Anda di halaman 1dari 26

Keputusan Menteri Perindustrian Dan Perdagangan

No. 254 Tahun 2000


Tentang : Tata Niaga Impor Dan Peredaran Bahan
Berbahaya Tertentu

MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN,

Menimbang :

a. bahwa dengan mungkin meningkatnya penggunaan bahan berbahaya


sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
maka penggunaan yang menyimpang dapat berakibat ancaman
terhadap kesehatan manusia/hewan/tumbuh-tumbuhan dan merusak
kelestarian lingkungan hidup;
b. bahwa dengan telah diratifikasi Convention On The Prohibition Of The
Development, Production, Stockpiling And Use Of Chemical Weapons
And On Their Destruction (Konvensi Tentang Pelarangan
Pengembangan, Produksi, Penimbunan, dan Penggunaan Senjata
Kimia Serta Tentang Pemusnahannya), sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1998 ;
c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka untuk
menghindari serta mengurangi resiko akibat tidak sesuainya
penggunaan dan peruntukkan bahan berbahaya maka impornya perlu
dikendalikan dengan tetap memperhatikan kelancaran arus barang ;
d. bahwa untuk itu perlu dikeluarkan Keputusan Menteri Perindustrian
dan Perdagangan.

Mengingat :

1. Bedrijfsreglementerings ordonnantie 1934 (staatsblad Tahun 1938


Nomor 86) sebagaimana telah diubah dan ditambah;
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
(Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2918) ;
3. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar
Perusahaan (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 7, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3214) ;
4. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3495) ;
5. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement
Establishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan
Organisasi Perdagangan Dunia), (Lembaran Negara Tahun 1994
Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3564) ;
6. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan
(Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3612) ;
7. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699) ;
8. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1998 tentang Pengesahan Convention
On The Prohibition Of The Development, Production, Stockpiling And
Use Of Chemical Weapons And On Their Destruction (Konvensi
Tentang Pelarangan Pengembangan, Produksi, Penimbunan, dan
Penggunaan Senjata Kimia Serta Tentang Pemusnahannya),
(Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 171) ;
9. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara Tahun
1999 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3817) ;
10.Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3821) ;
11.Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 260 Tahun 1967
tentang Penegasan Tugas dan Tanggung Jawab Menteri Perdagangan
Dalam Bidang Perdagangan Luar Negeri ;
12.Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 136 Tahun 1999
tentang Kedudukan, Tugas, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Departemen sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden
Republik Indonesia Nomor 147 Tahun 1999 ;
13.Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 355/M Tahun 1999
tentang Pembentukan Kabinet Periode Tahun 1999 - 2004
sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden RI Nomor 98/M
Tahun 2000 ;
14.Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 472/Menkes/Per/V/1996 tentang
Pengamanan Bahan Berbahaya Bagi Kesehatan;
15.Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
229/MPP/Kep/7/1997 tentang Ketentuan Umum Dibidang Impor ;
16.Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
230/MPP/Kep/7/1997 tentang Barang Yang Diatur Tata Niaga
Impornya sebagaimana telah diubah beberapakali terakhir dengan
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.
192/MPP/Kep/6/2000 ;
17.Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
105/MPP/Kep/2/1998 tentang Pergudangan ;
18.Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
444/MPP/Kep/9/1998 jo. Nomor 24/MPP/Kep/1/1999 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian dan Perdagangan
;
19.Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 187/MEN/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya Di Tempat Kerja ;
20.Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
550/MPP/Kep/10/1999 tentang Angka Pengenal Importir (API).

Mencabut :

1. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor


106/MPP/Kep/2/1998 tentang Tata Niaga Impor Bahan Berbahaya;
2. Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
288/MPP/Kep/2/1998 perihal Penugasan Impor Bahan Berbahaya.

