Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai macam bahan
galian, yang kemudian bahan galian tersebut dimanfaatkan oleh industry
pertambangan untuk memnuhi kebutuhan manusia. Sektor atau bidang industri
pertambangan merupakan bidang usaha yang sangat menggiurkan, laju
pertumbuhan ekonomi berkembang dengan adanya perusahaan tambang pada
daerah tersebut.
Untuk mendapatkan suatu bahan galian yang diinginkan tidak lah mudah
perlu adanya pengkajian untuk mengetahui keberadaan bahan galian tersebut.
Eksplorasi merupakan ilmu yang dapat mencari serta mengetahui keberadaan
bahan galian pada suatu daerah tersebut.
Maka dari itu teknik eksplorasi sangat diperlukan oleh seorang
mahasiswa Teknik Pertambangan agar dapat menganalisa keterdapatan bahan
galian pada suatu tempat secara detail.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Maksud dari pembuatan laporan praktikum kali ini adalah untuk
mengetahui salah satu metode eksplorasi tidak langsung yakni geokimia
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan laporan awal ini adalah :
1. Agar praktikan dapat membuat peta geokimia unsur dengan metode Soil,
BLEG dan Stream Sediment.
2. Agar pratikan dapat menganalisa anomaly anomali dari hasil penafsiran
data hasil kegiatan eksplorasi geokimia.

1
2

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Metode Geolistrik


Geolistrik adalah salah satu metode geofisika yang mempelajari sifat
aliran listrik di dalam bumi dan pendeteksian di permukaan bumi. Dalam hal ini
meliputi pengukuran potensial, arus dan medan elektromagnetik yang terjadi baik
secara alamiah ataupun akibat injeksi arus ke dalam bumi. terdapat beberapa
macam metoda geolistrik, antara lain : metode potensial diri, arus telluric,
magnetoteluric, elektromagnetik, IP atau Induced Polarization, resistivitas atau
tahanan jenis dll.
Pada metode geolistrik tahanan jenis ini, arus listrik diinjeksikan atau
disalurkan ke dalam bumi melalui dua elektroda arus.Kemudian beda potensial
yang terjadi diukur melalui dua elektroda potensial. Selanjutnya dari hasil
pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda yang berbeda
kemudian akan dapat diturunkan variasi nilai hambatan jenis masing-masing
lapisan di bawah titik ukur atau lebih dikenal dengan sounding point.
Metoda geolistrik ini lebih efektif jika digunakan untuk eksplorasi yang
sifatnya dangkal, jarang memberikan informasi lapisan di kedalaman lebih dari
1000 feet. Oleh karena itu metode geolistrik ini jarang digunakan untuk
eksplorasi minyak bumi, tetapi lebih banyak digunakan dalam bidang engineering
geology seperti penentuan kedalaman batuan dasar, pencarian reservoar air,
serta digunakan dalam eksplorasi panas bumi atau geothermal. Berdasarkan
letak konfigurasi elektroda-elektroda arus, dikenal beberapa jenis metode
resistivitas tahanan jenis, antara lain :
1. Metode Schumberger
2. Metode Wenner
3. Metode Dipole dipole
4. Metode Pole dipole

2.2 Konfigurasi Schlumberger


Pada konfigurasi Schlumberger idealnya jarak MN dibuat sekecil-kecilnya,
3

sehingga jarak MN secara teoritis tidak berubah. Tetapi karena keterbatasan


kepekaan alat ukur, maka ketika jarak AB sudah relatif besar maka jarak MN
hendaknya dirubah. Perubahan jarak MN hendaknya tidak lebih besar dari 1/5
jarak AB.

