis. Setelah itu prioritas pelayanan
diarahkan pada daerah pengembangan sesuai dengan arahan dalam perencanaan
induk kota. Untuk mendapat suatu perencanaan yang optimum maka strategi
pemenuhan PSP adalah sebagai berikut:
a. Pemanfaatan prasarana dan sarana yang ada secara lebih optimal (tanpa

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 18


pengadaan/pembangunan baru)
b. Penutupan atau rehabilitasi TPA bermasalah berdasarkan hasil evaluasi
dengan indeks resiko
c. Pembangunan baru (pengembangan prasarana dan sarana secara bertahap
sesuai kebutuhan)
d. Meningkatkan kegiatan 3R secara bertahap dengan program kampanye
edukasi dan pendampingan
e. Mengurangi sampah yang dibuang ke TPA secara bertahap

9. Pengembangan Daerah Pelayanan


Penentuan prioritas daerah pelayanan sampah, wajib mengacu pada Standard
Nasional Indonesia tentang tata cara pengelolaan sampah perkotaan SNI-19-
2454-2002

10. Pemilihan Zona Prioritas


Zona Prioritas
- Zona prioritas adalah zona perencanaan yang mendapat penilaian utama
untuk diprioritaskan dibangun terlebih dahulu dalam kurun waktu 20 tahun
mendatang.
- Perencanaan sarana dan prasarana Persampahan di zona prioritas dapat
dibagi atas cluster-cluster untuk mendukung perencanaan pembangunan
secara bertahap dalam kurun waktu 20 tahun mendatang.
Penetapan Zona Prioritas
Penetapan zona prioritas pelayanan persampahan ditetapkan berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
- Kepadatan dan penyebaran penduduk
- Karakteristik fisik lingkungan dan sosial ekonomi
- Timbulan dan karakteristik sampah
- Budaya sikap dan perilaku masyarakat
- Jarak dari sumber sampah ke tempat pembuangan
akhir sampah
- Rencana tata ruang dan pengembangan kota
- Sarana pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan
- Biaya yang tersedia dan kesediaan membayar
retribusi
- Peraturan daerah setempat

Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari proses Strategi Pengembangan Sistem Pengelolaan
Sampah adalah:
1. Tersusunnya visi dan misi dalam pengelolaan persampahan
2. Terencana nya kebijakan dan strategis sistem pengelolaan sampah
3. Ditetapkannya kriteria standar playanan minimal
4. Tersusunnya daerah pelayanan dan zona prioritas
5. Terhitungnya proyeksi timbulan sampah
6. Terhitungnya prasarana dan sarana pengelolaan sampah

Langkah-langkah
1. Pahami Visi-Misi, kebijakan dan strategi pengembangan

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 19


Pastikan bahwa tim penyusun memahami visi-misi, kebijakan dan strategi dalam
pengembangan pengelolaan persampahan
2. Susun pengembangan daerah pelayanan sampah lalu tentukan zona prioritas
Identifikasi lokasi TPA/TPST
Identifikasi lokasi TPA/TPST terutama dimaksudkan untuk mendapatkan
informasi mengenai:
- Jarak pengangkutan sampah;
- Jarak TPA terhadap daerah konservasi alam;
- Teknologi pengolahan dan pemrosesan akhir sampah; dan
- Proses pengolahan lindi dari TPA/TPST untuk memenuhi standar baku
mutu efluen yang diperbolehkan
Perkirakan kebutuhan pelayanan penanganan sampah
Perkiraan kebutuhan pelayanan sampah didasarkan pada data sekunder
kondisi kota, distribusi kepadatan penduduk per kelurahan rencana
pengembangan kota, sosial ekonomi, daerah rawan sanitasi dan lain-lain.
Proyeksi kebutuhan pelayanan juga disesuaikan dengan target nasional.
3. Menghitung proyeksi timbulan sampah
4. Menghitung Kebutuhan prasarana dan sarana

PT-05: PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM DAN PELAKSANAAN


KEGIATAN

Tujuan
1. Menyusun Rencana Program Umum pengelolaan sampah
2. Menyusun Tahapan Pelaksanaan Kegiatan (Rencana Jangka Pendek, Jangka
Menengah, Jangka Panjang)
3. Menyusun Rencana Pembiayaan/Investasi Program

Diskripsi
Penyusunan Rencana Program dan Pelaksanaan Kegiatan adalah tahapan ke-lima
penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah. Tahapan ini sangat penting
bagi Kabupaten/kota dalam menetapkan program pengelolaan sampah. Program ini
akan menentukan arah pembangunan sistem pengelolaan sampah kabupaten/kota di
masa mendatang.
1. Rencana Program Umum

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 20


- Kelembagaan
Kebutuhan pengembangan organisasi pengelola sampah secara umum harus
didasarkan pada kompleksitas permasalahan persampahan yang dihadapi oleh
Pemerintah Kota/Kabupaten dengan mengacu pada peraturan perundangan
yang berlaku. Acuan peraturan dan perundangan yang berkaitan dengan
masalah kelembagaan adalah :
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antar Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota.
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Struktur Organisasi
Dinas Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum, Jo Peraturan Pemerintah Nomor 74
tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
Makin kompleks skala pelayanan, diperlukan suatu organisasi yang lebih
memadai dan untuk menjamin terlaksananya pola pelaksanaan dan
pengawasan yang baik, diperlukan pemisahan peran operator dan regulator.
Rencana pengembangan organisasi pengelola sampah meliputi:
Bentuk Institusi
Struktur Organisasi
SDM
Tata laksana kerja
Pola kerja sama antar kota
- Teknis
Tingkat pelayanan;
Timbulan, komposisi dan karakteristik sampah ;
Kinerja prasarana dan sarana (pewadahan, pengumpulan,
pemindahan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir);
Prosedur dan kondisi operasi dan perawatan PSP yang ada
termasuk TPA;
Tingkat pencemaran akibat penanganan sampah yang tidak
memadai;

- Pembiayaan

- Peraturan
Rencana pengembangan Peraturan Daerah perlu mempertimbangkan hal
sebagai berikut:
Jenis Peraturan Daerah terdiri dari Peraturan Daerah Pembentukan
Institusi, Peraturan Daerah Ketentuan Penanganan Persampahan dan
Peraturan Daerah Retribusi.
Substansi materi Peraturan Daerah cukup menyeluruh, tegas dan
dapat diimplementasikan untuk jangka panjang (20 tahun).
Penerapan Peraturan Daerah perlu didahului dengan sosialisasi, uji coba
di kawasan tertentu dan penerapan secara menyeluruh. Selain itu juga
diperlukan kesiapan aparat dari mulai kepolisian, kejaksaan dan
kehakiman untuk penerapan sanksi atas pelanggaran yang terjadi.
Evaluasi Peraturan Daerah dilakukan setiap 5 tahun untuk menguji

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 21


tingkat kelayakannya.
- Peran masyarakat
Rencana Pengembangan peran masyarakat, meliputi :
Penyusunan program penyuluhan/kampanye.
Pelaksanaan penyuluhan/kampanye.
Internalisasi penanganan sampah ke kurikulum sekolah.
Uji coba kegiatan 3R berbasis masyarakat.
Replikasi pengembangan kegiatan 3R berbasis masyarakat untuk
mencapai target yang telah ditentukan selama 20 tahun masa
perencanaan (20%-40%).

- Pengelolaan Swasta
Peran swasta yang ada; dan
Kemitraan dengan swasta.

2. Rencana Pengembangan Pemilahan/Pewadahan


- Penyedian Tempat/pewadahan sampah menjadi 5 jenis (Sampah B3, Sampah
organik, sampah guna ulang, sampah daur ulang, residu)
- Jenis pewadahan seperti:
o Individual: berupa bin atau wadah lain yang memenuhi persayartan
o Komunal: dapat berupa TPS
3. Rencana Pengembangan Pengumpulan
Tingkat Pelayanan Pengumpulan
Tingkat pelayanan pengumpulan dan pemindahan persampahan harus
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
o Tingkat pengumpulan sampah dari wilayah permukiman harus
mempertimbangkan tingkat kepadatan penduduk. Tingkat pelayanan
penduduk diwilayah permukiman dengan kepadatan > 50 orang/ha harus
direncanakan minimal sebesar 60%.
o Tingkat pengumpulan dan pengangkutan sampah dari wilayah
komersial dan konstitusional harus direncanakan dengan tingkat pelayanan
100%.
o Tingkat pelayanan di seluruh wilayah pelayanan harus direncanakan
untuk ditingkatkan menjadi sekitar 90% pada akhir periode masterplan.
Perencanaan Sarana dan Prasarana Pengumpulan, dan Pemindahan
Perencanaan prasarana (fasilitas) pengumpulan diperlukan apabila pelayanan
pengumpulan tidak dapat dilakukan secara langsung dengan truk. Daerah
pelayanan yang metode pengumpulan sampahnya dengan gerobak atau
pengumpulan komunal memerlukan prasarana pemindahan berupa TPS atau
Transfer Dipo untuk mengangkut hasil pengumpulan sampah ke lokasi
pembuangan akhir atau ke tempat fasilitas 3R. Perencanaan prasarana
pengumpulan sampah adalah sebagai berikut:
o Fasilitas Gerobak
o Fasilitas TPS (Tempat Pembuangan Sementara)
o Fasilitas Transfer Dipo (TD)
Pengumpulan sampah dilakukan oleh
o pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan
industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas
lainnya; dan
o pemerintah kabupaten/kota.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 22


Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri,
kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya
dalam melakukan pengumpulan sampah wajib menyediakan:
o TPS;
o TPS 3R; dan/atau
o alat pengumpul untuk sampah terpilah
TPS harus memenuhi kriteria:
o Luas TPS sampai dengan 200 m2;
o Tersedia sarana untuk mengelompokkan sampah menjadi paling
sedikit 5 (lima) jenis sampah;
o Jenis pembangunan penampung sampah sementara bukan
merupakan wadah permanen;
o Luas lokasi dan kapasitas sesuai kebutuhan;
o Lokasinya mudah diakses;
o Tidak mencemari lingkungan;
o Penempatan tidak mengganggu estetika dan lalu lintas; dan
o Memiliki jadwal pengumpulan dan pengangkutan.

4. Rencana Pengembangan Pengangkutan


Pengangkutan sampah dilaksanakan dengan ketentuan:
o Memaksimalkan kapasitas kendaraan angkut yang digunakan;
o Rute pengangkutan sependek mungkin dan dengan hambatan sekecil
mungkin;
o Frekuensi pengangkutan dari TPS dan/atau TPS 3R ke TPA atau TPST
dilakukan sesuai dengan jumlah sampah yang ada; dan
o Ritasi dilakukan dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas
pengangkutan.
Operasional pengangkutan sampah harus memperhatikan:
o Pola pengangkutan;
o Sarana pengangkutan; dan
o Rute pengangkutan.
Pola Pengankutan sampah terdiri atas:
o Pengangkutan sampah dengan sistem pengumpulan langsung dari sumber
menuju TPA dengan syarat sumber sampah lebih besar dari 300 liter/unit
serta topografi daerah pelayanan yang tidak memungkinkan penggunaan
gerobak; dan
o Pengumpulan sampah melalui sistem pemindahan di TPS dan/atau TPS 3R.

Sarana Pengangkut samapah dapat berupa:


o Dump truck/tipper truck;
o Armroll truck;
o Compactor truck;
o Street sweeper vehicle; dan
o Trailer.
Pemilihan sarana pengankut sampah harus mempertimbangkan:
o Umur teknis peralatan;
o Kondisi jalan daerah operasi;
o Jarak tempuh;
o Karakteristik sampah; dan
o Daya dukung fasilitas pemeliharaan.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 23


Rute pengangkutan sampah harus mempertimbangkan:
o Peraturan lalu lintas;
o Kondisi lalu lintas;
o Pekerja, ukuran dan tipe alat angkut;
o Timbulan sampah yang diangkut; dan
o Pola pengangkutan.
Pemerintah kabupaten/kota dalam melakukan pengangkutan sampah dapat:
o menyediakan alat angkut sampah termasuk untuk sampah terpilah yang
tidak mencemari lingkungan; dan
o Melakukan pengangkutan sampah dari TPS dan/atau TPS 3R ke TPA atau
TPST.
Dalam pengangkutan sampah, pemerintah kabupaten/kota dapat menyediakan
stasiun peralihan antara
Proyeksi Volume Sampah
o Perencanaan proyeksi volumen sampah (m 3/hari) yang akan diangkut harus
dibedakan berdasarkan asal dan tujuan pengangkutan sampah
o Asal sampah yang akan diangkut direncanakan berdasarkan sentra-sentra
pengumpulan sampah termasuk lokasi Transfer Dipo dan TPS
o Tujuan angkutan sampah harus dibedakan atas tujuan ke lokasi TPA dan
tujuan ke lokasi fasilitas 3R.
Perencanaan Kebutuhan Armada Angkutan
o Perencanaan kebutuhan armada angkutan dihitung berdasarkan kapasitas
angkut truk dan jumlah ritasi yang dapat dicapai ke tujuan pengangkutan.
o Apabila jarak angkutan ke lokasi tujuan (TPA) tergolong jauh (>30 km) dan
volume yang diangkut lebih besar dari 1000 Ton/hari, maka perencanaan
armada pengangkutan sampah perlu memperhitungkan adanya suatu
transfer station agar efisiensi biaya angkutan dapat ditingkatkan melalui
upaya pemadatan sampah dan mengganti moda angkutan yang lebih besar
kapasitasnya.
5. Rencana Pengembangan Fasilitas Pengolahan Sampah
Teknologi Pengolahan sampah dapat berupa:
- Teknologi pengolahan secara fisik berupa pengurangan ukuran
sampah, pemadatan, pemisahan secara magnetis, masa-jenis, dan optik;
- Teknologi pengolahan secara kimia berupa pembubuhan bahan kimia atau
bahan lain agar memudahkan proses pengolahan selanjutnya;
- Teknologi pengolahan secara biologi berupa pengolahan secara aerobik
dan/atau secara anaerobik seperti proses pengomposan dan/atau
biogasifikasi;
- Teknologi pengolahan secara termal berupa insinerasi, pirolisis dan/atau
gasifikasi; dan
- Pengolahan sampah dapat pula dilakukan dengan menggunakan teknologi
lain sehingga dihasilkan bahan bakar yaitu Refused Derifed Fuel (RDF);

Wajib menyediakan fasilitas pengolahan sampah seperti:


a. TPS 3R
- TPS 3R termasuk skala lingkungan hunian dilaksanakan dengan
metode berbasis masyarakat.
- Keberadaan TPS 3R dapat diintegrasikan dengan sistem pengelolaan
sampah berbasis masyarakat seperti bank sampah.
- Persyaratan TPS 3R harus memenuhi persyaratan teknis seperti:
o Luas TPS 3R, lebih besar dari 200 m2;

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 24


o Tersedia sarana untuk mengelompokkan sampah menjadi paling
sedikit 5 (lima) jenis sampah;
o TPS 3R dilengkapi dengan ruang pemilahan, pengomposan sampah
organik, dan/atau unit penghasil gas bio, gudang, zona penyangga,
dan tidak mengganggu estetika serta lalu lintas.
o Jenis pembangunan penampung sisa pengolahan sampah di TPS 3R
bukan merupakan wadah permanen;
o Penempatan lokasi TPS 3R sedekat mungkin dengan daerah
pelayanan dalam radius tidak lebih dari 1 km;
o Luas lokasi dan kapasitas sesuai kebutuhan;
o Lokasinya mudah diakses;
o Tidak mencemari lingkungan; dan
o Memiliki jadwal pengumpulan dan pengangkutan.
b. SPA (Stasiun Peralihan Antara)
- SPA skala kota harus memenuhi persyaratan teknis seperti:
o Luas SPA lebih besar dari 20.000 m2;
o Produksi timbulan sampah lebih besar dari 500 ton/hari
o Penempatan lokasi SPA dapat di dalam kota;
o Fasilitas SPA skala kota dilengkapi dengan ramp, sarana
pemadatan, sarana alat angkut khusus, dan penampungan lindi;
o Pengolahan lindi dapat dilakukan di SPA atau TPA; dan
o Lokasi penempatan SPA ke permukiman terdekat paling sedikit 1
km.
- SPA skala lingkungan hunian harus memenuhi persyaratan teknis
seperti:
o Luas SPA paling sedikit 600 m2;
o Produksi timbulan sampah 20 30 ton/hari;
o Lokasi penempatan di titik pusat area lingkungan hunian;
o Fasilitas SPA skala kota dilengkapi dengan ramp dan sarana
pemadatan dan penampungan lindi; dan
o Pengolahan lindi dapat dilakukan di SPA atau TPA.
c. TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu)
Persyaratan TPST harus memenuhi persyaratan teknis seperti:
- Luas TPST, lebih besar dari 20.000 m2;
- Penempatan lokasi TPST dapat di dalam kota dan atau di TPA;
- Jarak TPST ke permukiman terdekat paling sedikit 500 m;
- Pengolahan sampah di TPST dapat menggunakan teknologi
- Fasilitas TPST dilengkapi dengan ruang pemilah, instalasi pengolahan
sampah, pengendalian pencemaran lingkungan, penanganan residu,
dan fasilitas penunjang serta zona penyangga.

6. Rencana Pengembangan Tempat Pemrosesan Akhir


Pemrosesan akhir sampah dilakukan dengan menggunakan:
o Metode lahan urug terkendali;
o Metode lahan urug saniter; dan/atau
o Teknologi ramah lingkungan.
Kegiatan pemorosesan akhir sampah yang di TPA, meliputi:
o Penimbunan/pemadatan;
o Penutupan tanah;
o Pengolahan lindi; dan
o Penanganan gas.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 25


Pemrosesan akhir sampah di TPA harus memperhatikan :
o Sampah yang boleh masuk ke TPA adalah sampah rumah tangga,
sampah sejenis sampah rumah tangga, dan residu;
o Limbah yang dilarang diurug di TPA meliputi:
a. Limbah cair yang berasal dari kegiatan rumah tangga;
b. Limbah yang berkatagori bahan berbahaya dan beracun sesuai
peraturan perundang-undangan; dan
c. Limbah medis dari pelayanan kesehatan.
o Residu sebagaimana dimaksud pada huruf a tidak berkategori bahan
berbahaya dan beracun atau mengandung limbah bahan berbahaya dan
beracun;
o Dalam hal terdapat sampah yang berkategori bahan berbahaya dan
beracun atau mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun di TPA
harus disimpan di tempat penyimpanan sementara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangan mengenai pengelolaan limbah bahan
berbahaya dan beracun; dan
o Dilarang melakukan kegiatan peternakan di TPA.
Persyaratan TPA meliputi penyediaan dan pengoperasian, harus
memperhatikan pemilihan lokasi, kondisi fisik, kemudahan operasi,
aspek lingkungan, dan sosial.
Pemilihan lokasi TPA paling sedikit memenuhi kriteria aspek:
o Geologi, yaitu tidak berada di daerah sesar atau patahan yang masih aktif,
tidak berada di zona bahaya geologi misalnya daerah gunung berapi, tidak
berada di daerah karst, tidak berada di daerah berlahan gambut, dan
dianjurkan berada di daerah lapisan tanah kedap air atau lempung;
o Hidrogeologi, antara lain berupa kondisi muka air tanah yang tidak kurang
dari tiga meter, kondisi kelulusan tanah tidak lebih besar dari 10-6
cm/detik, dan jarak terhadap sumber air minum lebih besar dari 100 m
(seratus meter) di hilir aliran.
o Kemiringan zona, yaitu berada pada kemiringan kurang dari 20%.
o Jarak dari lapangan terbang, yaitu berjarak lebih dari 3000 m (tiga ribu
meter) untuk lapangan terbang yang didarati pesawat turbo jet dan
berjarak lebih dari 1500 m (seribu lima ratus meter) untuk lapangan
terbang yang didarati pesawat jenis lain;
o Jarak dari permukiman, yaitu lebih dari 1 km (satu kilometer) dengan
mempertimbangkan pencemaran lindi, kebauan, penyebaran vektor
penyakit, dan aspek sosial;
o Tidak berada di kawasan lindung/cagar alam; dan/atau
o Bukan merupakan daerah banjir periode ulang 25 (dua puluh lima) tahun.
Dalam hal lokasi TPA lama yang sudah beroperasi tidak memenuhi
persyaratan, TPA tersebut harus dioperasikan dengan metode lahan urug
terkendali atau lahan urug saniter meliputi:
o Melakukan penutupan timbunan sampah dengan tanah penutup secara
periodik;
o mengolah lindi yang dihasilkan sehingga efluen yang keluar sesuai baku
mutu;
o mengelola gas bio yang dihasilkan sesuai persyaratan teknis yang
berlaku; dan
o membangun area tanaman penyangga di sekeliling lokasi TPA tersebut.
Penentuan luas lahan dan kapasitas TPA harus mempertimbangkan
timbulan sampah, tingkat pelayanan, dan kegiatan yang akan dilakukan di
dalam TPA

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 26


Umur teknis TPA paling sedikit 10 (sepuluh) tahun.
Prasarana dan sarana TPA meliputi:
o Fasilitas dasar;
o Fasilitas perlindungan lingkungan;
o Fasilitas operasional; dan
o Fasilitas penunjang.
Fasilitas dasar terdiri atas:
o Jalan masuk;
o Jalan operasional;
o Listrik atau genset;
o Drainase;
o Air bersih;
o Pagar; dan
o Kantor.
Fasilitas perlindungan lingkungan terdiri atas:
o Alat berat;
o Truk pengangkut tanah; dan
o Tanah.
Fasilitas penunjang terdiri atas:
o Bengkel;
o Garasi;
o Tempat pencucian alat angkut dan alat berat;
o Alat pertolongan pertama pada kecelakaan;
o Jembatan timbang;
o Laboratorium; dan
o Tempat parkir.
TPA dapat dilengkapi dengan fasilitas pendauran ulang, pengomposan,
dan atau gas bio.
Perencanaan Volume Sampah Ke TPA
o Perencanaan volume sampah dihitung berdasarkan volume sampah
terkumpul dikurangi volume sampah yang diolah dalam satuan m 3/hari.
o Volume sampah yang dibawa ke TPA harus diketahui densitasnya sehingga
volume sampah tersebut dapat dikonversi dalam satuan Ton/hari.
o Volume sampah yang dibawa ke TPA dalam 1 tahun dihitung berdasarkan
hari kerja TPA yaitu 300 hari pertahun.
Perencanaan Kebutuhan Lahan Ke TPA
o Perencanaan kebutuhan lahan per 1 lokasi TPA harus dihitung berdasarkan
umur rencana minimum 10 tahun.
o Perencanaan kebutuhan luas lahan TPA efektif (dalam m 2 atau Ha)dihitung
berdasarkan dengan proyeksi volume sampah padat ditambah volume
tanah penutup dibagi desain tinggi sel harian dan jumlah lapisan sel harian
yang membentuk bukit akhir.
o Perencanaan ratio volume sampah terpadatkan di TPA terhadap volume
tanah penutup terpadatkan maksimum adalah 6 : 1 (enam bagian sampah
terhadap 1 bagian tanah penutup)
o Perencanaan tinggi timbunan sampah di TPA dihitung berdasarkan jumlah
lapisan sel (lift) yang membentuk bukit akhir. Jumlah lapisan sel maksimal
adalah 6 lapis untuk tinggi lapisan sel harian maksimum dan
kemiringanlereng timbunan sampah minimum 3 H : 1 V

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 27


o Perencanaan tinggi timbunan sel harian harus mempertimbangkan faktor
pemadatan sampah dan maksimum adalah 3.0 m
o Perencanaan tinggi bukit akhir harus dihitung berdasarkan jumlah lapisan
sel harian dikali tinggi timbunan sel harian dikali faktor dekomposisi
sampah.
o Luas lahan TPA yang dibutuhkan adalah luas lahan TPA efektif (dumping
area) ditambah luas untuk kebutuhan prasarana TPA dan luas untuk buffer
zone.
o Perencanaan luas buffer zone minimum 50% dari luas lahan TPA efektif.
Perencanaan Pemilihan Lokasi Ke TPA
o Pemilihan lokasi TPA yang layak teknis harus berpedoman pada tata cara
pemilihan lokasi tempat pembuangan akhir sampah SNI-03-3241-1994
o Calon lokasi TPA yang layak teknis berdasarkan kriteria penyisih sesuai tata
cara pemilihan lokasi tempat pembuangan akhir sampah harus dilengkapi
dengan studi AMDAL untuk mengetahui kelayakan sosial dan kelayakan
lingkungan calon lokasi TPA
o Calon lokasi TPA yang akan ditetapkan sebagi lokasi TPA dalam rencana
induk, harus memenuhi kelayakan teknis dan kelaykan sosial dan kelayakan
lingkungan serta kelayakan ekonomis.
o Apabila lokasi TPA yang layak tidak tersedia dalam wilayah administratif
kota tersebut, maka kerja sama regional harus dilakukan.

7. Rencana Keterpaduan dengan Prasarana dan Sarana Air Minum, Air Limbah dan
Drainase
Pertimbangan untuk melakukan keterpaduan dengan air minum, air limbah
dan drainase adalah:
Perlunya perlindungan air baku air minum dari pencemaran sampah ke badan
air terutama sungai serta pengaliran leachate disekitar TPA ke badan air atau
saluran drainase.
Perlunya meminimalkan dampak negatif dan dampak sosial yang timbul akibat
keberadaan TPA, sehingga penentuan lokasi TPA hendaknya juga
memperhitungkan lokasi IPAL atau IPLT.

8. Rencana Pembiayaan/Investasi Program


Rencana pembiayaan untuk pengembangan sistem pengelolaan persampahan
jangka panjang, meliputi :
Biaya Investasi, perhitungannya didasarkan pada kebutuhan pengadaan lahan
(SPA, FPSA, TPA, TPST dan lain-lain) dan PSP (pewadahan, pengumpulan,
pemindahan, 3R, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah).
Biaya pengoperasian dan pemeliharaan, perhitungannya didasarkan pada
kebutuhan alternative pengoperasian seluruh kegiatan penanganan sampah
dari sumber sampah sampai ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah untuk
jangka panjang.
Indikasi retribusi sampah, perhitungannya didasarkan pada indikasi biaya
satuan penanganan sampah (Rp/m3 atau Rp/kapita/tahun dan lain-lain).
Potensi sumber dana dari pihak swasta

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 28


Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari proses Penyusunan Rencana Program Dan Pelaksanaan
Kegiatan adalah:
1. Tersusunya Rencana program umum pengelolaan sampah
2. Tersusunnya tahapan pelaksanaan kegiatan (Rencana Jangka Pendek, Jangka
Menengah, Jangka Panjang)
3. Tersusunnya rencana pembiayaan/Investasi Program
4. Tersedianya program-program dan kegiatan dalam pengembangan sistem
pengelolaan sampah

Langkah-langkah
1. Menentukan program-program jangka pendek, jangka menengah dan jangka
panjang
Rencana program jangka pendek (1-2 tahun) merupakan tahap pelaksanaan
yang bersifat mendesak dan dapat dijadikan pondasi untuk pentahapan
selanjutnya, sebagai contoh :
- Menyiapkan kebijakan pengelolaan sampah Kota/Kabupaten yang mengacu
pada kebijakan Nasional, Propinsi dan NSPK yang berlaku.
- Peningkatan kelembagaan terutama SDM sebagai dasar untuk peningkatan
kinerja operasional penanganan sampah.
- Penyiapan dan atau penyempurnaan Peraturan Daerah yang sesuai
dengan NSPK dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008.
- Perencanaan detail penanganan persampahan (penutupan TPA dengan
penimbunan terbuka / rehabilitasi TPA dan kegiatan 3R).
- Penyusunan AMDAL atau UKL/UPL atau kajian lingkungan sesuai kebutuhan.
- Kampanye dan edukasi sebagai dasar untuk penyiapan masyarakat
dalam partisipasi kegiatan 3R.
- Penyediaan prasarana dan sarana untuk mengatasi masalah persampahan
yang bersifat mendesak (pemilihan sampah, peningkatan TPA dan lain-lain).
- Penyiapan peningkatan tarif (iuran dan retribusi).

