Anda di halaman 1dari 14

Pada bab ini akan dibahas beberapa bentuk PD order n.

Beberapa bentuk
persamaan differensial order n tersebut antara lain PD linier homogen dan
nonhomogen koefisien konstan.

Definisi 1
PD Linear Order n mempunyai bentuk umum :
 dny   d n 1 y  dy
P1 ( x) n   P2 ( x ) n 1     Pn 1 ( x)  P ( x) y  Q( x )
 dx   dx  dx
   
P1 ( x)  0 P1 P2 Pn
dengan dan , ,..., , Q fungsi dari x.

Jika Q(x) = 0, maka disebut PD Linear homogen order n.


Jika Q(x)  0, maka disebut PD Linear non homogen order n.

Contoh 1:
d3y d2y dy
x3  2x 5  xy  sin x
a. dx 3 dx 2 dx
adalah PD Linear non homogen order 3 koefisien variabel.
d2y dy
2
4  3y  0
b. dx dx
adalah PD Linear homogen order 2 koefisien konstan.
2
c. y sin y  xy  (1  x ) y  cos x
adalah PD Non Linear.
3
d. y  3xy  (sin x) y  y  4
adalah PD Non Linear.

Definisi 2 PD linier homogen order n


PD linier homogen order n mempunyai bentuk umum:
 dny   d n 1 y  dy
P1 ( x) n   P2 ( x) n1     Pn ( x)  P ( x) y  0
 dx   dx  dx
   

1
Sifat 1. Sifat PD linier homogen order n
> Jika y  y1 ( x) adalah solusi dari bentuk umum di atas, maka
y  C1 y1 ( x )
juga solusi dari bentuk umum di atas, dengan C1 adalah
konstanta sebarang.
> Jika y  y1 ( x) , y  y2 ( x) , ... , y  yn (x) adalah solusi fundamental
dari bentuk umum di atas, maka y  C1 y1 ( x)  C2 y2 ( x)    Cn yn ( x) juga
solusi dari bentuk umum di atas.

Definisi 3 Solusi PD linier homogen order n yang bebas linier


Suatu himpunan solusi:  y1( x), y2 ( x),..., yn ( x)
disebut bebas linear, jika kombinasi linear:
C1 y1 ( x)  C2 y2 ( x)    Cn yn ( x)  0
hanya terpenuhi jika C1  C2  C3  ...  Cn  0 .

Contoh 2. Contoh Solusi PD linier homogen order n yang bebas linier


2
a. Fungsi-fungsi 1, x, x adalah bebas linear pada    x   karena
2
C1  C2 x  C3 x  0 merupakan persamaan kuadrat yang hanya benar
untuk dua nilai x dan tidak semua x. jika benar untuk x, maka haruslah
C1  C2  C3  0 .
2 2
b Fungsi-fungsi 1, x, x , (2  3x) adalah bergantung linear pada    x  
2
karena (2  3x) merupakan kombinasi linear dari 3 fungsi yang lain.
2 2
c. Fungsi-fungsi sin θ , cos θ adalah bebas linear pada 0  θ  2π karena
mereka tidak proporsional.
2 2
d. Fungsi-fungsi 1, sin θ , cos θ adalah bergantung linear pada 0  θ  2π
2 2
karena mereka memenuhi sin θ  cos θ  1 .
x 2 x 3x 4 x
e. Fungsi-fungsi e , e , e , e adalah bebas linear untuk    x  
2x x 2 3x x 3 4x x 4
karena e  (e ) , e  (e ) dan e  (e ) .

Sifat berikut merupakan cara mudah melihat fungsi-fungsi yang diberikan


saling bebas linear atau bergantung linear.

Teorema 1. Pengujian n fungsi yang bebas linier/bergantung linier

> Syarat perlu dan cukup agar n buah fungsi saling bebas linear
adalah Wronskian-nya tidak sama dengan nol; dengan

2
y1 y 2  yn
y y2  yn
Wronskian  W  1
 
n 1 n 1
y1 y2  ynn1
(Josef Maria Hoene Wronski 1778–1853 filosof dan matematikawan
dari Polandia).