Gambar 2.1
Konfigurasi Schlumberger
Kelemahan dari konfigurasi Schlumberger ini adalah pembacaan
tegangan pada elektroda MN adalah lebih kecil terutama ketika jarak AB yang
relatif jauh, sehingga diperlukan alat ukur multimeter yang mempunyai
karakteristik high impedance dengan akurasi tinggi yaitu yang bisa mendisplay
tegangan minimal 4 digit atau 2 digit di belakang koma. Atau dengan cara lain
diperlukan peralatan pengirim arus yang mempunyai tegangan listrik DC yang
sangat tinggi.
Sedangkan keunggulan konfigurasi Schlumberger ini adalah kemampuan
untuk mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan pada permukaan,
yaitu dengan membandingkan nilai resistivitas semu ketika terjadi perubahan
jarak elektroda MN/2.
Agar pembacaan tegangan pada elektroda MN bisa dipercaya, maka ketika jarak
AB relatif besar hendaknya jarak elektroda MN juga diperbesar. Pertimbangan
perubahan jarak elektroda MN terhadap jarak elektroda AB yaitu ketika
pembacaan tegangan listrik pada multimeter sudah demikian kecil, misalnya 1.0
mmVolt.
Umumnya perubahan jarak MN bisa dilakukan bila telah tercapai
perbandingan antara jarak MN berbanding jarak AB = 1 : 20. Perbandingan yang
lebih kecil misalnya 1 : 50 bisa dilakukan bila mempunyai alat utama pengirim
arus yang mempunyai keluaran tegangan listrik DC sangat besar, katakanlah
1000 Volt atau lebih, sehingga beda tegangan yang terukur pada elektroda MN
tidak lebih kecil dari 1.0 mmVolt.
Parameter yang diukur :

2.2.1 Metode Pola Dispersi Mekanis


4

Metode ini diterapkan pada mineral yang relatif stabil pada kondisi
permukaan bumi (seperti: emas, platina, kasiterit, kromit, mineral tanah jarang).
Cocok digunakan di daerah yang kondisi iklimnya membatasi pelapukan kimiawi.
2.2.2 Metode Pola Dispersi Kimiawi.
Pola ini dapat diperoleh baik pada endapan bijih yang tererosi ataupun
yang tidak tererosi, baik yang lapuk ataupun yang tidak lapuk. Pola ini kurang
terlihat seperti pada pola dispersi mekanis, karena unsur-unsurnya yang
membentuk pola dispersi bias memiliki sifat diantaranya:
Memiliki mineralogi yang berbeda pada endapan bijihnya (contohnya:
serussit dan anglesit terbentuk akibat pelapukan endapan galena)
Dapat terdispersi dalam larutan (ion Cu2+ dalam airtanah berasal dari
endapan kalkopirit)
Bisa tersembunyi dalam mineral lain (contohnya Ni dalam serpentin dan
empung yang berdekatan dengan sutu endapan pentlandit)
Bisa teradsorbsi (contohnya Cu teradsosbsi pada lempung atau material
organik pada aliran sungai bisa dipasok oleh airtanah yang melewati
endapan kalkopirit)
Bisa bergabung dengan material organik (contohnya Cu dalam tumbuhan
atau hewan)

2.3 Dispersi
Dispersi geokimia adalah proses menyeluruh tentang transpor dan atau
fraksinasi unsur-unsur. Dispersi dapat terjadi secara mekanis (contohnya
pergerakan pasir di sungai) dan kimiawi (contohnya disolusi, difusi dan
pengendapan dalam larutan). Tipe dispersi ini mempengaruhi pemilihan metode
pengambilan conto, pemilihan lokasi conto, pemilihan fraksi ukuran dsb.
Contohnya dalam survey drainage pertanyaan muncul apakah conto diambil dari
air atau sedimen ; jika sedimen yang dipilih, haris diketahui apakah pengendapan
unsur yang dicari sensitif terhadap variasi pH (contohnya adsorpsi Cu oleh
lempung) atau kecepatan aliran sungai (contohnya dispersi Sn sebagai butiran
detrital dari kasiterit). Jika adsorp\si dari ion-ion yang ikut diendapkan dicari
dalam tanah atau sedimen, maka fraksi yang halus yang diutamakan; jika unsur
yang dicari hadir dalam mineral yang resisten, maka fraksi yang kasar
kemungkinan mengandung unsur yang dicari.
5

2.4 Lingkungan Geokimia


Lingkungan geokimia primer adalah lingkungan di bawah zona pelapukan
yang dicirikan oleh tekanan dan temperatur yang besar, sirkulasi fluida yang
terbatas, dan oksigen bebas yang rendah. Sebaliknya, lingkungan geokimia
sekunder adalah lingkungan pelapukan, erosi, dan sedimentasi, yang dicirikan
oleh temperatur rendah, tekanan rendah, sirkulasi fluida bebas, dan
melimpahnya O2, H2O dan CO2. Pola geokimia primer menjadi dasar dari
survey batuan sedangkan pola geokimia sekunder merupakan target bagi survey
tanah dan sedimen.

