Anda di halaman 1dari 85

ASPEK BIOLOGI GANGGUAN KEPRIBADIAN

Pemahaman tentang kepribadian dan gangguannya membedakan psikiatri


secara pundamental dengan semua cabang pengobatan. Manusia adalah kesadaran
diri sebagai manusia seperti yang dikatakan oleh C. Robert Cloninger bukan objek
seperti mesin tanpa kesadaran diri. Kepribadian mengarah pada semua karakteristik
yang menyesuaikan dengan cara yang unik terhadap perubahan lingkungan internal
dan eksternal.
Gangguan kepribadian bersifat umum dan kronis. Gangguan kepribadian
terdapat pada 10 hingga 20 persen dari populasi umum dan terjadi sejak beberapa
puluh tahun yang lalu. Sekitar 50 persen dari seluruh pasien psikiatri memiliki
masalah dengan gangguan kepribadian, yang sering berkomorbid dengan gejala klinis
lainnya. Gangguan kepribadian juga merupakan faktor predisposisi untuk gangguan
psikiatri lainnya (seperti penggunaan zat, bunuh diri, gangguan afektif, gangguan
dalam mengontrol impuls, gangguan makan, dan gangguan cemas) dimana dapat
mengganggu hasil pengobatan dari banyak gejala klinis dan meningkatkan
ketidakmampuan, morbiditas dan mortalitas pasien.
Orang dengan gangguan kepribadian cenderung menolak pertolongan psikiatri
dan menyangkal masalah mereka dibandingkan orang dengan gangguan cemas,
gangguan depresi, atau gangguan obsesif kompulsif. Secara umum gejala gangguan
kepribadian adalah ego sintonik (yaitu dapat diterima oleh ego, dan sebaliknya
dengan ego distonik) dan alloplastik (yaitu mampu mengadaptasi dengan mencoba
mengubah lingkungan eksternal lebih dari diri mereka sendiri). Orang dengan
gangguan kepribadian tidak akan merasa cemas dengan prilaku maladaptifnya.
Karena mereka tidak merasakan sakit seperti apa yang dirasakan orang lain sebagai
suatu gejala, mereka seringkali tampak tidak tertarik terhadap pengobatan dan sangat
sulit untuk pulih.

1
KLASIFIKASI

Edisi kelima Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-


5) mendefinisikan secara umum gangguan kepribadian sebagai pola perilaku dan
pengalaman bawah sadar yang menyimpang secara signifikan dari standar kultur
seseorang, sangat kaku, onset terjadi pada remaja atau dewasa awal, stabil
berlangsung lama, mengarah pada ketidakbahagiaan dan gangguan, dan manifestasi
didapatkan 2 dari 4 hal yaitu kognisi, afektifiti, fungsi interpersonal, atau kontrol
impuls. Ketika ciri kepribadian seseorang menjadi kaku dan maladaptif dan
menyebabkan penurunan fungsi atau distress maka dapat di diagnosis dengan
gangguan kepribadian.

Subtipe gangguan kepribadian diklasifikasikan dalam DSM5 adalah


schizotypal,schizoid, dan paranoid ( Cluster A); narcissistic, borderline, antisocial,
dan histrionic (Cluster B); dan obsessive-kompulsive, dependent, dan avoidant
( Cluster C). Tiga kelompok tersebut didasarkan oleh kesamaan deskriptif. Cluster A
mencakup tiga gangguan kepribadian dengan gambaran aneh dan eksentrik (paranoid,
schizoid, dan schizotypal). Cluster B terdiri dari empat gangguan kepribadian dengan
gambaran dramatik, emosional dan tidak menentu (borderline, antisocial, nascissistic,
dan histrionic). Cluster C terdiri dari tiga gangguan kepribadian dengan gambaran
tampak cemas dan ketakutan ( avoidant, dependent, dan obsessive-kompulsif).
Banyak orang yang menunjukkan sifat yang tidak terbatas pada gangguan
kepribadian tunggal. Jika seorang pasien memenuhi kriteria untuk lebih dari satu
gangguan kepribadian masing-masingnya harus di diagnosis.

ETIOLOGI

FAKTOR GENETIK

Bukti terbaik bahwa faktor genetik berperan terhadap timbulnya gangguan


kepribadian berasal dari penelitian gangguan psikiatri pada 15.000 pasangan kembar

2
di Amerika Serikat.Diantara kembar monozigot angka kesesuaian untuk gangguan
kepribadian adalah beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kembar dizigot. Selain itu
menurut satu penelitian tentang penelitian multiple kepribadian dan tempramen,
minat okupasional, dan waktu luang dan sikap social kembar monozigot yang
dibesarkan terpisah sama dengan kembar monozigot yang dibesarkan bersama-sama.

Gangguan kepribadian Cluster C mungkin juga memiliki dasar genetik. Pasien


dengan gangguan kepribadian menghindar seringkali memiliki tingkat kecemasan
yang tinggi. Obsesif kompulsif adalah lebih sering ditemukan pada kembar
monozigot dibandingkan kembar dizigot dan pasien gangguan kepribadian obsesif
kompulsif menunjukkan bebrapa tanda yang berhubungan dengan depresi sebagai
contoh pemendekan latensi tidur gerakan mata (REM) hasil tes supresi
deksametasone (DST) yang abnormal.

FAKTOR BIOLOGI

HORMON. Orang yang menunjukkan sifat impulsive sering kali juga menunjukan
peningkatan kadar testosterone, 17 estradiol, dan estrone. Pada primata bukan
manusia, androgen meningkatkan kemungkinan agresi dan prilaku seksual. Tetapi
peranan testoteron pada agresi manusia adalah tidak jelas. Hasil DST adalah
abnormal pada beberap pasien gangguan kepribadian ambang dengan gejala depresi.

PLATELET MONOAMINE OKSIDASE. Kadar monoamin oxidase yang rendah


telah dihubungkan dengan aktivitas dan sosiabilitas pada kera. Pelajar perguruan
tinggi dengan MAO platelet yang rendah melaporkan menggunakan lebih banayak
waktu dalam aktivitas sosial dibanding dengan pelajar yang memiliki kadar MAO
platelet yang tinggi. Kadar MAO platelet yang rendah juga telah ditemukan pada
beberapa pasien dengan gangguan skizotipal.

SMOOTH PERSUIT EYE MOVEMENTS. Smooth persuit eye movements / gerakan


mata mengejar yang halus adalah sakadik (seperti gelisah) pada orang yang memiliki

3
sifat introversi, harga diri rendah, dan menarik diri dan pada pasien dengan gangguan
kepribadian skizotipal. Temuan tersebut tidak memiliki penerapan klinis, tetapi
terdapat indikasi peran diturunkan.

NEUROTRANSMITER. Endorfin memiliki efek yang serupa dengan morfin


eksogen, termasuk analgesia dan supresi rangsangan. Kadar endorphin endogen yang
tinggi mungkin berhubungan dengan orang yang flegmatik atau pasif. Penelitian sifat
kepribadian dan sistem dopaminergik serta serotoninergik menyatakan suatu fungsi
aktivasi kesadaran dari neurotransmiter tersebut. Kadar 5- Hidroxy-indoleacetic-acid
(5-HIAA), metabolit serotonin rendah pada orang yang mencoba bunuh diri dan pada
pasien yang impulsive dan agresif.
Meningkatkan kadar serotonin dengan obat serotonergik tertentu seperti
Fluoxetine (Prolac) dapat menghasilkan perubahan dramatis pada beberapa
karakteristik kepribadian. Serotonin menurunkan depresi, impulsivitas, dan nafsu
makan pada banyak orang dan mempengaruhi perasaan pada umumnya.
Meningkatnya kadar dopamin pada sistem syaraf pusat dihasilkan oleh psikostimulan
tertentu (seperti : amphetamin) dapat menginduksi euphoria. Efek neurotransmitter
pada sifat kepribadian menimbulkan ketertarikan dan kontroversi apakah sifat
kepribadian seseorang dibawa semenjak lahir atau didapat.

ELEKTROFISIOLOGI. Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram


(EEG) telah ditemukan pada beberapa pasien dengan gangguan kepribadian, paling
sering pada tipe antisosial dan ambang dimana ditemukan aktivitas gelombang lambat
pada EEG

FAKTOR PSIKOANALITIK
Sigmound Freud pada awalnya menyatakan bahwa sifat kepribadian adalah
berhubungan dengan fiksasi pada salah satu stadium perkembangan psikoseksual.
Sebagai contoh suatu karakter oral adalah pasif dan dependen karena terfiksasi pada

4
fase oral dimana ketergantungan pada orang lain untuk asupan makanan adalah
menonjol. Karakter anal adalah keras kepala, kikir, dan sangat teliti karena
perjuangan di sekitar latihan toilet selama periode anal.
Selanjutnya Wilhelm Reich mengajukan istilah character armor untuk
menggambarkan gaya defensive karakteristik yang digunakan seseorang untuk
melindungi dirinya sendiri dari impuls internal dan dari kecemasan interpersonal
dalam hubungan yang bermakna. Pandapat Reich memiliki pengaruh yang luas pada
pemahaman kontemporer tentang kepribadian dan gangguan kepribadian. Cap
kepribadian yang unik pada masing-masing manusia adalah sangat ditentukan oleh
mekanisme pertahanan karakteristik orang tersebut. Masing masing gangguan
kepribadian dalam setiap cluster memiliki kelompok mekanisme pertahanan yang
membantu klinisi psikodinamika mengenali tipe patologi karakter yang ada. Sebagai
contohnya orang dengan gangguan kepribadian paranoid menggunakan proyeksi,
gangguan kepribadian schizoid berhubungan dengan penarikan diri.
Jika mekanisme pertahanan berfungsi dengan baik pasien dengan gangguan
kepribadian akan mampu mengatasi perasaan cemas, depresi, kemarahan, malu,
bersalah, atau afek lainnya. Perilaku mereka egosintonik, dimana prilaku tersebut
tidak menimbulkan penderitaan pada pasien tersebut, kendatipun dapat merugikan
orang lain. Pasien mungkin juga enggan untuk melibatkan diri dalam proses terapi
karena pengandalian mereka adalah penting dalam pengendalian afek yang tidak
menyenangkan dan mereka tidak berminat dalam menyerahkan itu sepenuhnya.
Sebagai tambahan pada karakteristik pertahanan pada gangguan kepribadian,
ciri pusat lain dari gangguan kepribadian adalah hubungan objek internal pasien.
Selama perkembangan, pola diri tertentu dalam hubungan dengan orang lain
diinternalisasikan. Melalui introyeksi anak menginternalisasikan orang tuanya atau
orang terdekat lainnya sebagai objek yang secara kontinu dirasakan melebihi dirinya
sendiri. Melalui identifikasi seorang anak menginternalisasikan orang tua dan orang
terdekat lainnya dengan cara tertentu dimana sifat objek eksternal dipadukan ke
dalam diri dan sifat anak tersebut. Penampilan sifat secara internal dan penampilan

5
objek sangatlah penting dalam perkembangan kepribadian dan melalui ekternalisasi
dan identifikasi proyektif, aspek penampilan diri dan penampilan objek dimanikan
dalam seknario interpersonal dimana orang lain dipaksa bermain dalam kehidupan
internal seseorang. Dengan demikian, orang dengan gangguan kepribadian dapat
diidentifikasi dengan pola tertentu yang berkaitan dengan kedekatan interpersonal
yang bersumber dari pola hubungan objek internal tersebut.

MEKANISME PERTAHANAN. Untuk membantu pasien dengan gangguan


kepribadian, psikiater perlu mengerti mekanisme pertahanan dari pasien tersebut.
Mekanisme pertahanan adalah proses mental bawah sadar yang digunakan ego untuk
memecahkan konflik antara empat pedoman kehidupan dalam instink ( harapan atau
kebutuhan ), realitas, orang terdekat, dan kesadaran. Jika pertahanan adalah paling
efektif, khususnya pada gangguan kepribadian, mereka dapat menghilangkan
kecemasan dan depresi. Jadi alasan utama orang dengan gangguan kepribadian
enggan mengubah perilakunya
Walaupun pasien dengan gangguan kepribadian mungkin ditandai oleh
mekanisme yang paling menonjol dan kaku, masing-masing pasien menggunakan
beberapa mekanisme. Dengan demikian menejemen mekanisme pertahanan yang
digunakan disini menjadi topik umum, bukannya di dalam gangguan spesifik. Banyak
informasi yang diajukan disini dalam bahasa psikiatri psikoanalitik dapat
diterjemahkan dalam prinsip-prinsip yang konsisten dengan pendekatan kognitif dan
perilaku.

FANTASI. Banyak orang yang diberi label skizoid adalah orang yang eksentrik,
kesepian atau ketakutan, mencari pelipur lara dan kepuasan dalam diri mereka dengan
menciptakan kehidupan kayalan, khususnya teman khayalan di dalam pikiran mereka.
Sering kali orang tersebut tampaknya menjauhkan diri. Kita perlu mengerti tidak
adanya sosiabilitas diakibatkan oleh ketakutan akan keintiman, bukan mengkritik
mereka atau merasa tertolak oleh penolakan mereka. Terapis harus tenang,

6
menentramkan, dan penuh perhatian tanpa memaksakan respon sebaliknya.
Mengenali ketakutan mereka akan kedekatan dan menghormati cara eksentirk mereka
sangat membantu dan berguna dalam terapi.

DISOSIASI. Disosiasi atau penyangkalan adalah Pollyanna-like pergantian dari afek


yang tidak menyenangkan dengan afek yang menyenangkan. Orang yang sering
disosiasi sering kali tampak mendramatisasi dan dangkal secara emosional, mereka
mungkin dicap berkepribadian histrionik. Mereka berperilaku seperti remaja cemas
yang untuk menghilangkan kecemasannya, secara tidak berhati-hati melakukan
tindakan yang berbahaya. Terimalah pasien tersebut dengan kegembiraan dan
menggoda adalah untuk menghilangkan kecemasan mereka, tetapi berkonfrontasi
dengan kerentanan dan kekurangan mereka adalah membuat mereka lebih bertahan.
Karena mereka mencari penghargaan atas daya tarik dan keberanian mereka, terapis
tidak boleh terlalu tidak ramah, sambil tetap tenang dan hangat terapis harus
menyadari bahwa pasien tersebut sering kali merupakan pembohong yang tidak
berhati-hati. Pasien yang menggunakan disosiasi mendapatkan manfaat dari memiliki
kesempatan untuk mengungkapkan kecemasan mereka sendiri dalam proses mereka
mungkin mengingat apa yang mereka lupakan. Sering kali disosisasi dan
penyangkalan paling baik ditangani dengan pengalihan (displacement) oleh trapis.
Jadi, klinisi dapat berbicara dengan pasien tentang masalah afektif yang sama tetapi
dalam konteks lingkungan yang kurang mengancam. Empati dengan afek
pnyangkalan tanpa secara langsung mengkonfrontasi pasien dengan kenyataan akan
memungkinkan pasien mengungkapkan topik yang sebenarnya.

ISOLASI. Isolasi adalah karakteristik pada orang yang terkendali dan tertib. Sering
kali di cap sebagai kepribadian obsesif kompulsif. Tidak seperti kepribadian
histrionik orang dengan obsesif kompulsif mengingat kebenaran namun tanpa disertai
affect. Dalam suatu krisis pasien mungkin menunjukkan penguatan pengekangan diri,
prilaku sosial yang terlalu resmi dan keras kepala. Permintaan pasien utnuk
pengendalian mungkin menjengkelkan atau membosankan terapis. Sering pasien

7
tersebut berespon dengan baik terhadap penjelasan yang teliti, sistematis dan rasional.
Mereka menilai efisiensi, kebersihan dan ketepatan waktu sebesar mereka menilai
responsivitas efektif klinisi. Bilamana dimungkinkan klinisi harus membiarkan pasien
tersebut mengendalikan perawatan mereka sendiri, bukannya melibatkan mereka
didalam pertarungan keinginan.

PROYEKSI. Dalam proyeksi, pasien menghubungkan perasaan diri mereka sendiri


yang tidak dinyatakan pada orang lain. Mencari kesalahan yang berlebihan dan
kepekaan terhadap kritik mungkin dipandang sebagai mengumpulkan ketidakadilan
yang diduga dan terlalu waspada tetapi tidak boleh dihadapkan dengan sikap
membela diri dan argumentasi. Bahkan, kesalahan kecil pada pihak pemeriksa harus
diakui dengan jelas dan seharusnya didiskusikan kemungkinan kesulitan dimasa
depan. Kesopanan yang ketat, perhatian terhadap hak pasien dan mempertahankan
yang sama resmi dan perhatian seperti dengan seorang pasien yang menggunakan
pertahanan fantasi dapat membantu. Konfrontasi menyebabkan permusuhan yang
lama dan terhentinya wawancara. Terapis perlu tidak setuju dengan pengumpulan
ketidakadilan oleh pasien, tetapi seharusnya bertanya apakah dapat setuju atau tidak
setuju.

Teknik proyeksi balik (counterprojetion) adalah sangat membantu. Dengan


teknik tersebut klinisi mengakui dan memberikan pada pasien paranoid penghargaan
penuh atas perasaan mereka dan persepsi mereka. Selain itu klinisi tidak boleh
membantah keluhan pasien atau tidak memaksa mereka tetapi mengakui dunia yang
digambarkan oleh pasien paranoid dapat dibayangkan. Pewawancara selanjutnya
dapat berbicara tentang motif dan perasaan yang nyata kendatipun mereka
menghubungkan secara keliru kepada orang lain , dan mulai menguatkan hubungan
dengan pasien.

SPLITTING. Dalam splitting pasien membagi secara ambivalen orang-orang, baik


masa lalu dan sekarang ini, menjadi orang yang baik dan orang yang jahat. Sebagai

8
contohnya dalam suatu lingkungan rawat inap, beberapa anggota staf diidealkan dan
yang lainnya diremehkan. Efek prilaku defensif tersebut di bangsal rumah sakit dapat
sangat mengacaukan akhirnya menyebabkan staf balik menentang pasien. Splitting
paling baik dikuasai jika anggota staf mengantisipasi proses, mendiskusikannya pada
pertemuan staf dan secara berhati-hati menghadapkan pasien dengan kenyataan
bahwa tidak ada yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat, fenomena splitting
dapat diuraikan secara efektif.

PASIF AGGRESSIF. Orang dengan mekanisme pertahanan pasif agresif kemarahan


dibalikan kepada diri sendiri; dalam terminology psikoanalitik hal ini paling sering
dinamakan masokisme dan termasuk kegagalan, penunda-nundaan, perilaku kebodoh-
bodohan atau provokatif, ejekan yang merendahkan diri sendiri dan perilaku merusak
diri sendiri yang jelas. Permusuhan dalam perilaku tersebut tidak pernah terselubung
seluruhnya. Seperti dalam mekanisme pada kasus memotong pergelangan tangan,
menyebabkan kemarahan tertentu kepada orang lain yang mereka rasa bahwa mereka
sendiri telah diserang dan memandang pasien sebagai seorang yang sadis, bukan
seorang masokistik. Terapis menangani pasif agresif paling baik dengan membantu
pasien ventilasi kemarahannya.

ACTING OUT. Dalam acting out pasien secara langsung mengekspresikan harapan
atau konflik yang tidak disadari melalui tindakan untuk menghidari menjadi dalam
alam sadar dari disertai ide atau afek. Tantrum penyerangan yang tampaknya tanpa
motivasi, penyiksaan anak dan promiskuitas tanpa kenikmatan adalah contoh yang
sering. Karena perilaku terjadi di luar kesadaran reflektif, acting out sering tampak
dapat diamati menjadi tidak disertai kesalahan, tapi ketika acting out tidak
dimungkinkan, konflik dibalik pertahanan mungkin dapat dicapai. Klinisi dihadapkan
dengan acting out, baik agresif atau seksual dalam suatu situasi wawancara, harus
mengenali bahwa pasien kehilangan kendali, bahwa segala sesuatu yang dikatakan
pewawancara keliru di dengar pasien, dan bahwa mendapatkan perhatian pasien
adalah sangat penting. Tergantung pada keadaan, respon klinisi mungkin bagaimana

9
saya dapat membantu anda jika anda terus berteriak? atau jika pasien tampak akan
kehilangan kendali Jika anda terus berteriak, saya akan pergi. Pewawancara yang
merasa benar-benar ketakutan terhadap pasien dapat meninggalkan pasien dan
mencari bantuan jika diperlukan dari polisi.

IDENTIFIKASI PROYEKTIF. Mekanisme pertahanan identifikasi proyektif


digunakan terutama pada gangguan kepribadian ambang. Keadaan ini terdiri dari tiga
langkah. Pertama, aspek diri diproyeksikan pada orang lain. Kedua, proyektor
kemudian berusaha untuk memaksa orang lain untuk mengidentifikasi dengan apa
yang diproyeksikan dan ketiga, penerima proyeksi dan proyektor merasakan suatu
rasa kesatuan atau keterpaduan.

ASPEK BIOLOGI GANGGUAN KEPRIBADIAN KLASTER C

Pemahaman tentang kepribadian dan gangguannya membedakan psikiatri


secara pundamental dengan semua cabang pengobatan. Manusia adalah kesadaran
diri sebagai manusia seperti yang dikatakan oleh C. Robert Cloninger bukan objek
seperti mesin tanpa kesadaran diri. Kepribadian mengarah pada semua karakteristik
yang menyesuaikan dengan cara yang unik terhadap perubahan lingkungan internal
dan eksternal.
Gangguan kepribadian bersifat umum dan kronis. Gangguan kepribadian
terdapat pada 10 hingga 20 persen dari populasi umum dan terjadi sejak beberapa
puluh tahun yang lalu. Sekitar 50 persen dari seluruh pasien psikiatri memiliki
masalah dengan gangguan kepribadian, yang sering berkomorbid dengan gejala klinis
lainnya. Gangguan kepribadian juga merupakan faktor predisposisi untuk gangguan
psikiatri lainnya ( misalnya penggunaan zat, bunuh diri, gangguan afektif, gangguan
dalam mengontrol impuls, gangguan makan, dan gangguan cemas ) dimana dapat
mengganggu hasil pengobatan dari banyak syndrome klinis dan meningkatkan
ketidakmampuan, morbiditas dan mortalitas pasien.

