Anda di halaman 1dari 28

Sertifikasi dan

Sistem Jaminan Halal


Apa itu
Perbuatan
Hukum asal perbuatan adalah terikat dengan hukum syara.
(Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, Haram)

Hukum
Halal/Haram Menjadi dasar
dalam proses
Sertifikasi Halal

Benda
Hukum asal benda adalah mubah (boleh) selama tidak ada
dalil yang mengharamkan.
(Halal - Haram)
Pengertian Halal & Haram
HALAL adalah boleh.
Pada kasus makanan, kebanyakan bahan
makanan/makanan ciptaan Allah SWT adalah
halal, kecuali secara khusus disebutkan dalam Al
Quran atau Hadits.
HARAM adalah sesuatu yang Allah SWT melarang
untuk dilakukan dengan larangan yang tegas.
Setiap orang yang menentangnya akan
berhadapan dengan siksaan Allah di akhirat.
Bahkan terkadang juga terancam sanksi syariah di
dunia.
Sertifikat
Halal

www.halalmui.org
Sekilas Perkembangan LPPOM MUI

1. LPPOM MUI Pusat (Nasional) dan 33 LPPOM


MUI Provinsi.
2. Presiden World Halal Food Council (WHFC)
3. Standar HAS 23000 yg menjadi rujukan
Internasional.
4. Kerjasama (memberi pengakuan) 44
Lembaga Sertifikasi Luar Negeri
5. Sertifikasi Halal On Line (Cerol-SS23000)
Bahan

SDM Proses

SJH

Produk Prosedur
Alasan Pentingnya Penerapan SJH
(Perspektif Teknologi, Manajemen & Bisnis)

Trend Pasar Produk Halal Global

Perkembangan Teknologi

Supply Chain Pasar Global

Total Quality Management

LPPOM MUI adalah Lembaga


Eksternal
Jujur

Kepercayaan
Prinsip
Prinsip
SJH
SJH
Partisipatif

Absolut
MANFAAT PENERAPAN SJH
1. Menjamin kehalalan produk selama berlakunya Sertifikat Halal
MUI.
2. Timbul kesadaran internal dan perusahaan memiliki pedoman
kesinambungan proses produksi halal.
3. Memberikan Jaminan dan ketentraman bagi masyarakat.
4. Mencegah kasus ketidakhalalan produk bersertifikat halal.
5. Mendapatkan Reward
Kesimpulan
Produk Halal Makanan, minuman, obat, kosmetik, dll yang
tersusun dari unsur yang halal, dan telah melalui proses
produksi produk halal yang telah dinyatakan halal sesuai
dengan syariah.
Sertifikat Halal Fatwa tertulis dari MUI yang menyatakan
kehalalan suatu produk sesuai dengan Syariat Islam, setelah
melalui proses audit yang dilakukan oleh LPPOM MUI.
Sistem Jaminan Halal (SJH) Suatu pengelolaan terpadu
terhadap bahan, proses, produk, sumberdaya manusia, dan
prosedur untuk menghasilkan produk halal dan menjamin
kehalalannya secara konsisten dan berkelanjutan.
Kriteria
Sistem Jaminan Halal
KELEMBAGAAN SERTIFIKASI HALAL
(MUI, LPPOM MUI dan Komisi Fatwa MUI)

Sertifikasi halal diajukan ke MUI


MUI = Majelis Ulama Indonesia.
LPPOM MUI : Lembaga di bawah MUI dengan tugas utama
melakukan sertifikasi (registrasi, pembayaran, penjadwalan,
pelaksanaan audit, menyiapkan laporan untuk komisi fatwa,
dll)
Komisi Fatwa : Komisi di bawah MUI yang mempunyai otoritas
untuk memutuskan status kehalalan produk yang didaftarkan
untuk disertifikasi
Pemangku Kepentingan
MUI lainnya:
WHFC, ASEAN, MABIMS,
IMTGT, Universitas,
Komunitas Konsumen, dll
Komisi Fatwa LPPOM
MUI MUI

PEMERINTAH RI

BPOM RI KEMENAG RI

Ijin Label KEMENTAN RI


Halal pada
kemasan DLL....
produk

Sertifikat Halal MUI

Gambar Pemangku Kepentingan Sertifikasi Halal di Indonesia


Buku HAS 23000
Seluruh persyaratan sertifikasi dituangkan dalam buku HAS 23
000
HAS 23 000 : 1 --- Kriteria Sistem Jaminan Halal
Ada 11 kriteria sistem
Level pemenuhan kriteria ini mencerminkan tingkat
kemampuan sistem dalam menjaga kehalalan produk secara
konsisten)
HAS 23 000 : 2 --- Kebijakan dan Prosedur
Persyaratan ini harus diikuti sepenuhnya (dipenuhi 100%)
Persyaratan Sertifikasi Halal
HAS 23000 :
Persyaratan Sertifikasi Halal
HAS 23103 :
Pedoman SJH di Rumah Potong Hewan
HAS 23201 :
Persyaratan Bahan Pangan Halal
HAS 23101
Pedoman Pemenuhan Kriteria SJH di Industri
Pengolahan
HAS 23301
Pedoman Penyusunan Manual SJH di Industri
Pengolahan
Definisi dan Penjelasan
Kriteria :
Kalimat yang menjelaskan persyaratan yang harus dipenuhi
perusahaan dalam rangka menghasilkan produk halal
secara konsisten .
Perusahaan harus menjawab kriteria ini dalam bentuk
manual SJH (dokumen perencanaan) dan implementasinya.
Perusahaan dapat menentukan sendiri bentuk manual dan
cara implementasinya.
Level pemenuhan kriteria menentukan status implementasi
SJH
Kelemahan implementasi (deviasi/ketidaksesuaian dari
kriteria) disebut kelemahan (weakness) sistem.
Jenis Audit
Audit :
Verifikasi oleh auditor LPPOM MUI untuk
menentukan pemenuhan kriteria dalam
implementasi SJH.
Tipe Audit :
On Site Audit
On Desk Audit
Dokumen yang diterbitkan MUI
Nama Dokumen Representasi Masa Berlaku Basis Penulisan
(tahun)
Sertifikasi Halal Produk halal 2 Kelompok produk
Status Kualitas
Prinsip 2 Pabrik (fasilitas
Implementasi SJH implementasi
SJH produksi)
(A, B) sistem
Sertifikasi SJH Kualitas 4 Pabrik (fasilitas
implementasi produksi)
sistem