2.5 Mobilitas Unsur


Mobilitas unsur adalah kemudahan unsur bergerak dalam lingkungan
geokimia tertentu. Beberapa unsur dalam proses dispersi dapat terpindahkan
jauh dari asalnya, ini disebut mudah bergerak atau mobilitasnya besar,
contohnya: unsur gas mulia seperti radon. Rn dipakai sebagai petunjuk dalam
prospeksi endapan Uranium.
Mobilias unsur akan berbeda dalam lingkungan yang berbeda, contohnya:
F bersifat sangat mobil dalam proses pembekuan magma (pembentukan batuan
beku), cebakan pneumatolitik dan hidrotermal, namun akan sangat tidak mobil
(stabil sekali) dalam proses metamorfose dan pembentukan tanah. Bila F masuk
ke air akan menjadi sangat mobil kembali.
Unsur yang berbeda yang ditemukan dalam suatu endapan bisa memiliki
mobilitas yang sangat berbeda, sehingga mungkin tidak memberikan anomali
yang sama secara spasial. Misalnya: Pb dan Zn sangat sering terdapat bersama-
sama (berasosiasi) di dalam endapan bijih (di dalam lingkungan siliko-alumina),
sedangkan dalam lingkungan pelapukan Zn yang jauh lebih mobil daripada Pb
akan mudah mengalami pelindian, sehingga Pb yang tertinggal akan
memberikan anomali pada zona mineralisasinya. Contoh lainnya:
Emas yang tahan terhadap larutan akan tertinggal dalam gossan
Galena terurai perlahan dan menghasilkan serusit dan anglesit yang
relatif tidak larut. oleh karena itu Pb cenderung tahan dalam gossan
Mineral sulfida Cu, Zn dab Ag mudah terurai dan bermigrasi ke level yang
lebih rendah membentuk bijih oksida yang kaya atau bijih supergen
6

2.6 Anomali Geokimia


Bijih mewakili akumulasi dari satu unsur atau lebih diatas kelimpahan
yang kita anggap normal. Kelimpahan dari unsur khusus di dalam batuan barren
disebut background. Penting untuk disadari bahwa tak ada unsur yang memiliki
background yang seragam, beberapa unsur memiliki variasi yang besar bahkan
dalam jenis batuan yang sama. Contohnya background nikel:
Dalam granitoid kira-kira 8 ppm dan relatif seragam
Dalam shale berkisar antara 20 - 100 ppm
Dalam batuan beku mafik Ni rata-rata sekitar 160 ppm dan relatif tidak
seragam
Dalam batuan beku ultramafik Ni rata-rata sekitar 1200 ppm dengan
variasi yang besar.
Tujuan mencari nilai background adalah untuk mendapatkan anomali
geokimia, yaitu nilai di atas background yang sangat diharapkan berhubungan
dengan endapan bijih. Karena sejumlah besar conto bisa saja memiliki nilai di
atas background, maka ada nilai ambang/nilai batas yang digunakan untuk
menentukan anomali, yang dikenal dengan sebutan threshold, yaitu nilai rata-
rata plus dua standar deviasi dalam suatu populasi normal. Semua nilai di atas
nilai threshold didefinisikan sebagai anomali.
Teknik-teknik interpretasi baru melibatkan grafik frekuensi kumulatif,
analisis rata-rata yang bergerak, analisis regresi jamak banyak menggantikan
konsep klasik background dan threshold.

2.7 Metode Eksplorasi Geokimia


2.7.1 Metode Sedimen Sungai
Beberapa pertimbangan dan alasan pemilihan metoda sedimen sungai
adalah:
Dipakai dalam eksplorasi tahap awal (regional geochemical
reconnaissance) diareal yang luas
Menangkap dispersi geokimia sekunder di sepanjang aliran sungai
Keuntungan: mampu menjangkau daerah yang luas dalam waktu yang
singkat, jumlah conto yang relatif sedikit, dan biaya yang relatif murah.
Beberapa metoda yang dilakukan dalam metoda sedimen sungai adalah:
Sedimen sungai aktif (stream sediment, SS), yaitu mengambil fraksi
berukuran silt-clay dengan cara menyaring sedimen dengan saringan
7

berukuran -80#. Tujuan dari metoda ini adalah menangkap butiran emas
dan base metal berukuran halus.

