Anda di halaman 1dari 10

KOPERASI DAN UMKM

Dasar Hukum, Tata Cara Pembentukan, Tingkatan, Daerah Kerja dan Struktur Koperasi

Oleh:

I Gede Rikotama (1515351171)

PROGRAM EKSTENSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2017

3.1 Dasar Hukum Pembentukan Koperasi


Dasar hukum koperasi Indonesia tercantum dalam UU Nomor 25 Tahun 1992 yang di
dalamnya mengatur tentang fungsi, peran, dan prinsip koperasi. Undang-undang ini disahkan
di Jakarta pada tanggal 21 Oktober 1992, di tandatangani oleh Presiden RI Soeharto, Presiden
RI pada masa itu dan di umumkan pada Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 116. Dan
demikian dengan terbitnya UU Nomor 25 Tahun 1992 maka UU Nomor 12 Tahun 1967
tentang Pokok-pokok Perkoperasian, Lembaran Negara RI Tahun 1967 Nomor 23 dan
Tambahan Lembaran Negara RI Tahun 1967 Nomor 2832, yang sebelumnya dipergunakan
dinyatakan tidak berlaku lagi.
Dasar Hukum Pembentukan dan Pengelolaan Koperasi, yaitu:
1. UU No. 25/1992 tentang Perkoperasian Koperasi
2. UU No. 9 Tahun 1995 tentang Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi

Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM nomor 15/Per/M.KUKM/XII/2009


tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Operasi dan UKM nomor
19/Per/M.KUKM/XI/2008 tentang Pedoman Pelaksaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam.
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1994 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengesahan
Akte Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar; Peraturan Menteri Negara Koperasi dan
Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor : 01/Per/M.KUKM/I/2006 tanggal 9
Januari 2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian dan
Perubahan Anggaran Dasar Koperasi Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil
dan Menengah Republik Indonesia Nomor : 98/Kep/KEP/KUKM/X/2004 tanggal 24
September 2004 tentang Notaris Sebagai Pembuat Akte Pendirian Koperasi. Koperasi
Indonesia berdasarkan UU No. 25 tahun 1992, koperasi suatu badan usaha yang dipandang
oleh undang-undang sebagai suatu perusahaan. Dimana dibentuk oleh anggota-anggotanya
untuk melakukan kegiatan usaha dan menunjang kepentingan ekonomi anggotanya.

