Anda di halaman 1dari 12

akuntansi publik adalah seni (keterampilan) dan ilmu mengolah transaksi atau kejadian yang

setidak-tidaknya dapat diukur dengan uang menjadi laporan keuangan yang dibutuhkan oleh
para pihak yang berkepentingan atas pemerintah yang nantinya akan digunakan didalam
proses pengambilan keputusan publik.
Akuntansi Sektor Publik adalah sebuah proses untuk mengumpulkan, mencatatat,
mengklasifikasikan, menganalisis serta membuat laporan transaksi keuangan untuk sebuah
organisasi publik yang menyediakan informasi keuangan bagi pihak yang membutuhkannya
untuk digunakan saat pengambilan sebuah keputusan.
Tujuan Akuntansi Sektor Publik
1. Management Control, tujuannya untuk memberikan informasi yang dibutuhkan
untuk mengelola suatu organisasi dengan cepat, tepat, efisien serta ekonomis atas
operasi dan penggunaan sumber daya yang dipercayakan / dianggarkan untuk sebuah
organisasi.
2. Accountability, tujuan ini hampir sama dengan management control yaitu
memberikan informasi yang berguna untuk manager sektor publik yang digunakan
untuk melaporkan pelaksanaan tanggungjawab sumber daya / bidang / divisi yang
berada di bawah wewenangnya. Selain itu juga untuk melaporkan kegiatan kepada
publik atas operasi pemerintah serta penggunaan dana / anggaran publik.
Sifat dan Karakteristik Akuntansi Sektor Publik
Akuntansi sektor publik jelas berbeda dengan akuntansi sektor swasta. Hal mencoloknya
adalah pada bagian instansi yang menggunakannya. Sektor publik biasanya terkait dengan
organisasi pemerintahan daerah. Secara umum berikut ini komponen yang mempengaruhi
organisasi sektor publik :
1. Ekonomi
1. Tingkat Inflasi
2. Pertumbuhan sektor ekonomi
3. Tenaga Kerja Produktif
4. Nilai Kurs/ Nilai Tukar Mata Uang
5. Infrastruktur / sarana dan prasarana
6. Tingkat Pertumbuhan Pendapatan Perkapita
2. Politik
1. Hubungan antara negara dengan masyarakatnya
2. Legitimasi hukum pemerintah
3. Tipe pemerintahan yang berkuasa
4. Ideologi & dasar yang dianut
5. Jaringan Internasional
6. Hubungan antar lembaga
3. Kultural
1. Keragaman ras, suku, agama, budaya dan bahasa
2. Sistem nilai yang berlaku di masyarakat (moral)
3. Historis/ sejarah
4. Kondisi Sosiologis Masyarakat
5. Tingkat Pendidikan
6. Karakteristik Masyarakat yang Berbeda tiap daerah
4. Demografis
1. Tingkat Pertumbuhan penduduk
2. Struktur / penyebaran usia penduduk
3. Migrasi (transmigrasi, imigrasi, dll)
4. Kesehatan Masyarakat
5. Angka harapan hidup
Value for Money
Seiring berjalannya waktu mulai muncul tuntutan baru agar sebuah organisasi sektor publik
mempertimbangkan value for money dalam menjalankan setiap tugasnya. Value for
money adalah konsep pengelolaan sektor publik yang berdasar 3 elemen, yaitu :
1. Ekonomi , pendapatan input dengan kuantitas dan kualitas tertentu pada harga paling
rendah
2. Efisiensi, pencapaian output maksimal dengan jumlah input tertentu / menggunakan
input terendah untuk mendapatkan output dengan jumlah tertentu.
3. Efektivitas, tingkat pencapaian hasil program yang telah dicanangkan sebelumnya.
3 hal tadi adalah pokok dari value for money, tetapi ada beberapa pihak yang menambahkan 2
hal dalam pokok value for money yaitu keadilan dan pemerataan.
Keadilan lebih mengacu pada adanya kesempatan sosial yang tidak berbeda (sama) untuk
mendapatkan layanan dan fasilitas publik yang berkualitas serta kesejahteraan sektor
ekonomi. Sedangkan pemerataan yaitu alokasi anggaran publik tidak terfokus pada satu
organisasi saja.
Manfaat Implementasi Value for Money
Value for money tentunya memiliki beberapa manfaat, secara umum manfaatnya adalah
sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas pelayanan sektor publik
2. Meningkatkan efektifitas pelayanan publik
3. Menurunkan biaya untuk pelayanan publik.
Persamaan Sektor Publik dan Sektor Swasta
1. Sektor publik dan swasta sama-sama bagian integral dari sebuah sistem ekonomi di
negara tertentu serta menggunakan Sumber Daya yang sama dalam pencapaian tujuan
yang telah ditetapkan.
2. Keduanya memiliki problem yang sama, seperti kelangkaan sumber daya, efisiensi
dana yang efektif, dll.
3. Kesamaan dalam hal pengendalian manajemen seperti manajemen keuangan.
4. Menggunakan data dan informasi akurat untuk membantu pengambilan keputusan
strategis.
Mungkin itu saja ulasan tentang akuntansi sektor publik yang dapat kami sajikan. Semoga
artikel singkat ini dapat memberikan wawasan yang cukup kepada Anda.