Sumber : josephsirait.blogspot.co.id
Foto 2.1
Pengambilan conto sedimen sungai aktif ( Freeport, Irian Jaya)
Konsentrat dulang (pan concentrate, PC) yaitu mengambil fraksi mineral
berat dalam sedimen sungai dengan cara mendulang dengan tujuan
menangkap emas berbutir kasar dan mineral berat lainnya. Dapat dilihat
seperti gambar di bawah ini :

Sumber : josephsirait.blogspot.co.id
Foto 2.2
Geologist mengambil sampel dulang (pan concentrate)
Bulk Leach Extractable Gold (BLEG), semua fraksi sedimen diambil tanpa
terkecuali. Tujuannya untuk menangkap semua butiran emas dan mampu
mendeteksi kadar emas yang sangat rendah (ambang deteksi 0,1 ppb).
Dalam prakteknya BLEG dilakukan pada tahap awal dengan densitas 1
conto per 5-10 km, sedangkan SS dan PC dilakukan pada tahap
berikutnya dengan densitas1 conto per 1-3 km. Contoh peta yang
dihasilkan dengan menggunakan metoda geokimia dapat dilihat pada
gambar di bawah ini :
8

Sumber : josephsirait.blogspot.co.id
Gambar 2.1
Peta Sebaran Unsur
2.7.2 Metode Percontoan Tanah ( Soil Sampling )
Situasi dimana survei soil dilakukan antara lain :
Survei pendahuluan dilakukan di daerah yang pola pengalirannya tidak
berkembang
Survei lanjutan dilakukan di daerah anomali yang dilokalisir oleh survei
sedimen sungai
Survei lanjutan di daerah anomali yang dilokallisir oleh survei geofisika
Survei lanjutan di sekitar lokasi Gossan
Mendeliniasi target bor uji di sekitar mineralisasi yang diketahui

Sumber : josephsirait.blogspot.co.id
Gambar 2.2
Deniliasi Target Bor Uji
9

Kondisi yang harus diperhatikan pada waktu melakukan sampling dengan


metoda percontoan tanah adalah :
Cukup material yang diambil untuk analisis
Conto diambil dari horison yang sama
Jika horison soil tidak berkembang, conto diambil pada kedalaman yang
sama
Conto harus diambil dari jenis soil yang sama (residual/ transported)
Faktor yang menyebabkan adanya kontaminasi pada sampel harus
diketahui.
2.7.3 Metode Percontoan Batuan ( Rock Sampling )
Dilakukan dalam tahap akhir eksplorasi permukaan
Lokasi pengambilan conto: singkapan, float, pits, trenches, drill holes
Menangkap dispersi geokimia primer
Dimaksudkan untuk keperluan analisis kimia mineral (unsur utama, unsur
target,unsur pathfinder) dan fisika mineral (petrografi, X-Ray, dan inklusi
fluida).
Beberapa cara pengambilan conto yang dapat dilakukan adalah dengan :
1. Grab / specimen
2. Chip
3. Channel / Panel
4. Drill cutting / Core
2.7.4 Hydrogeochemistry ( Water Sampling )
Metoda ini merupakan metoda untuk menganalisis/menghitung komposisi
kimia material yang terlarut dalam air. Jenis-jenis air (natural water ) yang dapat
dipakai sebagai media sampling yaitu air sungai, danau, air tanah, mata air, dan
lain-lain. Permasalahan yang dapat muncul dalam metoda ini :
Konsentrasi yang sangat rendah (ppb)
Analytical difficulties
Serious risk of contamination
Kimia air sangat sensitif terhadap kondisi cuaca dan lingkungannya
Merupakan indikator yang paling baik untuk serangkaian endapan U, V,
Rn(Radon), He, Mo, Zn, Bi, F dan SO4
Indikator Cu dan Pb umumnya sulit untuk diinterpretasi.

BAB III
TUGAS DAN PEMBAHASAN
10

3.1 Tugas
Dari data yang telah diberikan maka buatlah peta sebaran unsur dengan
metode dibawah ini :
3.1.1 Buatlah Peta Geokimia dengan Metode Soil
3.1.2 Buatlah Peta Geokimia dengan Metode BLEG
3.1.3 Buatlah Peta Geokimia dengan Metode Stream Sediment

3.2 Pembahasan
3.2.1 Peta Geokimia Metode Soil

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.1
Peta Geokimia Soil Au

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.2
Peta Geokimia Soil As

3.2.2 Peta Geokimia Metode BLEG 9


11

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.3
Peta Geokimia BLEG Au

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.4
Peta Geokimia BLEG Ag

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.5
Peta Geokimia BLEG Cu

3.2.3 Peta Geokimia Metode Stream Sediment


12

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.6
Peta Geokimia Stream Sediment Sb

