Anda di halaman 1dari 3

Pemuda Tidak Menjadi Teladan dan Penggerak Efektif Gerakan

Anti Korupsi

Zauhara Faiqohtun Wuriana

150342605971

Korupsi di Indonesia sudah berlangsung lama. Berbagai upaya


pemberantasan korupsi pun sudah dilakukan sejak tahun-tahun awal setelah
kemerdekaan. Berbagai peraturan perundangan tentang pemberantasan korupsi
juga sudah dibuat. Semakin hari, kejahatan korupsi bukannya menurun tetapi
semakin lama semakin memasyarakat. Artinya korupsi telah menjadi hal yang
biasa di lingkungan masyarakat baik secara umum maupun di institusi besar
negara. Untuk membendung dan memberantas korupsi sampai ke akarnya, maka
dibutuhkan generasi yang mau dan mampu untuk meredam dan menghilangkan
budaya korupsi di negeri ini yang tidak lain adalah pemuda- pemuda Indonesia
termasuk para mahasiswa.

Namun pada kenyataannya, pemuda yang seharusnya menjadi tauladan dan


penggerak anti korupsi masih banyak yang berlaku negative dan tidak sedikit pula
yang melakukan tindak korupsi meskipun hanya sesuatu yang kecil. Pantaskah
seseorang yang melarang sesuatu tetapi dirinya sendiri melakukannya dijadikan
teladan dan penggerak? Tentu saja tidak. Bahkan Allah memberikan ancaman
terhadap orang yang mengajak kebaikan dan melarang kemungkaran tetapi
perkataannya menyelisihi perbuatannya

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu


melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab
(Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Q.S Al Baqarah : 44)
Tindak korupsi pada sesuatu yang kecil akan mempengaruhi di masa depan,
karena jika terbiasa melakukan sesuatu yang tidak bertanggung jawab bahkan
suatu kecurangan sekecil apapun, berpotensi akan melakukan sesuatu yang tidak
bertanggung jawab pada hal yang lebih besar ke depannya. Berdasarkan temuan
survei di Jawa Timur tentang pengalaman akan situasi korupsi. Terbanyak adalah
anak muda yang terlibat atau mengetahui suap ketika ditilang polisi sekitar 71
persen. Kemudian, menyuap agar mendapatkan pekerjaan sebanyak 47 persen.
Menyuap ketika mengurus dokumen atau izin sebanyak 39 persen. Menyuap
supaya bisnis atau dagangan lancar sebanyak 28 persen. Menyuap supaya bisa
lulus ujian di sekolah sebanyak 23 persen. Serta menyuap ketika berobat ke rumah
sakit atau puskesmas sebanyak 16 persen. Penjelasan Al Quran tentang ancaman
pada pelaku korupsi, termasuk penyuapan.

Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang.
Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada
hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian
tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan
(pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.

Rasulullah bersabda Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang
disuap terkait masalah hokum/ kebijakan (Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad,
no. Hadis 8670)

Tindak korupsi lain yang dilakukan oleh para pemuda adalah titip absen.
Ketidakjujuran meskipun kecil seperti ini jelas akan mengikis integritas
mahasiswa hingga bukan tindak mungkin kelak mahasiswa akan berani
menggadaikan integritasnya untuk sesuatu yang lebih besar, karena hal-hal besar
dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan. Seperti halnya para
pejabat yang berani melakukan korupsi, disebabkan oleh hilangnya integritas diri
karena terbiasa melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil yang yang dianggap
sepele.

Contoh lain yaitu, banyak sekali anak zaman sekarang meminta uang pada
orangtua dengan alasan membeli peralatan kuliah atau peralatan tugas lainnya
dengan harga yang mahal. Nyatanya, mereka memilih membelikan buku tersebut
dengan harga yang murah dan sisanya digunakan untuk pacaran, berfoya-foya
dengan teman dan digunakan untuk berbuat maksiat. Meskipun nominalnya hanya
sepuluh ribu saja namun bisa menjadi benih untuk korupsi ratusan juta dimasa
depan. Allah berfirman dalam surat A-Shaff ayat 2-3

Orang yang mati dalam keadaan membawa harta ghulul (korupsi), ia tidak
mendapat jaminan atau terhalang masuk surga. Hal itu dapat dipahami dari sabda
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

"Barangsiapa berpisah ruh dari jasadnya (mati) dalam keadaan


terbebas dari tiga perkara, maka ia (dijamin) masuk surga. Yaitu
kesombongan, ghulul (korupsi) dan hutang".

Dari beberapa contoh diatas dapat disimpulkan bahwa pemuda yang


seharusnya menjadi generasi yang lebih baik bagi bangsa Negara dan penggerak
anti korupsi. Justru tidak sedikit melakukan kecurangan dan tindak korupsi. Hal
tersebut justru nantinya akan menjadi bekal yang bersifat negative bahkan
menjadi masalah yang lebih besar bagi Negara.