Anda di halaman 1dari 8

TUGAS RESUME ARTIKEL ILMIAH

METODE PENELITIAN SOSEK


Beragam Isu Menyangkut Kebijakan Komunikasi
Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

NAMA : Trio Dian septian


NIM : 145040101111002
KELAS :B

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
Resume Artikel Ilmiah
BERAGAM ISU MENYANGKUT KEBIJAKAN KOMUNIKASI
PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN
Ilona V. Oisina Situmeang
Pascasarjana Fakultas Komunikasi UPI-YAI, Jakarta
Jl. Diponegoro No. 74 Jakarta Pusat
ilonaoisina@yahoo.com
Pendahuluan
Negara Kesatuan Republik Indoesia yang memiliki pendduduk 220 jut
jiwa memiliki wilayah yang terdiri dari lima pulau besar dan ribuan pulau kecil
dengan daerah yang amat subur. Indonesia dikenal dengan negara agraris yang
mayoritas penduduknya sebagai petani. Dalm menjalankan roda pemerintahan
sektor pertanian merupakan sektor yang mendapat perhatian serius dari
pemerintah untuk dikembangkan, baik itu dalam bentuk penyediaan dana pada
APBN untuk mendukung sarana dan prasarana pertanian maupun untuk
peningkatan pengetahuan Sumber Daya Manusia. Sektor pertanian juga telah
terbukti merupakan sektor yang paling tangguh bertahan dalam keadaan krisis
moneter yang pernah dialami beberapa tahun lalu. Sehingga pertanian dapat
membuktikan diri sebagai penyangga perekonomian secara nasional walau tidak
dapat meberikan kesejahteraan bagi masyarakat yangbekerja di sektor ini.
Karenanya salah satu cara yang paling efektif untuk mengentaskan kemiskinan di
wilayah pedesaan adalah melalui pembangunan pertanian dengan meningkatkan
produktivitas hasil pangan.
Komunikasi Pembangunan
Komunikasi pembangunan dapat dilighat dari arti luas dan sempit. Dalam
arti luas komunikasi pemabnguann meliputi peran dan fungsi komunikasi
diantara semua pihak yang terlibat pembangunan. Dalam arti sempit komunikasi
pembangunan merupakan segala upaya dan cara, serta teknik penyampaian
gagasan, dan keterampilan-keterampilan pembangunan yang berasal dari pihak
yang memprakarsai pembangunan dan ditujukan kepada masyarakat luas. Di
Indonesia pada akhir 1970-an masih menggabungkan pendekatan media massa
dan interpersonal sehingga menghasilkan ide tentang hubungan komunikasi dan
partisipasi. Penelitian ini pun dilaksanakan secara partisipasif.
Kebijakan Ketahanan Pangan di Indonesiamerupakan isu emosional,
problem kelaparan kronis, kurangnya persediaan pangan lokal dan juga lonjakan
tiba tiba dari harga pangan. Dalam bebrapa kasus ada pertentangan antara
kebijaksanaan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Umumnya kebijakan
ketahanan pangan di Indonesia dimaksudkan untuk bebrapa tujuan yaitu mencapai
swasembada, memebantu memperbaikai pendapatanprodusen dan menjamin
penyediaan bahan pangan dan harga yang stabil. Selain itu juga ada masalah
keseimbangan lingkunagn.
Hubungan Pertanian Desa dan Industri di Kota
Perdebatan mengenai hubungan antara pedesaan dan perkotaan
mengingatkan bahwa begitudominannya pertanian di negara berkembang. Ada
beberapa factor yang melandasi anggapan pengabaian sektor pertanian yaitu:
sebagian besar pengambil keputusan dari elite kota, pembangunan lebihidentik
dengan pembangunan industry, memandang pertanian sebagai penyedia tenaga
kerja tanpa membutuhka biaya transfer, petani tradisional dianggap sangat terikat
dengan nilai tradisi.
Komunikasi Partisipasif
Komunikasi partisipatif adalah pertukaran berbagai pesan diantara stakeholder
yang terlibat dalam proses pembangunan pembangunan melalui dialog untuk
mencapai pengertian bersama (common understanding) dan konsensus untuk
proses pengambilan keputusan.
Metode Penelitian
Penulisan ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan sifat
penelitian deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan
induktif. Pengumpulan data dengan cara studi pustaka. Analisis data dilakukan
terhadap data berdasarkan logika induktif.