10
Orang dengan gangguan kepribadian cenderung menolak pertolongan psikiatri
dan menyangkal masalah mereka dibandingkan orang dengan gangguan cemas,
gangguan depresi, atau gangguan obsesif kompulsif. Secara umum gejala gangguan
kepribadian adalah ego sintonik (yaitu dapat diterima oleh ego, dan sebaliknya
dengan ego distonik) dan alloplastik (yaitu mampu mengadaptasi dengan mencoba
mengubah lingkungan eksternal lebih dari diri mereka sendiri). Orang dengan
gangguan kepribadian tidak akan merasa cemas dengan prilaku maladaktifnya.
Karena mereka tidak merasakan sakit seperti apa yang dirasakan oranglain sebagai
suatu gejala, mereka seringkali tampak tidak tertarik terhadap pengobatan dan sangat
sulit untuk pulih.

KLASIFIKASI

Edisi kelima Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-


5) mendefinisikan secara umum gangguan kepribadian sebagai pola perilaku dan
pengalaman bawah sadar yang menyimpang secara signifikan dari standar kultur
seseorang, sangat kaku, onset terjadi pada remaja atau dewasa awal, stabil
berlangsung lama, mengarah pada ketidakbahagiaan dan gangguan, dan manifestasi
didapatkan 2 dari 4 hal yaitu kognisi, afektivity, fungsi interpersonal, atau kontrol
impuls. Ketika ciri kepribadian seseorang menjadi kaku dan maladaptif dan
menyebabkan penurunan fungsi atau distress maka dapat di diagnosis dengan
gangguan kepribadian.

Subtipe gangguan kepribadian diklasifikasikan dalam DSM5 adalah


schizotypal,schizoid, dan paranoid ( Cluster A); narcissistic, borderline, antisocial,
dan histrionic (Cluster B); dan obsessive-kompulsive, dependent, dan avoidant
( Cluster C). Tiga kelompok tersebut didasarkan oleh kesamaan deskriptif. Cluster A
mencakup tiga gangguan kepribadian dengan gambaran aneh dan eksentrik (paranoid,
schizoid, dan schizotypal). Cluster B terdiri dari empat gangguan kepribadian dengan

11
gambaran dramatik, emosional dan tidak menentu (borderline, antisocial, nascissistic,
dan histrionic). Cluster C terdiri dari tiga gangguan kepribadian dengan gambaran
tampak cemas dan ketakutan ( avoidant, dependent, dan obsessive-kompulsif).
Banyak orang yang menunjukkan sifat yang tidak terbatas pada gangguan
kepribadian tunggal. Jika seorang pasien memenuhi kriteria untuk lebih dari satu
gangguan kepribadian masing-masingnya harus di diagnosis.

ETIOLOGI

FAKTOR GENETIK

Bukti terbaik bahwa faktor genetik berperan terhadap timbulnya gangguan


kepribadian berasal dari penelitian gangguan psikiatri pada 15.000 pasangan kembar
di Amerika Serikat.Diantara kembar monozigot angka kesesuaian untuk gangguan
kepribadian adalah beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kembar dizigot. Selain itu
menurut satu penelitian tentang penelitian multiple kepribadian dan tempramen,
minat okupasional, dan waktu luang dan sikap social kembar monozigot yang
dibesarkan terpisah sama dengan kembar monozigot yang dibesarkan bersama-sama.

Gangguan kepribadian Cluster A lebih sering ditemukan pada saudara biologis


dari pasien skizofrenia dibandingkan dengan kelompok kontrol. Secara bermakna
lebih banyak saudara dengan gangguan kepribadian skizotypal ditemukan didalam
riwayat keluarga orang dengan skizofrenia dibandingkan dengan kelompok
kontrol.Korelasi yang lebih jarang ditemukan antara gangguan gangguan kepribadian
paranoid atau schizoid dan skizofrenia.

Gangguan kepribadian Cluster B memiliki suatu dasar genetika.Gangguan


kepribadian antisosial adalah berhubungan dengan gangguan penggunaan alkohol.
Depresi sering ditemukan pada latarbelakang keluarga pasien gangguan kepribadian
ambang. Pasien gangguan kepribadian ambang memiliki lebih banyak saudara
dengan gangguan mood sering kali terjadi bersama-sama. Hubungan yang kuat

12
ditemukan antara gangguan kepribadian histrionik dan gangguan somatisasi (sindrom
Briquet), pasien dengan masing-masing gangguan tersebut menunjukkan gejala yang
bertumpang tindih.

Gangguan kepribadian Cluster C mungkin juga memiliki dasar genetik. Pasien


dengan gangguan kepribadian menghindar seringkali memiliki tingkat kecemasan
yang tinggi. Obsesif kompulsif adalah lebih sering ditemukan pada kembar
monozigot dibandingkan kembar dizigot dan pasien gangguan kepribadian obsesif
kompulsif menunjukkan bebrapa tanda yang berhubungan dengan depresi sebagai
contoh pemendekan latensi tidur gerakan mata (REM) hasil tes supresi
deksametasone (DST) yang abnormal.

FAKTOR BIOLOGI

HORMON. Orang yang menunjukkan sifat impulsive sering kali juga menunjukan
peningkatan kadar testosterone, 17 estradiol, dan estrone. Pada primata bukan
manusia, androgen meningkatkan kemungkinan agresi dan prilaku seksual. Tetapi
peranan testoteron pada agresi manusia adalah tidak jelas.Hasil DST adalah abnormal
pada beberap pasien gangguan kepribadian ambang dengan gejala depresi.

PLATELET MONOAMINE OKSIDASE. Kadar monoamie oxidase yang rendah


telah dihubungkan dengan aktivitas dan sosiabilitas pada kera. Pelajar perguruan
tinggi dengan MAO platelet yang rendah melaporkan menggunakan lebih banayak
waktu dalam aktivitas sosial dibanding dengan pelajar yang memiliki kadar MAO
platelet yang tinggi. Kadar MAO platelet yang rendah juga telah ditemukan pada
beberapa pasien skizotipal.

SMOOTH PERSUIT EYE MOVEMENTS. Smooth persuit eye movements adalah


abnormal pada orang yang memiliki sifat introversi, harga diri rendah, dan menarik
diri dan pada pasien skizotipal. Gerakan mata pada orang tersebut adalah sakadik atau

13
menyentak. Temuan tersebut adalah tidak memiliki penerapan klinis, tetapi
menyatakan peranan penurunan.

NEUROTRANSMITER. Endorfin memiliki efek yang serupa dengan morfin


oksigen, termasuk analgesia dan supresi rangsangan.Kadar endorphin endogen yang
tinggi mungkin berhubungan dengan orang yang flegmatik atau pasif.Penelitian sifat
kepribadian dan sistem dopaminergik serta serotoninergik menyatakan suatu fungsi
aktivasi kesadaran dari neurotransmitter tersebut.Kadar 5- Hidroxy-indoleacetic-acid
(5-HIAA), suatu metabolit serotonin adalah rendah pada orang yang berusaha bunuh
diri dan pada pasien yang impulsive dan agresif.

Meningkatkan kadar serotonin dengan obat serotonergik tertentu seperti


Fluoxetine (Prolac) dapat menghasilkan perubahan dramatic pada beberapa
karakteristik kepribadian. Serotonin menurunkan depresi, impulsivitas, dan nafsu
makan pada banyak orang dan mempengaruhi perasaan pada umumnya.
Meningkatnya kadar dopamine pada sistem syaraf pusat dihasilkan oleh
psikostimulan tertentu ( contoh : amphetamine) dapat menginduksi euphoria. Efek
neurotransmitter pada sifat kepribadian menimbulkan ketertarikan dan kontroversi
apakah sifat kepribadian dibawa semenjak lahir atau didapat oleh seseorang.

ELEKTROFISIOLOGI. Perubahan konduktansi elektrik pada elektroencefalogram


(EEG) telah ditemukan pada beberapa pasien dengan gangguan kepribadian paling
sering pada tipe antisocial dan ambangdimana ditemukan aktivitas gelombang lambat

FAKTOR PSIKOANALITIK

Sigmound frued pada awalnya menyatakan bahwa sifat kepribadian adalah


berhubungan dengan fiksasi pada salah satu stadium perkembangan psikoseksual.
Sebagai contoh suatu karakter oral adalah pasief dan dependen karena terfiksasi pada
stadium oral dimana ketergantungan pada orang lain untuk asupan makanan adalah

14
menonjol. Karakter anal adalah keras kepala, kikir, dan sangat teliti karena
perjuangan di sekitar latihan toilet selama peride anal.

Selanjutnya Wilhelm Reich mengajukan istilah character armor untuk


menggambarkan gaya defensive karakteristik yang digunakan seseorang untuk
melindungi dirinya sendiri dari impuls internal dan dari kecemasan interpersonal
dalam hubungan yang bermakna. Pandapat Reich memiliki pengaruh yang luas pada
pemahaman kontemporer tentang kepribadian dan gangguan kepribadian. Cap
kepribadian yang unik pada masing-masing manusia adalah sangat ditentukan oleh
mekanisme pertahanan karakteristik orang tersebut. Masing masing gangguan
kepribadian dalam setiap cluster memiliki kelompok mekanisme pertahanan yang
membantu klinisi psikodinamika mengenali tipe patologi karakter yang ada. Sebagai
contohnya orang dengan gangguan kepribadian paranoid menggunakan proyeksi,
gangguan kepribadian schizoid berhubungan dengan penarikan diri.

Jika mekanisme pertahanan berfungsi dengan baik pasien dengan gangguan


kepribadian akan mampu mengatasi perasaan cemas, depresi, kemarahan, malu,
bersalah, atau efek lainnya. Pasien sering kali memandang prilakunya sebagai
egosintonik, dimana prilaku tersebut tidak menimbulkan penderitaan pada pasien
tersebut, kendatipun dapat merugikan orang lain. Pasien mungkin juga enggan untuk
melibatkan diri dalam proses terapi karena pengandalian mereka adalah penting
dalam pengendalian afek yang tidak menyenangkan dan mereka tidak berminat dalam
menyerahkan pertahanan tersebut.

Ciri pusat lain dari gangguan kepribadian adalah hubungan objek internal
pasien. Dalam perjalanan perkembangan, pola diri tertentu dalam hubungan dengan
orang lain diinternalisasikan.Melalui introyeksi anak menginternalisasikan orang
tuanya atau orang terdekat lainnya sebagai objek yang secara kontinu dirasakan
melebihi dirinya sendiri. Melalui identifikasi seorang anak menginternalisasikan
orang tua dan orang terdekat lainnya dengancara tertentu dimana sifat objek

15
eksternal dipadukan ke dalam diri dan sifat anak tersebut. Penampilan sifat secara
internal dan penampilan objek sangatlah penting dalam perkembangan kepribadian.
Melalui ekternalisasi dan identifikasi proyektif, aspek penampilan diri dan
penampilan objek dimanikan dalam seknario interpersonal dimana orang lain dipaksa
bermaindalam kehidupan internal seseorang. Dengan demikian, orang dengan
gangguan kepribadian dapat diidentifikasi dengan pola tertentu yang berkaitan
dengan kedekatan interpersonal yang bersumber dari pola hubungan objek internal
tersebut.

DEFENSE MECHANISMS. Untuk membantu pasien dengan gangguan kepribadian,


psikiater perlu mengerti defense mechanisme dari pasien tersebut. Defence
mechanism adalah proses mental bawah sadar yang digunakan ego untuk
memecahkan konflik antara empat pedoman kehidupan dalam instink ( harapan atau
kebutuhan ), realitas, orang terdekat, dan kesadaran. Jika pertahanan adalah paling
efektif, khususnya pada gangguan kepribadian, mereka dapat menghilangkan
kecemasan dan depresi. Jadi alasan utama orang dengan gangguan kepribadian
enggan mengubah prilakunya adalah dengan mengabaikan defence mkanisme akan
meningkatkan kecemasan dan depresi pada diri orang tersebut.

Walaupun pasien dengan gangguan kepribadian mungkin ditandai oleh


mekanisme yang paling menonjol dan kaku, maing masing pasien menggunakan
beberapa mekanisme. Dengan demikian menejemen defense mekanisme yang
digunakan disini menjadi topik umum, bukannya di dalam gangguan spesifik. Banyak
informasi yang diajukan disini dalam bahasa psikiatri psikoanalitik dapat
diterjemahkan dlaam prinsip-prinsip yang konsisten dengan pendekatan kognitif dan
prilaku.

FANTASI. Banyak orang khususnya orang yang eksentrik, kesepian, ketakutan yang
sering kali dicap schizoid menggunakan pertahanan fantasi yang berlebihan.Merekan
mencari hiburan dan kepuasan dalam diri mereka sendiri dengan kehidupan khayalan,

16
khususnya teman khayalan di dalam pikiran mereka.Sering kali orang tersebut
tampaknya menjauhkan diri. Kita perlu mengerti tidak adanya sosiabilitas diakibatkan
oleh ketakutan akan keintiman, bukan mengkritik mereka atau merasa tertolak oleh
penolakan mereka. Terapis harus tenang, menentramkan, dan penuh perhatian tanpa
memaksakan respon sebaliknya. Mengenali ketakutan mereka akan kedekatan dan
menghormati cara eksentirk mereka sangat membantu dan berguna dalam terapi.

DISOSIASI. Disosiasi atau penyangkalan terdiri dari pergantian afek yang tidak
menyenangkan dengan afek yang menyenangkan. Pemakai disosiasi yang sering kali
dipandang sebagai mendramatisasi dan dangkal secara emosional, mereka dicap
kepribadian histrionik. Prilaku mereka mengingatkan pertunjukan ketangkasan
remaja yang mengalami kecemasan yang untuk menghilangkan kecemasannya, secara
tidak berhati-hati melakukan tindakan yang berbahaya. Terimalah pasien tersebut
dengan kegembiraan dan menggoda adalah untuk menghilangkan kecemasan mereka,
tetapi berkonfrontasi dengan kerentanan dan kekurangan mereka adalah membuat
mereka lebih bertahan. Karena mereka mencari penghargaan atas daya tarik dan
keberanian mereka, terapis tidak boleh terlalu tidak ramah, sambil tetap tenang dan
hangat terapis harus menyadari bahwa pasien tersebut sering kali merupakan
pembohong yang tidak berhati-hati. Pasien yang menggunakan disosiasi mendapatkan
manfaat dari memiliki kesempatan untuk mengungkapkan kecemasan mereka sendiri
dalam proses mereka mungkin mengingat apa yang mereka lupakan. Sering kali
disosisasi dan penyangkalan paling baik ditangani dengan pengalihan (displacement)
oleh trapis. Jadi, klinisi dapat berbicara dengan pasien tentang masalah afektif yang
sama tetapi dalam konteks lingkungan yang kurang mengancam. Empati klinisi
terhadap afek yang disangkal dari pasien tersebut tanpa secara langsung
menhadapkan mereka pada kenyataan akan memungkinkan pasien mengungkapkan
topik yang sebenarnya.

ISOLASI. Isolasi adalah karakteristik pada orang yang terkendali dan tertib. Sering
kali di cap sebagai kepribadian obsesif kompulsif. Tidak seperti kepribadian histrionic

17
orang dengan obsesif kompulsif mengingat kebenaran namun tanpa disertai affect.
Dalam suatu krisis pasien mungkin menunjukkan penguatan pengekangan diri,
prilaku social yang terlalu resmi dan keras kepala.Permintaan pasien utnuk
pengendalian mungkin menjengkelkan atau membosankan terapis.Sering pasien
tersebut berespon dengan baik terhadap penjelasan yang teliti, sistematis dan
rasional.Mereka menilai efisiensi, keberishan dan ketepatan waktu sebesar mereka
menilai responsivitas efektif klinisi.Bilamana dimungkinkan klinisi harus
membiarkan pasien tersebut mengendalikan perawatan mereka sendiri, bukannya
melibatkan mereka didalam peperangan keinginan.

PROYEKSI. Dalam proyeksi pasien menghubungkan perasaan diri mereka sendiri


yang tidak dinyatakan pada diri oranglain. Mencari kesalahan yang berlebihan dan
kepekaan terhadap kritik mungkin dipandang sebagai mengumpulkan ketidak adilan
yang diduga dan terlalu waspada tetapi tidak boleh dihadapkan dengan sikap
membela diri dan argumentasi. Malahan, kesalahan kecil pada pihak pemeriksa dan
kemungkinan kesulitan dimasa depan harus diakui dengan jelas. Kesopanan yang
ketat, perhatian terhadap hak pasien dan mempertahankan jarak yang sama resmi dan
prihatin seperti pasien dengan seorang pasien yang menggunakan fantasi dapat
membantu. Konfrontasi menyebabkan permusuhan yang lama dan terhentinya
wawancara. Terapis tidak perlu setuju dengan pengumpulan ketidakadilan oleh
pasien, tetapi harus bertanya apakah mereka dapat menyetujui hal tidak disetujui.

Teknik proyeksi balik (counterprojetion) adalah sangat membantu.Dengan


teknik tersebut klinisi mengakui dan memberikan pada pasien paranoid penghargaan
penuh atas perasaan mereka dan persepsi mereka.Selain itu klinisi tidak boleh
membantah keluhan pasien atau tidak memaksa mereka tetapi mengakui dunia yang
digambarkan oleh pasien paranoid dapat dibayangkan. Pewawancara selanjutnya
dapat berbicara tentang motif dan perasaan yang nyata kendatipun mereka
menghubungkan secara keliru kepada orang lain , dan mulai menguatkan hubungan
dengan pasien.

18
SPLITTING. Dalam splitting pasien membagi secara ambivalen orang-orang, baik
masa lalu dan sekarang ini, menjadi orang yang baik dan orang yang jahat.Sebagai
contohnya dalam suatu lingkungan rawat inap, beberapa anggota staf diidealkan dan
yang lainnya diremehkan. Efek prilaku defensif tersebut di bangsal rumah sakit dapat
sangat mengacaukan akhirnya menyebabkan staf balik menentang pasien. Splitting
paling baik dikuasai jika anggota staf mengantisipasi proses, mendiskusikannya pada
pertemuan staf dan secara berhati hati menghadapkan pasien dengan kenyataan
bahwa tidak ada yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat.

PASSIVE AGGRESSIF. Dalam defence mecanisme passive agresif kemarahan


dibalikan kepada diri sendiri; dalam terminology psikoanalitik hal ini paling sering
dinamakan masokisme. Hal ini termasuk kegagalan, penunda-nundaan, perilaku
kebodoh-bodohan atau provokatif, ejekan yang merendahkan diri sendiri dan prilaku
merusak diri sendiri yang jelas. Permusuhan dalam perilaku tersebut tidak pernah
diungkapkan seluruhnya malahan mekanisme, seperti pada kasus memotong tangan,
menyebabkan kemarahan tertentu kepada orang lain yang mereka rasa bahwa mereka
sendiri telah diserang dan memandang pasien sebagai seorang yang sadis, bukan
seorang masokistik. Pasif agresif paling baik ditangani dengan mencoba membiarkan
pasien mengungkapkan kemarahannya.

ACTING OUT. Dalam acting out terdapat ekspresi langsung harapan atau konflik
yang tidak disadari melalui tindakan untuk menghidari menjadi gagasan atau efek
yang disadari yang menyertainya. Tantrum penyerangan yang tampaknya tanpa
motivasi, penyiksaan anak dan promiskuitas tanpa kenikmatan adalah contoh yang
sering. Karena perilaku terjadi di luar kesadaran reflektif, memerankan tidak
dimungkinkan, konflik dibalik pertahanan diri mungkin dapat dicapai. Dihadapkan
dengan memerankan baik agresif atau seksual dalam suatu situasi wawancara, klinisi
harus mengenali (1) bahwa pasien harus kehilangan kendali (2) bahwa segala sesuatu
yang dikatakan pewawancara keliru di dengar pasien, dan (3) bahwa mendapatkan
perhatian pasien adalah sangat penting. Tergantung pada keadaan, respon klinisi

19
mungkin bagaimana saya dapat membantu anda jika anda terus berteriak? atau jika
pasien tampak akan kehilangan kendali Jika anda terus berteriak, saya akan pergi.
Pewawancara yang merasa benar-benar ketakutan terhadap pasien dapat
meninggalkan pasien dan mencari bantuan jika diperlukan dari polisi.

IDENTIFIKASI PROYEKTIF. Mekanisme pertahanan identifikasi proyektif


digunakan terutama pada gangguan kepribadian ambang. Keadaan ini terdiri dari tiga
langkah (1) aspek diri diproyeksikan pada orang lain (2) proyektor berusaha untuk
memaksa oranglain untuk beridentifikasi dengan apa yang diproyeksikan dan (3)
penerima proyeksi dan proyektor merasakan suatu rasa kesatuan atau keterpaduan.

GANGGUAN KEPRIBADIAN PARANOID

Orang dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai dengan kecurigaan dan


ketidak percayaan pada oranglain pada umumnya yang berlangsung lama. Mereka
menolak tanggung jawab atas perasaan mereka sendiri dan melemparkan tanggung
jawab pada orang lain. Mereka sering kali bersikap bermusuhan, mudah tersinggung,
dan marah. Orang fanatic, pengumpul ketidakadilan , pasangan yang cemburu secara
patologis, dan orang yang aneh sering aneh sering kali memiliki gangguan
kepribadian paranoid.

EPIDEMIOLOGI.

Prevalensi gangguan kepribadian paranoid adalah 0,5-2,5 persen. Orang dengan


gangguan ini jarang mencari pengobatan sendiri, jika dirujuk ke pengobatan oleh
pasangan atau perusahaannya, mereka sering kali menarik orang lain bersama-sama
dan tidak tampak menderita. Keluarga pasien skizofrenia menunjukkan insidensi
gangguan kepribadian paranoid yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok
kontrol. Gangguan lebih sering pada laki-laki dibandingkan wanita, dan gangguan
tampaknya tidak memiliki pola familial. Insidensi diantara homoseksual tidak lebih
tinggi daripada umumnya, seperti yang dulu diperkirakan, tetapi dipercaya lebih

20
tinggi pada kelompok minoritas, imigran, dan tuna rungu dibandingkan populasi
umum.

