Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberculosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global utama karena TB merupakan

salah satu penyakit yang menyerang jutaan manusia setiap tahun dan mendapat tempat

kedua tertinggi di dalam penyakit infeksi yang boleh meragut nyawa secara global,

selepas penyakit Immunodeficiency virus (HIV). Secara global tahun 2015, kejadian

kasus TB diperkirakan mencapai 10,4 juta (kisaran, 8.700.000-12.200.000), yang setara

142 kasus per 100.000 penduduk. Berdasarkan laporan WHO, jumlah kasus TB tahun

2015 terjadidi daerah Asia (61%) dan Afrika (26%), lebih kecil proporsi kasus terjadi di

Timur Mediterania (7%), Eropa (3%) dan Amerika (3%). Enam negara yang menonjol

yang memiliki jumlah kasus insiden terbesar pada tahun 2015 adalah India, Indonesia,

Cina, Nigeria, Pakistan dan Afrika Selatan (60% dari total global). Dari jumlah tersebut,

China, India dan Indonesia sendiri menyumbang 45% dari dunia kasus pada tahun 2015

(WHO, 2016).

Indonesia sekarang berada pada ranking ketiga negara dengan beban TB tertinggi di

dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 dan estimasi

insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB

diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya (Kemenkes, 2011).

Sampai saat ini pemeriksaan radiologis yang paling sering digunakan dalam mendiagnosis

TB adalah foto toraks. Foto toraks merupakan satu-satunya modalitas imejing yang

sederhana, murah, terpilih, aman dan berperan penting dalam mendeteksi morfologi lesi di
paru terutama pada pre-clinical stage. Disamping itu luasnya lesi, aktivitas lesi, keterlibatan

pleura serta komplikasi seperti jamur dan bronkiektasis dapat dinilai dengan foto toraks.

Kelainan foto toraks biasanya baru terlihat setelah 10 minggu terinfeksi oleh kuman TB

(Icksan & S, 2008).

Pada akhir bulan pengobatan diharapkan penderita sudah dapat dinyatakan sembuh secara

klinis, bakteriologis, dan radiologis. Penderita tuberkulosis yang telah dinyatakan

sembuh tetap dievaluasi minimal dua tahun setelah sembuh untuk mengetahui adanya

kekambuhan. Pemeriksaan untuk evaluasi penderita yang telah sembuh adalah pemeriksaan

mikroskopis sputum dan pemeriksaan radiologis (Ben, et. al. 2009). Oleh karena insidensi

yang terus meningkat penulis tertarik untuk mengetahui tentang TB terutama pada gambaran

radiologi sebagai pemeriksaan penunjamg untuk membantu penegakan diagnosis.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan referat ini adalah menambah pengetahuan tentang definisi, epidemiologi,
faktor predisposisi, patofisiologi, gejala klinis, pemeriksaan penunjang, diagnosis, dan
penatalaksanaanTB.

1.3 Manfaat Penulisan


Referat ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam mendiagnosis khususnya secara
radiologis dan pengelolaan TB.