Rencana program jangka menengah (5 tahun) merupakan tahap pelaksanaan


5(lima) tahun yang didasarkan pada hasil kajian sebelumnya dengan
mempertimbangkan tahap mendesak yang telah dilakukan, sebagai contoh:
- Melanjutkan peningkatan kelembagaan (pemisahan operator dan
regulator) dan pelatihan SDM yang menerus disesuaikan dengan kebijakan
Nasional, Propinsi dan NSPK terbaru.
- Pelaksanaan penegakan peraturan yang didahului sosialisasi dan uji coba
selama 1 tahun.
- Peningkatan cakupan pelayanan sesuai perencanaan.
- Peningkatan penyediaan prasarana dan sarana persampahan sesuai
dengan perencanaan.
- Pelaksanaan revitalisasi TPA sesuai dengan perencanaan.
- Pelaksanaan pemantauan kualitas lingkungan TPA.
- Pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan kegiatan
3R di beberapa kawasan.
- Kampanye dan edukasi yang menerus.
- Pelaksanaan peningkatan retribusi baik melalui perbaikan tarif maupun
mekanisme penarikannya.
Merintis kerjasama dengan pihak swasta.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 29


Rencana program jangka panjang sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun
merupakan tahap pelaksanaan yang bersifat menyeluruh dengan
mempertimbangkan hasil pencapaian tahap sebelumnya, sebagai contoh :
- Peningkatan kelembagaan (peran operator dan regulator) dan
pelatihan SDM yang menerus disesuaikan dengan kebijakan Nasional,
Propinsi dan NSPK terbaru.
- Review atau penyempurnaan Peraturan Daerah yang sesuai dengan
NSPK dan kondisi terkini yang berkembang di daerah.
- Peningkatan cakupan pelayanan sesuai dengan target perencanaan.
- Peningkatan prasarana dan sarana sesuai cakupan pelayanan serta
penggantian peralatan yang sudah habis umurnya teknisnya.
- Pelaksanaan peningkatan kinerja TPA sesuai dengan kebutuhan.
- Pemilihan lokasi TPA baru sebagai persiapan penutupan TPA lama yang
sudah penuh (sesuai dengan kebutuhan) disertai studi kelayakan dan AMDAL
atau UKL/UPL.
- Penutupan TPA lama (jika diperlukan) dan pemantauan kualitas
- TPA yang telah ditutup selama 20 tahun secara berkala.
- Pembangunan TPA baru sesuai NPSK.
- Pembangunan TPST skala kota (sesuai kebutuhan).
- Replikasi 3R sesuai dengan target pengurangan sampah.
- Kampanye dan edukasi sebagai dasaruntuk penyiapan masyarakat
dalam partisipasi kegiatan 3R.
Meningkatkan pola kerjasama dengan pihak swasta dan CDM.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 30


PT-06: FINALISASI RENCANA INDUK

Tujuan
1. Tersusunnya dokumen rencana induk
2. Adanya kesepakatan di antara pemangku kepentingan terhadap dokumen rencana
induk
3. Disahkan Rencana Induk oleh Kepala Daerah

Deskripsi

Finalisasi Rencana Induk merupakan Tahapan terakhir dari serangkaian proses


penyusunan RI. Hasil akhir dari Tahapan ini adalah disahkannya dokumen rencana
induk oleh Bupati/ Walikota.

Bagian terpenting Tahapan ini adalah membangun pemahaman dan persepsi yang sama
pada pihak yang terkait tentang dokumen rencana induk yang disusun, terutama
terkait dengan program dan kegiatan yang dirumuskan. Selain itu, Tahapan ini juga
mensyaratkan adanya kesamaan pemahaman dan persepsi terhadap strategi
pengembangan sanitasi yang disusun (termasuk program dan kegiatannya) dari
Pemerintah Provinsi dan Pusat. Komitmen pemerintah Kabupaten/ Kota yang
dinyatakan oleh besaran anggaran yang dialokasikan di dalam APBD menjadi
pertimbangan bantuan keuangan dari Provinsi, Pusat atau donor lainnya.

Output

Output yang diharapkan dari Finalisasi Rencana Induk ini adalah :

1. Tersusunnya Draft Rencana Induk Kabupaten/Kota


2. Pengesahan Rencana Induk Kabupaten/Kota oleh Kepala Daerah yaitu Bupati/
Walikota.

Langkah- Langkah Pelaksanaan

1. Kompilasi dan periksa Draft Rencana Induk


a. Kumpulkan semua output, baik berupa draf bab-bab Rencana Induk ataupun
hasil-hasil lain, dari setiap Tahapan dalam proses penyusunan rencana induk.
b. Kumpulkan bahan tulisan dan mulai penulisan atau penyuntingan. Para penulis
Rencana Induk tidak berangkat dari nol, karena pada setiap Tahapan
sebenarnya Pokja sudah bisa menulis draf bab-bab. Karena itu, pada tahap ini
para penulis lebih banyak menyunting dan menyelaraskan bahasanya saja. Yang
perlu diperhatikan adalah:
1) Kesesuaian draf tersebut dengan penjelasan rinci outline Rencana Induk
2) Konsistensi serta data/informasi minimum yang perlu dituliskan pada
setiap bab berdasarkan Template Rencana Induk

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 31


3) Pokja menggunakan bahasa yang jelas dan ringkas

c. Jika penulisan selesai, sebelum menginformasikan draft awal Rencana Induk ke


pihak-pihak lain, pastikan seluruh anggota Pokja membaca draf awal ini dan
menyepakatinya. Penulis perlu memaparkan hasil kerjanya dalam sebuah rapat
internal Pokja.

2. Susun Ringkasan Rencana Induk


a. Pokja perlu menulis versi ringkas Rencana Induk untuk kepentingan advokasi
dan komunikasi, khususnya bagi kelompok sasaran atau pemangku kepentingan
eksternal. Karena itu, pastikan bahasa yang dipakai adalah bahasa yang
populer agar lebih mudah dan cepat dipahami. Berikut adalah beberapa
kegiatan yang disarankan:
1) Sepakati informasi yang perlu dituangkan dalam ringkasan Rencana Induk.
Informasi minimal yang harus tersedia adalah (i) arah pengembangan
sanitasi Kabupaten/Kota (ii) strategi untuk mencapainya (iii) ringkasan
program dan kegiatan utama.
2) Tulis dengan bahasa populer yang mudah dipahami khalayak awam,
rancang tata letak (layout), kurangi teks, perbanyak diagram, peta, dan
tabel.

3. Konsultasikan draft Rencana Induk dengan seluruh Ketua dan Wakil Ketua Bidang
a. Susun agenda pertemuan dan tentukan penanggung jawab (biasanya tim
penulis) presentasi.
b. Siapkan dokumen yng diperlukan: (i) draft Rencana Induk (ii) Ringkasan
Rencana Induk, dan (iii) slide presentasi. Pastikan seluruh Ketua dan Wakil
Ketua Bidang menerima draf dan ringkasan Rencana Induk satu pekan sebelum
pelaksanaan Rapat Konsultasi.
c. Paparkan bahan presentasi yang sudah disiapkan dalam Rapat Konsultasi.
Pastikan bahan tersebut diungkapkan dengan jelas, ringkas, dan hanya
menyangkut substansi yang penting saja. Catat masukan dengan seksama.

4. Lakukan perbaikan terhadap draf Rencana Induk berdasarkan masukan dari


seluruh Ketua dan Wakil Ketua Bidang
Berdasarkan masukan tersebut, perbaiki draf Rencana Induk. Perbaiki pula
ringkasan Rencana Induk jika memang diperlukan. Sesudahnya, cetak dan
perbanyak dokumen-dokumen tersebut dan bagikan kembali kepada seluruh
Bidang Pokja.

5. Adakan Konsultasi Publik Rencana Induk


a. Persiapkan acara Konsultasi Publik dengan baik. Tentukan tanggal
penyelenggaraan acara, bentuk kepanitiaan, dan sepakati susunan acara.
b. Siapkan materi yang akan dibagikan pada acara Konsultasi Publik, yang
diantaranya ringkasan Rencana Induk Kabupaten/Kota (untuk semua
undangan), beberapa Strategi Pengembangan Pengelolaan Air Limbah
Kabupaten/Kota sebagai contoh, dan poster-poster yang terkait dengan
sanitasi dan penyusunan Rencana Induk Kabupaten/Kota.
c. Sepakati daftar pemangku kepentingan dan narasumber yang diundang dalam
Konsultasi Publik. Yang diharapkan hadir setidak-tidaknya: (i) anggota DPRD (ii)
para Kepala SKPD (iii) Camat (iv) Kepala instansi/lembaga daerah (v) Perguruan

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 32


Tinggi (vi) LSM/KSM terkait sanitasi (vii) Badan usaha/perorangan yang terkait
sanitasi , dan media massa untuk kepentingan komunikasi dan pemberitaan.

Materi Konsultasi Publik ada dua: (i) Pemaparan Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota
(dan proses penyusunannya) oleh Ketua Pokja Kabupaten/Kota dan (ii) Tanya
jawab dengan para pemangku kepentingan untuk menjaring masukan. Karena itu:

a. Pastikan Ringkasan Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota dibagikan kepada semua


undangan
b. Pastikan Pokja mencatat semua masukan dari para peserta selama acara
berlangsung

6. Finalisasi Rencana Induk


a. Perbaiki draf Rencana Induk berdasarkan masukan dari berbagai konsultasi
yang telah dilakukan
b. Rapikan tata letak atau lay out draf Rencana Induk
7. Lakukan advokasi ke Kepala Daerah untuk mendapat pengesahan atas Rencana
Induk
a. Tuliskan Kata Pengantar dari Bupati/Walikota. Sampaikan kepada Sekretaris
Bupati/Walikota untuk mendapatkan koreksi dan persetujuan.

Finalisasi draf Rencana Induk dan selanjutnya Ketua Pokja dan seluruh Ketua Bidang
menghadap Bupati/Walikota untuk mendapatkan tanda tangan sebagai bentuk
pengesahan dokumen Rencana Induk.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 33


PROSEDUR TEKNIS
PENYUSUNAN RENCANA INDUK
SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH

BAGIAN B:
PENJELASAN RINCI OUTLINE RENCANA INDUK
SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 34


RENCANA INDUK
SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH
LOGO
KABUPATEN/KOTA KABUPATEN/KOTA ..

PROVINSI

(bagian ini dapat diisi fot atau gambar)

Disiapkan oleh:

BAPPEDA KABUPATEN/KOTA

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah


35
KATA PENGANTAR

Merupakan penjelasan ringkas atas isi, makna, dan manfaat


penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah.
Bagian ini juga memuat harapan dan arahan dari Bupati/Walikota
sebagai pemegang kebijakan tentang pembangunan sistem
pengelolaan sampah dalam kodisi darurat, jangka menengah dan
panjang.
Perlu disebutkan juga komitmen untuk melakukan pemutakhiran
informasi dan data secara reguler. Kata Pengantar ditandatangani
Bupati/Walikota.

.., (tanggal)

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah


36
Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah
37
RINGKASAN EKSEKUTIF

Ringkasan Eksekutif disusun untuk kepentingan advokasi dan


komunikasi khususnya bagi kelompok sasaran atau pemangku
kepentingan eksternal.
Informasi minimum yang harus tersedia adalah (i) Konsep dan kriteria
penyusunan rencana induk, (ii) Deskripsi daerah perencanaan, (iii)
Strategi pengembangan sistem pengelolaan sampah. (iv) Rencana
Program dan tahapan pelaksanaan kegiatan, dan (v) Kesimpulan dan
rekomendasi
Tulis dengan bahasa populer dan lengkapi dengan peta, dan tabel.
Ringkasan Eksekutif ini disajikan tidak lebih dari 10 (sepuluh) lembar
kertas A4.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah


38
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
RINGKASAN EKSEKUTIF
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR ISTILAH DAN DEFINISI

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
1.3. RUANG LINGKUP RENCANA INDUK
1.3.1. Ruang
Lingkup Wilayah
1.3.2. Ruang
Lingkup Kegiatan
1.4. JENIS RENCANA INDUK
1.5. KEDUDUKAN RENCANA INDUK
1.6. LANDASAN HUKUM
1.7. STANDAR TEKNIS DAN KELUARAN
1.8. SISTEMATIKA PELAPORAN

BAB 2 KONSEP DAN KRITERIA PENYUSUNAN RENCANA INDUK


2.1. PERIODE PERENCANAAN
2.2. EVALUASI RENCANA INDUK
2.3. KRITERIA PERENCANAAN
2.3.1. Kriteria Umum
2.3.2. Kriteria Teknis
2.3.3. Kriteria Standar Pelayanan Minimal
2.4. SURVEI PENYUSUNAN RENCANA INDUK
2.4.1. Survei dan Pengkajian Wilayah Studi dan Wilayah Pelayanan
2.4.2. Survei dan Pengkajian Sumber Timbulan, Komposisi dan
Karakteristik Sampah
2.4.3. Survei dan Pengkajian Demografi dan Ketatakotaan
2.4.4. Survei dan Pengkajian Biaya, Sumber Pendanaan dan Keuangan
2.5. KETERPADUAN PERENCANAAN DENGAN SEKTOR LAIN
2.5.1. Air Minum
2.5.2. Drainase
2.5.3. Air Limbah
2.5.4. Jalan dan Sarana Transportasi
2.6. KONTRIBUSI SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DALAM PROGRAM PERUBAHAN IKLIM

BAB 3 DESKRIPSI DAERAH PERNCANAAN


3.1. DAERAH RENCANA
3.2. KONDISI FISIK WILAYAH
3.2.1. Batas Administrasi
3.2.2. Letak Geografi

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah


39
3.2.3. Hidrologi
3.2.4. Topografi
3.2.5. Klimatografi
3.2.6. Fisiografi
3.2.7. Geologi
3.2.8. Hidrogeologi
3.2.9. Hidrooceanografi
3.3. KONDISI SOSIAL EKONOMI, BUDAYA & KESEHATAN MASYARAKAT
3.3.1. Kependudukan
3.3.2. Sosial Ekonomi, Budaya
3.3.3. Kesehatan Masyarakat
3.4. KONDISI EKSISTIG SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH
3.4.1. Sumber Sampah
3.4.2. Timbulan, Komposisi Dan Karakteristik Sampah
3.4.3. Sistem Pengelolaan Sampah
3.4.3.1. Regulasi
3.4.3.2. Kelembagaan
3.4.3.3. Keuangan
3.4.3.4. Peran Masyarakat
3.4.3.5. Teknis Operasional
3.4.3.5.1. Pemilahan/pewadahan
3.4.3.5.2. Pengumpulan
3.4.3.5.3. Pengangkutan
3.4.3.5.4. Pengolahan
3.4.3.5.5. Pemrosesan akhir
3.5. PERMASALAHAN SISTEM YANG DIHADAPI
3.6. ANALISIS PROFIL PELAYANAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH
3.7. KEBIJAKAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH YANG ADA
3.3.1 Pembangunan dan Tata Ruang
3.3.1.1. Tujuan Penataan Ruang
3.3.1.2. Strategi Penataan Ruang
3.3.1.3. Arah Pengembangan Tata Ruang
3.3.2 Sistem Pengelolaan Sampah
3.3.2.1. Pemilahan/Pewadahan
3.3.2.2. Pengumpulan
3.3.2.3. Pengangkutan
3.3.2.4. Pengolahan
3.3.2.5. Pemrosesan Akhir

BAB 4 STARTEGI PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH


4.1. KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH
4.1.1 Visi dan Misi
4.1.2 Kebijakan
4.2. TUJUAN DAN TARGET PENANGANAN
4.3. PENGEMBANGAN DAERAH PELAYANAN
4.4. PEMBAGIAN ZONA PELAYANAN
4.5. PENETAPAN ZONA PRIORITAS
4.6. PERHITUNGAN KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA PENGELOLAAN SAMPAH
4.6.1. Perhitungan Proyeksi Timbulan Sampah
4.6.2. Perhitungan Teknis Operasional
4.6.2.1. Pemilahan/Pewadahan
4.6.2.2. Pengumpulan
4.6.2.3. Pengangkutan
Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah
40
4.6.2.4. Pengolahan
4.6.2.5. Pemrosesan Akhir
4.7. STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH
4.7.1. Strategi Pengembangan Prasarana Dan Sarana Persampahan
4.7.2. Strategi Pengembangan Kapasitas Kelembagaan
4.7.3. Strategi Pengembangan Peran Masyarakat
4.7.4. Strategi Pengembangan Peraturan
4.7.5. Strategi Pengembangan Ekonomi Dan Pembiayaan

BAB 5 RENCANA PROGRAM DAN TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN


5.1. RENCANA PROGRAM
5.1.1. Rencana Pengembangan Teknis (disertai Opsi Teknologinya)
5.1.1.1. Pemilahan/Pewadahan
5.1.1.2. Pengumpulan
5.1.1.3. Pengangkutan
5.1.1.4. Pengolahan
5.1.1.5. Pemrosesan Akhir
5.1.2. Rencana Pengembangan Pengelolaan Swasta
5.1.3. Rencana Keterpaduan Dengan Prasarana dan Sarana Air Minum,
Air Limbah dan Drainase
5.2. RENCANA TAHAPAN PELAKSANAAN
5.2.1. Rencana Jangka Pendek
5.2.2. Rencana Jangka Menegah
5.2.3. Rencana Jangka Panjang
5.3. RENCANA PEMBIAYAAN DAN INDIKASI INVESTASI PROGRAM
5.3.1. Biaya Investasi dan O/P Jangka Pendek
5.3.2. Biaya Investasi dan O/P Jangka Menengah
5.3.3. Biaya Investasi dan O/P Jangka Panjang
5.4. RENCANA PENGATURAN DAN KELEMBAGAAN
5.5. RENCANA EDUKASI DAN PERAN MASYARAKAT
5.6. RENCANA SOSIALISASI DOKUMEN RENCANA INDUK
5.7. TAHAPAN LEGALISASI RENCANA INDUK

BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


6.1. Kesimpulan
6.2. Rekomendasi

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah


41
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Data wilayah administrasi


Tabel 3.2. Data suhu udara, kelembaban udara, curah hujan
Tabel 3.3. Data Jenis tanah
Tabel 3.4. Pertumbuhan Penduduk
Tabel 3.5. Tingkat Pendidikan Masyarakat
Tabel 3.6. Penghasilan Masyarakat
Tabel 3.7. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Tabel 3.8. Jenis Penyakit
Tabel 3.9. Sarana Pelayanan Kesehatan
Tabel 3.10. Volume sampah
Tabel 3.11. Komposisi dan karakteristik sampah
Tabel 3.12. Jumalah SDM di Dinas Kebersihan
Tabel 3.13. Rekapitulasi hasil penarikan retribusi pengelolaan sampah
Tabel 3.14. Kawasan lingkungan permukiman dengan prinsip 3R
Tabel 3.15. Jumlah sarana pengumpul sampah
Tabel 3.16. Tipe pemindahan (Transfer)
Tabel 3.17. Jumlah TPS non pasar (pemukiman)
Tabel 3.18. Jumlah TPS pasar
Tabel 3.19. Jumlah armada angkut sampah
Tabel 3.20. Cakupan wilayah administrasi yang dilayani armada angkut sampah
Tabel 3.21. Parameter dan volume Stasiun Peralihan Antara Dan Fasilitas Pengolahan
Antara (Intermediate Treatment Facility)
Tabel 3.22. Volume dan jumlah kendaraan sampah yang masuk Stasiun Peralihan
Antara Dan Fasilitas Pengolahan Antara (Intermediate Treatment Facility)
Tabel 3.23. Jumlah sarana dan prasarana SPA
Tabel 3.24. Potensi retribusi persampahan & daur ulang
Tabel 4.1. Proyeksi Timbulan sampah
Tabel 5.1. Rencana Program
Tabel 5.2. Rencana Biaya

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah


42
Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah
43
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Peta wilayah administrasi


Gambar 3.2. Peta Hidrologi
Gambar 3.3. Peta Topografi
Gambar 3.4. Peta Klimatografi
Gambar 3.5. Peta Fisiografi
Gambar 3.6. Peta Geologi
Gambar 3.7. Skema Sistem Pengelolaan Sampah
Gambar 3.8. Bagan struktur organisasi Dinas Kebersihan
Gambar 3.9. Bagan struktur organisasi BPLHD
Gambar 3.10. Bagan struktur organisasi Dinas Pertamanan dan Pemakaman
Gambar 3.11. Bagan struktur organisasi PD Pasar Jaya
Gambar 3.12. Pola penanganan sampah eksisting
Gambar 3.13. Foto Pewadahan
Gambar 3.14. Skematis pola pengumpulan individual langsung
Gambar 3.15. Skematis pola pengumpulan individual tidak langsung
Gambar 3.16. Skematis pola pengumpulan komunal langsung
Gambar 3.17. Skematis pola pengumpulan komunal tidak langsung
Gambar 3.18. TPS indoor
Gambar 3.19. Pola Tempat Penampungan Sementara (TPS) Indoor
Gambar 3.20. Transito Dipo
Gambar 3.21. Armada Angkut Sampah
Gambar 3.22. Bangunan Stasiun Peralihan Antara Dan Fasilitas Pengolahan Antara
(Intermediate Treatment Facility)
Gambar 3.23. Siklus perjalanan sampah yang terjadi di SPA
Gambar 3.24. Mekanisme pengelolaan sampah di TPST
Gambar 3.25. Peta Tata Ruang Kota
Gambar 3.26. Pusat kegiatan yang cenderung berkembang
Gambar 3.27. Konsep pengembangan tata ruang

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah


44
DAFTAR ISTILAH

Daftar Istilah dapat mengacu pada Pengertian di Peraturan Menteri No.


Tahun . Tentang Sistem Pengelolaan Sampah.

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah


45
BAB 1 PENDAHULUAN
Umum
Bab ini memberikan penjelasan mengenai latar belakang, maksud dan tujuan dari
penyusunan rencana induk kota besar/metropolitan, ruang lingkup, jenis rencana
induk, landasan hukum, serta kedudukan rencana induk yang digunakan dalam
penyusuna rencana induk

Hapus seluruh teks dan box ini setelah Bab I selesai disusun

1.1.LATAR BELAKANG
Menjelaskan tentang hal-hal yang mendasari perlunya disusun rencana induk,
antara lain:
- Peraturan/landasan hukum Sistem Pengelolaan Sampah.
- Jumlah, kepadatan dan penyebaran penduduk.
- Permasalahan dan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh sampah.
- Urgensi Sistem Pengelolaan Sampah.

Hapus teks ini setelah sub-bab 1.1 selesai disusun

1.2.MAKSUD DAN TUJUAN


Beri Penjelasan mengenai maksud dan tujuan disusunya rencana induk:
- Maksud: Tersedianya rencana induk persampahan yang akan digunakan di tiap
Kabupaten/Kota
- Tujuan: Agar setiap kabupaten/kota memiliki rencana induk persampahan
yang meiliki kualitas perencanaan yang memenuhi standar nasional

Hapus teks ini setelah sub-bab 1.2 selesai disusun

1.3.RUANG LINGKUP
1.3.1. Ruang
Lingkup Wilayah
Menjelaskan tentang ruang lingkup/cakupan wilayah studi/kajian dan
wilayah perencanaan

Hapus teks ini setelah sub-bab 1.3.1 selesai disusun

1.3.2. Ruang
Lingkup Kegiatan
Menjelaskan tentang kegiatan pengelolaan sampah yang akan dilaksanakan,
misalnya pemilahan/pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan
dan pemrosesan akhir

Hapus teks ini setelah sub-bab 1.3.2 selesai disusun

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 46


1.4.JENIS RENCANA INDUK
Menjelaskan tentang rencana induk yang disusun, yaitu:
- Rencana induk Pengelolaan Sampah di dalam satu wilayah administrasi
kabupaten atau kota
- Rencana induk Pengelolaan Sampah lintas kabupaten dan/atau kota
- Rencana induk Pengelolaan Sampah lintas propinsi

Hapus teks ini setelah sub-bab 1.4 selesai disusun

1.5.KEDUDUKAN RENCANA INDUK


Dijelaskan posisi rencana induk berada dibawah kebijakan spasial di masing-
masing daerah baik pada skala Propinsi maupun Kabupaten/Kota
Dijelaskan hubungan rencana induk sistem pengelolaan sampah dengan rencana
induk lainnya.

Hapus teks ini setelah sub-bab 1.5 selesai disusun

1.6.LANDASAN HUKUM
Menjelaskan mengenai peraturan perundangan yang mendasari serta dijadikan
acuandalam penyusunan rencana induk sistem pengelolaan sampah, dari tingkat
nasional sampai tingkat kota besar/metropolitan
Menjelaskan mengenai kesepakatan tentang posisi, fungsi, maupun peran
rencana induk sistem pengelolaan sampah diatara dokumen perencanaan lain
yang telah ada, yaitu: RPJPD, RPJMD, Renstra, dan RTRW.

Hapus teks ini setelah sub-bab 1.6 selesai disusun

1.7.STANDAR TEKNIS DAN KELUARAN


Berikan penjelasan standar teknis apa saja yang digunakan dalam menyusun
rencan induk dan keluaran dari rencana induk ini

Hapus teks ini setelah sub-bab 1.7 selesai disusun

1.8.SISTEMATIKA PENULISAN
Menjelaskan mengenai isi jenis dokumen laporan, isi masing-masing jenis
laporan.
Menjelaskan mengenai format laporan, gambar, tabel, lampiran, dan pustaka

Hapus teks ini setelah sub-bab 1.8 selesai disusun

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 47


BAB 2 KONSEP DAN KRITERIA PENYUSUNAN RENCANA INDUK
Petunjuk Umum
Bab ini menjelaskan mengenai konsep penyusunan rencana induk, periode
perencanaan, evaluasi rencan induk, kriteria penyusuna rencana induk, survei
penyusunan rencana induk sistem pengelolaan sampah, keterpaduan dengan
prasarana dan sarana air minum, limbah dan drainase
Apabila ada penjelasan atau data yang lebih rinci dapat dimasukkan dalam
Lampiran
Cantumkan dengan jelas rujukan atau sumber data/informasi yang digunakan
(dalam bentuk catatan kaki/ditulis di bawah tabel)

Hapus teks dan box ini setelah Bab 2 selesai disusun

2.1. PERIODE PERENCANAAN


Periode Perencanaan
Menjelaskan Periode perencanaan (masa berlakunya rencana induk 20 tahun)
Perencanaan Jangka Pendek
Menjelaskan tahap perencanaan dalam jangka waktu 12 tahun.
Perencanaan Jangka Menengah
Menjelaskan Tahap perencanaan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun.
Perencanaan Jangka Panjang
Menjelaskan tahap perencanaan dalam jangka waktu 20 tahun

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.1 selesai disusun

2.2. EVALUASI RENCANA INDUK


Rencana induk sistem pengelolaan sampah harus dievaluasi setiap 5 tahun untuk
disesuaikan dengan perubahan yang terjadi dan disesuaikan dengan perubahan
rencana induk bidang sanitasi lainnya, tata ruang dan rencana induk SPAM serta
perubahan strategi dibidang lingkungan (Local Environment Strategy). Maupun
hasil rekomendasi Audit lingkungan perkotaan yang terkait dengan masalah
pengelolaan Persampahan.

