Anda di halaman 1dari 7

Anggota Kelompok :

1. Astuti Nababan (6)


2. Diki Agung Prayogo (14)
3. Fariz Junara (19)
4. Shalahudin Saesar (37)

BAB 8
Perhitungan Biaya untuk Produk Sampingan
dan Produk Gabungan

Pembebanyan biaya ke produk sampingan atau produk gabungan mendapat


perhatian yang besar oleh perusahaan manufaktur karena pembebanan ini diperlukan
dalam perhitungan biaya persediaan, penentuan laba dan pelaporan keuangan serta
evaluasi kinerja.

Definisi Produk Sampingan dan Produk Gabungan

Produk sampingan didefinisikan sebagai suatu produk yang memiliki nilai total lebih
kecil yang dihasilkan secara simultan dan bersamaan dengan proses produksi produk
utama (produk dengan nilai total lebih besar). Contohnya adalah residu atau produk
sampingan industri perminyakan.
Produk gabungan adalah produk yang memiliki lebih dari sekedar nilai nominal yang
dihasilkan melalui suatu proses atau serangkain proses umum secara simultan. Suatu
produk gabungan memiliki titik pisah batas (split-off point) yang didefinisikan sebagai suatu
titik dimana produk tersebut dapat dipisahkan menjadi bagian-bagian tertentu secara
terpisah. Sebelum titik ini, maka produk tersebut masih dalam satu kesatuan yang homogen.

Karakteristik Produk Sampingan dan Produk Gabungan

Asal muasal produk sampingan dapat dihasilkan dari pembersihan produk utama
misalnya gas dan tar yang dihasilkan dari produksi arang atau dari persiapan bahan baku
misalnya kulit dari biji coklat sebelum diproses. Produk juga dapat diklasifikasikan menjadi
produk yang dapat dijual tanpa proses lebih lanjut maupun dapat dijual namun dengan
proses lebih lanjut.
Contoh dari produksi produk gabungan yang memerlukan perhitungan biaya produk
gabungan adalah produksi bensin, dimana produk sampingan dari bensin menghasilkan
kerosin, nafta dan minyak bakar terdestilasi.

Biaya Gabungan

Biaya gabungan adalah biaya yang dikeluarkan dalam suatu proses produksi secara
simultan atas berbagai produk dalam proses yang sama. Biaya ini terjadi sebelum titik pisah
batas. Total biaya produksi terdiri dari biaya produksi gabungan dan biaya produksi atas
suatu barang tertentu secara terpisah. Biaya produk terpisah adalah biaya yang
teridentifikasi atas produk tertentu yang pada umumnya tidak memerlukan alokasi.

Kesulitan dalam Menghitung Biaya Produk Sampingan dan Produk Gabungan

Kesulitan ditemukan saat menghitung biaya produksi dari produk sampingan dan
produk gabungan, hal ini dikarenakan biaya gabungan yang tidak dapat dibagi. Oleh karena
itu menentukan biaya per unit dari produk gabungan menggunakan metode alokasi khusus.
Metode untuk Menghitung Biaya Produk Sampingan

Metode 1 : Pengakuan Pendapatan Kotor


Dengan metode ini, biaya persediaan final dari produk utama dihitung terlalu tinggi
karena menanggung biaya produk sampingan.

Metode 1a : Pendapatan Produk Sampingan sebaga Pendapatan Lain-lain. Metode ini


diilustrasikan dalam laporan laba rugi berikut, dengan asumsi bahwa pendapatan kotor dari
penjualan produk sampingan sebesar $2.000 :

Penjualan (produk utama, 15.000 unit @$2) $30.000


Harga Pokok Penjualan :
Persediaan awal (500 unit @$1,5) $ 750
Total biaya produksi (15.500 unit @$1,5) $ 23.250
Tersedia untuk dijual $ 24.000
Persediaan akhir (1000 unit @1,5) $ 1.500 $22.500
Laba kotor $ 7.500
Beban pemasaran dan administrasi $ 2.500
Laba operasi $ 5.000
Pendapatan lain-lain : pendapatan penjualan produk sampingan $ 2.000
Laba sebelum pajak $ 7.000

Metode 1b : Pendapatan Produk Sampingan sebagai Tambahan Penjualan. Untuk metode


ini, pendapatan penjualan produk sampingan ditambahkan ke dalam pendapatan penjualan
produk utama sehingga nilai penjualan berdasarkan laporan diatas menjadi $32.000

Metode 1c : Pendapatan Produk Sampingan sebagai Pengurang Harga Pokok Penjualan.