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.7
Peta Geokimia Stream Sediment Zn

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.8
Peta Geokimia Stream Sediment Pb
13

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.9
Peta Geokimia Stream Sediment As

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.10
Peta Geokimia Stream Sediment Cu

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Gambar 3.11
Peta Geokimia Stream Sediment Au
14

BAB IV
ANALISA

4.1 Analisa Grafik

Grafik Kadar Au terhadap Kadar As Metode Soil


2000
1800
1600
1400
1200
1000
Kadar As
800
600
400
200
0
0 200 400 600 800 1000 1200

Kadar Au

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Grafik 3.1
Kadar Au terhadap Kadar As Metode Soil
Dari grafik diatas terlihat bahwa garis linier menunjukan hampir sejajar
dengan sumbu x yang berarti gradien nya hampir mendekati 0. Artinya untuk
analisa kegiatan sampling dan analisis geokimia dengan metode soil
menunjukan hasil kadar As jauh lebih dominan terhadap kadar Au. Analisa
pratikan mengatakan bahwa hal ini disebabkan pengamatan pada satu titik yang
mewakili daerah yang cukup luas mengingat radius pengaruh dari metode soil
sendiri yaitu 100 m.

13
15

Grafik Kadar Au Terhadap Kadar Ag BLEG


180.00
160.00
140.00
120.00
100.00
Kadar Ag 80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00

Kadar Au

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Grafik 3.2
Kadar Au terhadap Kadar Ag Metode BLEG
Dari grafik diatas terlihat garis linier yang miring dengan sudut sekitar 30
terlihat bahwa kadar Ag masih cukup dominan terhadap kadar Au tetapi tidak
terlalu timpang perbedaannya hal ini dapat diindikasikan bahwa Ag masih
merupakan asosiasi mineral dari Au. Selain itu, pada eksplorasi geokimia dengan
metode BLEG juga ruang lingkupnya mulai menyempit dan lebih kecil
dibandingkan eksplorasi geokimia dengan menggunakan metode soil yang
daerah pengaruhnya cukup luas.
16

Grafik Kadar Au Terhadap Kadar Sb SS


180.00
160.00
140.00
120.00
100.00
Kadar Sb 80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00

Kadar Au

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Grafik 3.3
Kadar Au terhadap Kadar Sb Metode Stream Sediment
Dari grafik diatas terlihat garis linier yang hampir sejajar dengan sumbu x.
Hal ini hampir sama dengan kondisi metode soil. Perbedaannya adalah pada
metode stream sediment analisis dari sample yang didapat lebih akurat
mengingat kerapatan sampling yang dilakukan dan radius pengaruh dari analisis
yang lebih dekat. Dengan metode stream sediment ini kadar As jauh
mendominasi terhadap kadar Au. Mengingat keterdapatan Au yang juga sedikit
dilapangannya sendiri.

Grafik Kadar Au Terhadap Kadar As SS

250.00

200.00

150.00
Kadar As 100.00

50.00

0.00
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00

Kadar Au

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


17

Grafik 3.4
Kadar Au terhadap Kadar As Metode Stream Sediment
Dari grafik diatas terlihat garis linier yang menurun ke bawah. Hal ini
ditafsirkan bahwa keterdapatan As dalam daerah penyelidikan jauh lebih banyak
dari pada kadar kadar yang lainnya. Keterdapatan As sangat banyak apabila
dibandingkan dengan keterdapatan Au dan mengingat keterdapatan Au yang
sangat sedikit dilapangan.

Grafik Kadar Pb Terhadap Kadar Zn


900.00

800.00

700.00

600.00

500.00
Kadar Zn
400.00

300.00

200.00

100.00

0.00

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Grafik 3.5
Kadar Pb terhadap Kadar Zn Metode Stream Sediment
Pada grafik diatas terlihat garis linier yang hampir sejajar dengan sumbu x
dengan kadar Zn yang lebih dominan terhadap kadar Pb. Dari data yang didapat
keterdapatan Zn pada lokasi sangat besar dan lebih besar dibandingkan dengan
kadaar kadar lain seperti Au, Ag, Cu, Pb, dan As.
18

Grafik Kadar Cu Terhadap Kadar Zn


900.00
800.00
700.00
600.00
500.00
Kadar Zn 400.00
300.00
200.00
100.00
0.00
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00