Berdasarkan UU No. 12 tahun 1967, koperasi merupakan organisasi kerakyatan


bersifat sosial, anggotanya orang-orang yang termasuk dalam tatanan ekonomi bersifat usaha
bersama dan berazazkan pada kekeluargaan, maka dari itu koperasi di Indonesia di lindungi
oleh badan hukum yang telah ditetapkan. UU No. 33 Dasar 1945 Perekonomian disusun
sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.Cabang-cabang produksi yang
penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Undang-Undang Koperasi (Terbaru)
Pada pertengahan bulan oktober tahun 2012, Dewan Perwakilan Rakyat mengadakan
sidang paripurna untuk membahas pergantian UU Koperasi No.25 tahun 1992 menjadi UU
No.17 tahun 2012. Dalam rapat tersebut Mentri koperasi dan UKM Syarifuddin hasan
mendorong percepatan realisasi atau revisi Undang Undang No.25 tahun 1992 dengan
dasar pengembangan dan pemberdayaan koperasi nasional dalam kebiakan pemerintah
selayaknya mencerminkan nilai dan prinsip perkoperasian sebagai wadah usaha bersama
untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan para anggotanya. Ada enam substansi penting yang
harus disosialisasikan kepada masyarakat dan gerakan koperasi yang dirumuskan bersama
antara Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Hukum Dan Ham serta Dewan
Perwakilan Rakyat.
1. Pertama, nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang tertuang di dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, menjadi dasar
penyelarasan bagi rumusan nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi, sesuai dengan
hasil kongres International Cooperative Alliance (ICA).
2. Kedua, untuk mempertegas legalitas koperasi sebagai badan hukum, maka
pendirian koperasi ha-rus melalui akta otentik. Pemberian status dan pengesahan
perubahan anggaran dasar merupakan wewenang dan tanggungjawab Menteri.
3. Ketiga, dalam hal permodalan dan selisih hasil usaha, telah disepakati rumusan
modal awal Koperasi, serta penyisihan dan pembagian cadangan modal. Modal
Koperasi terdiri dari setoran pokok dan sertifikat modal koperasi sebagai modal
awal. Selisih hasil usaha, yang meliputi surplus hasil usaha dan defisit hasil usaha,
pengaturannya dipertegas dengan kewajiban penyisihan kecadangan modal, serta
pembagian kepada yang berhak.
4. Keempat, ketentuan mengenai Koperasi Simpan Pinjam (KSP) mencakup
pengelolaan maupun penjaminannya. KSP ke depan hanya dapat menghimpun
simpanan dan menyalurkan pinjaman kepada anggota.Koperasi Simpan Pinjam
harus berorientasi pada pelayanan pada anggota, sehingga tidak lagi dapat
disalahgunakan pemodal yang berbisnis dengan badan hukum koperasi. Unit
simpan pinjam koperasi dalam waktu 3 (tiga) tahun wajib berubah menjadi KSP
yang merupakan badan hukum koperasi tersendiri. Selain itu, untuk menjamin
simpanan anggota KSP diwajibkan menjaminkan simpanan anggota. Dalam kaitan
ini pemerintah diamanatkan membentuk Lembaga Penjamin Simpanan Anggota
Koperasi Simpan Pinjam (LPS KSP) melalui Peraturan Pemerintah (PP).Hal ini
dimaksudkan sebagai bentuk keberpihakan pemerintah yang sangat fundamental
dalam pemberdayaan koperasi, sehingga koperasi dapat meningkatkan
kepercayaan anggota untuk menyimpan dananya di koperasi. Pemerintah juga
memberi peluang berkembangnya koperasi dengan pola syariah yang akan diatur
dalam Peraturan Pemerintah.
5. Kelima, pengawasan dan pemeriksaan terhadap koperasi akan lebih diintensifkan.
Dalam kaitan ini pemerintah juga diamanatkan untuk membentuk Lembaga
Pengawas Koperasi Simpan Pinjam (LP-KSP) yang bertanggung jawab kepada
Menteri melalui peraturan pemerintah. Hal tersebut dilakukan pemerintah,
merupakan upaya nyata agar KSP benar-benar menjadi Koperasi yang sehat, kuat,
mandiri, dan tangguh, dan sebagai entitas bisnis yang dapat dipercaya dan sejajar
dengan entitas bisnis lainnya yang telah maju dan berkembang dengan pesat dan
profesional.
6. Keenam, dalam rangka pemberdayaan koperasi, gerakan koperasi didorong
membentuk suatu lembaga yang mandiri dengan menghimpun iuran dari anggota
serta membentuk dana pembangunan, sehingga pada suatu saat nanti. Dewan
Koperasi Indonesia (DEKOPIN) akan dapat sejajar dengan organisasi Koperasi di
negara-negara lain, yang mandiri dapat membantu Koperasi dan anggotanya.
Mencermati UU yang baru tersebut, ada beberapa hal yang memerlukan perhatian
khusus segenap pegiat koperasi, sebab hal ini berkaitan dengan penyesuain di
tingkat operasionalisasi organisasi dan usaha koperasi.
3.2 Syarat dan Tata Cara Pembentukan Koperasi

