Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

Pembunuhan merupakan dosa besar yang sangat Allah murkai


Allah berfirman :

Dalam Surah Al-Anam ayat 151

151. Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh
Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat
baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak
kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada
mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang
nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh
jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab)
yang benar". demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu
memahami(nya).

Dalam banyak hal banyak kasus pembunuhan terjadi dalam


masyarakat luas belakangan ini dengan sebab ini kita dapat melihat
kepada perkampungan yang semakin lama semakin memaraknya
pembunuhan dengan sebab yang bermacam-macam jenisnya. Dari
ayat diatas jelas bahwa keharamaan membunuh dan sanksi dari
membunuh itu sendiri sangatlah jelas sebagaiman Hadits Rasulullah
SAW:



: :




:

( )


Artinya:Dari Ibnu Masud ra. Ia berkata: Rasulullah saw. Telah bersabda: Tidak
halal darah seorang muslim yang telah menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan
melainkan Allah dan bahwa aku utusan Allah, kecuali dengan salah satu tiga perkara
: Pezina muhshan, Membunuh, dan Orang yang meninggalkan agamanya yang
memisahkan diri dari jamaah. (Muttafaq Alaih).

Dari hadist diatas jelaslah bahwa darah orang yang membunuh


merupakan darah yang halal bagi orang lain dan kita melihat banyak

1
jenis dan pernak-pernik dalam pembunuhan yang kita dapati
sekarang ini.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembunuhan

Pembunuhan dalam Bahasa Indonesia diartikan dengan proses


perbuatan atau cara membunuh. Dalam Bahasa Arab,
pembunuhan disebut al-qatlu yang artinya mematikan. Dalam
istilah pembunuhan didefinisikan oleh Wahbah Zuhaili dalam fiqh
islam dan dalilnya, sebagai berikut:

Pembunuhan adalah perbuatan yang menghilangkan atau


mencabut nyawa seseorang.1

Dalam kitab abdul qadir audah dijelaskan bahwa pembunuhan


adalah :

Pembunuhan adalah menghilangkan nyawa anak manusia yang


dilakukan oleh anak manusia lain.2

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pembunuhan


adalah perbuatan seseorang terhadap orang lain yang
mengakibatkan hilangnya nyawa, baik perbuatan tersebut
dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja.

Makalah ini membahas mengenai pembunuhan disengaja, maka


akan terfokus pada pembahasan pembunuhan disengaja.

1 Wahab al-zuhaili,fiqh sunnah dan dalilnya.juz 6 hal.217

2 Abdul qadir audah, at-tasrik al-jinai al-islami, juz II (maktabah al-Urubah) hal.6

2
Pembunuhan disengaja (qatl al- amd) Yaitu perbuatan menyengaja
suatu pembunuhan karena adanya sebab permusuhan terhadap
orang lain dengan menggunakan alat yang mematikan, melukai,
atau benda-benda yang berat, secara langsung atau tidak
langsung (sebagai akibat dari suatu perbuatan), seperti
menggunakan besi, pedang, kayu besar, pada organ tubuh.

B. Pandangan Para Ulama

Pembagian pembunuhan menurut Hanafi terbagi atas 5:

1. Pembunuhan sengaja
Pembunuhan sengaja adalah pembunuhan yang dilakukan
dengan sengaja menggunakan alat seperti pisau, pedang,dan
lainnya

2. Pembunuhan menyerupai sengaja


Pembunuhan menyerupai sengaja adalah pembunuhan yang
dilakukan dengan sengaja dengan tidak menggunakan pisau
(senjata tajam), tetapi menggunakan tongkat, batu dan dll.
3. Pembunuhan kesalahan
Pembunuhan kesalahan adalah pembunuhan yang tidak
bermaksud membunuh ataupun memukul
4. Pembunuhan karena melihat dari kesalahan pelaku
Pembunuhan karena melihat dari kesalahan pelaku adalah
menjalankan pembunuhan karena ada sebab dari syariah yang
dibenarkan.
5. Pembunuhan tidak sengaja
Pembunuhan tidak sengaja adalah peristiwa atau kejadian
dengan cara yang tidak langsung.

Menurut pendapat syafii dan hambali, pembunuhan yang dilarang


dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. Pembunuhan Sengaja
Pembunuhan sengaja adalah pelaku sengaja melakukan suatu
pembunuhan dan menghendaki terjadi matinya orang lain
(korban).
2. Pembunuhan Menyerupai Sengaja
Menurut Hanabilah, pembunuhan menyerupai sengaja adalah
sengaja dalam melakukan perbuatan yang dilarang, dengan alat

3
yang pada umumnya tidak akan mematikan, namun
kenyataannya korban mati karenanya.
3. Pembunuhan Karena Kesalahan
Pembunuhan Karena Kesalahan adalah pembunuhan yang sama
sekali tidak ada unsur kesengajaan untuk melakukan perbuatan
yang dilarang, dan tindak pidana pembunuhan terjadi karena
kurang hati-hati atau kelalaian dari pelaku.

