Anda di halaman 1dari 9

MODUL 4 OSILATOR SINUSOIDAL

Marthin Lumban Gaol (14S14009)


Tanggal Percobaan: 18/11/2016
ELS3102-Praktikum Elektronika II
Laboratorium Dasar Teknik Elektro Institut Teknologi Del

Abstrak dan kapasitor (RC) dan induktor dan


kapasitor (LC)
Praktikum modul keempat ini akan
memberikan pemahaman praktis c. Mengamati dan menganalisa keadaan
tentang osilator. Hal yang harus untuk menjamin terjadinya osilasi
dilakukan adalah menyusun dan d. Mengamati dan menganalisa pengaturan
mengamati osilator RC, osilator dengan amplituda output osilator.
resonator, dan osilator cincin. Terdapat
dua percobaan pada pengamatan 2. STUDI PUSTAKA
osilator RC, yaitu pengamatan osilasi
dan kriteria osilasi serta pengendalian OSILATOR DAN UMPAN BALIK POSITIF
amplituda. Pada pengamatan osilator Sistem dengan umpan balik secara umum
dengan resonator juga terdapat dua dapat digambarkan dengan diagram blok
percobaan, yaitu pengamatan osilator berikut:
RC dan pengamatan osilator kristal
(opsional). Pada pengamatan osilator
sinusoidal menggunakan dua kit yaitu
Kit Osilator Sinusoidal RC OpAmp dan
Kit Osilator Sinusoidal LC Transistor.
Hasil yang diharapkan dari praktikum
kali ini adalah praktikan mampu
memahami beberapa hal sesuai Gambar 2-1 Diagram Blok Sistem dengan
Umpan Balik
spesifikasi yang diberikan pada tujuan.
Blok A merupakan fungsi transfer maju dan
Kata kunci: Osilator, Resonator, RC, LC, blok merupakan fungsi transfer umpan
Sinusoidal. baliknya. Pada sistem dengan umpan balik ini
dapat diturunkan penguatan tegangannya
1. PENDAHULUAN seperti ditunjukkan pada persamaan berikut:
Ada dua jenis rangkaian umpan balik, yaitu vo A
rangkaian umpan balik positif dan rangkaian Af =
umpan balik negatif. Rangkaian umpan balik v i 1+ A
positif dapat digunakan untuk membentuk
rangkaian osilator. Rangkaian osilator mampu Secara umum persamaan tersebut
membangkitkan sinyal tertentu secara menunjukkan adanya tiga keadaan yang
konstan dengan frekuensi dan amplitude ditentukan oleh denominatornya. Salah satu
tertentu. Pada percobaan ini akan diamati keadaan tersebut adalah saat denominator
rangkaian osilator yang membangkitkan menjadi nol. Saat itu nilai A f menjadi tak
sinyal sinusoidal, sinyal segitiga, dan sinyal hingga. Secara matematis pada keadaan ini
persegi. Praktikan akan dikenalkan pada bila diberikan sinyal input nol atau v i=0 ini,
rangkaian osilator menggunakan op-amp, akan menjadikan tegangan vo dapat bernilai
transistor BJT, Kristal, serta perancangan berapa saja. Keadaan seperti inilah yang
rangkaian pembangkit sinyal segitiga dan menjadi prinsip pembangkitan sinyal atau
persegi dengan duty cycle osilator sesuai osilator sinusoidal dengan umpan balik yang
dengan pilihan yang dibuat. disebut sebagai Kriteria Barkhausen. Dalam
rangkaian kriteria tersebut dilihat dari total
Adapun tujuan praktikum kali ini adalah
penguatan loop terbuka L sebagai berikut:
sebagai berikut:
a. Mengamati dan mengenali prinsip L ( j o ) =A ( j ) ( j ) =1
pembangkitan sinyal sinusoidal dengan
rangkaian umpan balik
b. Mengamati dan menganalisa rangkaian-
rangkaian osilator umpan balik resistor
OSILATOR DENGAN OPAMP, RESISTOR, 3. METODOLOGI
DAN KAPASITOR (RC OSCILLATOR)
Komponen dan peralatan:
Contoh implementasi rangkaian Osilator RC a. Kit Praktikum Osilator Sinusoidal
ini antara lain adalah Osilator Jembatan Wien,
Osilator Penggeser Fasa, dan Osilator b. Generator Sinyal
Kuadratur. c. Osiloskop
d. Multimeter
e. Catu Daya Ter-Regulasi 2 buah
f. Kabel dan asesori pengukuran
g. Aerosol udara terkompresi

