Anda di halaman 1dari 165
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia

dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

PENDAMPING LOKAL DESA

NOVEMBER

2015

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

PENDAMPING LOKAL DESA

PENGARAH :

Ahmad Erani Yustika (Direktur Jenderal, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa)

PENANGGUNG JAWAB:

Eko Sri Haryanto (Direktur Pemberdayaan Masyarakat Desa)

PEMBACA :

Bito Wikantosa (Kepala Subdirektorat Pengembangan Kapasitas Masyarakat Desa).

COVER & LAYOUT

: Heru Yepe

ILUSTRATOR

: Ibe Karyanto

Cetakan Pertama, Oktober 2015

Diterbitkan oleh:

KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

Jl. TMP Kalibata No 17 Jakarta Selatan 12740

Telp. (021) 7989924 Fax. (021) 7974488

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrahiim

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Alloh SWT karena dengan rahmatNya hampir secara bersamaan telah hadir di hadapan pembaca tiga jenis Modul Pelatihan. Masing-masing adalah Modul Pelatihan untuk Pendamping Lokal Desa, Modul Pelatihan untuk Pendamping Desa, dan Modul Perlatihan untuk Tenaga Ahli. Sesuai dengan bobot materinya masing-masing, ketiga modul tersebut dibuat untuk kepentingan fasilitasi implementasi Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Sebagaimana diatur dalam PP No.43 Tahun 2014 dan yang telah diperbarui dengan PP No.47 Tahun 2015, baik Pendamping Lokal Desa, Pendamping Desa maupun Tenaga Ahli ketiganya merupakan tenaga pendamping profesional yang bertugas membantu pemerintah, khususnya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dalam menjalankan kewajibannya melakukan pemberdayaan masyarakat Desa.

Kehadiran serangkaian Modul berikut diharapkan mampu mendorong peningkatakan kualitas setiap pelatihan. Dengan demikian setiap pelatihan benar-benar semakin menguatkan komitmen dan meningkatkan kapasitas setiap pendamping profesional dalam memfasilitasi kerja-kerja implementasi UU Desa sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sosial masyarakat Desa. Di samping itu Modul berikut juga dapat dimanfaatkan sebagai acuan bagi setiap pihak, baik perangkjat pemerintahan di tingkat Daerah Kabupaten, Kecamatan, pemerintah Desa, masyarkat maupun pemangku kepentingan lain dalam upaya memfasilitasi implementasi Undang-Undang Desa.

Akhir kata semoga Alloh SWT memberkati kita sekalian yang telah dengan tulus mengabdikan setiap kerja untuk pembangunan Desa khususnya serta untuk kemajuan bangsa dan negara.

DIREKTUR JENDERAL

PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

 

ii

Daftar Isi

iii

BAB I

MATRIKS KURIKULUM

 

2

BAB II

PANDUAN MEMBACA MODUL

 

13

BAB III

RENCANA PEMBELAJARAN

 

22

PB. 1 VISI UNDANG-UNDANG DESA

 

SPB.1.1. Visi Perubahan Sosial Desa

 

24

SPB.1.2. Ruang Strategis Implementasi UU Desa

 

33

BAHAN BACAAN

 

36

PB. 2 PRODUK HUKUM DESA

 

SPB.2.1. Kewenangan Desa

 

38

SPB.2.2. Produk Hukum Desa

 

41

SPB.2.3. Mekanisme Pengambilan Keputusan

 

46

SPB.2.4. Hubungan Peraturan Desa Terkait Produk Hukum Lain

50

BAHAN BACAAN

 

54

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PB. 3 SISTEM PEMBANGUNAN DESA

SPB.3.1. Musyawarah Desa Dan Potensi Ruang Terbuka

 

73

SPB.3.2. Perencanaan Pembangunan Desa

 

77

SPB.3.3. Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa

 

80

SPB.3.4. Penganggaran Pembangunan Desa

 

84

BAHAN BACAAN

87

PB. 4 PENGEMBANGAN WILAYAH DESA

 

SPB.4.1. Desa Mandiri

 

114

SPB.4.2. Pengembangan Wilayah Desa

 

117

BAHAN BACAAN

 

120

PB. 5 PENDAMPINGAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

 

SPB.5.1. Pemberdayaan Dalam Perspektif Pendidikan Kesadaran Masyarakat

137

SPB.5.2. Peran Strategis Pendampingan Desa

140

BAHAN BACAAN

 

144

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAB I

KURIKULUM PELATIHAN PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MATRIK KURIKULUM PELATIHAN PENDAMPING LOKAL DESA

A. LATAR BELAKANG

Pengesahan Undang undang Desa No.6 Tahun 2014 (UU Desa) menandai dibukanya gerbang harapan menuju kehidupan berdesa yang lebih maju.UU Desa di samping memberikan dasar hukum bagi keberadaan desa, juga menghadirkan cara pandang baru dalam melihat pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Desa diakui desa sebagai subyek yang mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri.Masyarakatnya memiliki ruang dan kesempatan luas untuk ikut ambil bagian dalam perencanaan pembangunan desa. Bahkan pemerintah, utamanya Pemerintah Kabupaten/ Kota diwajibkan mendampingi desa dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian.

Ruang lingkup implementasi visi baru UU Desa sangat luas. Salah satunya adalah menyangkut kesiapan pemerintah baik dalam menyiapkan tata kelola dan penyesuaian kerja birokrasi, maupun dalam melakukan pendampingan masyarakat desa. Pendampingan sebagaimana tercantum dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi 2015 bertujuan;

Meningkatkan kapasitas, efektivitas dan akuntabilitas pemerintahan desa dan pembangunan Desa;

Meningkatkan prakarsa, kesadaran dan partisipasi masyarakat Desa dalam pembangunan desa yang partisipatif;

Meningkatkan sinergi program pembangunan Desa antarsektor; dan

Mengoptimalkan aset lokal Desa secara emansipatoris.

Mengingat luasnya ruang lingkup implementasi UU Desa, maka Pemerintah dalam melaksanakan fungsi pendampingan dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada tenaga ahli profesional dan pihak ketiga (UU Desa Psl 112, ayat 4 dan PP 43, Psl 128 ad 2). Tenaga ahli profesional yang dimaksud adalah pendamping desa, tenaga teknik, dan tenaga ahli pemberdayaan masyarakat desa (Permendes No.3/2015 Psl. 5), termasuk diantarnya adalah pendamping lokal desa (Pasal 129, ayat 1 (a) PP No.47 Tahun 2015). Karena itu di samping peningkatan kapasitas satuan kerja pemerintah daerah, perlu juga peningkatan kapasitas pendamping desa, utamanya pendamping lokal desa, untuk membantu terselenggaranya kerja-kerja optimal demi terwujudnya visi UU Desa.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Sehubungan dengan tujuan pendampingan, maka kapasitas pendampingan desa yang diperlukan mencakup: (1) pengetahuan tentang kebijakan UU Desa, (2) keterampilan memfasilitasi pemerintah desa dalam mendorong tatakelola pemerintah desa yang baik; (3) keterampilan tugas-tugas teknis pemberdayaan masyarakat, dan (4) sikap kerja yang sesuai dengan standar kompetensi pendamping dan tuntutan UU Desa. Kapasitas itu perlu dimiliki oleh setiap tenaga profesional yang bertindak sebagai pendamping, termasuk Pendamping Lokal Desa dengan tugas utamanya mendampingi desa dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa, kerja sama desa, pengembangan BUM Desa, dan pembangunan berskala lokal desa.

Salah satu sarana untuk meningkatkan kapasitas Pendamping Lokal Desa dalam melakukan pendampingan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa adalah pelatihan atau proses pembelajaran. Sekalipun cakupan pokok materi pelatihan atau pembelajaran bagi setiap pendamping desa, baik dari satuan kerja pemerintah daerah maupun tenaga ahli dari pihak ketiga, adalah sama namun manajemen pelatihan (metode penyampaian, media, dan evaluasi pencapaian) berbeda. Terutama manajemen pelatihan atau proses pembelajaran untuk peningkatan kapasitas Pendamping Lokal Desa yang tuntutan kualifikasi dan latar belakangnya lebih bersifat umum.

Atas dasar kebutuhan tersebut, dalam rangka mendukung pelaksanaan UU Desa dan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang menginisiasi penyelenggaraan pelatihan Pendamping Lokal Desa untuk mendorong implementasi UU Desa.

Diharapkan dalam pelatihan ini dapat menghasilkan Pendamping Lokal Desa Pendampingan Desa yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memadai untuk membantu pemerintah daerah dan pemerintah desa dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa secara profesional, efektif dan efisien, akuntabel, terbuka dan bertanggungjawab.

B. RUANG LINGKUP

Kurikulum Pelatihan Pendamping Lokal Desa disusun dengan maksud memberikan kerangka acuan dalam penyelenggaraan pelatihan Pendamping Lokal Desa sebagai Pendampingan Desa agar siap mendampingi pemerintah desa dan masyarakat desa dalam mengawal implementasi UU Desa.

Selanjutnya, dalam rangka mempersiapkan dan melaksanakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pendamping Lokal Desa maka disusun paket pelatihan yang terdiri dari:

1)

Petunjuk Penyelenggaraan Pelatihan Pendamping Lokal Desa;

2)

Matrik Kurikulum Pelatihan Pendamping Lokal Desa;

3)

Panduan Pelatih dalam memfasilitasi proses pembelajaran bagi Pendamping Lokal Desa.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

C. TUJUAN PELATIHAN

Tujuan Pelatihan Pendamping Lokal Desa, yaitu:

1. Tujuan Instruksional Umum (TIU) Peserta memiliki kemampuan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memadai dalam menjalankan tugas pokok, peran dan fungsinya memfasilitasi memfasilitasi implementasi Undang-Undang No. 6 Tahun 2014.

2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

1. Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut:

2. Memahami perspektif dan semangat Implementasi Undang-Undang Desa;

3. Memahami peran dan fungsi Pendamping Lokal Desa dalam pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat;

4. Terampil dalam memfasilitasi pemerintahan desa dan masyarakat menyelenggarakan Musyawarah Desa;

5. Terampil dalam memfasilitasi Pemerintah Desa dan BPD dalam menyusun RPJMDesa dan RKPDesa;

6. Aktif terlibat bersama pemerintahan desa serta masyarakat desa untuk meningkatkan kapasitas dan perannya dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan desa;

7. Aktif dan terampil memfasilitasi pemerintah desa dan masyarakat desa dalam menentukan dan menyusun langkah strategis untuk perubahan desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

D. SKEMA DINAMIKA PELATIHAN

PB.3 PB.5 PB.4 PB.1 PB.2 Sistem Pemberdayaan Pengembangan Visi Undang undang Desa Produk Pembangunan
PB.3
PB.5
PB.4
PB.1
PB.2
Sistem
Pemberdayaan
Pengembangan
Visi
Undang undang Desa
Produk
Pembangunan
Masyarakat Desa
Wilayah Desa
Hukum Desa
Desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

E. MATRIK MATERI PELATIHAN
E.
MATRIK MATERI PELATIHAN

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

F. GARIS BESAR PROGRAM PELATIHAN

Garis besar program pelatihan Pendamping Lokal Desa terdiri dari tiga materi utama baik menyakup pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Masing-masing bagian terbagi ke dalam aspek yang lebih khusus. Alur pelatihan dimulai dengan membangun perspektif pemahaman tentang visi perubahan sosial desa yang diamanatkan UU Desa No.6 Tahun 2014. Untuk membantu peserta memahami relevansi gagasan ideal visi perubahan desa dengan kenyataan hidup berdesa, termasu pada bagian awal ini peserta didorong untuk belajar mengenali ruang-ruang strategis implementasi UU Desa.

Selanjutnya peserta diajak untuk mengenal dan memahami aspek normatif terkait dengan peraturan perundangan dan kebijakan yang menjadi dasar tata kelola atau pelaksanaan implementasi UU Desa. Bobot dari bagian kedua garis besar program pelatihan terletak pada kemampuan memahami aspek normatif. Meskipun demikian dalam pelatihan ini peserta diajak juga memahami aspek keterampilan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya mendampingi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan desa.

Kemampuan memahami perspektif ideologis UU Desa dan kemampuan mengenali regulasi, aturan main merupakan aspek fundamental yang dibutuhkan Pendamping Lokal Desa dalam mengoptimasi peran serta fungsinya. Selanjutnya dibutuhkan tingkat keterampilan, kreatifitas dan sikap yang memadai untuk menerjemahkan nilai-nilai idologis dan dormatif itu ke dalam tindakan Pendamping. Kebutuhan itu akan dipenuhi dari materi bagian terakhir yang menitikberatkan pada kemampuan Pendamping Lokal Desa memahami dan secara terampil menempatkan tugas pemberdayaan dalam perspektif pendidikan kesadaran masyarakat desa untuk mewujudkan visi perubahan.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA 8 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA 10 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAB II

PANDUAN MEMBACA MODUL

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PANDUAN MEMBACA MODUL
PANDUAN MEMBACA MODUL

Modul Pelatihan bagi Pendamping Lokal Desa (PLD) ini merupakan bahan pelatihan yang akan dijadikan sebagai bahan pembekalan sekaligus panduan bagi Pendamping Teknis Kabupaten dan Pendamping Desa dalam mendorong implementasi UU Desa melalui pelatihan yang akan mereka sampaikan kepada Pendamping Lokal Desa. Diharapkan nantinya, melalui Modul Pelatihan ini, PLD memiliki persepsi yang benar mengenai UU Desa serta terbangun komitmennya untuk terlibat dalam proses mendorong Desa dalam proses pembangunan.

Modul ini dilengkapi dengan sebuah buku saku berjudul “Tanya Jawab : Memahami UU No 6 Tahun 2104 Tentang Desa”. Adapun buku saku tersebut wajib dimiliki oleh peserta latih untuk mempermu- dah proses belajar yang dilaksanakan. Buku saku itu juga akan menjadi buku pegangan PLD dalam kerjanya melakukan pendampingan di desa.

Kebutuhan Akan Modul Pelatihan

Modul ini dimaksudkan untuk memandu pelatih dalam memfasilitasi proses pelatihan di tingkat ke- camatan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan kondisi di lapangan, bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami secara baik dan benar substansi UU Desa berikut proses implementasinya. Dari hasil analisis kebutuhan pelatihan menunjukkan bahwa kondisi pendamping desa menunjukkan tingkat pemahaman yang berbeda tentang implementasi Undang-Undang Desa sesuai dengan latar belakang, karakteristik wilayah, dan kondisi sosial yang ada.

Pengalaman menjalani proses pembangunan yang sentralistik semasa era Orde Baru (Government Driven Development) yang kemudian berubah menjadi pembangunan partisipatif yang mengede- pankan masyarakat sebagai pelaku (Community Driven Development) ternyata masih memiliki kelemahan di mana penguatan di masyarakat tidak diiringi penguatan kepada pemerintah desanya. Padahal, sesuai dengan amanat UU Desa, Desa merupakan subyek pembangunan, persis pada kondisi ini Desa sebagai keseluruhan mencakup pemerintahan desanya serta masyarakat desa, seluruhnya. Desa pada akhirnya merupakan perpaduan antara Local Self Government (LSG) serta Self Governing Community (SGC) sekaligus.

Desa sebagai masyarakat yang berpemerintahan (LSG) menentukan pemerintahannya sendiri (SGC), membutuhkan pendekatan yang holistik dan integral. Perpaduan konsep antara LSG dan SGC membutuhkan pemahaman yang jernih bagi setiap pelaku pemberdayaan, terutama sekali bagi siapa pun yang berkomitmen dengan desa. Untuk itulah Modul ini dibuat.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Maksud dan Tujuan

Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa merupakan pengguna akhir dari modul ini. Menga- cu kepada Surat Dirjen PPMD tentang kualifikasi tenaga Pendamping Lokal Desa yang pendidikan minimal adalah Lulus SMP, maka modul ini disusun dengan mempertimbangkan kondisi tersebut. Modul pelatihan ini dimaksudkan untuk :

1. Menyamakan persepsi dan konsep pendampingan desa berbasis pedekatan Desa sebagai Subyek (Village Driven Development- VDD) seperti diamanatkan dalam UU Desa;

2. Mempersiapkan calon Pendamping Desa untuk bisa memfasilitasi proses pelatihan tenaga Pendamping Lokal Desa yang memiliki komitmen dalam rangka mendorong Desa untuk secara optimal mampu mengimplementasikan proses pembangunan dengan semangat UU Desa;

Format Modul

Modul Pelatihan P3MD segaja didesain menjadi 2 (dua) model, pertama adalah:

1. Modul Pelatihan Pendamping Desa; dan

2. Modul Saku (Pocket Module) yang memuat istilah sekaligus muatan substansi dan muatan teknis seputar UU Desa.

Sasaran Pengguna

Modul ini secara khusus ditujukan bagi Pendamping Teknis Kabupaten dan Pendamping Desa yang akan melatih para Pendamping Lokal Desa.

Profil

Pendamping Desa (Pelatih)

Pendidikan S1, pengalaman relevan 2 tahun. Atau D3, pengalaman relevan 4 tahun.para Pendamping Lokal Desa. Profil Pendamping Desa (Pelatih) Pendamping Lokal Desa (Peserta) Pendidikan SLTP atau

relevan 2 tahun. Atau D3, pengalaman relevan 4 tahun. Pendamping Lokal Desa (Peserta) Pendidikan SLTP atau
relevan 2 tahun. Atau D3, pengalaman relevan 4 tahun. Pendamping Lokal Desa (Peserta) Pendidikan SLTP atau

Pendamping Lokal Desa (Peserta)

Pendidikan SLTP atau sederajat.

Memiliki pengalaman

berorganisasi, pernah

aktif kegiatan

pembangunan,

pemberdayaan

masyarakat desa.

Bertempet tinggal di (dekat) lokasi desa dampingan

desa. Bertempet tinggal di (dekat) lokasi desa dampingan Sanggup bertempat tinggal di lokasi penugasan (Kecamatan).

Sanggup bertempat tinggal di lokasi penugasan (Kecamatan).

Sanggup bertempat tinggal di lokasi penugasan (Kecamatan). 14 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Dengan sasaran pengguna tersebut, maka format modul pengguna.

yang disiapkan menjawab kebutuhan

Modul Pelatihan : menjadi modul pegangan pelatih.

Pocket Module

modul saku ini lebih menyerupai ‘Buku Pintar’

: Modul Saku secara spesifik ditujukan bagi Pendamping Lokal Desa, maka format

Namun demikian, keseluruhan modul ini bisa dipakai oleh siapa saja yang memiliki kepedulian dan semangat untuk mendukung Desa melalui implementasi UU Desa.

Bagaimana Modul Pelatihan ini Disusun?

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa Pem- bangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mendorong disusunnya Modul Pelatihan bagi Pen- damping Lokal Desa melalui :

a) Kajian Kebutuan : melalui form isian untuk menggali kebutuhan akan pentingnya mod- ul pelatihan berikut materi yang dibutuhkan. Form tersebut didistribusikan kepada para Koorprov KNPP Transisi untuk diisi sesuai dengan kebutuhan yang ada di lokasi tugasn- ya;

b) Penyusunan Draft Modul I : Draft Modul Pelatihan Pendamping Desa dan Pendamping Lokasl Desa I disusun oleh Tim yang terdiri dari Tim Training KNPP Transisi dilengkapi dengan Bahan Bacaan yang disusun oleh para Tenaga Ahli di KNPP.

c) Workshop Penyelesaian Penulisan Modul, Kurikulum dan Bahan Bacaan Pelatihan Pem- bangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Tahun Anggaran 2015 : Workshop ini sebagai bagian penting untuk membedah Draft Modul I untuk hingga menjadi Modul siap pakai di lapangan;

d) Ujicoba Modul : Modul yang telah selesai secara substansi, diujicobakan ke 5 (lima) ka- bupaten di 5 (lima) provinsi terpisah, yakni Kabupaten Banyumas (Jawa Tengah), Kabu- paten Kampar (Riau), Kabupaten Gianyar (Bali), Kabupaten Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara) dan Kabupaten Malang (Jawa Timur). Dari ujicoba yang dilakukan tersebut sebagai bahan untuk penyempurnaan modul yang disusun.