Perbedaan Akuntan Publik dengan Akuntan Lain Beserta Kode Etiknya

Kode etik Para Akuntan

* Tanggung jawab prolesi, Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional


setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam
semua kegiatan yang dilakukannya.

* Kepentingan Publik, Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam


kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan
komitmen atas profesionalisme.
* Integritas, Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus
memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
* Obyektivitas, Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan
kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.
* Kompetensi dan kehati-hatian profesional, Setiap anggota harus melaksanakan jasa
profesionalnya tkngan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban
untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang
diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh matifaat dari jasa
profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang
paling mutakhir.
* Kerahasiaan, Setiap anggota harus, menghormati leerahasiaan informas iyang diperoleh
selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi
tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk
mengungkapkannya.
* Perilaku Profesional, Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi
profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
* Standar Teknis, Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan
standar teknis dan standar proesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan
berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima
jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.
Akuntan Publik adalah akuntan profesional yang menjual jasanya kepada masyarakat umum,
terutama dalam pemeriksaan terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya dan juga
menjual jasa konsultan pajak, konsultasi bidang manajemen, penyusunan sistem akuntansi,
dan penyusunan laporan keuangan (Auditing ; Mulyadi, 1992:27). Yang disebut sebagai
akuntan publik adalah yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP). Untuk berpraktik
sebagai Akuntan Publik, seseorang harus memenuhi persyaratan pendidikan dan pengalaman
kerja. Telah lulus dari fakultas ekonomi, jurusan akuntansi. Telah mendapat gelar akuntan
dari panitia ahli pertimbangan persamaan ijazah akuntan dan mendapat ijin praktik dari
menteri keuangan. Profesi akuntan publik dibayar oleh kliennya tapi berbeda dengan profesi
lainnya, karena seorang akuntan harus bersikap independen atau tidak memihak kepada
siapapun sekalipun klien yang telah membayarnya.
Akuntan Pemerintahan adalah akuntan profesional yang bekerja di instansi pemerintahan,
yang tugas pokoknya melakukan pemeriksaan terhadap pertanggung jawaban keuangan yang
disajikan oleh unit-unit organisasi dalam pemerintah atau pertanggung jawaban keuangan
yang ditujukan kepada pemerintah. Meskipun terdapat banyak akuntan yang bekerja di
instansi pemerintah, namun umumnya yang disebut akuntan pemerintah adalah yang bekerja
di Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK), dan Instansi Pajak.
Akuntan Manajemen Perusahaan atau Akuntan Intern ialah bekerja pada sebuah perusahaan
dan berpartisipasi dalam mengambil keputusan mengenai investasi jangka panjang,
menjalankan tugas sebagai akuntan yang mengatur pembukuan dan pembuatan ikhtisar-
ikhtisar keuangan, atau membuat sistem akuntansi perusahaan. Peran akuntan menajemen
sangatlah besar karena dapat membantu pihak manajemen dalam menginterprestasikan data
akuntansi yang ada dalam suatu perusahaan, dalam hal ini profesionalisme akuntan sangatlah
menentukan untuk mencarikan jalan keluar dalam menghadapi kesulitan yang sedang dialami
oleh perusahaan.
Akuntan Pendidik adalah profesi akuntan yang memberikan jasa berupa pelayanan
pendidikan akuntansi kepada masyarakat melalui lembaga-lembaga pendidik yang ada, guna
melahirkan akuntan-akuntan yang terampil dan profsional. Profesi akuntan pendidik sangat
dibutuhkan bagi kemajuan profesi akuntansi itu sendiri karena ditangan merekalah para
calon-calon akuntan dididik. Akuntan pendidik harus ddapat melakukan transfer of
knowledge kepada mahasiswanya, memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan menguasai
pengetahuan bisnis dan akuntansi, teknilogi informasi dan mampu mengembangkan
pengetahuannya melalui penelitian.
Profesi Akuntansi
Pada umunya akuntansi dibedakan menjadi dua bidang yaitu akuntansi publik dan akuntansi
intern.
Akuntan Publik adalah akuntan yang memberikan jasanya untuk melayani kebutuhan
masyarakat. Mereka menerima imbalan dari pemakai jasa, seperti halnya dokter dan
penasihat hukum.
Jenis pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh akuntan publik adalah pemeriksaan laporan
keuangan (auditing), bantuan dibidang perpajakan, dan konsultasi manajemen. Untuk
menjadi akuntan publik harus dipenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh organisasi profesi
dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