Analisis Data
Kerangka Makro Kebijakan Komunikasi Pembangunan Pertanian Dan Pedesaan
Tujuan kebijakan komunikasi pembangunan adalah meningkatkan pendapatan dan
tarafhidup petani, meewujudkan sisitem ketahana pangan berdasarkan
sumberdaya bahan pangan, lembaga dan budaya, meningkatkan daya saing produk
pertanian, mengembangkan aktivitas ekonomi pedesaan dan meningkatkan
kesmpatan kerja dan usaha secar adil. Pembanguna berkelanjutan suatu proses
pembangunan yang mengoptimalkan manfaat dari sumber daya alam dan sumber
daya manusia, dengan menyerasikan sumber alam dengan manusia dalam
pembangunan. Ide darar dalam pembangunan berkelanjutan berdasarkan pada
proses pembangunan yang berkelanjutan, sumberdaya memilki ambang batas,
kualitas lingkungan berkolerasi dengan kualitas hidup, pembangunan masa kini
tidak menutup pilihan pembangunan masa depan dan pembangunan
mengandaikan solidaritas transgenerasi. Pembangunan berkelanjutan atau
pembangunan berwawasan lingkungan atau sustainable development mempunyai
ciri khas yaitu: Pembangunan berwawasan lingkungan harus memenuhi
kebutuhan masa kini dan memperhitungkan kepentingan generasi yang akan
datang.
Melalui dukungan Perpres No.5 tahun 2010, tentang sasaran pembangunan
perdesaan yaitu: menguatnya kapasitas dan peran pemerintahan desa serta
kelmbagaan masyarakat dan menarapkan prinsip tat kepemerintahan yangbaik
untukmenciptakan keberdayaan masyarakat tentang peningkatan pendapatan,
kesempatan kerja, pendisika permodalan , lahan penembangan agribisnis serta
pengembangan kewirausahaan dan penguatan kelembagaan keuangan mikro, serat
meningkatkan ketahanan pangan masyrakat. Diharapkan keseluruhan sasaran
diatas mampu tertuang dalam programa penyuluhan pertanian sehingga secara
tersistimatis dapat memberikan sumbangan kontribusi nyata bagi perubahan
kulaitas SDM Pertanian di Perdesaan secara signifikan. Proses pembangunan
memrlukan sumberdaya alam dengan mempergunakan energi dengan peningkatan
lajupembangunan mengakibatkan tekanan terhadap ketersiaan energy. Sehingga
pembanguna 25 tahun yang akan dating harius menggunakan pembangunan yang
berkelanjutan.
Pada umumnya negara sedang berkembang pertanian memilikikontribusi
yang besar pada pedapatan, penyerapa tenaga kerja dan penting hubungannnya
dengan perdagangan internasional. Intervensi harga dan subsidi kepada produsen
meningkatkan produksi namun juga mengakibatkan alokasi yang tidak efisien.
Pada negara berkembang aspek keseimbangan lingkunga tidak terlalu menjadi
perhatian karena kurangnya kesadaran akan kualitas lingkungan bagi
kesejahteraan. Untuk negara berkembang dimana panag merupakan standart
pengupahan peningkatan produksi penting untuk menjaga harga pangan tetap
terjangkau. Karena dengan harga yang terlalu tinggiakan berdampak pada
perekonomian. Upaya untuk menanggulangi kemiskinan secara umum dapat
dipilah dalam tiga kelompok yaitu kebijiakan tidak langsung, kebijakan langsung
dan kebijakan khusus. Dalam peningkatan pendapatan penduduk pedesaan
pembagian adminsitratif negara kita terdiri dari wilayah provinsi, kabupaten/kota,
kecamatan dan desa.. dalam pengertian admisintrasi ada beberapa jenis desa yaitu
desa pegunungan, dataran rendah, dataran tinggi dan pantai dengan pola pertanian
sawah, berpindah-pindah, perkebunan rakyat dan desa nelayan. Desa sering
disamakan sebagai masyarakat petani dalam kenyataan kombinasi dengan usaha
usaha kecil lainnya di luar pertanian yang sangat bervariasi, karenanya
pembangunan di pedesaan sangat erat kaitannya dengan pembangunan pertanian.