Mulai dari n fungsi y1, y2 ,..., yn bebas linear jika :


C1 y1  C2 y2  ...  Cn yn  0
maka C1  C2  C3  ...  Cn  0 .
Turunkan persamaan ini, didapat SPL homogen sebagai berikut :
C1 y1  C2 y2  ...  Cn yn  0
C1 y1  C2 y2  ...  Cn yn  0
C1 y1  C2 y2  ...  Cn yn  0
  
C1 y1n 1  C2 y2n1  ...  Cn ynn 1  0
SPL homogen ini hanya dapat mempunya solusi trivial
C1  C2  C3  ...  Cn  0 jika W  0.

> W = 0  n solusi y1, y2 ,..., yn bergantung linear.

Misalkan W = 0, maka
C1 y1  C2 y2  ...  Cn yn  0
C1 y1  C2 y2  ...  Cn yn  0
  
C1 y1n 1  C2 y2n1  ...  Cn ynn 1  0
  
mempunyai solusi C1 , C2 ,..., Cn yang tidak semuanya nol.
Φ  C1 y1  C2 y2  ...  Cn yn
Buat: ,
n 1
maka Φ adalah solusi yang memenuhi syarat awal Φ  Φ  ...  Φ  0 .
Tapi y = 0 adalah solusi yang memenuhi syarat awal yang sama, dengan
sifat unik maka Φ  0 sehingga y1, y2 ,..., yn bergantung linear.

Sifat 2. Wronskian bentuk Abel

Misalkan
a0 ( x) y n  a1 ( x ) y n1    an ( x ) y  0
adalah PD Linear homogen order n, maka:

3
 a ( x) 
W ( x)  A exp   1 dx 
 a 0 ( x )  dengan A konstanta

adalah Wronskian dari n solusi bebas linear Φ1 , Φ2 ,..., Φn dari PD di atas,


dengan
a0 ( x) a1 ( x)
, , ... , an (x) kontinu dan a0 ( x)  0 .

2
Contoh 3. Tentukan Wronskian bentuk Abel dari: x y  xy  y  0

Definisi 4. PD Linear Non Homogen Order n


PD linear non homogen order n bentuk umum sebagai berikut:
dny  d n1 y  dy
P1 ( x ) n   P2 ( x) n1     Pn ( x )  P ( x) y  Q( x )
 dx   dx  dx
   

Sifat 3.
Misalkan
y c  C1 y1 ( x)  C 2 y 2 ( x)    C n y n ( x)
adalah solusi komplementer
y p  R (x )
(homogen), dan: adalah solusi partikelirnya(non homogen)
y  yc  y p
Maka adalah solusi umum dari bentuk umum di atas.

Contoh 4.
Tunjukkan bahwa
x 3 y  6 xy  12 y  0 mempunya 3 solusi yang bebas linear dalam
r
bentuk y  x .

Definisi 5. PD Linear Homogen Order n Koefisien Konstanta


PD linear homogen order n koefisien konstanta mempunyai bentuk umum :
dny d n1 y dy
a0 n
 a1 n 1
   an1  an y  0
(i) dx dx dx
a0  0 a1 , a2 ,  , an
dengan , adalah konstanta
 d n n 1 
 a0 d d y  0
 a    a  a
 dx n 1
dx n 1 n 1
dx n 
(ii)  

(iii) a0 D n  a1D n1    an1D  an  y  0


Solusi :

4
Misalkan : y  e kx suatu solusi fundamentalnya

Maka : y  ke kx , y  k 2e kx ,  , y ( n)  k n e kx

Sehingga dengan subtitusi ke PD didapat :


a0k n  a1k n1    an1k  an ekx  0 dengan ekx  0
n n 1
 a0 k  a1k    an1k  an  0  P(k )  0
persamaan inimerupakan polinomial dalam k, yang mempunyai n akar dan
disebut persamaan karakteristik.