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.2 selesai disusun

2.3. KRITERIA PENYUSUNAN RENCANA INDUK


2.3.1. Kriteria Umum

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 48


Menjelaskan mengenai
- Tersedianya prasarana dan sarana persampahan sesuai kebutuhan
pelayanan dengan mengedepankan pemanfaatan sampah dan meningkatkan
kualitas TPA melalui penerapan teknologi ramah lingkungan.
- Tersedianya pelayanan pengumpulan dan pengangkutan sampah bagi
masyarakat di wilayah pelayanan dengan biaya (retribusi) yang terjangkau
oleh masyarakat.
- Tersedianya program kampanye dan edukasi secara berkesinambungan
untuk meningkatkan peran masyarakat dalam kegiatan 3R.
- Tersedianya program peningkatan kelembagaan yang memisahkan peran
operator dan regulator.

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.3.1 selesai disusun

2.3.2. Kriteria Teknis


Kriteria teknis ini meliputi:
- Periode perencanaan minimal 10 (sepuluh) tahun
- Sasaran dan prioritas penanganan
- Strategi penanganan
- Kebutuhan pelayanan

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.3.2 selesai disusun

2.3.3. Kriteria Standar Pelayanan Minimal


Menjelaskan mengenai standar pelayanan minimal dalam sistem
pengelolaan sampah

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.3.3. selesai disusun

2.4. SURVEI PENYUSUNAN RENCANA INDUK


2.4.1. Survei dan Pengkajian Wilayah Studi dan Wilyah Pelayanan

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 49


Melakukan pengumpulan data:
- Kondisi wilayah studi dan wilayah pelayanan
- Penyelenggaraan Prasaran dan sarana persampahan:
a. Data timbulan sampah (liter/orang/hari, m3/hari atau ton/hari),
serta komposisi dan karakteristik sampah, meliputi komposisi organik,
kertas, plastik, logam, kaca dan lain-lain. Untuk data karakteristik
sampah perlu diketahui berat jenis sampah, kadar air, nilai kalor dan
lain-lain;
b. Pola penanganan sampah dari sumber sampai TPA, untuk mengetahui
aliran sampah dari setiap sumber sampah yang ke TPS, TPS 3R, SPA,
FPSA, TPST dan TPA (atau bahkan ke TPA liar);
c. Pewadahan (jenis wadah yang umum digunakan);
d. Pengumpulan (metode pengumpulan baik komunal maupun individual,
sarana yang digunakan, jumlah sarana pengumpulan dan lain-lain);
e. Pemindahan skala kawasan (metode pemindahan baik TPS,
container, TPS 3R, jumlah prasarana pemindahan, lokasi dan lain-
lain) dan skala kota (FPSA atau SPA, jumlah dan lokasi SPA/FPSA);
f. 3R skala kawasan (lokasi, jumlah, metode 3R dan kondisi operasi,
jumlah pengurangan/pemanfaatan sampah dan lain-lain) dan 3R
skala kota (lokasi, jumlah pengurangan/pemanfaatan sampah, fasilitas
dan kondisi operasi dan lain-lain);
g. Pengangkutan (jumlah dan jenis kendaraan angkut, frekuensi atau
ritasi pengangkutan, rute angkutan, dan lain-lain);
h. Pemrosesan akhir (lokasi, luas, fasilitas TPA/TPST, kondisi operasi
dan pemanfaatan lahan)
- Data Kependudukan
- Data Sosial Ekonomi
- Data Kelembagaan
- Data Peraturan
- Data Peran Serta Masyarakat
- Peta Wilayah, Sebaran penduduk, geologi, hidrologi dengan ukuran skala
sesuai ketentuan yang berlaku

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.4.1 selesai disusun

2.4.2. Survei dan Pengkajian Sumber Timbulan, Komposisi dan


Karakteristik Sampah
Pelaksanaan survei timbulan, komposisi dan karakteristik sampah:
- Pastikan sumber timbulan yang akan disurvei;
- Ambil sampel sampah
- Uji kualitas sampah untuk mendapatkan komposisi dan karakteristik
sampah
Pengkajian hasil survei timbulan, komposisi dan karakteristik sampah:
- kaji timbulan sampah untuk mengetahui laju timbulan sampah;
- kaji timbulan sampah untuk mendapatkan komposisi dan karakteristik
sampah.

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.4.2 selesai disusun

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 50


2.4.3. Survei dan pengkajian demografi dan ketatakotaan
Ketentuan teknis untuk tata cara survei dan pengkajian demografi adalah:
- Wilayah sasaran survei harus dikelompokan ke dalam kategori wilayah
berdasarkan jumlah penduduk
- Cari data jumlah penduduk awal perencanaan
- Tentukan nilai persentase pertambahan penduduk per tahun (r)
- Hitung pertambahan nilai penduduk sampai akhir tahun perencanaan
Ketentuan teknis untuk survei dan pengkajian ketatakotaan adalah:
- Ada sumber daya baik alam maupun bukan alam yang dapat mendukung
penghidupan dan kehidupan di kota yang akan disurvei;
- Ada prasarana perkotaan yang merupakan titik tolakarah pengembangan
penataan ruang kota.

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.4.3 selesai disusun

2.4.4. Survei dan pengkajian biaya, sumber pendanaan dan keuangan


Data lapangan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
- Perolehan Data Eksisting Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana
Persampahan dan Data Statistik;
- Perolehan Data Pelanggan;
- Perolehan Data Penagihan Retribusi;
- Perolehan Data Timbulan Sampah;
- Perolehan Data Personil;
- Perolehan Data Laporan Keuangan;
- Perolehan Data Kemampuan Sumber Pendanaan Daerah;
- Perolehan Data Kemampuan Masyarakat;
- Perolehan Data Peluang Adanya KPS;
- Perolehan Data Alternatif Sumber Pembiayaan.

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.4.4 selesai disusun

2.5. KETERPADUAN PERENCANAAN DENGAN SEKTOR LAIN


2.5.1 Air Minum
Menjelaskan mengenai Pertimbangan untuk melakukan keterpaduan
dengan air minum

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.5.1. selesai disusun


2.5.2 Drainase
Menjelaskan mengenai Pertimbangan untuk melakukan keterpaduan
dengan Drainase

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.5.2. selesai disusun

2.5.3 Air Limbah


Menjelaskan mengenai Pertimbangan untuk melakukan keterpaduan
dengan air Limbah

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.5.3. selesai disusun

2.5.4 Jalan dan Sarana Transportasi

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 51


Menjelaskan mengenai Pertimbangan untuk melakukan keterpaduan
dengan Jalan dan Sarana Transprtasi

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.5.4. selesai disusun

2.6. KONTRIBUSI SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DALAM PROGRAM PERUBAHAN


IKLIM
Membahas tentang kebijakan dan program nasional yang berkaitan dengan sistem
pengelolaan sampah dalam perubahan iklim

Hapus teks ini setelah sub-bab 2.6 selesai disusun

BAB 3 GAMBARAN DAERAH STUDI & KONDISI EKSISTING PERSAMPAHAN


Petunjuk Umum
Bab ini menjelaskan mengenai data kondisi daerah studi (kondisi fisik, kebijakan
pembangunan dan tata ruang, demografi, sosial ekonomi budaya, kesehatan
masyarakat dan prasarana kota), data kondisi eksisting sistem pengelolaan
sampah serta permasalahan yang terjadi dilapangan.
Minimum informasi yang harus tersedia adalah tabel/peta/gambar yang
tercantum dalam box penjelasan singkat pada sub-bab.
Berikan penjelasan ringkas untuk masing-masing tabel/peta/gambar dan
informasi mengenai sumber data
Apabila ada penjelasan atau data yang lebih rinci dapat dimasukan dalam
lampiran.

Hapus teks dan box ini setelah Bab 3 selesai disusun

3.1. DAERAH RENCANA


Dijelaskan mengenai Kabupaten/Kota yang diamati dan direncanakan.
Dijelaskan bahwa ketentuan yang ada dalam rencana induk ini untuk Kota
Kabupaten yang diamati dan direncanakan, sedangkan kota yang tidak
direncanakan dalam satu Kabupaten yang diamati.

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.1 selesai disusun

3.2. KONDISI FISIK WILAYAH

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 52


3.2.1. Batas Administrasi
3.2.2. Letak Geografi
3.2.3. Hidrologi
3.2.4. Topografi
3.2.5. Klimatografi
3.2.6. Fisiografi
3.2.7. Geologi
3.2.8. Hidrogeologi
3.2.9. Hidrooceanografi
Dilengkapi dengan tabel:
- Tabel 3.1. Data wilayah administrasi
- Tabel 3.2. Data suhu udara, kelembaban udara, curah hujan
- Tabel 3.3. Data Jenis tanah
Dilengkapi denga gambar:
- Gambar 3.1. Peta wilayah administrasi
- Gambar 3.2. Peta Hidrolgi
- Gambar 3.3. Peta Topografi
- Gambar 3.4. Peta Klimatografi
- Gambar 3.5. Peta Fisiografi
- Gambar 3.6. Peta geologi

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.1.1 selesai disusun

3.3. KONDISI SOSIAL EKONOMI, BUDAYA & KESEHATAN MASYARAKAT


3.3.1 Kependudukan
Menjelaskan demografi/kependudukan
Dilengkapi dengan tabel
- Tabel 3.4. Pertumbuhan Penduduk

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.1.3 selesai disusun

3.3.2 Sosial Ekonomi, Budaya


Menjelaskan mengenai Tingkat Pendidikan Masyarakat, Penghasilan
Masyarakat, Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Mata
pencaharian dan pendapatan, Adat istiadat, tradisi dan budaya,
Perpindahan penduduk dan pengaruhnya terhadap urbanisasi dan kondisi
ekonomi masyarakat
Dilengkapi dengan Tabel
- Tabel 3.5. Tingkat Pendidikan Masyarakat
- Tabel 3.6. Penghasilan Masyarakat
- Tabel 3.7. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.3.2 selesai disusun

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 53


3.3.3 Kesehatan Masyarakat
Menjelaskan mengenai kasus penyakit, Angka kelahiran, kematian dan
migrasi, Data penyakit akibat air (water borne disease), Sarana pelayanan
kesehatan.
Dilengkapi dengan tabel
- Tabel 3.8. Jenis Penyakit
- Tabel 3.9. Sarana Pelayanan Kesehatan

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.1.5 selesai disusun

3.4. KONDISI EKSISTIG SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH


3.2.1. Sumber Sampah
Menjelaskan mengenai sumber penghasil sampah seperti:
- Pemukiman
o Rumah Tinggal
o Apartemen
- Komersil
o Pusat Pertokoan
o Penginapan (hotel)
o Perkantoran
o Tempat Rekreasi
o Rumah Makan
- Fasilitas Umum
o Pelabuhan Kapal, stasiun kereta api, terminal bus
o Taman dan jalan
o Rumah ibadah (mesjid, gereja, vihara dst
- Sekolah hingga perguruan tinggi
- Rumah sakit hingga puskesmas
- Pasar, baik pasar tradisional maupun pasar modern
- Industri (kawasan industri hingga industri kecil)
- Sungai

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.2.1 selesai disusun

3.2.2. Timbulan, Komposisi Dan Karakteristik Sampah


Timbulan sampah Menjelaskan tentang volume sampah yang tertanggulangi
dan volume sampah yang belum tertanggulangi.
Komposisi dan Karakteristik Sampah menjelaskan mengenai jenis
karakteristik sampah seperti, sampah organik, anorganik dst.
Dilengkapi dengan tabel:
- Tabel 3.10. Volume sampah
- Tabel 3.11. Komposisi dan karakteristik sampah

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.2.2 selesai disusun

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 54


3.2.3. Sistem Pengelolaan Sampah
3.2.3.1. Regulasi
3.2.3.2. Kelembagaan
3.2.3.3. Keuangan
3.2.3.4. Peran Masyarakat
3.2.3.5. Teknis Operasional
3.2.3.5.1. Pemilahan/Pewadahan
3.2.3.5.2. Pengumpulan
3.2.3.5.3. Pengangkutan
3.2.3.5.4. Pengolahan
3.2.3.5.5. Pemrosesan Akhir
Menjelaskan permasalahan di tiap-tiap aspek: regulasi, kelembagaan,
keuangan, peran masyarakat dan teknis operasional
Dilengkapi dengan tabel:
- Tabel 3.12. Jumlah SDM di Dinas Kebersihan
- Tabel 3.13. Rekapitulasi hasil penarikan retribusi pengelolaan sampah
- Tabel 3.14. Kawasan lingkungan permukiman dengan prinsip 3R
- Tabel 3.15. Jumlah sarana pengumpul sampah
- Tabel 3.16. Tipe pemindahan (Transfer)
- Tabel 3.17. Jumlah TPS non pasar (pemukiman)
- Tabel 3.18. Jumlah TPS pasar
- Tabel 3.19. Jumlah armada angkut sampah
- Tabel 3.20. Cakupan wilayah administrasi yang dilayani armada angkut
sampah
- Tabel 3.21. Parameter dan volume Stasiun Peralihan Antara Dan Fasilitas
Pengolahan Antara (Intermediate Treatment Facility)
- Tabel 3.22. Volume dan jumlah kendaraan sampah yang masuk Stasiun
Peralihan Antara Dan Fasilitas Pengolahan Antara (Intermediate Treatment
Facility)
- Tabel 3.23. Jumlah sarana dan prasarana SPA
- Tabel 3.24. Potensi retribusi persampahan & daur ulang
Dilengkapi dengan gambar:
- Gambar 3.7. Skema Sistem Pengelolaan Sampah
- Gambar 3.8. Bagan struktur organisasi Dinas Kebersihan
- Gambar 3.9. Bagan struktur organisasi BPLHD
- Gambar 3.10. Bagan struktur organisasi Dinas Pertamanan dan Pemakaman
- Gambar 3.11. Bagan struktur organisasi PD Pasar Jaya
- Gambar 3.12. Pola penanganan sampah eksisting
- Gambar 3.13. Foto Pewadahan
- Gambar 3.14. Skematis pola pengumpulan individual langsung
- Gambar 3.15. Skematis pola pengumpulan individual tidak langsung
- Gambar 3.16. Skematis pola pengumpulan komunal langsung
- Gambar 3.17. Skematis pola pengumpulan komunal tidak langsung
- Gambar 3.18. TPS indoor
- Gambar 3.19. Pola Tempat Penampungan Sementara (TPS) Indoor
- Gambar 3.20. Transito Dipo
- Gambar 3.21. Armada Angkut sampah
- Gambar 3.22. Bangunan Stasiun Peralihan Antara Dan Fasilitas Pengolahan
Antara (Intermediate Treatment Facility)
- Gambar 3.23. Siklus perjalanan sampah yang terjadi di SPA
- Gambar 3.24. Mekanisme pengelolaan sampah di TPST

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.2.3 selesai disusun

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 55


3.5. PERMASALAHAN SISTEM YANG DIHADAPI
Dijelaskan permasalahan terkait Teknis dan Lingkungan
Dijelaskan permasalahan terkait Kelembagaan
Dijelaskan permasalahan terkait Pembiayaan, meliputi :
- Dana Pemerintah Kota
- Dana Sanitasi Lingkungan
- Sektor Swasta/ Masyarakat
Dijelaskan permasalahan terkait Peraturan perundangan
Dijelaskan masalah terkait Peran serta Masyarakat dan Swasta
Dijelaskan permasalahan terkait Sosial ekonomi

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.5 selesai disusun

3.6. ANALISIS PROFIL PELAYANAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH


Menjelaskan mengenai daerah pelayanan dalam pengelolaan sampah

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.6 selesai disusun

3.7. KEBIJAKAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH YANG ADA


3.7.1. Pembangunan Dan Tata Ruang
Menjelaskan kebijakan tentang
3.7.1.1. Tujuan Penataan Ruang
3.7.1.2. Strategi Penataan Ruang
3.7.1.3. Arah Pengembangan Tata Ruang
Dilengkapi denga gambar:
- Gambar 3.25 Peta tata ruang kota
- Gambar 3.26 Pusat kegiatan yang cenderung berkembang
- Gambar 3.27. Konsep Pengembangan Tata Ruang

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.7.1 selesai disusun

3.7.2. Sistem Pengelolaan Sampah


Menjelaskan kebijakan tentang
3.7.2.1. Pemilahan/Pewadahan
3.7.2.2. Pengumpulan
3.7.2.3. Pengangkutan
3.7.2.4. Pengolahan
3.7.2.5. Pemrosesan Akhir

Hapus teks ini setelah sub-bab 3.7.2 selesai disusun

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 56


BAB 4 STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH
Petunjuk Umum
Bab ini menjelaskan mengenai Kebijakan strategi (Visi misi, Kebijakan, Strategi),
Kriteria standar pelayanan minimal, pengembangan daerah pelayanan, pemilihan
zona prioritas, perhitungan proyeksi timbulan sampah dan perhitungan prasarana dan
sarana pengelolaan sampah.
Minimum informasi yang harus tersedia adalah tabel/peta/gambar yang
tercantum dalam box penjelasan singkat pada sub-bab.
Berikan penjelasan ringkas untuk masing-masing tabel/peta/gambar dan
informasi mengenai sumber data
Apabila ada penjelasan atau data yang lebih rinci dapat dimasukan dalam
lampiran.
Cantumkan dengan jelas rujukan atau sumber data /informasi yang digunakan
(dalam bentuk ditulis dibawah tabel)

Hapus teks dan box ini setelah Bab 4 selesai disusun

4.1. KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH


4.1.1. VISI DAN MISI
Menjelaskan tentang visi misi pada arah pembangunan persampahan

Hapus teks ini setelah sub-bab 4.1.1 selesai disusun

4.1.2. KEBIJAKAN
Dijelaskan Kebijakan sistem pengelolaan sampah baik yang bersifat
internasional, nasional, regional maupun daerah/lokal

Hapus teks ini setelah sub-bab 4.1.2 selesai disusun

4.2. TUJUAN DAN TARGET PENANGANAN


Dijelaskan tujuan dan target penanganan untuk setiap periode, yaitu :
Jangka Pendek : Kebutuhan dasar sanitasi sebagai dasar sistem pengelolaan
sampah
Jangka Menengah : Sesuai permasalahan dan strategi yang dilaksanakan
Jangka Panjang :

Hapus teks ini setelah sub-bab 4.2. selesai disusun

4.3. PENGEMBANGAN DAERAH PELAYANAN

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 57


Menjelaskan mengenai rencana pengembangan pelayanan persampahan
disamping harus memperhatikan kondisi kota, kemampuan daerah dan
masyarakat serta NSPK yang ada, maka beberapa alternatif yang perlu dikaji
berkaitan dengan beberapa kemungkinan skenario pengembangan pelayanan
yaitu:
- Skenario alokasi lahan TPA (lokal dan regional)
- Skenario SPA
- Skenario Pengurangan sampah melalui 3R
- Skenario lain sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal

Hapus teks ini setelah sub-bab 4.3. selesai disusun


4.4. PEMBAGIAN ZONA PELAYANAN
Menjelaskan mengenai Pembagian zona pelayanan

Hapus teks ini setelah sub-bab 4.4. selesai disusun

4.5. PENETAPAN ZONA PRIORITAS


Menjelaskan mengenai hasil evaluasi pengembangan daerah pelayanan, perlu
dilakukan pemilihan prioritas program atau kegiatan persampahan sesuai dengan
kebutuhan. Prioritas tersebut dipertimbangkan melalui penapisan sebagai
berikut:
- Urutan sifat urgensi seperti adanya kasus pencemaran atau kecelakaan di
TPA yang memerlukan tindakan mendesak. Rencana kegiatan diurutkan sesuai
dengan tingkat prioritas.
- Prioritas kegiatan akan diuraikan dalam tahap mendesak, jangka menengah
dan jangka panjang.

Hapus teks ini setelah sub-bab 4.5. selesai disusun

4.6. PERHITUNGAN KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA PENGELOLAAN SAMPAH


Menjelaskan Mengenai Perhitungan Kebutuhan Prasarana Dan Sarana Pengelolaan
Sampah Seperti : Pemilahan/Pewadahan, Pengumpulan, Pengangkutan,
Pengolahan Dan Pemrosesan Akhir

Hapus teks ini setelah sub-bab 4.6. selesai disusun

4.7. STARTEGI PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH


Menjelaskan mengenai
4.7.1. Strategi Pengembangan Prasarana Dan Sarana Persampahan
4.7.2. Strategi Pengembangan Kapasitas Kelembagaan
4.7.3. Strategi Pengembangan Peran Masyarakat
4.7.4. Strategi Pengembangan Peraturan
4.7.5. Strategi Pengembangan Ekonomi Dan Pembiayaan

Hapus teks ini setelah sub-bab 4.7 selesai disusun

BAB 5 RENCANA PROGRAM PENGELOLAAN SAMPAH

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 58


Petunjuk Umum
Bab ini menjelaskan mengenai rencana program yang sedang berjalan, program
jangka pendek, program jangka menengah, program jangka panjang.
Indikasi program-program bidang persampahan dijabarkan dari program-program
prioritas yang telah dirumuskan dalam rencana induk dan telah memenuhi
kelayakan proyek. Pengembangan sarana dan prasarana persampahan tidak selalu
hanya pengembangan aspek teknis semata namun juga termasuk pengembangan
aspek non teknis yang meliputi pengembangan aspek kelembagaan, pembiayaan,
Peraturan, Peran Masyarakat, pengelolaan Swasta
Apabila ada penjelasan atau data yang lebih rinci dapat dimasukan dalam
lampiran.

Hapus teks dan box ini setelah Bab 5 selesai disusun

5.1. RENCANA PROGRAM


5.1.1. Rencana Pengembangan Teknis
5.1.2.1. Pemilahan/Pewadahan
Merencanakan pengembangan pemilahan/pewadahan, seperti
- Penyedian Tempat/pewadahan sampah menjadi 5 jenis
(Sampah B3, Sampah organik, sampah guna ulang, sampah daur
ulang, residu)
- Jenis pewadahan seperti:
o Individual: berupa bin atau wadah lain yang memenuhi
persayartan
o Komunal: dapat berupa TPS
Menjelaskan mengenai opsi teknologinya

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.1.2.1 selesai disusun

5.1.2.2. Pengumpulan
merencanakan pengembangan pengumpulan, seperti
- Pola pengumpulan sampah
- Prasarana dan sarana pengumpulan
- Perencanaan operasional pengumpulan
Menjelaskan mengenai opsi teknologinya

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.1.2.2 selesai disusun

5.1.2.3. Pengangkutan
Merencanakan pengembangan pengangkutan, seperti:
- Metoda pemindahan dan pengangkutan
- Pola pengangkutan
- Perencanaan dan perhitungan pengangkutan sampah
- Perencanaan penentuan sarana pengangkutan
- Rute pengangkutan
- Operasional pengangkutan
Menjelaskan mengenai opsi teknologinya

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.1.2.3 selesai disusun

5.1.2.4. Pengolahan

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 59


Merencanakan pengembangan fasilitas pengolahan sampah, sepert:
- Penyediaan TPS 3R
- Penyediaan SPA
- Penyediaan TPST
Menjelaskan mengenai opsi teknologinya

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.1.2.4 selesai disusun

5.1.2.5. Pemrosesan Akhir


Merencanakan pengembangan tempat pemrosesan akhir, seperti:
- Perencanaan Kebutuhan Lahan TPA
- Perencanaan Pemilihan Lokasi TPA
- Perencanaan Prasarana dan sarana TPA
- Perencanaan Rehabilitasi TPA
Menjelaskan mengenai opsi teknologinya

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.1.2.5 selesai disusun

5.1.2. Rencana Pengembangan Pengelolaan Swasta


Merencanakan pengembangan dengan melibatkan pihak swasta

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.1.2 selesai disusun

5.1.3. Rencana Keterpaduan Dengan Prasarana dan Sarana Air Minum,


Air Limbah dan Drainase
Pertimbangan untuk melakukan keterpaduan dengan air minum, air limbah
dan drainase adalah:
- Perlunya perlindungan air baku air minum dari pencemaran sampah ke
badan air terutama sungai serta pengaliran leachate disekitar TPA ke badan
air atau saluran drainase.
- Perlunya meminimalkan dampak negatif dan dampak sosial yang
timbul akibat keberadaan TPA, sehingga penentuan lokasi TPA hendaknya
juga memperhitungkan lokasi IPAL atau IPLT.

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.1.3 selesai disusun

5.2. RENCANA TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN


5.2.1. Rencana Jangka Pendek
Rencana program jangka pendek (1-2 tahun) merupakan tahap pelaksanaan
yang bersifat mendesak dan dapat dijadikan pondasi untuk pentahapan
selanjutnya.

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.2.1 selesai disusun

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 60


5.2.2. Rencana Jangka Menegah
Rencana program jangka menengah (5 tahun) merupakan tahap
pelaksanaan 5(lima) tahun yang didasarkan pada hasil kajian sebelumnya
dengan mempertimbangkan tahap mendesak yang telah dilakukan

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.2.2 selesai disusun

5.2.3. Rencana Jangka Panjang


Rencana program jangka panjang sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun
merupakan tahap pelaksanaan yang bersifat menyeluruh dengan
mempertimbangkan hasil pencapaian tahap sebelumnya

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.2.3 selesai disusun

5.3. RENCANA PEMBIAYAN/INVESTASI PROGRAM


5.3.1. Biaya Investasi dan O/P Jangka Pendek
5.3.2. Biaya Investasi dan O/P Jangka Menengah
5.3.3. Biaya Investasi dan O/P Jangka Panjang
Menjelaskan tentang
- Retribusi
Perhitungan retribusi perlu dibuat berdasarkan perkiraan biaya investasi dan
pengoperasian dan pemeliharaan (O/P) untuk jangka menengah dan jangka
panjang
- Biaya satuan
Diperlukan estimasi biaya satuan penanganan sampah berdasarkan kebutuhan
biaya investasi dan pengoperasian dan pemeliharaan, meliputi
a. Rp./kapita/tahun
b. Rp./m3 atau Rp./ton
c. Biaya pengumpulan/ton
d. Biaya pengangkutan/ton
e. Biaya pengolahan/tahun
f. Biaya TPA/ton
Dilengkapi dengan tabel
Tabel 5. Tabel Rencana Pembiayaan

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.3 selesai disusun

5.4. RENCANA PENGATURAN DAN KELEMBAGAAN

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 61


Merencanakan pengembangan peraturan yang harus mempertimbangkan hal
sebagai berikut:
- Jenis Peraturan Daerah terdiri dari Peraturan Daerah Pembentukan Institusi,
Peraturan Daerah Ketentuan Penanganan Persampahan dan Peraturan
Daerah Retribusi.
- Substansi materi Peraturan Daerah cukup menyeluruh, tegas dan dapat
diimplementasikan untuk jangka panjang (20 tahun).
- Penerapan Peraturan Daerah perlu didahului dengan sosialisasi, uji coba di
kawasan tertentu dan penerapan secara menyeluruh. Selain itu juga
diperlukan kesiapan aparat dari mulai kepolisian, kejaksaan dan kehakiman
untuk penerapan sanksi atas pelanggaran yang terjadi.
- Evaluasi Peraturan Daerah dilakukan setiap 5 tahun untuk menguji tingkat
kelayakannya.
Merencanakan pengembangan organisasi pengelola sampah, meliputi:
- Bentuk Institusi
- Struktur Organisasi
- SDM
- Tata Laksana Kerja
- Pola Kerja Antar Kota

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.4 selesai disusun

5.5. RENCANA EDUKASI DAN PERAN MASYARAKAT


Merencanakan pengembangan peran masyarakat, meliputi:
- Penyusunan program penyuluhan/kampanye.
- Pelaksanaan penyuluhan/kampanye.
- Internalisasi penanganan sampah ke kurikulum sekolah.
- Uji coba kegiatan 3R berbasis masyarakat.
- Replikasi pengembangan kegiatan 3R berbasis masyarakat untuk mencapai
target yang telah ditentukan selama 20 tahun masa perencanaan (20%-40%).

