Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS INSTRUMENTASI

ANALISIS CAMPURAN DUA KOMPONEN TANPA PEMISAHAN SECARA


SPEKTROFOTOMETRI

Dosen Pengampu Matakuliah:

1. Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, S.Si, M.Sc


2. Drs. M. Sodiq Ibnu, M.Si

Disusun Oleh:

KELOMPOK 2 (OFF H)

1) Ita Desi Susilowati (140332600825)***


2) Intan Oktaviani (140332602930)
3) Irwan Hardiansyah (140332602809)

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2017
PERCOBAAN IV

ANALISIS CAMPURAN DUA KOMPONEN TANPA PEMISAHAN SECARA


SPEKTROFOTOMETRI

A. TUJUAN
Mahasiswa dapat menganalisis campuran dua komponen tanpa pemisahan dan
penetapan konsentrasinya di dalam sampel.

B. DASAR TEORI
Analisis dua komponen tanpa pemisahan dapat dilakukan melalui dua
pendekatan yang berbeda. Dalam pendekatan yang pertama, dapat dipilih satu panjang
gelombang dimana komponen yang satu menyerap jauh lebih kuat serta panjang
gelombang yang lainnya terdapat keadaan yang sebaliknya. Dalam hal ini berlaku
asumsi bahwa absorpsi komponen yang lain dapat diabaikan terhadap absorpsi yang
jauh lebih besar dari komponen yang diukur. Pendekatan kedua dapat dilakukan
melalui perhitungan Lamber Beer dalam suatu larutan yang mengandung komponen.
Terdapat dua buah kemungkinan bila dua komponen atau lebih dicampurkan
dalam suatu larutan. Adanya interaksi akan dapat mengubah spektrum absorbsi atau
lebih tepat sifat penyerapan warna. Sebaliknya, jika tidak ada interaksi sifat-sifat
tersebut tidak mengalami perubahan. Dalam hal demikian absorbsi larutan campuran
akan merupakan jumlah aljabar dari absorbsi larutan masing-masing komponen
terpisah, tetapi dengan konsentrasi dalam campuran. Sifat sepeti ini dinamakan sifat
aditif. Persamaan dalam setiap panjang gelombang dapat dituliskan sebagai berikut:

Pada 1: AI, 1 = I, 1.b.CIdan

AII, 1 = II, 1.b.CII

Pada 2: AI, 2= I, 2.b.CIdan

AII, 2= II, 2.b.CII

Atotal, 1= AI, 1 +AII, 1

Atotal, 2= AI, 2 +AII, 2

Dimana:

AI, 1 = Absorbans komponen I pada 1

AII, 1 = Absorbans komponen II pada 1

AI, 2 = Absorbans komponen I pada 2

AII, 2 = Absorbans komponen II pada 2


Persamaan yang sama dapat diturunkan untuk setiap panjang gelombang
pengukuran.

Jika ada dua komponen yang dicampurkan, maka diperlukan dua persamaan
dari dua panjang gelombang yang berlainan agar CI dan C IIdapat dihitung, adapun
harga masing-masing komponen dapat diperoleh dari kemiringan kurva standar, dan
A total dari hasil pengukuran.

Gambar berikut menunjukkan spektrum absorpsi dari sistem dua komponen,


yang menunjukkan spektrum yang overlap, serta spektrum absorbsi campuran dua
komponen tersebut.

Prinsip dasar dari analisis multi komponen dengan spektrofotometri adsorpsi


molekuler yaitu bahwa total absorpsi larutan adalah jumlah absorpsi dari tiap tiap
komponennya. Hal ini tentu saja akan berlaku jika komponen komponen tersebut
tidak berinteraksi dalam bentuk apapun. Secara teori bisa saja terdapat banyak
komponen tetapi dalam praktek, lebarnya puncak absorpsi dalam spektrometri UV
sinar tampak memastikan bahwa tidak ada panjang gelombang yang cukup sesuai
untuk penentuan sampel dengan jumlah komponen yang banyak.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat-alat
- Spektrofotometer UV-Vis, spektronik 20
- Kuvet
- Peralatan gelas lainnya