Kemungkinan-kemungkinan :
1. Misalkan k1, k2 , , kn akar-akar real berlainan.
k1x k2 x kn x
Maka y  C1e  C2e    Cn e adalah solusi umumnya.
2. Misalkan akar-akarnya real dan ada yang berkelipatan
Jika r adalah akar kelipatan n dari persamaan karakteristik P(k )  0
rx rx 2 rx n 1 rx
Maka e , xe , x e , , x e adalah solusi-solusi fundamental.
rx rx n 1 rx
Sehingga solusi umumnya adalah y  C1e  C2 xe    Cn x e .
3. Misalkan P(k) merupakan akar kompleks yang berlainan
Misalkan a0 y  a1 y  a2 y  0
2
Persamaan karakteristiknya a0 k  a1k  a2  0
Dan akar karakteristiknya a  bi dan a  bi
ax
Maka solusi umumnya y  e ( A cos bx  B sin bx)
4. Misalkan P(k) mempunyai akar kompleks yang berkelipatan.
( 4)
Misal a0 y  a1 y  a2 y  a3 y  a4  0
4 3 2
Persamaan karakteristiknya a0 k  a1k  a2 k  a3k  a4  0
Dan akar karakteristiknya k1  k 2  a  bi dan k3  k 4  a  bi (misal)
y  e ax ( A cos bx  B sin bx)  xe ax (C cos bx  D sin bx)
Maka solusi umumnya

5. Kombinasi dari kasus-kasus di atas.


Contoh 5.
1. ( D 3  2 D 2  D  2) y  0

2. y ( 4)  y  0
d3y d2y dy
3
7 2
 16  12 y  0
3. dx dx dx

5
Definisi 6. PD Linear Nonhomogen Order n Koefisien Konstanta

PD linear nonhomogen order n koefisien konstanta mempunyai bentuk


umum:
dny d n1 y dy
a0 n
 a1 n 1
   an 1  an y  f ( x )
(i) dx dx dx
a0  0 a1, a2 , , an
dengan , adalah konstanta dan f(x)  0 fungsi x
 d n n 1 
 a0 d d  y  f ( x)
 a    a  a
 dx n 1
dx n 1 n 1
dx n 
(ii)  

(iii) a0 D n  a1D n1    an1D  an  y  f ( x)


Solusi:

1) Selesaikan dulu bentuk homogennya, sehingga


didapat solusi komplementer yc.
2) Cari solusi partikelir yp dengan metode yang
telah dipelajari pada PD order 2 terdahulu, yaitu koefisien tak tentu,
variasi parameter atau operator differensial.
3) Akhirnya diperoleh solusi umum :
y  yc  y p

Contoh 6. PD Linear Nonhomogen Order n Koefisien Konstanta


1 3x
y  3 y   9 y   27 y  e
1. 2

Definisi 7. Penyelesaian PD Non Homogen Order n dengan Variasi


Parameter

Metode variasi parameter untuk order n merupakan perumuman dari order


satu atau order dua. Untuk itu perlu dibahas kembali secara sekilas untuk
order dua.

Metode Variasi Parameter Order 2

Metode ini akan dipakai untuk mencari solusi khusus/partikelir dari


persamaan differensial linear non homogen koefisien konstanta atau
variabel berikut:
a ( x) y   b( x) y   c( x) y  f ( x) ; a ( x)  0

6
Misalkan Φ1 ( x) dan Φ2 ( x) adalah dua solusi yang bebas linear dari
persamaan homogennya:
a ( x) y  b( x ) y  c( x) y  0

Maka kita akan mencari solusi partikelir yang berbentuk:


y p  u1 ( x)Φ1 ( x)  u2 ( x)Φ2 ( x)

yp  u1Φ1  u2Φ2  u1Φ1  u 2Φ2


solusi ini jika diturunkan, didapat:

Selanjutnya, jika dipilih u1 dan u2  : u1Φ1  u 2Φ2  0 ,

yp  u1Φ1  u 2Φ2 yp  u1Φ1  u2Φ2  u1Φ1  u 2Φ2


maka didapat: dan

Kemudian subtitusikan pemisalan di atas ke PD, sehingga didapat:


a ( x) y   b( x) y   c( x) y  f ( x)
a ( x ) u1Φ1  u2Φ2  u1Φ1  u2Φ  b( x) u1Φ1  u 2Φ2   c( x) u1Φ1  u2Φ2   f ( x)
u1  a ( x)Φ1  b( x)Φ1  c( x)Φ1   u2  a ( x)Φ2  b( x )Φ2  c ( x)Φ2 
a ( x)u1Φ1  a( x)u2 Φ2  f ( x )

Karena Φ1 dan Φ2 solusi homogen, maka persamaan tunggal berbentuk :


a ( x)u1Φ1  a( x)u2 Φ2  f ( x )

Sekarang akan diselesaikan sistem persamaan :


u1Φ1  u 2Φ2  0
au1Φ1  au2 Φ2  f
 Φ1 Φ2   u1   0 
aΦ aΦ  u     f 
 1 2  2  
 u1  1  aΦ2  Φ2   0  1  fΦ2 
u     aΦ  Φ   f    
 2  aΦ1Φ2  aΦ1Φ2  1 1   a(Φ1Φ2  Φ1Φ2 )  fΦ1 

fΦ2 fΦ
u1   u 2  1
 Wa dan Wa dengan W  (Φ1Φ2  Φ1Φ2 )

Integralkan masing-masing u1 dan u2 sehingga sidapat u1 dan u2 sebagai


berikut :
fΦ2 fΦ
u1    dx u2   1 dx
Wa dan Wa

7
Sehingga solusi partikelirnya adalah :
fΦ2 fΦ
y p  u1Φ1  u2Φ2  Φ1  dx  Φ2  1 dx
Wa Wa

Dan solusi umum PD non homogen semula adalah :


fΦ2 fΦ
y  yc  y p  C1Φ1  C2Φ2  Φ1  dx  Φ2  1 dx
Wa Wa

Metode Variasi Parameter Order n

Misalkan diberikan PD Linear non homogen order n sebagai berikut :


y ( n )  a1 ( x) y ( n 1)    an ( x) y  f ( x)

dan misalkan Φ1 ( x), Φ2 ( x),  , Φn ( x) adalah basis dari solusi, maka:


yc  C1Φ1 ( x)  C2Φ2 ( x)    CnΦn ( x)
y p  u1 ( x)Φ1 ( x)  u2Φ2 ( x)    unΦn ( x)

dengan C1, C2 , , Cn konstanta sebarang dan u1, u2 , , un fungsi yang akan


dicari.

Selanjutnya, u1 ( x), u2 ( x),  , un ( x) tersebut akan dicari dengan menyelesaikan


sistem persamaan berikut :
u1Φ1  u2 Φ2    u nΦn  0
u1Φ1  u2 Φ2    u nΦn  0

u1Φ1( n 2)  u2Φ2( n 2)    u nΦn( n 2)  0
u1Φ1( n 1)  u2Φ2( n 1)    un Φn( n 1)  f ( x)
 Φ1 Φ2  Φn   u1   0 
 Φ Φ2  Φn   u2   0 
 1  
        
 ( n  2)    
Φ1 Φ2( n 2)  Φn( n 2)  un1   0 
Φ1( n1) Φ2( n1)  Φn( n1)   un   f ( x )

Dengan aturan Cramer, sistem persamaan tersebut dapat diselesaikan dan


didapat :
ui ( x ) f ( x )
ui ( x) 
W (Φ1 , Φ2 ,  , Φn ) i  1,2,  , n
;
dengan :
W (Φ 1 ,Φ 2 ,…,Φ n ) adalah Wronskian dari fungsi basis solusi.

