Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

BURNOUT SEKOLAH

Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah BK belajar

Dosen pengampu Ibu .

Di susun oleh :

BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL

2016

Daftar Isi

BURNOUT SEKOLAH 1
BAB I........................................................................................................... 3
A. Latar Belakang..................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah................................................................................. 4
C. Tujuan................................................................................................ 4
BAB II.......................................................................................................... 5
1. Pengertian Burnout Sekolah....................................................................5
2. Dimensi Burnout................................................................................... 6
3. Tanda-tanda Individu yang Burnout.........................................................8
4. Sumber-sumber Terjadinya Burnout.......................................................11
5. Faktor Penyebab Terjadinya Burnout di Sekolah.......................................12
6. Upaya yang Dilakukan untuk Mengatasi Burnout.....................................15
7. Upaya guru BK mengatasi Burnout sekolah.............................................18
8. Kelemahan dan kekurangan peran guru Bk dalam Burnout sekolah.............20
BAB III....................................................................................................... 22
A. Simpulan........................................................................................... 22
B. Saran................................................................................................ 23

BAB I
PENDAHULUAN

BURNOUT SEKOLAH 2
A. Latar Belakang

Sekolah adalah bagaimana seorang individu belajar memperlembut sebuah


hati dan mempertajam fikiran yang akan berguna untuk masa depannya di kemudian
hari serta bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain, sekolah memiliki sebuah
andil besar dalam kehidupan bangsa ini pada tahun 1942 ki hajar dewantara
mendirikan sebuah taman siswa yang bertujuan untuk mendidik para pemuda
Indonesia untuk menjadikan dirinya sebuah karakter serta kepribadian yang
berbudipekerti luhur serta memiliki budaya ketimuran akan tetapi beberapa setelah itu
nama tersebut berubah menjadi sebuah sekolah yang sampai saat ini anak-anak di
seluruh Indonesia katanya di wajibkan menempuh pendidikan formal selama 12 tahun
akan tetapi bangsa ini tergiyur dengan kemudahan itu selama 12 tahun di biyayai oleh
pemerintah Indonesia untuk menuntuk sebuah ilmu di bangku sekolah. Namun
kenyataannya di lapangan banyak siswa yang mengalami sebuah kebosanan di
karenakan sebuah system yang di buat oleh pemerintah cenderung monoton sampai
kepada siswa, hal ini menunjukkan peran pemerintah mengubah suatu kurikulum
tidak berdampak besar bagi system pendidikan di Indonesia secara keseluruhan
karena Indonesia memiliki 17.508 pulau yang sangat sulit di terap di seluruh
Indonesia karena pada kenyataannya system pendidikan yang sering berganti-ganti
membuat para guru memiliki kebingungan dan para siswa cenderung memiliki fikiran
dan emosional yang tidak setabil karena harus mengikuti sebuah system yang di buat
oleh pemerintah pusat. Hal ini yang menyebabkan para siswa cenderung memiliki
sifat Burnout Sekolah atau para pakar biasa menyebutnya dengan kelelahan
emosional yang di timbulkan oleh penyebab-penyebab atau faktor-faktor yang di buat
oleh individu sendiri atau yang di buat oleh lingkungan yang ia berada di dalamnya.
Pengurasan emosional akan membuat siswa cenderung stress karena belajar tidak atas
kemauannya sendiri tapi faktor pemaksaan yang akan mengakibatkan kelelahan
emosional

BURNOUT SEKOLAH 3
B. Rumusan Masalah
1. apa itu burnout sekolah ?
2. bagaimana dimensi burnout sekolah ?
3. bagaimana tanda-tanda burnout sekolah ?
4. apa factor penyebab terjadinya burnout sekolah ?
5. bagaimana upaya penyelesaian burnout sekolah ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian burnout sekolah
2. Untuk mengetahui dimensi burnout sekolah
3. Untuk mengetahui tanda tanda burnout sekolah
4. Untuk mengetahui factor penyebab terjadinya burnout sekolah
5. Untuk mengetahui upaya penyelesaian burnout sekolah

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Burnout Sekolah

Istilah burnout pertama kali diutarakan dan diperkenalkan kepada masyarakat


oleh Herbert Freudenberger pada tahun 1973 Freudenberger memberikan ilustrasi

BURNOUT SEKOLAH 4
tentang apa yang dirasakan seseorang yang mengalami sindrom tersebut seperti
gedung yang terbakar habis (burned-out), suatu gedung yang pada mulanya berdiri
megah dengan berbagai aktivitas di dalamnya, setelah terbakar yang tampak hanyalah
kerangka luarnya saja. Seseorang yang terkena burnout juga demikian keadaannya,
dari luar segalanya terlihat utuh tanpa kekurangan satu apa pun, namun di dalamnya
kosong dan penuh masalah dalam fikiran atau hatinya yang membuat siswa/pelajar
terlihat kosong/hampa (seperti gedung yang terbakar tadi)