Langkah Percobaan

OSILATOR RC
Pengamatan Osilasi dan Kriteria Osilasi

Merangkai Osilator Jembatan Wien


dengan komponen sesuai pada modul

Gambar 2-2 Contoh Implementasi Rangkaian


(a) Jembatan Wien (b) Penggeser Fasa (c)
Menghubungkan terminal Vo ke kanal 2
Kuadratur osiloskop
Kriteria osilasi sangat ketat, bila L>1 maka
maka rangkaian umpan balik menjadi tidak
stabil dan bila L<1 osilasi tidak akan terjadi. Mengatur Rf hingga output berosilasi
Oleh karena itu, penguat pada osilator dengan baik lalu mengukur resistansi Rf
menjamin L>1 saat mulai dioperasikan dan
kemudian dibatasi pada nilai L=1 saat
beroperasi. Cara yang umum digunakan Memutus rangkaian pada simpul P dan
dihubungkan pada generator sinyal
untuk kendali tersebut adalah dengan dengan frekuensi dan amplituda sesuai
rangkaian pembatas amplituda (clipper) atau perhitungan
pengendali penguatan otomatis (automatic
gain control, AGC). Mencatat amplituda dan penguatan lalu
pindah kanal 2 osiloskop ke Vx dan
OSILATOR DENGAN RESONATOR mengulangi lagi langkah ini

Osilator dapat pula dibuat menggunakan


Menyusun rangkaian seperti pada
transistor yang dikombinasikan dengan gambar 36 pada modul dengan
induktor dan kapasitor. Induktor (L) dan komponen yang sesuai lalu mengulangi
kapasitor (C) akan memengaruhi terjadinya langkah di atas kembali
fenomena self-resonance sehingga
didapatkan sinyal output tanpa adanya sinyal Gambar 3-1 Langkah Percobaan 1 Bagian
input. Rangkaian tersebut disebut sebagai Pertama
resonator. Ada beberapa rangkaian osilator Pengendalian Amplituda
LC ini yang terkenal, tiga diantaranya yaitu
Collpitts, Clapp, dan Hartley. Frekuensi osilasi Menggunakan susunan rangkaian
rangkaian tersebut ditentukan oleh rangkaian osilator penggeser fasa dan Rf diatur
resonansinya. agar output 18Vpp

Menggunakan udara terkompresi untuk


mendinginkan OpAmp lalu mengamati
apa yang terjadi pada amplituda output
osilator

Gambar 2-3 Rangkaian Osilator LC (a)


Colpitts (b) Clapp (c) Hartley
Mengulangi kembali untuk nilai output
25Vpp
Gambar 3-2 Langkah Percobaan 1 Bagian
Kedua

OSILATOR DENGAN RESONATOR


Osilator LC
Menyusun rangkaian seperti gambar 38 Gambar 4-1 Output Osilator Jembatan Wien
pada modul dan nilai komponen seperti Tanpa Input
yang ditentukan

Mencatat amplituda dan frekuensi sinyal


output osilator

Melakukan kembali untuk rangkaian


gambar 39 dan 40 sesuai dengan modul

Mengamati efek beberapa komponen


setelah disemprot udara terkompresi

Gambar 3-3 Langkah Percobaan 2 Bagian


Pertama
Osilator Kristal(Optional) Gambar 4-2 Dual Trace Input-Output
Pengukuran Open Loop Osilator Jembatan
Menyusun rangkaian osilator kristal Wien
pada gambar 41(a) pada modul dengan
komponen yang telah ditentukan pada
modul

Mengamati amplituda dan frekuensi


sinyal outputn lalu menyemprot
dengan udara terkompresi dan melihat
hasilnya

Mengulangi langkah yang dilakukan


untuk dosilator kristal pierce.