Suatu koperasi hanya dapat didirikan bila memenuhi persyaratan dalam mendirikan
koperasi. Syarat-syarat pembentukan koperasi berdasarkan Keputusan Menteri Negara
Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah Republik Indonesia Nomor:
104.1/Kep/M.Kukm/X/2002 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta
Pendirian Dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi, adalah sebagai berikut :
a. Koperasi primer dibentuk dan didirikan oleh sekurang-kurangnya dua puluh orang
yang mempunyai kegiatan dan kepentingan ekonomi yang sama;
b. Pendiri koperasi primer sebagaimana tersebut pada huruf a adalah Warga Negara
Indonesia, cakap secara hukum dan maupun melakukan perbuatan hukum;
c. Usaha yang akan dilaksanakan oleh koperasi harus layak secara ekonomi, dikelola
secara efisien dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi anggota
d. Modal sendiri harus cukup tersedia untuk mendukung kegiatan usaha yang akan
dilaksanakan oleh koperasi;
e. Memiliki tenaga terampil dan mampu untuk mengelola koperasi.

Selain persyaratan diatas, perlu juga diperhatikan beberapa hal-hal penting yang harus
diperhatikan dalam pembentukan koperasi yang dikemukakan oleh Suarny Amran et.al
(2000:62) antara lain sebagai berikut :
a. Orang-orang yang akan mendirikan koperasi dan yang nantinya akan menjadi anggota
koperasi hendaknya mempunyai kegiatan dan kepentingan ekonomi yang sama.
Artinya tidak setiap orang dapat mendirikan dan atau menjadi anggota koperasi tanpa
didasarkan pada adanya keje-lasan mengenai kegiatan atau kepentingan ekonomi
yang akan dijalankan. Usaha yang akan dilaksanakan oleh koperasi harus layak secara
ekonomi. Layak secara ekonomi diartikan bahwa usaha tersebut akan dikelola secara
efisien dan mampu menghasilkan keuntungan usaha dengan mem-perhatikan faktor-
faktor tenaga kerja, modal dan teknologi.
b. Modal sendiri harus cukup tersedia untuk mendukung kegiatan usaha yang akan
dilaksanakan oleh koperasi. Hal tersebut dimaksudkan agar kegiatan usaha koperasi
dapat segera dilaksanakan tanpa menutup kemungkinan memperoleh bantuan, fasilitas
dan pinjaman dari pihak luar.
c. Kepengurusan dan manajemen harus disesuaikan dengan kegiatan usaha yang akan
dilaksanakan agar tercapai efektivitas dan efisiensi dalam pe-ngelolaan koperasi.
Perlu diperhatikan mereka yang nantinya ditunjuk/ dipilih menjadi pengurus haruslah
orang yang memiliki kejujuran, kemampuan dan kepemimpinan, agar koperasi
yangdidirikan tersebut sejak dini telah memiliki kepengurusan

Setelah persyaratan terpenuhi para pendiri kemudian mempersiapkan hal-hal yang


dibutuhkan untuk mengadakan rapat pembentukan koperasi, setelah memiliki bekal yang
cukup dan telah siap para pendiri melakukan rapat pembentukan koperasi yang dihadiri dinas
koperasi dan pejabat lainnya, pendirian koperasi tidak sampai disana karena lembaga
koperasi yang telah didirikan perlu disahkan badan hukumnya. Penjelasan lebih lanjut
mengenai tahapan-tahapan tersebut diuraikan di bawah ini :
A. Tahap Persiapan Pendirian Koperasi
Sekelompok orang bertekad untuk mendirikan sebuah koperasi terlebih dahulu perlu
memahami maksud dan tujuan pendirian koperasi, untuk itu perwakilan dari pendiri dapat
meminta bantuan kepada Dinas Koperasi dan UKM ataupun lembaga pendidikan koperasi
lainnya untuk memberikan penyuluhan dan pendidikan serta pelatihan mengenai pengertian,
maksud, tujuan, struktur organisasi, manajemen, prinsip-prinsip koperasi, dan prospek
pengembangan koperasi bagi pendiri. Setelah mendapatkan penyuluhan dan pelatihan
perkoperasian, para pendiri sebaiknya membentuk panitia persiapan pembentukan koperasi,
yang bertugas :
a) Menyiapkan dan menyampaikan undangan kepada calon anggota, pejabat
pemerintahan dan pejabat koperasi.
b) Mempersiapakan acara rapat.
c) Mempersiapkan tempat acara.
d) Hal-hal lain yang berhubungan dengan pembentukan koperasi.