Berdasarkan metode ini, $ 2.000 dari pendapatan penjualan produk sampingan dikurangkan
ke $ 22.500 harga pokok penjualan produk utama sehingga laba kotor dan laba operasi
meningkat $ 2.000 namun laba sebelum pajak akan tetap $ 4.500

Metode 1d : Pendapatan Produk Sampingan Mengurangi Biaya Produksi


Dalam metode ini, pendapatan penjualan produk sampingan dikurangkan dari total biaya
produksi. Maka, biaya persediaan awal berkurang karena pendapatan dari penjualan produk
sampingan di periode sebelumnya dikreditkan ke biaya produksi produk utama di periode
yang sama.Dari ketiga metode sebelumnya, tidak ada satu pun yang memengaruhi biaya
per unit yang dilaporkan untuk produk utama. Ini merupakan perbedaan penting dalam
perhitungan biaya produk, meskipun dampak dari metode ini dalam nilai relatif kecil.
Laporan laba rugi akan terlihat sebagai berikut:

Penjualan (produk utama, 10.000 unit @$2) $20.000


Harga pokok penjualan:
Persediaan awal (1.000 unit @$1,35) $ 1.350
Total biaya produksi (11.000 unit @1,50) $16.500
Pendapatan dari penjualan produk sampingan 1.500
Biaya produksi bersih 15.000
Tersedia untuk dijual (12.000 unit @$1,3625) $16.350
Persediaan akhir (2.000 unit @$1,3625) 2.725 13.625
Laba kotor $ 6.375
Beban pemasaran dan administrasi 2.000
Laba operasi $ 4.375
Untuk metode ini, pendapatan yang diterima dari penjualan produk sampingan didebit ke
Kas atau Piutang Usaha sedangkan biaya produksi dari produk utama dikreditkan.

Metode 2: Pengakuan Pendapatan Bersih (Net Revenue Method)


Metode ini mengakui adanya kebutuhan untuk membebankan biaya yang dapat
ditelusuri ke produk sampingan. Namun, biaya produksi gabungan tidak dialokasikan ke
produk sampingan. Maka, biaya yang terjadi setelah titik pisah batas guna memproses
maupun memasarkan produk sampingan dicatat dalam akun yang terpisah dari produk
utama.
Beberapa perusahaan memiliki satu akun yang berjudul Produk Sampingan. Biaya
yang terjadi setelah titik pisah batas didebit ke akun ini, sementara pendapatan yang
diperoleh dikreditkan ke akun tersebut. Saldo dari akun ini ditampilkan di laporan laba rugi,
dengan mengikuti salah satu cara yang dijelaskan dalam metode 1.

Metode 3: Metode Biaya Penggantian (Replacement Cost Method)


Metode ini biasanya digunakan oleh perusahaan yang produk sampingannya
digunakan oleh perusahaan itu sendiri. Dengan demikian, biaya produksi dari produk utama
dikreditkan dan debitnya diposting ke departemen yang menggunakan produk sampingan
tersebut, sesuai dengan jumlah biaya pembelian atau biaya penggantian.
Perhitungan biaya menggunakan metode ini merupakan salah satu contoh dari harga
transfer dalam perusahaan. Penetapan harga transfer dapat ditentukan dari berbagai
alternatif, misalnya, berdasarkan biaya untuk memproduksi produk sampingan, hasil
negoisasi atau berdasarkan harga arbitrer.