Akuntan Intern (Akuntan Perusahaan dan Akuntan Pemerintah) adalah akuntan yang
bekerja dakam suatu perusahaan tertentu. Mereka hanya melakukan pekerjaan hanya untuk
kepentingan perusahaan dimana ia bekerja. Akuntan intern terdapat pada berbagai organisasi,
baik yang berupa perusahaan maupun organisasi nirlaba seperti rumah sakit atau organisasi
sosial, dengan nama jabatan akuntan intern sangat beraneka ragam, ada yang disebut
kontroler.

Akuntan Pendidik adalah akuntan yang mengajar ilmu akuntansi dan biasanya sudah
berpengalaman dalam bidang akuntansi.
Sejarah Perkembangan Profesi Akuntan Publik
Akuntan publik adalah akuntan yang menjual jasa profesionalnya kepada masyarakat atau
klien, terutama untuk jenis pemeriksaan laporan keuangan. Untuk dapat berpraktek sebagai
akuntan publik di Indonesia, seseorang harus telah lulus dari fakultas ekonomi jurusan
akuntansi dan memperoleh gelar akuntan dan memperoleh ijin praktek dari Departemen
Keuangan. Ketentuan mengenai akuntan publik di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik. Setiap akuntan publik
wajib menjadi anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI),
asosiasi profesi yang diakui oleh pemerintah.

Timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik di suatu negara adalah sejalan dengan
berkembangnya perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum perusahaan di negara tersebut.
Dari profesi akuntan publik inilah masyarakat kreditur dan investor atau calon kreditur dan
calon investor mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang
disajikan oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan.

Pada saat perusahaan masih kecil yang umumnya berbentuk perusahaan perseorangan,
laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan biasanya digunakan oleh pemilik perusahaan
untuk mengetahui hasil usaha dan posisi keuangannya. Hal ini berlanjut pada perusahaan
yang berbentuk firma. Laporan baru dimanfaatkan oleh para sekutu atau firman. Dengan kata
lain, laporan keuangan lebih kepada kepentingan intern. Pada kondisi seperti ini kebutuhan
akan profesi akuntan publik masih sangat rendah, karena para pemimpin perusahaan dan
pihak luar belum banyak memerlukan informasi keuangan yang dihasilkan perusahaan.