Menetapkan :

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK


INDONESIA TENTANG TATA NIAGA IMPOR DAN PEREDARAN BAHAN
BERBAHAYA TERTENTU.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :

1. Bahan Berbahaya disingkat B2 adalah zat, bahan kimia dan biologi,


baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat
membayakan kesehatan dan lingkungan hidup secara langsung atau
tidak langsung yang mempunyai sifat racun, karsinogenik, teratogenik,
mutagenik, korosif dan iritasi.
2. IP-B2 adalah Importir Produsen Bahan Berbahaya yang diakui oleh
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri dan disetujui untuk
mengimpor sendiri bahan berbahaya yang diperuntukkan semata-mata
hanya untuk kebutuhan produksinya sendiri.
3. IT-B2 adalah Importir Terdaftar Bahan Berbahaya bukan produsen
pemilik Angka Pengenal Importir Umum (API-U) yang mendapat tugas
khusus untuk mengimpor bahan berbahaya dan bertindak sebagai
distributor untuk menyalurkan bahan berbahaya yang diimpornya
kepada perusahaan lain yang membutuhkan yang dalam hal ini adalah
pengguna akhir.
4. Pengguna akhir adalah Badan Usaha yang menggunakan bahan
berbahaya tersebut sesuai peruntukannya dan dilarang
diperjualbelikan/diperdagangkan maupun dipindah tangankan kepada
siapa saja.
5. Nomor CAS (Chemical Abstracts Services) adalah sistem indeks atau
registrasi senyawa kimia yang diadopsi secara internasional sehingga
memungkinkan untuk mengindentifikasi setiap senyawa kimia secara
spesifik.
6. Lembaga Data Keselamatan Bahan (LDKB/MSDS) adalah lembaran
petunjuk yang berisi informasi tentang sifat fisika, kimia dari bahan
berbahaya, jenis bahaya yang dapat ditimbulkan, cara penanganan
dan tindakan khusus dalam keadaan darurat.
7. Direktur Jenderal PLN adalah Direktur Jenderal Perdagangan Luar
Negeri Departemen Perindustrian dan Perdagangan.
8. Direktur Jenderal IKAH adalah Direktur Jenderal Industri Kimia, Agro
dan Hasil Hutan Departemen Perindustrian dan Perdagangan.
9. Direktur Jenderal POM adalah Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan
Makan Departemen Kesehatan.

BAB II

B 2 YANG DIATUR TATA NIAGA DAN PELAKSANA IMPORNYA

Pasal 2

(1) B2 yang diatur tata niaga impornya sebagaimana tercantum dalam


Lampiran I Keputusan ini berjumlah 351 Pos Tarif yang terdiri dari bahan
kimia yang membahayakan kesehatan dan merusak kelestarian lingkungan
hidup dan bahan kimia daftar 2 dan 3 Konvensi Senjata Kimia (KSK).

(2) Daftar B2 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditinjau kembali
sesuai perkembangan.

Pasal 3

(1) Perusahaan yang ditunjuk sebagai IT-B2 sebagaimana tercantum dalam


Lampiran I Keputusan ini adalah PT. (Persero) Dharma Niaga.

(2) Setiap pelaksanaan impor B2 oleh perusahaan sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) harus mendapat persetujuan Direktur Jenderal PLN setelah
memperhatikan pendapat Direktur Jenderal POM dan Direktur Jenderal IKAH.

BAB III

TATA CARA DAN PERSYARATAN MEMPEROLEH IP - B2

Pasal 4
(1) Untuk dapat diakui sebagai IP-B2, perusahaan yang bersangkutan wajib
mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal PLN, dengan
memperhatikan dokumen :

a. Izin Usaha Industri / Tanda Daftar Industri atau yang setara dari
Departemen Teknis yang membidangi usaha tersebut;
b. Angka Pengenal Importir Produsen (APIP) atau Angka Pengenal
Importir Terbatas (APIT);
c. Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
d. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
e. Rekomendasi dari Direktur Jenderal IKAH.

(2) B2 yang diimpor oleh IP-B2 hanya untuk kebutuhan proses produksi dan
dilarang diperjualbelikan/diperdagangkan maupun dipindah tangankan
kepada siapa saja.