8
ui ( x) adalah determinan dari W (Φ 1 ,Φ 2 ,…,Φ n ) dengan mengganti
T
kolom ke-i dengan (0,0,…,1)
Sehingga dengan mengintegralkannya didapat, yaitu :
ui ( x )f ( x )
ui ( x )=∫ dx
W (Φ 1 , Φ2 , …, Φn ) ; i=1,2,…, n

Contoh 7.
1. Dengan metode koefisien tak tentu dan variasi parameter, selesaikan PD
berikut :
4 x
a) ( D −16 ) y=e
b) ( D 3 +6 D 2 + 11 D+ 6) y= 6 x −7
c) y ' ' ' −2 y ' ' − 3 y ' +10 y= 40 cos x

2. Dengan metode variasi parameter, selesaikan PD berikut :


'' ' '' ' 2x
a) y −5 y +8 y −4 y=e
iv ''
b) y −3 y − 4 y=cosh x
'' ' '' ' x
c) y + y + y + y=xe
'' ' '
d) y + y =sec x
e) y ' ' ' +2 y ' ' +2 y ' + y=x
Definisi 8. Persamaan Differensial Cauchy-Euler

Bentuk umum dari PD Cauchy order n adalah sebagai berikut:


dn y n−1 d
n−1
y dy
P0 x n
n
+P 1 x n−1
+⋯⋯+Pn−1 x +Pn y =α( x )
dx dx dx
dengan P0 , P1 ,…,Pn konstanta.

Penyelesaian Persamaan Differensial Cauchy-Euler:


dz 1
z =
Misalkan x=e , maka z=ln x dan dx x
d dy dy dz 1 dy
D= = ⋅ =
Selanjutnya, definisikan dz , maka didapat: dx dz dx x dz
dy
x =Dy
 dx
2
d y d dy d 1 dy 1 dy 1 d 2 y 1 dy 1 d 2 y
dx 2 =
= ( ) ( )
dx dx dx x dz =
− 2 +
x dz x dxdz =
− 2 + 2 2
x dz x dz

9
1 d 2 y dy 2d
2
d2 d
y
=
( −
x 2 dz 2 dz ) 
x
dx 2
dz dz ( )
= 2 − =( D2 −D ) y
=
D( D−1) y

n
nd y
x =( D( D−1 )(D−2)…( D−n+1) ) y
dx n

Subtitusikan pemisalan tersebut ke PD, maka akan sidapat perubahan dari


PD Linear non homogen koefisien variabel menjadi PD Linear non
homogen koefisien konstanta, yang dapat diselesaikan dengan metode yang
sudah dibahas pada bagian yang lalu.

Cara Lain Penyelesaian Persamaan Differensial Cauchy-Euler:

Pandang PD Caichy-Euler sebagai berikut :


x n y( n )+a1 x n−1 y( n−1) +⋯⋯+a n−1 x y ' +a n y=f ( x )
dengan a1 ,a 2 ,…, an adalah konstanta.
Untuk yang homogen
m
Misalkan y= Ax , maka:
' m−1
y =mAx
y '' =m( m−1) Ax m−2
y '' ' =m(m−1)(m−2) Ax m−3

(r ) m−r
y =m( m−1)(m−2 )……(m−r+1) Ax
Subtitusikan pemisalan di atas ke PD, maka didapat:
x n ( m(m−1 )( m−2)……(m−n+1) Ax m−n ) +
a1 x n−1 ( m(m−1)(m−2 )……(m−n+2 ) Ax m−n+1 ) +⋯⋯
+a n−1 xmAx m−1 +an Axm=0

[ ( m(m−1 )(m−2)……( m−n+1) ) +a1 ( m(m−1)(m−2)……(m−n+ 2) ) +


⋯⋯+a n−1 m+an ] Ax m=0
Akhirnya didapat polinomial dari m derajat n, yang akibatnya terjadi
beberapa kemungkinan, yaitu:
1. Jika ada n akar real yang berlainan, yaitu m1 , m2 ,…, m n
m1 m2 mn
Maka n solusi basisnya adalah : Φ1 =x , Φ2  x ,  , Φn  x
mn
 y c  C1 x m1  C 2 x m2    C n x