Menurut Imam Malik Pembunuhan terbagi atas 2 :

1. Pembunuhan Sengaja
Pembunuhan yang memilikli niat untuk membunuh secara
langsung baik dengan memukul, atau lain sebagainya.
2. Pembunuhan Kesalahan
3. Pembunhan yang tidak ada maksud memukul dan tidak pula
membunuh.3

C. Komparasi Pembunuhan Dalam Hukum Islam dan Hukum Pidana di


Indonesia
1. Dasar Hukum Sanksi Pembunuhan Didalam AL-Quran
a. Surat AL-Baqoroh :179


176. yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al kitab
dengan membawa kebenaran; dan Sesungguhnya orang-orang yang
berselisih tentang (kebenaran) Al kitab itu, benar-benar dalam
penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).
b. Surat An-Nisa:93


93. dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja
Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka
kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar
baginya.

2. Sangsi Hukum Bagi Pembunuh

3 Ibid Fiqih sunnah dan dalilnya. Hal 221-224

4
Berdasarkan ayat-ayat AL-Quran dan AL-Hadits yang dikutip
diatas dapat dipahami bahwa sanksi hokum atas delik
pembunuhan adalah sbb:
a. Pelaku pembunuhan yang disengaja,pihak keluarga korban
dapat memutuskan salah satu dari tiga pilihan,yaitu :
1) Qishos,yaitu hukuman pembalasan setimpal dengan
penderitaan korbannya,
2) Diyat,yaitu pembunuh harus membayar denda
sejumlah 100 ekor unta,200 ekor sapi atau 1000 ekor
kambing,atau bentuk lain seperti uang senilai
harganya.Diyat tersebut di serahkan kepada pihak
keluarga korban,
3) pihak keluarga memaafkannya apakah harus dengan
syarat atau tanpa syarat.

3. Sangsi Hukum Pembunuhan Dalam UU Pidana

Hukuman pembunuhan sengaja dalam KUHP berfariasi


berdasarkan pada unsur apakah pembunuhan itu telah
direncanakan lebih dahulu, atau pembunuhan itu karena atas
permintaan korban atau karena ketakutan terhadap suatu
keadaan yang menimpa diri pelaku. Dari berapa jenis
pembunuhan sengaja tersebut, yang dikenakan hukuman
berdasarkan pasal 340, 341, 342, 344 dan 346 KUP yaitu
hukuman mati hukuman penjara seumur hidup atau hukuman
penjara dua puluh tahun sampai hukuaman penjara empat
tahun.

Berat ringanya hukuman pidana pembunuhan dari pasal-


pasal tersebut tergantung pada latar belakang (motif) pelaku
pidana pembunuhan. Tidak semua pembunuhan sengaja
dikenakan hukuman mati atau seumur hidup. Hukuman mati
dijatuhan hanya atas tindak pidana pembunuhan karena
rencnakan terlebih dahulu dan dilakukan secara sistimatis.

Dalam UU Pidana di Indonesia, pembunuhan di atur dalam


beberapa pasal. Adapun pasal pasal tersebut antara lain :

119.Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain,diancam


,karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima
belas tahun.

5
121.Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu
merampas nyawa orang lain,diancam karena pembunuhan
dengan rencana(moord)dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu,paling lama
dua puluh tahun.

124.Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan


orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan
hati,diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
tahun.

BAB III

KESIMPULAN DAN PENUTUP

A. Kesimpulan

6
Baik hukum pidana Islam maupun hukum pidana positif
menganut hukuman mati atas pelaku pidana pembunuhan sengaja
dan direnakan terlebih dahulu dengan tujuan untuk membunuh,
namun, terdapat perbedanaan dalam penerapan hukuman.

Dalam hukum Islam penentutan dari keluarga korban sebagai


dasar untuk memutuskan apakah pelaku pidana pembunuhan
dikenakan hukuman mati atau dibebaskan dari hukuman mati
dengan memaafkan pelaku pidana pembunuhan dan hukuman
gantinya diat. Pelaku pidana pembunuhan menebus keselahannya
dengan pemberian kompensasi kepada keluarga korban, atau
dengan hukuman tazir yaitu hakim bebasa untuk memilih
hukuman mana tetap dan memabawa kemaslahatn. Apabila
kesemua hukuman itu tidak disanggupi maka dengan pemberiaan
maaf dari keluarga korban pelaku tindak pidana dibebaskan dari
segala tuntutan hukuman pidana.

Sedangkan dalam hukum pidana positif hukuman mati atau


seumur hidup atau dua puluh tahun penjara terhadap pelaku
pidana pembunuhan diputuskan oleh hakim dengan didasarkan
bukti-bukti materil dan keyakinan hakim. Dalam hukum pidana
positif walaupun pelaku tindak pidana pembunuhan telah
dimaafkan oleh keluarga korban tetap proses pemidanan tetap
diteruskan dan pelaku pidana tetap dihukum.

B. Penutup

Demikianlah makalah yang bisa saya susun. Diharapkan dengan


penyusunan makalah ini baik saya pribadi maupun rekan rekan
mampu memahami hadits tentang pembunuhan beserta aspek
aspeknya serta mampu mengkomparasikan dengan UU pidana
yang ada di Indonesia. Saya menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam penulisan makalah ini, untuk itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat saya
gunakan dalam pembuatan makalah selanjutnya.

Anda mungkin juga menyukai