Modul ini telah mengalami berbagai penyesuaian melalui proses penelaahan, konsultasi, lokakarya, dan masukan dari berbagai pihak terutama dari pelatih senior dan pendamping desa. Hasil pelati- han ujicoba di 5 (lima) kabupaten memberikan gambaran tentang kekuatan dan kelemahan modul ini. Oleh karena itu modul pelatihan ini dapat diibaratkan sebagai buku berjalan yang memberikan peluang bagi pembaca atau pengguna dalam memberikan warna dan penyesuaian sesuai dengan kaidah pembelajaran dan kebutuhan.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Sistematika dan Isi Modul

Modul pelatihan ini dirancang menggunakan standar format yang menyertakan pokok-pokok materi, panduan pelatih, lembar kerja dan lembar tayang (presentasi atau beberan atau bahan paparan) yang bermanfaat bagi calon pelatih yang akan menyampaikan materi pelatihan. Modul pelatihan dikemas dalam bentuk panduan bagi pelatih agar mudah digunakan dan memungkinkan dan penye- suaian dengan kondisi lingkungan belajar peserta.

Modul pelatihan ini terdiri dari 5 Pokok Bahasan utama dan 12 Subpokok Bahasan yang membahas kerangka isi, proses belajar, media dan penilaian terkait bagaimana visi UU Desa serta upaya-upaya implementasinya. Secara rinci struktur materi modul pelatihan ini digambarkan dalam table sebagai berikut:

POKOK BAHASAN

SUB POKOK BAHASAN

UU Desa : Visi menuju perubahan desa

- Amanat UU Desa: Perubahan Mendasar Desa

- Ruang Strategis Implementasi UU Desa

Produk Hukum Desa

- Kewenangan Desa

- Jenis-jenis Produk Hukum Desa

- Mekanisme Pengambilan Keputusan

- Hubungan Peraturan Desa Terkait Produk Hukum Lain

Sistem Pembangunan Desa

- Musyawarah Desa dan Potensi Ruang Terbuka

- Perencanaan Pembangunan Desa

- Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa

- Penganggaran Pembangunan Desa

Pengembangan Wilayah Desa

- Desa Mandiri

- Pengembangan Wilayah Desa

Pemberdayaan Masyarakat Desa

- Perspektif Pendidikan Penyadaran Terkait Peran Pent- ing Masyarakat Dalam Membangun Desa

- Strategi Pendampingan Desa

Skema Pelatihan

Skema dan alur Pelatihan Pendamping Lokal Desa yang akan bertugas memfasilitasi proses pem- bangunan di desa di wilayah kerja masing-masing. Para Pendamping Lokal Desa akan diberikan pe- mahaman mengenai konsep serta regulasi terkait dengan UU Desa, serta pengetahuan mengenai sistem pembangunan di Desa serta upaya pengembangannya, Modul pelatihan ini digunakan untuk memandu pelatih untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan Pendamping Lokal Desa. Secara umum skema atau alur pelatihan digambarkan sebagai berikut:

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Catatan

1. Modul Pelatihan Bukan Buku Ajar

Modul ini disusun sebagai koridor pembelajaran semata-mata, dan Modul ini didukung oleh Bahan Bacaan serta Bahan Tayang juga kelengkapan lain yang bisa digali oleh setiap pelatih sesuai den- gan kondisi setempat. Dan olah karenanya, Modul ini murni sebagai pemandu.

Pengalaman dan kapabilitas Pelatih (Pendamping Desa dan juga Pendamping Teknis Kabupaten) akan sangat menentukan hasil dari desain modul yang dikembangkan. Untuk itu, Modul ini tidak dibaca sebagai buku tersendiri, melainkan harus dilengkapi dengan Bahan Bacaan yang disediakan serta bacaan dan pengalaman lain yang mendukung.

2. Kaidah Belajar Orang Dewasa

Modul pelatihan ini disusun berdasarkan kaidah-kaidah pendidikan orang dewasa, pelatih hendak- nya tidak menggurui, melainkan sebagai fasilitator menjadi pengarah atau pengolah proses belajar dan mengakumulasikan secara partisipatif-kreatif dari pengalaman yang telah dimiliki peserta. Se- bagai suatu pengalaman, modul ini diperlakukan layaknya sebagai panduan bukan ―kitab suci― yang tidak boleh dirubah.

Sebagian bahasan dalam modul pelatihan merupakan refleksi pengalaman para pemangku kepent- ingan yang terlibat dalam pendampingan desa. Penjelasan lebih diarahkan sebagai petunjuk praktis dan teknis bagi pelatih yang akan menggunakannya untuk keperluan pelatihan. Manfaat yang di- harapkan dari modul ini, jika dipakai sebagai alat untuk menggali pengalaman dan merefleksikannya dalam kehidupan nyata dalam berdesa.

3. Kreativitas dan Kondisi Lokal

Kreativitas pelatih/ fasilitator sangat menentukan dalam proses pengayaan serta kualitas pelatihan yang dilaksanakan. Modul pelatihan ini lebih efektif, jika digunakan sepanjang tidak menyalahi atur- an atau prinsip-prinsip dasar pendidikan partisipatoris. Oleh karenanya, pelatih dapat :

a) Mengembangkan metodologi serta penggunaan media yang lebih bervariasi. Namun demikian, tujuan dari Modul ini harus tetap menjadi acuan dasar pelatihan.

b) Menggunakan media sekreatif mungkin;

c) Sebanyak mungkin mengangkat persoalan-persoalan atau issue-isuue yang terjadi di lokasi pelatihan;

d) Menggunakan pengalaman peserta sebagai picu pengayaan dan pendalaman materi pelatihan.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Oleh karena itu, mendalami dan memahami alur modul dari setiap pokok bahasan menjadi syarat mutlak untuk lebih leluasa dalam pelatihan. Jangan membatasi diri, kembangkan dan perkaya pros- es secara kreatif serta memadukan dengan pengalaman peserta.

4. Cara Menggunakan Modul

Modul pelatihan ini memberikan beberapa petunjuk berupa pilihan belajar yang dapat digunakan oleh pelatih dalam memahami dan menyampaikan materi pelatihan. Setiap pokok bahasan atau subpokok bahasan berisi tema-tema atau aktivitas belajar yang disusun dengan menggunakan pendekatan induktif atau deduktif secara bergantian atau bersamaan. Hal ini sangat tergantung karakteristik materi yang hendak disampaikan. Namun, demikian keselarasan, keterpaduan dan kemudahan penyajian menjadi pertimbangan dalam menggunakan modul pelatihan ini. Oleh karena itu, pahami kurikulum dan struktur anataomi modul pelatihan dengan benar, kemudian hubungkan dengan struktur materi atau pokok bahasan yang disajikan, sehingga memudahkan mendalami sub- stansi maupun metodologinya. Jika terdapat hal-hal yang membutuhkan penyesuaian atau pen- gayaan, pelatih dengan mudah dapat mengguna-kan variasi lain tanpa keluar dari kerangka pokok dari modul pelatihan ini.

Dalam setiap bagian atau pokok bahasan terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau modul den- gan topik yang beragam dan dapat dipelajari secara mandiri sesuai dengan materi yang diperlukan. Masing-masing subpokok bahasan dalam modul ini menggambarkan urutan kegiatan pembelajaran dan hal-hal pokok yang perlu dipahami tentang materi yang dipelajari serta keterkaitannya dengan topik lainnya.

Dalam setiap subpokok bahasan dilengkapi dengan panduan pelatih yang membantu dalam meng- arahkan proses, media dan sumber belajar, lembar kerja, lembar evaluasi dan lembar informasi atau bahan bacaan. Masing-masing disusun secara kronologis yang agar memudahkan bagi penggu- na dengan memberikan alternatif dalam memanfaatkan setiap subpokok bahasan secara luas dan fleksibel.

Setiap pokok bahasan dilengkapi dengan bahan bacaan pendukung yang dapat dibagikan secara terpisah dari panduan pelatihan agar dapat dibaca peserta sebelum pelatihan di mulai. Pelatih juga diperkenankan untuk menambah atau memperkaya bahan bacaan untuk setiap subpokok bahasan berupa artikel, buku, juklak/juknis dan kiat-kiat yang dianggap relevan.

Disamping itu, pembaca di berikan alat bantu telusur berupa catatan diberikan termasuk ikon-ikon yang akan memandu dalam memahami karakteristik materi dan pola penyajian yang harus dilalu- kan dalam pelatihan.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Tabel Komponen Modul

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Tabel Komponen Modul Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA 20 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAB III

RENCANA

PEMBELAJARAN

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PB 1 Visi Undang Undang Desa
PB
1 Visi Undang Undang Desa
PENDAMPING LOKAL DESA PB 1 Visi Undang Undang Desa Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 1.1. Visi Perubahan Desa

PENDAMPING LOKAL DESA SPB 1.1. Visi Perubahan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 1.1. Visi Perubahan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 1.1. Visi Perubahan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 1.1. Visi Perubahan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 1.1. Visi Perubahan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu

Tujuan

Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:

1. Mampu menjelaskan visi UU Desa tentang perubahan desa yang maju, kuat, mandiri, berkeadilan dan demokratis

2. Mampu menjelaskan pemahaman tentang kedaulatan desa dalam kaitannya dengan azas pengakuan (rekognisi) dan pelaksanaan kewenangan (subsidiaritas) dalam kaitannya pengertian “masyarakat berpemerintahan (Self Governing Community) dan pemerintahan lokal berskala desa (Local Self Government)”.

Waktu

3 JPL (135 menit)

Metode

Curah pendapat, diskusi kelompok, paparan

Media

Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu

Flipt Chart, spidol, isolasi/double tape, laptop, dan infocus

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Proses Penyajian Aktivitas 1. Kelemahan Desa 1. Bukalah pertemuan dengan

Proses Penyajian

Aktivitas 1. Kelemahan Desa

1. Bukalah pertemuan dengan menjelaskan tujuan yang akan dicapai dalam sesi belajar bersama ini terkait dengan sub pokok bahasan tentang visi UU Desa

2. Mulailah menghidupkan kelas dengan mengajak peserta untuk berdiskusi, curah gagasan tentang kenyataan desa (sosial, ekonomi, budaya, alam, mata pencarian, konflik dan lainnya). Bantulah diskusi dengan panduan pertanyaan berikut;

a. Ceritakan tentang “desa” (tempat tinggal peserta)?

b. Apakah jenis pekerjaan yang ada di desa mencukupi kebutuhan hidup masyarakat desa?

c. Apakah ada kecenderungan masyarakat desa untuk meninggalkan desa (pergi ke kota)?

d. Mengapa?

e. Bagaimana susunan pemerintahan desa?

f. Siapakah (kelompok manakah) yang berperan dalam kehidupan berdesa?

g. Apakah peserta pernah terlibat dalam proses pembangunan desa (musyawarah perencanaan, pengawasan pembangunan)?

3. Selesai diskusi, rangkumlah hasil diskusi kelompok kecil dengan menunjukkan hubungan sebab akibat dari jawaban-jawaban para peserta dan kenyataan kelemahan-kelemahan desa.

4. Akhiri sesi belajar dengan menunjukkan lemahnya posisi (keberdaaan) desa di dalam peraturan perundangan dan kebijakan sebelum UU Desa.

Inti bagian ini fasilitator memperkenalkan cara analisa sosial yang sederhana dengan melemparkan pertanyaan berurutan untuk mengetahui hubungan sebab akibat.

Pertanyaan bisa diubah mengikuti jawaban peserta.

Lihat atau tayangkan lembar informasi no.1 SPB 1.1.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Aktivitas 2. Visi UU Desa

1. Tanyakan kepada peserta apa artinya visi

2. Jelaskan tentang arti visi desa dengan menggunakan jawaban peserta yang paling tepat atau yang mendekati tepat

Visi desa adalah arah pandangan ke depan atau cita-cita desa yang dirumuskan dalam Rencana Pembangunan
Visi desa adalah arah pandangan ke depan
atau cita-cita desa yang dirumuskan dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
desa dan diperjuangkan melalui RKP Desa

3. Langkah selanjutnya, jelaskan kepada peserta apa visi yang diamanatkan UU.

Visi UU Desa, menjadikan desa maju, kuat, mandiri, adil, sejahtera dan demokratis
Visi UU Desa, menjadikan desa
maju, kuat, mandiri, adil, sejahtera
dan demokratis

4. Bagikanlah satu kertas kosong (meta plan) kepada setiap peserta. Mintalah peserta dari ujung kiri untuk menghitung berurutan mulai 1 sampai dengan 6. Mintalah peserta untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor urut;

a. Nomor 1 – apa artinya “desa maju?’”

b. Nomor 2 – apa artinya “desa kuat?”

c. Nomor 3 – apa artinya “desa mandiri?”

d. Nomor 4 – apa artinya “desa adil?”

e. Nomor 5 – apa artinya “desa sejahtera?”

f. Nomor 6 – apa artinya “desa demokratis?”

5. Selanjutnya mintalah setiap peserta secara bergiliran membacakan jawabannya, sebelum menempelkan jawabannya di tempat yang bisa dilihat bersama (Bisa juga disusun di lantai).

Berikan waktu yang cukup kepada setiap peserta untuk membahas topik

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

6. Setelah selesai semua peserta membacakan jawabannya, buatlah rangkuman yang jelas tentang pengertian desa maju, kuat, mandiri, adil, sejahtera dan demokratis.

7. Tegaskan bahwa desa akan maju, kuat, mandiri, adil, sejahtera dan demokratis kalau desa berperan sebagai pelaku utama (subyek) dalam pembangunan.

Aktivitas 3. Azas, Hak dan Kewenangan Lokal Desa

1. Jelaskan bahwa kedudukan desa sebagai subyek itu didasarkan pada azas pengakuan (rekognisi) dan pelaksanaan kewenangan (subsidiaritas) lokal berskala desa

2. Diskusikan langsung dengan peserta;

Apa artinya hak asal-usul bagi desa?

Hak asal-usul desa meliputi apa saja?

Hak asal-usul makna pokoknya adalah mengakui keberadaan desa sebagai komu- nitas (masyarakat) yang mengatur hidup
Hak asal-usul makna pokoknya adalah
mengakui keberadaan desa sebagai komu-
nitas (masyarakat) yang mengatur hidup
bersama dengan kearifannya, hukum adat-
nya, dan pranata sosialnya

3. Jelaskan bahwa hak asal-usul itu juga merupakan pengakuan atas keberadaan desa sebagai komunitas (masyarakat) berpemerintahan (self governing community)

4. Selanjutnya jelaskan arti subsidiaritas sebagai azas otonomi atau pemberian kewenangan.

makna pokok dari subsidiaritas adalah pemberian kewenangan/otonomi kepada desa untuk mengurus dan mengatur desa sebagai
makna pokok dari subsidiaritas adalah pemberian
kewenangan/otonomi kepada desa untuk mengurus
dan mengatur desa sebagai bagian dari pemerin-
tahan Kabuopaten/Kota.

Tunjukan posisi utama azas rekognisi dan subsidiaritas di antara azas- azas pengaturan desa lain (Psl.3. UU Desa No.6 Thn 2014)

Bisa gunakan Bahan Tayang SPB 1.1.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia

27

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

5. Lanjutkan dengan menjelaskan maksud subsidiaritas dalam kaitannya dengan kewenangan lokal berskala desa (local self government).

6. Akhiri sesi belajar bersama materi visi UU Desa dengan mengingat ulang (review) pokok-pokok penting dalam aktivitas 1, 2 dan 3

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Lembar Informasi no.1 SPB 1.1. Perspektif Desa Lama Vs Desa Baru

Lembar Informasi no.1 SPB 1.1.

Perspektif Desa Lama Vs Desa Baru

 

Desa Lama

Desa Baru

Payung Hukum

UU No. 32.2004 dan PP No. 72.2005

UU No. 6/2014

Asas Utama

Desentralisasi-residualitas

Rekognisi-subsidiaritas

Kedudukan

Sebagai organisasi pemerintahan yang berada dalam sistem pemerintahan Kabupaten/Kota (Local State Government)

Sebagai pemerintahan masyarakat, hybrid antara self governing commu- nity dan local self government

Posisi dan peran Kabupaten/Kota

Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan yang besar dan luas dalam mengatur dan mengurus desa.

Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan yang terbatas dan strategis dalam mengatur dan mengurus desa; termasuk mengatur dan mengurus bidang urusan desa yang tidak perlu ditangani langsung oleh pusat

Delivery kewenangan dan program

Target

Mandat

Politik tempat

Lokasi: Desa sebagai lokasi proyek dari atas

Arena: Desa sebagai arena bagi orang desa untuk menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan dan kemasyarakatan

Posisi dalam

Objek

Subjek

pembangunan

Model Pemban-

Government driven development atau community driven develop- ment

Fasilitasi, emansipasi dan konsolidasi

gunan

Pendekatan dan

Imposisi dan mutilasi sektoral

Fasilitasi, emansipasi dan konsolidasi

tindakan

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

paradigma Lama dan Baru Pembangunan Pedesaan

Paradigma Lama

paradigma Baru

Fokus pada pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan

Redistribusi oleh negara

Otoritarianisme ditolelir sebagai harga yang harus dibayar karena pertumbuhan.

Proses demokrasi dan keterlibatan warga marginal dalam pengambilan keputusan.

Negara memberi subsidi pada pengusaha kecil.

Menonjolkan nilai-nilai kebebasan, otonomi, harga diri, dll.

Negara menyediakan layanan sosial

Negara membuat lingkungan yang memungkinkan.

Transfer teknologi dari negara maju

Pengembangan institusi lokal untuk ketahanan sosial.

Penghargaan terhadap kearifan dan teknologi secara partisipatoris.

Penguatan institusi untuk melindungi aset komunitas miskin.

Transfer aset-aset berharga pada negara maju

Pembangunan nyata: diukur dari nilai ekonomis oleh pemerintah

Sektoral

Organisasi hirarkhis untuk melaksanakan proyek.

Pembangunan adalah proses multidimensi dan sering tidak nyara yang dirumuskan oleh rakyat.

Menyeluruh dan terpadu.

Peran Negara: Produser, penyelenggara, pengatur dan konsumen terbesar

Organisasi belajar non-hirarkhis.

Peran negara: Menciptakan kerangka legal yang kondusif, membagi kekuasan, mendorong tumbuhnya institusi-institusi lokal

(Sutoro Eko, dkk - 2015)

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Lembar Informasi no.2 SPB 1.1. Menjadikan desa Mandiri, berdaulat dalam mengatur

Lembar Informasi no.2 SPB 1.1.

Menjadikan desa Mandiri, berdaulat dalam mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan dalam mencapai kesejahteraan masyarakat desa.

(Pelaku Utama) Mengurus pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. (Pasal 4) Subjek Kewenangan, Hak &
(Pelaku Utama)
Mengurus pemerintahan, pembangunan
dan pemberdayaan masyarakat. (Pasal 4)
Subjek
Kewenangan, Hak & Kewajiban.
(Pasal 18, pasal 67)
Rekognisi
Pengakuan Hak
Asal-usul
Subsidiaritas
Kewenangan
pemerintahan
(Pasal 3)
Undang undang no. 6 Tahun 2014 tentang Desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Peran Pemerintah

Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota.