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.5 selesai disusun

5.6. RENCANA SOSIALISASI DOKUMEN RENCANA INDUK


Dijelaskan bahwa melakukan konsultasi publik min. 3 kali selama 12 bulan ketika
menyusun rencana induk
Dijelaskan bahwa konsultasi harus melibatkan stakeholder

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.6. selesai disusun

5.7. TAHAPAN LEGALISASI RENCANA INDUK

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 62


Dilakukan penetapan oleh kepala daerah

Hapus teks ini setelah sub-bab 5.7. selesai disusun

BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


Petunjuk Umum
Bab ini menjelaskan mengenai mengenai kesimpulan dari rencana induk yang
telah dibuat dan rekomendasi yang diberikan

Hapus teks dan box ini setelah Bab 6 selesai disusun

6.1. Kesimpulan
Berisi tentang kebijakan strategi dan kriteria rencana induk sistem pengelolaan
persampahan, permasalahan yang ada pada kondisi eksisting, perencanaan
pengembangan sistem perencanaan dan rencana program

Hapus teks ini setelah sub-bab 6.1 selesai disusun

6.2. Rekomendasi
Berisi tentang tindak lanjut dari rencana induk sistem pengelolaan persampahan.

Hapus teks ini setelah sub-bab 6.2 selesai disusun

Template tabel Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah


Gunakan untuk mengisi tabel tabel sebagaimana di indikasikan di dalam template
Rencana induk sistem Persampahan

Tabel 3.1. Data Wilayah Administrasi


Luas Jumlah
No. Kota Administrasi Wilayah
Kecamatan Kelurahan Penduduk
(km2)
1
2
dst
Sumber: ...............

Tabel 3.2. Data Suhu Udara, Kelembaban Udara, Curah Hujan dan Banyaknya Hari
Hujan
Bulan Suhu Udara Kelembaban Curah Hujan Banyaknya Hari

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 63


(oC) Udara (%) (mm2) Hujan (Hari)
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
Sumber: ...............
Tabel 3.3. Data Jenis Tanah
Luas Tanah (Km)
No Jenis Tanah Total (km)
Wilayah Wilayah Wilayah Wilayah Wilayah
1
2
3 dst
Prov ..
Sumber: ...............

Tabel 3.4. Pertumbuhan penduduk


Kab/Kota Penduduk Kepadatan Penduduk Pertumbuhan
No
Administrasi (Jiwa) (Km) Penduduk (%)
1
2
dst
Total
Sumber: ...............

Tabel 3.5. Tingkat Pendidikan Masyarakat


Jumlah Penduduk (%)
No Tingkat Pendidikan
Wilayah .... Wilayah ..... Wilayah .....
1 Tidak tamat SD
2 SD
3 SLTP
4 SLTA
5 Akademi/Diploma
6 Sarjana
Jumlah
Sumber: ...............

Tabel 3.6. Penghasilan Masyarakat


Golongan Pengeluaran Wilayah ...... Wilayah ......
No
per-kapita sebulan Jumlah % Jumlah %
1 .............. - ..............
2 .............. - ..............

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 64


3 dst
Prov .....
Sumber: ...............

Tabel 3.7. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)


PDRB Berdasarkan Harga Konstan ..
No Wilayah
Tahun Tahun Tahun
1 Pertanian
2 Pertambangan
3 Industri Pengolahan
4 Listrik, Gas dan Air Bersih
5 Bangunan/Konstruksi
6 Perdagangan, Hotel, Restoran
7 Pengangkutan dan Komunikasi
8 Keungan, perusahaan dan
Jasa perusahaan
9 Jasa-jasa
10 Provinsi .
Sumber: ...............

Tabel 3.8. Jenis Penyakit

Jenis Penyakit
N
Wilayah Administrasi A B
o
Jumlah % Jumlah %
1
2
3 dst
Sumber: ...............

Tabel 3.9. Sarana Pelayanan Kesehatan


Jumlah
No Fasilitas Kesehatan Total
Wilayah ..... Wilayah ......
1 Rumah Sakit
2 Puskesmas
3 Balai Pengobatan Umum
4 Apotik
5 Laboraturium
Sumber: .....

Tabel 3.10. Volume Sampah


Timbulan Tertanggulangi Belum Tertanggulangi
No. Wilayah Administrasi
(m3/hari) (m3/hari) (m3/hari)
1
2
dst
Jumlah
Presentase
Sumber: .....

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 65


Tabel 3.11 Komposisi dan Karakteristik Sampah
Persentase
No. Jenis Karakteristik Sampah
(%)
1
2
dst
Total
Sumber: ..........

Tabel 3.12. Jumlah SDM di Dinas & Suku Dinas Kebersihan


No. Unit-Unit PNS CPNS PL Jumlah
1.
2.
dst
Total
Sumber: .

Tabel 3.13. Rekapitulasi Hasil Penarikan Retribusi Pengelolaan Sampah


Jumlah
Jenis Obyek Retribusi (Rp)
Wilayah (Rp)
Administrasi Rumah RS/Pol/ Usaha TPA
Toko Industri
Tinggal Lab Mikro Sampah

dst
Jumlah
(%)
Sumber: ...

Tabel 3.14. Kawasan Lingkungan Permukiman Dengan Prinsip 3R


Wilayah Administrasi
No. Kelurahan
Kecamatan

1.
2.
dst
Sumber: ...

Tabel 3.15 Jumlah Sarana Pengumpul Sampah


Gerobak Sampah
Container Container Tong Gerobak
Wilayah Suku Swa Galvanis
No. 10 (m3) 6 (m3) Sampah Celeng
Kecamatan Dinas Daya (Buah)
(buah) (buah) (Buah) (Buah)
(buah) (buah )
1
2
dst
Jumlah
Sumber:

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 66


Tabel 3.16 Tipe Pemindahan (Transfer)
Transfer DepoTipe Transfer Depo Tipe Transfer Depo Tipe
No. Uraian
I II III
1. Luas Lahan
2. Fungsi
3. Daerah pemakai
Sumber:

Tabel 3.17. TPS Non Pasar (Pemukiman


Tps Terbuka
Jumlah Dan Jenis TPS
Wilayah (Lokasi)
No. Administra Dipo Pool Transit Pool Bak Tidak
Terjadw
si (buah Gerobak o Container Beton Terjadw
al
) (lokasi) (lokasi) (lokasi) (buah) al
1
2
dst
Jumlah
Sumber: ..........................
* terjadwal = diangkut secara rutin
** tidak terjadwal = diangkut tidak rutin/insidentil

Tabel 3.18. Jumlah TPS Pasar


No. Wilayah Jumlah Pasar Volume Sampah (m /hari)
1
2
3
Jumlah
Sumber: .

Tabel 3.19. Jumlah Armada Angkut Sampah


Institusi Wilayah Jumlah Armada (unit)

dst
Total Wilayah
Sumber:

Tabel 3.20. Cakupan wilayah administrasi yang dilayani Armada Truk Sewa Typer

Jenis
No Wilayah Alamat
TPS
1
2
dst
Sumber: ...........

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 67


Tabel 3.21. Parameter dan Volume SPA
Parameter Volume Unit

Sumber: ..........

Tabel 3.22. Volume dan Jumlah Kendaraan Sampah Yang Masuk SPA Sunter dari
Wilayah Administrasi Lain dan Dinas Kebersihan Wilayah
SPA
No. Unit Kerja Kendaraan Keterangan
Volume (ton)
(unit)
1.
2.
dst
Jumlah

Sumber : ...........

Tabel 3.23. Jumlah Sarana dan Prasarana SPA


Unit
No. Tipe Pengadaan Pengadaan Keterangan
Lama Baru
1
2
dst
Sumber : ..........

Tabel 3.24. Potensi Retribusi Persampahan & Daur Ulang

Retribusi Sampah Hasil Kompos Hasil Daur Ulang Total Retribusi


Wilayah
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)

dst
Total
Sumber : ...........

Tabel 4.1. Proyeksi Timbulan Sampah

No Uraian 2014 2019 2024 2029 2034


1 Jumlah Penduduk
Total Timbulan
2
(Ton/hari)
Sumber:

Tabel 5.1. Rencana Program

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 68


No Aspek Pengelolaan Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang
1 Kelembagaan
2 Teknis
3 Pembiayaan
4 Peraturan
5 Peran Masyarakat
6 Swasta

Tabel 5.2. Rencana Pembiayaan

Biaya (Jangka Biaya (Jangka Biaya (Jangka


N Komponen Pendek) Menengah) Panjang)
o Kegiatan
Investasi O/P Investasi O/P Investasi O/P

Contoh peta / gambar Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan sampah

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 69


Gambar 3.1. Contoh Peta Wilayah Administrasi

Gambar 3.2. Contoh Peta Hidrologi

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 70


Gambar 3.3. Contoh Peta Topografi

Gambar 3.4. Contoh Peta Klimatografi

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 71


Gambar 3.6. Contoh Peta Geologi

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 72


REGULASI

KE
TEKNIS OPERASIONAL

KELE

SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH

PERAN SERTA MASYARAKAT/ SWASTA PENDANAAN

Gambar 3.7. Sistem Pengelolaan Sampah

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 73


Gambar 3.8. Contoh Bagan Struktur Organisasi Dinas Kebersihan
Gambar 3.9. Contoh Bagan Struktur Organisasi BPLHD
Gambar 3.10. Contoh Bagan Struktur Organisasi Dinas Pertamanan
Gambar 3.11. Contoh Bagan Struktur Organisasi PD Pasar Jaya

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 74


Gambar 3.12. Contoh Pola Penanganan Sampah Eksisting

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 75


Gambar 3.13. Contoh Foto Pewadahan

Gambar 3.14. Skematis Pola Pengumpulan Individu Langsung

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 76


Gambar 3.15. Skematis Pola Pengumpulan Individu Tidak Langsung

Gambar 3.16. Skematis Pola Pengumpulan Komunal Langsung

Gambar 3.17. Skematis Pola Pengumpulan Komunal Tidak Langsung

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 77


Gambar 3.18. Contoh TPS Indoor

Gambar 3.19. Pola tempat Penampungan Sementara (TPS) Indoor

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 78


Gambar 3.20. Transito Dipo

Dump Truck Arm Roll Truck

Compactor Truck Trailer Truck

Gambar 3.21. Armada Angkut Sampah

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 79


Gambar 3.22. Contoh Bangunan Stasiun Peralihan Antara Dan fasilitas Pengolahan Antara
(Intermediate Treatment Facility)

Waste Catchment Area menuju ke SPA Sunter (30 90 menit)

SPA SUNTER

Docking Process Car Washing


SPA Sunter (20 menit) SPA Sunter (15 30 menit)
Jembatan Timbang -Loading Process SPA Sunter (10 menit)

SPA Sunter TPST Bantargebang


(60 120 menit)

TPST Bantargebang

Loading Process Antrian di TPST Bantargebang


TPA Bantar Gebang (30 45 menit) (60 120 menit)

TPST Bantargebang SPA Sunter


(60 120 menit)

Gambar 3.23. Contoh Siklus Perjalanan Sampah Yang Terjadi Di SPA

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 80


Gambar 3.24. Contoh Mekanisme Pengelolaan Sampah di TPST

Gambar 3.25. Contoh Peta Tata Ruang Kota

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 81


Gambar 3.26. Contoh Pusat kegiatan yang cenderung berkembang

Gambar 3.27. Contoh Konsep pengembangan tata ruang

Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 82


Bagian B Penjelasan Rinci Outline Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah 83
PROSEDUR TEKNIS
PENYUSUNAN RENCANA INDUK
SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH

BAGIAN C: LAMPIRAN

Bagian C Lampiran 84
C-01 :

KRITERIA TEKNIS
SURVEI DAN PENGKAJIAN WILAYAH STUDI
DAN WILAYAH PELAYANAN

Cara Pengerjaan

1. Persiapan
Yang harus dipersiapkan sebelum melakukan survei lapangan adalah:
- Surat pengantar untuk melakukan survei;
- Peta kota;
- Tata cara survei dan manual peralatan yang dipakai;
- Penyiapan kuesioner survei;
- Jadwal pelaksanaan survei lapangan;
- Prosedur pelaksanaan survei.

2. Prosedur pelaksanaan survei


Prosedur pelaksanaan survei adalah sebagai berikut:
a. Serahkan surat izin survei kepada setiap instansi yang dituju
b. Lakukan pengumpulan data berikut:
- Peta dan laporan terdahulu;
- Laporan mengenai rencana tata ruang wilayah;
- Peta sistem penanganan sampah termasuk letak PSP;
- Peta rute pengumpulan dan pengangkutan sampah;
- Data teknis.
c. Lakukan survei lapangan yang berupa kunjungan lapangan terhadap:
- Sumber timbulan sampah;
- Komposisi dan karakteristik sampah;
- PSP pada rencana daerah pelayanan;
- Rute alternatif sistem pengangkutan.
Selanjutnya siapkan peta kota, plot lokasi sumber timbulan sampah, PSP,
dan rute pengangkutan sesuai dengan batas wilayah studi dan wilayah
pelayanan.
d. Buat foto lokasi yang ada kaitannya dengan rencana sistem penanganan
sampah.

3. Pengkajian
a. Pengkajian sumber timbulan sampah
Pengkajian sumber timbulan sampah mengacu pada hasil identifikasi
prasarana kota, pada umumnya dapat digambarkan dengan data yang
meliputi :
- Jaringan jalan, meliputi jalan arteri/protokol, kolektor, jalan lingkungan
(dilengkapi peta jaringan jalan).
- Perumahan, meliputi perumahan komplek dan non komplek baik yang
teratur, tidak teratur maupun perumahan kumuh.
- Fasilitas komersial, meliputi pertokoan, pasar, hotel, restauran, salon,

Bagian C Lampiran 85
bioskop, kawasan wisata, kawasan industri dan lain-lain.
- Fasilitas umum, meliputi perkantoran, fasilitas pendidikan (universitas,
sekolah dan lain-lain), fasilitas kesehatan (rumah sakit, apotik, puskesmas
dan lain-lain).
- Fasilitas sosial, meliputi rumah ibadah, panti sosial dan lain-lain.
- Ruang terbuka hijau/hutan kota, meliputi taman kota, hutan kota,
perkebunan, persawahan dan lahan pertanian.
Data tersebut perlu dilengkapi dengan peta tata guna lahan.
b. Pengkajian komposisi dan karakteristik sampah
c. Pengkajian pola penanganan sampah sejak dari sumber hingga TPA
d. Penetapan wilayah pelayanan
Pada dasarnya sasaran wilayah pelayanan suatu daerah tergantung pada
fungsi strategis kota atau kawasan, dan tingkat kepadatan penduduk. Wilayah
pelayanan tidak terbatas pada wilayah administrasi yang bersangkutan sesuai
hasil kesepakatan dan koordinasi dengan pihak yang terkait dalam rangka
menunjang penyelenggaraan sistem penanganan sampah.
Kondisi wilayah pelayanan yang menjadi sasaran pelayanan mengacu pada
pertimbangan teknis dalam standar spesifikasi teknis berikut. Cantumkan
hasil pertimbangan teknis dalam bentuk tabel dan buatlah dalam bentuk
peta.
- Bentuk Wilayah Pelayanan
Bentuk wilayah pelayanan mengikuti arah perkembangan kota dan
kawasan di dalamnya.
- Luas Wilayah Pelayanan
Luas wilayah pelayanan ditentukan berdasarkan survei dan pengkajian
sehingga memenuhi persyaratan teknis.
- Pertimbangan Teknis Wilayah Pelayanan
Pertimbangan teknis dalam menentukan wilayah pelayanan antara lain
namun tidak dibatasi oleh:
Kepadatan penduduk
Tata ruang kota
Tingkat perkembangan daerah
Dana investasi, dan
Kelayakan operasi
e. Penetapan wilayah studi
- Apabila terdapat sistem eksisting, maka lakukan penanganan seperti
pada ketentuan umum dan ketentuan teknis di atas, sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
- Uraikan sasaran wilayah pelayanan dan arah pengembangan kota menurut
tata ruang kota yang sudah disetujui.
- Uraikan komponen yang ada di dalam wilayah pelayanan saat ini dan
proyeksi pada masa mendatang.
- Plot lokasi sumber timbulan sampah dan alternatif rute pengangkutan.
- Buatlah batas wilayah yang mencakup seluruh sumber timbulan sampah
dan wilayah yang menjadi kesepakatan dan koordinasi pihak terkait.
f. Penetapan wilayah Perencanaan
Wilayah perencanaan merupakan wilayah sistem yang sudah terpilih yang
mencakup semua tahapan penyelenggaraan sistem penanganan sampah.
Cantumkan alternatif terpilih tersebut pada sebuah peta wilayah
perencanaan, dan lengkapi dengan keterangan sistem yang mencakup:

Bagian C Lampiran 86
- Lokasi sumber timbulan sampah dan pengembangannya,
- Lokasi PSP dari sumber hingga TPA dan pengembangannya,
- Wilayah pelayanan dan pengembangannya.

4. Hasil Pengkajian
Hasil pengkajian berupa ketetapan pasti mengenai:
a. Sumber timbulan, komposisi dan karakteristik sampah
b. Pola penanganan sampah mulai dari sumber hingga TPA, serta rute pengangkutan
alternatif;
c. Batas wilayah pelayanan beserta komponennya;
d. Batas wilayah studi beserta komponennya;
e. Batas wilayah perencanaan

Bagian C Lampiran 87
C-02:

KRITERIA TEKNIS
SURVEY TIMBULAN, KOMPOSISI
DAN KARAKTERISTIK SAMPAH

Survei sumber timbulan, komposisi dan karakteristik sampah dimaksudkan untuk


mendapatkan dasar perencanaan kebutuhan PSP baik untuk jangka pendek, menengah
maupun jangka panjang. Perkiraan atau proyeksi timbulan sampah dapat diketahui
setelah data eksisting diketahui (data primer, melalui sampling analisa timbulan
sampah, SNI No 19-3964-1994 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh
Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan).
1. Ketentuan Umum
Survei sumber timbulan, komposisi dan karakteristik sampah harus dilaksanakan
sesuai ketentuan umum sebagai berikut:
Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin tim (team leader)
berpengalaman dalam bidang persampahan minimal 5 tahun atau menurut
peraturan yang berlaku;
Melaksanakan survei lapangan yang seksama dan terkoordinasi dengan pihak
terkait;
Membuat laporan tertulis mengenai hasil survei yang memuat:
- Foto lokasi;
- Data timbulan, komposisi dan karakteristik sampah;
- Peta letak PSP.
Mengirimkan data dan laporan tersebut di atas kepada pemberi tugas
instansi yang terkait.

2. Ketentuan Teknis
Dalam pelaksanaan survei lapangan bidang persampahan, harus dipenuh
ketentuan teknis sebagai berikut:
Gambar sketsa lokasi, peta dengan ukuran gambar sesuai ketentuan yang
berlaku;
Sumber sampah yang disurvei harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
- Menggambarkan jumlah sumber penghasil sampah;
- Menggambarkan karakteristik dan komposisi sampah dari wilayah
pelayanan.

3. Peralatan
Peralatan yang dipergunakan dalam survei sumber timbulan, komposisi dan
karakteristik sampah disesuaikan dengan SNI No 19-3964-1994 tentang Metode
Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan.

4. Cara Pengerjaan
Persiapan
Dalam persiapan survei sumber timbulan, komposisi dan karakteristik sampah
perlu dilakukan persiapan sebagai berikut:
- Siapkan surat pengantar yang diperlukan dalam pelaksanaan survei lapangan;

Bagian C Lampiran 88
- Siapkan formulir lapangan yang digunakan untuk menyusun data yang
dibutuhkan agar mempermudah pelaksanaan pengumpulan data di
lapangan;
- Siapkan peta lokasi, topografi, geologi, hidrogeologi dan data sekunder yang
diperlukan;
- Siapkan tata cara survei dan manual mengenai peralatan yang dipakai;
- Interpretasi peta dan data mengenai lokasi yang akan disurvei;
- Siapkan estimasi lamanya survei dan jadwal pelaksanaan survei serta
perkiraran biaya yang diperlukan;
- Usulkan jadwal pelaksanaan survei kepada pemberi tugas;
- Cek ketersediaan peralatan dan perlengkapan yang akan digunakan di
lapangan.

Pelaksanaan Survei dan Pengkajian


a. Pelaksanaan survei timbulan, komposisi dan karakteristik sampah:
- Pastikan sumber timbulan yang akan disurvei;
- Ambil sampel sampah sesuai dengan SNI No 19-3964-1994 tentang
Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi
Sampah Perkotaan;
Penentuan jumlah sample kepala keluarga (KK)yang representatif
mewakili suatu wilayah permukiman ditentukan berdasarkan persamaan
berikut :
Jumlah contoh jiwa/sampel : S = CdPs

S = jumlah contoh (jiwa)


Cd= koefisien perumahan
Cd= 1 (koia besar/metropolitan), 0,5 (kota sedang dan kecil)
Ps = Populasi (jiwa
Jumlah KK yang diamati K = S/N
K = jumlah contoh (KK)
N = Jumlah jiwa per keluarga = (5)
- Uji kualitas sampah untuk mendapatkan komposisi dan karakteristik
sampah
b. Pengkajian hasil survei timbulan, komposisi dan karakteristik sampah:
- kaji timbulan sampah untuk mengetahui laju timbulan sampah;
- kaji timbulansampah untuk mendapatkan komposisi dan karakteristik
sampah.

Bagian C Lampiran 89
C-03 :

KRITERIA TEKNIS
SURVEY DAN PENGKAJIAN DEMOGRAFI
DAN KETATAKOTAAN

1. Ketentuan Umum
Ketentuan umum tata cara ini adalah:
Dilaksanakan oleh tenaga ahli dengan pengalaman minimal 5 tahun dalam
bidang demografi dan ketatakotaan.
Tersedia surat yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan;
Tersedia data statistik sampai dengan 10 tahun terakhir yang terdiri dari:
- statistik penduduk;
- kepadatan penduduk;
- persebaran penduduk;
- migrasi penduduk per tahun;
- penduduk usia sekolah.
Tersedia peta yang memperlihatkan kondisi fisik daerah yang di studi;
Tersedia studi yang ada mengenai ketatakotaan.

2. Ketentuan Teknis
Kependudukan
Ketentuan teknis untuk tata cara survei dan pengkajian demografi
adalah:
- Wilayah sasaran survei harus dikelompokan ke dalam kategori wilayah
berdasarkan jumlah penduduk sebagai berikut:

Tabel Kategori Wilayah


No. Kategori Wilayah Jumlah Penduduk (jiwa) Jumlah Rumah (buah)
1 Kota Metropolitan > 1.000.000 > 200.000
2 Kota Besar 500.000 1.000.000 100.000 200.000
3 Kota Sedang 100.000 500.000 20.000 100.000
4 Kota Kecil 10.000 100.000 2.000 20.000
5 Desa 3.000 10.000 600 2.000

- Cari data jumlah penduduk awal perencanaan.


- Tentukan nilai persentase pertambahan penduduk per tahun (r).
- Hitung pertambahan nilai penduduk sampai akhir tahun perencanaan dengan
menggunakan salah satu metode arithmatik, geometrik, dan least squre;
Pn Po + Ka (Tn To)
Namun, metode yang biasa digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS)
adalah Metode Geometrik.

Bagian C Lampiran 90
- Rumus perhitungan proyeksi jumlah penduduk:
o Metoda Arithmatik
Pn P0 + K a (Tn T0 )
Pa P1
Ka =
T2 T 1
Dimana:
Pn = Jumlah penduduk pada tahun ke n;
P0 = Jumlah penduduk pada tahun dasar;
Tn = Tahun ke n;
T0 = Tahun dasar;
K a = Konstanta arithmatik;
P1 = Jumlah penduduk yang diketahui pada tahun ke I;
P2 = Jumlah penduduk yang diketahui pada tahun terakhir;
T1 = Tahun ke I yang diketahui;
T2 = Tahun ke II yang diketahui.

o Metode Geometrik
Pn = P0 (1+r)n
Dimana:
Pn = Jumlah penduduk pada tahun ke n;
P0 = Jumlah penduduk pada tahun dasar;
r = laju pertumbuhan penduduk
n = Jumlah interval tahun

o Metode Least Square


= a + bX

Dimana:
= Nilai variabel berdasarkan garis regresi;
X = Variabel independen;
a = Konstanta;
b = Koefisien arah regresi linear

Adapun persamaan a dan b adalah sebagai berikut:

a = Y. X2 - X. Y
n. X2 (X)2

o Metode Trend Logistic


o Untuk menentukan pilihan rumus proyeksi jumlah penduduk yang
akan digunakan dengan hasil perhitungan yang paling mendekati
kebenaran harus dilakukan analisis dengan menghitung standar
deviasi atau koefisien korelasi yang paling kecil.
o Rumus standar deviasi dan koefisien korelasi adalah sebagai berikut:
a. Standar Deviasi
b. Koefisien Korelasi

Bagian C Lampiran 91
Ketatakotaan
Ketentuan teknis untuk survei dan pengkajian ketatakotaan adalah
- Ada sumber daya baik alam maupun bukan alam yang dapat mendukung
penghidupan dan kehidupan di kota yang akan di survei
- Ada prasarana perkotaan yang merupakan titik tolak arah pengembangan
penataan ruang kota

3. Cara Pengerjaan
Persiapan
Pekerjaan persiapan untuk tata cara ini adalah sebagai berikut:
- Siapkan data sekunder
- Lakukan studi pendahuluan dengan data sekunder yang telah terkumpul
- Buat rencana survei yang diperlukan

Cara pengerjaan
- Survei demografi
o Siapkan surat izin untuk ke kelurahan
o Kumpulkan data dari kelurahan yang bersangkutan
o Catat jumlah per kelurahan
- Ketatakotaan
o Lakukan peninjauan lapangan untuk membandingkan tata guna tanah
berdasarkan peta dari dinas tata kota dengan tata guna tanah
sesungguhnya
o Gambarkan di atas peta lokasi daerah perumahan, perdagangan,
perkantoran, industri, fasilitas sosial dan pendidikan yang ada;
o Gambarkan diatas peta jalan baru, yang sedang dan akan dibuat (bila
ada).

Pengkajian
- Pengkajian Demografi
o Hitung mundur jumlah penduduk per tahun untuk tahun- tahun
sebelumnya dengan menggunakan metoda aritmatik, geometrik dan
least square dengan menggunakan data jumlah penduduk tahun terakhir;
o Hitung standar deviasi masing-masing hasil perhitungan mundur tersebut
terhadap data penduduk eksisting, nilai standar deviasi terkecil dari tiga
perhitungan di atas adalah paling mendekati kebenaran;
o Gunakan metoda yang memperlihatkan standar deviasi terkecil untuk
menghitung proyeksi jumlah penduduk.