Burnout adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sindrom


kelelahan emosional dan sinisme yang terjadi sebagai respons terhadap stres dan
ketegangan hidup. Pada perkembangan lebih lanjut, pada sebagian anak mulai timbul
rasa jenuh (burnout) untuk bersekolah. Burnout oleh Fith dan Britton (1989). Di
Indonesia pada saat ini sangatlah banyak pelajar atau siswa cenderung mengalami
sebuah setres yang luar biasa di karenakan sebuah tekanan yang di alami karena
system yang di buat oleh pemerintah pusat cenderung memberatkan guru dan siswa di
lapangan yang mengakibatkan guru marah-marah dengan siswa serta siswa
mengalami sebuah tekanan yang dasyat yang mengakibatkan stress yang luar biasa
yang di sebabkan oleh tekanan yang sangat dasyat dalam fikiran individu karena
sebuah tekanan yang di alami seorang siswa/pelajar.

Akan tetapi Pines dan Aronson (Brunk, 2006) mendefinisikan burnout sebagai
kondisi emosional seseorang/siswa, yang merasa lelah dan jenuh secara mental
ataupun fisik sebagai akibat tuntutan pekerjaan/tugas sekolah yang meningkat yang
menyebabkan seseorang cenderung stress dan tidak mampu mengendalikan sebuah
emosional antara kemampuan siswa dan tuntuntan yang harus di penuhi oleh siswa
dalam bersekolah di antaranya belajar, menyelesaikan tugas dengan baik serta
tuntutan social yang berhubungan dengan sebuah sekolah yang harus di kerjakan oleh
seorang siswa yang pada dasarnya bertujuan untuk mencerdasakan siswa itu sendiri
tetapi siswa tidak dapat menerima sebuah ilmu karena paradigm siswa tersebut
berorientasi kepada kemalasan dan menggunakan cara-cara instan untuk meraih

BURNOUT SEKOLAH 5
sebuah hasil tanpa sebuah proses yang di jelaskan pada teori kognif yang
mengutamakan sebuah proses dari pada sebuah hasil atau hasil mengikuti sebuah
proses yang dilakukan oleh seorang siswa dalam mendapatkan sebuah hasil yang
maksimal dan memenuhi syarat minimum yang di terapkan dalam sebuah sekolah
tersebut.

Pines dan Aronson menjelaskan bahwa beberapa indikator kelelahan fisik di


antaranya sakit kepala, demam, susah tidur, mual-mual, gelisah, dan perubahan
kebiasaan makan. Sementara kelelahan emosi ditunjukkan dengan indikasi antara lain
bosan, mudah tersinggung, sering berkeluh kesah, gampang marah, cepat
tersinggung, putus asa, tertekan, dan tidak berdaya. Adapun indikator kelelahan
mental antara lain merasa tidak berharga, rasa benci, rasa gagal, tidak peka, tidak
simpatik, selalu menyalahkan orang lain, kurang toleran, dan sebagainya.

2. Dimensi Burnout

Menurut Leiter & Maslach (1997) menyebutkan ada tiga dimensi dari
burnout, yang fi antaranya sebagai berikut;

a. Exhaustion

Exhaustion merupakan dimensi burnout yang ditandai dengan kelelahan yang


berkepanjangan baik secara fisik, mental, maupun emosional. Ketika para pelajar atau
siswa merasa kelelahan dengan segala sesuatu yang di berikan oleh sekolah atau
tuntutan system pendidikan yang luar biasa para pelajar cenderung overextended
(berlebihan) baik secara emosional seperti marah-marah, stress, ngelamun dan
sebagainya dan secara fisikal (lemas, lesu, tidak semangat dan sebagainya). Pada
dasarnya pada fase ini peserta didik tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang
membelenggu dirinya sendiri baik secara fisik maupun mental. walau pun siswa

BURNOUT SEKOLAH 6
sudah istirahat dengan cukup akan tetapi mereka tetap mengalami ke lelelahan yang
dasyat.

b. Cynicism

Cynicism merupakan dimensi burnout yang ditandai dengan sikap sinis,


cenderung menarik diri dari dalam lingkungan sekolah, ketika pelajar mengalami
cynicism pada dasarnya peserta didik akan menarik dirinya terhadap lingkunganan
tersebut (sekolah) siswa cenderung tidak mau terlibat dalam lingkungan tersebut di
karenakan rasa sinis yang sangat amat pada pola fikirnya yang membuat gejolak hati
serta fikirannya. Cynism juga merupakan cara untuk terhindar dari rasa kecewa.
Perilaku negatif seperti ini dapat memberikan dampak yang serius pada efektivitas
sekolahnya jika di lakukan terus menerus karena tidak ada rasa percaya kepada pihak
sekolah akan mengakibatkan siswa keluar dari sekolah atau DO akan tetapi jika siswa
tersebut dapat menyesuaikan diri di luar sekolah mereka akan menjadikan dirinya
sebagi visioner yang akan mengubah struktur dunia ini menjadi baru terbarukan oleh
pemikiran yang maju dari manusia lain di dunia ini.