Untuk perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas yang bersifat terbuka kebutuhan akan
profesi akuntan dirasa makin meningkat. Hal ini dikarenakan pengelola perusahaan dengan
pemilik sudah sangat mungkin terpisah. Pemilik perusahaan hanya sebagai penanam modal.
Sebagai penanam modal mereka berhak mendapatkan laporan-laporan yang akurat dan benar
berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim. Hal ini juga bisa terjadi pada perusahaan
yang berbentuk CV. Sekutu diam mungkin menginginkan laporan akurat dan benar menurut
prinsip akuntansi yang lazim.

Keadaan perkembangan selanjutnya adalah bahwa pihak luar seperti kreditur, pemerintah,
dan lain sebagainya juga memerlukan laporan-laporan yang akurat dan benar dalam rangka
pengambilan keputusan-keputusan ekonominya. Dalam keadaan demikian maka laporan
keuangan yang dibuat manajemen perusahaan memerlukan pihak yang independen untuk
memeriksanya apakah sudah akurat dan benar menurut prinsip-prinsip akuntansi yang lazim
A. PENGERTIAN GOOD GOVENANCE

Good Governance adalah suatu peyelegaraan manajemen pembangunan yang solid dan
bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien,
penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik secara politik
maupun secara administratif menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal dan
politican framework bagi tumbuhnya aktifitas usaha.

Good governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu kepada proses
pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat dipertanggungjawabkan secara
bersama. Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga negara, dan sektor
swasta bagi penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara.

Good Governance diIndonesia sendiri mulai benar benar dirintis dan diterapkan sejak
meletusnya era Reformasi yang dimana pada era tersebut telah terjadi perombakan sistem
pemerintahan yang menuntut proses demokrasi yang bersih sehingga Good
Governancemerupakan salah satu alat Reformasi yang mutlak diterapkan dalam
pemerintahan baru. Akan tetapi, jika dilihat dari perkembangan Reformasi yang sudah
berjalan selama 15 tahun ini, penerapan Good Governance di Indonesia belum dapat
dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai dengan cita cita Reformasi sebelumnya. Masih
banyak ditemukan kecurangan dan kebocoran dalam pengelolaan anggaran dan akuntansi
yang merupakan dua produk utama Good Governance.

B. KONSEP GOOD GOVERNANCE

Konsep good governance dapat diartikan menjadi acuan untuk proses dan struktur hubungan
politik dan sosial ekonomi yang baik. Human interest adalah faktor terkuat yang saat ini
mempengaruhi baik buruknya dan tercapai atau tidaknya sebuah negara serta pemerintahan
yang baik. Sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan bahwa setiap manusia
memiliki kepentingan. Baik kepentingan individu, kelompok, dan/atau kepentingan
masyarakat nasional bahkan internasional. Dalam rangka mewujudkan setiap kepentingan
tersebut selalu terjadi benturan. Begitu juga dalam merealisasikan apa yang namanya good
governance benturan kepentingan selalu lawan utama. Kepentingan melahirkan jarak dan
sekat antar individu dan kelompok yang membuat sulit tercapainya kata sepakat.

Konsep Good Governance sebenarnya telah lama dilaksanakan oleh semua pihak yaitu
Pemerintah, Swasta dan Masyarakat, namun demikian masih banyak yang rancu memahami
konsep Governance. Secara sederhana, banyak pihak menerjemahkan governance sebagai
Tata Pemerintahan. Tata pemerintahan disini bukan hanya dalam pengertian struktur dan
manajemen lembaga yang disebut eksekutif, karena pemerintah (government) hanyalah salah
satu dari tiga aktor besar yang membentuk lembaga yang disebut governance. Dua aktor lain
adalah private sektor (sektor swasta) dan civil society (masyarakat madani). Karenanya
memahami governanceadalah memahami bagaimana integrasi peran antara pemerintah
(birokrasi), sektor swasta dancivil society dalam suatu aturan main yang disepakati bersama.
Lembaga pemerintah harus mampu menciptakan lingkungan ekonomi, politik, sosial budaya,
hukum dan keamanan yang kondusif. Sektor swasta berperan aktif dalam menumbuhkan
kegiatan perekonomian yang akan memperluas lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan,
sedangkan civil society harus mampu berinteraksi secara aktif dengan berbagai macam
aktifitas perekonomian, sosial dan politik termasuk bagaimana melakukan kontrol terhadap
jalannya aktifitas-aktifitas tersebut.

