Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

MATA KULIAH PRODUKSI TERNAK UNGGAS


Pengenalan Pakan Unggas

Oleh :

Kelas :E

Kelompok :5

Widya Permata Sari 200110150122

Friskihari Laksono W 200110150124

Faisal Muhamad Rizal 200110150138

Arif Rahman Hakim 200110150274

Nur Aidina 200110150276

M. Nurdin Simanullang 200110150287

Syahrul Fauzan 200110150292

LABORATORIUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat serta karunia-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan

laporan akhir praktikum yang berjudul Pengenalan Pakan Unggas. Laporan ini

berisi tentang pakan unggas. Adapun laporan ini kami buat untuk dapat di jadikan

suatu acuan dan bahan pertimbangan selama kami melaksanakan praktikum.

Semoga atas tersusunnya laporan ini dapat diterima dengan baik oleh semua pihak

dan memberikan manfaat bagi para pembacanya dan mahasiswa untuk dapat lebih

memahami dan memperdalam materi Pengenalan Pakan Unggas

Sumedang, 28 Maret 2017

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................2
PENDAHULUAN..................................................................................................5
1.1 Latar Belakang..........................................................................................5
1.2 Maksud dan Tujuan...................................................................................5
1.3 Waktu dan Tempat.....................................................................................6
KAJIAN KEPUSTAKAAN...................................................................................7
2
3

2.1 Zat makanan, Bahan Makanan dan Ransum.............................................7


2.2 Penggolongan bahan pakan ternak unggas................................................9
ALAT,BAHAN DAN PROSEDUR KERJA......................................................15
3.1 Alat dan Bahan........................................................................................15
3.1.1 Alat...................................................................................................15
3.1.2 Bahan...............................................................................................15
3.2 Prosedur Kerja.........................................................................................15
HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................16
4.2 Hasil Pengamatan....................................................................................16
4.2 Pembahasan.............................................................................................16
4.2.1 Dedak Padi.......................................................................................17
4.2.2 Jagung..............................................................................................17
4.2.3 Tepung Ikan......................................................................................18
4.2.4 Bungkil Kelapa................................................................................18
4.2.5 Bungkil Kedelai...............................................................................19
4.2.6 Tepung Kerang (Grit).......................................................................19
4.2.7 Tepung Tulang..................................................................................19
4.2.8 Feed Additive...................................................................................20
KESIMPULAN....................................................................................................22
5.1 Kesimpulan..............................................................................................22
5.2 Saran........................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................23

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Seorang peternak selalu ingin agar ternaknya menghasilkan performans

yang optimal, baik dari produksi daging maupun telur. Salah satu faktor yang

menentukan hal tersebut adalah pemberian bahan pakan atau ransum berkualitas.

Ransum yang berkualitas baik adalah kombinasi beberapa bahan makanan yang

bila dikonsusmsi secara normal dapat mensuplai zat makanan kepada ternak
4

dalam perbandingan, jumlah, bentuk, sedemikian rupa sehingga fungsi-fungsi

fisiologis dalam tubuh dapat berjalan dengan normal dan tidak memiliki efek

samping.

Setiap makhluk hidup, khususnya ternak membutuhkan energi dan nutrien

dari bahan pakan yang diberikan. Nutrien tersebut digunakan sebagai katalisator,

prekursor metabolisme tubuh untuk menjalankan hidup produksi dan hidup

pokok. Bahan makanan tersebut baik untuk ternak unggas maupun untuk manusia

berasal dari sumber nabati dan hewani. Oleh karena itu sebagian bahan makanan

ternak unggas digemari atau bersaing dengan bahan makanan manusia, namun

perbedaannya terletak dalam cara pengolahan untuk cara dikonsumsi. Persaingan

bahan makanan ini disebabkan karena baik mausia maupun ternak unggas sama-

sama memiliki sistem pencernaan monogastrik. Ketersediaan bahan pakan untuk

unggas haruslah memiliki ketersediaan yang cukup dalam pemberiannya. Karena

akan menentukan kontiuitas, kualitas dan harga dari suatu bahan pakan. Untuk itu

penting bagi kita untuk mengetahui bahan pakan yang diberikan pada unggas dan

untuk itulah praktikum ini dilakukan.


5

1.2 Maksud dan Tujuan

1. Mengetahui mengenai jenis-jenis pakan unggas.

2. Mengetahui pengujian dasar kualitas pakan unggas secara fisik.

1.3 Waktu dan Tempat

Hari, Tanggal : Selasa, 21 Maret 2017

Waktu : 07.30 09.30 WIB

Tempat : Laboratorium Produksi Ternak Unggas Fakultas

Peternakan Universitas Padjadjaran


6

II

KAJIAN KEPUSTAKAAN
2.1 Zat makanan, Bahan Makanan dan Ransum

Ransum diartikan sebagai satu atau campuran beberapa jenis bahan pakan

yang diberikan untuk seekor ternak selama sehari semalam. Ransum adalah

campuran berbagai macam bahan organik dan anorganik yang diberikan kepada

ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan bagi

pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi. Agar pertumbuhan dan produksi

maksimal, jumlah dan kandungan zat-zat makanan yang diperlukan ternak harus

memadai (Suprijatna, dkk, 2005).

Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan

oleh hewan. Secara umum, bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan

atau edible (Tillman, dkk, 1991). Bentuk fisik pakan ada beberapa macam,

yaitumash and limited grains (campuran bentuk tepung dan butiran), all

mash (bentuk tepung), pellet (bentuk butiran dengan ukuran

sama), crumble (bentuk butiran halus dengan ukutan tidak sama). Di antara

keempat macam bentuk tersebut, bentuk pellet memiliki palatabilitas paling tinggi

dan lebih tahan lama disimpan. Bentuk all mash atau tepung digunakan untuk

tempat ransum otomatis, tetapi kurang disukai ayam, mudah tengik, dan sering

menyebabkan kanibalisme yang tinggi (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).

Pakan untuk ayam petelur umur 0 6 minggu (fase starter) sebaiknya

menggunakan pakan jadi buatan pabrik yang memiliki komposisi pakan yang
7

tepat dan tekstur halus, sedangkan untuk fase grower dan layer dapat digunakan

pakan hasil formulasi sendiri (Ditjennak, 2001).

Evaluasi bahan pakan secara fisik dapat dilakukan dengan memperhatikan

bau, rasa, warna kemudian bentuk dari bahan pakan tersebut dengan cara

perabaan. Dari segi bau, setiap bahan pakan memiliki bau yang berbeda beda.

Ini dikarenakan, reaksi zat kimia yang ada dalam bahan pakan, kemudian aktivitas

mikroorganisma dan binatang parasit serta pengaruh temperatur lingkungan

penyimpanan. Perubahan warna dalam bahan pakan sering terjadi, enzim yang

terdapat dalam bahan pakan berasal dari mikroorganisme yang mencemari bahan

pakan akan mempercepat reaksi reaksi kimia dan mengakibatkan perubahan-

perubahan pada komposisi bahan pakan termasuk warna. Perbedaan dalam

berbagai bentuk, ukuran dan kondisi fisik yang berbeda-beda dipengaruhi oleh

cara pemanenan, jenis, tujuan penggunaan dan proses pengolahan terhadap bahan

tersebut. Evaluasi bahan pakan secara fisik ini termasuk evaluasi bahan pakan

secara kualitatif. Evaluasi bahan pakan secara mikroskopis merupakan evaluasi

bahan pakan secara kuantitatif. Evalausi bahan pakan secara mikroskopis ini

melihat komposis jaringan tanaman atau hewan yang menyusun bahan pakan

sehingga diketahui ada tidaknya pemalsuan dalam bahan pakan. Evaluasi bahan

pakan selanjutnya yaitu evaluasi bahan pakan secara kimiawi. Evaluasi bahan

pakan secara kimiawi ini digunakan untuk mengetahui potensi bahan pakan yang

dicerminkan dari komposisi kimia bahan pakan itu. Komposisi kimia bahan pakan

secara umum terdiri dari air, protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan

abu.Analisis secara kimia dapat dilakukan dengan analisis proksimat. Evaluasi

bahan pakan secara biologis merupaka evaluasi bahan pakan dengan cara
8

diberikan langsung kepada ternak kemudian akan terlihat efek dari bahan pakasn

tersebut setelah diberikan kepada ternak.

Hal-hal Yang Di Butuhkan Dalam Menyusun Suatu Ransum

a. Pengetahuan tetntang kebutuhan zat-zat makanan dari ternak yang

bersangkutan (Feeding Standard)

b. Pengetahuan tentang komposisi kimia

c. Menghitung dan merangkum bahan makanan

2.2 Penggolongan bahan pakan ternak unggas

1. Berdasarkan Sumber / Asal :

Penggolongan bahan pakan ternak unggas berdasarkan sumber/asalnya

dibagi menjadi 2 yaitu:

a. Bahan pakan asal tumbuhan (nabati)

Bahan pakan nabati yang diberikan kepada ternak unggas terutama benyak

yang berasal dari biji-bijian dan hasil olahannya yaitu 70% - 75%, sedangkan 15%

- 25% merupakan limbah industri makanan dan sisa hijauan ternak. Bahan pakan

asal biji-bijian sebagian besar merupakan sumber energi yang baik karena berasal

dari tumbuh-tumbuhan, maka kandungan serat kasarnya tinggi.