c. Ineffectiveness

Ineffectiveness merupakan dimensi burnout yang ditandai dengan perasaan tidak


berdaya, merasa semua tugas yang diberikan sangat berat untuk di kerjakan olehnya,
ketika peserta didik merasa tidak mampu menyelesaikan sebuah tugas yang diberikan
oleh gurunya siswa cenderung mengembangkan rasa ketidak mampu tersebut adalah
sebuah tekanan yang cukup menekan secara psikologi. Setiap tugas yang diberikan
oleh seorang guru atau tuntutan sebuah system di rasa cukup berat dan
mengakibatkan kurangnya rasa percaya diri dalam tubuh siswa. Hal ini akan
membuat mata rantai yang cenderung membuat siswa terpuruk dalam lingkaran yang

BURNOUT SEKOLAH 7
cukup membelenggunya di karenakan rasa kurang percaya diri seakan-akan
mengubah semuanya dan orang lain pun tidak mempercayai dirinya untuk
mengemban suatu tugas baik ketua OSN atau pun dalam sebuah organisasi di
lingkungan sekolah.

3. Tanda-tanda Individu yang Burnout

Cherniss (dalam Sutjipto, 2001) menyatakan bahwa ketika seseorang mulai


memperhatikan tanda-tanda atau gejala-gejala burnout yang dinyatakan di dalam
literatur, makna konsep burnout meluas lebih jauh, karenanya, tanda dan gejala yang
biasanya dikaitkan dengan burnout akan muncul dengan sendirinya secara alami oleh
siswa yang mengalami burnout tersebut di sekolah yang jika tidak di atasi akan
mengakibatkan kekacauan dalam sebuah pembelajaran siswa yang cenderung
mengakibatkan dampak negative bagi studinya. Di atara gejal/tanda siswa yang
secara umum dapat di lihat sebagai berikut :

1. Resistensi yang tinggi untuk pergi ke sekolah setiap hari

Siswa yang memiliki tanda-tanda ini cenderung memiliki rasa malas untuk
bersekolah karena tekanan yang dasyat dari keluarga atau lingkungan yang
mengakibatkan belajar seorang siswa tidak sesuai dengan keinginannya akan tetapi
hanyak di paksa atau gengsi semata.

2. Terdapat perasaan gagal di dalam diri

Hal ini yang menyebabkan rasa percaya diri para siswa hilang karena dengan
beberapa kali mencoba sesuatu hal atau tidak sama dengan orang lain akan merasa
dirinya tidak mampu bersinar dalam sebuah keadaan dan merasa gagal.

3. Cepat marah dan sering kesal

BURNOUT SEKOLAH 8
Orang yang cepat marah akan meningkatkan sebuah stress pada dirinya dan akan
mengakibatkan keseimbangan emosionalnya terganggu oleh perasaan yang
bergejolak pada diri seseorang siswa.

4. Rasa bersalah dan menyalahkan

Rasa ini jika tidak di atasi secepatnya akan mengakibatkan burnout sekolah karena
perasan yang bersalah yang tinggi akan mengakibatkan penarikkan diri kepada
lingkungan di sekitar baik di sekolah atau pun di lingkungan.

5. Keengganan dan ketidak berdayaan

Biasanya hal ini di tunjukkan denga siswa yang tidak mengerjakan tugas bukan
Karena malas tetapi memang mereka tidak faham dengan tugas yang di berikan
olehseorang guru.

6. Negatifisme

Fikiran-fikiran yang negative kepada sekolah akan mengakibatkan sebuah rasa


percaya diri kepada sekolah tidak ada dan siswa akan menarik dirinya keaarah yang
lain untuk mengalihakn fikiran yang ada pada dirinya.

7. Isolasi dan penarikan diri

Jika hal-hal di atas di lakukan terus menerus akan mengakibatkan sebuah penarikkan
diri pada lingkungan sekolah serta mengisolasi dirinya sendiri pada suatu tempat yang
biasanya cenderung negative.

8. Perasaan capek dan lelah setiap hari

Jika mentut ilmu tidak berdasarkan kehendak sendiri walau pun itu hanya satu atau
dua jam akan mengakibatkan diri siswa cenderung cape dan lelah walau sudah
beristrhat berjam-jam.

9. Sering memperhatikan jam saat bersekolah/kuliah

BURNOUT SEKOLAH 9
Ini yang harus di rubah adalah suatu paradigma seseorang siswa, jika seseorang
sering melihat jam indikasi terkena Burnout sangat besar karena fisiknya di sekolah
akan tetapi fikirannya cenderung tidak di situ atau memikirkan hal yang lain dalam
konteks psikologi

10. Hilang perasaan positif

Yang ada pada diri siswa yang mengalami gejala ini tidak ada rasa positif atau
cenderung kebanyakkan rasa negative pada diri serta perasaannya. Dalam menerima,
menafsirkan atau menerima segala seesuatu yang di dapatkan di sekolah.