Dalam konsep ini, Negara berperan memberikan pelayanan demi kesejahteraan rakyat dengan
sistem peradilan yang baik dan sistem pemerintahan yang dapat dipertanggungjawaban
kepada publik.

Kunci utama memahami good governance adalah pemahaman atas prinsip-prinsip di


dalamnya. Bertolak dari prinsip-prinsip ini akan didapatkan tolak ukur kinerja suatu
pemerintahan. Baik-buruknya pemerintahan bisa dinilai bila ia telah bersinggungan dengan
semua unsur prinsip-prinsip good governance. Menyadari pentingnya masalah ini, prinsip-
prinsip good governance diurai satu persatu sebagaimana tertera di bawah ini:

1. Partisipasi Masyarakat

Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengambilan keputusan, baik secara
langsung maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan sah yang mewakili kepentingan
mereka. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan
mengungkapkan pendapat, serta kapasitas untuk berpartisipasi secara konstruktif.

2. Tegaknya Supremasi Hukum

Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang bulu, termasuk di dalamnya
hukum-hukum yang menyangkut hak asasi manusia.

3. Transparansi

Tranparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses pemerintahan,
lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan,
dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau.

4. Peduli pada Stakeholder

Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha melayani semua pihak
yang berkepentingan.

5. Berorientasi pada Konsensus

Tata pemerintahan yang baik menjembatani kepentingan-kepentingan yang berbeda demi


terbangunnya suatu konsensus menyeluruh dalam hal apa yang terbaik bagi kelompok-
kelompok masyarakat, dan bila mungkin, konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan
prosedur-prosedur.

6. Kesetaraan
Semua warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan
kesejahteraan mereka.

7. Efektifitas dan Efisiensi

Proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil sesuai kebutuhan


warga masyarakat dan dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada seoptimal
mungkin.

8. Akuntabilitas

Para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-organisasi masyarakat


bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga yang
berkepentingan. Bentuk pertanggung jawaban tersebut berbeda satu dengan lainnya
tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan.

9. Visi Strategis

Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh ke depan atas tata
pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta kepekaan akan apa saja yang
dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. Selain itu mereka juga harus
memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan, budaya dan sosial yang menjadi dasar
bagi perspektif tersebut.

Menerapkan praktik good governance dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan
kapasitas pemerintah, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar. Salah satu pilihan strategis
untuk menerapkan good governance di Indonesia adalah melalui penyelenggaraan pelayanan
publik. Ada beberapa pertimbangan mengapa pelayanan publik menjadi strategis untuk
memulai menerapkan good governance.

Pelayanan publik sebagai penggerak utama juga dianggap penting oleh semua aktor dari
unsur good governance. Para pejabat publik, unsur-unsur dalam masyarakat sipil dan dunia
usaha sama-sama memiliki kepentingan terhadap perbaikan kinerja pelayanan publik. Ada
tiga alasan penting yang melatar-belakangi bahwa pembaharuan pelayanan publik dapat
mendorong praktik good governance di Indonesia. Pertama, perbaikan kinerja pelayanan
publik dinilai penting oleh stakeholders, yaitu pemerintah , warga, dan sektor usaha. Kedua,
pelayanan publik adalah ranah dari ketiga unsur governance melakukan interaksi yang sangat
intensif. Ketiga, nilai-nilai yang selama ini mencirikan praktik good governance
diterjemahkan secara lebih mudah dan nyata melalui pelayanan publik