DIAGNOSIS.

Pada pemeriksaan psikiatripasien dengan gangguan kepribadian paranoid tampak


resmi dan keheranan karena diminta mencari bantuan psikiater. Ketegangan otot,
tidak dapat santai dan kebutuhan untuk mencari petunjuk-petunjuk di lingkungan
mungkin ditemukan. Afek pasien sering kali tanpa humor dan serius. Walaupun
beberapa alasan argumentasi mereka mungkin salah, pembicaraan mereka adalah
diarahkan oleh tujuan dan logis. Isi pikiran mereka menunjukkan bukti-bukti
proyeksi, praduga, dan kadang-kadang gagasan mengenai diri sendiri (ideas of
refrence). Kriteria diagnosis DSM 5.

KRITERIA DIAGNOSIS GANGGUAN KEPRIBADIAN PARANOID


A. Ketidak percayaan dan kecurigaan yang pervasif kepada orang lain sehingga motif mereka
dianggap berhati dengki, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai
konteks, seperti yang ditunjukan oleh 4 (empat) atau lebih keriteria berikut :
1. Menduga tanpa dasar yang cukup, bahwa orang lain memanfaatkan, memmbahayakan,
atau menghianati dirinya.
2. Preokupasi dengan keraguan yang tidak pada tempatnya. Tentang loyalitas atau kejujuran
teman dan rekan kerja.
3. Enggan untuk menceritakan rahasia kepada orang lain karena rasa takut bahwa informasi
tersebut akan digunakan untuk secara jahat melawan dirinya.
4. Mengartikan suatu hal yang merendahkan atau mengancam dari suatu kejadian yang
biasa.
5. Secara persistem mendendam, yaitu tidak memaafkan suatu kerugian, cedera atau
kelalaian.
6. Merasakan suatu kritik terhadap dirinya atau reputasinya dengan cara marah atau balas
menyerang.
7. Memiliki kecurigaan yang berulang, tanpa pertimbangan, tentang kesetiaan pasangan
atau mitra seksual.
B. Tidak terjadi semata-mata selama perjalanan skizofrenia, suatu gangguan mood dengan ciri

21
psikotik, atau gangguan psikotik lain dan bukan karena efek fisiologis langsung dari kondisi
medis umum.
Catatan : jika kriteria terpenuhi sebelum onset skizofernia tambahkan premorbid contoh
gangguan kepribadian paranoid (premorbid)

GAMBARAN KLINIS

Ciri penting dari gangguan kepribadian paranoid adalah kecenderungan pervasif dan
tidak diinginkan-dimulai pada masa dewasa awal dan ada dalam berbagai konteks-
untuk menginterpretasikan tindakan orang lain sebagai merendahkan atau
mengancam secara disengaja. Hampir selalu, orang dengan gangguan mengharapkan
diekploitasi atau disakiti oleh orang lain dalam suatu cara. Sering kali mereka
bertanya tanpa pertimbangan, tentang loyalitas dan kejujuran teman atau teman
kerjanya.Sering kali orang tersebut cemburu secara patologis, bertanya-tanya tanpa
pertimbangan tentang kesetiaan pasangannya atau patner seksualnya.

Pasien mengeksternalisasikan emosinya sendiri dan menggunakan pertahanan


proyeksi-yaitu mereka menghubungkan kepada orang lain impuls dan pikiran yang
tidak dapat diterimanya sendiri. Gagasan mengenai diri sendiri dan ilusi yang
dipertahannkan secara logis adalah sering ditemukan.

Pasien dengan gangguan adalah terbatas secara afekrif dan tampak tidak
memiliki emosi.Mereka membanggakan dirinya sendiri karena mampu rasional dan
objektif, tetapi sebenarnya tidak. Mereka kehilangan kehangatan dan terkesan dengan
kekuatan dan melakukan penghinaan kepada orang yang dipandangnya lemah,sakit,
terganggu atau mengalami kekurangan dalam suatu hal. Dalam suatu waktu orang
dengan gangguan kepribadian paranoid tampak sibuk dan efesian dalam melakukan
suatu hal, tapi mereka sering kali menciptakan ketakutan atau konflik dengan orang
lain.

DIAGNOSIS BANDING.

22
Gangguan kepribadian paranoid biasnya dapat dibedakan dengan gangguan waham
karena waham yang menetap tidak ditemukan pada gangguan kepribadian paranoid.
Keadaan ini dapat dibedakan dengan skizofrenia paranoid karena halusinasi dan
pikiran formal tidak ditemukan pada gangguan kepribadian paranoid. Gangguan
kepribadian paranoid dapat dibedakan dengan gangguan kepribadian ambang karena
pasien paranoid jarang terlibat secara berlebihan dan membuat rusuh dalam
persahabatan dengan orang lain seperti pasien ambang. Pasien paranoid tidak
memiliki karakter antisosial sepanjang hidupnya. Orang dengan gangguan
kepribadian schizoid seperti menarik diri dan menjauhkan diri tetapi tidak memiliki
gagasan paranoid.

PERJALAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS

Tidak ada penelitian yang panjang dan adekuat terhadap pasien gangguan kepribadian
paranoid yang telah dilakukan.Pada beberapa orang gangguan kepribadian paranoid
dapat terjadi seumur hidup.Pada beberapa orang gangguan ini dapat merupakan tanda
gejala skizofrenia.Pada beberapa orang, sifat paranoid membentuk sesorang untuk
reaksi formasi, perhatian yang sesuai dengan moralitas, dan perhatian menganai
altruistic. Tetapi pada umumnya pasien dengan gangguan kepribadian paranoid
memiliki masalah seumur hidup dengan pekerjaan dan hidup dengan orang lain.
Maslaah tersering yang dialami adalah pekerjaan dan perkawinan.

TERAPI.

PSIKOTERAPI. Psikoterapi adalah pengobatan yang tepat untuk gangguan


kepribadian paranoid. Terapis harus langsung dapat menghadapi pasien. Jika terapis
dituduh tidak konsisten atau gagal, seperti terlibat untuk suatu perjanjian, kejujuran,
maka permintaan maaf lebih baik dari pada melakukan pembelaan diri. Terapis harus
mengingat bahwa kejujuran dan toleransi kedekatan merupakan masalah terberat bagi
pasien dengan gangguan tersebut. Dengan demikian psikoterpai individu memerlukan
gaya yang professional dan tidak terlalu hangat dari pihak terapis. Psikoterapi

23
kelompok kurang bermanfaat bagi pasien dengan paranoid, mereka juga tidak
mentoleransi intrusivitas terapi prilaku. Klinisi yang terlalu banyak menggunakan
interpretasi khususnya interpretasi mengenai perasaan ketergantungan yang dalam,
masalah seksual dan keinginan untuk lebih dekat akan meningkatkan ketidak
percayaaan pasien.

Pada suatu waktu perilaku pasien dengan gangguan kepribadian paranoid


menjadi mengancam sehingga terapis harus dapat mengendalikannya atau
menentukan batas dalam hal tersebut. Suatu waham yang di sampaikan pasien harus
dapat dihadapi dengan cara yang yang realistis tetapi jelas tanpa menghina pasien.
Pasien paranoid akan merasa ketakutan bila merasa bahwa orang yang mencoba
menolongnya lemah dan tak berdaya, sehingga terapis tidak boleh mengambil kendali
kecuali atas kesepakatan berdua dan mungkin untuk dilakukan.

FARMAKOTERAPI

Farmakoterapi sangat berguna dalam menangani agitasi dan kecemasan pasien. Pada
sebagian besar kasus, antiansietas seperti diazepam (valium) cukup berguna. Tetapi
mungkin perlu dipertimbangkan untuk menggunakan suatu antipsikotik seperti
haloperidol (Haldol) dengan dosis kecil dan dalam periode singkat untuk menangani
agitasi yang berat atau suatu waham. Obat Antipsikotik Pimozide (Orap) cukup
berhasil menangani ide paranoid pada beberapa pasien.

GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOID

Gangguan kepribadian schizoid di tegakkan pada pasien yang memiliki pola


penarikan sosial yang lama. Pasien dengan gangguan kepribadian schizoid sering kali
tampak aneh, mengurung diri dan kesepian. Mereka merasa tidak nyaman dengan
interaksi sosial, sifatnya tertutup dan memiliki afek yang lemah dan terbatas sering
kali perlu diperhatikan.

24
EPIDEMIOLOGI

Prevalinsi dari gangguan kepribadian schizoid tidak didapatkan secara jelas, tetapi
gangguan ini diperkirakan sekitar 5 persen dari populasai umum. Rasio jenis kelamin
pada gangguan ini tidak diketahui, beberapa studi melaporkan ratio laki-laki dan
wanita 2 berbanding 1. Orang dengan gangguan ini cenderung mencari pekerjaan
sendirian yang meibatkan sedikit kontak atau tanpa kontak dengan orang lain. Orang
dengan gangguan ini lebih sering mencari pekerjaan malam hari dibandingan siang
karena lebih sedikit berinteraksi dengan orang lain.

DIAGNOSIS

Pada pemeriksaan awal psikiatri, pasien dengan gangguan kepribadian schizoid


tampak sakit. Mereka tidak melakukan kontak mata, dan pewawancara mungkin
menduga pasien tersebut ingin mengakhiri wawancara. Afek mereka bisa terbatas,
mengucilkan diri, atau ketidaksesuaian yang serius. Tetapi di dalam penarikan diri
tersebut bila seorang klinisi yg jeli apat menangkap suatu rasa ketakutan dari pasien.
Pasien merasa sulit untuk berterus terang, usaha mereka untuk bercanda biasanya
datar dan tidak jelas. Pembicaraan pasien terarah, tetapi mereka memberikan jawaban
yang singkat pada setiap pertanyaan dan biasanya tidak memiliki spontanitas dalam
percakapan. Terkadang mereka mengguanakan topik pembicaraan yang tidak lazim,
seperi metafora aneh. Mental mereka mungkin mengungkapkan rasa kedekatan yang
tidak diinginkan dengan orang lain yang tidak di kenal baik oleh mereka atau yang
tidak bertemu untuk waktu yang lama. Kesadaran pasien jernih, daya ingat pasien
baik dan interpretasi ungkapan adalah abstrak. Berikut kriteria diagnosis menurut
DSM 5.

KRITERIA DIAGNOSIS GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOID DSM V


A. Pola pervasif pelepasan hubungan sosial dan rentang pengalaman emosi yang terbatas

25
dengan lingkungan interpersonal, dimulai pada masa dewasa awal dan ditemukan dalam
berbagai konteks, seperti yang dinyatakan oleh 4 (empat)atau lebih kriteria yaitu :
1. Tidak memiliki minat ataupun menikmati hubungan dekat, termasuk menjadi bagian
keluarga.
2. Selalu melakukan aktivitas seorang diri
3. Memiliki sedikit, jika ada, minat mengalami pengalaman seksual dengan orang lain.
4. Merasakan kesenangan sangat sedikit sekali, jika ada aktivitas
5. Tidak memiliki teman dekat atau orang yang dipercaya selain keluarga derajat pertama
6. Tampak tidak acuh terhadap pujian atau kritikan orang lain
7. Menunjukkan kedinginan emosi, pelepasan atau pendataran afektivitas
B. Tidak terjadi semata mata selama perjalanan skizofrenia, suatu gangguan mood dengan ciri
psikotik, atau gangguan psikotik lain dan bukan karena efek fisiologis langsung dari kondisi
medis umum.
Catatan : jika kriteria terpenuhi sebelum onset skizofernia tambahkan premorbid contoh
gangguan kepribadian skizoid (premorbid)

GAMBARAN KLINIS

Orang dengan gangguan kepribadian schizoid memberikan kesan dingin dan menarik
diri. Dan mereka tampak menjauhkan diri dan tidak ingin terlibat dengan peristiwa
sehari-hari dan permasalahan orang lain. Mereka tampak tenang, jauh, menutup diri,
dan tidak dapat bersosialisasi. Mereka mungkin menjalani kehidupan mereka sendiri
dengan kebutuhan atau harapan yang kecil dalam MENUMBUHKAN membina
hubungan dengan orang lain. Mereka merupaka yang terakhir menerima peribahan
gaya hidup popular.

Riwayat kehidupan orang tersebut mencerminkan minat sendirian dan


keberhasilan pada pekerjaan yang tidak kompetitif dan sepi yang sukar ditoleransi
orang lain. Kehidupan seksual mereka mungkin semata-mata hanya dalam fantasi,
dan mereka menunda kematangan seksualitas tanpa ada batasan waktu. Pasien laki-
laki mungkin tidak menikah karena mereka sulit mendapatkan membuat hubungan

26
dengan orang lain. Bagi pasien wanita secara pasif setuju untuk menikah dengan
seorang laki-laki yang agresif yang menginginkan pernikahan. Biasanya orang
dengan gangguan kepribadian skizoid mengungkapkan ketidakmampuan seumur
hidupnya untuk mengekpresikan kemarahan secara langsung. Mereka mampu
menanamkan sejumlah besar energi afektif dalam minat yang bukan manusia seperti
matematika dan astronomi dan mereka mungkin sangat tertarik pada binatang.
Mereka sering kali terpikat oleh mode diet dan kesehatan gerakan filosofi dan sekema
perbaikan sosial, khususnya yang tidak memerlukan keterlibatan pribadi.

Walaupun orang dengan gangguan kepribadian skizoid tampak meresap ke


dalam diri dan hidup dengan mimpinya yang berlebihan, mereka tidak menunjukkan
kehilangan kapasitas untuk mengenali realitas. Karena tindakan agresif bukan
termasuk dalam kumpulan respons mereka yang biasanya, sebagian besar ancaman,
baik nyata atau dikhayalkan adalah diatasi oleh kemahakuasaan khayalan atau
kepasrahan. Mereka sering kali terlihat sebagai mengucilkan diri tetapi pada suatu
waktu orang tersebut mampu menyusun, mengembangkan, dan memberikan pada
dunia suatu gagasan yang asli dan kreatif.

DIAGNOSIS BANDING

Gangguan kepribadian skizotipal berbeda dengan pasien skizofrenia, gangguan


waham dan gangguan afektif dengan gejala psikotik seperti waham dan halusinasi.
dan, pasien dengan gangguan kepribadian skizoid tidak memiliki keluarga
skizofrenia, dan mereka mungkin memiliki riwayat pekerjaan yang berhasil, jika
terisolasi. Walaupun mereka memiliki banyak sifat yang sama dengan pasien
gangguan kepribadian skizoid, mereka dengan gangguan kepribadian paranoid lebih
menunjukkan keterlibatan sosial, riwayat perilaku verbal yang agresif, dan
kecenderungan yang lebih besar untuk memproyeksikan perasaan mereka kepada
orang lain. Jika hanya terbatas secara emosional pasien gangguan kepribadian obsesif
kompulsif dan menghindar mengalami kesepian yang tidak nyaman, memiliki riwayat

27
hubungan objek yang lebih banyak di masa lalu, dan tidak terlibat banyak dalam
lamunan autistik. Secara teoritis perbedaan utama antara pasien gangguan
kepribadian skizotipal dan pasien gangguan skizoid adalah pasien skizotipal
menunjukkan kemiripan yang lebih banyak dengan pasien skizofrenia dalam hal
keanehan persepsi, pikiran, prilaku, dan komunikasi. Pasien gangguan kepribadian
menghindar terisolasi tetapi memiliki keinginan kuat untuk berperan serta dalam
aktivitas, suatu karateristik yang tidak ditemukan pada pasien dengan gangguan
kepribadian skizoid.

PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS

Onset gangguan kepribadian skizoid biasanya pada masa kanak awal atau masa
remaja. Seperti semua gangguan kepribadian, gangguan kepribadian skizoid
berlangsung lama tetapi tidak selalu seumur hidup. Proporsi pasien yang menjadi
skizofrenia belum banyak diketahui.

TERAPI

PSIKOTERAPI. Terapi pasien gangguan kepribadian skizoid mirip dengan terapi


pada pasien gangguan kepribadian paranoid. Tetapi kecenderungan pasien skizoid ke
arah introspeksi konsisten dengan harapan terapis, dan jika lebih lama dilakukan
terapi pasien gangguan kepribadian skizoid akan menjadi pasien yang tekun. Saat
kepercayaan berkembang, pasien skizoid dengan disertai keragu-raguan yang kuat
mengungkapkan fantasi yang berlebihan, teman khayalannya, dan ketakutan terhadap
ketergantungan walaupun bersama dengan terapis.

Dalam lingkungan terapi kelompok, pasien gangguan kepribadian skizoid


biasanya diam dalam jangka waktu yang cukup lama, namun akhirnya akan ikut
melibatkan diri. Pasien harus dilindungi dari serangan agresif oleh anggota kelompok
mengingat pasien cenderung memiliki kesan yang kuat mengenai ketenangan.
Dengan berjalannya waktu anggota kelompok menjadi penting bagi pasien skizoid

28
dan dapat memberikan kontak sosial satu-satunya dalam keberadaan mereka yang
terisolasi.

FARMAKOTERAPI. Farmakoterapi dengan antipsikotik dosis kecil, antidepresan,


dan psikostimulan dikatakan cukup efektif pada beberapa pasien. Obat-obat
serotonergik mungkin membuat mereka kurang sensitive terhadap penolakan.
Benzodiazepin mungkin membantu mengurangi kecemasan interpersonal.

GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOTIPAL

Orang dengan gangguan kepribadian skizotipal memiliki tampilan aneh atau asing,
walaupun bagi orang awam, pikiran magis, gagasan aneh, idea of refference, ilusi,
dan derealisasi adalah bagian dari dunia orang skizotipal setiap harinya.

EPIDEMIOLOGI.

Keadaan ini terjadi pada kira-kira 3 persen populasi. Rasio jenis kelamin tidak
diketahui. Terdapat hubungan kasus yang lebih besar antara saudara biologis pasien
skizofrenia dibandingkan kontrol dan insidensi yang lebih besar diantara kembar
monozigot dibandingkan kembar dizigot (33 dizigot vs 4 persen dalam satu
penelitian)

DIAGNOSIS

Gangguan kepribadian skizotipal di diagnosis berdasarkan keanehan pikiran,


perilaku, dan penampilan pasien. Penggalian riwayat penyakit mungkin sulit karena
cara komunikasi pasien yang tidak lazim. Kriteria DSM 5 untuk gangguan
kepribadian skizotipal.

KRITERIA DIAGNOSIS GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOTIPAL DSM V

29
A. Pola pervasif defisit sosial dan interpersonal yang ditandai oleh ketidaksenangan akut
dengan dan penurunan kapasitas untuk hubungan erat dan juga oleh penyimpangan kognitif
atau persepsi dan prilaku eksentrik dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam
berbagai konteks seperti yan ditunjukkan dengan 5 (lima) kriteria yaitu :
1. Gagasan yang menyangkut diri sendiri (idea of reference) (kecuali waham yang
menyangkut diri sendiri)
2. Keyakinan aneh atau pikiran magis yang mempengaruhi perilaku dan tidak konsisten
dengan norma kultural (misalnya percaya takhayul, percaya dapat melihat apa yang akan
terjadi, telepati atau indar keenam, pada anak0anak dan remaja, khayalan atau preokupasi
yang kacau)
3. Pengalaman persepsi yang tidak lazim, termasuk ilusi tubuh.
4. Pikiran dan bicara yang aneh (misalnya samar-samar, sirkumtangialitas, metaforik, terlalu
berbelit belit atau stereotipik)
5. Kecurigaan atau ide paranoid
6. Afek yang tidak sesuai atau terbatas
7. Perilaku atau penampilan tidak wajar, eksentrik atau janggal
8. Tidak memiliki teman akrab atau orang yang dipercaya selain keluarga derjat pertama
9. Kecemasan sosial yang berlebihan tang tidak menghilang dengan keakraban dan
cenderung disertai dengan ketakutan paranoid ketimbang pertimbangan negatif tentang
diri sendiri
B. Tidak terjadi semata mata selama perjalanan skizofrenia, suatu gangguan mood dengan ciri
psikotik, atau gangguan psikotik lain atau gangguan perkembangan pervasif
Catatan : jika kriteria terpenuhi sebelum onset skizofernia tambahkan premorbid contoh
gangguan kepribadian skizotipal (premorbid)

GAMBARAN KLINIS

Dalam gangguan kepribadian skizotipal, pikiran dan komunikasi akan terganggu.


Seperti pasien skizofrenia, orang dengan gangguan kepribadian skizotipal mungkin
tidak mengetahui perasaan mereka sendiri, malah mereka sangat peka dalam
mendeteksi perasaan orang lain khususnya afek negatif seperti kemarahan. Mereka
mungkin bertakhayul atau mengakui ahli tenung. Dunia dalam mereka terisi oleh

30
hubungan khayalan yang jelas dan ketakutan dan fantasi mirip anak-anak. Mereka
mungkin percaya bahwa mereka memiliki kekuatan pikiran dan tilikan yang khusus.
Walaupun tidak ada gangguan berpikir yang jelas, pembicaraan mereka mungkin
sering memerlukan interpretasi. Mereka mungkin mengakui bahwa mereka memiliki
ilusi perseptual atau mikropsia atau bahwa orang terlihat oleh mereka sebagai kayu
dan jadi-jadian.

Pembicaraan orang dengan gangguan kepribadian skizotipal mungkin aneh atau


janggal dan hanya memiliki arti bagi diri mereka sendiri. Mereka menunjukkan
hubungan interpersonal yang buruk mungkin berperilaku tidak sesuai. Sebagai
akibatnya, mereka terisolasi dan memiliki sedikit teman, jika ada. Pasien mungkin
nenunjukkan ciri-ciri gangguan kepribadian ambang, dan malahan kedua diagnosis
dapat dibuat. Dibawah stres pasien gangguan kepribadian skizotipal mungkin
mengalami dekompensasi dan memiliki gejala psikotik tetapi gejala tersebut biasanya
singkat. Pada kasus yang parah, anhedonia dan depresi berat dapat ditemukan.