B. Tahap rapat pembentukan koperasi


Setelah tahap persiapan selesai dan para pendiri pembentukan koperasi telah memiliki
bekal yang cukup dan telah siap melakukan rapat pembentukan koperasi. Rapat pembentukan
koperasi harus dihadiri oleh 20 orang calon anggota sebagai syarat sahnya pembentukan
koperasi primer. Selain itu, pejabat desa dan pejabat Dinas Koperasi dan UKM dapat diminta
hadir untuk membantu kelancaran jalannya rapat dan memberikan petunjuk-petunjuk
seperlunya. Hal-hal yang dibahas pada saat rapat pembentukan koperasi , dapat dirinci
sebagai berikut :
1. Pembuatan dan pengesahan akta pendirian koperasi , yaitu surat keterangan tentang
pendirian koperasi yang berisi pernyataan dari para kuasa pendiri yang ditunjuk dan
diberi kuasa dalam suatu rapat pembentukan koperasi untuk menandatangani
Anggaran Dasar pada saat pembentukan koperasi.
2. Pembuatan Anggaran Dasar koperasi, yaitu pembuatan aturan dasar tertulis yang
memuat tata kehidupan koperasi yang disusun dan disepakati oleh para pendiri
koperasi pada saat rapat pembentukan. Konsep Anggaran Dasar koperasi sebelumnya
disusun oleh panitia pendiri, kemudian panitia pendiri itu mengajukan rancangan
Anggaran Dasarnya pada saat rapat pembentukan untuk disepakati dan disahkan.
Anggaran Dasar biasanya mengemukakan :
3. Nama dan tempat kedudukan, maksudnya dalam Anggaran Dasar tersebut
dicantumkan nama koperasi yang akan dibentuk dan lokasi atau wilayah kerja
koperasi tersebut berada.
4. Landasan, asas dan prinsip koperasi, di dalam Anggaran Dasar dikemukakan
landasan, asas dan prinsip koperasi yang akan dianut oleh koperasi.
5. Maksud dan tujuan, yaitu pernyataan misi, visi serta sasaran pembentukan koperasi.
6. Kegiatan usaha, merupakan pernyataan jenis koperasi dan usaha yang akan
dilaksanakan koperasi. Dasar penentuan jenis koperasi adalah kesamaan aktivitas,
kepentingan dan kebutuhan ekonomi para anggotanya. Misalnya, koperasi simpan
pinjam, koperasi konsumen, koperasi produsen, koperasi pemasaran dan koperasi jasa
atau koperasi serba usaha.
7. Keanggotaan, yaitu aturan-aturan yang menyangkut urusan keanggotaan koperasi.
Urusan keanggotaan ini dapat ditentukan sesuai dengan kegiatan usaha koperasi yang
akan dibentuknya. Biasanya ketentuan mengenai keanggotaan membahas persyaratan
dan prosedur menjadi anggota koperasi , kewajiban dan hak-hak dari anggota serta
ketentuan-ketentuan dalam mengakhiri status keanggotaan pada koperasi.
8. Perangkat koperasi, yaitu unsur-unsur yang terdapat pada organisasi koperasi.
Perangkat koperasi tersebut, sebagai berikut :
Rapat Anggota. Dalam Anggaran Dasar dibahas mengenai kedudukan rapat
anggota di dalam koperasi, penetapan waktu pelaksanaan rapat anggota, hal-
hal yang dapat dibahas dalam rapat anggota, agenda acara rapat anggota
tahunan, dan syarat sahnya pelaksanaan rapat anggota koperasi.
Pengurus. Dalam Anggaran Dasar dijabarkan tentang kedudukan pengurus
dalam koperasi, persyaratan dan masa jabatan pengurus, tugas, kewajiban serta
wewenang dari pengurus koperasi.
Pengawas. Dalam Anggaran Dasar dijabarkan tentang kedudukan pengawas
dalam koperasi, persyaratan dan masa jabatan pengawas, tugas serta
wewenang dari pengawas koperasi.
Selain dari ketiga perangkat tersebut dapat ditambahkan pula pembina atau
badan penasehat.
9. Ketentuan mengenai permodalan perusahaan koperasi, yaitu pembahasan mengenai
jenis modal yang dimiliki (modal sendiri dan modal pinjaman), ketentuan mengenai
jumlah simpanan pokok dan simpanan wajib yang harus dibayar oleh anggota.
10. Ketentuan mengenai pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU), yaitu ketentuan yang
membahas penjelasan mengenai SHU serta peruntukan SHU koperasi yang didapat.
11. Pembubaran dan penyelesaian, membahas tata-cara pembubaran koperasi dan
penyelesaian masalah koperasi setelah dilakukan pembubaran. Biasanya penjelasan
yang lebih rinci mengenai hal ini dikemukakan lebih lanjut dalam Anggaran Rumah
Tangga atau aturan lainnya.
12. Sanksi-sanksi, merupakan ketentuan mengenai sanksi yang diberikan kepada anggota,
pengurus dan pengawas koperasi, karena terjadinya pelanggaran-pelanggaran
terhadap Anggaran Dasar atau aturan lain-nya yang telah ditetapkan.
13. Anggaran rumah tangga dan peraturan khusus, yaitu ketentuan-ketentuan pelaksana
dalam Anggaran Dasar yang sebelumnya dimuat dalam Anggaran Dasar.

