Anda di halaman 1dari 9

Realisme Amerika Serikat adalah merupakan pendekatan seara

pragmatis dan behaviouristis terhadap lembaga-lembaga sosial.


Para ahli hukum Amerika mengembangkan cara pendekatan
tersebut dengan meletakkan tekanan pada putusan-putusan
pengadilan dan tindakan-tindakan hukum.
Sumber hukum utama aliran ini adalah putusan hakim, hakim lebih
sebagai penemu hukum daripada pembuat hukum yang
mengandalkan peraturan perundang-undangan, apabila
dibandingkan dengan cara berpikir aliran positivisme sangat
bertentangan karena memang aliran relisme ini merupakan reaksi
dari aliran positivisme yang lebih menekan hukum hanya sebagai
segala sesuatu yang tertuang dalam undang-undang dan aliran
realisme ini berusaha untuk merubah cara pandang para ahli hukum
di Amerika. Kaum realisme Amerika menganggap bahwa hukum itu
sebagai praktek (law in action) hukum itu adalah suatu pengalaman
dan menganggap hukum itu harus bebas dari nilai-nilai.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Llewellyn, suatu institusi hukum
harus memiliki pengalaman yang banyak dan para pekerja hukum
dituntut untuk memiliki kemampuan/keahlian untuk mengintepretasi
hukum. Tokoh realisme Amerika lain yaitu Oliver Wendell Holmes
berpendapat yang dimaksud dengan hukum adalah tindakan dari
pengadilan terhadap fakta hukum yang terjadi, pandangan hukum
sebagai prediksi apa yang akan diputuskan oleh pengadilan ini yang
menekankan realisme di Amerika bersifat pragmatis dan empiris.
Menurut John Dewey tujuan dari realisme di Amerika ini
dimaksudkan untuk menyelidiki bagaimana hukum bekerja dan
bagaimana dipergunakan dengan sesungguhnya hukum, yaitu
dengan cara mengaitkan hukum dengan fakta kehidupan yang ada
dalam masyarakat. Aliran realisme di Amerika ini menuntut
pemenuhan kebutuhan hukum terhadap gejolak-gejolak yang terjadi
dalam masyarakat jadi apabila hukum itu hanya mengacu pada
suatu aturan yang tetap maka seakan-akan merupakan prinsip-
prinsip logika, dengan prinsip tersebut hakim menjatuhkan
putuskan. Jerome Frank dalam tulisannya Law and The Modern
Mind hukum itu harus selalu ditemukan, karena apabila hakim
dalam memutuskan suatu perkara hanya didasarkan pada undang-
undang sesungguhnya hakim itu hanya menipu dirinya dengan
menyembunyikan fakta bahwa tiap-tiap perkara berbeda-beda jenis
fakta hukumnya dan menuntut suatu putusan yang berbeda-beda
pula. Frank juga menyatakan bahwa dalam mengambil keputusan
hakim dipengaruhi faktor politik, ekonomi, moral, simpati, dan
antipati namun itu semua hanya sekedar dijadikan pertimbangan.

Aliran realisme di Amerika juga mendapat pengaruh yang sangat


besar dari tokoh Llewellyn, dalam bukunya The Common Law
Traditional, Llewellyn mengembangkan suatu pemikiran bahwa
setiap institusi hukum (hakim, jaksa, pengacara dan pemerintah)
harus memiliki keterampilan dalam menafsirkan hukum dan disini
Llewellyn menuntut dibutuhkannya logika, dan dalam bukunya
tersebut Llewellyn membagi dua konsep pemikiran yang dapat
diprektekan di pengadilan Amerika yaitu Grand style, tipe ini
diterapkan pada saat pengadilan tingkat banding dimana hakim di
Amerika dalam membuat suatu keputusan lebih menekankan pada
logika dan keadaan disekitarnya, dan hakim pada tingkat banding
tidak meniru putusan hakim terdahulu dan mempelajari kembali
yang melatarbelakangi hakim terdahulu dalam menjatuhkan
putusan. Formal Style sebaliknya tipe ini lebih bersifat otoriter,
formal dan logika, hakim dalam membuat suatu keputusan
diberikan ruang untuk menggunakan logika namun hanya sebatas
sebagaimana yang terdapat dalam undang-undang, Formal Style
tidak perduli pada fakta-fakta sosial.