Kadar Cu

Sumber : Kegiatan Pratikum Teknik Eksplorasi 2016


Grafik 3.6
Kadar Cu terhadap Kadar Zn Metode Stream Sediment
Sama dengan Grafik 3.5, Grafik 3.6 terlihat kadar Zn yang masih dominan
bahkan jauh lebih dominan dibandingkan dengan kadar Cu. Hal ini dapat terlihat
dari garis linier yang menurun walaupun tidak terlalu terjal penurunannya. Dari
data yang didapat keterdapatan Zn pada lokasi sangat besar dan lebih besar
dibandingkan dengan kadaar kadar lain seperti Au, Ag, Cu, Pb, dan As.

4.2 Analisa Hasil Pengerjaan


Kadar yang didapat dari beberapa metode eksplorasi geokimia adalah
metode stream sediment memiliki kadar yang lebih tinggi dibandingkan dengan
kadar menggunakan metode BLEG. Hal ini dikarenakan ada beberapa hal
diantaranya adalah kerapatan sampling dan radius daerah pengaruh. Pada
metode BLEG radius pengaruh dan kerapatan sampling sangat jauh
dibandingkan dengan radius pengaruh dan sampling pada metode stream
sediment. Dari jumlah sampel juga metode stream sediment jauh lebih banyak
dan jauh lebih presentative.
Kadar di hulu lebih tinggi dari pada kadar dihilir. Hal ini disebabkan pada
proses transportasi unsur dan arus sungai yang mempengaruhi. Untuk unsur
logam memiliki massa jenis lebih berat dibandingkan air. Hal ini yang
menyebebabkan mayoritas unsur dalam kegiatan penyelidikan adalah logam
19

tertransport tidak jauh sehingga kadar di hulu lebih tinggi dibandingkan dengan
kadar dihilir.
Percabangan sungai terkadang terdapat kadar unsur yang berbeda
bahkan berbedanya cukup jauh. Hal ini diindikasikan perbedaan arus pada
sungai satu dengan sungai yang lainnya yang mempengaruhi hal tersebut.
Apabila sungai satu memiliki arus lebih deras dibandingkan dengan sungai dua
dapat diindikasikan sungai satu memiliki kadar unsur yang lebih rendah
dibandingkan dengan kadar unsur dua. Karena arus yang cukup kuat dapat
membawa unsur tersebut sehingga pada sungai tersebut konsentrasi unsurnya
lebih kecil dibandingkan dengan sungai lainnya.
BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat dari kegiatan pratikum ini adalah dapat


menafsirkan data hasil kegiatan ekplorasi geokimia dalam bentuk peta geokimia
sebaran unsur pada daerah pengamatan. Kadar unsur yang didapat dari
kegiatan eksplorasi geokimia metode Stream Sediment didapat unsur yang lebih
besar dibandingkan dengan metode BLEG. Hal ini disebabkan kerapatan
sampling dan radius daerah pengaruh. Kemudian kadar di hulu lebih tinggi dari
pada kadar dihilir. Hal ini disebabkan pada proses transportasi unsur dan arus
sungai yang mempengaruhi. Untuk unsur logam memiliki massa jenis lebih berat
dibandingkan air. Percabangan sungai terkadang terdapat kadar unsur yang
berbeda bahkan berbedanya cukup jauh. Hal ini diindikasikan perbedaan arus
pada sungai satu dengan sungai yang lainnya yang mempengaruhi hal tersebut.
Apabila sungai satu memiliki arus lebih deras dibandingkan dengan sungai dua
dapat diindikasikan sungai satu memiliki kadar unsur yang lebih rendah
dibandingkan dengan kadar unsur dua. Karena arus yang cukup kuat dapat
membawa unsur tersebut sehingga pada sungai tersebut konsentrasi unsurnya
lebih kecil dibandingkan dengan sungai lainnya

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Dewi, Ratna, 2012, Eksplorasi Geokimia,


deweisgeologist.Blogspot.co.id
Diakses pada 13 Mei 2016

2. Kiddy, Nahli, Aulia, 2010, Geokimia,


http://samuderabenua.blogspot.co.id Diakses pada 13 Mei 2016

3. Joseph, Sirait, 2014, Eksplorasi Tak Langsung Metode Eksplorasi


Geokimia, http://josephsirait.blogspot.co.id/2014/02 Diakses pada 13
Mei 2016