C. Pengesahan badan hukum


Setelah terbentuk pengurus dalam rapat pendirian koperasi, maka untuk mendapatkan
badan hukum koperasi, pengurus/pendiri/kuasa pendiri harus mengajukan permohonan badan
hukum kepada pejabat terkait, sebagai berikut :
Para pendiri atau kuasa pendiri koperasi terlebih dulu mengajukan permohonan pengesahan
akta pendirian secaratertulis kepada diajukan kepada Kepala Dinas Koperasi dan Usaha
Kecil Menengah, dengan melampirkan :
1) Anggaran Dasar Koperasi yang sudah ditandatangani pengurus rangkap dua, aslinya
bermaterai)
2) Berita acara rapat pendirian koperasi.
3) Surat undangan rapat pembentukan koperasi
4) Daftar hadir rapat.
5) Daftar alamat lengkap pendiri koperasi.
6) Daftar susunan pengurus, dilengkapi photo copy KTP (untuk KSP/USP dilengkapi
riwayat hidup).
7) Rencana awal kegiatan usaha koperasi.
8) Neraca permulaan dan tanda setor modal minimal Rp.5.000.000 (lima juta rupiah) bagi
koperasi primer dan Rp.15.000.000 (lima belas juta rupiah) bagi koperasi sekunder yang
berasal dari simpanan pokok, wajib, hibah.
9) Khusus untuk KSP/USP disertai lampiran surat bukti penyetoran modal sendiri minimal
Rp. 15.000.000 (lima belas juta rupiah) bagi koperasi primer dan Rp.50.000.000 (lima puluh
juta rupiah) bagi koperasi sekunder yang berupa deposito pada bank pemerintah.
10) Mengisi formulir isian data koperasi.
11) Surat keterangan dari desa yang diketahui oleh camat.
12) Membayar tarif pendaftaran pengesahan akta pendirian koperasi sebesar Rp. 100.000
(seratus ribu rupiah).
13) Apabila permintaan pengesahaan akta pendirian koperasi telah dilakukan sesuai dengan
ketentuan di atas kepada pendiri atau kuasa pendiri diberikan bukti penerimaan.
14) Pejabat koperasi, yaitu Kepala Dinas Koperasi dan UKM akan memberikan pengesahaan
terhadap akta koperasi apabila ternyata setelah diadakan penelitian Anggaran dasar koperasi.
15) Pejabat selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan terhitung sejak penerimaan permohonan
pengesahan badan hukum dari koperasi yang bersangkutan harus telah memberikan jawaban
pengesahannya. Tetapi biasanya proses pengesahan di dinas koperasi dapat selesai hanya
dalam waktu 3 (tiga) minggu.
16) Bila Pejabat berpendapat bahwa Akte Pendirian/Anggaran Dasar tersebut tidak
bertentangan dengan ketentuan Undang-undang koperasi dan peraturan pelaksananya serta
kegiatannya sesuai dengan tujuan, maka akte pendirian di daftar dengan nomor urut dalam
Buku Daftar Umum. Kedua buah Akte Pendirian/Anggaran Dasar tersebut dibubuhi tanggal,
nomor pendaftaran tentang tanda pengesahan oleh Pejabat a.n Menteri.
17) Tanggal pendaftaran akte Pendirian berlaku sebagai tanggal sesuai berdirinya koperasi
yang mempunyai badan hukum, kemudian Pejabat mengumumkan pengesahan akta
pendirian di dalam Berita Negara Republik Indonesia
18) Buku Daftar Umum serta Akte-Akte salinan/petikan ART/AD Koperasi dapat diperoleh
oleh pengurus koperasi dengan mengganti biaya fotocopy dan harus dilegalisir oleh Pejabat
Koperasi yang bersangkutan. Biaya yang dikenakan untuk hal di atas adalah Rp. 25.000
19) Dalam hal permintaan pengesahan akta pendirian ditolak, alasan penolakan
diberitahukan oleh pejabat kepada para pendiri secara tertulis dalam waktu paling lambat 3
(tiga) bulan setelah diterimanya permintaan.
20) Terhadap penolakan pengesahan akta pendirian para pendiri dapat mengajukan
permintaan ulang dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak diterimanya penolakan.
21) Keputusan terhadap pengajuan permintaan ulang diberikan dalam jangka waktu paling
lama 1 (satu) bulan sejak diterimanya pengajuan permintaan ulang.