Gambar 3-4 Langkah Percobaan 2 Bagian


Kedua
Gambar 4-3 Mode XY Input-Output
4. HASIL DAN ANALISIS Pengukuran Open Loop Osilator Jembatan
Wien
OSILATOR RC
a. Pengamatan Osilasi dan Kriteria
Osilasi
Rangkaian Jembatan Wien
Hasil pengamatan yang diperoleh adalah
sebagai berikut :
Untuk mencari nilai open loop gain A harus
dicari nilai A terlebih dahulu. Nilai A dapat
dihitung dari
Rf 19,86
A=1+ =1+
Ri 10

A=2.986 .

Maka A dapat diketahui sebesar A =


(2,986) (0,35) = 1,0451. Nilai tersebut
mendekati 1 seperti yang telah dijelaskan
sesuai kriteria Bakhausen untuk
menghasilkan sinyal output sinusoid yang
baik.
Gambar 4-4 Dual Trace Input-Vx Pengukuran
Open Loop Osilator Jembatan Wien

Rangkaian Penggeser Fasa


Hasil pengamatan yang diperoleh adalah
sebagai berikut :

Gambar 4-5 Mode XY Input-Vx Pengukuran


Open Loop Osilator Jembatan Wien
Hasil seperti pada gambar 4-1 diperoleh
dengan Rf sebesar 19,86 k dengan
amplitudo output sebesar 13,2 V serta
frekuensi sebesar 4,75 kHz.
Secara teori, frekuensi osilasi yang
didapatkan dari rangkaian osilator Jembatan
Wien ini adalah :
1 1 Gambar 4-6 Output Osilator Penggeser Fasa
f= = Tanpa Input
2 R 1 R2 R 3 R 4 2 ( 1,8 k )( 1,8 k ) ( 20 k ) ( 10 k )

f =4,9 kHz

Hasil pengamatan menunjukkan nilai yang


mendekati teori. Ada perbedaan sedikit
karena beberapa faktor seperti faktor
resistansi kabel, toleransi nilai resistor,
maupun gangguan resistif dari osiloskop itu
sendiri.
Beda fasa baik pada titik output maupun Vx
menunjukkan hasil tanpa penundaan
terhadap input yaitu sebesar 0O. Pada
pengamatan di titik Vx didapatkan :
= 0,35 V/V Gambar 4-7 Dual Trace Input-Output
Pengukuran Open Loop Osilator Penggeser
Fasa
Hasil pengamatan menunjukkan nilai yang
mendekati teori. Ada perbedaan sedikit
karena beberapa faktor seperti faktor
resistansi kabel, toleransi nilai resistor,
maupun gangguan resistif dari osiloskop itu
sendiri.
Beda fasa baik pada titik output sebesar 0 O
terhadap input sedangkan pada titik Vx
memiliki beda fasa sebesar 180O. Hal ini
karena nilai bernilai minus dan berdasarkan
data yang diperoleh memiliki nilai sebesar :
= 0,046 V/V
Untuk mencari nilai open loop gain A harus
Gambar 4-8 Mode XY Input-Output
dicari nilai A terlebih dahulu. Nilai A dapat
Pengukuran Open Loop Osilator Penggeser dihitung dari
Fasa Rf 53,7
A= =
Ri 1,8

A=29,83 .

Maka A dapat diketahui sebesar A =


(29,83) (0,046) = 1,3723. Nilai tersebut
sedikit jauh dari 1 dan dalam artian lain
sedikit melenceng dari kriteria Bakhausen
sehingga menghasilkan sedikit
ketidakstabilan sinyal output.
Rangkaian Kuadratur
Praktikan tidak mampu menyelesaikan
praktikum bagian kuadratur dikarenakan
Gambar 4-9 Dual Trace Input-Vx Pengukuran beberapa faktor salah satunya adalah adanya
Open Loop Osilator Penggeser Fasa sambungan yang putus pada transistor. Maka
dari itu dilakukan simulasi dengan sebagai
berikut :