Pendampingan Desa

(Permendes No.3 Th 2015)

Kabupaten/Kota. Pendampingan Desa (Permendes No.3 Th 2015) Pemberdayaan Pendampingan (Psl 128 - 130, PP 43 Th

Pemberdayaan

Pendampingan

(Psl 128 - 130, PP 43 Th 2014, PP 47 Th 2015)

Pendampingan (Psl 128 - 130, PP 43 Th 2014, PP 47 Th 2015) Pembinaan Pengawasan (Psl

Pembinaan

Pengawasan

(Psl 112 - 115, UU No.6 Th 2014)

Pembinaan Pengawasan (Psl 112 - 115, UU No.6 Th 2014) Menjadikan desa Mandiri, berdaulat dalam mengatur
Pembinaan Pengawasan (Psl 112 - 115, UU No.6 Th 2014) Menjadikan desa Mandiri, berdaulat dalam mengatur
Pembinaan Pengawasan (Psl 112 - 115, UU No.6 Th 2014) Menjadikan desa Mandiri, berdaulat dalam mengatur

Menjadikan desa Mandiri, berdaulat dalam mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan dalam mencapai kesejahteraan masyarakat desa.

(Pelaku Utama) Mengurus pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. (Pasal 4) Subjek Kewenangan, Hak &
(Pelaku Utama)
Mengurus pemerintahan, pembangunan
dan pemberdayaan masyarakat. (Pasal 4)
Subjek
Kewenangan, Hak & Kewajiban.
(Pasal 18, pasal 67)
Rekognisi
Subsidiaritas
Pengakuan Hak
Kewenangan
Asal-usul
pemerintahan
(Pasal 3)
Undang undang no. 6 Tahun 2014 tentang Desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 1.2. Ruang Strategis Implementasi UU Desa

LOKAL DESA SPB 1.2. Ruang Strategis Implementasi UU Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan, 1.

Tujuan

Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan,

1. Mampu menjelaskan arti ruang strategis implementasi UU

Desa

2. Mampu menunjukkan contoh-contoh nyata potensi ruang- ruang strategis yang ada di desa

nyata potensi ruang- ruang strategis yang ada di desa Waktu 2 JPL (90 menit) Metode Curah
nyata potensi ruang- ruang strategis yang ada di desa Waktu 2 JPL (90 menit) Metode Curah
nyata potensi ruang- ruang strategis yang ada di desa Waktu 2 JPL (90 menit) Metode Curah
nyata potensi ruang- ruang strategis yang ada di desa Waktu 2 JPL (90 menit) Metode Curah

Waktu

2 JPL (90 menit)

Metode

Curah pendapat, diskusi kelompok, paparan

Media

Media

Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu

Alat Bantu

Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Proses Penyajian 1. Bukalah pertemuan dengan menjelaskan tujuan yang akan dicapai

Proses Penyajian

1. Bukalah pertemuan dengan menjelaskan tujuan yang akan dicapai dalam sesi belajar bersama ini

2. Ajak partisipasi peserta dengan meminta untuk menjawab pertanyaan;

Apa arti implementasi visi UU Desa?

Apa yang dimaksud ruang strategis?

3. Kemudian mintalah peserta mengingat kembali pokok materi sebelumnya tentang visi UU Desa.

Pokok penting dari langkah ini adalah menunjukkan bahwa visi adalah rumusan tentang cita-cita yang berupa ide atau ga- gasan.

Implementasi adalah tindakan atau ke- giatan untuk mewujudkan visi menjadi Visi yang baik hanya bisa dilihat dari tindakan (implementasi) desa membangun dan memberdayakan masyarakat.

4. Jelaskan arti ruang strategis implementasi UU Desa.

Ruang strategis yang dimaksud adalah ruang terbuka yaitu peristiwa, tempat atau kesempatan dimana masyarakat desa bisa berdialog, bisa menyampaikan gagasan, saling menguatkan, mendukung gagasan tentang kepentingan masyarakat desa.

Visi Desa = Gagasan ideal
Visi Desa =
Gagasan ideal

Implementasi = tindakan

desa. Visi Desa = Gagasan ideal Implementasi = tindakan Ruang terbuka, musyawarah, pelaksanaan, pengawasan,

Ruang terbuka,

musyawarah,

pelaksanaan,

pengawasan,

pemberdayaan

Bisa gunakan

Bahan Tayang SPB

1.1.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

5. Ingatkan kembali secara ringkas tentang sistem (tahap) pembangunan desa; perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengawasan .

6. Bagilah jumlah peserta ke dalam kelompok- kelompok kecil. Mintalah masing-masing kelompok mendiskusikan hal terkait ruang strategis implementasi UU Desa;

a. Dalam sistem pembangunan desa, dimana tahap yang menentukan pembangunan desa akan berpihak pada masyarakat desa (pro people)atau tidak?

b. Dimana masyarakat bisa terlibat, ikut menentukan arah pembangunan desa?

c. Dimana ruang strategis untuk menentukan pembangunan desa yang berpihak pada kepentingan masyarakat desa?

d. Mengapa ruang itu (pertanyaan c)dinilai strategis?

7. Mintalah setiap kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi. Berikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi hasil temuan kelompok lain.

8. Akhiri sesi belajar bersama dengan memberikan tekanan pada pokok-pokok gagasan hasil temuan belajar bersama.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAHAN

BACAAN

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Desa dan Pulau Harapan

AHMAD ERANI YUSTIKA Cetak | 11 Agustus 2015 561 dibaca

0 komentar

Pemerintah telah memberi identitas baru atas pilihan pembangunan ekonomi yang harus diambil. Pada isi Nawacita, sekurangnya tafsir itu terpapar di tiga cita, yakni membangun dari pinggiran, peningkatan produkti- vitas ekonomi rakyat, dan kemandirian ekonomi.

produkti- vitas ekonomi rakyat, dan kemandirian ekonomi. Jika dibenturkan dengan konsep ekonomi pemban- gunan,

Jika dibenturkan dengan konsep ekonomi pemban- gunan, ”Tricita” tersebut berteduh dalam pohon teori ”struktural”. Istilah ”pinggiran” (periphery) adalah frasa populer untuk membenturkan dengan negara/ wilayah ”pusat” (center) dalam tradisi Marxianeco- nomics. Demikian pula, terma ”ekonomi rakyat” dan ”kemandirian ekonomi” lekat dengan konsep yang bersinggungan dengan mazhab tersebut, seperti yang kerap diteriakkan oleh Samir Amin ataupun Fernando Henrique Cardoso (tentu dengan istilah yang tak sepenuhnya persis). Inilah babak baru yang secara sadar diayak pemerintah setelah mengamati secara jeli watak pembangunan (ekonomi) Indonesia sepanjang 70 tahun seusai kemerdekaan.

Pasokan pengetahuan

Salah satu alas pokok yang dipakai untuk menjalankan Tricita di atas adalah Undang-Undang Desa No- mor 6 Tahun 2014. UU ini mendapatkan atensi yang luar biasa dari khalayak karena dipandang sebagai horizon baru pembangunan. Desa diletakkan sebagai pusat arena pembangunan, bukan lagi semata lokus keberadaan sumber daya (ekonomi) yang dengan mudah disedot oleh wilayah lain (kota) untuk beragam kepentingan.

Perhatian menjadi kian luar biasa begitu pemerintah meneruskannya dengan membentuk kementerian yang khusus mengawal urusan desa, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Dengan begitu, urusan desa tak hanya disantuni secara legal (UU), tetapi secara politik dengan lugas afir- masi telah ditunjukkan pemerintah via pembentukan kementerian baru itu (dan dana desa) sehingga pada hari-hari mendatang pusat pertaruhannya adalah bagaimana kekuatan legal dan politik itu menjelma dalam kerja teknokratis di lapangan.

Teknokratisme pembangunan desa itu berdiri tegak di atas tiga pilar (Desa Berdikari). Pertama, mengaru- sutamakan penguatan kapabilitas manusia sebagai inti pembangunan sehingga mereka menjadi sub- yek-berdaulat atas pilihan-pilihan yang diambil. Kedua, mendorong geliat ekonomi yang menempatkan rakyat sebagai pemilik dan partisipan gerakan. Ketiga, mempromosikan pembangunan yang meletakkan partisipasi warga dan komunitas sebagai akar gerakan sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Menyangkut kapabilitas manusia, penguatan pendidikan (pengetahuan) dan kesehatan merupakan dua pilar

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

pokok yang mesti dibangun. Pendidikan kerap disederhanakan sebagai lama waktu sekolah untuk menun- jukkan level keterampilan seseorang. Parameter itu sebagian bisa diterima, tetapi jelas tak menggambarkan seluruh tingkat pengetahuan individu. Di luar sekolah (formal), pilihan lain peningkatan stok pengetahuan adalah penciptaan komunitas belajar dan balai pencerahan dengan basis karakteristik sosial dan budaya setempat.

Pola semacam itu tidak sekadar menambah pengetahuan dan keterampilan (sesuai dengan pilihan hidup yang telah ditetapkan), tetapi juga menegakkan matra komunitas yang menjadi corak hidup warga desa. Berikutnya, perkara kesehatan juga patut menjadi fokus pendalaman kapabilitas karena masih rendahnya daya dukung pada aspek ini. Kenaikan angka ibu yang meninggal saat melahirkan, peningkatan bayi den-

gan ukuran tubuh tidak normal (stunting), gizi buruk, ketersediaan sanitasi, pasokan air bersih, dan lain-lain masih merupakan kenyataan pahit di pedesaan. Perlu gerakan masif untuk memperbaiki aspek ini karena jumlahnya sangat banyak dan tersebar secara geografis (yang sebagian sulit dijangkau). Di sini tidak hanya perlu anggaran yang besar, tetapi juga pilihan program yang efektif untuk mengatasinya. Perbaikan kualitas manusia merupakan misi yang harus dimenan-

gi karena hakikat pembangunan tak lain adalah ekspansi kapabilitas manusia.

Lumbung ekonomi rakyat

Kesejahteraan adalah salah isu mendesak di desa mengingat kantong-kantong kemiskinan berada di sana (sekitar 65 persen penduduk miskin berdiam di desa). Urbanisasi masif yang terjadi disebabkan oleh involusi desa tersebut, bukan karena ada tarikan permintaan tenaga kerja di kota. Inilah yang membuat fenomena ”urbanisasi prematur” terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, gerakan lumbung ekonomi rakyat merupakan palang pintu utama untuk mendongkrak kesejahteraan ekonomi tersebut. Pokok soal yang utama adalah membekali aset produktif yang memadai sehingga akses terhadap sumber daya ekonomi menjadi lebih besar.

Problemnya, sebagian besar kaum miskin itu tak memiliki aset produktif yang mencukupi (khususnya lahan dan modal). Dengan begitu, kebijakan reformasi agraria (yang juga menjadi salah satu komitmen pemerin- tah) menjadi sangat strategis diimplementasikan dengan lokus penduduk desa yang tunaaset tersebut, di samping kebijakan drastis terkait akses terhadap modal.

Berikutnya, menempatkan kegiatan ekonomi hanya pada hulu (misalnya produksi komoditas pertanian atau eksplorasi sumber daya alam lain) terbukti hanya meninggalkan desa dalam kubang keterbelakangan. Desa hanya dimanfaatkan sebagai penyedia bahan baku dan pasar bagi komoditas olahan (yang dikerjakan oleh

pelaku dan di wilayah yang lain). Situasi ini harus dihentikan sehingga desa tak lagi cuma memperoleh porsi

di hulu, tetapi juga memasuki aktivitas di sektor hilir.

Sumber daya ekonomi sebanyak mungkin ditahan desa dan hanya keluar setelah melalui proses pencip- taan nilai tambah. Tentu saja proses ini tak mesti bertumpu hanya di satu desa, tetapi bisa pada kawasan pedesaan karena harus disesuaikan dengan skala ekonomi. Intervensi inovasi dan adopsi teknologi menjadi penting agar proses ekonomi pengolahan itu bisa berjalan dengan layak. Jika hal ini berlangsung dengan baik, urbanisasi dapat ditekan dan posisi desa tak lagi inferior.

Pekerjaan rumah setelahnya adalah menyusun organisasi ekonomi di desa. Tentu ini mandat yang rumit, tetapi niscaya harus dijalankan. Organisasi ekonomi yang berbasis persaingan dengan meletakkan individu sebagai pusaran aktivitas ekonomi terbukti menciptakan luka pembangunan, salah satunya berwujud dalam ketimpangan (pendapatan) ekonomi yang makin parah. Realitas itu harus dimaknai sebagai sinyal kebutuhan kembali pada penataan organisasi ekonomi yang menyantuni semangat kolektivitas, pemerataan, dan sol-

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

idaritas sosial. Apa pun pilihan aktivitas ekonomi yang dikerjakan mesti paralel dengan kebutuhan tersebut agar pembangunan tak menciptakan paradoks: pertumbuhan berbarengan dengan kesenjangan. Konstitusi dengan tepat telah memberikan panduan pada Pasal 33 Ayat (1) UUD 1945. Desain Pasal 33 adalah ban- gun usaha yang bersemangat koperasi. Pengambil kebijakan ekonomi mesti punya keberanian moral untuk menjalankan misi daulat ekonomi rakyat ini.

Menumbuhkan daya hidup

Pembangunan yang secara sengaja meretakkan relasi manusia dan pilihan yang akan diambilnya dipasti- kan justru menciptakan keterasingan, di samping ketergantungan. Pembangunan menjadi ritus berjarak jika program yang dijalankan tidak menyertakan rakyat sebagai partisipan gerakan, mulai dari perumusan ma- salah, desain, implementasi, hingga monitoring program. Pembangunan menjadi proses mematikan, bukan menumbuhkan daya hidup rakyat. Proses itulah yang sebagian terjadi atas kebijakan yang diambil selama ini sehingga terjadi mekanisme ket- erasingan dan ketergantungan secara sistematis. Dana desa mesti dicegah tidak mengulang pengalaman itu (dan tak seharusnya perhatian hanya fokus pada dana desa) sehingga anggaran yang digelontorkan harus dimaknai sebatas afirmasi pemerintah untuk menjadikan desa sebagai arena pembangunan tanpa merebut hak (warga) desa menyusun masa depannya sendiri. Ruang harus dibuka selebar-lebarnya bagi warga desa untuk menentukan hajat hidupnya lewat program yang digagas secara partisipatoris.

Jika pilihan itu yang diambil, modal (finansial) bukanlah amunisi utama pembangunan. Modal yang terpenting adalah kapabilitas manusia yang telah terberdayakan dan gerak sosial yang emansipatoris. Modal finansial hanyalah instrumen sekunder karena kebutuhan primer adalah manusia tercerahkan dan otentisitas jaringan sosial yang tersambung secara pekat. Proses inilah yang sebetulnya menjadi jantung perubahan paradigma pembangunan agar geraknya tidak ditindih oleh modal finansial yang kemudian justru mengisolasi sebagian (besar) kaum dari berkah pembangunan itu sendiri.

Jika kemudian para pendamping desa diturunkan ke segala penjuru, fungsinya yang pokok adalah menjadi aktor pemberdaya yang menumbuhkan daya hidup warga tersebut, bukan mengambil alih hak warga meru- muskan jalan hidupnya. Ujung dari proses ini adalah lenyapnya praktik ekonomi subordinatif yang menem- patkan pemilik modal sebagai tuan ekonomi.

Penting pula dipahami bahwa seluruh cakupan di atas harus sensitif terhadap kesinambungan lingkun- gan dan partisipasi perempuan. Pembangunan yang terlalu memberi bobot pada aspek ekonomi mungkin menjadi eskalator untuk mempercepat pencapaian ketinggian kesejahteraan, tetapi juga punya risiko terha- dap destruksi lingkungan. Keduanya tentu tak boleh dikorbankan meski kerap kali tak mudah mencapainya secara bersamaan. Demikian pula, banyak kasus inisiasi pembangunan yang dilakukan dan menyertakan kaum perempuan secara eksesif lebih punya potensi keberhasilan, seperti dalam model pengelolaan lem- baga keuangan. Ekspansi kapabilitas manusia/komunitas harus menyasar perempuan sebagai target utama akibat warisan konstruksi sosial yang tak berpihak kepada mereka selama ini.

Pada akhirnya, seluruh urusan ini harus dipayungi oleh kebijakan makroekonomi, politik fiskal, moneter, keuangan, perdagangan, investasi, dan lain sebagainya yang memihak dan menjadikan desa sebagai arus utama pembangunan. Jika kita bisa merawat konsistensi keseluruhan bangunan ini, paras desa akan beru- bah menjadi pulau-pulau harapan yang laik dijadikan sandaran masa depan.

AHMAD ERANI YUSTIKA, DIRJEN PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA KE- MENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PB 2 Produk Hukum Desa
PB
2 Produk Hukum Desa
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA PB 2 Produk Hukum Desa 40 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 2.1. Kewenangan Desa

PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.1. Kewenangan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.1. Kewenangan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.1. Kewenangan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.1. Kewenangan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.1. Kewenangan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.1. Kewenangan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.

Tujuan

Setelah pembelajaran ini peserta mampu:

1. Menjelaskan latar belakang dan pengertian kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa

2. Menemukan dan menjelaskan contoh kewenangan berdasarkan hak asal-usul dan kewenagan lokal berskala desa

Waktu

hak asal-usul dan kewenagan lokal berskala desa Waktu 1 JPL (45 menit) Metode Sharing, curah pendapat.

1 JPL (45 menit)

1 JPL (45 menit)
1 JPL (45 menit)

Metode

Sharing, curah pendapat. pemaparan, disko, pleno

Media

Bahan bacaan, bahan tayang

Alat Bantu

Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Proses Penyajian 1. Mulailah dengan menjelaskan pokok bahasan, sub pokok bahasan

Proses Penyajian

1. Mulailah dengan menjelaskan pokok bahasan, sub pokok bahasan dan tujuan yang ingin dicapai dalam proses belajar bersama.

2. Antarkan peserta memahami ruang lingkup pokok bahasan dengan mendiskusikan pertanyaan;

a. Apa yang dimaksud dengan kewenangan desa?

b. Dari mana sumber yang menjadi dasar kewenangan desa?

3. Rangkumlah hasil diskusi dengan menunjukkan secara jelas sumber kewenangan desa.

Kewenangan desa bersumber dari azas rekognisi dan subsidiaritas (Psl 3, UU Desa No.6 Th 2014)
Kewenangan desa bersumber dari
azas rekognisi dan subsidiaritas
(Psl 3, UU Desa No.6 Th 2014)

4. Bagilah jumlah peserta ke dalam beberapa kelompok kecil. Berikanlah pertanyaan di bawah berikut sebagai bahan diskusi kelompok:

a. Sampai dimana batas ruang lingkup kewenangan desa berdasarkan hak asal-usul?

b. Sampai dimana batas ruang lingkup kewenangan lokal berskala desa?

c. Sebutkan produk-produk hasil kewenangan desa berdasarkan hak asal-usul dan kewenangan lokal berskala desa?

5. Mintalah setiap kelompok untuk memaparkan hasil diskusinya. Berikan kesempatan pada kelompok lain untuk menyampaikan komentar, memperkaya temuan atau klarifikasi.

Ingatkan kembali materi SPB. 1.1. (aktivitas 3) tentang pengertian hak asal-usul dan kewenangan lokal berskala desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

6. Rangkum hasil diskusi kelompok sekaligus klarifikasi jawaban para peserta dengan menunjukkan pokok- pokok jawaban yang benar.

7. Akhiri sesi belajar dengan memberikan tekanan pada arti kewenangan desa sebagai dasar kemandirian desa dalam membangun dan memberdayakan masyarakat desa.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 2.2. Produk Hukum Desa

PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.2. Produk Hukum Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.2. Produk Hukum Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.2. Produk Hukum Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.2. Produk Hukum Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.2. Produk Hukum Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.
PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA SPB 2.2. Produk Hukum Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.

