Anda di halaman 1dari 25

GENERAL BUSINESS

ENVIRONMENT

MM-UGM YOGYAKARTA

RESEARCH PAPER

Dosen pengajar :

Lincolin Arsyad, Prof. Dr. M. Sc.

Industri Transportasi Publik Jalur Darat

PT SAFARI EKA KAPTI (ROYAL SAFARI / BLUESTAR)

DISUSUN OLEH:
ARSYIDA IZZA
12/341318/PEK/17407 AP 19
BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan geliat positif sejak tahun 2000 serta
memunculkan masyarakat kelas menengah yang pertumbuhannya sekitar 9 juta warga setiap
tahunnya. Bila dilihat dari produk domestik bruto per kapita pada tahun 2012 yang mencapai
3850 USD, diperkirakan bahwa sekitar 60 % penduduk Indonesia berada di kelas menengah.
Kategori kelas menengah, menurut Bank Dunia, adalah mereka yang membelanjakan
uangnya sebesar 2 dolar sampai 20 dolar AS per hari.
Kenaikan pendapatan per kapita masyarakat rupanya didukung oleh pola konsumsi
masyarakat sendiri. Perilaku konsumtif masyarakat menjadi gaya hidup yang cenderung
serba sama terjadi di berbagai wilayah Nusantara. Sifat konsumerisme di kelas menengah
Indonesia akan menaikkan pendapatan domestik bruto yang besar, sehingga ekonomi yang
ekspansif akan terjadi. Sektor yang mengalami peningkatan konsumsi antara lain di bidang
tourism, informasi teknologi, fashion, property, culinary. Konsumsi masyarakat kelas
menengah menyumbang 70 persen dari pertumbuhan ekonomi diharapkan menggerakkan
perekonomian Indonesia agar terus bertumbuh. Laporan Bank Dunia menyebutkan, jumlah
kelas menengah di Indonesia saat ini sekitar 56,5 persen dari total jumlah penduduk. Menurut
Sensus Penduduk 2010, penduduk Indonesia berjumlah 237,6 juta. Dengan demikian jumlah
kelas menengah dengan pengeluaran per hari 2 dolar AS (sekitar Rp. 18.000,-) sampai
dengan 20 dolar AS (sekitar Rp.180.000,-) tidak kurang dari 134 juta penduduk Indonesia.
Dari 134 juta orang jumlah kelas menangah, sekitar 14 juta orang masuk ke dalam
rata-rata pengeluaran 6 dolar sampai 20 dolar AS per hari. Sebanyak 68 persen atau sekitar
91 juta orang lainnya merupakan kelas menengah bawah, dengan pengeluaran 2-4 dolar AS
per hari.
Sumber : Bank Indonesia
Biaya konsumsi masyarakat kelas ekonomi menengah Indonesia tergolong cukup
besar. Belanja pakaian dan alas kaki tahun 2010 mencapai Rp.113,4 triliun. Belanja rumah
tangga dan jasa sebesar Rp.194,4 triliun, belanja di luar negeri Rp.50 triliun, dan biaya
transportasi Rp. 283,6 triliun.

Sumber : Data BPS 2010


Melihat betapa pentingnya peran kelas menengah dalam perekonomian Indonesia
dewasa ini juga dilihat dari tingkat konsumsinya yang begitu tinggi, sektor transportasi mulai
menggarap pasar kelas menengah ini. Industri otomotif bermunculan di Indonesia. Pabrikan
asing mulai berinvestasi di Indonesia. Namun yang perlu disadari adalah pembangunan
infrastruktur belum terlalu berkembang. Akibatnya kemacetan tak terelakkan di beberapa
daerah di Indonesia, tidak hanya ibukota Jakarta. Industri Transportasi Publik Darat, Udara,
dan Laut juga berlomba-lomba menawarkan pelayanan terbaik. Khususnya di Industri
Transportasi Publik Darat selain menghadapi kemungkinan peluang usaha, juga menghadapi
ancaman dari berbagai sektor.
I.2 Analisis Industri
Untuk dapat mengetahui kondisi didalam industri properti, penulis akan
menggunakan 5 Force Model Analysis dari Porter. Menurut Porter ada lima kekuatan yang
menentukan intensitas persaingan dalam suatu industri, yaitu ancaman pendatang baru,
ancaman pesaing, ancaman produk pengganti, daya tawar dari pemasok dan juga daya tawar
dari konsumen.

Gambar 3. Analisis 5 Force Model Porter

S S
B u u C
u bN s p o
y te i t p m
e wu t l i p
r Ee e e
nP r r t i
t or t
ad o
n r
t s

1. Ancaman pendatang baru

Ancaman pendatang baru dalam industri transportasi publik khususnya transportasi


darat tidak terlalu kuat dikarenakan industri ini memiliki entry barrier yang tinggi yaitu :

Biaya start-up yang besar


Modal operasional yang besar
Ijin trayek dan regulasi yang rumit dan mahal

2. Daya tawar dari konsumen

Daya tawar dari konsumen dapat dikatakan dalam tingkat tinggi karena dalam
industri jasa, pelayanan dan harga jual yang representative kepada konsumen menjadi
penentu apakah industri jasa transportasi tersebut diminati atau tidak.
3. Ancaman produk substitusi

Ancaman dari produk substitusi sangat tinggi. Industri Jasa Transportasi Darat
jhusunya otobus berhadapan langsung dengan industri perkeretaapian, misalnya. Serta
dengan meningkatnya teknologi dan informasi, konsumen cenderung memilih jasa
transportasi udara.