Pada selanjutnya pemikiran Grand Style dan Formal Style ini sangat
mempengaruh situasi perkembangan hukum di Amerika, pada abad
ke-19 Grand Style sempat diterapkan di pengadilan Amerika dan
berkembang ke bentuk Formal Style, hal ini memunculkan komentar
dari Llewellyn yang mengharapkan pengadilan di Amerika kembali
kepada Grand Style karena hakim dalam memutuskan perkara perlu
melihat situasi yang ada di dalam suatu masyarakat. Namun
sayangnya dari pemikiran Llewellyn ini memunculkan suatu
tanggapan bahwa dengan hakim diberikan kesempatan untuk
menggunakan logika dan mempertimbangkan kondisi yg ada
dimasyarakat dalam menjatuhkan keputusan menimbulkan
keanekaragaman putusan hukum terhadap satu perkara sehingga
tidak ada patokan hukum yang baik itu seperti apa sehingga
masyarakat dapat menerimanya.
Menurut K. Llewellyn dalam bukunya Using The New Jurisprudence
apa yang telah dikatakan mungkin dapat disimpulkan bahwa hakim
dan para pejabat ini tidak sepenuhnya bebas dan tidak harus
sepenuhnya bebas membagi pada analisis dan pemeriksaan lebih
dekat menjadi dua fakta. Satu fakta yang berkaitan dengan kontrol
menahan diri, menahan hakim dan pejabat, fakta lain yang
bersangkutan dengan memungkinkan untuk mereka dari tingkat
yang terbatas dan jenis terbatas dari kelonggaran dan meletakkan
pada mereka tugas untuk latihan mereka ujung keterampilan dan
penilaian dalam kelonggaran dalam menterjemahkan satu kasus.
Kedua fakta ini harus dilihat dan keduanya harus diperhitungkan
oleh yurisprudensi yang bertujuan untuk menutupi fakta yang jelas
dan kebijakan diselesaikan dari sistem hukum kita, karena ada dua
jenis kebebasan pejabat pengadilan atau lainnya yang datang
dalam pertanyaan dan jenis kedua yang sangat berbeda itu adalah
fakta dalam sistem hukum kita bahwa hakim tidak berarti bebas
untuk menjadi sewenang-wenang dan kebutuhan vital kita bahwa
mereka tidak harus gratis menjadi sewenang-wenang telah
tertangkap ke dalam alasan-alasan atau doktrin tentang hukum dan
bukan laki-laki dan tentang aturan menentukan kasus tetapi juga
kenyataan bahwa sistem hukum kita tidak menyesuaikan dengan
kasus individu dan perubahan kondisi kita dan lembaga-lembaga
dan fakta itu berarti bahwa hakim dan pejabat lainnya bebas untuk
beberapa derajat nyata untuk bersikap adil dan bijaksana dan
bahwa kita memiliki kebutuhan vital bahwa para hakim dan pejabat
lainnya akan terus menjadi nyata untuk beberapa derajat bebas
untuk menjadi bijaksana dan hanya fakta yang terjadi namun tidak
telah terjebak ke sebuah alasan yang sama tajam atau sama
berharga atau doktrin. Namun hal yang tidak kalah penting dari
sistem hukum kita dan tugas hakim kita, ada hukum yang kita
rasakan juga impersonal dan dianggap sebagai hasil pemikiran
keras untuk menemukan hukum.

Llewellyn dalam bukunya yg berjudul My Philosophy of Law


menjelaskan ada waktu ketika hukum menjadi perhatian para filsuf
dan dipahami sebagai bagian dari filosofi ada kekhawatiran baru-
baru ini antara para ilmuwan sosial dengan hukum sebagai ilmu
sosial. Pengacara menganggap hukum sebagai kerajinan dan
sebagai profesi. Negarawan telah mengenal hukum sebagai salah
satu aspek kunci dari masyarakat sebagai panduan, sebagai alat.
Dalam hukum kebenaran masing-masing hal-hal yang telah
disebutkan adalah hal yang lebih pada bagian besar dari
perselisihan antara jurisprudensi kehilangan banyak makna dan jika
fase hukum yang secara khusus untuk satu dan lain menjadi
hubungan dengan hukum secara keseluruhan.