(3) Bentuk Pengakuan Sebagai IP-B2 adalah sebagaimana contoh dalam


Lampiran II Keputusan ini.

Pasal 5

Persetujuan atau penolakan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 4 ayat (1) diputuskan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak
permohonan diterima secara lengkap dan benar.

Pasal 6

Pengakuan sebagai IP-B2 dan Persetujuan IT-B2 berlaku selama 1 (satu)


tahun terhitung sejak tanggal diterbitkan pengakuan IP-B2 dan persetujuan
IT-B2 dan dapat diperpanjang.

BAB IV

PENGANGKUTAN DAN PENDISTRIBUSIAN B2

Pasal 7

Pengeluaran / pengangkutan B2 dari pelabuhan tujuan ke gudang IP-B2 atau


IT-B2 wajib mematuhi prosedur dan ketentuan dari istansi terkait serta
dilengkapi dengan Emergency Transport Guide.

Pasal 8

(1) Pendistribusian B2 kepada pengguna akhir dilakukan langsung oleh IT-B2


dan dilarang melalui perantara.
(2) Pendistribusian B2 harus dikemas dengan baik dan aman sesuai dengan
aturan United Nation Standard serta mencantumkan nama B2, berat netto,
label/simbol serta petunjuk bila terjadi kecelakaan.

(3) Jika dalam pendistribusian kepada pengguna akhir memerlukan kemasan


yang lebih kecil, maka IT-B2 dapat melakukan repacking dan tetap wajib
memenuhi standard yang berlaku sebagaimana dimaksud ayat (2) serta
wajib mencantumkan pada repacking tersebut, nama B2, berat netto,
label/symbol serta petunjuk bila terjadi kecelakaan.

BAB V

KEWAJIBAN

Pasal 9

(1) Dilaksanakan atau tidak dilaksanakan impor B2, IP-B2 dan IT-B2 wajib
menyampaikan laporan secara tertulis kepada Direktur Jenderal PLN,
Direktur Jenderal IKAH dan Direktur Jenderal POM setiap 3 (tiga) bulan
terhitung sejak tanggal diterbitkannya pengakuan sebagai IP-B2 atau IT-B2.

(2) Bentuk Laporan Realisasi Impor IP-B2 dan IT-B2 adalah sebagaimana
contoh dalam Lampiran III Keputusan ini.

(3) Pendistribusian B2 oleh IT-B2, wajib dilaporkan secara tertulis kepada


Direktur Jenderal PLN, Direktur Jenderal IKAH dan Direktur Jenderal POM,
selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah B2 didistribusikan kepada
pengguna akhir.

(4) Bentuk Laporan Pendistribusian dan Pemanfaatan B2 asal impor adalah


sebagaimana contoh dalam Lampiran IV Keputusan ini.

Pasal 10

(1) Perusahaan yang telah mendapat pengakuan sebagai IP-B2 dan IT-B2,
wajib mempunyai peralatan Sistim Tanggap Darurat dan tenaga ahli di
bidang pengelolaan B2.

(2) B2 yang diimpor oleh IP-B2 dan IT-B2 wajib menggunakan kemasan dan
label berdasarkan ketentuan nasional yang berlaku serta persyaratan
International Maritime Dangerous Good Code (IMDG Code/United National
Standard).

Pasal 11

1. IP-B2 dan IT-B2 wajib membuat dan menyusun Lembaran Data


Keselamatan Bahan (LDKB/MSDS) B2.
2. Lembaran Data Keselamatan Bahan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) wajib disertakan pada setiap kemasan dan juga ditempatkan pada
tempat B2 disimpan sehingga mudah dilihat dan dibaca.
3. Bentuk Lembaran Data Keselamatan Bahan adalah sebagaimana
contoh dalam Lampiran V Keputusan ini.