11. Gangguan tidur/sulit tidur

Pelajar yang sulit tidur pada dasarnya adalah ketidak nyamanan sebuah psikologis
dalam otaknya yang membuat pelajr cenderung memikirkan hal yang sama tetapi
tidak memiliki ujung yang dapat di pecahkan

12. Tidak mampu menyimak

Apa pun yang di sampaikan oleh guru tidak berbekas sama sekali di kehidupannya
baik materi pelajaran atau motivasi yang diberikan oleh seorang guru pada siswa,
penyebabnya bukan karena meremehkan tetapi siswa sulit untuk menyimak di
karenakan fikiran yang memikirkan hal-hal yang lain.

13. Menghindari diskusi

Karena rasa emosi yang tidak terkontrol banyak siswa yang cenderung menghindari
sebuah diskusi ilmiah atau diskusi positif karena mereka cenderung menarik diri
dalam forum tersebut banyak indikasi yang menyebabkan siswa menghindar dari
sebuah diskusi : tidak percaya diri, malas, dan sebagainya.

14. Asyik dengan diri sendiri

BURNOUT SEKOLAH 10
Siswa yang mengalami burnout cenderung egois dengan orang lain atau sering mau
menangnya sendiri, mereka cenderung membanggakan dirinya sendiri untuk di puji-
puji atau di agung-angungkan untuk menarik smpatik orang lain atau lawan jenisnya.

15. Sering demam dan flu

Pelajar yang mengalami tekanan fikiran yang sangat dasyat menurut peneitian system
kekebalan tubuh menurun dan pola makan yang tidak pernah terkontrol dengan baik
yang memnyebabkan penyakit di tubuh menjadi mudah memasuki system kekebalan
tubuh siswa.

16. Rasa curiga yang berlebihan

Setiap manusia di bekali insting dan fikiran yang akan berguna bagi kehidupannya,
akan tetapi jika kedua hal tersebut di gunakan untuk curiga berlebihan akan
mengakibatkan hilangnya rasa kepercayaan kepada orang lain yang mengakibatkan
siswa tersebut mengalami pemikiran yang staknan dan tidak mau memikirkan hal lain
seperti belajar dan sebagainya.

17. Sering membolos

Jika 16 ciri yang sering di lakukan oleh siswa di atas sudah di lakukan makan siswa
akan sering membolos untuk meluapkan semua emosionalnya, banyak siswa yang
notabennya pelajar akan tetapi mereka seperti di penjara dalam sekolah, membolos
adalah cara yang paling efektif keluar dari sebuah penjara seperti burung yang
terlepas dari dalam sangkar.

4. Sumber-sumber Terjadinya Burnout

Menurut Caputo (1991); Farber timbulnya burnout disebabkan oleh beberapa faktor
yang diantaranya yaitu:

a. Karakteristik Individu yang melingkupi faktor demografi, Faktor perfeksionis.

BURNOUT SEKOLAH 11
b. Lingkungan kerja dapat menentukan kemungkinan munculnya burnout.
c. Keterlibatan emosional dengan penerima pelayanan atau tamu, bekerja
melayani orang lain membutuhkan banyak energi karena harus bersikap sabar
dan memahami orang lain dalam keadaan krisis, frustrasi, ketakutan dan
kesakitan.

Menurut Greenberg (2002) suatu cara untuk mengetahui penyebab terjadinya


burnout antara lain tidak adanya jam istirahat, kekurangan energi, gejala kronis,
krisis, perasaan tertekan. Namun hal ini di karenakan sebuah tekana pada diri seorang
siswa yang membuat suatu hal menjadi kompleks dan tidak memandang sekolah
tersebut sebuah tantangan dan kenyamanan untuk meraih sebuah ilmu yang
bermanfaat.

Menuru Farber (1991) penekanan burnout terletak pada karakteristik individu dan
wujud dari sindrome itu tampak pada interaksinya terhadap lingkungan kerja.
Menurut Maslach (dalam Farber, 1991) sumber utama terjadinya burnout adalah
karena adanya stres yang berkembang secara akumulatif akibat keterlibatan pemberi
dan penerima pelayanan dalam jangka panjang.

5. Faktor Penyebab Terjadinya Burnout di Sekolah

Terjadinya burnout (kejenuhan) pada siswa sejatinya sangatlah kompleks,


karea pada dasarnya bukan sekolah saja yang terlibat di dalam sekolah tersebut. Peran
orang tua, motivasi teman sebaya dan seterusnya menimbulkan atau memicu
terjadinya burnout atau mengurangi dampak dari burnout secara tersetruktur dan
rapih dan yang tidak kalah penting ketidak siapan mental anak dalam menghadapi
perubahan yang sangat luar biasa membuat siswa cenderung tidak mampu
menghadapi permasalahan dalam dirinya sendiri burnout (kejenuhan) yang
berkepanjangan.