Hal yang dianggap penting adalah lembaga yang berkembang, dan


lembaga yang diperlukan dalam masyarakat. Sebuah lembaga tentu
saja tidak pernah terdiri dari aturan sendiri ataupun cita-cita saja,
aturan sebagai salah satu bagiannya. Dalam kasus hukum, institusi
mengandung salah satu bagian tubuh yang luar biasa dan sangat
penting dari aturan, terorganisir (cukup longgar) di sekitar konsep
dan ditekankan melalui prinsip-prinsip. Paduan aturan-aturan dan
prinsip-prinsip hukum yang tepat, ada aturan lain dan konsep
lainnya, teknik dirumuskan preseden konstruksi dan sejenisnya
untuk membimbing manipulasi lembaga hukum. Setiap lembaga
hukum akan mengandung ideologi dan ide meresap kuat dan tidak
secara eksplisit. Sebagian besar implisit, dan yang lulus hampir
tidak disebutkan dalam buku.

c. Scandinavian Legal Realism


Aliran Scandinavia condong pada ideologi social welfare, dimana hal
ini terlihat jelas dalam tulisan-tulisan Lundstedt, meskipun dia tidak
pernah mengakui bahwa pemikirannya dipengaruhi oleh ideologi.
Hagerstorm dipandang sebagai bapak dari aliran ini, meskipun
masih terdapat beberapa tokoh lain yang sangat berpengaruh dan
terkenal yakni Olivecrona, Lundstet dan Ross.
Menurut Lloyd D. dan Freeman, terdapat beberapa pokok-pokok
pikiran penting yang menjadi mainstream dari aliran ini, antara lain:
1) Law as Fact
Aliran ini berkeyakinan bahwa hukum hanya bisa dijelaskan melalui
fakta-fakta yang bisa diobservasi, dan studi tentang fakta ini
yang disebut dengan ilmu pengetahuan hukum karenanya
merupakan sebuah ilmu pengetahuan sebagaimana ilmu
pengetahuan lain yang peduli dan memfokuskan diri pada fakta dan
kejadian dalam hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, keyakinan
tentang kekuatan mengikat, kebenaran hukum, eksistensi hak dan
kewajiban, keyakinan tentang hak properti dipisahkan dari khayalan
dan dunia metafisika.
Bagi Olivecrona, aturan hukum merupakan perintah yang
independen yang termanifestasikan dalam bentuk perintah, namun
tidak seperti perintah yang berasal dari seseorang. Hukum
termanifestasikan dalam rasa dari rangkaian kalimat dalam
undang-undang, dan ditangkap oleh alam pikiran manusia dan
selanjutnya mempengaruhi tingkah laku manusia. Lundstedt
menambahkan bahwa aturan hukum hanyalah sebuah prosedur
untuk mencapai tujuan tertentu (dalam hal ini adalah kesejahteraan
sosial). Lundstedt memandang bahwa hak dan kewajiban hanyalah
merupakan konklusi hukum. Dia mencontohkan bahwa hak atas
properti sebenarnya hanyalah tiadanya resiko hukum bagi pemilik
properti untuk melakukan tindakan-tindakan atas properti tersebut.
Dengan demikian, property right tidak muncul dari das sollen,
melainkan dari das Sein.
2) Theory of Law
Ross membedakan 2 jenis ilmu hukum, pertama hukum dalam arti
yang dimuat dalam undang-undang, dan kedua kalimat-kalimat
dalam buku dimana hukum dinyatakan. Kategori pertama bersifat
menentukan, sedangkan yang kedua lebih mengarah kepada
pengetahuan tentang apa hukum yang sebenarnya yang berisi
pernyataan dan penjelasan. Bagi Ross, validitas hukum adalah
serangkaian abstrak dari ide-ide normatif yang disajikan dalam
sebuah skema intepretasi atas fenomena hukum dalam kenyataan,
yang dimaksdukan untuk memprediksikan aktifitas para hakim. Dia
menyatakan bahwa norma hukum utamanya ditujukan bukan
kepada seluruh masyarakat, namun merupakan petunjuk kepada
hakim.
Aturan hukum adalah aturan tentang penggunaan kekuatan dan
ditujukan kepada para pejabat terkait. Contoh, larangan membunuh,
merupakan petunjuk bagi hakim dan beberapa instansi pemerintah
dalam berurusan dengan kasus-kasus pembunuhan yang diajukan
kepada mereka. Dalam pandangan Ross, semakin efektif
pemenuhan aturan oleh masyarakat, maka semakin sulit untuk
mengukur validitas hukumnya, karena pengadilan tidak memiliki
kesempatan untuk menunjukkan reaksinya. Oleh karena itu, dia
mengatakan bahwa hukum adalah valid jika hakim menganggapnya
mengikat. Namun, pemikiran Ross ini dianggap banyak
menimbulkan persoalan karena dianggap sulit untuk menyelidiki
pemikiran hakim.
3) Prinsip-prinsip verifiabilitas
Bagi aliran realisme merupakan hal yang tidak bisa ditawar, dan
menolak metafisika. Dalam hal ini, terdapat kemiripan antara aliran
ini dengan legal positivism. Ross mengatakan bahwa hanya ada
satu dunia dan satu kognisi (kesadaran). Seluruh ilmu pengetahuan
(termasuk ilmu pengetahuan hukum) hanya memustakan perhatian
kepada fakta, seluruh dalil ilmu pengetahuan menyangkut realitas,
dan seluruh yang tidak sepenuhnya logis (matematis) selalu
merujuk kepada uji pengalaman. Studi hukum doktrinal bagi Ross
dianggap sebagai ilmu pengetahuan sosial empirik. Dia juga
mengatakan bahwa makna diberikan terhadap fakta yang dapat
diferivikasi, sehingga dalil-dalil yang tidak dapat diverifikasi maka
tidak bermakna. Namun demikian, Lloyd D. Dan Freeman
menganggap bahwa pandangan Ross ini bermasalah dengan
pemahaman tentang kegunaan bahasa, yang menurutnya bersifat
tunggal. Padahal dalam kenyataannya kegunaan bahasa dapat
bermacam-macam. Meskipun demikian, dalam perkembangan
berikutnya, aliran ini lebih bersikap toleran terhadap keragamaan
kegunaan bahasa. MacCormak mengatakan bahwa keragaman
fungsi bahasa dan realitas psikologis dari keyakinan dan perasaan
adalah elemen utama dari penjelasan Ross dan Olivecrona
mengenai aturan hukum dan viliditasnya, dan juga hak-hak hukum.
Ross membuat 3 perbedaan atas perkataan yang digunakan dalam
aturan hukum indicative, directive dan emotive. Sedangkan
Olivecrona membedakan bahasa hukum ke dalam 2 kategori
technical (yang bersifat pasif), dan performative (yang bersifat
kreatif).
4) Asal mula hukum
Dalam pandangan Olivecrona, asal mula hukum sejatinya adalah
pertanyaan tentang asal mula histori dan faktual tentang
perkembangan aturan yang luar biasa, bersifat magis-religius yang
ditemukan dalam masyarakat kuno.
5) Reductionism dan legal concept
Menurut Ross, konsep dapat selalu direduksi dengan analisa atas
serangkaian dalil yang setara, atau dapat disubstitusikan.
6) Feature of law
Menurut Olivecrona, kinerja sistem hukum tidaklah mistis, atau
didasarkan pada enititas yang fiktif, misalnya negara atau sifat
mengikat dari hukum. Dia beranggapan bahwa hukum diproduksi
oleh sekumpulan orang yang berada dalam sebuah organisasi
negara yang mampu menjalankan hukum melalui kekuatan
pemaksa yang dimilikinya, dan sekumpulan orang di lembaga
legislatif yang dapat menghadirkan tekanan psikologis terhadap
masyarakat.