Gambar 4-11 Rangkaian Kuadratur dengan


Gambar 4-10 Mode XY Input-Vx Pengukuran Simulasi Multisim
Open Loop Osilator Penggeser Fasa
Hasil seperti pada gambar 4-6 diperoleh
dengan Rf sebesar 53,7 k dengan amplitudo
output sebesar 13,1 V serta frekuensi
sebesar 1,92 kHz.
Secara teori, frekuensi osilasi yang
didapatkan dari rangkaian osilator Penggeser
Fasa ini adalah :
1
f= =2 kHz
2 RC 6
Gambar 4-12 Dual Trace Vo sinus-Vo cosinus Gambar 4-14 Rangkaian Simulasi Penggeser
Rangkaian Osilator Kuadrator (Closed Loop) Fasa Closed Loop Tanpa Pembatas
Rangkaian tersebut ketika disimulasikan tidak
menampilkan sinyal AC sama sekali.
Saya akan mengulas melalui teori saja. Telah
diketahui bahwa pada percobaan pergesaran
fasa didapatkan output 26.2 Vpp sehingga
untuk mendapatkan nilai 18 Vpp atau yang
lebih kecil caru daya harus diturunkan.
Penurunan nilai output dengan mengubah-
ngubah Rf akan mengganggu kestabilan
sinyal.
Penggunaan aerosol harusnya akan
memberikan osilasi yang stabil, terutama
ketidaksabilan yang disebabkan kenaikan
Gambar 4-13 Mode XY Vo sinus-Vo cosinus suhu. Akan tetapi pada percobaan
Rangkaian Osilator Kuadrator (Closed Loop)
penggunaan aerosol tidak berpengaruh
Rangkaian ini dinamai kuadratur karena signifikan karena kemungkinan suhu aerosol
menggunakan 2 buah integrator. Kuadratur yang digunakan sudah sama dengan suhu
menghasilkan gelombang sinusoid dengan kamar = suhu opamp.
pergeseran fasa 90 seperti yang terlihat Dengan Pembatas
pada gambar 4-11 dimana puncak maupun
lembah output berada tepat ditengah-tengah Pada percobaan kali ini, praktikan belum bisa
antara puncak dan lembah Vx terdekat. mengamati pengaruh pengendali amplituda
Seperti kita ketahui bahwa beda fasa antara secara langsung
gelombang sinus dan cosinus adalah 90O
yang nampak pada perbedaan fasa output
dan Vx ini.
Frekuensi menunjukkan nilai 878,22 Hz
sedangkan berdasarkan perhitungan
seharusnya didapatkan :

f=
1
2 R2

1
R 1 R3 C 3 R 4 C 4

f=
1
2 10 k

1
10 k (1.8 k)(18 n)(56 k )(18 n)
Gambar 4-15 Rangkaian Simulasi Penggeser
Fasa Closed Loop dengan Pembatas
Dengan menggunakan pembatas amplitudo,
f =880.68 Hz berapa pun besarnya L yang diakibatkan
karena frekuensi sinyal input, akan dibatasi
Simulasi dengan open loop gagal menjadi L=1 sehingga terjamin terjadi osilasi.
mendapatkan data. Cara kerja pembatas ini adalah : saat puncak
output vo, tegangan pada dioda D2 akan
b. Pengendalian Amplituda melebihi tegangan pada node input inverting
Tanpa Pembatas OpAmp, sehingga dioda D2 akan konduksi
dan menyebabkan tegangan output
Pada percobaan kali ini, praktikan belum bisa terpotong (clamped) menjadi tegangan yang
mengamati pengaruh pengendali amplituda nilainya diatur oleh tegangan R5 dan R6,
secara langsung yang menjadi resistansi beban. Hal yang
sama terjadi ketika puncak tegangan
negative, yang menyebabkan dioda D1
konduksi dan memotong tegangan output
menjadi nilai yang diatur oleh resistansi R3
dan R4.

OSILATOR DENGAN RESONATOR OSILATOR


LC
a. Osilator Collpitts
Praktikan tidak sanggup menyelesaikan Selanjutnya L menurun dan gelombang
pengamatan secara langsung bagian ini output menjadi stabil. Penurunan ini terjadi
karena output tidak menampakkan hasil akibat adanya umpan balik yang mengoreksi
terus walaupun sudah berganti kit sekalipun. input dan menurunkan penguatan L.
Maka dari itu, perlu dilakukan simulasi seperti
berikut :

b. Osilator Clapp
Praktikan tidak sanggup menyelesaikan
Gambar 4-16 Rangkaian Simulasi Osilator pengamatan secara langsung bagian ini
Collpitts karena output tidak menampakkan hasil
terus walaupun sudah berganti kit sekalipun.
Maka dari itu, perlu dilakukan simulasi seperti
berikut :