Jagung

Jagung kuning merupakan bahan pakan sumber energi yang mengandung

8,6% protein kasar (PK); 3370 KKal/kg energi metabolisme (EM); 3,9 % lemak;

2% serat kasar (SK); 0,02% Ca; 0,3% total P (NRC, 1994). Jagung kuning yang

baik mengandung 12 14% air, 0,14% Mg; 0,38% K; 1,03 mg/kg Co; 3 mg/kg

Cu; 0,11 mg/kg I; 31 mg/kg Fe; 4 mg/kg Mn; 24 mg/kg Zn; 5,5 IU vitamin A; 29

IU vitamin D; 0,12 mg/kg biotin; 469 mg/kg kolin; 0,11 mg/kg asam folat; 29
9

mg/kg niasin; 4,1 mg/kg asam pantotenat; 3,4 mg/kg vitamin B6; 1,6 mg/kg

riboflavin; dan 5,7% thiamin (Kearl, 1982), serta 1,75% asam linoleat (Hy-Line

International, 2010).

Dedak halus

Dedak halus adalah hasil sisa penggilingan atau penumbukan padi. Bahan

ransum tersebut sangat populer dan banyak sekali digunakan dalam ransum

ternak. Kandungan proteinnya juga tinggi sebesar 13%. Dedak halus kaya akan

thiamin dan kandungan lisin yang tinggi (Anggorodi, 1985). Kandungan nutrisi

dari dedak halus antara lain Protein Kasar (%) 13.0, Lemak Kasar (%) 0.60, Serat

Kasar (%) 13.00, Kalsium (%) 0.21, Posfor (%) 1.50 , Energi Metabolisme

(kkal/kg) 1890 (Rasyaf, 1990).

Bekatul

Bekatul mengandung kulit ari beras tanpa sekam, berasal dari hasil

samping penggilingan padi. Bekatul merupakan bahan pakan sumber energi dan

vitamin B, dapat digunakan hingga 25% dari ransum ayam (FAO, 2009).

Penggunaan bekatul harus dibatasi karena mengandung pitat dalam ikatan fosfor

pitat sehingga daya cernanya rendah, mudah tengik, dan mengganggu penyerapan

kalsium (Suprijatna dkk., 2005). Bekatul yang merupakan bahan pakan

mengandung 12% protein, 2860 kkal/kg EM, 12 % lemak, 3% SK, 0,04% Ca,

1,4% total P (NRC, 1994).

Bungkil Kedelai

Bungkil kedelai adalah kedelai yang sudah diambil minyaknya.

Kandungan protein bungkil kedelai sekitar 48% dan merupakan sumber protein
10

yang amat bagus sebab keseimbangan asam amino yang terkandung didalamnya

cukup lengkap dan tinggi. Wahyu (1992), kandungan zat nutrisi bungkil kedelai

antar lain Protein Kasar (%) 48, Lemak Kasar (%) 0,51, Serat Kasar (%) 0,41,

Kalsium (%) 0,41, Posfor (%) 0,67, Energi Metabolisme (kkal/kg) 2290 (Scott,

1982).

Bungkil Kelapa Sawit

Bungkil inti sawit adalah limbah ikutan proses ekstrasi inti sawit. Bahan

ini dapat diperoleh dengan proses kimia atau dengan cara mekanik (Devendra,

1977). Zat makanan yang terkandung dalam bungkil inti sawit cukup bervariasi,

tetapi kandungan yang terbesar adalah protein berkisar antara 18-19%

(Satyawibawa dan Widyastuti, 2000). Kandungan nutrisi bungkil kelapa sawit

antara lain Bahan kering (%) 92,6, Protein kasar (%) 15,4, Lemak kasar 2,4, Serat

kasar (%) 16,9, TDN (%) 72, ME (Cal/gr) 2810 (NRC, 1985).

b. Bahan pakan asal hewan (hewani)

Bahan pakan hewani sudah menjadi campuran ransum ternak unggas sejak

ayam ras pertama kali diperkenalkan. Contoh: tepung ikan, tepung tulang, tepung

kerang, lemak atau minyak hewan.

Tepung ikan

Tepung ikan umumnya terbuat dari ikan-ikan kecil dan ikan yang tidak

dimanfaatkan lagi untuk manusia (Suprijatna, dkk, 2005). Standar kadar air

tepung ikan yaitu maksimal 13% dan kadar abunya 24% (Kearl, 1982). Semakin

tinggi kadar abu menunjukkan bahwa tepung ikan bermutu rendah karena lebih

banyak terbuat dari tulang ikan. Kandungan nutrisi tepung ikan pada umumnya
11

yaitu 62,0% PK; 10,2% lemak; 1,0% SK; 5,0% Ca; 2.950 Kkal/kg EM; 1,8%

metionin; dan 4,7% lisin (Alien,1982).