BAB VI

SANKSI

Pasal 12

Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Keputusan ini, baik disengaja


maupun karena kelalaiannya dapat dikenakan sanksi :

a. Pencabutan pengakuan sebagai IP-B2, apabila :

1. Menjualbelikan dan atau memindahtangankan B2 sebagaimana


yang tercantum dalam pengakuan sebagai IP-B2;
2. Mengimpor barang yang jenis dan atau jumlahnya tidak sesuai
sebagaimana yang tercantum dalam pengakuan IP-B2;
3. Mengimpor barang yang tercantum dalam pengakuan IP-B2
yang masa berlakunya habis;
4. Tidak memperpanjang masa berlaku IP-B2 selambat-lambatnya
1 (satu) bulan setelah masa berlakunya habis;
5. Tidak melaporkan realisasi impornya 2 (dua) kali berturut-turut
sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (1).

b. Barang yang diimpor oleh IP-B2 yang tidak sesuai dengan pengakuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib direekpor atau dimusnahkan
atas biaya importir yang bersangkutan atau dikuasai oleh negara atau
dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan kepabeanan yang berlaku.

Pasal 13

(1) Penunjukan sebagai IT-B2 dapat ditinjau kembali oleh Menteri


Perindustrian dan Perdagangan, apabila :

a. Mengimpor barang yang jenis dan atau jumlahnya tidak sesuai


sebagaimana yang tercantum dalam surat persetujuan IT-B2;
b. Mengimpor barang yang tercantum dalam surat persetujuan IT-
B2 yang masa berlakunya habis;
c. Melakukan pendistribusian B2 yang diimpor melalui perusahaan
lain dan atau pedagang perantara;
d. Tidak melaporkan realisasi impornya 2 (dua) kali berturut-turut
sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (1).
(2) Barang yang diimpor oleh IT-B2 yang tidak sesuai dengan pengakuan
sebagaimana dinaksud pada ayat (1) wajib direekpor atau dimusnahkan atas
biaya importir yang bersangkutan atau dikuasai oleh negara atau dikenakan
sanksi sesuai dengan ketentuan kepabeanan yang berlaku.

Pasal 14

Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Keputusan ini, selain yang diatur


pada Pasal 12 dan 13 baik disengaja maupun karena kelalaian yang
berakibat membahayakan kesehatan manusia/hewan/tumbuh-tumbuhan
serta merusak kelestarian lingkungan hidup, dikenakan sanksi pidana sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.

BAB VII

PENUTUP

Pasal 15

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan


ini dengan menempatkannya dalam Berita Negara Republik Indonesia

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 4 Juli 2000

MENTERI PERINDUSTRIAN DAN

PERDAGANGAN R.I.

Ttd.

LUHUT B. PANDJAITAN

LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI
TENTANG
TATA NIAGA IMPOR DAN PEREDARAN
BAHAN BERBAHAYA TERTENTU
NOMOR : 254/MPP/Kep/7/2000
TANGGAL : 4 Juli 2000

Daftar Isi :
A. LAMPIRAN I : Daftar Bahan Berbahaya Yang Diatur Tata Niaga
Impornya
B. LAMPIRAN II : Bentuk Surat Pengakuan Sebagai Importir Produsen
Bahan Berbahaya (IP-B2)
C. LAMPIRAN III : Bentuk Laporan Realisasi Impor Bahan Berbahaya
D. LAMPIRAN IV : Bentuk Laporan Pendistribusian dan Pemanfaatan Bahan
Berbahaya Asal Impor
E. LAMPIRAN V : Bentuk Lembaran Data Keselamatan Bahan (LDKB/MSDS)

MENTERI PERINDUSTRIAN DAN


PERDAGANGAN R.I.

Ttd.

LUHUT B. PANDJAITAN

LAMPIRAN I
KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI
NOMOR : 254/MPP/Kep/7/2000
DAFTAR BAHAN BERBAHAYA YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA
Lampiran II
Keputsan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan
Nomor : 254/MPP/Kep/7/2000
Tanggal : 4 Juli 2000

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN


DIREKTORAT JENDERAL PERDAGANGAN LUAR NEGERI

PENGAKUAN SEBAGAI IMPORTIR PRODUSEN BAHAN BERBAHAYA


( IP - B2 )

NOMOR : ...................................................