BURNOUT SEKOLAH 12
Ada dua faktor yang menyebabkan munculnya burnout, yaitu faktor internal dan
faktor eksternal yang sering terjadi di masyarakat Indonesia.

a. Faktor internal

Merupakan faktor dari dalam diri sendiri yang cenderung memilki rasa lelah,
lesu atau ada kondisi fisik dan psikis yang menggangu seseorang siswa dalam proses
belajar dan cenderung memiliki kebosanan dalam sebuah pembelajaran. Dalam kultur
di Indonesia hal ini di amini oleh beberapa pihak yang tidak mau cuci tangan dan
cenderung menyerahkan hal ini ke diri seorang siswa. Yang lebih parah lagi ialah
tidak adanya motivasi untuk berprestasi, jika sudah seperti ini siswa cenderung bosan
dengan semua pelajaran-pelajaran yang di berikan oleh guru dan memilki sebuah
kebosanan yang sangat luar bisa dan akan berdampak langsung dengan prestasi serta
perilaku siswa tersebut di lingkungan yang ia berada atau orang yang terpengaruh
oleh orang tersebut. Faktor internal pada dasarnya bukan hanya yang di sebutkan di
atas akan tetapi masih ada lagi dan antara siswa satu dengan siswaa yang lain
mempuyai karakteristik permasalahan pada diri siswa sangatlah berbeda-beda dan
kompleks.

b. Faktor eksternal

Faktor yang di sebabkan oleh pihak luar bukan dari diri individu/siswa saja.
Yang paling sering di keluhkan siswa di Indonesia ialah masalah metode guru
mengajar di kelas yang membosankan dan cenderung mengantukkan karena banyak
siswa yang berpendapat jika hanya ceramah tanpa ada umpan balik akan
megakibatkan sesuatu hal yang di sebut dengan burnout (kejenuhan) luar biasa bagi
seorang siswa, ketidak cocokan dengan teman, jika hal ini terjadi seorang siswa di
kucilkan oleh teman-temannya di kelas cenderung mereka ingin segera menyudahkan
hari itu dan pulang kerumah apa lagi di perparah dengan konflik antar teman yang
akan menimbulkan suasana menjadi keos dan tidak terkendali oleh siswa-siswa di

BURNOUT SEKOLAH 13
kelas tersebut. Siswa yang mengalami hal ini cenderung bosan dan ingin segera
menyudahkan proses belajar mengajar dan pulang kerumah dengan rasa yang tidak
enak dan penuh tekanan. Dan yang terakhir ialah peran orang tua yang menuntuk
anak nya untuk jauh lebih baik dari orang lain yang akan membebani fikiran siswa
untuk mennghalalkan semua cara untuk mendapatkan hal yang di inginkan ittu dalam
konteks jangka pedek, akan tetapi jika seorang orang tua selalu menuntuk anak nya
untuk menjadi diri orang lain perbandinga akan membuat seorang anak cenderung
bosan/jenuh karena kreatifitasnya cenderung terbunuh secara tidak langsung dan jika
mereka berbuat benar pun masih dianggap salah oleh orang tuanya karena sebuah
perbandingan yang tidak adil dan kurang tepat di lakukan oleh orang dewasa atau pun
di terapkan kepada anak-anak.

Anak dapat juga merasa burnout bersekolah, karena bagi anak sekolah
merupakan masyarakat baru dengan aturan yang berbeda dari rumah. Anak dituntut
untuk masuk sekolah tepat waktu, mengerjakan tugas-tugas termasuk tugas yang
harus dikerjakan di rumah, dan masih banyak lagi. Terkadang ketika anak sudah
memasuki usia sekolah, masih ingin merasakan bebas seperti sebelum masuk sekolah,
sehingga hal ini menyebabkan anak malas untuk bersekolah. Jika melihat di
Indonesia burnout (kejenuhan) fenomena ini terjadi akibat kurikulum yang tidak
masuk akan dan selalu berubah-ubah system pendidikannya yang di perparah dengan
usulan full day yang di canangkan 2017 akan di terapkan. Hal ini membuat para siswa
bosan dan cenderung enggan untuk bersekolah, mereka memiliki gambaran sekolah
itu seperti penjara dan tidak dapat berekspresi dengan leluasa dalam artian yang
positif, mainset tersebut sudah tertanam di benak para siswa sejak wacana hal tersebut
di luncurkan oleh kemdikbud Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP Proses ini bermula
dari kewajiban pemakaian seragam, disusul dengan kewajiban-kewajiban yang lain
seperti mata pelajaran yang seragam, bahasa dan cara bicara yang seragam, tingkah
laku yang seragam, serta lama-kelamaan wajib pula isi kepala dan hati yang seragam.
Tentu hal ini sangat kontra dengan prinsip dasar manusia yang mempunyai

BURNOUT SEKOLAH 14
karakteristik yang unik dan mempunyai sifat-sifat yang beragam dan mempunyai
komplektifitas otak yang berbeda-beda. bahkan hal-hal yang tidak terlalu perlu bagi
mereka sehingga memberatkan mereka, menjadikan mereka jenuh, dan loyo.

6. Upaya yang Dilakukan untuk Mengatasi Burnout

Setiap permasalahan pasti memiliki obat untuk menuntaskannya Nabi bersabda


Masing-masing penyakit pasti ada obatnya. Kalau obat sudah mengenai penyakit,
penyakit itu pasti akan sembuh dengan izin Allah SWT Muslim dari hadits Abu
Zubair, dari Jabir bin Abdillah dan Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit,
melainkan Dia menurunkan obatnya. Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Atha, dari
Abu Hurairah. Adapun upaya yang dilakukan oleh sekolah untuk mengatasi Burnout
dalam belajar, diantaranya:

Mendorong guru untuk menggunakan strategi, pendekatan, metode dan media


pembelajaran yang bervariasi sehingga tidak menimbulkan kejenuhan dalam
belajar.

Dalam konteks ini guru harus mengetahui apa kesukaan siswa dalam proses
belajar mengajar pada UKG (uji kompetensi guru) guru Bahasa inggris dari jawa
barat menerapkan system berbincang dengan Bahasa inggris atau menceritakan
pengalaman pribadi dengan mengunakan email sampai menggunakan whatsapp
dalam Bahasa yang campuran akan tetapi siswa yang ia bombing lama kelamaan
Bahasa inggris nya menjadi baik dan membuat siswa tidak jenuh dengan materi yang
di berikan.

Melakukan istirahat sejenak dan menganjurkan siswa untuk menkonsumsi


makanan dan minuman yang bergizi dengan takaran cukup

BURNOUT SEKOLAH 15
Pada tahap ini bisa di artikan denga istirahat yang hanya 10 atau 15 menit di
Indonesia kan tetapi bukan itu maknanya tetapi istrhat untuk merilekskan sebuah otak
yang sudah di pacu sedemikian rupa dan mengistrhatkannya sejenak 30 menit itu pun
sangat minimal untuk akan zaman sekarang untuk menyantap hidangan yang
istimewa.

Melakukan penjadwalan kembali jam-jam dari hari belajar yang dianggap


lebih memungkinkan siswa belajar lebih giat

Hal ini sangatlah penting, jika full day di terapkan di Indonesia akan berdampak
dengan kekacauan dan kejenuhan yang luar biasa, jika jadwal hanya sampai jam 12
siang saja akan membuat siswa cenderung giat belajarnya karna satu gelas jika di
masukkan satu galon air itu akan terbuang sia-sia atau gelas itu akan pecah (belum di
uji coba).

Mengubah atau penataan kembali lingkungan belajar siswa yang meliputi


pengubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat-alat perlengkapan belajar
dan sebagainya sampai memungkinkan siswa merasa berada disebuah kamar
baru yang lebih menyenangkan untuk belajar

Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa terdorong untuk
belajar lebih giat dari pada sebelumnya

Dorongan yang di berikan bukan hanya dari guru saja akan tetapi juga antara siswa
dengan siswa lain untuk membuat suatu iklim yang sangat luar biasa bagi siswa
tersebut untuk membuat suatu konstruksi baru dalam fikirannya aku bisa aku
mampu, aku mempunyai potensi dan di dukung oleh smua orang di sini.

BURNOUT SEKOLAH 16
Siswa didorong untuk berbuat nyata (tak menyerah/ tinggal diam) dengan cara
mencoba belajar dan belajar lagi

Hal ini dapat di contohkan sederhana jika siswa belajar matematika, fisika, kimia
tidak pernah mencoba dan hanya mendengarkan saja pasti sangat sulit memahami
sesuatu yang di sampaikan oleh gurunya akan tetapi jika siswa selalu mencoba terus
menerus akan membuat suatu siklus dimana ketidak bisaan atau kebosanan siswa
cenderung berkurang secara perlahan tetapi pasti dan siswa merasa di perhatikan oleh
gurunya secara tidak langsung.

Menyampaikan informasi manfaat dari belajar

Belajar yang dilakukan pasti ada manfaatnya. Dengan belajar, maka bisa memperoleh
ilmu pengetahuan, bisa menambah teman mempererat tali silaturrahmi, menambah
wawasan dan pengalaman hidup. Singkatnya, manfaat belajar yaitu untuk persiapan
masa depan yang lebih cerah semakin tahu manfaat belajar, akan semakin
bersemangat untuk belajar dan menghilangkan kejenuhan.

Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan kreatif

Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan perasaan senang akan menimbulkan senang.
Begitu juga dengan kegiatan belajar, apabila suasananya menyenangkan, maka akan
memiliki gairah dan semangat untuk belajar. Lama kelamaan perasaan jenuh akan
terkikis dan hilang. Disamping itu, selama melakukan kegiatan belajar, kita atau
siswa juga harus kreatif. Belajar dengan kreatif akan menimbulkan keasyikan dan
kepuasan pribadi sehingga jauh dari perasaan jenuh atau bosan.

BURNOUT SEKOLAH 17
7. Upaya guru BK mengatasi Burnout sekolah

Dalam sebuah kenyataan guru BK (bimbingan dan konseling) sangat andil


besar dalam hal ini, bukan hanya guru maple (mata pelajaran) yang harus membuat
suatu program yang luar biasa akan tetapi guru BK harus juga bisa ber kolaborasi
dengan semua aspek untuk mengurangi sebuah kejenuhan-kejenuhan siswa di
sekolah, karena pada dasarnya guru BK sebagai suatu instrument yang membuat
siswa nyaman di sekolah. Berikut beberapa cara yang dapat di lakukan guru BK:

a. Membuat sesuatu yang menarik setiap saat

Pada kenyataannya program BK ada yang sifatnya harian hingga mingguan


anak-anak SMP (sekolah mennegah pertama atau sederajat dan sekolah menengah
pertama (SMA) cenderung tertarik dengan yang unik baik itu olah raga setiap satu
kali dalam satu minggu atau dengan mengembangkan kreatifitas anak-anak menjadi
lebih terasah. Hal ini dapat di lakukan oleh guru BK pada dasarnya di karenakan guru
BK mempunyai data yang bisa di gunakan dalam membuat suatu program yang luar
biasa dan unik setiap saat, apa lagi jika di padukan dengan sebuah teknologi seperti
hologram TV atau sebuah TV yang bisa diganti-ganti atau sebuah madding (majalan
dinding) digital yang setiap saat dapat di ganti dan sebagai hal yang unik di suatu
sekolah.

b. Melakukan pendekatan secara perlahan.

Jika guru BK ingin mengetahui mengapa anak/siswa jenuh di sebuah sekoah


seorang guru BK harus melakukan pendekatan secara perlahan tidak bisa sehari atau

BURNOUT SEKOLAH 18
dua hari untuk mengetahui nya akan tetapi jika guru BK bersahaja dengan siswa akan
menimbulkan sebuah situasi yang menyenangkan dan dapat melakukan pendekatan
secara terstruktur dan rapih (pendekatan secara perlahan) akan guru BK mengerti
mengapa siswa ini cenderung mengalami kebosanan atau tekanan yang ada pada
dirinya, siapa yang harusnya di salahkan apakan internal atau faktor ekternah dan itu
dapat di atasi dengan cepat dan efisien serta efektif.

c. Kurangi kata-kata yang mencela/menyakiti.

Guru BK pada dasarnya tidak boleh mencela suatu hal walau pun guru itu
mengetahui siswa itu salah akan tetapi caranya yang harus di rubah. Buatlah siswa
berfikir apakah dia salah atau tidak bukan mencelanya atau menyalahkan-
menyalahkan siswa atau merubahnya akan menjadi topeng yang berbeda bukan itu
tujuannya, tujuan yang palling utama ialah membuat siswa berbuah secara alami dan
melakukannya setiap saat bukan hanya karena sebuah ketautan yang di lakukan oleh
guru bk (ancaman) yang membuah siswa semakin stress dan cenderung kea rah
depresi. Kata-kata yang menyinggung siswa cenderung membuat siswa tidak akan
percaya lagi dengan guru BK hal ini yang harus di minimalisir oleh guru BK. Guru
BK bukan mengubah padi menjadi sebuah gandum akan tetapi merubah padi menjadi
tepung beras yang jauh lebh bermanfaat. Padi akan tetapi menjadi padi tidak bisa
menjadi gandung tetapi guru bk dapat merubah padi menjadi suatu yang bermanfaat
dengan lisannya.

d. Dukung semua apa yang di inginkan siswa (positif)

Pada kenyataannya di Indonesia banyak anak-anak/siswa yang memiliki


sebuah potensi pada dirinya yang luar biasa akan tetapi mereka cenderung tidak dapat
muncul akibat banyak faktor dan mereka tidak mempunyai sebuah wadah untuk

BURNOUT SEKOLAH 19
mengembangkan suatu potensi pada dirinya. Hal ini menjadi sebuah peluang agar
siswa cenderung tidak bosan dengan sebuah sekolah atau mengubah siatu paradigm
seorang siswa sekolah itu menyenangkan. Secape atau selemas apa pun jika seorang
siswa niat dan di dukung sekelilingnya cape itu tidak akan terasa dan cenderung
hilang karena siswa mengerjakan suatu hal yang sesuai dengan porsinya. Guru BK
sebagai fasilitaor dan merangkap sebagai pembimbing wajib hukumnya memfasilitasi
baik secara digital atau pun fisik agar mereka cenderung bisa mengembangan suatu
bakat serta minatnya di sekolah. Ini dapat mengurangi Burnout sekolah secara tidak
langsung, percaya atau tidak tetapi ini sebuah kenyataan di lapangan dan tidak dapat
di pungkiri permainan sebuah psikologi dapat menuai hasil yang positif dari pada
mengancam sesuatu hal yang bersifat semu dan perubahannya tidak bisa di
pertanggung jawabkan karena rasa ketakutan yang ada bukan alami yang harus di
lakukan dan berguna bagi nusa bangsa yang di cantumkan pada pembukaan UUD
1945 alenia ke 4.