3.3 Tingkatan Koperasi dan Daerah Kerja Koperasi

Dalam pasal 15 UU No. 12 Tahun 1992 tentang perkoperasian disebutkan bahwa


koperasi dapat berbentuk koperasi primer atau koperasi sekunder. Dalam penjelasan pasal 15
UU No. 12 Tahun 1992 disebutkan bahwa pengertian koperasi sekunder meliputi semua
koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan atau koperasi sekunder,
berdasarkan kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi, baik koperasi sejenis maupun
berbeda jenis atau tingkatan. Koperasi sekunder dibentuk oleh sekurang-kurangnya tiga
koperasi yang berbadan hukum baik primer maupun sekunder. Koperasi sekunder didirikan
dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan mengembangkan kemampuan
koperasi primer dalam menjalankan peran dan fungsinya. Oleh sebab itu, pendirian koperasi
sekunder harus didasarkan pada kelayakan untuk mencapai tujuan tersebut. Koperasi primer
adalah koperasi yang beranggotakan orang seorang dengan jumlah anggota minimal 20
orang, yang mempunyai aktivitas, kepentingan, tujuan, dan kebutuhan ekonomi yang sama.
Koperasi primer memiliki otonomi untuk mengatur sendiri jenjang tingkatan, nama, dan
norma-norma yang mengatur kehidupan koperasi sekundernya.
Dalam pasal 24 ayat 4 UU No. 25 Tahun 1992 disebutkan bahwa hak suara dalam
koperasi sekunder dapat diatur dalam anggaran dasar dengan mempertimbangkan jumlah
anggota dan jasa usaha koperasi anggota secara seimbang. Dengan demikian, di dalam
koperasi sekunder tidak berlaku prinsip satu anggota satu suara, tetapi berlaku prinsip hak
suara berimbang menurut jumlah anggota dan jasa usaha koperasi anggotanya. Prinsip ini
dianut karena kelahiran koperasi sekunder merupakan konsekuensi dari asas subsidiary, yaitu
adanya pertimbangan ada hal-hal yang tidak mampu dan atau tidak efisien apabila
diselenggarakan sendiri oleh koperasi primer. Keberadaan koperasi sekunder berfungsi untuk
mendukung peningkatan peran dan fungsi koperasi primer. Oleh sebab itu, semakin banyak
jumlah anggota koperasi primer, semakin besar pula partisipasi dan keterlibatannya dalam
koperasi sekunder. Kedua hal tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
mengatur perimbangan hak suara.Koperasi Primer adalah badan usaha koperasi yang
didirikan oleh dan beranggotakan orang-seorang. Orang-orang ini berkumpul untuk
memikirkan bagaimana memecahkan masalah yang mereka hadapi secara bersama-sama.
Mereka ini tentunya terdiri dari orang-orang yang memiliki kepentingan sama dan pandangan
hidup yang serupa. Koperasi primer ini dapat terbentuk sekurang-kurangnya oleh 20 orang
yang masing-masing memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Mampu melakukan tindakan hukum, artinya sudah dewasa dan berakal sehat