Fenomena pelayanan publik oleh birokrasi pemerintahan sarat dengan permasalahan,


misalnya prosedur pelayanan yang bertele-tele, ketidakpastian waktu dan harga yang
menyebabkan pelayanan menjadi sulit dijangkau secara wajar oleh masyarakat. Hal ini
menyebabkan terjadi ketidakpercayaan kepada pemberi pelayanan dalam hal ini birokrasi
sehingga masyarakat mencari jalan alternatif untuk mendapatkan pelayanan melalui cara
tertentu yaitu dengan memberikan biaya tambahan. Dalam pemberian pelayanan publik,
disamping permasalahan diatas, juga tentang cara pelayanan yang diterima oleh masyarakat
yang sering melecehkan martabatnya sebagai warga Negara. Masyarakat ditempatkan sebagai
klien yang membutuhkan bantuan pejabat birokrasi, sehingga harus tunduk pada ketentuan
birokrasi dan kemauan dari para pejabatnya. Hal ini terjadi karna budaya yang berkembang
dalam birokrasi selama ini bukan budaya pelayanan, tetapi lebih mengarah kepada budaya
kekuasaan.

Upaya untuk menghubungkan tata-pemerintahan yang baik dengan pelayanan publik


barangkali bukan merupakan hal yang baru. Namun keterkaitan antara konsep good-
governance (tata-pemerintahan yang baik) dengan konsep public service (pelayanan publik)
tentu sudah cukup jelas logikanya publik dengan sebaik-baiknya. Argumentasi lain yang
membuktikan betapa pentingnya pelayanan publik ialah keterkaitannya dengan tingkat
kesejahteraan rakyat. Inilah yang tampaknya harus dilihat secara jernih karena di negara-
negara berkembang kesadaran para birokrat untuk memberikan pelayanan yang terbaik
kepada masyarakat masih sangat rendah.

Secara garis besar, permasalahan penerapan Good Governance meliputi :

1. Reformasi birokrasi belum berjalan sesuai dengan tuntutan masyarakat;


2. Tingginya kompleksitas permasalahan dalam mencari solusi perbaikan;
3. Masih tingginya tingkat penyalahgunaan wewenang, banyaknya praktek KKN, dan masih
lemahnya pengawasan terhadap kinerja aparatur;
4. Makin meningkatnya tuntutan akan partisipasi masyarakat dalam kebijakan publik;
5. Meningkatnya tuntutan penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik antara
lain transparansi, akuntabilitas dan kualitas kinerja publik serta taat pada hukum;
6. Meningkatnya tuntutan dalam pelimpahan tanggung jawab, kewenangan dan pengambilan
keputusan dalam era desentralisasi;
7. Rendahnya kinerja sumberdaya manusia dan kelembagaan aparatur; sistem kelembagaan
(organisasi) dan ketatalaksanaan (manajemen) pemerintahan daerah yang belum memadai;

C. KONSEP GOOD GOVERNANCE

Ada pun beberapa konsep Good Governance yaitu :