Sehubungan dengan permohonan ................... atas nama perusahaan


................. sebagaimana surat Nomor .................. tanggal ...............
maka berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
................ tanggal ................... tentang Tata Niaga Impor dan Peredaran
Bahan Berbahaya Tertentu, dengan ini diberikan :

PENGAKUAN SEBAGAI IMPORTIR PRODUSEN BAHAN BERBAHAYA


( IP - B2 )

Kepada :
Nama Perusahaan :
Bidang Usaha :
Alamat Perusahaan dan Pabrik :
Nama Penanggung Jawab Perusahaan :
Nomor Telepon/Fax Perusahaan :
Nomor Izin Usaha Industri/Tanda Daftar Industri :
Nomor API Produsen / Terbatas :
Nomor Tanda Daftar Perusahaan (TDP) :
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) :
Rekomendasi Dirjen IKAH Depperindag :

JUMLAH DAN JENIS BAHAN BERBAHAYA YANG DAPAT DIMPOR


ADALAH SEBAGAIMANA TERLAMPIR

Dengan ketentuan sebagai berikut :


1. Bahan berbahaya sebagaimana terlampir hanya diperuntukkan untuk
kebutuhan produksinya sendiri dan dilarang untuk diperjualbelikan /
diperdagangkan maupun dipindahtangankan kepada siapa saja ;
2. Produsen impor barang tersebut harus dilakukan berdasarkan
ketentuan perundang-undangan yang belaku ;
3. Dilaksanakan atau tidak dilaksanakan impor Bahan Berbahaya
sebagaimana tercantum dalam Lampiran pengakuan ini, Saudara wajib
menyampaikan laporan secara tertulis kepada Direktur Jenderal
Perdagangan Luar Negeri, Direktur Jenderal Industri Kimia, Agro dan
Hasil Hutan dan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
Departemen Kesehatan, setiap 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal
pengakuan ini ;
4. Dalam hal terjadi perluasan produksi yang memerlukan tambahan
Bahan Berbahaya yang telah ditetapkan, maka perusahaan Saudara
dapat mengajukan permohonan tambahan kepada Direktur Jenderal
Perdagangan Luar Negeri dengan melampirkan bukti ijin perluasan dan
rekomendasi dari Direktur Jenderal .......................... Depperindag ;
5. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
12 ayat (1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
................................ tanggal ............................ dapat dikenakan
sanksi pencabutan Pengakuan Sebagai Importir Produsen Bahan
Berbahaya ;
6. Pengakuan Sebagai Importir Produsen Bahan Berbahaya ini berlaku
sampai dengan tanggal ..................................

Tembusan : Jakarta, ...............................


1. Menteri Perindustrian dan Perdagangan; DIREKTUR JENDERAL
2. Dirjen IKAH, Depperindag.; PERDAGANGAN LUAR NEGERI
3. Irjen Depperindag.;
4. Dirjen Bea dan Cukai, Depkeu.;
5. Dirjen Pajak, Depkeu.;
6. Bank Indonesia / ULN;
7. Dirjen POM, Depkes.; ( ...................................... )
8. Direktur Impor, Depperindag.;
9. Kakanwil Depperindag setempat;
10. Kakanwil Bea dan Cukai setempat.