10
2. Jika ada akar real yang berulang, misalnya m1  α berulang s kali.
α α
Maka s solusi yang bebas linear Φ1  x , Φ2  x ln x , ,
Φn =x α (ln x )( s−1) .
3. Jika m1 dan m̄1 kompleks konjugate ; m1=α+iβ
Maka sepasang solusi yang bebas linear adalah
α α
Φ1 =x cos( β ln x) dan Φ2 =x sin( β ln x)
4. Jika m1 dan m̄1 kompleks konjugate, yang berulang s kali.
Maka 2s solusi yang bebas linear adalah:
Φ1 =x α cos( β ln x) Φ2 =x α sin( β ln x)
Φ3 =x α ln x cos( β ln x) Φ 4 =x α ln x sin( β ln x)
Φ5 =x α (ln x )2 cos( β ln x)
Φ6 =x α (ln x )2 sin( β ln x )
⋮ ⋮
α s−1
Φ2 s−1 =x (ln x ) cos( β ln x) Φ2 s =x ( ln x )s−1 sin( β ln x )
α

Selanjutnya, setelah didapat n solusi homogen yang bebas linear, untuk


mendapatkan solusi partikelirnya bisa dipakai metode variasi parameter
atau yang lain sehingga didapat solusi umum persamaan differensial non
homogen yang diberikan.

Definisi 9. Persamaan Differensial Lagrange-Legendre

Bentuk umum dari persamaan differensial Lagrange-Legendre adalah:


dn y
n−1
n n−1 d y dy
P0 ( ax+b) n
+P1 (ax +b ) n−1
+⋯⋯+Pn−1 (ax+b) +P n y=Q( x )
dx dx dx

Penyelesaian :
Untuk menyelesaikannya digunakan cara yang sama dengan PD Cauchy.
Misalkan:
dz a
z =
(ax+b )=e , maka: z=ln( ax+b) dan dx ax +b
dy dy dz a dy dy dy
= = (ax +b ) =a =aDy
Sehingga: dx dz dx ax +b dz  dx dz

2 2
d2 y d dy d a dy a dy a d y
dx 2 = ( )
dx dx =
(
dx ax +b dz ) =

(ax +b )
+
2 dz ax +b dxdz

11
a2 dy a d2 y 2 2 2
− + a dy a d y
(ax +b )2 dz ax +b ax +b (dz )2 − +
= a = (ax +b )2 dz (ax+b)2 dz 2
2 2
a d y dy
= (ax +b )2
dz 2

dz ( )
2
2d y
(ax +b ) 2 =a2 ( D 2 −D) y=a2 D( D−1 ) y
dx

n
d y
(ax +b )n n =an =a n D( D−1 )(D−2)……( D−n+1 ) y
dx

Jika pemisalan di atas disubtitusikan ke PD, maka didapat PD dengan


koefisien konstanta, selanjutnya analog dengan penyelesaian PD koefisien
konstanta yang lalu.

Contoh 8.
Selesaikan PD koefisien variabel berikut:
2 '' '
a) x y + x y + y=cos ec ln|x|
b) 8 x 4 y iv +52 x 3 y ' ' ' +82 x 2 y ' ' + 85 x y ' −34 y =25−34 ln|x|
1 e
x 3 y ' ' − x 2 y ' + xy=1 ; y ( 1)= , y ( e )= e+
c) 4 4
d) x 3 y ' ' ' + 2 x 2 y ' ' + x y ' − y=15 cos ( 2 ln x ) ;
dengan y ( 1)=2 , y ' ( 1)=−3 , y ' ' ( 1)=0

Definisi 10. Reduksi Persamaan Differensial dengan Metode Integral

Misalkan Φ1 adalah suatu solusi dari PD Linear homogen order n .