2. Bahan-bahan
- Larutan krom (III) nitrat 0,5 M
- Larutan kobalt (II) nitrat 0,5 M
D. CARA KERJA
1. Keaditifan absorbans Cr3+ dan Co2+

0,01 M Cr3+; 0,06 Co2+; larutan campuran Cr3+ dan


Co2+ yang mengandung 0,01 M Cr3+ dan 0,06 Co2+

o Disiapkan
o Di ukur absorbannya ( dengan air suling sebagai blanko) pada penjang
gelombang 375- 530 nm
o Ditentukkan panjang gelombang maksimum masing-masing komponen
o Digambar spektrum absorbsi masing-masing komponen dan absorbsi
jumlahnya
o Diperiksa keaditifannya

Hasil

2. Nilai

Cr3+ = 0,01 M ; 0,015 M ; 0,02 M

Co2+ = 0,06 M ; 0,08 M ; 0,10 M

o Disiapkan
o Diukur masing-masing larutan pada Cr dan Co
o Dibuat kurva standar ( ada 4 kurva standar)
o Ditentukan nilainya
Hasil

3. Analisis Contoh Campuran

Campuran/ sampel

o Ditetapkan komposisinya
o Diukur absorbansinya pada Cr dan Co serta nilai K yang diperoleh

Hasil
E. DATA PENGAMATAN
1. Keaditifan Absorbans larutan Cr3+ dan Co2+

Dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, maka dapat diketahui nilai


Cr3+ = 416 nm dan Co2+=512 nm.

2. Penentuan ( )

Larutan Konsentrasi = 512 nm = 416 nm


Absorbans (A) Absorbans (A)
Cr3+ 0,010 0,069 0,173
0,015 0,072 0,215
0,020 0,098 0,287
Co2+ 0,06 0,289 0,030
0,08 0,385 0,038
0,10 0,469 0,055
Sampel campuran X 0,264 0,418
F. ANALISIS DATA

Dianalisis data bagaimana sifat keaditifan kedua zat dalam campuran, berapa harga
yang diperoleh, dan berapa konsentrasi sampel yang diberikan.

1. Keaditifan
Dengan menggunakan spektrofotometer UV, maka dapat diketahui nilai
Cr3+ = 416 nm dan Co2+= 512 nm

2. Nilai (Absortivitas Molar)


Larutan Konsentrasi = 512 nm = 416 nm
Absorbans (A) Absorbans (A)
Cr3+ 0,010 0,069 0,173
0,015 0,072 0,215
0,020 0,098 0,287
Co2+ 0,06 0,289 0,030
0,08 0,385 0,038
0,10 0,469 0,055
Sampel campuran X 0,264 0,418

Dari tabel di atas, dapat dibuat 4 kurva sebagai berikut:

a. Absorbansi Larutan Standar Cr3+ pada Cr= 416 nm


Grafik Absorbansi vs Konsentrasi Larutan Cr3+ pada panjang
gelombang 416 nm.
Grafik Hubungan antara Konsentrasi Larutan Standar Cr3+
dan Absorbansinya pada Cr =416 nm
0,35

0,3
y = 11,4x + 0,054
0,25 R = 0,9774

Absorbansi
0,2

0,15 Series1

0,1 Linear (Series1)

0,05

0
0 0,005 0,01 0,015 0,02 0,025
[Larutan Standar Cr3+]

= . .
Jika, (diameter kuvet) = 1 , maka
= .
= .

Dari persamaan tersebut, dapat diketahui bahwa (Absortivitas Molar)


adalah slope () dari kurva kalibrasi standar.
= 11,4 . + 0,0054
Maka, nilai , = 11,4

b. Absorbansi Larutan Standar Co2+ pada Cr= 416 nm


Grafik Absorbansi vs Konsentrasi Larutan Co2+ pada panjang gelombang
416 nm.