4. Daya tawar pemasok

Daya tawar pemasok dalam industri ini relatif sedang. Ancaman lebih banyak karena
faktor perubahan kurs mata uang Rupiah terhadap dollar untuk pembelian spare part.

5. Persaingan dengan kompetitor

Persaingan dengan kompetitor relatif sedang dalam industri ini. Perusahaan otobus
memiliki jam beroperasi yang telah diatur.
BAB II

PROFIL PERUSAHAAN
PT SAFARI EKA KAPTI merupakan perusahaan penyedia jasa transportasi yang
berfokus pada penyediaan armada otobus untuk melayani kebutuhan masyarakat. Perusahaan
ini didirikan pada tahun 1979 dan berpusat di Salatiga, Jawa Tengah.
Dalam menyediakan jasa transportasi, PT SAFARI EKA KAPTI melakukan
diversifikasi usaha, antara lain :
- ROYAL SAFARI yang melayani trayek jalur Semarang Solo sejak tahun 1979.
- BLUE STAR Tour & Travel, didirikan pada tahun 2004 yang melayani pariwisata
di area Jawa, Sumatera, Bali, Lombok.
- Safari Bus Malam yang melayani perjalanan Solo Jakarta dengan armada
otobus.
Visi dari PT SAFARI EKA KAPTI adalah Menjadi perusahaan penyedia jasa
transportasi yang memberikan kualitas layanan terdepan dan dapat memberikan kontribusi
nyata pada masayarakat Indonesia dan lingkungan.
Misi dari PT SAFARI EKA KAPTI antara lain :
1. Menjadi perusahaan penyedia layanan transportasi dengan kualitas prima.
2. Menjadi perusahaan yang respek terhadap karyawan, lingkungan, dan masyarakat.
3. Menjadi perusahaan yang selalu memberikan fasilitas layanan penumpang dengan
teknologi mutakhir sehingga dapat menjamin kenyamanan dan keselamatan
penumpang.
4. Menyediakan layanan transportasi yang nyaman, aman, dengan harga yang
kompetitif.
PT SAFARI EKA KAPTI menaruh perhatian penuh pada faktor lingkungan, sehingga
memastikan seluruh armada yang digunakan menggunakan mesin yang ramah lingkungan
dan rutin melakukan pengecekan emisi gas buang. Perusahaan ini juga mendukung upaya
penghematan BBM dengan efisiensi program kerja dan pemeliharaan mesin. Selain itu,
perusahaan ini juga mendukung penelitian untuk menemukan energi alternatif pengganti
minyak bumi yang menjadi faktor penggerak dalam industri transportasi.
Di kawasan Jawa Tengah, salah satu penyedia jasa transportasi publik adalah PT
SAFARI EKA KAPTI yang melayani moda transportasi otobus, salah satunya di jalur
Semarang Solo. Sejak puluhan tahun lalu, jalur trayek Semarang Solo adalah jalur emas
bagi industri jasa transportasi. Industrialisasi yang berkembang di kedua kota tersebut
-dengan cirinya masing-masing- mampu mendorong pertumbuhan ekonomi penduduk. Jarak
yang relatif dekat dan waktu tempuh yang relatif singkat antara Semarang Salatiga Solo
memungkinkan masyarakat untuk beraktivitas di kota-kota tersebut dalam satu hari pulang-
pergi. Kesempatan itulah yang akhirnya dimanfaatkan oleh penyedia jasa transportasi, baik
jarak dekat maupun antar kota. Apalagi Solo adalah kota penghubung ke jalur selatan dan
jalur timur sementara Semarang menghubungkan jalur utara dan barat, sehingga jalur
Semarang Solo menjadi jalur yang cukup sibuk baik untuk angkutan massa maupun
angkutan barang.
BAB III

ANALISIS LINGKUNGAN

1. Demographic Environment

PT SAFARI EKA KAPTI dalam menjalankan bisnisnya juga terpengaruh


oleh faktor-fakor demografi berikut ini:
1. Faktor Umur
Tabel 1. Penduduk Usia Kerja Jawa Tengah

Penduduk dengan usia produktif (15-45 tahun) jumlahnya cukup tinggi di


Propinsi Jawa Tengah. Menurut data BPS, pertumbuhan industri manufaktur besar
dan sedang triwulan II pada tahun 2013 di Propinsi Jawa Tengah meningkat
sebesar 4,04 % dari triwulan II pada tahun 2012.

2. Faktor Pekerjaan
Tabel 2. Data Penduduk berdasarkan Umur dan Pekerjaan
Penduduk Jawa Tengah lebih banyak bekerja sebagai buruh/
karyawan/pegawai dengan presentase sebanyak 31%. Buruh atau karyawan di
kawasan Semarang Salatiga Solo dengan jarak tempuh yang relatif pendek
memungkinkan potensi bisnis transportasi publik. Jam kerja dan shift kerja bagi
para karyawan memunculkan jam-jam sibuk masuk dan pulang kerja, yang
memungkinkan peluang berkembangnya industri transportasi.

3. Faktor Pendapatan
Tabel 3. Perbandingan Tingkat UMR

Faktor pendapatan masyarakat yang relatif masih rendah (Rp.


900.000,- sampai Rp. 1.250.000,- ) di wilayah Semarang Salatiga Surakarta
memberikan pengaruh tidak langsung terhadap moda transportasi yang dipilih
saat bekerja. Daripada menggunakan kendaraan pribadi yang meningkatkan biaya
hidup, masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi publik.
Hal ini yang dimanfaatkan oleh PT SAFARI EKA KAPTI dalam
menyediakan transportasi publik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Jumlah penduduk usia produktif merupakan potensi pasar yang baik unuk
mengembangkan industri ini. Dengan tarif yang murah dan jadwal pengaturan
jumlah dan jam otobus pada jam-jam sibuk juga merupakan peluang yang dapat
dimanfaatkan oleh PT SAFARI EKA KAPTI.
Ancaman yang timbul bagi perusahaan yakni pilihan menggunakan
kendaraan pribadi baik motor ataupun mobil yang dapat diambil oleh calon
konsumen.

2. Social Environment
Sifat konsumerisme di kelas menengah Indonesia menaikkan pendapatan
domestik bruto yang besar, sehingga ekonomi yang ekspansif akan terjadi. Sektor
yang mengalami peningkatan konsumsi antara lain di bidang tourism, informasi
teknologi, fashion, property, culinary. Sektor transportasi ikut kena imbas dengan
perubahan perilaku ini.
Salah satu contoh perubahan perilaku di sektor transportasi ini adalah
kendaraan pengantar anak sekolah. Perubahan pola perilaku masyarakat yang
cenderung memberikan seluas-luasnya kenyamanan bagi anak dan kemampuan
untuk menyediakan kendaraan pribadi cenderung mengakibatkan kemacetan pada
jam berangkat dan pulang sekolah. Satu kendaraan minibus dapat mengangkut 8
10 orang, namun umumnya hanya digunakan untuk mengantar 1 orang siswa. Bila
dalam satu sekolah terdapa 1000 siswa, maka berapakah kendaraan pengantar
yang berlalu lalang setuap jam berangkat dan pulang sekolah. Bayangkan bila hal
tersebut terjadi di setiap sekolah, baik dari tingkat kelompok bermain hingga
menengah atas.
Peluang yang muncul bagi perusahaan adalah dengan menyediakan otobus
dengan interior yang nyaman bagi siswa disesuaikan dengan tingkat umur,
bekerjasama dengan sekolah menyediakan bus sekolah yang akan mengantar
siswa sesuai jurusan masing-masing. Selain dapat mengurangi kemacetan, hal ini
juga akan menurunkan biaya bagi orang tua serta melatih kemandirian anak.
Peluang jasa ini yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan.
Ancaman yang muncul bagi perusahaan adalah ketidakpercayaan orang
tua dan fleksibilitas prioritas jam antar jemput siswa berdasarkan lokasi.
3. Cultural Environment
Dewasa ini ada satu gerakan perubahan yang mengedepankan faktor
sustainability, yang menyeimbangkan faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Pembangunan yang berkelanjutan bertujuan dalam memanfaatkan sumber daya
yang ada di muka bumi, tidak mencederai faktor sosial dan lingkungan, begitu
pula sebaliknya. Oleh karena itu, konsep sustainability, livability, sustainable
development, dan sustainable transport yang terintegrasi, komprehensif, dan
inklusif diterapkan untuk menyeimbangkan faktor ekonomi, sosial, dan
lingkungan tersebut.
Gerakan yang mendukung sustainability ini kian menunjukkan
peningkatan di berbagai sektor, antara lain property, food and beverages,
environment, serta transportasi. Misalnya di bidang property, pembangunan
rumah, gedung, sudah mementingkan resapan air melalui lubang biopori dan
menambah pencahayaan dan sirkulasi udara sehingga mengurangi pemakaian
listrik dan pendingin ruangan.
Di sektor transportasi sendiri mendapatkan ancaman yaitu kultur
masyarakat yang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi, serta memiliki
kendaraan pribadi lebih dari 1 unit di setiap kepala keluarga.
Peluang yang muncul bagi perusahaan adalah dengan issue sustainability
ini dapat menjadi marketing perusahaan untuk mengajak masyarakat beralih
menggunakan transportasi publik serta meningkatkan pelayanan dengan
menggunakan bahan bakar gas yang ramah lingkungan dibaningkan dengan
minyak bumi.

4. Domestic Political Environment


Pemilihan Umum yang rencananya akan diselenggarakan pada 9 April
2014 tentunya membawa dampak secara langsung maupun tidak langsung bagi
petumbuhan industri transportasi. Kondisi politik yang dapat dikatakan cenderung
stabil membuat ekonomi Indonesia terus bertumbuh meskipun pertumbuhannya
tidak terlalu signifikan. Akibatnya demand terhadap jasa transportasi juga
cenderung meningkat.
Peluang yang muncul bagi perusahaan adalah dengan luasnya target pasar
sebagai calon konsumen. Sehingga investasi di bidang penyediaan sarana
transportasi masih terus dapat ditingkatkan.
Ancaman yang muncul antara lain munculnya demonstrasi massa dan
kampanye yang memungkinkan timbulnya kemacetan sehingga mengganggu
perjalanan armada bus.
5. International Politic Environment
KTT APEC 2013 yang berlangsung di Bali pada tanggal 7 8 Oktober
2013 ini menghasilkan 7 butir kesepakatan. Pertama, para pemimpin menyepakati
untuk memperkuat Bogor Goals. Kedua, para pemimpin APEC sepakat
meningkatkan kerja sama intra-APEC untuk infrastruktur, membangun kapasitas,
dan memfungsikan perdagangan multilateral. Ketiga, para pemimpin setuju untuk
meningkatkan konektivitas institusi dan sumber daya manusia di antara anggota
APEC. Keempat, para pemimpin APEC mrmastikan pertumbuhan yang kuat,
inklusif, dan berkelanjutan. Para pemimpin APEC bersepakat untuk meberikan
fasilitas dan memperkuat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM),
perempuan pengusaha dan muda. Kelima, memperkuat ketahanan pangan
menghadapi tantangan pertumbuhan dan perubahan iklim. Keenam, pemimpin
APEC bersepakat untuk meningkatkan sinergi dan melengkapi dengan kerja sama
multilateral lain seperti East Asia Summit dan G-20. Ketujuh, kerja sama di dunia
usaha antarnegara APEC untuk mewujudkan free and open trade investment
(APEC, 2013).
Peluang yang muncul bagi industri transportasi adalah dengan dibukanya
peluang investasi dan pembangunan infrastruktur, khususnya berupa akses jalan
akan memunculkan rute-rute baru dan target pasar baru. Target pasar baru ini akan
mendorong peluang berkembangnya jasa transportasi publik.
Ancaman yang muncul bagi industri transportasi adalah naiknya harga
bahan bakar minyak dan munculnya kompetitor asing baru yang muncul setelah
diberlakukannya free and open trade investment.

6. Natural Environment
Bahan bakar minyak (oil products) merupakan minyak mentah (crude oil)
yang diolah dengan cara pengilangan (refinery) (Nugroho, 2005). Bahan bakar
minyak (BBM) merupakan faktor penting untuk menggerakkan industri
transportasi. BBM adalah cost-driver bagi operasional di bidang transportasi, baik
angkutan darat, laut, maupun udara. Konsumsi BBM pada industri transportasi
mencapai 15% - 25% dari direct operating cost (DOC) (Sri Susilo, 2003).
Penggunaan energi yang dihasilkan dari timbunan fosil selama jutaan
tahun seperti minyak tanah dan batu bara, dapat memberikan emisi nitrogen
(NO2), belerang oksida (SOx), CO2, partikel-partikel halus maupun logam berat,
sangat merugikan terhadap kualitas kesehatan manusia (Gupta R.B. dan Dermibas
A., 2010). Gas CO2 yang terlepas ke udara akan memantulkan panas kembali ke
bumi sehingga suhu bumi akan naik dan terjadilah pemanasan global. CO 2 sangat
lambat berubah kembali menjadi bahan fosil sehingga sering disebut sebagai
bahan bakar tak terbarukan (unrenewable).
Konsumsi minyak solar di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4. Porsi Konsumsi Minyak Solar Sektor Transportasi 1995 2010
Tahun 1995 2000 2005 2010
Transportasi Milyar liter 6,91 9,69 13,12 18,14
Total Milyar liter 15,84 21,39 27,05 34,71
Porsi % 43,62 45,29 48,50 52,27

Gambar 4. Tabel Baku Mutu


Peluang yang muncul bagi perusahaan adalah efisiensi biaya operasional
dengan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan seperti gas. Dengan
penambahan investasi aset dengan mengganti armada berbahan bakar gas akan
mengurangi biaya operasional dan membuka peluang investasi jangka panjang.
Ancaman yang muncul bagi perusahaan adalah belum adanya infrastruktur
pendukung berupa stasiun bahan bakar gas yang dapat dengan mudah ditemui,
tidak seperti stasiun bahan bakar minyak bumi. Distribusi gas masih ccenderung
sangat terbatas bagi industri transportasi.

7. Information Technology

Berbicara mengenai gaya hidup, dewasa ini masyarakat tidak dapat lepas
dari gadget yang selalu terhubung dengan internet. Internet digunakan untuk
mengakses beragam mobile content, dalam hal ini hiburan 36%, dan gaya hidup
sebesar 32%. Pertumbuhannya pun diperkirakan mencapai 30% dalam kurun
waktu 5 10 tahun mendatang. Mobile content menjadi gaya hidup yang tidak
mudah untuk dipisahkan bagi masyarakat, dari berbagai usia. Mobile content
tidak hanya menjadi milik generasi muda (atau biasa menyebut diri mereka
generasi Y), tetapi juga milik generasi yang lebih tua untuk mendukung berbagai
aktivitas yang mereka lakukan.
Teknologi informasi yang berkembang pesat tentunya dapat mendorong
industri-industri yang lain untuk berkembang, salah satunya adalah industri
transportasi. Kebutuhan transportasi yang cepat, nyaman, aman, dapat lebih baik
performanya bila didukung dengan suatu sistem teknologi informasi yang
mutakhir. Untuk itu perlu dibuat suatu sistem transportasi yang menggunakan
basis teknologi informasi, sehingga pelayanan transportasi menjadi lebih cepat,
tepat, dan efisien.
Intelligence Transportation System (ITS) adalah aplikasi canggih yang
bertujuan untuk menyediakan layanan inovatif yang berhubungan dengan mode
transportasi dan manajemen lalu lintas, yang memungkinkan pengguna dapat
mengakses informasi yang lebih baik, lebih tepat, lebih aman, dan lebih cerdas
dalam menggunakan jaringan transportasi.
Berbagai aplikasi ITS yang telah digunakan di dunia antara lain
Emergency Vehicle Notification Systems, Automatic Road Enforcement,
Congestion Pricing Gate Entry, Variable Speed Limit, Collision Avoidance
Systems, serta Dynamic Traffic Light Sequences. Pada level end-user, beberapa
perusahaan telah membuat suatu mobile reservation.
Mobile reservation bagi beberapa perusahaan telah menjadi konten
inovatif yang terbukti mampu mendongkrak jumlah penumpang, atau setidaknya
dapat meningkatkan awareness konsumen. Konten mobile reservation sendiri juga
memperhatikan beberapa aspek seperti global positioning system (GPS), sehingga
dengan map yang disediakan pengguna dapat memesan kendaraan di tempat yang
mereka inginkan secara cepat dan mudah. Hal ini juga mampu mendekatkan
perusahaan dengan konsumen, serta diharapkan dapat meningkatkan loyalitas
konsumen.
Peluang yang muncul bagi perusahaan adalah meningkatnya loyalitas
konsumen dan menarik minat calon konsumen.
Ancaman yang muncul bagi perusahaan adalah belum berimbangnya
pembangunan infrastruktur cable optic sehingga jaringan telekomunikasi di
Indonesia masih cenderung lambat sehingga dapat menjadi hambatan bagi
perusahaan bila diberlakukan ITS tersebut.
8. Processing Technology

Semakin efektif sistem transportasi, maka tidak saja dapat meningkatkan


sektor ekonomi tetapi juga dapat menurunkan faktor emisi. Saat ini, sektor
transportasi mengkonsumsi 50% BBM tiap tahun, serta menyumbang emisi
sekitar 26% (Aritenang, 2011).
Standar emisi sektor transportasi darat di Indonesia masih mengikuti
standar emisi Eropa yang dinamankan Standar Emisi EURO.
Tabel 5. Standar Emisi Eropa

Saat ini yang banyak digunakan untuk kendaraan transportasi darat


berbahan bakar minyak bumi di Indonesia adalah Euro 3. Namun demikian, upaya
untuk meningkatkan standar menjadi Euro 5 terus dilakukan, antara lain dengan
uji coba menggunakan biodiesel yang merupakan campuran antara petrosolar dan
energi nabati yang berasal dari kelapa sawit (CPO).
Peluang bagi industri transportasi secara umum adalah menurunnya biaya
operasional dan penggunaan issue polusi sebagai marketing. Karena masyarakat
semakin hari semakin sadar akan pentingnya lingkungan yang sehat dan
pembangunan yang berkelanjutan.
Ancaman bagi industri transportasi antara lain tingginya investasi untuk
penyediaan teknologi energi terbarukan, disusul beberapa anggapan yang
menyatakan bahwa penggunaan minyak kelapa sawit justru menimbulkan emisi
yang lebih besar dan penurunan hutan alami untuk pembukaan lahan kelapa sawit
justru menimbulkan kerusakan ekologi yang lebih besar. Sehingga penggunaan
biodiesel untuk transportasi umum darat masih belum dapat sepenuhnya
dilakukan. Penggunaan bahan bakar gas untuk transportasi darat perkotaan telah
diujicobakan di DKI Jakarta untuk angkutan bus, bajaj, taksi. Namun agaknya
konversi BBM menjadi BBG ke seluruh wilayah Indonesia belum menjadi
perhatian khusus Pemerintah karena besarnya biaya untuk pembangunan
infrastruktur. Apalagi belum dilakukan studi apakah BBG efektif untuk kendaraan
yang melewati jalur geografi yang sulit, atau apakah hanya dapat digunakan untuk
wilayah perkotaan yang cenderung datar.

9. Govermental Environment

Pembangunan Tol Semarang-Solo adalah proyek panjang dari Pemerintah


Propinsi Jawa Tengah, sekaligus sebagai bagian dari proyek pembangunan Tol
Trans Jawa (Tol Semarang dan Tol Solo Kertosono) yang menghubungkan
Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tol Solo Semarang sendiri melewati
sekaligus menghubungkan beberapa kabupaten/kota antara lain Kota Semarang
Kabupaten Semarang Kota Salatiga Kabupaten Boyolali Kabupaten
Sukoharjo Kota Surakarta. Saat ini pembangunan jalur tol sudah rampung dari
Semarang Ungaran; dan jalur Ungaran Bawen rencananya selesai digarap
pada akhir tahun 2013; sementara jalur Ungaran Salatiga masih dalam tahap
pembebasan lahan (Departemen Pekerjaan Umum, 2013)
Dengan adanya jalur Tol Semarang Solo ini, diharapkan dapat mengurai
kemacetan yang biasa terjadi di beberapa titik, sehingga mobilitas masyarakat
menjadi semakin mudah dan cepat. Setiap perubahan tentunya memunculkan
beragam akibat. Salah satu industri yang terpengaruh oleh perubahan ini adalah
industri jasa transportasi, dalam hal ini adalah angkutan umum antar kota Solo
Salatiga Semarang, baik bus patas maupun regular.
Pembangunan jalan dan jembatan yang banyak dilakukan oleh
Pemerintahan Jawa Tengah khusunya, menyiratkan bahwa Pemerintah
mendukung pertumbuhan ekonomi dan transportasi di Jawa Tengah. Dukungan
positif Pemerintah Lokal merupakan hal yang mutlak diperlukan bagi perusahaan
untuk berkembang. Hal ini menjadi peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan
kemudahan melakukan tindakan usaha dan pengembangan investasi baru di Jawa
Tengah.
Ancaman yang muncul bagi perusahaan adalah munculnya peluang kolusi
dari pihak lain. Ada baiknya perusahaan menjaga kedekatan dengan pemerintahan
agar menghindari sabotase melalui jalur politik oleh perusahaan pesaing.

10. Economic Development Environment


Salah satu faktor yang menentukan pembangunan ekonomi di suatu
kawasan adalah ketersediaan infrastruktur, termasuk sistem transportasi.
Ketersediaan sistem transportasi dapat mendukung mobilitas masyarakat,
membuka akses perniagaan dan investasi. Sehingga dengan adanya suatu sistem
transportasi yang efektif diharapkan dapat meningkatkan manfaat dan kesempatan
dalam bidang ekonomi dan sosial. Pada umumnya di negara berkembang faktor
transportasi memberikan sumbangsih 6%-12% pada GDP (Rodrigue JP, 2013).
Peluang yang muncul bagi perusahaan dengan dibukanya akses jalan raya
baru adalah kemacetan yang terataasi dan peningkatan mobilisasi masyarakat
sehingga dapat menjadi target pasar yang baru.
Ancaman yang muncul bagi perusahaan adalah pilihan masyarakat yang
sangat luas terhadap pilihan sarana transportasi darat dan kecenderungan
menggunakan kendaraan pribadi, ditambah dengan adanya LCGC (Low Cost
Green Car) oleh pemerintah justru mendorong penggunaan kendaraan pribadi
dibandingkan transportasi publik.

11. Regional Economic


Pulau Jawa adalah pulau terpadat di Indonesia. Hal ini didukung oleh
pembangunan infrastruktur yang cepat dan massive di wilayah Pulau Jawa.
Ketersediaan sarana prasarana di Pulau Jawa mendukung urbanisasi penduduk
menuju Pulau Jawa. Ibukota Jakarta yang terlaetak di pulau ini diyakini menjadi
magnet penarik mobilisasi penduduk, bagaimana tidak, kegiatan ekonomi dan
perputaran uang diyakini mengalir deras dan terpusat di kota ini. Ketidakmerataan
pembangunan infrastruktur ini dapat menjadi peluang sekaligus ancaman bagi
industri jasa transportasi. Industri jasa transportasi memiliki pangsa pasar yang
luas di pulau Jawa, namun ancamannya adalah banyaknya pesaing dan produk
substitusi. Namun ketidakmerataan ini sesungguhnya merupakan ancaman jangka
panjang, karena regional di luar pulau Jawa juga dapat menjadi target market yang
potensial dan justru membutuhkan layanan transportasi publik. Pengusaha perlu
dibantu oleh pemerintah dalam hal penyediaan infrastruktur berupa akses jalan di
luar pulau Jawa.

12. Monetary and Fiscal Policy


Terkait arah kebijakan fiskal 2014 dari hasil pembahasan pendahuluan
penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN)
2014 yang bertema Memperkuat Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif,
Berkualitas, dan Berkelanjutan Melalui Pelaksanaan Kebijakan Fiskal yang Sehat
dan Efektif, pemerintah akan melakukan empat langkah yaitu: memberikan
insentif fiskal untuk kegiatan ekonomis strategis; meningkatkan belanja modal
secara signifikan untuk mendukung pembangunan infrastruktur; memanfaatkan
utang untuk belanja produktif; peningkatan kinerja Badan Usaha Milik Negara
untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pemberdayaan koperasi dan Usaha
Mikro Kecil dan Menengah).
Indonesia dalam kurun waktu 2010-2014 membutuhkan dana pembiayaan
infrastruktur sebesar 5% dari PDB atau sekitar Rp 1924 triliun guna mencapai
tingkat pertumbuhan 7% pada tahun 2014. Hal ini berarti sekitar 75.8% dari total
kebutuhan dana atau sekitar Rp 1458 Triliun (Rp 291.7 Triliun/tahun) didominasi
kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur transportasi. Dari
kebutuhan sebesar itu, kemampuan pembiayaan pemerintah melalui APBN dan
APBD diperkirakan berkisar Rp 914 Triliun atau berkisar 47% dari kebutuhan
total pembiayaan, dimana dari porsi tersebut, sebagian besar di antaranya
digunakan untuk pemeliharaan jalan nasional dalam rangka menjaga kondisi dan
pelayanan, dan hanya sebagian kecil digunakan untuk membangun sarana jalan
baru atau rel kereta api baru. Selisih kebutuhan pembiayaan sebesar Rp 1009.4
Triliun (53% dari total kebutuhan) merupakan tantangan yang harus dicarikan
solusinya bersama (Badan Kebijakan Fiskal, 2013). Hal ini searah dengan
Rancangan Kebijakan Fiskal 2014 yang salah satunya menitikberatkan pada
optimalisasi belanja negara untuk membangun infrastruktur.

Sumber : Bank Indonesia


Tren suku bunga Bank Indonesia akan terus meningkat pada tahun 2014.
Setelah suku bunga rendah sepanjang tahun 2013, tampak terjadi tren peningkatan
suku bunga oleh BI melihat kondisi-kondisi sebagai berikut :
Prediksi pertumbuhan ekonomi yang melambat
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika

Pemilu presiden 2014 memiliki resiko ketidakstabilan politik nasional


Kenaikan suku bunga dan kurs rupiah terhadap dollar yang tidak stabil
menimbulkan ancaman bagi industri transportasi khususnya dalam pembiayaan
asset dan kredit. Perusahaan pada umumnya membeli armada bus dengan sistem
kredit yang dipengaruhi oleh suku bunga, dan dalam pengadaan suku cadang akan
sangat terpengaruh apabila kurs rupiah terdepresiasi terhadap dollar. Sementara
pajak kendaraan bermotor bagi industri transportasi juga cenderung tinggi
sehingga menjadikan beban yang cukup tinggi bagi perusahaan.
Namun peluang yang masih mungkin timbul adalah kemudahan kredit
bagi pengusaha melalui kebijakan Program Bus Nasional.

13. Industry and Sectoral Policy


Low Cost Green Car (LCGC) secara internasional dipahami sebagai
kendaraan bermotor ramah lingkungan- di mana gas buangnya mengandung zat
berbahaya yang lebih sedikit dibandingkan dengan kendaraan yang menggunakan
bensin dan solar seperti biasanya. Atau dapat didefinisikan juga kendaraan
bermotor yang menggunakan energi alternatif (non-minyak bumi) seperti listrik
dan gas.
Menurut Pemerintah Republik Indonesia, LCGC diikuti sejumlah
ketentuan, antara lain harga jual antara Rp. 50.000.000,- hingga Rp. 85.000.000,-,
efisiensi konsumsi BBM 20km/l, dan diproduksi dengan menggunakan 60%
komponen lokal.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013, Pajak Pertambahan
Nilai Barang Mewah (PPN-BM) dihapuskan untuk LCGC dan LEC (Low
Emission Carbon), sehingga harga jual produk kendaraan bermotor ini menjadi
sangat murah di kelasnya. Hal ini tentu menimbulkan kontroversi dan silang
pendapat di antara berbagai pihak. Ada beberapa pihak yang khawatir kebijakan
ini akan memicu konflik di antara pabrikan besar dengan industri mobil nasional,
karena cenderung tidak menguntungkan industri mobil nasional. Dengan jumlah
kelas ekonomi menengah Indonesia yang meningkat, disusul tidak signifikannya
kenaikan kuantitas infrastruktur, dikhawatirkan akan menambah kemacetan di
beberapa daerah, utamanya di Pulau Jawa. Dalam IIMS (Indonesia International
Motor Show) yang beberapa waktu dilangsungkan saja, beberapa pabrikan sudah
mencatat pemesanan puluhan ribu kendaraan.
Setiap kebijakan dalam suatu pemerintahan hendaknya didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan yang berpihak pada kepentingan masyarakat secara
luas. Namun tetap saja mempunyai dampak negatif kepada beberapa pihak.
Dalam hal ini, kebijakan penerapan LCGC dikhawatirkan akan sedikit banyak
memberikan pengaruh negatif terhadap industri jasa pelayanan transportasi
publik, utamanya transportasi darat.
Peluang bagi perusahaan adalah dengan menggunakan kendaraan
berbahan bakar gas namun tetap nyaman dan harga yang kompetitif, perusahaan
dapat menggunakan issue green car untuk menarik minat konsumen dalam
menggunakan transportasi publik.
Ancaman bagi perusahaan adalah dengan kebijakan ini, konsumen akan
cenderung menggunakan LCGC dibandingkan transportasi publik.
BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan analisa lingkungan diatas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang
paling berpengaruh bagi PT SAFARI EKA KAPTI juga bagi industri transportasi publik
darat adalah :