12

Tepung tulang

Meat Bone Meal (MBM) atau tepung tulang merupakan bahan pakan

sumber protein yang berasal dari sisa-sisa proses produksi di Rumah Pemotongan

Hewan (RPH), yaitu dari hasil trimming karkas, karkas yang tidak memenuhi

syarat untuk dikonsumsi manusia, organ seperti hati dan paru-paru, bagian yang

tidak dapat dimakan (inedible offal) seperti tulang, serta hasil rendering dari

ternak yang mati. Kandungan abu MBM yang normal yaitu 28 36%, kandungan

abu yang sangat tinggi menunjukkan bahwa MBM lebih banyak mengandung

tulang. Kandungan asam amino MBM yaitu 5,9% arginin; 0,7% sistin; 14,1%

glisin; 1,4% histidin; 2,6% isoleusin; 6,5% leusin; 5,0% lisin; 1,4% metionin;

3,1% fenilalanin; 3,4% treonin; 1,1% triptofan; 1,7% tirosin; dan 4,7% valin

(FAO, 2010). Kadar air MBM berkisar antara 3,0 11,2% dan mengandung 49,0

52,8% PK; 8,5 14,8% LK; 6,0 12,0% Ca; 3,5 5,0% total P; dan 1.770

2.420 MKal/kg EM (Miles dan Jacob, 2009).

2. Berdasarkan Sumber Penggunaannya

a. Pakan Konvensional

Pakan yang sering digunakan seperti dedak, bungkil kedele, bungkil

kelapa, minyak kelapa, tepung ikan, jagung, tepung tulang, grit.

b. Pakan Inkonvensional

Pakan alternatif yang biasa digunakan sebagai pengganti apabila harga

pakan konvesional tinggi contohnya adalah sorghum, gaplek, bungkil


13

kacang tanah, kacang kedele, kacang tanah, kulit kerabang, cacing, siput

dll.

3. Berdasarkan Kandungan Nutrisi

Bahan pakan sumber protein

Bahan pakan yang termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan

pakan ternak unggas yang mempunyai kandungan protein kasar lebih dari atau

sama dengan 20%. Antara lain: Tepung ikan, Tepung darah, Tepung limbah udang,

Tepung bulu terolah, Bungkil Kelapa, Bungkil Kedelai, tepung ikan.

Bahan pakan sumber energi

Bahan pakan ternak unggas sumber energi umumnya berasal dari

bahan pakan nabati.Bahan pakan ini mengandung protein kurang dari 20%

dan serat kasar kurang dari 18%. Bahan pakan ini contohnya antara lain :

Jagung, Dedak halus atau bekatul, Minyak nabati dan minyak ikan, Ubi

kayu/singkong dll.

Bahan pakan sumber vitamin

Vitamin merupakan komponen organik yang mempunyai peranan

penting di dalam metabolisme tubuh ternak unggas.Vitamin dibutuhkan

dalam jumlah sedikit tetapi sangat dibutuhkan oleh unggas. Kekurangan

vitamin akan segera terlihat yaitu pada tahan pupuk unggas terhadap

penyakit. Bahan pakan yang merupakan sumber vitamin antara lain:

minyak ikan, jagung, dedak.


14

Feed Additive

Additive adalah suatu bahan atau kombinasi bahan yang ditambahkan

dalam kuantitas yang kecil, kedalam campuran makanan dasar untuk memenuhi

kebutuhan khusus, contoh additive yaitu bahan konsentrat, additive bahan

suplemen, additive bahan premix, additive bahan makanan (Hartadi, dkk., 1991).

Additive adalah susunan bahan atau kombinasi bahan tertentu yang umum

digunakan dalam meramu pakan ternak yang sengaja ditambahkan ke dalam

ransum pakan ternak untuk menaikkan nilai gizi pakan guna memenuhi kebutuhan

khusus pada ternak. Sedangkan menurut Murtidjo (1993), additive adalah

tambahan pakan yang umum digunakan dalam meramu pakan ternak.

Penambahan bahan biasanya hanya dalam jumlah yang sedikit. Maksud dari

penambahan adalah untuk merangsang pertumbuhan atau merangsang produksi.

Macam-macam additive antara lain antibiotika, hormon, arsenikal, sulfaktan, dan

transquilizer.

Menurut Lesson dan Summers (2001), feed additive dapat berupa


flavoring agent, antibiotik, enzim, antioksidan, hormon, probiotik dan

antikoksidial.Fungsi feed additive adalah untuk menambah vitamin-vitamin,

mineral dan antibiotika dalam ransum, menjaga dan mempertahankan kesehatan

tubuh terhadap serangan penyakit dan pengaruh stress, merangsang pertumbuhan

badan (pertumbuhan daging menjadi baik) dan menambah nafsu makan,

meningkatkan produksi daging maupun telur (Anggorodi,1985).

Menurut Yaman, A (2013) Pakan tambahan (Feed Additive) merupakan

bahan tambahan yang dipakai untuk tujua tertentu, seperti obat, antibiotik,
15

pewarna, pengharum, antitengik, antijamur, dan antitoksin. Bahan pakan ini

biasanya diproduksi oleh pabrik dengan kemasan tersendiri dan digunakan dalam

jumlah yang sangat sedikit.

a. Koksidiostat

Koksidiostat merupakan obat untuk mencegah penyakit coccidiosis (berak darah)

yang ditambahkan di dalam pakan. Ada berbagai macam jenis obat coccidiosis,

antara lain Bambermycine, Amprolium, Monensin, Nikarbazin, Neonnisin,

Salinomisin, dan Sulfakuinoksalin. Penggunaannya seperti tertera pada

kemasannya, biasanya 500 ppm.

b. Antimold (antijamur)

Antimold untuk mencegah bahan pakan berjamur. Antijamur mengandung asam

propionat, amonium propionat, asam asetat, asam sorbet, atau kombinasinya.

Penggunaannya seperti tertera pada kemasannya, biasanya 0,09 0,1%.

c. Antitoksin (antiracun)

Antitoksin untuk menetralkan racun terutama yang berasal dari bahan-bahan

pakan yang mudah berjamur. Apabila sudah ditambahkan antimold, tidak perlu

ditambahkan lagi antitoksin.

d. Antioksidan (antiketengikan)

Antioksidan untuk mencegah ketengikan pakan. Ada beberapa jenis antioksidan,

antara lain butylated hydroxy toluen (BHT), butylated hydroxy anisol (BHA),

etoxyquin (EQ), dan prophil gallate (PG). Biasanya ditambahkan ke dalam bahan

pakan sebanyak 125 250 ppm.

e. Binder (perekat)
16

Binder adalah bahan perekat antarbahan pakan agar tidak mudah pecah menjadi

tepung. Bahan perekat alami antara lain tepung terigu, tepung tapioka, dan tepung

sagu. Biasanya bahan perekat ditambahkan sekitar 2%.


17

Feed suplement

Feed supplement merupakan jenis bahan pelengkap digunakan untuk tujuan

melengkapi zat-zat makanan tertentu seperti vitamin, mineral, dan asam amino

(Yaman dan Agric, 2010). Feed supplement merupakan bahan pakan tambahan

yang berupa zat-zat nutrisi, terutama zat nutrisi mikro seperti vitamin, mineral

atau asam amino. Penambahan feed supplement nutrisi dalam ransum berfungsi

untuk melengkapi atau meningkatkan ketersedian zat mikro yang seringkali

kandungannya dalam ransum kurang atau tidak sesuai standar. Terlebih lagi pada

ransum hasil self mixing yang biasanya mengalami keterbatasan untuk membuat

formulasi yang memperhitungkan sampai komponen nutrisi mikronya.

Feed supplement ini sudah secara alami terdapat di dalam pakan, namun

jumlah dari kandungannya perlu di tingkatkan. Misalnya dengan pemberian

vitamin, mineral serta asam amino untuk mendukung kesehatan sapi. Sumbernya

bisa di dapat dari tepung tulang, premiks, atau mineral mix (Agriflo, 2012).

Menurut Yaman, A (2013) Pakan pelengkap (feed supplement) Bahan

pelengkap digunakan untuk tujuan melengkapi zat-zat makanan tertentu, seperti

vitamin, mineral, dan asam amino. Beberapa bahan pakan yang berfungsi sebagai

suplemen adalah sebagai berikut.

a. Premix

Premix adalah sebutan untuk suatu suplementasi vitamin, mineral, asam amino,

dan antibiotik. Merek dagangnya, antara lain Premix-A,Top Mix, Vitramix,

Velnnix Poultry Plus, Viterna, Mineral Mix, dan Rhodiamix.

b. Asam Amino Sintetis


18

Saat ini sudah tersedia beberapa asam amino sintetis untuk mencukupi kebutuhan

asam amino. Umumnya, ada dua asam amino esensial yang sering kurang, yakni

metionin dan lisin. Contoh bahan asam amino esensil adalah DL-Methionin dan

L-Lisin. DL-Methionin sebagai sumber methionin (98-99%). Jika formula pakan

yang disusun masih kekurangan methionin, DL-Methionin dapat ditambahkan. L-

Lisin sebagai sumber lisin (60-99%).

4. Berdasarkan Ukurannya

Grain ( Bijian ), jenis ransum yang diberikan pada unggas dalam

bentuk murni biji bijian

Meal, jenis ransum yang diberikan pada unggas yang terdiri dari satu

macam bahan pakan yang sudah digiling.

Mash, campuran bahan pakan yang berbentuk tepung.

Pellet, mash yang dibentuk seperti tabung setelah melalui proses

peletting yang berukuran 5 8 mm.