Grafik Hubungan antara Konsentrasi Larutan Standar Co2+


dan Absorbansinya pada Cr =416 nm

0,06
y = 0,625x - 0,009
0,05 R = 0,9586

0,04
Absorbansi

0,03
Series1
0,02 Linear (Series1)

0,01

0
0 0,02 0,04 0,06 0,08 0,1 0,12
[Larutan Standar Co2+]
= . .
Jika, (diameter kuvet) = 1 , maka
= .
= .

Dari persamaan tersebut, dapat diketahui bahwa (Absortivitas Molar)


adalah slope () dari kurva kalibrasi standar.
= 0,625 . + 0,009
Maka, nilai , = 0,625

c. Absorbansi Larutan Standar Cr3+ pada Co= 512 nm


Grafik Absorbansi vs Konsentrasi Larutan Cr3+ pada panjang
gelombang 512 nm.

Grafik Hubungan antara Konsentrasi Larutan Standar Cr3+


dan Absorbansinya pada Co =512 nm

0,12

0,1 y = 2,9x + 0,0362


R = 0,8267
0,08
Absorbansi

0,06
Series1
0,04 Linear (Series1)

0,02

0
0 0,005 0,01 0,015 0,02 0,025
[Larutan Standar Cr3+]

= . .
Jika, (diameter kuvet) = 1 , maka
= .
= .

Dari persamaan tersebut, dapat diketahui bahwa (Absortivitas Molar)


adalah slope () dari kurva kalibrasi standar.
= 2,9 . + 0,036
Maka, nilai , = 2,9
d. Absorbansi Larutan Standar Co2+ pada Co = 512 nm
Grafik Absorbansi vs Konsentrasi Larutan Co2+ pada panjang gelombang
512 nm.

Grafik Hubungan antara Konsentrasi Larutan Standar


Co2+ dan Absorbansinya pada Co =512 nm
0,5
0,45 y = 4,5x + 0,021
0,4 R = 0,9985
0,35
Absorbansi

0,3
0,25
Series1
0,2
0,15 Linear (Series1)
0,1
0,05
0
0 0,02 0,04 0,06 0,08 0,1 0,12
[Larutan Standar Co2+]

= . .
Jika, (diameter kuvet) = 1 , maka
= .
= .

Dari persamaan tersebut, dapat diketahui bahwa (Absortivitas Molar)


adalah slope () dari kurva kalibrasi standar.
= 4,5 . + 0,021
Maka, nilai , = 4,5

3. Konsentrasi sampel
Dari 4 kurva standar di atas, dapat dihitung konsentrasi dari sampel campuran.
Diketahui:
b = 1 cm
A1 pada 416 nm = 0,418
A2 pada 512 nm = 0,264

1 , = 11.4x + 0,054 , = 11,4


, = 11.4[] + 0,054

2 , =0,625x 0,009 , = 0,625


, = 0,625[] 0,009
3 , =2,9x + 0,0362 , = 2,9
, = 2,9[] + 0,0362

4 , =4,5x + 0,021 , = 4,5


, = 4,5[] + 0,021

Ditanya:
C1 ([Cr3+])...?
C2 ([Co2+])...?

Jawab:
Atotal ( 416 nm ) = A1 + A2
= ( ) . . [+ ] + ( ) . . [+ ]

Atotal ( 512 nm ) = A1 + A2
= ( ) . . [+ ] + ( ) . . [+ ]

Sehingga,
0,418 =11,4 . 1 . [+ ] + 0,625. 1 . [+ ] x 4,5
0,264 =2,9 . 1 . [+ ] + 4,5. 1 . [+ ] x 0,625
1,881 =51,3 . 1 . [+ ] + 2,8125. 1 . [+ ]
0,165 =1,8125 . 1 . [+ ] + 2,8125. 1 . [+ ]
1,716 =49,4875 . [+ ]
1,716
[+ ] =
49,4875
[+ ] = 0,0348 M

0,418 = 11,4 . 1 . 0,0347 + 0,625 . 1 . [+ ]


0,418 = 0,39558 + 0,625 [+ ]
0,418 0,39558 = 0,625 [ 2+ ]
0,02242 = 0,625 [+ ]
0,02242
[+ ] =
0,625
[+ ] = 0,0358 M

Karena sampel yang digunakan diencerkan 5 kali (FP = 5)