1. Tata pemerintahan yang berwawasan ke depan (visi strategis), Semua kegiatan


pemerintah di berbagai bidang dan tingkatan seharusnya didasarkan pada visi dan
misi yang jelas dan jangka waktu pencapaiannya serta dilengkapi strategi
implementasi yang tepat sasaran, manfaat dan berkesinambungan.
2. Tata pemerintahan yang bersifat terbuka (transparan), Wujud nyata prinsip tersebut
antara lain dapat dilihat apabila masyarakat mempunyai kemudahan untuk
mengetahui serta memperoleh data dan informasi tentang kebijakan, program, dan
kegiatan aparatur pemerintah, baik yang dilaksanakan di tingkat pusat maupun
daerah.
3. Tata pemerintahan yang mendorong partisipasi masyarakat, Masyarakat yang
berkepentingan ikut serta dalam proses perumusan dan/atau pengambilan keputusan
atas kebijakan publik yang diperuntukkan bagi masyarakat, sehingga keterlibatan
masyarakat sangat diperlukan pada setiap pengambilan kebijakan yang menyangkut
masyarakat luas.
4. Tata pemerintahan yang bertanggung jawab/ bertanggung gugat (akuntabel), Instansi
pemerintah dan para aparaturnya harus dapat mempertanggungjawabkan pelaksanaan
kewenangan yang diberikan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Demikian
halnya dengan kebijakan, program, dan kegiatan yang dilakukannya dapat
dipertanggungjawabkan.
5. Tata pemerintahan yang menjunjung supremasi hukum, Wujud nyata prinsip ini
mencakup upaya penuntasan kasus KKN dan pelanggaran HAM, peningkatan
kesadaran HAM, peningkatan kesadaran hukum, serta pengembangan budaya hukum.
Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan menggunakan aturan dan prosedur yang
terbuka dan jelas, serta tidak tunduk pada manipulasi politik.
6. Tata pemerintahan yang demokratis dan berorientasi pada konsensus, Perumusan
kebijakan pembangunan baik di pusat maupun daerah dilakukan melalui mekanisme
demokrasi, dan tidak ditentukan sendiri oleh eksekutif. Keputusan-keputusan yang
diambil antara lembaga eksekutif dan legislatif harus didasarkan pada konsensus agar
setiap kebijakan publik yang diambil benar-benar merupakan keputusan bersama.
7. Tata pemerintahan yang berdasarkan profesionalitas dan kompetensi, Wujud nyata
dari prinsip profesionalisme dan kompetensi dapat dilihat dari upaya penilaian
kebutuhan dan evaluasi yang dilakukan terhadap tingkat kemampuan dan
profesionalisme sumber daya manusia yang ada, dan dari upaya perbaikan atau
peningkatan kualitas sumber daya manusia.
8. Tata pemerintahan yang cepat tanggap (responsif), Aparat pemerintahan harus cepat
tanggap terhadap perubahan situasi/kondisi mengakomodasi aspirasi masyarakat, serta
mengambil prakarsa untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.
9. Tata pemerintahan yang menggunakan struktur & sumber daya secara efisien &
efektif, Pemerintah baik pusat maupun daerah dari waktu ke waktu harus selalu
menilai dukungan struktur yang ada, melakukan perbaikan struktural sesuai dengan
tuntutan perubahan seperti menyusun kembali struktur kelembagaan secara
keseluruhan, menyusun jabatan dan fungsi yang lebih tepat, serta selalu berupaya
mencapai hasil yang optimal dengan memanfaatkan dana dan sumber daya lainnya
yang tersedia secara efisien dan efektif.
10. Tata pemerintahan yang terdesentralisasi, Pendelegasian tugas dan kewenangan pusat
kepada semua tingkatan aparat sehingga dapat mempercepat proses pengambilan
keputusan, serta memberikan keleluasaan yang cukup untuk mengelola pelayanan
publik dan menyukseskan pembangunan di pusat maupun di daerah.
11. Tata pemerintahan yang mendorong kemitraan dengan dunia usaha swasta dan
masyarakat, Pembangunan masyarakat madani melalui peningkatan peran serta
masyarakat dan sektor swasta harus diberdayakan melalui pembentukan kerjasama
atau kemitraan antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Hambatan birokrasi yang
menjadi rintangan terbentuknya kemitraan yang setara harus segera diatasi dengan
perbaikan sistem pelayanan kepada masyarakat dan sektor swasta serta
penyelenggaraan pelayanan terpadu.
12. Tata pemerintahan yang memiliki komitmen pada pengurangan kesenjangan,
Pengurangan kesenjangan dalam berbagai bidang baik antara pusat dan daerah
maupun antardaerah secara adil dan proporsional merupakan wujud nyata prinsip
pengurangan kesenjangan. Hal ini juga mencakup upaya menciptakan kesetaraan
dalam hukum (equity of the law) serta mereduksi berbagai perlakuan diskriminatif
yang menciptakan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan
bermasyarakat.
13. Tata pemerintahan yang memiliki komitmen pada lingkungan hidup, Daya dukung
lingkungan semakin menurun akibat pemanfaatan yang tidak terkendali. Kewajiban
penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan secara konsekuen, penegakan
hukum lingkungan secara konsisten, pengaktifan lembaga-lembaga pengendali
dampak lingkungan, serta pengelolaan sumber daya alam secara lestari merupakan
contoh perwujudan komitmen pada lingkungan hidup.
Pengertian Good Governance
Istilah governance sudah dikenal dalam literature administrasi dan ilmu politik hampir 120
tahun, sejak Woodrow Wilson memperkenalkan bidang studi tersebut kira-kira 125 tahun
yang lalu. Tetapi selama itu governance hanya digunakan dalam konteks pengelolaan
organisasi korporat dan lembaga pendidikan tinggi. Wacana tentang governance yang baru
terutama setelah berbagai lembaga pembiayaan internasional mempersyaratkan good
governance dalam berbagai program bantuannya.