Crumbs/crumble adalah pellet yang dibentuk menjadi butiran dengan

ukuran 3 mm.
19

III

ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR KERJA


3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

1. Baki atau nampan

2. Cawan/ mangkuk plastic

3. Mikroskop

3.1.2 Bahan

1. Jagung 5. Tepung ikan

2. Dedak 6. Tepung kerang

3. Minyak kelapa 7. Premiks

4. Bungkil kacang kedelai 8. Konsentrat

3.2 Prosedur Kerja

1. Perhatikan dan Amati setiap sampel bahan pakan unggas yang tersedia

dalam baki atau nampan.

2. Saudara dalam mengamati setiap bahan pakan unggas dengan cara

melakukan uji fisik melalui alat indera yaitu dengan cara diraba, dicicipi,

dicium dengan hidung da dilihat warna dari bahan pakan tersebut.

3. Tuliskan bahan pakan apa saja dan berikan keterangan pada tabel yang

telah disediakan mengenai warna, bau, tekstur, dan rasa.




IV
20

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.2 Hasil Pengamatan
Nama Warn Bau Rasa Tekst
Bahan a ur
Pakan
Jagung Kuni Bau Hambar Kasar
ng jagun
g
Dedak Cokla Gand Gandum Halus
t um
muda
Minya Kuni Tidak Hambar Cair
k ng berba
Kelapa u
Bungk Cokla Kelap Sedikit Halus
il t tua a manis
kedelai
Tepun Cokla Amis Asin Halus
g ikan t
muda
Konse Cokla Wang Hambar Halus
ntrat t i
Tepun Putih Amis Pahit Halus
g
kerang
Premix Kuni Tidak Pahit Halus
ng berba
u

4.2 Pembahasan

4.2.1 Jagung
21

Merupakan bahan pakan sumber energi dan memiliki sifat bulky

dimana bila digunakan terlalu tinggi akan menyebabkan konsetrat bulky yang

menyebabkan kecepatan konsumsinya oleh sapi menurun dan membutuhkan

ukuran karung yang lebih besar per satuan bobot konsetrat. Hal ini sesuai uji fisik

dalam pengamatan laboratorium Tepung jagung kuning segar memiliki warna

kuning dengan bongkahan biji padi yang masih segar tekstur tepung yang relatif

halus walaupun disertai biji jagung yang tidak halus sempurna, bau khas jagung

dengan rasa hambar tetapi menyerupai jagung. Berbeda halnya dengan tepung

jagung padi yang tidak segar akan berwarna kuning pucat dengan tekstur lebih

kasar bau tengik ditandai dengan keberadaan kutu dan rasa agak pahit. Apabila

sudah berbau tengik menandakan bahwa telah tumbuh jamur aspergillus flafus

yang dapat menghasilkan racun aflatoxin. Kualitas tepung jagung yang baik dapat

diketahui secara langsung dengan mengamati warnanya

4.2.2 Dedak

Dedak merupakan jenis bahan pakan sumbar energi. Permasalahan

atau kenyataan dilapangan dedak kasar sering diberi nama dan ditawarkan

sebagai dedak halus atau bekatul dan perbedaannya baru nampak setelah

diperikasa di laboratorium. Kandungan serat kasar dedak halus 10-20% dan

kandungan serat kasar yang lebih dari 20% tidak dapat lagi disebut dedak halus,

tetapi lebih layak disebut dedak kasar. Hal ini sesuai uji fisik dalam pengamatan

laboratorium dedak padi yang baik memiliki warna yang cerah yakni krem

kekuningan dengan tekstur yang halus, bau khas dedak segar serta rasa

menyerupai gandum. Dedak murni memiliki warna dan stuktur yang halus

berbeda halnya dengan dedak padi yang tidak segar akan menunjukan warna

krem-kecoklatan, tekstur agak kasar dengan bau yang tengik serta rasa sedikit
22

pahit biasanya dedak yang tidak segar ditujukan denga keberadaan kutu. Kita

dapat menilai dedak yang baik dengan hanya meraba tekstur atau dengan uji

density. Kekurangan dedak adalah, dedak memiliki antinutrisi, yaitu phytat.

Phytat dapat mengikat mineral dan protein sehingga tidak tercerna dengan

maksimal. Penanggulangan hal ini dapat dilakukan dengan memberikan enzim

pitase pada pakan ayam.

4.2.3 Minyak Kelapa

4.2.4 Bungkil Kedelai

Merupakan bahan pakan sumber protein tinggi dan sangat baik bila

diberikan kepada sapi laktasi awal atau untuk penggunaan dalam challanger

feeding dan pertumbuhan sapi pedet. Hal ini sesuai uji fisik pengamatan

laboratorium Bungkil kedelai memiliki warna coklat muda dengan tekstur terasa

kasar dengan bau khas kedelai rasa menyerupai kedelai pada bungkil kedelai

yang tidak segar warna lebih tua dengan tekstur yang kasar, bau yang tengik

dengan rasa tengik, dan sering di jumpai kutu. kualitas yang baik dari bungkil

kedelai dapat kita lihat dari warnanya apabila terlihat segar tidak kusam maka

dapat dipastikan bungkil kedelai itu memiliki kualitas yang baik. Bungkil

kedelai memiliki zat anti nutrisi yaitu anti tripsin yang dapat mengikat tripsin

dan protein-protein yang dipecah, akibatnya pankreas bekerja ekstra dan

menyebabkan hipertropi (pembesaran pankreas).