Tujuan

Setelah pembelajaran ini peserta mampu:

1. Mampu menjelaskan pengertian dan kedudukan peraturan- peraturan desa dalam struktur hirarki perundang-undangan

2. Mampu menjelaskan jenis-jenis peraturan desa dan fungsinya dalam kehidupan berdesa

Waktu

peraturan desa dan fungsinya dalam kehidupan berdesa Waktu 2 JP (90 menit) Metode sharing, brainstorming. pemaparan,

2 JP (90 menit)

2 JP (90 menit)
2 JP (90 menit)

Metode

sharing, brainstorming. pemaparan, disko, pleno

Media

Bahan bacaan

Alat Bantu

Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Proses Penyajian 1. Jelaskan tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran

Proses Penyajian

1. Jelaskan tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran terkait dengan materi sub pokok bahasan.

2. hukum bagi kehidupan berdesa.

3. Lanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang kedudukan produk hukum desa dalam struktur hirarki (tata urutan) perundang-undangan.

4. Fasilitasi diskusi bersama untuk memahami ruang produk hukum desa. Sampaikan pertanyaan- pertanyaan berikut sebagai panduan diskusi;

a. Apa saja produk hukum yang ada di desa?

b. Apa yang dimaksud dengan peraturan desa?

c. Sampai dimana batas ruang lingkup kewenangan desa dalam mengatur produk hukum desa ?

d. Sebutkan dan jelaskan Produk Hukum di Desa menurut UU No. 6 Tahun 2014?

Jenis peraturan di desa terdiri dari Peraturan Desa, Peraturan Bersama Kepala Desa, dan Peraturan Kepala
Jenis peraturan di desa terdiri dari
Peraturan Desa, Peraturan Bersama
Kepala Desa, dan Peraturan Kepala Desa.
(UU No.6 Th 2014; BAB VII, Psl 69 – 70)

5. Akhiri sesi belajar bersama dengan mengulang pokok-pokok temuan hasil diskusi. Sekaligus berikan tekanan pemahaman pentingnya produk peraturan desa sebagai dasar hukum pembangunan desa dan kehidupan berdesa.

Lihat lembar informasi no.1 SPB 2.1.

Tuliskan pokok- pokok temuan diskusi untuk memudahkan fasilitator membuat rangkuman akhir diskusi

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Lembar Informasi no.1 SPB 2.2. Struktur Hirarki Perundang-undangan (UU No. 12

Lembar Informasi no.1 SPB 2.2.

Struktur Hirarki Perundang-undangan (UU No. 12 Tahun 2011)

Meski Peraturan Desa tidak diakui sebagai bagian dari hirarki peraturan perundangan, namun tatap diakui keberadaannya. Pasal 8 ayat (2) UU no. 12 Tahun 2011 dapat diambil pengertian bahwa Peraturan Desa diakui keberadaannya sebagai produk hukum dan memliki kekuatan hukum sepanjang diperintahkan (didelegasikan) oleh Peraturan Perundang-undangan di atasnya atau dibentuk berdasarkan kewenangan subjek pelaku pembuatnya, dalam hal ini Desa. (Borni Kurniawan, 2015)

UUD

1945 TAP MPR UU/Perpu Peraturan Pemerintah Peraturan Presiden Perda Provinsi
1945
TAP
MPR
UU/Perpu
Peraturan
Pemerintah
Peraturan Presiden
Perda Provinsi

Perda Kabupaten/Kota

Peraturan Presiden Perda Provinsi Perda Kabupaten/Kota Peraturan Desa 46 Direktorat Jenderal Pembangunan dan
Peraturan Presiden Perda Provinsi Perda Kabupaten/Kota Peraturan Desa 46 Direktorat Jenderal Pembangunan dan

Peraturan Desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Lembar Informasi no.2 SPB 2.2. Desa sebagai Subjek hukum 1. KEBIJAKAN

Lembar Informasi no.2 SPB 2.2.

Desa sebagai Subjek hukum
Desa sebagai
Subjek hukum

1. KEBIJAKAN PEMKAB/PEMKOT

2. RPJM DAERAH

3. PROGRAM/PROYEK MASUK DESA YANG TERPADU SECARA NASIONAL, PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA

RPJM DESA, RKP DESA, APB DESA
RPJM DESA, RKP DESA, APB DESA
PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA RPJM DESA, RKP DESA, APB DESA Musdes SPD Pemdes Masyarakat 1. KONDISI OBJEKTIF
Musdes SPD Pemdes Masyarakat
Musdes
SPD
Pemdes Masyarakat
RPJM DESA, RKP DESA, APB DESA Musdes SPD Pemdes Masyarakat 1. KONDISI OBJEKTIF DESA. 2. SUMBER

1. KONDISI OBJEKTIF DESA.

2. SUMBER DAYA DESA.

3. ASPIRASI MASYARAKAT.

PENDAMPING DESA

(SKPD, PENDAMPING PROFESIONAL, PD, PLD, DAN PIHAK KETIGA)

Peningkatan kualitas dan akses terhadap pelayanan dasar;

Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur dan lingkungan berdasarkan kemampuan teknis dan sumber daya lokal yang tersedia;

Pengembangan ekonomi pertanian berskala produktif;

Pengembangan dan pemanfaatan tekhnologitepat guna untuk kemajuan ekonomi; dan

Peningkatan kualitas ketertiban dan ketentraman masyarakat desaberdasarkan kebutuhanmasyarakat desa

Peraturan Desa Peraturan Kepala Desa Peraturan Bersama Kepala Desa
Peraturan Desa
Peraturan
Kepala Desa
Peraturan
Bersama
Kepala Desa

Jenis Peraturan di Desa

Pasal 69-70, UU No.6 Tahun 2014

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Fungsi Peraturan Desa

1 • Sebagai pedoman kerja dalam penyelenggaraan kegiatan di desa 2 • Terciptanya tatanan kehidupan
1
• Sebagai pedoman kerja dalam penyelenggaraan kegiatan di desa
2
• Terciptanya tatanan kehidupan yang serasi, selaras dan seimbang di desa
3
• Memudahkan pencapaian tujuan.
4
• Sebagai acuan dalam rangka pengendalian dan pengawasan.
• Sebagai dasar pengenaan sanksi atau hukuman.
5
• Mengurangi kemungkinan terjadinya penyimpangan atau kesalahan.
6

Hak Masyarakat dalam penyusunan peraturan di Desa

(UU No. 6 Th 2014, Pasal 69;)

“(9) Rancangan Peraturan Desa wajib dikonsultasikan kepada Masyarakat Desa”.

“(10) Masyarakat Desa berhak memberikan masukan terhadap Rancangan Peraturan Desa”.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 2.3. Mekanisme Pengambilan Keputusan

LOKAL DESA SPB 2.3. Mekanisme Pengambilan Keputusan Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1. Mampu

Tujuan

Setelah pembelajaran ini peserta mampu:

1. Mampu menjelaskan mekanisme (tahapan) pengambilan

keputusan dan tata peyusunan peraturan desa

2. Mampu menjelaskan kedudukan peraturan desa dalam hubungannya dengan produk hukum lain

peraturan desa dalam hubungannya dengan produk hukum lain Waktu 1 JP (45 menit) Metode Sharing, brainstorming,
peraturan desa dalam hubungannya dengan produk hukum lain Waktu 1 JP (45 menit) Metode Sharing, brainstorming,
peraturan desa dalam hubungannya dengan produk hukum lain Waktu 1 JP (45 menit) Metode Sharing, brainstorming,
peraturan desa dalam hubungannya dengan produk hukum lain Waktu 1 JP (45 menit) Metode Sharing, brainstorming,

Waktu

1 JP (45 menit)

Metode

Sharing, brainstorming, pemaparan, pleno

Media

Bahan bacaan, cerita kasus

Alat Bantu

Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Proses Penyajian 1. Mulailah dengan menjelaskan tujuan yang akan dicapai dalam

Proses Penyajian

1. Mulailah dengan menjelaskan tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini dengan menunjukkan topik atau materi yang akan menjadi pokok bahasan.

2. Aktifkan kelas dengan meminta peserta mencari pasangan (3 orang) yang duduk bersebelahan kemudian minta kesediaan kelompok mendiskusikan beberapa pertanyaan berikut;

a. Bagaimana mekanisme (tata cara) penyusunan dan pengambilan keputusan sampai pada penetapan produk hukum desa?

b. Siapa yang bertanggungjawab dalam penyusunan dan pemutusan produk hukum di desa?

c. Siapa saja yang dilibatkan dalam penyusunan dan pemutusan produk hukum di desa?

d. Bagaimana keterlibatan masayarakat dalam penyusunan dan pemutusan produk hukum di desa?

3. Mintalah salah satu kelompok peserta untuk mulai menyajikan paparan hasil diskusinya.

4. Berikan kesempatan pada kelompok lain untuk mengonfrontasi/membandingkan hasil diskusinya dengan apa yang baru saja dipaparkan kelompok penyaji.

5. Buatlah rangkuman jawaban terkait dengan materi bahasan secara berurutan dan teratur (sistematis) sehingga mudah dipahami peserta.

6. Akhiri sesi dengan menunjukkan peraturan perundangan yang menjadi dasar hukum tentang ketentuan mekanisme pengambilan keputusan.

Rancangan Peraturan Desa wajib dikonsultasikan kepada masyarakat Desa” (Ayat 9)

Masyarakat Desa berhak memberikan masukan terhadap Rancangan Peraturan Desa.” (Ayat 10)

(UU No 6 Th

2014 BAB VII

PERATURAN DESA Pasal 69)

Lihat lembar informasi no.1 - SPB 2.3.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Lembar Informasi no.1 SPB 2.3. Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan

Lembar Informasi no.1 SPB 2.3.

PENDAMPING LOKAL DESA Lembar Informasi no.1 SPB 2.3. Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA 52 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 2.4. Hubungan Produk Hukum Desa dengan Produk Hukum Lain.

2.4. Hubungan Produk Hukum Desa dengan Produk Hukum Lain. Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta mampu: 1.

Tujuan

Setelah pembelajaran ini peserta mampu:

1. Mengidentifikasi dan menjelaskan jenis rancangan peraturan

desa yang dievaluasi Bupati/Walikota

2. Menjelaskan tahapan evaluasi rancangan peraturan desa oleh Bupati/walikota.

evaluasi rancangan peraturan desa oleh Bupati/walikota. Waktu 1 JP (45 menit) Metode sharing, brainstorming,
evaluasi rancangan peraturan desa oleh Bupati/walikota. Waktu 1 JP (45 menit) Metode sharing, brainstorming,
evaluasi rancangan peraturan desa oleh Bupati/walikota. Waktu 1 JP (45 menit) Metode sharing, brainstorming,
evaluasi rancangan peraturan desa oleh Bupati/walikota. Waktu 1 JP (45 menit) Metode sharing, brainstorming,
Waktu
Waktu
1 JP (45 menit) Metode
1 JP (45 menit)
Metode

sharing, brainstorming, pemaparan, pleno

Media

sharing, brainstorming, pemaparan, pleno

Alat Bantu

Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Proses Penyajian 1. Mulailah kegiatan dengan menyampaikan tujuan yang akan dicapai

Proses Penyajian

1. Mulailah kegiatan dengan menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam sesi kali ini sesuai materi sup pokok bahasan yang akan dibahas.

2. Ajaklah peserta untuk aktif terlibat dalam diskusi pembahasan pertanyaan berikut;

a. Bagaimana pola hubungan pemerintahan desa dengan pemerintahan Kabupaten/Kota?

b. Apakah Bupati/Walikota memiliki kewenangan terkait dengan produk hukum atau peraturan desa?

3. Bantulah mengklarifikasi jawaban para peserta untuk pertanyaan huruf (a)dengan mengingatkan kembali azas rekognisi dan subsidiaritas.

4. Tegaskan jawaban peserta untuk pertanyaan (b) dengan menunjukkan kewenangan Bupati/Walikota terkait dengan jenis-jenis produk hukum atau peraturan desa tertentu.

Jelaskan dengan mengacu pada isi Permendagri No. 111 Tahun 2014, Bab IV, Pasal 14 dan
Jelaskan dengan mengacu pada isi
Permendagri No. 111 Tahun 2014, Bab
IV, Pasal 14 dan seterusnya tentang
“Evaluasi dan Klarifikasi Peratuan
Desa”

5. Mintalah peserta untuk berpasangan dengan peserta yang duduk di samping kanannya. Kemudian mintalah setiap pasangan untuk mendiskusikan pertanyaan berikut;

a. Bagaimana prosedur dan mekanisme evaluasi Bupati/walikota terhadap rancangan peraturan desa?

Diskusi ini sekaligus membantu peserta mengingat kembali materi sub pokok bahasan sebelumnya.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

6. Selesai kelompok berdiskusi, berikan kesempatan kepada pasangan peserta yang berani mengangkat tangan untuk menyampaikan temuan hasil diskusinya.

7. Akhiri sesi pembelajaran sub pokok bahasan berikut dengan memberikan klarifikasi atau penegasan atas jawaban para peserta dengan menunjukkan prosedur dan mekanisme evaluasi sebagaimana yang telah ditetapkan.

Jelaskan dengan mengacu pada isi Permendagri No. 111 Tahun 2014, Bab IV, Pasal 14 dan seterusnya tentang “Evaluasi dan Klarifikasi Peratuan Desa”

Lihat lembar informasi 2, SPB 3.4.

Cukup beberapa pasangan kelompok yang diberi kesempatan untuk mewakili jawaban peserta yang lain.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Lembar Informasi no.1 SPB 2.4. 56 Direktorat Jenderal Pembangunan dan

Lembar Informasi no.1 SPB 2.4.

PENDAMPING LOKAL DESA Lembar Informasi no.1 SPB 2.4. 56 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAHAN

BACAAN

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Keterpaduan Regulasi Desa dengan Peraturan Perundangan Lain

Pengantar

(Borni Kurniawan)

Sebelum Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa lahir, Desa kurang mendapat perhatian yang serius dari Negara.Desa belum mendapat pengakuan sebagai entitas kesatuan hukum masyarakat Negara bangsa Indonesia. Sebagai kesatuan hukum masyarakat, Desa secara asali memiliki kemampuan dan kewenangan untuk mengatur dirinya sendiri. Bentuk pengaturannya diwujudkan dalam bentuk hukum adat. Ada yang tertulis, ada yang tidak tertulis. Dengan pranata hukum tersebut, masyarakat desa dapat hidup dalam harmoni tidak hanya antarpenduduk desa itu sendiri, tapi keharmonisan antara penduduk desa dengan lingkungan hidup di sekitarnya. Sebagai contoh masyarakat negeri di Maluku dan Ambon mengenal sasi dan kewang. Di desa-desa di Nusa Tenggara Barat dan Bali dikenal dengan awig-awig.

Awal mulanya sasi adalah piranti di zaman dahulu yang diciptakan masyarakat Maluku untuk memelihara dan melestarikan hutan, laut dengan segala hasilnya di petuanan salah satu desa maupun negeri. Sebagai piranti sosial, waktu itu sasi belum tertulis sebagai perangkat hukum. Meski tidak tertulis, sasi yang berlaku di suatu desa/negeri sangat dipegang teguh. Dalam perkembanganya, sasi kemudian diformalkan dalam bentuk hukum tertulis pada zaman penjajahan Belanda. fungsiSasi dan Kewang meliputi; a) supaya semua tanaman yang menyangkut buah-buahan dijaga dengan baik. Buah-buahan yang ditanam di dalam dusun diambil pada waktunya yaitu ketika buah-buahan tersebut menjadi tua dan masak. b) supaya tanah-tanah negeri dan labuhan (laut) dapat terpelihara dengan baik guna dipakai oleh penduduk negeri tersebut. c) agar menjadi alat pelerai, mengurangi semua bentuk perselisihan menyangkut hasil dusun diantara para anggota disebuah dusun, yaitu antara

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

anak-anak Dati1 dan Kepala Dati, antara anak-anak pusaka dan kepala pusaka. d) agar pencurian terhadap tanaman dan hasilnya dan kecelakaan-kecelakaan yang sering menimpa perempuan berkurang (Eko dan Kurniawan, 2010).

Di NTB dan Bali, awig-awig adalah aturan hukum adat yang harus dipatuhi semua warga

sebagai pedoman dalam bersikap dalam kehidupan sehari-hari maupun sikap dalam berinteraksi dengan lingkungan alam sekitar. Awig-awig adalah aturan yang dikeluarkan oleh Desa atau lembaga adat atas kesepakatan masyarakat untuk mengatur masalah sosial kemasyarakatan tertentu sehingga dicapai kondisi yang baik. Di Desa Jerowaru, Telok Jor, Lombok Timur ada awig-awig yang secara khusus ditujukan untuk melindungi kehidupan nelayan, mengatur kehidupan masyarakat desa agar berperan serta dalam perlindungan alam dari kerusakan dan menjaga budaya lokal dari kepunahan. Misalnya awig-awig tentang perikanan yang di dalamnya mengatur tata kelola dan perlindungan ikan dari aktivitas masyarakat yang biasa berburu ikan dengan caranyetrum dan ngobat (memakai potassium

dll). Di Jambi, aturan sejenis awig-awig juga berlaku bagi masyarakat desa hutan, khususnya bagi Suku Rimba yang hidup desa Taman Bukit Dua Belas. Untuk menjaga keberlanjutan hidup mereka yang bergantung pada alam, masyarakat Suku Rimba memberlakukan aturan yang tidak hanya mengikat masyarakat asli Suku Rimba tapi juga pendatang yang masuk

ke wilayahnya. Norma aturan yang diberlakukan contohnya larangan menebang pohon

yang dikeramatkan. Dampak positif dari larangan ini adalah kelestarian hutan dan jaminan ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Posisi Perdes dalam Sistem Perundang-Undangan

Dalam perkembangan terkini tidak sedikit desa di banyak daerah berinisiatif membuat Peraturan Desa. Banyak pula desa-desa menginisiasi aturan adat distatuskan menjadi Peraturan Desa. Terlebih ketika gerakan masyarakat sipil mendorong otonomi desa semakin menguat. Banyak ragam urusan yang diatur. Ada yang mengatur tentang pungutan desa, retribusi pasar desa, kebersihan dan kesehatan lingkungan, BUM Desa, pemakaman dan perencanaan pembangunan desa. Desa Kawunganten di Kabupaten Cilacap mengeluarkan Peraturan Desa tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan. Desa Sarimahi di Kabupaten Bandung membuat Perdes tentang retribusi pasar desa. Di Desa Krandegan Kabupaten Kebumen menetapkan Perdes tentang perlindungan buruh migran dan keluarga buruh migran di desa. Yang paling banyak adalah Peraturan Desa tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa), Rencana Kerja Pemerintahan Desa (RKP Desa) dan Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDesa).