2. Menerima landasan idiil, asas dan sendi dasar koperasi
3. Sanggup dan bersedia memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak anggota, sebagaimana
diatur dalam UU No 25 tahun 1992, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga,
serta peraturan koperasi lainnya.

3.4 Struktur Intern dan Ekstern Organisasi Koperasi


Struktur Organisasi Koperasi yang telah terbentuk memerlukan pelaksanaan
manajemen koperasi diantaranya mengenai Bagan Struktur Organisasi yang relevan,
perangkat dan fungsinya organisasi koperasi.Bagan struktur organisasi koperasi
menggambarkan susunan, isi, dan luas cakupan organisasi koperasi, serta menjelaskan posisi
dari pada fungsi beserta tugas maupun kewajiban setiap fungsi, hubungan kerja dan tanggung
jawab yang jelas.Landasan pembuatan struktur organisasi adalah :
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
2. Anggaran Dana dan Anggaran Rumah Tangga Koperasi.
3. Keputusan Rapat.
Struktur Organisasi Koperasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu :
1. Segi intern organisasi koperasi
2. Segi ekstern organisasi koperasi

1. Intern organisasi koperasi


Organisasi yang ada di dalam setiap tubuh koperasi, baik di dalam koperasi primer,
koperasi pusat, koperasi gabungan maupun koperasi induk.Ekstern organisasi
koperasi yaitu organisaasi yang berhubungan dengan tingkat-tingkat koperasi itu,
yaitu hubungan antara koperasi primer, koperasi pusat, koperasi gabungan dan
koperasi induk.
Intern organisasi Koperasi terdiri dari 3 unsur yaitu :
Unsur alat-alat perlengkapan organisasi : Rapat Anggota,Pengurus,Badan Pemeriksa.
Unsur dewan penasehat atau penasehat.
Unsur pelaksanaan-pelaksanaan yaitu manajer dan karyawan-karyawan koperasi
lainnya.
2. Stuktur Ekstern Organisasi Koperasi
Di dalam undang-undang No. 12 tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perkoperasian
dikenal adanya koperasi primer, koperasi pusat, koperasi gabungan dan koperasi
induk seperti yang dikemukakan dalam struktur intern organisasi koperasi diatas
Dilihat dari segi pemusatan, maka koperasi pusat, koperasi gabungan dan koperasi
induk juga disebut koperasi sekunder (artinya yang kedua) sebagai koperasi yang
tingkatnya lebih atas dari koperasi primer (yang artinya pertama), dan dilihat dari segi
fungsinya maka koperasi-koperasi sekunder tersebut juga disebut organisasi
pembantu (auxiliary organization) yang fungsinya membantu koperasi primer
mencapai tujuannya. Oleh sebab itu, maka koperasi sekunder pada dasarnya
menjalankan usaha-usaha yang tidak dapat dilakukan oleh koperasi primer secara
sendiri-sendiri, seperti juga koperasi primer menjalankan usaha-usaha yang tidak
dapat dilakukan dengan baik anggota-anggota perorangan secara sendiri-sendiri.