- Pengkajian Ketatakotaan
o Pelajari rencana induk kota yang bersangkutan dan rencana tata ruang
wilayah yang diperoleh dari Bappeda Kabupaten/Kota;
o Lakukan evaluasi terhadap rencana tata ruang wilayah dengan
membandingkan peta tata guna tanah yang diperoleh dari Dinas Tata
Kota dengan peta yang dibuat berdasarkan peninjauan lapangan;
o Lakukan peninjauan kembali terhadap rencana tata ruang wilayah
apabila terjadi penyimpangan tata guna tanah yang cukup besar.
Peninjauan kembali meliputi: peruntukan tanah dan luasnya;
kepemilikan tanah;jenis bangunan; konsentrasi daerah niaga;

Bagian C Lampiran 92
penyebaran daerah pemukiman; peruntukan daerah industri; peruntukan
daerah perkantoran.
o Buat pembahasan hasil peninjauan kembali rencana tata ruang
wilayah yang bersangkutan berikut kesimpulan dan sarannya.
C-04 :

KRITERIA TEKNIS
SURVEI DAN PENGKAJIAN BIAYA,
SUMBER PENDANAAN DAN KEUANGAN

Ketentuan Teknis

Survei dan pengkajian biaya, sumber pendanaan dan keuangan dalam pelaksanaannya
merupakan perolehan data lapangan yang akan digunakan dalam analisis keuangan.
Data lapangan yang diperlukan adalah sebagai berikut:

1. Perolehan Data Eksisting Penyelenggaraan Prasaran dan Sarana sampah dan Data
Statistik;
2. Perolehan Data Pelanggan;
3. Perolehan Data Penagihan Retribusi;
4. Perolehan Data Timbulan Sampah;
5. Perolehan Data Personil;
6. Perolehan Data Laporan Keuangan;
7. Perolehan Data Kemampuan Sumber Pendanaan Daerah;
8. Perolehan Data Kemampuan Masyarakat;
9. Perolehan Data Peluang Adanya KPS;
10. Perolehan Data Alternatif Sumber Pembiayaan.

Kuestioner

A. IDENTITAS RESPONDEN
1. No Responden :
2. Nama (opsional) :
3. Usia :
4. Alamat
Kota :
Kecamatan :
Kelurahan :
RW :
RT :
Nomor Telepon (opsional) :
5. Lama Tinggal :
6. Tingkat Pendidikan
a. Tinggi
b. Menengah
c. Rendah

B. STATUS SOSIAL EKONOMI


7. Pendidikan Responden
a. Tidak sekolah f. SMA (tidak tamat)

Bagian C Lampiran 93
b. SD (tidak tamat) g. SMA (tamat)
c. SD (tamat) h. Universitas/Akademik (tidak tamat)
d. SMP (tidak tamat) h. Universitas/Akademik (tamat)
e. SMP (tamat)
8. Pekerjaan utama kepala keluarga
a. Petani f. Profesional (dokter, pengacara, arsitek)
b. Pedagang g. supir
c. PNS, Tentara, Guru h. Buruh/kuli
d. Pegawai swasta i. pensiunan
e. Jasa sektor informal Lain-lain (sebutkan)

9. Pekerjaan sampingan kepala keluarga


a. Petani f. Profesional (fotografer, dll)
b. Pedagang g. Supir
c. PNS, tentara, guru h. Buruh/kuli
d. Pegawai swasta i. Tidak ada pekerjaan sampingan
e. Jasa sektoral informal

10. Rata-rata pendapatan perbulan


(seluruh pendapatan dari pekerjaan utama dan sampingan, juga bantuan dari
keluarga rutin tiap bulan)
a. < Rp. 500.000
b. Rp. 500.000 Rp. 2.000.000
c. > Rp. 2.000.000

11. Rata-rata pengeluaran tiap bulan


(seluruh pengeluaran seperti pendidikan, transportasi, listrik, air, kesehatan,
pakaian, rekreasi, pajak, dll)
a. < Rp. 500.000
b. Rp. 500.000 2.000.000
c. > Rp. 2.000.000

12. Kondisi tempat tinggal


a. Permanen
b. Semi permanen
c. Non permanen

13. Status kepemilikan rumah


a. Rumah pribadi c. Rumah keluarga
b. Rumah dinas d. sewaan

14. Harga tanah


Rp.

15. Bagaimanakah pola penyewaan lahan di wilayah sekitar

16. Bagaimana kondisi keamanan di wilayah sekitar

C. KONDISI PENGELOLAAN SAMPAH


17. Bagaimanakah kondisi lingkungan anda, khususnya persampaha di rumah anda
a. Bersih dan rapih
b. Kotor dan sedikit terdapat sampah
c. Terlalu banyak sampah yang tidak terangkut

Bagian C Lampiran 94
18. Siapakah yang mengumpulkan sampah di rumah anda
a. RT/RW d. dikelola oleh pemilik gedung
b. Dinas Kebersihan e. lain-lain (sebutkan)
c. Swasta
19. Berapa kali sampah dikumpulkan (frekuensi)
a. Tiap hari e. Sekali seminggu
b. 5 kali dalam seminggu f. Kurang dari sekali seminggu
c. 3 kali dalam seminggu g. Tidak tahu
d. 2 kali dalam seminggu

20. Berapa iuran sampah anda per bulan


Rp.

21. Kemanakan sampah tersebut dibawa


a. TPS kemudian dikelola oleh Dinas Kebersihan
b. Hanya dibuang begitu saja
c. Tidak tahu

22. Apakah anda puas dengan pelayanan pengumpulan sampah di wilayah anda
a. Ya
b. Tidak
c. Tidak tahu

23. Jika tidak, kenapa


a. Sampah jarang diangkut
b. Pengumpulan sampah selalu terlambat
c. Pembuangan sampah yang ilegal (tidak terkelola) dan tidak dibawa ke TPA
d. Tidak ada lokasi pembuangan di TPS
e. Pengumpulan sampah tidak jelas
f. Lain-lain (sebutkan)

Tabel Hasil Survey


Tabel 1. Responden berdasarkan usia

No Usia Jumlah Persentase


1 < 20 Tahun
2 21-40 Tahun
3 41-60 Tahun
4 > 60 Tahun
Total

Tabel 2. Responden Tingkat Penghasilan

No Usia Jumlah Persentase


1 Tinggi

Bagian C Lampiran 95
2 Menengah
3 Rendah
Total
Tabel 3. Responden Pendidikan Formal

No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase


1 Tidak Sekolah
2 SD
3 SMP
4 SMA
5 Universitas/Akademi
Total

Tabel 4. Responden Jenis Pekerjaan

No Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase


1 Petani
2 Pedagang
3 PNS, tentara, guru
4 Pegawai swasta
5 Jasa sektor informal
6 Profesional (dokter, pengacara, dll)
7 Supir
8 Buruh
9 Pensiunan
10 Lain-lain (wirausaha)
Total

Tabel 5. Responden berdasarkan rata-rata pendapatan per-bulan

No Rata-rata Pendapatan Jumlah Persentase


1 < Rp. 500.000
2 Rp. 500.000 - Rp. 2.000.000
3 > Rp. 2.000.000
Total

Tabel 7. Responden berdasarkan rata-rata pengeluaran per-bulan

No Rata-rata Pengeluaran Jumlah Persentase


1 < Rp. 500.000

Bagian C Lampiran 96
2 Rp. 500.000 - Rp. 2.000.000
3 > Rp. 2.000.000
Total
Tabel 8. Responden berdasarkan kondisi tempat tinggal

No Kondisi tempat tinggal Jumlah Persentase


1 Permanen
2 Semi-permanen
3 Non-permanen
Total

Tabel 9. Responden berdasarkan status tempat tinggal

No Kondisi tempat tinggal Jumlah Persentase


1 Rumah Pribadi
2 Rumah Dinas
3 Rumah Keluarga
4 Sewaan
Total

Tabel 10. Responden berdasarkan jumlah anggota keluarga

No Jumlah Anggota Keluarga Jumlah Persentase


1 1-3
2 4-5
3 6
Total

Tabel 10. Responden berdasarkan lama tinggal

No Lam Tinggal (tahun) Jumlah Persentase


1 < 10
2 11 40
3 > 41
Total

Bagian C Lampiran 97
C-05:
DEFINISI OPERASIONAL
STANDAR PELAYANAN MINIMAL

PENGELOLAAN SAMPAH

1. Tersedianya Fasilitas Pengurangan Sampah di Perkotaan


a. Pengertian
1) Pengurangan sampah adalah meliputi kegiatan pembatasan timbulan
sampah, pendaurulangan sampah dan/atau pemanfaatan kembali sampah.
2) Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam
yang berbentuk padat
3) Sumber sampah adalah asal timbulan sampah
4) Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-
hari dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.
5) Pengelolaan Sampah sejenis sampah rumah tangga adalah sampah rumah
tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan
khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya
6) Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

b. Definisi Operasional
Setiap sampah yang dikumpulkan dari sumber ke tempat pengolahan sampah 3R,
yang selanjutnya dipilah sesuai jenisnya, digunakan kembali, didaur ulang, dan
diolah secara optimal, sehingga pada akhirnya hanya tersisa residu sampah.

c. Cara Perhitungan
SPM pengurangan sampah di perkotaan adalah persentase jumlah penduduk
yang dilayani melalui kegiatan pengurangan volume sampah (3R) terhadap
jumlah total penduduk perkotaan.

SPM = (A/B) x 100%

Dimana:
A = jumlah penduduk yang dilayani melalui kegiatan pengurangan volume
sampah (jiwa)
B = jumlah total penduduk perkotaan (jiwa)

Bagian C Lampiran 98
A=CxD

Dimana:

C= jumlah fasilitas 3R di kota tersebut (unit)


D= penduduk terlayani per fasilitas 3R (jiwa/unit)

Contoh Perhitungan:
Jika kota A pada akhir tahun SPM memiliki fasilitas pengurangan sampah 3R
sebanyak 13 unit. Dimana setiap unit fasilitas pengurangan sampah mampu
melayani penduduk sebanyak 1.000 jiwa, maka jumlah penduduk yang dilayani
melalui fasilitas pengurangan sampah adalah

= 13 unit x 1.000 jiwa/unit = 13.000 jiwa

Jika jumlah penduduk kota A sampai akhir tahun pencapaian SPM adalah
sebanyak 60.000 jiwa.

Maka SPM pengurangan sampah pada akhir tahun pencapaian adalah


= (13.000 jiwa/60.000 jiwa) x 100% = 21,67 %
Artinya kota A tersebut telah memenuhi SPM pada akhir tahun pencapaiannya
karena perhitungan SPM melebihi SPM target.

d. Sumber Data

Data primer terkait jumlah fasilitas pengurangan volume sampah perkotaan


(3R) yang dikeluarkan oleh dinas yang membidangi pengelolaan sampah.

Data primer terkait jumlah penduduk yang dilayani oleh masing-masing


fasilitas pengurangan volume sampah perkotaan yang dikeluarkan oleh
masing-masing pengelola fasilitas pengurangan volume sampah dan dinas
yang membidangi pengelolaan sampah

Data sekunder, maksimal 2 (dua) tahun terakhir, bersumber dari dokumen


Rencana Induk Sistem Persampahan (RIS Persampahan)/Perencanaan Teknis
Manajemen Persampahan (PTMP), hasil studi bidang persampahan yang
diakui oleh pemerintah, dan/atau BPS Daerah.

e. Rujukan

- Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah

Bagian C Lampiran 99
- Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2006 Tentang


Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan
Persampahan

- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2013 Tentang


Penyelenggaraan Prasarana Dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan
Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

f. Target

Nilai SPM Pengurangan Sampah di perkotaan adalah 20% untuk Tahun 2019.

g. Langkah kegiatan

Sosialisasi kepada masyarakat mengenai kegiatan pengurangan volume


sampah dalam suatu pengelolaan sampah yang terpadu.

Membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) melalui pemberdayaan


oleh fasilitator.

Memfasilitasi pembangunan prasarana dan sarana pengurangan volume


sampah berbasis masyarakat.

Mengidentifikasi lokasi fasilitas pengurangan volume sampah di perkotaan


sesuai dengan RTRW Kabupaten/Kota.

Menyiapkan rencana kelembagaan, teknis, operasional dan finansial untuk


fasilitas pengurangan volume sampah di perkotaan.

Membangun fasilitas pengurangan volume sampah di perkotaan untuk


mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA.

h. SDM

KSM yang melaksanakan kegiatan 3R berbasis masyarakat.

SDM Dinas yang membidangi pengelolaan sampah dan melaksanakan


kegiatan 3R berbasis institusi.

Bagian C Lampiran 100


2. Tersedianya Sistem Pengangkutan Sampah di Perkotaan

a. Pengertian

Pengangkutan sampah adalah membawa sampah dari sumber timbulan sampah


dan/atau tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan
sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir.

b. Definisi Operasional

Pelayanan pengangkutan sampah dilakukan dengan alat angkut sampah baik


untuk sampah terpilah maupun sampah tercampur, mulai dari sumber timbulan
sampah (rumah, perkantoran, pasar, dll), TPS 3R, TPS menuju tempat
pemrosesan akhir sampah (TPA). Pengangkutan sampah ke TPA dilakukan secara
berkala minimal 2 (dua) kali seminggu, dimana untuk jenis sampah mudah
terurai/organik minimal 2 (dua) hari sekali terangkut dari lingkungan
permukiman.

c. Cara Perhitungan

SPM pengangkutan sampah di perkotaan adalah persentase jumlah penduduk


yang dilayani melalui kegiatan pengangkutan sampah terhadap jumlah total
penduduk perkotaan. Yang dimaksud dengan penduduk perkotaan adalah
penduduk pada daerah pelayanan persampahan.

SPM = (A / B) x 100%

Dimana:
A = jumlah penduduk yang dilayani melalui kegiatan pengangkutan sampah
(jiwa)
B = jumlah total penduduk perkotaan (jiwa)

A = (C x 1.000 x D x E) / F

Dimana:
C = kapasitas kendaraan pengangkut (m3/unit)
D = jumlah ritasi (kali/hari)
E = jumlah truk (unit)
F = timbulan sampah (liter/jiwa/hari)

Bagian C Lampiran 101


Contoh Perhitungan:

Jika kota A telah melakukan pengangkutan sampah di beberapa wilayah kota.


Pada akhir tahun pencapaian SPM, memiliki kendaraan pengangkut berupa 10
unit motor sampah dengan kapasitas 1 m 3; 5 unit dump truck dengan kapasitas 6
m3; 2 unit armroll dengan kapasitas 8 m3, masing-masing dengan jumlah ritasi 2
kali/hari. Berdasarkan SNI, didapat jumlah timbulan sampah 2,65
liter/jiwa/hari.

A = ((10 unit x 1 m 3/unit x 2 kali/hari) + (5 unit x 6 m 3/unit x 2 kali/hari) + (2


unit x 8 m3/unit x 2 kali/hari)) x 1.000 / 2,65 liter/jiwa/hari

= 42.264 jiwa

Total penduduk daerah pelayanan sampah perkotaan sampai akhir tahun


pencapaian adalah 60.000 jiwa.

Maka SPM pengangkutan pada akhir tahun pencapaian adalah =

(42.264 jiwa/60.000 jiwa) x 100% = 70,44 %

Artinya kota A tersebut telah memenuhi SPM pada akhir tahun pencapaiannya
karena perhitungan SPM melebihi SPM target.

d. Sumber Data

- Data primer timbulan sampah berdasarkan SNI 19-3964-1994 tentang


Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi
Sampah Perkotaan.

- Data primer terkait pengangkutan sampah di daerah pelayanan sampah


perkotaan (jumlah dan kapasitas kendaraan pengangkut, ritasi
pengangkutan termasuk pengangkutan yang dilakukan oleh pihak swasta)
yang dikeluarkan dinas yang membidangi pengelolaan sampah.

- Data sekunder, maksimal 2 (dua) tahun terakhir, bersumber dari dokumen


Rencana Induk Sistem Persampahan (RIS Persampahan)/Perencanaan
Teknis Manajemen Persampahan (PTMP), hasil studi bidang persampahan
yang diakui oleh pemerintah, dan/atau BPS Daerah.

Bagian C Lampiran 102


e. Rujukan

- Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah

- Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem


Penyediaan Air Minum

- Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah


Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2006 Tentang


Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan
Persampahan

- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2013 Tentang


Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan
Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

- SNI 19-3964-1994 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh


Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan

f. Target

Nilai SPM Pengangkutan Sampah adalah 70% untuk Tahun 2019.

g. Langkah kegiatan

- Menentukan daerah pelayanan persampahan perkotaan

- Menentukan rencana tahapan pelayanan persampahan perkotaan

- Menghitung jumlah kendaraan yang dibutuhkan sesuai dengan rencana


pelayanan

- Melakukan pengangkutan sampah minimal 2 kali seminggu

- Melakukan pengangkutan sampah mudah terurai/organik minimal 2 (dua)


hari sekali

- Melakukan pengangkutan residu dari TPS 3R secara berkala

- Melakukan pengangkutan dengan aman, sampah tidak boleh berceceran ke


jalan saat pengangkutan (gunakan jaring, mengangkut sampah sesuai
kapasitas kendaraan)

Bagian C Lampiran 103


- Melakukan pembersihan dan perawatan berkala untuk kendaraan untuk
mencegah karat yang diakibatkan lindi dari sampah yang menempel di
kendaraan

h. SDM

SDM dinas yang membidangi pengelolaan sampah.

3. Tersedianya Sistem Pengoperasian Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)


Sampah

a. Pengertian

Tempat pemrosesan akhir adalah tempat untuk memroses dan mengembalikan


sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan.

Sistem pengoperasian TPA meliputi pengoperasian TPA, pengolahan lindi, dan


penanganan gas.

Metode Lahan Urug Terkendali (controlled landfill) adalah metode pengurugan di


areal pengurugan sampah, dengan cara dipadatkan dan ditutup dengan tanah
penutup sekurang-kurangnya setiap tujuh hari. Metode ini merupakan metode
yang bersifat antara, sebelum mampu menerapkan metode lahan urug saniter.

Metode Lahan Urug Saniter (sanitary landfill) adalah metode pengurugan di


areal pengurugan sampah yang disiapkan dan dioperasikan secara sistematis,
dengan penyebaran dan pemadatan sampah pada area pengurugan serta
penutupan sampah setiap hari.

b. Definisi Operasional

TPA dioperasikan minimal secara controlled landfill untuk kota kecil/sedang,


dan minimal secara sanitary landfill untuk kota besar/metropolitan.

SPM Pengoperasian TPA sampah adalah ketentuan tentang jenis dan mutu
pelayanan dasar sektor persampahan kepada masyarakat dan lingkungan oleh
pemerintah daerah melalui kegiatan pemrosesan akhir sampah. Hal ini
dinyatakan dalam frekuensi penutupan sel sampah (40%), kualitas pengolahan
lindi (40%), dan penanganan gas (20%).

c. Cara Perhitungan

Bagian C Lampiran 104


SPM Pengoperasian TPA sampah adalah frekuensi penutupan sel sampah (40%),
kualitas pengolahan lindi (40%), dan penanganan gas (20%).

Koefisien Pengoperasian TPA Kota Kecil/Sedang


Open dumping = 0,0
Controlled landfill = 1,0
Koefisien Pengoperasian TPA Kota Besar/Metropolitan
Open dumping = 0,0
Controlled landfill = 0,5
Sanitary landfill = 1,0
Koefisien Kualitas Pengolahan Lindi
Efluen tidak memenuhi baku mutu = 0,0
Efluen memenuhi baku mutu = 1,0
Koefisien Penanganan Gas
Tidak ditangani/tidak ada pipa pengumpul gas = 0,0
Ditangani hanya melalui pipa pengumpul gas = 0,5
Ditangani dengan dikumpulkan dan dibakar/dimanfaatkan = 1,0

SPM = (A x 40%) + (B x 40%) + (C x 20%)

Dimana:
A = Koefisien pengoperasian TPA
B = Koefisien kualitas pengolahan lindi
C = Koefisien penanganan gas

Contoh Perhitungan:

Jika kota A adalah sebuah kota besar yang telah mengoperasikan TPA dengan
melakukan penutupan sel sampah setiap 7 hari sekali (controll landfil). Setelah
melalui pemeriksaan laboratorium, kualitas efluen lindi memenuhi baku mutu.
Gas dikumpulkan melalui pipa pengumpul dan dilepaskan ke udara.

SPM = (0,5 x 40%) + (1,0 x 40%) + (0,5 x 20%) = 70%

Maka nilai SPM Pengoperasian TPA adalah 70%.

Bagian C Lampiran 105


Artinya kota A tersebut telah memenuhi SPM pada akhir tahun pencapaiannya
karena perhitungan SPM sama dengan SPM target.

d. Sumber Data

- Data primer terkait pengoperasian TPA (frekuensi penutupan dan


pemadatan sel sampah, hasil pemeriksaan laboratorium efluen lindi, sistem
perpipaan penangkapan dan pemanfaatan gas) yang dikeluarkan oleh
instansi yang membidangi pengoperasian TPA.

- Data sekunder, maksimal 2 (dua) tahun terakhir, bersumber dari dokumen


Rencana Induk Sistem Persampahan (RIS Persampahan)/Perencanaan Teknis
Manajemen Persampahan (PTMP), hasil studi bidang persampahan yang
diakui oleh pemerintah, dan/atau BPS Daerah.

e. Rujukan

- Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah

- Peraturan Daerah terkait Baku Mutu Efluen dan/atau Peruntukan Badan Air

- Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem


Penyediaan Air Minum

- Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah


Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2006 Tentang


Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan
Persampahan

- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2013 Tentang


Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan
Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

- Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 1995 tentang Baku


Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri

f. Target
Nilai SPM Pengoperasian TPA adalah 70% untuk Tahun 2019.

g. Langkah kegiatan

- Mengoperasikan TPA sesuai dengan SOP, terutama dalam hal:

Bagian C Lampiran 106


1. Menghitung volume dan/atau berat sampah yang masuk ke TPA

2. Membuat perencanaan zonasi penimbunan sampah (sel harian/sel


mingguan/sel bulanan)

3. Memeriksa kualitas efluen lindi ke laboratorium yang tersertifikasi


secara berkala (minimal 1 bulan sekali) dan/atau pada saat perubahan
cuaca yang signifikan

4. Penangkapan dan pemanfaatan gas

- Penyempurnaan terhadap SOP apabila diperlukan

h. SDM
SDM institusi yang membidangi pengoperasian TPA.

Bagian C Lampiran 107


C-06 :

KRITERIA TEKNIS
PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR PERMUKIMAN
PADA SAAT TANGGAP DARURAT PENANGGULANGAN BENCANA

Penanggulangan bencana merupakan suatu rangkaian kegiatan yang bersifat


reventif, penyelamatan, dan rehabilitatif yang harus diselenggarakan secara
koordinatif, komprehensif, serentak, cepat, tepat, dan akurat melibatkan lintas
sektor dan lintas wilayah sehingga memerlukan koordinasi berbagai instansi terkait
dengan penekanan pada kepedulian publik dan mobilisasi masyarakat.
Bantuan pemenuhan kebutuhan dasar permukiman pada saat tanggap darurat
penanggulangan bencana diberikan dalam bentuk air bersih/air minum, sanitasi, dan
tempat penampungan sementara dengan memperhatikan standar minimal kebutuhan
dasar.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat meliputi:
1. Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan dan sumber daya,
2. penentuan status keadaan darurat bencana
3. penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana,
4. pemenuhan kebutuhan dasar,
5. Perlindungan terhadap kelompok rentan, dan
6. pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.

Maksud : sebagai panduan bagi pemangku kepentingan yang menangani bidang


permukiman dalam melaksanakan pernberian bantuan pada saat tanggap darurat
guna memenuhi kebutuhan dasar permukiman berupa tempat penampungan
sementara, air bersih / air minum dan sanitasi secara efektif dan efisiensi.

Tujuan : pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar permukiman yang meliputi


tempat penampungan sementara, air bersih / air minum dan sanitasi adalah
terpenuhinya pemberian bantuan kebutuhan dasar permukiman berupa air bersih /
air minum, sanitasi dan tempat penampungan sementara kepada korban secara
tepat, dan dapat dipertanggung jawabkan selama masa tanggap darurat.

Pengertian
1. Kebutuhan dasar permukiman adalah dasar air bersih/air minum, sanitasi dan
tempat penampuangan sementara.

Bagian C Lampiran 108


2. Prosedur Teknis pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar permukiman
adalah langkah langkah teknis yang diperlukan untuk dapat memenuhi
kebutuhan dasar permukiman secara capat, tepat termasuk pemulihan dengan
segera (perbaikan darurat) sarana dana prasarana vital (air minum).
3. Tata cara pemberian bantuan adalah mekanisme atau prosedur yang
menghubungkan antara pemberi bantuan dan penerima bantuan pada suatu
situasi kebencanaan.
4. Tempat penampungan sernentara adalah tempat tinggal sementara selama
korban bercana mengungsi, baik berupa. tempat penampungan massal maupun
keluarga, atau individual.
5. Air bersih adalah air yang kualitasnya memadai untuk diminum serta digunakan
bagi kebersihan pribadi dan rumah tangga untuk korban bencana di tempat
penampungan sementara, tanpa menyebabkan risiko yang berarti terhadap
kesehatan.
6. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau
tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung
diminum.
7. Sanitasi adalah usaha untuk menjamin dan meningkatkan penyehatan
lingkungan dalam suatu kawasan permukiman, termasulk pengumpulan,
pengolahan, dan pembuangan air hujan, air limbah, dan sampah (RUU Sanitasi)
8. Standar Minimal Kebutuhan Dasar Tanggap Darurat Permukiman adalah tingkat
minimal yang harus dipenuhi dalarn pemenuhan kebutuhan tempat
penampungan sementara, air bersih/air minum dan sanitasi.

Prinsip
1. Cepat dan Tepat
Cepat dan Tepat adalah bahwa dalam pemberian bantuan pemenuhan
kebutuhan dasar dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan tututan
keadaan.
2. Prioritas
Prioritas adalah bahwa pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar harus
diutamakan kepada kelompok renta.
3. Koordinasi dan Keterpaduan
Koordinasi adalah bahwa dalarn pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan
dasar, didasarkan pada koordinasi yang baik dan saling mendukung, keterpaduan
adalah bahwa pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar dilaksanakan
oleh berbagai sektor secara terpadu yang didasarkan pada kerjasama yang baik
dan saling mendukung.
4. Berdaya Guna dan Berhasil Guna
Berdaya guna adalah pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar dilakukan
dengan tidak membuang waktu, tenaga dan biaya yang berlebihan, berhasil
guna adalah bahwa pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar harus
berhasil guna, khususnya dalam mengatasi kesulitan korban bencana dengan
tidak
5. Transparansi dan Akuntabilitas
Transparansi adalah bahwa pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar
dilakukan secara terbulka dan dapat dipertanggungjawabkan, akuntabilitas
adalah bahwa pemberian bantuan pernenuhan kebutuhan dasar dilakukan secara
terbuka dan dapat dipertanggung jawabkan secara etika dan hukum.
6. Kemitraan
Kemitraan adalah bahwa pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar harus
melibatkan berbagai pihak secara seimbang.
7. Pemberdayaan

Bagian C Lampiran 109


Pemberdayaan adalah bahwa pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar
dilakukan dengan melibatkan korban bencana secara aktif.

Standar Minimal Pemenuhan Kebutuhan Dasar Tanggap Darurat Permukiman


Sanitasi
Diberikan dalam bentuk pelayanan kebersihan dan kesehatan lingkungan yang
berkaitan dengan saluran air (drainase), pengelolaan air limbah dan limbah padat,
pengendalian vektor.
Standar Minimal Bantuan:
1. Tempat sampah berukuran 100 (seratus) liter untuk 10 (sepuluh) keluarga, atau
barang lain dengan jumlah yang setara.
2. Penyemprotan vektor dilakukan sesuai kebutuhan.
3. Penyediaan satu jamban digunakan maksimal untuk 2O (dua puluh)orang.
4. Jarak jamban dan penampungan kotoran minimal 30 meter dari sumber air
bawah tanah.
5. Dasar penampungan kotoran minimal 1,5 meter di atas air tanah, pembuangan
limbah cair dari jamban tidak merembes ke sumber air baik sumur maupun
mata air lainnya, sungai dan sebagainya.
6. Jarak terjauh jamban dengan tempat penampungan sementara adalah 50 meter.
7. Penyediaan tempat yang digunakan untuk mencuci pakaian dan peralatan rumah
tangga paling banyak digunakan untuk 100 orang.
8. Penyediaan saluran air untuk mencegah genangan air.