Metode 4: Metode Harga Pasar (Market Value Method)


Disebut juga metode pembatalan biaya, pada dasarnya hampir serupa dengan teknik
dalam metode 1(d). Namun, metode ini mengurangi biaya produksi dari produk utama
dengan estimasi nilai produk sampingan pada saat dijual. Tambahan biaya bahan baku ,
tenaga kerja atau overhead pabrik yang terrjadi setelah titik pisah batas dibebankan ke
produk sampingan.
Metode harga pasar dalam menghitung biaya produk utama dan produk sampingan
dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Produk Utama Produk


Sampingan
Bahan baku $ 60.000
Tenaga kerja 80.000
Overhead pabrik 50.000
Total biaya produksi (50.000 unit) $ 160.000
Harga pasar (6.000 unit @$1,50) $ 9.000
Estimasi laba kotor terdiri atas:
Asumsi laba operasi (20% dari harga jual) $ 1.800
Beban pemasaran dan administrasi (5% dari harga jual) 450 $ 2.250
$ 6.750
Estimasi biaya produksi setelah titik pisah batas
Bahan baku $ 2.000
Tenaga kerja 1.500
Overhead pabrik 500 $ 4.000
Estimasi nilai produk sampingan di titik pisah batas yang
akan dikreditkan ke produk utama 2.750 $ 2.750
Biaya bersih dari produk utama $ 157.250
Ditambah biaya produksi actual setelah
titik pisah-batas $ 2.500
Total $ 5.250
Total jumlah unit 50.000 6.000
Biaya per unit $ 3,145 $ 0,875

Metode ini didasarkan pada gagasan bahwa biaya produk sampingan berkaitan
dengan nilai jualnya. Adalah mungkin untuk menggunakan gabungan total harga pasar dari
produk utama dan produk sampingan pada titik pisah batas sebagai dasar untuk
mengalokasikan sebagian biaya ke produk sampingan. Biaya produk sampingan yang
terjadi setelah titik pisah batas dibebankan ke produk sampingan.

Teori Akuntansi yang Mendasari

Konsep pengakuan aset memperbolehkan pencatatan persediaan produk sampingan


dalam periode produksi pada nilai tertentu yang mendekati biaya produksi asalkan terdapat
pasar untuk produk sampingan tersebut. Dalam konsep penandingan, pembebanan
persediaan harus dalam periode ketika penjualannya dicatat. Konsep ini dipertimbangkan
dalam memilih metode perhitungan biaya produk sampingan. Metode yang dipilih tersebut
sebaiknya diterapkan secara konsisten setiap periode.

Metode Alokasi Biaya Produksi Bersama ke Produk Gabungan

Biaya Produk Gabungan (terjadi sebelum titik pisah-batas), dapat dialokasikan ke


produk gabungan menggunakan salah satu metode berikut:
1. Metode harga pasar, berdasarkan harga pasar relatif dari produk individual
2. Metode biaya rata-rata per unit
3. Metode rata-rata tertimbang, berdasarkan pada faktor pembobotan yang telah
ditentukan sebelumnya
4. Metode unit kuantitatif, berdasarkan pada ukuran fisik unit seperti berat, ukuran
linear, atau volume

Metode Harga Pasar

Pendukung metodde harga pasar sering kali berpendapat bahwa harga pasar dari
produk apapun sampai batas tertentu merupakan manifestasi dari biaya yang dikeluarkan
untuk memproduksinya. Menurut teori ekonomi dengan pasar yang kompetitif ditentukan
berdasarkan kelangkaan dari barang yang diminta oleh pelanggan, bukan berdasarkan
biaya relatif untuk memproduksi barang tersebut. Metode ini tidak memengaruhi profitabilitas
relatif dari produksi gabbungan . Jika estimasi harga pasar dan biaya pemrosesan
tambahan ini akurat, maka metode harga pasar akan menyebabkan setiao produk
gabungan memiliki tarif laba kotor yang sama per dolar penjualan.

Produk Gabungan yang Dapat Dijual pada Titik Pisah-Batas.

