Anda di halaman 1dari 4

I.

JUDUL PERCOBAAN : ISOLASI MINYAK JAHE


II. HARI / TANGGAL PERCOBAAN : SELASA, 14 MARET 2017
III. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang dikerjakan.
2. Memilih bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang
dikerjakan.
3. Mengisolasi minyak jahe dari rimpang jahe dengan cara yang tepat.
IV. DASAR TEORI :

Minyak jahe merupakan salah satu minyak atsiri yang dapat diisolasi dari rimpang
(akar) jahe sebanyak 1,5 3 % dari berat jahe kering. Minyak jahe dinegara maju
digunakan sebagai campuran pembuatan kosmetik, bahan penyedap masakan tertentu dan
sebagai obat. Senyawa penyusun minyak jahe terdiri dari -pinena, kamfena, 1,8-sineol,
borneol, neral, geranial, -kurkumina, -zingeberena, dan -saskuipellandrena. (Tim
Lentera, 2002)
Sejak jaman dahulu jahe sudah dimanfaatkan untuk memasak, minuman penghangat
tubuh dan sebagai bahan untuk membuat jamu/obat tradisional. Diguna-kannya jahe
sebagai bahan obat tradisional dikarenakan di dalam ubi/rimpang jahe terdapat senyawa
aktif yang bisa digunakan untuk mengobati beberapa ma-cam penyakit seperti batuk,
penghilang rasa sakit (antipyretic) dan sebagainya (Wahjoedi B., 1994).
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya.
Ketiga jenis itu ada-lah jahe putih/kuning besar (jahe gajah atau jahe badak), jahe
putih/kuning kecil (jahe emprit) dan jahe merah atau jahe sunti. Jahe emprit dan jahe sunti
mengandung minyak atsiri 1,5 3,8 % dari berat keringnya dan cocok untuk ramuan obat-
obatan atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinnya (Tim Lentera, 2002).
Jahe kering mengandung beberapa komponen kimia antara lain pati, minyak
atsiri,fixed oil, air ,abu, dan serat kasar. Minyak jahe mengandung 2 golongan komponen
utama, yaitu : (Guenther, 1987)
1. Minyak Atsiri
Jahe kering mengandung 1-3% minyak atsiri dan senyawa ini menyebabkan jahe
berbau khas. Komponen utama dalam minyak jahe adalah zi-ngiberen dan zingiberol,
yang menyebabkan bau harum. Sedangkan senyawa penyusunnya adalah n-desilaldehide
yang bersifat optis dan inaktif, n-nonil aldehide d-camphene, d--phellandrene,
metal
heptenon, sineol, borneol dan geraniol, lineol, asetat dan kaprilat, sitral, chaviol,
limonene, fenol zingiberen adalah senyawa yang paling utama dalam minyak. Selama
penyimpanan, persenyawaan akan mengalami resinifikasi. Zingiberol merupakan
sesque-terpen alkohol (C15H26O), yang menyebabkan bau khas minyak jahe.
2. Fixed Oil
Jahe mengandung fixed oil sebanyak 3-4%, yang terdiri dari gingerol, shogaol
dan resin. Senyawa-senyawa tersebut menyebabkan rasa pedas pada jahe. Selain itu jahe
juga mengandung oleoresin yang menyebabkan rasa pedas. Oleoresin dapat diperoleh
dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut yang menguap, misalnya aseton, alkohol
atau eter. Jumlah komponen dalam oleoresin yang dihasilkan tergantung dari jenis
pelarut yang digunakan.