1. Economic Development Environment


Pangsa pasar hanya akan tumbuh apabila pertumbuhan ekonominya positif.
Pertumbuhan ekonomi yang positif berarti meningkatnya kemampuan
masyarakat untuk membeli produk. Dengan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia
yang positif, dapat dipastikan prospek yang cerah bagi dunia industri transportasi
publik.
2. Fiscal and Monetary Policy
Kebijakan moneter sangat berpengaruh pada pertumbuhan industri transportasi
publik karena kenaikan suku bunga dan kurs rupiah terhadap dollar yang tidak
stabil menimbulkan ancaman bagi industri transportasi khususnya dalam
pembiayaan asset dan kredit. Perusahaan pada umumnya membeli armada bus
dengan sistem kredit yang dipengaruhi oleh suku bunga, dan dalam pengadaan
suku cadang akan sangat terpengaruh apabila kurs rupiah terdepresiasi terhadap
dollar. Sementara pajak kendaraan bermotor bagi industri transportasi juga
cenderung tinggi sehingga menjadikan beban yang cukup tinggi bagi perusahaan..
3. Industry and Sectoral Policy
Kebijakan industri dan sektoral di bidang transportasi dewasa ini mendorong
pertumbuhan industri otomotif. Sales industri otomotif yang tinggi pada
kendaraan pribadi cukup memukul industri transportasi publik. Keberpihakan
kebijakan pemerintah ini cenderung mengorbankan industri transportasi publik.

Dari karakteristik industri transportasi publik tersebut dapat disimpulkan bahwa


key success factor perusahaan yang bermain di bidang ini yaitu:
1. Kebijakan Internal perusahaan yang kuat di bidang financial, operasional
sehingga tercipta manajemen yang efektif.
2. Penerapan cost leadership sehingga tarif yang dikenakan kepada penumpang
relatif terjangkau dan menjadi keunggulan kompetitif perusahaan.
3. Pelayanan yang baik bagi konsumen yang menjamin kenyamanan dan
keamanan konsumen.
4. Inovasi yang harus terus menerus dilakukan, terkait penggunaan mesin abru
yang ramah lingkungan dan penggunaan teknologi informasi yang mutakhir.
DAFTAR PUSTAKA

APEC. 2013. Best Practices in Energy Efficiency and Renewable Energy Technologies in the
Industrial Sector in APEC Region. pdf Diakses pada 10 Oktober 2013.

Anonim. 2013. Intelligence Transportation System. Wikipedia.


http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligent_transportation_system Diakses pada
tanggal 8 November 2013

Aritenang, Wendy. 2011. Potensi Penurunan Emissi Sektor Transportasi.


Biro Pusat Statistik. 2013. Berita Resmi Statistik : Pertumbuhan Produksi No 46/08/33 Th
VIII, 1 Agustus 2013 http://jateng.bps.go.id/offrel/brs_industri_13tw2_33.pdf
Diakses pada tanggal 20 Oktober 2013
Boediono. 2008. Ekonomi Makro. Yogyakarta: BPFE
Chevron. 2007. Diesel Fuels Technical Review Diakses pada 18 Oktober 2013.

Kementerian Pekerjaan Umum. 2009. Pembangunan Jalan Tol Semarang Solo Dimulai.
http://www1.pu.go.id/uploads/berita/ppw020209mcl.htm Diakses pada tanggal
20

NC State University. 2008. Improved Method for Assessing Social, Cultural, and Economic
Effects of Transportation Projects.
http://onlinepubs.trb.org/onlinepubs/nchrp/docs/nchrp08-36(66)_FR.pdf
Diakses pada tanggal 18 Oktober 2013

Rodrigue, Jean-Paul. 2013. Transportation and economic Development: The Geography of


Transport System
http://people.hofstra.edu/geotrans/eng/ch7en/conc7en/ch7c1en.html
Diakses pada tanggal 23 September 2013

Litmann, Todd. 2013. Developing Indicators for Sustainable and Livable Transport Planning
http://www.vtpi.org/wellmeas.pdf Diakses pada tanggal 18 Oktober 2013

www.bi.go.id