Metode harga pasar mengalokasikan biaya gabungan berdasarkan harga pasar


relatif dari produk gabuungan. Dapat dilihat pada contoh tabel dibawah

Produ Unit Harga Pasar Total Harga Rasio Nilai Produksi Pembagian
k Produksi per Unit pada Pasar Terahadap Total Biaya
Titik Pisah- Harga Pasar Produksi
Batas Gabungan
A 20000 0,25 5.000 3,125% 3.750
B 15000 3,00 45.000 28,125% 33.750
C 10000 3,50 35.000 21,875% 26.250
D 15000 5,00 75.000 46,875% 56.250
Total 160.000 100,000% 120.000

Produk Gabungan yang Tidak Dapat Dijuak pada Titik Pisah-Batas

Produk yang tidak dapat dijual di titik pisah batas, dan oleh karena itu tidak memiliki
harga pasar, memerlukan pemrosesan tambaan sebelum dapat dijual. Dalam kasus seperti
itu, dasar untuk mengalokasikan biaya gabungan adalah harga pasar hipotesis pada titik
pisah batas. Jika produk tertentu dapat dijual di titik pisah-batas sementaara yang lain tidak,
maka harga pasar pada titik pisah-batas digunakan untuk kelompok yang pertama. Untuk
kelompok yang terakhir, digunakan harga pasar hipotesis.

Metode Biaya Rata-rata per unit

Metode biaya rata-rata per unit (average unit cost method) berusaha untuk
mengalokasikan biaya gabungan ke produk gabungan sedemikian rupa sehingga setiap
produk menerima alokasi biaya gabungan per unit dalam jumlah yang sama, yang disebut
sebagai biaya rata-rata per unit. Biaya rata-rata per unit diperoleh dengan cara membagi
total biaya gabungan dengan total jumlah unit yang diproduksi.
Contohnya sebagai berikut: Total Biaya Produksi Gabungan/ Total Jumlah Unit yang
diproduksi = $ 120.000/60.000 = $ 2 per unit

Produk Unit Produksi Pembagian Biaya


Produksi Gabungan
A 20.000 40.000
B 15.000 30.000
C 10.000 20.000
D 15.000 30.000
60.000 120.000

Metode Rata-rata Tertimbang

Dalam beberapa kasus, metode biaya rata-rata per unit (average unit cost method)
tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas masalah alokasi biaya gabungan, karena
unit-unit individual dari berbagai produk gabungan berbeda secara signifikan. Dalam kasus
semacam ini, faktor pembobotan yang telah ditentukan sebelumnya dapat diberikan ke
setiap unit. Faktor pembobotan didasarkan pada atribut-atribut seperti ukuran unit, tingkat
kesulitannya, waktu yang diperlukan untuk memproduksi unit tersebut, perbedaan dalam
jenis tenaga kerja yang digunakan, dan perbedaan dalam jumlah bahan baku yang
digunakan. Barang jadi dari semua jenis dikalikan dengan faktor pembobotan guna
menghitung dasar untuk mengalokasikan biaya gabungan.
Untuk tujuan ilustrasi, asumsikan faktor pembobotan yang dibebankan ke keempat
produk adalah sebagai berikut:
Produk A 3 poin
Produk B 12 poin
Produk C 13,5 poin
Produk D 15 poin
Alokasi biaya gabungan diilustrasikan sebagai berikut:

Pembagian
Rata-rata Biaya Per Biaya Produksi
Produk Unit Produksi x Poin = Tertimbang x Unit* = Gabungan
A 20.000 3 60.000 $0,20 $12.000
B 15.000 12 180.000 $0,20 $36.000
C 10.000 13,5 135.000 $0,20 $27.000
D 15.000 15 225.000 $0,20 $45.000
600.000 $120.000

Total biaya produksi gabungan $ 120.000


= = $ 0,20 per unit
Total rata-rata tertimbang $ 600.000
*

Metode Unit Kuantitatif

Metode unit kuantitatif (quantitative unit method) mengalokasikan biaya gabungan


berdasarkan satuan pengukuran yang sama, misalnya pon, galon, ton, atau meter persegi.
Jika produk gabungan tidak bisa diukur dalam satuan ukuran yang sama, maka ukuran
tersebut harus dikonversikan ke satuan yang sama. Misalnya, ketika arang diproduksi, batu
bara, benzol, amonia sulfat, dan gas juga ikut diproduksi dan masing-masing diukur dalam
satuan yang berbeda.
Tabel berikut ini mengilustrasikan metode unit kuantitatif, menggunakan berat
sebagai dasar alokasi biaya gabungan dengan asumsi biaya batu bara adalah sebesar $40
per ton.