Maka, konsentrasi sampel sesungguhnya adalah
[+ ] = [+ ]
[+ ] = 0,0348 M 5
[+ ] = 0,174 M

[+ ] = [+ ]
[+ ] = 0,0358 M 5
[+ ] = 0,179 M

Jadi, konsentrasi sampel Cr3+ adalah 0,174 M dan konsentrasi Co2+ adalah 0,179 M
G. DISKUSI DAN PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan analisis campuran dua komponen tanpa
pemisahan dengan spektrofotometri. Adapun tujuan dari percobaan ini adalah dapat
menganalisis campuran dua komponen tanpa pemisahan dan penetapan
konsentrasinya didalam sampel. Spektrofotometer yang digunakan pada percobaan ini
adalah spektrofotometer UV-Vis dan spektronok-20. Prinsip dasar dari analisis multi
komponen dengan spektrofotometri adsorpsi molekuler yaitu bahwa total absorpsi
larutan adalah jumlah absorpsi dari tiap tiap komponennya. Dalam percobaan
dilakukan analisis multi komponen campuran krom(III) dan kobalt (II).

Perlakuan pertama yaitu mengukur keaditifan dari larutan Cr3+ dan larutan Co2+.
Adapun prinsip dasar dari keaditifan ini yaitu dua macam kromofor yang berbeda
akan mempunyai kekuatan absorpsi cahaya yang berbeda pada satu panjang
gelombang tertentu sehingga diperoleh persamaan hubungan antara absorpsi dengan
konsentrasi pada dua panjang gelombang, akibatnya konsentrasi masing masing
komponen dapat dihitung. Absorban dari masing masing komponen bersifat aditif
apabila komponen komponennya tidak saling bereaksi. Pada percobaan ini,
digunakan spektrofotometer UV-Vis untuk menentukan maksimal dari Cr3+ dan
maksimal Co2+. Panjang gelombang maksimum yang dipilih karena disekitar
panjang gelombang maksimum tersebut bentuk kurva serapan adalah datar sehingga
hukum Lamber Beer akan terpenuhi dengan baik dan kesalahan yang ditimbulkan
pada panjang gelombang maksimum diperkecil. Berikut diperoleh grafik dari
pengukuran dengan spektrofotometri Uv-Vis :

Dari spektrum yang diperoleh, maksimal dari Cr3+ adalah 416 nm dengan nilai
dan maksimal dari Co2+ adalah 512 nm. Terdapat dua kemungkinan apabila dua
komponen yang berlainan dicampurkan dalam satu larutan. Adanya interaksi akan
merubah spektrum absorpsi dimana absorpsi larutan campuran akan merubah jumlah
aljabar dari absorpsi dua larutan dari masing masing komponen yang terpisah. Jadi
spektrum absorpsinya merupakan campuran bersifat aditif.Sampel campuran
merupakan aljabar dari larutan Cr3+dan Co2+ sehingga grafiknya lebih tinggi
dibandingkan dengan yang lain. Dari gambar spektrum, grafik dari campuran sampel
lebih tinggi dan tidak berimpit dengan grafik Cr3+ atau Co2+ sehingga grafik tersebut
benar. Dalam artian spektrum absorpsi dari sistem dua komponen yang diperoleh
menunjukkan spektrum yang overlap, dan spektrum absorbsi campuran dua
komponen tidak overlap.

Nilai dan Analisis Contoh Campuran

Pada percobaan penentuan nilai menggunakan spektronik-20


(spektrofotometer Vis). Pertama, dilakukan pengenceran tiap larutan. diperoleh
nilai dan k dari persamaan y=ax+b karena a==k ( adalah kemiringan kurva
standar). Dari nilai k tersebut, dapat dihitung konsentrasi sampel campuran yaitu
Cr3+ dan Co2+ dengan cara mensubtitusi persaman Atotal (maks Cr3+) dengan Atotal
(maks Cr3+) sehingga didapat konsentrasi Cr3+= 174 M dan konsentrasi Co2+= 179 M
dari sampel campuran.

