Anda di halaman 1dari 16

Jurnal Farmasi Fisika

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA

29 Maret 2017

Fisika LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA 29 Maret 2017 UJI STABILITAS OBAT SHIFT C 2016 Atharia R.

UJI STABILITAS OBAT SHIFT C

2016

Atharia R.

260110160102

Pembahasan

Luthfi Hargo S.

260110160103

Pendahuluan

Hanun Nabila

260110160105

Data Pengamatan

Lupita C.

260110160107

Metode

Stefanny Agnes

260110160108

Abstrak

Katherine Agustia T.

260110160109

Pembahasan

Sarah Syafira

260110160110

Editor dan lampiran

Hilma Awalia R.

260110160111

Data Pengamatan

Asri Savitri

260110160112

Pembahasan

Laboratorium Farmasi Fisika Universitas Padjadjaran Jatinangor

Jurnal Farmasi Fisika

29 Maret 2017

ABSTRAK Stabilitas obat adalah derajat degradasi suatu obat dipandang dari segi kimia. Stabilitas obat dapat diketahui dari ada tidaknya penurunan kadar selama penyimpanan. Pada pembuatan obat harus diketahui waktu paruh suatu obat. Waktu paruh suatu obat dapat memberikan gambaran stabilitas obat, yaitu gambaran kecepatan terurainya obat atau kecepatan degradasi kimiawinya. Dengan mengetahui stabilitas obat dan waktu paruhnya kita dapat mengetahui lamanya obat dapat disimpan atau waktu simpan. Shelf life atau masa kadaluarsa adalah periode penggunaan dan penyimpanan yaitu waktu dimana suatu produk tetap memenuhi spesifikasinya jika disimpan dalam wadahnya yang sesuai dengan kondisi penjualan di pasar. Stabilitas obat sangat dipengaruhi oleh perubahan suhu, semakin tinggi suhu maka stabilitas suatu obat menurun. Kata kunci: Stabilitas, Kadar Asetosal, Waktu Penyimpanan, Suhu

ABSTRACT Drug stability is the degree of degradation of a drug in terms of chemistry. Drug stability can be seen from the absence decreased levels during storage. In the manufacture of a medicament to know the half-life of a drug. The half-life of a drug can provide an overview of drug stability, which picture the disintegration speed of drug or chemical degradation speed. By knowing the half-life of drug stability and we can find out the length of time a drug can be stored or saved. Shelf life or expiration period is the period of use and storage is the time where a product still meets the specifications if stored in a container in accordance with the conditions of sale on the market. Drug stability is strongly influenced by changes in temperature, the higher the temperature the stability of the drug decreases. Keywords: Stability, Content aspirin, Storage Time, Temperature

Jurnal Farmasi Fisika

I.

PENDAHULUAN

Pada pembuatan obat harus diketahui waktu paro suatu obat. Waktu paro suatu obat dapat memberikan gambaran stabilitas obat, yaitu gambaran kecepatan terurainya obat atau kecepatan degradasi kimiawinya. Panas, asam- asam, alkali-alkali, oksigen, cahaya, kelembaban dan faktor-faktor lain dapat menyebabkan rusaknya obat. Mekanisme degradasi dapat disebabkan oleh pecahnya suatu ikatan, pergantian spesies, atau perpindahan atom-atom dan ion-ion jika dua molekul bertabrakan dalam tabung reaksi (Moechtar, 1989). Suatu obat kestabilannya dapat dipengaruhi juga oleh pH, dimana reaksi penguraian dari larutan obat dapat dipercepat dengan penambahan asam (H+) atau basa (OH-) dengan menggunakan katalisator yang dapat mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi dan tidak mempengaruhi hasil dari reaksi. (Ansel, 1989). Kestabilan dari suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat

29 Maret 2017

formulasi suatu sediaan farmasi. Hal itu penting mengingat sediaannya biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan juga memrlukan waktu yang lama untuk sampai ketangan pasien yang membutuhkannya. Obat yang disimpan dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil urai dari zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahayakan jiwa pasien. Oleh karena itu, perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kestabilan suatu zat hingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan obat tersebut optimum. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004). Berbagai teknik solubilisasi dalam sistem penghantaran obat (drug delivery system) untuk meningkatkan bioavailabilitas obat- obat hidrofobik telah banyak diteliti dan dikembangkan. Salah satu teknik solubilisasi tersebut dilakuka dengan cara pembuatan sediaan mikroemulsi (Nandi I et all, 2003 ).