Tata laksana pemerintahan yang baik (good governance) adalah seperangkat proses yang
diberlakukan dalam organisasi baik swasta maupun negeri untuk menentukan keputusan.

Good governance menunjuk pada pengertian bahwa kekuasaan tidak lagi semata-mata
dimiliki atau menjadi urusan pemerintah, tetapi menekankan pada pelaksanaan fungsi
pemerintahan secara bersama-sama oleh pemerintah, masyarakat madani, dan pihak swasta.
Good governance juga berarti implementasi kebijakan sosial-politik untuk kemaslahatan
rakyat banyak, bukan hanya untuk kemakmuran orang-per-orang atau kelompok tertentu.

Konsep good governance adalah sebuah ideal type of governance, yang dirumuskan oleh
banyak pakar untuk kepentingan praktis dalam rangka membangun relasi negara-masyarakat-
pasar yang baik. Beberapa pendapat malah tidak setuju dengan konsep good governance,
karena dinilai terlalu bermuatan nilai-nilai ideologis.

Menurut Meutia Ganie Rachman good governance adalah sebagai mekanisme pengelolaan
sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan pengaruh sector negara dan sektor non-
pemerintah dalam suatu usaha kolektif.

Menurut Purwo Santoso dengan keyakinan bahwa konsep governance yang lebih ideal adalah
Democratic Governance, yaitu suatu tata pemerintahan yang berasal dari masyarakat
(partisipasi), yang dikelola oleh rakyat (institusi demokrasi yang legitimate, akuntabel dan
transparan), serta dimanfaatkan (responsif) untuk kepentingan masyarakat.Pada prinsipnya
konsep ini secara substantif tidak berbeda jauh dengan konsep Good Governance, hanya saja
tidak memasukkan dimensi pasar.

Kunci utama memahami good governance adalah pemahaman atas prinsip-prinsip di


dalamnya, dan bertolak dari prinsip-prinsip ini akan didapatkan tolak ukur kinerja suatu
pemerintahan dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang baik. Penilaian terhadap baik-
buruknya pemerintahan bisa dinilai bila telah bersinggungan dengan unsur prinsip-prinsip
good governance.
Prinsip-prinsip Good Governance
1. Partisipasi Masyarakat, Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam
pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui lembaga perwakilan
sah yang mewakili kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh dibangun berdasarkan
kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat, serta kapasitas untuk
berpartisipasi secara konstruktif.
2. Tegaknya Supremasi Hukum, Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa
pandang bulu, termasuk di dalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi
manusia.
3. Transparansi, Tranparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh
proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-
pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat
dimengerti dan dipantau.
4. Peduli pada Stakeholder, Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus
berusaha melayani semua pihak yang berkepentingan.
5. Berorientasi pada Konsensus, Tata pemerintahan yang baik menjembatani
kepentingan-kepentingan yang berbeda demi terbangunnya suatu konsensus
menyeluruh dan yang terbaik bagi kelompok masyarakat, dan terutama dalam
kebijakan dan prosedur.
6. Kesetaraan, Semua warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau
mempertahankan kesejahteraan mereka.
7. Efektifitas dan Efisiensi, Proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga
membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan
sumber-sumber daya yang ada seoptimal mungkin.
8. Akuntabilitas, Para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-
organisasi masyarakat bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada
lembaga-lembaga yang berkepentingan. Bentuk pertanggung jawaban tersebut
tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan.
9. Visi Strategis, Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh
ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta kepekaan
untuk mewujudkannya, harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan,
budaya dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut.