Anda di halaman 1dari 9

TUGAS

TEORI DAN STRATEGI PEMBELAJARAN PTK

TEORI DAN PEMBELAJARAN TVET

DOSEN PENGAMPU
DR. PUTU SUDIRA. M.P

Oleh :
NURHUDA
16702251043

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017

1
TUGAS 1
TEORI DAN PEMBELAJARAN TVET

Soal :
Sarikan BAB IV buku TVET Abab XXI bagaimana menerapkan Teori-teori
tersebut !!!

A. Tujuan pembelajaran TVET


Tujuan Akhir Pembelajaran TVET adalah terbangunnya identitas profesi
yang diharapkan disukai, dibutuhkan oleh pemangku kepentingan
(stakeholders) dan bermakna bagi diri sendiri.
Identitas profesi sebagai dampak pembelajaran TVET adalah produk dari
berbagai pengalaman (Experiences), hubungan baik (relationship) dengan
Stakeholders, menjado harapan stakeholders, dan bermakna bagi dirinya
sendiri.
Pembelajaran TVET Abab XXI adalah pembelajaran yang tidak hanya
berbasis kompetensi pengetahuan, Skill dan attitude, tetapi juga juga pada
pengembangan kompetensi kerja yang diterima oleh pemangku kepentingan
dan memiliki jejaring yang luas.
TVET Mencakup 2 hal pokok yaitu Pendidikan dan pelatihan. Pembelajaran di
lembaga pendidikan teknikal dan vokational dan pelatihan dilembaga diklat
memiliki pendekatan yang berbeda.
Pembelajaran TVET akan efektif hanya jika seluruh proses dan hasil akan
memberi dampak bagi masyarakat peserta didik untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya dalam berkarir di dunia kerja, peningkatan produktivitas lembaga
atau perusahaan pemberi kerja, pembangunan ekonomi dan daya saing
bangsa.

B. Teori Belajar klasik


Teri belajar kasik adalah
1. Teori belajar behavioritik
Konsep teori belajar behavioritik adalah respon dari perubahan
perilaku yang teramati, diukur, dan ternilai kongkret karena ada
rangsangn luar pada lingkungan belajar (stimulus) berdasarkan hukum-
hukum mekanistik. Respon terhadap kondisi lingkungan membentuk
ikatan yang kuat, asosiasi, perwujudan sikap, pola pikir, dan tindakan
belajar.
Teori behavioristik menyatakan belajar adalah perubahan tingkah laku
anak karena interaksi anak terhadap lingkungan terkondisi.

2
Teori belajar behavioristik dalam TVET relevan digunakan dalam
belajar skill motorik pada lebel pemula.
Kekurangan teori belajar behavioristik adalah perlakuan peserta didik
sebagai pribadi yang pasif. Peserta didik menjalani proses belajar
hanya jika ada stimulus dari luar.
2. Teori belajar Kognitivistik
Teori belajar kognitik membuka pemahaman akan pikiran sebagai
kotak hitam pemrosesan informasi. Kognitivisme fokus pada aktifitas
mental dan pikiran sebagaimana seorang belajar
Teori Kognitivistik menyatakan bahwa belajar adalah kombinasi
antaran faktor eksternal dan internal. Intelegensia memberi pengaruh
terhadap hasil belajar.
Brunner mengajukan tiga tahap pemprosesan informasi yaitu :
enactive (action Based), icon (image based), simbolis (languange
based). Proses mental dalam proses berpikir analisis berproses dari
adanya tindakan (action) berdasarkan image atau ikon dan simbol-
simbol bahasa.
Teori kognitif menurut merrill pemprosesan informasai menjadi
pengehaun merupakan seri tampilan (display) yang berdiri sendiri
(discreate). Merrill mengajukan teori component display Theory (CDT).
Teori ini menegaskan agar dalam merancang pembelajaran strategi
yang diterapkan harus disusun dalam urutan komponen-komponen
pembelajaran yang terorganisir menuju tujuan atu capaian
pembelajaran yang konkret.
Roger Schank dengan teori Learning by doing menyatakan bahwa
pembelajar diberi kesempatan melakukan proses belajar dengan
melakukan.
Konsep learning by doing diterapkan melalui proses melakukan ,
pemberian tugas secara berulang , membuat variasi penugasan,
melakukan perbaikan terhadap kesalahan, mengeleminir tindakan yang
tidak perlu dilakukan.
Standura mengajukan structure learning Theory.materi pembelajran
dibuat dalam bagian-bagian kecil sebagai komponen dasar kemudian
seara bertahap diintegrasikan ke tingkat yang lebhi tinggi.
Teori Belajarkognitivitik TVET digunakan dalam pembelajaran Skill
berpikir (thinking skills). Pemecahan masalah modern semakin banyak
membutuhkan pemecahan berbasis mental atau pikiran.
Pembelajaran TVET membutuhkan interaksi sosial yang aktif bertindak,
membangun ikon dan menggukan simbol-simbol atau bahasa dan

3
didisplaikan menjadi rumus , model, konsep, alogaritma, program dan
sebagainya. Belajar memecahkan masalah bertingkat mulai dari
sederhana ke masalah yang lebih rumit
3. Teori belajar konstruktivistik
Teori belajar konstruktivistik menekankan bahwa belajar adalah proses
aktif mengkosntruksikan pengetahuan. Peserta didik berperan sebagai
konstruktor pengetahuan.
Belajar merupakan proses aktif mengkosntruksi pengehuan dan ide
baru atas pengalaman sebelumnya.
Teori belajar konstrukvistik merupakan teori klasik penyempurnaan dua
teori belajar sebelumnya yang paling lengkap. Pembelajaran dalam
penerolehan pengetahuan, skill, dan sikap kerja dalam TVET
membutuhkan aktivitas konteksstual, autentik dan bermakna secara
sosial budaya, ekonomi , teknologi, emosional-spriritual, kinestetika,
intelektual. Pendekatan sosial budaya berbasis lingkungan dan
pemberian dukungan atau bantuan dalam belajar merupakan tawaran
pokok dalam teori kosntruktivistik.
Belajar membutuhkan perancah, proses dan pengalaman diri sendiri,
konkret, belajar memecahkan masalah, ada jangkar lingkungan belajar
yang menarik, situasional, berbasis proyek, melalui penelitian.
4. Teori Belajar Kearifan Lokal Indonesia
Teori belajar kearifan lokal indonesia adalah teori belajar yang diperoleh
dari kearifan masing-masing daerah di indonesia. Ada yang menggunakan
gending, kidung, cerita rakyat, konsep formal, cerita pewayangan, lontar
kekawin dalam bahasa kawi dan lain-lain. yang isi dapat memberikan
konsep pembelajaran yang memberi manfaat positif bagi orang lain. Teori-
teori belajar kearifan lokal indonesia jika disatukan dari berbagai daerah
akan membangun suatu teori yang bisa saja membangun teori belaajr
modern yang konteksstual dengan kebutuhan Abab XXI.

C. Teori Belajar kontemporer dalam TVET


Konsep belajar kontemporer dalam TVET adalah belajar yang terkonstruksi
secara sosial, situasional, kondisional, berpatisipasi langsung dalam
masyarakat, belajar sepanjang hayat, belaajr berbasis kehidupan.
Pembelaran TVET selalu konksstrual sesuai kebuthan kmpetensi melakukan
berbagai jenis pekerjaan atau tugas keseharian. Perubaha tuntutan
kompetensi kerja menjadi dasar pengembangan pembelajaran.

1. Life-based learning

4
Life based learning adalah proses pemerolehan pengetahuan dan
skill memahami hakikat kehidupan, terampil memecahkan masalah-
masalah kehidupan, menjalani kehidupan secara seimbang dan harmonis.
Life based learning mengetengahkan konsep bahwa belajar dari kehidupan
adalah belajar yang sesungguhnya.
Visi life based learning dalam TVET adalah terbagnunnya keyakinan
dan budaya belajar untuk saling membantu diantara peserta didik,
pendidik, dan tenaga kependidikan dalam pengembagnan potensi diri
mereka masing-masing agar berkembang kapabilitasnya secara terus
menerus dalam bidang atau bisnis kejuruannya.
Life based learning dalam perspektif pendidikan indonesia adalah
pembelajaran dalam proses pembentukan manusia seutuhnya (whole
person) dan seluruhnya (all people). Life based learning dalam TVET
merupakan pendekatan pembelajaran kontekstual- holistik- integratif
pengembangan kapabilitas diri seseorang secara berkelanjutan.
2. Teori belajar Tranformatif (Transformative Learning Theory)
Teori belajar transformatif mencakup perubahan yang mendalam
terhadap keyakinan-keyakinan, niai-nilai, sikap hidup dalam bertindak baik
sebagai individu maupun sebagai bagian anggota masyarakat.
Pembelajaran transformatif mendorong pembelajaran sebagai proses
transformasi pemberdayaan peserta didik aktif mengambil bagian
memecahkan permasalah kehidupan dimasyarakat baik lokal, nasional,
regional dan internasional. Pembelajaran merupakan proses transformasi
perubahan pada diri peserta didik bersama-sama lingkungan hidupnya.
Penerapan teori Tranformatif dalam TVET terletak pada
pembelajaran partisipatif, berpikir kreatif dan berpikir divergen melalui
berbagai dialog dan diskusi pada kegiatan praktikum, pekerjaan proyek,
magan industri. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman belajar yang
secara riil dilakukan sesuai konteks bidang pekerjaannya. Pendidik
bersama peserta didik sama-sama melakukan konfirmasi, kritik, refleksi,
memodifikasi, mengganti, menambahkan terhadap hal-hal yang perlu
dikembangkan.
3. Self-directed Learning
Self-directed Learning merupakan pembelajaran dimana desain,
rencana, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran didesain oleh
pembelajar itu sendiri. Dalam self-directed learning seluruh keputusan
tentang apa, dimana, kapan, berapa lama, dengan siapa belajar semua
ditetapkan oleh pembelajar. Pekerja yang membutuhkan peningkatan

5
posisi karir dalam kerja sangat perlu melakukan self- directed learning
untuk peningkatan kompetensi kerja.
4. Belajar berpatner sosial (Sosial Partnerships)
Belajar berpartner sosial adalah jaringan belajar yang
menghubungkan kelompok lokal dengan organisasi atau lembaga
eksternal yang bergerak lintas global, regional, nasional, lokal, kota,
tempat kerja, dan keluarga. Belajar berpartner secara sosial dalam TVET
merupakan proses belajar membangun interaksi dan kreativitas kerja
sebagai persejutuan bersama.
Tujuan berlajar berpartner sosial adalah untuk peningkatan
kesempatan pewarisan kerjasama. Pembelajaran TVET membutuhkan
partisipasi pasangan dalam meningkatkan pembelajaran melalui interaksi
dan aktivitas daam setiap kerja berpasangan. Pembelajaran berpatner
secara sosial akan mengembangkan percaya diri dan komunikasi yang
semakin cari diantara peserta didik dengan lembaga-lembaga terkait
dengan sistem TVET. Dampak pengembangan kapabilitas untuk
memenuhi tuntutan perbuaha dan kebutuhan industri.
5. Pembelajaran orang dewasa (mature Adult learning)
Pembelajaran orang dewasa lebih bersifat terbuka dan kontekstual
sesuai dengan problematika autentik yang terjadi dan di alami. Konsep
penbelajaran orang dewasa diarahkan untuk pembentukan konsep diri
terhadap sesuatu yang dipelajari. Terbentuknya konsep diri, penemuan
makna dari pengetahuan yang dipelajari merupakan bagian terpenting
dari pembelajaran orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa
membutuhkan perubahan strategi belajar yang semakin peduli pada
kebutuhan diri peserta didik, butuh berkembang dan berubah secara terus
menerus, pemberdayaaan individu, pemahamn potensi diri.
6. Pengembangan kompetensi sebagai proses kolektif (competensi As
collective Process)
Kompetensi adalah kapasitas diri seseorang yang dapat
didemonstrasikan atau ditampilkan berupa pengetahuan, skill, dan
karakteritik diri pribadi yang dibutuhkn untuk memenuhi permintaan-
permintaan atau situasi khusus. Kompetensi menandakan skill atau
sejumlah skill, level pengetahuan, dan praktek perilaku yang diperoleh
melalui pembelajaran formal, non formal, atau informal. Pembelajaran
TVET membutuhkan interaksi den setting sosial yang autentik. Hanya
melalui pembelajaran dengan setting lingkungan belajar yang nyata,
pengembangan kompetensi berjalan utuh. Pengembangan kompetensi

6
kerja membutuhkan proses kolektif bagaimana pengetahuan itu
diterapkan dan di kelola ditempat kerja.

7. Belajar berbasis kerja (work-Based Learning)


Work based learning diterapkan dalam TVET untuk memenuhi
kebutuhan ketuntasan belajar sesuai standar industri. Belajar berbasis
kerja dapat dilakukan di sekolah atau di industri. Perubahah kebutuhan
tenaga kerja dalam suatu organisasi mendorong TVET menerapkan Work
Based Learning. Pembelajaran berbasis kerja dikembangkan untuk
mengembangkan kompentesi kerja sesuai dengan pasar tenaga kerja.
Perubahan orientasi kerja pada peningkatan kualitas layanan,
pengembangan kelompok kerja yang tanggap semakin luas, dan
penerapan lingkungan kerja yang semakin berkualitas berimplikasi besar
pada perubahan work based learning tradisional yang menerapkan pola
akuisi kompetensi yang intensif hanya pada stu skill, ruang lingkup yang
sempit.
8. Belajar di tempat kerja (Workplace Learning) dan belajar langsung dalam
kehidupan kerja (learning in working life)
Setiap pemecahan masalah membutuhkan proses analisis sintesis
masalah sampai pada pengambilan keputusan yang efektif dan efisien.
Belajar memecahkan masalah dalam kehidupan kerja dan berlangsung di
tempat kerja merupakan pembelajaran TVET abad 21. Ditempat kerja
dalam seting alami pekerja belajar langsung dai kehiduppan kerja secara
autentik. Penguatan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi
dalam kehidupan kerja membuat para pekerja memiliki pengalaman dan
skill yang memadai.

D. Konsep baru Pembelajaran TVET


Pembelajaran TVET adalah proses aktif melakukan akuisi atau perolehan
skill, pengetahuan atau pemahaman dan pendalaman tata nilai untuk
menumbuhkan kapabilitas (kemampuan dan kemauan) memasuki dan
mengembangkan karir didunia kerja untuk pemenuhan kebutuhan hidup
berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

7
1. Teori belajar kreatif memecahkan masalah

a. Belajar Berpikir Kreatif Memecahkan Masalah


Berdasarkan Gambar diatas kerangka pertama dari Model LIS-5C dalam
learning to solve problems creatively adalah berpikir kreatif. Belajar
berpikir kreatif dalam memecahkan masalah membutuhkan strategi
kognitif microskills. Sembilan strategi kognitif microskills menurut Piirto
(2011:30)
b. Belajar Bekerja Kreatif dengan Orang Lain dalam Pemecahan Masalah
Kerangka kedua dalam LIS-5C adalah belajar bekerja kreatif dengan
orang lain dalam memecahkan masalah. Work creatively with others
membutuhkan latihan pengembangan strategi kognitif makroabilities.
Pengembangan strategi kognitif makroabilities (Piirto, 2011:30)
c. Belajar Menerapkan Inovasi dalam Pemecahan Masalah
Belajar menerapkan inovasi dalam pemecahan masalah merupakan
sebuah tindakan nyata dalam menerapkan ide-ide kreatif. Menerapkan
ide-ide kreatif membutuhkan lingkungan belajar dan lingkungan sosial
budaya yang mendukung kreativitas. Proses penerapan kreativitas
membutuhkan proses menemukan inspirasi, intuisi, dan inkubasi dari
berbagai hal yang menginspirasi. Model ketrampilan belajar dan

8
berinovasi bagi peserta didik pendidikan vokasional sangat dibutuhkan
dalam rangka membangun kualitas dan dampak lulusan. Model LIS-5C
sesuai dengan paradigma baru tujuan PTK yaitu mewujudkan
tumbuhnya peserta didik menjadi pemimpin dan anggota masyarakat
pembelajar yang kreatif-inovatif berkontribusi pada pembangunan
masyarakat berkelanjutan. Model LIS-5C dapat membangun skill
kreativitas, kekritisan berpikir, kemampuan berkomunikasi peserta
didik dalam memecahkan masalah baik secara individu maupun secara
berkelompok dengan selalu membangun kemampuan berkolaborasi.

E. Kesimpulan
Pembelajaran TVET adalah pembelajaran berbasis kompetensi plus
kemampuan membangun jejaring. Penerapan teori pembelajaran diantara
teori klasik dan teori kontemporer digunakan secara elektrik yaitu dengan
mengambil dan memilih yang baik-baik dan relevan dengan kebutuhan
pembelajaran Abad XXI. Konsep belajar baru Abad XXI yang bermuara pada
pengembangn kemampuan pemecahan masalah kreatif perlu dijadikan titik
perhatian pengembangan strategi pembelajaran TVET agar ke depan dampak
pembelajaran TVET jelas dan relevan dengan perkembangan teknologi, sains,
sosial dan budaya.