Kesiapsiagaan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Permukiman Saat Tanggap Darurat


Sanitasi
Prasarana dan sarana sanitasi meliputi pengelolaan limbah padat/persampahan,
pengelolaan limbah cair/cair limbah, dan drainase.
1. Prasarana dan sarana limbah padat/persampahan.
Secara teknis/fisik prasarana dan sarana limbah padat/persampahan untuk
memenuhi kebutuhan dasar bagi korban bencana tergantung pada;
- Jumlah, lokasi, situasi dan kondisi para korban berada/ditempatkan.
- Alternatif pewadahan, alat pengumpul dan alat angkutan, disesuaikan
dengan kebutuhan dan standar pelayanan minimal Yang telah ditetapkan.
- Diperlukan Tempat Pengolahan Akhir (TPA) yang sedapat mungkin
memanfaatkan TPA yang ada terdekat.
2. Prasarana dan sarana limbah cair/air limbah
Secara teknis/fisik prasarana dan sarana limbah cair/air limbah untuk
memenuhi kebutuhan dasar bagi korban bencana tergantung pada:
- Jumlah, lokasi, situasi dan kondisi hunian para korban berada/ditempatkan.
- Alternatif piliihan bangunan atas prasarana dan sarana limbah cair/air limbah
dapat berupa wc knock down, wc portable, wc darurat komunal, yang
masing-masing memerlukan bangunan bawah. WC mobile yang tidak
memerlukan bangunan bawah umumnya digunakan di daerah perkotaan atau
lokasi pengungsian yang memanfaatkan gedung/fasilitas umum.
- Untuk pengoperasian prasarana dan sarana limbah cair/air limbah tersebut di
atas diperlukan secara periodik/sesuai kebutuhan mobil tinja, atau biority,
atau peralatan sejenis dan IPLT yang terdekat.
3. Prasarana dan Sarana drainase
Secara teknis/fisik prasarana dan sarana drainase untuk memenuhi kebutuhan
dasar bagi para korban bencana tergantung pada:
- Lokasi, luasan, situasi, dan kondisi dimana para korban bencana berada
/ditempatkan.

Bagian C Lampiran 110


- Lokasi, situasi dari saluran sekunder dan primer.

Standar Peralatan Tanggap Darurat Pemanfaatannya

Jenis Peralatan dan Prasyarat


NO Fungsi / Manfaat
Kapasitas Pemanfaatan/keteranagan
SANITASI
1 Tempat Sampah (100L) Pewadahan sampah per Diangkut setiap 2 (dua) hari
10 keluarga
2 Dump truck (6m3) Pengangkut sampah ke Ada TPA sementara atau TPA
TPA yang ada
3 Arm Roll (6m3) Pengangkut sampah TPA Ada TPA sementara atau TPA
yang ada
4 Wheel Loader (3,5) Membersihkan puing sisa bencana
5 WC Portable Lokasi tempat Perlu bangunan bawah kecuali
penampungan wc mobile dan movable
WC Knock Down
pengungsi
WC Mobile dan Movable
6 WC Darurat Komunal (per set 2 WC 40 jiwa)
7 Tangki septic biotic (0,5- Pengolah limbah
1m3) untuk 2 WC
Knock down portable
8 Mobil tinja (3m3) Penguras tangki septic Ada akses jalan
9 Pompa banjir Mengurangi genangan
600L/Mnt(Alcon) Membersihkan saluran / sumur penduduk Mendekatkan air
bersih/air minum ke lokasi pengungsian

Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
kemungkinan terjadinya bencana agar dapat memenuhi kebutuhan dasar
permukiman saat tanggap darurat secara cepat dan tepat.
Kesiapsiagaan ini diutamakan pada provinsi, kabupaten/kota yang rawan bencana
dengan melakukan inventarisasi sumber daya pendukung kedaruratan.
Kesiapsiagaan ini dilaksanakan secara terkaordinasi oleh BNPB atau BPBD dengan
melibatkan lintas instansi Vang menangani bidang permukiman d! daerah antara lain
Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kebersihan Kabupaten/Kota, Perusahaan Daerah Air
Minurn (PDAM), Satuan Kerja dilingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya.
Kegiatan kesiapsiagaan ini antara lain:

Bagian C Lampiran 111


1. Menginventarisasi surnber daya kedaruratan.
2. Penyiapan dukungan dan mobilisasi sumber daya/logistik.
3. Penyusunan rencana kontinjensi (contingency plan) yaitu Rencana Kesiapsiagaan
untuk menghadapi keadaan darurat yang didasarkan atas skenario menghadapi
bencana tertentu (single hazard) antara lain gunung meletus, banjir DKI.

Kesiapsiagaan pernenuhan kebutuhan dasar permukiman meliputi:


Untuk sarana dan prasarana sanitasi
1. Melakukan inventarisasi sistem utama baik prasarana dan sarana limbah
padat/sampah (antara lain TPS, TPA), prasarana dan sarana limbah cair/air
limbah (IPLT, sewerage) dan drainase (saluran primer dan sekunder).
2. Inventarisasi peralatan yang tersedia baik di tingkat nasional, provinsi dan
kabupaten/kota yang bersangkutan maupun yang ada disekitarnya, antara lain
WC knock down,WC portable, WC mobile, WC movable, mobil tinja, pewadahan
sampah, pompa banjir.

Penyelenggaraan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Permukiman Tanggap Darurat


Penanggulangan Bencana
a. Pengorganisasian
Pengorganisasian atau tata cara pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan
dasar dikoordinasikan oleh BNPS atau BPBD sesuai dengan tingkatan bencana,
melalui sistem kornando Tanggap Darurat Bencana. Berdasarkan hasil penilaian
cepat atau rapid assessment. BNPB menentukan jenis dan jumlah kebutuhan
dasar yang diperiukan untuk disampaikan kepada pihak yang akan memberikan
bantuan.
Pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar permukiman dilaksanakan oleh
Tirn Pelaksa na Pernberi Bantuan yang dipimpin oleh seorang koordiriator
lapangan yang dibantu oleh petugas teknis air bersih, sanitasi dan tenda. Tim
pelaksana pemberi bantuan dapat berasal dari instansi pernerintah yang telah
dilatih dan merniliki; keterampilan sesuai kebutuhan.
Kegiatan pencatatan dan pelaporan yang berkaitan dengan mekanisme
pemberian bantuan mulai dari setiap tahap didokumentasikan ataU dicatat
dalarn suatu dokumen sebagai bukti pertanggungjawaban. Jangka waktu
pemberian bantuan pernenuhan kebutuhan dasar permukiman disesuaikan
dengan masa tanggap darurat bencana.
b. Pelaksanaan Teknik/fisik
Pelaksanaan fisik pemenuhan kebutuhan dasar permukiman dimulai segera
setelah Satuan Reaksi Cepat memberikan data mengenai penilaian kebutuhan
(need assessment) berupa :
Lokasi dan jumlah korban bencana
Jenis dan jumlah kebutuhan dasar yang diperlukan
Perkiraan jangka waktu pemberian bantuan tanggap darurat
Prasarana dan Sarana Sanitasi
Prasarana dan sarana sanitasi yang dibangun/disediakan, disesuaikan dengan
kondisi dan kebutuhan lapangan disetiap lokasi memanfaatkan peralatan yang
ada dan mempertimbangkan kecepatan penyelesaiannya secara bertahap,
dengan mengutamakan efektilitas.
1. Prasarana dan sarana limbah padat/persampahan Prasarana dan sarana
limbah padat/persampahan yang perlu dibangun/disediakan meliputi:
- Pewadahan
- Pengumpulan/TPS

Bagian C Lampiran 112


- Pengangkutan
- Tempat pengelolaan akhir (TPA)
Alternatif yang dibangun/disediakan adalah :
Pewadahan Pengumpulan Pengangkutan TPA Keterangan
1. Tempat/tong 1. TPS 1. Truk 1. TPA yang ada *) untuk lokasi
sampah atau terdekat gedung fasilitas
2. Gerobak 2. Drum Truck
umum.
2. Kantong plastik 2. TPA
3. Becak motor 3. Compactor
sementara Pelayanan
3. Bak sampah Truck
4. Kontainer pengumpulan
4. Container minimal 3 (tiga)
truck hari sekali
Pemilihan alternatif tergantung ketersediaan peralatan/barang. Prinsipnya efektifitas,
kecepatan baru efisiensi

Operasi Dan Pemeliharaan


DaIam memenuhi kebutuhan dasar permulkiman tanggap darurat, setelah prasarana
dan sarananya selesai dibangun/disediakan maka kegiatan operasi dan pemeliharaan
sangat penting dan menentukan agar dapat berfungi sesuai dengan yang
direncanakan.
Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan dilakukan dengan:
1. Menyiapkan standar operasi dan perneliharaan (SOP) dan Instrulksi Kerja (IK)
yang jelas dan lengkap dari setiap unit/bagian prasarana dan sarana
permukiman.
2. Menyiapkan tenaga operator dan penanggungjawab.
3. Menyiapkan pendanaan yang diperlukan.
Rincian mengenai petunjuk operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana
pemenuhan kebutuhan dasar permukiman dapat dilihat dalam lampiran.

Monitoring Dan Evaluasi


Untuk pemenuhan kebutuhan dasar permukiman tanggap darurat, perlu monitoring
dan evaluasi terhadap pelaksanaan lisik pemenuhan kebutuhan dasar permukiman.
Monitoring dilakukan melalui:
1. Pemantauan secara berkala
2. Supervisi melalui pengamatan sekaligus pembinaan untuk perbaikan serta
peningkatan pelaksanaan.
3. Evaluasi merupakan serangkaian prosedur untuk menilai kegiatan, untuk
memperoleh informasi tentang keberhasilan pencapaian tujuan, aktilitas, hasil
dan dampak serta biayanya yang dilakukan dengan membandingkan antara
rencana dan realisasi dengan standar yang diharapkan.

Bagian C Lampiran 113


C-07
KRITERIA TEKNIS
PERENCANAAN TPA SAMPAH

Kriteria Teknis Perencanaan TPA Sampah

BAB I
DESKRIPSI

1. Ruang lingkup

Kriteria Teknis ini memuat pengertian, ketentuan-ketentuan dan cara pengerjaan


dalam melaksanakan pekerjaan perencanaan pembuangan akhir sampah,
meliputi:
1) Menghitung timbulan sampah yang akan dibuang ke TPA.
2) Merencanakan luas kebutuhan lahan TPA berdasarkan jumlah sampah yang masuk
ke TPA, minimal untuk masa pakai 7 tahun.
3) Merencanakan sarana / prasarana TPA yang dibutuhkan berdasarkan kelayakan
teknis, ekonomis dan lingkungan, meliputi :
(1) Fasilitas umum (jalan masuk, pos jaga, saluran drainase, pagar, listrik, alat
komunikasi
(2) Fasilitas perlindungan lingkungan (lapisan dasar kedap air, pengumpul lindi,
pengolahan lindi, ventilasi gas dan sumur uji)
(3) Fasilitas penunjang (air bersih, jembatan timbang dan bengkel).
(4) Fasilitas operasional (buldozer, escavator, wheel/track loader, dump truck
pengangkut tanah).
4) Memperkirakan timbulan lindi
5) Memperkirakan timbulan gas methan
6) Merencanakan tahapan konstruksi TPA sampai dengan tahap air
7) Merencanakan pengoperasian TPA sampah :
(1) Rencana pembuatan sel harian
(2) Rencana penyediaan tahap penutup
(3) Rencana operasi penimbunan/pemadatan sampah
(4) Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai peraturan yang
berlaku.
8) Merencanakan kegiatan operasi / pemeliharaan dan pemanfaatan bekas lahan
TPA.

2. Pengertian

Bagian C Lampiran 114


Yang dimaksud dengan :
1) Sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan zat
anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak
membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan.
2) Sampah perkotaan adalah sampah yang timbul akibat aktifitas di kota tidak
termasuk sampah berbahaya dan beracun.
3) Timbulan sampah adalah banyaknya sampah yang dihasilkan perorang perhari
dalam satuan volume maupun berat.
4) Pengangkutan sampah adalah tahap membawa sampah dari lokasi pemindahan
atau langsung dari sumber sampah menuju ke tempat pembuangan akhir.
5) Pengolahan sampah adalah suatu upaya untuk mengurangi volume sampah atau
merubah bentuk menjadi sesuatu yang bermanfaat, antara lain dengan cara
pembakaran, pengomposan, pemadatan, penghancuran, pengeringan dan pendaur
ulangan.
6) Tempat pembuangan akhir adalah sesuai dengan SNI 03-3241-1994, tentang
tatacara pemilihan lokasi TPA.

BAB II
KETENTUAN-KETENTUAN

1. Umum

1) Pemilihan lokasi TPA sampah perkotaan harus sesuai dengan ketentuan yang ada
(SNI 03-3241-1994 tentang tata cara pemilihan lokasi TPA).
Perencanaan TPA sampah perkotaan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut
:
(1) Rencana pengembangan kota dan daerah, tata guna lahan serta rencana
pemanfaatan lahan bekas TPA.
(2) Kemampuan ekonomi Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat, untuk
menentukan teknologi sarana dan prasarana TPA yang layak secara ekonomis,
teknis dan lingkungan
(3) Kondisi fisik dan geologi seperti topografi, jenis tanah, kelulusan tanah,
kedalaman air tanah, kondisi badan air sekitarnya, pengaruh pasang surut,
angin, iklim, curah hujan, untuk menentukan metode pembuangan akhir
sampah.
(4) Rencana pengembangan jaringan jalan yang ada, untuk menentukan rencana
jalan masuk TPA.
(5) Rencana TPA di daerah lereng agar memperhitungkan masalah kemungkinan
terjadinya longsor.
1) Tersedianya biaya operasi dan pemeliharaan TPA.
2) Sampah yang dibuang ke TPA harus telah melalui pengurangan volume sampah
(program 3M) sedekat mungkin dari sumbernya.
3) Sampah yang dibuang di lokasi TPA adalah hanya sampah perkotaan tidak dari
industri, rumah sakit yang mengandung B3.
4) Kota-kota yang sulit mendapatkan lahan TPA di wilayahnya, perlu melaksanakan
model TPA regional serta perlu adanya institusi pengelola kebersihan yang
bertanggung jawab dalam pengelolaan TPA tersebut secara memadai.

2. Teknis

1) Metode pembuangan
Metode pembuangan akhir sampah pada dasarnya harus memenuhi prinsip teknis
berwawasan lingkungan sebagai berikut :

Bagian C Lampiran 115


(1) Di kota raya dan besar harus direncanakan sesuai metode lahan urug saniter
(sanitary landfill) sedangkan kota sedang dan kecil minimal harus
direncanakan metode lahan urug terkendali (controlled landfill).
(2) Harus ada pengendalian lindi, yang terbentuk dari proses dekomposisi
sampah tidak mencemari tanah, air tanah maupun badan air yang ada.
(3) Harus ada pengendalian gas dan bau hasil dekomposisi sampah, agar tidak
mencemari udara, menyebabkan kebakaran atau bahaya asap dan
menyebabkan efek rumah kaca. Harus ada pengendalian vektor penyakit.
2) Sarana dan prasarana TPA
Sarana dan prasarana TPA yang dapat mendukung prinsip tersebut di atas adalah
sebagai berikut :
(1) Fasilitas umum (jalan masuk, kantor / pos jaga, saluran drainase dan pagar.
(2) Fasilitas perlindungan lingkungan (lapisan kedap air, pengumpul lindi,
pengolahan lindi, ventilasi gas, daerah penyangga, tanah penutup)
(3) Fasilitas penunjang (air bersih, jembatan timbang dan bengkel)
(4) Fasilitas operasional (alat besar dan truk pengangkut tanah).
3) Perencanaan kebutuhan luas lahan dan kapasitas TPA
(1) Ditinjau dari daya tampung lokasi yang digunakan untuk TPA sebaiknya dapat
menampung pembuangan sampah minimum selama 5 tahun operasi. Daya
tampung tersebut dipengaruhi oleh metoda lahan urug yang digunakan,
kedalaman dasar TPA, ketinggian timbunan, volume sampah yang dibuang,
kepadatan sampah dan kemampuan pengurangan volume sampah di sumber.
(2) Perhitungan awal kebutuhan lahan TPA per tahun adalah sebagai berikut :
L = V x 300 x 0,70 x 1,15
T
Dimana;
L = luas lahan yang dibutuhkan setiap tahun (m2)
V = volume sampah yang telah dipadatkan (m3/hari)
V = A x E, dimana
A = volume sampah yang akan dibuang
E = tingkat pemadatan (kg/m3), rata-rata 600 kg/m3
T = ketinggian timbunan yang direncanakan (m)
15 % rasio tanah penutup
(3) Kebutuhan luas lahan tanah adalah :
H=LxIxJ
Dimana H = luas total lahan (m2)
L = luas lahan setahun
I = umur lahan (tahun)
J = ratio luas lahan total dengan luas lahan efektif 1,2
4) Rencana tapak
Dalam penentuan rencana tapak untuk lahan urug saniter dan lahan urug
terkendali,harus diperhatikan beberapa hal :
(1) Pemanfaatan lahan dibuat seoptimal mungkin sehingga tidak ada sisa lahan
yang tidak dimanfaatkan.
(2) Lokasi TPA harus terlindung dari jalan umum yang melintas TPA.
Hal ini dapat dilakukan dengan menempatkan pagar hidup di sekeliling TPA,
sekaligus dapat berfungsi sebagai zona penyangga.
(3) Penempatan kolam pengolahan lindi dibuat sedemikian rupa sehingga lindi
sedapat mungkin mengalir secara gravitasi.
(4) Penempatan jalan operasi harus disesuaikan dengan sel/blok
penimbunan,sehingga semua tumpukan sampah dapat dijangkau dengan
mudah oleh truk dan alat besar.

5) Perencanaan sarana dan prasarana TPA

Bagian C Lampiran 116


(1) Fasilitas umum
a) Jalan masuk
Jalan masuk TPA harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Dapat dilalui kendaraan truk sampah dari 2 arah
b. Lebar jalan 8 m, kemiringan permukaan jalan 2 3 % kearah saluran
drainase, tipe jalan kelas 3 dan mampu menahan beban perlintasan
dengan tekanan gandar 10 ton dan kecepatan kendaraan 30 km/jam
(sesuai dengan ketentuan Ditjen Bina Marga)

(2) Jalan operasi


Jalan operasi yang dibutuhkan dalam pengoperasian TPA terdiri dari 2 jenis,
yaitu :
b) Jalan operasi penimbunan sampah, jenis jalan bersifat temporer, setiap saat
dapat ditimbun dengan sampah.
c) Jalan penghubung antar fasilitas, yaitu kantor/pos jaga bengkel, tempat
parkir, tempat cuci kendaraan. Jenis jalan bersifat permanen.

(3) Bangunan penunjang


Bangunan penunjang ini adalah sebagai pusat pengendalian kegiatan di TPA
baik teknis maupun administrasi, dengan ketentuan sebagai berikut :
Luas bangunan kantor tergantung pada lahan yang tersedia dengan
mempertimbangkan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain
pencatatan sampah, tampilan rencana tapak dan rencana pengoperasian TPA,
tempat cuci kendaraan, kamar mandi/wc, dan gudang.

(4) Drainase
Drainase TPA berfungsi untuk mengurangi volume air hujan yang jatuh pada
area timbunan sampah. Ketentuan teknis drainase TPA ini adalah sebagai
berikut :
a) Jenis drainase dapat berupa drainase permanen (jalan utama, disekeliling
timbunan terakhir, daerah kantor, gudang, bengkel, tempat cuci) dan
drainase sementara (dibuat secara lokal pada zone yang akan dioperasikan).
b) Kapasitas saluran dihitung dengan persamaan manning.

Q = 1/n.A.R 2/3.S1/2
Dimana : Q = debit aliran air hujan (m3/det)
A = Luas penampang basah saluran (m2)
R = jari-jari hidrolis (m)
S = kemiringan
N = konstanta
c) Pengukuran besarnya debit dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
D = 0,278 C. I.A (m 3 / det),
Dimana : D = debit
C = angka pengaliran
I = intensitas hujan maksimum (mm/jam)
A = luas daerah aliran (km2)

Gambar potongan melintang drainase dapat dilihat pada gambar 2.5.


(5) Pagar

Bagian C Lampiran 117


Pagar yang berfungsi untuk menjaga keamanan TPA dapat berupa pagar
tanaman sehingga sekaligus dapat juga berfungsi sebagai daerah penyangga
setebal 5 m.
(6) Papan nama
Papan nama berisi nama TPA, pengelola, jenis sampah dan waktu kerja.
6) Fasilitas perlindungan lingkungan
(1) Pembentukan dasar TPA
a) Lapisan dasar TPA harus kedap air sehingga lindi terhambat meresap
kedalam tanah dan tidak mencemari air tanah.
Koefisien pemebilitas lapisan dasar TPA harus lebih kecil dari 10 6 cm/det
b) Pelapisan dasar kedap air dapat dilakukan dengan cara melapisi dasar TPA
dengan tanah lempung yang dipadatkan (30 cm x 2) atau geomembrance
setebal 5 mm.
c) Dasar TPA harus dilengkapi saluran pipa pengumpul lindi dan kemiringan
minimal 2 % kearah saluran pengumpul maupun penampung lindi.
d) Pembentukan dasar TPA harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan
urutan zona/blok dengan urutan pertama sedekat mungkin ke kolam
pengolahan lindi.
7) Saluran pengumpul lindi
Saluran pengumpul lindi terdiri dari saluran pengumpul sekunder dan primer
(1) Kriteria saluran pengumpul sekunder adalah sebagai berikut :
a) Dipasang memanjang ditengah blok/zona penimbun
b) Saluran pengumpul tersebut menerima aliran dari dasar lahan dengan
kemiringan minimal 2 %
c) Saluran pengumpul terdiri dari rangkaian pipa PVC.
(2) Kriteria saluran pengumpul primer :
Menggunakan pipa PVC berlubang (untuk pipa ke bak pengumpul lindi tidak
berlubang saluran primer dapat dihubungkan dengan hilir saluran sekunder
oleh bak kontrol, yang berfungsi pula sebagai ventilasi yang dikombinasikan
dengan pengumpul gas vertikal.
(3) Syarat pengaliran lindi adalah :
Gravitasi
Kecepatan pengaliran 0,6 3 m/det
Kedalaman air dalam saluran / pipa (d/D) maksimal 80 %, dimana d = tinggi
air dan D= diameter pipa.
(4) Perhitungan disain debit lindi adalah menggunakan model atau dengan
perhitungan yang didasarkan atas asumsi-asumsi.
Hujan terpusat pada 4 jam sebanyak 90% (Van Breen), sehingga faktor puncak
= 5,4. Maksimum hujan yang jatuh 20 30% diantaranya menjadi lindi. Dalam
1 bulan, maksimum terjadi 20 hari hujan.
Data presipitasi diambil berdasarkan data harian atau tahunan maksimum
dalam 5 tahun terakhir.

a) Penampung lindi
Lindi yang mengalir dari saluran primer pengumpul lindi dapat ditampung
pada bak penampung lindi dengan kriteria teknis sebagai berikut :
a. Bak penampung lindi harus kedap air dan tahan asam
b. Ukuran bak penampung disesuaikan dengan kebutuhan.
b) Pengolahan lindi
Netralisasi lindi dapat dilakukan dengan cara resirkulasi atau pengolahan
secara biologis. Pengolahan secara biologis dilakukan secra bertahap,
dimulai dari kolam anaerob, fakultatif, maturasi penyaringan biologi
(biofilter) dan penyaringan sendiri (landtreatment).

Bagian C Lampiran 118


Kriteria teknis pengolahan lindi seperti tertera pada tabel 2.6.

Tabel 2.6. Kriteria teknsi pengolahan lindi


Proses Pengolahan
N
Kriteria Stabilisasi / Biofilter/landreat
o Anaerobik Maturasi
Fakultatif m
1 Fungsi Menurunkan Mengurangi Menyaring efluen
kadar kadar sebelum dibuang
BOD yang mikroorganis ke badan air
relatif me
tinggi (>
1000 ppm)
2 Kedalaman 2,5 5 m 12m 1M 2M
3 Penyisihan 50 85 % 70 80 % 60 89 % 50 %
BOD
4 Waktu 20 50 hari 12 33 hari 7 10 hari 3 5 hari
Detensi
5 Bahan Pasangan Pasangan Pasangan Batu kerikil, ijuk,
Batu Batu Batu pasir, tanaman
(rumput gajah
dan eceng
gondok)
Catatan : kapasitas minimal biofilter 5000 m3/Ha/th.

8) Ventilasi gas
Ventilasi gas yang berfungsi untuk mengalirkan dan mengurangi akumulasi
tekanan gas mempunyai kriteria teknis :
(1) Pipa ventilasi dipasang dari dasar TPA secara bertahap pada setiap lapisan
sampah dan dapat dihubungkan dengan pipa pengumpul lindi
(2) Pipa ventilasi gas berupa pipa PVC diamter 150 mm ( o lubang maksimum 1,5
cm) dan berlubang yang dikelilingi oleh saluran bronjong bierdiameter 400
mm dan diisi batu pecah diameter 50 100 mm
(3) Ketinggian pipa ventilasi tergantung pada rencana tinggi timbunan (setiap
lapisan sampah ditambah 50 cm).
(4) Pipa ventilasi pada akhir timbunan harus ditambah dengan pipa besi diameter
150 mm
(5) Gas yang keluar dari ujung pipa besi harus dibakar atau dimanfaatkan sebagai
energi alternatif.
(6) Jarak antara pipa ventilasi gas 50 100 mm

9) Penutupan tanah
Tanah penutup dibutuhkan untuk mencegah sampah berserakan, bahaya
kebakaran, timbulnya bau, berkembang biaknya lalat atau binatang pengerat dan
mengurangi timbulan lindi.
(1) Jenis tanah penutup adalah tanah yang tidak kedap
(2) Periode penutupan tanah harus disesuaikan dengan metod pembuangannya,
untuk lahan urug saniter penutupan tanah dilakukan setiap hari, sedangkan
untuk lahan urug terkendali penutupan tanah dilakukan secara berkala.
(3) Tahapan penutupan tanah untuk lahan urug saniter terdiri dari penutupan
tanah harian (setebal 15 20 cm), penutupan antara (setebal 30 40 cm) dan
penutupan tanah akhir (setebal 50 100 cm, tergantung rencana peruntukan
bekas TPA nantinya).

Bagian C Lampiran 119


(4) Kemiringan tanah penutup harian harus cukup untuk dapat mengalirkan air
hujan keluar dari atas lapisan penutup tersebut.
(5) Kemiringan tanah penutup akhir hendaknya mempunyai grading dengan
kemiringan tidak lebih dari 30 derajat ( perbandingan 1 : 3 ) untuk
menghidari terjadinya erosi:
a) Diatas tanah penutup akhir harus dilapisi dengan tanah media tanam
(top soil/vegetable earth).
b) Dalam kondisi sulit mendapatkan tanah penutup, dapat digunakan
reruntuhan bangunan, sampah lama atau kompos, debu sapuan jalan,
hasil pembersihan saluran sebagai pengganti tanah penutup.