DIAGNOSIS BANDING

Secara teoritis pasien dengan gangguan kepribadian skizotipal dapat dibedakan dari
pasien gangguan kepribadian skizoid dan menghindar oleh adanya keanehan dalam
prilaku, pikiran dan persepsi dan komunikasi mereka dengan riwayat skizofrenia pada
keluarga. Pasien gangguan kepribadian skizotipal dapat dibedakan dari pasien
skizofrenia oleh tidak adanya gejala psikotik. Jika dapam perjalanannya gejala
psikotik ditemukan biasanya gejala tersebut singkat dan terpecah. Beberapa pasien
biasanya ditemukan memenuhi kriteria campuran antara gangguan kepribadian
skizotipal dan ambang. Pada pasien gangguan kepribadian paranoid biasanya disertai
dengan munculnya kecurigaan yang kuat namun tidak memiliki prilaku yang aneh
seperti yang terdapat pada pasin dengan gangguan kepribadian skizotipal.

PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS

31
Mengacu pada pemikiran klinis saat ini, schizotypal adalah kepribadian premorbid
dari pasien dengan skizofrenia. Beberapa kadang-kadang tetap sebagai kepribadian
skizotipal yang stabil selama hidup mereka kemudiam menikah dan bekerja
disamping keanehan mereka. Penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh Thomas
McGlashan melaporkan bahwa 10 persen orang dengan ganggaun kepribadian
skizotipal melakukan bunuh diri.

TERAPI

PSIKOTERAPI. Prinsip terapi pada gangguan kepribadian skizotipal tidak berbeda


dengan terapi pada gangguan kepribadian skizoid. Tetapi pikiran yang aneh dan ganjil
pada pasien dengan gangguan kepribadian skizotipal harus ditangani dengan sangat
hati-hati. Beberapa pasien terlibat dengan suatu pemujaan, kegiatan religius yang
aneh dan okultis. Terapi tidak boleh menertawai dan mengadili segala bentuk
aktivitas mereka.

FARMAKOTERAPI. Pemberian antipsikotik dikatakan cukup berguna dalam


mengontrol gagasan aneh, ilusi dan gejala lain dari gangguan dapat dikombinasikan
dengan psikoterapi. penambahan antidepresan hanya diberikan bila didapatkan
komponen depresi dari kepribadian saat ini.

GANGGUAN KEPRIBADIAN ANTISOSIAL

Gangguan kerpibadian antisosial ditandai dengan gejala tindakan antisosial atau


melanggar hukum yang terus menerus pada umumnya. Gangguan ini merupakan
ketidakmampuan paisen mematuhi norma sosial yang melibatkan banyak aspek
perilaku remaja dan dewasa. Meskipun ditandai dengan tindakan antisosial atau
criminal, namun tidak sama dengan suatu kriminalitas.

EPIDEMIOLOGI

32
Angka prevalensi 12 bulan dari gangguan kepribadian antisosial antara 0,2 dan 3
persen mengacu pada DSM-5. Keadaan ini sering didapatkan pada daerah perkotaan
yang miskin dan pada penduduk yang sering berpindah-pindah dalam daerah tersebut.
Anak laki-laki yang mengalami gangguan biasanya berasal dari keluarga yang lebih
tinggi dan anak perempuan yang mengalami ganggaun biasanya berasal dari keluarga
yang lebih rendah. Onset gangguan biasanya pada usia di bawah 15 tahun. Anak
perempuan biasanya muncul gejala sebelum pubertas dan anak lelaki biasanya lebih
awal. Didalam penjara didapatkan popilasi orang dengan gangguan kepribadian
antisosial sekitar 75 persen. Suatu pola familial didapatkan bahwa gangguan lima kali
lebih sering pada anak saudara derajat pertama dari laki-laki dengan gangguan
dibanding dengan kelompok kontrol.

DIAGNOSIS

Pasien mungkin dapat tenang dan dapat dipercaya selama wawancara. Tetapi dibalik
itu (menggunakan istilah Hervey Cleckley,topeng kejiwaan) terdapat ketegangan,
permusuhan, sikap mudah tersinggung dan kekerasan. Dalam suatu wawancara pasien
dengan gangguan memberikan riwayat penyakit yang tidak konsisten sulit di gunakan
untuk menentukan gejala patologi pasien. Bahkan terapi yang ahli sekalipun sering
tertipu oleh pasien.

Suatu pemeriksaan diagnostik harus termasuk pemeriksaan neurologis karena


pasien dengan gangguan antisosial sering kali menunjukkan hasil EEG yang
abnormal dan tanda neurologis lunak yang mengarahkan pada kerusakan otak ringan
pada masa kanak, temuan tersebut dapan digunakan untuk menegakkan kesan klinis.

KRITERIA DIAGNOSIS GANGGUAN KEPRIBADIAN ANTISOSIAL DSM V


A. Terdapat pola pervasif tidak menghargai dan melanggar hak orang lain yang terjadi sejak 15
tahun seperti yang ditunjukkan oleh 3 (tiga) kriteria yaitu :
1. Gagal untuk mematuhi norma sosial dengan menghormati perilaku sesuai hukum seperti
yang ditunjukan dengan berulang kali untuk melakukan tindakan yang menjadi dasar

33
penahanan.
2. Ketidakjujuran seperti yang ditunjukkan oleh berulang kali berbohong, menggunakan
nama samaran atau menipu orang lain untuk mendapatkan keuntungan atau kesenangan
pribadi.
3. Impulsivitas atau tidak dapat merencanakan masa depan
4. Iritabilitas dan agresivitas seperti yang ditunjukkan oleh perkelahian fisik atau
penyerangan yang berulang
5. Secara sembrono mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain
6. Teruas menerus tidak bertanggung jawab, seperti ditunjukkan oleh kegagalan berulang
kali untuk mempertahankan perilaku kerja atau menghormati kewajiban finansial.
7. Tidak adanya penyesalan, seperti yang ditunjukkan oleh acuh tak acuh terhadap atau
mencari-cari alasan telah disakiti, dianiaya, atau dicuri oleh orang lain.
B. Individu sekurangnya berusia 18 tahun
C. Terdapat tanda-tanda gangguan konduksi dengan onset sebelum usia 15 tahun
D. Terjadinya perilaku antisosial tidak semata-mata selama perjalanan skizofrenia atau suatu
episode manik

GAMBARAN KLINIS

Pasien dengan gangguan kepribadian antisosial sering kali menunjukkan kesan yang
normal, hangat dan mencari muka pada pemeriksa. Namun dalam riwayat penyakit
terdapat banyak fungsi kehidupan yang terganggu. Berbohong, membolos, melarikan
diri dari rumah, mencuri, berkelahi, penyalahgunaan zat, dan aktivitas ilegal
merupakan pengalaman yang sering dilaporkan pasien berawal sejak masa kanak-
kanak. Sering kali pasien pasien gangguan kepribadian antisosial mengesankan
terapis yang berjenis kelamin berbeda dengan aspek kepribadian mereka yang
bermacam-macam dan menggoda. Namun bagi terapis yang sejenis akan terkesan
manipulatif dan menuntut. Pasien dengan gangguan ini tidak menunjukkan gejala
cemas atau depresi yang mungkin sangat tidak sesuai dengan kondisi saat itu,
penjelasan mereka mengenai suatu tindakan antisosial terasa sangat tidak masuk akal.
Ancaman bunuh diri dan preokupasi somatik sangat sering ditemukan pada pasien.
Namun isi pikir pasien tidak didapatkan waham dan pikiran irasional. Pada

34
kenyataannya mereka sering kali mengalami peningkatan rasa tes realitas dan sering
mengesankan terapi dengan kemampuan intelegensi verbal yang baik.

Pasien dengan gangguan kepribadian antisosial dapat diwakili dengan sebutan


penipu. Mereka sangat manipulatif dan sering kali mampu untuk berbicara dengan
orang lain untuk berperan dalam suatu sekema yang melibatkan cara mudah utnuk
mendapatkan uang, atau untuk mencapai suatu kemasyuran atau ketenaran yang dapat
menyebabkan orang lain mengidap kerugian secara finansial atau malu atau bahkan
mengalami keduanya bila tidak berhati-hati dengan orang gangguan kepribadian
antisosial tersebut. Pasien dengan gangguan kepribadian antisosial tidak menceritakan
suatu kebenaran dan tidak dapat dipercaya untuk menyelesaikan suatu tugas atau
terlibat dalam suatu standar moralitas yang konvensional. Promiskuitas, penyiksaan
pasangan, penyiksaan anak, mengendarai kendaraan sambil mabuk, adalah peristiwa
yang sering ditemukan pada pasien gangguan ini. Suatu yang jelas bahwa pasien tidak
menyesali apa yang ia lakukan dan bahkan pasien tampak tidak menyadarinya.

DIAGNOSIS BANDING

Gangguan kepribadian antisosial dapat dibedakan dari prilaku ilegal dimana


gangguan kepribadian melibatkan banyak bidang dalam kehidupan seseorang. Jika
perilaku antisosial hanya merupakan manifestasi satu-satunya pasien dimasukkan
dalam kategori DSM V kondisi tambahan yang mungkin merupakan pusat perhatian
klinis-secara spesifik, prilaku antisosial dewasa.

Dorothy lewis menemukan bahwa banyak dari orang yang mengalami


gangguan terapat gangguan neurologis dan gangguan mental yang tidak terdiagnosis.
Yang lebih sulit adalah membedakan antara gangguan anti sosial dengan
penyalahgunaaan zat. Jika penyalahgunaan zat maupun perilaku antisosial dimulai
saat usia kanak dan dilakukan sampai dewasa maka kedua gangguan harus di
diagnosis. Tetapi jika perilaku antisosial jelas sekunder terhadap perilaku

35
penyalahgunaan alkohol atau penyalahgunaan zat lain pramorbid, diagnosis gangguan
kerpibadian antisosial tidak didiagnosis.

Dalam mendiagnosis gangguan kepribadian antisosial, klinis harus


mempertimbangkan efek yang mengganggu dari status sisioekonomi, latar belakang
kultural dan jenis kelamin pada manifestasinya. Selain itu diagnosis gangguan
kepribadian antisosial tidak tidak diperlukan jika retardasi mental, skizofrenia atau
mania merupakan gejala pada pasien.

PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS

Jika gangguan kepribadian antisosial berkembang, perjalanan penyakitnya tidak


mengalami remisi, dan puncak perilaku antisosial biasanya terjadi pada masa remaja
akhir. Prognosisnya bervariasi. Beberapa laporan menyatakan bahwa gejala menurun
saat pasien menjadi semakin bertambah usia. Banyak pasien memiliki gangguan
somatisasi dan keluhan fisik multipel. Gangguan depresi, gangguan penggunaan
alkohol dan penyalahgunaan zat lainnya sangat sering ditemukan.

TERAPI

PSIKOTERAPI. Jika pasien gangguan kepribadian antisosial diimobilisasi (contoh


dimasukkan rumah sakit) mereka sering kali mampu untuk menjalani psikoterapi.
Jika mereka merasa berada pada rekan sebayanya maka motivasi untuk berubah
mereka akan menghilang, kemungkinan karena hal tersebut kelompok untuk
menolong diri sendiri (selfhelp group) dikatakan lebih berguna dibanding penjara
dalam menghilangkan gangguan.

Sebelum terapi dimulai perlu ditentukan batasan-batasan yang kuat. Terapis


harus dapat menemukan suatu cara untuk menghadapi perilaku merusak diri sendiri
pada pasien. Dan untuk mengatasi rasa takut pasien gangguan kepribadian antisosial
terhadap kedekatan, terapis harus menggagalkan usaha pasien untuk melarikan diri
dari perjumpaan dengan orang lain. Dalam melakukan hal tersebut terapi

36
mendapatkan tantangan memisahkan kendali dari hukum dan memisahkan
pertolongan dan konfirmasi dari isolasi sosial dan ganti rugi.

FARMAKOTERAPI. Farmakoterapi digunakan untuk menghadapi gejala yang


diperkirakan akan timbul seperti kecemasan, penyerangan, dan depresi tetapi karena
adanya kecenderungan penyalahgunaan zat maka obat harus diberika secara
bijaksana. Jika pasien menunjukkan bukti-bukti adanya gangguan defisit atensi/
hiperaktivitas, psikostimulan seperti methylpenidate (retalin) dapat digunakan. Harus
dilakukan usaha untuk mengubah metabolisme katekolamin dengan obat-obatan dan
untuk mengendalikan prilaku impulsif dengan obat antiepileptik, khususnya jika
bentuk gelombang abnormal ditemukan pada EEG. Antagonis reseptor adrenergic
telah digunakan untuk mengurangi agresi.

GANGGAUN KEPRIBADIAN AMBANG

Pasien dengan gangguan kepribadian ambang berada pada perbatasan antara neurosis
dan psikosis ditandai dengan afek, mood, perilaku, hubungan objek, dan citra diri
yang sangat tidak stabil. Gangguan ini juga telah dinamakan skizofrenia ambulatorik,
kepribadian seolah-olah (as if personality)( suatu istilah yang diajukan oleh Helene
Dutsch), skizofrenia pseudoneurotik ( dijelaskan oleh Paul hoch dan Philip Politan)
dan karakter psikotik (dijelasakan oleh John frosch). Dalam ICD 10 gangguan ini
dikatakan sebagai gangguan emosional tidak stabil ( emosionally unstable personality
disorder).

EPIDEMIOLOGY

Tidak ada penelitian prevalensi yang tersedia, namun diperkirakan gangguan


kepribadian ambang diperkirakan 1-2 persen dalam popilasi dan dua kali lebih sering
pada wanita dibandingkan pada laki-laki. Suatu penigkatan prevalensi gangguan
depresi berat, gangguan penggunaan alkohol, dan penyalah gunaan zat ditemukan
pada keluarga derajad pertama orang dengan gangguan kepribadian ambang.

37
DIAGNOSIS

Menurut DSM V diagnosis gangguan kepribadian ambang dapat dibuat pada masa
dewasa awal bila memenuhi 5 aspek dalam kriteria.

KRITERIA GANGGUAN KEPRIBADIAN AMBANG DSM V


Pola pervasif ketidakstabilan hubungan interpersonal, cita-cita, dan afek dan impulsivitas yang
jelas pada masa dewasa awal dan ditemukan dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukan
oleh 5 (lima) atau lebih yaitu :
1. Usaha mati-matian untuk menghindari ketinggalan yang nyata atau khayalan. Catatan ;
tidak termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang ditemukan dalam 5 kriteria
2. Pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan kuat yang ditandai oleh perubahan
antara ekstrem ekstrem idealisasi dan devaluasi
3. Gangguan identitas citra diri atau perasaan diri sendiri yang tidak stabil secara jelas dan
persisten
4. Impulsivitas pada sekurangnya dua bidang yang potensial membahayakan diri sendiri
9misalnya bebelanja, seks, penyalahgunaan zat, ngebut, perta makanan) catatan ; tidak
termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang ditemukan dalam 5 kriteria.
5. Perilaku, isyarat, atau ancaman bunuh diri yang berulang kali atau perilaku mutilasi
6. Ketidakstabilan afektif karena reaktifitas mood yang jelas (misalnya disforik kuat,
iritabilitas, atau kecemasan biasanya berlangsung beberapa jam dan jarang lebih dari
beberapa hari)
7. Perasaan kesepian yang lama
8. Kemarahan yang kuat dan tidak ada tempatnya atau kesulitan dalam mengendalikan
kemarahan (misalnya sering menunjukkan temper tantrum, marah terus menerus,
perkelahian fisik berulang)
9. Ide paranoid yang transien dan berhubungan dengan stres atau gejala disosiatif yang berat

Penelitian secara biologis mungkin dapat membantu penegakan diagnosis


gangguan kepribadian ambang karena didapatkan pada beberapa kasus penurunan
latensi tidur REM ( rapid eye movemant), gangguan kontinuitas tidur, hasil DST yang

38
abnormal, dan hasil tes thyrotropin-releasing hormone yang abnormal. Tetapi
perubahan tersebut juga ditemukan pada kasus gangguan depresi.

GAMBARAN KLINIS

Pasien gangguan kepribadian ambang selalu tampak dalam keadaan kritis. Pergeseran
mood sering sekali dijumpai. Pasien dapat nampak sangat argumentatif pada suatu
waktu namun juga pada waktu yang berbeda bisa sangat depresif, dan pada waktu
yang lain bisa menyangkal memiliki perasaan yang terjadi sebelumnya.

Pasien dapat juga memiliki episode psikiatri yang singkat (yang disebut
episode mikropsikotik) bukannya serangan psikotik yang sepenuhnya, dan gejala
psikotik pada pasien gangguan kepribadian ambang hampir, cepat, atau meragukan.
Perilaku pasien gangguan kepribadian ambang sangat tidak dapat diperkirakan
sebagai dampaknya pasien tidak dapat mencapai tingkat kemampuan sendiri. Sifat
menyakitkan dari kehidupan mereka tercermin dari sikap merusak diri yang berulang.
Pasien biasanya melakukan mengiris pergelangan tangannya dan atau memutilasi
organnya sendiri untuk mendapatkan bantuan dari orang lain, untuk mengekspresikan
kemarahan, untuk menumpulkan mereka sendiri dari afek yang melanda.

Karena mereka merasakan ketergantungan dan permusuhan pasien gangguan


kepribadian ambang memiliki hubungan interpersonal yang buruk. Mereka dapat
tergantung pada orang yang dekat dengan mereka, mereka dapat mengekspresikan
kemarahan pada teman dekatnya jika merasa frustasi. Tetapi pasien gangguan
kepribadian ambang tidak dapat mentoleransi kesendirian, mereka akan mencari
teman walaupun temantersebut sangat tidak menyenangkan dibandingkan harus
sendirian. Untuk mengatasi kesepian mereka menerima siapa saja untuk bergaul.
Mereka sering kali mengeluh mengenai kekosongan dan kebosanan yang lama dan
tidak memiliki identitas, jika ditekan mereka sering kali mengeluh betapa depresinya
mereka selama wawancara namun pada beberapa waktu mengalami kebingungan afek
lainnya.

39
Otto kernberg menjelaskan mekanisme pertahanan identifikasi proyektif
digunakan oleh pasien gangguan kepribadian ambang. Dalam mekanisme pertahanan
yang primitif tersebut, aspek dari diri yang tidak ditoleransi di proyeksikan kepada
orang lain. Orang lain diminta untuk memainkan peranan apa yang diproyeksikan dan
kedua orang bertindak serentak. Terapis harus dapat menyadari sehingga dapat
bertindak secara netral terhadap pasien.

Sebagian ahli sepakat bahwa pasien dengan gangguan kepribadian ambang


menunjukkan kemampuan pertimbangan yang biasa pada tes terstruktur, seperti
wechsler adult inteligence scale dan menunjukkan proses yang menyimpang hanya
pada tes proyektif tidak terstruktur seperti rorschach test.

Secara fungsional pasien gangguan kepribadian ambang mengacaukan


hubungan mereka sekarang ini dengan memasukkan setiap orang dalam kategori baik
atau jahat. Mereka melihat orang sebagai pengasuh dan tokoh perlekatan atau orang
yang penih dengan kebencian atau sadistik yang mengambil keputusan terkait
keamanan mereka dan mengancam mereka dengan penelantaran ketika mereka
mereka merasa tergantung. Sebagai akibat pembelahan tersebut orang yang baik
diidealkan dan orang jahat di rendahkan. Perpindahan hubungan dari satu orang atau
kelompok lain sangat sering ditemukan.

Beberapa klinisi menggunakan konsep panfobia, panansietas, panambivalensi,


dan seksualitas yang kacau untuk menggambarkan karakteristik pasien gangguan
kepribadian ambang.

DIAGNOSIS BANDING

Pembedaan dari skizofrenia dilakukan berdasarkan tidak adanya episode psikotik,


gangguan pikiran, atau tanda skizofrenia klasik lainnya yang berkepanjangan yang
dimiliki pasien ambang. Pasien gangguann kepribadian skizotipal menunjukkan
pikiran yang sangat aneh, gagasan yang anehdan gagasan menyangkut diri sendiri

40
yang rekuren. Pasien gangguan kepribadian histrionik dan antisosial sukar untuk
dibedakan dari pasien gangguan kepribadian ambang. Pada umumnya pasien
gangguan kepribadian menunjukkan perasaaan kekosongan yang kronis, impulsivitas,
mutilasi diri, episode psikotik singkat, usaha bunuh diri manipulatif, dan biasanya
keterlibatanyang menuntut dalam hubungan erat.

PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS

Gangguan ini cukup stabil di mana pasien mengalami sedikit perubahan


dengan berjalannya waktu. Penelitian longitudinal tidak menunjukkan perkembangan
ke arah skizofrenia tetapi pasien memiliki insidensi tinggi untuk mengalami episode
gangguan depresi berat. Diagnosis biasanya dibuatsebelum usia 40 tahun. Jika pasien
berusaha mengambil pilihan pekerjaan, perkawinan, dan pilihan lain dan tidak
mampu mengatasi stadium normal siklus kehidupan tersebut.

TERAPI

PSIKOTERAPI. Psikoterapi untuk pasien gangguan kepribadian ambangdalam


penelitian intensif dan telah menjadi terapi yang terpilih. Sekarang ini farmakoterapi
telah ditambahkan pada bagian terapi.

Psikoterapi cukup sulit dilakukan pada pasien dan terapis sendiri. Regresi
terjadi dengan mudah pada gangguan kepribadian ambangyang melakukan impulsnya
dan menunjukkan transferensi negatif atau positif yang terpaku atau labil yang sukar
untuk dianalisis. Identifikasi proyektif mungkin juga menyebabkan masalah
tranferensi balik jika terapis tidak menyadari bahwa pasien secara tidak
sadarberusaha memaksa terapis untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Pembelahan
merupakan suatu mekanisme petahanan menyebabkan pasien secara berganti-ganti
mencintai dan membenci terapis dan orang lain di lingkungannya. Pendekatan

41
berorientasi realitas adalah lebih efektif dibandingkan interpretasi bawah sadar secara
mendalam.