Jurnal Farmasi Fisika

Stabilitas dalam arti luas dapat didefinisikan sebagai ketahanan suatu produk sesuai dengan batas-batas tertentu selama penyimpanan dan penggunaanya atau umur simpan suatu produk dimana produk tersebut masih mempunyai sifat dan karakteristik yang sama seperti pada waktu pembuatan. Banyak faktor yang mempengaruhi stabilitas dari sediaan farmasi, antara lain stabilitas bahan aktif, interaksi antara bahan aktif dengan bahan tambahan, proses pembuatan bentuk sediaan, kemasan, cara pengemasan dan kondisi lingkungan yang dialami selama pengiriman,penyimpanan, penanganan dan jarak waktu antara pembuatan dan penggunaan. Faktor lingkungan seperti temperatur, radiasi cahaya dan udara (khususnya oksigen, karbon dioksida dan uap air) juga mempengaruhi stabilitas. Demikian pula faktor formulasi seperti ukuran partikel, pH, sifat dari air dan sifat pelarutnya dapat mempengaruhi stabilitas (Osolet al, 1980; USP, 1990). Kriteria yang amat penting untuk suatu hasil produksi yang baik. Ketidak stabilan produk obat dapat

29 Maret 2017

mengakibatkan terjadinya penurunan sampai dengan hilangnya khasiat obat, obat dapat berubah menjadi toksik atau terjadinya perubahan penampilan sediaan (warna, bau, rasa, konsistensi dan lain-lain) yang akibatnya merugikan bagi si pemakai. Ketidakstabilan suatu sediaan farmasi dapat dideteksi melalui perubahan sifat fisika, kimia serta penampilan dari suatu sediaan farmasi. Besarnya perubahan kimia sediaan farmasi ditentukan dari laju penguraian obat melalui hubungan antara kadar obat dengan waktu, atau berdasarkan derajat degradasi dari suatu obat yang jika dipandang dari segi kimia, stabilitas obat dapat diketahui dari ada atau tidaknya penurunan kadar selama penyimpanan. Secara fisiologis, larutan obat harus diformulasikan sedekat mungkin ke pH stabilitas optimumnya karena besarnya laju

hidrolitik

reaksi

dipengaruhi/dikatalisis oleh gugus hidroksi (Ansel, 1989; Lachman et

al,1994).

Stabilitas sediaan farmasi merupakan salah satu kriteria yang amat penting untuk suatu hasil

Jurnal Farmasi Fisika

29 Maret 2017

produksi yang baik. Ketidakstabilan produk obat dapat mengakibatkan terjadinya penurunan sampai dengan hilangnya khasiat obat, obat dapat berubah menjadi toksis, atau terjadinya perubahan penampilan sediaan (wama, bau, rasa, konsistensi dan lain-lain) yang akibatnya merugikan bagi si pemakai.

 

Berdasarkan informasi teknikal dari BASF The Chemical Company (National Industrial Chemicals Notification and Assessment Scheme) SAP selama proses formulasi dan penyimpanan harus pada kondisi optimumnya agar stabilitas dari SAP tetap terjaga. Kondisi optimum tersebut adalah :

Ketidakstabilan suatu sediaan farmasi dapat dideteksi melalui perubahan sifat fisika, kimia serta penampilan dari suatu sediaan farmasi. Besarnya perubahan kimia sediaan farmasi ditentukan dari laju peruraian obat melalui hubungan

diformulasi pada suhu maksimal 400C, ditempat yang terlindung dari cahaya, pH sediaan di atas 6 serta sediaan harus disimpan pada suhu di bawah 250C. (lucida, Husni dan Hosiana , 2015)

antara kadar obat dengan waktu, atau

II.

METODE

berdasarkan derajat degradasi dari

1.

Alat

suatu obat yang jika dipandang dari

-

Buret

segi kimia, stabilitas obat dapat

-

Erlenmeyer

 

diketahui dari ada atau tidaknya

-

Gelas beaker

penurunan kadar selama

-

Labu ukur

penyimpanan. Secara fisiologis,

-

Neraca analitis

 

larutan obat harus diformulasikan

-

Pipet ukur

sedekat mungkin ke pH stabilitas

2.

Bahan

optimumnya karena besarnya laju

-

Asam oksalat

 

reaksi

hidrolitik

-

Asetosal 4%

dipengaruhi/dikatalisis oleh gugus

-

Fenoftalein

hidroksi (Lachman et al,1986;

-

Na-sitrat 10%

 

Ansel, 1989).