H. KESIMPULAN
1. Spektrum absorpsi dari sistem dua komponen yang diperoleh, menunjukkan
spektrum yang overlap, dan spektrum absorbsi campuran dua komponen tidak
overlap.
2. Nilai didapat dari kemiringan kurva yaitu dari persamaan y=ax+b, dimana nilai
a==k.
3. Konsentrasi dari sampel campuran yang diperoleh untuk Cr3+ adalah 0,174 M ,
sedangkan untuk larutan Co2+ adalah 0,179 M.

I. DAFTAR PUSTAKA

Syabatini, annisa. 2009. Analisis campuran dua komponen tanpa pemisahan dengan
spektrofotometer (Online)
(https://annisanfushie.wordpress.com/2009/11/19/analisis-campuran-dua-
komponen-tanpa-pemisahan-dengan-spektrofotometer/) diakses pada tanggal 28
Februari 2017
Day R dan Underwood A. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam.
Penerjemah : Sopyan Iis. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari : Quantitative
Analysis Sixth Edition.http://catatankimia.com/catatan/spektrofometri-uv-
vs.html
Wonorahardjo, Surjani. 2013. Pengantar Kimia Analitik Modern. Malang: Kimia
Fmipa UM
Wiryawan, A. 2011. Analisis Multikomponen. (online) (http://www.chem_istry.org)
diakses pada tanggal 27 februari 2017

J. TUGAS
1. Mengapa tidak bisa digunakan azas aditif absorbansi jika terjadi reaksi antara
komponen-komponen dalam sampel. Gambarkan kira-kira kurvanya jika terjadi
reaksi!
2. Berapa konsentrasi Krom (III) dan Kobalt (II) jika ditanyakan dalam ppm baik
dalam kurva standar maupun dalam sampel?

Jawaban Pertanyaan

1. Karena azas aditif absorbansi digunakan ketika tidak terjadi interaksi antara
komponen satu dengan komponen yang lain.
Namun, jika antar komponen terjadi reaksi/interaksi maka akan mengubah
spektrum absorbsi. Kemungkinan grafik yang terbentuk adalah :

2. Konsentrasi Krom (III) kurva standar dalam satuan ppm


[Cr3+] = 0,01 M = 0,01 mol/L
Cr(NO3)3 = 238 gram/mol
0,01 238 1000
[ 3+ ] = = 2380 = 2380
1

[Cr3+] = 0,015 M = 0,015 mol/L


Cr(NO3)3 = 238 gram/mol
0,015 238 1000
[ 3+ ] = = 3570 = 3570
1

[Cr3+] = 0,02 M = 0,02 mol/L


Cr(NO3)3 = 238 gram/mol
0,02 238 1000
[ 3+ ] = = 4760 = 4760
1

Konsentrasi Kobalt (II) kurva standar dalam satuan ppm


[Co2+] = 0,06 M = 0,06 mol/L
Co(NO3)2 = 183 gram/mol
0,06 183 1000
[ 3+ ] = = 10980 = 10980
1

[Co2+] = 0,08 M = 0,08 mol/L


Co(NO3)2 = 183 gram/mol
0,08 183 1000
[ 3+ ] = = 14640 = 14640
1

[Co2+] = 0,10 M = 0,10 mol/L


Co(NO3)2 = 183 gram/mol
0,10 183 1000
[ 3+ ] = = 18300 = 18300
1

Konsentrasi sampel campuran


[Cr3+] = 0,174 M = 0,174 mol/L
Cr(NO3)3 = 238 gram/mol
0,174 238 1000
[ 3+ ] = = 41412 = 41412
1

[Co2+] = 0,179 M = 0,179 mol/L


Co(NO3)2 = 183 gram/mol
0,179 183 1000
[ 3+ ] = = 32757 = 32757
1
Lampiran
Pengukuran dengan Spektrofotometer Uv-Vis

Pengukuran dengan Spektronik-20