Pembangunan pertanian pada dasarnya adalah suatu upaya untuk meningkatkan
kualitas hidup petani yang dicapai melalui strategi investasi dan kebijaksanaan.
Hubungan daerah pedesaan dengan perkotaan bertambah erat bukan karena letak
atau jarak yang dekat saja tetapi dipengaruhi juga oleh pemenuhan kebutuhan
daerah pedesaan yang berorientasi pada kota. Keberhasilan swasembada beras
yang pernah dicapai oleh negara republik Indonesia pada tahun 1984 merupakan
jasa dari para petani kita yang mendukung gerakan intesifikasi produksi padi.
Namun dibalik kata jasa dari golongan petani tersebut, ada pengorbanan atau
kerugian yang sebenarnya yaitu kemiskinan. Secara garis besar problem
kemiskinan dapat dibedakan atas dua jenis yaitu kemiskinan absolut dan
kemiskinan relatif. Untuk mengukur tingkat kemiskinan ada dua ukuran yaitu
dimensi tunggal dan dimensi ganda. Salah satu permasalahan yang serius yang
menjadi penyebab kemiskinan di pertanian adalah kualitas SDM yang rendah dan
alternatifpekerjaan yang sedikit. Tekanan penduduk yang semakin meningkat akan
berpengaruh nyata terhadap kualitas dan optimalitas pemanfaatan sumberdaya
alam yang semakin menurun. Problema masyarakat pertanian di pedesaan secara
intrinsic berhubungan dengan pola pemilihan lahan dan produktivitaslahan,
struktur kesempatan kerja dan mekanisme pasar tenaga kerja. Dalm bentuk paling
sederhana individu dari berbagai golongan rumah tangga memiliki perbedaan
dalam hal sumberdaya dalam pertanian. ,encer,ati peranan pertnaian dan
peningkatan produktivitasnya mengakibatkan banyak masyarakat msikin
merupakan petani. Sehingga tingkat pendapatan petani adalah fokus dalam sentral
pertumbuhan perekonomian. Tingkat produksi yang kurangmaksimum
diakibatkan oleh lemahnya penyuluhan, terbatasnya pasar kompetitif, terbatasnya
pelayanan sektor pertanian, dan lemahnya pasar produk pertanian. Namun ada
yang berpendapat untuk menambah pendapatan hanya dengan pertumbuhan
ekonomi. Di daerah yang kebanyakan masyarkat miskin untuk meningkatkan
pendapatan hanya bisa di capai dengan peningkatan produktivitas. Selain itu ada
Berbagai cara dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan bagi penduduk
pedesaan antara lain dengan cara Program pengembangan Pasar Desa merupakan
upaya mendayagunakan pasar pasar yang ada di perdesaan Program Pasar Desa
dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai sarana bagi masyarakat desa untuk
berproduksi dan mengolah hasilnya, menciptakan lapangan kerja, mendorong
kehidupan perekonomian desa termasuk lembaga social ekonomi dan
meningkatkan pendapatan asli desa (PAD), sehingga dapat memperbaiki daya beli
dan pendapatan masyarakat.
Gender dan Pembangunan Pertanian dan Perdesaan
Struktur social,politik,budaya dan ekonomi yang termodernisasi membuat
peran gender pada kehidupan pertanian semakin termarjinalisasi.Kaum wanita
yang pada dasarnya sama hak dan kewajibannya, terlihat semakin terpinggirkan
akibat dominasi kam laki-laki pada setiap peran pada dunia pertanian. Untuk
mencapai tujuan dalam persamaan gender para aktivis perempuan juga telah
menjadikan perjuangan mereka pada tiga hal yaitu:
1. Kepemimpinan perempuan dalam kekuasaan
2. Tuntutan kuota perempuan dalam parlemen
3. Tuntutan independensi hak suara perempuan dalam pemilu.
Namun perjuangan tersebut juga dapat menjadikan fungsi perempuan sebagai
iburumahtangga dapat terabaikan seperti: fungsi pendidikan terhadap anak, fungsi
penanaman nilai agama terhadap anak mulai dari balita, fungsi kasih saying,
fungsi sosialisasi.