Terapi prilaku telah dilakukan pada pasien gangguan kepribadian ambang


untuk mengendalikan impuls dan ledakan kemarahan dan untuk menurunkan
kepekaan terhadap kritik dan penolakan. Latihan keterampilan sosial, khususnya
dengan videotape, adalah membantu pasien untuk melihat bagaimana tindakan
mereka mempengaruhi orang lain dengan demikian untuk melihat bagaimana
tindakan mereka mempengaruhi orang lain dan dengan demikian untuk meningkatkan
perilaku interpersonal mereka.

Pasien gangguan kepribadian ambang sering kali berkelakuan baik di dalam


lingkungan rumah sakit dimana mereka mendapatkan psikoterapi intensif atas dasar
individual dan dasar kelompok. Mereka juga berinteraksi dengan anggota staf yang
terlatih dari disiplin dan dibekali dengan terapi kerja, rekreasional, dan kejujuran.
Prohran tersebut adalah sangan membantu jikalingkungan rumah membahayakan
rehabilitasi pasien karena adanya konflik dengan keluarga atau stres lain. Seperti
penyiksaan orang tua. Pasien gangguan kepribadian ambang yang sangat impulsif,
merusak diri sendir, dan mutilasi diri sebaiknya di rawat di rumah sakit yang
memiliki layanan psikiatri. Untuk mencapai kondisi ideal pasien membutuhkan
perawatan hingga 1 tahun pada beberapa kasus. Pada saat itu pasien dapat
dipulangkan dan dapat dilakukan evaluasi berkala dengan melakukan evaluasi saat
siang, malam dan halfway house pelaporan kepada pihak rumah sakit oleh sistem
pendukung khusus.

FARMAKOTERAPI. Farmakoterapi pada pasien gangguan kepribadian ambang


sangat berguna untuk mengobati ciri kepribadian tertentu pada pasien secara
menyeluruh. Penggunaan antipsikotik dapat digunakan untuk mengatasi kemarahan,
kebencian dan gejala psikotik singkat. Anti depresan digunakan untuk mengatasi
mood pasien yang terdepresi bila ditemukan gejala tersebut. Inhibitor Monoamin

42
Oksidase (MAOI) efektif untuk memodulasi prilaku impulsif pada beberapa pasien.
Benzodiazepine terutama alprazolam dapat sangat membantu mengatasi kecemasan
dan depresi pada pasien. Tetapi hari hati karena ada beberapa pasien yang mengalami
disinhibisi dengan oklas obat tersebut. Anti konvulsan seperti carbamazepine berguna
untuk meningkatkan fungsi global pada beberapa pasien. Dilaporkan obat
serotoninergik seperti fluoxetine cukup membantu pada beberapa kasus.

GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK

Gangguan kepribadian histronik ditandai dengan prilaku yang bermacam-macam,


dramatikal, ekstrovert yang meluap-luap, dan emosional. Tetapi, dengan penampilan
yang flamboyan mereka sangat sulit untuk mempertahankan hubungan dalam waktu
yang cukup lama.

EPIDEMIOLOGI.

Menurut DSM V dari data yang terbatas didapatkan prevalensi 2 sampai 3 persen
pada populasi. Didapatkan data sekitar 10-15 persen pada lingkungan pasien rawat
inap dan rawat jalan psikiatri bila dilakukan pemeriksaan terstruktur. Keadaan
tersebut lebih sering terdiagnosis pada wanita dibandingkan dengan laki-laki.
Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan dengan gangguan somatisasi dan
gangguan penggunaan alkohol.

DIAGNOSIS

Dalam wawancara pasien dengan gangguan kepribadian histrionik dapat


berkerjasama dan dapat menjelaskan penyakitnya secara rinci. Dalam percakapan
sering ditemukan gerakan isyarat dan penekanan yang dramatikal. Pasien sering
membuat plesetan dan bahasa yang digunakan bermacam macam. Pasien
menampilkan afek yang berubah ubah, namun ketika diminta untuk menjelaskan
perasaan marah, sedih, dan keinginan seksual mereka cenderung terkejut, marah dan
menyangkal. Kognitif biasanya normal. Walaupun didapatkan ketidak tekunan dalam

43
mengerjakan tugas aritmatika atau konsentrasi, dan sifat pelupa pasien yang
melibatkan aspek material. Kriteria DSM V

KRITERIA DIAGNOSIS GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK DSM V


Pola pervasif emosionalitas dan mencari perhatian yang berlebihan, dimulai pada masa dewasa
muda dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh 5 (lima) atau lebih
kriteria yaitu :
1. Tidak merasa nyaman pada situasi dimana ia bukan merupakan pusat perhatian
2. Interaksi dengan orang lain sering ditandai dengan godaan seksual yang tidak pada
tempatnya atau perilaku provokatif
3. Menunjukkan pergeseran emosi yang cepat atau ekspresi emosi yang dangkal
4. Secara terus menerus mengguunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian pada
dirinya
5. Memiliki gaya bicara yang sangat imprisonistik dan tidak memiliki perincian
6. Menunjukkan dramatisasi diri, teaterikal, dan ekspersi emosi yang berlebihan
7. Mudah disugesti yaitu mudah dipengaruhi oleh orang lain atau situasi
8. Menganggap hubungan menjadi lebih intim dibanding kadaan yang sebenarnya.

GAMBARAN KLINIS

Pasien dengan gangguan kepribadian histrionik menunjukkan prilaku mencari


perhatian yang tinggi. Mereka membesar-besarkan pikiran dan perasaan meraka
membuat segalanya terdengan lebih penting dibandingkan kenyataannya. Mereka
menunjukkan temper tantrum, ketakutan, dan tuduhan jika mereka bukan merupakan
pusat perhatian atau tidak mendapatkan pujian atau penghargaan.

Prilaku menggoda sering ditemukan pada dua jenis kelamin. Sering terjadi
fantasi seksual pada pasien menganai orang yang berada dekat dengannya. Namun
pasien tidak secara terus terang mengatakannya, tampak malu-malud dan genit bukan
agresif secara seksual. Pada pasien histrionik biasanya memiliki masalah
psikoseksual wanita bisa mengalami anorgasmik dan lakilaki mengalami impotensi.
Mereka melakukan impuls seksual dengan harapan bahwa mereka masih menarik
bagi lawan jenisnya. Kebutuhan mereka akan ketentraman sangat dibutuhkan, namun

44
hubungan pasien biasanya dangkal karena pasien cenderung asik dengan dunianya
sendiri dan berubah-ubah. Ketergantungannya yang kuat membuat mereka mudah
percaya dan tertipu.

Mekanisme pertahanan diri pasien histrionok adalah represi dan disosiasif.


Mereka tidak menyadari perasaanya yang sesungguhnya dan tidak mampu
menjelaskan motivasi mereka. Di bawah stres, tes realitas pasien biasanya terganggu.

DIAGNOSIS BANDING

Sangat sulit untuk membedakan gangguan kerpibadian histrionik dengan gangguan


kepribadian ambang. Pada gangguan kepribadian ambang sering ditemukan usaha
bunuh diri, difusi identitas dan adanya episode psikotik singkat. Walaupun kedua
kondisi dapat terjadi secara bersamaan namun klinisi harus memisahkan kedua
gangguan tersebut. Gangguan somatisasi (sindrom briquet) dapat terjadi secara
bersamaan pada gangguan kepribadian histrionik. Pasien dengan gangguan psikotik
singkat dan gangguan disosiatif perlu dipertimbangkan pemberian diagnosis penyerta
gangguan kepribadian histrionok.

PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS

Dengan bertambahnya usia pasien dengan gangguan kepribadian cenderung


mengalami penurunan gajala yang dialami, hal tersebut karena mereka tidak memiliki
energi seperti saat usia muda. Pasien sering mencari sensasi danbermasalah dengan
hukum, penyalahgunaan zan.

TERAPI

PSIKOTERAPI. Pasien dengan gangguan kepribadian histrionik sering kali tidak


menyadari perasaan mereka yang sebenarnya., sehinggan penjelasan mengenai
perasaan yang dalam 9 inner feeling) merupakan suatu proses terapetik yang sangat
penting. Psikoterapi berorientasi psikoanalisis, apa kah dalam kelompok atau

45
individual, kemungkinan merupakan terapi yang terpilih untuk gangguan kepribadian
histrionik.

FARMAKOTERAPI. Farmakoterapi dapat ditambahkan jika menjadi sasarannya


( seperti penggunaan antidepresan untuk depresi dan keluhan somatik, obat
antiansietas untuk kecemasan dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi)

GANGGUAN KEPRIBADIAN NARSISTIK

Orang dengan gangguan kepribadian narsistik ditandai oleh meningkatnya rasa


kepentingan dari dan perasaan kebesaran yang unik.

EPIDEMIOLOGI

Menurut DSM V diperkirakan angka prevalensi gangguan kepribadian narsistik


berkisar antara 2 hingga 16 persen dalam populasi kasus dan kurang dari 1 persen
dari populasi umum. Terdapat risiko yang lebih tinggi dari biasanya pada keturunan
orang tua yang mengalami gangguan narsistik yang menanamkan pada anak-anaknya
rasa kemahakuasaan yang tidak realistik, kebesaran, kecantikan, dan bakat. Jumlah
kasus yang dilaporkan terus meningkatsecara signifikan.

DIAGNOSIS

Dapat di lihat pada tabel DSM V

Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian narsistik DSM V


Pola pervasif kebesaran (dalam khayalan atau perilaku) membutuhkan kebanggaan, dan tidak
ada empati, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang
ditujukan oleh lima (atau lebih) yaitu :
1. Memiliki rasa kepentingan diri yang besar (misalnya pencapaian dan bakat yang
berlebihan, berharap terkenal sebagai superion tanpa usaha yang sepadan.
2. Preokupasi dengan khayalan akan keberhasilan, kekuatan, kecerdasan, kecantikan, atau
cinta ideal yang tidak terbatas.
3. Yakin bahwa ia adalah khusus dan unik dan dapat dimengerti hanya oleh atau harus

46
berhubungan dengan orang lain (atau institusi) yang khsus atau memiliki status tinggi.
4. Membutuhkan kebanggaan yang berlebihan
5. Memiliki perasaan yang tinggi yaitu harapan yang tidak beralasanakan perlakuan khusus
atau kepatuhan secara otomatis yang sesuai dengan harapannya
6. Eksploitatif secara interpersonal yaitu mengambil keuntungan dari orang lain untuk
mencapai tujuannya sendiri
7. Tidak memiliki empati, tidak mau mengenali atau mengetahui perasaan dan kebutuhan
orang lain.
8. Sering merasa iri dengan orang lain atau yakin bahwa orang lain iri kepadanya
9. Menunjukkan perilaku atau sikap yang sombong

GAMBARAN KLINIS

Orang dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki perasaan yang tinggi


mengenai dirinya, menganggap dirinya sebagai orang khusus dan mendapatkan terapi
yang khusus pula. Mereka menanggapi kritik secara buruk dan mungkin menjadi
marah jika ada orang yang mengkritik mereka, atau sangat acuh terhadap kritik.
Pasien tidak dapat menjalin hubungan dekat bahkan terkesan rapuh dan sering
menimbulkan kesal bagi orang lain karena mereka menolak hubungan secara
konvensional. Mereka tidak mampu menunjukkan empati, berpura-pura simpati
hanya untuk mencapai tujuan sendiri. Sangat sering memanfaatkan orang lain.
Mereka memiliki harga diri yang rapuh dan rentan mengalami depresi. Kesulitan
interpersonal, penolakan, kehilangan, dan masalah pekerjaan merupakan stres yang
sering sulit dihadapi oleh orang dengan gangguan kepribadian narsistik.

DIAGNOSIS BANDING

Gangguan kepribadian ambang, histrionik, dan antisosial sering kali ditemukan


bersama sama dengan gangguan kepribadian narsistik, itu menjadikan sulit untuk
memilah diagnosis banding. Pasien dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki
tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan gangguan kepribadian
ambang namun kehidupan mereka tidak se kacau pasien gangguan kepribadian

47
ambang. Pada gangguan kepribadian narsistik lebih kecil risiko bunuh diri
dibandingkan gangguan kepribadian ambang. Pada gangguan kepribadian antisosial
lebih sering mengahadapi masalah hukum dengan prilaku impulsif, penyalahgunaan
napza dibandingkan gangguan narsistik. Gangguan kepribadian histrionik
menampilkan eksibinionisme dan manipulativitas yang hampir sama dengan
gangguan kepribadian narsistik.

PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS

Gangguan kepribadian narsistik bersifat kronis dan sulit untuk di terapi. Pasieb secara
terus menerus berhadapan dengan narsisisme baik dengan diri maupun pengalaman
hidup pasien. Keadaan menua merupaka stresor yang berat karena pasien sangat
menilai aspek kecantikan, kekuatan, dan kemudaan. Sehingga pasien dengan
gangguan kepribadian narsistik memiliki kerentanan untuk mengalami krisii
kehidupan di masa pertengahan usia dibanding kelompok lainnya.

TERAPI

PSIKOTERAPI. Pengobatan gangguan kepribadian narsistik sangan sulit, karena


pasien harus meninggalkan kehidupan narsis nya bila ingin ada kemajuan. Psikiater
seperti Otto kermberg dan Heinz kohut menganjurkan pemakaian pendekatan
psikoanalitik untuk mendapatkan perubahan tetapi banyak penelitian yang diperlukan
untuk menghabiskan diagnosis dan atau menentukan terapi terbaik.

FARMAKOTERAPI. Lithium telah digunakan pada pasien yang memiliki pergeseran


mood sesuai dengan kriteria diagnosis. Karena psien dengan gangguan narsistik sulit
menerima penolakan sehingga rentan mengalami depresi, anti depresan dapat juga
digunakan.

GANGGUAN KEPRIBADIAN

48
MENGHINDAR

Orang dengan gangguan kepribadian menghindar menunjukkan kepekaan


yang ekstrem terhadap penolakan, yang dapat menyebabkan penarikan kehidupan
dari sosial.Mereka tidak asosial dan menunjukkan keinginan yang kuat untuk
berteman tetapi mereka malu; mereka memerlukan jaminan yang kuat dan
penerimaan tanpa kritik yang tidak lazim. Orang tersebut sering kali disebut sebagai
memiliki kompleks inferioritas. Dalam ICD-10 pasien diklasifikasikan menderita
gangguan kepribadian cemas (anxious personality disorder).

Epidemiologi
Prevalensi gangguan kepribadian menghindar adalah 1 sampai 10 persen;
seperti yang didefinisikan, gangguan ini sering dijumpai.Tidak ada informasi tentang
rasio jenis kelamin dan pola familial.Bayi yang diklasifikasikan memiliki tem-
peramen yang malu-malu mungkin lebih rentan terhadap gangguan ini dibandingkan
mereka yang berada pada skala aktivitas pendekatan yang tinggi.

Diagnosis
Dalam wawancara klinis aspek yang paling penting adalah kecemasan pasien
tentang berbicara dengan pewawancara.Kecemasan dan ketegangan pasien
tampaknya hilang dan timbul dengan persepsi mereka apakah pewawancara menyu-
kai diri mereka.Mereka tampak rentan terhadap komentar dan sugesti pewawancara
dan mungkin menganggap suatu penjelasan atau suatu interpretasi sebagai suatu
kritik.Kriteria diagnostik DSM-V untuk gangguan kepribadian menghindar yaitu.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Kepribadian Menghindar

Pola pervasif hambatan sosial, perasaan tidak cakap, dan kepekaan berlebihan

49
terhadap penilaian negatif, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam
berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut:
(1) menghindari aktivitas pekerjaan yang memerlukan konlak interpersonal yang
bermakna, karena takul akan kritik, celaan, atau penolakan
(2) tidak mau terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disenangi
(3) menunjukkan keterbatasan dalam hubungan intim karena rasa takut
dipermalukan atau ditertawai
(4) preokupasi dengan sedangdikritik atau ditolak dalam situasi sosial
(5) terhambat dalam situasi interpersonal yang baru karena perasaan tidak
adekuat
(6) memandang diri sendiri sebagai janggal secara sosial, tidak menarik secara
pribadi, atau lebih rendahdari orang lain
(7) tidak biasanya enggan untuk mengambil risiko pribadi atau melakukan
aktivitas baru karena dapat membuktikanpenghinaan

Gambaran Klinis
Hipersensitivitas terhadap penolakan oleh orang lain adalah gambaran klinis
inti dari gangguan kepribadian menghindar. Orang dengan gangguan menginginkan
hubungan dengan orang lain yang hangat dan aman tetapi membenarkan penghin-
daran mereka untuk membentuk persahabatan karena perasaan ketakutan mereka
akan penolakan. Saat berbicara dengan seseorang, mereka mengekspresikan
ketidakpastian dan tidak memiliki kepercayaan diri dan mungkin berbicara dalam
cara yang merendahkan diri sendiri. Mereka takut untuk berbicara di depan publik
atau membuat permohonan untuk hal lain, karena mereka kewaspadaan mereka yang
berlebihan terhadap penolakan. Mereka mudah keliru mengartikan komentar orang
lain sebagai penghinaan atau ejekan. Penolakan suatu permohonan menyebabkan
mereka menarik diri dari orang lain dan merasa terluka.
Dalam segi kejuruan, pasien gangguan kepribadian menghindari sering kali
mengambil pekerjaan di'garis pinggir.Mereka jarang mencapai kemajuan personal

50
yang banyak atau banyak berlatih kepemimpinan.Malahan, pada pekerjaan mereka
mungkin mudah malu dan ingin sekali kesenangan.
Orang dengan gangguan biasanya tidak mau memasuki persahabatan kecuali
mereka diberikan jaminan yang kuat secara tidak biasanya akan penerimaan tanpa
kritik. Sebagai akibatnya, mereka sering kali tidak memiliki teman dekat atau teman
kepercayaan.Pada umumnya, sifat kepribadian dasar mereka adalah malu-malu.

Diagnosis Banding
Pasien gangguan kepribadian menghindar menginginkan interaksi sosial,
dibandingkan dengan pasien gangguan kepribadian skizoid, yang ingin
sendirian.Pasien gangguan kepribadian menghindar adalah tidak menuntut, tidak
mudah marah, atau tidak dapat diramalkan seperti pasien gangguan kepribadian
ambang dan histrionik.Gangguan kepribadian menghindar dan gangguan kepribadian
dependen adalah serupa. Pasien gangguan kepribadian dependen dianggap memiliki
ketakutan yang lebih tinggi akan penelantaran atau tidak dicintai dibandingkan pasien
gangguan kepribadian menghindar; tetapi, gambaran klinisnya mungkin tidak dapat
dibedakan.

Perjalanan Penyakit dan Prognosis


Banyak pasien gangguan kepribadian menghindar mampu untuk berfungsi,
asalkan mereka dalam lingkungan yang terlindung.Beberapa pasien menikah,
memiliki anak-anak, dan kehidupan mereka hanya dikelilingi anggota
keluarga.Tetapi, jika sistem pendukung gagal, mereka menjadi subjek depresi,
kecemasan, dan kemarahan.Penghindaran fobik adalah sering ditemukan, dan pasien
gangguan kepribadian menghindar mungkin memberikan riwayat fobia sosial atau
berkembang menjadi fobia sosial selama perjalanan penyakitnya.
Terapi

51
Psikoterapi.Terapi psikoterapeutik tergantung pada kepadatan suatu ikatan
dengan pasien. Saat kepercayaan berkembang, ahli terapi menyampaikan sikap
menerima akan ketakutan pasien, khususnya rasa takut akan penolakan. Ahli terapi
akhirnya mendorong pasien untuk keluar ke dunia untuk melakukan apa yang
dirasakan mereka memiliki risiko tinggi penghinaan, penolakan, dan kegagalan.
Tetapi ahli terapi harus berhati-hati saat memberikan tugas untuk berlatih keteram-
pilan sosial yang baru di luar terapi, karena kegagalan dapat memperberat harga diri
pasien yang telah buruk. Terapi kelompok dapat membantu pasien mengerti efek
kepekaan mereka terhadap penolakan pada diri mereka sendiri dan orang lain.
Latihan ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang dapat mengajarkan pasien
untuk mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan untuk meningkatkan
harga diri mereka.
Farmakoterapi.Farmakoterapi telah digunakan untuk menangani kecemasan
dan depresi jika ditemukan sebagai gambaran penyerta. Beberapa pasien tertolong
oleh penghambat-beta, seperti atenolol (Tenormin), untuk mengatasi hiperaktivitas
sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien dengan gangguan
kepribadian menghindari, khususnya jika mereka menghadapi simasi yang
menakutkan:

GANGGUAN KEPRIBADIAN
DEPENDEN

Orang dengan gangguan kepribadian dependen menempatkan -kebutuhan


mereka sendiri di bawah kebutuhan orang lain, meminta orang lain untuk mengambil
tanggung jawab untuk masalah besar dalam kehidupan mereka, tidak memiliki
kepercayaan dari, dan mungkin mengalami rasa tidak nyaman yang kuat jika sedang
sendirian lebih dari suatu periode singkat. Dalam Diagnostic and Statistical Manual
of Mental Disorders edisi pertama (DSM-I), kondisi ini dinamakan kepribadian
tergantung-pasif(passive-dependent personality), Freud menjelaskan, dimensi

52
ketergantungan-oralnada kepribadian yang ditandai oleh ketergantungan, pesimisme,
rasa takut akan seksualitas, keraguan diri, pasivitas, sugestibilitas, dan tidak memiliki
keteguhan hati, yang serupa dengan kategorisasi gangguan kepribadian dependen
dalam DSM-V.