* Sertifikasi SJH diberikan kepada perusahaan yang memperoleh tiga kali status
A secara berturut-turut
Program Percepatan Sertifikat SJH

Program percepatan sertifikat SJH dapat dilakukan


dengan syarat Audit Implementasi SJH berikutnya
dilakukan setidaknya setelah 6 bulan dari audit
terakhir dan audit internal telah dilakukan.
Perusahaan yang mengikuti program percepatan
diharapkan memperhatikan masa berakhirnya
sertifikat halal dan sertifikat SJH
Kategori Kriteria Sistem Jaminan Halal
1. Kebijakan halal
2. Tim manajemen halal
3. Training dan edukasi
4. Bahan
5. Fasilitas
6. Produk
7. Prosedur tertulis kegiatan kritis
8. Kemampuan telusur (Traceability)
9. Penanganan produk yang tidak memenuhi kriteria
10. Audit internal
11. Kaji ulang manajemen (Management Review)
TIM MANAJEMEN HALAL
Tim manajemen halal adalah sekelompok orang yang
ditunjuk oleh manajemen puncak sebagai penanggung
jawab atas perencanaan, implementasi, evaluasi dan
perbaikan berkelanjutan sistem jaminan halal di
perusahaan.
Manajemen puncak harus menetapkan tim manajemen
halal
Tanggung jawab tim harus didefinsikan dengan jelas
Tim manajemen halal harus mencakup semua bagian
yang terlibat dalam aktifitas kritis
TIM MANAJEMEN HALAL (Lanjutan)
Penunjukan tim manajemen halal harus disertai bukti
tertulis (dapat berupa surat keputusan, surat
pengangkatan, surat penetapan atau bentuk
penunjukkan lain yang berlaku di perusahaan.
Tim Manajemen Halal harus memahami persyaratan
sertifikasi halal (Kriteria, Kebijakan dan Prosedur
pada HAS 23000) sesuai dengan tanggungjawabnya
masing-masing.
Ketua/koordinator Tim Manajemen Halal sekurang-
kurangnya adalah seorang Manajer Teknis, dan
diutamakan seorang muslim.
TIM MANAJEMEN HALAL (Lanjutan)
Tim manajemen halal dapat berada di level
corporate/holding dan/atau di pabrik/outlet, gudang
dan dapur.
Penetapan tanggungjawab tim dapat ditulis terpisah
atau terintegrasi dengan sistem yang lain
Manajemen puncak harus menyediakan sumberdaya
yang dibutuhkan untuk perencanaan, implementasi,
evaluasi dan perbaikan berkelanjutan sistem jaminan
halal
TRAINING DAN EDUKASI
Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis
pelaksanaan pelatihan untuk semua personel
yang terlibat dalam aktifitas kritis, termasuk
karyawan baru.
Prosedur pelaksanaan pelatihan dapat berisi
tujuan/target, jadwal, peserta, metode, pemberi
materi, materi, dokumentasi, evaluasi dan
indikator kelulusan.
Materi pelatihan meliputi persyaratan sertifikasi
halal (Kriteria, Kebijakan dan Prosedur pada HAS
23000) dan disesuaikan dengan sasaran pelatihan
TRAINING DAN EDUKASI (Lanjutan)
Pelatihan (internal atau eksternal) harus
dilaksanakan secara terjadwal minimal setahun sekali
atau lebih sering jika diperlukan.
Pelatihan internal adalah pelatihan mengenai HAS
23000 (persyaratan sertifikasi halal) yang dilakukan
oleh perusahaan dengan trainer dari perusahaan
sendiri.
Pelatihan internal harus dilakukan setidaknya
setahun sekali atau lebih sering jika diperlukan
TRAINING DAN EDUKASI (Lanjutan)
Pelatihan eksternal adalah pelatihan mengenai HAS
23000 (persyaratan sertifikasi halal) dengan trainer
dari LPPOM MUI, baik diselenggarakan oleh LPPOM
MUI atau oleh perusahaan dalam bentuk in house
training.
Pelatihan eksternal dilakukan setidaknya dua tahun
sekali atau lebih sering jika diperlukan
Pelaksanaan pelatihan harus mencakup kriteria
kelulusan untuk menjamin kompetensi personel
TRAINING DAN EDUKASI (Lanjutan)
Indikator kelulusan pelatihan internal adalah
setiap peserta memahami tanggungjawabnya
dalam implementasi dan perbaikan
berkelanjutan sistem jaminan halal.
Evaluasi kelulusan dapat dilakukan melalui tes
tertulis, tes lisan atau bentuk evaluasi lain
yang berlaku di perusahaan.
Bukti pelaksanaan pelatihan harus dibuat dan
dipelihara

Beri Nilai