4.2.5 Tepung Ikan

Tepung ikan merupakan bahan makanan ternak yang berkadar

protein tinggi, mudah dicerna dan kaya akan asam amino essensial terutama

lisin dan metionin sehingga dapat digunakan sebagai penutup kekurangan yang

terdapat pada bii-bijian. Disamping itu tepung ikan kaya akan vitamin B,
23

mineral dan kandungan lemak yang cukup juga merupakan sumbangan dalam

memenuhi kebutuhan ternak akan energi (metabolis) dan juga vitamin yang

larut dalam lemak yaitu vitamin A dan D.

Selain sebagai sumber protein, tepung ikan juga dapat digunakan

sebagai sumber kalsium. Kandungan protein atau asam amino tepung ikan

dipengaruhi oleh bahan ikan yang digunakan serta proses pembuatannya.

Pemanasan yang berlebihan akan menghasilkan tepung ikan yang berwarna

cokelat dan kadar protein atau asam aminonya cenderung menurun atau menjadi

Rusak.

Adapun penggunaan tepung ikan ini terdiri dari berbagai jenis yang

beredar di pasaran yang disebut sebagai tepung ikan pabrik (komersial) yang telah

mengalami pengolahan dan pencampuran dengan bahan lain. Namun ternyata

tepung ikan tidak hanya bisa didapat dari pabrik, tepung ikan juga dapat

diproduksi sendiri yang murni berasal dari limbah-limbah ikan (sempengan) yang

tidak dipergunakan oleh manusia lagi dan bahkan kandungan proteinnya sendiri

masih utuh dibanding tepung ikan produksi parbrik

4.2.6 Konsentrat

Konsentrat adalah pakan yang memiliki nilai protein dan energi

yang tinggi dengan PK 18% Pada ternak yang digemukkan, semakin banyak

konsentrat dalam pakannya akan semakin baik asalkan konsumsi serat kasar

tidak kurang dari 15 % BK pakan. Pakan konsentrat merupakan sumber nutrien

yang paling utama bagi ternak. Komponen utama penyusun pakan adalah berupa

biji-bijian seperti jagung. Biji bijian umumnya mengandung air, karbohidrat,

protein termasuk enzim, lemak, mineral, dan vitamin sehingga bahan pakan
24

tersebut mudah tercemari j amur. Bahan pakan lainnya yang biasa digunakan

sebagai penyusun ransum adalah bungkil kedelai, tepung tulang, dedak, polar

putih, bungkil kelapa, garam, vitamin, mineral,pemacu pertumbuhan, dan

tepung ikan. Jika dilihat dari bentuk, maka pakan konsentrat dapat digolongkan

menjadi beberapa bentuk. Bentuk tersebut disesuaikan peruntukkannya dengan

jenis, umur ternak, dan berdasarkan kebutuhan atau tujuan tertentu yang

berkaitan dengan efisiensi usaha ternak.

4.2.7 Tepung Kerang


CaCO3
Kandungan nya 95-9% dengan kandungan Ca 37%

bentuk sajiannya: gillilng kasar yaitu untuk ayam telur diberikan secara ransum

dan giling halus dicampur dalam ransum atau konsetrat. Hal ini sesuai uji fisik
CaCO3
dalam pengamatan laboratorium Tepung kerang atau merupakan

sumber kasium yang baik , mengandung calsium 38% atau 94 calsium carbonat.

Tepung kerang banyak digunakan sebagai sumber kalsium juga sebagaigrit yang

dapat membantu proses pencernaan secara mekanis di dalam ventrikulus. Dan

pemakaian tepung kerang merupakan sebagai tambahan saja dan tidak harus dan

sifatnya sebagai pelengkap saja.Tepung kulit kerang berwarna keabuan dengan

tekstur bongkahan kasar bau khas kulit kerang dan rasa agak asin.

4.2.8 Premix

Merupakan vitamin, mineral dan antibiotik yang digunakan sebagai

imbuhan pakan unggas dan juga ternak besar. Pencampuran premix pada pakan

unggas ini bertujuan untuk menutupi kekurangan nilai gizi pada pakan tersebut
25

karena pada umumnya. Hal ini sesuai uji fisik pengamatan laboratorium. Premix

ini berwarna putih tulang, teksturnya lembut, bau seperti padi, dan rasanya

hambar. Premix memiliki kandungan 2 asam amino, 6 vitamin dan 12 mineral.

KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum pengenalan bahan pakan adalah sebagai

berikut :

1. Berdasarkan bahan pakan yang diuji, bahan pakan sumber energi adalah

jagung, dedak, minyak kelapa. Bahan pakan sumber protein adalah


26

bungkil kedelai, tepung ikan, konsentrat. Bahan pakan sumber mineral

adalah tepung kerang sedangkan feed supplement adalah premix.

2. Metode fisik secara yang dinilai adalah warna, bau, rasa, tekstur serta ada

atau tidak ada kontaminasi (benda lain atau bahan lain, jamur dan lain-

lain) terhadap bahan pakan tersebut.

5.2 Saran

Adapun saran dalam praktikum ini untuk memperbaiki praktikum

selanjutnya antara lain :

1. Waktu yang diberikan untuk menggali informasi bahan pakan masih

kurang

2. Sebaiknya asisten laboratorium memberikan informasi yang lebih rinci

mengenai pakan unggas













27

DAFTAR PUSTAKA

Agriflo, T. P. 2012. Cabai Prospek Bisnis dan Teknologi Mancanegara. Agriflo.

Depok.

Alien, R.D. 1982. Feedstuff Ingredient Analysis Table. Feedstuff 54 (30): 25 30.

Amrullah, Ibnu Katsir. 2003. Nutrisi Ayam Petelur. Bogor : Lembaga Satu

Gunungbudi.

Anggorodi, H.R., 1985. Ilmu Pakan Ternak Unggas. UI-Press, Jakarta.

Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia Pustaka Utama,.

Jakarta.

Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University

Press, Yogyakarta

Devendra, C., 1977. Utilization of Feedingstuff from Palm Oil. P.16.

MalaysianAgricultural Research and Development Institute Serdang Malaysia.

Direktorat Jenderal Peternakan. 2001. Peraturan Menteri Pertanian tentang

Peternakan Ayam Broiler dan Petelur. Dirjen Peternakan Press

FAO. 2009. Animal Feed Resources Information Sistem: Oryza

sativa. http://www. fao.org/ag (Diakses 3 April 2015).

Hartadi, H., S. Reksodiprodjo dan A.D. Tillman. 1991. Tabel Komposisi Bahan
Makanan Ternak Untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta
Hy-Line International. 2010. Hy-Line Brown Intensive Sistems Performance

Standards. http://www.hyline.com/redbook/performance. (Diakses 23

Maret 2017).

Interchemie. 2010. Poultry Layer Pemix. http://www.interchemie.com/ feed-

additives/introvit-poultry-layer-premix.html. (Diakses 23 Maret 2017).


28

International Feedstuff Institute Utah. Agricultural Experimentation. Utah

State University Logan. Utah U.S.A.

Kearl, L.C. 1982. Nutrien Requirements of Ruminants in Developing Countries.


Lesson, S and J. D. Summers. 2000. Broiler Breeder Production. University
Books.Guelph, Ontario, Canada.
Miles, R.D. dan J.P. Jacob. 2009. Using Meat and Bone Meal in Poultry Diet.

University of Florida, Florida.


Murtidjo, B.A. 1993. Memelihara Domba. Kanisius. Yogyakarta.
National Research Council, 1985. Nutrien Riquirement of sheep. Six received

edition. National academy of science. Washington DC.

National Research Council. 1994. Nutrien Requirements of Poultry Eighth

Revised Edition. National Academy of Sciences. Washington, DC.

Rasidi. 2002. Formulasi Pakan Lokal Alternatif Untuk Unggas. Jakarta : Penebar

Swadaya.

Rasyaf, M., 1990. Pengelolaan Penetasan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Rizal, Y., 2006. Ilmu Nutrisi Unggas. Andalas University Press, Padang.

Satyawibawa, I., dan Y.E. Widyastuti. 2000. Kelapa Sawit. Usaha Budidaya,

Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran. Penebar Swadaya, Jakarta.

Shirt, V. 2010. How to Feed Chickens Part 2.

http://www.poultryallotreatment.org.uk/keeping-chickens/feeding-

chickens_2.php (Diakses 23 Maret 2017).

Suprijatna, Edjeng, Dr., Dkk. Ilmu Dasar Ternak Unggas. 2005. Penebar

Swadaya: Jakarta.

Tillman, A.D, H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S.

Lebdosoekojo., 1984.Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada

University Press, Yogyakarta.


29

Wafi. 2011. Poultry Feed. http://www.wafi.nl/poultry-feed . (Diakses 23 Maret

2017).

Wahyu. J. 1992. IImu Nutrisi Ternak Unggas. UGM-Press, Yogyakarta.

Yaman, A. 2013. Ayam Kampung Pedaging Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yaman, M Aman dan M Agric. 2010. Ayam Kampung Unggul. Penebar Swadaya.

Depok.