Epidemiologi
Gangguan kepribadian dependen adalah lebih sering pada wanita
dibandingkan laki-laki. Satu penelitian mendiagnosis 2,5 persen dari semua gangguan
kepribadian masuk ke dalam kategori tersebut. Gangguan ini lebih sering terjadi pada
anak kecil dibandingkan anak yang lebih besar.Orang dengan penyakit fisik yang
kronis pada masa anak-anaknya mungkin yang paling rentan terhadap gangguan.

Diagnosis
Dalam wawancara pasien tampak penuh keluhan. Mereka mencoba
untuk'bekerja sama, menyambut pertanyaan spesifik, dan mencari bimbingan.
Kriteria diagnostik DSM-V untuk gangguan kepribadian dependen yaitu:

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Kepribadian Tergantung

Kebutuhan yang pervasif dan berlebihan untuk diasuh, yang menyebabkan


perilaku tunduk dan menggantung dan rasa takut akan perpisahan, dimulai pada
masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan
oleh lima (atau lebih) berikut;
(1) memiliki kesulitan dalam mengambil keputusan setiap hari tanpa sejumlah
besar nasihat dan penenteraman dari orang lain
(2) membutuhkan orang lain untuk menerima tanggung jawab dalam sebagian
besar bidang utama kehidupannya
(3) memiliki kesulitan dalam mengekspresikan ketidaksetujuan pada orang lain.

53
Catatan: tidak termasuk rasa takut yang realistik akan ganti rugi.
(4) memiliki kesulitan dalam memulai proyek atau melakukan hal dengan dirinya
sendiri (karena tidak memiliki keyakinan diri dalam pertimbangan atau
kemampuan ketimbang tidak memiliki motivasi atau energi)
(5) berusaha berlebihan untuk mendapatkan asuhan dan dukungan dari orang
lain, sampai pada titik secara sukarela melakukan hal yang tidak
menyenangkan
(6) merasa tidak nyaman atau tidak berdaya jika sendirian karena timbulnya rasa
takut tidak mampu merawat diri sendiri
(7) segera mencari hubungan dengan orang lain sebagai sumber pengasuhan dan
dukungan jika hubungan dekatnya berakhir
(8) secara tidak realistik terpreokpasi dengan rasa takut ditinggal untuk merawat
dirinya sendiri.

Gambaran Klinis
Gangguan kepribadian dependen ditandai oleh pola ketergantungan yang
pervasif dan perilaku patuh. Orang dengan gangguan tidak mampu untuk mengambil
keputusan tanpa nasehatdan penenteraman yang banyak dari orang lain.
Pasien gangguan kepribadian dependen menghindari posisi tanggung jawab
dan menjadi cemas jika diminta untuk memegang peran kepemimpinan.Mereka lebih
senang tunduk. Jika mereka sendirian, mereka merasa sukar untuk menekuni tugas
tetapi merasa mudah melakukan tugas tersebut untuk orang lain.
Orang dengan gangguan tidak senang sendirian. Mereka mencari orang lain
pada siapa mereka dapat menggantung, dan hubungan mereka dengan demikian
dikacaukan oleh kebutuhan mereka untuk melekat dengan orang lain tersebut.
Dalamfolie a deux(gangguan psikotik terbagi), satu anggota pasangan biasanya
menderita gangguan kepribadian dependen, dan pasangan yang tunduk mengambil
sistem wahan, dari pasangan yang lebih agresif dan tegas pada siapa ia tergantung.

54
Pesimisme, keraguan diri, pasivitas, dan ketakutan untuk mengekspresikan
perasaan seksual dan agresif menandai perilaku pasien gangguan kepribadian
dependen.Seorang pasangan yang menyiksa, tidak setia, atau alkoholik mungkin
dapat ditoleransi untuk jangka waktu yang lama untuk tidak mengganggu perasaan
perlekatan.

Diagnosis Banding
Sifat ketergantungan ditemukan pada banyak gangguan psikiatrik, yang
menyebabkan diagnosis banding menjadi sulit.Ketergantungan adalah faktor yang
menonjol pada pasien gangguan kepribadian histrionik dan ambang; tetapi, pasien
gangguan kepribadian dependen biasanya memiliki hubungan jangka panjang dengan
orang pada siapa mereka tergantung, bukannya pada sejumlah orang, dan mereka
tidak cenderung manipulatif.Pasien gangguan kepribadian skizoid dan skizo-tipal
mungkin tidak dapat dibedakan dari pasien gangguan kepribadian menghindar.
Perilaku ketergantungan dapat terjadi pada pasien dengan agorafobia, tetapi
pasien agorafo-bik cenderung memiliki tingkat kecemasan yang jelas atau bahkan
panik.

Perjalanan Penyakit dan Prognosis


Sedikit yang diketahui tentang perjalanan penyakit gangguan kepribadian
dependen.Terdapat kecenderungan untuk mengganggu fungsi pekerjaan, karena
pasien memiliki ketidakmampuan untuk bertindak secara mandiri dan tanpa
pengawasan dari dekat.Hubungan sosial adalah terbatas pada siapa orang dapat
tergantung, dan banyak yang menderita penyiksaan mental atau fisik karena mereka
tidak dapat menegaskan dirinya sendiri.Mereka berada dalam risiko mengalami
gangguan depresif berat jika mereka mengalami kehilangan orang pada siapa mereka
tergantung.Tetapi, prognosis dengan pengobatan adalah cukup baik.
Terapi

55
Psikoterapi.Terapi gangguan kepribadian dependen sering kali dapat
berhasil.Terapi berorientasi tilikan memungkinkan pasien mengerti datangnya
perilaku mereka, dan, dengan dukungan ahli terapi, pasien dapat menjadi lebih
mandiri, tegas, dan percaya pada diri sendiri dibandingkan diri mereka sebelum
terapi.
Suatu kesukaran dalam terapi dapat tampak jika ahli terapi memaksakan
pasien untuk mengubah dinamika hubungan patologis (sebagai contohnya,
mendorong istri yang mendapatkan penyiksaan fisik untuk meminta bantuan polisi).
Pada saat itu pasien menjadi ketakutan, tidak mampu bekerja sama dalam terapi, dan
merasa terobek antara mematuhi ahli terapi dan kehilangan hubungan eksternal yang
patologis. Ahli terapi harus menunjukkan rasa hormat yang besar pada perasaan
perlekatan seorang pasien gangguan kepribadian dependen, tidak peduli bagaimana
patologisnya perasaan tersebut.
Terapi perilaku, latihan ketegasan, terapi keluarga, dan terapi kelompok
semuanya telah digunakan, dengan keberhasilan pada banyak kasus.
Farmakoterapi.Farmakoterapi telah digunakan untuk mengatasi gejala
spesifik seperti kecemasan dan depresi, yang sering merupakan gambaran penyerta
gangguan kepribadian dependen.Pasien tersebut yang mengalami serangan panik atau
yang memiliki tingkat kecemasan perpisahan yang tinggi mungkin tertolong oleh
imipramine (Tofranil). Benzodiazepine dan obat serotonergik juga telah berguna. Jika
depresi atau gejala menarik diri pada pasien berespons terhadap psikosti-mulan, obat
tersebut dapat digunakan.

GANGGUAN KEPRIBADIAN
OBSESIF-KOMPULSIF

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif ditandai oleh penyempitan


emosional, ketertiban, kekerasan hati, sikap keras kepala, dan
kebimbangan.Gambaran penting dari gangguan ini adalah, pola perfeksionisme dan

56
infleksibilitas yang pervasif.Dalam ICD-10 gangguan ini disebut gangguan
kepribadian anankastik.
Epidemiologi
Prevalensi gangguan kepribadian opsesif-kompulsif adalah tidak
diketahui.Keadaan ini lebih sering pada laki-laki dibandingkan wanita dan
didiagnosis paling sering pada anak yang tertua.Gangguan juga lebih sering terjadi
pada sanak saudara biologis derajat pertama dari orang dengan gangguan tersebut
dibandingkan populasi umum.Pasien sering kali memiliki latar belakang yang
ditandai oleh disiplin yang keras. Freud menghipotesiskan bahwa gangguan ini adalah
berhubungan dengan kesulitan pada stadium anal dari perkembangan psikoseksual,
biasanya di sekitar usia 2 tahun. Tetapi, pada berbagai penelitian teori tersebut belum
disahkan.

Diagnosis
Dalam wawancara, pasien gangguan kepribadian obsesif-kompulsif mungkin
memiliki kelakuan yang kaku, resmi, dan dingin.Afek mereka tidak tumpul atau datar
tetapi dapat digambarkan sebagai terkonstriksi.Mereka tidak memiliki spontani-
tas.Mood mereka biasanya serius.Pasien tersebut mungkin ketakutan tentang tidak
dalam pengendalian wawancara.Jawaban mereka terhadap pertanyaan biasanya
terinci.Mekanisme pertahanan yang digunakan adalah rasionalisasi, isolasi, inte-
lektualisasi, pembentukan reaksi, dan meruntuhkan (undoing).Kriteria diagnostik
DSM V untuk gangguan kepribadian obsesif-kompulsif yaitu:

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif

Pola pervasif preokupasi dengan urutan, perfeksionisme, dan pengendalian mental


dan interpersonal, dengan mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan, dan efisiensi,
dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang

57
ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut:
(1) terpreokupasi dengan perincian, aturan, daftar, urutan, susunan, atau jadwal
sampai tingkat di mana aktivitas utama hilang
(2) menunjukkan perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas
(misalnya, tidak mampu menyelesaikan suatu proyek karena tidak memenuhi
standarnya sendiri yang terlalu ketat.
(3) secara berlebihan setia kepada pekerjaan dan produktivitas sampai
mengabaikan aktivitas waktu luang dan persahabatan (tidak disebabkan oleh
kebutuhan ekonomi yang besar)
(4) terlalu berhati-hati, teliti, dan tidak fleksibel tentang masalah moralitas, etika,
atau nilai-nilai (tidak disebabkan oleh identifikasi kultural atau religius)
(5) tidak mampu membuang benda-benda yang usang atau tidak berguna
walaupun tidak memiliki nliai sentimental
(6) enggan untuk mendelegasikan tugas atau untuk bekerja dengan orang lain
kecuali mereka tunduk dengan tepat caranya mengerjakan hal.
(7) memiliki gaya belanja yang kikir baik untuk dirinya sendiri maupun orang
lain; uang dipandang sebagai sesuatu yang harus ditimbun untuk bencana di
masa depan
(8) menunjukkan kekakuan dan keras kepala

Gambaran Klinis
Orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif memiliki keasyikan
dengan aturan, peraturan, ketertiban, kebersihan, perincian, dan pencapaian
kesempurnaan.Sifat tersebut menyebabkan penyempitan umum pada kepribadian
keseluruhan.Orang tersebut adalah resmi dan serius dan sering kali tidak memiliki
rasa humor. Mereka memaksakan aturan supaya diikuti secara kaku dan tidak mampu
untuk menoleransi apa yang dirasakannya sebagai pelanggaran. Dengan demikian,
mereka tidak memiliki fleksibilitas dan intoleran.Mereka mampu bekerja lama,

58
asalkan dilakukan secara rutin dan tidak memerlukan perubahan yang tidak dapat
diadaptasi oleh mereka.
Keterampilan interpersonal pasien gangguan kepribadian obsesif-kompulsif
adalah terbatas. Mereka mengasingkan orang lain, tidak mampu untuk berkompromi,
dan memaksakan supaya orang lain tunduk pada kebutuhan mereka. Tetapi, mereka
mudah memaafkan mereka yang dipan-
dangnya sebagai lebih berkuasa dibandingkan dirinya dan memenuhi keinginan
mereka dalam cara penguasa, Karena mereka takut melakukan kesalahan, mereka
mengalami kebimbangan dan berpikir lama dalam mengambil keputusan. Walaupun
perkawinan yang stabil dan pekerjaan yang adekuat adalah sering, pasien gangguan
kepribadian obsesif-kompulsif memiliki sedikit teman.
Segala sesuatu yang mengancam merusak rutinitas kehidupan pasien atau
stabilitas mereka dapat mencetuskan kecemasan yang berat yang terjalin dalam ritual
yang mereka tetapkan pada kehidupan mereka sendiri dan dicoba untuk ditetapkan
pada orang lain.

Diagnosis Banding
Jika ditemukan obsesi atau kompulsi yang rekuren, gangguan obsesif-
kompulsif harus ditulis dalam Aksis I. Kemungkinan pembedaan yang paling sukar
adalah antara pasien rawat jalan dengan sifat obsesif-kompulsif dan pasien dengan
gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Diagnosis gangguan kepribadian diberikan
pada pasien dengan gangguan bermakna dalam efektivitas pekerjaan atau
sosialnya.Pada beberapa kasus, gangguan delusional terjadi bersama-sama dengan
gangguan kepribadian dan harus dicatat.

Perjalanan Penyakit dan Prognosis


Perjalanan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif adalah bervariasi dan
tidak dapat diramalkan.Dari waktu ke waktu, obsesi atau kompulsi dapat berkembang
dalam perjalanan gangguan kepribadian. Beberapa remaja dengan gangguan

59
kepribadian obsesif-kompulsif berkembang menjadi orang dewasa yang hangat,
terbuka, dan ramah; tetapi orang lain, gangguan dapat mengawali skizofrenia
ataubeberapa puluh tahun kemudian dan dieksaserbasi oleh proses ketuaan -
gangguan depresif berat.
Orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif dapat bekerja dengan
baik dalam posisi yang membutuhkan pekerjaan metodologis, deduktif, atau
terperinci, tetapi mereka rentan terhadap perubahan yang tidak diharapkan, dan
kehidupan pribadi mereka masih tetap tandus.Gangguan depresif, khususnya dengan
onset lambat, adalah sering ditemukan.

Terapi
Psikoterapi.Tidak seperti pasien dengan gangguan kepribadian lainnya,
pasien gangguan kepribadian obsesif-kompulsif sering kali tahu bahwa mereka sakit,
dan mencari pengobatan atas ke-mauan sendiri.Asosiasi bebas dan terapi yang tidak
mengarahkan adalah sangat dihargai oleh pasien gangguan kepribadian obsesif-
kompulsif yang bersosialisasi atau berlatih berlebihan (over-socialized,
overtrained).Tetapi, terapi sering kalilama dan kompleks, dan masalah transferensi-
balik dapat terjadi.
Terapi, kelompok dan terapi perilaku biasanya menawarkan manfaat
tertentu.Pada kedua konteks adalah mudah untuk memutuskan pasien di tengah-
tengah interaksi atau penjelasan maladaptif mereka.Melengkapi perilaku kebiasaan
mereka mencegah meningkatkan kecemasan pasien dan menyebabkan mereka mudah
mempelajari strategi mengatasi yang baru.Pasien juga dapat menerima penghargaan
langsung karena berubah di dalam terapi kelompok, sesuatu yang kurang dimung-
kinkan pada psikoterapi individual.
Farmakoterapi. Clonazepam (Klonopin) adalah suatu benzodiazepine
dengan antikonvulsan;pemakaian obat ini telah menurunkan gejala pada pasien
dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif parah. Apakah obat ini digunakan
pada gangguan kepribadian adalah tidak diketahui.Clomipramine (Anafranil) dan

60
obat serotonergik tertentu seperti fluoxetine mungkin berguna jika tanda dan gejala
obsesif-kompulsif timbul.

GANGGUAN KEPRIBADIAN YANG


TIDAK DITENTUKAN

Kategori ini dalam DSM-V dicadangkan untuk gangguan yang tidak


memenuhi ke dalam salah satu gangguan kepribadian yang telah dijelaskan
sebelumnya. Gangguan kepribadian pasif-agresif dan gangguan kepribadian depresif
sekarang dituliskan sebagai contoh dari gangguau kepribadian yang tidak ditentukan
(NOS;not otherwise specified).Spektrum sempit perilaku atau sifat tertentuseperti
oposisionalisme, sadisme, atau maso-kismejuga dapat diklasifikasikan di sini.
Seorang pasien yang memiliki ciri-ciri dari lebih satu gangguan kepribadian tetapi
tidak memenuhi kriteria lengkap untuk salah satu gangguan kepribadian dapat
diklasifikasikan di sini.
Kriteria diagnostik DSM-V untuk gangguan kepribadian yang tidak
ditentukan diberikan dalam Tabel

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Kepribadian yang Tidak Ditentukan

Kategori ini adalah untuk gangguan-gangguan fungsi kepribadian yang tidak


memenuhi kriteria untuk gangguan kepribadian spesifik. Contohnya adalah
adanya ciri-ciri lebih dari satu gangguan kepribadian spesifik yang tidak
memenuhi kriteria lengkap untuk salah satu gangguan kepribadian ("kepribadian
campuran"), tetapi bersama-sama menyebabkan penderitaan yang bermakna
secara klinis atau gangguan dalam satu atau lebih fungsi penting (misalnya, sosial
atau pekerjaan). Kategori ini juga dapat digunakan jika klinisi menganggap bahwa
suatu gangguan kepribadian spesifik yang tidak dimasukkan dalam klasifikasi ini

61
adalah sesuai. Contohnya adalah gangguan kepribadian pasif agresif dan
gangguan kepribadian depresif.

Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif


Orang dengan gangguan kepribadian pasif-agresif ditandai oleh
obstruksionisme (senang menghalang-halangi), menunda-nunda, sikap keras kepala,
dan tidak efisien.Perilaku tersebut adalah manifestasi dari agresi yang mendasari,
yang diekspresikan secara pasif.Dalam DSM-V gangguan ini juga dinamakan
gangguan kepribadian negativistik.
Epidemiologi.Tidak ada data yang tersedia tentang epidemiologi
gangguan.Rasio jenis kelamin, pola familial, dan prevalenis belum diteliti secara
adekuat.
Diagnosis.Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian pasif-agresif
diberikan dalam Tabel.
Kriteria Riset Gangguan Kepribadian Pasif Agresif

A. Pola pervasif sikap negativistik dan resistensi pasif terhadap tuntutan akan
kinerja yang adekuat, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak datam
berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut:
(1) secara pasif menolak memenuhi lugas sosial den pekerjaan rutin
(2) mengeluh tidak dimengerti dan tidak dihargai oleh orang lain
(3) cemberut dan argumentatif
(4) tanpa alasan mengkritik dan mencemooh atasan
(5) menunjukkan rasa cemburu dan kebencian terhadap mereka yang
tampaknya lebih beruntung
(6) suara yang diperkeras dan keluhan terus-menerus atas
ketidakberuntungan dirinya
(7) berganti-ganti antara tantangan permusuhan dan perasaan dosa
B. Tidak terjadi semata-mata selama episode depresif berat dan tidak

62
diterangkan lebih baik oleh gangguan distimik.

Gambaran Klinis. Pasien gangguan kepribadian pasif-agresif secara


karakteristik adalah menunda-nunda, tidak menerima permintaan untuk kinerja yang
optimal, meminta maaf untuk keterlambatan, dan mencari kesalahan pada diri orang
lain pada siapa mereka tergantung; tetapi mereka menolak untuk melepaskan diri
mereka sendiri dari hubungan ketergantungan. Mereka biasanya tidak memiliki
ketegasan dan tidak langsung tentang kebutuhan dan harapan mereka. Mereka tidak
dapat menjawab pertanyaan yang diperlukan tentang apa yang diharapkan oleh
mereka dan mungkin menjadi cemas jika dipaksa untuk melakukannya atau jika
pertahanan mereka yang biasanya menahan kemarahan pada dirinya dihilangkan.
Dalam hubungan interpersonal, pasien gangguan kepribadian pasif-agresif
berusaha untuk memanipulasi dirinya sendiri ke dalam posisi tergantung, tetapi
perilaku mereka yang pasif, dan merendahkan diri sendiri sering kali dirasakan oleh
orang lain sebagai hukuman atau manipulatif. Orang lain harus melakukan suruhan
dan melakukan tanggung jawab rutin pasien. Teman-teman dan klinisi mungkin
menjadi terperangkap dalam usaha untuk menghilangkan keluhan pasien yang banyak
tentang lerapi yang tidak adil.Hubungan erat pasien gangguan kepribadian pasif-
agresif jarang menyenangkan atau hening. Karena pasien lebih terikat dekat pada
kemarahan mereka dibandingkan pada kepuasan mereka, mereka mungkin tidak
pernah mengetahui apa yang mereka inginkan bagi diri mereka sendiri untuk
mendapatkan kesenangan. Orang dengan gangguan ini tidak memiliki kepercayaan
pada diri sendiri dan biasanya pesimistik tentang masa depan.
Diagnosis banding.Gangguan kepribadian pasif-agresif perlu dibedakan dari
gangguan kepribadian histrionik dan ambang; tetapi, pasien gangguan kepribadian
pasif-agresif adalah kurang semarak, dramatik, afektif, dan agresif secara terbuka bila
dibandingkan dengan pasien gangguan kepribadian histrionik dan ambang.
Perjalanan penyakit dan prognosis. Dalam suatu penelitian follow-up
terhadap 100 orang pasien rawat inap yang rata-rata berusia 11 tahun, Ivor Small

63
menemukan bahwa gangguan kepribadian pasif-agresif merupakan diagnosis utama
pada 54 orang di antara mereka, 18 orang juga penyalahguna alkohol, dan 30 orang
secara klinis dapat dicap sebagai terdepresi. Dari 73 orang pasien yang pertama
ditempatkan, 58 orang (79 persen) memiliki kesulitan psikiatrik yang menetap, dan 9
orang (12 persen) dianggap bebas gejala.Sebagian besar tampak mudah tersinggung,
cemas, dan terdepresi; keluhan somatik adalah banyak.Hanya 32 orang (44 persen)
dapat bekerja penuh waktu sebagai pekerja atau bekerja di rumah.Walaupun
penelantaran tanggung jawab dan usaha bunuh diri adalah sering ditemukan, hanya 1
persen pasien yang berhasil melakukan bunuh diri sementara ini.Walaupun 28 pasien
(38 persen) dirawat ulang ke rumah sakit, hanya 3 persen yang disebut skizofrenia.
Terapi
PSIKOTERAPI.Pasien gangguan kepribadian pasif-agresif yang mendapatkan
psikoterapi suportif memiliki hasil yang baik. Tetapi, psikoterapi untuk pasien dengan
gangguan kepribadian pasif-agresif memiliki banyak kekurangan: dalam memenuhi
kebutuhan pasien sering kali mendukung patologi mereka, tetapi menolak permintaan
mereka adalah menolak mereka. Sesion terapi dengan demikian menjadi medan
peperangan di mana pasien mengekspresikan perasaan kemarahan terhadap ahli terapi
yaitu orang yang pada siapa pasien ingin menjadi tergantung. Pada pasien gangguan
kepribadian pasif-agresif, klinisi harus mengobati kecenderungan bunuh diri terhadap
tiap ekspresi kemarahan yang tersembunyi dan bukan sebagai orang yang akan
mengobati kehilangan objek padagangguan depresif berat. Ahli terapi harus menya-
takan kemungkinan akibat perilaku pasif-agresif jika terjadi.Konfrontasi tersebut
mungkin lebih membantu dalam mengubah perilaku pasien dibandingkan interpretasi
yang benar.
FARMAKOTERAPI.Antidepresan harus diresepkan hanya jika ada indikasi
klinis depresi dan kemungkinan bunuh diri.Beberapa pasien berespon terhadap
benzodiazepine dan psikostimulan, tergantung pada keadaan klinis.