10) Daerah penyangga/zone penyangga


Daerah penyangga dapat berfungsi untuk mengurangi dampak negatif yang
ditimbulkan oleh kegiatan pembuangan akhir sampah terhadap lingkungan
sekitarnya. Daerah penyangga ini dapat berupa jalur hijau atau pagar tanaman
disekeliling TPA, dengan ketentuan sebagai berikut :
(1) Jenis tanaman adalah tanaman tinggi dikombinasi dengan tanaman perdu
yang mudah tumbuh dan rimbun.
(2) Kerapatan pohon adalah 2 5 m untuk tanaman keras.
(3) Lebar jalur hijau minimal.

11) Sumur uji


Sumur uji ini berfungsi untuk memantau kemungkinan terjadinya pencemaran
lindi terhadap air tanah disekitar TPA dengan ketentuan sebagai berikut :
(1) Lokasi sumur uji harus terletak pada area pos jaga (sebelum lokasi
penimbunan sampah), dilokasi sekitar penimbunan dan pada lokasi setelah
penimbunan.
(2) Penempatan lokasi harus tidak pada daerah yang akan tertimbun sampah
(3) Kedalaman sumur 20 25 m dengan luas 1 m2

12) Alat besar


Pemilihan alat besar harus mempertimbangkan kegiatan pembuangan akhir
seperti pemindahan sampah, peralatan, pemadatan sampah dan
penggalian/pemindahan tanah.
(1) Bulldozer
(2) Landfill compactor
(3) Wheel / track loader
(4) Excavator

13) Fasilitas penunjang


(1) Jembatan timbang
Jembatan timbang berfungsi untuk menghitung berat sampah yang masuk ke
TPA dengan ketentuan sebagai berikut :
a) Lokasi jembatan timbang harus dekat dengan kantor / pos jaga dan
terletakv pada jalan masuk TPA.
b) Jembatan timbang harus dapat menahan beban minimal 5 ton
c) Lebar jembatan timbang minimal 3,5 m.
(2) Air bersih
Fasilitas air bersih akan digunakan terutama untuk kebutuhan kantor,
pencucian kendaraan (truck dan alat berat), maupun fasilitas TPA lainnya.
Penyediaan air bersih ini dapat dilakukan dengan sumur bor dan pompa.

Bagian C Lampiran 120


(3) Bengkel / Hangar
Bengkel/garasi/hangar berfungsi untuk menyimpan dan atau memperbaiki
kendaraan atau alat besar yang rusak. Luas bangunan yang akan
direncanakan harus dapat menampung 3 kendaraan.
Peralatan bengkel minimal yang harus ada di TPA adalah peralatan untuk
pemeliharaan dan kerusakan ringan.

BAB III
CARA PENGERJAAN

Langkah-langkah pengerjaan perencanaan TPA meliputi cara pengumpulan dan


pengolahan data serta cara merencanakan TPA.

1. Cara pengumpulan data

Lakukan pengumpulan data yang perlu disediakan atau dikumpulkan meliputi :


1) Data umum kondisi daerah studi
Umumnya berasal dari data sekunder dan yang ada relevansinya dengan
perancangan TPA:
(1) Aspek fisik : geografi, tofografi regional, geomorfologi,
litologi/stratigafi, struktur geologi, meteorologi, hidrologi/hidrogeologi.
(2) Aspek tata ruang dan tata guna tanah.
(3) Aspek administrasi, demografi dan ekonomi meliputi status kota, batas
administrasi, jumlah penduduk, kepadatan penduduk, laju pertumbuhan,
kemampuan daerah, pendapatan masyarakat.
(4) Aspek prasarana dan sarana kota seperti jaringan jalan, perumahan,
fasilitas umum, fasilitas komersial, fasilitas sosial.
2) Data sistem pengelolaan persampahan secara umum

Data sistem pengelolaan persampahan dapat berasal dari studi terdahulu,


wawancara langsung dan observasi lapangan, yang meliputi :
(1) Aspek institusi (bentuk organisasi, struktur organisasi, jumlah dan kualitas
personil).
(2) Aspek teknis operasional :
a) Timbulan sampah
b) Tingkat pelayanan dan daerah pelayanan
c) Komposisi dan karakteristik sampah
d) Pola operasional dari sumber sampah sampai ke TPA
e) Sarana dan prasarana yang ada
(3) Aspek pembiayaan
a) Biaya pengelolaan per tahun (APBD II)
b) Biaya investasi
c) Biaya penerimaan retribusi dan tarif retribusi
3) Data existing penanganan akhir sampah

Bagian C Lampiran 121


Data kondisi pembuangan akhir sampah yang ada saat ini, yang mencakup :
(1) Data primer
Data dari hasil penelitian di lapangan, yang meliputi :
a) Pola operasi pembuangan sampah
b) Volume sampah yang dibuang ke TPA (8 hari pengamatan)
c) Kondisi operasional sarana dan prasarana TPA yang ada
d) Kegiatan pemulungan sampah di TPA
e) Kualitas lindi (sampling dan analisa di laboratorium)
f) Kondisi pencemaran yang ada.
(2) Data sekunder
Data studi terdahulu, meliputi :
a) Situasi lokasi (lengkap dengan peta)
b) Kondisi geologi/hidrogeologi
c) Sarana dan Prasarana TPA

4) Data calon lokasi TPA yang akan direncanakan


Pengumpulan data kondisi calon lokasi TPA yang akan digunakan untuk
tempat pembuangan akhir sampah, harus dilakukan melalui survey, analisa
laboratorium dan dari data sekunder atau hasil penelitian terdahulu. Data
tersebut meliputi :
(1) Jarak ke pemukiman terdekat, pusat kota, badan air atau mata air,
airport atau daerah wisata.
(2) Topografi
(3) Jenis dan struktur tanah
(4) Kedalaman muka air tanah
(5) Arah aliran air tanah
(6) Kualitas air tanah
(7) Kondisi/kualitas badan air
(8) Kondisi flora (jenis tanaman dan kerapatan) dan fauna

2. Cara pengolahan data

Lakukan pengolahan data tersebut di atas dasar-dasar perencanaan pada bab I :


(1) Proyeksi volume sampah sesuai dengan masa perencanaan atau umur teknis
TPA (minimal 5 tahun)
(2) Pembuatan peta topografi lokasi TPA (pada peta skala 1 : 1000) yang dapat
digunakan untuk menentukan rencana tapak dan pembagian zone
penimbunan.
(3) Evaluasi dan analisis data geohidrologi dan data lainnya yang dapat
digunakan untuk menentukan metode penimbunan dan penggalian dasar TPA.
(4) Analisis data kerapatan dan jenis flora / fauna yang dapat digunakan untuk
menentukan rencana pembersihan lahan
(5) Analisis data curah hujan yang dapat digunakan untuk merencanakan proses
pengolahan lindi
(6) Analisis data curah hujan yang dapat digunakan untuk menentukan debit lindi
dan merencanakan saluran drainase
(7) Analisis data komposisi dan karakteristik sampah yang dapat digunakan untuk
mengetahui potensi pemanfaatan dan pengurangan volume sampah dalam
rangka penghematan lahan TPA.
(8) Analisis tingkat kemampuan pendanaan Pemda pendapatan masyarakat yang
dapat digunakan untuk menentukan kelengkapan sarana dan prasarana TPA.

3. Cara menyusun perencanaan

Bagian C Lampiran 122


1) Perencanaan tapak TPA
(1) Lakukan penyusunan tata letak fasilitas TPA dan areal penimbunan
sampahsesuai dengan topografi. Sebagai contoh kantor TPA harus dekat
dengan jalan masuk, kolam pengolahan lindi harus terletak di daerah
yang paling rendah (lindi dapat mengalir secara gravitasi)
(2) Lakukan pembagian areal penimbunan sampah berdasarkan sistem zone/
blok / sel seperti terlihat pada gambar 3.1. Untuk lokasi TPA berupa
daerah cekungan, areal penimbunan sampah harus dimulai dari bawah.
(3) Buat gambar detail mengenai tata letak TPA tersebut dengan skala 1 :
1000.

2) Perencanaan konstruksi dasar TPA


(1) Rencanakan pembersihan lahan TPA
(2) Rencana dasar TPA termasuk penggalian lahan sampai 3 m diatas tinggi
muka air tanah, pemadatan tanah dan pelapisan dasar TPA dengan
lapisan kedap air.
(3) Rencanakan penggunaan tanah lempung sebagian lapisan kedap air
setebal 30 cm x 2 atau geomemrane / geotextile (apabila sulit
mendapatkan tanah lempung).
(4) Buat gambar detail balik gambar potongan memanjang maupun potongan
melintang dengan skala 1 : 500

3) Perencanaan metode pembuangan akhir


(1) Rencanakan metode pembuangan berdasarkan kondisi topografi dan
kedalaman muka air tanah.
(2) Untuk tanah datar dengan muka air tanah dalam, gunakan trench
methode, untuk tanah cekung gunakan pit methode.
(3) Untuk tanah datar dengan muka air tanah rendah gunakan ramp / slope
method atau area methode.

4) Perencanaan kapasitas lahan


(1) Rencanakan kebutuhan dan kapasitas lahan berdasarkan perhitungan
volume sampah, ketinggian timbunan yang direncanakan, kepadatan
sampah dan penyusutan timbunan sampah akibat proses dekomposisi
sampah.
(2) Hitung rencana kebutuhan lahan selama masa perencanaan berdasarkan
rumus pada ketentuan 2.2.3).(2).

5) Perencanaan sarana / prasarana TPA


(1) Fasilitas umum
a) Rencanakan fasilitas umum (jalan masuk, jalan operasi, kantor/pos
jaga, saluran drainase dan pagar sesuai ketentuan 2.2.5) (1)
b) Buat gambar detail mengenai fasilitas umum yang direncanakan
tersebut pada kertas A1 dan skala 1 : 1500.
(2) Fasilitas perlindungan lingkungan
a) Pengumpulan dan pengolahan lindi
(a) Lakukan perhitungan debit lindi dengan memperhitungkan luas
areal penimbunan, curah hujan, kondisi temperatur dengan rumus
yang sesuai dengan ketentuan 2.2.5).(2).
(b) Rencanakan jaringan pengumpul karpet kerikil termasuk dimensi
pipa pengumpul lindi dan pembawa lindi sesuai dengan ketentuan
2.2.5).(2)

Bagian C Lampiran 123


(c) Rencanakan pemasangan karpet kerikil diatas pipa pengumpul
lindi kurang lebih 20 cm.
(d) Rencanakan pembuatan bak kontrol dan bak penampung lindi
sesuai dengan ketentuan 2.2.5).(2).
(e) Rencanakan sistem pengolahan lindi dengan memperhitungkan
luas lahan yang tersedia, debit dan kualitas lindi, kualitas efluen
yang disyaratkan, sesuai dengan ketentuan 2.2.5).(2).
(f) Rencanakan dimensi kolah pengolahan lindi dengan
memperhitungkan debit lindi, waktu detensi dan efisiensi
penurunan BOD.
(g) Rencanakan pemasangan pipa inlet yang menuju kolam
pengolahan harus selalu berada diatas muka air.
(h) Buat gambar detail mengenai jaringan pengumpul lindi, pipa
pengumpul lindi, karpet kerikil, bak kontrol dan kolam pengolah
lindi baik potongan memanjang maupun melintang dengan skala 1
: 100.

b) Ventilasi gas
(a) Rencanakan pemasangan pipa ventilasi gas yang dimulai dari dasar TPA
dan berhubungan dengan pipa pengumpul lindi dengan
mempertimbangkan ketersediaan bahan setempat dan sesuai dengan
ketentuan 2.2.5).(2).
(b) Rencanakan dimensi pipa ventilasi, jarak antar pipa dan teknik
pemasangan pipa pada setiap lapisan sampah sesuai dengan ketentuan
2.2.5).(2).
(c) Rencanakan pembakaran gas disetiap ujung pipa untuk menghindari
efek rumah kaca, kecuali apabila gas tersebut akan dimanfaatkan
sebagai sumber energi alaternatif, maka harus direncanakan
pengumpulan gas dan pengolahannya.
(d) Buat gambar detail mengenai pipa ventilasi gas yang dikelilingi oleh
bronjong bambu berisi batu kerikil baik potongan melintang maupun
memanjang dengan skala 1 : 100.

c) Perencanaan penutupan tanah


(a) Rencanakan penutupan timbunan tanah sesuai dengan ketentuan
2.2.5).(2).
(b) Hitung kebutuhan tanah penutup selama TPA dioperasikan

d) Perencanaan kebutuhan alat besar


Rencanakan kebutuhan alat besar sesuai dengan ketentuan 2.2.5).(2).

e) Perencanaan sumur uji


Rencanakan pembuatan sumur uji sesuai dengan ketentuan 2.2.5).(2).
Sebanyak 4 unit sumur dan dilengkapi dengan gambar lokasi perletakan
sumur uji serta gambar detail sumur uji.

f) Perencanaan zona penyangga


Rencanakan pembuatan zona penyangga sesuai dengan ketentuan
ketentuan 2.2.5).(2) dan dilengkapi dengan gambar serta jumlah dan
jenis tanaman yang akan digunakan sebagai penyangga.

(3) Fasilitas penunjang

Bagian C Lampiran 124


Rencanakan pembuatan fasilitas penunjang (jembatan timbang, air
bersih, bengkel/hangar dan lain-lain) sesuai dengan ketentuan 2.2.5).
(2).

SNI 03-3241-1994 Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah

C-09 :

KRITERIA TEKNIS
TATA CARA PEMILIHAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH
( SNI 03-3241-1994 )

BAB I
DESKRIPSI

a. Maksud dan Tujuan

i. Maksud

Tata Cara Permilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah ini dimaksudkan
untuk dijadikan pegangan dan acuan bagi perencana dalarn memilih lokasi
tempat pembuangan akhir sampah di suatu wilayah.

ii. Tujuan

Tujuan tata cara ini adalah untuk menentukan lokasi tempat pembuangan akhir
sampah.

b. Ruang Lingkup

Tata cara ini memuat persyaratan, ketentuan teknis dan cara pengerjaan di
dalam memilih dan menentukan lokasi tempat pembuangan akhir sampah.

c. Pengertian

Yang dimaksud dengan:


1) tempat pembuangan akhir sampah adalah sarana fisik untuk
berlangsungnyakegiatan pembuangan akhir sampah, yang selanjutnya disebut
TPA;
2) Pembuangan akhir sampah adalah tempat untuk menyingkirkan/

Bagian C Lampiran 125


mengkarantinakan sampah kota sehingga aman;
3) Sampah pcrkotaan adalah sampah non B2 (sampah berbahaya) dan non B3
(bahan berbahaya beracun).
(1) perumahan;
(2) kantor, sekolah, rumah sakit dan sejenisnya, gedung-gedung umum
lainnya;
(3) pasar, pertokoan, bioskop, restoran dll;
(4) pabrik/industri;
(5) penyapuan jalan, taman, lapangan;
(6) pemotongan hewan, kandang hewan;
(7) bongkaran bangunan;
(8) instalasi pengolahan sampah;
4) zona penyangga adaiah zona penahan yang berfungsi untuk mengurangi
akibat dan gangguan-gangguan misalnya bau, kebisingan, dan sebagainya;
5) habitat adalah tempat hidup suatu organisme;
6) habitat kritis adalah tempat hidup suatu organisme yang kritis;
7) bahaya geologi adalah daerah bencana;
8) holocene fault adalah derah sesar yang masih aktif;
9) discharge area adalah daerah yang meluahkan air tanah ke atas permukaan
tanah/atmosfir;
10) recharge area adalah daerah yang menyerap dan meneruskan air sampai lajur
yang jenuh dalam aquifer;
11) batas hidrolis adalah batas area pengaruh pemompaan terhadap penurunan
muka air;
12) centroid sampah adalah titik teoritis yang dianggap merupakan titik sumber
sampah;

BAB II
PERSYARATAN PERSYARATAN

Pemilihan lokasi TPA sampah harus mengikuti persyaratan hukurn, ketentuan perundang-
undangan mengenai pengelolaan lingkungan hidup, analisis mengenai dampak
lingkungan, ketertiban umum, kebersihan kota/lingkungan, peraturan daerah tentang
pengelolaan sampah dan perencanaan tata ruang kota serta peraturan peraturan
pelaksanaannya.

BAB III
KETENTUAN KETENTUAN

3.1. Umum

Pemilihan lokasi TPA sampah harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:


1) TPA sampah tidak boleh berlokasi di danau, sungai dan laut;
2) Disusun berdasarkan 3 tahapan yaitu:
(1) Tahap regional yang merupakan tahapan untuk menghasilkan peta yang
berisi daerah atau tempat dalam wilayah tersebut yang terbagi menjadi
beberapa zona kelayakan;
(2) Tahap penyisih yang merupakan tahapan untuk menghasilkan satu atau
dua lokasi terbaik diantara beberapa lokasi yang dipilih dan zona-zona
kelayakan pada tahap regional;
(3) Tahap penetapan yang merupakan tahap penentuan lokasi terpilih oleh

Bagian C Lampiran 126


instansi yang berwenang;
3) Dalam hal suatu wilayah belum bisa memenuhi tahap regional, pemilihan
lokasi TPA sampah ditentukan berdasarkan skema pemilihan lokasi TPA
sampah ini dapat dilihat pada lampiran kriteria yang berlaku pada tahap
penyisih.

3.2. Kriteria

Kriteria pemilihan lokasi TPA sampah dibagi menjadi tiga bagian:


1) kriteria regional, yai[ kriteria yang digunakan untuk menentukan zona layak
atau zona tidak layak sebagai berikut:
(1) kondisi geologi.
a) tidak berlokasi di zona holocene fault;
b) tidak boleh di zona bahaya geologi
(2) kondisi hidrogeologi.
a) tidak boleh mempunyai muka air tanah kurang dan 3 meter;
b) tidak boleh kelulusan tanah lebih besar dan 10-6cm/det;
c) jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dan 100 meter di
hilir al iran;
d) dalarn hal tidak ada zona yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut
diatas, maka harus diadakan masukan teknologi;
(3) kemiringan zona harus kurang dan 20 %;
(4) jarak dan lapangan terbang harus lebih besar dan 3.000 meter untuk
penerbangan turbo jet dan harus Iebih besar dan 1.500 meter untuk jenis
lain;
(5) tidak boleh pada daerah lindung/cagar alam dan daerah banjir dengan
periode ulang 25 tahun;
2) kriteria penyisih yaitu kriteria yang digunakan untuk memilih lokasi terbaik
yaitu terdiri dan kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut:
(1) iklim
a) hujan : intensitas hujan makin kecil dinilai makin baik;
b) angin : arah angin dominan tidak menuju ke pemukiman dinilai makin
baik;
(2) utilitas : tersedia lebih lengkap dinilai makin baik;
(3) lingkungan biologis:
a) habitat: kurang bervariasi, dinilai makin baik;
b) daya dukung : kurang menunjang kehidupan flora dan fauna, dinilai
makin baik;

(4) kondisi tanah


a) produktifitas tanah : tidak produktif dinilai lebih tinggi;
b) kapasitas dan umur : dapat menampung lahan lebih banyak dan lebih
lama dinilai lebih baik;
c) ketersediaan tanah penutup: mempunyai tanah penutup yang cukup,
dinilai lebih baik;
d) status tanah : makin bervariasi dinilai tidak baik;
(5) demografi : kepadatan penduduk lebih rendah, dinilai makin baik;
(6) batas administrasi : dalam batas administrasi dinilai semakin baik;
(7) kebisingan : semakin banyak zona penyangga dinilai semakin baik;
(8) bau : semakin banyak zona penyangga dinilai semakin baik;
(9) estetika : semakin tidak terlihat dan luar dinilai semakin baik;
(10) Ekonomi : semakin kecil biaya satuan pengelolaan sampah (per
m /ton) dinilai semakin baik;
3

Bagian C Lampiran 127


Parameter dan bobot penilaian tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1

TABLE 1
PARAMETER PENYISIH

NO PARAMETER BOBOT NILAI


I UMUM
1 Batas Administrasi 5
- Dalam batas administrasi 10
- Di luar batas administrasi tetapi dalam satu sistem 5
pengelolaan TPA
- Di luar batas administrasi dan di luar system 1
pengelolaan TPA sampah terpadu
- Di luar batas administrasi 1
2 Pemilik hak atas tanah 3
- Pemerintah daerah / pusat 10
- Pribadi (satu) 7
- Swasta/perusahaan (satu) 5
- Lebih dan satu pemilik hak dan atau status 3
kepemilikan
- Organisasi social/agama 1
3 Kapasitas lahan 5
- > 10 tahun 10
- 5 Tahun 10 Tahun 8
- 3 Tahun 5 Tahun 5
- Kurang dari 3 Tahun 1
4 Jumlah pemilik Tanah 3
- Satu (1) kk 10
- 2-3 kk 7
- 4-5 kk 5
- 6-10 kk 3
- Lebih dan 10 kk 1
5 Partisipasi masyarakat 3
- Spontan 10
- Digerakan 5
- negosiasi 1
II LINGKUNGAN FISIK
1 Tanah (diatas muka air tanah) 5
- harga kelulusan < 10-9 cm/det 10
- harga kelululusan 10-9 cm/det - 10-6 cm/det
- Harga kelulusan > 10-5 cm/det Tolak (kecuali ada
masukan teknologi)
2 Air tanah 5
- 10 m dengan kelulusan <10-6 cm/det 10
- < 10 m dengan kelulusan <10-6 cm/det 8
- 10 m dengan kelulusan <10-6 cm/det - 10-4 3
cm/det 1
- < 10 m dengan kelulusan <10-6 cm/det - 10-4
cm/det
3 Sistem aliran air tanah 3
- discharge area/local 10
- recharge area dan discharge area local 5
- recharge area regional dan lokal 1

Bagian C Lampiran 128


NO PARAMETER BOBOT NILAI
4 Kaitan dengan pemanfaatan air tanah 3
- Kemungkinan pemanfaatan rendah dengan batas 10
hidrolis
- diproyeksikan untuk dimanfaatkan dengari batas 5
hidrolis
- diproyeksikan untuk dimanfaatkan tanpa batas 1
hidrolis
5 Bahaya banjir 2
- tidak ada bahaya banjir 10
- kemungkinan banjir > 25 tahunan 5
- kemungkinan banjir < 25 tahunan tolak (kecuali
ada masukan teknologi)
6 Tanah penutup 4
- tanah penutup cukup 10
- tanah penutup cukup sampai 1/2 umur pakai 5
- tanah penutup tidak ada 1
7 Intensitas hujan 3
- di bawah 500 mm per tahun 10
- antara 500 mm sampai 1000mm per tahun 5
- di atas 1000mm per tahun 1
8 Jalan menuju lokasi 5
- datar dengan kondisi baik 10
- datar dengan kondisi buruk 5
- naik/turun 1
9 Transport sampah (satu jalan) 5
- kurang dan 15 menit dan centroid sampah 10
- antara 16 menit - 30 menit dan centroid sampah 8
- antara 31 menit - 60 men it dan centroid sampah 3
- lebih dan 60 men it dan centroid sampah 1
10 Jalan masuk 4
- truk sampah tidak melalui daerah pemukiman 10
- truk sampah melalui daerah pemukiman
berkepadatan sedang ( < 3 0 0 jiwa/ha) 5
- truk sampah melalui daerah pemukiman
berkepadatan tinggi ( > 300 jiwa/ha) 1
11 Lalulintas 3
- terletak 500 m dan jalan umur 10
- terletak < 500 m pada lalu lintas rendah 8
- terletak < 500 m pada lalu lintas sedang 3
- terletak pada lalu lintas tinggi 1
12 Tata guna lahan 5
- mempunyai dampak sedikit terhadap tata guna 10
tanah sekitar
- mempunyai dainpak sedang terhadap tata guna 5
tanah sekitar
mempunyai dam pak besar trhadap tata guna 1
tanah sekitar
13 Pertanian 3
- berlokasi di lahan tidak produktif 10
- tidak ada dampak terhadap pertanian sekitar 5
- terdapat pengaruh negative terhadap pertanian 1
sekitar 1
- berlokasi di tanah pertanian produktif

Bagian C Lampiran 129


NO PARAMETER BOBOT NILAI
14 Daerah lindung/cagar alam 2
- tidak ada daerah lindung/cagar alam di sekitarnya 10
- terdapat daerah lindung/cagar alam disekitarnya
yang tidak terkena dampak negatif 1
- terdapat daerah lindung/cagar alam disekitarnya 1
terkena dampak negatif
15 Biologis 3
- nilai habitat yang rendah 10
- nilai habitat yang tinggi 5
- habitat kritis 1
16 Kebisingan, dan bau 2
- terdapat zona penyangga 10
- terdapat zona penyangga yang terbatas 5
- tidak terdapat penyangga 1
17 Estetika 3
- operasi penimbunan tidak terlihat dan luar 10
- operasi penimbunan sedikit terlihat dan luar 5
- operasi penimbunan terlihat dan luar 1
Catatan :
Lokasi dengan jumlah angka tertinggi dan perkalian antara bobot dan nilai
merupakan pilihan pertama, sedangkan Iokasi dengan angka-angka yang lebih
rendah merupakan alternatif yang dipertirnbangkan.

3) kriteria penetapan yaitu kriteria yang digunakan oleh Instansi yang


berwenang untuk menyetujui dan menetapkan lokasi terpilih sesuai dengan
kebijaksanaan instansi yang berwenang setempat dan ketentuan yang
berlaku;

3.3. Produk yang dihasilkan

Produk yang dihasilkan sebagai berikut:


1) Tahap regional yaitu peta dasar skala 1 : 25.000 yang berisi:
1. centroid sampah yang terletak diwilayah tersebut;
2. Kondisi hidrogeologi;
3. Bdan badan air
4. TPA sampah yang sudah ada
5. Pembagian zona zona
a. Zona 1 = zona tak layak
b. Zona 2 = zona layak untuk TPA sampah kota

2) Tahap penyisih yaitu rekomendasi lokasi TPA sampah kota dilengkapi;


1. Peta posisi calon-calon lokasi yang potensial
2. Peta detail berskala 1 :P 25000 dan sedikitnya 2 lokasi yang terbaik
3) Tahap penetapan yaitu keputusan penetapan lokasi TPA sampah kota

BAB IV
CARA PENGERJAAN

1) Pelajari data sekunder yang terdiri dan :


peta topografl dengan skala 1: 25.000 atau 1: 50.000 untuk pengamaan regional;
Geologi lingkungan yailu pengamatan sebaran tanah dan batuan, struktur geologi,

Bagian C Lampiran 130


ketebalan tanah penutup, sifat fisik kimiawi dan keteknikan tanah;
hidrogeologi yailu kedalaman muka air tanah, kelandaian aliran air tanah bebas,
pola pengeringan air perrnukaan, lokasi mata air, kelulusan;
bencana alam yaitu gerakan tanah, banjir, gempa, bahaya gunung api;
peta administratif, bersifat batas daerah skala 1 : 25.000;
peta kepemilikan tanah, skala 1 : 25.000
peta tata guna tanah, skala 1 : 25.000
data iklim;
2) Pelajari dan analisa data primer sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan pada
Tabel 1;
3) Buatlah pemetaan, skala 1: 25.000 atau 1: 50.000;
4) Lakukan identifikasi lokasi potensial;
5) Pilihlah lokasi TPA sampah yang terbaik.

Bagian C Lampiran 131


C-10 :

KRITERIA TEKNIS
OPERASIONAL PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN
( SNI 19-2454-2002 )

1. Ruang Lingkup
Tata cara teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan meliputi dasar-dasar
perencanaan untuk:
1) Daerah pelayanan;
2) Tingkat pelayanan;
3) Teknik operasional mulai dari:
(1) pewadahan sampah;
(2) pengumpulan sarnpah;
(3) pemindahan sampah;
(4) pengangkutan sampah;
(5) pengolahan dan pemilahan sarnpah;
(6) pembuangan akhir sampah.