Munculnya inisiatif peraturan desa tersebut memunculkan perbincangan publik yang secara umum mepersoalkan statusnya dalam kerangka hukum Indonesia. Terlebih saat pemerintah mengesahkan UU No. 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Sebagian ahli hukum tata negara berpendapat, Peraturan Desa bukan tergolong peraturan perundang-undangan. Misalnya Jimli Assidiqie. Menurut Jimli, penyebutan Peraturan Desa telah menempatkan jenis peraturan ini ke dalam sistem hukum perundang-undangan

1 Dati yaitu orang-orang yang menjalankan tugas untuk kepentingan raja-raja selaku pemimpin pemerintahan dari negeri

bersangkutan dimana pekerjaan dilakukan tanpa menerima upah. Ada juga yang mengartikan dati sama dengan pajak/kewajiban.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

nasional Indonesia. Nomenklatur yang digunakan merujuk pada logika pemerintahan NKRI secara umum, sehingga menyebabkan timbulnya penyeragaman bentuk Perdes. Bentuk produk hukum Perdes yang meniru bentuk produk hukum peraturan perundang-undangan, menurutnya kurang mengakui eksistensi desa dan masyarakat desa. Jimli menyarankan peraturan di desa cukup diserahkan kepada Desa dan selanjutnya diurus oleh Desa dalam bentuk kesepakatan yang bebas dan beragam. Hierarki atau tata urutan produk hukum dari tertinggi ke yang terrendah menurut UU No. 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pasal (7)sebagai berikut:

UUD

1945 TAP MPR UU/Perpu Peraturan Pemerintah Peraturan Presiden Perda Provinsi
1945
TAP
MPR
UU/Perpu
Peraturan
Pemerintah
Peraturan Presiden
Perda Provinsi

Perda Kabupaten/Kota

Dari uraian di atas jelas didapatkan pengertian bahwa Peraturan Desa tidak dilegitimasi atau diakui sebagai bagian dari hierarki peraturan perundang-undangan. Meski demikian, masih dalam UU No. 12 Tahun 2011 tersebut Peraturan Desa tetap diakui sebagai keberadaannya. Jika ditafsirkan pasal 8 ayat (2) UU No. 12 Tahun 2011 dapat diambil pengertian bahwa Peraturan Desa diakui keberadaannya sebagai produk hukum dan memiliki kekuatan hukum sepanjang diperintahkan (didelegasikan) oleh Peraturan Perundang-undangan di atasnya atau dibentuk berdasarkan kewenangan subjek pelaku pembuatnya, dalam hal ini Desa. Jadi, sebelum UU Desa diputustetapkan sebagai Undang-Undang pada 18 Desember 2013 lalu, posisi Peraturan Desa dalam struktur peraturan perundang-undangan nasional tidak memiliki dasar legitimasi Undang-Undang.

Setelah UU Desa lahir, apalagi di dalamnya memuat sejumlah norma yang memerintahkan ataupun mengakui desa untuk memproduksi Peraturan Desa, secara otomatis Perdes mendapatkan pendasaran hukum. Salah satu norma tersebut misalnya pasal 1 angka 7 UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa disebutkan “Peraturan Desa adalah peraturan perundang- undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa”. Pendasaran hukum lebih lanjut Peraturan Desa sebagai bagian dari produk perundang-undangan, ditindaklanjuti dengan lahirnya produk hukum turunan UU Desa. Contohnya pada Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2015 Tentang Peraturan

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Pelaksanaan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa. PP ini memuat norma pengaturan Peraturan Desa tentang i) RPJM Desa, ii) RKP Desa, iii) APB Desa, iv) Pendirian BUM Desa, v) Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan Desa, vi) Pungutan, vii) Organisasi Pemerintah Desa, viii) Pengelolaan kekayaan milik desa ix) perencanaan, pemanfaatan dan pendayagunaan aset desa dan tata ruang dalam pembangunan kawasan perdesaan.

Pasang Surut Hubungan Pemerintah dengan Desa

Paling tidak ada tiga sudut pandang yang akan membayang dalam pikiran ketika membincang tentang Desa. secara sosiologis Desa adalah kesatuan hukum masyarakat atau sekumpulan penduduk yang mendiami suatu wilayah tertentu. Pada umumnya kesatuan penduduk tersebut saling memiliki pertalian darah. Dari sudut pandang ekonomi, Desa identik dengan kesatuan penduduk yang memiliki cara yang khas (sistem ekonomi tradisional) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan produksi ekonominya. Pada umumnya bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan. Dari aspek politik, maka Desa diidentikan dengan kesatuan masyarakat berpemerintahan atau sewbagai sebuah organisasi yang di dalamnya terdapat struktur kekuasaan dan kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri.

Dari segi etimologi, banyak ragam untuk menyebut Desa. Desa identik dengan Jawa. Orang Kalimantan menyebut Desa dengan Benua. Penduduk Aceh menyebutnya Gampong. Di Sumatera Selatan, Desa disebut Marga, orang Sumatera Barat menyebutnya Nagari, di Maluku disebut Negeri dan bagi orang Sulawesi Desa disebut Kampung. Pemimpin lokalnya pun memiliki sebutan yang berbeda. Sebagai contoh, di Jawa kepala desa dulu akrab dengan sebutan lurah. Di Sumatera Barat disebut wali nagari, di Maluku disebut raja. Di Aceh kepala desa disebut geuchik.

Dalam lintas sejarah nasional Indonesia, di masa kolonialisme menyelimuti ibu pertiwi, terlebih saat VOC menguasai geopolitik nasional Indonesia yang pada saat itu belum berbentuk negara,Desa tidak mendapat perhatian khusus. VOC lebih memilih berhubungan secara langsung dengan penguasa politik dan wilayah di atas raja atau bupati pribumi. Pendekatan kekuasaan ini bertujuan untuk membangun efektifitas penguasaan VOC dalam mengakumulasi modalnya. Jumlah raja atau bupati yang relatif sedikit daripada jumlah kepala desa, dalam hitungan ekonomi politik pasti lebih efisien. Dengan memegang kekuasaan para raja atau bupati pribumi, maka secara tidak langsung VOC akan dapat menggerakan kepala desa menjalankan misi dan kepentingan VOC. Melalui raja atau bupati pribumi, VOC memerintahkan kepala desa untuk bekerja bersama perangkatnya mengumpulkan hasil bumi seperti kopi, beras, lada, cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Statusnya sebagai pajak masyarakat kepada negara. Jadi, tali kendali kekuasaan secara nasional terhadap Desa yang sesungguhnya bukan di tangan para raja, tapi di tangan VOC, atau dalam sebutan orang kala itu “Kompeni”. Dengan cara ini, Kompeni memperoleh tiga keuntungan politik sekaligus. Pertama, berhasil memecah konsentrasi konsolidasi antarraja-raja di Nusantara. Kedua, menggerakkan sumber daya desa tampa harus membangun hubungan intruksional langsung dengan desa. Ketiga, secara sosial resistensi masyarakat terhadap VOC relatif kecil, karena pendekatan ini sebenarnya menghadapkan raja dengan Desa dalam relasi

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

yang konfliktual.

Pola pemanfaatan desa untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi dan politik para penjajah yang pernah masuk ke Indonesia sebenarnya tidak hanya terjadi di masa kekuasaan VOC saja. Tapi juga di masa pendudukan Jepang atas Indonesia. Dalam politik kebijakan berikutnya, ternyata Kompeni juga membangun sistem di mana sumber daya desa secara langsung dikendalikannya. Penerapan sistem tanam paksa di era kepemimpinan Jenderal Johanes Van de Bosch hingga sistem sewa tanah yang diterapkan oleh para penggantinya kemudian,demi untuk memenuhi kebutuhan keuangan negara (VOC) benar-benar telah menjadikan Desa sebagai alat pemaksa rakyat sekaligus sapi perahan Kompeni. Pemerintah desa dipaksa untuk memungut pajak kepada rakyat hingga memaksa rakyat untuk mengolah tanah dan menyerahkan hasil buminya bukan untuk dikelola pemerintah kerajaan, tapi kepada VOC. Cara-cara ini telah menghancurkan persendian kehidupan politik desa yang seharusnya penuh kearifan dan degradasi sosial. Hingga akhirnya kelaparan serta kemiskinanpun tak bisa dihindari melanda Desa. Derita yang mungkin semakin bertambah ketika Jepang berkuasa struktur cengkeraman kekuasaan diperluas hingga ke level struktur kelembagaan di bawahnya kepala desa (pemerintah desa) yang dalam bahasa sekarang di sebut Rukun Warga (RW) dan Rukun Tangga (RT). Karena, cara pandang penguasa baik yang diperankan VOC maupun Jepang kepada desa yang hanya menempatkan Desa sebagai kaki tangan kekuasaan mereka telah merusak Desa sebagai kesatuan sosial kemasyarakatan. Dengan kata lain wajah sosial Desa dinafikan, kecuali wajah sebagai kaki tangan kekekuasaan.

Dalam perkembangan berikutnya ketika bangsa Indonesia berhasil merengkuh kemerdekaan, Desa mulai mendapatkan pemuliaan. Di awal-awalkemerdekaan, pemerintah waktu itu melalukan penataan desa dengan cara yang demokratis. Pemeirntah mendudukan masyarakat dan pemerintah desa pada posisi yang setara. Dengan kata lain secara kelembagaan maupun individu masyarakat desa memiliki posisi yang sama. Contoh regulasi yang dikeluarkan pada waktu itu untuk tujuan tersebut diantaranya UU No. 13 tahun 1946 Tentang Penghapusan Desa Perdikan dan UU No. 14 Tahun 1946 Tentang Perubahan Tata Cara Pemilihan Kepala Desa (Maschab, 2013). Dengan UU No. 13 Tahun 1946 tersebut tidak lagi ada pengistimewaan terhadap Desa-Desa yang semula berstatus sebagai perdikan. Dengan UU No. 14 Tahun 1946 setiap warga desa memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi kepala desa.

Cara pandang negara mengurus Desa di bawah rezim pembangunan mengalami pergeseran kembali. Pemerintahan yang secara politik waktu itu membutuhkan stabilitas politik hingga ke bawah, telah menjadikan Desa sebagai mesin politik kekuasaan.Pemerintah desa dikondisikan sedemikian rupa menjadi pasukan penguasa yang bergerak dibawah memobilisasi suara partai politik penguasa. Waktu itu partainya adalah Golongan Karya. Cara seperti ini telah mengerdilkan peran dan fungsi Desa yang seharusnya menghadirkan peran negara sebagai pelayan publik di level terdepan, berubah menjadi mesin pendulang suara partai politik. Penggeseran posisi Desa yang hanya dilihat sebagai perpanjangan pemerintahan supradesa terjadi ketika pemerintahan Soeharto memberlakukan UU No. 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa. Tak hanya itu, UU No. 5 Tahun 1979 meminggirkan hak-hak masyarakat lokal dan mengingkari keberagaman desa di Indonesia, termasuk mensentralisasi pengelolaan desa. Selama hampir 20 tahun sebelum akhirnya UU No. 22 Tahun 1999 lahir,

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Desa tidak memiliki kewenangan sama sekali untuk mengurus rumah tangganya karena dominasi pengaturan oleh negara. Demokrasi kerakyatan desa hilang. Setelah UU No. 22 Tahun 1999 lahir Desa menerima ruang lebih longgar karena UU ini mengembangkan konsep otonomi desa (local self government). Sayangnya belum lagi berjalan optimal, UU tersebut sudah diganti dengan UU No. 32 Tahun 2004 yang menutup kembali ruang otonomi masyarakat dan desa. Akhirnya, pengelolaan desa yang semu dijernihkan kembali melalui UU No. 6 Tahun 2014 tadi.

UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa atau sering disebut UU Desa mengembalikan cara pandang negara kepada keragaman desa. Dengan kata lain UU Desa menekankan pengakuan (rekognisi) atas keberagaman desa pada urutan terdepan sebagai konsekuensi fakta sejarah adanya 250 kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai berbagai sebutan namaseperti disebut di atas. UU Desa yang ditetapkan akhir 2013 lalu tersebut juga memuat azas subsidiaritas dan memposisikan kedudukan desa tidak lagi sebagai sub kabupaten. Dengan azas ini, desa memiliki kewenangan untuk mendefinisikan diri, memetakan apa permasalahan, mengidentifikasi potensi hingga mengambil keputusan kebijakan untuk mengurus rumah tangganya sesuai dengan kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan desa berskala lokal. Lain dari pada itu untuk mendukung realisasi kewenangan desa membangun negara RI mulai dari desa, UU Desa mengembangkan hubungan pemerintah-desa berdasarkan hak keuangan desa. Realisasinya adalahNegara mengalokasikan Dana Desa (DD) yang bersumberkan APBN dan Alokasi Dana Desa (ADD) yang bersumberkan APBD. UU Desa menempatkan DD bukan sebagai program pemerintah, tapi sebagai bentuk pengakuan Negara atas hak desa yang harus dikeluarkan pemerintah setiap tahun anggaran. Dengan perubahan mutakhir ini, berarti pemerintah dan desa memiliki hubungan yang lebih proporsional. Desa tidak lagi menjadi halaman belakang NKRI tapi halaman depan.

Keterpaduan Antar Regulasi Membangun Desa

Secara mandatory, sesuai dengan UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa, pengurusan Desa seharusnya dipegang oleh satu Kementerian yang secara khusus berkait dengan urusan Desa. Namun fakta politik saat ini menghendaki adanya dua Kementerian yaitu Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi. Keduanya sama-sama berwenang mengurus desa. Bedanya, Kemendagri mengurus pemerintah dan pemerintahan desa, sementara Kemendesa mengurus pembangunan dan pemberdayaan kemasyarakatan desa. Menindaklanjuti kewenangan tersebut, pemerintah telah mengeluarkan dua produk hukum turunan UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Dua produk hukum tersebut yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No. 43 Tahun 2015 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa yang kini sudah diganti menjadi PP No. 47 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2015 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa serta PP No. 60 Tahun 2015 Tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang kini juga sudah dirubah menjadi PP No. 22 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan No. 60 Tahun 2015 Tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Belanja Negara.

Kedua Kementerian tersebut juga mengeluarkan produk hukum turunan dari kedua PP tersebut. Kemendagri mengeluarkan Permendagri No. 111 Tahun 2015 Tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa, Permendagri No. 112 Tahun 2015 Tentang Pemilihan Kepala Desa, Permendagri No. 113 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa dan Permendagri No. 114 Tahun 2015 Tentang Pembangunan Desa. Kemendesa mengeluarkan Permendesa, PDT dan Transmigrasi No. 1 Tahun 2015 Tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa, Permendesa, PDT dan Transmigrasi No. 2 Tahun 2015 Tentang Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa, Permendesa, PDT dan Transmigrasi No. 3 Tahun 2015 Tentang Pendampingan Desa, Permendes, PDT dan Transmigrasi No. 4 Tahun 2015 Tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa, Permendesa, PDT dan Transmigrasi No. 5 Tahun 2015 Tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2015 serta Permendesa, PDT dan Transmigrasi No. 6 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Desa, Pembangunan Daerah tertinggal dan Transmigrasi.

Tabel. Produk-Produk Hukum

Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi Terkait dengan Implementasi UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Terkait dengan Implementasi UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa 64 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Utrecht (1953) berpendapat bahwa hukum diciptakan untuk menertibkan masyarakat. Oleh karena itu hukum diciptakan sebagai alat pendorong agar ketertiban hidup manusia dapat diraih. Kehadiran UU Desa, dalam perspektif hukum tidak lain untuk mengatur tata kelola desa yang selama ini tidak menciptakan order yang berpihak kepada desa. UU Desa hadir menyediakan instrumen aturan yang berfungsi mendorong peran negara merekognisi desa sebagai entitas NKRI. UU Desa juga berpretensi memberikan perlindungan sekaligus kewenangan kepada desa untuk mengurus rumah tangganya sesuai dengan dimensi asal- usul dan skala kewenangannya.

Tantangan pembuatan regulasi terletak pada pertama suasana kebatinan kedua kementerian yang diliputi polemik penguasaan urusan kewenangan desa. Kedua, aturan norma yang rinci dan problem kohesifitas antar regulasi. Sejak masa pembahasan RUU Desa, para policy maker dan pegiat advokasi RUU Desa telah memperkirakan akan adanya tantangan baru penyiapan regulasi turunan UU Desa. Aturan yang detail berpotensi mempersempit prakarsa dan ruang pengambilan keputusan bagi desa (detail is devil). Sementara ketidaksinkronan regulasi satu dengan lainnya berpotensi menyebabkan masyarakat menderita apa yang disebut informasi asimetris (asymmetric information).

Tantangan tersebut nampaknya terjadi. Contohnya, PP No. 47 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2015 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa tidak terpadu dengan UU Desa. PP No. 47 Tahun 2015 mengandung norma/pasal yang menegasikan nomenklatur UU Desa dan PP yang digantikannya. Pasal tersebut misalnya bagian ketentuan umum pasal 1 ayat (14). Pada pasal 1 ayat (14) PP No. 43 Tahun 2015 berbunyi “Menteri adalah menteri yang menangani desa”. Ketika PP No. 43 Tahun 2015 berganti menjadi PP No. 47 tahun 2015, ketentuan pada pasal 1 ayat (14) ini dihapus. Penghapusan pasal 1 ayat (14) dalam PP No. 47 tahun 2015 membawa konsekuensi yang signifikan terhadap tata urusan desa. Pembagian urusan desa ke dalam dua institusi Kementerian secara politik jelas telah membelah desa. Desa kehilangan cantolan Kementerian yang secara khusus mengurus desa. Padahal UU Desa tidak mendikotomikan Desa ke dalam dua entitas pemerintah desa dan warga masyarakat.

Sebagian narasi tentang tumpang tindih antar regulasi pengaturan desa di atas tentu perlu segera mendapat respon. Terlebih, agenda pelaksanaan UU Desa tidak hanya mensyaratkan ketercukupan kapasitas dan kepatuhan pemerintah desa dan masyarakat desa terhadap berbagai jenis aturan yang dikeluarkan pemerintah. Tapi juga membutuhkan kelembagaan aturan yang mendukung tercapainya tujuan diundangkannya UU Desa. Friedrich Karl von Savingny pernah menyatakan bahwa hukum tumbuh dan berkembang dari masyarakat, hukum diproduksi dari pengalaman masyarakat berdasarkan karakter masyarakat itu sendiri. Karenanya produk hukum yang baik adalah hukum yang dijiwai oleh kebutuhan masyarakatnya, bukan sekadar memenuhi kebutuhan dan kepentingan para pembuat kebijakan dan peraturannya.

Berdasarkan pokok-pokok masalah dan pemikiran di atas, tentu perlu dilakukan perlakuan cara berfikir dan bertindak dalam kerangka penyempurnaan atas regulasi-ragulasi yang sudah ada di masa mendatang. Di sisi lain juga diperlukan kearifan semua pihak yang secara hukum terikat ke dalam regulasi tersebut untuk menjalankan norma aturan dengan

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

mengenyampingkan kepentingan pragmatis individu dan kelompok, sehingga tercipta pelaksanaan UU Desa yang senafas dengan harapan Desa. Terlepas dari kekurangan kadar keterpaduan antarregulasi turunan UU Desa di atas, pada dasarnya pembuatan regulasi baik yang diperankan oleh Kementerian Dalam Negeri maupun Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi adalah bagian dari ikhtiar “memuliakan dan memperkuat desa”. perlu digarisbawahi di sini, bahwa pemerintah saat ini berkomitmen dan berjuang mewujudkan harapan UU Desa dan Nawacita. []

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PRODUK HUKUM DESA

Moch Sodiq

Pendahuluan Desa, sesuai dengan penjelakasan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, adalah salah satu bentuk komunitas adat yang keberadaannya diakui dan dihargai, karena desa sudah ada sebelum Negara Kesatuan Republik indonesia ini terbentuk. Undang-Undang Desa ini menjadi pengakuan bahwa Desa adalah komunitas yang mampu mengatur diriny sendiri.Keberadaan Desa wajib tetap diakui dan diberikan jaminan keberlangsungan hidupnya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa yang memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan UUD 1945 perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju,mandiri dan demokratis sehinga dapat menciptakan landasan yang kukuh dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera untuk menuju Desa yang “baldatun thoyyibatun warobbun ghofur”.