8. Kelemahan dan kekurangan peran guru Bk dalam Burnout sekolah

Setiap semua system pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, tidak ada
suatu system yang sempurna di dunia ini karena sebuah kesempurnaan hanya milik
tuhan pencipta alam ini dan makluknya. Berikut ini kekurangan dan kelebihannya:

a. Kelebihan
Program yang di gunakan dapat menarik siswa.
Siswa cenderung ingin curhat kepada guru BK.
Mengurangi kejenuhan siswa.
Mengembangan suatu bakat yang potensial yang di miliki siswa.

b. Kekurangan
Terbentur sebuah anggaran.
Kurangnya rasa percaya kepada guru BK baik antara guru atau pun siswa

BURNOUT SEKOLAH 20
System di Indonesia yang masih semrawud yang membuat program yang luar
biasa tidak dapat terealisasi dengan baik.
Wacana yang hanya sebuah angan-angan tanpa realisasi.
Konflik yang berkepanjngan.
Sekolah yang tidak memiliki standar KEMDIKBUD.

BURNOUT SEKOLAH 21
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan

Burnout oleh Fith dan Britton. Di Indonesia pada saat ini sangatlah banyak
pelajar atau siswa cenderung mengalami sebuah setres yang luar biasa di karenakan
sebuah tekanan yang di alami karena system yang di buat oleh pemerintah pusat
cenderung memberatkan guru dan siswa di lapangan yang mengakibatkan guru
marah-marah dengan siswa serta siswa mengalami sebuah tekanan yang dasyat yang
mengakibatkan stress yang luar biasa yang di sebabkan oleh tekanan yang sangat
dasyat dalam fikiran individu karena sebuah tekanan yang di alami seorang
siswa/pelajar.

Cherniss (dalam Sutjipto, 2001) menyatakan bahwa ketika seseorang mulai


memperhatikan tanda-tanda atau gejala-gejala burnout yang dinyatakan di dalam
literatur, makna konsep burnout meluas lebih jauh, karenanya, tanda dan gejala yang
biasanya dikaitkan dengan burnout akan muncul dengan sendirinya secara alami oleh
siswa yang mengalami burnout tersebut di sekolah yang jika tidak di atasi akan
mengakibatkan kekacauan dalam sebuah pembelajaran siswa yang cenderung
mengakibatkan dampak negative bagi studinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi
Burnout yaitu ada 2 faktor penyebabnya yaitu factor internal dan factor internal.

BURNOUT SEKOLAH 22
B. Saran

Jika system pendidikan baik dan menggunakan otonomi daerah serta tidak
terpusat pada system nasional, minimal guru dapat menerapkan system yang luarbiasa
walau semua sadar bisa jadi jika system yang digunakan adalah otonomi daerah
membuat siswa lebih bosan/stress lagi dan mengeluhkan jam pelajaran yang
membosankan hal ini di perparah dengan UN (ujian nasional) yang wacananya akan
di hilangkan di 2017, ini pada dasarnya akan mengakibatkan sebuah blunder/masalah
yang akan timbul setelah itu sungguh luar biasa dan akan membuat siswa juga yang
menjadi korbannya.

Cara paling ampun/tepat ialah kembali ke system dulu yang di ajarkan oleh ki ahajr
dewantara yang mengajarkan sesuatu hal di taman siswa yang mebuat siswa tertarik
dengan sekolah, sekolah bukan kaarena sebuah tekanan atau gengsi tetapi sebuah
keminatan yang harus di lakukan oleh siswa tersebut. Jadi apa pun yang di lakukan
siswa atas kemauannya sendiri dan pemerintah, guru, ilmuan dan sebagainya turut
andil besar untuk perubahan siswa di Indonesia. Kalua bukan kita siapa lagi, kalua
bukan kita mau di bawa ke mana negri ku tercinta ini.

BURNOUT SEKOLAH 23
Daftar Pustaka

Kinnunen, U., Vermulst, A., Gerris, J., & Makikangas, A. (2003). Work-
family conflict and its relationship to well-being: The role of personality as a
moderating factor. Personality And Individual Differences, 35, 1669-1683
Leiter & Maslach C. (1997). The truth about burnout: How organization
cause personal stress and what to do about it. USA: Jossey Bass

Refrensi

Lickona, Thomas. 2008. Educating for character. New York. Batam book.
Rose, Colin & Malcom J. Nicholl 1997, Accelerated Learning for the 21 th
century. London, Judy Piatkus.

BURNOUT SEKOLAH 24

Anda mungkin juga menyukai