Gangguan Kepribadian Depresif

64
Orang dengan gangguan kepribadian depresif ditandai oleh sifat seumur hidup
yang masuk ke dalam spektrum depresif.Mereka adalah pesimistik, anhedonik, terikat
pada kewajiban, meragukan diri sendiri, dan tidak gembira secara kronis.Gangguan
ini baru diklasifikasikan dalam DSM-V, tetapi kepribadian melankolik telah
digambarkan pada awal abad ke-20 oleh dokter psikiatrik Eropa, seperti Ernst
Kretschmer.
Epidemiologi.Karena gangguan kepribadian depresif adalah kategori yang
baru, tidak ada angka epidemiologi yang tersedia. Tetapi, berdasarkan prevalensi
gangguan depresif pada populasi keseluruhan, gangguan kepribadian depresif
tampaknya sering, terjadi sama banyak pada laki-laki dan wanita, dan terjadi di dalam
keluarga di mana gangguan depresif ditemukan.
Etiologi.Penyebab gangguan kepribadian depresif tidak diketahui, tetapi
faktor yang terlibat dalam gangguan distimik dan gangguan depresif berat mungkin
bekerja.Teori psikologis melibatkan kehilangan pada awal kehidupan, pengasuhan
orangtua yang buruk, superego yang menghukum, dan perasaan bersalah yang
ekstrem.Teori biologis melibatkan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal-tiroid,
termasuk sistem amin nonadrenergik dan serotonergik.Predisposisi genetik, seperti
yang dinyatakan oleh penelitian Stella Chess tentang temperamen, mungkin juga
berperan.
Diagnosis dan gambaran klinis. Deskripsi klasik tentang kepribadian
depresif diajukan tahun 1963 oleh Arthur Noyes dan Laurence Kolb:
Mereka merasakan tetapi hanya sedikit kegembiraan kehidupan yang normal
dan cenderung kesepian dan serius, bermuram durja, bersikap patuh, pesimistik, dan
rendah diri.Mereka rentan untuk mengekspresikan penyesalan dan perasaan ketidak-
berdayaan dan putus asa.Mereka sering kali teliti, perfeksionistik, sangat berhati-hati,
asyik dengan pekerjaan, merasa bertanggung jawab dengan tajam, dan mudah
berkecil hati di bawah kondisi yang baru. Mereka ketakutan akan celaan, cenderung
menderita dalam kesepian dan kemungkinan mudah menangis, walaupun biasanya
tidak di hadapan orang lain. Suatu kecenderungan untuk merasa ragu-ragu, tidak

65
dapat mengambil keputusan, dan berhati-hati mengkhianati perasaan keti-dakamanan
yang melekat.
Belakangan ini, H. Akiskal menggambarkan 7 kelompok sifat depresif: (1)
tenang, introvert, pasif, tidak sombong; (2) bermuram durja, pesimistik, serius, dan
tidak dapat merasakan kegembiraan; (3) mengkritik diri sendiri, menyalahkan diri
sendiri, dan menghina diri sendiri; (4) bersifat ragu-ragu, kritik orang lain, sukar
untuk memaafkan; (5) berhati-hati, bertanggung jawab, dan disiplin diri; (6)
memikirkan hal yang sedih dan merasa merasa cemas; (7) asyik dengan peristiwa
negatif, perasaan tidak berdaya, dan kelemahan pribadi.
Pasien dengan gangguan kepribadian depresif mengeluh perasaan tidak
gembira yang kronis.Mereka memiliki perasaan rendah diri dan merasa sukar untuk
menemukan sesuatu di dalam hidupnya yang dapat membuatnya bergembira, penuh
harapan, atau optimistik. Mereka kemungkinan mencemarkan pekerjaannya, dirinya
sendiri, dan hubungannya dengan orang lain; dan mereka adalah mengkritik dan
menghina diri sendiri. Fisiognomi mereka sering kali mengungkapkan mood mereka-
perawakan yang buruk, wajah depresi, suara serak, dan retardasi psikomotorik.
Diagnosis banding.Gangguan distimik adalah gangguan mood yang ditandai
oleh fluktuasi besar dalam mood dibandingkan yang ditemukan pada gangguan
kepribadian depresif.Gangguan kepribadian adalah kronis dan seumur hidup, sedang-
kan gangguan distimik adalah episodik, dapat terjadi pada setiap waktu, dan biasanya
memiliki stresor pencetus.Kepribadian depresif dapat dianggap sebagai spektrum
kondisi afektif di mana gangguandistimik dan gangguan depresif memiliki varian
yang lebih parah.
Pasien gangguan kepribadian menghindar adalah introvert dan tergantung
tetapi cenderung Lebih merasa cemas daripada depresi, dibandingkan dengan orang
dengan gangguan kepribadian depresif.
Perjalanan penyakit dan prognosis.Orang dengan gangguan kepribadian
depresif mungkin berada dalam risiko tinggi untuk mengalami gangguan distimik dan
gangguan depresif berat.Dalam satu penelitian terakhir oleh Donald Klein dan

66
Gregory Mills subjek dengan kepribadian depresif menunjukkan angka gangguan
mood rekuren yang lebih tinggi secara bermakna, gangguan mood seumur hidup,
depresi berat, dan distimia dibandingkan subjek tanpa kepribadian depresif.
Terapi.Psikoterapi adalah pengobatan terpilih untuk gangguan kepribadian
depresif.Pasien beres-pon terhadap psikoterapi berorientasi tilikan, dan, karena tes
realitas pasien adalah baik, mereka mampu menggali tilikan ke dalam psikodinamika
penyakitnya dan memahami efeknya pada hubungan interpersonal mereka.Terapi
kemungkinan berlangsung lama.Terapi kognitif membantu pasien mengerti
manifestasi kognitif dari perasaan rendah diri dan pesimisme mereka. Jenis
psikoterapi lain yang berguna adalah psikoterapi kelompok dan terapi interpersonal.
Beberapa orang berespons terhadap tindakan menolong diri sendiri.
Pendekatan psikofarmakologi adalah pemakaian medikasi antidepresan,
khususnya obat serotonerik tertentu seperti sertraline (Zoloft), 50 mg sehari.Beberapa
pasien berespons terhadap dosis kecil psikostimulan, seperti amphetamine, 5 sampai
10 mg sehari.Pada semua kasus, obat psikofarmakologis harus dikombinasikan
dengan psikoterapi untuk mencapai efek yang maksimal.

Gangguan Kepribadian Sadomasokistik


Beberapa jenis kepribadian ditandai oleh elemen sadisme atau masokisme
atau kombinasi keduanya.Gangguan kepribadian sss dituliskan di sini karena
merupakan perhatian klinis dan historis yang besar dalam psikiatri.Gangguan ini
bukan merupakan diagnosis resmi dalam DSM-V atau apendiksnya, tetapi dapat
didiagnosis sebagai gangguan kepribadian yang tidak diklasifikasikan.
Sadisme (nama mengikuti Marquis de Sade, yang menulis di abad ke-18
tentang orang yang mengalami kenikmatan seksual saat menyiksa orang lain) adalah
keinginan untuk menyebabkan rasa sakit pada orang lain baik secara penyiksaan
seksual atau fisik atau penyiksaan psikologi pada umumnya. Freud percaya bahwa
pasien sadisme mencegah kecemasan kastrasi dan mampu untuk melakukan kepada
orang lain apa yang mereka takutkan akan terjadi pada diri mereka.

67
Masokisme (nama. mengikuti Leopold von Sacher-Masoch, seorang penulis
novel Austria abad ke-19) adalah pencapaian pemuasan seksual dengan menyiksa diri
sendiri.Pada umumnya, yang dinamakan penderita masokisme moral mencari peng-
hinaan dan kegagalan, bukannya sakit fisik. Freud percaya bahwa kemampuan
penderita masokisme untuk mencapai orgasme terganggu oleh kecemasan dan
perasaan bersalah tentang seks dan perasaan tersebut dihilangkan oleh penderitaan
dan hukuman diri mereka sendiri.
Pengamatan klinis menyatakan bahwa elemen perilaku sadistik dan
masokistik biasanya ditemukan pada orang yang sama. Terapi dengan psikoterapi
berorientasi tilikan, termasuk psikoanalisis, telah efektif pada beberapa kasus.Sebagai
hasil terapi, pasien menjadi menyadari bahwa kebutuhan menghukum diri sendiri
adalah sekunder akibat perasaan bersalah bawah sadar yang berlebihan dan juga
menjadi mengenali impuls agresif mereka yang terepresi, yang berasal dari masa
anak-anak awal.

Gangguan Kepribadian Sadistik


Gangguan kepribadian sadistik adalah suatu tambahan yang kontroversial
pada apendiks DSM-III-R, dan gangguan ini tidak dimasukkan di dalam DSM-
V.Tetapi, gangguan ini masih ditemukan di dalam literatur dan mungkin memiliki
pemakaian deskriptif. Orang dengan gangguan kepribadian sadistik menunjukkan
pola kekejaman yang pervasif, merendahkan, dan perilaku agresif, yang dimulai sejak
masa anak-anak awal, dan diarahkankepada orang lain. Kekejaman atau kekerasan
fisik digunakan untuk menyebabkan sakit pada orang lain dan bukan untuk mencapai
suatu tujuan lain, seperti membegal seseorang untuk mencuri. Orang dengan
gangguan ini kemungkinan menghina atau merendahkan orang di hadapan orang lain
dan biasanya telah mengancam atau menghukum orang lain dengan kasar yang tidak
lazimnya, terutama anak-anak. Pada umumnya, orang dengan gangguan kepribadian
sadistik merasa tertarik dengan kekejaman, senjata, cedera, atau penyiksaan.Untuk
dimasukkan ke dalam kategori ini, orang tersebut tidak termotivasi semata-mata oleh

68
keinginan untuk mendapatkan rangsangan seksual dari perilaku mereka; jika mereka
termotivasi demikian, parafilia dari sadisme seksual harus didiagnosis.

Perubahan Kepribadian karena Kondisi Medis Umum


Perubahan kepribadian karena kondisi medis umum (Bagian 10.5)
memerlukan beberapa pembicaraan di sini. ICD-10 menuliskan diagnosis gangguan
kepribadian dan perilaku karena penyakit, cedera, dan disfungsi otak, yang termasuk
gangguan kepribadian organik, sindrom pascaensefalitis, dan sindrom pascagegar.
Perubahan kepribadian karena kondisi medis umum ditandai oleh perubahan
yang jelas pada gaya dan sifat kepribadian dari tingkat fungsi sebelumnya. Pasien
harus menunjukkan bukti-bukti faktor organik penyebab sebelum onset perubahan
kepribadian.
Etiologi.Kerusakan struktural pada otak biasanya penyebab perubahan
kepribadian.Trauma kepala kemungkinan merupakan penyebab yang paling sering.
Neoplasma serebral dan kerusakan pembuluh darah(vascular accidents),khususnya
lobus temporalis danfrontalis, juga merupakan penyebab yang sering. Kondisi ini
tersering disertai dengan perubahan kepribadian yang ditulis dalam Tabel.
Diagnosis dan gambaran klinis.Ditemukan perubahan kepribadian dari pola
perilaku sebelumnya atau suatu eksaserbasi karakteristik kepribadian
sebelumnya.Gangguan pengendalian ekspresi emosi dan impuls adalah gambaran
yang utama.

Kriteria ICD-10 untuk Gangguan Kepribadian Organik

Gangguan ini ditandai oleh pembahan yang bermakna pada pola kebiasaan
perilaku pramorbid, Ekspresi emosi, kebutuhan, dan impuls adalah yang terutama
dipengaruhi. Fungsi kognitif mungkin terutama terganggu atau bahkan secara
khusus dalam bidang perencanaan dan antisipasi kemungkinan konsekuensi

69
pribadi dan sosial, seperti pada yang disebut sindrom lobus frontalis. Tetapi,
sekarang diketahui bahwa sindrom ini terjadi tidak hanya pada lesi lobus frontalis
tetapi juga pada lesi di daerah tertentu lainnya di otak.
Pedoman Diagnostik
Di samping mendapatkan riwayat penyakit atau bukti-bukti lain adanya penyakit,
cedera, atau disfungsi otak, diagnosis definitif memerlukan adanya dua atau lebih
ciri berikut:
(a) penurunan konsisten kemampuan untuk gigih dalam aktivitas mengejar suatu
tujuan, terutama yang memerlukan waktu yang lama dan pemuasan yang
tertunda;
(b) perubahan perilaku emosional, ditandai oleh labilitas emosi, kegembiraan
yang dangkal dan tidak diinginkan (euforia, komentar lucu yang tidak
pantas), dan mudah berubah menjadi iritabililas atau ledakan kemarahan dan
agresi yang berlangsung singkat; pada beberapa keadaan apati mungkin
merupakan ciri yang lebih menonjol;
(c) ekspresi kebutuhan dan impuls tanpa mempertimbangkan akibatnya atau
kaidah sosial (pasien mungkin terlibat dalam tindakan disosial, seperti
mencuri, tindakan seksual yang tidak layak, atau makan rakus, atau mungkin
menunjukkan ketidakpedulian terhadap higiene pribadi);
(d) gangguan kognitif, dalam bentuk kecurigaan atau ide paranoid, dan/atau
preokupasi berlebihan dengan tema tunggal yang biasanya abstrak (misalnya,
keagamaan, "benar" dan "salah");
(e) perubahan jelas dalam kecepatan dan aliran produksi bahasa, dengan ciri-ciri
seperti sirkumstansialitas, terlalu memasukkan, kekentalan, dan hipergrafia
(f) perubahan perilaku seksual (hiposeksualitas atau perubahan kesenangan
seksual).
Tabel dari World Health Organization: The ICD-10 Classification of Mental and
Behavioural Disorders: Clinical Descriptions and Diagnostic Guidelines. World
Health Organization, Geneva, 1992. Digunakan dengan izin.

70
Secara karakteristik emosi adalah labil dan dangkal, walaupun euforia dan apati
mungkin menonjol.Euforia mungkin menyerupai hipomania, tetapi elasi yang
sesungguhnya tidak ada, dan pasien mungkin menyatakan tidak benar-benar merasa
gembira. Terdapat cincin yang palsu dan kebodoh-bodohan pada luapan kegembiraan
pasien dan komentar-komentar lucu, khususnya

KondisiMedis yang BerhubungandenganPerubahanKepribadian

Trauma kepala
Penyakitserehovaskular
Tumor serebral
Epilepsi (terutama epilepsy parsial)
Penyakit Huntington
Sclerosis multiple
Gangguanendokrin
Keracunanlogamberat (manganraksa)
Sindromdefisiensi di dapat (AIDS)
jika terkena lobus frontalis.Hal yang juga berhubungan dengan cedera lobus frontalis,
yang disebut sindrom lobus frontalis, adalah ketidak-acuhan dan apati yang menonjol,
yang ditandai oleh tidak adanya perhatian terhadap peristiwa-peristiwa di lingkungan
dekatnya.Ledakan kemarahan dengan sedikit atau tanpa provokasi dapat terjadi,
khususnya setelah ingesti alkohol, dan mungkin menyebabkan prilaku kasar. Ekspresi
impuls mungkin dimanifestasikan oleh gurauan yang tidak sesuai, cara yang kasar,
pendekatan seksual yang tidak pada tempatnya, dan tindakan antisosial yang
menyebabkan konflik dengan hukum, seperti menyerang orang lain, kelakuan seksual
yang keliru, dan mencuri di toko. Pandangan ke depan dan kemampuan untuk
mengantisipasi akibat sosial dan hukum dari tindakan seseorang biasanya

71
menghilang. Orang dengan epi lepsi lobus temporalis secara karakteristik
menunjukkan tidak memiliki rasa humor, hipergrafia, hiperreligius, dan agresivitas
yang nyata selama kejang.
Orang dengan perubahan kepribadian karena kondisi medis umum memiliki
sensorium yang jernih.Gangguan ringan pada fungsi kognitif sering kali ada bersama-
sama tetapi tidak menyebabkan pemburukan intelektual.Pasien cenderung tidak
memperhatikan, yang dapat menyebabkan gangguan pada daya ingat belum lama.
Tetapi, dengan suatu dorongan, pasien kemungkinan mengingat apa yang
dikatakannya telah lupa. Diagnosis harus dicurigai pada pasien yang menunjukkan
perubahan yang nyata dalam perilaku atau kepribadian termasuk labilitas emosional
dan gangguan pengendalian impuls, yang tidak memiliki riwayat gangguan mental,
dan yang perubahan kepribadiannya terjadi secara tiba-tiba atau selama periode yang
relatif singkat. Kriteria diagnostik DSM-V terdapat pada Tabel
STEROID ANABOLIK. Semakin banyak atlet sekolah menengah atas dan
perguruan tinggi dan orang lain yang terlibat dengan mengangkat beban yang
menggunakan steroid anabolik sebagai cara singkat untuk memaksimalkan
perkembangan fisik mereka. Steroid anabolik adalah termasuk obat tertentu
sepertioxymetholone (Anadrol), soma-tropin (Humatrope), stanozolol (Winstrol), dan
testosterone cypionate (DEPO-Testosterone).
DSM-V tidak memiliki kategori diagnostik untuk gangguan kepribadian
akibat zat, sehingga tidak jelas apakah perubahan kepribadian karena penyalahgunaan
steroid lebih baik didiagnosis sebadai perubahan kepribadian karena kondisi medis
umum atau salah satu gangguan penggunaan zat lain (atau tidak diketahui). Hal ini
dibicarakan karena steroid anabolik dapat menyebabkan perubahan persisten pada
kepribadian dan perilaku.
Diagnosis banding.Demensia melibatkan pemburukan global pada intelektual
dan kapasitas perilaku, di mana perubahan kepribadian hanya merupakan satu
kategori. Suatu perubahan kepribadian mungkin menandai gangguan kognitif yang
akhirnya akan berkembang menjadi demensia. Pada kasus tersebut, saat pemburukan

72
mulai mencakup daya ingat yang penting dan defisit kognitif, diagnosis diubah dari
perubahan kepribadian karena kondisi medis umum menjadi demensia. Dalam
membedakan sindrom spesifik dari gangguan lain di mana perubahan kepribadian
dapat terjadi-seperti skizofrenia, gangguan delusional, gangguan mood, dan gangguan
pengendalian impuls-dokter harus mempertimbangkan faktor yang paling penting,
keberadaan faktor penyebab organik dalam gangguan perubahan kepribadian.
Perjalanan penyakit dan prognosis.Perjalanan penyakit maupun prognosis
perubahan kepribadian karena kondisi medis umum tergantung pada
penyebabnya.Jika gangguan adalah akibat dari kerusakan struktural pada otak,
gangguan cenderung menetap.Gangguan mungkin terjadi setelah suatu periode koma
dan delirium pada kasus trauma kepala atau gangguan pembuluh darah dan mungkin
menetap.Perubahan kepribadian dapat berkembang menjadi demensia pada kasus
tumor otak, sklerosis multipel, dan penyakit Huntington.Perubahan kepribadian yang
diakibatkan oleh intoksikasi kronik, penyakit medis, atau terapi obat (seperti
levodopa [Larodopa] untuk mengobati parkinsonisme) mungkin pulih jika penyebab
dasar ditangani. Beberapa pasien memerlukan perawatan yang dijaga atau,
sekurangnya, pengawasan ketat untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka,
menghindari konflik berulang dengan hukum, dan melindungi mereka dan
keluarganya dari permusuhan orang lain dan dari deinstitusi yang diakibatkan oleh
tindakan impulsif dan tidak dipertimbangkan.
Terapi.Penatalaksanaan gangguan perubahan kepribadian melibatkan terapi
kondisi organik dasar jika kondisi itu dapat diobati.Terapi psikofarmakologis untuk
gejala spesifik mungkin diindikasikan pada beberapa kasus, seperti imipramine atau
fluoxetine untuk depresi.
Pasien dengan gangguan kognitif yang parah atau pengendalian perilaku yang
melemah mungkin memerlukan konseling untuk membantu menghindari kesulitan
dalam pekerjaan atau mencegah keadaan memalukan sosial.Pada intinya, keluarga
pasien memerlukan dukungan emosional dan nasihat yang konkrit tentang bagaimana
menekan tindakan pasien yang tidak diinginkan.Alkohol harus dihindari. Peperangan

73
sosial harus dibatasi jika pasien memiliki kecenderungan untuk bertindak dalam cara
yang sangat menyerang.
PSIKOBIOLOGI DAN TATALAKSANA
Model psikobiologi dari tatalaksana dari kombinasi terapi dengan menggunakan
psikoterapi dan psikofarmaka berdasar pada struktur, gejala klinis, karakter dari
potulated neurokimia dari setiap tempramen dan karakter gangguan. Farmakoterapi
dan psikoterapi dapat menggabungkan secara sistematik dari struktur kepribadian dan
setiap tahapan perkembangan karater.
Pada penelitian terbaru mengenai terapi farmakologi pengobatan gangguan
kepribadian, target terapi meliputi gejala yang muncul atau yang ter identifikasi, dan
bagian pengobatan dengan efek yang bermakna pada ciri kepribadian akan sangat
berguna.Gejala gangguan kepribadian

Tabel 22-12
Farmakoterapi dari Target Domain Gejala Gangguan Kepribadian
Target Gejala Pilihan Obat Kontraindikasi
Gangguan tingkah laku
Agresi atau impulsif
Agresif afektif (mudah marah dengan Lithium Benzodiazepin
EEG normal Obat serotonergik Stimulan
Antikonvulsan
Antipsikotik dosis
rendah
Agresif ganas (kekerasan atau
kejahatan) Antipsikotik Benzodiazepin
Lithium Stimulan
Antagonis reseptor
Agresif serupa gangguan organik
Imipramine
Agresif iktal (EEG abnormal) Agonis kolinergik

Carbamazepine Antipsikotik
Diphenylhydantoin Stimulan
Benzodiazepine
II. Gangguan mood (suasana hati)

74
Emosional labil Lithium Obat-obatan
Antipsikotik Trisiklik

Depresi
Disforia, depresi atipikal
MAOI
Obat serotonergik
Antipsikotik
Penjarakan emosi / mati rasa
Antagonis serotonin- Obat-obatan
dopamin Trisiklik
Antipsikotik atipikal
III. Kecemasan (Ansietas)
Kognitif kronis Obat serotonegik Stimulan
MAOI
Benzodiazepine
Somatik kronis
MAOI
Antagonis reseptor
Kecemasan berat
Antipsikotik dosis
rendah
MAOI
IV. Gejala Psikotik
Psikosis akut Antipsikotik Stimulan

Kronis dan gejala ringan serupa psikotik


Antipsikotik dosis
rendah
Obat pilihan dan kontraindikasi mayor
EEG, electroencephalogram; MAOI, monoamine oxidase inhibitor

Dalam bukunya, Listening to Prozac, Peter Kramer menjelaskan perubahan


kepribadian dramatis ketika kadar serotonin ditingkatkan oleh pemberian fluoxetine,
seperti penurunan sensitifitas terhadap penolakan, peningkatan ketegasan, perbaikan
kepercayaan diri, dan kemampuan untuk menoleransi stres. Perubahan perubahan
dalam hal kepribadian ini terjadi pada pasien dengan kondisi psikiatrik luas dan juga
pada orang dengan gangguan mental yang tidak dapat terdiagnosa.Menggunakan

75
pengobatan untuk mengobati satu sifat spesifik pada orang yang sebenarnya normal
(contoh, tidak memenuhi kriteria untuk gangguan kepribadian secara full-blown)
masih kontroversial.Hal in disebut psikofarmakologi kosmetik oleh beberapa
kritikus.