Maka solusi Φ1 ini dapat dipakai untuk mereduksi PD dari order n
menjadi order n – 1.
Misalkan untuk order 3, pandang PD order 3:
a0 ( x ) y ' ' ' +a1 ( x ) y ' ' +a2 ( x ) y ' + a3 ( x ) y=0
dengan a0 , a1 , a2 , a3 adalah fungsi kontinu dari x, a0 ≠0 dan Φ1 adalah
solusi.
Misalkan y=Φ 1 v
Maka turunan dari y ini adalah:
' ' '
y =Φ1 v +Φ 1 v
y ' ' =Φ1 v' ' +Φ'1 v ' +Φ '1 v ' +Φ'1' v=Φ 1 v ' ' +2 Φ '1 v ' + Φ'1' v
'' ' ' '' ' '' '' ' '' ' ' ''
y '' ' = Φ1 v +Φ1 v +2Φ 1 v +2Φ 1 v +Φ1 v +Φ 1 v

12
'' ' ' '' '' ' '' '
= Φ1 v +3Φ 1 v +3Φ 1 v +Φ 1 v
Subtitusikan pemisalan ini ke PD, maka didapat:
a0 ( Φ1 v ' ' ' +3 Φ'1 v ' ' +3 Φ'1' v ' +Φ '1' ' v )+a 1 ( Φ 1 v ' ' +2 Φ'1 v ' +Φ '1' v )
' '
+a 2 ( Φ1 v +Φ 1 v ) +a3 Φ 1 v =0
a0 Φ 1 v ' ' ' + ( 3 a0 Φ '1 +a 1 Φ1 ) v ' ' + ( 3 a0 Φ ''1 +2 a1 Φ '1 +Φ1 ) v '
'' ' '' '
+ ( a0 Φ 1 + a1 Φ 1 +a2 Φ 1 +a 3 Φ1 ) v=0

karena Φ1 solusi PD, maka suku terakhir memenuhi PD (=0), sehinggga


'
dengan memisalkan w=v , didapat PD order 2:
a0 Φ 1 w ' ' + ( 3 a0 Φ'1 +a1 Φ 1 ) w' + ( 3 a0 Φ '1' +2 a1 Φ '1 +Φ 1 ) w=0

Contoh 9.
Tentukan 3 solusi yang bebas linear dari:
'' ' '' 2 ' 3 ax
y −3a y +3 a y −a y=0 jika diberikan Φ1 =e adalah solusinya.

Soal Latihan :
Kerjakan sebagaimana contoh 6.22 untuk soal berikut:
−3 x
1. y '' ' −9 y =0 ; Φ1 =e
2. y   y   0 ; Φ1  C1
x
3. y ( 4)  y  0 Φ1  e
;
2
4. x 3 y   3x 2 y   xy   8 y  0 ; Φ1  x

5. x 3 y   x 2 y   3xy   0 ; Φ1=x 4

Definisi 11. Fungsi Green

Misalkan diketahui PD order n sebagai berikut :


( n) (n−1)
a0 ( x ) y + a1 ( x ) y +⋯⋯+an ( x ) y=f (x )
dengan a0 , a1 ,…, a n , f fungsi kontinu pada suatu interval dan a0 ≠0 .

13
Jika Φ1 ,Φ 2 ,…, Φ n adalah n solusi yang bebas linear dari persamaan
homogennya, maka solusi umum dari persamaan non homogennya adalah :
x
y=C 1 Φ1 +C2 Φ 2 +⋯⋯+Cn Φ n +∫ G( x , t )f (t )dt
x0
Φ1( x ) Φ 2( x ) ⋯ Φn ( x )
Φ1 (t ) Φ2 (t ) ⋯ Φ n (t )
(−1)n−1
G( x , t )= '
Φ1 (t ) Φ'2 (t ) ⋯ Φ 'n (t )
a 0(t ) W ( t )
⋮ ⋮ ⋮
(n−2) ( n−2 ) ( n−2)
dengan Φ 1 (t ) Φ 2 (t ) ⋯ Φ n (t )

dan W(t) = Wronskian dari Φ1 ,Φ 2 ,…, Φ n

14

Anda mungkin juga menyukai