-

NaOH

Jurnal Farmasi Fisika

3.

Prosedur

a.

Bahan percobaan

Ditimbang 25 gram Na-sitrat dan

dilarutkan dalam 200 ml air dan

dimasukkan ke dalam labu ukur 250

ml. ditimbang 10 gram asetosal dan

dilarutkan dalam Na-sitrat dan

ditambahkan air sampai 250 ml.

diambil 50 ml larutan dan ditenukan

kadar awal asetosal dan sisanya

dibagi sebanyak 50 ml

b.

Metode

Dihangatkan 200 ml Na-sitrat 10%

dalam labu ukur pada suhu 50 0 C

selama 10 menit. Dimasukkan

asetosal yang telah ditimbang ke

dalam labu berisi larutan Na-sitrat

10%. Dibilas dengan Na-sitrat

kemudian dikocok hingga larut.

Ditambahkan kembali Na-sitrat

sampai 250 ml. diambil 50 ml larutan

dan masukkan dalam wadah tertutup

lalu dipanaskan dengan waktu

tertentu. Dipipet 10 ml larutan titrasi

duplo dan ditetapkan kadarnya.

Ditetapkan kadar sampel dalam

innteval waktu 15 menit selama 1

jam.

c.

Penetapan kadar awal

Disiapkan larutan baku asam oksalat

0,1 N sebanyak 10 ml dalam

29 Maret 2017

Erlenmeyer dan ditambahkkan

fenoftlein. Dititrasi duplo dengn

NaOH 0,1 N.

III. DATA PENGAMATAN

DAN HASIL

Asetosal 4%

=

Na-Sitrat 10%

=

Pembakuan NaOH

1.

V 1 x N 1 13,4 x N 1 13,1 x N 1 N 1

= V 2 x N 2 = 10 x 0,1 = 10 x 0,1 = 0,0746

2. V 1 x N 1 = V 2 x N 2

13,4 x N 1

=

10

x

0,1

13,1 x N 1

= 10 x 0,1

N 1

= 0,0746

 

N NaOH

=

Jurnal Farmasi Fisika

29 Maret 2017

Waktu

 

30 derajat

 

50 derajat

V

NaOH

Potensi

V

NaOH

Potensi

0

31 mL

100%

31 mL

100%

15

31,3 mL

99,03%

33,2 mL

92,90%

30

30,3 mL

102,3%

35,6 mL

85,16%

45

28,5 mL

108,06%

37,1 mL

80,32%

60

31,5 mL

98,38%

37,5 mL

79,032%

Potensi =

Potensi pada 50ºC :

 

Untuk potensi pada 30ºC :

 

1.

Potensi 15

 

- Log P 15

= 1,995

2.

Potensi 30

 

%

 

-

Log P 30 = 2,0098

3.

Potensi 45

 

-

Log P 45 = 2,0336

 

4.

Potensi 60

 

- Log P 60

= 1,992

1.Potensi 15

-

Log P 15

= 1,968

2.Potensi 30

-

Log P 30

= 1,9302

3.

Potensi 45

-Log P 45

= 1,9048

 

4.

Potensi 60

-

Log P 60

= 1,8978

Jurnal Farmasi Fisika

29 Maret 2017

 

30°C

 

log P

2,04

30°C waktu
30°C waktu

30°C

waktu

2,03

2,02

2,01

2

1,99

1,98

1,97

 

0

15

30

45

60

 

50°C

 

log P

2,02

50°C waktu
50°C waktu

50°C

waktu

2

1,98

1,96

1,94

1,92

1,9

1,88

1,86

1,84

 

0

15

30

45

60

Jurnal Farmasi Fisika

M 30

=

 

-4

K 30 = m x 2,303

 

= 6,833 x 10 -4 x 2,303

= 1,57 x 10 -3

M 50

 

 

=

IV.