Tujuan dalam pembangunan pertanian adalah meningkatkan produktivitas
pertanian.namun Faktor tenaga yang selama ini menjadikan peran wanita
pertanian semakin termarjinalisaasi secara perlahan dibawahdominasi kaum
laki;laki Kegiatan dalam pertanian membagi peran yang berbeda antara kaum
laki-laki danperempuan sesuai dengan kemampuan gender untuk pekerjaan besar
di bebankan kepada laki-laki dan untuk pekerjaan yangmembutuhkan ketkunaan
dilakukan oleh perempuan. Dengan adanya makanisasi teknologi pertaian
pekerjaan dapat dilakukan bersama antara laki-laki danperempuan. Selain
perjuanagn dari para aktivis perempuan persamaan genderjuga menjadi tugas dari
penyuluh untuk memberikan apa yang dibutuhkan petani didasarkan pada
kemampuan gender yang setara dan kemampuan masing-masing gender yang
bertujuan membuat gender laki-laki dan perempuan setara. Peranan Komunikasi
Pembangunan Partisipatif Dalam Pembangunan Pertanian dan Perdesaan di
Indonesia. Bentuk-bentuk komunikasi pembangunan yang partisipatif mencakup
forum dialog akar rumput (grassroots dialog forum), fungsi baru komunikasi pada
media partisipatif (participatory media), berbagi pengetahuan secara setara
(knowledge-sharing on a co-equal basis), dan model komunikator pendukung
pembangunan (Development Support Communication). Dialog akar rumput
(grassroots dialog) didasarkan atas kaidah partisipasi untuk mempertemukan
sumber dan agen perubahan langsung dengan masyarakat. Metode yang
digunakan adalah penyadaran (conscientization) melalui dialog. Lebih jauh lagi
masyarakat diajak untuk merumuskan permasalahan dan menemukan
pemecahannya sekaligus pelaksanaan kegiatan dalam upaya pemecahan
permasalahan. Di sini komunikator sekaligus berperan sebagai pembebas
masyarakat dalam proses pembangunan. Peran komunikasi pada media partisipatif
(participatory media) adalah: (1) Mengembangkan identitas kultural komunitas;
(2) Sebagai kendaraan bagi ekspresi diri warga negara; (3) Memfasilitasi
artikulasi masalah; (4) Alat mendiagnosis permasalahan dalam komunitas;
(Mengoptimalkan media rakyat yang sesuai dengan kultur lokal. Peran
komunikasi pembangunan untuk berbagi pengetahuan (knowledge-sharing model)
secara setara memusatkan perhatian kepada posisi yang setara antara pemberi dan
penerima manfaat pembangunan (benefactors and beneficiaries). Dalam posisi
setara ini keduanya saling mempengaruhi dan berbagi pengetahuan. Di sini
dikombinasikan antara paradigma dominan dan kritis karena dipandang menjadi
lebih lengkap dalam menjalankan komunikasi pembangunan Model berbagi
pengetahuan yang diusulkan oleh Nair dan White (1987) ini merupakan suatu
model komunikasi transaksional yang akan melengkapi gagasan mengenai
Pembagian-Pengetahuan yang seimbang dengan bentuk partisipasi tinggi, sedang,
dan rendah antara penerima dan sumber komunikasi pembangunan yang
selanjutnya dibagi ke dalam sembilan bentuk peran yang ditandai oleh sembilan
sel, yaitu:
1. Keikutsertaan tinggi (High Participation) adalah dilibatkan, aktip, kreatif
dengan interaksi berlanjut dan dialog. Kekuasaan dibagi antara sumber dan
penerima.
2. Keikutsertaan sedang (Quasi Participation) adalah lebih sedikit intens, lebih
sedikit kreatif dan menggunakan lebih sedikit dialog.
3. Keikutsertaan rendah (Low Participation) menyarankan sedikit dialog, tidak
ada keterlibatan penuh dan tidak ada consciousness menyangkut kebutuhan akan
perubahan. Model komunikator pendukung pembangunan (Development Support
Communicator) memusatkan pada penyusunan posisi-posisi yang sejajar, tidak
memusatkan pada penyusunan posisi-posisi yang sejajar, tidak memusatkan pada
media, sebaliknya mengembangkan komunikasi antara pemerintah dan
masyarakat (Melkote, 1991). Komunikator berperan sebagai mediator antara
tenaga ahli dan pemanfaat pembangunan, sehingga kesenjangan informasi antara
tenaga ahli dengan pemanfaat pembangunan dapat dikurangi.