Produk yang
Diperoleh per Distribusi Limbah Bobot Produk
Ton Batu Bara ke Produk yang yang dihasilkan Biaya per Produk
Produk (dalam Pon) Dihasilkan Setelah Revisi per Ton Batu Bara
Arang 1.320 lbs 69,474 lbs* 1.389,474 lbs $27,790**
Batu Bara 120 6,316 126,316 $2,526
Benzol 21,9 1,153 23,053 $0,461
Amonia Sulfat 26 1,368 27,368 $0,547
Gas 412,1 21,689 433,789 $8,676
Limbah (air) 100
Total 2.000 lbs 100 lbs 2.000 lbs $40

*(1.320 : (2.000-100)) = 69,474


**(1.389,474 : 2.000) x $40 = $27,790

Metode biaya rata-rata per unit, metode rata-rata tertimbang, dan metode unit
kuantitatif dapat menghasilkan biaya produk yang melebihi harga pasar dari satu atau lebih
produk gabungan. Akibatnya, produk gabungan tersebut tampaknya tidak menguntungkan
sementara produk gabungan yang lain tampaknya menguntungkan.
Metode harga pasar memiliki kelebihan karena metode tersebut menghindari
perbedaan dalam tarif profitabilitas dari produk gabungan.

Hukum Pajak Penghasilan Federal dan Perhitungan Biaya Produk Gabungan


dan Produk Sampingan

Ikhtisar dari sudut pandang hukum pajak federal (negara Amerika Serikat) diberikan
dalam Aturan Pajak Penghasilan Federal (Federal Income Tax Regulations), yang
menyatakan sebagai berikut:
Persediaan dari perusahaan penambangan dan manufaktur. Wajib pajak yang
terlibat dalam penambangan atau produksi, dimana dengan proses yang sama atau
serangkaian proses yang seragam menghasilkan produk dengan dua jenis atau lebih,
ukuran, atau tingkatan, yang biaya per unitnya serupa secara substansial, dan yang
menurut praktik perdagangan yang diakui mengalokasikan sejumlah biaya ke setiap jenis,
ukuran, atau tingkatan produk yang secara agregat akan menyerap total biaya produksi,
dapat dengan persetujuan Komisioner (dari Internal Revenue Service), menggunakan biaya
hasil alokasi tersebut sebagai dasar untuk menilai persediaan, asalkan alokasi tersebut
memiliki hubungan yang wajar terhadap nilai jual dari masing-masing jenis, ukuran, atau
tingkatan yang berbeda-beda dari produk.
Kutipan tersebut menyarankan agar harga pasar produk yang menjadi pertimbangan
utama, tetapi kutipan tersebut tidak secara eksplisit menyetujui penggunaan metode harga
pasar untuk mengalokasikan biaya gabungan. Kata-kata menurut praktik perdagangan
yang diakui dan dengan persetujuan Komisioner, mengimplikasikan bahwa sejumlah
situasi yang dapat terjadi begitu banyak untuk dicakup dalam aturan yang mengizinkan atau
melarang metode perhitungan biaya tertentu.

Analisis Biaya Produksi Bersama untuk Pengambilan Keputusan Manajerial


dan Analisis Profitabilitas

Metode alokasi biaya gabungan mengindikasikan bahwa jumlah biaya yang akan
dibebankan ke berbagai produk yang dihasilkan pada titik pisah batas adalah sulit
ditentukan untuk tujuan apa pun. Lebih lanjut lagi, penerimaan atas suatu metode alokasi
untuk membebankan biaya gabungan tidak memecahkan masalah.
Untuk perencanaan laba, manajemen sebaiknya mempertimbangkan margin
kontribusi (contribution margin) dari seluruh produk gabungan setelah biaya yang dapat
dipisahkan (biaya yang terjadi setelah titik pisah batas) dikurangkan dari penjualan. Margin
kontribusi ini memungkinkan manajemen untuk memprediksikan kontribusi masing-masing
segmen atau lini produk bagi laba perusahaan.

Pertimbangan-pertimbangan Etika
Pertimbangan-pertimbangan etika mengharuskan penggunaan alokasi biaya
gabungan yang mencerminkan dengan wajar hasil finansial. Metode yang digunakan tidak
boleh dengan sengaja mendistorsi biaya persediaan atau memanipulasi laba dan aset yang
dilaporkan.