-3

PEMBAHASAN

Pada praktikum Uji Stabilitas ini dilakukan pembuatan larutan yang mengandung 4%asetosal dan 10% natrium sitrat, menentukan kadar asetosal dalam berbagai variasi suhu dan waktu tertentu dengan

menggunakan titrasi asam basa, memperlihatkan penguraian sediaan farmasi yang disebabkan oleh kenaikan suhu, dan meramalkan kecepatan sediaan yang terurai pada suhu penyimpanan yang biasa (suhu kamar) dengan menggunakan

29 Maret 2017

K 50 = 1,71 x 10 -3 x 2,303 = 3,93 x 10 -3

T 90 30 o

=

T 90 50 o

=

Log

 

Log

 

0,398

=

Ea =

8,927

x

10 -5

kJ

/

-4

mol

persamaan Arrhenius dan ekstrapolasi grafik. Semua obat memiliki rentang waktu kestabilan, di mana pada masa tersebut kadar obat masih berada dalam zona layak pakai. Terjadinya dekomposisi obat karena hidrolisis dari sediaan farmasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti: kelembaban, suhu, atau pelarut. Selain itu, gugus-gugus fungsional tertentu dalam suatu obat memudahkan terjadinya reaksi

Jurnal Farmasi Fisika

tersebut. Akibatnya, efek terapeutik obat akan berkurang karena zat aktif

obat telah terurai menjadi senyawa yang tidak berguna bagi tubuh atau bahkan bersifat toksik. Asetosal (asetil salisilat) merupakan senyawa yang berkhasiat sebagai analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), anti-inflamasi (peradangan), antikoagulan, dan digunakan untuk mencegah serangan jantung dalam dosis rendah dalam tempo lama. Penggunaan asetosal sebagai sampel uji dikarenakan senyawa ini bersifat tidak stabil sehingga pada kondisi tertentu dapat terhidrolisis menjadi asam salisilat dan asam asetat. Metode yang digunakan untuk menetapkan kadar asetosal adalah dengan titrasi

asidimetri- alkalimetri, di mana

titran yang digunakan adalah larutan NaOH yang dibuat dengan cara melarutkan pellet NaOH ke dalam aquades yang telah dipanaskan. Pemanasan ini dilakukan untuk menghilangkan CO 2 dalam

terjadi

pengendapan

terbentuknya

akibat

aquades

agar

tidak

29 Maret 2017

Na 2 CO 3 . Pembakuan NaOH dengan

menggunakan asam oksalat 0,1 N bertujuan untuk menentukan konsentrasi pasti dari NaOH, sebab senyawa ini merupakan baku sekunder yang mana konsentrasinya hanya dapat diketahui secara pasti oleh baku primer. Dikatakan sebagai baku sekunder karena senyawa ini bersifat higroskopis yang tidak mudah dikeringkan, memiliki kemurnian yang lebih rendah daripada larutan baku primer, dan tidak mudah didapatkan dalam bentuk murni. Dalam percobaan ini, digunakan aquades sebagai pelarut asetosal. Akibatnya asetosal tidak dapat larut secara sempurna atau membutuhkan waktu yang lama untuk melarutkannya. Uji stabilitas dilakukan dengan memanaskan asetosal pada suhu 30°C dan pada suhu 50°C. Variasi suhu tersebut dilakukan untuk menentukan kecepatan peruraian asetosal, serta kadar asetosal. Hasil uji stabilitas kimia pada suhuh 50°C menunjukkan bahwa potensi asetosal mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya suhu dan lamanya

Jurnal Farmasi Fisika

waktu penyimpanan. Data tersebut membuktikan bahwa asetosal bersifat tidak stabil dalam penyimpanan yang cukup lama pada suhu tinggi. Data yang diperoleh sesuai dengan persamaan Arrhenius yang menyatakan bahwa laju reaksi akan meningkat seiring dengan kenaikan suhu 10°C. Berdasaran grafik dapat dilihat log potensi terus menurun seiring dengan bertambahnya waktu, hal ini menunjukan bahwa potensi asetosal untuk mempertahankan spesifikasinya menurun dari menit ke 0 hingga menit ke 60 sehingga konsentrasi asetosal mengalami penurunan. Dalam percobaan kali ini, orde reaksi penguraian asetosal diperoleh orde satu dimana pada

suhu 50°C nilai R 2 mendekati 1. Selain itu juga dapat diketahui bahwa nilai log K yang diperoleh berbanding lurus dengan suhu serta kecepatan peruraian asetosal di mana semakin tinggi konstanta laju reaksi maka peruraian asetosal semakin cepat. Kecepatan peruraian asetosal tinggi pada suhu 50°C Hasil percobaan uji stabilitas pada suhu 30°C tidak sesuai dengan

29 Maret 2017

teori, dimana pada menit ke 15 sampai 45 terjadi kesalahan. Seharusnya stabilitas turun seiring berjalannya waktu. Namun, hasil yang diperoleh menunjukkan kenaikan pada menit ke 15. Hal ini disebabkan karena pada saat percobaan tidak diketahui suhu tepatnya, karena hanya mengandalkan suhu ruang. Sementara suhu ruang tidak stabil. Selain itu, pada saat titrasi terjadi kesalahan saat menetapkan titik akhir titrasi.