Gambar 4-17 Output Hasil Simulasi Osilator


Collpitts
Frekuensi resonansi berdasarkan teori adalah
sebagai berikut :
1 1 1 1 Gambar 4-18 Rangkaian Simulasi Osilator
f= = =10.116 kHz
2 L CT 2 2.5 m( 99 n) Clapp

Nilai tersebut tidak berbeda jauh dengan nilai


hasil simulasi sebesar 10,3 kHz. Didapatkan
pula nilai CT sebagai berikut :

C 1 C 2 (180 n)(220 n)
CT = = =99 nF
C1 +C 2 180 n+ 220 n

Osilator dengan resonator memanfaatkan


resonansi yang terjadi akibat adanya
penjumlahan dua osilasi yang berosilasi pada
frekuensi yang sama pada pengumpan balik.
Umpan balik diperlukan untuk menjaga
resonansi bersama secara berkelanjutan Gambar 4-19 Output Hasil Simulasi Osilator
yaitu dengan mencegah peredaman akibat Clapp
sifat resistansi pada induktor dan
Frekuensi resonansi berdasarkan teori adalah
konduktansi pada kapasitor.
sebagai berikut :
Pada hasil simulasi osilator colpitts didapat
pada awalnya L>1 hal tersebut terlihat
dengan amplitudo yang membesar.
1 1 1 1 terjadi pada frekuensi rendah. Didapatkan
f= = =9.915 kHz
2 L CT 2 2.5 m(103.056 n) pula nilai LT sebagai berikut :

Nilai tersebut tidak berbeda jauh dengan nilai LT =L 1+ L 2=29,2 H


hasil simulasi sebesar 9,73 kHz. Didapatkan
pula nilai CT sebagai berikut : Osilator Hartley menggunakan prinsip dasar
yang sama dengan osilator LC sebelumnya,
yaitu memanfaatkan self resonance dengan
C1C2C3
CT = =103.056 nF mengguna-kan rangkaian umpan balik untuk
C1 C2 +C 2 C 3+ C1 C3 menstabilkan gelombang sinusoidal output.

Osilator Clapp pada dasarnya adalah osilator 5. KESIMPULAN


Colpitts yang diberi tambahan kapasitor yang Rangkaian osilator dapat berupa
diseri dengan induktornya. Hasil simulasi
rangkaian pembangkit sinusoidal
menunjukkan pada awal osilasi sinyal yang
maupun non-sinusoidal.
ditunjukkan tidak stabil hingga selanjutnya
umpan balik memerkecil penguatan dan Kriteria Barkhausen adalah syarat osilasi
membuat osilasi stabil. dengan A = 1.
c. Osilator Hartley Rangkaian pembangkit nonsinusoidal
Hasil yang diperoleh pada saat praktikum dapat berupa rangkaian pembangkit
adalah sebagai berikut : gelombang segitiga dan rangkaian
pembangkit persegi
Osilator cincin merupakan salah satu
jenis osilator yang digunakan untuk
menghasilkan output sesuai input
dengan perubahan frekuensi tertentu.
Nilai frekuensi output osilator cincin
semakin rendah ketika semakin banyak
inverter yang digunakan.
Secara umum rangkaian osilator
nonsinusoid bekerja berdasarkan prinsip
slew rate dan delay komponen Op amp.
Kedua parameter ini dipengaruhi oleh
beban kapasitif induktif dan resistif pada
Gambar 4-20 Hasil Output Pada Rangkaian rangkaian.
Osilator Hartley
Frekuensi resonansi berdasarkan teori adalah DAFTAR PUSTAKA
sebagai berikut : [1] Adel S. Sedra dan Kennet C. Smith,
1 1 1 1 Microelectronic Circuits 6th
f= = =219.53 kHz Edition, Oxford University Press,
2 C LT 2 18 n(2.2 u+27 u) USA, 2013.

Nilai tersebut tidak berbeda jauh dengan nilai [2] Mervin T.Hutabarat, Petunjuk
hasil simulasi sebesar 225,18 kHz. Frekuensi Pratikum Elektronika II , Laboratorium
resonansi hartley terjadi pada frekuensi tinggi Dasar Teknik Elektro STEI - ITB,
tidak seperti pada osilator collpitts yang 2015.