Desa juga merupakan entitas terdepan dalam segala proses pembanguan bangsa dan Negara, hal ini menyebabkan Desa memilik arti yang sangat strategis sebagai basis penyelenggaraan pelayanan public dan memfasilitasi pemenuhan hak-hak publik rakyat lokal. Sejak masa penjajahan Hindia Belanda sekalipun, pemerintah kolonial telah menyadari peran strategis desa dalam konstelasi ketatanegaraan masa itu.Disamping itu, Desa menjadi arena politik paling dekat bagi relasi antara

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

masyarakat dengan pemegang kekuasaan (perangkat Desa). Di satu sisi, para perangkat Desa menjadi bagian dari birokrasi Negara yang mempunyai daftar tugas kenegaraan, yakni menjalankan birokrasi di level Desa, melaksanakan program-program pembangunan memberikan pelayanan administrasi kepada masyrakat Desa. Tugas penting Desa adalah memberi pelayasnan administrasi (surat-menyurat) kepada warga/masyarakat Desa.

Lahirnaya Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014Tentang Desa berserta turunannya membawa kabar gembira bagi Desa, akan tetapi kabar tersebut sepertinya hanya dimaknai dan dipahami secara sempit oleh para pemangku kepentingan di Desa, hanya dipahami adanya pengucuran dana dari berbagai sumber ke Desa, baik dana yang berasal dari Pemerintah Pusat berupa Dana Desa, Pemerintah Provinsi berupa Bantuan Keuangan Desa, Pemerintah kabupaten/Kota berupa Alokasi dana Desa (ADD) serta alokasi pendapatandaerah dan retribusi daerah, dari pihak eksternal berupa hibah dan sumbangan lain yang tidak mengikat dari pihak ketiga maupun dari sumber internal berupa pendapatan asli Desa dan lain-lain pendapatan Desa yang sah dan halal. Padahal dengan adany Undang-Undang Desa beserta turunannya tersebut dikandung maksud Desa diberikan kesempatan untuk menjadi berdaya, sejahtera, dan mandiri. Hal ini dikarenakan Undang-Undang Desa beserta turunannya tidak hanya mengatur mengenai keuangan Desa saja,akan tetapi juga mengatur pembuatanperaturan di Desa, pembanguan desa dan pembangunan kawasan perdesaan, administrasi desa, aset Desa, dan Badan Usaha Milik Desa.

Setelah kemerdekaan, sebgai bentuk pengakuan terhadap desa, eksistensi Desa tetap dipertahankan. Hal ini tercermin dengan adanya pengaturan desa melalui berbagai peraturan perundang-undangan, antara lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 18Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, Undang- Undang Nomor 19 Tahun 1965 tentang Desa Praja Sebagai Bentuk Peralihan Untuk Mempercepat Terwujudnya Daerah Tingkat III di Seluruh Wilayah Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dan terakhir dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang kemudian Bab XI pasal 200 sampai dengan pasal 216 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah khususpasal-pasal yang mengatur tentang Desa dikeluarkan dari Undang- Undang tersebut,diatur dengan Undang-Undang yang tersendiri yang mengatur khusus tentang Desa yang disebut dengan Undang-Undang Desa, dan pada tanggal 15 Oktober 2014disyahkanlah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa tersebut.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Dalam pelaksanaannya, pengaturan mengenai Desa tersebut agar dapat mewadahi segala kepentingan dan kebutuhan masyarakat Desa yang hingga saat ini sudah berkembang menjadi 74.754 Desa dan 8.431 Kelurahanyang tersebar di 7.165 kecamatan di 416 kabupaten di 98 kota di 34 provinsi (Permendagri nomor 56 tahun 2015 tentang Kode dan Tata Wilayah Administrasi Pemerintah). Selain itu, pelaksanaan pengaturan Desa yang selama ini berlaku sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, terutama antara lain menyangkut kedudukan masyarakat hukum adat, demokratisasi, keberagaman, partisipasi masyarakat, serta kemajuan dan pemerataan pembangunan sehingga menimbulkan kesenjangan antarwilayah, kemiskinan, dan masalah sosial budaya yang dapat mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Undang-Undang ini disusun dengan semangat penerapan amanat konstitusi, yaitu pengaturan masyarakat hukum adat sesuai dengan ketentuan Pasal 18B ayat (2) untuk diatur dalam susunan pemerintahan sesuai dengan ketentuan Pasal 18 ayat (7). Walaupun demikian, kewenangan kesatuan masyarakat hukum adat mengenai pengaturan hak ulayat merujuk pada ketentuan peraturan perundang-undangan sektoral yang berkaitan.

Dengan konstruksi menggabungkan fungsi self-governing community dengan local self government, diharapkan kesatuan masyarakat hukum adat yang selama ini merupakan bagian dari wilayah Desa, ditata sedemikian rupa menjadi Desa dan Desa Adat. Desa dan Desa Adat pada dasarnya melakukan tugas yang hampir sama. Sedangkan perbedaannya hanyalah dalam pelaksanaan hak asal-usul, terutama menyangkut pelestarian sosial Desa Adat, pengaturan dan pengurusan wilayah adat, sidang perdamaian adat, pemeliharaan ketenteraman dan ketertiban bagi masyarakat hukum adat, serta pengaturan pelaksanaan pemerintahan berdasarkan susunan asli.

Dengan demikian, tujuan ditetapkannya pengaturan Desa dalam Undang-Undang ini merupakan penjabaran lebih lanjut dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (7) dan Pasal 18B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dalam rangkah penataan desa sebagaimana diatur dalam pasal 7 Undang-Undang Desa bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat melakukan penataan Desa. Penataan tersebut bertujuan untuk mewujudkan efektivitas penyelenggaraan Pemerintahan Desa; mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa; mempercepat peningkatan kualitas pelayanan publik; meningkatkan kualitas tata kelola Pemerintahan Desa;

dan meningkatkan daya saing Desa. Oleh karenanya dalam rangka tertib administrasi penyelenggaraan Pemerintahan Desa perlu dibentuk regulasi di Desa berupa Produk Hukum Desa yang terdiri dari Peraturan Desa, Peraturan Kepala Desa, dan Keputusan Kepala Desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Pengundangan Peraturan Desa dan Peraturan Kepala Desa, tidak lagi dilaksanakan oleh Bagian Hukum Sekretariat Daerah, tapi dilaksanakan oleh Sekretaris Desa dengan membuat Lembaran Desa untuk Peraturan Desa dan Berita Desa untuk Peraturan Kepala Desa,

1. Kewenangan Desa Sesuai kamus besar bahasa Indonesia kewenangan mempunyai arti membuat keputusan, memerintah, dan melimpahkan tanggungjawab kepada orang lain, atau kekuasaan dan hak seseoang atau lembaga untuk melakukan sesuatu atau mengambil keputusan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.Kewenangan Desaadalah kewenangan yang dimilii desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan adat istiadat Desa (pasal 18 UU Desa).

Jenis-jenis kewenangan desa (pasal 19 UU Desa) ada 4 hal yangmeliputi :

1)

Kewenangan berdasarkanasal usul;

Yang dimaksud dengan “hak asal usul dan adat istiadat Desa” adalah hak yang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sedangkan bentuk hak asal usul setiap desa sangat beragam, tetapi secara umum hak asal usul desa meliputi :

 

a. Mengatur dan mengusrustanah desa atau tanah ulayat adat desa.

 

b. Menerapkan susunan asli dalam pemerintahan desa.

c. Melestarikan adat istiadat, lembaga, pranata dan kearifan local.

d. Menyelesaikan sengketa dengan mekanisme adat setempat.

2)

Kewenangan lokal bersekala desa;

Yang dimaksud dengan “kewenangan lokal berskala Desa” adalah kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat Desa yang telah dijalankan oleh Desa atau mampu dan efektif dijalankan oleh Desa atau yang muncul karena perkembangan Desa dan prakasa masyarakat Desa, antara lain tambatan perahu, pasar Desa, tempat pemandian umum, saluran irigasi, sanitasi lingkungan, pos pelayanan terpadu, sanggar seni dan belajar, serta perpustakaan Desa, embung Desa, dan jalan Desa.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Kewenangan lokal berskala Desa diartikan juga sebagai kewenangan yang lahir karena prakarsa dari desa sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan kondisi local desa. Kewenangan ini lahir dari kebutuhan atau kondisi yang dihadapi warga desa sehari-hari.

Urusan atau masalh yang bersekala local atau dekat dengan masyarakat diurus sendiri oleh desa. Sedangkan jenis kewenangan local bersekala desa bias sangat beragam tergantung kondisi masing-masing desa. Contohnya :

a. Bidang pelayanan dasar :posyandu, sanggar seni, perpustakaan desa, penyediaan air beesih.

b. Bidang sarana dan prasarana : jalan desa, jalan usaha tani, rumah ibadah, sanitasi, irigasi tersier, dll.

c. Bidang ekonomi : pasar desa, lumbung pangan, tambatan perahu, wisata desa, pelelangan hasl pertanian dan perikanan.

d. Sumber daya alam : hutan rakyat, hutan bakau, dll.

Kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah

Daerah Kabupaten/Kota; dan 4) Kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan Diamana pelaksanaan kewenangan berdasarka asal usul dan kewenangan lokal bersekala desa diatur dan diurus sendiri oleh Desa, ini merupakan pengakuan Negara terhadap keberadaan desa, pemberian kewenangan tersebut bertujuan untuk memunculkan inisiatif positif dari desa sendiri untuk menjadi desa mandiri sesuai dengan cita-cita dan tujuan Undang-Undang Desa.

3)

Sedangkan Pelaksanaan kewenangan yang ditugaskan dan pelaksanaan kewenangan tugas lain dari Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota diurus oleh Desa.

Lebih lanjut baca Permendesa Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Bersekala Desa.

2. Jenis-Jenis Produk Hukum Desa Jenis produk hukum desa atau yang disebut jenis peraturan di desa (pasal 69 ayat (1) UU Desa) dan Peraturan tersebut dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (ayat(2)), ada 3 jenis yaitu :

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

1)

Peraturan Desa (Perdes); Peraturan Desa adalah merupakan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawarata Desa (BPD). Peraturan Desa berisi materi pelaksanaan kewenangan Desa dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.Peraturan Desabersifat umum sehinga mengatur segala hal yang menjadi kewenangan desa dan juga mengikat semua orang yang berada dalam lingkup desa.Peraturan Desa harus mengindahkan batasan ataupun larangan yang ditentukan oleh peraturan yang lebih tinggi derajatnya berdasarkan hirarki peraturan. Peraturan Desa merupakan kerangka hukum dan kebijakan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa adalah berjalan proses penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang partisipatif, akuntabel, transparansi dan berkeadilan. Pembangunan Desa adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.Pembinaan masyarakat Desa adalah upaya meningkatkan kinerja kelembagaan Desa adlah upaya menigkatkan kinerja kelembagaan Desa dan masyarakat Desa.Pemberdayaan masyarakat desa adalah endorong adanya kemandirian pada masyarakat Desa.

Contoh : Peraturan Desa Jatilot Nomor 1 Tahun 2015, Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun Anggaran 2015

2)

Peraturan Bersama Kepala Desa; Peraturan Bersama Kepala Desa merupakan peraturan yang ditetapkan oleh Kepala Desa dari dua desa atau lebih yang melakukan kerja sama antar desa dan bersifat mengatur. Peraturan Bersama Kepala Desa merupaka perpaduan kepentingan Desa masing-masing dalam kerja sama antar Desa, contoth pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMD). Peraturan bersama Kepala Desa berisi materi kerja sama Desa. Peraturan Bersama Kepala Desa disebarluaskan dan diberlakukan kepada masyarakat desa masing-masing. Peraturan yang dikeluarkan oleh Kepala Desa yang mempunyai fungsi sebagai peraturan pelaksana dari Perdes ataupun pelaksanan dari peraturan yang lebih tinggi.Peraturan Kepala Desa hanya dapat mengatur hal-hal yang diperintahkan secara konkret dalam Perdes. Karena itu, tidak boleh mengatur hal yag tidak diperintahkan ataupun dilarang oleh Perdes. Ini merupakan salah satu bentuk pembatasan terhadap kekuasaan yang dimiliki oleh kepala Desa.Sedangkan pada posisinya sebagai pelaksana peraturan yang lebih tinggi, Perdes memuat materi yang mengatur kewenangannya atau materi yang diperintahkan atau didelegasikan dari peraturan yang lebih tinggi.Peraturan Kepala Desa tetap saja

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

dapat mengatur materi yang tidak ditentukan dalam Perdes, namun materi itu harus tetap diperintahkan oleh peraturan yang lebih tinggi. Dengan demikian Peraturan Kepala Desa merupakan salah satu peraturan yang “lebih bebas” dalam menentukan substansi yang akan diaturnya, namun tetap harus mempunyai dasar hokum dalam pengaturan materi tersebut.

3)

Peraturan Kepala Desa; Peraturan Kepala desa adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa yang bersifat mengatur dalam rangka melaksanakan Peraturan Desa dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.Peraturan Kepala Desa berisi materi pelaksanaan Peraturan Desa, Peraturan Bersama Kepala Desa, dan tindak lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Contoh : Peraturan Kepala Desa Jatilor, Nomor 1 Tahun 2015, Tentang Sewa/Lelang Tanah Kusutan Eks Bengkok Sekretaris Desa, Kepala kaur Umum dan Kepala kaur Keuangan Desa Jatilor Kecamatan Godong kabupaten Grobogan Tahun 2015.

3. Mekanisme Pengambilan Keputusan Mekanisme pengambilan keputusan pemerintan Desa, sesuai pasal 54 Undang-Undang Desa bahwa pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah Desa yang merupakan forum pertemuan dari seluruh pemangku kepentingan yang ada di Desa, termasuk masyarakatnya, dalam rangka menggariskan hal yang dianggap penting dilakukan oleh Pemerintah Desa dan juga menyangkut kebutuhan masyarakat Desa.Dimana hasil dari musyawarah tersebut menjadi pegangan bagi perangkat Pemerintah Desa dan lembaga lain dalam pelaksanaan tugasnya.

Yang dimaksud dengan “unsur masyarakat” adalah antara lain tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, perwakilan kelompok tani, kelompok nelayan, kelompok perajin, kelompok perempuan, dan kelompok masyarakat miskin.

Hal yang diangap penting oleh Pemerintah Desa yang harus diputuskan dalam musyawarah Desa :

Contoh : penataan Desa, perencanaan Desa,kerja sama Desa, rencana investasi yang masuk ke Desa, pembentukan Badan Usaha Milik Desa, penambahan dan pelepasan Aset Desa, dan kejadian luar biasa, musyawarah tersebut dilaksanakan paling kurang sekali dalam 1 (satu) tahun, dan dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

4. Hubungan Peraturan Desa Terkait Produk Hukum Lainnya Hubungan Peraturan Desa terkait produk hukum lainnya adalah hubungannya sangat erat sekali, karena Peraturan Desa adalah produk hukum tingkat desa yang ditetapkan oleh Kepala Desa bersama Badsan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa. Peraturan desa dibentuk dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa, dengan demikian maka pemerintahan desa harus merupakan penjabaran lebih lanjut dari Undang- Undang Desa berserta turunannya atauperaturan-peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi serta harus memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat desa setempat dalam upaya mencapai tujuan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat jangka panjang, menengah dan jangka pendek. Dengan berlakunya Undang-Undang Desa menunjukkan bahwa peraturan Desa sebagai produk hukum Desa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan pada saat masih berlakunaya PP Nomor 72 tahun 2005 karena perauran desa merupakan bagian dari peraturan daerah jika dilihat berdasarkan hirarki dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Peraturan desa tidak lagi termasuk hirarki perundang-undangan, akan tetapi status peraturan desa masih terdapat dalam peraturanperundang-undangan, Peraturan Desa dibentuk dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan Desa.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PB 3 Sistem Pembangunan Desa Dan Partisipasi Masyarakat
PB
3 Sistem Pembangunan Desa
Dan Partisipasi Masyarakat
PB 3 Sistem Pembangunan Desa Dan Partisipasi Masyarakat Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 3.1. Musyawarah Desa dan Peran Masyarakat Desa

DESA SPB 3.1. Musyawarah Desa dan Peran Masyarakat Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1.
DESA SPB 3.1. Musyawarah Desa dan Peran Masyarakat Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1.
DESA SPB 3.1. Musyawarah Desa dan Peran Masyarakat Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1.
DESA SPB 3.1. Musyawarah Desa dan Peran Masyarakat Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1.
DESA SPB 3.1. Musyawarah Desa dan Peran Masyarakat Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1.

Tujuan

Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:

1. Mampu menjelaskan Musyawarah Desa sebagai bentuk ruang terbuka bagi partisipasi masyarakat sekaligus forum tertinggi pengambilan keputusan.

2. Mampu menjelaskan sifat inklusif dan partisipatif dalam Musyawarah Desa yang partisipatif.

3. Mampu mengidentifikasi hal-hal strategis apa saja yang dapat diputuskan di Musyawarah Desa;

Waktu

2 JPL (90 menit)

Metode

Ceramah, Tanya Jawab, dan Diskusi Kelompok

Media

Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu

Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Proses Penyajian 1. Antarkan peserta untuk memahami tujuan dari pembahasan sub

Proses Penyajian

1. Antarkan peserta untuk memahami tujuan dari pembahasan sub pokok bahasan yang akan dibahas.

2. Aktifkan peserta untuk berbagi pengalaman dan diskusi curah pendapat sekitar musyawarah desa.

Tanyakan pada peserta apakah ada yang punya pengalaman pernah ikut kegiatan musyawarah.

Mintalah kesediaan peserta yang punya pengalaman bermusyawarah untuk menceritakan pengalamannya, bagaimana jalannya sebuah musyawarah.

3. Rangkumlah hasil sharing dan diskusi peserta dengan menjelaskan singkat pokok-pokok pikiran tentang musyawarah.

Pembahasan musyawarah ini mengacu pada UU Desa No 6 Tahun 2014, Pasal 54 dan Permendesa
Pembahasan musyawarah ini mengacu
pada UU Desa No 6 Tahun 2014, Pasal 54
dan Permendesa No.2 Tahun 2015 Tentang
Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme
Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa.

4. Bagilah jumlah peserta ke dalam kelompok kecil. Kemudian berikan beberapa pertanyaan panduan berikut untuk didiskusikan dalam kelompok.

a. Apa artinya musyawarah desa (atau yang disebut dengan nama lain)?

b. Mengapa harus ada musyawarah desa?

c. Siapa yang hadir dalam musyawarah desa?

d. Apa saja yang dibahas dalam musyawarah desa?

e. Apa artinya musyawarah diselenggarakan dengan

Diskusi ini sekaligus membantu peserta mengingat kembali materi sub pokok bahasan sebelumnya.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

prinsip partisipatif, transparan, akuntabel dan demokratis?

5. Berikan kesempatan pada kelompok untuk memaparkan hasil diskusinya. Berikan juga kesempatan kepada kelompok Lain untuk menanggapi.

6. Rangkum jawaban-jawaban kelompok dengan menempatkan pada pemahaman yang benar tentang musyawarah desa.

7. Ajak lagi peserta untuk diskusi bersama membahas beberapa hal berikut;

a. Jelaskan dimana azas inklusi dan emansipasi dalam musyawarah desa?

b. Apakah tantangan terberat untuk menjalankan musyawarah sesuai dengan prinsip dan azas yang berlaku?

c. Bagaimana caranya membangun musyawarah desa yang baik, sesuai dengan prinsip dan azas yang berlaku?

8. Akhiri sesi dengan memberikan konfirmasi pada jawaban-jawaban yang benar yang muncul dalam diskusi.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Lembar Informasi no.1 SPB 2.3. Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan

Lembar Informasi no.1 SPB 2.3.