Maka dipandang dari segi fungsinya itu perlu tidaknya salah satu tingkat organisasi
tergantung pada keperluan dan effesiensi, yang artinya kalau tidak diperlukan atau tidak
efisien karena dibandingkan dengan manfaatnya tidak memadai, tingkat organisasi tersebut
dapat ditiadakan. Dengan demikian jumlah tingkat organisasi dapat kurang dari 4. Tingkatan-
tingkatan organisasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Koperasi Primer
Koperasi yang anggotanya terdiri dari orang-perorangan disebut Koperasi Primer. Koperasi
ini baru bisa dibentuk, apabila dapat dihimpun paling sedikit 20 orang sebagai pendirinya.
Dalam seluruh struktur gerakan Koperasi, maka koperasi primer yang dimiliki dan diawasi
secara demokratis oleh para anggotanya, merupakan dasar dari gerakan itu sendiri. Karena
dalam koperasi primer anggotanya menanam modalnya serta dalam rapat anggota koperasi
primer, mereka sendiri menjalankan haknya untuk menentukan usaha-usaha apa yang akan
diselenggarakan oleh koperasi guna kepentingannya. Dan melalui koperasi primer inilah pula
setiap anggota kepentingan anggota guna kepentingan usahanya atau keperluan hidupnya.
2. Koperasi Pusat
Kalau koperasi primer sejumlah paling sedikit 20 orang menggabungkan diri agar dapat
mempersatukan kekuatan-kekuatan yang kecil menjadi suatu kekuatan yang besar dalam
mengejar cita-citanya, maka untuk tujuan dan maksud yang sama, sekurang-kurangnya 5
koperasi primer dapat pula menggabungkan diri dalam suatu tingkatan organisasi yang lebig
tinggi yaitu Koperasi Pusat.

3. Koperasi Gabungan
Dengan maksud yang sama seperti tersebut diatas, maka 3 koperasi pusat yang telah diakui
sebagai badan hukum juga dapat membentuk tingkat organisasi lebih atas lagi, yang disebut
Koperasi Gabungan.

4. Koperasi Induk
Induk koperasi terdiri atas paling sedikit 3 gabungan koperasi yang merupakan koperasi
tingkat nasional. Mengingat tingkatnya sudah nasional sifat dari anggota induk koperasi tidak
harus sama. Induk Koperasi seperti ini biasa dinamakan Induk Koperasi Nasional atau Pusat
Koperasi nasional.
Tujuan dan Nilai Koperasi
Memaksimumkan keuntugan (Maximize profit)
Memaksimumkan nilai perusahaan (Maximize the value of the firm)
Memaksimumkan biaya (minimize profit)

DAFTAR PUSTAKA

Republik Indonesia,Undang-undang Koperasi nomor 25 Tahun 1992


Hendar dan Kusnadi,1999, Ekonomi Koperasi, Jakarta: Lembaga Penerbit Ekonomi Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia
http://www.depkop.go.id/phocadownload/Tata_Cara/syarat_pendirian_koperasi.pdf