Lampiran III
Keputsan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Nomor : 254/MPP/Kep/7/2000
Tanggal : 4 Juli 2000

LAPORAN REALISASI IMPOR BAHAN BERBAHAYA


Nomor IP - B2 / IT - B2 :

Kepada Yth :
1. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Depperindag;
2. Direktur Jenderal Industri Kimia, Agro dan Hasil HutanDepperindag;
3. Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes.
ttd. Cap Perusahaan

( Nama Direktur Perusahaan )

Lampiran IV
Keputsan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Nomor : 254/MPP/Kep/7/2000
Tanggal : 4 Juli 2000

LAPORAN PENDISTRIBUSIAN DAN PEMANFAATAN


BAHAN BERBAHAYA ASAL IMPOR
Nomor IT - B2 :

Kepada Yth :
1. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Depperindag;
2. Direktur Jenderal Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan Depperindag;
3. Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes.
ttd. Cap Perusahaan

( Nama Direktur Perusahaan )

Lampiran V
Keputsan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Nomor : 254/MPP/Kep/7/2000
Tanggal : 4 Juli 2000

LEMBARAN DATA KESELAMATAN BAHAN


LDKB / MSDS

1. Identitas Bahan dan Perusahaan


Nama Bahan :
Rumus Kimia :
Code Produksi :
Synonim :

Nama perusahaan (pembuat) atau distributor atau importir :


a. Nama Perusahaan :
Alamat :
Phone :
b. Nama distributor :
Alamat :
Phone :
c. Nama importir :
Alamat :
Phone :

2. Komposisi Bahan
Bahan % berat CAS No. Batas pemajanan

3. Identifikasi Bahaya
- Ringkasan bahaya yang penting :
- Akibat terhadap kesehatan :
* Mata
* Kulit
* Tertelan
* Terhirup
* Karsinogenik
* Teratogenik
* Reproduksi

4. Tindakan Pertolongan Pertama Pada Kesehatan (P3K) Terkena Pada :


- Mata
- Kulit
- Tertelan
- Terhirup

5. Tindakan Penanggulangan Kebakaran


a. Sifat-sifat bahan mudah terbakar
Titik nyala : C (.........F)
b. Suhu nyala sendiri : C

c. Daerah mudah terbakar


Batas terendah mudah terbakar : %
Batas tertinggi mudah terbakar : %
d. Media pemadaman api :
e. Bahan khusus :
f. Instruksi pemadaman api :

6. Tindakan Terhadap Tumpukan dan Kebocoran


a. Tumpahan dan kebocoran kecil
b. Tumpahan dan Kebocoran besar
c. Alat pelindung diri yang digunakan

7. Penyimpanan dan Penanganan Bahan


a. Penangan bahan
b. Pencegahan terhadap pemajanan
c. Tindakan Pencegahan terhadap kebakaran dan peledakan
d. Penyimpanan
e. Syarat khusus penyimpanan bahan

8. Pengendalian Pemajanan dan Alat pelindung Diri


a. Pengendalian teknis
b. Alat pelindung diri
- Pelindung pemajanan, mata, kulit, tanga, dll.

9. Sifat-sifat Fisika dan Kimia


a. Bentuk : padat/cair/gas
b. Bau :
c. Warna :
d. Masa jenis :
e. Titik didih :
f. Titik lebur :
g. Tekanan uap :
h. Kelarutan dalam air :
i. PH :
10. Reaktifitas dan Stabilitas
a. Sifat reaktifitas :
b. Sifat stabilitas :
c. Kondisi yang harus dihadapi :
d. Bahan yang harus dihindari :
(incompability) :
e. Bahan dekomposisi :
f. Bahaya polimerisasi :

11. Informasi Toksikologi


a. Nilai Ambang Batas (NAB) : .. ppm
b. Terkena mata :
c. Tertelan LD 50 (mulut) :
d. Terkena kulit :
e. Terhirup LD 50 (pernapasan) :
f. Efek lokal :
g. Pemaparan jangka pendek (akut) :
h. Pemaparan jangka panjang (kronik) :
Korsinogen
Teratogen
Reproduksi
Mutagen

12. Informasi Ekologi


a. Kemungkinan dampaknya terhadap lingkungan
b. Degradasi
c. Bio akumulasi

13. Pembuangan limbah

14. Pengangkutan
a. Peraturan internasional
b. Pengangkutan darat
c. Pengangkutan laut
d. Pengangkutan udara

15. Peraturan Perundang - undangan

__________________________________