PENDAMPING LOKAL DESA Lembar Informasi no.1 SPB 2.3. Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 3.2. Perencanaan Pembangunan Desa

PENDAMPING LOKAL DESA SPB 3.2. Perencanaan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 3.2. Perencanaan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 3.2. Perencanaan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 3.2. Perencanaan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 3.2. Perencanaan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu

Tujuan

Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:

1. Mampu menjelaskan rencana pembangunan desa sebagai tahap strategis untuk memperjuangkan usulan pembangunan desa yang pro rakyat.

2. Mampu menjelaskan pengertian pokok tentang pembangunan desa yang pro rakyat.

Waktu

3 JPL (135 menit)

Metode

Ceramah, Tanya Jawab, dan Diskusi Kelompok

Media

Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu

Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Proses Penyajian 1. Mulailah dengan menjelaskan materi yang akan dibahas dan

Proses Penyajian

1. Mulailah dengan menjelaskan materi yang akan dibahas dan tujuan yang akan dicapai dalam sesi belajar bersama kali ini.

2. Ajak peserta untuk aktif berdiskusi bersama dengan topik tentang perencanaan.

a. Apa arti sebuah perencanaan?

b. Apa pentingnya perencanaan?

c. Hal-hal penting apa saja yang harus diperhatikan dalam membuat sebuah perencanaan?

d. Apa yang akan terjadi kalau sebuah pembangunan tanpa didahului dengan perencanaan?

3. Rangkum pokok-pokok hasil diskusi peserta dan kaitkan dengan topik perencanaan pembangunan desa.

4. Bagilah jumlah peserta ke dalam 3 kelompok. Berilah tugas simulasi penyusunan Rencana Pembangunan Desa. Setiap kelompok bertugas membagi peran anggotanya; 1 (satu) peserta sebagai Kepala Desa, 3 (tiga) orang sebagai anggota BPD, peserta lainnya sebagai unsur kelompok masyarakat. Setiap kelompok bertugas membuat perencanaan yang pro rakyat;

a. Merumuskan visi desa 6 tahun ke depan;

b. Menentukan dari mana mendapatkan dana untuk anggaran pembangunan desa setiap tahun.

c. Isi jumlah dana yang diperoleh sebagai PAD setiap tahun.

d. Menentukan 5 prioritas pembangunan yang berpihak pada kebutuhan rakyat.

e. Hitung juga jumlah dana yang dibutuhkan untuk membiayai 5 prioritas pembangunan.

Mulailah mengajak memahami dari pengertian umum atau pengalaman praktis para peserta.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

5. Selesai simulasi musyawarah dan perencanaan, berilah kesempatan kepada setiap Kepala Desa kelompok untuk menyampaikan hasil musyawarah.

6. Mintalah semua peserta untuk mencermati secara kritis hasil kerja kelompok;

a. Kelompok manakah yang rencana pembangunannya masuk akal paling masuk akal? Apa dasar penilaiannya?

b. Kelompok manakah yang prioritas pembangunannya paling memenuhi kebutuhan masyarakat? Apa alasannya?

7. Rangkumlah hasil diskusi peserta. Berikan penjelasan tentang beberapa hal penting;

a. Tahap perencanaan sebagai tahap yang strategis dalam proses pembangunan desa.

b. Rencana pembangunan desa yang baik atau ideal?

c. Pembangunan yang perlu diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa

d. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pembangunan desa

8. Akhiri sesi dengan memberikan tekanan pada prinsip- prinsip dasar perencanaan desa harus memiliki tujuan. Bisa digunakan SMART Goals, bahwa perencanaan pembangunan desa harus Specific (jelas wujudnya ), Measureable (terukur) Accountable (dapat dipertanggungjawabkan), Realistic (realistis dan tidak mengawang), Time Bond (ada batas waktunya).

Fasilitator menjadi moderator yang mendorong peserta untuk aktif dan kritis bertanya pada kelompok

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 3.3. Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa

DESA SPB 3.3. Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
DESA SPB 3.3. Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
DESA SPB 3.3. Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
DESA SPB 3.3. Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
DESA SPB 3.3. Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu

Tujuan

SPB 3.3. Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu

Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:

1. Mampu menjelaskan pentingnya pengawasan pembangunan desa sebagai bagian dari azas akuntabilitas (terbuka dan bisa dipertanggungjawabkan)

2. Mampu menjelaskan bahwa selama proses pelaksanaan kegiatan pembangunan harus dibuat mekanisme evaluasi-nya.

3. Mampu menjelaskan perlu adanya mekanisme pengaduan untuk merespon ketidaksesuaian pada proses maupun hasil kegiatannya

Waktu

3 JPL (135 menit)

Metode

Ceramah, Tanya Jawab, dan Diskusi Kelompok

Media

Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu

Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Proses Penyajian 1. Jelaskan sub pokok bahasan serta tujuan sub pokok

Proses Penyajian

1. Jelaskan sub pokok bahasan serta tujuan sub pokok bahasan yang akan disampaikan.

2. Ajak bebarapa peserta untuk berbagi cerita (sharing) tentang pengalaman atau pengamatan peserta dalam pelaksanaan dan pengawasan pembangunan di desa. Pertanyaan berikut bisa dijadikan panduan berbagi cerita.

a. Siapa pelaksana pembangunan di desa?

b. Apakah dalam proses pelaksanaan pembangunan ada proses ‘lelang pekerjaan’?

c. Sudahkah dijadualkan adanya evaluasi pekerjaan dalam proses tahapan pembangunan?

d. Apakah masyarakat desa mendapatkan informasi perkembangan pekerjaan pembangunan?

e. Apakah bahan atau material pembangunan bersumber dari potensi lokal yang ada di desa?

f. Apakah warga desa terlibat dalam pelaksanaan pembangunan tersebut? Berperan sebagai apa saja? Jika tidak ada terlibat, mengapa?

3. Rangkum hasil diskusi bersama dengan kerangka pemahaman tentang pentingnya partisipasi masyarakat dalam mengawal pelaksanaan dan pengawasan pembangunan desa.

salah satu ciri pembangunan desa adalah partisipasi aktif dari masyarakat desa dalam mengawal proses pembangunan
salah satu ciri pembangunan desa adalah
partisipasi aktif dari masyarakat desa dalam
mengawal proses pembangunan agar
pembangunan desa mencapai sasaran yang
diharapkan.

84

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

4. Lanjutkan dengan membagi jumlah peserta ke dalam kelompok kecil untuk kemudian mendisuksikan pemahaman tentang alur proses pelaksanaan pembangunan dan pengawasannya yang ideal menurut peserta.

5. Berilah kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil diskusinya masing-masing.

6. Sambil memberikan catatan atas hasil diskusi kelompok, bantulah peserta memahami prinsip-prinsip penting dalam mengawasi alur pembangunan desa.

Hal yang perlu dikritisi hal- hal sebagai berikut: 1) Desa sebagai subjek pembangunan, maka seluruh warga desa harus berpartisipasi dalam pembangunan, 2) Pelaksana atau Penanggungjawab operasional Pembangunan wajib membuat laporan berkala terhadap kegiatan yang dilakukan, 3) Desa harus memiliki mekanisme komplain dari warga desa, 4) Laporan kegiatan dan keuangan harus dilaporkan kepada masyarakat melalui Pemerintah Desa, 5) Wajib dilakukan adanya evaluasi dan review atas pekerjaan dikaitkan dengan Rencana Kerja Pembangunan tahun depan berikut APB Desa-nya.

Biarkan peserta mencoba mendiskusikan dan menemukan gambaran ideal berdasarkan pengalaman atau pengetahuan mereka sendiri tentang alur pembangunan desa dan pengawasannya.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

7. Akhiri sesi dengan merangkum hasil diskusi dalam kerangka pokok-pokok pikiran tentang prinsip-prinsip dasar Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa, bahwa :

1)

banyak komponen, baik untuk pelaksanaan maupun pengawasan,

2)

membantu terbangunnya sistem pembangunan di desa,

3)

mengambil alih pekerjaan masyarakat, melainkan memberikan pencerahan.

Sistem Pembangunan Desa mencakup

Pendamping Lokal Desa memiliki peran untuk

Pendamping Lokal Desa tidak datang untuk

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 3.4. Penganggaran Pembangunan Desa

PENDAMPING LOKAL DESA SPB 3.4. Penganggaran Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 3.4. Penganggaran Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 3.4. Penganggaran Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 3.4. Penganggaran Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu
PENDAMPING LOKAL DESA SPB 3.4. Penganggaran Pembangunan Desa Tujuan Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan: 1. Mampu

Tujuan

Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:

1. Mampu menjelaskan penganggaran sebagai tahap menentukan perwujudan misi pembangunan desa yang pro rakyat;

2. Mampu menjelaskan sistem penganggaran desa hanya melalui APB Desa;

3. Mampu memberikan pemahaman bahwa kegiatan pembangunan di desa harus berbasis pada APB Desa yang jenis kegiatannya bersumber pada RPJM Desa dan RKP Desa;

Waktu

2 JPL (90 menit)

Metode

Ceramah, Tanya Jawab, dan Diskusi Kelompok

Media

Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu

Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

Sebagai acuan gunakan :

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No. 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Proses Penyajian 1. Jelaskan sub pokok bahasan serta tujuan sub pokok

Proses Penyajian

1. Jelaskan sub pokok bahasan serta tujuan sub pokok bahasan yang akan disampaikan.

2. Ajak bebarapa peserta untuk berbagi cerita (sharing) tentang pengalaman atau pengamatan peserta dalam penganggaran dan keuangan desa. Pertanyaan berikut bisa dijadikan panduan berbagi cerita.

a. Apa yang Anda pahami dan kenali tentang penganggaran di desa dan keuangan desa?

b. Apa saja komponen yang ada dalam keuangan desa?

c. Bagaimana desa mengelola Keuangannya? Siapa yang bertanggungjawab?

d. Apa saja sumber keuangan desa? Pos belanja desa untuk apa saja?

e. Bagaimana dengan akuntabilitasnya?

3. Lanjutkan dengan pemaparan singkat pokok-pokok pikiran tentang Penganggaran Pembangunan Desa yang ideal.

Jelaskan beberapa pokok penting; 1) sumber-sumber keuangan desa, 2) PAD, 3) upaya desa yang tak
Jelaskan beberapa pokok penting;
1) sumber-sumber keuangan desa,
2) PAD,
3) upaya desa yang tak memiliki PAD
4) dan pokok-pokok pengertian lainnya

4. Bagi peserta ke dalam kelompok kecil untuk kemudian mendisuksikan pemahaman tentang alur proses penyusunan anggaran berbasis keuangan desa yang ideal menurut peserta.

Biarkan peserta mencoba mendiskusikan dan menemukan gambaran ideal berdasarkan pengalaman atau pengetahuan mereka sendiri tentang alur pembangunan desa dan pengawasannya.

88

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

5. Fasilitasi diskusi pleno untuk pendalaman temuan diskusi kelompok, dengan fokus pembahasan pada hal berikut:

a. Apakah Desa memiliki Pendapatan Asli Desa ? Jika belum, mengapa?

b. Mengapa dalam pos belanja desa lebih banyak didominasi untuk kegiatan belanja aparat desa?

c. Sudahkah Desa mengakses Dana CSR di perusahaan di desa mereka (kalau ada)? Jika belum, mengapa?

d. Apakah Alokasi APB Desa prosentase anggarannya sudah condong ke pencapaian visi misi desa? Jika belum apa yang harus dilakukan?

APB Desa harus seimbang, antara Pemasukan dengan Belanja, agar pelaksanaan pembangunan menjadi nyata.
APB Desa harus seimbang,
antara Pemasukan dengan
Belanja, agar pelaksanaan
pembangunan menjadi nyata.

6. Akhiri sesi dengan merangkum hasil diskusi dalam kerangka pokok-pokok pikiran tentang prinsip-prinsip dasar Penganggaran Pembangunan Desa, bahwa : 1) Desa harus memiliki Pendapatan Asli Desa; 2) Dana ataupun bantuan dari luar Desa diharapkan lebih merupakan bersifat subsidiaritas; 3) Desa bisa melakukan kerjasama dengan desa lain untuk meningkatkan produksinya dalam rangka mendorong adanya penghasilan asli desa.

Ajak peserta untuk memahami bahwa Desa harus memiliki Pendapatan Asli Desa jika ingin menjadi mandiri (tidak tergantung pada pihak lain.)

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAHAN

BACAAN

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SISTEM PENGANGGARAN DALAM SISTEM PEMBANGUNAN DESA

Oleh S Muslimah (KNPPT)

Terdapat perspektif dan semangat otonomi yang termuat dalam UU Desa No.6 Tahun 2014 yaitu desa mempunyai hak dan kewenangan untuk mengambil keputusan tentang perencanaan dan penganggaran secara mandiri.Dalamprespektif pembangunan desa, posisi sistem penganggaranseperti yang dimuat dalam UU Desa merupakan saranayang harus dipandang sebagai perwujudan amanah rakyat yang teknisnya dilakukan pemerintah desa bagi kemakmuran rakyat, karena rakyat yang memberi kuasa.

Dalam rangka mewujudkan bahwa rakyat benar-benar bersama-sama pemerintah desa dalam sistem penganggaran, pendamping desa lokal mempunyai peran penting untuk memastikan proses penganggarannya berjalan secara partisipatif. Rakyat harus dilibatkan secara aktif dalam proses pembangunan desa untuk mencapai pada titik desa mandiri mulai dari tahap identifikasi masalah dan potensi, penyusunan RKPDesa (Rencana Kegiatan Pemerintah Desa), dan penyusunan APBDesa (Anggaran Pendapatan dan Biaya Desa).

Langkah awal yang harus dilakukan oleh pendamping desa lokal adalah menyiapkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam penganggaran desa. Diantaranya, memahamkan masyarakat tentang makna penganggaran, hubungan anggaran desa dalam kehidupan bernegara, masalah-masalah yang umumnya dihadapai dalam penganggaran, dan apa saja yang harus diutamakan masuk dalam penganggaran. Pemahaman tersebut akan menjadi dasar bagi masyarakat untuk bersama-sama pemerintah desa mengikuti semua tahapan proses penganggaran partisipatif.

Penyusunan anggaran yang dilakukan secara partisipatif sebagai salah satu cerminan diantara lainnya bahwa pembangunan desa dilakukan denganmembukapeluang bagi seluruh warga untuk terlibat (prinsip inklusi), dalam segala bentuk-bentuk musyawarah desa (prinsip demokrasi), dan kemudahan untuk memperoleh informasi bagi masyarakat (prinsip transaparansi).

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Kesesuaian issue strategis dengan kebijakan keuangan desa

Issue strategis dalam sistem pembangunan desa adalah menentukan arah kebijakan anggaran desa yang disusun, didasarkan atas hak dan kewajiban urus diri sendiri (Local Self-Government). Arah tersebut sebagai tujuan pembangunan desa yaitu untuk mencapai kesejahteraan masyarakat desa, dalam bentuk desa mandiri.

Oleh sebab itu, pemerintah desa harus mampu memastikan seluruh tahapan untuk mencapai tujuan dilakukan dengan melibatkan masyarakat.Tahapan tersebut meliputi; (1) membuat peta permasalahan dan potensi desa, (2) penyusunan Rencana Kegiatan Pembangunan Desa (RKPDesa), dan (3) penyusunan Anggaran Pendapatan dan Biaya Desa (APBDesa).

Peta permasalahan dan potensi desa.Merupakan daftar atau gambaran yang disusun bersama- sama masyarakat melalui musyawarah desa untuk mengumpulkan seluruh permasalahan yang dihadapi oleh desa dan masyarakat desa dan seluruh kekayaan desa yang memungkinkan untuk dikembangkan untuk menacapai kesjahteraan masyarakat desa.

Rencana Kegiatan Pemerintah Desa (RKPDesa). Merupakan daftar program-program dan kegiatan- kegiatan yang akan dilakukan oleh pemerintah yang disusun melalui proses musyawarah desa dalam rangka menyelesaikan permasalahan desa dan memanfaatkan secara optimal potensi kekayaan desa.Program dan kegaitan yang termuat dalam RKPDesa sebagai gambaran lengkap arah kebijakan pembangunan desa. Meskipun demikian, program dan kegiatan harus dirangking (prioritisasi) berdasar tingkat kemendesakan dan kemanfaatannya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat banyak (kepentingan publik).

Anggaran Pendapatan dan Biaya Desa(APBDesa).Merupakan daftar pembelanjaan seluruh dana atau penerimaan desa dalam melaksanakan kegiatan prioritas sesuai dengan tingkat kecukupan dana yang disusun melalui musyawarah desa untuk mencapai kesejahteraan masyarakat desa.

Perencanaan dan penganggaran desa merupakan bagian dari susunan kelembagaan desayang pada akhirnya akan menumbuhkan kemandirian desa. Kemandirian yang dimaksud adalah penentuan arah tujuan pembangunan desa yang ditentukan sendiri oleh seluruh masyarakat desa. Oleh sebab itu, program-program pencapaian tujuan, pengalokasian sumberdaya dan sumberdana desa ditetapkan sendiri oleh masyarakat desa, dan pelaksanaan pembangunan desa dijalankan dan dimonitor (dalam pengawasan) sendiri oleh masyarakat desa.

Pembangunan desa setidaknya mempunyai ciri-ciri kunci yang mampu mendorong perilaku positif. Diantaranya; anggaran desa disusun dengan melibatkan seluruh aspek masyarakat, hasil pencapaian (kinerja) pembangunan desa harus mendapatkan umpan balik dari masyarakat desa, hasil pencapaian (kinerja) pembangunan desa dinilai berdasarkan sumberdaya dan sumberdana (biaya-biaya) yang dapat dimonitor (dalam pengawasan) masayarakat, ukuran-ukuran hasil pencapaian (kinerja) pembangunan desa realistik (senyata-nyatanya dan dapat dimengerti oleh masyarakat desa, serta beragam).

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Apa makna penganggaran desa bagi masyarakat desa

Dalam kehidupan sehari-hari, sebuah rumah tangga akan dihadapkan pada kondisi jumlah dana atau pendapatannya terbatas (dalam jumlah tertentu). Oleh sebab itu, setiap rumah tangga harus mengatur atau membelanjakan danayang dimilikinya agar dapat memenuhi kebutuhan yang benar- benar atau harus didanai, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk masa depan keluarganya. Diantaranya kebutuhan untuk; makan, pakaian, biaya listrik, biaya sekolah, dan mungkin tabungan pensiun.Pembelanjaan ini dapat dilakukan dengan perencanaan atau menyisih-nyisihkan dana pada kelompok kebutuhan dalam amplop-amplop terpisah atau dalam kaleng-kaleng terpisah, agar pada saatnya tiba dana yang dibutuhkan tersedia.

Lain halnya bagi sebuah pemerintahan (desa atau kabupaten). Pembelanjaan atas seluruh penerimaan dan atau kekayaanpotensialnya didasarkan pada kebutuhan yang berbeda dengan kebutuhan rumah tangga.Kebutuhan sebuah pemerintahan meliputi; perumahan atau apartemen, hotel atau sederhananya kos-kos-an, pabrik-pabrik, Mall atau sederhanya pasar.Sayangnya, seringkali melupakan nasib kebutuhan petani, tempat-tempat hewan-hewan ternak seperti bebek atau apapun jenisnya.Padahal, para petani inilah yang barangkali pemiliki lahan sebenarnya atau penggarap (buruh) pertanian yang jumlah pekerjanyabarangkali terbanyak dalam sebuah pemerintahan (desa).

Jika sebuah pemerintahan (desa atau kabuaten) mempunyai tujuan untuk mensejahterakan masyarakatnya, masyarakat yang bagian manakah atau jenis apakah yang akan disejahterakan. Bukankah petani atau buruh tani juga bagian dari masyarakat yang harus dihargai keberadaannya dan menjadi bagian tanggung jawab pemerintahan.Bagaimana juga dengan kebutuhan masyarakat lainnya (kaum difabel, para anak jalanan, pengangguran, masyarakat rentan kemiskinan, dan lain- lain)? Jika pemerintah tidak melibatkan mereka secara bersama-sama menentukan nasibnya sendiri, siapakah yang memikirkan kebutuhan mereka, akan kemanakah mereka mencari perlindungan hak dan kewajibannya? Haruskah sebuah kesejahteraan hanya akan menjadi impian saja buat mereka?

Jika kondisi yang ada sebagaimana yang telah dicontohkan, apakah makna penganggaran bagi masyarakat?. Dalam ungkapan sederhana penganggaran dapat jelaskan sebagai proses musyawarah bersama (seluruh aspek masyarakat) dalam rangka membagi-bagi (mengalokasikan) sumberdana (pendapatan atau penerimaan) sesuai dengan pos-pos pembelanjaannya untuk mencapai tujuan mensejahterakan masyarakat dalam jangka waktu tertentu (umumnya 1 tahun atau multi tahun untuk kegiatan yang tidak memungkinkan diselesaikan dalam satu tahun).

Dengandemikian,jikapenganggarandesadikaitkandenganpembangunandesa,makapenganggaran desa hendaknya merupakan perwujudan mekanisme yang berguna untuk memastikan tumbuhnya bentuk hubungan warga dengan pemerintah desa dalam membangun transparansi. Oleh sebab itu, dalam setiap tahapan penganggaran desa, hendaknya masyarakat desa setempat lah yang menjadi aktor atau pemain utamanya dan menjaminbahwa tujuan seluruh aspek masyarakat tersebut akan dicapai seiring dengan tercapaian tujuan pembangunan desa. Dengan kata lain, keberpihakan

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

tujuan penganggaran adalah untuk mencapai tujuan seluruh aspek masyarakat setempat, bukan hanya untuk mencapai tujuan individu-individu tertentu.

Anggaran desa dalam kehidupan bernegara

Desa adalah bagian dari suatu Negara. UU Desa secara tegas mengakui keberadaannya

kontek pengakuan hak asal usulnya dan sejumlah kewenangan desa dalam menjalan mekanisme kepemerintahannya.

dalam

Dalam kaitannya dengan mekanisme penganggaran desa, terdapat hal-hal kunci yang harus menjadi perhatian PLD (pemdaping lokal desa) dalam memfasilitasi penganggaran desa dikaitkan dengan kehidupan bernegara.Diantaranya,waktu pelaksanaan musyawarah desa untuk pengganggaran desa harus memperhatiakan waktu atau jadwal pelaksanaan penganggaran Negara. Demikian halnya berkaitan dengansumber dana penganggaran desa yang ditaksir akan didanai berasal dari pemerintah atau pemerintah daerah. Oleh sebab itu, jadwal atau waktu dan kebutubuhan sumber dana penganggaran desa harus sinkron dengan berjalannya proses penganggaran negara, yaitu mekanisme penganggaran yang terjadi di tingkat pemerintah daerah dan pemerintah.

Penganggaran desa merupakan bagian-bagian atau “keping-keping puzzle” sebuah gambaran penganggaran Negaradianatara bagian-bagian lainnya, dlaam sebuah proses Negara mencapai tujuan mensejahterakan rakyat.Oleh sebab itu, meskipun dalam penyusunan dan penetapan anggaran desa ditentukan sendiri oleh masyarakat desa, menjaga kesesuaian jadwal dan kemungkinan penyediaan sumberdana (dari pemerintah dan pemerintah daerah) dengan mekanisme penganggaran Negara, adalah suatu keharusan untuk dipertimbangkan.

Masalah yang mungkin muncul dalam penganggaran desa

Tahapan penganggaran desa tidak seluruhnya mudah dilakukan oleh seluruh masyarakat. Terdapat beberapa titik yang harus menjadi perhatian PLD (pendamping lapang desa) dalam mengawal mekanisme penganggaran desa.Titik-titik kritis tersebut, secara k khususnya dapat memungkinkan(berpotensi) munculnya permasalahan dalam penganggaran desa. Diantaranya adalah(1) tahap prioritasasi program masyarakat desa, (2) tahap pemenuhan kebutuhan sumberdaya/ sumberdana program yang diprioritaskan, dan (3) penetapan ukuran-ukuran yang realistik atas hasil pencapaian (kinerja) pelaksanaan program yang diprioritaskan.

Prioritisasi program. Titik kritis pertama adalah pada tahap penentuan prioritas program atau kegiatan yang akan dilakukan pada kurun waktu penganggaran, umumnya terjadi pada tahap penyusunan RKPDesa. Tahap inilah yang harus menjadi perhatian utama dan pertama bagi semua pihak, khususnya bagi PLD (pendamping lokal desa), karena prioritisasi program menjadi tumpuan perwujudan pembangunan desa.

Dalam praktiknya proses prioritisasi program seringkali dilawankan atau dihadapkan dengan kehendak pemerataan pembangunan. Padahal, kedua hal terseut (prioritisasi dan pemerataan) merupakan sesuatu yang sangat berbeda dan akan mempunyai hasil pencapaian (kinerja) berbeda. Prioritisasi mendasarkan pada kondisi bahwa kegiatan itu penting dan mendesak untuk dilakukan

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

dengan tujuan kemanfatan untuk orang banyak. Sedangkan, pemerataan ditempatkan pada semua kegiatan dilakukan pada saat yang sama, bahkan untuk pihak-pihak yang sebenarnya belum atau tidak membutuhkan pada saat tersebut. Oleh sebab itu, penganggaran desa dalam sistem pembangunan desa, PLDhendaknya memastikan bahwa proses sebelum penganggaran telah dilakukan dengan prinsip-prinsip yang benar, menjadi sangat penting untuk diperhatikan.Disamping itu, lakukan pengecekan kembali bahwa isi dokumen RKPDesa telah sesuai dengan (bagian dari program dan kegiatan yang termuat dalam) RPJMDesa.

Pemenuhan kebutuhan sumberdaya/sumberdanapembangunan desa.Pendapatan dan kekayaan potensial desa mempunyai keterbatasan dalam jumlah dan penggunaan.Tidak menutup kemungkinan, untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya/sumberdana pemerintah desa membutuhkan pembiayaan dari pihak lain (pemerintah, pemerintah daerah, atau kaum peduli), baik itu berupa hibah/bantuan atau pinjaman.Keseluruhan sumberdaya/sumberdana yang digunakan oleh pemerintah desa dalam upaya untuk membiayai (dibelanjakan) program dan kegiatan pada waktu tertentu disebut dengan penerimaan.

Kecukupan sumberdaya/sumberdana seringkali menjadi masalah utama berikutnya dalam sistem penganggaran desa.Penaksiran kebutuhan sumber pendanaan kegiatan seringkali tidak dapat diyakini perolehannya.Informasi sumber-sumber pendanaan dari pihak luar, khususnya dari pemerintah dan pemerintah daerah seringkali kurang tersosialisasikan di tingkat desa. Oleh sebab itu, PLD (pendamping lokal desa) hendaknya memfasilitasi perolehan informasi tentang sumber- sumber dana dari pemerintah dan pemerintah daerah berkaitan dengan kebutuhan penganggaran desa dalam mekanisme pembangunan desa

Penetapan ukuran-ukuran hasil capaian(kinerja).Masyarakat terlibat dalam proses pembangunan desa secara menyeluruh, dari tahap awal sampai akhir proses (titik pertanggungjawaban) pelaksanaan program dan kegiatan, bahkan sampai pada dampak program dan kegiatan tersebut bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu, agar dapat dilakukan proses pengukuran tingkat pencapaian hasil program dan kegiatan maka secara bersama-sama dengan pemerintah desa masyarakat harus menentukan ukuran-ukuran hasil pencapaian yang nyata, mudah dilakukan dan dipahami.

Penetapan ukuran ini merupakan bagian terakhir yang memungkinkan akanberpotensi menimbulkan permasalahan dalam penganggaran desa. Secara umum, ukuran hasil pencapaian dapat menggunakan angka (kuantitatif), baik dalam satuan mata uang (rupiah) maupun angka-angka target lainnya (misalnya: panjang dan ketebalan jalan yang dibangun, tinggi dan luas jembatan, debit air dalam irigasi, dan lain-lain).Bentuk ukuran lainnya, dapat berupa bukan-angka (kualitatif). Ukuran dalam bentuk kualitatif sangat beragam, umumnya sangat dipengaruhi oleh jenis program dan kegiatan yang dibiayai (dilaksanakan) dalam penganggaran. Misalnya, untuk mengukur pemanfaatan pembangunan PUSTU (Puskesmas Pembantu) dapat menggunakan ukuran berapa sering kegiatan pelayanan dilakukan dalam setiap minggu/bulan, berapa banyak masyarakat dapat dilayani dalam setiap minggu/bulan, tingkat perbaikan kesehatan masyarakat, dan lain-lain.

Pada titik kritis tahapan ini, peran PLD (pendamping lapang desa) menjadi sangat penting untuk memfasilitasi proses penyusunan ukuran hasil pencaiapan. Penggunaan ukuran-ukuran yang berlaku umum sangat dimungkinkan untuk diadopsi (diterapkan dengan penyesuaian pada kondisi desa setempat), untuk mempermudah proses penyusunan dan penetapan ukuran.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Keterkaitan kebijakan anggaran dengan pemenuhan kebutuhan publik

Seluruh pemenuhan kebutuhan publik harus sudah termuat dalam dokumen RPJM Desa, yang secara umum berfungsi sebagai penjamin penentuan arah kebijakan dan strategi pembangunan desa dalam mencapai kesejahteraan masyarakat desa. Kebutuhan publik meliputi; (1) pemenuhan standar pelayanan minimum desa sesuai dengan letak dan ciri khas geografis desa, (2) penanggulangan kemiskinan sesuai dengan karakteristik kemiskinan yang ada di desa yang bersangkutan, (3) pengembangan usaha ekonomi masyarakat desa sesuai dengan kemungkinan pengembangan (potensi) atas kekayaan desadan, (4) pengembangan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan keberdayaan dan pembentukan modal sosial budaya masyarakat desa.

Pemenuhan standar pelayanan minimum desa.

Penanggulangan kemiskinan.

Pengembangan usaha ekonomi masyarakat desa.

Pengembangan sumber daya manusia.

Jelas lah bahwa penganggaran desa hendaknya ditujukan untuk merealisasikan pemenuhan kebutuhanpublik. Peran PLD (pendamping lokal desa) adalah memfasilitasi proses pelaksanaan musyawarah dalam menjamin seluruh kebutuhan publik terpenuhi dan mengadvokasi sejumlah kebijakan-kebijakan atau program dimasukkan dalam RPJM Desa.

Prinsip penganggaran partisipatif

Penganggaran partispatif (PP) merupakan salah satu pendekatan penganggaran yang bisa menjadi pilihan dalam penganggaran desa sesuai amanat UU Desa.Namun, apakah yang dimaksud dengan penganggaran partisipatif, bagaimana penganggaran partisipatif dilaksanakan dalam praktik, dan apakah benar-benar dapat melibatkan masyarakat dalam kondisi keberadaan dan kesibukan masyarakat desa yang bersangkutan?

Apakahpenganggaran partisipatif (PP)?Penganggaran partisipatif merupakan pendekatan penganggaran dengan prinsip memberdayakan warga melalui mekanisme pengambilan keputusan anggaran dilakukanbersama-samadengan masyarakat (masyarakat terlibat aktif dalam setiap tahapan yang harus dilalui). Pendekatan ini bukanlah pendekatan baru, namun, telah dikembangkan lebih dari dua dekade lalu di Porto Alegre, Brazil. Dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan proses pembangunan desa dilakukan sendiri (mandiri) untuk mencapai kesejahteraannya masyarakat setempat.

Penganggaran partisipatif(PP) dalam rangka implementasi UU Desa No.6 Tahun 2014 merupakan inisiatif fantastik, namun tetap harus disesuaikan kondisi desa setempat dan tetap memberikan peluang masyarakat setempat untuk terlibat menentukan pembelanjaan dananya dalam program

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

dan kegiatan yang diprioritaskan(kegiatan dalam program pembangunan desa) dalam lingkungan kehidupannya. Dalam proses demokrasi yang sebenarnya, penganggaran partisipatif (PP) harusnya terus berkembang secara meningkat dengan proses implementasi yang terus berkembang di wilayah-wilayah sekitarnya.

Pendekatan penganggaran partisipatif (PP) mengikuti konsep Bottom-Up Budgeting atau yang disebut dengan Grassroots Participatory Budgeting.Secara nyata, proses penganggaran dengan pendekatan Bottom-Up merupakan tindakan nyata pemberdayaan masyarakat melalui proses penganggaran.Jadi, ciri utama pendekatan iniadalah adanya pemberdayaan (empowerment)yang pada dasarnya berbasis nilai-nilai umum kehidupan manusia, menumbuhkan peralihan kekuasaan, memberikan hak mengusulkan/memilih dan pengambilan keputusan di tangan masyarakat, dan memastikan adanya prinsip keterbukaan (transparansi).

Prinsip-Prinsip Anggaran berbasis Penganggaran Partisipatif

1. Disetujui oleh utusan masyarakat. Anggaran harus mendapatkan persetujuan dari para utusan masyarakat sebelum dilaksanakan membelanjakan danaoleh eksekutif (kepala desa).

2. Komprehensif (menyeluruh). Anggaran harus mencerminkan semua sumber penerimaan dan pengeluaran desa. Oleh karena itu, adanya katagori dananon budgetair adalah menyalahi prinsip komprehensi penganggaran. Dengan kata lain tidak dapat diterima adanya pos dananon-budgetair.

3. Keutuhan anggaran. Seluruh sumber dana atau penerimaan dan pembelanjaan dana harus terhimpun dalam satu kesatuan dana (utuh atau keseluruhan).

4. Periodik. Penganggaran merupakan proses yang periodik, bersifat tahunan atau multi tahunan.

5. Akurat.Penganggaran dilakukan dengan perkiraan atau estimasi yang tepat, tidak memasukan dana cadangan yang tersebunyi sehingga memungkinkan untuk dijadikan kantong-kantong pemborosan atau inefisiensi anggaran dan mengakibatkan adanya under estimate(kesalahan dalam penaksiran yang terlalu rendah) penerimaan dan over estimate(kesalahan dalam penaksiran terlalu besar) pengeluaran

6. Jelas.

7. Diketahui publik. Penganggaran dilakukan secara terbuka dan melibatkan semua unsur masyarakat melalui musyawarah-musyawarah desa. Program dan kegiatan yang telah disetuji untuk dibiayai melalui pembelanjaan atas penerimaan desa diumumkan dalam papan-papan informasi desa.

Bagaimana Penganggaran Partisipatif dilaksanakan di Desa?

Dalam pola pikir yang umum terjadi, sepertinya penganggaran partisipatif menggambarkan sesuatu ketidakmungkinan untuk terjadi.Disamping itu, untuk dapat menerapkan penganggaran partisipatif (PP) dibutuhkan model tatakelola pemerintahan baru, yang memberdayakan masyarakat untuk benar-benar membuat keputusan-keputusan tentang kebijakan dan pembelanjaan dana desa.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Pengalaman berdemokrasi, penatakelolaan pemerintahan yang transparan, dan reformasi ekonomi telah berjalan cukup waktu.Pada kenyataannya, banyak warga masyarakat yang belum terlibat dalam aktivitas sipil khususnya dalam hal pengambilan keputusan bagaimana membelanjakan dana desa. Disamping itu, pada dasarnya, masyarakat memahami bahwa mereka mempunyai kekuasaan atau kekuatan untuk melakukan pengambilan keputusan dan pemerintah desa hendaknya tidak hanya mendengarkan usulan mereka tetapi benar-benar harus mengikuti mandat mereka. Oleh sebab itu, harus diatur dalam proses penganggaran partisipatif.

Proses penganggaran partisipatif (PP). Secara sederhana proses penganggaran partisipatif (PP) dapat dilihat dalam skema yang disajikan di Gambar-1.Tahap-1 masayarakat melakukan identifikasi kebutuhan dan memilih utusan atau tim representasi masyarakat.Utusan secara ekstensif akanmeneliti dan menilai kelayakan implementasi program dna kegiatan yang telah dilakukan periode sebelumnya.Dismaping itu, utusan mempunyai fungsi untuk mengidentifikasi kebutuhan- kebutuhan publik yang harus dipenuhi.

Tahap-2 adalah proses para utusan melakukan pertemuan-pertemuan (musyawarah-musyawarah) dan menyusun proposal atau usulan program dan kegiatan. Pada saat usulan benar-benar sudah konkret (jelas jenis, waktu, dan kemanfaatannya), dilanjutkan dengan menyajikannya kepada publik melalui ruang-ruang publik maupun papan-papan informasi.

Tahap-3 merupakan tahapan uji publik untuk memperoleh masukan atau umpan balik masyarakat secara langsung atas apa yang telah disusun oleh para utusan masyarakat.Pemanfaatan ruang publik, media social, dan papan informasi publikdapat membantu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mencermati pemenuhan kebutuhan pada penganggaran periode yang ada.

Tahap-4 adalah proses memilih dan memutuskan sesuai dengan tujuan dan kualifikasi program. Tahap ini merupakan tahap prioritisasi atau memilih program dan kegiatan mana yang tingkat kemendesakannya paling tinggi.

Tahap-5 adalah tahap terakhir yang berfungsi untuk menjamin bahwa seluruh dana dialokasikan atau dibelanjakan sesuai dengan hasil prioritasipembelanjaan.Disamping itu, tahap ini menjadi titik penting untuk memastikan bahwa seluruh pelaksanaan sesuai dengan ukuran-ukuran kinerja yang telah ditetapkan, baik ukuran keuangan maupun non-keuangan dan ukuran kuantitatif (angka) maupun kualitatif (non-angka).

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA Gambar-1. Proses Penganggaran Partisipatif Tindakan apa yang harus dilakukan agar

Gambar-1. Proses Penganggaran Partisipatif

Tindakan apa yang harus dilakukan agar pendekatan penganggaran partisipatif berjalan dengan benar?

Menurut Dr. Gordon terdapat tiga tindakan yang harus dilakukan oleh masyarakat jika menginginkan peningkatan efektifitas penganggaran partisipatif

Menciptakan sarana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proses penganggaran partisipatif. Sarana pendorong yang harus diciptakan dapat berupa ruang public atau media social lainnya yang dapat digunakan sebagai pelengkap bentuk-bentuk atau sarana komunikasi lain.

Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses. Melibatkan semua unsur masyarakan sesuai dengan kaakteristiknya sendiri-sendiri.

Menilai dan meningkatkan dampak penganggaran partisipatif.

Keberadaan ruang-ruang publik atau media sosial dibutuhkan untuk menciptakan sarana yang memungkinkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.Kenyataan bahwa penggunaan ruang publik dan media sosial saat ini dalam kondisi “terbatas dan sporadis”.Oleh sebaba itu, menjadi peran PLD (pendamping lokal desa) untuk mengadvokasi berupa doronganuntukdiwujudkannya dalam bentuk regulasi desa atau daerah. Dengan demikianpenggunaan ruang publik dan media social dapat dilakukan secara lebih optimal.Regulasi dibutuhkan dan sangat potensial untuk meningkatkan dan mengembangkan platform penggunaan ruang publik dan media sosial untuk mengembangkan dan mengelola pastisipasi masyarakat.

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA

(Hadian Supriatna)

PENJELASAN UMUM

1. Desa : adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Kewenangan Desa : adalah kewenangan yang dimiliki Desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan adat istiadat Desa.

3. Pemerintahan Desa : adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Pemerintah Desa : adalah kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.

5. Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan nama lain : adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.