V.

KESIMPULAN

a.

Dapat membuat larutan yang mengandung 4% asetosal dan 10% natrium sitrat.

b.

Dapat menentukan kadar

asetosal pada berbagai suhu dan waktu yaitu pada suhu

30

o yaitu 99,032%; 102,3%;

108,06%; 98,387% dan pada suhu 50 o yaitu 92,903%; 85,161%; 80,232%; 79,032%

c.

Dapat melihat penguraian sediaan farmasi yang disebabkan oleh kenaikan suhu

Jurnal Farmasi Fisika

d. Dapat menentukan kecepatan sedian yang terurai pada suhu penyimpanan yang biasa( suhu kamar) dengan menggunakan persamaan Arrhenius dan eksploitasi grafik yaitu Ea = 8,927 x 10 -5 kj/mol

29 Maret 2017

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Farmasi Fisika

Moechtar, 1989, Farmasi Fisika :

Bagian Larutan dan Sistem Dispersi, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta.

Ansel,

Howard

C.

1985.

PENGANTAR BENTUK SEDIAAN FARMASI EDISI IV.

UI press. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979, Farmakope Indonesia, III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Nandi, I., M. Bari, H. Joshi. 2003. Study of isopropyl myristate microemulsion systems containing cyclodextrins to improve the solubility of 2 model hydrophobic drugs. AAPS PharmSciTech. 4 (1):

artikel 10.

Osol A. et al, 1980., Remington's Pharmaceutical Sciences, l6th ed, Mack Publishing Company, Easton-Pensivania, 104-135,

244-262

29 Maret 2017

Ansel H.C, 1989., Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, ed 4, Penerjemah Farida Ibrahim Jakarta : Universitas Indonesia Press

Lachman, L., Lieberman, H. A., Kanig, J. L., 1986, Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi ketiga, diterjemahkan oleh:

Suyatmi, S., Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 760779, 1514 1587

Lucida, H., Husni, P., & Hosiana, V. (2015). Kinetika Permeasi Klotrimazol Dari Matriks Basis Krim Yang Mengandung Virgin Coconut Oil (VCO). Jurnal Riset Kimia, 2(1), 14.

Jurnal Farmasi Fisika

LAMPIRAN

Jurnal Farmasi Fisika LAMPIRAN Gambar dengan asetosal. 1. Na-sitrat Gambar 2. Hasil titrasi 30° pada 30

Gambar

dengan asetosal.

1.

Na-sitrat

Farmasi Fisika LAMPIRAN Gambar dengan asetosal. 1. Na-sitrat Gambar 2. Hasil titrasi 30° pada 30 menit.

Gambar 2. Hasil titrasi 30° pada 30 menit.

29 Maret 2017

Gambar 2. Hasil titrasi 30° pada 30 menit. 29 Maret 2017 Gambar 3. Hasil titrasi pada

Gambar 3. Hasil titrasi pada 0 detik.

30° pada 30 menit. 29 Maret 2017 Gambar 3. Hasil titrasi pada 0 detik. Gambar 4.

Gambar 4. Hasil titrasi 30° pada 60 menit.

Jurnal Farmasi Fisika

Jurnal Farmasi Fisika Gambar 5. Hasil titrasi 30° pada 15 menit Gambar 6. Hasil titrasi 30°

Gambar 5. Hasil titrasi 30° pada 15 menit

Farmasi Fisika Gambar 5. Hasil titrasi 30° pada 15 menit Gambar 6. Hasil titrasi 30° pada

Gambar 6. Hasil titrasi 30° pada 45 menit.

29 Maret 2017

Gambar 6. Hasil titrasi 30° pada 45 menit. 29 Maret 2017 Gambar 7. Hasil titrasi 50°

Gambar 7. Hasil titrasi 50° pada 60 menit.

pada 45 menit. 29 Maret 2017 Gambar 7. Hasil titrasi 50° pada 60 menit. Gambar 8.

Gambar 8. Hasil titrasi 50° pada 15 menit.

Jurnal Farmasi Fisika

Jurnal Farmasi Fisika Gambar 9. Asam oksalat 1 dan 2. 29 Maret 2017 16

Gambar 9. Asam oksalat 1 dan 2.

29 Maret 2017