Kegiatan pemilahan dan daur ulang semaksimal mungkin dilakukan sejak dari
pewadahan sampah dengan pembuangan akhir sampah.

2. Acuan

1) Departemen PU. Ditjen Cipta Karya, 1999, Prosedur Teknis perencanaan


pembuangan dan pengelolaan bidang ke-PLP-an perkotaan dan pedesaan,
Tata cara pengelolaan sarnpah 3 M.
2) David Gordon Wilson, 1977, Solid Waste Management Massachusetts
Institute of Technology
3) George Tchobanoglous, Hilary Theisen, Samuel A. Vigel 1993 Integrated Solid
waste Management, Engineering Principles and Management Issues

Bagian C Lampiran 132


3. Istilah dan Definisi

Yang dimaksud dengan:


1) sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dan bahan organik dan
bahan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar
tidak mambahayakan Iingkungan dan melindungi investasi pembangunan;
2) sampah perkotaan adalah sampah yang timbul di kota;
3) timbulan sampah adalah banyaknya sampah yang timbul dan masyarakat
dalam satuan volume maupun berat per kapita perhari, atau perluas
bangunan, atau perpanjang jalan;
4) pewadahan sampah adalah aktivitas menampung sampah sementara dalam
suatu wadah individual atau komunal di tempat sumber sampah;
5) pewadahan individual adalah aktivitas penanganan penampungan sampah
sementara alam suatu wadah khusus untuk dan dan sampah individu;
6) pewadahan komunal adalah aktivitas penanganan penampungan sampah
sementara dalam suatu wadah bersama baik dan berbagai sumber maupun
sumber umum;
7) pengumpulan sampah adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya
mengumpulkan sampah dari wadah individual dan atau dari wadah
komunal(bersama) melainkan juga mengangkutnya ke tempat terminal
tertentu, baik dengan pengangkutan langsung maupun tidak langsung;
8) pola pengumpulan individual langsung adalah kegiatan pengambilan sampah
dari rumah-rumah/sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat
pembuangan akhir tanpa melalui kegiatan pemindahan;
9) pola pengumpulan individual tidak langsung adalah kegiatan pengambilan
sampah dari masing-masing sumber sampah dibawa ke lokasi pemindahan
untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir;
10) pola pengumpulan komunal langsung adalah kegiatan pengambilan sampah
dari masing-masing titik komunal dan diangkut ke lokasi pembuangan akhir;
11) pola pengumpulan komunal tidak langsung adalah kegiatan pengambilan
sampah dari masing-masing titik pewadahan komunal ke lokasi pemindahan
untuk diangkut selanjutnya ke Tempat Pembuangan Akhir,
12) pola penyapuan jalan adalah kegiatan pengumpulan sampah hasil penyapuan
jalan;
13) pemindahan sampah adalah kegiatan memindahkan sampah hasil
pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk dibawa ke tempat
pembuangan akhir;
14) depo pemindahan sampah adalah tempat pemindahan sampah yang
dilengkapi dengan container pengangkut dan atau Ram, dan atau kantor
bengkel;
15) pengangkutan sampah adalah kegiatan membawa sampah dan lokasi
pemindahan langsung dan sumber sampah rnenuju ke tempat pembuangan
akhir;
16) pengolahan sampah adalah suatu proses untuk mengurangi volume sampah
dan atau mengubah bentuk sampah menjadi yang bermanfaat, antara lain
dengan cara pembakaran, pengomposan, pemadatan, penghancuran,
pengeringan,dan pendaur ulangan;
17) pengomposan adalah proses pengolahan sampah organik dengan batuan mikro
organisme sehingga terbentuk kompos;
18) pembakaran sampah adalah salah satu teknik pengolahan sampah dengan
membakar sampah menggunakan insinerator sesuai dengan ketentuan yang
berlaku;
19) pemadatan adalah upaya menguragi volume sarnpah dengan cara dipadatkan
baik secara manual maupun mekanis, sehingga pengangkutan ke tempat

Bagian C Lampiran 133


pembuangan akhir lebih efisien;
20) daur ulang adalah proses pengolahan sampah yang menghasilkan produk
baru;
21) pembuangan akhir sampah adalah tempat dimana dilakukan kegiatan untuk
mengisolasi sampah sehingga aman bagi lingkungan;
22) pemilahan adalah proses pcmisahan sampah berdasarkan jenis sampah yang
dilakukan sejak dari sumber sampai dengan pembuangan akhir;
23) sampah B3 rumah tangga adalah sampah yang berasal dan aktivitas rumah
tangga, mengandung bahan dan atau bekas kemasan suatu jenis bahan
berbahaya dan atau beracun, karena sifat atau konsentrasinya dan atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung merusak dan atau
mencemarkan lingkungan hidup dan atau membahayakan manusia;
24) Insinerator Berwawasan Lingkungan adaah alat yang digunakan untuk
meminimalkan sampah dengan cara membakar pada temperatur 700 C pada
tungku bakar dan di cerobong.

4. Persyaratan Teknis Pengelolaan Sampah Kota

4.1. Teknik operasional Pengelolaan Sampah

Teknik operasional pengeloaan sampah perkotaan yang terdiri dan kegiatan


pewadahan sampai dengan pembuangan akhir sampah harus bersifat terpadu
dengan melakukan sejak dari sumbernya.

Skema teknik operasional pengelolaan persampahan dapat dilihat pada Gambar 1


dibawah ini.

Bagian C Lampiran 134


Gambar 1
Diagram Teknik Operasional Pengelolaan Persampahan

Catatan:
- pengelolaan sampah B3 rumah tangga dikelloa secara khusus sesuai aturan yang
berlaku
- kegiatan pemilahan dapat pula dilakukan pada kegiatan pengumpulan pemindahan
- kegiatan pemilahan dan daur ulang diutamakan di sumber sampah

4.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan sampah


perkotaan

Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan sampah perkotaan yaitu:


1) kepadatan dan penyebaran penduduk;
2) karakteristik fisik Iingkungan dan sosial ekonomi;
3) timbulan dan karakteristik sampah;
4) budaya sikap dan perilaku masyarakat;
5) jarak dari sumber sampah ke tempat pembuangan akhir sampah;
6) rencana tata ruang dan pengembangan kota;
7) sarana pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pembuangan
akhir sampah;
8) biaya yang tersedia;
9) peraturan daerah setempat;

4.3. Daerah pelayanan

4.3.1. Penentuan Daerah Pelayanan

1) penentuan skala kepentingan daerah pelayanan dapat dilihat pada Tabel 1


dan Contoh dari daerah prioritas pelayanan pada lampiran C.
2) pengembangan daerah pelayanan dilakukan berdasarkan pengembangan tata
ruang kota.

Tabel 1
Skala Kepentingan Daerah Pelayanan
Nilai
No. Parameter Bobot Kerawanan Potensi
sanitasi ekonomi
1 Fungsi dan nilai daerah: 3
a. daerah di jalan protokol/pusat kota 3 4
b. daerah komersil 3 5
c. daerah perumahan teratur 4 4
d. daerah industri 2 4
e. jalan, taman dan hutan kota 3 1
f. daerah perumahan tidak teratur, selokan 5 1
2 Kepadatan penduduk: 3
a. 50-100 jiwa/Ha (rendah) 1 4
b. 100-300 jiwa/Ha (sedang) 3 3
c. > 300 jiwa/Ha (tinggi) 5 1

Bagian C Lampiran 135


3 Daerah pelayanan: 3
a. yang sudah dilayani 5 4
b. yang dekat dengan yang sudah dilayani 3 3
c. yang jauh dari daerah pelayanan 1 1
4 Kondisi lingkungan: 2
a. baik (sampah dikelola, lingkungan bersih) 1 4
b. sedang (sampah dikelola, lingkungan kotor) 2 3
c. buruk (sampah tidak dikelola, lingkungan kotor) 3 2
d. buruk sekali(sampah tidak dikelola, lingkungan 4 1
sangat kotor), daerah endemis penyakit menular
5 Tingkatan pendapatan penduduk: 2
a. rendah 5 1
b. sedang 3 3
c. tinggi 1 5
6 Topografi: 1
a. datar/rata (kemiringan <5%) 2 4
b. bergelombang (kemiringan 5-15%) 3 3
c. berbukit/curam (kemiringan > 15%) 3 1

Catatan: angka total tertinggi (bobot x nilai) merupakan pelayan tingkat


pertama, angka-angka berikut di bawahnya merupakan pelayanan selanjutnya.

4.3.2. Perencanaan kegiatan operasi daerah pelayanan

Hasil perencanaan daerah pelayanan berupa identifikasi masalah dan potensi


yang tergam bar peta-peta sebagai berikut:
1) peta kerawanan sampah minimal menggambarkan:
(1) besaran timbulan sampah
(2) jumlah penduduk, kepadatan rumaWbangunan
2) peta pemecahan masalah menggambarkan pola yang digunakan, kapasitas
perencanaan (meliputi alat dan personil), jenis sarana dan prasarana, potensi
pendapatan jasa pelayanan rute dan penugasan.

4.4. Tingkat Pelayanan

Tingkat pelayanan didasarkan jumlah penduduk yang terlayani dan luas daerah
yang terlayani dan jumlah sampah yang terangkat ke TPA.

i. Frekuensi pelayanan

Berdasarkan hasil penentuan skala kepentingan daerah pelayanan, frekuensi


pelayanan dapat dibagi dalam beberapa kondisi sebagai berikut:
1) pelayanan intensifantara lain untuk jalan protokol, pusat kota, dan daerah
komersial;
2) pelayanan menengah antara lain untuk kawasan permukiman teratur;
3) pelayanan rendah antara lain untuk daerah pinggiran kota.

ii. Faktor penentu kualitas operasional pelayanan

Faktor penentu operasional pelayanan adalah sehagai berikut:


1) tipe kota
2) sampah terangkut dan lingkungan;
3) frekuensi pelayanan;
4) jenis danjumlah peralatan;

Bagian C Lampiran 136


5) peran aktif masyarakat;
6) retribusi;
7) Timbulan sampah;

5. Teknik Operasional

5.1Pewadahan sampah

1. Pola pewadahan

Melakukan pewadahan sarnpah sesuai dengan jenis sampah yang telah terpilah,
yaitu:
1) sampah organik seperti daun sisa, sayuran, kulit buah lunak, sisa makanan,
dengan warna gelap;
2) sampah anorganik seperti gelas, plastik, logam, dan lainnya, dengan wadah
warna terang;
3) sampah bahan berbahaya beracun rumah tangga (jenis sampah B3 seperti
dalam lampiran B), dengan warna merah yang dibeni lambang khusus atau
semua ketentuan yang berlaku

Pola pewadahan sampah dapat dibagi dalam individual dan komunal. Pewadahan
dimulai dengan pemilahan baik untuk pewadahan individual maupun komunal
sesuai dengan pengelompokan pengelolaan sampah.

2. Kriteria Lokasi dan Penempatan Wadah

Lokasi penempatan wadah adalah sebagai berikut


1) Wadah individual ditempatkan:
(1) di halaman muka;
(2) di halaman belakang untuk sumber sampah dan hotel restoran;
2) Wadah komunal ditempatkan:
(1) sedekat mungkin dengan sumber sampah;
(2) tidak mengganggu pemakai jalan atau sarana umum Iainnya;
3) di luarjalur lalu lintas, pada suatu lokasi yang mudah untuk
pengoperasiannya;
4) di ujung gang kecil;
5) di sekitar taman dan pusat keramaian (untuk wadah sarnpah pejalan kaki);
6) jarak antara wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m

3. Persyaratan bahan wadah

Persyaratan bahan adalah sebagai berikut


1) tidak mudah rusak dan kedap air;
2) ekonomis, mudah diperoleh / dibuat oleh masyarakat;
3) mudah dikosongkan;

No Pola individual Komunal


Pewadahan /
karakteristik

1 Bentuk Kotak,silinder, kontainer, Kotak,silinder, kontainer,


bin (tong), semua bin (tong), semua
bertutup, dan kantong bertutup,

Bagian C Lampiran 137


plastik

2 Sifat Ringan mudah Ringan mudah


dipindahkan dan mudah dipindahkan dan mudah
dikosongkan dikosongkan

3 Jenis Logam, plastik, fiberglas Logam, plastik, fiberglas


(GRP), kayu, bambu, (GRP) kayu, bambu,
rotan rotan

4 Pengadaan Pribadi, instansi, instansi, pengelola


pengelola
Sumber : direktorat Jendral Cipta Karya, Derektorat, PLP

4. Penentuan ukuran wadah

Penentuan ukuran volume ditentukan berdasarkan;


1) jumlah penghuni setiap rumah;
2) timbunan sampah;
3) frekuensi pengambilan sampah;
4) cara pemindahan sampah;
5) sistem pelayanan (individual atau komunal);

Contoh wadah dan penggunaan dapat dilihat pada tabel 3.

5. Pengadaan wadah sampah

Pengadaan wadah sampah untuk:


1) wadah untuk sampah individual oleh pribadi atau Instansi atau pengelola;
2) Wadah sampah komunal oleh Instansi pengelola.

Tabel 3
Contoh Wadah dan Penggunaannya
Umur Wadah/
No. Wadah Kapasitas Pelayanan Keterangan
life time

1 Kantong Plastik 10-40 L 1 KK 2-3 hari Individual

2 Tong 40 L 1 KK 2-3 tahun Maksimal pengambilan 3


hari 1 kali

3 Tong 120 L 2-3 KK 2-3 tahun Toko

4 Tong 140 L 4-6 KK 2-3 tahun

5 Kontainer 1000 L 80 KK 2-3 tahun Komunal

6 Kontainer 500 L 40 KK 2-3 tahun Komunal

7 Tong 30-40 L Pejalan 2-3 tahun


kaki, taman

5.2Pengumpulan Sampah

1. Pola Pengumpulan

Bagian C Lampiran 138


Diagram pola pengumpulan sampah seperti pada gambar 2 dan 3

Bagian C Lampiran 139


individual
= Pewadahan Komunal
= Lokasi Pemindahan
= Gerakan Alat Pengangkut
= Gerakan Alat Pengumpul
= Gerakan Penduduk ke Wadah Komunal

Gambar 3.

Bagian C Lampiran 140


Konsepsi Ruang Masing-Masing Pola Operasional Persampahan

Pola pengumpulan sampah terdiri dari:


1) pola individual langsung dengan persyaratan sebagai berikut:
(1) kondisi topografi bergelombang (> 15-40%), hanya alat pengumpul
mesin yang dapat beroperasi;
(2) kondisi jalan cukup lebar dan operasi tidak mengganggu pemakai
jalan lainnya;
(3) kondisi dan jumlah alat memadai;
(4) jumlah timbunan sampah> 0,3 m3 I hari
(5) bagi penghuni yang berlokasi di jalan protokol.
2) pola individual tidak langsung dengan persyaratan sebagai berikut:
(1) bagai daerah yang partisipasi masyarakatnya pasif;
(2) untuk lokasi pemindahan tersedia;
(3) bagi kondisi topografi relatif datar (rata-rata < 5%) dapat
menggunakan alat pengumpul non mesin (gerobak, becak);
(4) alat pengumpul masih dapat menjangkau secara langsung;
(5) kondisi lebar gang dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu
pemakai jalan lainnya;
(6) harus ada organisasi pengelola pengumpulan sampah.
3) Pola komunal langsung dengan persyaratan sebagai berikut:
(1) bila alat angkut terbatas;
(2) bila kemampuan pengendalian personil dan peralatan relatif rendah;
(3) alat pengumpul sulit menjangkau sumber-sumber sampah individual
(kondisi daerah berhukit, gang fjalan sempit);
(4) peran serta masyarakat tinggi;
(5) wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan lokasi
yang mudah di angkut oleh alat pengangkut (truk);
(6) untuk permukiman tidak teratur;
4) pola komunal tidak langsung dengan persyaratan berikut:
(1) peran serta masyarakat tinggi;
(2) wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan lokasi
yang mudah dijangkau alat pengumpul;
(3) lahan untuk lokasi pemindahan tersedia,
(4) bagai kondisi topografi relatif datar (rata-rata < 5% ), dapat
mengunakan alat pengumpul non mesin (gerobak, becak) bagi
kondisi topografi > 5% dapat menggunakan cara lain seperti pikulan,
kontainer kecil beroda dan karung;
(5) leher jalan / gang dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu
pemakai jalan lainnya;
(6) haus ada organisasi pengelola pengumpulan sampah.
5) `pola penyapuan jalan dengan persyaratan sebagai berikut:
(1) juru sapu harus rnengetahui cara penyapuan untuk setiap daerah
pelayanan (diperkeras, tanah, lapangan rumput dli.);
(2) penanganan penyapuan jalan untuk setiap daerah berbeda
tergantung pada fungsi dan nilai daerah yang dilayani;
(3) pengumpulan sampah hasil penyapuan jalan diangkut ke lokasi
pemindahan untuk kemudian diangkut ke TPA
(4) pengendalian personel dan peralatan harus baik.

2. Perencanaan Operasional Pengumpulan

Perencanaan operasional pengumpulan sebagai berikut:


1) ritasiantara 14/hari;

Bagian C Lampiran 141


2) periodisasi 1 hari, 2 hari atau maksimal 3 hari sekali, tergantung dan
kondisi komposisi sampah ,yaitu:
(1) semakin besar prosentasi sampah organik, periodisasi pelayanan
maksimal sehari 1 kali,
(2) untuk sampah kering, periode pengumpulannya di sesuaikan dengan
jadwal yang telah ditentukan, dapat dilakukan Iebih dan 3 hari I kali;
(3) untuk sampah B3 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
3) mempunyai daerah pelayanan tertentu dan tetap;
4) mempunyai petugas pelaksanaan yang tetap dan dipindahkan secara
periodik;
5) pembebanan pekerjaan diusahakan merata dengan kriteria jumlah
sampah terangkut, jarak tempuh dan kondisi daerah.

3. Pelaksana Pengumpulan Sampah

1) Pelaksana
Pengumpulan sampah dapat dilaksanakan oleh:
(1) Institusi kebersihan kota
(2) Lembaga swadaya masyarakat
(3) Swasta
(4) Masyarakat (oleh RT/RW).
2) Pelaksanaan pengumpulan
jenis sampah yang terpilah dan bernilai ekonomi dapat dikumpulkan oleh
pihak yang berminat pada waktu yang telah disepakati bersama antara
petugas pengumpul danmasyarakat penghasil sarnpah.

5.3Pemindahan Sampah

1. Tipe Pemindahan

Tipe pemindahan sampah dapat dilihat pada Tabel 4.

2. Lokasi Pemindahan

Lokasi pemindahan adalah sebagai berikut :

Bagian C Lampiran 142


1) harus mudah keluar masuk bagi sarana pengumpl dan pengangkut
sampah;
2) tidak jauh dari sumber sampah;
3) berdasarkan tipe, lokasi pemindahan terdiri dari :
a. terpusat (transfer depo tipe I)
b. tersebar (transfer depo tipe II atau III)
4) jarak antara transfer depo untuk tipe I dan II adalah (1,0 1,5) km.

3. Pemilahan

Pemilahan di lokasi pemindahan dapat dilakukan dengan cara manual oleh


petugas kebersihan dan atau mesyarakat yang bermonat sebelum
dipindahkan ke alat pengangkut sampah.

4. Cara Pemindahan

Cara pemindahan dapat dilakukan sebagai berikut :


1) manual;
2) mekanis;
3) gabungan manual dan mekanis pengisian kontainer secara manual oleh
petugas pengumpul, sedangkan pengangkutan kontainer ke atas truk
dilakukan secara mekanis (load haul).

5.4Pengangkutan Sampah

1. Pola Penanganan

1) Pengangkutan sampah dengan sistem pengumpulan individual langsung


(door to door) seperti pada gambar 4

Gambar 4.
Pola Pengangkutan Sampah Sistem Individual Langsung

a) truk pengangkut sampah dan pool menuju titik sumber sampah


pertama untuk mengambil sampah;
b) selanjutnya mengambil sampah pada titik-titik sumber sampah
berikutnya sampai truk penuh sesuai dengan kapasitasnya;
c) selanjutnya diangkut ke TPA sampah;
d) setelah pengosongan di TPA, truk menuju ke lokasi sumber sarnpah
berikutnya, terpenuhi ritasi yang telah ditetapkan.

2) pengumpulan sampah rnelalui sistem pemindahan di transfer depo type I


dan II, pola pengangkutan dapat dilihat pada gambar 5, dan dilakukan
dengan cara sebagai berikut:

Bagian C Lampiran 143


Gambar 5.
Kembali ke Transfer Depo berikutnya untuk pengangkutan kembali

(1) kendaraan pengangkut sampah keluar dar pool langsung menuju


lokasi pemindahan di transfer depo untuk mengangkut sampah ke
TPA;
(2) dari TPA kendaraan tersebut kembali ke transfer depo untuk
pengambilan pada rit berikutnya;

3) untuk pengumpulan sampah dengan sistem kontainer (transfer tipe III),


pola pengangkutan adalah sebagai berikut:
(1) pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara dapat
dilihat pada Gambar 6, dengan proses:

Gambar 6.
Pola Pengangkutan dengan Sistem Pengosongan Kontainer Cara 1

a) kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk


mengangkut sampah ke TPA;
b) kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula;
c) menuju ke kontainer isi berikutnya untuk diangkut ke TPA;
d) kontainer kosong dikembaikan ke tempat semula;
e) demikian seterusnya sampai rit terakhir.

(2) Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 2


dapat dilihat pada Gambar 7

Bagian C Lampiran 144


Gambar 7.
Pola Pengangkutan dengan Sistem Pengosongan Kontainer Cara 2
Keterangan sistem ini:
a) kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk
mengangkat sampah keTPA;
b) dari TPA kendaraan tersebut dengan kontainer kosong menuju
lokasi ke dua untuk menurunkan kontainer kosong dan membawa
kontainer isi untuk diangkutke TPA;
c) demikian seterusnya sampai pada rit terakhir;
d) pada rit terakhir dengan kontainer kosong dan TPA menuju ke
lokasi container pertama, kemudian truk kembali ke Pool tanpa
Kontainer.
e) sistem ini diberlakukan pada kondisi tertentu (mis. pengambilan
pada jam tertentu, atau mengurangi kemacetan lalu lintas)

(3) Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 3


dapat dilihat pada Gambar 8, dengan proses

Gambar 8.
Pola Pengangkutan dengan Sistem Pengosongan Kontainer Cara 3

a) kendaraan dari pool dengan membawa kontainer kosong menuju


ke lokasi kontainer isi untuk mengganti/mengambil dan Iangsung
membawanya ke TPA;
b) kendaraan dengan membawa kontainer kosong dan TPA menuju
ke kontainer isi berikutnya;

Bagian C Lampiran 145


c) demikian seterusnya sampai dengan rit terakhir.

(4) Pola penanganan sampah dengan sistem kontainer tetap biasanya


untuk kontainer serta alat angkut berupa truk pemadat atau dump
truk atau truk biasa dapat dilihat pada Gambar 9, dengan proses:

Gambar 9a.
Pola Pengangkutan Sampah dengan Sistem Kontainer Tetap

a) kendaraan dari pool menuju kontainer pertama, sampah


dituangkan ke dalam truk compactor dan meletakkan kembali
kontainer yang kosong;
c) kendaraan menuju ke kontainer berikutnya sehingga truk penuh,
untuk kemudian langsung ke TPA;
1) demikian seterusnya sampai dengan rit terakhir.

2. Pengangkutan Sampah Hasil Pemilahan

Pengangkutan sampah kering yang bernilai ekonomi dilakukan sesuai dengan


jadwal yang telah disepakati.

3. Peralatan Pengangkut

Alat pengangkut sampah adalah:


1) persyaratan alat pengangkut yaitu:
(1) alat pengangkut sampah harus dilengkapi dengan penutup sampah,
minimal dengan jaring;
(2) tinggi bak maksimum 1,6 m;
(3) sebaiknya ada alat ungkit;
(4) kapastitas disesuaikan dengan kelas jalan yang akan dilalui;
(5) bak truk/dasar kontainer sebaiknya dilengkapi pengaman air sampah.

2) jenis peralatan dapat berupa:


(1) truk (ukursn besar atau kecil);
(2) dump truk/tipper truk;
(3) armroll truk;
(4) truk pemadat
(5) truk dengan crane
(6) mobil penvapu jalan;
(7) truk gandengan.

5.5Pengolahan

Teknik-teknik pengolahan sampah dapat berupa:


1) pengomposan
a) berdasarkan kapasitas (individual, komunal, skala lingkungan);

Bagian C Lampiran 146


b) berdasarkan proses (alami, biologis dengan cacing, biologis dengan mikro
organisme tambahan);
2) Insinerasi yang berwawasan lingkungan
3) Daur ulang
a) sampah an organik disesuaikan dengan jenis sampah
b) menggunakan kembali sampah organik sebagai makanan ternak;
4) Pengurangan volume sampah dengan pencacahan atau pemadatan;
5) biogasifikasi (pemanfaatan energi hasil pengolahan sampah).

Rincian masing-masing Teknik Pengolahan Sampah sesuai dengan ketentuan yang


berlaku.

5.6Pembuangan Akhir

1. Persyaratan

Persyaratan Umum dan teknis lokasi pembuargan akhir sampah sesuai dengan SNI
03 3241 1991 mengenai Tata Car Pemilihan Lokasi TPA.

2. Metode Pembuangan Akhir Sampah Kota

Metode pembuangan akhir sampah kota dapat dilakukan sebagai berikut:


1) penimbunan terkendali termasuk pengolahan lindi dan gas;
2) lahan urug saniter termasuk pengolahan lindi dan gas;
3) metode penimbunan sampah untuk daerah pasang surut dengan sistem kolam
(an aerob, fakultatif, maturasi).

Rincian masing-masing metode pembuangan akhir sampah kota sesuai dengan


ketentuan yang berlaku.

3. Peralatan

Peralatan dan perlengkapan yang digunakan di TPA sampah sebagai berikut:


1) buldoser untuk perataan, pengurugan dan pemadatan;
2) crawl/track dozer untuk pemadatan pada tanah lunak;
3) wheel dozer untuk perataan, pengurugan;
4) loader dan powershowel untuk penggalian, perataan, pengurugan dan
pemadatan;
5) dragline untuk penggalian dan pengurugan;
6) scrapper untuk pengurugan tanah dan perataan,
7) kompaktor (landfill compactor) untuk pemadatan timbunan sampah pada
lokasi datar;
8) jenis peralatan di tempat pembuangari akhir dapat dilihat pada gambar 1
Lampiran B.

LAMPIRAN A
DAFTAR ISTILAH

Analisa mengenai dampak lingkungan : Amdal


Lahan yang tidak produktof dengan sampah untuk
memperoleh lahan dan meningkatkan fungsinya : Reklamasi
Wadah sampah : Bin

Bagian C Lampiran 147


Tempat pengumpul sampah : Container
Penimbunan terkendali : Controlled landfill
Lahan urug saniter : Sanitary landfill
Tempat Pembuangan dan Pemindahan Sampah
Sementara : TPS
Tempat Pembuangan Akhir Sampah : TPAS
Glass reinforce plastic : GRP
Tong : Bin
Depo pemindahan : Transfer Depo
Lindi : Leachate

LAMPIRAN B
TABEL SAMPAH DAN GAMBAR 1

Bagian C Lampiran 148


Bagian C Lampiran 149
Landfil Compactor Whell Leader

Scrapper Buldozer (Crawler)

Gambar 1
Contoh Jenis Alat Berat untuk Operasional TPA

Bagian C Lampiran 150

Anda mungkin juga menyukai