7) Hukum dan moralitas


Dalam pemikiran aliran Skandinavia, gagasan-gagasan moral
sebenarnya dibentuk oleh hukum. Hukum menjadi faktor utama
yang mempangaruhi standard moral, terutama karena
kemampuannya untuk menggunakan kekuatan untuk
menegakkanya. Teori ini memang sangat rentan untuk
diperdebatkan, terutama jika dipertanyakan tentang mana yang
lebih dulu hadir, apakah moral ataukah hukum.
8) Ideologi hukum (method of Justice dan Social Welfare)
Kebanyakan kelompok realis mendukung konsep legal ideology atau
method of justice dengan menyandarkan diri pada tujuan material
hukum, mengutamakan sistem hukum yang aktual, sehingga
menolak aspek metafisika, atau penggunaan hukum alam atau nilai
keadilan sebagai parameter penilaian objektif, karena menurut
aliran realis, sebuah penilaian pastilah subjektif. Bagi Lundstedt,
jurisprudence haruslah berdasarkan observasi atas fakta, bukannya
berdasarkan atas penilaian individual atau metafisika.
7. Sosilogy of Law
Pemikiran Sosiologi ditandai oleh karakter seperti, pertama bahwa
pandangan hukum sebagai suatu metode kontrol sosial. Kedua, di
samping itu para ahli hukum sosiologis sangat skeptis dengan
aturan-aturan yang ada dalam buku teks hukum yang terkodifikasi,
karena yang utama adalah hukum dalam kenyataan aktualnya.
Ketiga adalah para ahli hukum sosiologis pada umumya sepakat
bahwa pentingnya memanfaatkan ilmu sosial, termasuk sosiologi.