Minyak atisri yang terdapat di dalam jahe bisa diambil dengan metode ekstraksi
maupun distilasi / penyulingan. Pada umumnya petani di Indonesia mengambil minyak jahe
dengan cara penyulingan karena teknologi yang digunakan tidak terlalu sulit dan tidak
menggunakan pelarut. Selain menghasilkan minyak jahe sebagai produk utama, usaha
penyulingan minyak jahe juga menghasilkan ampas. Biasanya ampas ini langsung
dikeringkan dan digunakan sebagai bahan bakar untuk memanaskan tungku penyulingan.
Sebenarnya sangat disayangkan kalau ampas jahe tersebut langsung digunakan sebagai
bahan bakar untuk tungku penyulingan karena masih mengandung senyawa oleoresin yang
bisa diambil dan dimanfaat-kan. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk
mengambil oleoresin yang masih terdapat dalam ampas jahe sebelum digunakan sebagai
bahan bakar. Salah satu metode pengambilan oleoresin yang bisa diterapkan adalah
ekstraksi. (Guenther, 1987)
Minyak atsiri adalah zat berbau atau biasa disebut dengan minyak esential, minyak
eteris karena pada suhu kamar mudah menguap di udara terbuka tanpa mengalami
penguraian. Istilah esential atau minyak yang berbau wangi dipakai karena minyak atsiri
mewakili bau dari tanaman penghasilnya. Dalam keadaan murni dan segar biasanya minyak
atsiri umumnya tidak berwarna atau kekuning-kuningan dengan rasa dan bau yang khas.
Namun dalam penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi dan membentuk resi serta
warnanya berubah menjadi lebih gelap. (Wahjoedi,1994)
Sumber minyak atsiri dapat diperoleh dari setiap bagian tanaman seperti daun, bunga,
buah, biji, batang, akar, ataupun rimpang. Selain itu dapat larut baik dalam etanol dan
pelarut
organik, namun sukar larut dalam air dan kurang larut dalam etanol yang kadarnya kurang
dari 70 %. Umumnya zat organik pada minyak atsiri tersusun dari unsur C, H, dan O,
berupa senyawa alifatis atau aromatis meliputi kelompok hidrokarbon, ester, eter, aldehid,
keton, alkohol dan asam (Guenther,1987). Secara kimia minyak atsiri bukan merupakan
senyawa tunggal, tetapi tersusun dari berbagai macam komponen yang secara garis besar
terdiri dari kelompok terpenoid dan fenil propan. Pengelompokkan tersebut berdasarkan
pada awal terjadinya minyak atsiri di dalam tanaman (Hart,2003).

Terpenoid berasal dari suatu unit sederhana yang disebut sebagai isoprena. Sehingga
dapat dikatakan komponen minyak atsiri termasuk senyawa isoprenoid, karena molekul-
molekulnya tersusun dari unit-unit isopren. Sementara fenil propan terdiri dari gabungan
inti benzen dan propana. Penyusun minyak atsiri dari kelompok terpenoid dapat berupa
monoterpen dan seskuiterpen yang merupakan komponen utama minyak atsiri. Minyak
atsiri dapat digunakan sebagai: (Tim Lentera,2002)
1. Menarik serangga (penyerbukan)
2. Untuk kosmetik / parfum
3. Penolak serangga
4. Sebagai bumbu masak
5. Antiseptik (obat)
6. Karminativum

Sifat- Sifat Minyak Atsiri


Adapun sifat-sifat minyak atsiri adalah sebagai berikut: (Guenther,1987)
1. Tersusun oleh bermacam-macam komponen senyawa
2. Bau khas
3. Rasa getir, tajam, menggigit, memberi kesan hangat sampai panas atau justru dingin
bila terasa di kulit
4. Dalam keadaan murni mudah menguap pada suhu kamar
5. Tidak bisa disabunkan dengan alkali dan tidak menjadi tengik
6. Tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik oleh oksigen, matahari atau panas
7. Indeks bias umumnya tinggi dan bersifat optis aktif (memiliki atom C asimetrik)
8. Kelarutannya sangat kecil di dalam air
9. Mudah larut dalam pelarut organik
Keberadaan Minyak Atsiri dalam Tanaman
Minyak atsiri terkandung dalam bernagai organ, seperti di dalam rambut kelenjar,
dalam sel-sel parenkim, di dalam saluran minyak, di dalam rongga-rongga skizogen dan
lisigen ataupun terkandung dalam semua jaringan. Minyak atsiri dapat terbentuk langsung
oleh protoplasma akibat adanya peruraian lapisan resin dari dinding sel atau hidrolisis dari
glikosida tertentu. Peranan utama minyak atsiri pada tumbuhan itu sendiri adalah sebagai
pengusir serangga (mencegah bunga dan daun rusak), serta sebagai pengusir hewan
pemakan daun lainnya. Namun sebaliknya minyak atsiri juga berfungsi sebagai penarik
serangga guna membantu penyerbukan silang dari bunga (Wahjoedi,1994).
Pelarut n-heksana dapat mengekstrak minyak dan lemak dari air dan darah serta
tumbuh-tumbuhan. Sehingga n-heksana dapat digunakan untuk mengekstrak minyak atsiri
dari rimpang jahe. N-heksana memiliki titik didih 68,70C, sedangkan minyak jahe memiliki
titik didih 140-1800C. Perbedaan titik didih inilah yang dimanfaatkan untuk memisahkan
minyak jahe dan pelarut n-heksana. Kadar air jahe basah 86,2%. Indeks bias minyak jahe
1,4850-1,492 dan rendemen minyak atsiri jahe 1-3% (Hart,2003).

V. ALAT DAN BAHAN


Alat-alat :
Alat ekstraksi soxhlet 1 set
Mortar dan alu 1 set
Evaporator 1 buah
Corong pisah 1 buah
Gelas piala 1 buah
Refraktometer 1 buah
Kaca arloji 1 buah
Kertas saring 2 lembar
Bahan :
Natrium sulfat anhidrat secukupnya
Jahe kering secukupnya
N-heksan secukupnya