Temperamen
Temperamen merujuk pada bias tubuh terhadap modulasi dari respon pengkondisian
lingkungan terhadap stimulus fisik yang mendahului. Pengkondisian lingkungan
(contoh, peringatan prosedural) melibatkan sensasi pra-semantik yang memunculkan
emosi dasar, seperti rasa takut atau marah, pengenalankesadaran secara independen,
observasi deskriptif, refleksi, atau penalaran. Hal yang dipelopori oleh A. Thomas dan
S. Chess mengkonseptualisasikan temperamen sebagai komponen gaya
("bagaimana") dari perilaku, sebagaimana dibedakan dari motivasi ("mengapa") dan
isi ("apa") dari perilaku. Konsep modern temperamen, bagaimanapun, menekankan
aspek emosional, motivasi, dan adaptifnya. Secara khusus, empat sifat temperamen
utama telah diidentifikasi dan menyasar pada neurobiologis luas, psikososial, dan
investigasi klinis: penghindaran bahaya, pencarian hal baru, ketergantungan atas
penghargaan, dan ketekunan. Sungguh luar biasa bahwa model empat faktor
temperamen ini dapat, secara retrospeksi, dilihat sebagai interpretasi modern dari
empat jenis temperamen kuno: Individu dibedakan dalam sejauh mana mereka
melankolis (menghindari bahaya), mudah tersinggung (mencari hal-hal baru), optimis
(ketergantunganakan penghargaan), dan plegmatis (ketekunan). Namun, empat
temperamen sekarang dipahami sebagai dimensi genetik independen yang terjadi
pada semua kemungkinan kombinasi dalam individu yang sama daripada sebagai
sebuah kategori yang eksklusif.

Sifat Karakter Biologis

76
Empat sifat karakter telah dijelaskan masing-masing dengan substrat fisik neurokimia
dan neurofisiologi tertentu.Mereka berbagi sumber umum dari variasi yang kuat
terlepas dari perubahan lingkungan dan pengalaman masa lalu.Tabel 22-13
merangkum kumpulan perbedaan perilaku yang membedakan nilai ekstrim pada
empat dimensi temperamen.Perhatikan bahwa setiap ekstrim dimensi ini memiliki
kelebihan dan kekurangan adaptif spesifik, sehingga nilai yang tinggi atau
rendahtidak secara berarti memiliki adaptasi yang lebih baik.Masing-masing dari
empat dimensi temperamen memiliki penentu genetik yang unik menurut studi
keluarga dan kembar, serta studi asosiasi genetik dengan penanda DNA tertentu.
Beberapa peneliti mendalilkan gen spesifik untuk beberapa sifat, seperti gen pencari
hal baru.

Tabel 22-13
Deskriptor dari Individual dengan Skor Tinggi atau Rendah pada
Empat Dimensi Temperamen
Deskriptor Varian Ekstrim
Dimensi Temperamen Tinggi Rendah
Penghindaran bahaya Pesimistik Optimistik
Penakut Menantang
Pemalu Terbuka
Mudah lelah Enerjik
Pencarian hal baru Petualang Berdiam diri
Impulsif Tenang
Boros Hemat
Mudah tersinggung Sabar
Ketergantungan akan penghargaan Sentimental Tidak merasa
Terbuka Tertutup
Hangat Dingin
Pengasih Mandiri
Ketekunan Produktif Pemalas
Tekun / Yakin Manja

77
Antusias Rendah diri
Perfeksionis Pragmatis

PENGHINDARAN BAHAYA.
Menghindari bahaya melibatkan bias yang diwariskan dalam penghambatan perilaku
dalam menanggapi sinyal dari hukuman dan ketidakadaan penghargaan.
Penghindaran bahaya yang tinggi diamati sebagai ketakutan akan ketidakpastian,
penghambatan sosial, rasa malu dengan orang asing, cepat lelah, dan pesimis dalam
mengantisipasi masalah bahkan dalam situasi yang tidak mengkhawatirkan bagi
orang lain. Orang dengan penghindaran bahaya yang rendah cenderung riang, berani,
energik, terbuka, dan optimis bahkan dalam situasi yang paling membuat orang
lainkhawatir.
Psikobiologi dari penghindaran bahaya sangatlah kompleks.Benzodiazepine
menghambat penghindaran melalui inhibisi asam -aminobutyric (GABA)-ergic dari
neuron serotonergik yang berasal dari inti raphe dorsal.
Positron Emission Tomography (PET) di Institusi Kesehatan Mental Nasional
(NIMH) dengan [18F]-deoxyglucose (FDG) pada 31 relawan dewasa yang sehat di
tugas sederhana yang berkesinambungan menunjukkan bahwa menghindari bahaya
dikaitkan dengan peningkatan aktivitas di sirkuit paralimbic anterior, khususnya
amigdala kanan dan insula, korteks orbitofrontal kanan, dan cortex prefrontal medial
kiri.
Konsentrasi GABA tinggi dalam plasma juga berkorelasi dengan kecenderungan
menghindari bahaya yang rendah. Konsentrasi plasma GABA juga telah berkorelasi
dengan ukuran lain dari kerentanan akan kecemasan, dan hal itu berkorelasi sangat
dengan konsentrasi GABA di otak. Akhirnya, gen pada kromosom 17q12 yang
mengatur ekspresi serotonin transporter untuk 4-9 persen dari total varians dalam
penghindaran bahaya. Temuan ini mendukung bahwa peran proyeksi GABA dan
serotonergik dari dorsal raphe mendasari perbedaan individu dalam penghambatan

78
perilaku yang diukur dengan penghindaran bahaya.Orang yang diberikan obat
serotonin menunjukkan penurunan perilaku menghindari bahaya.

PENCARIAN HAL BARU


Mencari hal yang baru mencerminkan bias yang diwariskan dalam inisiasi atau
aktivasi dari pendekatan yang bernafsu dalam menanggapi hal-hal baru, pendekatan
dari sinyal sebuah penghargaan, penghindaran aktif dari sinyal hukuman yang
dikondisikan, dan melarikan diri dari hukuman dikondisikan (yang semuanya diduga
berhubungan sebagai bagian dari salah satu sistem pembelajaran yang diwariskan).
Mencari hal-hal baru diamati sebagai kegiatan eksplorasi dalam menanggapi hal-hal
baru, impulsif, pemborosan dalam pendekatan terhadap penghargaan, dan
penghindaran aktif dari frustrasi.Individu dengan sifat mencari hal baru yang tinggi
cenderung cepat marah, penasaran, mudah bosan, impulsif, boros, dan tidak teratur.
Orang yang rendah dalam pencarian hal baru lebih sulit marah, tidak banyak
bertanya-tanya, sabar, reflektif, hemat, tertutup, toleran terhadap hal monoton, dan
tertib.
Proyeksi dopaminergik memiliki peran penting dalam pencarian hal-hal baru.Mencari
hal-hal baru melibatkan peningkatan reuptake dopamin di terminal prasinaps,
sehingga membutuhkan stimulasi yang sering untuk mempertahankan tingkat optimal
dari stimulasi dopaminergik postsynaptic.Mencari hal-hal baru mengarah ke berbaga
perilaku mencari-kesenangan, termasuk merokok, yang mungkin menjelaskan
rendahnya aktivitas platelet MAO tipe B (MAOB) karena merokok menghambat
aktivitas MAOB di trombosit dan otak.
Studi dari gen yang terlibat dalam neurotransmisi dopamine, seperti gen transporter
dopamin (DAT1) dan gen reseptor dopamin tipe 4 (DRD4), telah memberikan bukti
hubungan dengan sifat mencari hal-hal baru atau perilaku pengambilan risiko.

KETERGANTUNGAN AKAN PENGHARGAAN

79
Ketergantungan dengan penghargaan mencerminkan pemeliharaan perilaku dalam
menanggapi keinginan untuk mendapatkan penghargaan sosial. Individu dengen
ketergantungan akan penghargaan yang tinggi cenderung rendah hati, sensitif,
bergantung pada sosial, dan mudah bersosialisasi. Individu yang rendah dalam
ketergantungan cenderung praktis, berpikiran tangguh, dingin, tidak peka sosial, tidak
tegas, dan acuh tak acuh jika sendirian.
Proyeksi noradrenergik dari lokus seruleus dan proyeksi serotonergik dari raphe
median diduga mempengaruhi kondisi terhadap reward tersebut. Ketergantungan
akan penghargaan yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan aktivitas di talamus.
Konsentrasi 3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol (MHPG) ditemukan rendah pada
orang dengan ketergantungan akan penghargaan yang tinggi.

KETEKUNAN
KETEKUNAN mencerminkan pemeliharaan perilaku meskipun berada dalam kondisi
frustrasi, kelelahan, dan penguatan intermiten.Orang dengan ketekunan tinggi
cenderung pekerja keras, gigih, dan ambisius dalam berprestasi dan cenderung untuk
mengintensifkan upaya mereka dalam menanggapi penghargaan dan melihat frustrasi
dan kelelahan sebagai tantangan pribadi.Individu yang rendah dalam ketekunan
cenderung malas, tidak aktif, tidak stabil, dan tidak menentu; mereka cenderung
mudah menyerah ketika menghadapi frustrasi, jarang berjuang untuk prestasi yang
lebih tinggi, dan memanifestasikan sedikit ketekunan bahkan dalam menanggapi
sebuah penghargaan.
Penelitian terbaru pada tikus terkait dengan integritas dari efek penguatan parsial
pada koneksi hippocampusdan metabolisme glutamat.Ketekunan dapat ditingkatkan
dengan psychostimulants.

PSIKOBIOLOGI DARI TEMPERAMEN


Temperamen dari menghindari bahaya, mencari hal-hal baru, ketergantunganakan
penghargaan, dan ketekunan didefinisikan sebagai perbedaan yang diwariskan dan

80
mendasari respons otomatis terhadap bahaya, hal baru, persetujuan sosial, dan
penghargaan yang berselang. Komponen sifat ("facet") untuk masing-masing dari
empat dimensi temperamen memiliki karakteristik pembelajaran yang berbeda dan
berkorelasi lebih kuat dengan satu sama lain daripada dengan komponen lain dari
temperamen. Model neurobiologis yang paling komprehensif dari studi pada hewan
yang telah secara sistematis terkait dengan struktur temperamen manusia diringkas
dalam Tabel 22-14. Model ini dibedakan dalam empat sistem otak untuk
penghambatan perilaku (menghindari bahaya), aktivasi perilaku (mencari hal-hal
baru), pendekatan sosial (ketergantungan reward), dan penguatan parsial (ketekunan).

Tabel 22-14
Empat Fungsi Otak yang Tidak Sesuai yang Mempengaruhi Pola
Respon-Stimulus yang Mendasari Temperamen
Sistem Otak Neuromodulator Stimulus yang Sesuai Respons Tingkah
(Berhubungan Utama Laku
dengan Dimensi
Kepribadian)
Penghambatan tingkah GABA Kondisi permusuhan Pembentukan
laku (penghindaran Serotonin (raphe dorsal) (memasangkan CS permusuhan (CS)
bahaya) dan UCS) Penghindaran pasif
Pengkondisian Kepunahan
terhadap hukuman
dan ketidakadaan
penghargaan yang
membuat frustrasi

Aktivasi Tingkah Laku Dopamin Hal baru Pengejaran / pencarian


(Pencarian hal baru) CS dari penghargaan Pendekatan bernafsu
CS atau UCS dari hal Penghindaran aktif
monoton atau Pelarian

81
hukuman
Kedekatan sosial Norepinephrine Kondisi penghargaan Pembentukan CS
(ketergantungan atas Serotonin (raphe (pasangan CS dan hingga mencapai
penghargaan) median) UCS) kepuasan
Penguatan parsial Glutamat Penguatan intermitten Perlawanan terhadap
(ketekunan) Serotonin (raphe dorsal) (sebagian) kepunahan
CS, stimulus yang terkondisikan. UCS, stimulus yang tidak terkondisikan

Perbedaan individu dalam temperamen dan emosi dasar memodifikasi


pengolahan informasi sensorik dan bentuk karakteristik pada pembelajaran awal,
terutama pengkondisian asosiatif dari respon perilaku nirsadar. Temperamen
dikonseptualisasikan dalam hal bias yang diwariskan dalam emosionalitas dan
pembelajaran yang mendasari akuisisi dari ciri-ciri perilaku otomatis berbasis emosi
dan kebiasaan yang diamati pada awal kehidupan dan relatif stabil selama umur
seseorang.
Masing-masing dari empat dimensi utama adalah sifat yang terdistribusi normal
secara kuantitatif, diwariskan, dapat diamati pada awal masa kanak-kanak, relatif
stabil dalam perjalanan waktu, dan cukup dapat memprediksi perilaku pada masa
remaja dan dewasa. Empat dimensi in telah terbukti secara genetik homogen dan
independen diwariskan dari satu sama lain dalam studi berpasangan yang besar dan
independen di Amerika Serikat, Australia, dan Jepang. Perbedaan temperamental,
yang cenderung sangat tidak stabil pada awalnya, cenderung stabil selama tahun
kedua dan ketiga kehidupan, demikian pula, sifat-sifat empat temperamen pada usia
10 sampai 11 tahun cukup dapat memprediksi kepribadian pada usia 15, 18, dan 27
tahun dalam sampel besar pada anak-anak Swedia.
Empat dimensi ini telah berulang kali terbukti bersifat universal pada lintas
budaya yang berbeda, kelompok etnis, dan sistem politik di setiap benua yang telah
dihuni.Singkatnya, aspek kepribadian disebut temperamen karena mereka diwariskan,
memanifestasikan awal kehidupan, berkembang stabil, dan konsisten dalam budaya
yang berbeda. Sifat temperamen mirip dengan kecerdasan yang mengkristal, dalam

82
hal bahwa mereka tidak menunjukkan perubahan yang cepat dengan bertambahnya
usia atau di berbagai kelompok kelahiran yang diamati dalam hal kecerdasan dan
perubahan karakter sifat.

Kepustakaan

Akhtar S, Thompson J A: Overview: Narcissistic personality disorder.


AmJPsychiatry139:12, 1982.

Akiskal H S: Dysthymic disorder: Psychopalhology of proposed chronicdepressive


subtypes. AmJ Psychiatry140: 11, 1983.

Baron M, GruenR,Asnis L, Lord S: Familial transmissions of schizotypaland


borderline personality disorders. Am J Psychiatry142: 927, 1985.

Bouchard T J Jr. Lykken D T.McGue M. Segal N L,Tellegen A: Sources of human


psychological differences: The Minnesota study of twins reared apart. Science
250: 223. 1990.

Fabrega H. Ulrich R,Pilkonis P. MezzichJ:Personality disorders diagnosed at intake at


a public psychiatric facility. Hosp Community Psychiatry44:159. 1993.

Gabbard G O:Psychodynomic Psychiatry in Clinical Practice: The DSM-IV Edition.


American Psychiatric Press, Washington, 1994.

Gunderson J G: Borderline Personality Disorder. American


PsychiatricPress.Washington, 1984.

Gunderson J G, Sabo A N: The phenomenological and conceptual interface between


borderline personality disorder and PTSD. Am J Psychiatry 150:19. 1993.

Kass F, MacKinnon R A, Spitzer R L: Masochistic personality: An empirical study.


Am J Psychiatry143:216, 1986.

Kendler K S.Maslerson C C.Ungaro R. Davis K L: A family history study of


schizophrenia-related personality disorders. Am J Psychiatry143:424.

Kemberg O F:Borderline Conditions and Pathological Narcissism. Aronson.New


York, 1975.

Klein D N and Miller G A: Depressive personality. AmJ Psychiatry150:11, 1993.

83
Kohul H. Wolff E S : The disorders of the self and their treatment: Anoutline Int J
Psychoanal 59: 413, 1978.

Kramer P D: Listening to Prozac. Viking.New York, 1993.

Lazare A, Klerman G, Armor D: Oral, obsessive and hysterical personality patterns:


An investigation of psychoanalytic concepts by means of factor analysis. Arch
Gen Psychiatry 14: 624, 1966.

Lion J R, editor Personality Disorders: Diagnosis and Management, ed. 2. Williams


& Wilkins, Baltimore. 1981.

Markovirz P J. Schulz S C: Drug treatment of personality disorders. Br J Psychiatry


162: 122, 1993.

McGlashan T H: Schizotypal personality disorder: Chestnut Lodge follow-up study:


VI. Long-term follow-up perspectives.Arch Gen Psychiatry 43: 329, 1986.

Millon T: Disorders of Personality: DSM-III Axis II. Wiley, New York, 1981.

Perkins D O. Davidson E J, Leserman J, Liso D: Personality disorder In patients


infected with HIV: A controlled study with implications for clinical care. Am J
Psychiatry 150: 309, 1993.

Perry J C: Depression in borderline personality disorder: Lifetime prevalence at


interview and longitudinal course of symptoms, Am JPsychiatry 142: 15.
1985.

Perry J C, Cooper S H: A preliminary report on defense and conflicts associated with


borderline personality disorder. J Am PsychoanalAssoc34: 865, 1986.

Perry J C, Cooper S H: Psychodynamics, symptoms and outcome in borderline and


antisocial personality disorders and bipolar type II affective disorder. In The
Borderline: Current Empirical Research, T H McGlashan, editor, p 714.
American Psychiatric Press. Washington. 1985.

Perry J C, Vaillant G E: Personality disorders. In Comprehensive Textbook of


Psychiatry, ed. 5.H I Kaplan, B JSadock.editors, p 1352.Williams & Wilkins.
Baltimore. 1989.

Robins L N: Deviant Children Grown Up: A Sociological and Psychiatric Study of


Sociopathic Personality. Williams 4 Wilkins. Baltimore. 1966

84
Rost K M, Akins R N, Brown F W, Smith G R: The comorbidity of DSM-III-R
personality disorders in somatization disorder. Gen Hosp Psychiatry 14: 322.
1992.

RutterM: Maternal Deprivation Reassessed, ed2. Penguin Books. London. 19B1.

Silverman J M, Slever L J, Horvath T B, Coocaro E F. Schizophrenia-related and


affective personality disorder traits in relatives of probands with schizophrenia
and personality disorders, Am J Psychiatry 150 :435, 1993.

Soloff P H, George A, Nathan S, Schulx P M, Ulrich R F. PerelJM: Progress in


pharmacotherapy of borderline disorders: A double-blind study of
amitriptyline, haloperidol and placebo. Arch Gen Psychiatry 43: 691. 1986.

Stemlicht H C: Obsessive-compulsive disorder, fluoxetine, and buspirone.Am


JPsychiatry 15ft 526, 1993.

Thomas A, Chess S: Temperament and Development. Brunner/Mazel.NewYork, 1977.

TorgersenS: Genetic and nosologic aspects of schizotypal and borderline personality


disorders: A twin study. Arch Gen Psychiatry 41:546, 1984.

Vaillant G E:Adaptation to Life. Little, Brown, Boston, 1977.

VaillantGE:Sociopathy as a human process. Arch Gen Psychiatry 32: 179. 1975.

Woody G E, McLellan A T, Luborsky L. O'Brien C P:Sociopathy and psychotherapy


outcome. Arch Gen Psychiatry 42: 1081, 1985.

85

Anda mungkin juga menyukai